Peranan Fungsi Internal Audit Dalam Pemeriksaan Laporan Kuangan

ABSTRAK
Pada mulanya internal auditing diperlukan karena adanya tuntutan dan respon dari kebutuhan manajemen yang diakibatkan meningkatnya ukuran dan kompleknya perusahaan yang secara khusus berkaitan dengan pelaksanaan pengendalian dan effisiensi kegiatan perusahaan serta ketaatan terhadap peraturan pemerintah. Oleh karena itu kemampuan seorang Internal Auditor saat ini benar-benar dituntut. Sebagaimana dinyatakan dalam The Standards for the Professional Practice of Internal Auditing (IIA Standards), Internal Auditor harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengidentifikasi indikasi-indikasi kecurangan tetapi tidak diharapkan untuk memiliki keahlian sebagai seorang yang bertanggung jawab melakukan deteksi dan investigasi kecurangan.

Internal auditor juga mempunyai kesempatan untuk mengevaluasi pengendalian dan resiko-resiko kecurangan dan memberikan rekomendasi dalam mengurangi resiko-resiko dan pengembangan pengendalian.Secara khusus, IIA Standards mengharuskan seorang Internal Audit untuk menilai resiko-resiko “facing” perusahaan. Penilaian resiko tersebut membantu sebagai dasar dalam membuat perencanaan audit dan pengujian pengendalian intern.
Untuk mencapai tujuan tersebut, internal auditor melakukan kegiatan–kegiatan berikut: 1. Menelaah dan menilai kebaikan, memadai tidaknya, dan penerapan sistem pengendalian manajemen, struktur pengendalian intern, dan pengendalian operasional lainnya serta mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang tidak terlalu mahal, 2. Memastikan ketaatan terhadap kebijakan, rencana dan prosedurprosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen,

3. Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi dari kemungkinan terjadinya segala bentuk pencurian, kecurangan dan penyalahgunaan, 4. Memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam organisasi dapat dipercaya, 5. Menilai mutu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh manajemen, 6. Menyarankan perbaikan-perbaikan operasional dalam rangka meningkatkan efisensi dan efektifitas. Dari kegiatan-kegiatan yang dilakukannya tersebut dapat disimpulkan bahwa internal auditor antara lain memiliki peranan dalam : a. Pencegahan Kecurangan (Fraud Prevention), b. Pendeteksian Kecurangan (Fraud Detection), c. Penginvestigasian Kecurangan (Fraud Investigation). Dari perananan tersebut maka muncullah paradigma baru internal audit yang akan dijelaskan pada Bab pembahasan.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada dasarnya perusahaan adalah organisasi yang terdiri dari manusia dengan berbagai macam karakter yang bekerja bersama-sama, sesuai dengan kedudukan dan fungsinya masing-masing dengan tujuan yang sama pula. Tujuan perusahaan adalah memaksimalkan profit untuk kepentingan pemegang saham. Namun begitu, untuk mengelola sebuah perusahaan bukanlah pekerjaan sederhana, apalagi perusahaan publik yang selalu dituntut terbuka atau transparan. Kompleksitas dalam organisasi perusahaan tergantung pada besar kecilnya perusahaan.Semakin banyak manusia yang bekerja di dalamnya semakin kompleks organisasi perusahaan, dan semakin tinggi tingkat kesulitan dalam melakukan pengawasan atau kontrol untuk memastikan bahwa setiap unit atau divisi sudah bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing.Semakin kecil jumlah orang yang bekerja semakin mudah dalam melakukan kontrol.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa setiap organisasi perusahaan menyimpan risiko bahwa setiap bagian, unit atau divisi bisa melakukan penyimpangan dalam menjalankan tugas dan fungsi masing-masing.Kadar penyimpangan itu bisa bervariasi mulai dari yang ringan, sedang hingga yang berat. Menyadari hal itu maka, untuk mengurangi risiko penyimpangan yang terjadi dan dilakukan oleh orang dalam perusahaan maka dibutuhkan adanya satu unit kerja khusus yang bertugas melakukan fungsi kontrol atau audit. Fungsi ini kemudian dikenal dengan istilah internal audit. Unit ini terpisah sama sekali dengan divisi operasional perusahaan. Ada tembok pembatas yang tegas yang memisahkan fungsi internal audit dengan fungsi operasional perusahaan.

LITERATUR
Definisi / pengertian internal auditing mengalami perubahan dari waktu ke waktu. 1. Pengertian Menurut Sawyer “ Internal auditing is an independent appraisal function established within an organization to examine and evaluate its activities as a service to organization” (Internal audit adalah suatu fungsi penilaian independen yang dibentukdalam suatu organisasi untuk mengkaji dan mengevaluasi aktivitasorganisasi sebagai bentuk jasa yang diberikan bagi organisasi).

2. Pengertian Menurut Institute of internal Auditor “ Internal auditing is an independent , objective assurance and consulting activity designed to add value and improve an organization’s operations. It helps an organization accomplish its objective by bringing a systematic, disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk management, control and governance process”. (Internal audit adalah suatu aktivitas independen, yang memberikanjaminan keyakinan serta konsultasi yang dirancang untuk memberikansuatu nilai tambah serta meningkatkan kegiatan operasi organisasi. Internalauditing membantu organisasi dalam usaha mencapai tujuannya dengancara memberikan suatu pendekatan disiplin yang sistematis untukmengevaluasi dan meningkatkan keefektivan manajemen resiko,pengendalian dan proses pengaturan dan pengelolaan organisasi).

3. IAI (SPAP; 110.1) menyatakan bahwa, tujuan audit umum atas laporan keuangan yang dilakukan oleh auditor yang independen adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajaran, dalam semua hal yang materiil, posisi keuangan dan usaha serta arus kas sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum. Dengan demikian tujuan audit umum akan tercapai jika auditor yang memeriksa adalah seorang auditor yang independen. Independensi merupakan tujuan yang harus diupayakan dan itu dapat dicapai sampai tingkat tertentu. Sekalipun auditor dibayar oleh klien, ia tetap memiliki kebebasan yang cukup untuk melakukan audit yang handal. 4. Menurut visi profesi abad 21 yang diterbitkan IAI (1997) telah menetapkan Kode Etik Akuntansi Indonesia agar anggota profesi menjaga dirinya dari kehilangan persepsi independensi. Pandangan masyarakat terhadap independensi penampilan Akuntan Publik ditetapkan karena sikap independensi merupakan masalah mutu pribadi, bukan merupakan suatu aturan yang dirumuskan.

5. Tjukria (1999:102) menyebutkan bahwa ada beberapa peran yang dapat dibawakan olehauditor intern adalah sebagai berikut : a. Peran sebagai pemecah masalah Temuan audit pada hakikatnya adalah masalah. Auditorintern harus mampu menggunakan metode pemecahan masalah (problem solving) yangrasional. b. Temuan yang ada dari pelaksanaan audit bisa menjurus pada timbulnya konflik bila seorangauditor kurang mampu menyelesaikannya dengan auditee. Dalam praktiknya konflik inibisa dilalui dengan jalan : 1. Dihindari. Auditor yang suka menghindari konflik cenderung mereka reaksi emosional dengan mencari cara yang lebih aman minta dipindahkan atau bahkankeluar dari pekerjannya. 2. Dibekukan. Membekukan konflik adalah taktik untuk menangguhkan tindakan. 3. Dikonfrontasikan.Masalah atau temuan bisa langsung dikonfrontasikan denganauditee.

PEMBAHASAN
A. Sejarah Audit Internal Amerika Serikat dan sisanya dunia baru saja mengalami depresi ekonomi utama. Sebagailegislatif tindakan korektif, SEC mengharuskan perusahaan terdaftar dengan memberikan laporan keuangan disertifikasi oleh auditor independen. Persyaratan ini mendorong perusahaan untuk membangun departemen audit internal, tujuan utama adalah untuk membantu auditor independen mereka. Pada saat itu, keuangan auditor eksternal tersebut berfokus pada menyatakan pendapat atas kewajaran suatu perusahaan keuangan laporan daripada mendeteksi kelemahan pengendalian internal atau bahkan administrasi kesalahan. Aturan-aturan SEC audit didasarkan pada sampel terbatas transaksi, bersama dengan ketergantungan lebih besar pada prosedur pengendalian internal.

Pada waktu itu, auditor internal terutama berkaitan dengan pemeriksaan catatan akuntansi dan keuangan mendeteksi kesalahan dan penyimpangan dan seringkali sedikit lebih dari bayangan atau asisten untuk auditor independen eksternal.
Profesi Internal Audit terus berkembang dengan kemajuan ilmu manajemen setelah PerangDunia II. Hal ini konseptual mirip dalam banyak cara untuk audit keuangan oleh kantor akuntan publik, jaminan kualitas dan kepatuhan kegiatan perbankan. Banyak teori yang mendasari auditinternal adalah berasal dari konsultan manajemen dan profesi akuntansi publik. Dengan pelaksanaan di Amerika Serikat dari Sarbanes Oaxley Act tahun 2002, profesi pertumbuhan dipercepat, sebagai auditor internal banyak memiliki keahlian yang dibutuhkan untuk membantu perusahaan memenuhi persyaratan hukum.

B. PARADIGMA BARU INTERNAL AUDIT Dalam perkembangannya penekanan dan mekanisme internal audit telah bergeser (berubah). Pada masa lalu fokus utama peran internal auditor adalah sebagai ‘watchdog‟ dalam perusahaan, sedangkan pada masa kini dan mendatang proses internal auditing modern telah bergeser menjadi „konsultan intern‟ (internal consultant) yang memberi masukan berupa pikiran-pikiran untuk perbaikan (improvement) atas sistem yang telah ada serta berperan sebagai katalis (catalyst). Fungsi internal auditor sebagai ‘watchdog‟ membuat perannya “kurang disukai” kehadirannya oleh unit organisasi lain. Hal ini mungkin merupakan konsekuensi logis dari profesi internal auditor yang tugasnya memang tidak dapat dilepaskan dari fungsi audit (pemeriksaan), bahwa antara pemeriksa (auditor) dan pihak yang diperiksa (auditee) berada pada posisi yang saling berhadapan.

