BAB I PENDAHULUAN

1.1 Prinsip Percobaan Isolasi minyak atsiri dari temu hitam (Curcuma aeruginosa) dilakukan dengan metode ekstraksi dingin (maserasi) dimana akuades sebagai pelarutnya. Dan selanjutnya ekstrak ini diidentifikasi dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dimana fase gerak yang digunakan adalah larutan kloroform-benzen-etanol dengan perbandingan (45:45:10) dan n-heksan:etil asetat (8:2) dan menggunakan penampak bercak vanillin-asam sulfat.

1.2 Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui cara isolasi minyak atsiri yang tepat dari temu

hitam (Curcuma aeruginosa).
2. Untuk mengetahui harga Rf dan kromatogram temu hitam (Curcuma

aeruginosa) secara kromatografi lapis tipis.

1.3 Manfaat Percobaan a. Dapat mengetahui cara isolasi minyak atsiri yang tepat dari temu hitam (Curcuma aeruginosa). b. Untuk mengetahui harga Rf dan kromatogram dari temu hitam (Curcuma aeruginosa) secara kromatografi lapis tipis.

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Temu Hitam

2.1.1 Sistematika Tumbuhan Kerajaan Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Magnoliophyta : Liliopsida : Zingiberales : Zingiberaceae : Curcuma : Curcuma aeruginosa (Stahl, 1985).

2

temu ireng (Bali).5 Kandungan dan Khasiat 3 . pangkal daun pelindung berwarna putih. 1985). koneng hideung (Sunda).1. panjang 31–84 cm. tepi rata. temu leteng (Makassar).2 Sinonim -2. 2. temu hitam (Minangkabau). bunga mekar secara bergiliran dari kantong-kantong daun pelindung yang besar. Rimpang temu hitam mempunyai aroma yang khas. warnanya hijau tua dengan sisi kiri – kanan ibu tulang daun terdapat semacam pita memanjang berwarna merah gelap atau lembayung. ujung dan pangkal runcing. 1985). panjang tandan 20 25 cm.1. tampak lingkaran berwarna biru kehitaman di bagian luarnya.1.2. temu erang (Melayu). Perbanyakan dengan rimpang yang sudah cukup tua atau pemisahan rumpun (Stahl. Mahkota bunga berwarna kuning (Stahl.3 Nama Daerah Jawa temu ireng (Jawa). temo erang (Madura). Bunganya bunga majemuk berbentuk bulir yang tandannya keluar langsung dari rimpang. ujung daun pelindung berwarna ungu kemerahan.1.4 Morfologi Helaian daun bentuknya bundar memanjang sampai lanset. temu lotong (Bugis). Jika rimpang tua dibelah. temu item (Sumatera). Rimpangnya cukup besar dan merupakan umbi batang. pertulangan menyirip. 2. lebar 10–18 cm. Rimpang juga bercabang-cabang.

borok. membersihkan darah setelah melahirkan. berupa isoprenoid C10 dan C15 yang jangka titik didihnya berbeda (Harborne. air kemih mngandung darah. Sebagian besar dari komponen itu merupakan hidrokarbon hemi. ambeien. kurzerenon. Khasiat temu hitam antara lain: menyuburkan kandungan.2. Sifat fisika minyak atsiri pun berbeda-beda. 1987). a. kudis. yaitu monoterpena dan seskuiterpena. yang dapat diisolasi dengan penyulingan uap air. germakron. menambah nafsu makan.2. 2. jumlah dan letak ikatan rangkapnya. tanin. g-elemene. cacingan. Disamping itu turunan fenilpropana dan ftalida termasuk minyak atsiri juga. mono.1. 1985). dan seskuiterpen serta turunannya.Rimpang temu hitam mengandung minyak asiri. tergantung pada komposisinya (Stahl. ß. meningkatkan stamina. peranakan turun. terpena minyak atsiri dapat dipilah menjadi dua golongan. berbeda strukturnya (rantai terbuka. isokurkumenol.2 Minyak Atsiri Minyak atsiri adalah campuran alamiah lipofilik yang komponennya terdiri atas turunan isoprene. menetralkan racun dalam tubuh. Semua senyawa ini. Secara kimia.1 Kromatografi Gas Cair 4 . kurkumol. 2. mono dan bisiklik. batuk. kurkumenol. kurkumalakton. nyeri haid. kurdion. kurkumin. bisdemethyoxy -kurkumin. dan sifat gugus fungsinya. asma. demethyoxykurkumin. penyakit kulit misalnya koreng. dan sebagainya). sariawan. linderazulene.1 Analisis minyak atsiri 2.

