JURNAL KEUANGAN PUBLIK

Vol. 5, No. 1, Oktober 2008 Hal 85 - 137

ANALISIS RISIKO KETIDAKPATUHAN WAJIB PAJAK SEBAGAI DASAR PENINGKATAN KEPATUHAN WAJIB PAJAK
(Penelitian terhadap Wajib Pajak Badan Di Indonesia) 1 Oleh: Wahyu Santoso2 Abstrak. Analisis dalam penelitian ini berhasil membuat fungsi diskriminan yang dapat digunakan untuk mengelompokkan wajib pajak menurut risiko ketidakpatuhannya, yaitu risiko bahwa ada pajak yang tidak dibayar karena wajib pajak tidak patuh, sehingga dapat digunakan untuk memprediksi kecenderungan wajib pajak sesuai dengan risiko ketidakpatuhan (rendah, menengah dan tinggi). Selanjutnya, fungsi diskriminan dapat dikembangkan menjadi alat efektif untuk pemilihan wajib pajak yang akan diperiksa. Pemilihan wajib pajak yang akan diperiksa berdasarkan tingkat risiko ketidakpatuhan wajib pajak akan dapat memperbaiki efektivitas pemeriksaan pajak dalam rangka meningkatkan kapatuhan wajib pajak. Selain itu, penelitian ini juga berhasil mengidentifikasi variabel-variabel yang berpengaruh kepada ketidakpatuhan wajib pajak badan. Variabel-variabel tersebut adalah tarif pajak, penalti, status pemeriksaan, struktur permodalan (debt to equity ratio), pemegang saham, jenis usaha, skala usaha, pajak relatif terhadap penjualan, dan kompensasi kerugian. Variabel dominan untuk masing-masing kelompok risiko ketidakpatuhan menurut penelitian ini adalah: (1) untuk sampel keseluruhan, tiga variabel paling dominan adalah sanksi, profitabilitas, dan rasio pajak terhadap penjualan; (2) untuk data sampel kelompok risiko ketidakpatuhan rendah tiga variabel paling dominan adalah tarif efektif, profitabilitas, dan rasio pajak terhadap penjualan; (3) untuk sampel kelompok risiko ketidakpatuhan menengah, tiga variabel paling dominan adalah profitabilitas, rasio pajak terhadap penjualan dan status pemeriksaan; dan (4) untuk sampel kelompok risiko ketidakpatuhan tinggi, tiga variabel yang paling dominan adalah debt to equity ratio, sanksi dan peredaran usaha. Keywords: kepatuhan pajak, risiko wajib pajak.

1 2

Disertasi pada Program Doktor Manajemen Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung tahun 2006. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Serang.

85

Jurnal Keuangan Publik Vol. 5, No. 1, Oktober 2008

PENDAHULUAN Komponen penerimaan pajak sebagai unsur penerimaan negara dalam APBN mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari realisasi penerimaan pajak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pada tahun anggaran 1991/ 1992, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp 20,1 triliun. Sedangkan pada tahun anggaran 2001 jumlah tersebut telah mencapai Rp 158,5 triliun atau meningkat lebih dari 600% dalam kurun waktu sepuluh tahun. Dengan mengesampingkan faktor lain, seperti kenaikan nilai tukar dan inflasi, penerimaan pajak dalam rentang waktu sepuluh tahun tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Besarnya kebutuhan penerimaan pajak dalam APBN menuntut administrasi pajak di Indonesia untuk dapat bekerja secara efisien dan efektif, karena sumber daya yang dimiliki oleh administrasi pajak terbatas. Perubahan sistem perpajakan dari official assessment menjadi self assessment, di mana wajib pajak diberi kepercayaan untuk mendaftar, menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan kewajiban perpajakannya menjadikan kepatuhan sukarela wajib pajak sebagai kunci keberhasilan pemungutan pajak. Meskipun demikian, kondisi kepatuhan wajib pajak di Indonesia masih rendah, ditunjukkan dengan masih sedikitnya wajib pajak orang pribadi yang terdaftar sebagai wajib pajak dan dari wajib pajak yang terdaftar hanya sebagian yang melaporkan kewajiban perpajakannya. Sebagai gambaran, misalnya pada tahun 2000, dari sekitar 200 juta penduduk Indonesia

hanya sekitar 1,3 juta orang yang terdaftar sebagai wajib pajak. Ada tiga fungsi administrasi pajak dalam sistem self assessment yaitu: (1) pendidikan (penyuluhan); (2) pelayanan (customer service); dan (3) pengawasan atau penegakan hukum (enforcement) (Milack, 2005). Pemeriksaan pajak merupakan wujud dari fungsi pengawasan yang dilakukan DJP sebagai bentuk pelaksanaan ketentuan perundangundangan perpajakan. Sebagaimana layaknya sebuah pemeriksaan, untuk melakukan pemeriksaan pajak juga perlu dilakukan perencanaan agar hasil pemeriksaan tersebut optimal. Salah satu langkah dalam perencanaan pemeriksaan adalah penentuan audit risk dan inherent risk dari obyek pemeriksaan (Arens et al: 2006:241). Penentuan risiko tersebut dilakukan untuk menilai tingkat kesalahan secara material dalam suatu laporan keuangan (rendah, menengah dan tinggi) sehingga dapat digunakan untuk menentukan tingkat kedalaman pemeriksaan yang akan dilakukan. Dalam kaitannya dengan perencanaan pemeriksaan pajak, penentuan audit risk dan inherent risk dapat dianalogikan dengan penentuan risiko bahwa satu wajib pajak akan melakukan pelaporan pajak yang tidak sesuai dengan ketentuan perpajakan sehingga berpotensi terdapat kesalahan atau wajib pajak tersebut tidak patuh dalam pelaporan pajaknya. Penentuan risiko wajib pajak dapat dilakukan dalam dua tingkatan, yaitu di tingkat kebijakan berupa penentuan wajib pajak mana yang akan diperiksa (audit selection) dan tingkat operasional, yaitu pada saat melakukan pemeriksaan wajib pajak.

86

Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak

Penentuan risiko wajib pajak pada tingkat kebijakan mutlak dilakukan karena administrasi pajak tidak akan mungkin melakukan pemeriksaan atas seluruh wajib pajak yang terdaftar mengingat keterbatasan sumber daya yang ada (OECD, 2005). Pemilihan wajib pajak yang akan diperiksa yang efektif (effective audit case selection) akan menimbulkan persepsi positif di wajib pajak karena wajib pajak yang patuh mempunyai risiko diperiksa yang lebih kecil dibandingkan dengan wajib pajak yang tidak patuh. Di sisi lain, pemeriksaan akan menjadi lebih efisien karena hanya fokus pada wajib pajak yang tidak patuh (Millack, 2005). Pemeriksaan yang tidak memperhitungkan tingkat kepatuhan wajib pajak dapat berakibat pada dilakukannya pemeriksaan kepada wajib pajak wajib pajak patuh, sementara wajib pajak yang tidak patuh justru tidak diperiksa. Hal ini akan berakibat pada rendahnya efektivitas tujuan pemeriksaan yaitu terciptanya kepatuhan wajib pajak yang tinggi. Oleh karena itu, administrasi pajak perlu melakukan pendekatan yang sistematis dalam menentukan wajib pajak mana yang akan diperiksa. Pendekatan sistematis yang umum digunakan oleh administrasi pajak di berbagai negara adalah pendekatan berdasarkan risiko ketidakpatuhan wajib pajak (risk-based approach). Risiko ketidakpatuhan wajib pajak adalah risiko yang harus ditanggung oleh administrasi pajak (atau pemerintah pada umumnya) karena perilaku wajib pajak yang tidak mematuhi ketentuan sehingga ada pajak terutang yang tidak dibayar (taxes at risk) (OECD, 2001).

Berdasarkan latar belakang seperti dijelaskan di muka, dalam penelitian ini, penulis mengajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1) Berapa ukuran risiko ketidakpatuhan tiap-tiap kelompok wajib pajak berdasarkan perbedaan penghasilan neto antara Surat Pemberitahuan wajib pajak dengan hasil pemeriksaan. 2) Apakah terdapat perbedaan ketidakpatuhan yang signifikan antara kelompok wajib pajak yang dikelompokkan ke dalam wajib pajak risiko ketidakpatuhan rendah, menengah dan tinggi. 3) Variabel apa saja yang membedakan wajib pajak ke dalam kelompok risiko ketidakpatuhan rendah, menengah dan tinggi. Selain itu, dalam penelitian ini juga dilakukan pembatasan-pembatasan. Pembatasan pertama adalah penelitian ini terbatas pada kepatuhan material, yakni bagaimana perilaku wajib pajak dalam mengisi SPT untuk menentukan besarnya pajak terutang. Pembatasan kedua, lingkup penelitian ini terbatas pada tingkat kepatuhan dalam pelaksanaan kewajiban material Pajak Penghasilan. Pembatasan ketiga, faktor-faktor kepatuhan yang diperhitungkan sebagai variabel penelitian dibatasi pada faktor ekonomi dari ketidakpatuhan yang ada di dalam wajib pajak yang tercermin dalam pelaporan pajaknya dan faktor yang ada di dalam administrasi pajak yang bersifat kuantitatif misalnya tingkat penalti dan tingkat cakupan pemeriksaan.

87

Jurnal Keuangan Publik Vol. 5, No. 1, Oktober 2008

KAJIAN PUSTAKA Kepatuhan Wajib Pajak Menurut Simon James et al yang dikutip oleh Gunadi (2005), pengertian kepatuhan pajak (tax compliance) adalah wajib pajak mempunyai kesediaan untuk memenuhi kewajiban pajaknya sesuai dengan aturan yang berlaku tanpa perlu diadakannya pemeriksaan, investigasi seksama, peringatan, atau pun ancaman dan penerapan sanksi baik hukum maupun administrasi. Sementara Nurmantu (2003:148) mendefinisikan kepatuhan perpajakan sebagai suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya. Dalam Practice Note tentang Compliance Measurement yang diterbitkan oleh OECD (2001), kepatuhan dibagi menjadi dua kategori, yaitu: (1) kepatuhan administratif (administrative compliance); dan (2) kepatuhan teknis (technical compliance). Kepatuhan administratif mencakup kepatuhan pelaporan dan kepatuhan prosedural. Sedangkan kepatuhan teknis mencakup kepatuhan dalam penghitungan jumlah pajak yang akan dibayar oleh wajib pajak. Berdasarkan kedua definisi kepatuhan di muka, dapat disimpulkan bahwa kepatuhan administratif adalah kepatuhan formal, yakni kepatuhan yang terkait dengan ketentuan umum dan tatacara perpajakan. Sedangkan kepatuhan teknis adalah kepatuhan material, yakni kepatuhan yang terkait dengan kebenaran pengisian SPT dalam menentukan jumlah pajak yang harus dibayar. Dalam studi kepatuhan pajak, terdapat dua model utama yang menjelaskan tingkat kepatuhan pajak, yaitu: (1)

model konvensional (model generasi pertama); dan (2) model generasi kedua (Manasan, 2000 dalam Gunadi, 2005). Model konvensional lebih menekankan persoalan tax evasion dari sisi wajib pajak (taxpayers) dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilakunya. Sementara dalam model generasi kedua, persoalan kepatuhan pajak juga ditentukan oleh pelaku lain, yaitu petugas pajak (tax collector). Dalam model generasi kedua, analisis dilakukan pada pola perilaku kedua belah pihak secara bersamaan untuk mengetahui respon mereka bila terjadi perubahan tarif pajak, tingkat kemungkinan untuk terdeteksi, tingkat penalti, dan sistem bonus bagi petugas pajak. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan model konvensional yaitu pengembangan model untuk menentukan risiko ketidakpatuhan wajib pajak didasarkan pada perilaku pelaporan pajak wajib pajak. Penulis beranggapan bahwa wajib pajak adalah rasional sehingga dalam melaporkan kewajiban perpajakannya akan memperhitungkan berbagai hal yang mungkin akan dihadapi akibat pelaporan yang dilakukannya, misalnya perilaku pihak administrasi pajak dalam menanggapi pelaporan pajak. Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Dalam pelaksanaan pengumpulan pajak, administrasi pajak akan menghadapi risiko atas penerimaan dari wajib pajak yang tidak patuh atau risiko ketidakpatuhan wajib pajak, yakni risiko yang harus ditanggung oleh administrasi pajak karena perilaku wajib pajak yang tidak mematuhi ketentuan sehingga ada pajak terutang yang tidak dibayar (taxes at risk) (OECD, 2001). Gunadi (2005)

88

Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak

mengasosiasikan risiko ini sebagai tax gap, yaitu selisih antara penerimaan pajak potensial dengan penerimaan pajak aktual atau perbedaan antara realisasi penerimaan pajak dengan penerimaan yang seharusnya diterima apabila wajib pajak melaksanakan kewajiban perpajakannya secara penuh. Sementara itu, Sommerfeld et al (1994) menjelaskan tax gap sebagai besarnya penerimaan pajak yang hilang karena adanya ketidakpatuhan, yang berbentuk baik penghasilan yang tidak dilaporkan (underreported income) maupun pengurang penghasilan yang lebih dilaporkan (overstated deductions). Berdasarkan penjelasan Sommerfeld et al ini, dapat disimpulkan bahwa tax gap akibat ketidakpatuhan wajib pajak badan di Indonesia adalah gabungan antara selisih penghasilan yang dilaporkan wajib pajak (SPT) dengan penghasilan menurut hasil pemeriksaan (koreksi penghasilan) dan biaya yang dilaporkan wajib pajak (SPT) dengan biaya menurut hasil pemeriksaan (koreksi biaya). Dengan demikian, ketidakpatuhan wajib pajak badan dalam satu tahun dapat diukur dengan koreksi penghasilan dan koreksi biaya pengurang penghasilan. Kedua jenis koreksi ini merupakan koreksi penghasilan neto wajib pajak sebelum diperhitungkan dengan kompensasi kerugian dari tahun pajak sebelumnya yang dimiliki oleh wajib pajak. Apabila dihubungkan dengan ketidakpatuhan wajib pajak dalam melaporkan SPT-nya, maka wajib pajak dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok berdasarkan risiko ketidakpatuhannya (OECD, 2005), yaitu: risiko ketidakpatuhan rendah, menengah dan

tinggi. Kelompok risiko ketidakpatuhan rendah mencakup wajib pajak yang secara sadar mempunyai kemauan untuk patuh. Wajib pajak dalam kelompok ini mempunyai komitmen untuk mendukung dan menerima sistem yang ada, yaitu sistem yang menghendaki bahwa sebagai anggota masyarakat mereka harus membayar pajak, dan bersedia melaksanakan kewajiban yang dikehendaki oleh sistem tersebut. Kelompok risiko ketidakpatuhan menengah meliputi kelompok wajib pajak yang pada prinsipnya mereka bersedia melaksanakan kewajiban yang dikehendaki oleh sistem perpajakan yang ada, akan tetapi mengalami kesulitan dalam pelaksanaan kewajiban tersebut karena kurangnya pemahaman atas hal-hal yang menjadi kewajiban mereka. Sedangkan kelompok risiko ketidakpatuhan tinggi mencakup kelompok wajib pajak yang secara sadar tidak mau memenuhi kewajiban mereka atau wajib pajak yang menolak sistem perpajakan yang ada. Variabel-variabel Ketidakpatuhan Wajib Pajak Banyak penelitian yang membahas mengenai variabel-variabel yang dapat mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. Allingham dan Sandmo (1972) menggunakan konsep expected utility untuk menjelaskan perilaku kepatuhan wajib pajak. Mereka menggunakan variabelvariabel yang dikenal sebagai faktor ekonomi, yaitu: penghasilan sebelum pajak, tarif pajak, besarnya peluang untuk diperiksa dan besarnya penalti. Sementara Erard (1997) menyimpulkan bahwa skala usaha wajib pajak dapat berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak. Joulfaian dan Rider (1998) menyatakan, selain tarif pajak, jenis

89

5. EU [I]. orientasi nilai dan preferensi terhadap risiko.Jurnal Keuangan Publik Vol. Sementara unsur permodalan (Chattopadhayay et al. Faktor personal tersebut meliputi moral. Dalam analisis kepatuhan yang dikembangkan oleh Allingham et al (1972). tarif pajak t. keluarga (family size). tingkat kemungkinan terdeteksi p dan denda atas penghasilan yang tidak dilaporkan s. Kesempatan untuk melakukan underreporting akan mendorong kecenderungan wajib pajak melakukan ketidakpatuhannya dalam membayar pajak. maka berdasarkan konsep expected utility. akan maksimal. Krause (2000) berpendapat bahwa pengetahuan atau pemahaman wajib pajak atas peraturan perpajakan dapat mempengaruhi juga terhadap patuh tidaknya wajib pajak. Tingkat EU seorang wajib pajak adalah fungsi dari utility penghasilan setelah pajak baik dalam kondisi penghasilan yang tidak dilaporkan terdeteksi maupun tidak. seorang wajib pajak akan melaporkan penghasilannya sedemikian rupa sehingga tingkat expected utility dari penghasilan yang diterimanya. individu diasumsikan memperoleh penghasilan yang jumlahnya tetap dan harus memilih berapa jumlah penghasilan yang akan dilaporkan pada administrasi pajak. 2001). dan tempat tinggal/lokasi akan mempengaruhi ketidakpatuhan wajib pajak. Sedangkan faktor situasional meliputi ada atau tidak adanya pemeriksaan pajak. dan faktor tersedianya barang publik (Trivedi et al. Pendapat Krause ini sejalan dengan OECD (2001) yang menyatakan bahwa pengetahuan wajib pajak akan menentukan tingkat kepatuhan wajib pajak. 1. ketidaksamaan beban pajak. bagaimana perilaku kelompok referensi dalam pelaporan pajak. No. Dengan demikian. 2002) yang menyangkut siapa pemegang saham perusahaan juga bagaimana struktur modal melalui perbandingan hutang dengan ekuitas akan mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. expected utility wajib pajak dapat adalah: EU (I) =(1 – p)U{v + t(y – x)} + pU{v . Jenis usaha yang dibahas oleh Joulfaian dan Rider juga dibahas oleh Forest (2004). Apabila seorang individu memperoleh penghasilan yang sebenarnya sebesar y. faktor personal dan situasional wajib pajak dapat juga mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak. Selain variabel di atas.s(y – x)} 90 . penghasilan setalah pajak penghasilan v. Oktober 2008 usaha wajib pajak serta faktor demografi yang meliputi usia. pendapatan yang dilaporkan x.

