MODUL GEH DIARE KELOMPOK 5 030.07.193 030.07.194 030.07.195 030.07.196 030.07.

199 030.07.201 030.07.202 030.07.204 030.07.205 030.07.206 030.07.207 030.07.208 030.07.209 030.07.210 030.07.309 030.07.310 030.07.311 030.07.312 030.07.313 030.07.314 Novitri Anggraeni Nur Azizah Nurfira Fatimah Nurisnan Olfyanto S. Oriana Puji P. Pandu Abdul Syakur Petrus Okky Bertadi Y. Primanda Andyastuty Putri Balqis Putri Inda Fawzia Putri Kurniasari Putri Mulyati Rangga Novandra Rayindra Dwi Rizky Nazlia Binti Razali Nik Muhd Faris Bin Nik AB Noor Hafizah Binti Mohd Y. Noor Zaehan Hani Binti Zol Noraiman Bin Roslim Norasikin Binti Alias

Jakarta, 23 September 2008

Pendahuluan Diare pada anak masih merupakan problem kesehatan dengan angka kematian yang masih tinggi terutama pada anak umur 1-4 tahun, yang memerlukan penatalaksanaan yang tepat dan memadai. Secara umum penatalaksanaan diare akut ditujukan untuk mencegah dan mengobati, dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit, malabsorpsi akibat kerusakan mukosa usus, penyebab diare yang spesifik, gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta. Untuk memperoleh hasil yang baik pengobatan harus rational. Sebagian besar dari diare akut disebabkan oleh karena infeksi. Banyak dampak yang dapat terjadi karena infeksi saluran cerna antara lain: pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan gangguan keseimbangan asam basa. Invasi dan destruksi pada sel epitel, penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili yang dapat menimbulkan keadaan maldigesti dan malabsorpsi. Dan bila tidak mendapatkan penanganan yang adekuat pada akhirnya dapat mengalami invasi sistemik. Beberapa cara penanganan dengan menggunakan antibiotika yang spesifik dan antiparasit, pencegahan dengan vaksinasi serta pemakaian probiotik telah banyak diungkap di beberapa penelitian. Definisi Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat) , kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya, lebih dari 200gr atau 200ml/24 jam. Berdasarkan lamanya waktu diare, WHO membagi diare ke dalam tiga kelompok, yaitu diare akut (kurang dari dua minggu), diare persisten (2 minggu-2 bulan), setra diare kronik (lebih dari dua bulan). World Gastroenterologi Organisation Global Guidelines 2005 mendefinisikan diare akut sebagai passage tinja yang cair atau lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal dan berlangsung kurang dari 15 hari.

• Diare karena bakteri/parasit invasif (enterovasif) Disebut juga diare inflamatory.coli. ion karbonat. Sigella spp. 5’ –siklik monophospat dinukleotid pada dinding sel usus naik sekresi aktif ion klorida ke dalam lumen usus meningkat yang disertai air. serta defisiensi enzim pencernaan. Contoh bakteri yang dapat menyebabkan diare sekretorik anatra lain Enterotoxineic E. dan lain-lain. Salmonellan spp. serta virus. Sifat dari diare ini adalah sekretorik eksudatif. Aeromonas spp. efek obat-obatan. Menenpelnya kuman pada dinding usus ulserasi dan nekrosis pada dinding usus darah. natrium dan kalium. parasit. Pathogenesis • Diare karena bakteri noninvasif (enterotoksigenik) Disebut diare sekretorik atau watery diarrhea. Bakteri yang tidak merusak usus mukosa usus halus mengeluarkan toksin yang terikat pada enteroroksin meningkatkan nikotinamid adenid kadar adenosin 3’. Entamoeba histolytica. Cotoh mikroorganisme yang menyebabkan diare invasif misalnya Enteroinvasive E.coli. Faktor infeksi yang dapat menyebabkan diare adalah bakteri. Sedangkan faktor noninfeksi yang dapat menyebabkan diare antara lain keracunan makanan.Vibrio cholerae non 01. merusak dindind usus terjadi cairan diare tercampur lendir dan . dan Vibrio cholerae 01.Etilogi Diare akut dapat terjadi akibat faktor infeksi atau faktor noninfeksi.

anatomi saluran cerna Anatomi saluran cerna terdiri dari saluran cerna dan organ pencernaan tambahan. Saluran cerna dimulai dari mulut-pharing-oesophagus-lambung-usus halus (duodenum. pankreas.Anatomi dan Faal saluran cerna Gambar 1. struktur dari lumen dari saluran pencernaan dibagi menja di empat bagian. colon descendend. yaitu: 1. Secara garis besar. Tunika muskularis mukosa .yeyenum. serta kandung empedu. ileum)-usus besar/colon (caecum.colon ascendend. rectum). Tunika mukosa 2. Organ pencernaan tambahan antara lain hati. dan anus.1. Tunika submukosa 3. colon transversum.

sekresi .4. pencampuran lambung. Asam menyebabkan amilase tidak aktif. Namun sebagian besar pencernaan yang dilakukan oleh enzim ini berlangsung di korpus lambung setelah massa makanan dan air liur telah tertelan. Pencernaan di mulut melibatkan hidrolisis polisakarida menjadi disakarida oleh amilase. Setelah makanan berada di mulut kemudian makanan akan menuju lambung melalui faring dan oesophagus. penyimpanan lambung. dan penyerapan (absorbsi). pencernaan (digesti). Terdapat empat aspek motilitas lambung. dan pengosongan lambung. Setelah menjadi . yaitu motilitas. yaitu pengisian lambung. tetapi di bagian tengah massa yang belum dicapai oleh asam lambung berfungsi selama beberapa jam lagi. Proses pencernaan berawal dari mulut.2. Struktur lumen saluran pencernaan Proses yang terjadi dalam saluran cerna dibagi menjadi empat proses. Tunika adventisia/serosa Gambar 1. Makanan yang berbentuk bolus akan dihaluskan dan dicampur dengan sekresi lambung untuk menghasilkan cairan kental yang disebut kimus.

makanan akan masuk ke dalam usus halus dimana epitel sel usus halus akan menghasilksan enzim disakaridase untuk mencerna komponen disakarida menjadi monosakarida. feses menjadi lebih padat dan akhirnya dikeluarkan (defekasi) melalui anus. ketika kita mengkonsumsi cairan. Oleh karena itu ketika ion-ion dan nutrien diabsorbsi. Pada gizi buruk mikroorganisme masuk menuju usus halus. Hal ini mengakibatkan terjadinya hiperperistaltik usus sehingga sekresi cairan usus meningkat. air dengan isoosmotik yang sama juga diabsorbsi. Oleh karena sifat air yang cenderung mengikuti perpindahan partikel / zat. enzim-enzim pencernaan yang melekat pada mukosa usus halus akan menjadi berkurang. Makanan di usus menjadi tidak dapat diserap sehingga makanan di dalam usus menjadi hiperosmotik. Setelah megabsorbsi makanan. Di usus halus mikro organisme mengeluarkan toksin. kimotripsinogen. banyak natrium yang disekresi ke lumen dan hal ini juga diikuti oleh perpindahan air ke lumen.kimus. sehingga tinja menjadi lebih cair. Pada penderita diare lapisan epitel usus menjadi rusak. Air juga dapat ikut terserap jika ada partikel terlarut yang diabsorbsi masuk ke darah. bila makanan yang dikonsumsi hiperosmotik. Akibat penyerapan air. sehingga makanan atau kimus bisa isoosmotik dengan darah. dan karboksipeptidase yang akan menghidrolisis protein dalam bentuk molekul dengan BJ kecil menjadi asam amino. maka pada keadaan diare. Proses ini bisa juga terjadi sebaliknya. enzim tripsinogen. selanjutnya air dari mukosa usus akan berosmosis ke pembuluh darah. Pada keadaan normal. kemudian sisa makanan akan menuju ke usus besar untuk penyerapan air. Akibat dari rusaknya epitel usus. Berkurangnya enzim-enzim pencernaan menyebabkan cairan yang disekresikan ke usus menjadi berkurang. maka usus akan menarik air dari pembuluh darah dan mensekresinya. penyerapan cairan akan terjadi di membran usus melalui proses difusi. Sekresi cairan usus yang meningkat mengakibatkan .

maka mekanisme tubuh mempertahankan keseimbangan cairan intraseluler. dengan aktivasi ATPase. K+ dipengaruhi oleh vitamin D. Ekskresi : Terutama di ginjal. Makanan yang dicerna menjadi berkurang sehingga menimbulkan diare. reabsorpsi kembali Na (oleh aldosteron). Na masuk sel lebih lambat ke sel daripada K. Jumlah cairan tubuh dalam persentase berat badan : Intrasel Ekstrasel Bayi premature 30 50 Neonatus 35 35-40 Anak 35 30 Dewasa 40-45 15-20 Mekanisme tubuh mempertahankan keseimbangan antara cairan intra dan ekstrasel : Akibat sifat air yang selalu bergerak dari konsentrasi air yang tinggi (zat terlarut rendah) ke tempat yang konsentrasi airnya rendah (zat terlarut tinggi). Kalium (oleh aldosteron.enzim pencernaan menjadi berkurang. sedikit di gaster (dipengaruhi oleh pompa K dan Na). dan ektraseluler. Mekanisme mempertahankan keseimbangan antara cairan intra dan ekstrasel : . Na diatur oleh pusat dahaga oleh perasaan haus (hypothalamus) dan evaporasi. hampir sama dengan cara tubuh mempertahankan keseimbangan zat terlarut di intrasel dan ekstrasel. disetimbangkan dengan transport aktif. Absopsi : Na paling banyak di jejunum. Jika vitamin D menurun maka absorpsi K+ juga menurun.

tetapi meskipun konsenterasi ion pada tiap-tiap bagian berbeda. hukum netralis listrik menyatakan bahwa jumlah muatan-muatan negatif harus sama dengan jumlah muatan-muatan positif. Komposisi dari elektrolit-elektrolit tubuh baik pada intraseluler maupun pada extraseluler terinci dalam tabel di bawah ini: f. e. Intertitiel bertukaran dengan intraseluler dengan membran permeabel yang aktif. Intravaskuler bertukaran dengan intertitiel yang semipermeabel c. Kadar Elektrolit Plasma Kation (+) Na+ K+ Ca2+ Mg2+ mEq/L 142 5 5 3 Anion (-) HCO3ClHPO4SO4Organic acid Protein TOTAL 155 TOTAL mEq/L 27 103 2 1 6 16 155 Kadar Elektrolit Intrasel Kation (+) Na+ K+ Ca2+ Mg2+ mEq/L 10 141 0 31 Anion (-) HCO3ClHPO4SO4mEq/L 10 4 11 1 . Konsenterasi elektrolit dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagian dengan bagian lainnya. d. Plasma darah pindah ke seluruh tubuh b.a.

35 maka keadaan tersebut dikatakan asidemia sedangkan bila pH lebih dari 7. pH dalam tubuh dipertahankan antara 7. Ginjal menyesuaikan jumlah garan yang diekskresi dengan mengontrol dua proses yaitu laju filtrasi glomerulus (GFR) dan yang lebih penting adalah reabsorpsi Na+ di tubulus. Natrium difiltrasi secara bebas di glomerulus dan direabsorpsi secara aktif. Garam dan cairan yang seharusnya difiltrasi dan diekskresi sekarang ditahan dan membantu memperkecil reduksi volume cairan dan mengatasi penurunan beban Na+ dalam tubuh.35-7. Sebaliknya peningkatan volume cairan ekstrasel dan Na+ akan secara refleks dilawan oleh respon baroreseptor yang menyebabkan peningkatan GFR dan menyebabkan peningkatan ekskresi garam dan cairan. GFR akan menurun dan demikian jumlah Na+ dan cairan yang menyertainya yang difiltrasi juga akan berkurang.Protein 4 Penyimpangan volume cairan extrasel yang menyertai perubahan beban garam akan mencetuskan respon kompensasi ginjal yang dengan cepat memulihkan beban Na+ dan volume cairan ekstrasel ke tingkat normal. tetapi ion ini tidak disekresikan oleh tubulus. Bila pH kurang dari 7. Cara mempertahankan pH dalam tubuh :  Sistem Buffer : sistem ini mengubah asam dan basa kuat menjadi asam dan basa lemah Ex : a) Pembentukan karbamino oleh hemoglobin : .45. Penurunan kadar Na+ di dalam tubuh akan mengakibatkan penurunan aliran darah ke glomerulus .45 disebut alkalemia.

b) Dalam epitel tubulus Ha2HPO4 diubah menjadi Na2HPO4 sehingga ion Na tidak dikeluarkan. tetapi ion H yang dibuang bersama urin. pH bergantung kepada rasio bikarbonat dan asam karbonat.4 = HCO3.6. kadar bikarbonat dan asam karbonat dalam darah. Walaupun demikian ginjal tidak mampu membentuk urin dengan pH < 4.↔ Hb NH2COOK b) H2CO3 ↔ Na2HCO3 c) NaH2PO4 ↔Na2HPO4 d) Protein yang bersifat amfoteris : H protein ↔ Na protein  Homeostatis respiratorik : Untuk mengetahui keseimbangan asam-basa perlu diketahui hubungan antara pH. Dalam keadaan normal akan didapatkan : pH = 7. . Ginjal menetralisasi asam dengan 2 cara : a) NH4 digabungkan dengan PO4 dan SO4 sehingga ion Na tidak dikeluarkan dari tubuh.= 20 H2CO3  Homeostatis ginjal : Kelebihan asam akan dikeluarkan oleh ginjal dengan membentuk urin yang asam.Hb NH2COO.

Identitas masalah Identitas pasien  Jenis kelamin: lelaki  Usia: 3 tahun  Berat badan: 9kg  Panjang badan: 79cm Riwayat penyakit  Diare selama 2 hari  Frekuensi diare 6-8x/hari  Muntah-muntah sebanyak 3x sebelum ke RS  Demam  Batuk pilek  Tinja cair berlendir kira-kira ¼ gelas setiap kali diare Riwayat kelahiran . Bila pH kurang dari 7.35-7.pH dalam tubuh dipertahankan antara 7.45.35 maka keadaan tersebut dikatakan asidemia sedangkan bila pH lebih dari 7.45 disebut alkalemia.

 Lahir cukup bulan  Berat badan: 2200kg  Panjang badan: 48cm Riwayat makanan ketika bayi  Pemberian ASI selama 3 bulan kemudian digantikan dengan susu botol Tanda-tanda vital  Suhu tubuh: 38C (subfebris)  Frekuensi pernafasan : 56x/menit (tachypneu)  Denyut jantung : 148x/menit (tachycardia)  Kesadaran menurun Urutan pemeriksaan dalam menaggulangi masalah diare dilakukan dalam empat tahap. Pemeriksaan lab dan pemeriksaan penunjang lainnya Anamnesis: Anamnesis sangat penting dalam menegakan diagnosis etiologi. Anamnesis 2. Dalam melakukan anamnesis perlu ditanyakan hal-hal sebagai berikut: . yaitu 1. Pemeriksaan fisk 3.

misalnya nyeri dengan lokasi menetap menunjukkan kelainan organic. misalnya lama diare kurang dari 3 bulan . tinja berbau asam menunjukkan gangguan penyerapan karbohidrat • Nyeri abdomen. sepanjang hari atau mendadak mengarah ke penyakit organic. diare bercampur makanan menunjukkan waktu transit usus yang cepat . sedangkan nyeri di supra pubik. sedangkan diare dengan riwayat berpergian pada turis mengingatkan pada traveller’s diarrhea atau tropical spru • Bentuk tinja. diare seperti air kemungkinan kelainan dari usus halus. sedangkan nyeri abdomen dengan lokasi berubah-ubah menunjukkan diare fungsional (psikogenik).• Waktu dan frekuensi . sering terjadi pada infeksi. • Penurunan berat badan dengan riwayat dehidrasi/hipokalemia menunjukkan penyakit organic . kanan atau kiri bawah menujukan kelainan usus besar • Demam. nyeri disekitar pusat menunjukkan kelainan usus halus. diare yang tidak bisa di tahan mengarah ke penyakit inflamatorik. sering menyertai infeksi atau keganasan • Mual muntah. misalnya steatorrea menunjukkan kelainan pada pancreas/ileosaecal.

diare setelah minum susu menunjukkan intoleran lactose yang menyebabkan orang tersebut diare Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik atau manisfestasi klinis kebanyakan tidak spesifik dan sering menujukan adanya malabsorsi nutrisi dan defisiensi vitamin dan elektrolit • Inspeksi : penururan berat badan (dikarenakan dehidrasi dan malabsorbsi). anti depresan dan prostigmin dapat menyebabakan diare • Makanan dan minuman misalnya makanan dengan osmotic berlebihan. Dalam praktik sehari-hari. ubun-ubun cekung. kulit kering . mata cekung. seperti laksans. antibiotika anti kanker. pemeriksaan laboratorium lengkap hanya dikerjakan jika diare tidak sembuh dalam 5 – 7 hari. Pemeriksaan laboratorium yang perlu dikerjakan: . turgor kulit menurun • • • Perkusi : adanya distensi abdomen Palpasi : Turgor kulit kurang elastic Auskultasi : terdengarnya bising usus Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnosis kausal yang tepat sehingga kita dapat memberikan obat yang tepat pula.• Penggunaan obat.

Makroskopik dan mikroskopik b. pada diare kronik untuk mencari kuman penyebab CAIRAN REHIDRASI ORAL Komposisi oralit menurut WHO/UNICEF adalah kandungan NaCl KCl Glukosa jumlah 3.1. Pemeriksaan tinja a. Kadar ureum (untuk mengetahui adanya gangguan faal ginjal) 3.5 gr/l 1. Intubasi duodenal. Pemeriksaan darah a. Tes resistensi terhadap berbagai antibiotika d. Pemeriksaan elektrolit.5 gr/l glukosa 111 mmol/l Konsentrasi 90 mmol/l 10 mmol/l 80 mmol/l .5 gr/l 20 gr/l ion natrium Sitrat Kalium klorida Trinatrium sitrat 2. pH dan kadar gula. Darah lengkap b. pH dan cadangan alkali (jika dengan pemberian RL intravena masih terdapat asidosis) c. jika diduga ada intoleransi laktosa 2. Biakan kuman c.

rasio tersebut digunakan untuk penyerapan natrium yang maksimal • Konsentrasi K+ harus sekitar 20 mmol/l untuk mengganti kekurangan kalium • Konsentrasi basa 10mmol/l untuk sitrat dan 30mmol/l untuk bikarbonat. perbandingan konsentrasi K+ dan basa digunakan untuk koreksi asidosis metabolik Kekurangan dan kelebihan penggunaan cairan rehidrasi oral: Kelebihan cairan rehidrasi intravena Mudah dan murah Sama efektifnya dengan cairan rehidrasi intravena Waktu yang dibutuhkan lebih cepat daripada harus memasang infus terlebih dahulu Pasien yang diterapi dengan cairan rehidrasi oral lebih sedikit yang Tidak dapat diberikan pada pasien yang disertai muntah Kekurangan cairan rehidrasi intravena Kurang stabil Kalorinya rendah .Oralit dapat dibuat dengan beberapa cara: • • Cairan mempunyai osmolaritas mirip plasma Konsentrasi natrium harus dapat mengganti kekurangan natrium pada anak • Rasio glukosa terhadap natrium paling tidak 1:1.

> 10% ± 30 ml/kg/1 jam NaCl 0. NWL (normal water loss) .9% IV/ 3 jam IV/ 3 jam Jenis cairan Cara/lama Cairan untuk rumatan dapat ditentukan oleh: CWL + NWL + kenaikan suhu tubuh Kenaikan 1o C = 12 cc CWL (concomitten water loss) merupakan hilangnya cairan dari muntah dan feses selamanya berlangsungnya diare. 5% Sedang. 6-9% ± 50 ml/kg/3 jam ½ darrow ± 70 ml/kg/ 3 jam Berat.masuk perawatan rumah sakit Komplikasinya lebih sedikit daripada cairan rehidrasi intravena CAIRAN REHIDRASI INTRAVENA Tahapan-tahapan pemberian rehidrasi intravena Derajat rehidrasi Kebutuhan cairan Ringan.9% IV/ 1 jam NaCl 0.

Hematoma 7. Infiltrasi 8. Thrombo phlebitis . Phlebitis 3. Sepsis 6. Reaksi pyrogen 2. Overhidrasi 4. Emboli 5.Neonatus Dehidrasi Berat 5 tetes/kg BB/menit (2 jam) 3 tetes/kg BB/menit (22 jam) Dehidrasi Sedang 3 tetes/kg BB/menit (24 jam) Dehidrasi Ringan 2 tetes/kg BB/menit Komplikasi pemberian cairan intravena : 1.

keripik. Pengobatan medikamentosa penderita diare • Tidak dianjurkan mengunakan obat symtomatis (misalnya : sakit perut. sebaliknya penderita justru dianjurkan minum sari buah. minuman tidak bergas. tidak dianjurkan untuk berpuasa.pectin) dan obat anti diare (difenoksilat dan loperamid) tidak dianjurkan. kecuali jika terjadi muntah-muntah berat. Obat-obatan ini berbahaya karena memberikan kesan “sembuh palsu” dan yang paling penting mempengaruhi motilitas usus yang justru menghambat pengeluaran bakteri bersama tinja dan member kesempatan kepada bakteri untuk lebih lama dalam tubuh dan berkembangbiak di dalam usus • Antibiotika . Minuman beralkohol dan berkafei juga harus dihindari karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus. Susu sapi harus dihindari karena adanya defisiensi enzim laktase yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. makanan mudah dicerna seperti pisang. dan sup. nasi.Pengaturan diet penderita diare Pada penderita diare.pusing dll) karena akan memperberat diare • Obat antidiare Pemberian obat pengeras tinja (kaolin. teh.

b) Pada bayi dengan susu formula . makanan tambahan) dilanjutkan dengan fase readaptasi. Early feeding. Simultaneously with Education. Lemak. dan Protein • Intolerans Laktose Dengan cara melakukan test pada kadar glukosa gula darah. Pengobatan dietetik : sebagai pegangan dalam melaksanakan pengobatan dietetik. Pada bayi berumur < 4 bulan(sudah mendapatkan buah-buahan. jika diperlukan berikan sesuai dengan hasil biakan dan resistensi Skrining untuk menentukan adanya intolerans Karbohidrat. bahkan berbahaya karena dapat mengubah/ overgrowth flora usus sehingga diare bertambah buruk . dipakai singkatan O-B-E-S-E.Antibiotika pada umumnya tidak dianjurkan. sedikit demi sedikit makanan diberikan kembali seperti sebelum sakit. Breast feeding. sebagai singkatan dari Oralit. Cara pemberian makanan : a) Pada bayi dengan ASI ASI dilanjutkan bersama-sama dengan oralit secara bergantian.

NGT(naso gastric tube)  Formula lengkap mengandung NaCl. c) Anak –anak berumur lebih dari satu tahun  Dengan gizi buruk ( berat badan < 7 kg). . realimentasi sama dengan bayi.air tajin garam. tepung beras garam dan sebagainya untuk pengobatan pertama dirumah.  Dengan gizi baik. KCL dan glukosa.Diberikan oralit. diberikan sedikit demi sedikit mulai hari ke 3.  Formula sederhana hanya mengandung NaCl dan sukrosa/ karbohidrat lain. NaHCO3. Ad libitum 2. Jika bayi telah mendapatkan makanan tambahan. makanan tambahan untuk sementara dihentikan. realimentasi sebagai berikut : 1) Hari 1 : Oralit + bubur tanpa sayur + pisang 2) Hari 2 : Bubur dengan sayur 3) Hari 3 : makanan biasa Tindakan Rehidrasi pada diare : a) Rehidrasi oral : Dehidrasi ringan/ sedang : 1. Kadar Na 90mEq/l untuk kolera akut dan diare akut pada anak diatas 6 bulan dengan dehidrasi ringan dan sedang atau tanpa dehidrasi(untuk pencegahan dehidrasi). misalnya larutan gula garam. selang-seling dengan susu formula.

45 disebut alkalemia.Kadar untuk rehidrasi oral : 70cc/kgBB/menit = 5 tetes/kgBB/menit. Cara mempertahankan pH dalam tubuh :  Sistem Buffer : sistem ini mengubah asam dan basa kuat menjadi asam dan basa lemah Ex : a) Pembentukan karbamino oleh hemoglobin : Hb NH2COO.35-7.35 maka keadaan tersebut dikatakan asidemia sedangkan bila pH lebih dari 7. .45. b) Rehidrasi intra vena :  6. kadar bikarbonat dan asam karbonat dalam darah. pH dalam tubuh dipertahankan antara 7. Bila pH kurang dari 7.↔ Hb NH2COOK b) H2CO3 ↔ Na2HCO3 c) NaH2PO4 ↔Na2HPO4 d) Protein yang bersifat amfoteris : H protein ↔ Na protein  Homeostatis respiratorik : Untuk mengetahui keseimbangan asam-basa perlu diketahui hubungan antara pH.

. atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena. terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar. atau kapiler. atau “tusukan” berulang pada pembuluh darah. terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum. Walaupun demikian ginjal tidak mampu membentuk urin dengan pH < 4. yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus: • Hematoma. Dalam keadaan normal akan didapatkan : pH = 7.= 20 H2CO3  Homeostatis ginjal : Kelebihan asam akan dikeluarkan oleh ginjal dengan membentuk urin yang asam. d) Dalam epitel tubulus Ha2HPO4 diubah menjadi Na2HPO4 sehingga ion Na tidak dikeluarkan. terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah. Ginjal menetralisasi asam dengan 2 cara : c) NH4 digabungkan dengan PO4 dan SO4 sehingga ion Na tidak dikeluarkan dari tubuh. yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah). • Infiltrasi.pH bergantung kepada rasio bikarbonat dan asam karbonat.4 = HCO3.6. • Tromboflebitis. tetapi ion H yang dibuang bersama urin.

Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh. Terapi awal. Bertujuan untuk memperbaiki dinamik sirkulasi dan fungsi ginjal dengan cara re-ekspansi dengan cepat volume cairan ekstraseluler. Untuk itu larutan elektrolit dengan kadar Na yang sama dengan darah lebih dianjurkan. Idealnya adalah bahwa seluruh cairan yang diberikan hendaknya tetap berada didalam ruang vaskuler. melalui sebuah jarum. yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah. 2. Glukosa dan Natrium Bikarbonat atau Natrium Sitrat Terapi rehidrasi parenteral memerlukan 3 tahap : 1. Perlu penambahan glukosa dalam cairan. Segera setelah sirkulasi dapat dipulihkan kembali. terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah. karena penderita yang sakit peka untuk terjadinya hipoglikemi dan penambahan basa untuk koreksi asidosis. Terapi lanjutan. ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh. Kalium Klorida.• Emboli udara. Oralit yang menurut WHO mempunyai komposisi campuran Natrium Klorida. terapi cairan berikutnya untuk mengkoreksi secara menyeluruh sisa defisit air dan Na serta mengganti .

namun hal ini tidak esensial. kadang perlu diketahui nilai elektrolit serum sehingga terapi cairan dapat dimodifikasi sesuai dengan kadar Na yang ada (isonatremi. dan biasanya tidak diberikan sebelum 24 jam. Walaupun pemberian K sudah dapat dimulai . Penggunaan cairan infus hanya dibatasi pada anak dengan dehidrasi berat. Perkecualian dalam hal ini adalah bila didapatkan hipokalemia yang berat dan nyata. Pada saat tercapainya tahap ini.kehilangan abnormal dari cairan yang sedang berjalan ( ongoing losses ) serta kehilangan obligatorik (kebutuhan rumatan). hiponatremi atau hipernatremi).3 Pengaturan diet penderita diare . syok.10%) Berat ( > 10%) 50 ml/kg BB dalam 3 – 4 jam 100 ml/kg BB dalam 3 – 4 jam 100 – 150 ml/kg BB dalam 3 – 4 jam (jika masih Kehilangan BB berlanjut mampu minum CRO) 10 ml/kg setiap habis BAB Tidak direkomendasikan Tidak direkomendasikan 20 ml /kg. Penggantian Cairan pada Anak dengan Gastroenteritis5 Derajat dehidrasi Cairan Rehidrasi Oral Cairan intravena/infus (persentase kehilangan berat (CRO) badan/BB) Ringan (< 5%) Sedang (5 . dan ketidakmampuan minum lewat mulut. Bolus dalam satu jam (NaCl atau RL) 10 ml/kg setiap habis BAB atau muntah atau muntah American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian CRO dalam penatalaksanaan diare (gastroenteritis) pada anak dengan dehidrasi derajat ringansedang.

makanan mudah dicerna seperti pisang. Minuman beralkohol dan berkafei juga harus dihindari karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus. teh. sebaliknya penderita justru dianjurkan minum sari buah. nasi. Susu sapi harus dihindari karena adanya defisiensi enzim laktase yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. 2. Daftar pustaka 1. Diare. p. Akbar N. Meadows S. dan sup. tidak dianjurkan untuk berpuasa. Gastroenterologi Anak. Clinical Inquiries. 2007. Banks JB. kecuali jika terjadi muntah-muntah berat.Pada penderita diare. Suraatmaja S. American Academy of Family Physicians. p. keripik. . January 1 2005. Intravenous Fluids for Children with Gastroenteritis. minuman tidak bergas. Jakarta: Sagung Seto. 21-33. American Family Physician. 1-24. 3. Diare. 1997. Sulaiman A. Gastroenterologi Hepatologi. Jakarta: Sagung Seto.

5. Ramsey MR. 2007. 1354-60. Extrarenal Potasium Metabolism. Boston Kluwer Academic.4. 10. Narins RG. p. New York Raven 1992. p. Kamel KS. 1996. Compton SJ. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Heilig CW. Hassan R. Sherwood L. 11. Sudoyo AW. Ilmu Kesehatan Anak Jilid 2. Faber MD. Setiyohadi B. Halperin ML. Alatas H. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. 8. In : Seldin Dw.2165-90. Sangunetti MC. 15th ed. 53-68. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Lux RI. Nelson WE. Steigerwalt SP. 9. p. 1997. Williams Me. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Epstein FH. 2001. Gennari FJ. 7. 4th ed. 506-33. Suraatmaja S. 283-94. Stelich KR. Genetical . Disorder of potasium Balance. 3rd ed. Diare Kronis. The Kidney Physiology and Pathophysiology. Diare Akut. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Gastroenterologi Anak. 2007. Rosa RM. 2006. Giebisch G. Disorder of Potasium Metabolism. 6. Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1. Gastroenterologi. Jakarta: Sagung Seto. 2000. p. p. Philadelphia. Keseimbangan Cairan dan AsamBasa. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Tubuh. 408-13. Green LS.