Fungsi konsultan bagi internal auditor merupakan peran yang relatif baru. Peran konsultan membawa internal auditor untuk selalu meningkatkan pengetahuan baik tentang profesi auditor maupun aspek bisnis, sehinga dapat membantu manajemen dalam memecahkan suatu masalah. Kemampuan untuk merekomendasikan pemecahan suatu masalah (problem solver) bagi internal auditor dapat diperoleh melalui pengalaman bertahun-tahun melakukan audit berbagai fungsi di perusahaan. Pada saat ini, konsultasi internal merupakan aktivitas yang sangat dibutuhkan oleh manajemen yang perlu dilakukan oleh internal auditor. Selain sebagai konsultan, internal auditor harus mampu berperan sebagai katalisator. Katalis adalah suatu zat yang berfungsi untuk mempercepat reaksi namun tidak ikut reaksi. Peran auditor internal sebagai katalisator yaitu memberikan jasa kepada manajemen melalui saran-saran yang bersifat konstruktif dan dapat diaplikasikan bagi kemajuan perusahaan namun tidak ikut dalam aktivitas operasional di perusahaan.

Ruang lingkup (scope) kegiatan audit semakin luas, pada saat ini tidak sekedar audit keuangan (financial audit) dan audit ketaatan (compliance audit), tetapi perhatian lebih ditujukan pada semua aspek yang berpengaruh terhadap kinerja perusahaan dan pengendalian manajemen serta memperhatikan aspek resiko bisnis / manajemen. Perubahan orientasi audit dari teknik-teknik pengendalian intern ke arah pengendalian bisnis perusahaan yang didasarkan atas risiko bisnis (business risk) atau rmanajemen risiko (risk management) ini akan terus berjalan seiring dengan kebutuhan perusahaan yang semakin kompleks di masa mendatang. Oleh karena itu saat ini berkembang pendekatan teknik audit dalam internal auditing yang berbasiskan risiko (risk based internal auditing).

Perbedaan antara paradigma lama dan paradigma baru internal auditor sebagai berikut : TABEL 1 INTERNAL AUDITOR: PARADIGMA LAMA VS PARADIGMA BARU

C. STANDAR The Standards for The Professional Practice of Internal Auditing (SPPIA) tahun 2002 yang ditetapkan oleh The institute of Internal Auditors mulai berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2002 merupakan revisi dari Standar Profesi Auditor Internal tahun 1999.
TABEL 2 STANDARDS PROFESSIONAL PRACTICE OF INTERNAL AUDITING

Tujuan dari standar SPPIA adalah : 1. Menggambarkan dengan jelas bahwa prinsip dasar dari pelaksanaan internal audit diterapkan. 2. Menyiapkan kerangka pelaksanaan dan promosi aktivitas internal audit yang lebih luas dengan nilai tambah. 3. Menetapkan basis pengukuran pada pelaksanaan internal audit. 4. Membantu perkembangan organisasi dalam proses dan operasinya.

Auditor internal merupakan suatu profesi yang memiliki peranan tertentu yang menjunjung tinggi standar terhadap mutu pekerjaannya. Kepatuhan terhadap SPPIA adalah sangat penting supaya terdapat kesamaan dalam wewenang, fungsi dan tanggungjawab para internal auditor.

Konsorsium Orgainsasi Profesi Audit Internal pada tanggal 12 mei 2004 telah menetapkan Standar Profesi Audit Internal dan wajib diterapkan semua anggota organisasi profesi yang tergabung dalam konsorsium dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 2005. Konsorsium merekomendasikan anggota IIA Indonesia Chapter, FK SPI BUMN/BUMD, YPIA, Dewan Sertifikasi QIA dan PAII agar segera memasukkan (mengadopsi) jiwa yang terdapat dalam butir-butir standar ini kedalam Audit Charter, pedoman, kebijakan serta prosedur audit internal yang ada pada organisasi masingmasing. D. Peranan Dan Tujuan Audit Internal Tujuan tugas pengauditan internal pada dasarnya membantu anggota manajemen dalammeringankan tanggung jawabnya dengan aktivitas penelaahan, pengkajian, penilaian dan analisa informasi aktivitas organisasi perusahaan. Dengan hasil pengauditannya memberikan kesimpul-an dan rekomendasi kepada manajer yang berkepentingan dengan menyedia-kan suatu landasan untuk tindakan perbaikan yang harus dilakukannya.

Tujuan tugas pengauditan internal mencakup dalam peningkatan berbagai jenis pengendalian yang ada dalam organisasi perusahaan lebih efektif dengan manfaat dan beban secara layak. Di seluruh dunia pengauditan internal dilaksanakan dalam berbagai lingkungan dan di dalam organisasi dengan berbagai variasi dalam hal maksud tujuan, ukuran dan struktur. Tentunya juga hubungan dan kebiasaan di dalam berbagai negara berbeda antara satu dengan yang lainnya Dalam hal ini praktik pengauditan internal dari satu organisasi ke organisasi lainnya terdapat perbedaan yang dipengaruhi oleh lingkungan organisasi itu sendiri dimana unit organisasi pengauditan internal itu berada. Oleh karena itu tujuan pengauditan internal dalam setiap organisasi perusahaan satu sarna lain akan berbeda dan akan disesuaikan dengan kepentingannya masingmasing.

Adapun fungsi Internal Auditing secara menyeluruh mengenai pelaksanaan kerja InternalAuditing dalam mencapai tujuannya adalah: 1. Membahas dan menilai kebaikan dan ketepatan pelaksanaan pengendalianakuntansi, keuangan serta operasi. 2. Meyakinkan apakah pelaksanaan sesuai dengan kebijaksanaan, rencana dan prosedur yangditetapkan. 3. Menyakinkan apakah kekayaan perusahaan/organisasi dipertanggungjawabkan dengan baikdan dijaga dengan aman terhadap segala kemungkinan resiko kerugian. 4. Menyakinkan tingkat kepercayaan akuntansi dan cara lainnya yang dikembangkan dalamorganisasi. 5. Menilai kualitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang telah dibebankan. Tjukria (1999:102) menyebutkan bahwa ada beberapa peran yang dapat dibawakan olehauditor intern adalah sebagai berikut : a) Peran sebagai pemecah masalah Temuan audit pada hakikatnya adalah masalah. Auditorintern harus mampu menggunakan metode pemecahan masalah (problem solving) yang rasional.

b) Temuan yang ada dari pelaksanaan audit bisa menjurus pada timbulnya konflik bila seorangauditor kurang mampu menyelesaikannya dengan auditee. Dalam praktiknya konflik ini bisa dilalui dengan jalan : 1. Dihindari. Auditor yang suka menghindari konflik cenderung mereka reaksi emosional dengan mencari cara yang lebih aman minta dipindahkan atau bahkankeluar dari pekerjannya. 2. Dibekukan. Membekukan konflik adalah taktik untuk menangguhkan tindakan. 3. Dikonfrontasikan. Masalah atau temuan bisa langsung dikonfrontasikan dengan auditee. Konfrontasi bisa dilakukan dengan dua jalan yaitu : 1. Dengan memakai kekerasan, misalnya dengan kekuasaan direktur utama auditee dipaksamelaksanakan rekomendasi audit. 2. Dengan memakai strategi negoisasi, dengan strategi ini kedua pihak bisa menang.

3. Peran pewawancara. Komunikasi yang akan dilakukan oleh auditor seringkali berbentukwawancara. Tujuannya adalah mencari fakta dan bukan opini. 4. Peran “negosiator” dan “komunikator”. Kedua peran ini juga dijumpai pada saat melakukanauditing. Mungkin peran komunikator akan lebih menonjol dibanding dengan negosiator. Sebagai komunikator, posisi auditor agak berbeda meskipun komunikasi bukan hal yang barubagi auditor mewujudkan komunikasi yang efektif bukanlah hal yang mudah.
Dengan demikian, keempat peran diatas perlu dipahami karena bisa jadi auditor membutuhkanlangkah-langkah khusus ketika berhadapan dengan manajemen. Selain itu, auditor harus mengembangkan hubungan antar manusia yang baik. Dalam hal ini, peran kepribadian auditor menjadi sangat menentukan.

E. KODE ETIK Selain standar, profesi internal auditing juga memiliki kode etik profesi yang harus ditaati dan dijalankan oleh segenap auditor. Kode etik memuat standar perilaku sebagai pedoman bagi seluruh auditor internal. Standar perilaku tersebut membentuk prinsip-prinsip dasar dalam menjalankan praktik auditor internal. Konsorsium Organisasi Profesi Auditor Internal (2004) telah menetapkan kode etik bagi para auditor internal yang terdiri dari 10 hal sebagai berikut : 1. Auditor internal harus menunjukkan kejujuran, obyektivitas dan kesanggupan dalam melaksanakan tugas dan memenuhi tanggung jawab profesinya. 2. Auditor internal harus menunjukkan loyalitas terhadap organisasinya atau terhadap pihak yang dilayani. Namun demikian, auditor internal tidak boleh secara sadar terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menyimpang atau melanggar hukum.

3. Auditor internal tidak boleh secara sadar terlibat dalam tindakan atau kegiatan yang dapat mendiskreditkan profesi audit internal atau mendiskreditkan organisasinya. 4. Auditor internal harus menahan diri dari kegiatan-kegiatan yang dapat menibulkan koflik dengan kepentingan organisasinya atau kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan prasangka, yang meragukan kemampuannya untuk dapat melaksanakan tugas dan memenuhi tanggungjawab profesinya secara obyektif. 5. Auditor internal tidak boleh menerima sesuatu dalam bentuk apapun dari karyawan, klien, pelanggan, pemasok ataupun mitra bisnis organisasinya, yang dapat atau patut diduga dapat mempengaruhi pertibangan profesionalnya. 6. Auditor internal hanya melakukan jasa-jasa yang dapat diselesikan dengan menggunakan kompetensi professional yang dimilikinya. 7. Auditor internal harus mengusahakan berbagai upaya agar senantiasa memenuhi Standar Profesi Audit Internal.

8. Auditor internal harus bersikap hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan informasi yang diperoleh dalam pelaksanaan tugasnya. Auditor internal tidak boleh menggunakan informasi rahasia (i) untuk mendapatkan keuntungan pribadi, (ii) secara melanggar hokum, (iii) yang dapat menimbulkan kerugian terhadap organisasinya. 9. Dalam melaporkan hasil pekerjaannya, auditor internal harus mengungkapkan semua fakta-fakta penting yang diketahuinya, yaitu fakta-fakta yang jika tidak diungkap dapat (i) mendistorsi laporan atas kegiatan yang direview, atau (ii) menutupi adanya praktik-praktik yang melanggar hukum. 10. Auditor internal harus senantiasa meningkatkan kompetensi serta efektivitas dan kualitas pelaksanaan tugasnya. Auditor internal wajib mengikuti pendidikan profesional berkelanjutan.

F. RUANG LINGKUP AUDIT. Ruang lingkup atau cakupan (scope) pekerjaan internal audit adalah seluas fungsi manajemen, sehingga cakupannya meliputi bidang finansial dan non finansial. 1. Audit Finansial Audit finansial merupakan jenis audit yang lebih berorientasi (focus) pada masalah keuangan. Sasaran audit keuangan adalah kewajaran ata laboran keuangan yang telah disajikan manajemen. Pada saat ini orientasi internal auditor tidak pada masalah audit keuangan saja, namun titik berat lebih difokuskan pada audit operasional di perusahaan. Hal tersebut disebabkan audit atas laporan keuangan perusahaan telah dilakukan oleh eksternal auditor pada waktu audit umum (general audit) tahunan. General audit dapat dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) atau Badan pengawasan keuangan dan Pembangunan (BPKP) serta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

2. Audit Operasional Istilah lain dari Audit Operasional adalah audit manajemen (management audit) atau audit kinerja (performance auditing).Sasaran dari audit operasional adalah penilaian masalah efisiensi,efektivitas dan ekonomis (3E). Pada saat ini dan kemudian hari, auditoperasional (audit manajemen) semakin penting perannya bagi organisasi usaha. Bagi perusahaan, yang penting dari hasil audit bukan semata-matamasalah kebenaran formal, tetapi manfaatnya untuk meningkatkan kinerjaorganisasi. Selain internal auditor, audit operasional juga dapat dilakukanoleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan pengawasan keuangandan Pembangunan (BPKP). 3. Compliance Audit Audit ketaatan / kepatuhan (compliance audit) adalah suatu audit yang bertujuan untuk menguji apakah pelaksanaan / kegiatan telah sesuai dengan ketentuan / peraturan yang berlaku. Paraturan / ketentuan yang dijadikan kriteria dalam compliance audit antara lain:

1. Peraturan / Undang-undang yang ditetapkan oleh Instansi Pemerintah atau Badan / Lembaga lain yang terkait. 2. Kebijakan / Sistem & Prosedur yang ditetapkan oleh manajemen perusahaan (Direksi). Selain internal auditor, compliance audit juga dapat dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan pengawasan keuangan dan Pembangunan (BPKP). Bagi perusahaan yang telah mendapatkan ISO 19000 dan sejenisnya, compliance audit perlu dilakukan oleh auditor ISO dalam rangka mempertahankan sertifikat ISO yang telah diraih perusahaan tersebut. 4. Fraud Audit Audit kecurangan (Fraud audit) adalah audit yang ditujukan untuk mengungkap adanya kasus yang berindikasi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang merugikan perusahaan / negara dan menguntungkan pribadi maupun kelompok (organisasi) atau pihak ketiga. Istilah lain dari fraud audit adalah audit khusus atau audit investigasi (investigative audit).

Dalam fraud audit, internal auditor perlu membuat bagan arus (flow chart) serta modus operandi berupa uraian tentang cara-cara melakukan tindak kejahatan (tindak pidana korupsi). Perkembangan Fraud audit pada saat ini cukup pesat, misalnya untuk mengungkap adanya fraud dibidang keuangan diperlukan ilmu mengenai akuntansi forensic (forensic accounting) dalam kejahatan keuangan di perusahaan, seperti halnya dalam ilmu kedokteran terdapat bedah forensik untuk mengungkap penyebab terjadinya kematian seseorang. Saat ini telah berkembang juga forensic audit, hal ini terkait dengan upaya pemenuhan bukti audit yang akan dipakai untuk kepentingan sidang di Pengadilan sehingga bukti audit tersebut dapat berkekuatan hukum.

G. INTERNAL AUDIT VS EKSTERNAL AUDIT Secara jujur harus diakui bahwa profesi auditor internal jauh tertinggal apabila dibandingkan dengan profesi eksternal auditor, seperti akuntan publik ataupun auditor pemerintah.

1. Jenis-jenis Auditor Eksternal a. Akuntan Publik Akuntan publik telah memiliki organisasi profesi yang dikenal sebagai IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) sejak tahun 1957. Akuntan Publik dalam melaksanakan tugas profesinya berdasarkan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) serta Standar Akuntansi keuangan (SAK) yang ditetapkan oleh IAI. Akuntan Publik biasanya berpraktek melalui Kantor Akuntan Publik (KAP) yang secara organisatoris berada dibawah koordinasi Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Kompartemen Akuntan Publik serta pengawasan dari Direktorat Akuntan & Jasa Penilai Departemen Keuangan.

b. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) BPK merupakan eksternal auditor bagi Pemerintah yang dibentuk berdasarkan UUD 45. Berdasarkan perubahan ketiga UUD 1945 pasal 23E pada Sidang Umum MPR tahun 2002, dinyatakan : • Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab tentang keuangan negara diadakan suatu BPK yang bebas dan mandiri.

• Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), sesuai dengan kewenangannya. • Hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan / atau badan sesuai dengan undangundang. c. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) BPKP yang dibentuk dengan Keputusan Presiden No. 31 tahun 1983, merupakan internal auditor bagi Pemerintah serta eksternal auditor bagi BUMN/BUMD dan Instansi Pemerintah. Kepres tersebut telah diperbaharui dengan keluarnya Kepres No. 103 tahun 2001. Berdasarkan ketentuan tersebut tugas BPKP adalah melaksanakan tugas pemerintahan dibidang pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku.

Fungsi BPKP antara lain : 1. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan 2. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan. 3. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPKP. 4. Pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan pengawasan keuangan dan pembangunan. 5. Penyelenggaraan, pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, persediaan, perlengkapan dan rumah tangga.

d. Perbedaan Terdapat beberapa perbedaan pokok antara audit internal dan audit eksternal. Apabila diperbandingkan antara profesi audit internal dengan audit eksternal dari berbagai aspek pelayanan menurut Barlow (1995) akan nampak sebagai berikut :
TABEL 3 PERBEDAAN ANTARA INTERNAL AUDIT DAN EKSTERNAL AUDIT

H. Posisi Internal Auditor Dalam Struktur Organisasi. Secara garis besar ada tiga alternatif posisi atau kedudukan dari Internal Auditor dalam struktur organisasi perusahaan yaitu: 1. Berada dibawah Dewan Komisaris. Dalam hal ini star internal auditing bertanggung jawab pada Dewan Komisaris. lni disebabkan karena bentuk perusahaan membutuhkan pertanggung jawaban yang lebih besar, termasuk direktur utama dapat diteliti oleh internal auditor. Dalam cara ini, bagain pemeriksa intern sebenarnya merupakan alat pengendali terhadap performance manajemen yang dimonitor oleh komisiaris perusahaan. Dengan demikian bagian pemeriksa intern mempunyai kedudukan yang kuat dalam organisasi. 2. Berada dibawah Direktur Utama. Menurut sistem ini star internal auditor bertanggung jawab pada direktur utama. Sistem ini biasanya jarang dipakai mengingat direktur utama terlalu sibuk dengan tugas-tugas yang berat. Jadi kemungkinan tidak sempat untuk mempelajari laporan yang dibuat internal auditor.

3. Berada dibawah Kepala Bagian Keuangan.Menurut sistem ini kedudukan internal auditor dalam struktur organisasi perusahaan berada dibawah koordinasi kepala bagian keuangan. Bagian Internal auditor bertanggung jawab sepenuhnya kepada kepala keuangan atau ada yang menyebutnya sebagai Controller. Tapi perlu juga diketahui bahwa biasanya kepala bagian keuangan tersebut bertanggung jawab juga pada persoalan keuangan dan akuntansi. I. Laporan Internal Auditor. Laporan internal auditor merupakan sarana pertanggung jawaban internal auditor atas penugasan pemeriksaan oleh pimpinan. Melalui laporan ini internal auditor akan mengungkapkan dan menguraikan kelemahan yang terjadi dan keberhasilan yang dapat dicapai. 1. Pemeriksaan. Sebelum membuat laporan, internal auditor terlebih dahulu mengadakan pemeriksaan terhadap bagian yang diperiksa. Dalam melaksanakan internal auditor terlebih dahulu menyusun rencana kerja periksaan yang disetujui pimpinan perusahaan.

Berdasarkan rencana kerja pemeriksaan yang telah disusun dan disetujui Direksi atau berdasarkan informasi yang diperoleh baik yang dari dalam maupun dari luar tentang adanya suatu penyelewengan yang akan merugikan kepentingan perusahaan, maka star internal auditing (auditor) akan mengadakan usulan pemeriksaan kepada manajemen. Dalam usulan pemeriksaan, star internal auditing hendaknya memberikan pertimbanganpertimbangan yang beralasan, yang menjadi dasar usulan pemeriksaan yang dilakukan. Disamping itu setiap usulan pemeriksaanharus dapat menggambarkan kepada manajemen jumlah waktu dan biaya yang dibutuhkan dan susunan auditor yang akan melaksanakan tugas tersebut. Sebagai dasar untuk melakukan suatu pemeriksaan, star internal auditor harus memperoleh surat penugasan yang dibuat oleh Direksi atau yang ditunjuk untuk itu. Surat penugasan ini merupakan suatu bentuk bukti persetujuan Direksi untuk melaksanakannya tugas pemeriksaan dan bahwa program pemeriksaannya telah dapat dilaksanakannya.