3. Proses yang paling sederhana hanya menuanngkan 5 .2 Kromatografi Lapis Tipis Silica gel merupakan penjerap yang paling banyak digunakan dengan pengembang seperti benzene. kloroform.5 g vanillin dalam 2 ml H2SO4 pekat. Cara umum deteksi ialah menyemprot dengan larutan KMnO4 0. H2SO4 pekat.1 Maserasi Proses maserasi merupakan proses sederhana untuk mendapatkan ekstrak dan diuraikan dalam kebanyakan farmakope.Tidak disalahkan lagi bahwa KGC merupakan cara terpenting untuk menelaah minyak atsiri karena dengan sekali kerja KGC memungkinkan analisis kualitatif dan kuantitatif (Harborne.4dinitro fenilhidrazin) (Harborne. Setelah disemprot plat dipanaskan pada 100-150 C sampai pembentukan warna sempurna. atau vanillin-H2SO4 pekat. 1987). baik untuk skala kecil maupun skala industri.2% dalam air. 2. dan benzeneetil asetat (19:1). benzene-kloroform (1:1).3 Ekstraksi 2. sambil didinginkan. Untuk analisis terpena yang mengandung oksigen (misalnya karvon) lapisan silica gel jangan diaktifkan dulu sebelum dipakai karena air yang ada membantu pemisahan (Harborne. 1987). Ada pereaksi yang lebih sensitive terhadap terpena yang mempunyai gugus keton (2.1. Pereaksi terakhir dibuat segar dengan menambahkan 8 ml etanol.2. 1987). 2. Cara ini sesuai. antimony klorida dalam kloroform. kedalam 0.

bahan berkhasiat diekstraksi sampai habis menggunakan pelarut segar. Prosedur ini sama dengan pembuatan tingtur atau ekstrak khusus.pelarut pada simplisia. c. dan ampas hasil ekstraksi dicuci dengan pelarut yang segar sampai didapat berat yang sesuai. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kesetimbangan pelarut – solute b. ekstrak dikeluarkan. sasaran proses biasanya adalah untuk menarik bahan berkhasiat dari tanaman secara total. 2003). Kuantitas pelarut yang dibutuhkan untuk mengencerkan secara sempurna kuantitas solut yang tertahan oleh ampas dari ekstraksi pertama (Afifah. dan kadang – kadang merupakan satu – satunya prosedur untuk tanaman yang mengandung zat berlendir (musilago) tinggi. 2. Pada perkolasi sederhana. Proses ini merupakan proses yang memakanwaktu (lama) dan mahal karena dibutuhkan sejumlah besar pelarut yang bergantung pada beberapa parameter berikut : a.2 Perkolasi Pada perkolasi sederhana dan berkesinambungan. 2003).3. 6 . yang untuk perolehanya harus dilakukan proses pemerasan (penekanan) atau cara sentrifugasi (Afifah. Kuantitas pelarut yang dibutuhkan untuk menghasilkan ekstraksi pertama dalam skala ekonomi yang memadai. Ampas menahan sejumlah besar solute. Sebetulnya cara ini tidak begitu berguna karena tidak pernah dapat menarik zat berkhasiat dari tanaman secara sempurna. Sesudah mengatur waktu sehingga sesuai untuk tiap – tiap bahan tanaman (simplisia).

Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. lapisan pemisah (sifat penjerap) dan system larutan pengembang harus dipilih dengan tepat karena keduanya bekerja sama untuk mencapai pemisahan. Pada kromatografi. Selain itu. 1985). Seluruh bentuk kromatografi berkerja berdasarkan prinsip ini.2. atmosfer bejana. Lapisan yang memisahkan. Semua kromatografi 7 . Campuran yang akan dipisah. Selanjutnya. 1985). berupa larutan. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponennya. pemisahan terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan).4 Kromatografi Kromatografi lapis tipis ialah metode pemisahan fisikokimia. ditotolkan berupa bercak atau pita (awal). komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. hal yang juga penting adalah memilih kondisi kerja yang optimum yang meliputi sifat pengembangan. Untuk campuran yang tidak diketahui. logam. Setelah pelat atau lapisan ditaruh didalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak). Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat. dan lain lain (Stahl. yang terdiri atas bahan berbutir-butir (fase diam). atau lapisan yang cocok. senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan (dideteksi) (Stahl. ditempatkan pada penyangga berupa plat gelas. Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu.

Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium oksida. 2. 2. Interaksi antara adsorbent dengan eluent sangat menentukan terjadinya pemisahan komponen. Komponenkomponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda Proses kromatografi juga digunakan dalam metode pemisahan komponen gula dari komponen non gula dan abu dalam tetes menjadi fraksi-fraksi terpisah yang diakibatkan oleh perbedaan adsorpsi. Apa yang kita sebutkan tentang jel silika kemudian digunakan serupa untuk alumina (Kantasubrata.2 Fase Gerak Dalam kromatografi. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki gugus -OH.4.memiliki fase diam (dapat berupa padatan atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponenkomponen yang terdapat dalam campuran.Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. 1993). 1993). difusi dan eksklusi komponen gula dan non gula tersebut terhadap adsorbent dan eluent yang digunakan (Kantasubrata. Oleh sebab itu pemisahan komponen gula dalam tetes secara 8 .4. eluent adalah fasa gerak yang berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fasa diam (adsorbent).1 Fase Diam Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Jel silika (atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendar flour dalam sinar ultra violet.

kromatografi dipengaruhi oleh laju alir eluent dan jumlah umpan. dapat mengusir pelarut yang relatif tak polar dari ikatannya dengan alumina (jel silika) (Kantasubrata. BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 3. Suatu pelarut yang bersifat larutan relatif polar. Penggolongan ini dikenal sebagai deret eluotropik pelarut.1 Alat 9 . 1993). Eluent dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan teradsorpsinya pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan dalam hal ini yang banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau sebuah lapis tipis silika.

2.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah kloroform. sudip. 3. 3. dan pereaksi vanillin-asam sulfat. kromatografi lapis tipis. etil asetat.4. n-heksan. 3. vial. beaker glass. 3.3 Sampel Sampel yang digunakan dalam percobaan ini adalah rimpang temu hitam (Curcuma aeruginosa). kertas saring. Selajutnya campuran disaring dan diperoleh filtrat yang mengandung minyak atsiri.Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah erlenmeyer. gelas ukur. spatula. etanol 98%. tutup chamber. Dimana fase diam yang digunakan adalah silica gel GF 254.4.1 Isolasi minyak atsiri dari temu hitam Sampel yang telah dihaluskan lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan etanol.4 Prosedur 3.2 Pemisahan minyak atsiri dengan kromatografi lapis tipis Filtrat dikromatografi lapis tipis dengan dua macam pengembang (fase gerak) yaitu larutan kloroform-benzen-etanol 98% (45:45:10) dan larutan n- heksan-etil asetat (8:2) . chamber.1 Pengembang larutan kloroform-benzen-etanol 98% 10 . alu dan lumpang. tissue. dan silica gel GF 254.4. corong. 3. pipet tetes. benzen. plastik dan karet. pisau. Dimaserasi selama 30 menit sambil dikocok. pipa kapiler.

Setelah noda dari titik penotolan merambat sampai garis batas pegembangan keluarkan plat lapis tipis dari chamber dan dikeringkan. Lalu disemprot plat lapis tipis tadi dengan pereaksi vanillin-asam sulfat.Ekstrak ditotolkan pada plat lapis tipis bentuk pita. Lalu disemprot plat lapis tipis tadi dengan pereaksi vanillin-asam sulfat. lalu dimasukkan ke dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan fase pengembang yaitu campuran larutan kloroform-benzen-etanol 98% (45:45:10). Lalu dilihat secara visual.etil asetat (8:2).4. dihitung harga Rf. diamati. dihitung harga Rf. lalu dimasukkan ke dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan fase pengembang yaitu larutan nheksan . Diamati noda yang terbentuk dan dihitung harga Rf. 3. Diamati noda yang terbentuk dan dihitung harga Rf. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 11 . diamati. Setelah noda dari titik penotolan merambat sampai garis batas pegembangan keluarkan plat lapis tipis dari chamber dan dikeringkan.2.2 Pengembang larutan n-heksan-etil asetat Ekstrak ditotolkan pada plat lapis tipis bentuk pita. Lalu dilihat secara visual.

277 0.963 4.120 Coklat kemerahan 0.445 0.240 0.722 0.216 0.06 Ungu 0.1 Kromatogram dengan pengembang larutan n-heksan-etil asetat Sebelum disemprot pereaksi Sebelum disemprot pereaksi 12 .108 Merah 0.1 Hasil 4.1.337 0.4.1.867 16 17 Ungu Coklat keunguan 0.590 0.1 Kromatogram dengan larutan kloroform-benzen-etanol 98% Sebelum disemprot pereaksi Noda vanillin-asam sulfat Warna Noda Nilai Rf Tidak ada noda Sebelum disemprot pereaksi Noda 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 vanillin-asam sulfat Warna Noda Nilai Rf Coklat 0.168 Pink Hitam Ungu muda Pink Jingga kemerahan Ungu Hijau Ungu Ungu tua Coklat keunguan 0.927 0.566 0.084 Coklat kemerahan 0.397 0.

Sehingga jika digunakan cara panas.962 4. Hal ini disebabkan zat aktif yang akan diisolasi adalah minyak atsiri. Namun noda yang dihasilkan pada plat dengan pengembang larutan n-heksan - 13 . selain itu kemungkinan minyak atsirinya rusak akibat suhu tinggi.etil asetat.Noda vanillin-asam sulfat Warna Noda Nilai Rf Tidak ada noda - Noda 1 2 3 4 5 6 7 8 9 vanillin-asam sulfat Warna Noda Nilai Rf Merah kecoklatan 0.888 Coklat kemerahan 0.2 Pembahasan Pada percobaan digunakan metode ekstraksi cara dingin.765 0. kemungkinan minyak atsiri yang terdapat di dalam sampel menguap.506 0.629 0. dimana minyak atsiri merupakan suatu zat yang mudah menguap. Dari percobaan diperoleh kromatogram temu hitam dalam dua pengembang yang berbeda-beda.259 Coklat kemerahan 0.086 0. dimana setelah disemprotkan dengan penampak bercak (vanillin-asam sulfat) noda yang dihasilkan jelas.444 Pink Ungu Pink tua Hijau 0.037 Jingga Ungu tua 0. Menurut Afifah (2003) ekstraksi minyak secara komersial umumnya dilakukan dengan pelarut menguap (solvent extraction). Noda yang dihasilkan pada plat dengan pengembangan larutan kloroform-benzene-etanol 98% lebih banyak daripada noda pada plat dengan pengembang larutan n-heksan .

Ini menunjukkan bahwa larutan n-heksan . fenol dan turunannya serta fenilpropan) dengan mekanisme abstraksi H+ sehingga terbentuk senyawa ikatan rangkap terkonjugasi. dapat juga untuk mendeteksi senyawa saponin yang ditunjukkan dengan adanya bercak berwarna biru. 14 . BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 1.etil asetat lebih baik dimana masing-masing nodanya dapat terpisah dengan baik dan tidak terjadi penumpukkan. (1984) dalam penilitiannya sebelumnya menyebutkan bahwa pada penyemprotan dengan larutan vanillin-asam sulfat tampak warna ungu tua pada komponen kadinena dan kadinol. Menurut Wagner et al. Berdasarkan warna noda yang dihasilkan setelah penyemprotan larutan vanillin-asam sulfat dapat dikatakan bahwa di dalam minyak atsiri temu hitam terdapat kadinena dan kadinol. Isolasi temu hitam dilakukan dengan cara maserasi menggunakan etanol 96 % sebagai pelarut. fase gerak yang digunakan adalah kloroform:benzen:etanol 96% (45:45:10) dan n-heksan:eti asetat (8:2) dan menggunakan plat lapis tipis sebagai fase diam. violet biru atau terkadang berwarna kekuningn bila diamati pada sinar biasa. Vanilin-asam sulfat dapat digunakan untuk mendeteksi senyawa atsiri (terpenoid. peristiwa ini tidak terjadi sekaligus tetapi satu persatu secara berurutan yang menyebabkan warnanya semakin lama semakin tidak stabil.etil asetat dinilai sebagai pengembang yang baik dalam mengembangkan senyawasenyawa kimia yang terkandung dalam minyak atsiri rimpang temu hitam.

