You are on page 1of 25

EVALUASI BANGUNAN TINGKAT TINGGI AKIBAT BEBAN GEMPA DENGAN BALOK PRATEGANG SEBAGAI TRANSFER BEAM BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan dikelilingi oleh Samudera. Diantara ribuan pulau

itu, ada lima pulau terbesar yakni Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, dan Irian Jaya. Selain besar secara luas daerah, pulau-pulau tersebut, terutama Pulau Jawa, menjadi pusat perekonomian dan pusat kegiatan pemerintahan Republik Indonesia. Oleh karena itu, sudah sewajarnya Pulau Jawa menjadi center point dan tempat mencari penghasilan bagi para warga Indonesia. Diiming-imingi dengan tingkat ekonomi yang lebih baik, pekerjaan tetap, dan kesejahteraan yang mapan, banyak para warga daerah kecil/desa tertarik untuk pindah dan menetap di kota-kota besar. Hal ini memicu terjadinya arus urbanisasi secara signifikan. Urbanisasi adalah perpindahan penduduk secara berduyun-duyun dari desa ke kota besar (KBBI : 1990). Pemusatan segala aktivitas masyarakat yang tertuju pada suatu kawasan/kota juga menjadi salah satu penyebab utama urbanisasi. Hal ini dapat menyebabkan perubahan struktur keruangan kota. Bertambahnya arus urbanisasi diikuti dengan pertambahan jumlah penduduk di kota besar. Pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan semakin padatnya pemukiman dan semakin terbatasnya lahan yang ada. Selain itu, gradien pertambahan penduduk di kota-kota besar selalu bernilai positif sehingga pertambahan penduduk selalu terjadi setiap tahunnya. Salah satu masalah yang akan timbul apabila pertambahan penduduk terus terjadi adalah semakin terbatasnya ruang. Untuk itu, para ahli konstruksi mengakalinya dengan membangun ruang ke atas bukan ke samping dalam bentuk bangunan tingkat tinggi. Bangunan tingkat tinggi dapat didefinisikan sebagai bangunan yang memiliki tingkat yang banyak dan ketinggian yang melebihi rata-rata. Bangunan antara 23 150 meter berdasarkan beberapa standar dianggap

sebagai bangunan tinggi. Bangunan dengan tinggi lebih dari 150 meter dapat dianggap sebagai bangunan pencakar langit. Selain itu, menurut Oxford English Dictionary, bangunan tinggi dapat diartikan sebagai bangunan yang memiliki banyak tingkat. Massachusetts General Law mendefinisikan bangunan tinggi adalah bangunan yang memiliki tinggi lebih dari 21 meter. Meskipun merupakan sebuah solusi yang cukup efektif, pembangunan bangunan tingkat tinggi tidak semudah seperti yang direncanakan. Ada beberapa penghambat dalam rencana ini, antara lain adanya prehistoric building atau bangunan purbakala yang keberadaannya tidak bisa diganggu gugat. Bangunan purbakala ini dilindungi sebagai salah satu simbol atau objek wisata kota yang bersangkutan. Oleh karena itu, munculah gagasan untuk membangun sebuah bangunan tingkat tinggi di atas bangunan purbakala yang bersangkutan. Pembangunan bangunan tingkat tinggi diatas bangunan purbakala menimbulkan tantangan baru, dimana struktur bawah dari bangunan tingkat tinggi terhalangi oleh keberadaan bangunan purbakala. Untuk itu, digunakanlah balok prategang sebagai transfer beam yang berperan memindahkan gaya-gaya dari struktur atas ke struktur yang ada di bawahnya. Ketidakberadaan kolom-kolom bangunan tingkat tinggi diharapkan dapat tergantikan perannya oleh balok transfer ini. Metode inilah yang akan menjadi objek dalam penelitian, dimana balok prategang dalam struktur bangunan tingkat tinggi akan diberikan beban gempa. Beban gempa adalah beban yang timbul secara dinamik atau berubah-ubah akibat adanya percepatan tanah ketika gempa bumi terjadi. Definisi beban gempa menurut SKBI-1-3.53.1987 ada;ah beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat beban gempa itu. Menurut SNI 03-1726-2003, beban gempa dapat dibedakan menjadi beban gempa rencana, beban gempa nominal, beban gempa sedang, dan beban gempa kuat. Setiap daerah memiliki karakteristik beban gempanya masing-masing dan beban gempa inilah yang akan gaya luar dari struktur bangunan tingkat tinggi dengan balok prategang sebagai transfer beam. I.2 Rumusan Permasalahan Penggunaaan balok prategang sebagai transfer beam pada bangunan tingkat tinggi diatas bangunan purbakala merupakan suatu bentuk struktur yang sangat menarik untuk diteliti. Dengan

tujuan membatasi dan mencegah luasnya permasalahan yang mungkin timbul, perumusan masalah yang diciptakan ialah : a. Bagaimana karakteristik dinamik (pola ragam getar, Tn) akibat beban gempa yang bekerja? b. Bagaimana respon struktur (displacement, gaya geser, dan momen guling) terhadap beban gempa dan gravitasi yang bekerja?

I.3

Tujuan Penelitian Dengan perumusan seperti yang sudah tertera di atas, tujuan dari penelitian ini adalah : a. Untuk menjelaskan perilaku struktur (pola ragam getar, periode getar) yang terjadi pada struktur. b. Untuk menjelaskan respon struktur terhadap beban dinamik yang terjadi.

I.4

Batasan Penelitian Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini ialah : a. Pembebanan yang dilakukan ialah pembebanan gravitasi dan pembebanan gempa. b. Jumlah tingkat gedung bervariasi yakni empat, enam, dan delapan lantai. c. Denah gedung dibuat simetris dan terdiri dari dua buah persegi berukuran 18 m x 18 m. Kolom terdapat di setiap jarak 3 m pada gedung. d. Ukuran kolom : y Kolom baris pertama tempat diletakannya transfer beam : 1200 x 1200 mm2 y e. Kolom baris-baris berikutnya : 800 x 800 mm2 Balok induk : 600 x 300 mm2 Balok anak : 500 x 250 mm2 Balok prategang sebagai transfer beam : 2500 x 1000 mm2

Ukuran balok : y y y

f. Tebar shear wall yang digunakan yakni 250 mm. Sistem penahan beban lateral berupa sistem ganda.

I.5

Sistematika Penulisan

BAB II DASAR TEORI II.1 Perancangan Bangunan Tinggi Tahan Gempa Pada era globalisasi saat ini, perencanaan bangunan tinggi pada akhirnya harus mampu menahan gaya gempa yang terjadi, tidak cukup hanya dengan menahan gaya gravitasi. Perancangan bangunan tahan gempa yang efektif pada umumnya meliputi pemilihan konsep sekaligus layout sistem penahan gaya lateral pada bangunan tinggi yang tepat dan mampu mengantisipasi getaran tanah yang terjadi. Selain itu, perencanaan juga harus menentukan gayagaya dan deformasi yang terjadi akibat gerakan tanah dan mendistribusikan gaya-gaya tersebut ke sistem penahan gaya lateral. Sistem struktur, konfigurasi, dan karakteristik daerah harus diperhitungkan selama mencari besarnya gaya ini. Bagian perancangan bangunan tinggi tahan gempa ini dibagi menjadi lima yakni : dasar analisa dinamik struktur, perancangan bangunan tahan gempa, modelisasi dinamik struktur (sistem Multi-Degree-Of-Freedom), analisis getaran bebas dan getaran paksa, dan respon spektrum.

II.1.a Dasar Analisa Dinamik Struktur Dasar analisa dinamik struktur dilakukan untuk mengetahui behaviour atau perilaku dinamik bangunan. Hal utama yang perlu diperhatikan dalam mengamati perilaku dinamik bangunan adalah konsep Dynamic Load Factor (DLF) dan fungsi waktu-beban. DLF adalah rasio dari respon dinamik (seperti lendutan pada sistem elastis) terhadap respon statisnya. Dalam perilaku statis, variasi waktu dalam beban tidak memberikan dampak apapun karena beban dianggap diberikan secara berangsur-angsur. Dalam perilaku dinamik, perubahan gaya terhadap waktu memberikan dampak yang cukup signifikan sehingga perlu dipertimbangkan dalam menganalisa struktur. Perilaku dinamik dari struktur dapat diperhatikan mulai dari struktur sederhana seperti pada balok kantilever di bawah. Balok dibebani dengan sebuah wadah kosong (Wd) di ujungnya.

Impact Load

Gambar 2.1 Respon dinamis dari sebuah balok kantilever. Dynamic Load factor (DLF) adalah 2 untuk beban yang diberikan secara instan.