Dengan demikian. semakin tinggi probabilitas wajib pajak akan diperiksa. (1 – p)U{v + t(y – x)}. pU{v . terdiri dari utility penghasilan yang sebenarnya dan utility pajak yang tidak dibayar. akan turun. Di pihak lain. 1986). Dalam model yang dikembangkan oleh Allingham et al ini. mengingat pada tingkat probabilitas diperiksa tertentu. Faktor ekonomi berikutnya yang berpengaruh pada kepatuhan adalah penalti. akan semakin tinggi.s(y – x)} merupakan utility apabila penghasilan yang tidak dilaporkan terdeteksi. utility wajib pajak (utility (1 – p)U{v + t(y – x)} dan utility pU{v . beberapa penelitian menyatakan bahwa hubungan antara faktor tarif pajak dengan jumlah pajak yang dilaporkan adalah ambigu (Ali.s(y – x)}) akan turun apabila dia melaporkan seluruh penghasilannya kepada administrasi pajak. Berdasarkan formula expected utility.s(y – x)}. tarif pajak rendah akan mendorong wajib pajak untuk melaporkan penghasilannya pada administrasi pajak. Probabilitas wajib pajak akan diperiksa ditentukan oleh seberapa luas cakupan pemeriksaan yang dilakukan oleh administrasi pajak. Hal ini dapat dimaklumi. Penalti akan dikenakan apabila 91 . Meskipun demikian. Sedangkan besaran pU{v . utility dari penghasilan yang tidak dilaporkan. seperti probabilitas wajib pajak akan diperiksa oleh administrasi pajak. Semakin rendah tarif pajak akan meningkatkan utility wajib pajak dan akan memberikan insentif bagi wajib pajak untuk melaporkan penghasilaannya kepada administrasi pajak. wajib pajak akan berusaha memaksimalkan expected utility dari kedua bentuk investasi tersebut dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang dihadapi oleh wajib pajak. wajib pajak akan cenderung melaporkan sebagian besar dari penghasilannya ke administrasi pajak. Pada kondisi tingkat penghasilan rendah.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Besaran (1 – p)U{v + t(y – x)} merupakan utility penghasilan wajib pajak apabila penghasilan yang tidak dilaporkan tidak terdeteksi. wajib pajak akan cenderung tidak melaporkan penghasilannya kepada administrasi pajak. yaitu utility penghasilan yang sebenarnya dikurangi dengan utility penalti yang harus dibayar karena ada penghasilan yang tidak dilaporkan. Dalam perspektif yang demikian. Pada tingkat penghasilan dan penghasilan yang dilaporkan tertentu. tarif pajak akan berpengaruh negatif pada utility wajib pajak. dan (2) investasi pada aset tidak berisiko berupa penghasilan yang dilaporkan (Reinganum et al. utility penghasilan yang dilaporkan. tarif pajak dan tingkat penghasilan. apabila tarif pajak dan penghasilan tinggi. semakin tinggi cakupan pemeriksaan pajak. semakin besar probabilitas diperiksa p dan faktor lain tetap. Meskipun demikian. yaitu: (1) investasi pada aset berisiko berupa penghasilan yang tidak dilaporkan. 2001). Apabila audit rate tinggi. Tarif pajak merupakan bagian dari penghasilan yang dilaporkan yang harus dibayarkan kepada negara oleh wajib pajak. Cakupan pemeriksaan adalah rasio antara jumlah wajib pajak diperiksa dibanding dengan jumlah wajib pajak keseluruhan (audit rate). wajib pajak dilihat sebagai investor yang mempunyai pilihan dua jenis investasi.

wajib pajak perusahaan kecil mungkin tidak patuh karena tidak mempunyai pemahaman tentang teknis perpajakan yang memadai. permodalan dikaitkan dengan 92 . jenis usaha persewaan bangunan dikenakan Pajak Penghasilan Final sementara jenis usaha persewaan yang lain dikenakan Pajak Penghasilan biasa (tidak final). tidak ada insentif bagi wajib pajak yang tidak melaporkan penghasilannya (Lederman. Dalam kaitannya dengan wajib pajak badan. dan enggan menyewa ahli perpajakan untuk menangani masalah perpajakan mereka karena pertimbangan efisiensi biaya. Oktober 2008 penghasilan yang tidak dilaporkan oleh wajib pajak dideteksi pada saat pemeriksaan. Hal ini berkaitan dengan masalah efisiensi. Untuk membuat setiap wajib pajak bersedia melaporkan seluruh penghasilannya. Tingkat penalti berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak karena menurut konsep expected utility. Hal ini disebabkan wajib pajak yang penghasilannya dari gaji menjadi subyek dari pemotongan pajak oleh pihak lain (withholding source) yaitu pemberi penghasilan sehingga kepatuhan wajib pajak tersebut akan lebih bisa terkontrol. penalti harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga expected value dari penalti tersebut lebih besar dari expected value dari penghasilan yang tidak dilaporkan. Variabel jenis usaha dianggap relevan dalam penelitian ini karena di Indonesia terdapat perlakuan perpajakan yang berbeda pada beberapa jenis usaha. dan (2) struktur modal. yaitu sumber pembiayaan dari hutang atau ekuitas. Misalnya. yaitu pemegang saham asing atau lokal. yaitu besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh satu perusahaan untuk tetap patuh dibandingkan dengan jumlah pajak yang harus dibayar apabila wajib pajak tersebut tidak patuh dan terdeteksi oleh administrasi pajak. Misalnya. Tingkat kepatuhan wajib pajak juga ditentukan oleh jenis usaha wajib pajak (Joulfaian et al. 2003). Erard (1997) menyimpulkan bahwa skala usaha wajib pajak dapat berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Dengan demikian. wajib pajak juga harus membayar penalti. Hal ini dikarenakan ada jenis-jenis usaha tertentu yang sensitif pada dampak negatif yang akan diperoleh apabila ketidakpatuhan terdeteksi oleh administrasi pajak. Sebagai contoh. 1998). 5. wajib pajak akan melakukan underreporting sepanjang expected value penalti tersebut masih lebih rendah dari pada expected value penghasilan yang tidak dilaporkan. wajib pajak orang pribadi dengan kegiatan usaha (self-employed) cenderung kurang patuh dibandingkan dengan wajib pajak orang pribadi yang penghasilannya berasal dari gaji. 1. Forest (2004). No. menyimpulkan bahwa ada wajib pajak yang bergerak dalam satu bidang usaha tertentu lebih patuh dari pada wajib pajak yang bergerak di bidang usaha lainnya. Pada kondisi penghasilan yang tidak dilaporkan terdeteksi.Jurnal Keuangan Publik Vol. Hasil penelitian Forest ini memperkuat Joulfaian et al (1998) bahwa jenis usaha wajib pajak berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak Variabel permodalan dilihat dari dua aspek: (1) pemegang saham. tidak dapat mengikuti perkembangan aturan perpajakan. selain harus membayar pajak terutang dari penghasilan yang tidak dilaporkan.

Selain variabel-variabel seperti dijelaskan sebelumnya. Untuk itu wajib pajak akan menentukan berapa tingkat keuntungan yang ingin dilaporkan dan tingkat keuntungan yang tidak dilaporkan. Elemen SPT yang dipilih adalah yang berkaitan dengan besaran penghasilan neto. 2002). Profitabilitas dipilih karena wajib pajak adalah rasional yaitu berusaha memaksimalkan expected utility penghasilannya. yaitu profitabilitas. faktor permodalan juga berkaitan dengan struktur modal. pajak per penjualan dan status kompensasi. penulis berpendapat bahwa wajib pajak telah mempunyai batasan beban pajak 93 . Caracara yang demikian akan memudahkan seseorang untuk menghindar dari pengenaan pajak (Chattopadhayay et al. DER). Variabel tersebut adalah elemen-elemen dalam SPT. Model yang akan dihasilkan dari penelitian ini nantinya diharapkan akan menjadi alat yang dapat digunakan untuk menentukan SPT mana yang akan diperiksa. akan menjalankan transaksi usahanya secara lebih mutakhir dalam rangka penghindaran pajak dibanding dengan perusahaan yang pemegang sahamnya terdiri dari individu-individu lokal. 1996). Untuk itu. dalam penelitian ini penulis mempertimbangkan profitabilitas mempengaruhi tingkat risiko ketidakpatuhan wajib pajak. Bunga atas hutang dapat dikurangkan sebagai biaya dalam penghitungan penghasilan kena pajak. ada satu variabel lagi yang akan dimasukkan dalam penelitian ini. Perlakuan perpajakan yang berbeda antara biaya modal yang berasal dari hutang (bunga) dan ekuitas (dividen) bisa mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. Dalam penelitian ini. Profitabilitas adalah kemampuan wajib pajak dalam memperoleh keuntungan bersih dalam kegiatan usahanya. yaitu perbandingan antara hutang dengan ekuitas (debt to equity ratio.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak siapa pemegang saham perusahaan. Selain itu. adalah elemenelemen SPT karena elemen-elemen SPT dapat memberikan informasi tentang bagaimana perilaku kepatuhan wajib pajak sehingga elemen-elemen isian dalam SPT dimasukkan sebagai salah satu variabel yang diduga akan menentukan ketidakpatuhan wajib pajak (Hunter at al. Penulis memilih variabel ini karena wajib pajak adalah rasional dengan untuk memaksimalkan expected utility dari penghasilannya. Dengan demikian. wajib pajak badan yang pemegang sahamnya adalah perusahaan multi-nasional dari luar negeri. Contoh. Salah satu hal faktor yang diperhitungkan dalam membentuk model yang demikian. sementara dividen tidak boleh dikurangkan karena merupakan bagian dari keuntungan setelah pajak. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan cara-cara orang menjalankan transaksi usaha dewasa ini menggiring orang untuk melakukan transaksi-transaksi tidak terdokumentasi seperti dalam pembukuan secara konvensional. penulis memilih elemen SPT yang harus dimasukkan ke dalam model pengelompokan wajib pajak berdasarkan tingkat risiko ketidapatuhannya. Pajak per penjualan adalah perbandingan antara jumlah pajak yang dibayar wajib pajak dengan jumlah penjualannya.

diperlukan adanya satu metode yang dapat mengelompokkan wajib pajak berdasarkan risiko ketidakpatuhannya. Status kompensasi adalah variabel yang menunjukkan dalam satu tahun pajak wajib pajak mempunyai kerugian dari tahun-tahun pajak sebelumnya yang bisa diperhitungkan dengan penghasilan neto tahun berjalan untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak pada tahun berjalan. yaitu (1) wajib pajak yang secara sengaja beritikad untuk tidak patuh. (2) wajib pajak yang tidak patuh tetapi akan patuh apabila ada pengawasan. dan (4) wajib pajak yang secara sukarela patuh. Ini disebabkan setiap upaya tersebut dilaksanakan secara fokus kepada wajib pajak yang tidak patuh. Dengan demikian. maka dasar pertimbangan perlakuan (treatment) yang akan diberikan kepada masing-masing kelompok wajib pajak akan lebih obyektif (OECD. Wajib pajak pada kelompok ketiga masuk dalam kelompok berisiko menengah. Dengan perlakuan 94 . Untuk itu. diharapkan perlakuan terhadap wajib pajak yang berbeda-beda berdasarkan tingkat risikonya akan mampu mendorong kepatuhan sukarela wajib pajak dan meningkatkan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemeriksaan pajak. menengah. misalnya penrapan risk-based audit case selection. Pengelompokkan Wajib Pajak Berdasarkan Risiko Ketidakpatuhannya Pengelompokan wajib pajak ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan atribut yang sama yang ada pada wajib pajak tersebut biasa disebut dengan segmentasi. Apabila dikaitkan dengan kelompok wajib pajak berdasarkan risiko ketidakpatuhannya.Jurnal Keuangan Publik Vol. 2001). Variabel ini dipilih karena adanya kompensasi kerugian dapat menyebabkan wajib pajak tidak harus membayar pajak meskipun dalam tahun berjalan wajib pajak memperoleh keuntungan. OECD (2001) menegaskan pentingnya administrasi pajak melakukan segmentasi berdasarkan ketidakpatuhan wajib pajak agar tercapai efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya administrasi pajak dalam setiap upaya peningkatan kepatuhan. OECD (2005) membagi perilaku dan motivasi wajib pajak dalam kepatuhan menjadi empat. risiko rendah. Oktober 2008 yang akan mereka tanggung secara sukarela dibandingkan dengan penjualannya. 5. Hal ini berpengaruh pada tingkat risiko ketidakpatuhan wajib pajak. No. Berdasarkan pengelompokan tersebut. OECD (2005) menegaskan perlunya pendekatan administrasi pajak yang disesuaikan dengan perilaku dan motivasi wajib pajak. (3) wajib pajak berusaha untuk patuh tetapi belum berhasil. maka wajib pajak kelompok pertama dan kedua termasuk ke dalam kelompok wajib pajak berisiko tinggi. sedangkan wajib pajak dalam kelompok keempat merupakan wajib pajak kelompok risiko rendah. Dengan adanya model yang bisa mengelompokkan wajib pajak berdasarkan risiko ketidakpatuhannya. 1. adanya batasan beban pajak yang secara sukarela akan dibayar oleh wajib pajak dibandingkan dengan penjualannya akan mempengaruhi tingkat risiko ketidakpatuhan wajib pajak. dan tinggi. Dengan demikian. selanjutnya dapat ditentukan prioritas perlakuan wajib pajak berdasarkan risikonya.

BAHAN DAN METODE Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan anonim berupa data hasil pemeriksaan pajak wajib pajak badan tahun pajak 2001 yang selesai diperiksa sampai dengan Pebruari 2004 dan data SPT wajib pajak. Untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Data diperoleh dari Sistem Informasi Perpajakan (SIP). 2005): Tabel 1 Tingkat Risiko. Perilaku Kepatuhan dan Strategi Kepatuhan Tingkat Risiko Tinggi Perilaku terhadap Kepatuhan 1. menengah dan tinggi. wajib pajak yang tidak patuh tetapi akan patuh apabila ada pengawasan wajib pajak berusaha untuk patuh tetapi belum berhasil wajib pajak yang secara sukarela patuh Strategi kepatuhan Penegakan hukum secara penuh (pemeriksaan) Menengah Rendah Bantuan untuk menjadi patuh (penyuluhan) Pemberian kemudahan dalam pelaksanaan kewajiban perpajakan (pelayanan) Hipotesis Berdasarkan kerangka teori seperti telah diuraikan dan premis-premis di muka. wajib pajak yang secara sengaja beritikad untuk tidak patuh 2. administrasi pajak perlu melakukan pendekatan atau perlakuan (strategi kepatuhan) yang berbeda kepada wajib pajak berdasarkan perilaku wajib pajak terhadap kepatuhan dan kelompoksasinya berdasarkan tingkat risiko. dalam penelitian ini akan diuji hipotesis sebagai berikut: Hipotesis 1: Terdapat ukuran risiko ketidakpatuhan tiap-tiap kelompok wajib pajak berdasarkan perbedaan penghasilan neto antara Surat Pemberitahuan (SPT) wajib pajak dengan hasil pemeriksaan. Strategi kepatuhan yang dapat dilakukan kepada wajib pajak berdasarkan tingkat risikonya adalah sebagai berikut (OECD. Hipotesis 2: Terdapat perbedaan antara kelompok wajib pajak yang dikelompokkan ke dalam kelompok wajib pajak berisiko ketidakpatuhan rendah.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak yang berbeda ini berarti administrasi pajak memberikan insentif kepada wajib pajak yang berperilaku dan mempunyai motivasi positif pada kepatuhan dan sebaliknya memberikan disinsentif kepada wajib pajak yang berperilaku dan mempunyai motivasi negatif pada kepatuhan. Direktorat 95 . Hipotesis 3: Terdapat perbedaan variabel untuk membedakan wajib pajak dalam kelompok risiko ketidakpatuhan rendah. menengah dan tinggi. Sour (2001) membuktikan bahwa pemberian insentif yang positif kepada wajib pajak lebih meningkatkan kepatuhan dari pada pemberian sanksi keras.

Jurnal Keuangan Publik Vol. Jika multikolinier itu sempurna maka estimasi nilai koefisien regresi dari variabel-variabel bebasnya mungkin tidak dapat ditentukan dan standar error-nya tidak terbatas. tetapi memiliki standar error yang besar (dalam hubungan dengan koefisien mereka itu sendiri). Untuk menentukan jumlah sampel. Rancangan Analisis dan Uji Hipotesis Untuk pemodelan dan pengujian hipotesis dalam penelitian ini digunakan empat model statistik yang terdiri dari Uji Chow. sebesar 9. Jika masingmasing variabel bebas berkorelasi lebih besar dari 80% maka termasuk yang memiliki hubungan yang tinggi atau ada indikasi multikolinieritas. menengah dan tinggi. n= Di mana: n N e = = = N 1 + Ne 2 jumlah sampel populasi tingkat kesalahan (5%) Dengan rumus tersebut diperoleh jumlah sampel minimal sebesar 385. dalam penelitian ini digunakan bantuan software SPSS 13. dan jika memang ketiga kelompok tersebut berbeda. Multivariate Discriminant Analysis dan t-test. Untuk penelitian ini peneliti mengambil sampel sebesar 25% dari populasi. menengah dan tinggi. menengah dan tinggi. Cara umum untuk mendeteksi adanya multikolinier dalam model ialah dengan melihat bahwa adanya R2 yang tinggi dalam model tetapi tingkat signifikansi t-statistiknya sangat kecil dari hasil regresi tersebut dan cenderung banyak yang tidak signifikan. menurut tingkat 96 . 5. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi terhadap sumber data sesuai dengan unit analisis. bisa dilihat matrik korelasinya. Jika multikolinier kurang dari sempurna maka koefisien regresi walaupun bisa menentukan. wajib pajak badan yang telah diperiksa oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan data yang diambil dari SIP dalam bentuk Microsoft Excel. rendah. Dalam penelitian ini. Dengan metode random sistematis yang menggunakan angka random dan bantuan komputer diperoleh jumlah sampel sebesar 2. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh wajib pajak badan yang terdaftar pada Direktorat Jenderal Pajak pada tahun 2001 yang selesai diperiksa sampai dengan Pebruari tahun 2004. teknik penarikan sampel yang digunakan adalah random sampling. Selain itu untuk menguji multikolinier. yang berarti koefisienkoefisiennya tidak bisa diestimasi dengan akurasi yang tepat. No.324 wajib pajak badan. Oktober 2008 Jenderal Pajak.920 wajib pajak. 1. Uji Chow (Chow Test) digunakan untuk mengelompokkan wajib pajak berdasarkan tingkat risiko ketidakpatuhan wajib pajak. digunakan rumus sebagai berikut: koreksi penghasilan netto menurut SPT. Pengujian Multikolinier Multikolinier ialah kondisi di mana terdapat hubungan antara variabel-variabel bebas. variabel mana saja yang membedakan wajib pajak ke dalam kelompok risiko ketidakpatuhan rendah. Untuk memudahkan analisis data. Multivariate Discriminant Analysis digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok wajib pajak yang dikelompokkan ke dalam risiko ketidakpatuhan wajib pajak rendah.

Pada penelitian ini akan digunakan pengujian White Heteroscedasticity Test. metode rank Spearman.2. antara lain: metode grafik.2. 1993). a. di mana : E(ui2 ) = σi2 i = 1. Uji Heteroskedastisitas dengan Metode White’s General Heterocedasticity Metode pengujian dengan metode White ini tidak menggunakan asumsi normalitas sehingga sangat mudah untuk diimplementasikan.…. adalah suatu nilai konstan yang sama σ2 untuk setiap nilai dari variabel penjelasnya.6) di atas maka didapat df = 5 Pengujian : Jika nilai χ2 dari persamaan (3. karena data tersebut menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran (Sritua.…. maka dalam model tersebut terdapat situasi heteroskedastisitas. Konsekuensi logis dari adanya heteroskedastisitas ialah bahwa penaksir OLS tetap tidak bias dan konsisten tetapi penaksir tadi tidak lagi efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Pengujian Heteroskedastisitas Salah satu asumsi pokok dalam model regresi linier adalah homokedastisitas diartikan sebagai distribusi dari variabel gangguan ui.N Jika variannya tidak sama. metode Park. Pengujian hipotesis yang dilakukan ialah : H0 H1 : Tidak ada heteroskedastisitas (homokedastis) : Ada heteroskedastisitas Pengujian: Pada regresi persamaan (3. E(ui2 ) = σ2 i = 1.N Heteroskedastisitas sering terjadi pada model yang menggunakan data cross section.6) di atas didapat bahwa jumlah sampel (n) dikalikan dengan nilai R2 akan sama (asymtot) dengan distribusi Chi-Square dengan degree of freedom (df) sama dengan jumlah regressor (tidak termasuk konstanta) di dalam regresi tambahan.6) diregres terhadap variabel independen yang asli (X) dan kuadrat dari variabel indepeden tersebut. Dari hasil regresi ini tujuannya adalah untuk mendapatkan nilai R2 yang akan digunakan dalam pengujian tahap 3. serta dari interaksi variabel independennya (cross product(s) of the regressors). R2 ~ χ2 df dari persaman (3. yaitu: n . Terdapat beberapa metode untuk mengidentifikasi adanya heteroskedastisitas. Jika suatu model ialah : Yi = β1 + β2 X2i + β3 X3i + ui Kemudian lakukan regresi tambahan dengan menggunakan model White sebagai berikut: ˆ ui2 = α1 + α 2 X 2 i + α 3 X 3i + α 4 X 22i + α 5 X 32i + α 6 X 2 i X 3i + vi Regresi ini ialah regresi di mana variabel residual kuadrat dari regresi asli (3. misal: Xi.6) lebih besar dari nilai χ2 tabel maka H0 ditolak 97 . metode Lagrangian Multiflier (LM test) dan white heteroscedasticity test.3.3.

1. H1 : 98 . Oktober 2008 yang artinya terdapat heteroskedastisitas di dalam model tetapi jika χ2 dari persamaan (3. Uji Chow didasarkan kepada hasil analisis regresi antara full sample dengan sampel masing-masing tingkat risiko.6) lebih kecil dari nilai χ2 tabel maka H0 diterima yang artinya tidak terdapat heteroskedastisitas di dalam model. a. Uji Hipotesis 1. x t′ )( X ′X ) − 1 T − K t =1 Di mana T adalah jumlah observasi.Jurnal Keuangan Publik Vol. menengah dan tinggi) Terdapat perbedaan hasil regresi (intercept dan slope) antara regresi atas full sample dengan b. k adalah jumlah regresor. 5. Metode White (White’s Heterocedasticity-Consistent Variances and Standard Errors ) White (1980) membuat suatu formula di dalam mengestimasi suatu persamaan yang mengandung masalah heteroskedastisitas dengan menggunakan estimator matrik kovarians yang konsisten (heterocedasticity consistent covariance matrix estimator) yang nantinya memperbaiki estimasi dari koefisien-koefisien kovarians yang terdapat masalah heteroskedastisitas yang bentuknya tidak diketahui. Uji Chow U 2 i adalah sampel berdasarkan pengelompokan yang ditentukan (wajib pajak risiko rendah. dan kuadrat residualnya. dapat mengelompokan wajib pajak ke dalam kelompok yaitu wajib pajak risiko ketidakpatuhan rendah dengan tingkat koreksi kurang dari nol sampai dengan 10%. wajib pajak risiko ketidakpatuhan menengah dengan tingkat koreksi antara 10% sampai dengan 20% dan wajib pajak risiko ketidakpatuhan tinggi dengan tingkat koreksi lebih besar dari 20%. menengah dan tinggi) Hipotesis ini diuji dengan Uji Chow (Chow Test) untuk melihat apakah pembagian risiko menurut tingkat koreksi penghasilan neto. Hipotesis Statistik H0 : Tidak terdapat perbedaan hasil regresi (intercept dan slope) antara regresi atas full sample dengan sampel berdasarkan pengelompokan yang ditentukan (wajib pajak risiko rendah. Hipotesis 1 Terdapat ukuran risiko ketidakpatuhan tiap-tiap kelompok wajib pajak berdasarkan perbedaan penghasilan neto antara Surat Pemberitahuan wajib pajak dengan hasil pemeriksaan. No. b. Rumus matrik kovarians White adalah: εˆ t = T T ( X ′X ) − 1 ( ∑ U t2 x t .

PPS + α9 .St_ PS+α4.DER α5. 99 . Ukuran sampel dalam perhitungan S3. menengah dan tinggi. Banyaknya parameter yang ingin ditaksir.PU+α7. S2 = Residual Sum Square dari Model (1) untuk masing- N1 N2 k = = = masing pengelompokan (wajib pajak risiko rendah: memiliki TKp≤ 10%. menengah dan tinggi. Hipotesis 2 Terdapat perbedaan antara kelompok wajib pajak yang dikelompokkan ke dalam kelompok wajib pajak berisiko ketidakpatuhan rendah.Pro + + + α8. Ukuran sampel dalam perhitungan S2.SANG α3.TE+α2.St _ Riksa + ε1 Keterangan : RKp TE SANG St_PS DER St_Ind PU Pro PPS St_Kom St_Riksa : : : : : : : : : : : Tingkat risiko ketidakpatuhan Tarif efektif Penalti Status pemegang saham (1=ada modal asing.St_ Ind+α6. 0=belum pernah) Hipotesis 3 Terdapat perbedaan variabel untuk membedakan wajib pajak dalam kelompok risiko ketidakpatuhan rendah.St _ Kom+ α10.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak S5 F= S4 k S3 = ( N1 + N 2 − 2 k ) Keterangan: S5 = S1. 0=non manufaktur) Peredaran usaha Profitabilitas (penghasilan neto per penjualan) Pajak per penjualan Status kompensasi (1=ada. 0=tdk ada modal asing) Debt to Equity Ratio Klasifikasi Lapangan Usaha (1=manufaktur.S4 S4 = S2+ S3 S1 = Residual Sum Square dari Model (1) untuk Full Sample dalam hal ini seluruh wajib pajak yang terpilih menjadi sampel. menengah: 20%≤ TKp<10% dan tinggi: TKp> 20%) Residual Sum Square dari Model (1) untuk sampel selain dari sampel yang termasuk ke dalam perhitungan S2. c. 0=tidak ada) Status pemeriksaaan (1=pernah diperikas. Model Regresi Aplikasi Chow Tes RKp= α0 +α1.

Setelah variabel pertama masuk. Variabel yang pertama diikutkan dalam analisis adalah yang mempunyai nilai terbesar menurut kriteria penerimaan seleksi. 1.SANG b3.St _ Kom + b10.PPS + b9 . maka nilai kriteria dievaluasi kembali. Pemilihan variabel diskriminan linier mengunakan kriteria minimalisasi nilai Wilks’ Lambda.DER+ b5. Nilai F untuk perubahan Wilks’ Lambda jika suatu variabel ditambahkan atau dikurangkan dari suatu model yang telah mengandung p variabel adalah :  n − g − p  1 − λ p+1 / λ p    Fperubahan =   g − 1  λ / λ     p+1 p  Nilai b dipilih sedemikian rupa sehingga fungsi diskriminan antar kelompok berbeda sebesar mungkin atau dengan kata lain memaksimumkan rasio : λ = JK JK dk ak JKdk = Jumlah kuadrat dalam kelompok JKak = Jumlah kuadrat antar kelompok Pemilihan variabel yang akan masuk ke dalam model digunakan algoritma stepwise selection. 2 = risiko ketidakpatuhan menengah dan 3 = risiko ketidakpatuhan tinggi. di mana 1 = risiko ketidakpatuhan rendah. Di mana : n g λp λp+1 = = = = jumlah total sampel jumlah kelompok Wilks’ Lambda Wilks’ Lambda setelah penambahan Wilks’ Lambda 100 . dengan i = 1.Pro + + b8 . diuji dengan analisis diskriminan. Model Analisis diskriminan digunakan untuk memprediksi wajib pajak apakah mempunyai kecenderungan untuk tidak patuh dalam hal ini akan cenderung memiliki risiko ketidakpatuhan rendah. variabel dengan nilai kriteria penerimaan tersebut dimasukan ke dalam model dan variabel yang sudah ada dalam model dievaluasi kembali untuk menentukan kesesuaiannya dengan kriteria dikeluarkan dalam model.Jurnal Keuangan Publik Vol.PU + b7. No. atau tinggi. b= Koefisien yang diestimasi/koefisien diskriminan dari variabel bebas/ atribut.3.St_ Ind+ b6. untuk semua variabel yang tidak berada dalam model. a. Signifikansi perubahan Wilks’ Lambda jika suatu variabel dimasukan atau dikeluarkan dari model dapat didasarkan terhadap statistik F. Oktober 2008 Hipotesis 2 dan 3.2. menengah. 5.TE+ b2.St_ PS + b4. Multivariate Discriminant Analysis Model analisis diskriminan dalam penelitian ini berkenaan dengan kombinasi linier yang dibentuk adalah sebagai berikut: Di = b0 + b1.St _ Riksa Di = nilai skor diskriminan dari risiko ketidakpatuhan wajib pajak ke-i. Selanjutnya.

2) Selanjutnya. di mana paling sedikit ada dua vektor nilai rata-rata yang berbeda. yaitu (1) Fungsi 1: fungsi diskriminan antara kelompok risiko rendah dan menengah. 4) Koefisien yang akan dipakai dalam persamaan diskriminan diambil dari tabel Standardized Canonical Discriminant Function Coefficient. Formula hipotesis sebagai berikut : H0 : µ1=µ2=µ3. perlu dilihat nilai variabel yang terdapat pada table structure matrix. perlu dilakukan pengujian perbedaan vektor nilai rata-rata dari ketiga populasi (risiko ketidakpatuhan rendah. Untuk menguji perbedaan vektor nilai rata-rata diantara tiga kelompok populasi digunakan statistik Wilks’ Lambda. dapat dinyatakan pok wajib pajak. H1 : µ1≠µ2≠µ3. Pengujian terhadap hipotesis di muka dilakukan dengan mengunakan statistik Wilks’ Lambda. Sehubungan pengolahan data mengunakan bantuan software SPSS. 3) Analisis canonical correlation yang dikuadratkan untuk menentukan seberapa besar kemampuan variabelvariabel independen dapat menjelaskan perbedaaan yang terjadi antara kedua kelompok wajib pajak. yang dikonversikan ke rasio F. Untuk melihat apakah ada perbedaan yang signifikan tersebut dilakukan dengan uji t test atau Wilks’ Lambda test statistik. Selain melihat nilai Wilks’ Lambda dan Chi Square perlu juga dilihat signifikansi nilai Wilks’ Lambda tersebut yang dibandingkan dengan tingkat kesalahan yang ditetapkan. Semakin kecil nilai Wilks’ Lambda. dan tinggi) untuk mengetahui apakah ada nilai rata-rata dari sifat (variabel) yang dipelajari. nilai tersebut dapat dikonversikan ke dalam rasio F. dan (2) Fungsi 2: fungsi diskriminan antara kelompok risiko menengah dan tinggi. untuk menguji signifikansi statistik dari fungsi diskriminan digunakan multivariate test of significance. menengah. artinya vektor nilai ratarata dari populasi yang ada berbeda. Territorial Map Karena dalam penelitian ini variabel dependen dikelompokkan ke artinya vektor nilai ratarata dari ketiga populasi itu sama besarnya. bila lebih kecil dari tingkat kesalahan yang dapat diterima maka dapat dinyatakan terdapat perbedaan yang signifikan. Pada pengujian ini digunakan nilai Wilks’ Lambda atau dapat juga diaproksimasi dengan statistik Chi-Square.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Karena jumlah kelompok ada tiga kelompok maka akan terdapat dua fungsi diskriminan (g-1) yang akan dianalisis. Penelitian ini menggunakan tingkat signifikan sebesar 5% dan 10% untuk nilai kritis F. Untuk menguji signifikansi nilai Wilks’ Lambda. b. Sebelum membangun fungsi diskriminan. maka berdasarkan analisis diskriminan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dari keluaran analisis diskriminan yaitu: 1) Melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelom- 101 . 5) Sedangkan untuk menentukan cut off point. semakin besar kemungkinan tidak adanya perbedaan yang signifikan antar dua kelompok.

39 4.02 0.96 0.09 0.17 0.03 1 0.21 0. Oktober 2008 dalam tiga kategori yaitu tingkat risiko ketidakpatuhan rendah.03 -0. 1. Indikator kolinieritas lainnya adalah VIF (variance inflation factor) yang merupakan kebalikan (resiprokal) dari nilai tolerance.22 1. dengan memasukan nilai-nilai variabel independen pada kedua fungsi diskriminan (Zscore) akan diperoleh nilai koordinat.03 0.15 -0. sehingga dengan melihat koordinat sebuah kasus.01 0.04 0.91 VIF 1. Nilai tolerance yang mendekati 0 menyatakan adanya kolinieritas antara variabel bebas tersebut dengan sisa variabel bebas lainnya.12 -0.04 0.01 0.00 -0.Jurnal Keuangan Publik Vol. dapat dikatakan tidak terdapat kolinier yang berarti dalam hasil regresi untuk model sampel secara keseluruhan (full sample).25 1 Sumber: Analisis Data 102 . No. Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas bertujuan menguji apakah dalam hasil regresi ditemukan adanya korelasi diantara variabel bebas.45 0.05 1 -0.04 1.72 1 0. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Regresi Linier Klasik Sebelum hasil regresi yang diperoleh diinterpretasikan maka terlebih dahulu diuji apakah terdapat pelanggaran asumsi regresi linier klasik dari hasil tersebut.05 0.13 PS DER SI PU Pro PPS SK SP Toler ance 0.30 0.03 -0. Tolerance adalah nilai 1R2 dari regresi antara suatu variabel bebas tersebut dengan sisa variabel bebas lainnya.75 1.06 1 -0.01 1 -0.08 0.03 -0.98 0.03 1.15 0. Batasan yang biasa digunakan adalah 0.05 0.04 -0.10 0.07 0.63 4.33 0.97 0. Tabel 2 Hasil Uji Kolinieritas Untuk Data Full Sample TE TE SANG PS DER SI PU Pro PPS SK SP 1 0. menengah dan tinggi.96 0.02 -0. dalam hal ini wajib pajak.02 0. maka untuk menentukan penempatan sebuah data pada kelompok tertentu akan mengunakan territorial map.09 -0.42 1.07 1 0. 5.04 1.22 SANG 1 0.05 0.04 0.22 0. (1) Uji Multikolinieritas dan (2) Uji Heteroskedastisitas.10 0. Territorial map pada dasarnya memetakan batas-batas setiap kelompok berdasarkan fungsi diskriminan 1 (sumbu X). akan terlihat wajib pajak tersebut ada di teritori mana.04 0.08 -0.06 -0. dan fungsi diskriminan 2 (sumbu Y). Dengan melihat hasil perhitungan kolinieritas seperti yang tampak pada Tabel 2.70 0.1 untuk tolerance yang berarti batas angka 10 untuk VIF.07 0.82 0.02 1.10 0.04 0.09 1 -0. Dalam penelitian ini akan dilakukan dua pengujian yaitu.02 -0.

