1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Fluidisasi merupakan salah satu teknik pengontakan fluida baik gas maupun
cairan dengan butiran padat. Pada fluidisasi kontak antara fluida dan partikel padat
terjadi dengan baik karena permukaan kontak yang luas. Teknik ini banyak digunakan
di industri kimia dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang sistem
pembakarannya menggunakan bahan bakar padat (batubara) dimana penggunaannya
meningkat pesat pada dekade terakhir ini. Pada teknologi Fluidized bed menggunakan
hamparan material yang digunakan sebagai media pentransfer panas, dimana
hamparan material yang lumrah digunakan pada teknologi ini adalah pasir silika
Beberapa faktor yang terlibat dalam proses fluidisasi adalah kecepatan
fluidisasi, properti material, temperatur penurunan tekanan (preasure drop) dan
ukuran dari material-material yang ada dalam kontak fluidisasi. Untuk bisa
mengetahui proses fluidisasi yang terjadi antara pengontakan fluida yang mengalir,
butiran pasir silika digunakan alat yang transparan, dimana temperatur yang
digunakan dalam praktikum ini adalah dengan temperatur udara luar.

1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang bisa diangkat dari penelitian ini adalah bagaimana
fenomena fluidisasi yang terjadi dengan variasi ukuran diameter pasir silika dan
variasi kecepatan semu terhadap penurunan tekanan, tinggi hamparan?

1.3 Tujuan Praktikum
Tujuan dan manfaat dari penelitian ini untuk mengetahui fenomena yang terjadi
dari percampuran media pasir silica.



2

BAB II
DASAR TEORI

2.1 Fluidisasi
Fluidisasi biasa digunakan untuk memeriksa keadaan partikel yang seluruhnya
dalam keadaan melayang (suspensi), karena suspensi ini berlaku seakan- akan fluida
rapat. Fluidisasi dapat didefinisikan sebagai suatu operasi dimana hamparan zat padat
diperlakukan seperti fluida yang ada dalam keadaan berhubungan dengan gas atau
cairan (basu, 1991). Di dalam kondisi terfluidisasi, gaya gravitasi pada butiran ±
butiran zat padat diimbangi oleh gaya seret dari fluida yang bekerja padanya.
Bila zat cair atau gas dilewatkan melalui lapisan hamparan partikel pada
kecepatan rendah, partikel itu tidak bergerak. Jika kecepatan fluida berangsur ±
angsur naik, partikel itu akhirnya akan mulai bergerak dan melayang di dalam fluida,
serta berprilaku seakan ± akan seperti fluida rapat.

Gambar 2.1 Karakteristik fluidized bed (Basu & Fraser, 1991)

Jika hamparan itu dimiringkan, permukaan atasnya akan tetap horizontal, dan
benda-benda besar akan mengapung atau tenggelam di dalam hamparan itu
tergantung pada perbandingan densitas dari partikel tersebut.
3

Pada fluidisasi minimum, hamparan banyak memiliki pseudo-liquid. Peningkatan
selanjutnya pada aliran gas menyebabkan gas ekstra mengalir pada gelembung yang
disebut fase emulsi.
Pada proses pengkonversian energi dengan teknologi FBC, awalnya ruang
bakar dipanasi secara eksternal sampai mendekati temperatur operasi. Material
hamparan (Bed Material) fluidisasi yang lumrah dipakai untuk mengabsorbsi panas
adalah pasir silika. Pasir silika dan bara api bahan bakar bercampur dan mengalami
turbulensi di dalam ruang bakar sehingga keseragaman temperatur sistem menjadi
terjaga. Kondisi ini mampu memberikan garansi konversi energi yang baik.
Selanjutnya, dengan bidang kontak panas yang luas disertai turbulensi partikel
fluidisasi yang cepat menyebabkan FBC teknologi bisa diaplikasikan untuk
mengkonversi segala jenis bahan bakar bahkan dengan ukuran yang tidak seragam.
Kwalitas fluidisasi adalah faktor paling utama yang mempengaruhi efisiensi sistem
FBC. Beberapa penelitian untuk mengontrol kwalitas fluidisasi telah dilakukan
dengan merubah kecepatan masuk fluidisasi pada limit tertentu sesuai dengan
besarnya ukuran partikel pentransfer panas yang digunakan.

Gambar 2.2 Boiler FBC (Coal Science Handbook, 2005)

4

2.2 Tahapan Fluidisasi
Perhatikanlah suatu gambar tabung vertikal yang sebagian berisi dengan bahan
butiran, misalnya katalis untuk proses perengkahan katalik, sebagaimana terlihat
dalam gambar 2.3. tabung itu turbelen pada bagian atas dan mempunyai plat berpori
pada bagian bawah untuk mendukung katalis itu serta untuk menyebarkan aliran
uadara secara seragam pada seluruh penampang.
Bobot Hamparan
umf
A
B
L
C
Hamparan
Fluidisasi
Hamparan
Tetap
P
e
n
u
r
u
n
a
n

T
e
k
a
n
a
n

d
a
n

T
i
n
g
g
i

H
a
m
p
a
r
a
n
Kecepatan Semu, U0
L
Udara

Gambar 2.3 Penurunan tekanan dan tinggi hamparan vs kecepatan semu di dalam
hamparan zat padat (McCabe,at,al,1989)

Udara dimasukan dibawah plat distributor (penyebar udara) dengan laju
lambat, dan naik keatas melalui hamparan tanpa menyebabkan terjadinya gerakan
pada partikel. Jika partikel itu cukup kecil, aliran didalam saluran ± saluran diantara
hamparan itu akan sebanding dengan kecepatan semu U
0.
Jika kecepatan itu
berangsur ± angsur dinaikan, penurunan tekanan akan meningkat tetapi partikel ±
partikel itu akan masih tetap tidak bergerak dan tinggi hamparanpun tidak berubah.
Kondisi ini disebut fixed beds. Pada kecepatan tertentu, penrunan tekanan melintasi
hamparan itu akan mengimbangi gaya gravitasi yang dialaminya. Jika kecepatan
5

masih dinaikan lagi, partikel itu akan mulai bergerak. Titik ini digambarkan oleh titik
A pada grafik.
Jika kecepatan itu terus ditingkatkan lagi, partikel ± partikel itu akan memisah
dan menjadi cukup berjauhan satu sama lain sehingga dapat berpindah ± B). Pada saat
hamparan itu sudah terfluidisasi, penururnan tekanan melintasi hamparan konstan,
tetapi tinggi hamparan bertambah terus apabila aliran ditingkatkan lagi (Bubbling
Fluidized Bed). Jika laju aliran kehamparan fluidisasi itu berkurang, mengikuti garis
BC.
Perilaku hamparan fluidisasi sangat bergantung pada kapasitas dan besarnya
gelembung gas, jenis partikel serta kecepatan aliran gas. Gelembung ± gelembung
cenderung bersatu dan menjadi besar (Slugs) pada waktu naik melalui hamparan
fluidisasi. Tahap ini disebut dengan Sluging. Jika kecepatan fluida ditingkatkan lagi
maka hamparan akan berubah menjadi bergolak. Pada kondisi ini semua partikel
dalam hamparan tersebut akan terbawa ikut mengalir bersama gas saat dialirkan gas
pada kecepatan tinggi. Tahapan ini disebut dengan Turbulent Bed.

2.3 Jenis ± Jenis Fluidisasi
Berdasarkan jenis fluida yang digunakan, fluidisasi dapat dibedakan
menjadi 2 jenis:
2.3.1 Fluidisasi Partikulat (particulate fluidization)
Fluidisasi partikulat adalah jenis fluidisasi yang menggunakan zat cair sebagai
fluidanya. Pada fludisasi partikulat, ekspansi hamparan yang terjadi cukup besar dan
seragam pada kecepatan tinggi.partikel-partikel itu bergerak menjauh satu sama lain
dan gerakannya bertambah hebat dengan meningkatnya kecepatan, tetapi densitas
hamparan rata-rata pada suatu kecepatan tertentu sama disegala arah hamparan
(seragam).
2.3.2 Fluidisasi Gelembung (bubbling fluidization)
Fluidisasi gelembung adalah jenis fluidisasi yang menggunakan udara sebagai
fluidanya. Gas mengalir melalui hamparan dalam bentuk gelembung atau rongga-
rongga kosong yang tidak berisikan zat padat dan hanya sebagian kecil gas itu
6

mengalir dalam saluran-saluran yang terbentuk diantara partikel. Gelembung yang
terbentuk berperilaku hampir seperti gelembung udara didalam air atau gelembung
uap didalam zat cair yang mendidih. Karena itu fluidisasi jenis ini kadang-kadang
dinamakan dengan istilah hamparan didih (boiling bed). Di bawah ini contoh gambar
fluidisasi gelembung.

Gambar 2.4 Fluidisasi gelembung

2.3.3 Packed Bed / Fixed Bed
Packed bed merupakan suatu keadaan dimana gas yang dialirkan atau
dihembuskan ke hamparan partikel dan terjadi penurunan tekanan namun hamparan
itu tetap diam dan stasioner pada penyangga plat distributor. Dibawah ini contoh
gambar /fenomena fixed bed.

Gambar 2.5 Fixed bed (Basu & Fraser, 1991)
7

2.3.4 Slugging (penyumbatan)
Ukuran rata- rata gelembung bergantung pada jenis dan ukuran partikel,
jenis plat distributor, kecepatan kosong, dan tebalnya hamparan. Gelembung-
gelembung yang bersatu dan bertambah besar waktu naik melalui hamparan fluidisasi
itu dan ukuran maksimum gelembung stabil antara beberapa inci sampai beberapa
kaki diameternya. Jika kita menggunakan kolom berdiameter kecil dengan hamparan
zat padat yang tebal, gelembung itu mungkin mungkin berkembang memenuhi
seluruh penampang. Gelembung- gelembung yang beriringan lalu bergerak ke puncak
kolom terpisah oleh zat padat yang seakan- akan sumbat. Peristiwa ini disebut
penyumbatan atau slugging. Di bawah ini merupakan contoh gambar sluging:

Gambar 2.6 Slugging (Basu & Fraser, 1991)
Hal terpenting pada kondisi slugging adalah ukuran gelembungnya tetap
maksimum (D
bmax
) harus lebih besar dari 0.6 diameter hamparan, (Geldart,1986).
Namun slugging tidak terjadi disemua hamparan.
2.3.5 Turbulent Beds
Bila kecepatan gas melewati gelembung fluidized bed meningkat di atas
kecepatan minimal gelembung dan terjadi perluasan hamparan dan terjadi
peningkatan dalam pecahan gelembung, sebuah perluasan dari fase emulsi (Nakajima,
1991). maka hamparan akan berubah menjadi bergolak. Pada kondisi ini semua
partikel dalam hamparan tersebut akan terbawa ikut mengalir bersama gas saat
8

dialirkan gas pada kecepatan tinggi. Berikut ini adalah gambar diagram amplitude
fluktuasi tekanan pada turbelent fluidization.

Gambar 2.7 Turbelent bed. (Basu & Fraser, 1991)
2.3.6 Fast Fluidized Bed
Dalam konteks penggunaannya di CFB boiler, fast fluidized bed
didefinisikan sebagai dimana partikel yang dialirkan gas yang berkecepatan tinggi
diatas kecepatan terminal satu partikel yang menyebabkan partikel kembali kebagian
bawah ruang bakar/ perapian pada tingkat yang cukup tinggi sehingga terjadi
keseragaman suhu di ruang bakar.
2.4 Kecepatan Minimum Fluidisasi
Kecepatan fluidisasi dapat ditentukan dengan persamaan (McCabe.et.al,1989)


¸ )
¦
¦
|
¦

¸
1
=
f
mf f p p s
mf
g d
u
p
s p p
75 , 1
. .
3
(m/dt) (2.1)

Untuk partikel yang sangat kecil, hanya suku aliran laminar pada persamaan
Ergun yang signifikan. Dengan N
Re, p
< 1 atau ukuran partikel lebih kecil dari 1 mm,
kecepatan fluidisasi dihitung dengan persamaan berikut:
Bilangan Archimedes:
¸ )
2
3
. .
f
m n f p f
d g
Ar
Q
p p p
=
9


¸ )
mf
mf
mf
mf
mf
E E
Ar Re
75 . 1
Re
1
150
3 3
1
+
1

=
s


¸ )
p f
f mf
mf
D
U
.
Re
p
Q
= (m/dt) (2.2)
Dimana:
mf
u = Kecepatan Fluidisasi minimum (m/dt)

s
1 = Sferisitas atau kebolaan
g = Percepatan gravitasi (m/dt
2
)
D
p
= Diameter partikel (m)

p
p = Densitas partikel (kg/m
3
)

f
p = Densitas Udara (kg/m
3
)

mf
s = Porositas minimum untuk fluidisasi
Laju aliran massa udara yang melalui suatu luas pada penampang tabung
aliran adalah :
A v m
g
ud . .
.
p = (2.3)
Dimana : ud m
.
= Laju aliran massa udara ( kg/dt)
R = Kecepatan rata ± rata udara dalam saluran (m/dt)
A = Luasan penampang saluran (m
2
)
Persamaan tersebut berlaku baik untuk fluida mampu mampat maupun yang
tak mampu mampat. Dimana v
g
. p didefinisikan sebagai kecepatan massa udara (G)
yang melalui tabung aliran tersebut. Kecepatan massa dihitung dengan membagi laju
aliran massa dengan luas penampang saluran.
Fraksi volume ruang kosong , yang terjadi di hamparan dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan (King,1989) :

2
1
+
+
=
u
u
s (2.4)
Dimana : u = Kecepatan Superficial (m/dt).
10

Atau
v
v
b
s
=1 s

p
p
s
p
b
=1 (2.5)
2.5 Kerapatan (ȡ)
Kerapatan (density) adalah massa per satuan volume. Dapat juga diartikan
sebagai ukuran untuk konsentrasi zat tersebut. (Sudarja 2002)

v
m
= p (kg/m
3
) (2.6)
2.6 Berat Jenis ( )
Berat jenis suatu zat adalah berat persatuan volume zat tersebut, atau
merupakan perkalian dari kerapatan dan percepatan gravitasi bumi. (Sudarja 2002).

v
w
g y = = . p (N/m
3
) (2.7)
2.7 Ukuran Dan Bentuk Partikel
Bila partikel dalam bentuk butiran maka ukurannya dapat dihitung
berdasarkan diameternya. Dalam dunia industri,partikel butiran sangat sulit
ditemukan. Bentuk partikel irigular dan dalam pengoperasian diperlukan ukuran
partikel yang seragam. Namun mengingat sulitnya menemukan butiran partikel yang
seragam maka akan dipergunakan ukuran rata-rata partikel.

¸ )
¿

=
i
d
i
x
dm
1
(m) (2.8)
Dimana : x
i
= fraksi massa partikel

¸ )
s
i i
i
v
d n
x
2
6 / T
=
Maka,
s
i i
i
i
v
d n
d
x
6
. .
2
T
=
V
s
= volume partikel solid
11


¿
¦
'
+

'

=
3
6
i i s
d n V
T
(2.9)


Gambar 2.13 Properti fisik partikel solid
2.8 Sphericity
Sferisitas atau kebolaan (sphericity) 1 ialah luas permukaan butiran yang
bervolume sama dengan dengan partikel dibagi luas permukaan sebenarnya dari
partikel.

6
3
p
p
d
v
T
= (2.10)
Dimana : V
p
= volume satu partikel (ft
2
atau m
3
)

D
p
adalah diameter partikel yang mempunyai volume sama seperti luasan permukaan
partikel
W p

Sv
d
p
p
.
6
3
T
W
= (2.11)
Dimana : S
v
: Luas permukaan per unit volume.
Sehingga,
v p
s d .
6
= 1 (2.12)


p
= volume satu partikel (ft
2
atau m
3
)
1 = kebolaan
12

S
v
= Luas permukaan per unit volume.
d
p
= Diameter partikel
2.9 Penurunan Tekanan
Apabila partikel yang dalam keadaan diam pada sebuah penampang dialirkan
tekanan fluida maka akan terjadi penurunan tekanan atau terjadi tekanan balik.
Penurunan tekanan itu akan terus meningkat seiring meningkatnya aliran fluida pada
partikel. Jika partikel sudah terfluidisasikan penurunan tekanan melintas hamparan
akan tetap konstan, namun jika kecepatan fluida perlahan-perlahan diturunkan
penurunan tekanan akan tetap sama. Penurunan tekanan pada kecepatan rendah lebih
kecil dibandingkan hamparan-diam semula. Berikut adalah persamaan penurunan
tekanan:


¸ )
¸ )
¸ )
m
f
m
f
b
d
U
d
U
L
p
1

+
1

=
A
2
2
2
2 3
2
.
1
75 . 1 .
1
150
p
s
s
Q
s
s
(2.13)

Dimana :
b
P A

= penurunan tekanan
s = porositas
L = tinggi total hamparan

p
p = densitas partikel (kg/m
3
)

f
p = densitas udara
H = Tinggi bed







13

BAB III
PROSEDUR PRAKTIKUM

3.1 Diskripsi Alat
Proses fluidisasi dengan sistem cold fluidzed bed dilakukan dengan cara
mengalirkan udara dengan kecepatan di atas kecepatan fluidisasinya dengan
menggunakan kompresor. Besar kecilnya tekanan udara yang mengalir menuju
hamparan akan diatur oleh bagian get valve. Kemudian udara mengalir melewati
bagian digital flowmeter, pada bagian ini berfungsi untuk memonitor penggunaan
udara dari kompresor. Udara tersebut kemudian dihembuskan melewati hamparan
material yang telah ditempatkan pada sebuah tabung silinder penampung material
(bed) yang terbuat dari akrilik dan disangga oleh plat distributor.
Plat distributor dilengkapi dengan kisi-kisi (orifis) sebagai laluan udara
menuju hamparan material yang akan difluidisasikan. Selain sebagai penyangga
material, plat distributor juga berfungsi untuk meratakan pendistribusian tekanan
kehamparan. Material yang akan dilalui udara akan bergolak akibat adanya kecepatan
hembusan udara yang akan menyebabkan terbentuknya rongga-rongga kosong yang
tidak berisi zat padat atau gelembung-gelembung udara (bubble).
Adapun spesifikasi alat dari sistem cold fluidzed bed adalah sebagai berikut :
1. Kerangka. Berfungsi sebagai penopang dari keseluruhan kontruksi lainnya.
2. Preasure gauge. Berfungsi untuk mengukur tekanan udara yang ada di dalam
hamparan.
3. Tabung Fluidisasi (bed). Berfungsi sebagai tempat dari partikel-partikel yang
akan difluidisasikan. Bahan yang digunakan adalah akrilik bening. Pemilihan
material ini bertujuan untuk melihat secara langsung pergerakan partikel-partikel
dari proses fluidisasi sehingga terbentuk terbentuknya rongga-rongga kosong
yang tidak berisi zat padat atau gelembung-gelembung udara (bubble).
4. Plat Distributor. Berfungsi sebagai penyangga material dan meratakan
pendistribusian tekanan udara kehamparan.
14

5. Kompresor. Berfungsi untuk memberikan tekanan udara pada sistem fluidisasi
ini.
6. Digital Flowmeter. Berfungsi untuk mempermudah dalam memonitor
penggunaan uadara dari kompresor yang dipasang pada pipa saluran udara.
Digital Flowmeter memiliki layar LED yang secara langsung menunjukkan
besaran jumlah udara pada pipa.















Gambar 3.1 Skematik alat fluidisasi

Keterangan :
1. Plat distributor
2. Bed
3. Preasure gauge
4. Kerangka
5. Kompresor
6. Flow meter
15

3.2 Alat Uji Fluidisasi
Berikut adalah gambar keseluruhan alat fluidisasi :

Gambar 3.2 Alat fluidisasi sistem cold fluidized bed



3.3 Alat Dan Bahan
y Flow meter = 1 buah
y Manometer = 4 buah
y Bed = 2 buah
y Kompresor = 1 buah
y Plat distributor = 2 buah
16

Menghitung
b
D
y Pompa air kecil = 1 buah
y Thermometer digital = 2 buah
y Thermostart = 1 buah
y Saluran udara = 2 buah
y Reduser = 2 buah
y Gate valve = 1 buah
y Bak air = 1 buah
y Pasir silika
















3.4 Diagram Langkah ± Langkah Penelitian





Variasi ukuran partikel dan kecepatan
fluidsasi
Menyiapkan alat
dan bahan
17

d
p1
, d
p2
, d
p,

Menghitung
b
U ,
b
D


















Gambar 3.3 Diagram langkah-langkah penelitian










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Awal Pengujian Alat Fluidisasi
Sebelum melakukan perhitungan, terlebih dahulu dilakukan percobaan untuk
mengetahui data-data awal seperti diameter rata-rata pasir silika (D
p
) dengan cara
Mencatat data
P dan h
Analisa grafik perbandingan ukuran partikel dan kecepatan
fluidisasi terhadap penurunan tekanan, tinggi hamparan
U
1
,U
2,
U
3
kesimpulan
18

mengayak pasir silika dengan menggunakan ayakan dengan ukuran 0,63 dan 0.82mm.
Kemudian pasir hasil ayakan akan diambil data kerapatan butiran pasir silika (ȡ
p
),
kerapatan pada hamparan (
b
p ), porositas minimum pasir silika (İ
M
), kebolaan dari
partikel yang dapat dilihat dalam lampiran.
4.1.1 Data Awal Pengujian
Adapun hasil data-data awal yang dimaksud di atas dari pengujian alat
fluidisasi ini adalah sebagai berikut :
- Diameter rata-rata butiran partikel (D
p
) = 0,63 mm = 0,00063 m
- Diameter rata-rata butiran partikel (D
p
) = 0,82 mm = 0,00082 m
- Sferisitas (1
s
) pasir = 0,74 (Lee and Rainforth 1994)
- Kerapatan butiran pasir silica (ȡ
p
) = 2500 kg/m
3

- Kerapatan gas (ȡ
g
) temperatur 27
0
C = 1,16 kg/m
3

- Tinggi hamparan pasir silika (H) = 10 cm = 0,1 m
-
Viskositas gas (Q) temperature 27
0
C = 1,84 x 10
-5
kg.m
-1
.s
-1
-
percepatan gravitasi (g) = 9,81 m/dt
2

4.2 Menghitung Kerapatan Hamparan (
b
p )
Dalam menghitung kerapatan hamparan dipergunakan persamaan (2.6)
- Kerapatan pada hamparan (
b
p ) pasir silika diameter 0,63 mm:
Diketahui:
D
p
= 0,63 mm = 0,00063 m
m = 0,2489 kg
v = 167 ml
Sehingga :
v
m
b
= p =
ml 167
kg 0,2489
= 0,001491 kg/ml = 1491 kg/m
3

- Kerapatan pada hamparan (
b
p ) pasir silika diameter 0,82 mm:
Diketahui:
D
p
= 0,82 mm = 0,00082 m
m = 0,258 kg
19

v = 167 ml
Sehingga :
v
m
b
= p =
ml 167
kg 0,258
= 0,001545 kg/ml = 1545 kg/m
3

4.3 Menghitung Kecepatan Minimum fluidisasi
4.3.1 Kecepatan Minimum fluidisasi Pada Diameter Pasir 0,63 mm
Dalam menghitung kecepatan minimum fluidisasi, terlebih dahulu kita akan
menghitung fraksi ruang kosong yang terjadi dalam hamparan digunakan persamaan
(2.5) :

¦
¦
'
+

'

=
p
b
mf
p
p
s 1
¦
'
+

'

=
2500
1491
1
= 0,411
Untuk menentukan bilangan Archimedes digunakan persamaan (2.1) :

2
3
) (
) (
Q
p p p
g p g
Dp g
Ar
- - -
=

2 5
3 6
) 10 84 . 1 (
) 1,16 2500 ( 1,16 ) 10 630 ( 81 , 9

-
- - - -
= Ar
= 21001,55
Koefisien Re
mf
dan
2
Re
mf
pada persamaan adalah sebagai berikut:

3 2
) 1 ( 150
Re
mf
mf
mf
s o
s
-

=

3 2
411 , 0 74 , 0
) 411 , 0 1 ( 150
-

=
= 2392,77
o s -
=
3
2
75 , 1
Re
mf
mf


74 , 0 411 , 0
75 , 1
3
-
=
20

= 34,59
Persamaan selanjutnya menjadi bentuk kuadrat:
0 55 , 21001 Re 77 , 2392 Re 59 , 34
2
= +
mf mf

yang penyelesaiannya adalah Re
mf
= -77.06 atau +7.88, dimana hanya akar
positif yang secara fisik dapat diterima.
Dari hasil persamaan Re
mf
di atas sehingga didapatkan kecepatan
minimum fluidisasi :

) 10 630 ( 16 , 1
) 10 84 , 1 ( 88 , 7
6
5

- -
- -
=
mf
U
= 0,196 m/s
4.3.2 Kecepatan Minimum fluidisasi Pada Diameter Pasir 0,82 mm
Dengan langkah-langkah yang sama seperti diatas kita bisa mendapatkan
kecepatan minimum fluidisasi pada diameter pasir silika 0,82 mm, sehingga untuk
menentukan fraksi ruang kosong digunakan persamaan (2.5):

¦
¦
'
+

'

=
p
b
mf
p
p
s 1
¦
'
+

'

=
2500
1545
1
= 0,382
Untuk menentukan bilangan Archimedes digunakan persamaan (2.1) :

2
3
) (
) (
Q
p p p
g p g
Dp g
Ar
- - -
=

2 5
3 6
) 10 84 , 1 (
) 1,16 2500 ( 1,16 ) 10 820 ( 81 , 9

-
- - - -
= Ar

Ar = 46309,6
Koefisien Re
mf
dan
2
Re
mf
pada persamaan adalah sebagai berikut:

3 2
) 1 ( 150
Re
mf
mf
mf
s o
s
-

=
21


3 2
382 , 0 74 , 0
) 382 , 0 1 ( 150
-

=
= 3120,64
o s -
=
3
2
75 , 1
Re
mf
mf


74 , 0 382 , 0
75 , 1
3
-
=
= 43
Persamaan selanjutnya menjadi bentuk kuadrat:
0 6 , 46309 Re 64 , 3120 Re 43
2
= +
mf mf

yang penyelesaiannya adalah Re
mf
= -85,202 atau + 12,64, dimana hanya akar
positif yang secara fisik dapat diterima.
Dari hasil persamaan Re
mf
di atas sehingga didapatkan kecepatan minimum
fluidisasi:

) 10 820 ( 16 , 1
) 10 84 , 1 ( 64 , 12
6
5

- -
- -
=
mf
U
= 0,242 m/s

4.4 Data Hasil Pengujian Alat Fluidisasi
Pengujian pada alat fluidisisasi ini dilakukan sebanyak empat kali pengujian
dengan variasi diameter partikel yang berbeda, dimana setiap Pengambilan data setiap
ukuran partikel dilakukan tiga kali dalam satu volume rate yaitu pada detik 10, 20 dan
30. Berikut ini merupakan tabel yang menunjukkan perolehan data penelitian berupa
pengaruh variasi flowrate udara terhadap tinggi hamparan dan perubahan tekanan
pada bed. Pengujian ini dilakukan untuk membuktikan teori tentang tahapan fluidisasi
serta grafik penurunan tekanan dan tinggi hamparan versus kecepatan semu di dalam
hamparan zat padat (McCabe.,et al,1989). Data hasil percobaan alat fluidisasi dapat
dilihat dalam tabel percobaan berikut ini :
4.4.1 Data Pengujian Untuk Diamter Pasir 0,63 mm
22

Tabel 4.1 Data hasil percobaan dengan variasi kecepatan udara terhadap tinggi
hamparan (H), Tekanan sebelum plat distributor (
1
P ) dan Tekanan setelah
plat distributor (
2
P ) pada pasir dengan diameter 0,63 mm.
q (lt/menit) Waktu
percobaan
detik ke
Tinggi
hamparan (H)
cm
Tekanan sebelun
plat distributor (P
1
)
mmHg
Tekanan setelah
plat distributor (P
2
)
mmHg
0 0 10 0 0
5 10 10 4 2
20 10 4 2
30 10 4 2
10 10 10 6 3
20 10 6 3
30 10 6 3
15 10 10 10 5
20 10 10 5
30 10 10 5
20 10 10,5 12 6
20 10,5 11 7
30 10,5 13 6
25 10 11 12 7
20 11 11 6
30 11 11 6
30 10 12 11 7
20 12 11 6
30 12 12 7
35 10 13 11 6
20 13 12 7
30 13 11 6
40 10 14 13 8
20 14 12 7
30 14 11 6
45 10 16 11 6
23

20 16 11 6
30 16 12 7
Dari data hasil pengujian alat fluidisasi di atas, maka selanjutnya akan diambil
rata-rata untuk setiap volume rate kemudian dihitung kecepatan semu dari tiap-tiap
volume rate. Namun sebelumnya harus dilakukan beberapa perhitungan untuk
mendapatkan kecepatan semu fluidisasi (U
o
) dalam proses percobaan.
Mengkonversikan satuan pada flow meter udara
Pada tahap ini kita merubah satuan flow meter udara dari liter/menit
menjadi m
3
.det
-1
seperti yang terlihat pada contoh berikut ini :
Pada flow meter udara menunjukkan 20 lt/menit maka (q) adalah:
20 lt = 20 dm
3
= 0,02 m
3
1 menit = 60 detik
sehingga (q) 20 lt.menit
-1
= 0,000333 m
3
/det
Menghitung kecepatan semu (Uo).
Setelah kita konversikan satuan dan mengetahui luas tabung fluidisasi (A),
langkah selanjutnya menghitung kecepatan semu (U
o
) dengan
menggunakan persamaan berikut:
Dimana : q = 20 lt/menit = 0,000333 m
3
det
-1
A = 0,00166 m
2


A
q
U =
0


m
m
00166 , 0
det . 000333 , 0
1 3
=
= 0,2008 m/det
Menghitung penurunan tekanan (
b
P ) dengan menggunakan alat ukur.
Alat ukur yang digunakan untuk penelitian ini adalah preasure gauge dengan
satuan mmHg, untuk mempermudah dalam perhitungannya nanti maka kita harus
mengkonversikan dalam satuan SI. Dimana setiap 1 mmHg sama dengan 133,3 N/m
2
.
24

Dari tabel data yang diperoleh dari percobaan diatas Hasil perhitungan
kecepatan semu (U
o
) dengan diameter pasir 0,63 mm akan ditampilkan dalam tabel
berikut :
Tabel 4.2 Hasil perhitungan kecepatan semu (U
o
) terhadap rata-rata tinggi hamparan
(H), tekanan sebelum plat distributor (
1
P ), tekanan setelah plat distributor
(
2
P ) dan selisih penurunan tekanan ( P A ) dari percobaan pada diameter
pasir 0,63 mm.
U
o
(m/det) H (cm)
1
P (N/m
2
)
2
P (N/m
2
) P A (N/m
2
)
0 10 0 0 0
0,05 10 533,2 266,6 266,6
0,10 10 666,5 399,9 399,9
0,15 10 1333 666,5 666,5
0,20 10,5 1376,9 844,2 532,7
0,25 11 1510,3 844,2 666,1
0,30 12 1510,3 888,7 621,6
0,35 13 1510,3 844,2 666,1
0,40 16 1554,3 888,7 621,6
0,45 18 1510,3 844,2 666,1

Berikut ini adalah grafik penurunan tekanan versus kecepatan semu dari tabel rata-
rata pengujian alat fluidisasi di atas pada diameter pasir silika 0.63 mm.
25

Grafik kecepatan semu terhadap tekanan pada diameter pasir 0,63 mm
0
2
4
6
8
10
12
14
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45
Kecepatan semu, Uo (m/dt)
T
e
k
a
n
a
n
,
P
(
m
m
H
g
)
P1
P2

Grafik 4.1 Grafik hubungan antara variasi kecepatan semu (Uo) terhadap perubahan
penurunan tekanan di bawah plat distributor (
1
P ) dan di atas plat
distributor (
2
P ) dengan diameter pasir silika 0,63 mm.

Dari grafik di atas bisa dilihat peningkatan tekanan yang terjadi di atas plat
disrtributor dan di bawah plat distributor. Dari kecepatan udara 0 m/dt tekanan terus
meningkat sampai kecepatan udara 0,2 m/dt, hal ini disebabkan karena hamparan
belum terfluidisasi. Dari kecepatan udara 0,21 m/dt sampai 0,45 m/dt tekanan
mendekati keadaan konstan karena hamparan telah terfluidisasi. Di atas plat
distributor tekanan yang terjadi hanya pada hamparan saja. Sedangkan tekanan di
bawah plat distributor lebih besar karena merupakan penjumlahan dari tekanan yang
terjadi pada hamparan dan tekanan di bawah plat distributor.
Berikut ini adalah grafik selisih antara tekanan di bawah plat distributor (
1
P )
dan di atas plat distributor (
2
P ) dengan variasi kecepatan udara.
26

Grafik pengaruh kecepatan udara terhadap penurunan tekanan pada
pasir 0,63 mm
0
100
200
300
400
500
600
700
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45
Kecepatan semu, Uo(m/dt)
T
e
k
a
n
a
n

(
N
/
m
2
)
¨P

Grafik 4.2 Grafik hubungan antara variasi kecepatan semu (Uo) terhadap perubahan
penurunan tekanan ( P A )dengan diameter pasir silika 0,63 mm.

4.4.2 Data Pengujian Untuk Diameter Pasir 0,82 mm
Tabel 4.3 Data hasil percobaan dengan variasi kecepatan udara terhadap tinggi
hamparan (H), Tekanan sebelum plat distributor (
1
P ) dan setelah plat
distributor (
2
P ) pada pasir dengan diameter 0,82 mm.
q (lt/menit) Waktu
percobaan
detik ke
Tinggi
hamparan (H)
cm
Tekanan sebelun
plat distributor
(
1
P ) mmHg
Tekanan setelah
plat distributor
(
2
P ) mmHg
0 0 10 0 0
5 10 10 5 2
20 10 5 2
30 10 5 2
10 10 10 6 3
20 10 6 3
30 10 6 3
27

15 10 10 10 4
20 10 10 4
30 10 10 4
20 10 10 12 8
20 10 12 8
30 10 12 8
25 10 10,5 12 8
20 10,5 12 8
30 10,5 12 8
30 10 11,5 11 7,5
20 11,5 11 7,5
30 11,5 11 8
35 10 12,5 11 7
20 12,5 11 7
30 12,5 11 7
40 10 13,5 11 7
20 13,5 11 7
30 13,5 12 8
45 10 16 11,5 7,5
20 16 12 7,5
30 16 11 7

Berikut ini adalah hasil perhitungan rata-rata kecepatan semu dan tekanan dari data
hasil percobaan di atas :
Tabel 4.4 Hasil perhitungan kecepatan semu (Uo) terhadap rata-rata tinggi
hamparan (H), tekanan di bawah plat distributor (
1
P ) dan tekanan di atas
plat distributor (
2
P )dan selisih penurunan tekanan ( P A ) dari data
penelitian yang telah dilakukan pada diameter pasir 0,82 mm.
U
o
(m/det) H (cm)
1
P (N/m
2
)
2
P (N/m
2
) P A (N/m
2
)
0 10 0 0 0
0,05 10 666,5 266,6 266,6
0,10 10 799,8 399,9 266,6
28

0,15 10 1333 533,2 799,8
0,20 10 1599,6 1066,4 533,2
0,25 11,5 1599,6 1066,4 533,2
0,30 12,5 1466 999,8 466,2
0,35 13,5 1466 933,1 532,9
0,40 15,5 1466 933,1 532,9
0,45 18 1466 999,8 466,2

Berikut ini adalah grafik peningkatan tekanan versus kecepatan semu dari
tabel rata-rata pengujian alat fluidisasi pada diameter pasir silika 0,82 mm.
Grafik kecepatan semu terhadap tekanan pada pasir 0,82mm
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
1600
1800
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45
Kecepatan semu,Uo (m/dt)
T
e
k
a
n
a
n
,
P

(
N
/
m
2
)
P1
P2

Grafik 4.3 Grafik hubungan antara variasi kecepatan semu (Uo) terhadap
perubahan peningkatan tekanan di bawah plat distributor (
1
P ) dan di
atas plat distributor (
2
P ) dengan diameter pasir silika 0,82mm

Dari grafik di atas bisa dilihat peningkatan tekanan yang terjadi di atas plat
disrtributor dan di bawah plat distributor. Peningkatan tekanan terjadi dari kecepatan
29

udara 0 m/dt sampai 0,25 m/dt, karena kecepatan superfisial belum mampu
mengangkat berat dari hamparan material. Pada saat hamparan partikel telah
terfluidisasi tekanan menjadi stabil. Di atas plat distributor tekanan yang terjadi hanya
pada hamparan saja. Sedangkan tekanan di bawah plat distributor lebih besar karena
merupakan penjumlahan dari tekanan yang terjadi pada hamparan dan di bawah plat
distributor.
Berikut ini adalah grafik selisih antara tekanan di bawah plat distributor (
1
P )
dan di atas plat distributor (
2
P ) dengan variasi kecepatan udara.
Grafik Pengaruh kecepatan semu terhadap penurunan tekanan pada
pasir 0.82 mm
0
100
200
300
400
500
600
700
800
900
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45
Kecepatan semu,Uo(m/dt)
T
e
k
a
n
a
n
,
P
(
N
/
m
2
)
¨P

Grafik 4.4 Grafik hubungan antara variasi kecepatan semu (Uo) terhadap perubahan
penurunan tekanan ( P A )dengan diameter pasir silika 0,82 mm.

4.4.3 Perbandingan Data Dari Pengaruh Kecepatan Semu Terhadap Tinggi
Hamparan Dari Masing-Masing Diameter Partikel.
Jika fluida dihembuskan pada hamparan fluidisasi, menyebabkan partikel
bergerak naik ke atas. Tinggi hamparan partikel akan berbeda apabila kecepatan
fluida yang dihembuskan terus ditingkatkan.
30

Berikut adalah grafik kecepatan semu terhadap perbedaan tinggi hamparan
dari masing-masing ukuran partikel pada pengujian alat fluidisasi :

Grafik 4.5 Grafik kecepatan semu terhadap perbedaan tinggi hamparan dari masing-
masing ukuran partikel.

Dari grafik 4.5 dapat dilihat dengan kecepatan udara yang sama terjadi
perbedaan tinggi hamparan dari setiap ukuran partikel. Secara umum hal ini
disebabkan oleh perbedaan ukuran partikel. Pada kecepatan 0,18 m/dt hamparan pasir
baru terangkat. Kemudian pasir dengan ukuran diameter 0,63 mm dan pasir dengan
ukuran diameter 0,82 mm yang tinggi hamparannya paling rendah, hal ini disebabkan
Karena berat dari ukuran pasir 0,82 mm lebih besar dibandingkan ukuran dan jenis
partikel lain sehingga sulit dihembuskan oleh fluida seperti terlihat pada grafik diatas.






31

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari data hasil pengujian pada alat fluidisasi dengan variasi diameter pasir
silika dengan ketinggian hamparan minimal 0,1 m seperti yang dijelaskan pada bab
sebelumnya dapat disimpulkan bahwa :
y Jika kecepatan udara (
o
U ) terus menerus ditingkatkan maka tinggi hamparan
partikel (H) akan semakin tinggi.
y Jika kecepatan udara (
o
U ) berangsur-angsur ditingkatkan maka penurunan
tekanan( P A ) yang terjadi akan terus meningkat. Pada kecepatan udara
tertentu partikel akan terfluidisasi menyebabkan penurunan tekanan akan
menjadi konstan. Jika kecepatan udara masih terus ditingkatkan, penurunan
tekanan akan tetap konstan.
y Semakin besar ukuran diameter partikel dan massa dari partikel maka
diperlukan kecepatan udara yang tinggi untuk memulai proses fluidisasi.

BAB II DASAR TEORI
2.1 Fluidisasi Fluidisasi biasa digunakan untuk memeriksa keadaan partikel yang seluruhnya dalam keadaan melayang (suspensi), karena suspensi ini berlaku seakan- akan fluida rapat. Fluidisasi dapat didefinisikan sebagai suatu operasi dimana hamparan zat padat diperlakukan seperti fluida yang ada dalam keadaan berhubungan dengan gas atau cairan (basu, 1991). Di dalam kondisi terfluidisasi, gaya gravitasi pada butiran ± butiran zat padat diimbangi oleh gaya seret dari fluida yang bekerja padanya. Bila zat cair atau gas dilewatkan melalui lapisan hamparan partikel pada kecepatan rendah, partikel itu tidak bergerak. Jika kecepatan fluida berangsur ± angsur naik, partikel itu akhirnya akan mulai bergerak dan melayang di dalam fluida, serta berprilaku seakan ± akan seperti fluida rapat.

Gambar 2.1 Karakteristik fluidized bed (Basu & Fraser, 1991)

Jika hamparan itu dimiringkan, permukaan atasnya akan tetap horizontal, dan benda-benda besar akan mengapung atau tenggelam di dalam hamparan itu tergantung pada perbandingan densitas dari partikel tersebut.

2

Pada fluidisasi minimum, hamparan banyak memiliki pseudo-liquid. Peningkatan selanjutnya pada aliran gas menyebabkan gas ekstra mengalir pada gelembung yang disebut fase emulsi. Pada proses pengkonversian energi dengan teknologi FBC, awalnya ruang bakar dipanasi secara eksternal sampai mendekati temperatur operasi. Material hamparan (Bed Material) fluidisasi yang lumrah dipakai untuk mengabsorbsi panas adalah pasir silika. Pasir silika dan bara api bahan bakar bercampur dan mengalami turbulensi di dalam ruang bakar sehingga keseragaman temperatur sistem menjadi terjaga. Kondisi ini mampu memberikan garansi konversi energi yang baik. Selanjutnya, dengan bidang kontak panas yang luas disertai turbulensi partikel fluidisasi yang cepat menyebabkan FBC teknologi bisa diaplikasikan untuk mengkonversi segala jenis bahan bakar bahkan dengan ukuran yang tidak seragam. Kwalitas fluidisasi adalah faktor paling utama yang mempengaruhi efisiensi sistem FBC. Beberapa penelitian untuk mengontrol kwalitas fluidisasi telah dilakukan dengan merubah kecepatan masuk fluidisasi pada limit tertentu sesuai dengan besarnya ukuran partikel pentransfer panas yang digunakan.

Gambar 2.2

Boiler FBC (Coal Science Handbook, 2005)

3

Jika kecepatan itu berangsur ± angsur dinaikan. sebagaimana terlihat dalam gambar 2. Pada kecepatan tertentu. Kondisi ini disebut fixed beds. penrunan tekanan melintasi hamparan itu akan mengimbangi gaya gravitasi yang dialaminya.2 Tahapan Fluidisasi Perhatikanlah suatu gambar tabung vertikal yang sebagian berisi dengan bahan butiran.1989) Udara dimasukan dibawah plat distributor (penyebar udara) dengan laju lambat. dan naik keatas melalui hamparan tanpa menyebabkan terjadinya gerakan pada partikel. misalnya katalis untuk proses perengkahan katalik. U0 Gambar 2. penurunan tekanan akan meningkat tetapi partikel ± partikel itu akan masih tetap tidak bergerak dan tinggi hamparanpun tidak berubah. aliran didalam saluran ± saluran diantara hamparan itu akan sebanding dengan kecepatan semu U0. Jika partikel itu cukup kecil. Jika kecepatan 4 . tabung itu turbelen pada bagian atas dan mempunyai plat berpori pada bagian bawah untuk mendukung katalis itu serta untuk menyebarkan aliran uadara secara seragam pada seluruh penampang.3.3 Penurunan tekanan dan tinggi hamparan vs kecepatan semu di dalam hamparan zat padat (McCabe.al.2. Hamparan Tetap Hamparan Fluidisasi C Pen uru nan T ekan an d an T in g g i H a m p a r a n L B A L Bobot Hamparan Udara umf Kecepatan Semu.at.

3. Tahapan ini disebut dengan Turbulent Bed. fluidisasi dapat dibedakan menjadi 2 jenis: 2. Jika kecepatan fluida ditingkatkan lagi maka hamparan akan berubah menjadi bergolak. partikel ± partikel itu akan memisah dan menjadi cukup berjauhan satu sama lain sehingga dapat berpindah ± B). Perilaku hamparan fluidisasi sangat bergantung pada kapasitas dan besarnya gelembung gas. penururnan tekanan melintasi hamparan konstan. Titik ini digambarkan oleh titik A pada grafik. Tahap ini disebut dengan Sluging. partikel itu akan mulai bergerak. jenis partikel serta kecepatan aliran gas. Pada fludisasi partikulat. Gelembung ± gelembung cenderung bersatu dan menjadi besar (Slugs) pada waktu naik melalui hamparan fluidisasi.3 Jenis ± Jenis Fluidisasi Berdasarkan jenis fluida yang digunakan. mengikuti garis BC. 2. Jika kecepatan itu terus ditingkatkan lagi. Jika laju aliran kehamparan fluidisasi itu berkurang. 2.3.masih dinaikan lagi.partikel-partikel itu bergerak menjauh satu sama lain dan gerakannya bertambah hebat dengan meningkatnya kecepatan. ekspansi hamparan yang terjadi cukup besar dan seragam pada kecepatan tinggi. Pada kondisi ini semua partikel dalam hamparan tersebut akan terbawa ikut mengalir bersama gas saat dialirkan gas pada kecepatan tinggi. Gas mengalir melalui hamparan dalam bentuk gelembung atau ronggarongga kosong yang tidak berisikan zat padat dan hanya sebagian kecil gas itu 5 . Pada saat hamparan itu sudah terfluidisasi.1 Fluidisasi Partikulat (particulate fluidization) Fluidisasi partikulat adalah jenis fluidisasi yang menggunakan zat cair sebagai fluidanya.2 Fluidisasi Gelembung (bubbling fluidization) Fluidisasi gelembung adalah jenis fluidisasi yang menggunakan udara sebagai fluidanya. tetapi tinggi hamparan bertambah terus apabila aliran ditingkatkan lagi (Bubbling Fluidized Bed). tetapi densitas hamparan rata-rata pada suatu kecepatan tertentu sama disegala arah hamparan (seragam).

3 Packed Bed / Fixed Bed Packed bed merupakan suatu keadaan dimana gas yang dialirkan atau dihembuskan ke hamparan partikel dan terjadi penurunan tekanan namun hamparan itu tetap diam dan stasioner pada penyangga plat distributor. Gambar 2. Karena itu fluidisasi jenis ini kadang-kadang dinamakan dengan istilah hamparan didih (boiling bed). Di bawah ini contoh gambar fluidisasi gelembung. Dibawah ini contoh gambar /fenomena fixed bed. Gambar 2.5 Fixed bed (Basu & Fraser. Gelembung yang terbentuk berperilaku hampir seperti gelembung udara didalam air atau gelembung uap didalam zat cair yang mendidih.mengalir dalam saluran-saluran yang terbentuk diantara partikel. 1991) 6 .4 Fluidisasi gelembung 2.3.

1986).3. Gelembunggelembung yang bersatu dan bertambah besar waktu naik melalui hamparan fluidisasi itu dan ukuran maksimum gelembung stabil antara beberapa inci sampai beberapa kaki diameternya.rata gelembung bergantung pada jenis dan ukuran partikel.5 Turbulent Beds Bila kecepatan gas melewati gelembung fluidized bed meningkat di atas kecepatan minimal gelembung dan terjadi perluasan hamparan dan terjadi peningkatan dalam pecahan gelembung.6 Slugging (Basu & Fraser.3.akan sumbat. kecepatan kosong.4 Slugging (penyumbatan) Ukuran rata. 1991) Hal terpenting pada kondisi slugging adalah ukuran gelembungnya tetap maksimum (Dbmax) harus lebih besar dari 0. 1991). (Geldart.gelembung yang beriringan lalu bergerak ke puncak kolom terpisah oleh zat padat yang seakan. Jika kita menggunakan kolom berdiameter kecil dengan hamparan zat padat yang tebal. 2. Gelembung.2. dan tebalnya hamparan. Di bawah ini merupakan contoh gambar sluging: Gambar 2. sebuah perluasan dari fase emulsi (Nakajima. maka hamparan akan berubah menjadi bergolak.6 diameter hamparan. Peristiwa ini disebut penyumbatan atau slugging. gelembung itu mungkin mungkin berkembang memenuhi seluruh penampang. Pada kondisi ini semua partikel dalam hamparan tersebut akan terbawa ikut mengalir bersama gas saat 7 . jenis plat distributor. Namun slugging tidak terjadi disemua hamparan.

7 Turbelent bed.g . (Basu & Fraser. Berikut ini adalah gambar diagram amplitude fluktuasi tekanan pada turbelent fluidization.d p .4 Kecepatan Minimum Fluidisasi Kecepatan fluidisasi dapat ditentukan dengan persamaan (McCabe.6 Fast Fluidized Bed Dalam konteks penggunaannya di CFB boiler.3.dialirkan gas pada kecepatan tinggi. fast fluidized bed didefinisikan sebagai dimana partikel yang dialirkan gas yang berkecepatan tinggi diatas kecepatan terminal satu partikel yang menyebabkan partikel kembali kebagian bawah ruang bakar/ perapian pada tingkat yang cukup tinggi sehingga terjadi keseragaman suhu di ruang bakar. 1991) 2.et. 2.1989) « * s .al. Gambar 2.

Dengan NRe. kecepatan fluidisasi dihitung dengan persamaan berikut: Bilangan Archimedes: Ar ! V f . hanya suku aliran laminar pada persamaan Ergun yang signifikan.75V f ¬ ­ u mf » ¼ (m/dt) ¼ ½ (2. p  V f mf V I3 !¬ 1. p< 1 atau ukuran partikel lebih kecil dari 1 mm.1) Untuk partikel yang sangat kecil.

V f n .d m V g 3 Q2 f 8 . p .

Ar ! 150 .

75 Re mf * 3 E mf U mf ! Dimana: Re mf . I 1 mf * E mf 3 Re mf  1.

v.4) u = Kecepatan Superficial (m/dt). yang terjadi di hamparan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (King. f Q V f .1989) : I ! Dimana : (2. .v didefinisikan sebagai kecepatan massa udara (G) yang melalui tabung aliran tersebut. Fraksi volume ruang kosong u 1 u2 . Kecepatan massa dihitung dengan membagi laju aliran massa dengan luas penampang saluran.2) *s g Dp Vp Vf I mf Laju aliran massa udara yang melalui suatu luas pada penampang tabung aliran adalah : m ud ! V g . Dimana V g .3) Dimana : m ud = Laju aliran massa udara ( kg/dt) R A = Kecepatan rata ± rata udara dalam saluran (m/dt) = Luasan penampang saluran (m2) Persamaan tersebut berlaku baik untuk fluida mampu mampat maupun yang tak mampu mampat. (2. 9 . A .D p u mf (m/dt) = Kecepatan Fluidisasi minimum (m/dt) = Sferisitas atau kebolaan = Percepatan gravitasi (m/dt2) = Diameter partikel (m) = Densitas partikel (kg/m3) = Densitas Udara (kg/m3) = Porositas minimum untuk fluidisasi (2.

7 w v (N/m3) (2.6 m v (kg/m3) (2. y ! V. Namun mengingat sulitnya menemukan butiran partikel yang seragam maka akan dipergunakan ukuran rata-rata partikel.5) 2. (Sudarja 2002) V! 2. Dalam dunia industri. (Sudarja 2002). d Dimana : m !§ .Atau v V I ! 1 V Kerapatan ( ) I ! 1  vs b b p (2. Bentuk partikel irigular dan dalam pengoperasian diperlukan ukuran partikel yang seragam. atau merupakan perkalian dari kerapatan dan percepatan gravitasi bumi.7) Ukuran Dan Bentuk Partikel Bila partikel dalam bentuk butiran maka ukurannya dapat dihitung berdasarkan diameternya.6) Berat Jenis ( ) Berat jenis suatu zat adalah berat persatuan volume zat tersebut.g ! 2.partikel butiran sangat sulit ditemukan. Dapat juga diartikan sebagai ukuran untuk konsentrasi zat tersebut.5 Kerapatan (density) adalah massa per satuan volume.

8) xi = fraksi massa partikel xi ! Maka. xi di 1 (m) (2. ni .

d i2 ! di 6v s Vs = volume partikel solid 10 .T .T / 6 d i2 vs xi ni .

s v (2.8 Sphericity Properti fisik partikel solid Sferisitas atau kebolaan (sphericity) * ialah luas permukaan butiran yang bervolume sama dengan dengan partikel dibagi luas permukaan sebenarnya dari partikel.Sv (2.9) Gambar 2.10) Dimana : Vp = volume satu partikel (ft2 atau m3) Dp adalah diameter partikel yang mempunyai volume sama seperti luasan permukaan partikel W p Wp! Sehingga.12) p = volume satu partikel (ft2 atau m3) * = kebolaan 11 . *! 6 d p . vp ! Td 3 p 6 (2.11) Dimana : Sv : Luas permukaan per unit volume.¸ ¨ T Vs ! § © ni d i3 ¹ ª 6 º (2.13 2. Td 3 p 6 .

9 Penurunan Tekanan Apabila partikel yang dalam keadaan diam pada sebuah penampang dialirkan tekanan fluida maka akan terjadi penurunan tekanan atau terjadi tekanan balik. namun jika kecepatan fluida perlahan-perlahan diturunkan penurunan tekanan akan tetap sama. Jika partikel sudah terfluidisasikan penurunan tekanan melintas hamparan akan tetap konstan.Sv = Luas permukaan per unit volume. Penurunan tekanan pada kecepatan rendah lebih kecil dibandingkan hamparan-diam semula. Penurunan tekanan itu akan terus meningkat seiring meningkatnya aliran fluida pada partikel. Berikut adalah persamaan penurunan tekanan: (pb . dp = Diameter partikel 2.

1  I 2 . Q f U  1.75 .

V f U 2 ! 150 L *d m I2 I3 .1  I 2 .

*d m 2 (Pb = penurunan tekanan (2.13) Dimana : I L = porositas = tinggi total hamparan V p = densitas partikel (kg/m3) V f = densitas udara H = Tinggi bed 12 .

Besar kecilnya tekanan udara yang mengalir menuju hamparan akan diatur oleh bagian get valve. Tabung Fluidisasi (bed).BAB III PROSEDUR PRAKTIKUM 3. Material yang akan dilalui udara akan bergolak akibat adanya kecepatan hembusan udara yang akan menyebabkan terbentuknya rongga-rongga kosong yang tidak berisi zat padat atau gelembung-gelembung udara (bubble). 13 . Selain sebagai penyangga material. 4. plat distributor juga berfungsi untuk meratakan pendistribusian tekanan kehamparan. 2. Preasure gauge.1 Diskripsi Alat Proses fluidisasi dengan sistem cold fluidzed bed dilakukan dengan cara mengalirkan udara dengan kecepatan di atas kecepatan fluidisasinya dengan menggunakan kompresor. Adapun spesifikasi alat dari sistem cold fluidzed bed adalah sebagai berikut : 1. Bahan yang digunakan adalah akrilik bening. Berfungsi untuk mengukur tekanan udara yang ada di dalam hamparan. pada bagian ini berfungsi untuk memonitor penggunaan udara dari kompresor. Kemudian udara mengalir melewati bagian digital flowmeter. Udara tersebut kemudian dihembuskan melewati hamparan material yang telah ditempatkan pada sebuah tabung silinder penampung material (bed) yang terbuat dari akrilik dan disangga oleh plat distributor. Berfungsi sebagai penyangga material dan meratakan pendistribusian tekanan udara kehamparan. 3. Kerangka. Plat distributor dilengkapi dengan kisi-kisi (orifis) sebagai laluan udara menuju hamparan material yang akan difluidisasikan. Plat Distributor. Pemilihan material ini bertujuan untuk melihat secara langsung pergerakan partikel-partikel dari proses fluidisasi sehingga terbentuk terbentuknya rongga-rongga kosong yang tidak berisi zat padat atau gelembung-gelembung udara (bubble). Berfungsi sebagai tempat dari partikel-partikel yang akan difluidisasikan. Berfungsi sebagai penopang dari keseluruhan kontruksi lainnya.

5.1 Skematik alat fluidisasi Keterangan : 1. Kompresor 6. Kerangka 5. Digital Flowmeter memiliki layar LED yang secara langsung menunjukkan besaran jumlah udara pada pipa. 6. Bed 3. Plat distributor 2. Digital Flowmeter. Berfungsi untuk memberikan tekanan udara pada sistem fluidisasi ini. Kompresor. Preasure gauge 4. Gambar 3. Berfungsi untuk mempermudah dalam memonitor penggunaan uadara dari kompresor yang dipasang pada pipa saluran udara. Flow meter 14 .

2 Alat fluidisasi sistem cold fluidized bed 3.2 Alat Uji Fluidisasi Berikut adalah gambar keseluruhan alat fluidisasi : Gambar 3.3 Alat Dan Bahan y y y y y Flow meter Manometer Bed Kompresor Plat distributor = 1 buah = 4 buah = 2 buah = 1 buah = 2 buah 15 .3.

4 Diagram Langkah ± Langkah Penelitian Menyiapkan alat dan bahan Variasi ukuran partikel dan kecepatan Menghitung Db fluidsasi 16 .y y y y y y y y Pompa air kecil Thermometer digital Thermostart Saluran udara Reduser Gate valve Bak air Pasir silika = 1 buah = 2 buah = 1 buah = 2 buah = 2 buah = 1 buah = 1 buah 3.

tinggi hamparan kesimpulan Gambar 3. Db Analisa grafik perbandingan ukuran partikel dan kecepatan fluidisasi terhadap penurunan tekanan. dp2. terlebih dahulu dilakukan percobaan untuk mengetahui data-data awal seperti diameter rata-rata pasir silika (Dp) dengan cara 17 . dp. Mencatat data P dan h U1.U2.1 Data Awal Pengujian Alat Fluidisasi Sebelum melakukan perhitungan.U3 Menghitung U b .dp1.3 Diagram langkah-langkah penelitian BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.

82 mm Sferisitas (*s ) pasir Kerapatan butiran pasir silica ( p ) Kerapatan gas ( g = 0.1 Data Awal Pengujian Adapun hasil data-data awal yang dimaksud di atas dari pengujian alat fluidisasi ini adalah sebagai berikut : M ). kebolaan dari Diameter rata-rata butiran partikel (Dp ) = 0.258 kg 18 .00082 m = 0.2489 kg m = = 0. porositas minimum pasir silika ( partikel yang dapat dilihat dalam lampiran.16 kg/m3 = 10 cm = 9.63 mm: Diketahui: Dp = 0.mengayak pasir silika dengan menggunakan ayakan dengan ukuran 0.1. 4. Kemudian pasir hasil ayakan akan diambil data kerapatan butiran pasir silika ( p).63 mm Diameter rata-rata butiran partikel (Dp ) = 0. kerapatan pada hamparan ( V b ).00063 m m = 0.84 x 10-5 kg.2489 kg v Sehingga : = 167 ml Vb ! 0.00063 m = 0.63 dan 0.2 Menghitung Kerapatan Hamparan ( V b ) Dalam menghitung kerapatan hamparan dipergunakan persamaan (2.001491 kg/ml = 1491 kg/m3 v 167 ml - Kerapatan pada hamparan ( V b ) pasir silika diameter 0.63 mm = 0.74 (Lee and Rainforth 1994) = 2500 kg/m3 = 1.82 mm = 0.82 mm: Diketahui: Dp = 0.s-1 ) temperatur 27 0C Tinggi hamparan pasir silika (H) Viskositas gas (Q temperature 270 C percepatan gravitasi (g) 4.81 m/dt2 = 0.6) Kerapatan pada hamparan ( V b ) pasir silika diameter 0.82mm.1 m = 1.00082 m m = 0.m-1.

5) : ¨ V ¸ I mf ! ©1  b ¹ © Vp ¹ ª º ¨ 1491 ¸ ! ©1  ¹ ª 2500 º = 0.1 Kecepatan Minimum fluidisasi Pada Diameter Pasir 0.4113 = 2392.75 0.84 v 10 5 ) 2 = 21001.4113 v 0.3 Menghitung Kecepatan Minimum fluidisasi 4.16) (1.411) 0.75 3 I mf v J 1.3.81 v (630 v 10 6 ) 3 v 1.74 2 v 0.55 Koefisien Remf dan Re 2 pada persamaan adalah sebagai berikut: mf Re mf ! ! 150(1  I mf ) J 2 v I mf 3 150(1  0.001545 kg/ml = 1545 kg/m3 v 167 ml 4.74 ! 19 .v Sehingga : = 167 ml Vb ! 0.63 mm Dalam menghitung kecepatan minimum fluidisasi.258 kg m = = 0. terlebih dahulu kita akan menghitung fraksi ruang kosong yang terjadi dalam hamparan digunakan persamaan (2.16 v (2500  1.77 2 Re mf ! 1.1) : Ar ! Ar ! g v Dp 3 v V g v ( V p  V g ) (Q ) 2 9.411 Untuk menentukan bilangan Archimedes digunakan persamaan (2.

59 Re 2  2392.59 Persamaan selanjutnya menjadi bentuk kuadrat: 34. sehingga untuk menentukan fraksi ruang kosong digunakan persamaan (2.81 v (820 v 10 6 ) 3 v 1.16 v (2500  1.06 atau +7.1) : Ar ! Ar ! g v Dp 3 v V g v ( V p  V g ) (Q ) 2 9.3.5): ¨ V ¸ I mf ! ©1  b ¹ © Vp ¹ ª º ¨ 1545 ¸ ! ©1  ¹ ª 2500 º = 0.77 Re mf  21001.16) (1.6 Koefisien Remf dan Re 2 pada persamaan adalah sebagai berikut: mf Re mf ! 150(1  I mf ) J 2 v I mf 3 20 .88 v (1.196 m/s 4.16 v (630 v 10 6 ) = 0. Dari hasil persamaan Remf di atas sehingga didapatkan kecepatan minimum fluidisasi : U mf ! 7.= 34.84 v 10 5 ) 1.84 v 10 5 ) 2 Ar = 46309.82 mm Dengan langkah-langkah yang sama seperti diatas kita bisa mendapatkan kecepatan minimum fluidisasi pada diameter pasir silika 0. dimana hanya akar positif yang secara fisik dapat diterima.2 Kecepatan Minimum fluidisasi Pada Diameter Pasir 0.382 Untuk menentukan bilangan Archimedes digunakan persamaan (2.88.55 ! 0 mf yang penyelesaiannya adalah Remf = -77.82 mm.

Dari hasil persamaan Remf di atas sehingga didapatkan kecepatan minimum fluidisasi: U mf ! 12. 20 dan 30.382) 0. Berikut ini merupakan tabel yang menunjukkan perolehan data penelitian berupa pengaruh variasi flowrate udara terhadap tinggi hamparan dan perubahan tekanan pada bed. Data hasil percobaan alat fluidisasi dapat dilihat dalam tabel percobaan berikut ini : 4.382 3 = 3120.64. dimana hanya akar positif yang secara fisik dapat diterima.242 m/s 4.6 ! 0 yang penyelesaiannya adalah Remf = -85.75 I mf v J 3 ! 1.63 mm 21 .64 v (1.! 150(1  0.202 atau + 12.1989).75 0.16 v (820 v 10 6 ) = 0.et al..84 v 10 5 ) 1.4 Data Hasil Pengujian Alat Fluidisasi Pengujian pada alat fluidisisasi ini dilakukan sebanyak empat kali pengujian dengan variasi diameter partikel yang berbeda.64 2 Re mf ! 1. dimana setiap Pengambilan data setiap ukuran partikel dilakukan tiga kali dalam satu volume rate yaitu pada detik 10.1 Data Pengujian Untuk Diamter Pasir 0.64 Re mf  46309.74 = 43 Persamaan selanjutnya menjadi bentuk kuadrat: 2 43 Re mf  3120. Pengujian ini dilakukan untuk membuktikan teori tentang tahapan fluidisasi serta grafik penurunan tekanan dan tinggi hamparan versus kecepatan semu di dalam hamparan zat padat (McCabe.3823 v 0.4.74 2 v 0.

63 mm. Tekanan sebelum plat distributor ( P1 ) dan Tekanan setelah plat distributor ( P2 ) pada pasir dengan diameter 0.5 11 11 11 12 12 12 13 13 13 14 14 14 16 Tekanan sebelun plat distributor (P1) mmHg 0 4 4 4 6 6 6 10 10 10 12 11 13 12 11 11 11 11 12 11 12 11 13 12 11 11 Tekanan setelah plat distributor (P2) mmHg 0 2 2 2 3 3 3 5 5 5 6 7 6 7 6 6 7 6 7 6 7 6 8 7 6 6 22 .Tabel 4.1 Data hasil percobaan dengan variasi kecepatan udara terhadap tinggi hamparan (H).5 10. q (lt/menit) Waktu percobaan detik ke 0 5 0 10 20 30 10 10 20 30 15 10 20 30 20 10 20 30 25 10 20 30 30 10 20 30 35 10 20 30 40 10 20 30 45 10 Tinggi hamparan (H) cm 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10.5 10.

Setelah kita konversikan satuan dan mengetahui luas tabung fluidisasi (A).00166 m = 0.000333 m3/det  Menghitung kecepatan semu (Uo).menit -1 = 0.det-1 seperti yang terlihat pada contoh berikut ini : Pada flow meter udara menunjukkan 20 lt/menit maka (q) adalah: 20 lt = 20 dm3 = 0.000333 m 3 .3 N/m2. Dimana setiap 1 mmHg sama dengan 133. Namun sebelumnya harus dilakukan beberapa perhitungan untuk mendapatkan kecepatan semu fluidisasi (Uo) dalam proses percobaan.2008 m/det  Menghitung penurunan tekanan ( Pb ) dengan menggunakan alat ukur.  Mengkonversikan satuan pada flow meter udara Pada tahap ini kita merubah satuan flow meter udara dari liter/menit menjadi m3.20 30 16 16 11 12 6 7 Dari data hasil pengujian alat fluidisasi di atas. det 1 0. langkah selanjutnya menghitung kecepatan semu (Uo) dengan menggunakan persamaan berikut: Dimana : q = 20 lt/menit = 0. untuk mempermudah dalam perhitungannya nanti maka kita harus mengkonversikan dalam satuan SI. Alat ukur yang digunakan untuk penelitian ini adalah preasure gauge dengan satuan mmHg.00166 m2 U0 ! ! q A 0. maka selanjutnya akan diambil rata-rata untuk setiap volume rate kemudian dihitung kecepatan semu dari tiap-tiap volume rate.02 m3 1 menit = 60 detik sehingga (q) 20 lt.000333 m3 det-1 A = 0. 23 .

tekanan setelah plat distributor ( P2 ) dan selisih penurunan tekanan ( (P ) dari percobaan pada diameter pasir 0.6 399.9 666.5 11 12 13 16 18 0 533.9 1510.6 399.20 0.6 666.7 844. Uo (m/det) H (cm) (P (N/m2) P1 (N/m2) P2 (N/m2) 0 0.10 0.15 0. tekanan sebelum plat distributor ( P1 ).3 1510.1 Berikut ini adalah grafik penurunan tekanan versus kecepatan semu dari tabel ratarata pengujian alat fluidisasi di atas pada diameter pasir silika 0.3 1554. 24 .40 0.25 0.7 844.63 mm akan ditampilkan dalam tabel berikut : Tabel 4.63 mm.6 666.2 Hasil perhitungan kecepatan semu (Uo) terhadap rata-rata tinggi hamparan (H).45 10 10 10 10 10.5 1333 1376.35 0.1 621.2 888.3 1510.05 0.9 666.5 844.5 532.3 0 266.3 1510.30 0.2 666.1 621.Dari tabel data yang diperoleh dari percobaan diatas Hasil perhitungan kecepatan semu (Uo) dengan diameter pasir 0.63 mm.2 844.2 888.2 0 266.7 666.

4 0. Dari kecepatan udara 0. 25 .35 0.45 m/dt tekanan mendekati keadaan konstan karena hamparan telah terfluidisasi.25 0.Grafik kecepatan semu terhadap tekanan pada diameter pasir 0.63 mm 14 12 10 Tekanan.1 0. Di atas plat distributor tekanan yang terjadi hanya pada hamparan saja. Sedangkan tekanan di bawah plat distributor lebih besar karena merupakan penjumlahan dari tekanan yang terjadi pada hamparan dan tekanan di bawah plat distributor. Dari grafik di atas bisa dilihat peningkatan tekanan yang terjadi di atas plat disrtributor dan di bawah plat distributor.2 m/dt.P(mmHg) 8 P1 P2 6 4 2 0 0 0.21 m/dt sampai 0. Dari kecepatan udara 0 m/dt tekanan terus meningkat sampai kecepatan udara 0.1 Grafik hubungan antara variasi kecepatan semu (Uo) terhadap perubahan penurunan tekanan di bawah plat distributor ( P1 ) dan di atas plat distributor ( P2 ) dengan diameter pasir silika 0.3 0. Berikut ini adalah grafik selisih antara tekanan di bawah plat distributor ( P1 ) dan di atas plat distributor ( P2 ) dengan variasi kecepatan udara.2 0. hal ini disebabkan karena hamparan belum terfluidisasi.15 0.45 Kecepatan semu. Uo (m/dt) Grafik 4.05 0.63 mm.

3 0. 4.45 Kecepatan semu.4.25 0.2 Data Pengujian Untuk Diameter Pasir 0.63 mm 700 600 500 ¨P Tekanan (N/m2) 400 300 200 100 0 0 0.15 0.4 0. Tekanan sebelum plat distributor ( P1 ) dan setelah plat distributor ( P2 ) pada pasir dengan diameter 0.Grafik pengaruh kecepatan udara terhadap penurunan tekanan pada pasir 0.05 0.82 mm.63 mm.1 0.35 0.82 mm Tabel 4. Uo(m/dt) Grafik 4. Waktu percobaan detik ke 0 5 0 10 20 30 10 10 20 30 Tinggi hamparan (H) cm 10 10 10 10 10 10 10 Tekanan sebelun plat distributor ( P1 ) mmHg 0 5 5 5 6 6 6 Tekanan setelah plat distributor ( P2 ) mmHg 0 2 2 2 3 3 3 q (lt/menit) 26 .2 0.2 Grafik hubungan antara variasi kecepatan semu (Uo) terhadap perubahan penurunan tekanan ( (P )dengan diameter pasir silika 0.3 Data hasil percobaan dengan variasi kecepatan udara terhadap tinggi hamparan (H).

5 10.4 Hasil perhitungan kecepatan semu (Uo) terhadap rata-rata tinggi hamparan (H).10 10 10 10 0 666.5 12 11 4 4 4 8 8 8 8 8 8 7.5 8 7 7 7 7 7 8 7.5 13.8 0 266.5 7.5 13.05 0.5 11.5 13.5 7 20 10 20 30 25 10 20 30 30 10 20 30 35 10 20 30 40 10 20 30 45 10 20 30 Berikut ini adalah hasil perhitungan rata-rata kecepatan semu dan tekanan dari data hasil percobaan di atas : Tabel 4.5 11. tekanan di bawah plat distributor ( P1 ) dan tekanan di atas plat distributor ( P2 )dan selisih penurunan tekanan ( (P ) dari data penelitian yang telah dilakukan pada diameter pasir 0.5 11.15 10 20 30 10 10 10 10 10 10 10.5 12.5 12.5 16 16 16 10 10 10 12 12 12 12 12 12 11 11 11 11 11 11 11 11 12 11.9 0 266. Uo (m/det) H (cm) (P (N/m2) P1 (N/m2) P2 (N/m2) 0 0.82 mm.5 7.5 12.6 399.5 799.6 27 .5 10.6 266.

45 10 10 11.0.25 0.2 533.P (N/m2) 1200 P1 P2 1000 800 600 400 200 0 0 0.2 0.5 18 1333 1599.5 12.1 0.Uo (m/dt) Grafik 4.1 999.15 0.8 799.3 0.1 933.3 Grafik hubungan antara variasi kecepatan semu (Uo) terhadap perubahan peningkatan tekanan di bawah plat distributor ( P1 ) dan di atas plat distributor ( P2 ) dengan diameter pasir silika 0.9 532.35 0.25 0. Grafik kecepatan semu terhadap tekanan pada pasir 0.4 1066.2 Berikut ini adalah grafik peningkatan tekanan versus kecepatan semu dari tabel rata-rata pengujian alat fluidisasi pada diameter pasir silika 0.4 0.5 13.30 0.45 Kecepatan semu.5 15.40 0.4 999.8 533.82mm 1800 1600 1400 Tekanan.2 532.2 466.20 0.2 1066.05 0.6 1599.9 466.82mm Dari grafik di atas bisa dilihat peningkatan tekanan yang terjadi di atas plat disrtributor dan di bawah plat distributor.8 933. Peningkatan tekanan terjadi dari kecepatan 28 .6 1466 1466 1466 1466 533.35 0.15 0.82 mm.

4. Berikut ini adalah grafik selisih antara tekanan di bawah plat distributor ( P1 ) dan di atas plat distributor ( P2 ) dengan variasi kecepatan udara.35 0. Pada saat hamparan partikel telah terfluidisasi tekanan menjadi stabil.25 m/dt. Tinggi hamparan partikel akan berbeda apabila kecepatan fluida yang dihembuskan terus ditingkatkan.2 0.15 0.P(N/m2) 600 500 400 ¨P 300 200 100 0 0 0.1 0. karena kecepatan superfisial belum mampu mengangkat berat dari hamparan material. 4. Jika fluida dihembuskan pada hamparan fluidisasi.4 Grafik hubungan antara variasi kecepatan semu (Uo) terhadap perubahan penurunan tekanan ( (P )dengan diameter pasir silika 0.82 mm 900 800 700 Tekanan.3 0. 29 .4 0.Uo(m/dt) Grafik 4.udara 0 m/dt sampai 0. Grafik Pengaruh kecepatan semu terhadap penurunan tekanan pada pasir 0.05 0.82 mm. Di atas plat distributor tekanan yang terjadi hanya pada hamparan saja.3 Perbandingan Data Dari Pengaruh Kecepatan Semu Terhadap Tinggi Hamparan Dari Masing-Masing Diameter Partikel.25 0. Sedangkan tekanan di bawah plat distributor lebih besar karena merupakan penjumlahan dari tekanan yang terjadi pada hamparan dan di bawah plat distributor.45 Kecepatan semu. menyebabkan partikel bergerak naik ke atas.

Berikut adalah grafik kecepatan semu terhadap perbedaan tinggi hamparan dari masing-masing ukuran partikel pada pengujian alat fluidisasi : Grafik 4.82 mm yang tinggi hamparannya paling rendah.5 Grafik kecepatan semu terhadap perbedaan tinggi hamparan dari masingmasing ukuran partikel.63 mm dan pasir dengan ukuran diameter 0. hal ini disebabkan Karena berat dari ukuran pasir 0. Kemudian pasir dengan ukuran diameter 0. Pada kecepatan 0.18 m/dt hamparan pasir baru terangkat.82 mm lebih besar dibandingkan ukuran dan jenis partikel lain sehingga sulit dihembuskan oleh fluida seperti terlihat pada grafik diatas.5 dapat dilihat dengan kecepatan udara yang sama terjadi perbedaan tinggi hamparan dari setiap ukuran partikel. Dari grafik 4. Secara umum hal ini disebabkan oleh perbedaan ukuran partikel. 30 .

Jika kecepatan udara masih terus ditingkatkan. y Semakin besar ukuran diameter partikel dan massa dari partikel maka diperlukan kecepatan udara yang tinggi untuk memulai proses fluidisasi. y Jika kecepatan udara ( U o ) berangsur-angsur ditingkatkan maka penurunan tekanan( (P ) yang terjadi akan terus meningkat. penurunan tekanan akan tetap konstan.1 m seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa : y Jika kecepatan udara ( U o ) terus menerus ditingkatkan maka tinggi hamparan partikel (H) akan semakin tinggi.1 Kesimpulan Dari data hasil pengujian pada alat fluidisasi dengan variasi diameter pasir silika dengan ketinggian hamparan minimal 0. Pada kecepatan udara tertentu partikel akan terfluidisasi menyebabkan penurunan tekanan akan menjadi konstan. 31 .BAB V PENUTUP 5.