867 .Rf15 = 0.Rf11 = 0.566 . warna noda hijau .Rf3 = 0. warna noda ungu muda . warna noda coklat keunguan . warna noda pink .337 .08 .445 . warna noda ungu .Rf7 = 0. warna noda jingga kemerahan . warna noda coklat keunguan 15 .Rf16 = 0. warna noda ungu .06 . warna noda ungu .590 .Rf13 = 0.216 . warna noda merah .Rf12 = 0.Rf8 = 0.Rf14 = 0.Rf4 = 0. warna noda coklat kemerahan . warna noda ungu . warna noda hitam .108 . Ini menandakan adanya minyak atsiri dari temu hitam (Curcuma aeruginosa) . warna noda pink .168 . warna noda coklat kemerahan . warna noda ungu tua .24 .397 .12 . Dari hasil kromatogram dengan fase gerak n-heksan:etil asetat (8:2) memiliki lebih banyak noda dibandingkan dengan fase gerak kloroform:benzen:etanol (45:45:10).Rf9 = 0.Rf1 = 0.2.Rf10 = 0.Rf5 = 0.277 .722 .Rf17 = 0. warna noda coklat .927 . Dimana harga Rf dengan fase gerak kloroform:benzene:etanol (45:45:10) setelah penyemprotan adalah . Diperoleh warna bercak berwarna ungu setelah disemprot larutan vanillin asam sulfat yang menandakan terdapat golongan terpenoid.Rf2 = 0.Rf6 = 0.963 .

444 .037 . warna noda coklat kemerahan . Hal 7-8. DAFTAR PUSTAKA Afifah. warna noda pink tua .506 . warna noda ungu .Rf4 = 0. warna noda hijau .misalnya jahe.765 .1 Saran a. Khasiat & manfaat temulawak: rimpang penyembuh aneka penyakit Sehat dengan ramuan tradisional Penulis Penerbit AgroMedia: Jakarta.Rf2 = 0. warna noda coklat kemerahan 5. warna noda merah kecoklatan . (2003). Diharapkan digunakan juga rimpang lainnya selain temu hitam. warna noda hijau . temu giring.962 .Rf9 = 0.Rf3 = 0.086.Rf5 = 0. A. Diharapkan praktikan dapat menotolkan bercak dengan lebih teliti agar diperoleh bercak yang bagus. warna noda ungu tua . warna noda pink .Rf8 = 0. dr.Rf6 = 0. Efi & Tim Lentera. Perbandingan Komponen Kimia Rimpang Temu Hitam (Curcuma 16 .629 .888 .Rf7 = 0.259 .Rf1 = 0.Harga Rf dengan fase gerak n-heksan:etil asetat (8:2) setelah penyemprotan adalah . b. Agusta.

Zgainski. Plant Drug Analysis. Laboratorium Fitokimia. 1984. E. Bidang botani. Hal 173-175.Press. E. Stahl. Bandung: Penerbit ITB. B. Springer – Verlag Berlin Heidelberg. Warta Kimia Analitik Edisi Juli 1993..) Dan Temu Putih (C. Diakses 20 Oktober 2011. Metode Fitokimia.Penentuan cara modern menganalisis tumbuhan .aeruginosa Roxb. Harborne. (1987). Wagner.zedoaria) Asal Jepang.. Penerjemah: Padmawinata K dan Soediro I. (1985). Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. zedoaria) yang Tumbuh di Indonesia dengan Gajutsu (C. 17 .M. J. Bladt. Edisi II. Situs Web Resmi Pusat Penelitian Kimia LIPI. Hal 20-21. Hal 97-99. Diakses 20 Oktober 2011. Puslit Biologi-LIPI. Penerbit ITB: Bandung. Kantasubrata. H. Julia. S..

Kromatogram minyak atsiri temu hitam (Curcuma aeruginosa) Fase diam : Silika gel GF 254. Penampak bercak : vanillin-asam sulfat 18 .LAMPIRAN Batas Pengembangan Coklat keunguan Ungu Coklat keunguan Ungu tua Ungu Hijau Ungu Pink Jingga kemerahan Hitam Ungu muda Pink Coklat Coklat kemerahan Coklat Merah Ungu Titik penotolan Gambar 2. Fase gerak : kloroform-benzen-etanol 98%.

Batas Pengembangan Coklat kemerahan Hijau Merah keunguan/pink tua 19 .

Kromatogram minyak atsiri temu hitam (Curcuma aeruginosa) Fase diam : Silika gel GF 254.Ungu Pink Coklat kemerahan Ungu tua Jingga Merah kecoklatan Titik penotolan Gambar 2. Fase gerak : n heksan-etil asetat Penampak bercak : vanillin-asam sulfat 20 .