BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pemisahan “Pemilikan” dari “Pengelolaan” telah melahirkan gagasan manajer yang disebut Agency Problem, (Jansen dan Meckling, 1976). Dengan adanya pemisahan itu, akan terjadi konflik kepentingan antara para pemilik dengan para manajer. menjadi kreatif, karena merupakan Konflik itu diharapkan perimbangan

mekanisme

kekuasaan. Dari sudut para pemilik bisnis, masalah agency berkaitan dengan bagaimana menjamin agar para eksekutif manajer selalu bertindak menurut kepentingan para pemilik. Stock options (saham

untuk para eksekutif – manajer) merupakan salah satu cara untuk menjamin kepatuhan tersebut. Dalam gagasan mazhab masyarakat

industri, perlu adanya transformasi dari pemilikan personal ke pemilikan impersonal, artinya tidak terkonsentrasi pada individu atau keluarga tertentu, tetapi terbentuk melalui pasar modal, joint stock, dana pensiun, dan kepemilikan saham menjadi menyebar yaitu dispersi kepemilikan dengan perluasan jumlah pemegang saham kecil-kecil, baik di tangan individu, perusahaan, yayasan, koperasi, dan badan-badan lain. Banyaknya penyebaran jumlah pemegang saham berarti adanya ekspansi kekuasaan para eksekutif manajer. Diyakini ada kemungkinan nyata untuk mengembangkan tata bisnis tanpa melulu mengabdi

1

2

kepentingan sempit para kapitalis.

Dengan tidak adanya konsentrasi

pemilikan diharapkan para eksekutif – manajer dapat menjalankan bisnis dengan wawasan yang lebih luas daripada sekedar mengabdi kepada kepentingan akumulasi laba para kapitalis, sehingga para eksekutif – manajer dapat melakukan transformasi dari kapitalisme menjadi

kapitalisme rakyat. Gagasan untuk melakukan transformasi penyebaran pemilikan dan kekuatan transformasif para eksekutif – manajer masih merupakan tanda petik, karena tata pemilikan bisnis di Indonesia ditandai oleh konstrasi bukan dispersi. Adanya konsentrasi kepemilikan perusahaan publik di Indonesia yang dikendalikan melalui institusi yang berbadan hukum PT atau holding company, sesuai dengan temuan penelitian Cleassen et all (2000), menyatakan bahwa, belum terdapat pemisahan yang jelas antara kepemilikan dan kontrol pada perusahaan yang terdaftar di BEJ. Kebanyakan perusahaan masih dimiliki oleh keluarga dan posisi manajer dipegang oleh pemgang saham mayoritas, kalaupun tidak, maka manajememennya masih dari kalangan keluarga. manajer perusahaan publik hanya menjadi Akibatnya para tangan

kepanjangan

pemegang saham terbesar, yang masih dikendalikan dari kalangan keluarga tertentu, atau dengan kata lain apa yang menjadi pendapat pemegang saham terbesar juga menjadi pendapat manajer. Perusahaan yang sahamnya terdaftar di BEJ hanya sebagian kecil atau rata-rata kurang dari 30% sahamnya dijual melalui pasar modal

3 yang dimiliki oleh publik. Keluarga masih memiliki kontrol yang besar terhadap perusahaan publik. .

1% dikuasai keluarga. . Pada masa sebelum krisis para pemegang saham mayoritas perusahaan publik tidak segan-segan berhutang yang besar ke bank dan banyak perusahaan yang beresiko tinggi berhutang dalam bentuk Dollar sehingga ada indikasi menggeser atau memindahkan resiko kebangkrutan dari pemilik ke bank. seperti strategi pendanaan dalam struktur modal dan strategi investasi. Dari total perusahaan go publik di Indonesia 67. Claessens et al. Kendali yang besar memudahkan para pemilik mengendalikan berbagai kebijakan dan strategi. dan kebijakan pembayaran dividen.1% dimiliki oleh kaum eksekutif – manajer. (2000). dan sisanya di tangan publik.4 Akibatnya kepemilikan perusahaan masih terkonsentrasi pada sedikit pemegang saham yang menguasai mayoritas saham dan menjadi pengendali perusahaan publik. konsentrasi pemilikan keluarga tertentu ini masih diperkuat dengan siasat yang disebut “fusi kepemilikan manajemen” artinya manajemen perusahaan ada dalam kendali anggota keluarga. Pasar modal di Indonesia masih terlalu kecil sebagai alternatif sumber pendanaan. Dimana pada saat sebelum krisis kebanyakan bank dimanfaatkan sebagai kasir bagi para pemilik maupun perusahaan dalam satu group yang pemiliknya sama. hanya 5.

Nama Perusahaan PT.40 23.16 63. Cahaya Kalbar Tbk.41 3.50 2.70 7.00 1. 7.06 0.81 8. anggapan luas untuk mendukung teori agency tentang adanya tegangan (konflik) “pemilik” versus “manajer” merupakan ilusi. 6.47 14.92 0. Institutions (%) 58.81 9.30 5.10 2.50 2. PT.17 56. 4.10 2. Dilihat dari pola konsentrasi pemilikan di atas.29 Public (%) 13.08 30.41 8.12 13.60 0.00 28. (Mayertex Indonesia) 5. Barito Pasific Timber Tbk.08 3.44 23.54 0. 9. agency problem dalam dunia bisnis di Indonesia .47 1.04 2.74 0.1 Struktur Pemilikan Saham untuk 10 perusahaan industri Tahun 2001 No. 1.47 15. manajer terlalu kecil untuk mengarahkan Kekuasaan eksekutif – kinerja bisnis diluar kepentingan para pemiliknya.38 0. PT.02 6.50 2.20 0.5 Tabel 1. 51.71 Cooperatives (%) 0. PT. Surya Dumai Industri Tbk. Miwon Indonesia Tbk.63 0.71 0. Great River International Tbk. PT. 2. PT. Primarindo Asia Infrastructure Tbk.50 5.60 40. 10. (Bintang Karisma) PT.80 5.64 51.11 86.89 8. PT.24 12.98 43.02 2.66 4. Dengan konsentrasi pemilikan saham ada pada keluarga bisnis.50 42. PT.94 Sumber: Capital Market Directory/Annual Report BEJ. Sarasa Nugraha Tbk.15 0. Hanson Industri Utama Tbk. Karwell Indonesia Tbk.10 13. 30.01 Director/Managerial (%) 0.01 0.10 5.23 0. PT.57 13.63 52.23 34.36 1.00 12.69 5. Aneka Kimia Raya Tbk.04 0.93 70.

04 Data pada Tabel 1.. BAT PT. dan bank-bank itu telah menjadi “sapi perah” bagi perusahaan-perusahaan kelompok. (2002).92 6. maka kemungkinan terjadi insider borrowing dan insider trading. Unilever Indonesia PT.35 1.35 15.63 n.2 Ratio Debt to Equity untuk Sepuluh Perusahaan Industri Tahun 1996 – 2001 NAMA PERUSAHAAN PT.57 3.66 7.10 n.89 5.a. Bayer Indonesia PT.a.71 0.58 0.54 1.49 0.43 3.60 3.07 1.60 4.50 1. Multi Bintang PT.67 0. TEXMACO Jaya PT.96 23.77 1. 2001 1. Adel alumindo PT.64 n.15 1.82 7.64 1. 3. Priyono. Astra International PT.a.08 1.04 15.20 1998 1.81 0.57 0.13 0. Tembaga Mulia Semanan Sumber: Capital Market Directory 1996 0. Tabel 1.00 1.85 1.6 bukan terletak pada tegangan antara “pemilik” dan “manajer” namun antara pemilik (share holders) dan Bank (debt holders). Herry. Indofood Sukses Makmur PT.3 : 1 (230%) di tahun 1997 menjadi 3.02 1. B.93 4.83 1.82 6.92 2.1 : 1 (310%) dan tahun 2001 manjadi 3.a.53 4. 9.06 : 1 (306%).25 5.55 0.51 1.29 15.43 4. Semen Gresik PT. 2000 1. .32 1997 1.77 1999 1.61 2.02 2.83 3.83 4.42 n. karena kebanyakan bank terutama pada masa sebelum krisis adalah milik kelompok bisnis konglomerasi.32 1. sepuluh perusahaan industri menunjukkan ratio debt to equity dari tahun 1996 adalah 2.67 6.00 6. Tegangan pemilik perusahaan versus bank juga merupakan tegangan semu.20 1.2.28 10.

Pendapat Keown et al. Fenomena tersebut di atas menunjukkan kondisi institusi-institusi di Indonesia sebagai sumber alternatif pendanaan bagi perusahaan belum maksimal. (1996) tersebut didukung oleh teori struktur modal tradisional yang merumuskan bahwa penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan. memindahkan risiko bisnis (risk switching) dari tangan para pemilik perusahaan ke bank-bank. (1996) yang menyatakan bahwa tujuan manajemen struktur modal adalah memadukan sumber dana permanen yang digunakan perusahaan dengan cara memaksimalkan harga saham dan meminimumkan biaya modal perusahaan. terutama institusi yang terkait dengan pasar modal di Indonesia sebagai salah satu alternatif sumber pendanaan perusahaan.7 Kenaikan porsi hutang yang cukup signifikan. Besarnya hutang yang digunakan oleh perusahaan untuk membiayai kegiatannya merupakan suatu kebijakan perusahaan yang berhubungan dengan struktur modal. karena manajer tidak punya power. . Kebijakan tersebut tentunya tidak terlepas dari upaya perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan yang tercermin pada harga saham. disitulah terlibat soal yang biasanya disebut moral hazard. Hal ini sesuai dengan pendapat Keown et al. dan pada tingkat tertentu besarnya proporsi penggunaan hutang dalam struktur modal akan meningkatkan biaya modal rata-rata dan menurunkan nilai perusahaan karena besarnya risiko keuangan perusahaan. jika penggunaan hutang tersebut akan mengakibatkan penurunan biaya modal rata-rata (cost of capital).

dalam Copeland dan Weston. Fisher Separation Theory. penggunaan hutang yang semakin besar akan meningkatkan nilai perusahaan dikarenakan besarnya penghematan pembayaran pajak dari biaya bunga. oleh karena itu nilai perusahaan tidak . Hal ini sesuai dengan teori struktur modal yang disampaikan oleh Modigliani dan Miller (1963). dan akan meningkatkan risiko ketidakmampuan cash flow perusahaan untuk memenuhi kewajiban tersebut. hutang dapat memperoleh penghematan pajak namun di lain pihak dapat menimbulkan biaya kesulitan keuangan (financial distress). disebut MM yang dimodifikasi menyatakan. Berdasarkan teori struktur modal tax saving – financial distress model trade – off theory.8 Semakin besarnya penggunaan hutang dalam struktur modal perusahaan akan memperbesar pembayaran angsuran dan bunga yang menjadi kewajiban perusahaan. berhutang terlalu banyak tidak baik. artinya banyak faktor lain yang mempengaruhi keputusan pendanaan perusahaan. Meskipun teori ini amat menarik namun bukti empiris kurang mendukung. dan ada jumlah hutang yang optimal untuk setiap perusahaan. (1988: 12) memisahkan keputusan pendanaan dan investasi. Artinya perusahaan mempunyai hutang dalam jumlah tertentu baik. Dalam situasi ekonomi stabil dan dengan pasar persaingan sempurna (perfect competition). pararel dengan studi Modigliani dan Miller Argumentasi ini bahwa nilai (1958) perusahaan tergantung pada penghasilan di masa yang akan datang (future earning stream).

Jansen dan Meckling (1976). pasar modal sempurna. Asymmetric Information. Mboja dan Mukerjee (1994). pemisahan fungsi pengelolaan dengan fungsi pemilikan. Konflik antara pemegang saham dengan manajer terutama dalam keputusan berkaitan dengan financing decision dan investment decision. . (1) dengan meningkatkan pemilikan saham manajer – eksekutif. manajemen memutuskan pendanaan bila asumsi pasar sempurna dilonggarkan.9 tergantung pada struktur modal. rentan terhadap konflik keagenan. juga berbeda dengan temuan penelitian Sudarma (1997). Teori ini dengan asumsi sangat ketat yaitu tidak ada pajak. Ada beberapa alternatif untuk mengurangi agency cost. Menurut agency theory. dan pembayaran dividen. dan Signaling Hypothesis. tampak bahwa manajemen memiliki informasi tentang prospek perusahaan lebih baik daripada investor. keputusan investasi. Jansen dan Mackling (1976). Gordon Donalson (1960). Pelanggaran asumsi memunculkan beberapa teori struktur modal berbasis informasi asymmetriess seperti Agency Theory. Packing Order Theory. Temuan penelitian tersebut di atas ada hubungan secara signifikan antara keputusan pendanaan dari utang. Teori Fisherian secara tegas memisahkan keputusan investasi dan keputusan pendanaan. Fisher Separation Theory. Myers (1984). Tahap 1: manajemen memutuskan keputusan Tahap 2: investasi dengan mempertimbangkan prospek perusahaan. investor memiliki pengharapan yang sama.

Pemilikan saham oleh manajemen merupakan insentif bagi para manajer untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Jansen. (3) kenaikan pendanaan dari utang akan menurunkan konflik antara pemegang saham dengan manajemen. Moh’d et al. Dempsey dan Laber (1992). Jensen . (1998). 1986). Crutchley dan Hansen (1989). 1993). akan mengurangi free cash flow sehingga manajemen terpaksa mencari pendanaan dari luar untuk membiayai investasi perusahaan. Penelitian pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap kebijakan pendanaan dari hutang dalam struktur modal perusahaan telah dilakukan oleh beberapa peneliti. disamping itu akan menurunkan excess free cash flow yang ada dalam perusahaan. 1992. Jansen dan Mackling (1976). (4) pemilikan institusional akan dapat meningkatkan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen. (2) peningkatan dividend payout ratio. dan manajer akan menggunakan utang secara optimal sehingga akan meminimalkan biaya keagenan (agency cost).10 kepemilikan ini akan mensejajarkan kepentingan manajemen dengan pemegang saham. Perkembangan teori agensi menguraikan bahwa struktur kepemilikan perusahaan dapat mempengaruhi kinerja perusahaan dengan jalan menyesuaikan konflik agensi antara manajemen dan pemegang saham (Putterman. Frend Hasbrouk (1988). hal ini akan berdampak pada pemborosan oleh manajemen (Jansen et al. Rozeft (1982). Dominasi kelompok kepemilikan dapat mempengaruhi kebijakan manajerial yang selanjutnya memiliki implikasi terhadap perilaku manajerial dan kinerja perusahaan.

(1992) menemukan pengaruh negatif antara kepemilikan manajerial dengan debt rasio perusahaan. Hasil ini juga didukung oleh peneltian dari Crutchley et al. (1999) dalam temuan penelitiannya menyebutkan bahwa monitoring yang dilakukan oleh . menurun. Agrawal dan Mendelker (1987). Pada pemegang saham hanya peduli pada risiko sistimatik dari saham perusahaan. (1998) temuannya menyatakan bahwa kepemilkan manajerial dan kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap debt rasio perusahaan. dan Mehran (1992) menemukan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap debt rasio perusahaan. yang membuat kekayaan manajer non diversifiable. Namun manajer sebaliknya lebih perduli pada resiko perusahaan secara keseluruhan. karena mereka melakukan investasi pada portofolio yang terdiversifikasi dengan baik. kalau dan jika kemampuan perusahaan menghadapi kebangkrutan. Fama (1980) menyatakan ada 2 (dua) alasan yang mendasari: (1) bagian substantif dari kekayaan manajer di dalam perusahaan adalah specifik human capital perusahaan. Berbeda dengan hasil penelitian Kim dan Sorensen (1986). Penelitian Smith (1996) menunjukkan bahwa aktivitas monitoring institusi mampu mengubah dan mempengaruhi manajemen perusahaan untuk meningkatkan kemakmuran pemegang saham. Moh’d et al.11 et al. (2) manajer menghasilkan akan laba terancam perusahaan reputasinya. Penyebab lain konflik antara manajer dengan pemegang saham adalah keputusan pendanaan dari hutang dalam struktur modal perusahaan.

