Kisah Celana Pendek dan Kamp Plantungan1 Selalu ada yang menarik dari cerita tentang tapol 1965

. Tidak hanya cerita-cerita sedih yang sering kali mengantarkan kita kepada pemahaman yang kaku. Melainkan lebih dari itu, sebuah cerita yang mungkin bisa mendorong kita untuk melihat tapol sebagai manusia seutuhnya, mengeluarkan kita dari obyektifikasi atas kesedihan yang dilekatkan kepada tapol 1965 oleh para penulis terdahulu. Salah satu cerita tersebut muncul dari tapol di kamp Plantungan. Sebelum akhir dekade 1960an, Plantungan bukanlah nama yang cukup populer bagi telinga umum. Pada masa itu Plantungan tidak lebih hanyalah nama dari desa terpencil yang masuk dalam wilayah kabupaten Kendal. Namun di awal dekade 1970an, nama Plantungan seolah menjadi bagian yang tak terelakan dalam catatan sejarah Indonesia. Ketakterelakan tersebut terkait dengan dijadikanya Plantungan sebagai tempat ”penampungan” bagi para tapol 1965. Kehadiran tapol 1965 di Plantungan itu tidak lain merupakan buntut dari peristiwa G 30 S 1965 (versi pemerintah G 30 S/PKI 1965). Setelah peristiwa tersebut, gelombang pembersihan terhadap ”yang komunis” dilakukan hampir diseluruh penjuru tanah air. Ratusan ribu orang dibantai dan jutaan lainya harus mendekap di tempat-tempat penampungan, dan salah satu tempat itu adalah kamp Plantungan (dulunya merupakan eks-rumah sakit lepra). Masuknya tapol 1965 yang seluruhnya perempuan, menghadirkan berbagai cerita yang menarik untuk disimak. Awalnya seperti penduduk di Indonesia lain, penduduk Plantungan menganggap bahwa para tapol tersebut tidak jauh dari apa yang diberitakan oleh orang-orang bahwa tapol tersebut merupakan kumpulan perempuan-perempuan yang kejam. Anggapan bahwa tapol merupakan sekumpulan orang-orang kejam ini terbentuk melalui berbagai macam media salah satunya adalah kata-kata yang sering dilontarkan oleh para penjaga kamp sebelum para tapol itu ditempatkan disana. Terbentuknya wacana tentang para tapol tersebut tentu saja berpengaruh pada perilaku masyarakat sekitar kamp terhadap tapol 1965. Sikap antipati terhadap tapol ini kemudian berkembang menjadi kehati-hatian. Jangankan berbicara mendekat ke bangunan kamp saja mereka tidak berani, selain karena pandangan mereka tentang penghuni kamp, hal itu juga dikarenakan kamp itu dijaga oleh tentara yang setaip waktu melakukan patroli disekeliling bangunan kamp. Terlepas dari hal itu, dibalik ”keangkeran” bangunan yang diperkuat oleh kehadiran tapol 1965 tersebut. Terkuak beberapa fakta yang mencengangkan. Kesedihan dan keterbatasan hanyalah satu dari beberapa fakta menarik tentang kamp Plantungan. Dan yang tidak pernah diduga oleh orang-orang sebelumnya, kamp Plantungan juga berperan sebagai agen yang mendorong terjadinya transformasi budaya bagi masyarakat Plantungan yang
1

Tulisan ini terinspirasi dari buku yang disusun oleh Amurwani Dwi Lestarinigsih yang berjudul ”Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan”.

ada di sekitarnya. Salah satu hasil dari transformasi budaya tersebut adalah hadirnya celana pendek dalam kehidupan perempuan di Plantungan. Namun tentu saja proses transformasi budaya tersebut tidak semulus yang dibayangkan. Latar bekalang budaya masyarakat Plantungan yang tergolong sebagai Muslim yang taat turut memberi andil terhadap proses transformasi budaya tersebut. Kebanyakan dari mereka masih beranggapan bahwa celana pendek bukanlah sesuatu yang pantas dikenakan oleh perempuan. Bahkan oleh beberapa pihak celana pendek tersebut sering diasosiasikan dengan perilaku-perilaku warga kamp Plantungan, yang kemudian memperkuat citra celana pendek sebagai barang yang tabu sehingga perlu dihindari bahkan jika perlu dihilangkan baik dalam tataran wacana maupun realitas sesungguhnya. Seiring berjalanya waktu, terutama setelah dibukanya polliklinik Kamp untuk umum yaitu pada tahun 1972 perlahan batas-batas tersebut perlahan mulai terkikis. Walaupun tentu saja awalnya sebagaian besar warga masih takut untuk berobat ke Poliklinik tersebut. Namun ketika ada kabar bahwa salah satu dari warga berhasil sembuh setelah berobat di kamp tersebut maka berbondong-bondonglah warga untuk berobat ke Poliklinik. Adapun beberapa alasan warga untuk berobat ke Poliklinik yang dikelola oleh tapol-tapol tersebut selain murah juga resep dokter yang bertugas melayani para pasien tersebut juga mujarab. Semakin banyaknya warga yang berobat di Poliklinik kamp berdampak pada harmonisnya hubungan antara warga dengan para tapol perempuan di kamp Plantungan. Bahkan dibeberapa kesempatan, banyak warga yang memandang bahwa kehidupan di dalam kamp lebih menusiawi dibanding dengan kondisi yang mereka alami di luar kamp. Dengan semakin positifnya perspektif warga terhadap para tapol perempuan di kamp Plantungan, proses transformasi budaya pun perlahan mulai mencapai suatu kondisi yang lebih nyata. Sehingga, dikemudian hari banyak dari warga Plantungan meniru gaya berpakaian para tapol, salah satunya adalah mengenakan celana pendek [ES, 31/1/2012].