You are on page 1of 17

BAB I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Setiap tindakan memiliki resiko, tindakan medic juga menyimpan potensi resiko. Banyaknya jenis pemeriksaan, jenis obat, dan prosedur, serta jumlah pasien dan staf Rumah Sakit yang cukup besar, merupakan hal yang potensial bagi terjadinya kesalahan medis (medical errors). Menurut Institute of Medicine (1999), medical error didefinisikan sebagai: The failure of a planned action to be completed as intended (i.e., error of execusion) or the use of a wrong plan to achieve an aim (i.e., error of planning). Artinya kesalahan medis didefinisikan sebagai: suatu Kegagalan tindakan medis yang telah direncanakan untuk diselesaikan tidak seperti yang diharapkan (yaitu., kesalahan tindakan) atau perencanaan yang salah untuk mencapai suatu tujuan (yaitu., kesalahan perencanaan). Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis ini akan mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien, bisa berupa Near Miss atau Adverse Event (Kejadian Tidak Diharapkan/KTD). Hal ini sangat merugikan dan membahayakan, pasien dapat mengalami hal buruk dan pemberi tindakan juga dapat terkena pasal pelanggaran hokum. Near Miss atau Nyaris Cedera (NC) juga merupakan suatu kejadian akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), yang dapat mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi karena keberuntungan. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya tindajan tindakan yang dilakukan berbahaya namun dapat dicegah sebelum terjadi ataupun ditangani sebelum menimbulkan efek, misalnya,pasien terima suatu obat kontra indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat), pencegahan (suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan, tetapi staf lain mengetahui dan membatalkannya sebelum obat diberikan), dan peringanan (suatu obat dengan overdosis lethal diberikan, diketahui secara dini lalu diberikan antidotenya).Adverse Event atau Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) merupakan suatu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), dan bukan karena underlying disease atau kondisi pasien. Kesalahan tersebut bisa terjadi dalam tahap diagnostic seperti kesalahan atau keterlambatan diagnose, tidak menerapkan pemeriksaan yang sesuai, menggunakan cara pemeriksaan yang sudah tidak dipakai atau tidak bertindak atas hasil pemeriksaan atau observasi; tahap pengobatan seperti kesalahan pada prosedur pengobatan, pelaksanaan terapi, metode penggunaan obat, dan keterlambatan merespon hasil pemeriksaan asuhan yang tidak layak; tahap preventive seperti tidak memberikan terapi provilaktik serta monitor dan follow up yang tidak adekuat; atau pada hal teknis yang lain seperti kegagalan berkomunikasi, kegagalan alat atau system yang lain.
1

Dalam kenyataannya masalah medical error dalam sistem pelayanan kesehatan mencerminkan fenomena gunung es, karena yang terdeteksi umumnya adalah adverse event yang ditemukan secara kebetulan saja. Sebagian besar yang lain cenderung tidak dilaporkan, tidak dicatat, atau justru luput dari perhatian kita semua. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of Trustees mengidentifikasikan bahwa keselamatan dan keamanan pasien (patient safety) merupakan sebuah prioritas strategik. Mereka juga menetapkan capaian-capaian peningkatan yang terukur untuk medication safety sebagai target utamanya. Tahun 2000, Institute of Medicine, Amerika Serikat dalam TO ERR IS HUMAN, Building a Safer Health System melaporkan bahwa dalam pelayanan pasien rawat inap di rumah sakit ada sekitar 3-16% Kejadian Tidak Diharapkan (KTD/Adverse Event). Menindaklanjuti penemuan ini, tahun 2004, WHO mencanangkan World Alliance for Patient Safety, program bersama dengan berbagai negara untuk meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit. Di Indonesia, telah dikeluarkan pula Kepmen nomor 496/Menkes/SK/IV/2005 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit, yang tujuan utamanya adalah untuk tercapainya pelayanan medis prima di rumah sakit yang jauh dari medical error dan memberikan keselamatan bagi pasien. Perkembangan ini diikuti oleh Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia(PERSI) yang berinisiatif melakukan pertemuan dan mengajak semua stakeholder rumah sakit untuk lebih memperhatian keselamatan pasien di rumah sakit. Mempertimbangkan betapa pentingnya misi rumah sakit untuk mampu memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik terhadap pasien mengharuskan rumah sakit untuk berusaha mengurangi medical error sebagai bagian dari penghargaannya terhadap kemanusiaan, maka dikembangkan system Patient Safety yang dirancang mampu menjawab permasalahan yang ada. Patient safety membantu pencegahan masalah baik pada pasien maupun pada tim medis. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkanlatar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut|: 1. Bagaimana penerapan patient safety? 2. Bagaimana langkah atau peran manajemen dalam patient safety? 3. Apa indikator patient safety dan bagaimana penerapannya? C. TUJUAN Tujuan dari pembahasan ini adalah, untuk mengetahui|: 1. Proses penerapan patient safety 2. Langkah manajemen untuk mendukung proses patient safety 3. Penetapan indicator patient safety dan peranannya dalam menjamin keselamatan pasien.
2