Abaikan berat sendiri balok dan dengan menggunakan prinsip mekanika dasar, lendutan pada kantilever akibat berat wadah (Wd) adalah  


(2.1)

Kemudian wadah diisi dengan air seberat Ww, dituang dengan pelan-pelan dan sedikit demi sedikit. Lendutan tambahan yang terjadi akibat berat air Ww adalah  


(2.2)

Alih-alih dibebani sedikit demi sedikit, jika air tiba-tiba dituang ke dalam wadah dalam waktu instan, lendutan kantilever yang terjadi tidak akan sama dengan lendutan statis. Lendutan akan lebih besar dari dan dalam kasus ini dapat dibuktikan bahwa lendutan yang terjadi akan dua kali lebih besar dari lendutan statisnya. Oleh karena itu, DLF = 2. Kantilever tidak hanya bergerak ke bawah, namun juga bergerak seperti pegas (berosilasi) secara lanjut terhadap posisi statisnya. Dengan kata lain, ketika diberikan beban tiba-tiba, kantilever akan memberikan respon dinamik berupa getaran sinusoidal. Jika tidak ada redaman, kantilever akan terus bergetar seperti pada gambar 2.1 tanpa berhenti. Pada dasarnya, perilaku bangunan yang terkena gempa mirip dengan getaran dari kantilever di atas. Namun, gerakan tanah akibat gempa bumi sebagai beban pada struktur

bersifat tak menentu; gerakan itu tidak harmonik tidak pula periodik tapi bervariasi terhadap waktu dan tidak bertahan lebih lama dari beberapa detik untuk satu tipe gerakan. Untuk menganalisis dampak dari pergerakan tanah yang tak menentu akibat beban gempa, secara analitik respon dinamik dapat diartikan sebagai jumlah respon akibat impuls individual. Gaya impuls didefinisikan sebagai gaya besar yang bekerja dalam waktu yang sangat singkat dan dalam durasi terbatas. Beberapa contoh gaya impuls adalah : Step Force, gaya yang berbentuk seperti anak tangga dan melompat secara tiba-tiba dari 0 ke Ft dan tetap konstan pada nilai tersebut Ramp atau gaya yang bertambah secara linear Rectangular pulse force Half-cycle sine pulse Triangular pulse

Selama pembebanan gempa, DLF juga bervariasi dengan waktu. Pada umumnya dalam rekayasa struktur, para perencana mendesain dengan faktor gaya yang maksimum (seperti untuk displacement, tegangan, dll). Oleh karena itu, DLF untuk kantilever diambil sebesar 2 untuk memenuhi alasan di atas. Respon struktur terhadap pembebanan gempa dan terhadap pembebanan statis sangat jauh berbeda. Jika pada kasus statis, tegangan pada struktur akan berkurang dengan meningkatkan luas penampang dimana akan meningkatkan nilai modulus penampang pula. Pada kasus pembebanan gempa, peningkatan luas penampang akan menambah kekakuan dimana akan memperpendek periode alami getaran dan kemungkinan akan menambah besar gaya statik ekivalen. Penambahan atau pengurangan tegangan struktur bergantung kepada nilai modulus penampangnya, dan penambahan gaya statik ekivalen bergantung kepada spektrum respons. II.1.b Perancangan Bangunan Tahan Gempa Konsep perancangan bangunan tahan gempa pada umumnya meliputi : pemilihan konsep struktur yang tepat terutama pada sistem penahan gaya lateral agar dapat menahan

dampak negatif akibat getaran tanah, mengetahui besarnya gaya dan deformasi yang terjadi akibat gerakan tanah lalu mentransfer gaya tersebut pada sistem penahan gaya lateral, menganalisa bangunan akibat kombinasi beban beban gravitasi dan beban gempa sehingga dapat mencapai nilai kekakuan dan kekuatan yang mencukupi baik lateral maupun vertikal berdasarkan standar bangunan yang berlaku. Jika bagian dasar bangunan tiba-tiba bergerak, seperti pada kejadian gempa bumi, bagian atas bangunan tidak akan merespon secara langsung melainkan akan diam terlebih dahulu (lag) oleh karena ketahanan inersia dan fleksibilitas bangunan. Tegangan dan distorsi yang dihasilkan pada bangunan akan sama dengan jika pada dasar bangunan berada pada kondisi awal ketika gaya horizontal yang bervariasi terhadap waktu bekerja pada bagian atas bangunan. Gaya tersebut disebut gaya inersia, merupakan hasil perkalian massa struktur dengan percepatan tanah akibat gempa. Oleh karena pergerakan tanah akibat gempa ditinjau dalam 3D, deformasi struktur pada umumnya juga memiliki perilaku 3D (satu horizontal, dua vertikal). Gaya horizontal yang terjadi akibat gempa lebih dipertimbangkan dalam perancangan daripada gaya vertikal, karena ketahanan terhadap gaya vertikal biasanya sudah dipenuhi oleh desain penahan gaya gravitasi. Beban gempa adalah beban akibat perpecatan tanah yang menghasilkan baik gaya lateral maupun gaya vertikal, namun gaya lateral lebih dipertimbangkan dalam perencanaan gedung akibat gempa. Oleh karena itu, dalam gedung harus ada sistem penahan gaya lateral yang berupa : a. Sistem Portal : sistem portal menahan gaya gempa dengan sifat lentur dari kolom dan balok. Balok, lantai penahan, dan kolom biasanya bertemu pada satu titik dan titik itu disebut rigid joints. Selama gempa besar terjadi, lendutan per lantai (penyimpangan lantai) dapat ditahan oleh sistem struktur portal dengan membentuk sendi-sendi plastis pada balok tanpa membuat kolom roboh. Jenis-jenis portal seperti ini mampu menahan pembebanan gravitasi sekaligus memiliki ketahanan yang cukup terhadap beban lateral ke segala arah. b. Sistem Dinding Geser : bangunan dengan dinding geser biasanya lebih kaku dibanding bangunan dengan struktur portal. Lendutan akibat gaya lateral

biasanya bernilai kecil kecuali rasio tinggi-lebar dari dinding cukup besar sehingga menyebabkan masalah guling. Guling (overturning) ini terjadi ketika terdapat bukaan yang melebar pada dinding geser atau ketika rasio tinggilebar dari dinding melebihi nilai 5. Pada beberapa kasus, jika kebutuhan fungsional mengijinkan, gaya lateral yang bekerja pada gedung dapat ditahan seluruhnya oleh dinding geser. Efek pembebanan gravitasi pada dinding tidaklah signifikan dan tidak berpengaruh dalam desain. c. Sistem Kombinasi / sistem ganda : sistem portal dan sistem dinding geser dapat digunakan secara bersama-sama dan membentuk sistem kombinasi. Ketika portal dan dinding geser berinteraksi, sistem dapat dikatan sistem kombinasi bila portal sendiri mampu menahan 25% gaya geser nominal yang terjadi. Sistem kombinasi juga biasa disebut sebagai dual, hybrid, atau sistem dinding-portal. Sistem penahan gaya lateral akan dibahas dengan lebih detail pada bagian lain dari bab ini.

II.1.c Modelisasi Dinamik Struktur (Sistem Multi-Degree-of Freedom) Eksitasi dinamik adalah gaya dinamik, berubah terhadap waktu yang bekerja pada struktur. Eksitasi dinamik dibagi menjadi dua, yakni eksitasi deterministik dan eksitasi non-deterministik. Eksitasi deterministik adalah eksitasi yang dapat dideterminasi, beban yang terjadi terus menerus dengan urutan waktu tertentu. Berupa gerakan harmonik atau periodik, contohnya getaran akibat mesin dan getaran pada jembatan akibat kendaraan yang lewat. Eksitas non-deterministik adalah eksitasi yang bebannya terjadi secara acak dan besarannya diperoleh dari data riwayat waktu (time history). Contoh eksitasi nondeterministik adalah beban gempa. Beban gempa yang terjadi pada struktur berupa percepatan tanah Ug(t) yang arah dan besarnya tidak beraturan. Persamaan keseimbangan dinamik struktur MDOF akibat beban gempa ialah [M] + [C] + [K]u = -[M] Ug(t) (2.4)

Dimana [M] [C] [K] : matriks massa yang simetris dan bersifat semi-definit positif : matriks redaman yang bersifat semi-definit positif : matriks kekakuan yang bersifat simetris dan definit positif.

Persamaan diatas dapat diselesaikan dengan metode klasik, integral Duhamel, metode transformasi Fourier dan Laplace, dan metode numerik. Solusi dari persamaan diatas akan memberikan nilai besarnya lendutan yang terjadi pada struktur. Untuk bangunan tingkat tinggi, analisis persamaan dinamiknya menggunakan teori MultiDegree-Of-Freedom (MDOF).

II.1.d Analisis Getaran Bebas dan Getaran Paksa II.1.d.1 Getaran Bebas Struktur MDOF yang mengalami getaran bebas adalah struktur yang bergetar tanpa adanya eksitasi dinamik. Struktur mampu bergetar karena sebelumnya diberikan lendutan/kecepatan awal atau dikatakan struktur diganggu dari posisi seimbangnya kemudian dilepas. Persamaan keseimbangan dinamik struktur MDOF dengan p(t) = 0 dan tanpa redaman ialah [M] + [K]u = 0 Dengan solusi dari persamaan diatas ialah un(t) = qn(t)
n n

(2.5)

(2.6 adalah variabel yang konstan

qn(t) adalah fungsi waktu dari displacement dan fungsi gerakan harmonik sederhana qn(t) = An cos
n

(tidak berubah terhadap waktu). Fungsi waktu dari displacement merupakan

t + Bn sin

(2.7)

dimana An dan Bn adalah konstanta integrasi yang dapat diperoleh dari kondisi awal yang menimbulkan getaran. Subtitusi persamaan (2.7) ke (2.6) menghasilkan u(t) =
2 n (An

cos

t + Bn sin

t)

(2.8)

bila (2.8) disubtitusi ke (2.5) maka [m


n+

k n] qn(t) = 0
n dan

(2.9) pola ragam getar


n

untuk menyelesaikan persamaan (2.9), frekuensi alami harus memenuhi kondisi

k atau dapat ditulis juga

n=

(2.10)

[kdimana
n

m]

=0

(2.11)

adalah pola ragam getar dan merupakan nilai eigen dari persamaan,

adalah frekuensi alami dan vektor eigen dari persamaan. Persamaan diatas memiliki solusi trivial jika
n

= 0 dan tidak akan terjadi karena

= 0 tidak akan

menghasilkan gerakan. Solusi non-trivial terjadi jika det [k- 2m] = 0 dengan menyelesaikan persamaan-persamaan diatas, nilai diketahui. Pola ragam getar
T n n

(2.12) dan
n

dapat

adalah sebuah pola getaran yang terjadi untuk tiap-

tiap mode pada struktur MDOF. Pola ragam getar bersifat orthogonal dimana M
r

= 0 jika n r atau
T n

(2.13)

dari sifat ortogonalitas pola ragam getar, diketahui bahwa Kn =


T n

dan Mn =

(2.14)

Dimana Kn dan Mn masing-masing adalah kekakuan dan massa tergeneralisasi untuk mode ke-n. Kn dan Mn digunakan pada analisa modal untuk struktur MDOF yang terkena getaran paksa.

II.1.d.2 Getaran Paksa Persamaan keseimbangan dinamik untuk struktur MDOF yang mengalami getaran paksa (dalam hal ini beban gempa) ialah [M] + [C] + [K]u = -[M] ug(t) (2.15)

Dengan adalah vektor pengaruh percepatan tanah. [M] analog dengan distribusi spasial s dan ug(t) analog dengan p(t). Oleh karena itu, dengan rumus
n= n

dan sn dapat dihitung

; sn =

nm

(2.16)

respons dari persamaan keseimbangan dinamik (2.15) ialah un(t) = An(t) =


n 2 n Dn(t)

; fn(t) = sn An(t)

(2.17) (2.18)

Dn(t)

Dimana un adalah displacement pada DOF ke-n, fn(t) adalah gaya statik ekivalen yang bekerja pada DOF ke-n, dan An(t) adalah respons pseudo-acceleration akibat percepatan tanah ug(t), Dn(t) adalah respons pseudo-displacement akibat percepatan tanah ug(t). Total displacement yang terjadi ialah u(t) = =   (2.19) Suatu struktur MDOF memiliki jumlah pola getar sebanyak DOF yang ada pada struktur bersangkutan. Setiap pola getar dikatakan memiliki massa masing-masing atau effective modal mass (Mn*) yang bearti massa yang digerakkan oleh pola ragam getar ke-n. Effective modal mass dapat dihitung dengan rumus : Mn* = (2.20)

dimana rasio partisipasi massa (effextive mass ratio) dapat dihitung dengan EMR =


(2.21)

dan sesuai SNI 03-1726-2003 EMR minimum haruslah 90%. Gaya geser dasar pola getar ke-n (Vbn) pada struktur MDOF dapat dihitung dengan Vbn = Mn* An(t) dan momen guling pada dasar struktur (Mbn) yakni : Mbn = h* Vbn dimana h* = tinggi efektif pola ragam getar. Menurut SNI 03-1726-2003, gaya geser dasar penjumlahan dari seluruh pola ragam getar harus melebihi atau sama dengan 80% gaya geser dasar statik atau gaya geser dasar pola ragam getar pertama. Vb 0,8 Vb1 = 0,8 V statik II.1.e Respon Spektrum Analisa respons spektrum adalah suatu analisis respons struktur MDOF berdasarkan kurva respons spektrum. Kurva respons spektrum menunjukkan nilai respon struktur maksimum serta periode getarnya, yang diambil dari analisa riwayat waktu (time-history analysis). Kekurangan dari analisa respon spektrum ialah kurva respons spektrum tidak menunjukkan kapan terjadinya respons maksimum struktur, kurva hanya menunjukkan nilai maksimum respons tersebut. Namun analisa respons spektrum lebih (2.24) (2.23) (2.22)

banyak digunakan karena ilmu teknik sipil lebih concern ke nilai maksimum. Contoh kurva respons spektrum sebagai berikut

Gambar 2.2 kurva respons spektrum wilayah gempa 4 berdasarkan SNI 03-1726-2003

Dalam analisa respons spektrum, nilai maksimum tiap pola ragam getar dicari dengan mem-plot periode getar dari pola getar ke kurva respons spektrum. Untuk mendapatkan respons maksimum total dari struktur, respons maksimum dari tiap pola ragam getar ini dijumlahkan dengan beberapa metode yang berbeda. Metode yang lazim digunakan ialah Sum of The Root of Sum Squares (SRSS) dan Complete Quadratic Combination (CQC). a. SRSS SRSS adalah metode penjumlahan yang tidak mempertimbangkan hubungan antara pola ragam getar dari suatu struktur bangunan MDOF. SRSS cocok digunakan untuk bangunan yang memiliki keberaturan, yang periode getar dari tiap pola getarnya terpisah cukup jauh. Ketika dipakai untuk menganalisis bangunan tidak beraturan, akurasi metode SRSS jauh berkurang sehingga tidak pantas digunakan. Kombinasi metode SRSS dirumuskan dengan ro = (2.25)

dimana ro = jumlah respons maksimum total tiap pola getar dan rno = respons maksimum pola getar ke-n. b. CQC CQC adalah metode penjumlahan yang mempertimbangkan hubungan antara pola ragam getar dari suatu struktur bangunan MDOF. CQC cocok digunakan pada bangunan beraturan maupun bangunan tidak beraturan dengan rentang periode getar yang bervariasi. Kombinasi metode CQC dirumuskan dengan ro = dimana pin adalah koefisien korelasi yang besarnya

(2.26)

(2.27)

untuk redaman yang kecil dan


(2.28)

untuk redaman yang besar.

II.2

Sistem Struktur Penahan Beban Gravitasi dan Lateral II.2.a Sistem Penahan Beban Gravitasi II.2.b Sistem Penahan Beban Lateral

II.3

Balok Prategang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1 Permodelan Struktur Struktur yang ditinjau dalam penelitian ini ialah sebuah bangunan tinggi perkantoran yang dibawahnya terdapat bangunan prasejarah sehingga harus menggunakan transfer beam sebagai pengganti kolom. Nantinya struktur akan dianalisis dengan menggunakan program SAP v09.0.01. Adapun spesifikasi dari ukuran struktur ialah : y y Luas : 648 m2 Panjang : 18 m (jarak antar kolom 6 m)

Lebar : 36 m (jarak antar kolom 18 m pada baris pertama dan 6 m pada baris-baris berikutnya)

Tinggi : 6 8 lantai (tiga lantai pertama masing-masing berjarak 4 m, lantai-lantai berikutnya 3,6 m) Ukuran kolom : 1200 x 1200 mm2 untuk kolom baris pertama dan 800 x 800 mm2 pada baris-baris berikutnya. Ukuran balok : 600 x 300 mm2 Ukuran balok anak : 500 x 250 mm2 Tebal shear wall : 250 mm Ukuran transfer beam : 2500 x 1000 mm2 dan terletak pada lantai 3 baris pertama dan kedua bangunan.

y y y y

Berikut dapat dilihat denah dari struktur lantai dasar.

Gambar 3.1 Denah struktur lantai dasar

Denah lantai 3 dimana sudah ada transfer beam

Gambar 3.1 Denah struktur lantai 3

Dan berikut adalah denah lantai 4 dimana kolom-kolom sudah terpasang di transfer beam

Gambar 3.1 Denah struktur lantai 4

Tampak depan portal bangunan adalah sebagai berikut

Gambar 3.1 Tampak depan portal bangunan

Preliminary desain transfer beam yang digunakan dalam bentuk balok prategang adalah sebagai berikut :

Bentuk 3d dari bangunan dengan 8 lantai adalah sebagai berikut : Balok Anak 500 x 250 mm2

Shear Wall 250 mm

Kolom 1200 x 1200 mm2

Balok Induk 600 x 300 mm2

Kolom 800 x 800 mm2


Gambar 3.2 Struktur bangunan 3D - 8 lantai.

Bangunan dalam penelitian akan dianalisis secara 3 dimensi dan menggunakan bahanbahan yang memiliki karakteristik sebagai berikut : a. Beton i. Kuat tekan fc ii. Modulus Elastis : 33 Mpa : 4700 = 27171,78 MPa

iii. Berat Jenis Beton : 2400 kg/m3 b. Beton untuk Transfer Beam

i. Kuat tekan fc ii. Modulus Elastis

: 33 Mpa : 4700 = 27171,78 MPa

iii. Berat Jenis Beton : 2400 kg/m3 c. Baja tulangan i. Tegangan Leleh i. Jenis : 400 Mpa

d. Untaian Kawat Prategang : uncoated seven wire strand low relaxation

ii. Diameter nominal : 15,24 mm iii. Berat nominal iv. UTS v. Kuat leleh vi. Tegangan maks vii. Luas nominal viii. Modulus Elastis : 1,1 kg/m : 260,7 kN : 1670 Mpa : 1860 Mpa : 140 mm2 : 190.000 Mpa

III.3

Variasi Permodelan Dalam penelitian ini, dilakukan dua buah variasi permodelan yang dijalankan. Variasi

pertama adalah jumlah lantai, dan variasi kedua adalah variasi denah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam uraian berikut III.2.a Variasi Jumlah Lantai Variasi pertama yang menjadi objek penelitian adalah variasi jumlah lantai. Karena syarat suatu bangunan dapat dikatakan bangunan tinggi apabila tingginya melebihi 4 lantai atau sekitar 20 meter, maka variasi lantai yang diambil ialah 4, 6, dan 8 lantai. Jumlah lantai akan berpengaruh terhadap karakterisitik dan respon dinamik dari struktur yang bersangkutan.

Gambar 3.3 Variasi jumlah lantai (4, 6, dan 8 lantai)

III.2.a Variasi Tinggi Transfer Beam Variasi kedua sekaligus terakhir yang digunakan dalam penelitian ini ialah variasi tinggi transfer beam. Dalam variasi ini, tinggi balok prategang yang digunakan adalah 2500 mm, 2600 mm, dan 2700 mm. Perbedaan tinggi balok prategang (transfer beam) akan menimbulkan perbedaan pada respon struktur yang ditimbulkan:

Gambar 3.3 Variasi tinggi transfer beam

III.3

Pembebanan Struktur Pembebanan pada struktur meliputi : 1. Pembebanan Gravitasi a. Beban Mati i. Berat sendiri struktur beton ( = 24 kN/m3) Kolom depan (1200 x 1200 mm2) 1,2 m x 1,2 m x 24 kN/m3 = 34,56 kN/m Kolom biasa (800 x 800 mm2) 0,8 m x 0,8 m x 24 kN/m3 = 15,36 kN/m Balok induk (600 x 300 mm2) 0,6 m x 0,3 m x 24 kN/m3 = 8,64 kN/m Balok prategang (3600 x 800 mm2) kN/m Shear wall (250 x 1200 mm2) 0,25 m x 1,2 m x 24 kN/m3 = 7,2 kN/m ii. Mortar dan penutup pelat lantai : 1,1 kN/m2 iii. MEP : 0,3 kN/m2 iv. Dinding bata : 2,5 kN/m3 v. Partisi dalam : 1 kN/m2 3,6 m x 0,8 m x 24 kN/m3 = 69,12

b. Beban hidup i. Lantai perkantoran : 2,5 kN/m2 ii. Lantai atap : 1 kN/m2 iii. Tangga : 3 kN/m2 2. Pembebanan Gempa

a. Wilayah gempa Gedung perkantoran yang diteliti diasumsikan berada di wilayah Jakarta. Bersasarkan SNI 03-1726-2002 mengenai ketahanan bangunan terhadap gempa, Jakarta termasuk dalam wilayah gempa ke 3 dan memiliki percepatan puncak muka tanah 0,3 g.

Gambar 3.2 Wilayah gempa di Indonesia dengan percepatan puncak batuan dasarnya

b. Jenis tanah Daya dukung tanah yang ada : tanah lunak.

c. Faktor keutamaan bangunan tahan gempa Untuk berbagai kategori gedung, bergantung pada probabilitas terjadinya keruntuhan struktur gedung selama umur gedung dan umur gedung tersebut yang diharapkan, pengaruh Gempa Rencana terhadapnya harus dikalikan dengan suatu Faktor Keutamaan I menurut persamaan : I = I1I2 (3.1)

di mana I1 adalah faktor keutamaan untuk menyesuaikan perioda ulang gempa berkaitan dengan penyesuaian probabilitas terjadinya gempa itu selama umur gedung, sedangkan I2 adalah faktor keutamaan untuk menyesuaikan perioda ulang

gempa berkaitan dengan penyesuaian umur gedung tersebut. Faktor-faktor keutamaan I1, I2 dan I ditetapkan menurut Tabel:
Tabel 3.1 Faktor keutamaan I pada bangunan

Kategori Gedung Gedung umum seperti untuk penghunian, perniagaan dan perkantoran Monumen dan bangunan monumental Gedung penting pasca gempa seperti rumah sakit, instalasi air bersih, pembangkit tenaga listrik, pusat penyelamatan dalam keadaan darurat, fasilitas radio dan televisi Gedung untuk menyimpan bahan berbahaya seperti gas, produk minyak bumi, asam, bahan bercun Cerobong, tangki di atas menara

Faktor keutamaan I1 I2 I

1,0

1,0

1,0

1,0

1,6

1,6

1,4

1,0

1,4

1,6

1,0

1,6

1,5

1,0

1,5

Untuk bangunan perkantoran seperti gedung dalam penelitian, diambil faktor keutamaan I = 1.

d. Faktor reduksi (R) Faktor reduksi beban gempa merupakan nilai rasio antara beban gempa maksimum akibat pengaruh gempa rencana pada struktur bangunan elastis dengan beban gempa nominal pada struktur bangunan daktail. Faktor reduksi gempa bergantung pada sistem penahan beban lateral yang digunakan pada bangunan. Untuk gedung dalam penelitian, sistem penahan gaya lateral menggunakan sistem ganda shear wall dengan dan Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM) diambil nilai R sebesar 6,5.

e. Respon Spektrum Koefisien pengaruh gempa (C) pada wilayah 4 dapat dilihat pada spektrum respons di bawah :

Gambar 3.3 Spektrum respons gempa rencana wilayah 4

Gaya geser dasar (base shear) dapat dihitung dengan persamaan 




(3.2)

Dengan : Vs C I Wt : gaya geser dasar yang terjadi (kN) : faktor respons gempa : faktor keutamaan bangunan : WDL + WLL ; = 0,3 untuk bangunan kantor

f. Gaya Geser Dasar Nilai respon dinamik strutktur bangunan gedung terhadap pembebanan gempa nominal dalam suatu arah tertentu tidak boleh diambil kurang dari 80% nilai respon ragam yang pertama. Bila respon dinyatakan dalam gaya geser dasar maka V dinamik 0,8 V statik dimana V statik dapat dicari dari persamaan 3.2.

g. Partisipasi Massa Pola Getar

Jumlah pola getar yang ditinjau dalam penjumlahan respons pola getar menurut metoda ini harus sedemikian rupa sehingga partisipasi massa pola getar efektif dalam menghasilkan respons total harus mencapai sekurang-kurangnya 90%.

h. Pengaruh Gempa Vertikal Bangunan tinggi dengan balok prategang sebagai transfer beam yang menahan beban gravitasi dua tingkat atau lebih harus diperhitungkan terhadap pengaruh gempa vertikal. Beban vertikal ini berasal dari pergerakan vertikal tanah akibat gempa rencana, berupa gempa vertikal statik ekivalen dan bekerja ke atas atau ke bawah. Besarnya beban ini dihitung seperti gaya statik ekivalen lateral dengan menggunakan faktor respons gempa vertikal (Cv) yang memiliki persamaan Cv = Ao I (3.4)

Dimana : = koefisien yang bergantung pada wilayah gempa Ao = percepatan puncak muka tanah I = faktor keutamaan bangunan gedung Besarnya dapat dilihat pada tabel di bawah

Tabel 3.2 Besarnya koefisien

untuk menghitung Cv

Wilayah Gempa 1 2 3 4 5 6 0,5 0,5 0,5 0,6 0,7 0,8

III.4

Skema Analisis Struktur Dalam penelitian ini, output yang diharapkan berhasil didapatkan ialah karakteristik

dinamik dan respons struktur. Karakteristik dinamik berupa pola ragam getar dan periode alami.

Sedangkan respons struktur berupa displacement (u), gaya geser dasar, dan momen guling. Adapun skema penelitian dan skema analisis struktur yang yakni :
Latar Belakang

Perumusan dan Batasan Masalah

Permodelan Struktur

Variasi 1 variasi jumlah lantai

Variasi 2 variasi denah

Modelisasi Struktur

Modelisasi Struktur

Analisa Dinamik SAP 2000

Output : , Tn, u, V, momen guling


Gambar 3.4 Kerangka berpikir penelitian

Sedangkan skema analisis struktur dapat dilihat pada bagan dibawah ini :
START

Preliminary Design : Estimasi Dimensi Komponen Properti material

Variasi 1 variasi jumlah lantai

Variasi 2 variasi lebar transfer beam

Modelisasi Struktur dengan beban

Modelisasi Struktur dengan beban

Analisis Struktur

Pengecekan Preliminary Design

NOT OK

OK

Output : pola ragam getar, Tn, displacement, gaya geser, momen guling

FINISH
Gambar 3.4 Kerangka berpikir analisis struktur

III.5

Analisa Model Struktur

http://www.penataanruang.net/ta/Lapak04/P2/Suburban/Bab2.pdf Peraturan Pembebanan Gedung Indonesia 1983. Reinforced Concrete Design of Tall Buildings, Bungale S Taranath Perencanaan Bangunan Tinggi : Beban pada Bangunan, Syahril A. Rahim Anil K Chopra, Dynamic of Structures Seismic Design of Reinforced Concrete and Masonry Building