klasifikasi industri. Teori struktur modal. dan terakhir adalah penerbitan saham. volatilitas. keunikan. Dalam hal ini nistitusi dan manajer memiliki kepentingan yang sama sehingga mereka berkolusi dan mengakibatkan turunnya nilai perusahaan. Kepemilikan institusional tidak selalu meningkatkan nilai perusahaan.12 institusi mampu mensubstitusi biaya keagenan hutang sehingga biaya keagenan menurun dan nilai perusahaan meningkat. pecking order theory mempertimbangkan persepsi investor dalam menentukan sumber dana yang digunakan perusahaan. Penelitian yang khusus menganalisis tentang determinan dari struktur modal. Untuk menghindari persepsi negatif dari investor. teori tersebut menguraikan bahwa urutan sumber dana yang sebaiknya digunakan adalah laba ditahan. Peran struktur kepemilikan saham yang demikian penting dalam menentukan penggunaan sumber dana merupakan faktor yang harus dipertimbangkan selain faktor keuangan intern perusahaan dan faktor ekonomi makro (ekstern). sehingga kebijakan perusahaan untuk mengelola struktur modal yang dapat meningkatkan nilai perusahaan yang tercermin pada harga saham tidak terlepas dari persepsi investor saham perusahaan. . pertumbuhan. kepemilikan institusi dapat menurunkan nilai perusahaan pada saat kepentingan institusi sejalan dengan kepentingan manajer. Myers (1984). hutang. Slovin dan Sushka (1993). non-debt tax shield. ukuran perusahaan. dilakukan oleh Titman (1988) dengan menggunakan variabel nilai asset yang dijaminkan.

ukuran perusahaan. nilai aktiva yang diagunkan. tingkat bunga. non-debt tax shield. ukuran perusahaan. non-debt tax shield. Penelitian ini dilakukan ulang oleh Homaifar (1994) untuk menentukan model empirik dari struktur modal dengan menggunakan variabel leverage. risiko keuangan. ukuran perusahaan. keunikan. yaitu struktur kepemilikan. Berdasarkan penelitian terdahulu dan teori tentang struktur modal. Dari penelitian terdahulu tentang struktur modal menunjukkan banyak variabel yang mempengaruhi kebijakan penggunaan hutang untuk meningkatkan nilai perusahaan. dan . maka kebijakan menentukan struktur modal perusahaan dipengaruhi berbagai variabel. pembayaran pajak. dan volatilitas pendapatan. profitabilitas. pembayaran pajak. Moh’d menguji pengaruh struktur kepemilikan terhadap kebijakan hutang perusahaan dengan menggunakan variabel struktur kepemilikan. pembayaran dividen. harapan pertumbuhan. Oleh karena itu anggapan tentang penggunaan hutang akan meningkatkan nilai perusahaan diperlukan pengkajian empiris lebih lanjut. pertumbuhan. dan keunikan sebagai variabel penentu struktur modal.13 profitabilitas. Pada tahun 1998. fluktuasi nilai tukar valuta asing. profitabilitas. kondisi pasar modal. pembayaran pajak. dan leverage. harapan pertumbuhan. nondebt tax shield. struktur aktiva. pembayaran dividen. inflasi. risiko keuangan. tidak hanya harapan akan adanya penghematan pajak penghasilan seperti dalam teori struktur modal Modigliani dan Miller.

dan (c) variabel dalam kelompok faktor ekstern. ukuran perusahaan. pertumbuhan. profitabilitas. yaitu (a) variabel dalam kelompok struktur kepemilikan. Untuk melihat konsistensi hasil dari peneliti sebelumnya dan berdasarkan pada obyek berbeda. Variabel dalam kelompok faktor ekstern yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan yaitu tingkat bunga. fluktuasi nilai tukar valuta asing. nilai aktiva yang diagunkan. dan non-debt tax shield. Berdasar pada tingkat konsistensi hasil penelitian. Variabel dalam faktor intern dan faktor ekstern telah digunakan oleh Domian (1996) dan Mukherji (1997) untuk mengukur pengaruhnya terhadap stock return. . Variabel dalam kelompok faktor intern yang dapat dikendalikan oleh perusahaan. Apabila dihubungkan dengan kemampuan perusahaan mengendalikan variabel tersebut. selain pengaruh variabel faktor intern dan faktor ekstern terhadap struktur modal dan nilai perusahaan. Domian (1996) dan Mukherji (1997) dengan menggunakan obyek perusahaan di Indonesia. maka variabel yang mempengaruhi struktur modal dapat dikelompokkan menjadi tiga. Variabel dalam kelompok struktur kepemilikan. pembayaran dividen. (b) variabel dalam kelompok faktor intern. dan keadaan pasar modal. maka peneliti juga ingin mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel dalam faktor intern dan ekstern terhadap struktur modal. yaitu pembayaran pajak. yaitu kepemilikan saham manajemen dan kepemilikan saham institusional.14 keadaan pasar modal. keunikan. risiko keuangan. maka penelitian ini juga menguji pengaruh variabel struktur kepemilikan saham terhadap struktur modal dan nilai perusahaan.

Variabel observable struktur kepemilikan terdiri dari kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional. Pengaruh struktur kepemilikan saham dan beberapa variabel faktor intern terhadap struktur modal telah diteliti Frend Hasbrouk (1988). Adapun hal penting yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah sebagai berikut: 1. Moh’d et al. dan struktur modal sebagai diterminant penentu nilai perusahaan. Variabel observable faktor intern terdiri dari: pembayaran pajak. Mehran (1992). ukuran perusahaan.15 Penelitian ini mengembangkan penelitian yang telah dijelaskan di atas. dan belum memasukkan variabel faktor ekstern sebagai diterminant penentu struktur modal dan nilai perusahaan. variabel faktor intern dan faktor ekstern terhadap struktur modal dan terhadap nilai perusahaan serta pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan. Jensen et al. dan non-debt tax shield. profitabilitas pembayaran dividen. pertumbuhan perusahaan. Penelitian ini menguji pengaruh struktur kepemilikan saham. 2. (1998). keunikan perusahaan. (1992). Sedangkan penelitian sebelumnya belum mengintegrasikan ketiga variabel latent tersebut sebagai diterminant penentu struktur modal dan nilai perusahaan. Variabel . akan tetapi peneliti tersebut belum mengkaitkan variabel-variabel tersebut dengan nilai perusahaan. nilai aktiva yang diagunkan. Penelitian ini menguji pengaruh masing-masing variabel observable terhadap struktur modal dan terhadap nilai perusahaan. 3.

variabel faktor intern. menimbulkan berbagai permasalahan sehubungan dengan penggunaan hutang dalam struktur permodalan perusahaan yang berdampak pada nilai perusahaan. 3. .2. Apakah terdapat pengaruh masing-masing variabel faktor ekstern yang terdiri dari variabel tingkat bunga. nilai aktiva yang diagunkan. profitabilitas. fluktuasi nilai tukar valuta asing. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. dan keadaan pasar modal. khususnya pada kelompok perusahaan industri. keadaan pasar modal terhadap stuktur modal perusahaan industri. ukuran perusahaan. dan non-debt tax shield terhadap stuktur modal perusahaan industri. fluktuasi nilai tukar valuta asing. 1. keunikan. pertumbuhan perusahaan. Apakah terdapat pengaruh variabel struktur kepemilikan saham. pembayaran deviden. 4. Apakah terdapat pengaruh masing-masing variabel stuktur kepemilikan saham yang terdiri dari variabel kepemilikan saham manajerial dan kepemilikan saham institusional terhadap struktur modal perusahaan industri. Rumusan Masalah Berdasarkan fenomena di atas. Apakah terdapat pengaruh masing-masing variabel faktor intern yang terdiri dari variabel pembayaran pajak. 2. variabel faktor ekstern terhadap struktur modal perusahaan.16 observable faktor ekstern terdiri dari: tingkat suku bunga. risiko keuangan.

risiko keuangan. pertumbuhan perusahaan. Apakah terdapat pengaruh variabel stuktur modal terhadap nilai perusahaan industri. Apakah terdapat pengaruh masing-masing variabel faktor ekstern yang terdiri dari variabel tingkat bunga. Apakah terdapat pengaruh masing-masing variabel struktur pemilikan saham yang terdiri dari variabel kepemilikan saham manajerial dan variabel kepemilikan saham institusional terhadap nilai perusahaan. keadaan pasar modal terhadap nilai perusahaan industri. Apakah terdapat pengaruh masing-masing variabel faktor intern yang terdiri dari variabel pembayaran pajak. 9. 7. 1. Menguji pengaruh masing-masing variabel struktur kepemilikan saham yang terdiri dari variabel kepemilikan saham manajerial dan kepemilikan saham institusional terhadap struktur modal perusahaan industri. nilai aktiva yang diagunkan. 2. profitabilitas. . fluktuasi nilai tukar valuta asing. variabel faktor intern dan variabel faktor ekstern terhadap struktur modal. Apakah terdapat pengaruh variabel struktur kepemilikan saham. dan non-debt tax shield terhadap nilai perusahaan industri. 8. pembayaran deviden.3. ukuran perusahaan.17 5. Tujuan Penelitian 1. Menguji pengaruh variabel struktur kepemilikan saham. 6. keunikan. variabel faktor ekstern terhadap nilai perusahaan. variabel faktor intern.

variabel faktor intern dan variabel faktor ekstern terhadap nilai perusahaan. Menguji pengaruh masing-masing variabel faktor intern yang terdiri dari variabel pembayaran pajak. keunikan. Menguji pengaruh variabel struktur modal terhadap nilai perusahaan industri. keadaan pasar modal terhadap struktur modal perusahaan industri. Menguji pengaruh masing-masing variabel faktor intern yang terdiri dari variabel pembayaran pajak. terhadap nilai perusahaan industri.18 3. risiko keuangan. risiko keuangan. nilai aktiva yang diagunkan. fluktuasi nilai tukar valuta asing. profitabilitas. non-debt tax shield. pertumbuhan perusahaan. 7. pembayaran dividen. . 8. 9. fluktuasi nilai tukar valuta asing. 4. Menguji pengaruh masing-masing variabel faktor ekstern yang terdiri dari variabel tingkat bunga. ukuran peruashaan. keadaan pasar modal terhadap nilai perusahaan industri. dan non-debt tax shield. pertumbuhan perusahaan. ukuran perusahaan. terhadap struktur modal perusahaan industri. Menguji pengaruh masing-masing variabel faktor ekstern yang terdiri dari variabel tingkat bunga. Menguji pengaruh masing-masing variabel struktur kepemilikan saham yang terdiri dari variabel kepemilikan saham manajerial dan kepemilikan saham institusional terhadap nilai perusahaan. profitabilitas. 5. 6. nilai aktiva yang diagunkan. keunikan. pembayaran dividen. Menguji pengaruh variabel struktur kepemilikan saham.

Manfaat Teoritis 1.4. Manfaat Praktis 1. Menguji secara empirik teori struktur modal model tradeoff. Menguji secara empirik teori struktur modal Modigliani dan Miller (1963) yang menyatakan bahwa pendanaan dari hutang akan meningkatkan nilai perusahaan karena adanya penghematan pajak. 3. 2.4. . 1. tetapi penggunaan hutang yang melebihi batas optimal akan menurunkan nilai peruashaan karena adanya financial distress dan agency cost yang lebih besar dibandingkan dengan penghematan pajak. menyatakan bahwa penggunaan hutang pada tingkat tertentu akan menaikkan nilai perusahaan karena adanya penghematan pajak. Menguji secara empirik Pecking order theory.1. Manfaat Penelitian 1.2. MM yang dimodifikasi. Menguji secara empirik theori of the firm Jansen & Meckling (1976) tentang masalah keagenan (agency problem) yang berkaitan keputusan sumber pendanaan dalam struktur modal perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan. hutang dan terakhir dari emisi saham.19 1. Myers (1984) yang menyatakan bahwa urutan pendanaan dimulai dari laba perusahaan.4. 4. Mengetahui pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap kebijakan penentuan sumber dana hutang dalam struktur modal perusahaan industri.

3.20 2.oOo --- . Memberikan masukan bagi lembaga regulator pasar modal di Indonesia dalam membuat kebijakan dan regulasi terutama untuk melindungi investor dan pemegang saham minoritas. 6. Mengetahui pengaruh kebijakan penggunaan hutang dalam struktur modal terhadap nilai perusahaan industri. Menentukan variabel-variabel penentu dalam struktur modal perusahaan industri di Indonesia. 5. Sebagai dasar kebijakan struktur modal dalam menentukan proporsi penggunaan sumber dana hutang dan modal saham perusahaan industri. --. Sebagai dasar peningkatan kinerja perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan industri di Indonesia. 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful