ANTOLOGI PUISI MARGONO 2

Oleh Boedhi Margono
pak_margono@yahoo.co.uk


-kebenaran tanpa kebebasan adalah kejahatanBoedhi Margono, 2004


Antologi puisi ini merupakan produksi saya yang kedua, setelah saya pernah membuat kumpulan yang pertama pada tahun 2005. Setelahnya memang ada satu buku puisi saya lagi, yaitu Kitab 1000 Cermin, yang merupakan pengantara antara produksi pertama saya dengan produksi ini. Karya tersebut tidak saya sebut sebagai bagian dari seri Antologi Puisi Margono, karena ianya memuat ujaran-ujaran yang lebih menyerupai kitab filsafat suci nan agung (walau sama sekali tidak). Itu pun menurut saya. Dalam rangkuman puisi ini, saya menyebutnya dalam format seratus delapan surat, yang mengisyaratkan betapa pentingnya puisi, mantra, dan doa sebagai cara untuk menyapa orang-orang di sekeliling kita. Berbeda dengan seri yang pertama, kini saya banyak menguraikan keindahankeindahan, kehalusan budi bahasa, dan kata-kata yang bersayap. Dengannya, semoga kumpulan puisi ini sedikit diterima sebagai sebuah kumpulan puisi, terutama oleh para sastrawan dan kritikus bangkotan yang sok tahu itu. Produksi antologi puisi ini saya lakukan dengan cepat, selama 3 hari saja, sehingga bisa segera dikonsumsi oleh para pembaca. Dengannya, juga bisa dijaga kualitas produk ini, agar stimulan-stimulan prosesualnya tetap setara dengan standar baku dari tiap-tiap bagiannya. Saya mengharap anda bisa menikmati

seri-seri saya tersebut, dan memanfaatkannya demi menggugah bercampuraduknya rasa dan emosi anda. Sedikit tak waras itu bagus. Tangerang, 01/08/07


Surat 1. 09:07:43 31/07/07 Rinduku pada plastik oh, dewa naga yang cakap dalam memerintah dalam hatimu ada kekuasaan dan benda-benda imitasi bukan artifisial. Cobalah kalian menuai padi di sawah dan menanam jagung. Kalian tak bisa? Seperti itulah, karena jagad kekuasaan, merusak naluri. Rumus yang mahal, ditemukan para ilmuwan, rusak karena bom yang meledak bersama waktu dan hati, korban-korban tanpa batas. Jagad yang rusak, dan dewa-dewa yang rusak pula. Rumah sakit berbau uang, dan permata pun dijunjung tinggi, karena permata dan bunga, bukan hati. Rongsokan tutup botol plastik, sudah kotor, bukan karena lumpur. Lumpur tak pernah kotor, sekotor permainan politik, di senayan maupun balai-balai. Balai-balai yang berisi kasur. Rindu kepada tuhan-tuhan, yang seperti aku. Rubahlah jiwa, menjadi badan, rubahlah badan, menjadi puluhan berbagai jenis ingatan. Rubahlah ingatan, menjadi hambatan, yang merubah arah angin dan api. Sejak terlena, oleh ributnya pertengkaran,

dan penindasan yang dilakukan oleh semua yang suci, dan kita junjung karena kita mengingat masa-masa lalu dan masa-masa depan dengan penuh ketakutan dan cinta, dan kasih sayang. Tanah yang rendah, dan para pendekar pun mati, dalam benteng-benteng yang tertutup rapat, oleh masa tua, dan kenikmatan kesementaraan. Para pendekar, yang tetinggal dalam hati yang demikian kecil, dan semua orang menyalahkannya. Tak ada yang lebih bersalah dan keji, dari orang-orang awam, yang memandang riuh, sebagai kebenaran mutlak. Tak ada yang lebih bersalah, dibandingkan para penghuni kursi yang empuk di belakang meja mereka, karena masa depan, bukan masa kini. Masa lalulah, satu-satunya yang bisa diingat oleh orang-orang yang menderita, yang sudah muak kepada harapan. Riuh, oleh peperangan, dalam mimpi, dan tidur, dan mata yang terpejam, dan kasur yang basah, oleh airmata, yang tak pernah kita ingat lagi saat bangun, karena kekurangan vitamin dan mineral, karena kurang gizi. Sumber dari segala sumber hukum, bukanlah agama, atau buatan manusia. Ia adalah alien, yang menyaru, dalam berbagai segi kehidupan,

mulai sepeda motor, hingga surat cinta. Alien lah yang berkuasa membangun peradaban bumi, maupun alam semesta, maupun surga, dan tentu neraka. Alienlah yang menyuruh kita, meniru mereka, menyembah sebuah diri. Di luar diri mereka. Di luar diri. Di luar. Maka harapan terbesar dari hidup, adalah mati yang enak, dan menemukan bahwa masa depan di luar kehidupan, adalah hidup yang mengalir lembut, seperti roda nasib, yang ditentukan sendiri, oleh mipi kita. Sembah diri sembah raga sembah hati sembah kata, kepada diri pribadi, yang selalu menderita mati, yang lebih menderita oleh hidup. Curahkan mulut ke dalam mulut. Surat 2. 15/11/2005 Demi teh yang suci demi segala mesin yang suci tongkat, piala, pedang, dan berbagai recehan yang setara. Demi bandul pendulum yang berputar, membuat kita tersihir, dan mengingat masa depan dan masa lalu, dan menjadi sehat, tanpa terikat pada kebenaran. Demi urapan, yang membasahi kepala, dan dada. Juga arak yang legit, dan membikin hati yang lumpuh terbangkitkan, segalanya akan berlangsung baik-baik saja.

Semoga arah karir, bergereak ke diireksi yang baik, dan nyaman. Merah hitam, warna yang keren. Surat 3. 16/11/2005 Oh siang-siang di sini cukup adem tetapi aku punya fikiran tak ada lagi kesempatanku untuk mandeg dan menerima arah-arah yang sama ini. Berkerut, keningku, dan kulihat fakta-fakta, tentang berartinya apa yang kurumuskan. Aku sedang sedih, memikirkan semua orang, yang tidak melihat dan mendengar peringatanku selama ini. Peralatan sihirku, agak berkarat, karena lama tak kugunakan. Seakan sudah lemah, hati ini, sebagai pengingat para utusan, akan kekeliruan mereka. Akan kugiring masa depan dunia, ke arah yang baik, demikianlah. Surat 4. immortal Hei!!! Aku lebih suka melihat tontonan mistik yang tanpa pretensi sektarian!!! Gugon tuhon semestinya bebas dari belenggu para petugas pemegang pedang, dan cambuk. Biar kita terbebas, dari terorisme. Surat 5. immortal Kebodohan adalah sebuah karunia jika ia dilandaskan pada sekularisme. Kecerdasan adalah sebuah bencana jika ia dilandaskan kepada fundamentalisme. Yakinlah.