Agar pelaksanaan dilapangan dapat berjalan dengan lancar perlu persiapan, sebagai berikut: 1. Pengumpuian data/informasi yang menjadi dasar usulan pemeriksaan. 2. Kertas-kertas kerja pemeriksaan (working paper), kertas kerja ini merupakan alat yang dapat dipergunakan oleh stafstafinternal auditing untuk menghimpun data. 3. Auditing program setiap rencana pemeriksaan perlu disusun terlebih dahuluprogram pemeriksaan yang menggambarkan langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh star internal auditing tersebut. 4. Peralatan lain-lain yang dapat membantu memperlancar jalannya pemeriksaan hendaknya dipersiapkan dengan baik. 2. Laporan. Setelah melakukan pemeriksaan, internal auditor menyusun laporan kepada pihak manajemen. Adapun bentuk penyajian laporan dapat berupa:

a. Tertulis (Written). 1. Tabulasi a. Laporan akuntansi formal b. Statistik 2. Uraian atau paparan singkat 3. Grafik 4. Suatu kombinasi dari berbagai bentuk diatas.

b. Lisan 1. Presentasei formal group, ini dapat meliputi penggunaan berbagai alat visual. 2. Konferensi individual. Dalam laopran tertulis, data disampaikan secara lengkap dan menyeluruh (konprehensif). Sementara lisan dapat berupa pemaparan atas hal-hal yang dianggap perlu ditonjolkan dan cenderung informasi yang disampaikan tidak menyeluruh. Agar laporan internal auditor informatif, maka sebaiknya laporan tersebut memenuhi beberapa unsur yang menjadi dasar bagi penyusunan laporan.

Menurut "Norma Pemeriksaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara" pada point norma pelopor yang disusun oleh Bapeka khususnya pada norma pelopor, point tiga, disebutkan: Tiap laporan harus : 1. Menerangkan dengan jelas ruang lingkup dan tujuan pemeriksaan. 2. Dibuat seringkas mungkin, akan tetapi harus jelas dan cukup lengkap, agar dapat dimengerti oleh pihak yang menggunakannya. 3. Manyajikan fakta-fakta dengan teliti, lengkap dan layak, apabila terdapat suatu penyimpangan atau kesalahan, sedapat mungkin dijelaskan sebab dan akibatnya. 4. Menyajikan pendapat dan kesimpulan pemeriksa secara objektif dan dalam bahasa yang jelas dan sederhana. 5. Semata-mata membuat informasi yang didasarkan pada fakta pendapat dan kesimpulan yang di dalam kertas kerja didukung oleh bukti yang memadai. 6. Sedapat mungkin membuat rekomendasi pemeriksa sebagai dasar untuk pengambilan tindakan untuk mengusahakan kebaikan.

7. Lebih mengutamakan usaha-usaha perbaikan daripada kecaman Selain sebagai pedoman yang diungkapkan sebelumnya, khusus dalam penyajian dalam laporan tertulis, internal auditor perlu memperhatikan beberapa prinsip penyajia. Prinsip penyajian tersebut lebih dikenal dengan prinsip 10 (sepuluh) Prinsip-prinsip tersebut adalah: 1. Correct, penyajian harus tepat dan benar. 2. Complete, disajikan secara lengkap. 3. Concise, penyajian sesingkat mungkin. 4. Clear, informasi yang disampaikan harus jelas. 5. Comprehensive, laporan harus bersifat menyeluruh. 6. Comperative, sedapat mungkin laporan harus diperbandingkan. 7. Conciderate, informasi yang disajikan harus relevan. 8. Celerity, laporan harus selesai pada waktunya. 9. Candid, laporan harus objektif. 10. Coordinate, laporan harus dapat dikoordinasikan dengan laporan-laporan lainnya.

J. Kebutuhan Terhadap Audit Laporan Keuangan FASB dalam pernyataan Financial Accounting Concept No.2 seperti dikutip oleh Boyton, Johnson and Kell (2001: 46), menyatakan bahwa suatu informasi keuangan berguna bagi pengambilan keputusan apabila mempunyai dua sifat utama yaitu relevansi dan reliabilitas. Boyton, Johnson and Keli (2001: 46-47), ada empat kondisi yang menyebabkan dibutuhkannya audit laporan keuangan, yaitu: 1. Conflict of interest 2. Consequence 3. Complexity 4. Remoteness
Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Perbedaan kepentingan (conflict of interest) Perbedaan kepentingan dapat terjadi antara pihak pemakai laporan keuangan dengan pihak yang menyajikan data atau antara pihak pemakai laporan itu sendiri. Perbedaan ini menyebabkan pihak pemakai laporan keuangan mencari pihak luar yang independen akan memberikan pertimbangan yang sama bagi setiap kelompok yang mempunyai kepentingan terhadap laporan keuangan.

2. Konsekuensi (consequence) Laporan keuangan merupakan informasi yang sangat penting bagi pemakai laporan keuangan (kreditur, investor dan pembuatan keputusan ekonomi lainnya). Mereka menginginkan pengungkapan (disclosure) yang memadai. Para pemakai laporan keuangan mengandalkan akuntan publik untuk memastikan bahwa laporan keuangan yang disusun sesuai dengan PABU, dan berisi pengungkapan yang diperlukan bagi para pemakai yang berpengetahuan dan mengerti tentang laporan keuangan. 3. Kompleksitas (complexity) Transaksi-transaksi yang semakin kompleks dalam perusahaan menyebabkan bertambahbesarnya resiko salah interpretasi dan kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja. Para pemakai laporan keuangan semakin sulit mengevaluasi kualitas laporan keuangan sehingga membutuhkan auditor independen untuk menjamin secara memadai kualitas dari informasi tersebut. Yang kompleks adalah cara penyusunan atau penyiapan laporan keuangan dan akuntansinya.

4. Jarak yang jauh (remoteness) Para pemakai laporan keuangan yang jarang sekali dapat menjangkau catatan-catatan akuntansi perusahaan yang menyajikan laporan keuangan yang bersangkutan. Karena jarak yang jauh tersebut menghalangi pemakai untuk mengukur kualitas laporan keuangan, sehingga para pemakai laporan keuangan dihadapkan pada dua pilihan yaitu: 1. Para pemakai laporan keuangan menerima informasi tersebut dengan keyakinan bahwa laporan keuangan tersebut berkualitas 2. Para pemakai laporan keuangan mengandalkan diri pada pemeriksa pihak ketiga untuk meyakinkan mereka tentang kualitas dari informasi yang dapat diterima.

KESIMPULAN
Tugas-tugas pengauditan internal dalam pelaksanaannya memerlukan auditor internal yangberfungsi mendorong meningkatkan peranan para manajer atau para pejabat lainnya dalam organisasi perusahaan dalam tugas dan tanggung jawab pengendalian agar lebih efektif dan mengukur serta menilai berbagai jenis pengendalian dengan tujuan untuk meningkatkan jenis pengendalian yang ada agar lebih efektif. Dalam hal ini peranan pengauditan internal untuk membantu dan mendorong dalam meningkatkan peranan manajemen untuk mengendali-kan aktivitas yang menjadi tanggung jawabnya, terutama dalam fungsinya untuk melakukan penilaian terhadap para manajer. Dalam kaitan ini pengauditan internal berperan membantu para manajer dengan menyampaikan informasi kepada para manajer bersangkutan sebagai landasan untuk tindakan perbaikan yang harus dilakukannya.

Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwasejalan dengan evolusi peran internal auditor telah terjadi perubahan paradigma: 1. Bila sebelumnya hanya auditor yang tertarik dengan masalah resiko, pada paradigma baru semua orang tertarik dengan resiko. 2. Kalau sebelumnya dikenal dengan paradigma fragmentasi dan tidak ada risk policy, paradigma barunya adalah terfokus dan terkoordinasi serta adanya risk policy. 3. Kegiatan pada paradigma lama berupa: inspeksi, deteksi dan reaksi, pada paradigma baru: antisipasi, pencegahan dan monitoring. 4. Paradigma lama menyatakan bahwa orang-orang merupakan sumber resiko, pada paradigma baru: proses merupakan sumber resiko. Disamping itu terjadi juga pergeseran pandangan tentang internal control: • Dari mengurangi resiko akuntansi keuangan dan pelaporan ke arah mengurangi resiko bisnis. • Dari evaluasi pengendalian akuntasi yang ada bergeser ke arah merancang pengendalian bisnis untuk resiko yang teridentifikasi.

• Sebelumnya terfokus pada efektivitas proses bisnis dan ketaatan, bergeser kepada efisiensi, kualitas dan cepat tanggap dari proses bisnis. • Semula menetapkan orang-orang harus berbuat apa dan meyakinkan bahwa hal tersebut dilaksanakan, kemudian bergeser kepada pemberdayaan orang-orang dan menjaga agar mereka bertanggungjawab atas hasilnya. Dengan perubahan paradigma di atas, muncul paradigma baru dalam melihat peran dan kegiatan internal auditor, antara lain: • Auditing juga untuk melihat kedepan: dampak terhadap bisnis dimasa yang akan datang. • Internal auditor juga berperan sebagai partner bukan sekedar “watchdog”. Internal auditor juga berperan dalam proses perbaikan dan fokusnya pada inovasi dan efisiensi (bukan hanya biaya). Peran dan kegiatan tersebut tentu saja berkaitan dengan upaya membangun internal control system yang handal dalam mencapai tujuan (efisiensi dan efektivitas operasi, keandalan laporan keuangan, ketaatan kepada peraturan/ketentuan yang relevan) dan strategi bisnis.

Hal ini harus diimplementasikan dalam setiap unsur internal control (lingkungan pengendalian, penilaian resiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasian, dan monitoring), termasuk yang berkaitan dengan masalah fraud (kecurangan).

1.

2.
3. 4.

Selain itu terdapat beberapa perbedaan antara auditor eksternal dan auditor internal: Dari aspek konsumen auditor internal mencakup manajer dan komite audit sedangkan auditor eksternal mencakup pemegang saham Dari aspek fokusnya auditor internal lebih kepada resiko usaha sedangkan auditor eksternal lebih kepada resiko keuangan Dari segi orientasinya auditor internal adalah saat ini dan yang akan dating, sedangkan eksternal auditor adalh yang lalu sampai saat ini Dari segi pengendaliannya auditor internal melakukan pengendalian secara langsung, sedangkan eksternal auditor pengendaliannya secara tidak langsung

5. Dari segi kecurangan auditor internal dapat melakukannya secara langsung, sedangka auditor eksternal secara tidak langsung 6. Dari segi kebebasannya auditor internal lebih bersifat objektivitas, sedangkan auditor eksternal berdasarkan status 7. Dari segi kegiatannya auditor internal lebih pada proses yang sedang berjalan, sedangkan auditor eksternal lebih pada setiap periode akuntansi.

TERIMA KASIH

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful