Press Release No.

G/03/2012 7 Februari 2012

Pemerintah di Asia pasifik cari cara untuk percepat tercapainya kawasan bebas HIV/AIDS Bangkok (Seksi Strategi Komunikasi dan Advokasi UN ESCAP) – Para kepala Pemerintahan, pejabat senior, perwakilan masyarakat madani yang orang yang hidup dengan HIV dari 34 negara di Asia pasifik memulai pembahasan selama tiga hari di Markas Komisi Ekonomi dan Sosial untuk Asia Pasifik PBB (ESCAP) di Bangkok pada hari Senin (6/02) untuk mecari cara untuk mempercepat kemajuan menuju kawasan bebas AIDS, termasuk menghilangkan pengahalan berupa kebijakan dan hukum yang membatasi akses terhadap pelayanan HIV. Pertemuan PBB mulai tanggal 6 hingg 8 Februari menandakan untuk pertama kalinya para pejabat dari badan kesehatan, hukum, penegak hukum, pembangunan sosial dan pengawasan obat di kawasan kumpul bersama dalam sebuah forum, serta dihadiri pula oleh mereka yang mengidap HIV – termasuk pekerja seks, para pemakai obat, pria yang berhubungan dengan pria serta transgender – untuk mengulas kemajuan kawasan menuju komitmen internasional mengenai AIDS. Pemberi sambutan pada pertemuan ESCAP adalah Sekretaris Eksekutif Noeleen Heyzer, beliau menekankan bahwa “Kawasan Asia pasifik telah melihat kemajuan pesat dalam penanganan HIV, tetapi epidemi lebih cepat dari tindakannya. Guna menyatukan kita ke visi Nol infeksi baru, Nol diskriminasi dan Nol kematian terkait AIDS, kaita semua harus menjamin adanya tanggapan yang berkesinambungan dan berdampak besar dengan membahas masalah HIV dengan pembangunan yang lebih luas dan inklusif dari agenda kawasan Asia pasifik.” Pertemuan Tingkat Tinggi Antar-Pemerintah Asia-Pasifik untuk Mengulas Kemajuan Komitmen dalam Deklarasi Politik HIV/AIDS serta Tujuan Pembangunan Milenium yang diorganisir oleh ESCAP, bekerjsaama dengan Program Bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS), Program Pembangunan PBB (UNDP), Kantor PBB untuk Narkotika dan Kejahatan (UNODC), UN Women, Dana Kependudukan Dunia (UNFPA), Badan Dana Anak-anak PBB (UNICEF) dan BadanKesehatan Dunia (WHO). Pertemuan diadakan enam bulan setelah pertemuan bersejarah Pertemuan Tingkat Tinggi AIDS 2011 dimana para pemimpin dunia berkomitmen untuk mencapai berbagai sasaran yang berani tentang AIDS, dan bertujuan untuk mempercepat implementasi tujuan-tujuan tersebut di seluruh kawasan. “Untuk pertama kalinya dalam sejarah kita memiliki kesempatan untuk mengakhiri AIDS dan negara-negara di Asia-Pasifik telah menunjukkan bahwa kita dapat memimpin dunia dalam mengurangi infeksi, meningkatkan pengobatan dan membuat dampak. Tetapi kita tidak bisa mengabaikan berbagai tantangan yang menghadang kawasan dan bagaimana tantangan ini dapat membahayakan kemampuan kita menuju kemajuan,” tutur Yang Mulia Ratu Epeli Nailatikau, Presiden Fiji, kepada peserta pertemuan.

UN ESCAP

– PRESS RELEASE

Strategic Communications and Advocacy Section United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific Rajadamnern Nok Avenue, Bangkok 10200, Thailand Tel: (+66-2) 288-1861-9 ● Fax: (+66-2) 288-1052 ● E-mail: unisbkk.unescap@un.org

Para peserta akan mengidentifikasi area untuk kerjasama regional, khusunya dalam membahas penghalang berupa kebijakan dan hukum yang menghambat akses terhadap pencegahan HIV, pengobatan, perawatan dan pelayanan pendukung kepada mereka yang hidup dengan HIV dan kepada mereka yang paling rentan. Berbicara pada pertemuan, Yang Mulia Kittiratt Na-Ranong, Wakil Perdana Menteri Thailand menekankan keberhasilan tanggapan Thailand akibat memajukan kerjasama multisektoral, meningkatkan keinginan keras dan alokasi sumber, serta menekankan betapa tepat waktunya pertemuan tersebut. Kemajuan signifikan kawasan tetapi rintangan tetap ada Selama satu dekade, telah terjadi 20 persen penurunan dalam infeksi HIV dan lebih dari sejuta orang mendapatkan akses ke perawatan antiretroviral di seluruh kawasan. Jumlah anak dibawah 15 tahun yang terinfeksi HIV telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, khususnya dikarenakan adanya peningkatan dalam pelayanan pencegahan penularan dari orang tua ke anak. Namun, epidemi terus meningkat dan muncul di beberapa negara. Pada akhir 2010, 15 persen dari sekitar 34 juta orang yang hidup dengan HIV berada di kawsan ini. Lebih dari 90 persen atau sekitar 6 juta orang yang hidup dengan HIV di kawasan ini hidup di Cina, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Federasi Rusia, Thailand dan Vietnam. India memiliki angka terbesar dengan orang yang hidup dengan HIV, dan diperkirakan sekitar 2,4 juta orang. Meski India dan Thailand memiliki tingkat yang relatif tinggi untuk orang yang hidup dengan HIV, adanya infeksi HIV yang baru di kedua negara tersebut turun sebesar 25 persen antara tahun 2001 dan 2009. Secara kontrasm, infeksi meningkat lebih dari 25 persen di negara-negara yang prevalensi HIV-nya rendah, seperti Bangladesh dan Filipina, dalam periode yang sama. Di Pasifik, Papua New Guinea memiliki epidemi prevalensi HIV tertinggi dengan 0.9 persen (34,000 orang) di tahun 2009, meski riset terkini menunjukkan bagaimana tingkat infeksi mulai merata. HIV di Asia umumnya menyebar melalui jarum suntik yang tidak aman, pekerja seks dan hubungan antar pria. Perkembangan epidemi yang pesat antar pria yang berhubungan dengan pria (MSM) di kawasan, khususnya di perkotaan, adalah sumber utama dari infeksi baru. Tanpa investasi yang signifikan dan meningkatkan program MSM, kelompok ini diperkirakan berjumlah setengah dari infeksi HIV baru di Asia pada akhir tahun 2020. Perhatian khusus diperlukan pada anak muda dengan resiko infeksi lebih tinggi. Data memperkirakan 95 persen dari semua infeksi baru diusia 25 tahun atau kebawah di kawasan Mengakhiri diskriminasi hukum dan sosial Diperkirakan sekitar 90 persen dari negara-negara Asia-Pasifik memiliki hukum perundang-undangan, kebijakan atau langkah-langkah yang menghalangi akses kepada mereka yang hidup dengan HIV serta mereka yng rentan terhadap HIV. Sebuah survei regional terhadap mereka yang hidup dengan HIV menemukan bahwa 24 persen dari koresponden telah kehilangan pekerjaannya sebagai hasillangsung dari diskriminasi. Sekitar 13 persen menunjukkan bahwa stigma dan diskriminasi menyumbangkan hilangnya akses pelayanan kesehatan dan 19 persen melaporkan adanya pelanggaran HAM.

-3-

Beberapa negara di Asia-Pasifik telah mengambil langkah-langkah tegas untuk mengubah undang-undang nasional yang akan memiliki dampak terhadap akses pelayanan universal HIV. Langkahtersebut termasuk mengangkat pelarangan perjalanan bagi mereka yang hidup dengan HIV di Cina dan Fiji, menggantikan penahanan dengan pengobatan secara sukarela bagi pemakai narkoba di Malaysia dan mengulas kembali kerangkakerja legislatif perilaku seksual di Papua New Guinea yang sudah kadarluarsa. Dalam upaya untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi dan akses terhadap pelayanan HIV, bukti menunjukkan bahwa program, kebijakan dan rencana yang paling berhasil di kawasan adalah rencana dimana rancangan dan penerapannya, melibatkan seluruh orang yang hidup dengan HIV serta penduduk yang memiliki resiko tinggi. Mewakili koalisi orang hidup dengan HIV dan penduduk utama yang terimbas saat pembukaan, Vince Crisostomo meminta semua negara untuk bertanggungjawab dengan menghormati komitmen politik mereka. “Kami siap untuk bekerja sama dengan Anda. Bersama-sama kami dapat melakukannya.” Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi: Ms. Francyne Harrigan Chief, Strategic Communications and Advocacy Section, ESCAP T: (66) 2 288 1864, M: (66) 81 835 8677, E: harriganf@un.org Tentang ESCAP Dari markas besarnya di Bangkok, ESCAP menyediakan sebuah forum bagi Negara-negara anggota yang mempromosikan kerjasama regional dan tindakan bersama, membantu berbagai negara dan membagi pertumbuhan ekonomi dan kesetaraan sosial. ESCAP menyediakan berbagai bentuk bantuan kepada Negara-negara anggota: ESCAP mempromiskan analisa dasar dan pembelajaran melalui kerangka kerja utamakami: kebijakan makroekonomi dan pembangunan, perdagangan dan investasi, pembangunan sosial, transportasi, statistic, lingkungan dan pembangunan, teknologi informasi komunikasoi dan penanggulangan bencana alam. ESCAP menerjemahkan berbagai penemuan tersebut kedalam bentuk dialog kebijakan dan rekomendasi, serta; ESCAP menyediakan praktek-praktek pembangunan yang baik, saling berbagi ilmu dan bantuan teknis kepada Negara-negara anggota dlam menerapkan rekomendasi tersebut.


-