You are on page 1of 39

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Apendesitis merupakan penyakit bedah mayor yang sering terjadi. Apendisitis sering terjadi pada usia remaja dan dewasa. Insidens apendesisis akut pada Negara maju lebih tinggi dari pada Negara berkembang. Kejadian ini disebabkan oleh meningkatkan penggunaan makanan tidak berserat dalam menu sehari-hari. (Http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=1257) Apendisitis juga disebut umbel cacing,apendisitis merupakan peradangan pada apendiks yang berlokalisasi dekat katuk illecekal. Peradangan dimulai oleh obstruksi dari fekait (feses yang mengeras). Sebagian besar apendiks dapat membengkak. Bila ditemukan apendisitis maka satu-satunya pengobatan adalah operasi. (Elizabeth J. Corwin, 2001) Insiden keadan bedah akut abdomen yang paling sering terjadi pada decade kedua dan ketiga, sejajar dengan jumlah jaringan limfoin pada apendiks. Rasio pria dibandingkan wanita adalah 2:1. Usia 10 tahun sampai 25 tahun insiden rupture terjadi 15% sampai 25% pasien pada saat dating, dengan insidens yang lebih tinggi pada anak-anak dan lansia. Gejala dan tanda-tanda local dari serangan adalah leukosit meningkat, obstruksi fekalit atau masa fekal dapat terjadi, sakit perut yang sering kambuh, mual dan muntah, rasa ngilu dan nyeri tekan, suhu kurang lebih 37,5 C-38,5 C, konstipasi, kaki kanan fleksi karena nyeri. Jika apendik mengalami perforasi paling tinggi pada orang lanjut usia komplikasi utama adalah sepsis luka. Hal ini berkembang sekitar 20% pasien dengan apendiks perforasi, tetapi dapat dikurangi dapat sekitar 5% yaitu dengan tehnik operasi yang cermat, pembilasan dengan tetrasiklin dan antibotik profilaksis. Apabila apendiks tidak mendapat pengobatan yang baik tidak menuntut kemungkinan muncul komplikasi antaralain: apses, sumbatan usus akut, illeus dan peritonitis, serta fistula tinja. Oleh karena itu dalam perawatan pada pasien apendiktomi perlu diperhatikan cara perawatan luka dengan tehnik apseptik dan septik.
22

Sebagai salah satu tim kesehatan mempunyai tanggung jawab untuk mengatasi masalah-masalah baik bio, fisiko sosisal, cultural, spritual maupun dampak dari penyakit yang dialami pasien apendisitis.

B. TUJUAN PENULISAN 1. Tujuan umum Mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien apendiktomi dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang utuh dan komprehensif. 2. Tujuan khusus a. Mampu melaksanakan pengkajian pada pasien dengan post apendiktomi b. Mampu merumuskan diagnose keperawatan pada pasien post apendiktomi c. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan post apendiktomi d. Mampu melaksanakan tindakan keperwatan pada pasien post apendiktomi e. Mampu melaksanakan evaluasi asuhan keperawatan pada pasien post apendiktomi f. Mampu menganalisa faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan keperawatan pada pasien post apendiktomi

BAB II
23

TINJAUAN TEORI

C. PENGERTIAN Apendisitis adalah peradangan apendiks yang relative sering dijumpai yang dapat timbul tampa penyebab yang jelas, atau timbul setelah obstruksi apendiks oleh tinja, atau akibat tepuntirnya apendiks atau pembuluh darahnya. Peradangan menyebabkan apendiks menbengkak dan nyeri yang dapat menimbukan gangrene karena suplai darah terganggu. Apendiks juga dapat pecah. (Elizabeth J. Corwin, 2001: 529).

D. ETIOLOGI Penyebab apendisitis belum sepenuhnya di mengerti, pada kebanyakan kasus peradangan dan inspeksi usus buntu didahului oleh adanya penyumbatan didalam usus buntu. Bila peradangan berlanjut tanpa pengobatan, usus buntu bisa pecah dan dapat mengakibatkan fatal bagi penderita. Menurut peneliti, epidemiologi menunjukkan kebiasaan makan makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulkan apendiksitis. penyakit apendiksitis bisa diderita oleh semua orang dari berbagai usia dan paling sering terjadi antara usia 10 sampai 30 tahun.

E. PATOFISIOLOGI Apendiks belum diketahui pungsinya, merupakan bagian dari sekum. Apendiks terimplamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipar atau tersumbat, kemungkinan oleh fekait (biasanya oleh faeses yang keras),tumor, atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan

24

tekanan intralumina, menunbulkan nyeri abdomen dan menyebar secara progresif,dalam beberapa jam, terlokalisasidi kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya, apendiks terinflamasi berisi pus. (Brunner & Suddart, Edisi 8)

F. PATOFLOW Insfeksi akibat bakteri, virus, jamur, feses yang mengeras, pola hidup, Benda asing,tumor Apendisitis Inflamasi Edema Inspeksi tindakan laparatomi Adanya lika insisi Terputusnya Kontinuitas Obs. Usus Nyeri imobilisasi

Bakteri flora apendiks Usus Ransangan saraf abses sekunder Reseptor

masuknya kuman didalam darah masuknya bakteri


25

Konstipasi Nyeri Vasodilatasi pelvis diagram hati

infeksi sitemik Risti infeksi

Hipotensi Jumlah leukosit Hipertermi suplai oksigen kejaringan kurang kelemahan fisik

Intoleransi aktifitas ( Brunner & suddarth, 2002) (Elizabet J. Corwin 2000) G. MANISFESTASI KLINIS y y y Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual muntah dan hilangnya nafsu makan. Dalam beberapa jam, nyeri menjadi lebih terlokalisasikan dan dapat dijelaskan sebagai nyeri tekan di daerah kuadran kanan bawah Nyeri tekan lepas (nyeri yang timbul sewaktu tekanan di lepas dari bagian yang sakit) (Elizabeth J. Corwin, 2001: 529).

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK y Pemeriksaan fisik lengkap

26

y y y y

Tes laboratorium Sinar x Peningkatan hitung sel darah putih Jumlah leukosit lebih dari 10.000/mm

I. KOMPLIKASI y Dapat terjadi peritoritis apabila apendiks yang membengkak tersebut pecah

J. PENATALAKSANAAN y y Pengangkatan apendiks secara bedah Apabila apendik pecah sebelum tindakan bedah, maka diberikan antibiotic untuk mengurangi resiko peritonitis dan sepsis

27

K. PENGKAJIAN AKTIVITAS/ISTIRAHAT Gejala : malaise

SIRKULASI Tanda : takikardia

ELIMINASI Gejala : konstipasi pada awitan awal dan kadang-kadang diare. Tanda : distensi abdomen, nyeri tekan dan nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus

MAKANAN/CAIRAN Gejala: anoreksia dan mual muntah.

NYERI/KENYAMANAN Gejala : Nyeri difus yang timbul mendadak didaerah efigastrium atau periumbilicus dan dalam beberapa jam, nyeri menjadi lebih terlokalisasikan dan dapat dijelaskan sebagai nyeri tekan di daerah kuadran kanan bawah, dan meningkat karena berjalan, bersin, batuk atau napas dalam. Tanda: prilaku berhati-hati : berbaring kesamping atau terlentang dengan litut di tekuk: meningkatnya nyeri pada kuadrankanan bawah kerena ekstensi kaki kanan atau posisi tegak

KEAMANAN Tanda: demam


28

PENAPASAN Tanda: takipnea, pernapasan dangkal

PENYULUHAN/PEMBELAJARAN Gejala : riwayat kondisi lain yang berhubungan dengan nyeri abdomen contoh batu ureter, salpingitis akut,ileitis ragional, dapat terjadi pada berbagai usia PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK SDP: leukositosis di atas 12.000/mm, neutropil memingkat sampat 75% Urinalisis normal Foto abdomen: menyatakan adanya pengeseran material pada apendiks, ileus terlokalisir.

A. DIAGNOSA KEPERAWATAN Post-op 1. Nyeri dan gangguan rasa nyaman berhubungan dengan insisi bedah 2. Risti infeksi berhubungan dengan insisi bedah 3. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan akibat pembedahan. B. RENCANA TINDAKAN Post- op Dx 1: Nyeri dan gangguan rasa nyaman berhubungan dengan insisi bedah

29

Tujuan : pengurangan rasa nyeri dan gangguan rasa nyaman Hasil yang diharapkan : Melaporkan pengurangan rasa nyeri yang hebat dan gangguan rasa nyaman Secara bertahap meningkatkan aktivitas dan latihan Memperlihatkan tidak adanya manifestasi pada tingkah laku akibat nyeri dan gangguan rasa nyaman( mis: kegelisahan, perspirasi, ekspresi nyeri secara lisan) Turut berpartisipasi latihan nafas dalam dan batuk efektif Intervensi dan rasional: 1. Kaji nyeri, catat lokasi,karakteristik dan skala nyeri R/ memberikan data dasar untuk mengevaluasi keberhasilan strategi dalam meredakan rasa nyeri. 2. Pertahankan istirahat dengan semi Fowler R/menghilangkan ketegangan obdomen 3. bantu dan dorong ambulasi dini R/ memudahkan dilanjutkannya kembali latihan aktivitas otot. 4. Berikan aktifitas hiburan R/meningkatkan relaksasi dan meningkatakan kemampuan koping 5. Kolaborasi dalam pemberian analgetik sesuai indikasi R/ menghilankan rasa nyeri

Dx 2 : Risti infeksi berhubungan dengan insisi bedah Tujuan : risti infeksi tidak terjadi Hasil yang dukarapkan:
30

Tanda-tanda infeksi tidak ada Luka besih Luka kering Intervensi:

1. Kaji tanda-tanda vital R/dugaan adanya infeksi 2. Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka yang abseptik R/ menurunkan resiko penyebaran infeksi 3. Catat karakteristik luka R/memberikan detiksi 4. Kolaborasi dalam pemberian antibiotic sesuai indikasi R/menurunkan jumlah organism dan menurunkan penyebaran organisme

Dx 3: Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan akibat pembedahan. Tujuan: mempertahankan keseimbangan cairan yang normal Hasil yang diharapkan: Berat badan pasien berada dalam rentang 1-1,5 kg dari nilai normal Urin tampak jernih dan tidak mengandung darah pus dan benda asing lainnya Suhu tubuh denyut nadi pernapasan dan tekanan darah dalam batas normal Bunyi jantung dan paru dlam batas normal Intervensi: 1. Timbang berat badan pasien setiap hari
31

R/ penimbangan berat setiap hari merupakan indicator yang sensitive untuk menunjukan kehilangan atau penambahan cairan 2. Ukur asupan dan keluaran cairan yang akurat R/ mendeteksi cairan urin akibat curah jantun atau keluaran ginjal yang buruk 3. Berikan semua terapi parenteral dengan pompa infuse R/ memastikan agar cairan infuse tidak kelebihan atau kekurangan tanpa disengaja 4. pantau jumlah dan karakteristik urin membantu mendeteksi secara dini komplikasi dari pembedahan atau pemasangan selang yang mungkin terjadi 5. pantau tanda-tanda vital suhu tubuh nadi, pernapasan dan tekanan darah R/ apabila volume cairan atau curah jantung mengalami perubahan, tanda-tanda vital akan terpengaruh 6. lakukan auskultasi jantung dan paru setiap pergantian shift R/ apabila volume cairan meningkat akibat curah jantung atau keluaran renal yang buruk cairan akan bertumpuk didalam paru dan sebaliknya jika suara juantung akan berubah jika terjadi gagal jantung kongestif. Auskultasi yang sering dilakukan akan menjamin deteksi dini.

BAB III TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN 1. Identitas Klien Nama klien : An. M

32

Jenis Kelamin Usia Agama Pekerjaan Alamat Penanggung Jawab Nama Usia Hubungan dengan klien Alamat 2. Riwayat Kesehatan

: Laki-laki : 12 tahun : Kristen : Sekolah : Kadung wetan Rt 001/01 Kec Naga sari Tangerang

: Ny. I : 36 thn : Ibu : Kadung wetan Rt 001/01 Kec Naga sari Tangerang

Tanggal mulai sakit : 24 mei 2011 Tgl operasi Tgl pengkajian No CM : 25 mei 2010 : 27 mei 2011, hari ke dua post-op : 04083759

33

Kesadaran Masuk dari Diagnosa Alasan masuk RS Keluhan utama

: compos mentis TD: 110/80mmHg, Nadi: 89 x/menit, RR: 20 x/menit, Suhu: 37 x/menit : poli bedah : Apendisitis : klien mengatakan sakit pada bagian perut kanan bawah. : klien mengeluh nyeri pada bagian perut kanan bawah

3. Riwayat kesehatan masa lalu a. Riwayat alergi : Pasien tidak ada riwayat alergi obat dan makanan b. Riwayat kecelakaan : Pasien tidak pernah mengalami kecelakaan yang fatal. c. Riwayat dirumah sakit : Klien mengatakan tidah pernah dirawat dirumah sakit d. Riwayat pemakaian obat Sebelum masuk ke RSUD Tangerang pasien belum pernah konsultasi ke klinik atau puskesmas, e. Operasi yang pernah dijalanin sebelumya Tidak pernah atau tidak ada f. Penyakit yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang menjadi faktor resiko tidak ada. g. Tidak transfusi darah h. Tidak mengkomsumsi alcohol dan tidak merokok
34

4. PENGKAJIAN SISTEM a. Kenyamanan Nyeri pada bagian perut kanan bawah Tipe : tekanan

Intensitas : 7-8 Durasi : intermiten

Yang mengurangi / menghilangkan rasa nyeri : istirahat Kesimpulan : klien mengeluh nyeri pada bagia kuadran kanan bawah dengan tipe nyeri tekan dan nyeri lepas dengan skala 7-8.

b. Aktivitas y y y y Berjalan : sulit, karena nyeri bekas operasi pada bagian perut kanan bawah Ekstermitas atas : tidak sulit digerakan Aktivitas : dibantu dalam bergerak Alat bantu : tongkat

Kesimpulan : klien masih masih dibantu dalam aktivitas karena masih terdapat nyeri bekas operasi

c. Oksigenasi y y Respirasi tidak sulit Sirkulasi dalam batas normal Kesimpulan : tidak ada masalah dengan oksigenasi klien

35

d. Nutrisi y y y Tidak ada masalah dengan nutrisi klien Pemberian nutrisi melalui oral dan jenis makanan yang dikomsimsi makanan lunak Berat badan 50 kg Kesimpulan: tidak ada masalah dengan nutrisi klien,

e. Eliminasi y y y y y y y Bowel dalam batas normal Frekuensi 2x sehari Kosistensi lembek dan berwarna kuning Bleder dalam batas normal Frekuensi terhitung Warna kuning jernih Nyeri berkemih karena ada pemasangan kateter

Kesimpulan: Terpasang kateter, jumlah 2 ml , kuning jernih, bau khas

f. Reproduksi y y y Penis Glasns : Utuh : Utuh

Meatus uretra : Utuh


36

y y

skrotum testis

: Utuh : Utuh

Kesimpulan : tidak ada kelainan dengan alat reproduksi klien

g. Proteksi y Status mental baik dan koorperatif

h. Sistem Penglihatan Inspeksi y y y Posisi mata Kelopak mata Fungsi penglihatan baik o Pergerakan Bola mata : Normal/dapat bergerak kesegala arah : Simetris : Normal, dapat membuka dan menutup kelopak mata

o Reaksi Terhadap cahaya : Pupil mengecil/kontriksi y Konjugtiva y Kornea y Sklera y Tanda-tanda radang y Pemakaian kacamata y Pemakaian lensa kontak : Tidak anemis : Normal (tampak jernih) : tidak Ikterik : Tidak ada : Tidak : Tidak ada

Kesimpulan : penglihatan dalam batas normal dan tidak ada kelainan dalam penglihatan klien
37

i.

Sistem Pendengaran inspeksi y y y y y y y y Daun telinga : simetris, hangat

Karakteristik serumen (warna, konsistensi, bau): Telinga tampak bersih Kondisi telinga tengah Cairan dari telinga Perasaan penuh ditelinga Tinitus Fungsi Pendengaran Pemakaian alat bantu : tampak ada serumen. : Tidak ada : Tidak dirasakan : Tidak dirasakan telinga berdengung : Normal : Tidak

Kesimpulan : tidak ada masalah dengan pendengaran klien dengan hasi tes weber : seimbang, rinne : AC dan BC sama, swabah : sama j. Gigi dan mulut y Inpeksi : mukosa mulut kering, tidak ada lesi, gigi utuh, upula utuh, tidak ada kesulitan menelan, gigi kotor dan mulut bau

Kesimpulan : gigi dan mulut utuh tidak ada lesi, gigi klien kotor dan mulut bau

k. Integumen y Inspeksi : bersih, turgor kulit elastis dan lembab, terdapat lesi pada bagian perut kanan bawah bekas operasi, ukuran panjang 5 cm, lebar 1.5 cm, panjang balutan 7 cm. Kesimpulan : terdapat lesi pada bagian perut kanan bawah bekas operasi, ukuran panjang 5 cm, lebar 1.5 cm, panjang balutan

38

l.

Sistem Wicara y Bicara : normal, pasien dapat berbicara dengan dengan jelas dan tidak ada masalah dengan memori.

5. PENGKAJIAN FISIK a. Kardiovaskuler y y y Inpeksi : tidak ada pembesaran jantung, tidak ada edema, warna kulit kecoklatan Palpasi : tidak ada pembersaran jantung dan tidaj nyeri tekan Perkusi : Ics 2 kanan : resonance Ics 4 kanan : resonance Ics 5 kanan : resonance y ics 2 kiri : resonance ics 4 kiri : dullness ics 5 kiri : dullness

Auskultasi : bunyi jantung beraturan s1 lebih besar dari s2 dan bunyi jantung tambahan tidak ada

b. Respirasi y Inspeksi Respirasi rate Upaya bernapas : 20x/menit : mudah dan tidak ada hambatan

Tidak ada restraksi interkosta dan tidak nyeri saat inspirasi atau eksperasi Tidak clubbing finger

39

Palpasi Tidak nyeri saat inspirasi atau eksperasi Focal fremitus tidak terkaji

y y

Perkusi : Auskultasi Suara nafas trakea Paru paru

: perkusi resonan

: bronchial, broncus : bronco vesikuler : anterior paru-paru kiri : vesikuler posterior paru-paru kiri : vesikuler

Anterior paru-paru kanan : vesikuler Posterior paru-paru kanan : vesikuler c. Pencernaan Pengkajian oral y Inspeksi dan palpasi

Mukosa mulut warna pink , kelembaban kering, lesi tidak ada dan bau mulut Gusi dan gigi lengkap tidak ada lesi dan karies Lidah warna pink dan terdapa tenggorokan dan tonsil yang berwarna pink d. Abdomen y Inspeksi Bentuk abdomen datar, integeritas kulit <2 detik tidak ada dilatasi abdomen y Auskultasi Kuadran kanan atas 8x/5mt Kuadran kanan bawah 8x/menit kuadran kiri atas 9x/menit kuadran kiri bawah 10x/menit

40

Perkusi Kuadran kanan atas Kuadran kanan bawah : dullness : dullness kuadran kiri atas kuadran kiri bawah : tympani : tympani

Palpasi Kuadran kanan atas Kuadran kiri atas Kuadran kanan bawah Kuadran kiri bawah : tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran

Nyeri tekan dan nyeri lepas pada bagian kuadran kanan bawah Palpasi hati tidak teraba

e. Perkelmihan y Inspeksi Kulit : Warna kecoklatan terdapat lesi pada bagian perut kanan bawah, Membrane mukosa tidak anemis Meatus urinarius : laki-laki ada Urin y Palpasi Ginjal : tidak nyeri : terpasang kateter, jumlah 2 ml , kuning jernih, bau khas

41

Blader y Perkusi Ginjal Blader

: tdak nyeri

: tidak nyeri : tidak nyeri

f. Sistem Endokrin y Inspeksi Kulit : tidak hiperpigmentasi Kuku : tampak panjang dan kotor y Palpasi Pembesaran kelenjar tiroid Pembesaran kelenjar getah bening Reprek tendon : Tidak ada : Tidak ada : normal

g. Sistem Muskuloskeletal y Inspeksi Kesulitan dalam pergerakan ADL Sakit pada tulang, sendi Fraktur : iya : masih dengan bantuan : Tidak ada : Tidak ada

42

Kelainan bentuk tulang sendi Kelainan struktur tulang Belakang Keadaan tonus otot
5 5 5 5

: tidak ada : Tidak ada : Baik dapat menahan tahanan (0-5)

kekuatan utuh, pasien tampak bisa menahan gaya gravitasi dan tahan yang diberikan.

h. Sistem Saraf Pusat Penampilan umun Tingkat kesadaran Gangguan sistem persyarafan Replik pupil Fungsi kognitif : baik : Compos mentis, GCS 15 : Tidak ada : kontriksi terhadap cahaya : baik

1. Dapat menyebutkan angka berturut-turut 2. Dapat mengulangi kalimat setelah 5menit 3. Dapat menjawab alamat dan usianya Pemeriksaan ekstermitas : Reflek tendon : Pada pengetukan tendon lutut menunjukan pergerakan.

43

Reflek babinzki : Kelima jari kaki kanan dan kiri melakukan plantar flexi.

i.

Pemeriksaan laboratorium

Tgl 24 mei 2011 Jenis pemeriksaan Hematolo : Hb Leukosit Hematokrit Trombosit 11.90 22700 36.00 300.00 13.00-18.00 g/dl 5.00-10.00 ribu/ L 40.00-54.00 % 150.00-450.00 ribu/ L Hasil Nilai normal

Fungsi ginjal: Ureum Kreatinin 19.00 0,60 10.00-50.00 < 1.40 <180 mg/dl Gula darah sewaktu 88.00

44

m. Penatalaksanaan Injeksi : intravena Pengobatan yang sedang di jalanin Nama obat 1 Ceftriaxone 2 Teranaol Dosis 1 gram 1 gram Frekuensi 2x1 3x1 Waktu pemakaian Pagi dan sore Pagi, siang, sore

45

ANALISA DATA Nama / Umur Ruang / kamar No I DS: Klien mengatakan nyeri pada bagian perut kanan bawah pembedahan DO: Terdapat luka bekas operasi pada
46

: An. M/ 12 thn : Pav. Dahlia Data Etiologi Masalah

apendisitis

Gangguan rasa nyaman: Nyeri

adanya luka bekas operasi

perut kanan bawah, dengan panjang 5cm dan kedalaman 1.5cm. Luka tertutup perban Klien tampak meringis Skala nyeri 7-8 dari rentang 0-10 TTV: TD: 110/80 mmHG N: 89x/mnt, S: 370C, RR: 20x/mnt

terputusnya jaringan nyeri

Resti infeksi II DS: Klien mengatakan ada luka bekas operasi pada bagian perut kanan bawah DO: Terdapat luka bekas operasi pada perut kanan bawah, dengan panjang 5cm dan kedalaman 1.5cm. Luka bersih dan kering TTV: TD: 110/80 mmHG N: 89x/mnt, S: 370C, RR: 20x/mnt berkembangnya mikroorganisme resti infeksi adanya luka bekas operasi invasi kuman pada luka insisi Apendisitis pembedahan

DS:
47

III

Klien mengatakan sudah 4 hari tidak gosok gigi

apendisitis pembedahan adanya luka bekas operasi

Defisit perawatan diri: oral hiegene dan kebersihan kuku

Mulut terasa tidak enak

DO: Gigi klien tampak kotor Mulut klien bau Kuku klien panjang dan kotor

nyeri gamgguan imobilisasi klien tidak bisa melakukan ADL dengan mandiri hiegene kurang

6. Diagnosa keperawatan 1. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan luka bekas operasi
48

2. Risti infeksi berhubungan dengan luka bekas operasi 3. Defisit perawatan diri: oral hiegene dan kebersihan kuku berhubungan dengan gangguan imobilsasi ada nyeri bekas operasi

B. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Nama / Umur Ruang / kamar : An. M/ 12 thn : Pav. Dahlia

N o I

Diagnosa Gangguan rasanyaman: Nyeri berhubungan dengan luka

Rencana Tindakan Tujuan Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam Intervensi 1. Kaji skala, integritas dan frekuensi nyeri Rasional 1. Indikasi kemajuan yang diharapkan

Implementasi Tgi 28-5-2011 jam 8.30

Evaluasi Tgl 28-5-2011 jam 10.00

1. Mengaji skala, integritas dan frekuensi S: nyeri -Klien mengatakan nyeri

R/ skala nyeri 7-8,nyeri tekan dan nyeri sedikit berkurang lepas,muka klien tampak meringis 2. Mengkaji dan mencatat tanda-tanda vital R/TD 110/80mmHg. N; 89x/mt, S:36C, RR:20x/mt 3. Mengatur posisi yang nyaman bagi klien dengan posisi semi fowler R/klien tampak nyaman dengan posisi Terdapat luka bekas O:

2. Pantau tanda- 2. Indikasi tanda vital 3. Atur posisi yang nyaman bagi klien 4. Anjurkan klien tidak kemajuan yang diharapkan 3. Menurunkan nyeri 4. Menghindari
49

bekas operasi diharapkan gangguan rasa nyeri tidak ada dengan criteria hasil:

operasi pada perut kanan bawah, dengan panjang

- nyeri tidak

banyak beraktifitas yang berat

kekambuhan

semi fowler yang diberikan 4. Menganjurkan klien tidak banyak beraktifitas yang berat.mengangat beban berat dan berlari -

5cm 1.5cm.

dan

kedalaman

ada atau berkurang, dapat beraktifitas dengan lancer,skala nyeri 0, dan ekspresi muka rileks

Luka tertutup perban Klien tampak meringis Skala nyeri 7-8 dari

5. Ajarkan metode invasif dengan tarik nepas dalam dan keluarkan dari mulut 6. Ajarkan metode munurunkan nyeri dengan distraksi 7. Kolaborasi pemberian analgetik :teranol diberikan 3x1

5. Mengurangi nyeri

R/klien mendengar dengan baik dan akan mengikuti intruksi dari perawat

rentang 0-10 TTV: mmHG TD: 110/80

5. mengjarkan metode invasif dengan tarik nepas dalam dan keluarkan dari mulut R/ klien tampak memperagakan instruksi dari perawat

N: 89x/mnt, S:

370C, RR: 20x/mn

6. mengajarkan metode munurunkan nyeri A:Masalah teratasi sebagian 6. Mengurangi nyeri walaupun bentuk sementara 7. Menurunkan nyeri dengan memberi hiburan berupa mainan pada klien R/klen tampak senang dengan hiburan mainan yang diberikan 7. Kolaborasi pemberian analgetik teranol R/ klien tampak tenan saat diberi analgetik: teranaol 1amp, di oplos 3cc intravena P: Intervensi dilanjutkan: 1,2,3,4,7  Kaji skala, integritas dan frekuensi nyeri  Pantau tanda-tanda vital  Atur posisi yang nyaman bagi klien  Anjurkan klien tidak

50

banyak beraktifitas  Kolaborasi pemberian analgetik :teranol diberikan 3x1

II

Resti infeksi berhubungan dengan luka besas operasi

Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam diharapkan infeksi tidak terjadi dengan criteria hasil:
- tidak ada tanda-tanda infeksi(kolor, dolor, rubor, tumor.

1. Observasi tanda-tanda vital.

1. Demam setelah operasi hari ketiga menunjukan adanya infeksi.

Tgl 28/5 2011 pkl. 08.35 1. Mengobservasi TTV: R/ TD: 110/80 mmHG N : 89x/mnt S : 37 C RR : 20 x/mt 2. Mengobservasi tanda-tanda infeksi R/klien tidak menunjukan tandatanda infeksi(kolor, dolor, rubor, tumor), 3. Melakukan perawatan luka(GP)dengan cara: - cuci tangan - lakukan inform konsen lisan pada klien dan keluarga - mengatur kenyamanan klien.
o

Tgl 28/5-2011 pkl. 10.15 S: Klien mengatakan masih luka bekas operasi pada bagian bawah perut kanan

2. Observasi tanda-tanda infeksi.

2. Menegakan kepastian adanya infeksi pada luka.

O: Terdapat luka bekas

operasi pada perut kanan bawah, dengan panjang 5cm 1.5cm. Luka bersih dan kering Tidak ada tanda-tanda infeksi dan kedalaman

3. Lakukan perawatan luka dengan teknik septic

3. Mencegah infeksi

- TTV dalam batas normal

51

dan - leukosit normal 500010000. 4. Anjurkan untuk mengkomsum si makanan yang mengandung protein dan karbohidrat. 5. Memberikan 5. Meningkat penkes pada keluarga tentang perawatan luka dirumah 6. Kolaborasi dengan petugas pengetahuan dan mencegah terjadinya infeksi 6. Mencegah infeksi 4. Daya tahan tubuh meningkatka n terhindar dari infeksi. antiseptic

- siapkan plester untuk fiksasi - pasang alas atau perlak - dekatkan tempat bengkok - pakai sarung tangan - membuka balutan lama - basakan plester yang mendekat dengan kapas alkohol - lepaskan plester dengan pelahan - buang balutan ke bengkok - Sediakan larutan NaCl kom kecil - sediakan kasa secukupnya kedalam kom kecil - masukan kassa kedalam cairan NaCL dan diperas - luka dibersihkan mengunakan kasa lembab dengan kasa terpisah untuk sekali usap - hindari terkena area yang tidak luka - bila luka sudah bersih, luka dikeringkan dengan kasa yang

TTV:

TD:

110/80

mmHG N: 89x/mnt, S: 370C, RR: 20x/mnt

A: Masalah teratasi sebagian

P:Intervensi dilanjutkan:1,2,3  Observasi tandatanda vital.  Observasi tandatanda infeksi.  Lakukan perawatan luka dengan teknik septic dan antisepti

52

ruangan untuk pemberian antibiotic

tidak basah - Berikan bethadin pada luka dan kompres dengan kasa lembab - setelah itu langsung ditutup dengan kasa kering,(kurang lebih 3 lapis) - luka diberi plester secukupnya. R/ luka baik dan klien nyaman dengan adanya perawatan luka. 4. Menganjurkan klien mengkomsumsi makanan yang mengandung protein seperti daging, tahu,tempe,telur dan ikan R/keluarga mengatakan akan mengikuti instruksi dari perawat 5. Memberikan penkes pada keluarga tentang perawatan luka dirumah dengan Tujuan perawatn luka Cara perawatn luka Cara menganti balutan luka

53

Cara membersih luka Dan cara menutup luka

R/ keluarga klien mengerti tentang perawatan luka.

III

Defisit perawatan diri: oral higene dan kebersihan kuku berhubungan dengan gangguan imobilisasi ada nyeri

Setelah dilakukan tindakan perawatan

1. Bantu ADL klien dengan Lakukan oral hiegene

1. Meningkatka Tgl 28/5-2011 pkl. 08.00 n kebersihan oral dan gigi klien 2. Meningkatka n kebersihan kuku klien 3. Meningkatka n harga diri klien 1. Melakukan oral hiegene,gosok gigi R/ klien merasa nyaman dan kelihatan segar 2. Memotong dan membersihkan kuku klien dengan cara kuku direndam dalam air hangat 5 menit dan kemudian di potong dan di sikat pakai sabun, selanjutnya di keringkan R/ kuku klien tampak putih dan bersih 3. Memeri dorongan pada klien agar berpatisipasi dalam perawatn diri Contohnya: melakukan personal hiegine sendiri antaranya mandi,

Tgl 28/5 2011 Pkl. 10.20 S: Klien merasa mengatakan nyaman dan

selama 2x24 2. Bantu klien Jam diharap gangguan personal hiegene tidak melakukan potong dan bersihkan kuku

segar setelah gosok gigi

O: Gigi klien bersih dan tidak tidak bau Klien tampak segar Kuku bersih A: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan klien tampak

terjadi,denga 3. Beri n criteria dorongan pada klien agar berpatisipasi dalam perawatn

bekas operasi hasil: - Gigi klien bersih dan tidak bau - kuku bersih

54

tidak kotor dan panjang -klien tampak segar

diri

gosok gigi,potong kuku atau sesuai kemampuan klien R/klien bersedia untuk melakukan perawatan sediri

55

A. CATATAN PERKEMBANG Nama pasien Ruangan No CM : An. M : Pav. Dahlia : 04083759

Diagnosa Medis : Apendisitis

Tanggal Selasa Tgl 31-52011 jam 09.40

Dx 1 S: -

SOAP

Paraf Anita

Klien mengatakan tidak nyeri lagi kecuali dengan tekan

O: Terdapat luka bekas operasi pada perut kanan bawah, dengan panjang 5cm dan lebar 1.5cm. Luka tertutup perban Klien tampak rileks Skala nyeri 2 dari rentang 0-10 TTV: TD: 120/70 mmHG N: 88x/mnt, S: 360C, RR: 20x/mt A:Masalah teratasi sebagian

P: Intervensi dilanjutkan: 1,4  Kaji skala, integritas dan frekuensi nyeri  Anjurkan klien tidak banyak beraktifitas

56

31/05 2010 Pkl 09.50

II

S: Klien mengatakan masih luka bekas operasi pada bagian perut kanan bawah O: Masih terdapat luka bekas operasi pada perut kanan bawah, dengan panjang 5cm dan lebar 1.5cm. Luka tertutup perban 7 cm Luka bersih dan kering TTV: TD: 110/80 mmHG N: 89x/mnt, S: 370C, RR: 20x/mnt A: Masalah teratasi sebagian P: Intervensi dilanjutkan dipoli bedah :1,2,3 dan

Anita

pengangkatan jahitan  Observasi tanda-tanda vital.  Observasi tanda-tanda infeksi.  Lakukan perawatan luka dengan teknik septic dan antisepti

31/05 2010 Pkl 10.15

III

S: Klien mengatakan sudah mandi, gosok gigi dan sikat kuku sendiri O: Klien tampak segar Gigi klien bersih dan tidak tidak bau Kuku klien tampak bersih Anita

A: masalah teratasi P: Intervensi dihentikan

57

BAB IV PENUTUP

A.

Kesimpulan Apendisitis adalah peradangan apendiks yang relative sering dijumpai yang dapat timbul tampa penyebab yang jelas, atau timbul setelah obstruksi apendiks oleh tinja, atau akibat tepuntirnya apendiks atau pembuluh darahnya. Peradangan menyebabkan apendiks menbengkak dan nyeri yang dapat menimbukan gangrene karena suplai darah terganggu. Apendiks juga dapat pecah. (Elizabeth J. Corwin, 2001: 529). Penyebab apendisitis belum sepenuhnya di mengerti, pada kebanyakan kasus peradanganag dan inspeksi usus buntu didahului oleh adanya penyumbatan didalam usus buntu. Bila peradangan berlanjut tanpa pengobatan, usus buntu bisa pecah dan dapat mengakakibatkan fatal bagi penderita. Dari hasil pengkajian dan analisa data didapatkan diagnosa keperawatan pada An M yaitu: Gangguan rasanyaman: Nyeri berhubungan dengan luka bekas operasi, Resti infeksi berhubungan dengan luka bekas operasi, dan Defisit perawatan diri: oral higene dan kebersihan kuku berhubungan dengan gangguan imobilisasi ada nyeri bekas operasi B. Saran Pada laporan magang asuhan keperawatan pada An M dengan Apendisitis di.Pavilium Dahlia Rumah Sakit Umum Tangerang, penulis memberikan saran sebagai bahan pertimbangan dan peningkatan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien sebagai berikut: 1. Diharapkan kepada perawat, dokter, dan tim kesehatan untuk meningkatkan kesadaran tentang adanya hubungan komunikasi terapeutik yang baik kepada pasien dan keluarga pasien. 2. Diharapkan kepada perawat, dokter, dan tim kesehatan untuk memberikan penkes tentang penyakit kepada pasien dan keluarga pasien untuk menambah pengetahuan tentang penyakit dan pengobatanya.

58

3. Diharapkan kepada pihak Rumah Sakit Umum Tangerang untuk dapat lebih disiplin lagi menerapkan jam besuk dan jumlah penjaga pasien dari pihak keluaraga, sehingga pada ruang perawatan tidak terjadi penumpukan jumlah para pembesuk dan penjaga, agar pasien bisa istirahat dengan tenang. 4. Diharapkan kepada pihak keluaraga pasien juga terlibat langsung dalam pemulihan dan kesehatan. 5. Diharapkan pada keluarga dan pasien untuk meningkatkan pengetahuan tentang penyakit yang diderita serta perawatan luka dan cara perawatan luka post-op dirumah, untuk mencegah terjadinya infeksi.

59

DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner & Suddart ( 2002) Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8, penerbit Jakarta: EGC. 2. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. EGC. Jakarta. 3. Elizabet J. Corwin (2000) Patofisiologi, penerbit Jakarta: EGC 4. Http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=1257

60