09 0. Pada dasarnya uji ini ingin mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara setiap variabel bebas dengan varian.99 Variabel Terikat : lne2 Coefficients Std.06 0. Error 2.34 a Sumber: Analisis Data Tabel 3 memperlihatkan regresi dengan variabel tidak bebas adalah logaritma dari kuadrat residu (residu dari hasil regresi sebelumnya) dan variabel bebasnya adalah logaritma dari variabel bebas. dengan kata lain varian regresi tidak tunggal (tidak homoskedastis).91 3.25 0. Tampak dari “p-value” tidak satupun variabel bebas yang memiliki pengaruh yang signfikan. pengukuran risiko ketidakpatuhan wajib pajak.96 Sig.75 -1. Uji Park dilakukan dengan melakukan regresi antara varian regresi (yang diproxy dengan logaritma kuadrat residu) dengan logaritma dari variabel penjelasnya. Untuk dapat melakukan pengukuran risiko ketidakpatuhan wajib pajak. yang dapat digunakan untuk mengarahkan pemeriksaan hanya kepada wajib pajak yang tidak patuh.22 0.11 T 3.14 3. Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Dalam pemungutan pajak dengan sistem self-assessment. perlu dilakukan (Hind. Dengan demikian tidak ditemukan bukti kuat adanya heteroskedastisitas dari hasil regresi untuk data secara keseluruhan (full sample).5 ltarif 3.69 lpenalti -0. Dari hasil ini dapat dinyatakan bahwa varian regresi tidak berubah seiring dengan perubahan variabel bebas. diperlukan identifikasi SPT-SPT yang perlu diperiksa. agar pemeriksaan pajak yang dilakukan dapat efektif.23 0. 0 0.2 0.15 lpro 2.78 -0. Untuk dapat mencapai hal ini.44 0. atau dengan kata lain terdapat varian regresi tunggal (homoskedastis).16 lder -0. Karena terdapat 4 variabel bebas yang memiliki skala nominal (dummy variables) maka hanya 6 variabel bebas saja yang disertakan dalam perhitungan adanya heteroskedastisitas.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini dilakukan melalui uji Park. hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengetahui variabel-variabel apa yang 103 .11 3.09 lperus 0.96 1.42 lpajak -2.62 1. Tabel 3 Hasil Uji Heteroskedastisitas Untuk Data Full Sample Model 1 Variabel Unstandardized Bebas B (Constant) 11.31 0. 2005).15 -1. Bila pengaruh ini signifikan berarti varian berubah-ubah bila variabel bebas berubah.08 0.

000 . Allingham et al (1972) mengasumsikan bahwa wajib pajak adalah rasional sehingga wajib pajak akan memilih tindakan yang utility-nya paling besar.977 -2.889 100. Error 105.107 .052 .026 .Jurnal Keuangan Publik Vol.000 . tingginya tingkat signifikansi yang dihasilkan dari hasil perhitungan menandakan populasi juga memiliki karakteristik yang sama.145 -18.675 -71.685 .000 .170 . Di samping itu.877 229. Oktober 2008 berpengaruh kepada kepatuhan dan ketidakpatuhan wajib pajak.023 243.013 .000 -3935.599 39.135 14.038 -.405 6.282 -1.097 -.614 1.703 -5.652 Sig.071 . berarti semakin tinggi tarif efektif. 15% untuk penghasilan di atas Rp 50 juta sampai dengan Rp 100 juta. * : signifikan pada  =10%.694 . Hal ini berarti semakin tinggi tarif pajak yang dikenakan kepada wajib pajak semakin tinggi tingkat kepatuhan wajib pajak.496 -1. wajib pajak dengan penghasilan tinggi akan menghadapi tarif pajak yang lebih tinggi dan demikian juga halnya tarif efektif yang dihadapi oleh wajib pajak.007 RSS= *** *** *** NS ** NS * *** *** *** *** 1263767768. ceteris paribus.626 .066 -1665.047 324. 104 .889 1499.471 .832 2324 R2= Keterangan: *** : signifikan pada  =1%.007 .389 -2.000 308. semakin rendah angka koreksi penghasilan neto. 5.243 -.036 -.000 .274 14. Hal ini disebabkan sistem perpajakan di Indonesia menggunakan tarif progresif (10% untuk penghasilan sampai dengan Rp 50 juta. dan 30% untuk penghasilan di atas Rp 100 juta). Berdasarkan data pada Tabel 4 dapat dijelaskan pengaruh dari masing-masing variabel terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak sebagai berikut: Tabel 4 Hasil Regresi Untuk Full Sample Standardiz ed Coefficient s Beta -. NS=Tidak Signifikan Sumber: Hasil Olah Data Tarif Efektif Dari Tabel 4 diketahui bahwa tarif efektif memiliki arah pengaruh yang negatif. 1.477 Taraf Nyata Variabel (Constant) Tarif efektif (TE) Penalti (SANG) Pemegang saham (PS) DER Status industri (SI) Skala usaha (SU) Profitabilitas (Pro) Pajak per penjualan (PPS) Status kompensasi (SK) Status pemeriksaan (SP) Obs= Unstandardized Coefficients B Std.129 -30.000 .806 -16.758 1. Korelasi positif antara tarif efektif pajak dengan kepatuhan juga dapat diartikan bahwa wajib pajak dengan tingkat penghasilan yang lebih tinggi cenderung lebih patuh dibandingkan dengan wajib pajak yang tingkat penghasilannya lebih rendah.940 1548. No.888 22108.000 .040 -. Tstat 2.007 0. ** : signifikan pada  =5%.524 .565 .105 44.000 .

Dari hasil perhitungan diketahui bahwa variabel ini memiliki arah pengaruh yang negatif secara parsial. Dilihat dari tingginya taraf nyata dari variabel ini berarti karakteristik ini juga berlaku untuk populasi. Hal ini berarti kebijakan pemeriksaan yang selama ini diterapkan oleh administrasi pajak telah mampu membentuk persepsi di kalangan wajib pajak bahwa kemungkinan besar wajib pajak akan diperiksa adalah tinggi sehingga penghasilan yang tidak dilaporkan kemungkinan besar akan terdeteksi. Das-Gupta.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Berdasarkan konsep wajib pajak adalah rasional dan teori utility ini. Berdasarkan sampel pada penelitian ini ditemukan fakta bahwa semakin tinggi tarif pajak semakin tinggi tingkat kepatuhan wajib pajak. Meskipun demikian. 2001 dan Feld et al. 2001 yang menyatakan bahwa kenaikan tarif pajak akan meningkatkan kepatuhan. dan Mookherjee (1995) dalam Chattopadhayay dan Das-Gupta (2002)] yang menyatakan wajib pajak yang menghadapi tarif pajak yang tinggi akan cenderung kurang patuh dibandingkan dengan wajib pajak yang menghadapi tarif pajak yang lebih rendah. penelitian ini sesuai dengan Moser et al. Joulfaian et al (1998). Artinya. Tingginya kemungkinan terdeteksinya penghasilan yang tidak dilaporkan dan besarnya penalti yang akan ditanggung wajib pajak menyebabkan utility penghasilan yang tidak dilaporkan wajib pajak menjadi rendah. hasil penelitian ini sesuai juga dengan anggapan bahwa hubungan antara besaran tarif pajak dengan tingkat kepatuhan sifatnya ambigu (Ali et al. Penalti Variabel bebas kedua adalah penalti yang dikenakan kepada wajib pajak. de Juan. Dengan perkataan lain. ataupun sebaliknya (ceteris paribus). untuk kasus di Indonesia semakin tinggi penalti yang dikenakan. wajib pajak melihat bahwa kemungkinan terdeteksinya penghasilan yang tidak dilaporkan cukup tinggi. 2002). Kedua. tingkat kepatuhan wajib pajak akan semakin tinggi. Lasheras. ada dua hal yang mendorong wajib pajak dengan tingkat penghasilan relatif lebih tinggi akan semakin patuh. 1995 dan Trivedi et al. tingginya tarif pajak yang dikenakan dapat membuat wajib pajak semakin patuh atau dapat pula membuatnya semakin tidak patuh. Artinya semakin tinggi penalti yang dikenakan. akan tetapi menurut beberapa penelitian yang lain adalah negatif. Selain itu. Pertama. dan Mayo (1993). Clotfelter (1983). Hal ini mebuat wajib pajak dengan tarif efektif yang tinggi cenderung untuk patuh. semakin rendah arah koreksi penghasilan neto dari penghasilan neto menurut SPT. beberapa penelitian berkesimpulan bahwa hubungan kedua variabel tersebut positif. namun hal ini bertolak belakang dengan (satu) (Allingham et al (1972). Dengan demikian. 105 . Dalam berbagai penelitian di bidang kepatuhan pajak dijelaskan bahwa hubungan antara tarif pajak dengan tingkat kepatuhan wajib pajak adalah ambigious. penalti yang akan dikenakan terhadap penghasilan yang tidak dilaporkan dianggap berat oleh wajib pajak sehingga penalti yang ada sekarang mampu memberikan disinsentif bagi ketidakpatuhan wajib pajak. Lahiri.

Dalam hal ini. undereporting penghasilan juga dapat dilakukan melalui praktik pengendalian biaya. Rekayasa transaksi. di mana wajib pajak akan cenderung patuh apabila utility kepatuhan lebih besar daripada utility ketidakpatuhan (Allingham et al. Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa pemegang saham perusahaan berpengaruh pada perilaku kepatuhan wajib pajak badan [Hinrichs (1966). Pemegang Saham Penelitian ini menduga bahwa status pemegang saham yang terdiri atas pilihan ada-tidaknya pemegang saham asing dalam perusahaan turut mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak.Jurnal Keuangan Publik Vol. 5. Hal ini berarti bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak badan yang sahamnya dimiliki oleh pemodal asing lebih rendah daripada wajib pajak yang sahamnya tidak dimiliki pihak asing (100% dimiliki pihak lokal). perusahaan yang didirikan di Indonesia ditetapkan sebagai pusat biaya (cost center) di mana biaya-biaya bersama dari perusahaan multinasional lebih bayak dibebankan di Indonesia 106 . Dalam konteks penelitian ini. Hal ini sejalan dengan teori ketidakpatuhan. No. Dengan demikian. Kehadiran pemegang saham asing memberikan peluang wajib pajak untuk melakukan rekayasa transaksi yang tujuan akhirnya adalah meminimalisasi beban pajak yang dibayar di Indonesia. Oktober 2008 Korelasi negatif antara penalti dengan kepatuhan menandakan bahwa penalti yang dikenakan kepada ketidakpatuhan wajib pajak cukup memberikan disinsentif bagi wajib pajak yang tidak patuh. Dengan demikian. Selain itu. Slemrod (1990) dalam Chattopadhayay and Das-Gupta (2002)]. 1. 1972). Dasar pemikiran yang digunakan dalam memasukkan variabel ini sebagai penjelas adalah kehadiran modal asing dalam perusahaan (yang biasanya perusahaan multi-nasional) akan membuat transaksi yang dilakukan perusa- haan tersebut menjadi lebih mutakhir untuk tujuan penghematan pajak. wajib pajak cenderung akan patuh karena merasa penalti yang harus dibayar atas setiap penghasilan yang tidak dilaporkan cukup memberatkan. Dari hasil perhitungan tampak bahwa koefisien regresi untuk variabel ini adalah positif yang berarti bahwa perusahaan yang sahamnya dimiliki pihak asing (bernilai 1) akan memiliki tingkat koreksi penghasilan neto yang lebih tinggi. hasil perhitungan statistik ini membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat penalti akan berdampak pada meningkatnya kepatuhan wajib pajak seperti disimpulkan oleh Allingham et al (1972). Park et al (2002) dan Lederman (2003). dugaan bahwa perusahaan dengan saham yang dimiliki pihak asing akan menggiring orang untuk melakukan transaksi-transaksi yang sifatnya “off the books” (Chattopadhayay and Das-Gupta (2002) mendapat konfirmasi positif dari studi empiris ini. ceteris paribus. antara lain dengan melakukan paraktik transfer pricing. Dengan demikian. wajib pajak merasa bahwa beban yang harus dibayar atas penghasilan yang tidak dilaporkan apabila nantinya ditemukan oleh administrasi pajak akan lebih besar daripada keuntungan yang mereka peroleh karena penghematan pajak yang dinikmati sekarang karena adanya penghasilan yang tidak dilaporkan.

penelitian ini mendukung premis bahwa permodalan (dalam hal ini DER sebagai proxy struktur modal) mempengaruhi kepatuhan wajib pajak (Chattopadhayay et al. yang pada gilirannya dapat dipakai untuk mengeksploitasi celah-celah peraturan yang ada dalam ketentuan perpajakan untuk tujuan minimalisasi pajak (agrresive tax planning) (OECD. 2001). ceteris paribus. Korelasi negatif juga menunjukkan bahwa wajib pajak yang struktur pembiayaannya lebih banyak dilakukan melalui hutang cenderung lebih patuh dibandingkan dengan wajib pajak yang mengandalkan ekuitas. Debt to Equity Ratio Variabel keempat yang diduga mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak adalah struktur modal.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak karena alasan tarif pajak di Indonesia lebih tinggi. wajib pajak yang mengutamakan hutang sebagai sumber pembiayaan akan cenderung bersedia melaporkan seluruh penghasilannya karena ada keuntungan dengan pengurangan biaya bunga sehingga penghasilan kena pajak akan menjadi lebih kecil dan memperoleh penghematan pajak. Perlakuan perpajakan atas biaya modal dari kedua alternatif pembiayaan tersebut terlihat mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. yang berarti bahwa wajib pajak semakin patuh. Dugaannya adalah semakin tinggi modal yang berasal dari hutang (DER) maka wajib pajak cenderung tidak akan berupaya memanipulasi beban-bebannya. Taraf nyata yang tinggi untuk variabel ini juga berarti pengaruh yang sama juga akan ditemukan dalam populasi. 2002). Hutang misalnya akan memunculkan bunga atas hutang sedangkan ekuitas akan memunculkan pembagian deviden kepada pemegang saham. Dengan demikian. Hal ini memungkinkan wajib pajak yang sahamnya dimiliki oleh pemodal asing untuk menyewa konsultan pajak. yaitu perbandingan antara hutang dengan ekuitas (debt to equity ratio/DER). Dalam manajemen keuangan dikenal sumber modal yang berasal dari hutang atau dari ekuitas yang dampak kewajiban perpajakannya berbeda. Tanda negatif pada koefisien menunjukkan bahwa DER yang semakin tinggi akan menyebabkan angka koreksi penghasilan neto semakin rendah. 107 . Bunga yang dibayar atas hutang merupakan biaya yang boleh dikurangkan (deductible expense) sedangkan dividen tidak. Di pihak lain. Oleh karena itu. Dari hasil perhitungan tampak bahwa koefisien variabel DER ini adalah negatif dan signifikan. bagi wajib pajak yang mengandalkan ekuitas sebagai sumber pembiayaan tidak memperoleh manfaat penghematan pajak dari biaya modal karena dividen tidak boleh dikurangkan dalam penentuan besarnya penghasilan kena pajak. Kehadiran konsultan pajak ini dapat meningkatkan pengetahuan perpajakan wajib pajak. Dengan demikian semakin tinggi DER semakin patuh wajib pajak. Pemodal asing pada umumnya datang ke Indonesia untuk melakukan investasi dengan modal yang cukup besar.

Jurnal Keuangan Publik Vol. Sebagai contoh. Pertama. kecuali untuk beberapa transaksi tertentu seperti impor atau penjualan kepada instansi pemerintah. Dengan kata lain. karakteristik ini hanya ditemukan pada sampel yang diteliti dan tidak pada populasinya karena variabel ini tidak nyata secara statistik (tidak signifikan. bagi wajib pajak yang bergerak di bidang nonmanufaktur. Klepper dan Nagin (1989). Beberapa hal dapat dijadikan catatan terhadap hasil penelitian atas variabel status industri. di mana wajib pajak manufaktur cenderung lebih patuh. Oktober 2008 Status Industri Variabel kelima yang diduga mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak adalah status industri yang dalam penelitian ini dikategorikan ke dalam pembagian industri manufaktur atau non-manufaktur. umumnya menjadi subyek pemotongan atau pemungutan pajak (withholding tax) pajak penghasilan. di Indonesia. di mana pvalue yang lebih tinggi dari 10%). Kesimpulan ini sesuai dengan pendapat penulis bahwa wajib pajak yang bergerak disektor non- 108 . wajib pajak manufaktur umumnya tidak menjadi subyek pemotongan atau pemungutan pajak. Berdasarkan hal ini. 1. Forest (2004). Koefisien regresi yang diperoleh untuk variabel ini adalah negatif yang berarti perusahaan yang termasuk dalam jenis industri manufaktur akan memiliki angka koreksi penghasilan neto yang lebih rendah. Variabel ini dijadikan penjelas karena beberapa penelitian menyimpulkan bahwa jenis usaha berpengaruh pada perilaku kepatuhan wajib pajak. Karakteristik ini hanya ditemukan pada sampel yang diteliti dan tidak pada populasinya karena variabel ini tidak nyata secara statistik (tidak signifikan) yang tercermin dari p-value yang lebih tinggi dari 10%. Mekanisme pemotongan atau pemungutan pajak penghasilan oleh wajib pajak lain menyebabkan transaksi yang dilakukan oleh wajib pajak penerima penghasilan diketahui lebih banyak pihak karena adanya kewajiban melaporkan pemotongan atau pemungutan oleh wajib pajak pemberi penghasilan. Forest (2004). seperti jasa. Jenis usaha wajib pajak berpengaruh kepada kepatuhan karena adanya perlakuan perpajakan yang berbeda-beda antara berbagai jenis usaha wajib pajak. Secara teknis dalam penelitian ini wajib pajak yang masuk ke dalam jenis industri manufaktur diwakili oleh angka 1 sedangkan bila tidak termasuk dalam industri manufaktur diwakili oleh angka 0 (variabel boneka). 5. wajib pajak yang bergerak di bidang usaha non-manufaktur yang mejadi obyek pemotongan atau pemungutan pajak penghasilan akan cenderung lebih patuh daripada wajib pajak yang bergerak di bidang usaha manufaktur. tingkat kepatuhan rata-rata wajib pajak yang masuk kedalam industri manufaktur lebih tinggi daripada mereka yang berada di luar sektor manufaktur. Hal ini menyebabkan wajib pajak yang bergerak di bidang usaha yang menjadi obyek pemotongan atau pemungutan cenderung lebih patuh. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan bahwa wajib pajak manufaktur lebih patuh tidak berlaku bagi wajib pajak pada umumnya. No. hasil penelitian ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Sementara. Joulfaian and Rider (1998). secara statistik. Meskipun demikian.

akan menurunkan tingkat koreksi penghasilan neto dari penghasilan neto menurut SPT. Dengan demikian dugaan bahwa semakin tinggi tingkat skala usaha. mendapat konfirmasi dari studi empirik yang dilakukan. dalam penelitian ini. karena keterbatasan data. Skala Usaha Variabel keenam yang dijadikan faktor penjelas tingkat kepatuhan wajib pajak adalah skala usaha.71) mengindikasikan karakateristik ini juga mencerminkan kondisi pada populasi.7% yang pernah diperiksa. arah pengaruh yang 109 . [Das-Gupta (1994) dan Drazen (1978) dalam Chattopadhayay and Das-Gupta (2002)]. Korelasi positif antara skala usaha dengan tingkat koreksi penghasilan neto menggambarkan bahwa semakin tinggi skala usaha. Dengan kata lain semakin tinggi tingkat profitabilitas semakin tinggi tingkat kepatuhan wajib pajak. skala usaha wajib pajak diwakili oleh peredaran usaha. Profitabilitas Variabel ketujuh yang menjadi variabel bebas adalah profitabilitas. Hasil perhitungan regresi yang tampak dari tabel di atas untuk variabel ini adalah positif dan signifikan. Wajib pajak berskala usaha tinggi masih mempunyai insentif untuk tidak patuh dengan melakukan underreporting mengingat dari 2. Kedua. jenis usaha wajib pajak hanya dikelompokkan ke dalam dua kelompok bidang usaha yaitu manufaktur dan non-manufaktur yang terdiri dari perdangangan dan jasa. Dalam penelitian ini. Temuan ini sejalan dengan bahwa yaitu skala usaha wajib pajak akan berpengaruh pada tingkat kepatuhan wajib pajak (Erard. ceteris paribus. Hasil estimasi model regresi untuk variabel ini adalah negatif dan signifikan. Pengelompokan jenis usaha yang lebih rinci akan memberikan informasi yang berbeda dengan hasil penelitian ini. tingkat koreksi penghasilan neto juga semakin tinggi atau wajib pajak semakin tidak patuh. 1997). kecenderungan wajib pajak dengan skala usaha tinggi untuk tidak patuh dapat dikaitkan dengan tingkat pemeriksaan (audit rate) yang masih rendah.324 sampel yang menjadi obyek penelitian ini hanya 366 atau 15. akan membuat kesempatan wajib pajak cenderung menjadi tidak patuh akan semakin tinggi pula.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak manufaktur yang menjadi obyek pemotongan atau pemungutan seharusnya mempunyai kecenderungan untuk patuh yang lebih tinggi. ceteris paribus. Berdasarkan teori utility ketidakpatuhan. Artinya semakin tinggi kemampuan menghasilkan laba suatu perusahaan. Hal ini bertolak belakang dengan Erard (1997) yang menyatakan bahwa semakin tinggi skala usaha wajib pajak. Skala usaha dimasukkan ke dalam salah satu variabel yang mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak karena besar kecilnya tingkat skala usaha wajib pajak diduga akan berpengaruh kepada kepatuhan pelaksanaan kewajiban perpajakannya. Profitabilitas merupakan salah satu elemen SPT yang diduga mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak. pemahaman ketentuan perpajakan wajib pajak tersebut akan semakin baik sehingga akan cenderung lebih patuh. Taraf nyata sebesar 90% (p-value 0. Melihat tingginya tingkat signifikansi (99%).

semakin tinggi tingkat koreksi penghasilan neto. wajib pajak akan menghadapi tarif pajak yang lebih tinggi dan wajib pajak akan cenderung lebih patuh. Semakin tinggi pajak yang dibayar wajib pajak relatif terhadap penjualan membuat wajib pajak cenderung tidak patuh. Di sisi lain. 5. Hasil penelitian pada variabel ini sejalan dengan hasil penelitian pada variabel tarif pajak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wajib pajak cenderung tidak patuh apabila jumlah nominal pajak yang dibayar relatif besar apabila dibandingkan dengan tingkat penjualan wajib pajak. Hasil penelitian terhadap variabel tarif efektif dan pajak per penjualan tampak bertolak belakang. Pajak Per Penjualan Variabel kedelapan yang menjadi variabel penjelas adalah pajak per penjualan. Dengan kata lain. semakin tinggi tingkat keuntungan. semakin tinggi tarif pajak yang dikenakan. wajib pajak mempunyai batas optimal (rasio pajak dibayar dengan penjualan) berapa rupiah pajak yang mereka bersedia bayar. Dari penelitian terhadap kedua variabel ini. Dengan demikian berarti semakin tinggi rasio pajak terhadap penjualan yang dibayarkan. di pihak lain semakin tinggi tarif pajak. 1996). Dengan demikian. Semakin tinggi tarif efektif berarti nominal pajak yang dibayar juga semakin tinggi. Rendahnya p-value yang dihasilkan menandakan karakteristik yang ditemukan dalam sampel mencerminkan kondisi yang sama untuk populasi. Apabila jumlah pajak yang dibayar masih di bawah batas otpimal. berdasarkan penelitian terhadap variabel tarif efektif. Tarif pajak penghasilan di Indonesia menggunakan tarif progresif.Jurnal Keuangan Publik Vol. akan tetapi dampak semakin tingginya tarif dan nominal pajak terhadap penjualan pada tingkat ketidakpatuhan adalah bertolak belakang. et al. akan tetapi apabila jumlah pajak yang dibayar sudah 110 . Variabel pajak per penjualan adalah salah satu elemen SPT seperti halnya profitablitas yang diduga mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak. semakin rendah tingkat kepatuhan wajib pajak. semakin tinggi penghasilan wajib pajak. semakin tinggi tarif efektif. Hasil penelitian ini mendukung teori bahwa elemen SPT yang dilaporkan wajib pajak dapat memberikan informasi bagaimana kepatuhan wajib pajak yang bersangkutan (Hunter. membuat wajib pajak cenderung untuk patuh. yang berarti jumlah pajak yang dibayar juga akan lebih tinggi. wajib pajak akan cenderung patuh. 1. Hasil estimasi model regresi untuk variabel ini adalah positif dan signifikan. Penjelasan tentang konsep utility seperti dijelaskan dalam kaitannya dengan variabel tarif berlaku juga untuk variabel profitabilitas. Hal ini sejalan dengan premis bahwa elemen isian SPT merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kepatuhan wajib pajak (Hunter et al. Oktober 2008 sama juga terjadi pada populasi. Dengan demikian. 1996 dan Alm. wajib pajak akan cenderung patuh. 1998). No. ceteris paribus. penulis menyimpulkan bahwa wajib pajak lebih mempertimbangkan jumlah pajak yang dibayar relatif terhadap penjualannya dalam perilaku kepatuhannya. semakin tinggi rasio pajak yang dibayarkan terhadap penjualan.

dengan adanya kompensasi kerugian dapat menyebabkan koreksi penghasilan neto tahun berjalan tidak diikuti dengan tambahan pajak dibayar. Atau dengan kata lain para wajib pajak yang pernah diperiksa akan memiliki tingkat kepatuhan rata-rata yang lebih tinggi daripada mereka yang belum pernah diperiksa. dan nilai 0 untuk wajib pajak yang tidak diperiksa pada tahun sebelumnya. setiap penghasilan yang dilaporkan akan ada pajak yang harus dibayar. Artinya perusahaan yang pernah diperiksa. ceteris paribus. Status Kompensasi Variabel kesembilan yang menjadi variabel bebas adalah status kompensasi. ceteris paribus. Status Pemeriksaan Variabel terakhir yang menjadi variabel yang menerangkan tingkat kepatuhan wajib pajak adalah status pemeriksaan. wajib pajak akan menjadi tidak patuh. Dugaan tersebut di atas mendapat konfirmasi dari studi empirik yang dilakukan karena koefisien dari variabel ini bertanda negatif dan signifikan. akan memiliki tingkat koreksi penghasilan neto yang lebih rendah. Hal ini sejalan dengan premis ketujuh yaitu tingkat probabilitas diperiksanya wajib pajak berpengaruh pada tingkat kepatuhannya. Wajib pajak yang telah diperiksa pada tahun tertentu cenderung akan memiliki kepatuhan yang lebih tinggi daripada sebelum diperiksa. Allingham et al (1972). Manfaat tersebut adalah adanya pengurangan kerugian dari tahun pajak sebelumnya pada penghasilan neto tahun berjalan. Nilai 1 mewakili kondisi di mana perusahaan memiliki kompensasi. Variabel ini diwakili nilai 1 untuk wajib pajak yang diperiksa pada tahun sebelumnya. Hal ini membuat wajib pajak akan cenderung patuh dalam melaporkan penghasilan tahun berjalan karena tidak ada pajak yang akan dibayar. tingkat kepatuhan rata-rata dari wajib pajak yang memiliki kompensasi lebih rendah daripada mereka yang tidak memiliki kompensasi. Variabel ini dimasukkan sebagai salah satu variabel yang menjelaskan tingkat kepatuhan wajib pajak karena ada tidaknya kompensasi kerugian dari tahun pajak sebelumnya menentukan jumlah pajak yang harus dibayar dalam satu tahun pajak. Dengan kata lain. 111 . Berbeda dengan wajib pajak yang tidak mempunyai kerugian dari tahun pajak sebelumnya.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak melebihi batas optimal tersebut. Tingginya tingkat signifikansi memberikan indikasi bahwa hal yang sama juga terjadi pada populasi. Forest (2004). Selain itu. yaitu apakah wajib pajak mempunyai kerugian dalam tahun pajak sebelumnya yang dapat diperhitungkan dalam menentukan penghasilan kena pajak tahun berjalan. sedangkan nilai 0 berarti sebaliknya. Adanya kompensasi kerugian dari tahun pajak sebelumnya menyebabkan wajib pajak memperoleh manfaat pada tahun berjalan. Untuk menangkap gejala ini digunakan variabel kategori yang bernilai 1 dan 0. Apabila penghasilan neto tahun berjalan lebih kecil daripada kerugian tahun pajak sebelumnya maka pada tahun berjalan tidak ada pajak yang terutang oleh wajib pajak. Hasil estimasi terhadap variabel ini menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki kompensasi. semakin tinggi tingkat koreksi penghasilan neto.

untuk mengelompokkan wajib pajak ke dalam kelompok risiko ketidakpatuhan rendah. menengah dan tinggi dalam penelitian ini memiliki perbedaan karakteristik. tingginya derajat nyata yang dihasilkan dari perhitungan menyatakan bahwa kondisi yang sama juga terjadi untuk populasi. Secara statistik. Batas nilai yang digunakan adalah 0 sampai dengan 10% untuk kelompok risiko ketidakpatuhan rendah. Berdasarkan batas pembagian tersebut. yang mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak untuk sampel keseluruhan adalah penalti. Untuk menjawab pertanyaan ini digunakan uji Chow dengan perantaraan model regresi linier untuk mengetahui apakah wajib pajak yang masuk ke dalam risiko ketidakpatuhan rendah.Jurnal Keuangan Publik Vol. profitablitas dan pajak per penjualan. Oleh karena itu. Secara keseluruhan. yaitu ”terdapat ukuran risiko ketidakpatuhan tiaptiap kelompok wajib pajak berdasarkan perbedaan penghasilan neto antara Surat Pemberitahuan wajib pajak dengan hasil pemeriksaan”. 5. No. hasil regresi seperti terlihat pada Tabel 4 juga memperlihatkan hasil perhitungan koefisien beta untuk kelompok Full Sample. menengah dan tinggi. Uji Chow berfungsi untuk menguji apakah terdapat perbedaan hasil regresi (dalam slope dan intercept) dari dua buah persamaan. Oktober 2008 Kemudian. jumlah wajib pajak dalam setiap kelompok risiko ketidakpatuhan adalah sebagai berikut: Pengelompokan Wajib Pajak Berdasarkan Risiko Ketidakpatuhan Bagian ini akan membahas hasil temuan dari studi empirik yang dilakukan pada sampel yang terpilih untuk menguji hipotesis pertama. selain dari regresi dengan data full sample. langkah selanjutnya dalam penelitian ini adalah ingin mengetahui berapa ukuran risiko ketidakpatuhan yang dapat digunakan 112 . yang merupakan proxy dari tingkat risiko ketidakpatuhan wajib pajak. penelitian ini membagi sampel tersebut ke dalam tiga kelompok berdasarkan besaran nilai koreksi penghasilan neto (dalam %) dari penghasilan neto menurut SPT. dan di atas 20% untuk kelompok risiko ketidakpatuhan tinggi. 1. Setelah secara agregat hasil studi empirik membuktikan bahwa variabelvariabel yang diduga mempengaruhi dapat menjelaskan variabel terikat. variabel dengan pengaruh paling besar. di atas 10% sampai dengan 20% untuk kelompok risiko ketidakpatuhan menengah. Apabila koefisien beta tersebut dibandingkan ternyata tiga variabel dominan.

916 .315 -.455 16.297 .143 R2= -.326 -2.000 .57% Jumlah 2.02% ≥ 20% Tinggi 479 20.138 -8.665 .046 -.000 .147 .018 .Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Tabel 5 Pengelompokan Wajib Pajak Berdasarkan Tingkat Risiko Ketidakpatuhan Jumlah Persentase Tingkat Koreksi Klasifikasi Perusahaan TK< 10% Rendah 1. Tabel 6 Hasil Regresi Untuk Klaster Risiko Rendah Variabel (Constant) Tarif efektif Penalti Pemegang saham DER Status Industri Skala usaha Profitabilitas Pajak per penjualan Status kompensasi Status Pemeriksaan Obs= Unstandardized Coefficients B 3.091 .105 -3.116 -1.000 .379 -10.000 .324 100% Sumber: Hasil Olah Data Ringkasan hasil regresi terhadap klaster wajib pajak berisiko rendah adalah seperti dapat dilihat pada Tabel 6.056 -.004 .086 .606 Standardized Coefficients Beta 21. NS=Tidak Signifikan Sumber: Hasil Olah Data Untuk mengetahui apakah terdapat korelasi diantara variabel bebas dalam hasil regresi dilakukan uji multikolinieritas. ** : signifikan pada  =5%.695 -. diketahui bahwa seluruh variabel bebas memiliki korelasi kurang dari 0.298 1126 Std. Berdasarkan hasil korelasi antar variabel bebas seperti yang tampak pada Tabel 7.411 .000 -3.037 RSS= *** *** *** * *** NS NS *** *** NS ** 3808000.561 2.003 -.242 .165 . Taraf Nyata Keterangan : *** : signifikan pada  =1%.126 48.214 -.648 1.587 -.052 -.000 .21 Tstat Sig.089 -.822 -4.000 .010 -.160 1.745 .858 . Dengan demikian.230 .274 .970 5.193 . Selain itu perhitungan tolerance menghasilkan nilai kurang dari 1 dan demikian halnya dengan nilai VIF yang kurang dari 10.41% 10% ≤ TK < 20% Menengah 719 31.9 (korelasi rendah).691 -3.145 .000 . dapat dikatakan 113 .002 . * : signifikan pada  =10%. Error .113 .061 0.657 .

11 0.72 1 0.02 1.06 0.03 0.80 0. 1. Dengan demikian tidak ditemukan bukti kuat adanya heteroskedastisitas dari hasil regresi untuk data kelompok wajib pajak berisiko ketidakpatuhan rendah.98 0.02 0.04 0.25 1. 114 .08 Sumber: Hasil Olah Data Sementara itu.16 1.01 0.94 1. Tabel 7 Hasil Uji Multikolinieritas Untuk Data Risiko Rendah TE TE SANG PS DER SI PU Pro PPS SK SP 1 0.89 0. Dengan kata lain.02 -0. tidak satupun variabel bebas yang memiliki pengaruh yang signfikan. Tampak dari “p-value”.11 0.09 0. 5. Oktober 2008 bahwa tidak terdapat kolinieritas yang berarti dalam hasil regresi untuk model wajib pajak berisiko rendah.07 0.05 1 0. Dari hasil ini dapat dinyatakan bahwa varian regresi tidak berubah seiring dengan perubahan variabel bebas.38 8. varian regresi adalah tunggal (homoskedastis).Jurnal Keuangan Publik Vol.30 0.13 1.07 0.01 -0.63 0.96 0.17 0.01 0.05 0.04 0.66 8.02 0.01 0.35 0.07 0.93 0.92 VIF 1.05 1.05 1 0.21 SANG PS DER SI PU Pro PPS SK SP Tolera nce 0.01 0.02 1 0.08 1 0.22 1 0.03 0.13 1 -0. No.01 0.59 1.02 0.12 0.06 -0.02 0. Tabel 8 memperlihatkan regresi dengan variabel terikat logaritma dari kuadrat residu (residu dari hasil regresi sebelumnya) dan variabel bebasnya adalah logaritma dari variabel bebas.33 0.18 0.02 0.86 0.11 1 0.07 1 0.14 -0.04 0.04 -0.47 0.01 0.09 0.

Variabel pemegang saham pada data keseluruhan memiliki pengaruh yang tidak signifikan sedangkan pada kelompok wajib pajak berisiko rendah memiliki taraf nyata 90%. penalti.19 2. variabel tertentu memiliki pengaruh yang signifikan sedangkan pada pengelompokan risiko rendah variabel tersebut tidak signifikan.84 0.18 0.03 -0.11 0. di mana semakin tinggi tarif yang dikenakan semakin tinggi tingkat kepatuhan wajib pajak.14 0.95 t Sig. demikian pula sebaliknya. pajak per penjualan dan status pemeriksaan adalah variabel-variabel yang memiliki arah pengaruh yang sama antara hasil estimasi data keseluruhan dengan pengelompokan wajib pajak berisiko rendah. Variabel tarif efektif.16 -2.40 -0. Bila dilihat dari tanda koefisien regresi yang menyatakan arah pengaruh antara variabel penjelas terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak maka dapat dibandingkan bahwa keseluruhan variabel penjelas memiliki arah pengaruh yang sama.50 -1.62 0.68 0.91 -3. profitabilitas. Variabel Terikat : lne2 Sumber: Hasil Olah Data Bila hasil regresi tersebut pada Tabel 6 dibandingkan dengan hasil regresi untuk data keseluruhan (full sample data) maka terdapat beberapa hasil yang sama namun ada pula yang berbeda. Error 2. 115 . profitabilitas dan pajak per penjualan.62 1.26 -0.67 -1. Variabel skala usaha yang pada data keseluruhan memiliki taraf nyata yang tinggi (90%). Perbedaan dengan hasil pengolahan data untuk data full sample terjadi pada variabel tarif efektif.43 0. Perbedaan juga terjadi pada variabel status kompensasi yang pada data keseluruhan memiliki pengaruh yang nyata tetapi pada kelompok wajib pajak ini pengaruhnya tidak signifikan.16 0.07 0.16 2. Dengan demikian bagi mereka yang berisiko rendah variabel yang lebih dominan mempengaruhi tingkat kepatuhannya adalah tarif.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Tabel 8 Hasil Uji Heteroskedastisitas Data Risiko Rendah Model 1 Variabel Bebas (Constant) Ltarif Lpenalti Lder Lperus Lpro Lpajak A Unstandardized Coefficients B -7. Perbedaan terjadi pada variabel pemegang saham.06 0. Tiga variabel dominan yang mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak untuk kelompok ini adalah tarif efektif.96 2. Perbedaan terjadi pada tingkat signifikansi di mana pada regresi atas data keseluruhan. skala usaha serta status kompensasi.14 Std.01 0.06 0.20 0. status industri. Tabel 6 juga memperlihatkan hasil perhitungan koefisien beta untuk kelompok wajib pajak berisiko rendah. DER. pada kelompok ini pengaruhnya tidak signifikan.17 0.27 0.

21 RSS4= N 1= 1126 RSS5= RSS3= 281051.59 78932. No. Dengan berpatokan pada rule of thumb pada Uji F. walaupun demikian untuk menguji apakah perbedaan ini nyata digunakan Uji Chow seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Perbedaan tersebut sebenarnya telah tercermin dari statistik (koefisien regresi. Tabel 9 Uji Chow Untuk Klaster Risiko Rendah ALL RSS1= 1263767768 N= 2324 Low-Risk RSS2= 3808000. hasil regresi untuk kelompok observasi yang termasuk dalam klaster risiko menengah adalah sebagai berikut.16 Untuk 719 wajib pajak yang masuk kelompok wajib pajak dengan risiko ketidakpatuhan menengah. Nilai RSS ini digunakan untuk menguji apakah benar terdapat perbedaan karakteristik yang signifikan antara seluruh sampel dengan sekelompok sampel yang termasuk kedalam berisiko rendah. dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil perhitungan ini menunjukkan kalau kelompok wajib pajak yang berisiko rendah berbeda dengan data secara keseluruhan. dapat dikatakan bahwa sekelompok wajib pajak yang masuk dalam kategori wajib pajak berisiko rendah memiliki karakteristik yang berbeda dengan wajib pajak di sampel keseluruhan.89 1259678716. Prosedur Uji Chow seperti yang telah dijelaskan. 1. 4089051.932.16. menghasilkan perhitungan seperti tampak pada tabel berikut.Jurnal Keuangan Publik Vol. 5. Dengan demikian.68 F stat= N 2= 1198 Sumber: Hasil Olah Data Tabel 9 memperlihatkan nilai Fstat yang sangat tinggi yakni sebesar 78. estimasi model untuk wajib pajak kelompok risiko rendah juga menghitung nilai residual sum square (RSS). diulangi untuk kelompok wajib pajak risiko ketidakpatuhan menengah dan tinggi. koefisien determinasi dan lainnya) yang telah dibandingkan. 116 . Oktober 2008 Selain menghasilkan koefisien regresi yang telah dibandingkan tersebut. Langkah-langkah yang dilakukan seperti dijelaskan untuk kelompok wajib pajak risiko ketidakpatuhan rendah di muka.

79 14. Selain itu perhitungan tolerance menghasilkan nilai kurang dari 1 dan demikian halnya dengan nilai VIF memiliki nilai kurang dari 10.801 -7.273 -41.789 .65 1.294 112.597 -17.000 .790 -5.000 .000 2.883 719 Std.473 -. Error .67 70.952 -.07 Variabel Terikat: lne2 T -64.31 5.806 6.61 ltarif -84.00 0.000 -168.506 -8. NS=Tidak Signifikan Sumber: Hasil Olah Data Berdasarkan hasil uji kolinieritas diketahui bahwa seluruh variabel bebas memiliki korelasi kurang dari 0.56 -1.000 .31 14.125 .21 0. Taraf Nyata Keterangan: *** : signifikan pada  =1%.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Tabel 10 Hasil Regresi Untuk Klaster Risiko Menengah Variabel (Constant) Tarif efektif Penalti Pemegang saham DER Status Industri Skala usaha Profitabilitas Pajak per penjualan Status kompensasi Status Pemeriksaan Obs= Unstandardized Coefficients B 21.21 A Sumber: Hasil Olah Data Uji heteroskedastisitas memperlihatkan bahwa.588 -6.000 . 0.479 .003 2.000 . Tabel 11 Hasil Uji Heteroskedastisitas Data Risiko Menengah Model 1 Variabel Unstandardized Coefficients Bebas B Std.466 -.056 -.455 R2= Standardized Coefficients Beta -.99 Sig.22 0.000 .456 -.502 .035 -1.350 .79 Tstat Sig. Dengan demikian.000 .34 lpajak -46.910 . Error (Constant) -362.218 -.01 0.66 lpenalti 27.80 lder 1.111 .23 0.000 14. ** : signifikan pada  =5%.677 -15.23 0.961 -1.578 29.542 -.000 1.220 .040 -.21 0.065 -11.20 1.01 23.000 RSS= *** *** *** ** *** *** *** *** *** NS *** 2631.024 .756 0.16 -1. dapat dikatakan tidak terdapat kolinier yang berarti dalam hasil regresi untuk model wajib pajak berisiko menengah.9 (korelasi rendah).753 780.714 7.257 .101 .86 -1.002 .87 lperus -27.320 . * : signifikan pada  =10%.000 .720 -1. tidak satupun variabel bebas yang memiliki pengaruh yang signifikan sehingga dapat dinyatakan bahwa varian regresi tidak berubah seiring dengan perubahan 117 .93 lpro -1.84 1.23 -1. berdasarkan “p-value”.258 -15.

dengan data keseluruhan. atau dengan kata lain varian regresi adalah tunggal (homoskedastis). No. Perbedaan terjadi pada tiga variabel penjelas yaitu pemegang saham. Hasil regresi untuk wajib pajak yang dikelompokkan ke dalam kategori wajib pajak berisiko menengah yang tampak pada Tabel 10 dapat dibandingkan dengan hasil untuk data keseluruhan yang tampak pada Tabel 4. tetapi pada kelompok wajib pajak berisiko menengah pengaruhnya mencapai taraf nyata 99%. sedangkan pada kategori ini pengaruhnya signifikan. Untuk mereka yang termasuk ke dalam wajib pajak berisiko menengah. Pada hasil regresi untuk wajib pajak kelompok risiko menengah ini. pengaruh variabel kompensasi walaupun positif terhadap tingkat kepatuhan. Oktober 2008 variabel bebas. Bila dilihat dari koefisien regresi yang diperoleh tampak bahwa pada hasil regresi kelompok wajib pajak menengah ini lebih banyak variabel penjelas yang nyata secara statistik. Dengan demikian tidak ditemukan bukti kuat adanya heteroskedastisitas dari hasil regresi untuk data wajib pajak berisiko menengah. Kemudian. 5. ternyata mereka yang telah diperiksa pada tahun sebelumnya akan memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi yang cukup dominan menentukan tingkat kepatuhan mereka. Setelah diketahui terdapat beberapa perbedaan antara hasil estimasi model untuk kelompok wajib pajak berisiko menengah. 118 . 1. Variabel penjelas kedua yang hasil estimasinya berbeda adalah status industri. langkah selanjutnya adalah menguji apakah perbedaan ini nyata secara statistik melalui Uji Chow. status industri dan status kompensasi. Artinya tingkat kepatuhan wajib pajak (berisiko menengah) yang berada disektor manufaktur lebih tinggi daripada mereka yang berada di luar sektor manufaktur.Jurnal Keuangan Publik Vol. Pada hasil regresi untuk data keseluruhan. Artinya tingkat kepatuhan wajib pajak (berisiko menengah) yang sahamnya dimiliki pemegang saham asing lebih rendah daripada kepatuhan wajib pajak yang sahamnya tidak dimiliki pemegang saham asing. rasio pajak per penjualan dan status pemeriksaan. Status pemegang saham yang secara operasional berbentuk variabel kategori (0 dan 1) memiliki pengaruh yang tidak nyata terhadap tingkat kepatuhan WP untuk data seluruh sampel. Pada regresi atas seluruh sampel pengaruh variabel ini tidak signifikan. Hasil perhitungan Uji Chow untuk kelompok wajib pajak ini dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 10 juga menunjukkan hasil perhitungan koefisien beta. Dilihat dari koefisien determinasi yang diperoleh kedua hasil regresi menghasilkan angka yang hampir sama sekitar 60%. di mana tiga variabel dominan yang mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak masingmasing adalah profitabilitas. tetapi pengaruhnya tidak nyata secara statistik. pengaruh variabel ini signifikan dan negatif terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak. Dengan demikian untuk wajib pajak dengan tingkat risiko menengah adanya pemegang saham asing akan memiliki pengaruh yang negatif. Dengan demikian perbedaan dengan hasil pengolahan data full sample terletak pada variabel status pemeriksaan. variabel penjelas yang hasil estimasinya berbeda adalah status kompensasi.

978 Sig.003 . Berdasarkan hal tersebut.067 262.161 .669 118.078 -370.96 7 -7.017 479 5.000 .376 726.032 -.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Tabel 12 Uji Chow Untuk Klaster Risiko Menengah ALL Med-Risk RSS2 = N1 = RSS3 = N2 = RSS1= N= 2631. Regresi terakhir yang dilakukan untuk menguji perbedaan karakateristik antara wajib pajak yang berisiko rendah.425 .097 2.022 .029 .000 .21 1605 1263767768 2324 RSS4 = RSS5 = F stat = 500779.153 5098.697 -.066 .094 7163.351 -1116.14 Sumber: Hasil Olah Data Angka Fstat dari Uji Chow sebesar 646. .875 383.347.47 646347.379 93.972 -2.304 -2.83 119 . menengah dan tinggi adalah dengan melakukan regresi atas kelompok wajib pajak yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi.935 -8. Tabel 13 Hasil Regresi Untuk Klaster Risiko Tinggi Variabel (Constant) Tarif efektif Penalti pemegang saham DER Unstandardized Coefficients B Std.000 .212 -215.016 .14 adalah sangat tinggi apabila dibandingkan dengan nilai kritis pada tabel F.286 .00 1263266989.176 37.235 -3.000 -528.151 -.712 1.000 46. Rangkuman hasil estimasi untuk kelompok ini tampak pada Tabel 13. dapat dikatakan bahwa H0 ditolak sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan hasil regresi yang nyata antara sampel keseluruhan dengan sampel yang tergabung dalam wajib pajak berisiko menengah.896 Standardized Coefficients Beta -.235 Status Industri Skala usaha Profitabilitas Pajak per penjualan Status kompensasi Status Pemeriksaan Obs= -837.064 Tstat -2.003 .216 .000 RSS = Taraf Nyata ** *** *** NS *** *** *** * NS NS *** 21916999 2.318 .477 .109 .008 R2= 0.110 -.057 .266 64.117 897.867 .861 . Dengan kata lain dapat pula dinyatakan bahwa sekelompok wajib pajak yang masuk dalam kategori wajib pajak berisiko menengah memiliki karakteristik yang berbeda dengan wajib pajak dalam sampel secara keseluruhan.79 719 498147. Error -148.003 -.000 231.000 .

18 3. dan status kompensasi.14 -1.21 0.23 lder -0.54 lpajak -1. 0. No. 1.24 0. Tampak dari “p-value” tidak satupun variabel bebas yang memiliki pengaruh yang signifikan.72 -1. Dengan demikian tidak ditemukan bukti kuat adanya heteroskedastisitas dari hasil regresi untuk data wajib pajak berisiko tinggi.24 Bila hasil tersebut di atas dibandingkan dengan hasil regresi untuk data keseluruhan maka dapat dilihat bahwa terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan seperti terlihat pada Tabel 15.82 0. Selanjutnya.20 0.12 0.26 0. Oktober 2008 Keterangan:*** : signifikan pada  =1%.9 (korelasi rendah).79 -1. diketahui bahwa seluruh variabel bebas memiliki korelasi kurang dari 0.10 17.6%. Dengan demikian dapat dikatakan tidak terdapat kolinier yang berarti dalam hasil regresi untuk model wajib pajak berisiko tinggi.91 lperus -1.30 lpenalti 0.25 0.03 1. Error (Constant) 74. mencapai 89.22 0. Dari hasil ini dapat dinyatakan bahwa varian regresi tidak berubah seiring dengan perubahan variabel bebas. 120 . dan variabel bebasnya adalah logaritma dari variabel bebas.00 0. pajak per penjualan. kecuali untuk status pemeriksaan pada klaster menengah dan tidak signifikan. atau dengan kata lain varian regresi tunggal (homoskedastis).96 -1. Perbedaan terjadi dalam taraf nyata beberapa variabel yakni status industri. Selain itu perhitungan tolerance menghasilkan nilai kurang dari 1 dan demikian halnya dengan nilai VIF memiliki nilai kurang dari 10.81 ltarif 22. * : signifikan pada  =10%.57 lpro -1. 5. ** : signifikan pada  =5%. nilai koefisien determinasi yang diperoleh dalam hasil regresi di atas adalah yang paling tinggi.94 18.50 0.69 Variabel Terikat: lne2 Sumber: Hasil Olah Data Sig. yang menyatakan arah pengaruh adalah sama.27 0. Tabel 14 memperlihatkan regresi dengan variabel terikat logaritma dari kuadrat residu (residu dari hasil regresi sebelumnya).Jurnal Keuangan Publik Vol. NS=Tidak Signifikan Sumber: Hasil Olah Data Berdasarkan hasil uji kolinearitas. Bila dilihat dari koefisien regresi maka tampak bahwa seluruh tanda koefisien.03 0. Model 1 a Tabel 14 Hasil Uji Heteroskedastisitas Data Risiko Tinggi Variabel Unstandardized Coefficients t Bebas B Std.

variabel status industri ini memiliki taraf nyata hingga 99%. Tiga variabel yang utama adalah masingmasing adalah DER. Variabel kedua yang hasil estimasinya berbeda adalah pajak per penjualan dan yang ketiga adalah stastus kompensasi. 121 . memiliki pengaruh yang tidak signifikan pada data sampel keseluruhan. mereka yang termasuk dalam industri manufaktur memiliki ratarata tingkat kepatuhan yang lebih tinggi daripada mereka yang termasuk dalam non industri manufaktur.606 Tanda + + + N=719 3 1 2 Menengah Tiga Variabel Taraf Nyata Tanda Dominan *** *** *** ** *** *** *** *** *** NS *** R2=0. * : signifikan pada  =10%. ** : signifikan pada  =5%.652 Tanda + + + + N=1126 2 3 1 Tiga Variabel Dominan Taraf Nyata *** *** *** * *** NS NS *** *** NS ** R2=0.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Tabel 15 Perbandingan Hasil Regresi Full Tiga Variabel Dominan Rendah Taraf Nyata *** *** 1 *** NS ** NS * 2 3 *** *** *** *** R2=0. NS=Tidak Signifikan Sumber: Hasil Olah Data Variabel status industri misalnya. Kesamaan antara kelompok ini dengan sampel keseluruhan adalah pada variabel penalti. tetapi untuk mereka yang berisiko tinggi pengaruh kedua variabel ini tidak signifikan. Satu lagi langkah Uji Chow untuk mereka yang termasuk ke dalam kelompok berisiko tingi tampak hasilnya pada tabel berikut. sedangkan yang berbeda adalah variabel DER dan skala usaha. penalti dan skala usaha. Kedua variabel ini memiliki pengaruh yang nyata pada regresi untuk sampel keseluruhan tetapi tidak pada hasil regresi sampel wajib pajak berisiko tinggi.896 Variabel (Constant) Tarif efektif Penalti Pemegang saham DER Status Industri Skala usaha Profitabilitas Pajak per penjualan Status kompensasi Status Pemeriksaan Tanda + + + + + N=2324 Keterangan: *** : signifikan pada  =1%. Dengan demikian wajib pajak yang termasuk dalam berisiko tinggi. Meskipun keduanya sama-sama memiliki pengaruh yang negatif terhadap kepatuhan wajib pajak.578 + + + + N=479 3 1 2 Tinggi Tiga Variabel Dominan Taraf Nyata ** *** *** NS *** *** *** * NS NS *** R2=0. Tabel 15 juga memberikan gambaran hasil perhitungan variabel yang pengaruhnya paling dominan menentukan kepatuhan wajib pajak. Pada kelompok wajib pajak berisiko tinggi.

Perbedaan Pajak Antara Kelompok Wajib Langkah selanjutnya adalah melakukan uji diskriminan untuk menjawab hipotesis kedua “terdapat perbedaan antara kelompok wajib pajak yang dikelompokkan ke dalam kelompok wajib pajak berisiko ketidakpatuhan rendah. diterima. Tabel 17 Kategori Pembagian Kelompok Untuk Analisis Diskriminan Kriteria Pembagian Nilai Kategorial Kelompok Wajib Pajak Koreksi ≤ 10% 1 Risiko ketikdapatuhan rendah 10%<Koreksi ≤ 20% 2 Risiko ketikdapatuhan menengah Koreksi > 20% 3 Risiko ketikdapatuhan tinggi 122 .8 479 498225. 1. No.56 1217.08 1845 1263767768 2324 RSS4 = RSS5 = F stat = 219668217. Tahap pertama dalam uji diskriminan ini adalah dengan memberikan nilai kepada variabel tidak bebas (dalam hal ini tingkat risiko wajib pajak) dengan nilai kategorial. 3. Dengan kata lain dapat pula dinyatakan bahwa sekelompok wajib pajak yang masuk dalam kategori wajib pajak berisiko tinggi memiliki karakteristik yang berbeda dengan wajib pajak dalam sampel secara keseluruhan.91 1044099550. Untuk itu dibuat pembagian sebagai berikut: No 1. wajib pajak dapat dikelompokkan menjadi wajib pajak berisiko rendah. 2. 5. menengah. Oleh karena itu.84 Sumber: Hasil Olah Data Hasil Uji Chow ini juga menghasilkan angka Fstat yang sangat tinggi yang berarti kelompok ini juga memiliki perbedaan karakteristik dengan data secara keseluruhan. hipotesis pertama dari penelitian ini yang menyatakan tingkat koreksi penghasilan neto menurut SPT dapat mengelompokkan wajib pajak ke dalam tingkat risiko ketidakpatuhan rendah. menengah dan tinggi. dan tinggi. Karena ketiga hasil perhitungan di atas menyatakan bahwa masing-masing kelompok memiliki perbedaan karakteristik dengan data secara keseluruhan. Oktober 2008 Tabel 16 Uji Chow Untuk Klaster Risiko Tinggi ALL High-Risk RSS2 = N1 = RSS3 = N2 = RSS1= N= 219169992. maka dapat dinyatakan bahwa benar berdasarkan perilaku ketidakpatuhannya. Bila ketiga hasil Uji Chow yang telah dilakukan digabungkan.Jurnal Keuangan Publik Vol. menengah dan tinggi”. maka dapat disimpulkan apakah memang terdapat perbedaan antar masing-masing kelompok wajib pajak berdasarkan tingkat risikonya (tingkat kepatuhannya).

Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Karena terdapat tiga ukuran risiko ketidakpatuhan. dan tinggi). maka akan terdapat dua fungsi diskriminan yang masing-masing dapat digambarkan sebagai berikut: +________Fungsi Diskriminan Pertama_________+________ Fungsi Diskriminan Kedua__________+ WP Risiko Rendah WP Risiko Menengah WP Risiko Tinggi Tabel 18 menggambarkan nilai rata-rata dari setiap prediktor (variabel bebas) untuk setiap pengelompokan yang telah dibuat (wajib pajak berisiko ketikdapatuhan rendah. Untuk melihat kelayakan analisis diskriminan. Pengujian untuk itu tampak pada Tabel 18. pengujian pertama yang dilakukan adalah membandingkan nilai rata-rata seluruh prediktor di setiap pengelompokan. menengah. 123 .

364337790 124 .08318993 17315372 .06889353 4.08762170 .00799290 .11875745 17802467 .29 .064504568 39.13793432 12845019 .059657886 67089268.49E+010 .14414802 1.03601471 .11242043 25890650 .095879762 .02131439 .050962765 42016360.253537786 8399893599 .000001+ Status pemeriksaan Tarif efektif Penalti Pemegang saham Debt to equity ratio Status industri Peredaran usaha Profitabilitas Pajak per penjualan Status kompensasi Total Status pemeriksaan Tarif efektif Penalti Pemegang saham Debt to equity ratio Status industri Peredaran usaha Profitabilitas Pajak per penjualan Status kompensasi Status pemeriksaan Mean .337347323 1.13073713 6.00494684 .167109049 .079463736 .35586326 .939331482 .388246502 3.00775017 .120092126 22. Oktober 2008 Tabel 18 Rata-rata Prediktor Untuk Setiap Pengelompokan Koreksi (Banded) <= 10.147608371 .600691589 .401372227 .000001 .023583483 .02E+010 . 1.15835760 .00417246 12.029089166 .05845511 .Jurnal Keuangan Publik Vol.18472469 1.000000 Tarif efektif Penalti Pemegang saham Debt to equity ratio Status industri Peredaran usaha Profitabilitas Pajak per penjualan Status kompensasi 10.20159858 .676E+010 . No.00588712 .126740477 .02208547 .00178770 .144494382 3.282940767 .003345571 .02280551 .000000 Status pemeriksaan Tarif efektif Penalti Pemegang saham Debt to equity ratio Status industri Peredaran usaha Profitabilitas Pajak per penjualan Status kompensasi 20.02225313 .365744340 .70558369 .351315352 2. 5.055169448 54223254.15866388 .61 .234847305 .20.120126359 1.01462995 4.020581013 .00266128 .09 .767311122 .91 . Deviation .687E+010 .01461378 .05772541 .089084549 .796E+010 .62E+009 .032877556 34361097.149315136 .098856 .25E+009 .15748709 Std.003595965 .

983 19. menengah dan tinggi. 125 .989 12. . Tabel 19 Uji Kesamaan Rata-Rata Grup Wilks' Lambda F df1 Tarif efektif .982 21.861 2 Sumber: Hasil Analisis Data Dalam Tabel 19.2% menjadi 80.000 .011 . angka Wilks’ Lambda semakin kecil. Dengan penjelasan yang sama dapat dinyatakan bahwa seluruh variabel penduga memiliki pengaruh yang nyata dalam mengelompokan wajib pajak ke dalam kelompok wajib pajak berisiko ketidakpatuhan rendah.956 2 Status industri .Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Statistik yang digunakan untuk menguji seluruh prediktor di setiap pembagian adalah Wilk’s Lambda.982 20.854 2 Pemegang saham .970 35. df2 2321 2321 2321 2321 2321 2321 2321 2321 2321 2321 Sig. Hal ini berarti ada perbedaan rata-rata tarif efektif antar grup.852 202.654 2 Profitabilitas . Dengan kata lain pengelompokkan wajib pajak yang berisiko ketidakpatuhan rendah. Pada dasarnya semakin kecil nilai Wilk’s Lambda semakin nyata perbedaan rata-rata setiap prediktor di ketiga pengelompokan tersebut.154 2 Penalti .324 2 Skala usaha . Tabel 19 juga memberikan gambaran seberapa besar penurunan varian yang tidak dapat dijelaskan oleh perbedaan antar grup.6%.000 .000 . Misalnya ketika variabel kedua (penalti) ditambahkan ke dalam model.972 33.996 4.000 . Taraf nyata setiap variabel inipun sangat tinggi yakni 99% kecuali untuk variabel pemegang saham yang mencapai 95%.504 2 Status pemeriksaan .000 Sedangkan dari Tabel 20 tampak bahwa setiap pertambahan variabel sebagai prediktor.484 2 DER . menengah dan tinggi dipengaruhi oleh tarif efektif.000 . terlihat bahwa variabel tarif efektif memiliki tingkat signifikansi yang tinggi (sebesar 99%).000 .945 66.000 . varian yang tidak dapat dijelaskan oleh perbedaan antar grup turun dari 85.984 19. Statistik ini diuji dengan Statistik F untuk mengukur seberapa tinggi tingkat signifikansi perbedaan ratarata setiap prediktor.415 2 Pajak per penjualan .000 .873 2 Status kompensasi .

000 4636. Oktober 2008 Tabel 20 Wilks' Lambda Langkah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Variabel Lamb da df1 df2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 Df3 2321 2321 2321 2321 2321 2321 2321 2321 2321 2321 Statistik 202.755 6 7 .752 7 8 .000 .763 4 5 .968 83.000 . Hal ini berarti kesepuluh variabel yang menjadi penduga variabel risiko ketidakpatuhan memang berbeda untuk ketiga kelompok risiko ketidakpatuhan wajib pajak atau juga dapat diartikan bahwa kesepuluh variabel yang dijadikan variabel independen merupakan variabel-variabel yang benar-benar dapat dijadikan sebagai variabel yang dapat memprediksi tingkat risiko ketidakpatuhan berdasarkan tingkat risikonya yaitu risiko ketidakpatuhan rendah.000 4638.539 45. bahwa baik pada pemasukan variabel tarif efektif maupun sembilan variabel lainnya.258 44.748 8 9 .084(a) 23.000 4624. Dari hasil analisis ini juga dapat dilihat.000 .726 9 10 . Fungsi 1 2 Tabel 21 Uji Perbedaan Antar Grup Wajib Pajak % of Cumulative Eigenvalue Variance % .000 4632.9 76. .000 4640. No.000 4634.9 .806 2 3 .000 4626.228 50.000 .760 5 6 .095 105.000 .000 Sig.000 .000 . Tahap selanjutnya adalah menguji perbedaan antar kelompok wajib pajak menurut risiko ketidakpatuhan. pada kolom F dan signifikansinya.526 41.281(a) 76.Jurnal Keuangan Publik Vol. 1. 126 .215 58.000 .000 1 .468 . menengah dan tinggi.154 132.000 4630. seluruh variabel penjelas memiliki peran yang baik karena angka Wilks’ Lambda secara konsisten turun dari dimasukkannya variabel penjelas pertama (tarif efektif) hingga variabel kesepuluh (status pemeriksaan). semuanya adalah signifikan secara statistik.852 1 2 .881 68.000 4628.0 Canonical Correlation .000 .720 10 Sumber: Hasil Analisis Data Dengan demikian.773 3 4 .255 Exact F df1 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 df2 2321. 5. Berikut adalah uji perbedaan dua fungsi diskriminan yang membedakan ketiga kategori wajib pajak.279 a First 2 canonical discriminant functions were used in the analysis.1 100.

000 2 .692 diperoleh tingkat signifikansi yang tinggi sebesar 99% (dilihat p-value yang mendekati 0). Fungsi Diskriminan Pertama memiliki korelasi sebesar 0.1%.720 760. maka 76. Jika faktor pada fungsi 1 yang digunakan.Seperti telah dijelaskan sebelumnya terdapat dua fungsi diskriminan untuk membedakan tiga kategori risiko ketidakpatuhan wajib pajak.9% varian dari variabel yang memprediksi tingkat risiko ketidakpatuhan wajib pajak dapat dijelaskan oleh fungsi diskriminan yang terbentuk pada fungsi 1.65 diperoleh tingkat signifikansi yang tinggi pula sebesar 99%.922 187. 1 through 2 .468 yang menggambarkan korelasi yang cukup tinggi dengan ukuran skala asosiasi 0 hingga 1. Tabel 22 Uji Perbedaan Rata-Rata (Centroid) Fungsi Diskriminan Wilks' Test of Function(s) Lambda Chi-square Df Sig. menengah maupun tinggi.692 20 .000 Sumber: Analisis Data Tabel 22 di atas menggambarkan perbedaan rata-rata (centroid) dari kedua fungsi diskriminan yang dihasilkan. Semakin tinggi harga eigenvalue. Hal ini menyatakan bahwa kesepuluh variabel penjelas (mulai dari variabel tarif efektif hingga variabel status pemeriksaan) memang berbeda antara mereka yang masuk ke dalam kategori wajib pajak berisiko ketidakpatuhan rendah. Dengan perolehan χ2 hitung sebesar 760. dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan rata-rata (centroid) yang jelas dari Fungsi Diskriminan Kedua (kesepuluh variabel penjelas dalam kategori wajib pajak berisiko ketidakpatuhan menengah dan tinggi). Dengan perolehan χ2 hitung sebesar 187. Tabel 21 di atas memberikan gambaran korelasi kanonik antara dua fungsi diskriminan tersebut dengan grup (pengelompokan). 127 . Hal yang sama juga berlaku untuk korelasi kanonik dari Fungsi Diskriminan Kedua dengan grup yang mencapai 0. sisanya dapat dijelaskan oleh fungsi 2 sebesar 23. Pengujian kedua yang tampak pada tabel di atas bertujuan membeda- kan antara wajib pajak yang masuk dalam kategori risiko ketidakpatuhan menengah dan tinggi saja (setelah Fungsi Diskriminan Pertama dikeluarkan). maka semakin baik fungsi tersebut dalam menjelaskan variabel yang diamati.279. Oleh karena itu.649 9 . Berdasarkan Tabel 21 juga dihasilkan eigenvalue yang merupakan rasio sum of square antar kelompok (between group) dengan dalam kelompok (within group).

12 St_Ind .(8.73 x 10-12) PU + 5.034 .012 Sumber: Analisis Data Dengan demikian fungsi diskriminan tersebut adalah: Fungsi Diskriminan Pertama : Z score 2 7.57St_Ind (5.071 -.07 St_Riska Z score = -0.698 Status kompensasi -1.37 TE – (9.88 x 10-12) PU + 1.85 + 7.708 .000 -1.34 DER + 0.35 PS + 0.(5.71 TE – (5.01 + 16.38 Pro – 17.1.61 PS – 0.124 .14 SP +____________________________________________________+_________________________________________________+ WP Risiko Rendah WP Risiko Menengah WP Risiko Tinggi Keterangan : TE SANG St_PS DER St_Ind PU : : : : : : Tarif efektif Penalti Pemegang saham Debt to Equity Ratio Status industri Skala usaha Pro PPS S_Kom S_Riska : : : : Profitabilitas Pajak per penjualan Status kompensasi Status pemeriksaan Selanjutnya nilai rata-rata Zscore dari dua fungsi diskriminan yang diperoleh 128 .14 St_Riska Fungsi Diskriminan Kedua : Z score = -0.53 x 10-9) SANG .70 PPS – 1.35 St_PS + 0.608 DER -.06 St_Kom + 0.64 SK .Jurnal Keuangan Publik Vol.53 x 10-9) SANG .78 Pro – 19.07 SP.64 S_Kom .78 Pro – 19.1.005 Status industri .1.85 + 7.783 -19.38 Pro – 17.06 SK + 0. 1.37 TE – (9. Oktober 2008 Tabel 23 Fungsi Diskriminan Fungsi Variabel 1 Tarif efektif 16.804 -.000 Profitabilitas 5.61 St_PS – 0.73 x 10-12) PU + 5.640 -1.04 x 10-9) SANG + 0. No.536 Skala usaha .80 PPS – 0.000 Pemegang saham . Z score = -2.373 Penalti .1.353 .(8.845 = -2.136 (Constant) -2.005 DER + 0.005 DER + 0.061 Status pemeriksaan .80 PPS – 0.70 PPS – 1.57 SI .71 TE – (5.01 + 16.376 Pajak per penjualan -17. 5.34 DER + 0.12 SI .04 x 10-9) SANG + 0.88 x 10-12) PU + 1.000 1.

517 -. Nilai ratarata (centroid) dari fungsi diskriminan yang dihasilkan tampak pada Tabel 24 berikut.20. Tabel 24 Rata-Rata (Centroid) dari Tiap Grup Koreksi (Banded) 1 <= 10. Kelompok wajib pajak dengan risiko ketidakpatuhan rendah memiliki rata-rata 0.377 Tabel di atas mengambarkan ratarata (centroid) dari masing-masing wajib pajak yang dikelompokkan menurut risiko ketidakpatuhannya.097).000000 10.403 -. 0.517.377). Dengan penjelasan yang sama centroid untuk kelompok wajib pajak dengan tingkat risiko ketidakpatuhan menengah dan tinggi masing-masing adalah (0.290 -. -0. Atau dengan kata lain centroid untuk kelompok wajib pajak berisiko ketidak- patuhan rendah adalah (0. -0.778.403) dan (-0.000001+ Sumber: Analisis Data .290.778 Fungsi 2 -.097 pada Fungsi Diskriminan Kedua.000000 20.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak tampak pada tabel berikut.000001 . Centroid tersebut dapat digambarkan pada Gambar 1 berikut: 129 .097 .517 pada fungsi diskriminan pertama dan 0.

0 -2.0 -1.0 1. langkah selanjutnya adalah melihat seberapa baik (goodness of fit) fungsi diskriminan yang diperoleh dalam memprediksi wajib pajak yang terdapat dalam sampel.0 ô 31 ô ôòòòòòòòòòôòòòòòòòòòôòòòòòòòòòôòòòòòòòòòôòòòòòòòòòôòòòòòòòòòô -3.0 -1.0 ô 21 ô ó 21 ó ó 21 ó ó 21 ó ó 21 ó ó 21 ó 2. Oktober 2008 Territorial Map Canonical Discriminant Function 2 -3.0 ô ô ô 33322 ô21 ô ô ô ó 3322221 * ó ó * 3331 ó ó 31 ó ó 31 ó ó 31 ó -1. menengah dan tinggi.Jurnal Keuangan Publik Vol. 130 .1 Centroid Masing-masing Kelompok Wajib Pajak Setelah fungsi diskriminan yang dihasilkan telah diuji dan ternyata secara nyata dapat membedakan wajib pajak ke dalam kelompok wajib pajak berisiko rendah. No.0 2.0 ô ô ô ô ô 21 ô ô ó 21 ó ó2 21 ó ó322 21 ó ó 33222 21 ó ó 333222 21 ó 1.0 ô 33322 ô ô 21 ô ô ô ó 33222 21 ó ó 333222 21 ó ó 33322 21 ó ó 33222 * 21 ó ó 333222 21 ó .0 ô ô ô ô 31 ô ô ô ó 31 ó ó 31 ó ó 31 ó ó 31 ó ó 31 ó -3.0 3.0 1.0 .0 ôòòòòòòòòòôòòòòòòòòòôòòòòòòòòòôòòòòòòòòòôòòòòòòòòòôòòòòòòòòòô 3. 1.0 Canonical Discriminant Function 1 Gambar 4.0 -2.0 2.0 3.0 . Perhitungan goodness of fit tersebut tampak pada tabel berikut.0 ô ô ô 31 ô ô ô ó 31 ó ó 31 ó ó 31 ó ó 31 ó ó 31 ó -2. 5.

menengah dan tinggi).4%.3 33.1 100. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa fungsi diskriminan yang dihasilkan sudah layak untuk membedakan ketiga kategori wajib pajak. menengah. “terdapat perbedaan variabel untuk membedakan wajib pajak dalam kelompok risiko ketidakpatuhan rendah.000001 . Terdapat 1.20.000000 54. 131 . In cross validation.000000 94 514 111 719 20.1 71.3%.c <= 10.000001 . dan tinggi.6 100.000000 94 514 111 719 20.4% of original grouped cases correctly classified 57.0 Cross validation is done only for those cases in the analysis.000001 .7 12.000000 13.000000 54.00 20.9 45. 57. Dari perhitungan diperoleh 57.4 100.20.5 15. menengah dan tinggi”. Perbedaan Variabel untuk Membedakan Wajib Pajak dalam Kelompok Risiko Ketidakpatuhan Setelah fungsi diskriminan dapat membedakan wajib pajak menurut kelompok risiko rendah. each case is classified by the functions derived from all cases other than that case.4 100.000001 .000 Total 10.4 % dari observasi mampu dipetakan secara benar oleh fungsi diskriminan yang dihasilkan.324 observasi yang dipetakan dengan benar sehingga goodness of fit dari fungsi diskriminan ini adalah 57.6 100.5 43. langkah selanjutnya adalah mencari variabel penjelas manakah yang membedakan kelompok tersebut untuk menjawab hipotesis ketiga.000000 609 381 136 1126 10.000001+ 52 218 209 479 % <= 10.0 100.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Tabel 25 Kelayakan Fungsi Diskriminan Classification Results b.5 15.0 20.000001+ 10.000000 13.000001+ 52 218 209 479 % <= 10.1 33.0 10.0 20.9 45.000000 611 380 135 1126 10.5 43.3% of cross-validated grouped cases correctly classified Origi-nal Crossvalidated a b c Tabel di atas menggambarkan seberapa baik fungsi diskriminan dalam memprediksi (memetakan) sampel yang ada ke dalam pembagian awal yang telah ditetapkan (wajib pajak berisiko ketidakpatuhan rendah.000000 001+ Koreksi (banded) 0000 Count <= 10.1 71.8 12.000001+ 10.0 10.0 Counta <= 10.334 dari 2.20.000001 20.20. Angka yang hampir sama diperoleh untuk cross-validation yang mencapai 57.

(iii) penalti dan (iv) pemegang saham. variabel tarif efektif merupakan variabel yang membedakan antara kelompok wajib pajak berisiko ketidakpatuhan rendah dan menengah. 1.318(*) -.169 -. yang diukur dengan besaran koreksi penghasilan neto. menengah dan tinggi. (ii) profitabilitas.282(*) Pemegang Saham . Sedangkan variabel debt to equity ratio adalah variabel yang membedakan kelompok wajib pajak berisiko ketidakpatuhan menengah dan tinggi. Oleh karena itu. 132 . No. Sedangkan variabel penjelas yang masuk ke dalam Fungsi Diskriminan Kedua adalah (i) debt to equity ratio. Selain itu.247(*) -. 5.172 DER -.777(*) Status pemeriksaan . Tampak bahwa korelasi antara variabel penjelas “tarif efektif” dengan Fungsi Diskriminan Pertama (sebesar 0.250).776(*) . Dengan demikian. Oktober 2008 Tabel 26 Penamaan Fungsi Diskriminan Fungsi Variabel 1 2 Tarif efektif . (iv) pajak per penjualan.077 Status kompensasi -.329(*) -.078 -.250 Profitabilitas .Jurnal Keuangan Publik Vol. Kesimpulan Penelitian ini berhasil menjelaskan hubungan antara risiko ketidakpatuhan para wajib pajak dengan variabelvariabel yang mempengaruhinya.089 Pajak per penjualan .040 Skala usaha . Besaran yang dipakai dalam penelitian ini adalah koreksi penghasilan neto kurang dari 10% untuk kelompok risiko ketidakpatuhan rendah. (ii) status pemeriksaan. (iii) skala usaha. penelitian ini juga berhasil membentuk fungsi diskriminan yang dapat digunakan untuk memprediksi tingkat risiko ketidakpatuhan wajib pajak.358(*) Penalti -. Dengan penjelasan yang sama variabel yang masuk ke dalam Fungsi Diskriminan Pertama adalah (i) tarif efektif.160(*) Sumber: Analisis Data Tabel 26 di atas menggambarkan besarnya korelasi kanonik dari setiap variabel penjelas dengan fungsi diskriminan kanonik (standardized canonical discriminant functions). variabel tarif efektif masuk ke dalam Fungsi Diskriminan Pertama.226(*) -. (v) status industri dan (vi) status kompensasi.240(*) .125 .156 . rendah. koreksi penghasilan neto antara 10% hingga 20% untuk kelompok ketidakpatuhan menengah dan koreksi penghasilan neto lebih besar dari 20% untuk kelompok risiko ketidakpatuhan tinggi.100 Status industri .776) lebih besar daripada korelasinya dengan Fungsi Diskriminan Kedua (sebesar 0.

variabelvariabel yang dipakai dapat diperluas antara lain variabel kepatuhan formal seperti ketepatan waktu pembayaran dan pelaporan pajak. dan pajak per penjualan. variabel sanksi. Untuk sampel kelompok risiko ketidakpatuhan menengah. Sedangkan untuk sampel kelompok risiko ketidakpatuhan tinggi. dan wajibpajak yang jumlah pajak dibayarnya relatif tinggi terhadap penjualan cenderung tidak patuh. Di lain pihak.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Penelitian juga dapat menjelaskan hubungan pengaruh antara variabelvariabel ketidakpatuhan dengan risiko ketidakpatuhan wajib pajak. Selanjutnya. wajib pajak yang memiliki hutang dalam permodalannya akan cenderung lebih patuh. besaran tunggakan pajak dan aspek pelaporan material yang misalnya kesesuaian laporan wajib pajak dengan data wajib pajak yang diperoleh dari pihak ketiga. Fungsi diskriminan yang terbentuk dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dalam pengelompokan wajib pajak ke dalam risiko ketidakpatuhan rendah. Variabel yang membedakan wajib pajak ke dalam kelompok risiko ketidakpatuhan rendah atau menengah adalah tarif efektif. dan pajak relatif terhadap penjualan (pajak per penjualan) adalah variabel yang paling dominan. wajib pajak dengan skala usaha tinggi dan wajib pajak dengan status kompensasi kerugian. beberapa temuan dalam penelitian ini juga dapat dijadikan dasar penentuan wajib pajak. dan wajib gi dan wajib pajak dengan status kompensasi kerugian. Sedangkan variabel debt to equity ratio adalah prediktor yang mampu membedakan apakah wajib pajak masuk ke dalam kelompok risiko ketidakpatuhan tinggi atau menengah. tiga variabel yang paling dominan adalah tarif efektif. dan wajib pajak yang bergerak dalam industri manufaktur cenderung lebih patuh patuh. penentuan wajib pajak mana yang akan diperiksa didasarkan pada tingkat risiko ketidakpatuhan bahwa wajib pajak tersebut tidak patuh (risk-based approach). yang diprioritaskan akan diperiksa. profitabilitas. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat variabelvariabel yang secara dominan mempe- 133 . menengah dan tinggi. pajak per penjualan dan status pemeriksaan. Sedangkan dari sisi kebijakan. seluruh variabel bebas dapat menjelaskan tingkat risiko ketidakpatuhan wajib pajak. wajib pajak yang berada pada tarif yang tinggi. Dengan demikian. Secara keseluruhan. Secara bersama-sama. dari sisi wajib pajak. untuk lebih komprehensif dalam menentukan tingkat risiko ketidakpatuhan wajib pajak. tiga variabel yang paling dominan adalah profitabilitas. profitabilitas. Namun demikian. Adapun pengaruh parsial. tingginya sanksi dan profitabilitas diperiksa akan mendorong wajib pajak untuk lebih patuh. tiga varia- bel yang paling dominan adalah debt to equity ratio. Untuk kelompok risiko ketidakpatuhan rendah. dalam setiap kelompok risiko. Setelah wajib pajak dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat risiko ketidakpatuhannya berdasarkan fungsi diskriminan hasil penelitian ini. fungsi diskriminan tersebut dapat digunakan dalam pemilihan SPT wajib pajak yang akan diperiksa (auditcase selection). dari penelitian ini juga dapat diketahui bahwa wajib pajak yang di dalamnya ada pemegang saham asing memiliki tingkat kepatuhan rata-rata yang lebih rendah daripada wajib pajak yang di dalamnya tidak ada pemegang saham asing. sanksi dan peredaran usaha.

_______ and I. Jung. Estimating the determinants of taxpayer with experimental data.D. The Accounting Review 66(3). Georgia State University. J. National Institute of Public Finance and Policy. and H. Erard and J. And Tax Evasion In Developing And Transition Countries”. Auditing and Auditing Services: An Integrated Approach. and A. G. menengah dan tinggi.. 1.A. Betty R.M. Collins. Ajzen. 1995.. A paper prepared for Public Finance in Developing and Transition Countries: A Conference in Honor of Richard Bird. Feinstein. Robben. and R. 2001. H. J. _______ and J. Engelbrecht. penalty sanctions and income visibility on tax compliance. J. The Accounting Review 66(3). The Journal of Economic Psychology 16 (4).. and T. Experimental evidence on taxpayer reporting decision under uncertainty. USA. 11th edition. and Arindam DasGupta. 2002. 2002. An investigation of th effect of detection risk perceptions. 134 . Income tax evasion: A theoritical Analysis. 1991. _____. Predicting dishonest actions using the theory of planned behavior.S.J. “Institutions. New Jersey. Carnes. New Delhi. and Michael McKee. Cooper. Business Research Andreoni. 2006. Beasly and Randal J.O. The effects of tax rates and enforcement policies on taxpayer compliance: A study of self-employed taxpayers. 1972. 1995. Oktober 2008 ngaruhi risiko ketidakpatuhan wajib pajak dalam setiap kelompok risiko. Journal of Research in Personality 25 (3).W. Jakcson. Elder. Knolbett. Tax compliance. 1991. _____. 1991. Alvin A. International Studies Program. Journal of American Taxation Association 17 (1). Sandmo. S. Daftar Pustaka Ali. Arens. No. 323-338.G. Paradigms. Donald R. Journal of Public Economics. M.. 1992. Cecil and J. 285-301. 1992.. The Accounting Review 66(3).A. Alm.S. and Pamela S. 186-202. The Personal income tax in India: Compliance costs and compliance behaviour of taxpayers. 5. Jorge Martinez-Vazquez. rendah. True positives and false alarms in the detection of tax evasion. M. 559-576.Schindler. National Tax Journal 45. Chattopadhyay. 1991. Antonides. 107-114.H. Journal of Economic Literature 36 (2). Plumlee. Prentice Hall. 577-593. Mark S. B.D. Davis and W. The taxpayer’s labor and reporting decision: the effect of audit schemes. 1. American Economics Journal 29 (2). 535-558. 818860. Andrew Young School of Policy Studies.Jurnal Keuangan Publik Vol. A perspective on the experimental analysis of taxpayer reporting. 617-640. 26-41. G. Allingham.

“Targeting Occupations To Increase Tax Revenue”. 1986. An analysis of moral and social influences on taxpayer behavior. and W. New York:Springer-Verlag. Tax Volume 1 http:// www. Journal of Accounting Literature 5. The Tax Authority and The Taxpayer An Exploratory Analysis. William J. 1986. Tax evasion.revenueproject. Anderson. USA. Fungsi Pemeriksaan Terhadap Peningkatan Kepatuhan Pajak (Tax Compliance). ____. J. 1988.T. and prospects. I. 5. and V. National Tax Journal 49 (1). Honesty and evasion in the tax compliance game. Tax compliance research: findings. B and J. “Compliance Measurement And Workload Selection With Operational Audit Data”. problems. 135 . Embedding Risk Management. Hanno.S. Nelson. Hind.M. 2002 Forest. J. “An IRS Production Function”. 1994. Singapore: McGrawHill Book Co. R.com/articles/PSA 1. Feinstein. Philip.E. 1996. Feld. Journal of Economic Psychology 16. and D. Reformasi Administrasi Perpajakan Dalam Rangka Kontribusi Menuju Good Governance. Jolliffe.. 4th ed. 63-72. and Bruno S. Gunadi. P.odgroup. Milliron.. 125-165. Pidato upacara pengukuhan sebagai Guru Besar Luar Biasa Dalam Ilmu Perpajakan pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. Journal of Economic Literature. 105-115. 1995. 1997. The effect of peer reporting behavior on taxpayer compliance. Journal of American Taxation Association 9 (2).com/docu ments. http:// www. Winchern. Applied Multivariate Statistical Analysis. Multivariate Data Analysis.W.C.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak Methods. 7-64.. 2002.” A working paper prepared for Technical Committee on Business Taxation. Hunter. Salemba. “The Income Tax Compliance Burden On Small And MediumSized Canadian Business.E. Falkinger. R. George Washington University. 1988.R. Tatham. R. B. Violette.. consumption of public goods and fairness. 4-9. 2005. Journal of Economic Literature. New Jersey:Prentice Hall. Behavioral Research in Accounting 8 (supplement) 57-75.pdf.L. 2001. Strategy Mapping in Public Sector Organizations: Why Do It? Jackson. 1996.R.C. and G. Jurnal Perpajakan Indonesia Vol. and Michael A. New Jersey:Prentice Hall. Adam. Frey. 1995. Lars P. ______. Principal Component Analysis. Hair. ____. RAND Journal of Economics. A paper prepared for The Internal Revenue Service Research Conference.A.. B. Erard. D. 4 no.asp?grID=412&d_ID=3271 Hite. 2004. Johnson. Back. 13 Maret 2004. B.

Compliance Risk Management: Managing and Improving Tax Compliance. Washington. Pakpahan. 2002. Reinganum.S. 2002. Joseph. and Louis L. Sally M. Center for Tax System Integrity. Krause. Organization for Economic and Coorporation Development. Wilde. “Trust Me.. Equilibrium Verification and Reporting Policies in a Model of Tax Compliance. Compliance Risk Management: Audit Case Selection Systems. 1987. Millack. Alan H.F. 1986. The Accounting Review 62 (2). Audit Program Planning and Management. Jin Kwon Hyun. 1453-1514. A. FL. 2001. David and Mark Rider. Department of Treasury. 323342. The Influence Of Ethical Attitudes On Taxpayer Com- 136 . Porcano.asp?grID=412&d_ID =3271 Modeo. Tax complexity: problem or opportunity? Public Finance Review 28 (5). 1998. Jakarta. Plumley. Oktober 2008 Jones. “The Interplay Between Norms And Enforcement In Tax Compliance”. http://www. Journal of Economic Psychology 9. 1998. 1-18. Tax Volume 1. Sanders and S. Lenderman.A. 5. Robert dan Toyomu Yuasa (editor).M. K. Income Tax Compliance in a Principal-Agent Framework. Ohio State Law Journal 64 (6).M. 2005. USA. Office of Tax Analysis. McGrawHill International Edition. _________. 1985. 2005.Jurnal Keuangan Publik Vol. K. _______. _________. Roark. International Economic Review 27 (3). Modeling judgements of taxpayer compliance. DC: U.. Menuju Sistem Dan Administrasi Perpajakan Berkelas Dunia: Studi Perpajakan Di Indonesia dengan Inspirasi Pengalaman Jepang.Practice Note: 123. Leandra. 2002 edition. 2000. Park. P. I’m The Taxman: The role of trust in nurturing compliance. 2002. The correlates of tax evasion.: 1-17. The Australian National University. No. Reckers. 1. S. Risk management-practice note. T.com/ documents. J.J. 47-67. Chang-Gyun. 2002.l. 395-414. Singapore. 2001.J. Journal of Public Economics 26.C. National Tax Association 95th Annual Conference on Taxation. “The Determinats of Tax Compliance by Experi-mental Data: A Case Of Korea”. Compliance Measurement . Joulfaian. d.revenueproject. Working paper. Murphy. 2004. and Ilho Yoo. Schepanski and W. Penerbit Kharisma. 739930. Orlando. “The Impact of The IRS On Voluntary Tax Compliance: Preliminary Empirical Results”. _________. 2003. Tax Evasion by small business. Principles of Taxation for Business and Investment Planning. Uecker.

Fort Worth. Research paper pada ‘2001 Symposium on Accounting Ethics’. Andserson. Ph. 8210.Analisis Risiko Ketidakpatuhan Wajib Pajak Sebagai Dasar Peningkatan Kepatuhan Wajib Pajak pliance. Robben. and B.J. Digibook Sdn Bhd... E. Zikmund. National Tax Journal 47 (4). -oOo- 137 . J. Aspects Of Tax Noncompliance: An Analysis Of Comments From 1997 Arkansas Tax Penalty Amnesty Participants.S. Tax Thoughts on Today’s Taxing Times. 1990. J. 1994. Trivedi. 1994.. Elffers and D. The Dryden Press. Decision frames. V. Delia L. Manly and D. Oktober 2003. and Betty R. Sommerfeld. opportunity.D. Journal of Economic Behavior and Organization 14 (3). Hessing. J.D research dissertation. Silva A. Uma. H. Jackson. 353-361. Philadelphia. Ritsema. Research Methods for Business: A Skill-Building Approach. Harcourt Brace College Publishers. Volume 1: An Agenda for Research. T.J.. “An Analysis of Tax Compliance For Mexican Case: Empirical Evidence”. Lynn. University of Chicago.. 2000.S. 6th ed. Roth. Shah Alam. Shehata. Concepts of Taxation 1994 edition. P. Selangor. Singh. Scholz and A. Impact of Personal and Situational Factors on Tax Compliance: An Experimental Analysis. Thomas.C. Factors associated with noncompliance: evidence from the Michigan Tax Amnesty program. Taxpayer Compliance.A.. Veerinderjeet. and tax evasion. H. Sour.T. 2001. Business Research Methods.G. 1994. Journal of American Taxation Association 19 (2). Witte. 3rd editin. M. Webbley. 1989. 825-836. W. Journal of Business Ethics. U. 2005. 2001. PA: University of Pennsylvania Press. Kennet R.W. Young. Sekaran. C. Ray M. John Willey & Sons. Madeo. M.

1.Jurnal Keuangan Publik Vol. Oktober 2008 138 . 5. No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful