REFERAT UNDESENSUS TESTIS DAN HIPOSPADIA

Oleh : Muhammad Azwar, S.ked I11106002

SMF ILMU BEDAH RSU dr. SOEDARSO PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

ked NIM.I11106002 2 . Hermanto. S.FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2011 LEMBAR PENGESAHAN Telah disetujui Referat dengan judul UNDESENSUS TESTIS DAN HIPOSPADIA Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Stase Ilmu Bedah Pontianak. Desember 2011 Pembimbing Referat Disusun oleh dr. Sp.BA NIP Muhammad Azwar.

Sliding testis dengan funikulus spermatikus yang terlalu pendek akan kembali ke posisi nonfisiologik saat ditarik ke dalam skrotum dan kemudian dilepaskan. UNDESENSUS TESTIS Pada masa janin testis berada di rongga abdomen dan beberapa saat sebelum bayi dilahirkan.A. Etiologi Testis maldesensus dapat terjadi karena : 3 . 1. Testis retraktil atau pendulosa dengan hipertrofik otot kremaster dihubungkan dengan retraksi intermiten dari testis yang umumnya orthotopik. Pembagian dibuat berdasarkan retensi testis pada abdomen. Angka Kejadian Insidens maldesensus testis setelah usia satu tahun adalah 1. proses penurunan tersebut tidak berjalan dengan baik sehingga testis tidak berada di kantung skrotum. sehingga pada usia 1 tahun angka kejadian menurun hingga 0. sudah jarang mengalami desensus spontan. femoral atau penodorsal. testis mengalami desensus spontan. 2. atau testis tersesat (keluar) dari jalurnya yang normal (ektopik). Sliding atau testis retraktil merupakan variasi dan kriptorkismus. Dalam hal ini mungkin testis tidak mampu mencapai skrotum tetapi masih berada pada jalurnya yang normal (kriptorkismus). sedangkan pada bayi cukup bukan sebesar 3%. Diduga ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan testis ke dalam skrotum : Adanya tarikan dari gubernakulum testis dan refleks dari otot Perbedaan pertumbuhan gubernakulum dengan pertumbuhan badan Dorongan dari tekanan intraabdominal kremaster Oleh karena sesuatu hal. Dengan ertambahnya usia.7-0. Kriptokismus pada bayi prematur kurang dari 30%.9%.8-2%. testis mengalami desensus testikulorum atau turun ke dalam kantung skrotum. inguinal atau preskrotal dan ekstopik testis di epifasial. Setelah 1 tahun.

Defisiensi hormon gonadotropin yang memacu proses desensus testis. Abdominal. 2. antara lain: 4. sedangkan pada usia 3 tahun hanya 1/3 sel-sel germinal yang masih normal. Patofisiologi dan Patogenesis Suhu di dalam rongga abdomen ± 10C lebih tinggi daripada suhu di dalam skrotum. Penil. maka potensi seksual tidak mengalami gangguan. Karena sel-sel Leydig sebagai penghasil hormon androgen tidak ikut rusak. sehingga testis abdominal selalu mendapatkan suhu yang lebih tinggi daripada testis normal. Inguinal superfisial. Kerusakan ini makin lama makin progresif dan akhirnya testis menjadi mengecil.Kelainan intrinsik testis .Gubernakulum testis . Femoral 3. sedangkan gambar di sebelah kiri menunjukkan testis ektopik. 5.. sebanyak 1/5 bagian dari sel-sel germinal testis telah mengalami kerusakan. 6. 4 . dan 3. Gambar 1. Pada usia 2 tahun. Inguinal. hal ini mengakibatkan kerusakan sel-sel epitel germinal testis. Kriptokismus dan Testis Ektopik Keterangan gambar : 1. Testis retraktil.

harus dibedakan dengan anorkismus bilateral (tidak mempunyai testis). Pada pemeriksaan fisik. posisi testis di abdomen dapat ditemukan dan diletakkan ke skrotum dengan menggunakan teknik sesuai dengan kondisi anatomis. Pada prosedur ini. Tes stimulasi human chorionic gonadotrophin (HCG). dan lebih mudah mengalami degenerasi maligna. Jika kedua buah testis tidak diketahui tempatnya. sedangkan pasien dewasa mengeluh karena infertilitas yaitu belum mempunyai anak setelah kawin beberapa tahun. Laparoskopi sudah ditetapkan sebagai prosedur diagnostik dan terapeutik jika diduga terdapat retensi abdomen. 4.Akibat lain yang ditimbulkan dari letak testis yang tidak berada di skrotum adalah mudah terpluntir (torsio). Sonografi dan magnetic resonance imaging (MRI) dapat membantu untuk menemukan lokasi testis yang tidak teraba. Gambaran klinis Pasien biasanya dibawa berobat ke dokter karena orang tuanya tidak menjumpai testis di kantong skrotum. sebaiknya dilakukan sebelum operasi eksplorasi pada testis yang tidak teraba bilateral. sebagai bukti adanya jaringan testis yang menghasilkan testosteron. Diagnosis Maldesensus testis didiagnosis berdasarkan pemeriksaan fisik dan sonografi. 5 . 5. jari tangan pemeriksa harus dalam keadaan hangat. atau berubah menjadi tumor testis. testis lebih mudah diraba bila penderita pada posisi skrotum dan hipertrofi testis kontralateral. Pada saat melakukan palpasi untuk mencari keberadaan testis. Kadang-kadang merasa ada benjolan di perut bagian bawah yang disebabkan testis maldesensus mengalami trauma. mengalami torsio. Pada palpasi. testis tidak teraba di kantung skrotum melainkan berada di inguinal atau di tempat lain. Inspeksi pada regio skrotum terlihat hipoplasia kulit skrotum karena tidak pernah ditempati oleh testis. kemudian dilakukan uji dengan pemberian hormon hCG (human chorionic gonadotropin). akurasi MRI adalah 90% untuk testis intraabdomen. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan hormonal antara lain hormon testosteron. mudah terkena trauma.

baik dengan cara medikamentosa maupun pembedahan. Terapi Pada prinsipnya testis yang tidak berada di skrotum harus diturunkan ke tempatnya. di antaranya adalah flebografi selektif atau diagnostik laparoskopi. Untuk itu diperlukan bantuan beberapa sarana penunjang. Diagnosis Banding Seringkali dijumpai testis yang biasanya berada di kantung skrotum tiba-tiba berada di daerah inguinal dan pada keadaan lain kembali ke tempat semula. dan tentunya laparoskopi ini lebih dianjurkan daripada melakukan eksplorasi melalui pembedahan terbuka. Pemakaian ultrasonografi untuk mencari letak testis sering kali tidak banyak manfaatnya sehingga jarang dikerjakan. Hal ini bisa terjadi secara kongenital memang tidak terbentuk testis atau testis yang mengalami atrofi akibat torsio in utero atau torsio pada saat neonatus. apalagi testis yang letaknya intraabdominal dan pada pasien yang gemuk. Keberadaan testis sering kali sulit untuk ditentukan. atau setelah melakukan aktifitas fisik. Jika tidak didapatkan pleksus pampiniformis kemungkinan testis memang tidak pernah ada. Keadaan ini terjadi karena reflek otot kremaster yang terlalu kuat akibat cuaca dingin. 7.Uji hCG untuk mengetahui keberadaan testis dengan periksa kadar testosteron dengan Injeksi hCG 2000U/hari selama 4 hari. Hal ini disebut sebagai testis retraktil atau kriptorkismus fisiologis dan kelainan ini tidak perlu diobati. Pemeriksaan flebografi selektif adalah usaha untuk mencari keberadaan testis secara tidak langsung. Melalui laparoskopi dicari keberadaan testis mulai dari dari fossa renalis hingga anulus inguinalis internus. testis tidak dapat turun sendiri setelah usia 1 tahun 6 . Dengan asumsi bahwa jika dibiarkan. yaitu dengan mencari keberadaan pleksus Pampiniformis. 6. apabila pada hari ke 5 kadar meningkat 10 kali lebih tinggi daripada kadar semula berarti testis memang ada. Selain itu maldesensus testis perlu dibedakan dengan anorkismus yaitu testis memang tidak ada.

ektopik testis dan seluruh maldesensus testis yang disertai dengan kelainan patologis lainnya (hemia dan atau prosesus vaginalis yang terbuka). dan (5) secara psikologis mencegah terjadinya rasa rendah diri karena tidak mempunyai testis. Penting untuk melakukan follow-up karena dapat terjadi kegagalan setelah beberapa waktu {reascend 10 . Medikamentosa Pemberian hormonal pada kriptorkismus banyak memberikan hasil terutama pada kelainan bilateral. maka saat yang tepat untuk melakukan terapi adalah pada usia 1 tahun. Pembedahan orkhidofunikulolisis dan orkhidopeksi merupakan penatalaksanaan pilihan pertama. Operasi yang dikerjakan adalah orkidopeksi yaitu meletakkan testis ke dalam skrotum dengan melakukan fiksasi pada kantong sub dartos. testis diletakkan tension free secara peksi ke dalam skrotum. Setelah funikulus spermatikus dan testis dibebaskan dari jaringan ikat dan serat kremaster telah direseksi. b. (3) mencegah kemungkinan terjadinya torsio testis. Operasi Tujuan operasi pada kriptorkismus adalah: (1) mempertahankan fertilitas. tiga kali sehari). Kedua metode terbukti efektif pada 20-30% kasus. Akses inguinal funikulus spermatikus dicapai setelah membuka kanalis inguinalis. (4) melakukan koreksi hernia. hemia inguinalis) dikoreksi pada saat yang bersamaan. Hanya diberikan untuk testis yang retensi karena terapi ini tidak efektif untuk testis ektopik. Testis pendulosa (retraktil) tidak diindikasikan untuk koreksi bedah. Jika tidak ditemukan 7 . sedangkan pada kelainan unilateral hasilnya masih belum memuaskan. Obat yang diberikan adalah suntikan HCG intramuskular (1500 IU/m2 dua kali seminggu selama 4 minggu) atau luteinizing hormone releasing hormone (LHRH) berupa semprotan nasal (400 µg. (2) mencegah timbulnya degenerasi maligna.25%). Kondisi patologis lain yang berhubungan (seperti prosesus vaginaiis yang terbuka. Indikasi absolut untuk operasi primer adalah retensi testis setelah gagal terapi hormonal atau setelah operasi di daerah inguinal.sedangkan setelah usia 2 tahun terjadi kerusakan testis yang cukup bermakna. a.

Pada kasus yang jarang. Syaratnya adalah duktus deferens dan pembuluh darah epididimis yang intak. hal ini dapat dites dengan melakukan klem sementara pada arteri testikularis. Penatalaksanaan kriptorkhismus KRIPTORKHISMUS Pemeriksaan Fisik Sonografi Dapat dideteksi Bilateral Tidak terdeteksi unilateral Tidak terdeteksi MRI stimulasi HCG (opsional) (+) (-) Terapi Laparoskopi Interseks ? 8 . dapat dilakukan teknik Fowler-Stephens (ligasi dan diseksi pembuiuh darah spermatika). dapat dipertimbangkan untuk melakukan autotransplantasi dengan anastomosis bedah mikro pembuluh darah testis dengan pembuluh darah epigastrika Tabel 1. peritoneum dibuka dan dilakukan orkhido-funikulolisis intraperitoneal. Jika funikulus spermatikus terlalu pendek.testis atau jaringan funikulus spermatikus pada saat eksplorasi kanalis inguinalis.

terjadi pada satu dalam 350 kelahiran laki-laki. dapat dikaitkan dengan kelainan kongenital lain seperti anomali ginjal. perineal).B.14 %. hipospadia dapat dibagi menjadi bentuk distal (75%. • Faktor etnik dan geografis. intermediet (13%) dan proksimal (12%. glandular. koronar. Terdapat hipotesis tentang pengaruh estrogen terhadap kejadian hipospadia bahwa estrogen sangat berperan dalam pembentukan genital eksterna laki-laki saat embrional. Jika orang tua kandung laki-laki memiliki kelainan kelamin (hypospadia) maka resiko yang akan diturunkan kepada anak kandung laki-laki kurang lebih 12% . akan tetapi beberapa teori yang menyatakan tentang penyebab hipospadia antara lain : • Faktor genetik. • Faktor hormonal Faktor hormon androgen/estrogen sangat berpengaruh terhadap kejadian hipospadia karena berpengaruh terhadap proses maskulinisasi masa embrional. Tergantung pada lokasi orifisium uretra ekstema. Amerika. skrotal. penoskrotal. HIPOSPADIA Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa muara uretra yang terletak di sebelah ventral penis dan sebelah prokimal ujung penis. Etiopatogenesis Hipospadia terjadi karena gangguan perkembangan urethra anterior yang tidak sempurna yaitu sepanjang batang penis sampai perineum. Di Amerika Serikat angka kejadian hypospadia pada kaukasoid lebih tinggi dari pada orang Afrika. Semakin ke arah proksimal muara meatus uretra maka semakin besar kemungkinan ventral penis memendek dan melengkung dengan adanya chordae. Secara umum diketahui bahwa genital . subkoronar). Patofisiologi hypospadia masih belum diketahui dengan pasti. Hipospadia merupakan salah satu dari kelainan congenital paling sering pada genitalia laki laki. undesensus testikulorum dan genetik seperti sindroma klinefelter. 1.

sulkus antara labia minora terbentuk menjadi uretra dan labia mayora berkembang menjadi skrotum. (2) Hipospadia Medius : midshaft. Sisanya yang 10% terletak lebih proksimal yaitu ditengah batang penis. dan perineal. 2. alkilphenol polyethoxsylates dan phtalites. tetapi dengan adanya testis. klitoris membesar menjai penis. dioxin. scrotal. skrotal dan perineal. 3. peptisida organochlorin. furan. 10 . dan penis distal. Klasifikasi Klasifikasi hipospadia yang digunakan sesuai dengan letak meatus uretra yaitu tipe glandular. karena itu menimbulkan interupsi konversi penuh dari genitalia eksterna menjadi bentuk laki laki. distal penile. Brown membagi hipospadia dalam 3 bagian : (1) Hipospadia anterior : tipe glanular. subkoronal. ke dalam sana testis kemudian turun. maka struktur wanita seperti klitoris. skrotum atau perineum. Perkembangan Embrionik dari Hipospadia Perkembangan dari penis dan skrotum dipengaruhi oleh testis. Berdasarkan letak muara uretra setelah dilakukan koreksi korde. Pada kasus ini 90% terletak di distal di mana meatus terletak di ujung batang penis atau di glands penis. Suatu hipotesis mengemukakan bahwa kekurangan estrogen atau terdapatnya anti-androgen akan mempengaruhi pembentukan genitalia ekterna laki-laki. • Faktor pencemaran limbah industri Limbah industri berperan sebagai “Endocrin discrupting chemicals” dengan sifat anti-androgenik seperti polychlorobiphenyls. penile. Tanpa adanya testis. dan penis proksimal (3) Hipospadia Posterior : penoskrotal. labia minora dan labia mayora dominan. semakin berat kelainan yang diderita dan semakin rendah frekuensinya. penoskrotal. Semakin ke proksinal letak meatus. Hipospadia terjadi jika sel testis yang berkembang secara premature berhenti memproduksi androgen.eksterna laki-laki dipengaruhi oleh estrogen yang dihasilkan testis primitif.

Klasifikasi hipospadia berdasarkan letak muara uretra setelah dilakukan koreksi korde (Brown) 11 .Gambar 2. Gambar 3. Klasifikasi hipospadia berdasarkan lokasi meatus .

4. perlu diingat bahwa tidak semua hipospadia memiliki chordee. 5. d. c. Tanda-tanda klinis hypospadia: a. Dapat timbul tanpa chordee. Manifestasi Klinis Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah bawah yang akan tampak lebih jelas pada saat ereksi. Selain pada bayi baru lahir diagnosis hypospadia sering dijumpai pada usia anak yang akan disirkumsisi (7-9 12 . menumpuk di bagian punggung penis. Hal ini disebabkan oleh adanya chordee yaitu suatu jaringan fibrosa yang menyebar mulai dari meatus yang letaknya abnormal ke glands penis. bila letak meatus pada dasar dari glands penis. Lubang Osteum/orifisium Preputium Uretra Externa (OUE) tidak berada di ujung glands penis. Selain terdapat tanda dan gejala klinis diatas dalam beberapa penelitian juga membuktikan bahwa sebagian besar hypospadia mengalami sedikit gangguan psikologis. b. Jaringan fibrosa ini adalah bentuk rudimeter dari uretra. korpus spongiosum dan tunika dartos. Walaupun adanya chordee adalah salah satu ciri khas untuk mencurigai suatu hipospadia. Biasanya jika penis mengalami kurvatura (melengkung) ketika ereksi. yaitu jaringan fibrosa yang membentang hingga ke glans penis. Gejala yang timbul pada kebanyakan penderita hypospadia biasanya datang dengan keluhan kesulitan dalam mengatur aliran air kencing (ketika berkemih). Diagnosis Kelainan hipospadia dapat diketahui segera setelah kelahiran dengan pemeriksaan inspeksi genital pada bayi baru lahir. Hypospadia tipe perineal dan penoscrotal menyebabkan penderita harus miksi dalam posisi duduk dan pada orang dewasa akan mengalami gangguan hubungan seksual. tidak ada dibagian bawah penis. maka dapat disimpulkan adanya chordee.

Chordectomi : melepas chordae untuk memperbaiki fungsi dan memperbaiki penampilan phallus (penis). dengan keadaan bentuk phallus yang melengkung (kurvatura) karena pengaruh adanya chordee Dikenal banyak tehnik operasi hipospadia. Pada tahap ini dilakukan operasi eksisi chordee dari muara uretra sampai ke glands penis. bentuk dan lebar orifisium. Dilakukan pada usia 1. 13 . Selain deskripsi temuan lokal (posisi. informasi mengenai kurvatura penis saat ereksi dan inflamasi). yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu : a. Pemeriksaan fisik lengkap. Setelah eksisi chordee maka penis akan menjadi lurus tetapi meatus uretra masih terletak abnormal.9% kedalan korpus kavernosum.5 bulan . urinalisa dan biasanya sonografi dilakukan secara rutin pada semua bentuk hipospadia.tahun). Penatalaksanaan Rekonstruksi phallus (penis) pada hypospadia dapat dilakukan sebelum usia belajar (±1. ukuran penis.2 tahun). Untuk melihat keberhasilan eksisi dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCL 0.5-2 tahun. Terdapat beberapa cara penatalaksanan penbedahan untuk merekonstruksi phallus pada hypospadia. Jika pasien diketahui memiliki kelainan kelamin (hypospadia) maka tindakan sirkumsisi tersebut tidak boleh dilakukan karena hal tersebut merupakan kontra-indikasi tindakan. urethra plate. Tujuan penatalaksanaan hypospadia yaitu untuk memperbaiki kelainan anatomi phallus. evaluasi diagnostik juga mencakup penilaian adanya anomali yang berhubungan: - prosesus vaginalis yang terbuka (pada 9% kasus) testis letak tinggi (pada 5% bentuk ringan hipospadia. 6. pada 31 % hipospadia posterior) anomali saluran kemih bagian atas (3%) Hipospadia berat dengan testis yang tidak teraba unilateral atau bilateral dan transposisi skrotal memerlukan pemeriksaan genetik lengkap.

14 . Chordectomi dan urethroplasty dilakukan dalam satu waktu operasi yang sama disebut satu tahap. Urethroplasty : membuat Osteum Urethra Externa diujung gland penis sehingga pancaran urin dan semen bisa lurus ke depan. 7. tipe hipospadia dan tahapan operasi yang meliputi ketelitian teknik operasi. stenosis urethra Divertikel urethra Komplikasi yang terjadi setelah rekonstruksi phallus dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain usia pasien. Komplikasi tersebut meliputi: - Perdarahan Infeksi Fistel urethrokutan Striktur urethra. Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Komplikasi Komplikasi yang biasa terjadi antara lain striktur uretra (terutama pada sambungan meatus uretra yang sebenarnya dengan uretra yang baru dibuat) atau fistula.b. bila dilakukan dalam waktu berbeda disebut dua tahap. Uretra dibuat dari kulit penis bagian ventral yang di insisi secara longitudinal pararel di kedua sisi.

dll Lempeng uretra dibuang Lempeng uretra dipertahankan Tube-onlay. Mukosa bukal 15 . Mathieu.King.Duplay.Tabel 2. Snodgrass. terapi hormon) Distal Proksimal Chordee Tanpa chordee MAGPI. Prosedur 2 tahap Onlay kulit lokal. Algoritme penatalaksanaan hipospadia Hipospadia Diagnosis saat lahir interseks Perlu rekonstruksi Tidak perlu rekonstruksi Persiapan (prepusium. Inlayonlay.

Manifestasi klinis Sulit kencing. Patologi Pada fimosis dapat terjadi 2 penyulit yaitu balanopostitis kronik dan residif serta kesulitan miksi.C. pancaran urin mengecil. Fimosis Fimosis adalah prepusium penis yang tidak dapat diretraksi (ditarik) ke proksimal sampai ke korona glandis. harus 16 . retraksi kulit prepusium ke belakang sulkus glandularis hanya dapat dilakukan pada sekitar 50% anak laki-laki. Pada akhir tahun pertama kehidupan. FIMOSIS dan PARAFIMOSIS 1. dan menimbulkan retensi urin. Sudah tentu retensi smegma akan berperan dalam proses patologi ini. Fimosis dialami oleh sebagian besar bayi baru lahir karena terdapt adesi alamiah antara prepusium dengan glans penis. d. Diagnosis Jika prepusium tidak dapat atau hanya sebagian yang dapat diretraksi. a. hal ini meningkat menjadi 89% pada saat usia tiga tahun. b. c. Hygiene local yang kurang bersih menyebabkan terjadinya infeksi pada prepusium (postitis). Balanopostitis sukar sembuh karena tindak hygiene biasa untuk membersihkan glans dan permukaan dalam prepusium tidak dapat dilakukan. Etiologi Fimosis dapat terjadi akibat radang seperti balanopostitis (radang glans dan prepusium) atau setelah sirkumsisi yang tidak sempurna. menggelembungnya ujung prepusium penis pada saat miksi. infeksi pada glans penis (balanitis) atau infeksi pada glans dan prepusium penis (balanopostitis). atau menjadi cincin konstriksi saat ditarik ke belakang melewati glans penis. Risiko perkembangan malignitas kulit glans penis atau dalam prepusium sangat meningkat pada fimosis. Insidens fimosis adalah sebesar 8% pada usia 6 sampai 7 tahun dan 1% pada laki-laki usia 16 sampai 18 tahun.

Kontraindikasi operasi adalah infeksi total akut dan anomali kongenital dari penis. 2. periengketan dibebaskan dan dilakukan frenulotomi dengan ligasi arteri frenular jika terdapat frenulum breve. tetapi dapat dipertimbangkan untuk usia sekitar tiga tahun. e. Selain konstriksi kulit prepusium. Tujuan sirkumsisi plastik adalah untuk memperluas lingkaran kulit prepusium saat retraksi komplit dengan mempertahankan kulit prepusium secara kosmetik. Frenulum breve dapat menimbulkan deviasi glans ke ventral saat kulit prepusium diretraksi. menggelembungnya ujung prepusium pada saat miksi. Sebagai pilihan terapi konservatif dapat diberikan salep kortikoid (0.1% yang dioleskan 3 atau 4 kali selama 6 bulan.diduga adanya disproporsi antara lebar kulit prepusium dan diameter glans penis. 17 . Tindakan Terapi fimosis pada anak-anak tergantung pada pilihan orang tua dan dapat berupa sirkumsisi plastik atau sirkumsisi radikal setelah usia dua tahun.1%) dua kali sehari selama 20-30 hari Terapi ini tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak yang masih memakai popok. atau fimosis yang disertai dengan infeksi postitis merupakan indikasi untuk dilakukan sirkumsisi. Fimosis yang disertai balanitis xerotika obliterans dapat dicoba diberikan salep deksametasone 0. Parafimosis Prepusium penis yang di retraksi sampai di sulkus koronarium tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula dan timbul jeratan pada penis dibelakang sulkus koronarius. Tentunya pada balanitis atau postitis harus diberi antibiotika dahulu sebelum sirkumsisi. Sirkumsisi neonatal rutin untuk mencegah karsinoma penis tidak dianjurkan.050. Pada fimosis yang menimbulkan keluhan miksi. Tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang dipaksakan pada fimosis. mungkin juga terdapat perlengketan antara permukaan dalam prepusium dengan epitel glandular dan atau frenulum breve. Pada saat yang sama.

b.a. lakukan dorsum insisi pada tempatnya setelah edema dan proses inflamasi menghilang pasien dianjurkan menjalani sirkumsisi Parafimosis harus dianggap sebagai kondisi darurat karena retraksi prepusium yang terlalu sempit di belakang glans penis ke sulkus glandularis dapat mengganggu perfusi permukaan prepusium distal dari cincin konstriksi dan juga pada glans penis dengan risiko terjadinya nekrosis. Etiologi Menarik Prepusium ke proksimal yang biasanya di lakukan pada saat bersenggama/masturbasi atau sehabis pemasangan kateter tetapi tidak dikembalikan ketempat semula secepatnya. Kulit preptium yang tidak bisa kembali ke depan batang penis akan menjepit penis sehingga menimbulkan bendungan aliran darah dan pembengkakan (edema) glans penis dan preputium. 18 . Upaya untuk menarik kulit preputium ke belakang batang penis. c. Oleh karena itu. Patologi Parafimosis merupakan kasus gawat darurat. dapat menyebabkan parafimosis. Penatalaksanaan Preputium diusahakan di kembalikan secara manual dengan teknik memijat gland selama 3-5 menit diharapkan edema berkurang dan secra perlahan preputium dikembalikan pada tempatnya. bahkan kematian jaringan penis dapat terjadi akibat hambatan aliran darah pembuluh nadi yang menuju glans penis. setelah memastikan bahwa tidak ada benda asing seperti karet atau benang yang menyebabkan penis terjepit. Jika usaha gagal. terutama yang berlebihan namun gagal untuk mengembalikannya lagi ke depan manakala sedang membersihkan glans penis atau saat memasang selang untuk berkemih (kateter).

gov/pmc/articles/PMC2577154/ February 2010. Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI).nih.ncbi. 2009. 2006. Sigh. Mohamed. Jurnal diakses dari : www. Badan Pnerbit IDAI. EGC: Jakarta. W. Chandra. Sadler. 2008. R & Jong Wim De. 2008.6. Effect of Hypospadias on Sexual Fungtion an Reproduction. Jakarta. EGC: Jakarta. www. Sjamsuhidajat. Jurnal diakses dari : February 2010. Price. Purnomo.ijps. IDAI.DAFTAR PUSTAKA Awad. 2002. Panduan Penatalaksanaan (Guidelines) Pediatric Urology (Urologi Anak) di Indonesia.7. Djakovic. 2006. Sylvia A & Wilson. Ed. Lorraine M.org pada tanggal 23 February 2010. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Patofisiologi Konsep Klinis Prosesproses Penyakit. Urethra Advancement Technique for Repair of Distal Penile Hypospadias : A Revisit. Ed. Embriologi Kedokteran Langman.2. ed. 2.com pada tanggal 23 pada tanggal 26 19 . et all. M. Dasar-dasar Urologi.indianjurol. Sagung Seto : Jakarta. 2005. et all. Ed. T. Jurnal diakses dari : http://www. Review Article Hypospadias.nlm. S. Basuki B. EGC: Jakarta. 2005. Buku-Ajar Ilmu Bedah.