You are on page 1of 31

ABSTRAK

Dalam pelaksanaan audit atas laporan keuangan oleh akuntan publik, hasilnya bukan hanya untuk kepentingan klien tapi juga untuk pihak ketiga meliputi para investor, kreditor, lembaga keuangan, pemerintah, masyarakat dan pihak-pihak lain yang mempunyai kepentingan terhadap laporan keuangan klien yang telah diaudit oleh akuntan publik. Independensi akuntan publik menyangkut dua aspek yaitu independensi sikap mental (Independence in fact) dan independensi penampilan (independence appearance). Dalam makalah kami ini dibahas mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi independensi akuntan publik dan faktor apa saja yang paling dominan mempengaruhi independensi akuntan publik. Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi independensi akuntan publik dan faktor apa saja yang tidak mempengaruhi independensi akuntan publik. Semoga dengan pembuatan makalah ini kita dapat lebih memahami dan menguasai masalah yang berkaitan dengan factor-faktor yang mempengaruhi independensi akuntan public.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Kemajuan usaha suatu perusahaan menuntun kinerja perusahaan yang terus menerus ditingkatkan. Peningkatan keuangan kinerja tersebut dapat dilihat dari pertanggungjawaban perusahaan yang bersangkutan.

Pertanggungjawaban keuangan perusahaan yang bersangkutan harus didasarkan pada catatan-catatan yang dibuat oleh perusahan itu sendiri. Dalam hal ini tidak tertutup kemungkinan bahwa hasil pencatatan dipengaruhi oleh hal-hal yang dapat menyebabkan diragukannya laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan. Dalam keadaan ini para pemakai laporan keuangan dapat beranggapan bahwa laporan keuangan yang disajikan dibuat lebih bagus dari yang sebenarnya. Berdasarkan hal di atas, laporan keuangan perlu diaudit oleh akuntan publik yang berwenang dan independen, yang dari hasil auditnya dapat memberikan pernyataan mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Dalam pelaksaan audit atas laporan keuangan oleh akuntan publik, hasilnya bukan hanya untuk kepentingan klien tetapi juga untuk pihak ketiga meliputi investor, kreditor, lembaga keuangan, pemerintah, masyarakat dan lain-lain yang memiliki kepentingan terhadap laporan keuangan klien yang telah diaudit oleh akuntan publik karena hasil ini menyangkut kepentingan banyak pihak dan sangat tergantung pada mutu hasil audit, akuntan publik haruslah independen, artinya bahwa ia tidak boleh memihak baik terhadap klien yang membayarnya maupun kepada pihak ketiga. Independensi akuntan publik merupakan dasar utama kepercayaan masyarakat dalam menilai mutu jasa audit, independensi akuntan publik menjadi suatu hal yang sangat penting. Independensi akuntan publik memiliki dua aspek yaitu: 1. 2. Independensi sikap mental (independence in fact) Independensi penampilan (independence in appearance)

Independensi sikap mental akan ada apabila dalam kenyataannya akuntan publik sebagai auditor mampu mempertahankan sikap yang tidak memihak sepanjang pelaksanaan auditnya. Sedangkan sikap independensi akuntan publik dalam melaksanakan tugas harus menghindari keadaan yang membuat orang lain meragukan kebebasan. Dalam makalah ini akan diteliti faktor-faktor yang mempengaruhi independensi menurut Kantor Akuntan Publik. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1. Hubungan keluarga akuntan berupa suami/istri, saudara sedarah semenda dengan klien; 2. Besar audit fee yang dibayar klien tertentu. 3. Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan kerugian yang terkait dengan usaha klien. 4. Pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien. 5. Keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai. 6. Pelaksanaan jasa lain untuk klien audit. 1.2. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut, kami mengidentifikasikan masalah dalam pembahasan ini sebagai berikut: 1. Apakah faktor-faktor seperti hubungan keluarga,besar audit fee yang dibayarkan oleh klien, hubungan usaha dan keuangan dengan klien, pemberian fasilitas dan bingkisan, keterlibatan usaha yang tidak sesuai dan pelaksanaan jasa lain dapat mempengaruhi independensi Akuntan Publik. 2. Apakah faktor-faktor seperti hubungan keluarga,besar audit fee yang dibayarkan oleh klien, hubungan usaha dan keuangan dengan klien, pemberian fasilitas dan bingkisan, keterlibatan usaha yang tidak sesuai dan pelaksanaan jasa lain tidak dapat mempengaruhi independensi Akuntan Publik 1.3. Literatur IAI (SPAP; 110.1) menyatakan bahwa, tujuan audit umum atas laporan keuangan yang dilakukan oleh auditor yang independen adalah untuk menyatakan pendapat 3

atas kewajaran, dalam semua hal yang materiil, posisi keuangan dan usaha serta arus kas sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum. Dengan demikian tujuan audit umum akan tercapai jika auditor yang memeriksa adalah seorang auditor yang independen. Independensi merupakan tujuan yang harus diupayakan dan itu dapat dicapai sampai tingkat tertentu. Sekalipun auditor dibayar oleh klien, ia tetap memiliki kebebasan yang cukup untuk melakukan audit yang handal. Menurut visi profesi abad 21 yang diterbitkan IAI (1997) telah menetapkan Kode Etik Akuntansi Indonesia agar anggota profesi menjaga dirinya dari kehilangan persepsi independensi. Pandangan masyarakat terhadap independensi penampilan Akuntan Publik ditetapkan karena sikap independensi merupakan masalah mutu pribadi, bukan merupakan suatu aturan yang dirumuskan. Independensi akuntan publik ini sangat penting terutama dalam memberikan kepastian bahwa laporan keuangan yang diterbitkan suatu perusahaan tidak mengandung informasi menyesatkan pemakainya. Dengan demikian pemakai laporan keuangan sangat tergantung pada pendapat Akuntan Publik sebelum memberikan kepercayaan pada laporan keuangan. Apabila suatu laporan audit akuntan publik sudah diwarnai oleh sikap keberpihakan dan kapabilitas, akuntan publik tersebut termasuk yang diragukan, informasi yang terkandung didalamnya bukan saja tidak bermanfaat untuk kepentingan umum bahkan justru sangat menyesatkan. Independensi dalam penampilan merupakan pandangan dari pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit. Meskipun auditor independen telah menjalankan audit secara independen dan objektif, pendapatnya yang dinyatakan melalui laporan audit tidak akan dipercaya oleh para pemakai jasa..

BAB II PEMBAHASAN

2.1.

Profesi Akuntan Publik

Sebagai bagian dari profesi akuntan, akuntan publik seringkali dinyatakan merupakan ujung tombak profesi akuntan. Profesi akuntan publik menonjol terutama dari kegiatan audit yang dilakukan oleh akuntan publik yang bertujuan untuk memberikan pendapat terhadap laporan keuangan terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen. Dalam menilai keuangan suatu laporan keuangan seorang akuntan publik bisa memberikan jaminan bahwa pendapat yang dikeluarkannya dapat dipercaya dan tidak menyesatkan pemakainya. Pemakai laporan keuangan sangat tergantung pada pendapat akuntan publik. Sebelum memberikan kepercayaan kepada laporan keuangan, akuntan publik juga membantu manajemen dalam hal pernyataan pendapat yang digunakan oleh manajemen untuk mendukung pertanggungjawaban seperti yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Akuntan publik adalah suatu profesi yang saat ini dihadapkan pada suatu lingkungan yang benar-benar baru. Kondisi lingkungan ini sudah dan terus berubah, yang mau tidak mau harus dihadapi. Dengan kenyataan ini, profesi akuntan publik akan hidup sesuai dengan seleksi alam yaitu bila profesi ini dapat mengimbangi perubahan keadaan yang sangat drastis, profesi ini akan survive. Karena begitu pentingnya fungsi akuntan publik, perlu ditempuh berbagai usaha untuk menjaga kredibilitas akuntan publik agar kepercayaan masyarakat terhadap profesi ini tidak berkurang. Standard Profesi Akuntan Publik dan kode etik akuntan yang dikeluarkan IAI merupakan sebagian dari hasil usaha untuk menjaga kredibilitas akuntan publik. Berbagai perkembangan yang terjadi belakangan ini mengakibatkan semakin tinggi profesi akuntan publik ini sehingga perlu dikembangkan menjadi usaha termasuk program pendidikan akuntan untuk meningkatkan citra dan kemampuan profesi akuntan publik. 5

Menurut IAI (SPAP 2002:2) arti akuntan publik yang professional adalah akuntan publik yang menjunjung tinggi integritas, objektivitas dan independensi. Independensi artinya dalam menjalankan tugas kantor akuntan publik harus selalu mempertahankan sikap mental independen di dalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam SPAP yang dikeluarkan oleh IAI. Sikap mental independen tersebut harus meliputi independen dalam fakta (in fact) maupun penampilan (in appereance), integritas dan objektivitas. Artinya dalam menjalankan tugasnya, anggota kantor akuntan publik harus mempertahankan integritas dan objektivitas, harus bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest) dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji materiil (material misstatement) yang diketahuinya atau mengalihkan (mensubordinasikan) perkembangan kepada pihak lain. 2.1.1. Akuntan Publik Sebagai Suatu Profesi Pengertian profesi akuntan publik menurut Mulyadi (2002: 4): Profesi akuntan publik merupakan profesi kepercayaan masyarakat, dari profesi inilah masyarakat mengharapkan penilaian yang bebas tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh manajemen perusahaan dalam laporan keuangan. Terlepas dari definisi di atas, suatu profesi dikatakan menjadi suatu profesi yang sudah mapan bila memiliki enam ciri yaitu: 1. Memberikan jasa yang bermanfaat bagi masyarakat 2. Terikat oleh prinsip-prinsip etik dengan tekanannya kepada kebijakan berupa pelayanan, kejujuran, integritas serta pengabdian kepada kesejahteraan yang dilayani 3. Mempunyai persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat menjadi anggota yang diatur dengan undang-undang 4. Mempunyai prosedur dalam menegakkan disiplin anggota yang melanggar kode etik 5. Mempunyai pengetahuan minimal dalam bidang keahlian yang diperoleh melalui pendidikan formal 6

6. Mempunyai bahasa sendiri, dan mengenai hal-hal yang sangat teknis hanya dimengerti oleh mereka yang menjadi anggota Adapun prinsip-prinsip dasar profesi yaitu: 1. Integritas, dalam arti terus terang, jujur dan bersungguh-sungguh. 2. Independen, dalam arti mampu membebaskan diri dari semua kepentingan yang dapat mengganggu integritas dan objektivitas serta tampak oleh semua pihak anggota profesi mampu membebaskan diri dari dugaan bahwa anggota profesi tidak independen. 3. Objektif artinya tidak memihak, tidak bias dalam mengemukakan pendapat, tidak berprasangka dan adil bagi semua pihak. 4. Dapat memegang rahasia, akuntan publik dalam melaksanakan tugasnya harus dapat memegang rahasia. 5. Kompeten, dalam arti mampu memenuhi standard teknis profesi dan terus menjaga tingkat kemampuan selama kader profesinya. Seperti halnya profesi-profesi yang lain, profesi akuntan publik terikat dengan aturan-aturan (regulasi) yang mengatur setiap anggota profesi dalam menjalankan pekerjaannya. Aturan-aturan pokok yang berkaitan dengan profesi akuntan publik ialah: 1. Undang-Undang No.34 Tahun 1954. Undang-undang inilah yang mengatur syarat-syarat kecakapan dan kewenangan dari setiap orang yang terjun dalam profesi akuntan publik. Ada tiga hal yang perlu dicatat dari UU No.34 Tahun 1954 antara lain: 1. Akuntan harus sarjana Fakultas Ekonomi Perguruan Tinggi Negeri atau mempunyai ijazah yang disamakan. Pertimbangan ini berada di tangan Panitia Ahli Pertimbangan Ijazah. 2. Akuntan tersebut harus terdaftar Departemen dalam registrasi negara yang dan memperoleh ijin diselenggarakan 3. Keuangan

menggunakan gelar akuntansi dari department tersebut. Menjalankan pekerjaan auditor dengan memakai nama kantor akuntan, biro akuntan atau nama lain yang memuat nama akuntan atau akuntansi hanya dijalankan jika pemimpin kantor atau biro tersebut dipegang oleh seorang atau beberapa orang akuntan. 7

Disamping akuntan telah menjalankan pendidikan formal sebagai akuntan seperti diatur dalam UU No.34 Tahun 1954 tersebut, standard yang pertama mensyaratkan akuntan publik harus menjalani pelatihan teknis yang cukup dalam praktik akuntansi dan prosedur audit. Pendidikan formal akuntan publik, pengalaman kerja dan profesinya merupakan hal yang sangat melengkapi. Disamping itu pelatihan teknis yang cukup mempunyai arti pula bahwa akuntan harus mengikuti perkembangan yang termasuk dalam dunia usaha dan profesinya. Karena dunia usaha selalu mengalami perubahan dan perkembangan, akuntansi yang merupakan penyedia informasi keuangan bagi masyarakat. Dunia bisnis harus selalu mengikuti perkembangan bidang akuntansi agar tetap dapat menyediakan jasa yang bermanfaat bagi kliennya dan lingkungan masyarakat. Ada beberapa kriteria akuntan publik sebagai suatu profesi, seperti dikemukakan dalam Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 43/KMK/017/1997 tentang jasa akuntan publik,yaitu: 1. Akuntan publik adalah akuntan yang memiliki ijin dari Menteri Keuangan untuk menjalankan pekerjaan akuntan publik. 2. Kantor Akuntan Publik adalah lembaga yang memiliki ijin dari Menteri Keuangan sebagai wadah bagi akuntan publik untuk menjalankan pekerjaannya, Kantor akuntan publik dapat berbentuk usaha sendiri atau kerjasama. 3. Akuntan publik menjalankan pekerjaan bebas dalam bidang jasa audit umum, audit khusus, atestasi dan review. 4. Akuntan publik dapat pula menjalankan pekerjaan bebas dalam bidang jasa konsultasi, perpajakan dan jasa-jasa lainnya yang ada hubungannya dengan akuntansi. 5. Untuk memperoleh ijin sebagaimana dimaksud dalam point (1), akuntan yang bersangkutan wajib mengajukan permohonan tertulis kepada Dirjen Lembaga Keuangan Up. Direktur

Pembinaan Akuntan dan jasa penilaian dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Berdomisili di wilayah Indonesia. b. Memiliki register akuntan. c. Menjadi anggota IAI. d. Lulus ujian sertifikasi akuntan publik yang diselenggarakan oleh IAI. e. Telah memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun sebagai akuntan dan pengalaman audit umum sekurang-kurangnya 3000 jam dengan reputasi baik. f. Menduduki jabatan manajemen atau ketua tim dalam audit umum sekurang-kurangnya 1 tahun. g. Wajib mempunyai Kantor Akuntan Publik. 2. Standard Akuntansi Keuangan (SAK) Standard Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan pengumuman atau ketentuan resmi yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (sebagai badan yang berwenang) mengenai konsep, standard, dan metode yang dinyatakan sebagai pedoman utama dalam praktik akuntansi perusahaan atau unit-unit organisasi lainnya yang di lingkungan Republik Indonesia sepanjang ketentuan tersebut relevan dengan keadaan perusahaan atau unit usaha bersangkutan. Standard Akuntansi Keuangan dilengkapi dengan Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan (PSAK) dan interpretasi Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan (IPSAK). 3. Standard Profesional Akuntan Publik Merupakan modifikasi berbagai standard bagi akuntan public dalam menyediakan berbagai jenis jasa profesionalnya kepada masyarakat. SPAP disusun oleh Dewan Standard Profesional Akuntan Publik Ikatan Akuntan Indonesia. Terdapat lima macam standard professional yang terdapat dalam SPAP yaitu: 1. Standard Auditing 2. Standard Atestasi 3. Standard Jasa Akuntansi dan review 9

4. Standard Jasa Konsultasi 5. Standard Pengendalian Mutu 4. Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia Sebagai suatu profesi Akuntansi sangat membutuhkan aturan etika professional. Di Indonesia Aturan Etika Profesional ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia sebagai organisasi yang mewadahi para akuntan di Indonesia. Aturan Etika Profesional Akuntansi disebut Kode Etik Akuntan Indonesia.

2.1.2. Timbul dan Berkembangnya Profesi Akuntan Publik Profesi akuntan publik dikenal oleh masyarakat dari jasa audit yang disediakan bagi pemakai informasi keuangan. Timbul dan berkembangnya profesi akuntan publik di suatu negara adalah sejalan dengan berkembangnya perusahaan dari berbagai bentuk badan hukum perusahaan di negara tersebut. Pihak-pihak diluar perusahaan memerlukan informasi mengenai perusahaan untuk pengambilan keputusan tentang hubungan mereka dengan perusahaan. Umumnya mereka mendasarkan keputusan mereka berdasarkan informasi yang disajikan oleh manajemen dalam laporan keuangan perusahaan. Dengan demikian, terdapat dua kepentingan yang berlawanan dalam situasi seperti yang diuraikan di atas. Di satu pihak, manajemen perusahaan ingin menyampaikan informasi mengenai pertanggungjawaban pengelolaan dana yang berasal dari pihak luar, di pihak lain, pihak luar perusahaan ingin memperoleh informasi yang andal dari manajemen perusahaan mengenai pertanggungjawaban dana yang mereka investasikan. Adanya dua kepentingan yang berlawanan inilah yang menyebabkan timbul dan berkembangnya profesi akuntan publik. Manajemen perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga agar

pertanggungjawaban keuangan yang disajikan kepada pihak luar dapat dipercaya, sedangkan pihak luar perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga untuk memperoleh keyakinan bahwa laporan keuangan yang disajikan oleh 10

manajemen perusahaan dapat dipercaya sebagai dasar keputusan-keputusan yang diambil oleh mereka. Baik manajemen perusahaan maupun pihak luar perusahaan yang berkepentingan terhadap perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga yang dapat dipercaya. Tanpa menggunakan jasa auditor independen, manajemen perusahaan tidak akan dapat meyakinkan pihak luar perusahaan bahwa laporan keuangan yang disajikan berisi informasi yang dapat dipercaya, karena dari sudut pandang pihak luar, manajemen perusahaan mempunyai kepentingan, baik kepentingan keuangan maupun kepentingan yang lainnya. Profesi ini merupakan profesi kepercayaan masyarakat. Dari profesi akuntan publik inilah masyarakat mengharapkan penilaian yang bebas tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh manajemen perusahaan dalam laporan keuangan. Perkembangan profesi akuntan publik pernah mendapat dorongan dari pemerintah dalam tahun 1979 sampai dengan 1983, dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 108/KMK 07/1979 tentang Penggunaan Laporan Pemeriksaan Akuntan Publik untuk memperoleh keringanan dalam Pajak perseroan. Dalam peraturan ini, instansi pajak menetapkan pajak pendapatan atau pajak perseroan atas dasar laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik. Keputusan Menteri Keuangan tersebut menjadi tidak berlaku pada awal tahun 1984, dengan berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984. Pada awal tahun 1992, kembali profesi akuntan publik diberi kepercayaan dari pemerintah (dalam hal ini Direktorat Jendral Pajak) untuk melakukan verifikasi pembayaran pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan barang mewah (PPn BM) yang dilakukan oleh para pengusaha kena pajak (PKP). Perkembangan pasar modal Indonesia diwarnai dengan meningkatnya jumlah perusahaan yang menjual sahamnya di pasar modal. Perkembangan pasar modal Indonesia merupakan pendorong berkembangnya profesi akuntan publik Indonesia.

11

2.1.3. Pengertian Akuntan Publik Akuntan publik adalah profesi yang mempunyai posisi unik. Pada satu sisi mendapat honor dari klien, tetapi dalam menjalankan praktik publik (public practice) ia harus dapat bersifat independen, yaitu tidak memihak pada salah satu pihak, baik klien maupun pihak lainnya. Kode etik Akuntan Indonesia dalam pembukaanya mendefinisikan akuntan publik sebagai berikut: Akuntan adalah profesi yang terdiri dari landasan kepercayaan masyarakat. Dengan demikian, dalam melaksanakan tugasnya akuntan harus mengutamakan kepentingan masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Keputusan Menteri Keuangan RI No. 423/KMK 06/2002, mendefinisikan akuntan publik sebagai berikut: Akuntan publik adalah akuntan yang telah memperoleh ijin Menteri untuk memberikan jasa sebagaimana diatur di dalam Keputusan Menteri keuangan. Arens (2003: 17) memberikan definisi tentang akuntan publik sebagai berikut: CPA (Certified Public Accountant): A person who has met state regulatory requirements including passing the uniform CPA exam and has thus been certified. CPA may have as his or her primary responsibility the performance of the audit function on published historical financial statement of commercial and non commercial financial entities. Mulyadi dan Puradiredja (2002: 52) memberikan perbedaan definisi antara pengertian akuntan publik dengan pengertian auditor independen sebagai berikut: Akuntan publik adalah akuntan yang berpraktik dalam kantor akuntan publik yang menyediakan jasa yang diatur dalam Standard Profesi Akuntan Publik (auditing, atestasi, review dan jasa akuntansi lainnya). Adapun auditor independen didefinisikan oleh Mulyadi dan Puradiredja (2002: 52) sebagai berikut:

12

Auditor Independen adalah akuntan publik yang melaksanakan penyusunan audit atas laporan keuangan historis yang menyediakan jasa audit atas dasar standard auditing yang tercantum dalam Standard Profesi Akuntan Publik Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa akuntan yang memperoleh ijin dari Menteri Keuangan dan merupakan profesi yang berdiri atas landasan kepercayaan masyarakat yang dibayar oleh klien, tetapi dalam melaksanakan praktiknya harus profesional dan bertanggung jawab serta harus mengutamakan kepentingan masyarakat, pemerintah dan dunia usaha.

2.2.

Kebutuhan Terhadap Audit Laporan Keuangan FASB dalam pernyataan Financial Accounting Concept No.2 seperti dikutip oleh Boyton, Johnson and Kell (2001: 46), menyatakan bahwa suatu informasi keuangan berguna bagi pengambilan keputusan apabila mempunyai dua sifat utama yaitu relevansi dan reliabilitas. Boyton, Johnson and Keli (2001: 46-47), ada empat kondisi yang menyebabkan dibutuhkannya audit laporan keuangan, yaitu: 1. Conflict of interest 2. Consequence 3. Complexity 4. Remoteness Dan uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Perbedaan kepentingan (conflict of interest) Perbedaan kepentingan dapat terjadi antara pihak pemakai laporan keuangan dengan pihak yang menyajikan data atau antara pihak pemakai laporan itu sendiri. Perbedaan ini menyebabkan pihak pemakai laporan keuangan mencari pihak luar yang independen akan memberikan pertimbangan yang sama bagi setiap kelompok yang mempunyai kepentingan terhadap laporan keuangan. 2. Konsekuensi (consequence)

13

Laporan keuangan merupakan informasi yang sangat penting bagi pemakai laporan keuangan (kreditur, investor dan pembuatan keputusan ekonomi lainnya). Mereka menginginkan pengungkapan (disclosure) yang memadai. Para pemakai laporan keuangan mengandalkan akuntan publik untuk memastikan bahwa laporan keuangan yang disusun sesuai dengan PABU, dan berisi pengungkapan yang diperlukan bagi para pemakai yang berpengetahuan dan mengerti tentang laporan keuangan. 3. Kompleksitas (complexity) Transaksi-transaksi yang semakin kompleks dalam perusahaan menyebabkan bertambahbesarnya resiko salah interpretasi dan kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja. Para pemakai laporan keuangan semakin sulit mengevaluasi kualitas laporan keuangan sehingga membutuhkan auditor independen untuk menjamin secara memadai kualitas dari informasi tersebut. Yang kompleks adalah cara penyusunan atau penyiapan laporan keuangan dan akuntansinya. 4. Jarak yang jauh (remoteness) Para pemakai laporan keuangan yang jarang sekali dapat menjangkau catatan-catatan akuntansi perusahaan yang menyajikan laporan keuangan yang bersangkutan. Karena jarak yang jauh tersebut menghalangi pemakai untuk mengukur kualitas laporan keuangan, sehingga para pemakai laporan keuangan dihadapkan pada dua pilihan yaitu: 1. Para pemakai laporan keuangan menerima informasi tersebut dengan keyakinan bahwa laporan keuangan tersebut berkualitas 2. Para pemakai laporan keuangan mengandalkan diri pada pemeriksa pihak ketiga untuk meyakinkan mereka tentang kualitas dari informasi yang dapat diterima.

2.3.

Peranan Auditing Guy dkk (2002: 3) kebutuhan akan audit diakibatkan oleh empat faktor yang mendasarinya, yaitu: 1. Kompleksitas 14

2. Jarak 3. Bias dan motif penyaji 4. Konsekuensi Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Kompleksitas Volume aktivitas ekonomi dalam dunia bisnis dan entitas lainnya bersamaan dengan kompleksitas pertukaran ekonomi tersebut, seringkali mempersulit pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perlakuan akuntansi dan pengungkapannya membutuhkan jasa akuntan professional. 2. Jarak Dalam lingkungan saat ini, pengambilan keputusan biasanya terpisah dari organisasi. Jarak dapat meningkatkan salah saji, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, sehingga meningkatkan permintaan akan pihak independen untuk memeriksa catatan keuangan. 3. Bias dan motif penyaji Apabila informasi keuangan disajikan dari sumber yang kurang independen, maka pengguna informasi keuangan mungkin menyangsikan bias dan motif penyaji. Penyaji informasi keuangan mungkin menghadapi pertentangan kepentingan (conflict of interest) baik disengaja maupun tidak disengaja dengan pengguna informasi keuangan tersebut. Bias dan potensi pertentangan dapat menciptakan kebutuhan akan pihak independen untuk meningkatkan kredibilitas informasi keuangan entitas dengan mengaudit laporan keuangan. Jadi independent seorang auditor merupakan suatu keharusan bagi para pengguna untuk mempercayai bahwa audit adalah berbobot dan bernilai. 4. Konsekuensi Salah satu karakteristik dari masyarakat kita adalah partisipasi investor, perusahaan dan entitas lain yang meluas dan mendalam dari pasar. Dalam lingkungan ekonomi saat ini, keputusan ekonomi seringkali melibatkan pengeluaran yang sangat besar dan mempengaruhi banyak orang. Keputusan penting ini membutuhkan informasi keuangan yang relevan dan handal.

15

2.4.

Tipe-Tipe Audit Mulyadi (2002: 30-32) tipe-tipe audit terdiri dari: 1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit) 2. Audit Kepatuhan (Compliance Audit) 3. Audit Operasional (Operational Audit) Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit) Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor independen terhadap laporan keuangan yang disajikan oleh kliennya untuk menyatakan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Dalam audit laporan keuangan ini, auditor independen menilai kewajaran laporan keuangan atas dasar kesesuaiannya dengan Prinsip-Prinsip Akuntansi Berterima Umum. Hasil auditing terhadap laporan keuangan tersebut disajikan dalam bentuk tertulis berupa laporan audit. Laporan audit ini dibagikan kepada kepada para pemakai informasi keuangan seperti pemegang saham, kreditur dan Kantor Pelayanan Pajak. 2. Audit Kepatuhan (Compliance Audit) Audit kepatuhan adalah audit yang tujuannya untuk menentukan apakah yang diaudit sesuai dengan kondisi atau peraturan tertentu. Hasil audit kepatuhan umumnya dilaporkan kepada pihak yang berwenang membuat kriteria. Audit kepatuhan banyak dijumpai dalam pemerintahan. 3. Audit Operasional (Operational Audit) Audit operasional merupakan review secara sistematik kegiatan organisasi, atau bagian daripadanya, dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Tujuan audit operasional adalah untuk: 1. 2. 3. lanjut Pihak yang memerlukan audit operasional adalah manajemen atau pihak ketiga. Hasil audit operasional diserahkan kepada pihak yang meminta dilaksanakannya audit tersebut. Mengevaluasi kinerja Mengidentifikasi kesempatan untuk peningkatan Membuat rekomendasi untuk perbaikan atau tindakan lebih

16

2.5.

Jasa Yang Diberikan oleh Kantor Akuntan Publik Profesi akuntan publik menghasilkan berbagai macam jasa bagi masyarakat, yang dapat digolongkan ke dalam kedua kelompok yaitu: 1. Jasa assurance (Jasa atestasi) 2. Jasa non assurance Dari uraian di atas maka dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Jasa Assurance Jasa assurance adalah jasa professional independen yang meningkatkan mutu informasi bagi pengambil keputusan. Jasa assurance ini dikenal dengan jasa audit. Tipe dari jasa assurance adalah jasa atestasi. Jasa atestasi adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan orang yang independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai. Asersi adalah pernyataan yang dibuat oleh suatu pihak yang secara implisit dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain (pihak ketiga). Untuk laporan keuangan historis, asersi merupakan pernyataan manajemen bahwa laporan keuangan sesuai dengan PABU. Jasa atestasi profesi akuntan publik dapat dibagi lebih lanjut menjadi empat jenis: 1. Audit 2. Pemeriksaan (examination) 3. Review 4. Prosedur yang disepakati (agreed-upon procedures) Dari uraian di atas maka dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Audit Jasa audit mencakup pemerolehan dan penilaian bukti yang mendasari laporan keuangan historis suatu entitas yang berisi asersi yang dibuat oleh manajemen entitas tersebut. Akuntan publik yang memberikan jasa audit disebut dengan istilah auditor. Atas dasar audit yang dilaksanakan terhadap laporan keuangan historis suatu entitas, auditor menyatakan 17

suatu pendapat mengenai apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha entitas sesuai dengan Prinsip-prinsip Akuntansi yang Belaku umum 2. Pemeriksaan Pemeriksaan adalah berupa pernyataan suatu pendapat atas kesesuaian asersi yang dibuat oleh pihak lain dengan kriteria yang telah ditetapkan. 3. Review Jasa review berupa permintaan keterangan atau prosedur analitik terhadap informasi keuangan suatu entitas dengan tujuan untuk memberikan keyakinan negatif atas asersi yang terkandung dalam informasi keuangan tersebut. Keyakinan negatif lebih rendah tingkatnya dibandingkan dengan keyakinan positif yang diberikan oleh akuntan publik dalam jasa audit dan jasa pemeriksaan, karena lingkup prosedur yang digunakan oleh akuntan publik dalam pengumpulan bukti lebih sempit dalam jasa review bandingkan dengan yang digunakan dalam jasa audit dan jasa pemeriksaaan. Dalam menghasilkan jasa audit dan pemeriksaan, akuntan publik melaksanakan berbagai prosedur berikut ini: inspeksi, observasi, konfirmasi, permintaan keterangan, pengusutan, pemeriksaan bukti pendukung, pelaksanaan ulang dan analisis. Dengan hanya dua prosedur (permintaan keterangan dan prosedur analitik) yang dilakukan dalam jasa review, akuntan publik memberikan keyakinan negatif atas asersi yang dibuat manajemen, sehingga tingkat keyakinan yang diberikan oleh akuntan dalam laporan hasil review lebih rendah dibandingkan dengan tingkat yang diberikan dalam jasa audit dan pemeriksaan. 4. Prosedur yang disepakati Jasa atestasi atas asersi manajemen dapat dilaksanakan oleh akuntan publik berdasarkan prosedur yang disepakati antara klien dengan akuntan publik. Lingkup pekerjaan yang dilaksanakan oleh akuntan publik dalam menghasilkan jasa atestasi dengan prosedur yang disepakati lebih sempit dibandingkan dengan audit dan pemeriksaan.

18

Untuk tipe jasa ini, akuntan publik dapat menerbitkan suatu ringkasan temuan atau suatu keyakinan negatif seperti yang dihasilkan dalam jasa review. 2. Jasa nonassurance Jasa nonassurance adalah jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik yang didalamnya ia tidak memberikan suatu pendapat, keyakinan negatif, ringkasan temuan atau bentuk lainnya keyakinan. Jenis jasa nonasurance yang dihasilkan akuntan publik adalah: 1. Jasa kompilasi Kantor Akuntan Publik juga menawarkan jasa akuntansi dan pembukuan kepada para kliennya. Dalam situasi ini, Kantor Akuntan Publik dapat melaksanakan berbagai tugas, dari pencatatan transaksi ke dalam jurnal dan membuat posting ke buku besar sampai membuat draft laporan keuangan dari buku besar klien yang sudah disiapkan. Pada saat melaksanakan jasa lainnya ini, Kantor Akuntan Publik mengeluarkan laporan kompilasi. Dalam laporan kompilasi Kantor Akuntan Publik tidak memberikan keyakinan atas kewajaran laporan keuangan apakah sesuai dengan PABU. 2. Jasa perpajakan Jasa perpajakan merupakan komponen penting dari keseluruhan jasa yang diberikan Kantor Akuntan Publik dan merupakan jasa utama yang ditawarkan oleh beberapa Kantor Akuntan Publik. Kantor Akuntan Publik melaksanakan tugas perpajakan dalam dua kategoni umum: ketaatan pelaksanaan dan perencanaan pajak. 3. Jasa konsultasi Jasa konsultasi disebut juga penasihat manajemen atau jasa administratif yang diberikan kepada klien audit atau klien perpajakan yang ada atau kepada klien khusus yang menerima jasa konsultasi tersebut. Jasa konsultasi termasuk analisis system komputer, instalasi proses penganggaran, sistem informasi akuntansi, sistem manajemen just in time dan persediaan dan lainnya.

19

2.6.

Independensi Akuntan Publik Selain dituntut memiliki kompetensi yang memadai, auditor juga dituntut untuk senantiasa mempertahankan sikap mental independen. Artinya, auditor harus senantiasa membebaskan diri dari pengaruh atau kepentingan pihakpihak tertentu baik dalam pelaksanaan auditing maupun dalam pelaporan temuan-temuan serta dalam pemberian pendapat. Selain seorang auditor berkewajiban senantiasa mempertahankan sikap independensinya (independence in fact), mereka juga berkewajiban pula untuk menghindari keadaan-keadaan yang mengakibatkan auditor tampak tidak independent sehingga masyarakat meragukan independensinya (independence in appearance). Bila independence in fact dan independence in appearance dapat dipertahankan, masyarakat akan berpersepsi bahwa auditor telah benarbenar independen. Penetapan independensi akuntan publik ditetapkan oleh IAI pertama kali dalam kongresnya tahun 1973, yang kemudian mengalami beberapa perubahan. Ada beberapa kondisi di Indonesia yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut antara lain karena pemerintah belum mengatur adanya kewajiban audit yang berlaku umum untuk usaha swasta di Indonesia.

2.6.1.

Pengertian Independensi Akuntan Publik Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada pihak lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya. Arens (2003: 83) mendefinisikan independensi sebagai berikut: A member in public practice shall be independendence in the performance a professional service as require by standards promulgated by bodies designated by a council

20

Mulyadi (2002: 26) mendefinisikan sebagai berikut: Keadaan bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada oraug lain. Akuntan publik yang independent haruslah akuntan publik yang tidak terpengaruhi dan dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang berasal dari luar diri akuntan dalam mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam pemeriksaan. Dewan Standard Profesi Akuntan Publik (SPAP) IAI melalui SPAP (2001:220.1) menyatakan bahwa: Standard ini mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum (dibedakan didalam hal ia berpraktik sebagai auditor intern). Dengan demikian, ia tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun sebab bagaimanapun sempurnanya keahilan teknis yang ia miliki, ia akan kehilangan sikap tidak memihak, yang justru sangat penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang tercakup dalam independensi adalah sebagai berikut: 1. Suatu sikap mental yang terdapat pada akuntan publik yang jujur, tidak memihak pada suatu kepentingan tertentu dengan keahlian mengenai objek yang diperiksanya, yang memungkinkan ia bersikap jujur dan ia memihak. 2. Suatu tindakan yang bebas dari pengaruh, bujukan, pengendalian pihak lain dalam melakukan perencanaan, pemeriksaan dan pelaporannya.

2.6.2.

Pentingnya Independensi Akuntan Publik Auditor mengakui kewajiban untuk jujur tidak hanya kepada manajemen dan pemilik perusahaan, namun juga kepada kreditur dan pihak lain yang meletakkan kepercayaan atas laporan auditor independen, seperti calon-calon pemilik dan kreditur. Kepercayaan masyarakat umum atas independensi sikap auditor sangat penting bagi perkembangan profesi akuntan publik. Kepercayaan masyarakat 21

akan menurun jika terdapat bukti bahwa sikap independensi auditor ternyata berkurang. Untuk diakui oleh pihak lain sebagai orang yang independen, ia harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak mempunyai suatu kepentingan dengan kliennya, apakah itu manajemen perusahaan atau pemilik perusahaan. Sebagai contoh, seorang auditor yang mengaudit perusahaan dan ia juga menjabat sebagai direktur perusahaan tersebut, meskipun ia telah melakukan keahliannya dengan jujur, namun sulit untuk mengharapkan masyarakat mempercayainya sebagai orang yang independen. Masyarakat akan menduga bahwa kesimpulan dan langkah yang diambil oleh auditor independen selama auditnya dipengaruhi oleh kedudukannya sebagai anggota direksi. Demikian juga halnya, seorang auditor yang mempunyai kepentingan keuangan yang cukup besar dalam perusahaan yang diauditnya, mungkin ia benar-benar tidak memihak dalam menyatakan pendapatnya atas laporan keuangan tersebut. Namun, bagaimanapun juga masyarakat tidak akan percaya, bahwa ia bersikap jujur dan tidak memihak. Auditor independen tidak hanya berkewajiban mempertahankan fakta bahwa ia independen, namun ia harus pula menghindari keadaan yang dapat menyebabkan pihak luar meragukan sikap independennya. Profesi akuntan publik telah menetapkan dalam kode etik akuntan Indonesia, agar anggota profesi menjaga dirinya dari kehilangan persepsi independensi dari masyarakat Sepanjang persepsi independensi ini dimasukkan ke dalam aturan etika, hal ini akan mengikat auditor independen menurut kepada ketentuan profesi. Independensi merupakan salah satu ciri paling penting yang dimiliki oleh profesi akuntan publik, karena banyak pihak yang menggantungkan kepercayaannya kepada kebenaran laporan keuangan berdasarkan laporan auditor yang dibuat oleh akuntan publik. Sekalipun akuntan publik ahli, apabila tidak mempunyai sikap independensi dalam mengumpulkan informasi akan tidak berguna, sebab informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan haruslah tidak bias. Akuntan publik harus bersikap independen jika melaksanakan praktik publik (public practice). Praktik publik adalah aktivitas profesi akuntan publik yang mempengaruhi publik. 22

Independensi akuntan merupakan persoalan sentral dalam pemenuhan kriteria objektivitas dan keterbukaan. Dalam peraturan 101 Kode Perilaku Professional American Institute of Certified Public Accountant (AICPA) tentang independensi mengatakan bahwa: Anggota dalam praktik publik harus bersikap independent dalam melaksanakan jasa profesionalnya seperti yang disyaratkan menurut standard yang disusun oleh lembaga-lembaga yang dibentuk oleh dewan. Kode Etik Akuntan Indonesia BAB IV pasal 13 ayat 1 dinyatakan bahwa: Setiap anggota profesi harus mempertahankan sikap independent. Ia harus bebas dari semua kepentingan yang bias dipandang tidak sesuai dengan integritas dan objektivitasnya. Tanpa tergantung efek kebenaranya dari kepentingan itu. Standard Profesi Akuntan Publik mengatur secara khusus mengenai independensi akuntan publik dalam standard umum kedua (SA.220) yang berbunyi: Dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa independensi sangat penting bagi profesi akuntan publik: 1. Merupakan dasar bagi akuntan publik untuk merumuskan dan menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diperiksa. Apabila akuntan publik tetap memelihara independensi selama melaksanakan pemeriksaan, maka laporan keuangan yang telah diperiksa tersebut akan menambah kredibilitasnya dan dapat diandalkan bagi pihak yang berkepentingan. 2. Karena profesi akuntan publik merupakan profesi yang memegang kepercayaan masyarakat. Kepercayaan masyarakat akan menurun jika terdapat bukti bahwa independensi sikap auditor ternyata berkurang dalam menilai kewajaran laporan keuangan yang disajikan manajemen.

23

2.6.3.

Klasifikasi Independensi Akuntan Publik Arens (2003: 83) mengkategorikan independensi kedalam dua aspek, yaitu: 1. Independence in fact 2. Independence in appearance Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Independence in fact (independensi dalam fakta) Akan ada apabila pada kenyataannya auditor mampu mempertahankan sikap yang tidak memihak sepanjang pelaksanaan auditnya. 2. Independence in appearance (independensi dalam penampilan) Merupakan pandangan pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit. Meskipun auditor independen telah menjalankan audit secara independen dan objektif, pendapatnya yang dinyatakan melalui laporan audit tidak akan dipercaya oleh para pemakai jasa auditor independen bila tidak mampu mempertahankan independensi dalam penampilan. Abdul Halim (2001: 21) dan Mulyadi (2002:129) membagi independensi akuntan publik dalam tiga aspek, yaitu: 1. 2. penampilan) 3. Independence in competence (Independensi dari sudut keahliannya atau kompetensinya) Berdasarkan defmisi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Independence in fact (independensi dalam fakta), artinya auditor harus mempunyai kejujuran yang tinggi, keterkaitan yang erat dengan objektivitas. 2. Independence in appearance (independensi dalam penampilan), artinya pandangan pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit. Auditor harus menjaga kedudukannya sedemikian rupa sehingga pihak lain akan mempercayai sikap independensi dan objektivitasnya. Meskipun auditor telah menjalankan audit dengan baik secara independen dan objektif pendapat yang dinyatakan melalui laporan audit tidak akan dipercaya oleh 24 Independence in fact (Independensi dalam fakta) Independence in appearance (independensi dalam

para pemakai jasa auditor independent bila ia tidak mampu mempertahankan independensi dalam penampilan. Oleh karena itu, independensi dalam penampilan sangat penting bagi perkembangan profesi auditor. 3. Independence in competence (independensi dari sudut keahliannya) Artinya auditor yang awam dalam electronic data processing system tidak memenuhi independensi keahlian bila ia mengaudit perusahaan yang pengolahan datanya menggunakan sistem informasi terkomputerisasi. Independensi dari sudut pandang keahlian terkait erat dengan kecakapan professional auditor. Dunn (1996: 20-21) membagi independensi akuntan publik kedalam tiga aspek yaitu: 1. Program independence 2. Investigative independence 3. Reporting independence Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Program independen (program independence) Laporan audit akan mempunyai sedikit nilai jika tidak didukung oleh suatu penyelidikan secara seksama. Suatu penyelidikan seksama mungkin tidak akan diminati oleh direktur. Sekalipun mereka tidak mempunyai apapun untuk disembunyikan, para direktur dapat mengurangi fee audit atau menerbitkan laporan keuangan dengan cepat setelah tahun berakhir dan hal seperti itu mungkin saja terjadi. 2. Investigasi independen (investigative independence) Program independen melindungi kemampuan auditor untuk memilih strategi yang paling sesuai untuk hasil audit mereka dalam bekerja. Sedangkan investigasi independen melindungi cara dimana mereka menerapkan strategi ini. Auditor mempunyai kebebasan mengakses dokumen dan arsip perusahaan. Apapun pertanyaan tentang bisnis perusahaan atau perlakuan akuntansi, transaksinya harus dijawab.

25

3. Laporan independen (reporting independence) Jika para direktur berusaha untuk menyesatkan pemegang saham dengan memberitahukan informasi akuntansi yang salah atau tidak sempurna, mereka pasti mencegah auditor dari perbuatannya terhadap publik. Ketika Independen auditor menjadi rumit, tentu banyak kesalahpahaman terjadi dalam hubungan seperti penafsiran suatu standard akuntansi atau suatu perkiraan atau seperti suatu ketetapan untuk hutang yang tidak terbayar.

2.7.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Independensi Akuntan Publik Independensi ini merupakan hal yang unik di dalam profesi akuntan publik. Auditor dituntut untuk memenuhi keinginan kliennya, karena klienlah yang membayar fee jasa yang disediakan oleh auditor tersebut. Dilain pihak, auditor harus independen dari kliennya. Petunjuk pelaksanaan mengenai independensi ini telah dikeluarkan oleh IAI dalam Pernyataan Etika Profesi No.1 Integritas, Objektivitas, dan Independensi. Menurut Mulyadi dan Kannaka Puradiredja (2002 :52) contoh-contoh penerapan yang berlaku untuk akuntan publik diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Hubungan keluarga akuntan berupa suami/istri, saudara sedarah dengan klien 2. Besar audit fee yang dibayar oleh klien tertentu 3. Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan kerugian yang terkait dengan usaha kilen 4. Pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien 5. Keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai 6. Pelaksanaan jasa lain untuk klien audit Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Hubungan keluarga akuntan berupa suami/istri, saudara sedarah semenda dengan klien. Hubungan keluarga akuntan ini akan membuat seorang auditor diragukan independensinya. a. Hubungan keluarga dan pribadi dapat mempengaruhi objektivitas. Oleh karena itu, auditor harus menghindari penugasan audit atas laporan 26

keuangan kliennya jika ia memiliki hubungan keluarga atau hubungan pribadi b. Hubungan keluarga yang pasti akan mengancam independensi adalah seperti akuntan publik yang bersangkutan, atau staf yang terlibat dalam penugasan itu, merupakan suami atau istri, keluarga sedarah-semenda klien sampai dengan garis kedua. Termasuk dalam pengertian klien disini adalah pemilik perusahaan, pemegang saham utama, direksi dan eksekutif lainnya. 2. Besar auditfee yang dibayar oleh klien tertentu Besar audit fee dapat berbeda-beda tergantung pada resiko penugasan, kompleksitas jasa yang diberikan, tingkat keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan jasa tersebut, struktur biaya Kantor Akuntan Publik (KAP) yang bersangkutan dan pertimbangan professional lainnya. a. Fee jasa professional tidak boleh tergantung pada hasil atau temuan pelaksanaan jasa tersebut b. Akuntan publik tidak boleh mendapatkan klien yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik lain dengan cara menawarkan atau menjanjikan fee jauh lebih rendah daripada fee yang diterima oleh kantor akuntan publik yang sebelumnya. c. Seorang akuntan publik tidak boleh memberikan jasa profesionalnya tanpa menerima fee, kecuali untuk yayasan (non-profit organization). d. Jika klien belum membayar fee jasa seorang akuntan publik sejak beberapa tahun yang lalu (lebih dari satu tahun), maka dapat dianggap bahwa akuntan publik tersebut memberikan pinjaman kepada kliennya. Hal tersebut dianggap melanggar independensi. 3. Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan kerugian yang terkait dengan usaha klien. Dengan adanya hubungan usaha dan keuangan dengan klien dapat menimbulkan keraguan terhadap independensi seorang auditor. a. Hubungan keuangan dengan klien dapat mempengaruhi objektivitas dan dapat mengakibatkan pihak ketiga berkesimpulan bahwa objektivitas auditor tidak dapat dipertahankan. 27

Contoh hubungan keuangan antara lain: i. Kepentingan keuangan langsung atau tidak langsung dengan klien ii. Pinjaman dari atau kepada klien, karyawan,direktur atau pemegang saham utama dalam perusahaan klien. b. Dengan adanya kepentingan keuangan tidak langsung keuangan, seorang auditor jelas kepentingan keuangan oleh berkepentingan dengan laporan audit yang akan diterbitkan. Hubungan mencakup suami,istri, keluarga sedarah semenda, sampai garis kedua auditor yang bersangkutan. c. Jika saham yang dimiliki merupakan bagian yang material dari: i. Modal saham perusahaan klien, atau ii. Aktiva yang dimiliki pimpinan atau rekan pimpinan atau kantor akuntan publik suami atau istri, keluarga sedarah semenda sampai dengan garis kedua. d. Pemilik saham di perusahaan klien secara langsung atau tidak langsung, mungkin diperoleh melalui warisan, perkawinan dengan pemegang saham atau pengambilalihan. Dalam tersebut diatas, sebaiknya pemilikan saham harus dihilangkan atau secepat mungkin auditor yang bersangkutan harus menolak penugasan audit atas laporan keuangan perusahaan tersebut. 4. Pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien Akuntan publik, suami atau istrinya, dan keluarga sedarah semendanya sampai dengan garis kedua tidak boleh memberikan barang atau jasa kapada klien, dengan syarat pemberian yang tidak wajar, yang tidak lazim dalam kehidupan sesuai. Seorang klien yang memberikan fasilitas dari gifts kepada auditor yang melakukan audit di perusahaannya bisa mempengaruhi independensi, jika dilihat oleh pihak-pihak yang berkepentingan misalnya para investor, pemerintah. Mereka akan menganggap bahwa akuntan publik tersebut berada dibawah pengaruh kliennya sehingga independensi akuntan publik tersebut diragukan. 5. Keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai

28

a. Seorang auditor tidak boleh terlibat dalam usaha atau pekerjaan lainnya yang dapat menimbulkan pertentangan kepentingan atau mempengaruhi independensi dalam pelaksanaan jasa professional. b. Seorang auditor tidak dapat melakukan kerja sama bisnis dengan perusahaan kliennya atau dengan salah satu eksekutif atau pemegang saham utama. 6. Pelaksanaan jasa lain untuk klien audit Jika seorang auditor disamping melakukan audit, juga melaksanakan jasa lain untuk klien yang sama, maka ia harus menghindari jasa yang menuntut dirinya melaksanakan fungsi manajemen atau melakukan keputusan manajemen. Contoh berikut ini menyebabkan auditor tidak independen: a. Auditor memperoleh kontrak untuk mengawasi kantor klien, menandatangani bukti kas keluar untuk pembayaran dan menyusun laporan operasional berkala, sedangkan pada saat yang bersamaan dia juga melakukan penugasan audit atas laporan keuangan klien tersebut. b. Jika perusahaan klien akan go public, suatu kantor akuntan publik tidak dapat menjadi konsultan keuangan (financial consultant) sekaligus auditor bagi klien tersebut, walaupun partner yang ditugasi untuk melakukan audit yang berbeda dengan partner yang melaksanakan penugasan konsultasi.

29

BAB III KESIMPULAN Jadi kesimpulan yang dapat kami simpulkan berdasarkan pembuatan makalah ini adalah: Secara keseluruhan maka faktor-faktor yang dapat mempengaruhi indepedensi akuntan publik dalam pelaksanaan audit antara lain sebagai berikut: 1. Hubungan keluarga akuntan berupa suami/istri, saudara sedarah dengan klien Sejauh ini faktor hubungan keluarga antara auditor dan klien dapat mempengaruhi seorang auditor dalam merumuskan hasil kerjanya. Karena adanya hubungan istimewa ini, auditor bisa tidak independen dalam memberikan hasil audit. 2. Besar audit fee yang dibayar oleh klien tertentu Kebutuhan ekonomi juga dapat menyebabkan seorang auditor dapat tidak independen dalam pelaksanaan tugasnya. Besarnya audit fee yang dibayarkan kepada auditor dapat membuat seorang auditor menjadi tidak independen dalam memberikan hasil auditnya. 3. Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan kerugian yang terkait dengan usaha kilen Seorang auditor yang mempunyai hubungan usaha dengan kliennya, dimana auditor menjadi salah satu pemegang saham diperusahaan yang diauditnya, akan mempengaruhi independensi akuntan publik. Karena adanya hubungan istimewa ini, auditor tidak independen dalam memberikan hasil audit. 4. Pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien Seorang auditor yang menerima pemberian fasilitas dan bingkisan dari klien dapat membuat seorang auditor menjadi tidak bebas dalam pelaksanaan tugasnya. Karena adanya rasa ketidakbebasan yang dirasakan maka dapat mempengaruhi dalam pemberian hasil audit yang diberikan. 5. Keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai Seorang yang terlibat dalam usaha/pekerjaan lain atau mengadakan kerjasama dengan klien akan mempengaruhi independensi akuntan publik. Karena 30

adanya keterlibatan seorang auditor dalam suatu usaha dengan kliennya maka auditor tidak independen dalam memberikan hasil auditnya. DAFTAR PUSTAKA

Arens,Alvin A. ,Randal J. Elder and Mark Beasley, 2003, Auditing and Assurance Service, Edisi Sembilan, New Jersey: Prentice Hall.Inc. Dewan SPAP IAI Kompartemen Akuntan Publik, 2001, Standard Profesi Akuntan Publik, per 1 januari 2001, Jakarta: Salemba Empat. Dunn, John, 1996, Auditing Theory and Practise, Edisi Kedua, Prentice Hall. Guy, Dan M., C. Wayne Elderman and Alan J. Winter, 2002, Auditing, Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga. Kell, Water G. and William G. Boynton, 2001, Modem Auditing, Seventh Edition, USA: John Willey and Sons,Inc. Mulyadi dan Kannaka Puradiredja, 1998, Auditing, Edisi Kelima, Jakarta: Salemba Empat. Mulyadi, 2002, Auditing, Edisi Keenam, Jakarta: Salemba Empat.

31