BAB II. KAJIAN TEORI

A. PENGERTIAN PATIENT SAFETY Suatu sistem yang membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.1 Patient safety merupakan kegiatan mereduksi dan meminimalkan tindakan yang tidak aman (unsafe actions) dalam system pelayanan kesehatan sebisa mungkin melalui praktik yang terbaik untuk mencapai luaran klnis yang optimum. Atau Upaya-upaya yang dirancang untuk mencegah adverse outcomes sebagai akibat clinical error sebagai akibat dair unsafe action dan latent conditions. Tiga kegiatan yang saling melengkapi dalam mewujudkan keselamatan pasien:  mencegah errors  Membuat erros mudah dilihat  Meminimalkan akibat dari error

B. TUJUAN PATIENT SAFETY DAN PROSES MINIMALISIR RESIKO Tujuan Penerapan Patient safety adalah untuk|: 1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit 2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat; 3. Menurunnya KTD (Kejadian tak Diharapkan) di Rumah Sakit 4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan KTD Proses minimalisir resiko Upaya-upaya yang dirancang untuk mencegah adverse outcomes sebagai akibat clinical error sebagai akibat dair unsafe action dan latent conditions. Penyebab terjadinya KTD = Adverse event (Reason, 1997): 1. Tidakan yang tidak aman (unsafe act): o Human error Slips. Error sebagai akibat kurang/ teralihnya perhatian atau salah persepsi Lapses: error yang terkait dengan kegagalan memori lupa/tidak ingat

Mistakes. Kesalhan yang terkait dengan proses mental dalam assessment informasi yang terjadi, kesalahan dalam merencanakan asuhan, kesalahan dalam menetapkan tujuan, kesalahan dalam mengambil keputusan klinis. o Violation (pelanggaran). .e.g aborsi tanpa indikasi medis y Sabotase (Sabotase). E.g. : Mogok kerja. 2. Kondisi laten o Sistem yang kurang tertata yang menjadi predisposisi terjadinya error. e.g: SOP tidak jelas, tata ruang yang tidak jelas. o Sumber daya yang tidak memenuhi persyaratan. (mal praktek) e.g.: Termometer yang hanya punya satu untuk bnyak pasien, dokter umum melakukan Caesar/ appendektomi

Beberapa metode minimalisir resiko untuk menjaga patient safety|: Risk management: upaya-upaya yang dilakukan organisasi yang dirancang untuk mencegah cedera pada pasien untuk meminimalkan kehilangan financial sebagai akibat adverse outcome Risiko: kemungkinanbaya, kehilangan atau cedera dalam system pelayann kesehatan. Apa yang dilakuan: correction (sesudah terjadi) RCA-, corrective actions, preventive actions (sebelum terjadi) FMEARisk Management safety: Identifkasi dari kelemahan sautu system dan memperbaiki system tersebut untuk mencegah harm, dengan tujuan safety  Tahapan-tahapan risk managemen process/ adverse event management process (hunter area health service clinical governance unit, August, 2003) 1. Risk identification audits, complaints, claims and incidents 2. Risk analysis saverty analysis (RCA & FMEA) 3. Risk evaluation risk registers action plan 4. Risk treatment eliminate or minimize risk 5. Ongoing monitoring Review the effectiveness of investigations and actors 6. Communication communicate risks and the outcomeof investigations  Di Amerika, petugas kesehatan yang melakukan kesalahan harus melaporkan, dan hal ini tidak bisa dijadikan barang bukti. Terdapat bermacam-macam masalah yang dihadapi. Diperlukan saverty assessment: untuk menentukan apakah hal tersebut; (1) extreme risk, (2) high risk, (3) moderate risk, (4) low risk. Tergantung dari: 1. Saverity a. ekstrim, b. Major
4

c. moderate d. minor e. minimal 2. Probabilitas a. Frequent (setiap minggu), b. Propable, (beberapa kali dalam setahun) c. Possible, d. Uncommon e. Rare

 Root Cause analysis (RCA) Langkah RCA: 1. Investigasi kejadian o Menentukan masalah o Mengumpulkan bukti o Melakukan wawancara o Meneliti lingkungan kejadian o Megenali factor-faktor yang berkontribusi terhadap timbulnya kjadian. Contoh: suasana crowded, ada pasien mengamuk, dll o Menggambarkan rantai terjadinya kejadian 2. Rekonstruksi kejadian o Mengenali kejadian-kejadian yang mengawali terjadinya adverse event ataupun near miss, o Melakukan analissi dengan menggunakan pohon masalah untukmengetahui kegiatan atau kondisi yang menyebabkan tinbul kejadian o lanjutkan 3. Analissi sebab o Mengidentifikasi akar penyebab o Rumskan pernyataan 4. Menyusun rencana tindakan 5. Melaporkan proses analisis Dari 5 langkah tersebut dijabarkan menjadi 21 steps of RCA (joint commission)  Failure mode and effect analysis Sebelum terjadi, harus melakukan analisis. Langkah-langkah 1. Failure mode (identifikasi maslah) 2. Cause of failure 3. Effects of failure 4. OCC Occurrence- (Frekuensi kejadian) (0-10) 5. SV severity-(tingkat severity) (0-10)
5

6. DT detectable-(kemudahan mendeteksi) (0-10). Makin sulit dideteksi makin tinggi score nya 7. RPN (Risk priority number) OCC x SV x DT Kemudian ditetapkan, masalah yang ditetapkan adlaah RPN >=100. Hal ini sangat tergantung kebijakan. 8. Design action/solution. Contoh: salah baca resep karena tulisan dokte yang tidak jelas. 9. Design validation

C. PENERAPAN PATIENT SAFETY 1. Solusi keselamatan pasien di rumah sakit a. Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike medication names) b. Pastikan identifikasi pasien c. Komunikasi secara benar saat serah terima pasien d. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar e. Kendalikan cairan elektrolit pekat f. Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan g. Hindari salah kateter dan salah sambung slang h. Gunakan alat injeksi sekali pakai i. Tingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi nosokomial.2 2. Standar keselamatan pasien 1. Hak pasien Standarnya adalah Pasien & keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana & hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian Tidak Diharapkan). Kriterianya adalah 1) Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan 2) Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan 3) Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang jelas dan benar kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya KTD 2. Mendidik pasien dan keluarga Standarnya adalah RS harus mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Kriterianya adalah: Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dgn keterlibatan pasien adalah partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di RS harus ada system dan mekanisme mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban &
6

3.

tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien & keluarga dapat: 1) Memberikan info yg benar, jelas, lengkap dan jujur 2) Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab 3) Mengajukan pertanyaan untuk hal yg tdk dimengerti 4) Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan 5) Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS 6) Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa 7) Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan Standarnya adalah RS menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan. Kriterianya adalah: 1) koordinasi pelayanan secara menyeluruh 2) koordinasi pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya 3) koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi 4) komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan

4. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien Standarnya adalah RS harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yg ada, memonitor & mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif KTD, & melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta KP. Kriterianya adalah 1) Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (design) yang baik, sesuai dengan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit. 2) Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja 3) Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif 4) Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis 5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien Standarnya adalah 1) Pimpinan dorong & jamin implementasi progr KP melalui penerapan 7 Langkah Menuju KP RS . 2) Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif identifikasi risiko KP & program mengurangi KTD. 3) Pimpinan dorong & tumbuhkan komunikasi & koordinasi antar unit & individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang KP 4) Pimpinan mengalokasikan sumber daya yg adekuat utk mengukur, mengkaji, & meningkatkan kinerja RS serta tingkatkan KP.
7

Pimpinan mengukur & mengkaji efektifitas kontribusinyadalam meningkatkan kinerja RS & KP. Kriterianya adalah 1) Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien. 2) Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program meminimalkan insiden, 3) Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi 4) Tersedia prosedur cepat-tanggap terhadap insiden, termasuk asuhan kepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis. 5) Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden, 6) Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden 7) Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar pengelola pelayanan 8) Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan 9) Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien 6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien Standarnya adalah 1) RS memiliki proses pendidikan, pelatihan & orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan KP secara jelas. 2) RS menyelenggarakan pendidikan & pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan & memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien. Kriterianya adalah 1) memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien 2) mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden. 3) menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien. 7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien. Standarnya adalah 1) RS merencanakan & mendesain proses manajemen informasi KP untuk memenuhi kebutuhan informasi internal & eksternal. 2) Transmisi data & informasi harus tepat waktu & akurat. Kriterianya adalah

5)

1) disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien. 2) Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi manajemen informasi yang ada. 3

D. PERAN MANAJEMEN DALAM PATIENT SAFETY Pelaksanaan Patient Safety ini dilakukan dengan system Pencacatan dan Pelaporan serta Monitoring san Evaluasi I. Sistem Pencacatan Dan Pelaporan Pada Patient Safety a. Di Rumah Sakit 1. Setiap unit kerja di rumah sakit mencatat semua kejadian terkait dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Diharapkan dan Kejadian Sentinel) pada formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit. 2. Setiap unit kerja di rumah sakit melaporkan semua kejadian terkait dengan keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Diharapkan dan Kejadian Sentinel) kepada Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit pada formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit. 3. Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit menganalisis akar penyebab masalah semua kejadian yang dilaporkan oleh unit kerja 4. Berdasarkan hasil analisis akar masalah maka Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit merekomendasikan solusi pemecahan dan mengirimkan hasil solusi pemecahan masalah kepada Pimpinan rumah sakit. 5. Pimpinan rumah sakit melaporkan insiden dan hasil solusi masalah ke Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) setiap terjadinya insiden dan setelah melakukan analisis akar masalah yang bersifat rahasia. b. Di Propinsi Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah menerima produk-produk dari Komite Keselamatan Rumah Sakit c. Di Pusat 1. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) merekapitulasi laporan dari rumah sakit untuk menjaga kerahasiaannya 2. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan analisis yang telah dilakukan oleh rumah sakit 3. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan analisis laporan insiden bekerjasama dengan rumah sakit pendidikan dan rumah sakit yang ditunjuk sebagai laboratorium uji coba keselamatan pasien rumah sakit 4. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) melakukan sosialisasi hasil analisis dan solusi masalah ke Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah, rumah sakit terkait dan rumah sakit lainnya.

II. Monitoring Dan Evaluasi a. Di Rumah sakit Pimpinan Rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi pada unit-unit kerja di rumah sakit, terkait dengan pelaksanaan keselamatan pasien di unit kerja b. Di propinsi Dinas Kesehatan Propinsi dan PERSI Daerah melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Program Keselamatan Pasien Rumah Sakit di wilayah kerjanya c. Di Pusat 1. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Keselamatan Pasien Rumah Sakit di rumah sakit-rumah sakit 2. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan minimal satu tahan satu kali.3

E. INDICATOR PATIEN SAFETY Indikator patient safety merupakan ukuran yang digunakan untuk mengetahui tingkat keselamatan pasien selama dirawat di rumah sakit. Indikator ini dapat digunakan bersama dengan data pasien rawat inap yang sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Indikator patient safety bermanfaat untuk menggambarkan besarnya masalah yang dialami pasien selama dirawat di rumah sakit, khususnya yang berkaitan dengan berbagai tindakan medik yang berpotensi menimbulkan risiko di sisi pasien. Dengan mendasarkan pada IPS ini maka rumah sakit dapat menetapkan upaya-upaya yang dapat mencegah timbulnya outcome klinik yang tidak diharapkan pada pasien. Secara umum IPS terdiri atas 2 jenis, yaitu IPS tingkat rumah sakit dan IPS tingkat area pelayanan. Indikator tingkat rumah sakit (hospital level indicator) digunakan untuk mengukur potensi komplikasi yang sebenarnya dapat dicegah saat pasien mendapatkan berbagai tindakan medik di rumah sakit. Indikator ini hanya mencakup kasus-kasus yang merupakan diagnosis sekunder akibat terjadinya risiko pasca tindakan medik. Indikator tingkat area mencakup semua risiko komplikasi akibat tindakan medik yang didokumentasikan di tingkat pelayanan setempat (kabupaten/kota). Indikator ini mencakup diagnosis utama maupun diagnosis sekunder untuk komplikasi akibat tindakan medik. a. Tujuan Penggunaan Indikator Patient Safety Indikator patient safety (IPS) bermanfaat untuk mengidentifikasi area-area pelayanan yang memerlukan pengamatan dan perbaikan lebih lanjut, seperti misalnya untuk menunjukkan: adanya penurunan mutu pelayanan dari waktu ke waktu, bahwa suatu area pelayanan ternyata tidak memenuhi standar klinik atau terapi sebagaimana yang diharapkan tingginya variasi antar rumah sakit dan antar pemberi pelayanan disparitas geografi antar unit-unit pelayanan kesehatan (pemerintah vs swasta atau urban vs rural).

10

b. indikator patient safety Sesuai dengan tujuannya, IPS hendaknya memuat potensi-potensi risiko klinis yang relatif sering menimbulkan trauma di pihak pasien atau menimbulkan dampak medik, biaya, dan organisasi yang signifikan bagi pelayanan kesehatan/rumah sakit.Penetapan IPS harus dilakukan melalui kajian-kajian serta analisis seksama terhadap berbagai adverse event yang banyak ditemukan di sistem pelayanan kesehatan yang ada. Berikut disajikan beberapa contoh IPS yang dapat digunakan untuk menilai sejauh mana konsep-konsep patient safety telah diterapkan secara konsisten di rumah sakit. Beberapa indikator patient safety 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Luka tusuk atau luka iris yang tidak disengaja Komplikasi akibat anestesi Kematian pada diagnosis yang angka kematiannya rendah Dekubitus Kegagalan dalam menyelamatkan nyawa pasien Benda asing tertinggal dalam tubuh pasca tindakan medik/bedah Pneumotorak iatrogenik Perdarahan atau hematom pasca operasi Fraktur tulang panggul pasca operasi Gangguan fisiologis dan metabolik pasca operas Emboli paru pasca operasi atau trombosis vena Kegagalan respirasi pasca operasi Sepsis pasca operasi Dehisensi luka pasca operasi Infeksi akibat tindakan medik Reaksi transfus Trauma saat lahir Trauma obstetrik pasca operasi Cesar Trauma obstetrik pasca persalinan dengan instrumen Trauma obstetrik pasca persalinan tanpa instrument

Berdasarkan indikator-indikator yang telah disusun tersebut kemudian dibuat definisi, cara menghitung angka kejadian serta pada tingkat mana indikator tersebut harus dicapai, serta variabel-variabel apa saja yang harus dipertimbangkan untuk menghindari misleading dalam interpretasinya.

11

F. ASPEK HUKUM PATIENT SAFETY Aspek hukum terhadap patient safety atau keselamatan pasien adalah sebagai berikut UU Tentang Kesehatan & UU Tentang Rumah Sakit 1. Keselamatan Pasien sebagai Isu Hukum a. Pasal 53 (3) UU No.36/2009 Pelaksanaan Pelayanan kesehatan harus mendahulukan keselamatan nyawa pasien. b. Pasal 32n UU No.44/2009 Pasien berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit. c. Pasal 58 UU No.36/2009 1) Setiap orang berhak menuntut G.R terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam Pelkes yang diterimanya. 2) ..tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat. 2. Tanggung jawab Hukum Rumah sakit a. Pasal 29b UU No.44/2009 Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit. b. Pasal 46 UU No.44/2009 Rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan di RS. c. Pasal 45 (2) UU No.44/2009 Rumah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia. 3. Bukan tanggung jawab Rumah Sakit Pasal 45 (1) UU No.44/2009 Tentang Rumah sakit Rumah Sakit Tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau keluarganya menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang kompresehensif. 4. Hak Pasien a. Pasal 32d UU No.44/2009 Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional b. Pasal 32e UU No.44/2009 Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi c. Pasal 32j UU No.44/2009 Setiap pasien mempunyai hak tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan d. Pasal 32q UU No.44/2009
12

Setiap pasien mempunyai hak menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana 5. Kebijakan yang mendukung keselamatan pasien Pasal 43 UU No.44/2009 1) RS wajib menerapkan standar keselamatan pasien 2) Standar keselamatan pasien dilaksanakan melalui pelaporan insiden, menganalisa, dan menetapkan pemecahan masalah dalam rangka menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan. 3) RS melaporkan kegiatan keselamatan pasien kepada komite yang membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan oleh menteri 4) Pelaporan insiden keselamatan pasien dibuat secara anonym dan ditujukan untuk mengoreksi system dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien. Pemerintah bertanggung jawab mengeluarkan kebijakan tentang keselamatan pasien. Keselamatan pasien yang dimaksud adalah suatu system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. System tersebut meliputi: a. Assessment risiko b. Identifikasi dan pengelolaan yang terkait resiko pasien c. Pelaporan dan analisis insiden d. Kemampuan belajar dari insiden e. Tindak lanjut dan implementasi solusi meminimalkan resiko.4

13

BAB III. PEMBAHASAN

A.

PENGERTIAN PATIENT SAFETY Patient safety merupakan suatu system yang menjaga kaesalamatan pasien baik dari cedera atau kejadian merugikan lainya. Tiga kegiatan yang saling melengkapi dalam mewujudkan keselamatan pasien:  mencegah errors Mencegah eror merupakan suatu kegiatan menjaga tindakan agar sesuai prosedur dan menghindarkannya dari tindakan yang salah.  Membuat erros mudah dilihat Membuat eror mudah dilihat, merupakan suatu kegiatan agar terbentuk suatu system yang mengatur dan mampu mengkap kejadian eror atau kesalahan kesalahan dalam pemberian askep sehingga ketika eror diketahui maka dapat dengan cepat ditangulangi  Meminimalkan akibat dari error Eror atau kesalahan dapat menyebabkan efek yang besar terutama pada pasien, patient safety membantu agar kesalahan tersebut dapat diminimalisir sehingga efek nya pun tidak begitu besar. TUJUAN PATIENT SAFETY DAN PROSES MINIMALISIR RESIKO Tujuan Penerapan Patient safety adalah untuk|: 1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Menciptakan suatu budaya yang mengutamakan keselamtan pasien, sehingga dalam prosedur dan proses pelayanan pasien memperoleh pelayanan terbaik yang mampu menjamin keselamatan mereka dan prosedur diberikan sesuai dengan hak asasi manusia. 2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat; 3. Menurunnya KTD (Kejadian tak Diharapkan) di Rumah Sakit Patient safety membantu agar KTD dapat diminimalisir, sehingga pemberian pelayanan tidak membahyakan dan merugikan baik bagi pasien maupun lembaga dan juga hal ini membantu manjaga kepuasan pasien. 4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan KTD KTD dapat terjadi lebih dari sekali, hal ini sangata mungkin mengingat kompleksitas kegiatan untuk itu patient sdafety dapat membantu agar KTD tidak terjadi secara berulang. Keslalahan sebelumnya dijadikan bahan evaluasi dan pertimbangan untuk kegiatan selanjutnya.

B.

14

Keselamatan pasien merupakan isu utama akhir-akhir ini baik di Indoneisamaupun di luar negeri. Kepedualian pegnambil kebijkan, manajemen dan praktisiklnis terhadap keselamatan pasien. Berbagai seminar, workshop, dan pelatihan banyakan diakan; patient safety, risk management, clinical audit, patient safety indicators dengan brbagai motif. Studi 1999 di Jawa tengah dan DIY: prevalensi error berspektrum cukup luas: 1,8% 88,9%.. Hal ini terjadi terutama pada medication (pengboatan). Risiko yang mungkin terjadi pada sarana pelayanan kesehatan (McCaffrey & HaggRicken, Risk management handbook, pp 10-104, 2004) Patient care related risk. Risiko pasien ketika masuk rumah sakit Medical staff related. Risiko tenaga kesehatan ketika menerima pasien Employee related risk. Risiko tenaga non kesehatan Property related risk. Contoh: di depan, teras basah. Financial risk Other risk (e.g.: property & liability losses related to operation of automobiles, truck, vans, ambulances)) C. PENERPAN PATIENT SAFETY Patient safety harus diterapkan dalam semua jenis pelayanan kesehatan, hal ini harus memperhatikan berbagai eleman, antara lain a. Solusi keselamatan Patient safety harus menjadi suatu solusi, menjadi suatu jaln keluar untuk membantu melindungi pasien dan petugas kesehatan. b. Standar keselamatan Patient safety harus menjadi suatu kebijakan tetap dngan standar yang jelas. Ketetapan dan kejelasan tersebut membantu pemahaman pada dasar dan pedoman pemberian layanan kesehatan. c. Kesiambungan pelayanan Lembaga layanan kesehaytan dalam hal ini Rumah sakit harus mampu berkoordinasi antara unit unit terkait, sehingga informasi dari satu unit ke unit lain berkesinambungan. Kesinambungan pelayanan membuat adanya pemahaman yang sama sehingga penanganan yang sesuai dapat diberikan. d. Mendidik staff Untuk membangun patient safety yang efektif , hal itu perlu menjadi budaya. Proses pembudayaan memerlukan pendidikan, tenaga kesehatan memerlukan pendidikan yang baik mengenai patient safety dan penerapannya. Pendidikan dan pelatihan membantu meningkatkan pamahaman dan keterampilan sehingga patient safety berjalan maksimal. e. Komunikasi

15

Komunikasi menjadi suatu proses yang sangat penting, berkomunikasi memampukan pasien dan tenaga kesehatan untuk mengerti dan mengetahui kondisi serta situasi yang akan dihadapai. Hal ini memberikan kemudahan, sehingga dapat dipersiapkan sebelumnya. Dengan komunikasi, hal-hal yang menjadi kendala untuk pemberian askep ataupun layanan kesehatan lainnya dapat terselesaikan. D. PERAN MANAJEMEN DALAM PATIENT SAFETY Manajemen dalam hal ini berperan dalam menopang serta mendukung system patient safety yang diterapkan. Manajemen dalam hal ini berfokus pada pencatatan dan pelaporan serta monitoring dan evaluasi. Manajeman membantu agar patient safety dapat berjalan dengan baik, Proses pencatatan dan pelaporan membantu agar patient safety terdeteksi dan dapat segera tertangani. Hal itu sangat membantu proses pembudayaan patient safety sehingga pasien dan petugas kesehatan terlindungi. Selanjutnya system harus dipantau kesinambungan dan prosedurnya kemudian dievaluasi untuk menjadi bahan perbaikan. INDICATOR PATIENT SAFETY Indicator pasien safety (IPS) harus menjadi sutau acuan yang bermanfaat untuk mengidentifikasi area-area pelayanan yang memerlukan pengamatan dan perbaikan lebih lanjut, seperti misalnya untuk menunjukkan: adanya penurunan mutu pelayanan dari waktu ke waktu, bahwa suatu area pelayanan ternyata tidak memenuhi standar klinik atau terapi sebagaimana yang diharapkan. Dengan mendasarkan pada IPS ini maka rumah sakit dapat menetapkan upaya-upaya yang dapat mencegah timbulnya outcome klinik yang tidak diharapkan pada pasien. ASPEK HUKUM PATIENT SAFETY Aspek hokum patient safety dalam hal ini sangat diperlukan, hokum menjadi sutu kebijakan tetap dan menunjang pelaksanaan patient safety, hukum membantu proses perlindungan baik bagi pasien, lembaga dan petugas kesehatan. Patient safety harus dijalankan berdasarkan ketetapan hukum di uatu Negara dengan mempertimbangkan keselamatan pasien, tanggung jawab Rumah Sakit, dan Hak petugas dan pasien.

E.

F.

16

BAB IV. KEIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN 1. Proses penerapan patient safety harus memperhatikan standar keselamtan, pemahaman pada hak, melakukan proses kepemimpinan yang efektif, menerapkan meode kinerja dan ebvaluasi yang tepat, mengadakan pelatihan serta komunikasi. Dan untuk mewujudkan patient safety butuh upaya dan kerjasama berbagai pihak, pasien safety merupakan upaya dari seluruh komponen sarana pelayanan kesehatan, dan perawat memegang peran kunci untuk mencapainya 2. Langkah manajemen untuk mendukung proses patient safety berfokus pada implemenasi pencatatan dan pelaporan serta mengadakan monitoring maupun evalusi pada tiap program, sehingga selanjutnya system patient safety tyang diterapkan mampu lebih baik lagi. 3. Indikator patient safety (IPS) dikembangkan untuk mengidentifikasi masalah-masalah medik yang berpotensi menimbulkan outcome yang tidak diharapkan. Atas dasar identifikasi tersebut maka umpan balik secara berkala dapat dilakukan kepada unitunit pelayanan kesehatan sebagai alert agar mengubah strategi pelaksanaan tindakan medik yang lebih aman dan mampu meminimalkan risiko bagi pasien. Indicator ini perlu berjalan sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan B. SARAN 1.Penyelenggaraan patient safety memerlukan dukungan dan ketegasan dari pemerintah. Patient safety seharusnya diperkenalkan kepada masyarakat, banyak masyarakat yang tidak mengetahui hak mereka sebagai patient sehingga saat terjadi eror dalam pelayanan, mereka tidak mampu menuntut ataupun meminta kejelasan. 2.Patient safety harus diselenggarakan dengan standar tetap untuk itu patient safety harus punya indicator dan diselenggarakan pada semua lembaga maupun unit pelayanan kesehatan (bai puskesmas, Rumah Sakit, dan unit lainnya)

17