Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan kaum muda untuk menyegerakan me-nikah sehingga mereka tidak berkubang

dalam kemak-siatan, menuruti hawa nafsu dan syahwatnya. Karena, banyak sekali keburukan akibat menunda pernikahan. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah! Karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa) karena shaum itu dapat memben-tengi dirinya.”[1] Anjuran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk segera menikah mengandung berbagai manfaat, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, di antaranya: [1]. [2]. [3]. [4]. [5]. Melaksanakan Perintah Allah Ta’ala. Melaksanakan Dan Menghidupkan Sunnah Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dapat Menundukkan Pandangan. Menjaga Kehormatan Laki-Laki Dan Perempuan. Terpelihara Kemaluan Dari Beragam Maksiat.

Dengan menikah, seseorang akan terpelihara dari perbuatan jelek dan hina, seperti zina, kumpul kebo, dan lainnya. Dengan terpelihara diri dari berbagai macam perbuatan keji, maka hal ini adalah salah satu sebab dijaminnya ia untuk masuk ke dalam Surga. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Artinya : Barangsiapa yang menjaga apa yang ada di antara dua bibir (lisan)nya dan di antara dua paha (ke-maluan)nya, aku akan jamin ia masuk ke dalam Surga.” [2] [6]. Ia Juga Akan Termasuk Di Antara Orang-Orang Yang Ditolong Oleh Allah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tiga golongan yang ditolong oleh Allah, yaitu orang yang menikah untuk memelihara dirinya dan pandangannya, orang yang berjihad di jalan Allah, dan seorang budak yang ingin melunasi hutangnya (menebus dirinya) agar merdeka (tidak menjadi budak lagi). Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Artinya : Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Allah: (1) mujahid fi sabilillah, (2) budak yang menebus dirinya agar merdeka, dan (3) orang yang menikah karena ingin memelihara kehor-matannya.” [3] [7]. Dengan Menikah, Seseorang Akan Menuai Ganjaran Yang Banyak. Bahkan, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa seseorang yang bersetubuh dengan isterinya akan mendapatkan ganjaran. Beliau bersabda, “Artinya : ... dan pada persetubuhan salah seorang dari kalian adalah shadaqah...” [4] [8]. Mendatangkan Ketenangan Dalam Hidupnya Yaitu dengan terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: "Artinya : Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasanganpasangan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” [Ar-Ruum : 21] Seseorang yang berlimpah harta belum tentu merasa tenang dan bahagia dalam kehidupannya, terlebih jika ia belum menikah atau justru melakukan pergaulan di luar pernikahan yang sah. Kehidupannya akan dihantui oleh kegelisahan. Dia juga tidak akan mengalami mawaddah dan cinta yang sebenarnya, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: "Artinya : Tidak pernah terlihat dua orang yang saling mencintai seperti (yang terlihat dalam) pernikahan.” [5] Cinta yang dibungkus dengan pacaran, pada hakikatnya hanyalah nafsu syahwat belaka, bukan kasih sayang yang sesungguhnya, bukan rasa cinta yang sebenarnya, dan dia tidak

2. pembatasan jumlah kelahiran atau dengan istilah lain yang menarik (seperti “Keluarga Berencana”) hukumnya haram dalam Islam.akan mengalami ketenangan karena dia berada dalam perbuatan dosa dan laknat Allah. kakaknya. Sarana untuk mendapatkan ganjaran dan pahala dari sisi Allah. terputuslah amalnya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah.” [6] Mahram bagi laki-laki di antaranya adalah bapaknya. 4. sehingga menjadi aset yang sangat berharga karena anak yang shalih akan senantiasa mendo’akan kedua orang tuanya. yaitu Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Menikah Dapat Menjadi Sebab Semakin Banyaknya Jumlah Ummat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam Termasuk anjuran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah menikahi wanita-wanita yang subur. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Mendapatkan karunia yang sangat besar yang lebih tinggi nilainya dari harta. . serta dapat menjadikan amal bani Adam terus mengalir meskipun jasadnya sudah berkalang tanah di dalam kubur.” [7] [10]. dan anak shalih yang mendo’akannya. maka hukumnya tetap terlarang dan haram karena pacaran hanya akan mendatangkan kegelisahan dan menjerumuskan dirinya pada perbuatan-perbuatan terlaknat. Bagi Allah ‘Azza wa Jalla tidak ada yang mustahil. “Anakku. Terlebih lagi jika mereka hidup berduaan tanpa ikatan pernikahan yang sah. 5. ilmu yang bermanfaat. Kata Anas. maka hal ini diperbolehkan dalam syari’at Islam. yang telah membantu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun dengan do’a: “Ya Allah. 3. Berduaan antara dua insan yang berlainan jenis merupakan perbuatan yang terlarang dan hukumnya haram dalam Islam. justru dia merasa bersyukur karena telah mengikuti Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Mereka akan terjerumus dalam lembah perzinaan yang menghinakan mereka di dunia dan akhirat. menceritakan kepadaku bahwa anak-anakku yang sudah meninggal dunia ada 120 orang pada waktu Hajjaj bin Yusuf memasuki kota Bashrah. Mereka akan membantu meringankan beban orang tuanya. Di antara manfaat dengan banyaknya anak dan keturunan adalah: 1. [9]. kecuali si wanita itu bersama mahramnya.” [9] Semestinya seorang muslim tidak merasa khawatir dan takut dengan banyaknya anak. supaya ia memiliki keturunan yang banyak. dengan ketentuan-ketentuan yang telah dijelaskan pula oleh syari’at. kecuali antara suami dengan isteri atau dengan mahramnya. Dalam agama Islam yang sudah sempurna ini. untuk kemudian dia menikah. Di dalam Islam. "Artinya : Apabila manusia meninggal dunia. Berduaan dengan didampingi mahramnya pun harus ditilik dari kepen-tingan yang ada. Sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: "Artinya : angan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita. pamannya. Memiliki Keturunan Yang Shalih Setiap orang yang menikah pasti ingin memiliki anak. Dengan menikah –dengan izin Allah — ia akan mendapatkan keturunan yang shalih. Allah ‘Azza wa Jalla akan memudahkan baginya dalam mendidik anak-anaknya. Jika tujuannya adalah untuk ber-pacaran. Di dunia mereka akan saling menolong dalam ke-bajikan. Seorang yang beriman tidak akan merasa takut dengan sempitnya rizki dari Allah sehingga ia tidak membatasi jumlah kelahiran. tidak ada istilah pacaran meski dengan dalih untuk dapat saling mengenal dan memahami di antara kedua calon suami isteri. Menjadi buah hati yang menyejukkan pandangan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam justru pernah mendo’akan seorang Shahabat beliau. Umainah. Sedangkan berduaan dengan didampingi mahramnya dengan tujuan meminang (khitbah). dan seterusnya. sekiranya ia bersungguh-sungguh untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. perbanyaklah harta dan anaknya dan berkahilah baginya dari apa-apa yang Engkau anugerahkan padanya.” [8] Dengan kehendak Allah. dia menjadi orang yang paling banyak anaknya dan paling banyak hartanya pada waktu itu di Madinah.

dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. 8. 9.” [Huud : 6] Pada hakikatnya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). yaitu: “Ya Rabb-ku. manakala orang tuanya mampu men-jadikan anak-anaknya sebagai anak yang shalih atau shalihah. maka janganlah ia berputus asa dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.” [Ash-Shaaffaat : 100] “. Do’a mereka akan menjadi amal yang bermanfaat ketika orang tuanya sudah tidak bisa lagi beramal (telah meninggal dunia). dan hal ini tidak bisa dinilai dengan harta. perusahaan tempat bekerja hanyalah sebagai sarana datangnya rizki. dan Mahabijaksana meng-anugerahkan anak kepada pasangan suami isteri. anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami . atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan. Hendaklah ia terus berdo’a sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam dan Zakariya ‘alaihis salaam telah berdo’a kepada Allah sehingga Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan do’a mereka. Dengan banyaknya anak. waktu. 10. Mahaadil. secara medis maupun psikologis APABILA BELUM DIKARUNIAI ANAK Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Maha Mengetahui. Bagi seorang muslim yang beriman. dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya. meski ia hanya seekor ikan yang hidup di lautan yang sangat dalam atau burung yang terbang menjulang ke langit. dan tenaga yang terbatas untuk mengurus dan memperhatikan mereka. yang justru akan membahayakan dirinya dan suaminya. anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Tidak ada yang luput dari pemberian rizki Allah ‘Azza wa Jalla. misalnya dengan menggunakan alat kontrasepsi. bisa jadi dengan adanya anak-anak yang menyambutnya ketika pulang dari bekerja. bukan yang memberikan rizki. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Mahakuasa. 7. Do’a mohon dikaruniai keturunan yang baik dan shalih terdapat dalam Al-Qur’an. Padahal. Anak akan menjadi hijab (pembatas) dirinya dengan api Neraka. Jika ditakdirkan anaknya meninggal ketika masih kecil/belum baligh -insya Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Artinya : Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rizkinya.” [Ath-Thalaq : 4] Jadi.. Dia Maha Mengetahui. dan ada pula yang tidak diberikan anak. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bangga akan jumlah ummatnya yang banyak.Ya Rabb kami. Masih banyak lagi keutamaan memiliki banyak anak. Anjuran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ini tentu tidak bertentangan dengan manfaat dan hikmah yang dapat dipetik di dalamnya.” [Asy-Syuuraa : 49-50] Apabila sepasang suami isteri sudah menikah sekian lama namun ditakdirkan oleh Allah belum memiliki anak. sebagai sebab datangnya rizki itu dengan tetap tidak berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam usahanya mencari rizki.ia akan menjadi syafa’at (penghalang masuknya seseorang ke dalam Neraka) bagi orang tuanya di akhirat kelak. memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki.. Meskipun kaum kafir tiada hentihentinya menakut-nakuti kaum muslimin sepuaya mereka tidak memiliki banyak anak dengan alasan rizki. setiap hamba Allah ‘Azza wa Jalla diperintahkan untuk berusaha dan bekerja. Apalagi jika ia dapat bermain dan bersenda gurau dengan anak-anaknya. justru akan membuat rasa letih dan lelahnya hilang seketika. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.6. pada dasarnya tidak ada alasan apa pun yang membenarkan seseorang membatasi dalam memiliki jumlah anak. Sehingga. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Artinya : Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi. ia harus yakin dan mengimani bahwa Allah-lah yang memberikan rizki dan mengatur seluruh rizki bagi hamba-Nya. Firman Allah ‘Azza wa Jalla: Artinya : “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah. akan menjadi salah satu sebab kemenangan kaum muslimin ketika jihad fi sabilillah dikumandangkan karena jumlahnya yang sangat banyak.

. dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.[10] Apabila sudah berdo’a namun belum terkabul juga. Bagi yang belum dikaruniai anak. mengasuh anak yatim. ketika berada di Shafa dan Marwah. juga menkonsumsi obat-obat. Serta senantiasa berdo’a kepada Allah di tempat dan waktu yang dikabulkan.Ya Rabb-ku.” [Al-Furqaan : 74] “.” [Ali ‘Imran : 38] Suami isteri yang belum dikaruniai anak. berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. maka ingatlah bahwa semua itu ada hikmahnya. maka itulah yang terbaik. ketik awuquf di Arafah.. Allah Maha Mengetahui. tetangga-tetangga yang sedang susah dan miskin. sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a. Do’a seorang muslim tidaklah sia-sia dan Insya Allah akan menjadi simpanannya di akhirat kelak. kerabat terdekat. dan lainnya. Juga dengan meruqyah diri sendiri dengan ruqyah yang diajarkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan terus menerus istighfar (memohon ampun) kepada Allah atas segala dosa. makanan dan minuman yang menyuburkan. berusaha membantu keluarga. pada waktu sa’i. Apa yang Allah takdirkan baginya.Ya Rabb-ku. Janganlah sekali-kali seorang muslim berburuk sangka kepada Allah! Hendaknya ia senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Mahabijaksana dan Mahaadil. dan sebagainya. gunakanlah kesempatan dan waktu untuk berbuat banyak kebaikan yang sesuai dengan syari’at. serta dikaruniai anak-anak yang shalih. Seperti ketika thawaf di Ka’bah. setiap hari membaca Al-Qur-an dan menghafalnya. gunakan waktu untuk membaca buku-buku tafsir dan buku-buku lain yang bermanfaat.sebagai penyenang hati (kami). Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya.. ketika safar. ketika sedang berpuasa. janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkau-lah ahli waris yang terbaik. hendaknya ikhtiar dengan berobat secara medis yang dibenarkan menurut syari’at. berdo’a di sepertiga malam yang akhir. .. Mudah-mudahan dengan perbuatan-perbuatan baik yang dikerjakan dengan ikhlas mendapat ganjaran dari Allah di dunia dan di akhirat.” [Al-Anbiyaa' : 89] “.