Surat 6. 25/11/2005 Betapa sulitnya ini betapa takutnya untuk mengkritik dan menentang kuasa-kuasa itu. Aku bisa faham betapa bermilyar orang takluk dan mengikuti arus itu. Dalam karunia dan hukuman, semua berjalan demikian sibuknya. Tak ada alternatif, selain kekalahan. Ini adalah ujian besar bagi diriku yang kecil. Semua orang telah menjadi kecil ternyata. Bahkan untuk si maha raksasa. Apakah aku akan tetap terdiam di kaki raksasa itu? Hati yang tak ada, ia, tak memiliki hati. Surat 7. 4/12/2005 Sedih, dan kini aku sedang menunggu, rasanya fikiran ini hampa, hanya tersisa jejak-jejak yang aku pun takut memijaknya lagi. Waktu hidupku demikian sempit tetapi apa yang hendak kuberikan untuk para penatah batu nisan? Kulihat benda-benda ini yang kuanggap demikian berbahaya. Semenyedihkan inikah cermin menjawab solekanku? Apa lagi yang isa kubawa dalam petualangan kecil ini? Apa ada yang masih mengingatku? Terlalu banyak pertanyaan, dan aku mungkin perlu lebih banyak diam. Kini duniaku bukan tempat aku bisa berkata dengan keras, tentang apa yang menjadi pilihanku. Cuma sedikit, secuil, sejumput, yang belum tentu bisa membuatku kenyang dan tak kehausan. Mungkin jari-jariku ini, yang bisa menjawab. Mendaki koral-koral batu yang

belum pernah kukenal kini. Semua hitam. Semua sepi. Semua dingin. Adakalanya aku menguapkan sampah-sampah yang mengeram di dalam diri. Menguap tetapi semuanya tetap mengandung beban. Mengapa langit, dan kakiku, selalu bergetar. Tangan dan kaki, basah, seperti air mata. Surat 8. immortal Kalaupun aku jadi si penyair gua itu, biar-biarkan saja. Aku perlu belajar tersenyum, dalam kepuasan, dengan sejumput rumput, yang kukunyah bersama sup itu. Akan kubuat nyanyian dan puisi tentang gunung yang dingin dan memadat. Di sana sepertinya air mataku lebih berarti. Seberarti canda tawaku kepada berbagai jenis burung yang selamat bersama dengan kiamat. Surat 9. immortal Harus kuakui aku takut pada banyak hal aku merasa ringkih sekali. Dengannya aku bertahan Surat 10. immortal Oh, betapa banyak yang harus, kurubah. Dengan doa, pendulum, dan berbagai jenis upacara. Demi merubah alam semesta. Bumi dan langit ini, tempat semua hal, bercengkerama dan bertengkar, dan menjadi sepi, mati.

Oh, betapa banyak yang kucintai dan kubenci, tapi aku sadar bahwa kesempatanku hanya kini. Upacara-upacara inilah mesin waktuku, untuk mengobati kekacauan alam semesta, hasil pengaturan dan hukum, sang penguasanya. Inilah sang dokter semesta datang menanggulangi. Surat 11. 09:29:14 01/08/07 Zaman terlalu cepat berlalu, hingga orang-orang mati terlalu cepat dan menyakitkan. Kita perlu melambatkan proses perputaran kenyataan. Agar waktu manusia untuk berfikir tambah banyak. Jika demikian halnya maka kegilaan dan kebengisan akan berkurang. Banyak orang sakti mereka diam. Hanya sedikit yang berjuang merebut sang kala dari tangan sang penguasa jagad. Surat 12. 16/12/2005 Saluran tv itu penuh dengan seringai mereka dari orang-orang yang tersenyum dengan congkak dan aku tahu ada yang tidak beres dengan segala cahaya yang menipu itu. Lihatlah dengan mata yang awas dan lepaskan semua fikir dan rasa akan kau lihat mata-mata bening seperti kaca. Namun kebeningan yang dibikin oleh seribu kabut pekat menutupi keaslian nurani.

Kau akan lihat aura buruk penyedot energi para pencari keselamatan. Merekalah vampir prana. Berhati-hatilah!! Surat 13. immortal Apakah kebenaran itu? Kebodohan yang berpijak kokoh kepada kekuasaan. Itulah dia apakah inti ajaran yoga merah hitam itu? Membela kebebasan dan mengatasi kebenaran itulah ajaran yoga merah hitam. Surat 14. 11/1/2006 Apa ingin kita buat anak-anak kita gagap terhadap kenyataan-kenyataan yang sifatnya azasi? Apa ingin kita menghukum orang-orang yang menjaga kebebasan? Aku hanya akan menggalakkan perlawanan jika aturan-aturan itu diterapkan. Inilah sang angin, sang penantang. Dan dari tanganku, wahai para konservatif, azab ini akan menerjang kalian. Surat 15. 11/1/06 Hai kalian, sang kuping dan mata-mata, yang tertudung duri dan bising ayat-ayat kekejaman... Apakah hanya sebegitu jiwa kalian?? Eh, dengar dan lihat, kalian ini busuk. Kalian berkata bahwa kalian membela kebenaran, membela keadilan, adab, perintah dari segala sumber hukum. Tapi kalian ini sebenarnya hanya membela kepicikan dan kejahatan kekejian yang menyerak. Hati-hatilah hei kalian... dasar busuk. Tai. Kalian hanya pemberi kebaikan bagi diri

sendiri. Dan rahmat itu pun kosong melompong di dalam rongga duri kalian. Isinya hanya kebohongan, kebobrokan, yang diulang-ulang. Di antara kebaikan dan kejahatan, yang tumpang tindih. Diobral seperti kaset rusak. Lihatlah saja betapa apa yang kalian anggap benar itu membuat kalian senang dan puas, dan bahagia, menangis haru, seakan setapak mendekat ke ruang ke tujuh. Tetapi di sisi lain, semua itu membuat semua hal di dekat kalian menderita... Menderita karena pembelaan.. Pembelaan dan pemaksaan kalian... Terhadap norma-norma dan adab, yang meruntuhkan itu... Membuat kebebasan hancur. Padahal tanpa kebenaran, dunia ini hanya rentetan benacana, demi bencana... Kalian!! Adalah pembawa bencana!! Camkan itu... Cuh... cuh... cuh...!!! Surat 16. 3/2/06 Separuh dari angka seribu, sudah berlalu, duri apa yang bisa kuketahui, oleh legenda. Cerita itu dari para petani, yang mewarisi cemooh, kepada mereka yang memperbodoh mereka. Tetapi hingga kini ketika tombol-tombol telah membuktikan kekeliruan dari mereka yang menancapkan tongkat mereka yang menimbulkan air. Sudah waktunya mereka surut

saat gempa dan air menerjang dari barat membawa kemurnian kematian kembali kepada hal-hal yang dulu dianggap usang. Tundaan-tundaan itu membuat bencana makin meraksasa. Hanya akan memperburuk kekalahan masa depan. Sayang sekali mereka yang ada di perguruan-perguruan itu memaksakan diri karena gengsi. Lihatlah di dunia, saat kekeliruan dan kebencian mendapatkan penilaian, dalam gambar dan kata-kata. Kenapa pedang kalian yang melengkung itu, tetap saja terhunus, saat kalian hampir saja remuk, menjadi debu? Waktu sudah sampai, istirahatlah dan carilah fikiran dalam hati. Segalanya yang dilahirkan pasti kemudian pupus. Kalian tentu sudah tahu ulasan usang itu.. terimalah... Surat 17. 3/2/06 Bukan salah mereka itu karena si penguasa Saka itu yang merasa abadi. Istilah penguasa itu, pun, hanya istilah yang sepi. Surat 18. 3/2/06 Mereka tak siap untuk menerima kenyataan bahwa mereka demikian mengerikan dan beringas. Mereka jawab pandangan itu dengan menolaknya mengutuknya dengan wajah demikian menakutkan dan beringas. Benar-benar tak tahu diri.

Surat 19. 3/2/2006 Anda bukanlah seperti yang anda fikirkan dan gemborkan. Sudahilah tugas utusanmu yang datang ke masyarakat yang kau anggap sakit dan tercela. Hal itu karena tindakanmu benar-benar lebih tercela jangan buat paranoid psikopat itu ayan dan mengigau. Mengayunkan kata-katamu yang bercabang pedang dan api. Kebenaranmu hanya berisi kekerasan pembantaian dan alat menakut-nakuti. Sudahilah penyakit jiwamu yang akut itu. Sadarlah bahwa dirimu tidaklah benar abadi anda lihat di bumi dan langit ini eramu perlahan meluntur sudah hampir habis. Engkau pun harus sadar akan rentamu, yang membawamu ke ajal. Perlawananmu pada kenyataanlah yang membuat kenyataanmu hanyalah delusi yang busuk yang menyeret semua orang ke nerakamu. Para pengikutmu hanyalah akan menimbulkan tawa jijik dan kenangan buruk bagi generasi mendatang. Anda tahu lanjutkan perjalananmu ke alam selanjutmu. Surat 20. 22/3/06 Kapankan si dia datang? Apakah dia masih sembunyi? Dalam bentuk anak kecil? Atau dia sedang terkurung?

Sedang merenung? Kapankah ia bergerak? Dan mulai menabur? Apa yang ia janjikan? Sebelum segalanya terlambat? Sebelum korban harus sedemikian banyak? Saat ia menundanya... Setengah mileu berlalu sepi... Dan nampaknya ia masih ragu... Para petinggi memang telah menanam... Dan menebarkan tumbal... Tetapi hal itu hanyalah... Menunda... Dan membuat korban akan melejit seperti tebaran jerami. Kini aturan-aturan itu sekan membuat para jagoan mabuk kepayang. Mungkinkan ini gerbangmu? Saat kau melangkahkan kaki kirimu... Surat 21. immortal Bibir-bibir nasib di udara petang yang merusak buntu. Bibir azab yang semena bergelak menukik. Mengejek doa bibir kata menyumpal usaha. Ahak-ahak ahak-ahak uhuk-uhuk..... Surat 22. 19/10/06 Rel ini mengalir basah panas demam. Dari hentak-hentak ke hentak. Memantulkan wajah sang kekuatan dan juga penderitaan. Rel-rel yang matang bersama seribu kotoran kuat lebih kuat dari hati. Untuk semua ia menganga untuk beban dan hilang. Raga itu menatapku

melihat besi yang faham artinya besi. Untuk sementara orang-orang seperti itu lupa rencana untuk menghilang. Surat 22. 14/10/06 Kubuang sampah ke kotoran itu menambah gundukan bau menyengat menyesakkan semua yang mau lewat. Rasanya lega karena sampah rumah tinggalku hari ini sudah kutimpakan ke kumpulan sampah-sampah lainnya. Biarlah masyarakat sekitarnya yang merasa marah dan tersiksa oleh bau dan penampilannya. Memang masyarakat perlu menimpakan kerusakan pada tetangganya. Biar yang kuasa yang menang biarlah yang kaya yang kuasa biarlah yang kalah dan miskin terdiam ringkih. Karena praktek kehidupan bermasyarakat memang bejat. Surat 23. immortal Dalam hati pagar tumbuh hidup. Dalam hati sudah tak ada semesta pertanyaan. Di hati hati siapa? Hati bukan milikku! Di dada ini hati meninggalkan bekas jejak dalam dan masih melebar.

Dalam dada hati baru mesti lahir lagi. Bukan iblis. Surat 24. immortal Rima tak berima udara hati pasir tahta di mata para fakir hangat bukan karena berharga. Tak kunjung hidup hidung yang kembang kempis. Dada yang menuyimpan dendam kata, menjadi batu. Besikah jalan kehidupan ini? Rinduku ke apa yang teredam lama rinduku kepada tahta bersama para fakir. Surat 25. immortal Kabut silam kabut silam kabut silam seram. Tuntutlah aku hingga ke ujung dunia wahai jaksa akhirat. Kabut silam kabut seram seram... Tak kubiarkan kalian menang wahai jaksa-jaksa akhirat! Kabut ini akan kubuat lebih seram bagi kalian para jaksa seram! Mbekkkk... Mbekkkkkkk.... Mbekkkkkkkkkkkkkk.... Surat 26. immortal. Pakaianku bukanlah urusanmu ini hutan!! Tempatku tumbuh sepertimu juga. Ini hutan walaupun kalian pemangsa dan aku mangsa. Pakaianku adalah pakaianku. Walau taringmu menggigit leherku.

Surat 27. immortal. Petani-petani itu datang ibu... Menatapku menunggu derma... Kita hanya punya sedikit beras ibu, Entah apa lagi yang bisa kita beri... Petani-petani itu ibu... Lupa... Sawah mereka yang hancur... Kini hanya ada kita ibu... Yang masih ada... Sedikit beras... Surat 28. 31/10/06 UU tai UU anjing UU bangsat UU bajingan UU tak beradab UUUUUUUUUUUU FUCK!!!! Surat 29. 31/10/2006 Rutan kayu hujan batu kaku kaku babu babu tahu plecing plecing kuning tai garing tok tok petok kurang ketok lombok hijau ronda siang tanpa pedang rindu uang tanpa pelor hanya clurit menggores lehermu wahai para pemilik kekuasaan. Surat 30. 31/10/2006 Kupersembahkan adonan kencing dan tai ini kepadamu wahai yang maha berkuasa yang menginginkan kejayaan super dan andaikan kau tahu merasa bahagia dalam mimpi-mimpi tahta

dalam relung yang terbuat dari semilyar tulang belulang karyamu, dan menikmati asupan persembahanku, yang super enak, berwarna coklat, empuk, lembek, dan berbau harus menyengat ini, tai pesing, semoga kau panjang umur, dan tidak gampang takut tak dihargai lagi. Surat 31. 31/5/2007 Riuh, menanti keheningan. Senang, walau hanya angan. Tetap, seperti kain halus yang koyak, tenggelam, walau kalah menjadi-jadi. Andai, itulah sabdamu, rubuh, tetaplah takdir menuai kehidupan. Bahagia, adalah tujuan mimpi, limbung, seperti makanan bagi yang kenyang. Putus harapan, dan pisau pun merobek nadi. Mati. Surat 32. 31/5/2007 Curi-curilah dari sang pencuri, bunuhlah sang pembantai, bakarlah tahta sang penindas. Surat 32. 31/5/2007 Api menjadi api, air menjadi air, garam menjadi garam, aku menjadi aku, empat lahir dari empat,

satu lahir dari satu, kosong, tak pernah kosong. Surat 33. 31/5/2007 Aku benar-benar faham aku benar-benar tahu aku benar-benar mengerti jika tempe enak digoreng tanpa tepung dengan sedikit garam dan bawang. Aku berusaha bertahan untuk tidak grogi dan merinding saat berdekatan dengan jubah itu. Kubuat tegar diriku, tetap tersenyum, menampakkan kepercayaan diri, orang yang terlatih, secara adab sosial. Andai aku adalah si kuat, si berani, dan faham cara bicara, maka aku akan bisa, menghadapi bahaya-bahaya ini, dengan tertawa tenang. Dunia memang, masih milik, mereka. Surat 34. 31/5/2007 Walau sudah makan vitamin makan enak bergizi tinggi berolahraga di gymnasium yang mahal dan berdiet modern tetapi tanpa yoga merah hitam, kesehatan akan menjadi labil. Surat 35. 31/5/2007 Kupu-kupu hitam besar terbang di antara pepohonan berdaun hijau besar sungguh pemandangan yang jelek. Surat 36. 31/5/2007 Hati suci murni bersama dengan sebotol arak keras membuat jiwa menjadi bebas Surat 37. 8/6/2007 Mereka memang penyantap yang canggih banyak dan cepat

walaupun apapun itu tak enak di rasa lidah. Mulut-mulut utama seperti lensa kamera ingatan merekam nafsu makan yang hebat. Sejarah akan mencatat sebagai humor misteri dan masa lalu penuh lara. Surat 38. 17/7/2007 Roda ban bundaran berputar gasing lingkar sepatu Surat 39. 12:40:15 01/08/07 Sembunyikan hati dari gedoran pejabat registrasi hati. Sembunyikan jiwa dari gedoran pejabat registrasi jiwa. Sembunyikan rasa dari gedoran pejabat registrasi rasa. Mereka adalah juru masak yang sedang mencari bahan bagi masakan ajaib bernama ketundukan. Surat 40. 12:43:32 01/08/07 Menggali tanah mencari harta karun para raja masa lalu. Menemukan sebongkah batu juga dari masa lalu. Di sana ada tulisan prasasti tentang era yang indah dan jaya. Kata tulisan itu. Maka kita seperti itu juga kah?

Mencatatkan kebohongan dengan segunduk batu dalam tanah yang lapar oleh cangkul dan linggis. Itulah sajak-sajak zaman. Sebaiknya dibenamkan lagi. Surat 41. 12:46:59 01/08/07 Makan krupuk pedas asin renyah. Enak? Enak. Lezat? Lezat. Masih lapar? Masih lapar. Ada lagi? Adakalanya. Surat 42. 12:49:52 01/08/07 Satu hari bukanlah waktu yang lama untuk hidup. Juga bukan waktu yang lama untuk mati. Itulah waktu, yang mencuri masa depan tak terbatas kita. Itulah sang perasan yang menolaknya. Andai perasan berwujud, maka ada sebuah revolusi, yang merontokkan realitas. Kenapa kita lahir dan mati, jika tandon takdir bisa kita kuasai? Dengannya kita melakukan pertempuran melawan dewa perputaran kehidupan. Ritus-ritus akan berlalu, dan kita akan abadi, dalam perubahan, yang menjadi milik kita sendiri. Belati penciptaan kita pegang dengan tangan kanan dan tengkorak para kuasa di tangan kiri. Kitalah penguasa dalam ketanpa kuasaan segala hal.

Revolusi takdir. Surat 43. 12:54:22 01/08/07 Siapa bilang untuk hidup harus membunuh? Siapa dia? Ayo cepat kalian jawab!!! Akan kucincang dia!!!!!! Surat 44. 12:58:14 01/08/07 Untuk mereka yang miskin dimiskinkan yang tersiksa dilemahkan yang tertindas dikalahkan, minumlah minuman dewa, yang paling sederhana, terbuat dari teh dan arak, dan gula aren, dan nikmatilah, dengan nikmat, melupakan masa kini, karena yang ada adalah tanpa masa saat tak ada perubahan apapun.............. Surat 45. 13:01:06 01/08/07 Ludah. Putih. Ingus. Hijau. Surat 46. 13:03:11 01/08/07 Tak boleh membalak hutan lagi tak boleh membakar minyak tak boleh pakai freon tak boleh memakai dan membuang plastik tak boleh buat polusi dan manusia akan selamat. Kalau mau... Kalau tidak ya... Gimana.... Siap modar? Surat 47. 13:07:25 01/08/07

Banyak makanan yang enak bekicot belalang kecoak besar jengkerik ulat cacing lintah dan lain-lain. Semuanya enak, dan mengandung asam amino yang sangat lengkap lebih lengkap dibandingkan dengan daging ayam, atau sapi dan tidak mengandung kolesterol, sehingga lebih aman, bagi kesehatan manusia. Rasanya pun jauh-jauh lebih gurih, lebih legit, lebih renyah, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat kecil. Camkan hal ini, dibandingkan mengingat jijik atau nilai normatif yang terlanjur lama dipegang tanpa gugatan. Pada dasarnya para petani di desa sudah melakukannya karena mereka sadar dan tahu berdamai dengan alam. Surat 48. 13:14:02 01/08/07 Inilah petuahku kepada para pencari kebenaran. Tinggalkanlah keinginan kalian itu. Lepaskan. Bermeditasilah dengan obyek kata-kata dan sadarilah tak ada sesuatu pun yang benar termasuk kesalahan itu sendiri. Maka bermeditasilah dengan obyek lupa karena dengan lupa

maka kebenaran akan terlihat belangnya. Sudahi khotbah-khotbah yang kalian baca dan dengar yang kalian lihat dengan tekun itu, dan dengarlah khotbahku yang berisi hal-hal remeh ini, agar kalian bisa lupa, dan bermain-main dengan sejuta kata yang masih ada. Dengannya, pencerahan pasti akan datang segera. Surat 49. 13:20:06 01/08/07 ...............Jangan takut kepadaku percayalah kepadaku akulah seorang utusan yang mengkhabarkan kebenaran kepada kaum yang sedang sakit dan tenggelam dalam kebodohan dan kesesatan seperti kalian...................... Jika aku katakan begitu, bagaimana reaksi kalian? Surat 50. 13:24:31 01/08/07 Surga. Bom. Surga. Bom. Surga. Bom. Surga. Bom. Surga. Bom. Surga. Bom. Surga. Bom. Surga. Bom. Neraka....................

Surat 51. 13:30:10 01/08/07 Dunia adalah sebuah keterlanjuran. Surat 52. 16:59:16 01/08/07 Cahaya maha cahaya akan tersedot oleh sebuah kegelapan kecil yang sederhana. Demikianlah kegempitaan akan hilang dalam kesunyian. Terhapuslah seluruh warna terhapuslah seluruh kata terhapuslah seluruh kita terserap dalam kegelapan yang menghapuskan duka lara. Kegelapan agung, akan segera datang, menjemput sang jagad beserta pemiliknya. Sang gelap datang karena cahaya telah berbohong dengan mencari kegemilangan yang abadi. Mimpi akan hilang kenyataan akan hilang tersaput oleh setitik ketaknyataan. Surat 53. 17:04:25 01/08/07 Walau kiamat sedang merambat janganlah takut, wahai kawan-kawan. Minumlah teh tawar, agar hilang dahaga. Kita jemput sang penggerus waktu, kita tandai kedatangannya, dengan segelas teh tawar, agar ia malu, akan ingatannya sendiri. Saat kita hilang bersama waktu, teh tawar tetap akan abadi, mematri nama kita, dalam kalbu, sang kiamat.

Surat 54. 17:06:39 01/08/07 Bergoyanglah dangdut saat musik rock melantun dan bayangkan, pantai Jamaica yang indah dan panas menyambut denting-denting harpa. Surat 55. 17:09:10 01/08/07 Saat kita batuk pilek bakarlah cuka. Virus-virus dalam diri maupun ruangan akan mati dan tak bisa beranak pinak. Demikianlah kebijakan tradisional mengajarkan kita tentang pentingnya cuka. Tapi saat terjadi kebocoran radioaktif, maka sebarkan berjuta garam ke lantai dan udara karena ia akan menyerapnya sempurna sebelum kita terpaksa lari menjauh. Demikianlah kebijakan lokal berlaku. Saat bermeditasi, maka selalu gunakan api, garam, dan air untuk mengatasi kegalauan, dan keburukan, yang terpapar, dalam pergulatan pencerahan. Bila tidak, maka hal-hal negatif itu akan mempengaruhi lingkungan. Demikianlah kebijakan lokal, menjadi global. Surat 56. 17:13:33 01/08/07 Saat sore hari yang cerah keluarlah dan nikmati kopi atau teh di beranda atau kafe sambil bercengkerama atau diskusi dengan keluarga atau teman. Itulah cara yang baik dan tak terduga-duga untuk membangun demokrasi, dan kekuatan rakyat, menghadapi konservatifisme, dan fasisme yang setiap saat bisa hadir dan mengklaim

ruang publik. Jangan biarkan ruang publik mereka kontrol dengan aturan-aturan moral dan hukum yang mengungkung kebebasan bersikap dan berpendapat. Surat 57. 17:17:08 01/08/07 Jangan bunuh diri jika diri tidak sendiri. Matilah karena tua, sakit, atau dibunuh. Surat 58. 17:19:35 01/08/07 Sang paku yang berkarat mencari masa depan yang masih terikat dalam beban yang ia sandang beban yang membuatnya dianggap berarti. Namun karat mengingatkan akan waktu yang berlalu dan kehidupan yang demikian jahat merampas impian, mengatasi kekalahan. Kapan kita akan menang? Kekalahan bukanlah kekalahan, bukan? Surat 59. 17:23:10 01/08/07 Andaikan kehidupan setelah kehidupan tak ada, maka demikianlah besar tanggung jawab kita terhadap hidup semua bentuk kehidupan. Jika ada akhirat, maka tanggungjawab kita terhadap kehidupan, selalulah terbatasi, oleh kemampuan dan takdir kita. Manakah yang benar? Tentu saja yang ada di tengah-tengahnya. Akhirat dan ketidakadaan akhirat, merupakan jalan ekstrim, yang berbahaya jika dianut teguh. Janganlah berteguh pendapat, ragu-ragu sajalah... Surat 60. 17:29:15 01/08/07

magnet keindahan rusak jika semua keliru kenikmatan itu datang tiba-tiba saja menghilanglah tugas-tugas alam dan keresahan yang luar biasa ini menyentuh batasnya yang terakhir. Saat separuh kegilaan itu datang semoga pencerahan berlari datang, bukan sekedar kegilaan, yang biasa-biasa saja. Surat 61. 17:44:07 01/08/07 Jangan cemaskan dirimu, kawan. Saat kecemasan datang, pejamkan matamu, rasakan apa yang kau rasa, lalu sebutkan namaku dalam hati, ulang-ulanglah, dan kejarlah rasa itu, dengan namaku hingga rasa itu, berubah, menjadi cahaya maha cahaya, menjadi energi tak ternilai. Bayangkan diriku menjelma dalam dirimu, dan kau menjadi suci bersih murni, penuh kebijaksanaan agung, laksana diriku. Lakukanlah selalu, saat duduk, berbaring, atau berjalan, maupun berkegiatan. Dengan itu, maka penderitaan jiwamu akan sedikit terobati. Mau? Surat 62. 17:50:33 01/08/07 Kebenaran selalu mahal kebebasan selalu gratis. Namun kebenaran selalu mencari jalan demi membuat mahal segala hal. Termasuk kebebasan. Maka jangan mau menerima hadiah, jika tidak benar-benar gratis.

Surat 63. 17:55:00 01/08/07 Dalam batin terendam segala rasa. Terbenam segala jaringan campur aduk kegalauan dan segalanya. Campur aduk demikianlah yang kudengar dari dalam diriku. Kuingat manusia lain, dan kuanggap semua sama sepertiku, memendam kegalauan dan ketidaktahuan. Meski aku ragu, benarkah aku pernah mengenal sedikit hati kehidupan. Surat 64. 18:07:12 01/08/07 Bandul bergerak ke kiri. Bandul menangkap fikiranku. Menangkap keinginan. Keinginan yang seperti mimpi bocah. Dan bandul mengerti. Bandul yang berdoa. Inikah sang pendulum dosa? Surat 65. 18:12:09 01/08/07 Aku berdoa di antara trotoar busuk menangkap firasat zaman di jalan sejuta asap. Setangkup doa menjulang ke angkasa mengatasi para menara yang menyilaukan hati. Kutatap langit biru, kususulkan rasa itu kepada sang penguasa langit. Andaikan harapanku terkabul, kubuat menara lebih tinggi, untuk bisa mencapaimu, meninggalkan segala kebisingan yang telah membisukanku. Surat 66. 18:21:10 01/08/07

Di batas ini aku menyebut namamu yang suci. Oh sumber kegelapan, aku datang kepadamu. Kan kuberikan persembahan cahaya yang akan musnah ke dalam dirimu. Bersatulah dirimu, ke dalam sumber kegelapanku. Kan kusembah diriku sendiri sehingga semua ingatan musnah ke dalam batinku sendiri. Surat 67. 18:25:43 01/08/07 Di telaga di atas gunung di sana ada daun hitam yang bisa menyembuhkan segalanya. Kalianlah cari saat retreat di sana selama 3 hari. Dapatkan dan simpan untuk kebaikan. Dirimu adalah penyembuh karena demikian kehidupan berarti. Rendam daun itu dalam air bercampur garam yang kaubakar dengan apimu. Minumkan kepada para sakit. Minumkan kepada sumur-sumur kering. Minumkan pada badai, petir, dan banjir. Minumkan pada penderitaan kesendirian dan kesementaraan. Karena itulah saat nasibmu berganti dari kehampaan memasuki batas kegelapan abadi yang menghirup mimpi. Surat 68. 18:41:30 01/08/07 Kujawab suara iblis, malaikat, dan Tuhan, dengan pertanyaan-pertanyaan baru kepada mereka. Kutunggu jawaban balik,

namun mereka menghilang, lari, seakan aku ingin mereka lupakan, dengan bergidig. Aku pun mencoba melupakan mereka, walau tak pernah bisa. Kuingat mereka, seperti mengingat mimpi lama, yang kembali dalam mimpi baru. Surat 69. 18:45:11 01/08/07 Aku ingat kini, diriku sang angin, seperti beberapa orang katakan. Maka akan kuhembus kalian dengan mulutku. Kan kumakan pete dan jengkol terlebih dahulu. Surat 70. 18:58:59 01/08/07 Kaum fundamentalis yang bodoh banyak yang baik hati namun kaum fundamentalis yang pintar cenderung jahat. Semuanya bertumpu pada pengertian, semakin mengerti, seharusnya manusia semakin sadar, bahwa sekularisme, adalah jalan yang sejati, dalam kebijaksanaan. Mereka yang pandai, tapi tetap bertahan sebagai fundamentalis, adalah vampir sejati. Di sanalah akar kekejian, penindasan, dan terorisme, tumbuh seperti jalaran panas api letusan segala senjata dan bom mereka. Maka kita perlu menyelamatkan para fundamentalis yang bodoh, menyadarkan dan mencerahkan mereka, dalam rangkulan keindahan sekularisme. Maka kita perlu memberantas, para fundamentalis pintar, dalam sebuah perjuangan dunia, memberantas akar kekejian, meski berat, kita harus bertarung, dan bertindak keji

juga. Paling tidak, sejuta orang dan mahluk, bisa selamat, dengan hapusnya mereka, dari muka bumi. Surat 71. 19:01:37 01/08/07 Tombak menancap di lambung sang penguasa. Pedang menancap di punggung sang penguasa. Pisau mengeram di ulu hati sang penguasa. Seribu orang berlomba menetakkan tangan mereka yang gemetar bersama senjata. Mereka berseru dalam marah, haus akan ingatan, nasib sanak saudara mereka yang tergerus tangan besi sang raja. Sang penguasa, matanya mendelik memancarkan balik ingatan nyawa-nyawa yang pernah ia penggal. Meski ia tak pernah malu menganggapnya sebagai nyawa semut. Dari mulutnya menyembur darah, yang berbau uang dan emas. Mayatnya melolong, walau seribu tahun, kematiannya telah berlalu. Demikianlah jawaban rakyat suatu kala, saat segalanya telah menjadi tepat. Kapankah semua itu terjadi lagi? Surat 72. 19:24:59 01/08/07 Api sebenarnya dingin, lho. Es sebenarnya membara. Dan semilir angin di pegunungan, sungguh menyesakkan paru-paru. Dan tanah, membuat kita melayang-layang di angkasa. Demikianlah sang penguasa dunia, telah merubah yang benar,

menjadi keliru, seperti sekarang ini. Surat 73. 19:33:38 01/08/07 Kutempuh jalan biasa. Kulalui tahap biasa. Kuinginkan harapan biasa. Kuraih capaian biasa. Kuhirup segelas teh tawar yang luarbiasa!!!! Oh!!!!! Enaaaaakkkkkkk!!!!! Jossss tenannnn!!!! Surat 74. 09:36:57 02/08/07 Kekuasaan dan kebenaran itu pada dasarnya sama. Kebenaran ditentukan oleh yang kuasa Kekuasaan dijamin oleh sang pemegang klaim kebenaran. Kekuasaan adalah kekeliruan, kebenaran pun adalah kekeliruan. Beda dengan kebebasan. Kebebasan dan hati nurani pada dasarnya sama. Hati nurani menuntun ke arah kebebasan. Kebebasan menuntun ke arah hati nurani. Kekuasaan dan kebenaran, adalah lawan dari kebebasan dan hati nurani. Mereka yang memuja kebenaran, berarti memuja kekuasaan juga. Meski sebagian dari mereka tak faham. Mereka yang memuja kekuasaan, memuja kebenaran juga. Mereka demikian yakin akan halnya. Mereka yang memperjuangkan kebebasan berarti memperjuangkan hati nurani, juga melawan kekuasaan

dan kebenaran. Surat 75. 09:43:12 02/08/07 Oh yang terhina, kuangkat kau, dari kata. Yang musuh, yang kalap, dan membuatmu takut. Kau merunduk tunduk, dan kuangkat ke atas, walau gemetar. Aku bukan Tuhan, bukan Setan, bukan manusia. Kaulah yang terhina, yang menganggap di luar demikian nyata, biarlah semua hilang, dan kau akan lemas, seperti ulat. Biarlah kau kuangkat, dan kubaringkan di atas daun itu. Biarlah kau memakannya lahap, dan kau anggap dirimu sebagai mahluk, yang menumpang hidup, di semesta, yang jahat. Tak ada yang mengerti, betapa jahatnya dunia. Tak ada yang tahu, jahatnya diri mereka. Tak ada yang faham, tentang kekejian, yang lahir, dari terus berlanjutnya kehadiran masyarakat. Surat 76. 09:51:10 02/08/07 Ingatkah kau, sebuah petuah, dari guru masa lalu, tentang cinta. Cintalah yang merubah, sesuatu kenyataan, terlihat sebagai kenyataan yang lain. Surat 77. 09:57:47 02/08/07 Andai semua yang bisa kufikir bisa membludag keluar

dari benak. Sungguh nyaman hidupku, dan begitu tak nyaman, hidup orang lain. Itu pun jika aku selamat, tak dibantai oleh orang lain, yang marah dan benci. Oleh sebab itu, di situ pentingnya kekuasaan, dan cinta. Para orator raja, presiden, wakil rakyat, pengusaha sukses dan diktator, faham semua itu. Surat 78. 10:01:20 02/08/07 Jika kalian marah, minumlah teh. Jika kalian benci, minumlah teh. Jika kalian sedih, minumlah teh. Jika kalian gembira, minumlah teh. Jika kalian lapar, minumlah teh. Jika haus, minumlah teh. Jika kalian dianggap bodoh, minumlah teh. Jika kalian dianggap pintar, minumlah teh. Jika kalian lahir, minumlah teh. Jika kalian sekarat, minumlah teh. Jika kalian kaya, minumlah teh. Jika kalian miskin, maka minumlah teh. Kalian akan selamat sejahtera, masuk dalam surga teh, dimana bidadari teh, akan menyambut anda. Di sana mengalir sungai teh, dan anda bisa tiduran enak, di ranjang empuk, terbuat dari rangkaian daun teh. Dan anda akan dinaungi pepohonan teh yang rindang, dengan semilir angin lembut, dengan aroma teh yang harum. Tubuh kalian akan berbau teh, dan terdengar bening suara musik dari alunan alat terbuat dari kayu teh. Dan kalian, akan sempurna, menjadi teh. Sungguh karunia dari Teh yang maha suci.

Surat 79. 10:08:02 02/08/07 Jangan percaya pada hukum. Hukum buatan siapa saja. Ia membawa kekuasaan dan kebenaran. Membawa manusia kepada neraka di dunia. Membawa surga sejati ke timbunan sampah. Menjadikan anda korban tanpa peduli nurani. Hukum bersifat pilih kasih, dan dilandaskan atas kemarahan, walau sang hakim dan jaksa, tak pernah menyadarinya. Hukumlah yang membuat rasa jadi mati yang membuat hati nurani tumpul yang membuat rasa marah dan benci tak disadari. Hukumlah yang menipu rakyat untuk percaya dan taat mengikuti aturan yang menguntungkan si kaya dan kuasa dan mereka yang menganggap diri mereka suci dan tak tersentuh dosa. Hukum menafikan perbedaan pendapat menghancurkan kreatifitas menghancurkan kebebasan menghancurkan kewajaran. Manusia yang taat hukum, adalah zombie. Manusia si pemuja hukum adalah drakula. Manusia penikmat hukum adalah sosok penguasa, yaitu si jahanam sejati. Janganlah mau dininabobokkan oleh dusta yang bernama hukum buatan siapa saja. Surat 80. 10:19:49 02/08/07 Siapkan diri,

menjelang pergantian zaman, tahun 2012, saat semua orde musnah. Jangan takut untuk kehilangan, semua hal yang kini menjadi milikmu, karena saat itu, benda-benda itu, adalah rongsokan, yang tak berguna lagi. Tahun 2012, saat makna yang benar, berubah drastis. Saat itulah kalian akan menyadari, itulah cara untuk bertahan hidup, jika ingin tetap memiliki kemanusiaan. Itulah saat, badai telah menyadarkan si kaya, dan si kuasa, bahwa mereka harus melakukan bunuhdiri massal........... Surat 81. 10:34:43 02/08/07 Copotlah jubahmu, wahai sahabat, dan telanjanglah saja. Disini adalah pantai nudis yang meski kau tolak, adalah nyata adanya. Kau selalu mengira, aurat-aurat ini yang menimbulkan gairah, dan membawa kejahatan, menggoda keteguhan keyakinanmu, dan merusak moral. Lihatlah, di sini semua orang mengerti, tentang haknya sendiri. Di sini, tak ada orang yang melotot, melihat orang bugil. Di sini, hanya ada kesantaian, hiburan, dan liburan. Di sini, angka kejahatan, lebih kecil, dibanding tempat asalmu, yang kaubanggakan itu. Sungguh memalukan, ketika melihatmu justru yang melotot, penuh nafsu seperti itu.

Di mana moralitas yang kaubanggakan itu? Keyakinanmu membuat dirimu menjadi munafik, ketika diuji dengan batas sesederhana ini. Keyakinanmu, pada dasarnya hampa. Hanya sampah peradaban saja. Yang merusak dunia, dengan kebencian, yang dilegalkan. Yang membuat ketidakadilan seolah karunia dan kebenaran azasi. Sebenarnya sah, kau pegang kebenaran itu, selama dirimu, yakin sebagai penjagal. Itulah makna kebenaran, tak lebih dari sampah peradaban. Buanglah saja, keyakinanmu, bersama jubahmu itu. Surat 82. 10:45:20 02/08/07 Mo limo, makan daging makan ikan, minum arak, menghisap halusinogen, dan seks. Itulah Mo Limo yang agung. Dengannya kita menunggangi nafsu, semangat, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Di sana ada diri sejati, yaitu kegelapan agung, yang menerkam gempita kebenaran. Tanpanya, maka dunia sepi, seperti kuburan. Surat 83. 11:01:48 02/08/07 Timbunan perasaan kuperam menjadi akik. Warnanya hitam legam. Keras,

terjal, namun menyerap semua cahaya, masuk ke dalamnya. Batu akik itulah, buatanku, buatan dari segala yang tanpa api. Di sana angin sembunyi, di sana api dan dinginnya air pun hilang musnah. Batu itulah, yang menjadi persembahanku, ke gunung Meru yang jauh, di dalam kawahnya, tempat ku bertemu dengan sesosok dewa kecil, pemegang rahasia hati. Di sana ia tersenyum. Warna kulitnya hitam legam, dan saat kuserahkan pasokan akik itu ke tangannya yang keempat, ia pun manggut-manggut. Ia katakan padaku, untuk membuat lebih banyak lagi, demi bisnisnya. Bisnis rasa, bisnis hati, dan aku pun senang, karena aku pun mendapatkan kelegaan, dan profit. Surat 84. 11:09:44 02/08/07 Angka empat yang suci. Yang lengkap. Menggenapi diri kita. Surat 85. 11:20:37 02/08/07 Kutarik diriku dari kesadaran ini. Kubawa ke alam nun jauh, dalam nir sadarku. Dan kutemukan sebuah upacara yang hangat oleh kegembiraan. Di sana Mo Limo bangkit, membawaku kepada kesempurnaan. Surat 86. 11:27:02 02/08/07 Minuman dewa, teh dua warna, direbus bersama,

air sebatok, dengan sesudu adas, jahe serimpang, kayu manis dua aras, kunyit putih serimpang, yang didiamkan, setelah diberi dua tangkup aren, dan dikucuri madu dua sudu, dan didiamkan dingin, dan disaring, dan dicampur dengan arak segantang, dan diperami dengan dendeng sapi, dan disimpan, dalam guci tertutup, dan ditunggu 21 hari, dalam gelap yang kelam, sebelum diminum, sekecup awal hari sekecup akhir hari. Demikianlah kebijaksanaan, dari Boedhi Margono, sang penyihir agung. Surat 87. 11:34:44 02/08/07 Di labirin ini tempat aku bermeditasi untuk mendapatkan kesaktian, dalam kesunyian, dan keindahan. Di labirin ini kutemukan semua jalan ke inti mencapai diriku sendiri. Diriku memang sang Tuhan. Di labirin ini, aku diam, tertawa, menari, menyedot jempolku sendiri, dan bernyanyi. Surat 88. 11:39:45 02/08/07 Ketidakteraturan lebih asli dibandingkan keteraturan. Keteraturan membawa karma si takdir bergerak seperti bom atom yang meledak meleter kemana-mana

dan tak bisa dihentikan lagi. Saat keteraturan sudah ada, dunia menjadi keterlanjuran, dimana ada lahir, dan ada mati. Ada Tuhan dan ada hamba sahaya. Mencapai kesejatian, mencapai ketidakteraturan, mencapai khaos. Surat 89. 11:52:32 02/08/07 Orang yang hidup diperintah-perintah akan cenderung menjadi tuli. Itu, karena kesadarannya kemudian menyempit ke dalam. Ia bertahan, dengan menjadi batas-batas dirinya sendiri. Ia melarikan diri ke dalam, meringkuk sembunyi, dalam pagar ingatan, melepas bencana kekuasaan. Ia tak akan bisa lagi mendengar sesuatu dari arah yang luas. Surat 90. 12:04:16 02/08/07 Aku menari mabuk dengan pisau di tangan, menerjang kabut di gunung yang sunyi ini. Kemenyan mengayun, dupa bergulung, dan persembahan sesajenan terberai, dan aku berputar, bersama angin, bersama basahnya rumput dan jamur. Guntur dan badai, ku tunggu kalian, untuk aku bisa menyatu. Kutunggu semua mahluk gunung, kusapa kalian, dengan wajahku yang menggila ini. Kugapai zat ketujuh, dalam gulungan apiku, yang meledak-ledak, dalam kegeraman pencarian. Dalam semua guncangan perasaan, dan gumpalan fikiran,

aku berteriak, tertawa histeris, dan terus menari-nari, hingga aku kolaps. Jatuh tersungkur, didera hujan, kabut, ingatan, dan kegetiran yang semakin kumengerti. Dalam tangisanku, dalam desahanku, dalam kegilaanku yang tetap bertahan. Kuingat tarian ini. Kuingat kegelapannya yang indah, kuraba dengan benih kesempurnaanku, yang mencatatnya abadi. Surat 91. 12:14:26 02/08/07 Kususur tersaruk jalanan kota ini, menemui seribu pengemis dan bertanya tentang mantra-mantra paling penting kepada mereka. Kugapai kotoran yang suci, kujilat dan kumakan ampas-ampasnya, kubernafas dalam lumpur kental, dari kubangan kematian. Aku tersaruk berjalan, menuju ujung batas, menuju kebuntuan, yang kucari. Kubuat tubuh ini bertahan, saat sisa kewarasanku bergolak, dalam sakit dan lapar. Aku menunggu benih tersembunyi ini, tumbuh meledak, dan saat itu, aku harus kembali, dalam ruanganku yang sepi. Untuk kalian. Surat 92. 12:23:03 02/08/07 Aku mengencingi tulisan itu, seperti kau memujanya. Kata-kata, makna-makna, tanda-tanda, kala-kala. Aku melihat kesementaraan,

seperti engkau mengamini keabadian. Dan aku pun kehabisan air kencing, untuk mengencingi, semua yang perlu dikencingi. Umurku kurang panjang, untuk bisa mengencingi, seluruh penjuru alam. Kulihat cahaya raksasa itu, dan aku pun mengerti, hanya benda itu, yang perlu kukencingi, untuk memadamkan seluruh bencana dunia. Surat 93. 12:28:55 02/08/07 Saat yang tepat, bepergian di kala surya, mulai tenggelam. Dalam temaram, dan kegelisahan sang alam, kita menemukan tahapan energi, yang merasuk deras, dalam jalur sushumna. Lakukan, lakukanlah, perjalanan itu, tiap kala, dan resapi, dengan nafas penuh. Lihat, lihatlah api merah itu, dengan senyum. Terimalah gapaiannya yang galau, terimalah tusukannya yang indah, ke dalam arwahmu. Rasakan gulungan itu, terpicu api surya yang terakhir. Dan biarkan ia meledak, seperti tabung gas elpiji, dalam saluran meriam, ke angkasa. Biarlah ia memicu, semua gerak roda, dalam dirimu. Surat 94. 12:40:07 02/08/07 Aku mempertahankan jaket ini, agar aku tetap bisa merasakan, harkatku sebagai manusia.

Jaket ini, yang tetap membuatku hidup, di panas dan dingin. Biarlah langit menjadi atapku, biarlah hujan menggapaiku, biarlah, jalanan ini menguasaiku. Namun jaket inilah, yang membuaiku, seperti saat ku dulu meringkuk tidur dalam buaian ibuku. Surat 95. 12:43:18 02/08/07 Tolonglah mereka yang lemah. Bukan menolong mereka yang benar. Jika kau selalu menolong mereka yang benar, kalian akan saling bertarung, antara sesama manusia, menjadi teroris untuk satu dengan yang lainnya. Jangan takut, pada kesalahan, yang akan mendidikmu, menjadi rendah hati, dan tahu kebusukan, dari moral, kebenaran, dan kekuasaan. Surat 96. 12:48:41 02/08/07 Aku memandang cermin, melihat diri, memancangkan perhatian, untuk kebangkitanku. Kusaksikan kebangkitan ini, seolah ada pendaran yang mengerjap luas, dan dua wajah yang saling bertutur. Dua rotor, dua generator, yang saling memicu, dan aku pun terbangkitkan. Gemetar seluruh bayangan, gemetar seluruh alamku. Gemetar sang bayang. Kondensatorku menjadi sungguh penuh, dan aku pun sangat kenyang. Kulihat di cermin itu, mata seperti butiran berlian. Aku pun berbunga-bunga, merekah merah, menyambut sinar diriku.

Surat 97. 13:10:30 02/08/07 Mie ayam dan bakso boraks dengan daging dari tikus yang ganteng serta tahu renyah dan permen legit abadi oleh formalin. Sungguh enak, sungguh memuaskanku. Biarlah tubuhku abadi, bersama abadinya perputaran uang, di jalanan dan di bank-bank. Surat 98. 13:18:30 02/08/07 Berhala-berhala imajiner, berhala yang agung. Berhala imajiner, seperti imaji dari diri, berisi semua cerminan ego, yang sangat negatif dan merusak. Imaji berhala-berhala, membawa terang, yang menipu. Berhala diri itulah, yang menyuap hati nurani, agar mundur dan menutup matanya yang bening. Berhala di luar, adalah berhala di dalam. Berhala imajiner, adalah sosok, si perkasa, yang ketakutan, oleh kebebasan. Berhala imaji, sang perongrong. Kreasinya, bukanlah kreasi. Surat 99. 13:30:13 02/08/07 Jika kalian percaya padaku, berarti kalian bodoh. Jika kalian percaya padanya, berarti kalian jahat. Jika kalian percaya pada diri kalian sendiri, maka kalian gila. Siapakah yang akan kalian percayai? Surat 100. 13:37:59 02/08/07

Kurubah wajahku, menjadi peta semesta. Aku berdiri, memberi batas langit. Dan aku pun bergoyang-goyang, menjadi anak kecil. Surat 101. 13:59:28 02/08/07 Berlatihlah sihir, temanku, agar hatimu menjadi bersih. Berlatihlah sihir, temanku, agar nuranimu kembali hadir. Berlatihlah sihir, temanku, agar tak ada yang menguasaimu. Berlatihlah sihir, temanku, agar kesakitan dunia terobati. Berlatihlah sihir, temanku, agar tak ada lagi orang yang tertipu. Berlatihlah sihir, temanku, agar anak-anak, bahagia dengan jalan ke kedewasaannya. Berlatihlah sihir, temanku, agar surga, hadir di dunia. Surat 102. 14:22:04 02/08/07 Panah, melesat. Crabb!!! Tai, keluar, cretttt!!! Surat 103. 7/6/2007 Juga dengan mata dan hati, juga dari hidup. Desau dari rasa duri, atau ujung dari tiup angin. Angin... datanglah dalam kejayaan, sebelum maut menjemput. Surat 104. 10/1/1999 Hari akan seperti kanker

yang mengerogoti jiwa yang memang sudah busuk. Sementara hidup terasa lebih lama pada saat suatu tujuan yang tentu dan tidak kita inginkan akan menerjang kita. Umur semakin pendek pada saat suatu kenikmatan belum kita peroleh saat ini. Bencana bagai roda-roda gila tak tentu arah menggelinding, semua jalan adalah sama. Tinggal pada saat kita berpijak siap digilas. Arti dan tidak berarti Tinggal menunggu siapa yang bicara. Walau diri kita tak bisa bohong kita mempunyainya. Aku dan kamu Sekumpulan burung nazar yang tinggal dalam suatu kurungan besi siap untuk jadi santapan singa-singa yang sebenarnya tak mau makan daging. Surat 105. 31/5/2000 Dirinya menari di keremangan malam seperti hantu yang berjalan menandaknandak para dokter jiwa menahan nafas menanti ia lelah dan puas Surat 106. 22/3/2000 Seperti gedebog pisang, melawan ketidak adilan, dengan keadilan. Surat 107. 22/3/2000 Sorry, ya……… Ini bukan makanan yang bisa kau ambil, begitu saja. Kau harus bayar banyak, dan menghormat dulu padaku. Siapa bilang hidup ini mudah? Tak ada orang setolol kamu, saat mengulang-ulangnya. Aku lelah karena emisan, Membuat jantungku berdebar terus.

Aku harus irit dalam hidup, karena yang kukumpul sekarang, sungguh membanggakan. Surat 108. 22/3/2000 Di dering teriak yang membahana langit Menembus gunung bersalju masif Terkurung dalam biru langit terjal Yang terarak diantara kabut kental Mata sang raja Dan paruh baja Melantun semua kekayaan dewa Dan berlari diantara kepakannya Ke dunia yang tak membatas Diantara julangan gunung, danau hijau, dan Hutan-hutan yang lembab Dalam doa alam raya Membaur penglihatan terhadap zaman silam Tak teraba oleh mata-mata kabur Tarikannya yang ber-ether Menembus batas langit dan butir jam pasir kita Alunan bulu diserut angin deras Dipeluk oleh gumam alam Doa fajar yang bersingsing Hingga merahnya terkubur samudra. note : prekk !!!

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful