BAB I PENDAHULUAN A.

Gambaran Umum Penyakit Lambung(Gaster) adalah organ berbentuk J, terletak pada bagian superior kiri rongga abdomen di bawah diafragma. Semua bagian kecuali bagian kecil terletak pada bagian sisi garis tengah. Regia-regia lambung terdiri dari bagian-bagian jantung, fundus, badan organ dan bagian pilorus. Factor resiko kanker gaster antara lain infeksi Helicobakter pilori, diet tinggi nitrat (nitrosamine) sebagai pengawet, makanan yang diasap dan diasinkan, perokok, atrofi lambung. Di samping itu ada juga factorfaktor resiko yang mempermudah yaitu Seks, kanker gaster pada pria 2 kali lebih sering daripada perempuan, Umur, kebanyakan kanker lambung pada umur 50-70 tahun dan jarang dibawah umur 40 tahun,Alcohol, Operasi lambung sebelumnya, dan polip lambung. Mulanya pasien sering sakit kepala dan nyeri ulu hati. Riwayat maag 3 thn terakhir. Benjolan di perut bagian atas sejak 2 bulan yang lalu kemudian MRS dengan diagnosis TU.Gaster Sups.Melagnancy. Setelah menjalani operasi sering merasakan sebah. B. Data Dasar Pasien 1. Identitas pasien N a m a U m u r Pekerjaan Agama Pendidikan Alamat Ruang Rawat Diagnosa Medis 2. Data subyektif : Tn. Anto : 49 tahun : Petani : Islam : SD : Bone : Lontara II Atas : Tumor Gaster Susp.Melagnancy

1

a. Keluhan utama Tn. Anto masuk rumah sakit dengan keluhan utama perut terasa penuh disertai nyeri habis operasi. b. Sosial ekonomi dan lingkungan Pasien adalah seorang petani, beragama islam dan tidak mempunyai anak. Pendidikan terakhir SD. c. Kebiasaan makan Makan nasi 3x sehari, dengan porsi sedang, ± 350 gr nasi perhari, tapi tidak teratur, kadang terlambat makan, sehingga sering mengalami penyakit maag, Pasien jarang makan ikan, Makan sayur 2x sehari, ± 200 gr, Buah 3x dalam seminggu sebanyak 1 buah dalam sehari, seperti pepaya, pisang, Sering minum soda ketika sakit kepala 3 btl/mggu, Tidak memiliki pantangan serta alergi makanan. 1. Data obyektif a. Data antropometri BB = 49kg TB =165 cm Umur= 49 kg IMT= BB/TB2 = 49/1.652 = 18 kg/m2 (Gizi Kurang) BBI=(TB-100)-10%(TB-100) =(165-100)-10%(165-100) =(65)-10%(65) =65-6,5=58.5

b. Pemeriksaan laboratorium

2

Hasil Pemeriksaan Fisik Klinis Sebelum Intervensi Jenis Pemeriksaan Keadaan Umum Kesadaran BAK BAB Tensi Nadi Respirasi Suhu Baik Sadar Lancar Lancar 140/100 mmHg 84x/menit 20x/menit 36.7 136-145 mmol/L 3.7 4.5-5 1.5 46 0. Intervensi Pemeriksaan GDS Hb(mg/dl) Ureum Kreatinin SGOT SGPT Albumin Asam Urat Natrium Kalium Protein Total Klorida Hasil Hasil Pemeriksaan Laboratorium Sebelum Normal 140mg/dl 13-16 10-50 mg/dl <1. Pemeriksaan Fisik Klinis Tabel 2.4 394 438 2.6-8.0 147 3.3 mg/dl <38 u/L <41 u/L 3.Hasil pemeriksaan laboratorium pasien sebelum intervensi dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1.6°C Hasil 3 .4-5.7gr/dl 97-111mmol/L Ket N ↓ 126 8.5-5.1 119 N N ↑ ↑ ↓ N ↑ N ↓ ↑ Sumber: Data Sekunder 2011 c.1 mmol/L 6.7 6.

Daftar menu Recall 24 jam sebelum intervensi Waktu Menu Bahan Brt ( gr ) Pagi bubur saring Beras giling Daging sapi Telur ayam Tahu Kacang ijo Labu siam susu peptisol Snack Siang susu entramix bubur ikan masak tempe sayur bayam pisang Snack Mlm susu entramix bubur Beras giling Ikan segar Telur ayam Kacang panjang Snack susu entramix Beras giling Ikan segar Tempe kedele murni Bayam Pisang ambon 15 15 25 25 8 13 24 30 30 25 20 20 20 15 20 15 20 15 30 Sumber: Data Primer 2011 4 .Sumber: Data Sekunder 2011 d. Riwayat Makan Data konsumsi makanan pasien sebelum intervensi dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.

3 KH (gr) 134 284 47.Tabel 4 Asupan Zat Gizi Sebelum Intervensi Energi Protein Lemak (gr) 22.53 45. Hasil Skrining Gizi Terhadap Pasien No 1 2 3 4 5 6 7 Perubahan BB Nafsu makan kurang Kesulitan mengunyah/& menelan Mual dan muntah Hipoalbumin Anemia Alergi/intoleransi zat Gizi Indikator Hasil + + + - 5 . Skrining Gizi Tabel 5.2 (Kkal) (gr) Asupan 924.9 40 57.2 59.99 Kebutuhan 1806 77 % asupan 51.73 Sumber: Data Primer Terolah 2011 e.

Distribusi diagnosa berdasarkan domain intake Problem Asupan makanan kurang Etiologi nafsu makan yang menurun akibat rasa nyeri dan rasa sebah NI.5 %) P: 53.6 Kal(46.7 %) K: 141 gr( 41.2.7 %) K: 141 gr( 41.6 %) L: 30 gr( 52.7 %) Sign Recall 24 jam E:1046.6 Kal(46.7 gr ( 56. Diagnosis Gizi 1.5 gr/dl Protein Total:6. serta malaborbsi Sign Hb: 8.7 gr/dl IMT: 18 kg/m2 (Gizi Kurang) Meningkatnya kebutuhan dari zat gizi spesifik dibandingkan dengan referensi standar yang disebabkan karena keadaan katabolik yang 6 . Domain intake Tabel 6.6 %) L: 30 gr( 52.5.1 Etiologi keadaan katabolik yang lama.1 Asupan makanan/minuman yang kurang/lebih kecil dibanding kebutuhan normal yang disebabkan oleh nafsu makan yang menurun akibat rasa nyeri dan rasa sebah yang ditandai oleh data intake sebelum intervensi: E:1046.7 gr ( 56.7 %) Problem -Status Gizi Kurang -Albumin ↓ -Protein Total ↓ -Hb ↓ NI.BAB II PENENTUAN MASALAH GIZI DAN PROBLEM CLUE A.1gr/dl Albumin: 2.5 %) P: 53.

2.Melagnancy BAB III RENCANA TERAPI GIZI A.2 Etiologi Gangguan fungsi ginjal. Distribusi diagnosa berdasarkan domain klinik Problem SGOT ↑ SGPT ↑ NC. dan hati akibat perubahan biokimia Ditandai oleh: *SGOT : 394 u/l *SGPT: 438 u/l B. Diagnosis Medis  Tumor Gaster Susp.5 gr/dl Protein Total:6. Tujuan diet 7 .lama. serta malaborbsi.7 gr/dl IMT: 18 kg/m2 (Gizi Kurang) 2.1gr/dl Albumin: 2. yang ditandai dengan: Hb: 8. Rencana Asuhan Gizi 1. Domain Klinik Tabel 7. dan hati Sign *SGOT : 394 u/l *SGPT: 438 u/l Perubahan kemampuan untuk mengeluarkan produk sisa metabolisme disebabkan Gangguan fungsi ginjal.

Protein tinggi. Energy sesuai dengan kebutuhan. 8 .Memberikan makanan yang adekuat untuk: 1. 5. 4. Prinsip / Syarat Diet 1. E yang berfungsi sebagai aktioksidan. Lemak cukup. untuk perbaikan dan pemeliharaan jaringan tubuh pasca operasi. Membantu meningkatkan kadar albumin. 2. 2.Karbohidrat. Hindari makanan yang merangsang saluran cerna. Memberikan makanan yang kaya akan sumber Fe untuk meningkatkan Hb. Diberikan dalam porsi kecil tapi sering. 8. dan Hb hingga mencapai mencapai normal. 23% dari total energi sebagai sumber energy. Menurunkan kadar SGOT dan SPGT dalam darah hingga 2. 17% dari total energi. C. Membantu meningkatkan BB untuk mencapai Status Gizi Normal. 7. normal. dan menghemat penggunaan protein. Dibutuhkan lebih banyak karena berfungsi untuk menyediakan energy bagi tubuh. 60% dari total energy. Konsumsi vitamin utamanya vitamin A. 6. menghemat penggunaan protein untuk sintesis protein. 3. 3. protein total.

7xBBI)+ (5xTB).56 Jalan = 2.17x2246 kkal = 382 kkal : 4 = 95 gr L= (23%xTEE):9 = 0.7x58.(6.17x3.6 x 2246 kkal =1348 kkal : 4 = 337 gr 9 .8x49) =66+801.4 = 2246 kkal P= (17%xTEE):4 = 0.18x1.45+825-333.5/24= 025 Duduk=1.8xU) =66+(13.3.08 x 4.25/24= 0.3 kkal Faktor Aktivitas Tidur =1.4(Post Operasi) TEE=BEExFAxFS =1359.21 Berdiri=1.3x1.5/24=0.2 = 1359.16+ 1.75/24=0. Perencanaan Kebutuhan Energi & Zat Gizi -Kebutuhan Energi (Harrist Bennedict) BEE=66+(13.23x2246 kkal = 517 kkal : 9 = 57 gr K=(60%xTEE) =0.5)+ (5x165)-(6.00 x 13.37 x 2.18 Faktor Stress: 1.

Antropometri Penimbangan BB awal dan akhir intervensi B. Alat peraga : Konseling dan Penyuluhan kepada pasien dan keluarga pasien : leaflet 5. c. Judul : TKTP b. Dietary Intake/hari E. Albumin. Metode e. -Memberikan informasi yang benar mengenai pola hidup sehat. -Mengerti tentang pola hidup sehat. Edukasi 10 . dibatasi dan dihindari untuk dikonsumsi. Rencana motivasi dengan penyuluhan konsultasi a.4. Rencana Monitoring dan Evaluasi A. Protein Total) C. c. SGPT. Tujuan : Agar pasien & keluarga: -Dapat menjalankan diet yang dianjurkan dengan benar -Mengerti tentang makanan yang boleh. Fisik/klinis Keluhan umum Suhu Tensi Nadi D. Materi : -Tujuan pemberian diet. -Makanan yang perlu dikonsumsi dan yang perlu dibatasi. Biokimia Setiap ada pemeriksaan biokimia (Hb. SGOT. Waktu : -Edukasi diberikan setiap kali kunjungan -Penyuluhan± 25 menit d.

Susunan menu Perencanaan susunan menu sehari adalah sebagai berikut : Table 8 .Kuning Sup Syuran Buah Snack Mlm Jus Pepaya Bubur 11 . Serta memahami pola hidup sehat. 2. Diet Pasien Pada pasien diberikan diet Diet Pasca Bedah (Prinsip:TKTP). A. Tomat Tahun BB. dan untuk mempercepat proses penyembuhan dan meningkatkan daya tubuh pasien. Contoh Perencanaan Menu Pagi Bubur Ikan pallumara Pepes Tempe Sayur bening Buah Snack Susu Bubur Kacang Ijo Siang Bubur Semur Daging Telur BB. TKTP ini dengan tujuan untuk mengupayakan agar status gizi pasien bisa normal.Kepatuhan pasien menjalani diet yang diberikan serta kepatuhan keluarga pasien dala hal membantu pasien menjalankan diet yang memberikan makanan/minuman kepada sedang di jalaninya dengan pasien sesuai yang dianjurkan. Implementasi Asuhan Gizi 1.

tomat Telur ayam Tomat masak Pisang ambon 40 40 2. Distribusi makanan sehari Waktu Menu Bahan Brt ( gr ) Pagi bubur ikan palumara Beras giling Bandeng Minyak kelapa sawit pepes tempe sayur bening Tempe kedele murni Bayam Jagung segar kuning Kacang panjang buah Snack susu entramix bubur kacang ijo Kacang ijo Gula aren Santan peras.Tomat Tempe Bacem Sayur Bening Buah Tabel 9. dengan air Siang bubur semur daging Beras giling Daging sapi Kecap Minyak kelapa sawit telur bb.5 40 25 20 20 100 30 20 15 5 50 50 10 3 50 10 12 .Kakap BB.

kuning Tahu Minyak kelapa sawit sup sayuran Buncis Wortel Kentang Kacang merah buah snack jus pepaya Pepaya Gula pasir Mlm bubur kakap bb.tomat Beras giling Kakap Tomat muda Minyak kelapa sawit tempe bacem Tahu Gula aren Minyak kelapa sawit sayur bening Labu siam Kacang kedele basah buah Pisang ambon Apel 3 40 3 30 25 25 25 100 100 10 50 50 8 3 50 5 5 30 25 100 13 .Minyak kelapa sawit tahu bb.

a. digesti protein. Tumor ganas yang terbanyak adalah adenokarsinoma dan tumor ini menempati urutan ketiga tumor saluran cerna di Amerika Serikat setelah tumor kolon dan Pankreas. produksi kismus. c. dan sulit dibedakan antara tumor ganas dan jinak berdasarkan kriteria 14 .0. Bagian jantung lambung adalah area di sekitar pertemuan esofagus dan lambung (pertemuan gastroesofagus). b. fundus. Tumor jinak dibagi atas tumor jinak epitel (benigna epithelial tumor) dan tumor jinak non epitel. Fungsi lambung terdiri dari penyimpanan makanan. Fundus adalah bagian yang menonjol ke sisi kiri atas mulut esofagus.Malignancy a. Tumor jinak didapatkan pada autopsi berkisar antara 0. Bagian pilorus lambung menyempit di ujung bawah lambung dan membuka ke duodenum. produksi faktor intrinsik (glikoprotein. Tumor ganas didapatkan 10 kali lebih banyak daripada tumor jinak.4 % dan jarang ditemukan di bawah umur 55 tahun. Badan lambung adalah bagian yang terdilatasi di bawah fundus yang membentuk dua pertiga bagian lambung. d. Tumor jinak lebih jarang daripada tumor ganas.BAB IV TINJAUAN PUSTAKA A. produksi mukus. Neoplasma jaringan ikat yang banyak ditemukan adalah tumor otot polos. vitamin B12 dan absorpsi. Perangai tumor ini sulit diramalkan. Regia-regia lambung terdiri dari bagian-bagian jantung. terletak pada bagian superior kiri rongga abdomen di bawah diafragma. Semua bagian kecuali bagian kecil terletak pada bagian sisi garis tengah. Tinjauan tentang Tumor Gaster susp. badan organ dan bagian pilorus. Pengertian Lambung(Gaster) adalah organ berbentuk J.2 . Tumor Gaster terdiri dari tumor jinak dan tumor ganas.

atau fibroid. kalaupun ada hanya berupa nyeri yang tidak sembuh dengan antasid. aktivitas mitolik yang rendah dan tidak ditemukan nekrosis. bila ditemukan kelainan perlu dipikirkan adanya karsinoma. ulkus lambung.histologis. berkapsul. Diketahui bahwa cancer lambung 2 kali lebih umum terjadi pada pria daripada wanita dan lebih sering terjadi pada klien yang mengalami anemia pernisiosa. Pemeriksaan fisik tidak menemukan sesuatu kelainan. Infeksi yang berlangsung lama menyebabkan atrofi kelenjar dan menurunnya produksi asam secara bertahap. Neoplasma Malignancy (Cancer lambung) yang ditemukan di lambung. meskipun mungkin merupakan limfoma malignansi. telah diketahui sebagai prekursor tumor gaster. b. Leiomioma yang merupakan tumor jinak otot polos lambung tidak bersimpai sehingga sulit dibedakan dari bentuk yang ganas (leiomiosarkoma) gambaran klinis dapat terjadi pada semua kelompok umur dan umumnya tumor ini tidak memberikan gejala klinis. Sejumlah mekanisme yang mungkin menghubungkan antara H. Menurut Underwood (2000 : 440) yang menjadi penyebab tumor gaster adalah diet tinggi makanan asap. Salah satu gambaran yang mengarah ke jinak ialah ukurannya yang kecil. Sedangkan menurut Sjamsuhidayat (2005 : 555) tumor jinak yang tersering ditemukan adalah polip dan leiomioma yang dapat membentuk adenomatosa hiperplastik. biasanya adenokarsinoma. banyak faktor yang tampak berhubungan dengan perkembangan penyakit ini seperti inflamasi lambung kronik. bakteri Helicobacter Pylori dan faktor keturunan. Etiologi Menurut Brunner and Suddarth (2002 : 1078) penyebab tumor gaster dimulai dari gastritis kronis menjadi atropi dan metaplasia intestinal sampai displasia premaligna. Meskipun tidak ada faktor etiologi khusus yang dihubungkan dengan ca lambung. kurang buah-buahan dan sayuran dapat 15 . pylori dengan tumor gaster. anemia pernisiosa.

diet tinggi nitrat (nitrosamine) sebagai pengawet. Patofisiologi Kebanyakan kanker gaster adalah adenokarsinoma (90 – 99%). Alcohol. Sindrom Kanker familial . Polip lambung 6. keturunan dan golongan darah A. kanker gaster pada pria 2 kali lebih sering daripada perempuan. kurvatura minor lebih sering daripada kurvatura mayor. aklorhidria.meningkatkan risiko terhadap tumor lambung. leiomiosarkoma. adenoxanthoma dan lain-lain. Seperempatnya berbentuk tumor yang berulserasi 3. pylori. bakteri H. Karsinoma gaster berasal berasal dari perubahan epitel pada membrane mukosa gaster. 4. Faktor lain yang berhubungan dengan insiden kanker lambung mencakup inflamasi lambung. 5. Penyebarannya melalui dinding yang dicemari penyebaran pada permukaan (8%) 16 . 3. Kebanyakan lokasi tumor pada daerah atropilorik. 4. ulkus lambung. 2. Seks. atrofi lambung. Operasi lambung sebelumnya. kebanyakan kanker lambung pada umur 50-70 tahun dan jarang dibawah umur 40 tahun. Di samping itu ada juga factor-faktor resiko yang mempermudah : 1. yang lain limfoma. 2. Factor resiko kanker gaster antara lain infeksi Helicobakter pilori. anemia pernisiosa. perokok. Karsinoma gaster terlihat beberapa bentuk: 1. Umur. Seperempatnya berasal dari propia yang berbentuk fungating dan tumbuh ke lumen sebagai massa. sedangkan pada atrofi gaster didapatkan bagian atas gaster dan secara multisenter. makanan yang diasap dan diasinkan. Massa yang tumbuh melalui dinding menginvasi lapisan otot. yang berkembang pada bagian bawah gaster. c.

Fosfor radio aktif dan CT scanning. tengkurap dan oblik. 3. adanya massa. 7. serta kompresi). Komplikasi komplikasi dari tumor gaster adalah sebagai berikut : 17 . Bentuk ulseratif merupakan bentuk yang paling sering terjadi dan mungkin menampakkan gejala-gejala semacam ulkus peptikum. 6. ke pembuluh limfe. ke organ-organ perut lain dan cenderung menyebar ke arah intraperitoneal. ulseratif atau infiltratif. Kebanyakan kanker-kanker lambung adalah adeno karsinoma dan terjadi dalam bentuk-bentuk polypoid. Sepertiganya karsinoma berbagai bentuk di atas Kanker dapat terjadi pada semua bagian lambung tetapi lebih sering ditemukan pada sepertiga distal. Prognosis tergantung pada dalamnya invasi dan tingkatan metastasis. Gastrobiopsi : pengambilan jaringan secara visual pada lesi. Gastroskopi : pemotretan isi lambung. Berbentuk linitisplastika (10 – 15%) 6. 4. d. Tumbuhnya kanker pada pintu masuk atau pintu keluar lambung dapat menimbulkan tanda-tanda obstruksi esofagus dan pilorus (nyeri ulu hati dan cepat kenyang). yang karenanya sering kali memperlambat diagnosis dan mendorong pasien untuk mengobati sendiri. Perdarahan tersembunyi dalam tinja (occult blood) : tes benzidin. Kanker lambung dapat menyebar secara langsung melalui dinding lambung jaringanjaringan yang berdekatan. 5. Pemeriksaan Penunjang pemeriksaan tumor gaster meliputi : 1. Rontgenologik : posisi (terlentang. 2. Sitologi dengan gastrofiberskop.5. e. ke kelenjar limfe regional di lambung. anemia. Pada umumnya bagaimanapun tanda-tanda awal dari kanker lambung tersebut tidaklah nampak. Pemeriksaan fisik : berat badan.

Bila gastrektomi total dilakukan kontinuitas gastrointestinal di perbaiki dengan anastomosis pada organ vital lain seperti hepar. b. Perforasi 2. Ditambahkan pula bahwa laparatomi merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan pada bedah digestif dan obgyn. puntung lambung di anastomosikan pada yeyenum. pankreas dan kolon. penyebaran pada berbagai organ seperti hati. hemoroidektomi dfan fistuloktomi. splenoktomi. Hematemesis 3. Adhesi 5.Tinjauan tentang Post Laparotomi Laparatomy merupakan prosedur pembedahan yang melibatkan suatu insisi pada dinding abdomen hingga ke cavitas abdomen.1. apendektomi. kolesistoduodenostomi. Obstruksi pada bagian bawah lambung dekat pilorus 4. Untuk pasien yang menjalani pembedahan namun tidak menunjukkan perbaikan. Penatalaksanaan Menurut Brunner and Suddarth (2002 : 1081) tidak ada pengobatan yang berhasil menangani karsinoma lambung kecuali mengangkat tumornya. penyembuhan tidak dapat dipengaruhi. Pembedahan paliatif dilakukan untuk menghilangkan gejala obstruksi dan disfagia. pengobatan dengan kemoterapi dapat memberikan kontrol lanjut terhadap penyakit dan paliasi. hepatorektomi. Pada kebanyakan pasien ini paling efektif untuk mencegah gejala seperti obstruksi dapat diperoleh dengan reaksi tumor. Bila tumor telah menyebar ke area lain yang dapat di eksisi secara bedah. f. gasterektomi. Sedangkan tindkan bedah obgyn yang sering dilakukan dengan tindakan laoparatomi adalah berbagai jenis operasi pada uterus. Bila gastrektomi subtotal radikal dilakukan. Adapun tindakan bedah digestif yang sering dilakukan dengan tenik insisi laparatomi ini adalah herniotomi. seperti pada gastrektomi untuk ulkus. 18 . kolostomi. pembedahan dilakukan terutama untuk tujuan paliatif dan bukan radikal.

d. b. organ pelvis. yaitu . insisi melintang di bagian bawah ± 4 cm di atas anterior spinal iliaka. eksplorasi dapat lebih luas. hepar.5 cm). panjang (12. dengan indikasi pada jenis operasi lambung. hissterektomi. Ada 4 cara insisi pembedahan yang dilakukan. pankreas. ovarium. pada operasi appendectomy Ada banyak indikasi dilakukannya laparatomi. dibawah ini akan dipaparkan. Paramedian insicion memiliki keuntungan antara lain : merupakan bentuk insisi anatomis dan fisiologis. Namun demikian. yang meliputi pelvic. Trauma abdomen (tumpul atau tajam).5 cm). eksplorasi pankreas. sedikit ke tepi dari garis tengah (± 2. dan insisi mudah diperluas ke arah atas dan bawah c.operasi pada tuba baik fallopi. misalnya. cepat di buka dan di tutup. karena sedikit perdarahan. serta tidak memotong ligamen dan saraf. diantaranya : 1. paramedian kanan dan kiri. eksenterasi salpingooferektomi bilateral. antara lain: a. rektosigmoid. yaitu . kerugian jenis insis ini adalah terjadinya hernia cikatrialis. dan lien serta di bawah umbilikus untuk eksplorasi ginekologis. Terbagi atas 2 yaitu. Midline incision : Metode insisi yang paling sering digunakan. Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk). dan organ dalam pelvis. histerektomi radikal. Indikasinya pada eksplorasi gaster. yaitu. Paramedian. Dibedakan atas 2 jenis yaitu : Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium) yang disebabkan oleh : luka 19 . usus bagian bagian bawah. insisi di bagian atas. serta plenoktomi. tidak memotong ligamen dan saraf. Transverse lower abdomen incision. misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. dan operasi total. Transverse upper abdomen incision.

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga abdomen. 20 . Sebagian dasar dari obstruksi justru mengenai usus halus. Dan jenis kedua yaitu trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritoneum) yang dapat disebabkan oleh pukulan. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup. kompresi atau sabuk pengaman (sit-belt). ledakan. 2. 4. Peritonitis primer dapat disebabkan oleh spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hepar kronis. Sumbatan pada usus halus dan besar (Obstruksi). Penyebabnya dapat berupa perlengketan (lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh secara lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan abdomen). suatu tambahan seperti kantong yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari sekum. sekunder dan tersier. dan tumor (tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus). Apendisitis mengacu pada radang apendiks. hernia (protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen). Intusepsi (salah satu bagian dari usus menyusup kedalam bagian lain yang ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus). sementara proses pembedahan merupakan penyebab peritonitis tersier. Peritonitis sekunder disebabkan oleh perforasi appendicitis. perforasi gaster dan penyakit ulkus duodenale. yang diklasifikasikan atas primer. luka tembak. Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. benturan. perforasi kolon (paling sering kolon sigmoid). 3. Volvulus (usus besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan demikian menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya gelungan usus yang terjadi amat distensi). Peritonitis. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan perkembangannya lambat.tusuk. deselerasi.

Diverticulitis (inflammation of sac-like structures in the walls of the intestines) 10. Foreign bodies (e. Tumor abdomen 6. Pancreatitis (inflammation of the pancreas) 7. a bullet in a gunshot victim) 13. Abscesses (a localized area of infection) 8. 5. Ectopic pregnancy (pregnancy occurring outside of the uterus) 12. Internal bleeding Post op atau Post operatif Laparatomi merupakan tahapan setelah proses pembedahan pada area abdomen (laparatomi) dilakukan.Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen oleh fases yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi. Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang di berikan kepadaklien yang telah menjalani operasi pembedahan abdomen 21 .. Dalam Perry dan Potter (2005) dipaparkan bahwa tindakan post operatif dilakukan dalam 2 tahap yaitu periode pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan setelah fase post operatif. Intestinal perforation 11. Adhesions (bands of scar tissue that form after trauma or surgery) 9.g. Proses pemulihan tersebut membutuhkan perawatan post laparatomi.

pasien mengalami peningkatan namun asupannya masih kurang dari segi asupan energi. Hal ini disebabkan oleh rasa sebah yang dirasakan oleh pasien.3 57 60 51. asupan lemak (75%) dan asupan karbohidrat (75%). lemak dan karbohidrat.8 95 60.4 57 90 75 KH (gr) 250 337 74 256 337 76 75 Rata-rata asupan Selama studi kasus Sumber : Data Primer Terolah. asupan makan pasien selama 2 hari intervensi yaitu untuk asupan energi (72%). Nafsu makan pasien berkurang sejak pasien masuk rumah sakit akibat rasa nyeri dan rasa sebah. 2011 berlangsung.6%). frekuensi pemberian makanan 3 x makanan utama dan 2 x makanan 22 . Untuk mengatasi hal tersebut maka pasien diberikan diet TKTP dengan porsi kecil tapi sering.3 64. Monitoring Diet Pasien Tabel 10. asupan protein (64. Jika dirata – ratakan. Monitoring 1.6 (gr) 34. protein. Distribusi Monitoring Asupan Makanan Pasien Hari I 2/11/201 1 II 3/11/201 1 Uraian Asupan Kebutuhan % Asupan Asupan Kebutuhan % Asupan Asupan Zat Gizi Energi Protein Lemak (kkal) 1507.BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A.9 64.9 95 68.8 2246 67 1732 2246 77 72 (gr) 57. sehingga menyebabkan asupan makan pasien kurang.

Kemudian dijelaskan manfaat diet tersebut kepada pasien serta keluarganya. Dapat dilihat pada grafik di bawah ini: 2. 3.selingan. terlihat asupan makanannya pun sudah mulai bertambah. suhu. bentuk makanan lunak. dijelaskan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan/dibatasi kemudian pasien diberikan leaflet. 2011 Selama dilakukan intervensi selama 2 hari. Edukasi yang diberikan ternyata memberikan hasil yang baik. Distribusi Perkembangan Data Antropometri Pasien Parameter BB TB IMT Status Gizi Sebelum intervensi 49 kg 165 cm 18 Gizi Kurang Setelah intervensi 49 kg 165 cm 18 Gizi Kurang Sumber : Data Primer Terolah. Monitoring Pengukuran Antropometri Tabel 11. Monitoring Pemeriksaan Fisik/Klinik Adapun perkembangan pemeriksaan fisik/klini pasien yang meliputi tekanan darah. pernapasan dan nadi tidak dapat dimonitor karena tidak terdapat dalam rekam medis pasien selama intervensi. hasil monitoring menunjukkan bahwa tidak ada perubahan pada berat badan maupun tinggi badan pasien. 23 .

Monitoring Pemeriksaan Laboratorium Tabel 12.5 394 u/L 438 u/L 2. Perkembangan Pengetahuan Gizi Pasien dan penjaga pasien. lemak. dan karbohidrat 24 .4.1 gr/dl 119 mmol/L - Sumber : Data Sekunder Terolah. sebelum pelaksanaan intervensi belum pernah mendapatkan edukasi terkait dengan masalah gizi. B. dimana penjaga pasien dan pasien merespon dengan baik apa yang kami sampaikan terkait diet yang dianjurkan. Sikap Dan Perilaku Pasien Terhadap Diet Hasil recall konsumsi 24 jam sebelum pelaksanaan intervensi menunjukkan bahwa asupan energi. Distribusi Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Sebelum Intervensi Setelah intervensi Hb(mg/dl) SGOT SGPT Albumin Natrium Protein Total Klorida 8. 2. protein. terlihat penjaga pasien yang mendampingi pasien sedikit demi sedikit mulai memahami dan mengetahui tentang diet pasca bedah(prinsip TKTP). jadi tidak melakukan monitoring terhadap perkembangan nilai laboratorium pasien. Hasil Motivasi Diet Pasien 1.7 147 mmol/L 6. 2011 Tidak ada hasil pemeriksaan laboratorium selanjutnya. Terapi edukasi yang diberikan dengan metode penyuluhan gizi yang dilakukan selama 1 hari sebelum pelaksanaan intervensi dan diskusi yang dilakukan setiap hari selama 3 hari intervensi menunjukkan hasil yang baik.

Evaluasi asuhan gizi pasien 1.7% menjadi 90% dan karbohidrat dari 41. dengan status gizi Kurang.pasien pasien. Konsumsi energi dan zat gizi pasien Grafik 1. Evaluasi status gizi Selama studi kasus tidak terjadi perubahan status gizi. Untuk menaikkan BB pasien harus meningkatkan kembali Namun peningkatan tersebut belum mencapai kebutuhan standar untuk itu 25 .7% menjadi 76%. Hal ini terlihat dari sikap positif dan perilaku pasien terhadap anjuran diet. kurang dari kebutuhan berdasarkan hasil perhitungan kebutuhan yang disesuaikan dengan jenis diet yang diberikan pada Penyuluhan gizi dan diskusi dapat memberikan motivasi pasien dan penjaga pasien untuk menjalankan terapi diet yang dianjurkan dengan baik dan benar. Presentase Asupan Zat Gizi Hasil monitoring evaluasi asupan energi dan zat gizi selama studi kasus didapatkan data bahwa terjadi peningkatan asupan dibanding sebelum intervensi yaitu asupan energy dari 46.5% menjadi 76%. Sejak awal sebelum intervensi hingga akhir intervensi berat badan pasien masih 49 kg dengan tinggi 165 cm. lemak dari 52.3%. tetapi belum mampu menghabiskan semua makanan yang diberikan berhubungan masih terasa nyeri pada bagian perutnya. Dengan demikian. C. protein dari 56.6% menjadi 68. pasien patuh terhadap diet yang dianjurkan. Hal tersebut terlihat oleh karena pasien yang sudah ada kemajuan makan.1 masih perlu ditegakkan. Hal ini disebabkan karena pasien mulai menyadari pentingnya asupan makanan setelah menjalani operasi untuk proses penyembuhan bekas operasi. diagnosa gizi NI-2. dengan hanya menyisakan sedikit makanan rumah sakit. 2.

Perkembangan Pengobatan Yang Berhubungan Dengan Gizi Pengobatan yang berhubungan dengan gizi tidak terpantau selama studi kasus dilaksanakan. Oleh karena itu pada saat terapi edukasi pasien diberi motivasi agar mau meningkatkan asupan makanannya. fisik/klinis maupun laboratorium sehingga terapi diet tetap yaitu Diet pasca bedah (Prinsip TKTP) dengan energi 2246 kal dan protein 94.1 masih perlu ditegakkan. dan karbohidrat 337 gr dengan konsistensi makanan lunak. Untuk itu diagnosa gizi NI-5. 4.41 gr. 26 . 3. Berdasarkan hasil evaluasi makanan pasien selama intervensi diketahui bahwa asupan makanan pasien mengalami peningkatan dibanding sebelum intervensi. Perkembangan Terapi Diet Terapi diet yang diberikan sejak awal intervensi hingga akhir intervensi tidak berubah karena dari hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan setiap hari tidak terdapat identifikasi masalah baru baik dari pemeriksaan antropometri.asupan makanannya agar lebih meningkat lagi. lemak 57 gr.

Laparotomy. 2. 4.Post. tetapi peningkatannya belum mencapai standar ketubuhan. sehingga diagnose gizi NI-5. Kesimpulan 1. Untuk itu diagnosa gizi NI-2. Berdasarkan pengukuran antropometri IMT pasien tetap 18 berarti pasien dalam keadaan status gizi kurang. Pemeriksaan antropometri. Ada peningkatan asupan energi dan zat gizi pasien setelah dilakukan intervensi dibandingkan sebelum intervensi. fisik-klinis dan laboratorium harus tetap dipantau untuk melakukan identifikasi masalah gizi sedini mungkin. 3.1 belum tertangani. Terapi diet dan edukasi gizi harus terus dilakukan untuk memberikan motivasi pada pasien dan keluarganya sehingga pasien tetap menjalankan diet yang diberikan.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A.Malignancy . 3.1 belum tertangani. Rencana asupan pasien harus diberikan secara bertahap. 27 . A. Pasien didiagnosa Tumor Gaster Susp. karena hal ini dapat dimuntahkan pasien. Jenis diet yang diberikan adalah Diet Pasca Bedah (Prinsip TKTP) dengan konsistensi makanan lunak. Saran 1. 2. tidak boleh sekaligus.

2011.blogspot.Dr. di download http://semangateli. M. Tumor Gaster. di download http://denfirman.blogspot. Instalasi Gizi RS. Gramedia Pustaka Utama. Makassar. Anonym. 2009.DAFTAR PUSTAKA Almatsier. Tumor Gaster. pada tanggal 25 November 2011. Penuntun Diet Edisi Baru. Translate International Dietetic & Nutrition Terminology (IDNT) Reference Manual.blogspot. Jakarta: PT. 2011. 2011. Gayuh.com/ pada tanggal 25 November 2011.com.com/ pada tanggal 25 November 2011.Wahidin Sudirohusodo. 28 . DCN. Sunita.Kes. Yustini. 2004. di download http://kireihimee. Post Op Laparatomy. Anonym.