CASE REPORT SESSION CIDERA KEPALA RINGAN

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Kepaniteraan Klinik Bagian Obstetri dan Ginekologi Di RSUD Panembahan Senopati Bantul

Diajukan Kepada Yth: dr. Gunawan Siswanta, Sp. B

Diajukan Oleh : Fradita Eka Sukardi 20060310138 SMF ILMU BEDAH PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL 2011

B ) .LEMBAR PENGESAHAN CASE REPORT SESSION CIDERA KEPALA RINGAN Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Kepaniteraan Klinik Bagian Obstetri dan Ginekologi Di RSUD Panembahan Senopati Bantul Disusun oleh: Fradita Eka Sukardi 20060310138 Telah dipresentasikan dan disetujui pada: Hari Tanggal : Senin : 2 Mei 2011 Mengetahui Dosen Pembimbing Klinik (dr. Gunawan S. Sp.

pupil isokor.10C : Dwi Setiawan : 7 Tahun : 7 April 2011 : 435975 . Pasien mengeluh perdarahan berasal dari hidung dan tidak berhenti-henti. Status Generalis Kepala : Konjunctiva tidak anemis. Nasal. Post kll gigi pasien tanggal 3. ANAMNESIS a. posisi jatuh tengkurap miring kekanan. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar limfonodi dan tiroid. GCS E4M6V5 b. Compos Mentis. IDENTITAS PASIEN Nama Usia Tanggal Nomor RM II. tidak pingsan. sklera ikterik -/Terdapat vulnus ekskoriasi di dahi kanan. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien baru datang dari IGD dengan keterangan CKR dan suspek fraktur os. PEMERIKSAAN FISIK a. III.PRESENTASI KASUS I. muntah (-). Nyeri ketika membuka mata dan mulut. Keadaan Umum Baik. Pasien post KLL. Keluhan Utama Pasien post KLL. udem di orbita kanan dan pipi kanan. b. Terdapat luka didaerah wajah. tangan dan kaki. mual (-). vulnus laseratum d bibir atas. Vital Sign Tekanan Darah Nadi Respirasi Suhu c. : 100/60 mmHg : 80x/m : 16x/m : 37. tertabrak motor saat berjalan.

: 12.6 ribu/ul Angka Trombosit : 459 ribu/ul Ro nasal: tak tampak fraktur nasal .Trorax: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen: Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi Genitalia Ekstremitas HB Angka Eritrosit Hematokrit Eosinofil Basofil Batang Segmen Limfosit Monosit CT BT DIAGNOSIS: CKR Terapi : Ivfd RL 10 tpm Paracetamol 3x1/2 tab Amoxicylin 3x1/2 tab : pengembangan paru simetris : ketinggalan gerak (-) : sonor (+) : pulmo vesikuler.83 ribu/ul : 38. cor reguler : bentuk perut menonjol. : peristaltik abdomen meningkat. akral hangat.5 IV. Lien tidak teraba : timpani (+) : laki-laki : lengkap. PEMERIKSAAN PENUNJANG Angka Leokosit : 20. simetris dan sikatrik (-). : Supel. Hepar.3 % :1% :0% :0% : 87 % :8% :4% :8 : 2.6 gr% : 4.

Bengkak pada mata dan pipi mulai berkurang. Object: Pemeriksaan Fisik a. Lien tidak teraba : timpani (+) Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen: Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi Genitalia Trorax: Inspeksi : 100/40 mmHg : 76x/m : 20x/m : 360C : laki-laki . Hepar. vulnus laseratum d bibir atas. Keadaan Umum Baik. muntah (-). Status Generalis Kepala : Konjunctiva tidak anemis.Piracetam 3x1/2 tab Rencana Ro OPG dan Kepala AP.lateral Follow up tgl 8 april 2011 Subject pasien membaik. mual (-). Jalan agak pincang karena sakit kakinya. pusing (-). Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar limfonodi dan tiroid. : Supel. Compos Mentis. : pengembangan paru simetris : ketinggalan gerak (-) : sonor (+) : pulmo vesikuler. udem di orbita kanan dan pipi kanan. simetris dan sikatrik (-). nafsu makan membaik. GCS E4M6V5 b. pupil isokor. Vital Sign Tekanan Darah Nadi Respirasi Suhu c. : peristaltik abdomen meningkat. cor reguler : bentuk perut menonjol. sklera ikterik -/Terdapat vulnus ekskoriasi di dahi kanan.

akral hangat. Compos Mentis. BAK (+). maxila dan mandibula intact Hasil OPG: tak tampak fraktur mandibula dan maxila. Object: Pemeriksaan Fisik a.30C . Tak tampak fraktur gigi. muntah (-). Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar limfonodi dan tiroid. mual (-). vulnus laseratum d bibir atas. BAB (+). pusing (-).Ekstremitas : lengkap. GCS E4M6V5 b. Assasment: CKR Terapi : Ivfd RL 10 tpm Paracetamol 3x1/2 tab Amoxicylin 3x1/2 tab Piracetam 3x1/2 tab Follow up tgl 9 april 2011 Subject pasien membaik. sklera ikterik -/Terdapat vulnus ekskoriasi di dahi kanan. nafsu makan membaik. Vital Sign Tekanan Darah Nadi Respirasi Suhu c. udem di orbita kanan dan pipi kanan. Keadaan Umum Baik. Status Generalis Kepala : Konjunctiva tidak anemis. Pemeriksaan Penunjang Hasil RO cranium: tak tampak fraktur tulang kepala. : pengembangan paru simetris : ketinggalan gerak (-) Palpasi Trorax: Inspeksi : 100/60 mmHg : 92x/m : 20x/m : 36. pupil isokor. Bengkak pada mata dan pipi mulai berkurang.

Perkusi Auskultasi Abdomen: Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi Genitalia Ekstremitas Assasment: CKR Terapi : Ivfd RL 10 tpm Paracetamol 3x1/2 tab Amoxicylin 3x1/2 tab Piracetam 3x1/2 tab Kloramfenicol salf mata : sonor (+) : pulmo vesikuler. cor reguler : bentuk perut menonjol. Lien tidak teraba : timpani (+) : laki-laki : lengkap. : peristaltik abdomen meningkat. Hepar. simetris dan sikatrik (-). . : Supel. akral hangat.

fungsi fisik. fungsi tingkah laku. Head injury (cedera kepala) : trauma yang mengenai otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstitinal dalam substansi otak disebabkan oleh kekuatan eksternal yang menimbulkan perubahan tingkat kesadaran dan perubahan kemampuan kognitif. Epidemiologi Head Injury(Trauma Kepala) Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian pada kelompok usia 1-40 tahun. 1.5 juta penduduk setahunnya mengalami cedera tersebut. Laki-laki mengalami cedera 2-3 kali lebih sering disbanding perempuan. Trauma pada kepala dapat menyebabkan fraktur pada tengkorak dan trauma jaringan lunak/otak atau kulit seperti kontusio/memar otak. Puncaknya pada usia 15-24 tahun. . dengan derajat yang bervariasi tergantung pada luas daerah trauma. tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala.TINJAUAN PUSTAKA Definisi Head Injury(Trauma Kepala) Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala. edema otak. dan emosional. perdarahan atau laserasi.

Fraktur kepala dapat melukai jaringan pembuluh darah dan saraf-saraf dari otak.Penyebab Head Injury(Cidera Kepala) Cedera kepala dapat disebabkan oleh benturan karena kecelakaan lalu lintas. • Edema serebral Edema terjadi akibat beberapa daerah dari otak tidak adekuat perfusi jaringannya. sehingga akan menyebabkan peningkatan tekanan intracranial dan akhirnya bisa mengakibatkan herniasi otak dan kematian. . Keduanya dapat meningkatkan tekanan intracranial. terjatuh. Respon terhadap cedera • Kerusakan jaringan Kontusio akibat benturan dapat mencederai sel-sel saraf dan serabut-serabut saraf yang dapat menyebabkan perdarahan kecil yang akan merusak jaringan yang berdekatan.tidak adekuatnya suplai oksigen dan glukosa lebih lanjut dapat mengakibatkan peningkatan edema dari serebral. dimana dapat membuka suatu jalan untuk terjadinya infeksi intrakranial. • Perdarahan dan hematoma Kerusakan pada jaringan dapat menyebabkan perdarahan dan hematoma. kecelakaan industry. dll. kecelakaan olahraga. serta kerusakan terhadap saraf cranial dan struktur lainnya. sehingga timbul hiperkapnia yang mengakibatkan asidosis local dan vasodilatasi pembuluh darah. • Respon lain Respon lain yang dapat terjadi adalah iskemik. Tipe Cedera Pada Head Injury (Trauma Kepala) • Fraktur Tengkorak Pukulan pada tengkorak menyebabkan fraktur jika toleransi elastic dari tulang terlampaui. nekrosis jaringan otak. infark. merobek durameter yang mengakibatkan perembesan cairan serebrospinal.

3. Coumpound Fraktur : Fraktur tengkorak yang meliputi laserasi dari kulit kepala. Fraktur dasar Tengkorak : Fraktur yang terjadi pada dasar tengkorak. Comminuted Fraktur : Patah tulang tengkorak dengan multipel fragmen dengan fraktur yang multi linear. . Fraktur dapat dalam bentuk salah satu linear. khususnya pada fossa anterior dan tengah. 5. 2. membran mukosa. 4. Sering menyebabkan rhinorrhea atau otorrhea. Fraktur Linear : Retak biasa pada hubungan tulang dan tidak merubah hubungan dari kedua fragmen. Depressed Fraktur : Fragmen tulang melekuk kedalam. dan telinga atau membran timpani. mata. comminuted atau depressed. sinus paranasal.Adapun macam-macam dari fraktur tengkorak adalah : 1.

4. fasialis. dan auditorius. cabang pertama dan kedua dari saraf trigeminalis. Hematoma ini disebabkan oleh kerusakan vena penghubung (Bridging veins) yang berjalan dari permukaan otak sinus dura. Komosio Serebri (geger otak) : Gangguan fungsi neurologik ringan tanpa adanya kerusakan struktur otak. • Cedera saraf kranialis Saraf cranial yang rentan terhadap cedera dengan fraktur tengkoran adalah saraf olfaktorius. nyeri kepala. Laserasio serebri : Gangguan fungsi neurologik disertai kerusakan otak yang berat dengan fraktur tengkorak terbuka.• Cidera Serebral Cidera serebral meliputi: 1. muntah. 3. terjadi hilangnya kesadaran kurang dari 10 menit atau tanpa disertai amnesia. Hematoma Subdural : Kumpulan darah antara permukaan dalam durameter dan araknoidmeter.biasanya berkaitan dengan fraktur tengkorak. Biasanya terjadi akibat cedera langsung dan sering didapat pada lobus frontal atau temporal. okulomotorius. muntal. 2. Hematoma ini disebabkan oleh karena ruptur sebuah arteri meningen. troklearis. Hematoma Subarachnoid : Hematoma yang terjadi akibat trauma. Hematoma Intracerebral : Perdarahan yang menuju ke jaringan serebral. 7. 6. Contohnya: . Hematoma Epidural : Perdarahan yang menuju ke ruang antar tengkorak dan durameter akibat laserasi dari arteri meningea media. Kontusio Serebri (memar) : Benturan menyebabkan perubahan dari struktur dari permukaan otak yang mengakibatkan pendarahan dan kematian jaringan dengan atau tanpa edema. Biasanya dapat kembali dalam bentuk normal. Hilangnya kesadaran lebih dari 10 menit. 5. optikus. Massa otak terkelupas keluar dari rongga kranial.

vertigo. hilang kesadaran lebih dari 24 jam. tidak terdapat fraktur tengkorak. kontusio atau hematoma. • Berdasarkan berat ringannya Berdasarkan berat ringannya cidera kepala terbagi 3 yaitu: 1. hematoma. disorientasi ringan. Hilangnya daya pengecap (hilangnya persepsi beraroma) timbul akibat pergeseran otak dan robeknya filament saraf olfaktorius 2. Cedera kepala sedang : Jika nilai GCS antara 9-12.1. Cedera saraf kranialis kedelapan denagn fraktur os petrosa menyebabkan hilangnya pendengaran. 3. biasanya disertai kontusio. dan nistagmus segera setelah cedera. dapat terjadi kehilangan kesadaran kurang dari 30 menit. dapat disertai fraktur tengkorak. laserasi atau adanya hematoma dan edema serebral. Cedera kepala berat : Jika GCS antara 3-8. hilang kesadaran antara 30 menit sampai 24 jam. a) Tidak kehilangan kesadaran b) Satu kali atau tidak ada muntah c) Stabil dan sadar d) Dapat mengalami luka lecet atau laserasi di kulit kepala e) Pemeriksaan lainnya normal 2. Mungkin mengantuk c) Dua atau lebih episode muntah d) Sakit kepala persisten e) Kejang singkat (<2menit) satu kali segera setelah trauma f) Mungkin mengalami luka lecet. Cedera kepala ringan : Jika GCS (Skala Koma Glasgow) antara 15-13. . atau laserasi di kulit kepala g) Pemeriksaan lainnya normal 3. a) Kehilangan kesadaran singkat saat kejadian b) Saat ini sadar atau berespon terhadap suara. Cedera saraf okulomotorius menyebabkan bola mata terdorong keluar denagn hilangnya gerakan adduksi dan gerakan ventrikal dan dilatasi pupil terfiksasi.

Herniasi unkus: dilatasi pupil ipsilateral akibat kompresi nervus okulomotor e. hilang kesadaran. peningkatan TIK (Tekanan Intrakranial). hilang ingatan sementara. hilang ingatan. • Komosio serebri : Muntah tanpa nausea. Hematoma subdural kronik : Gangguan mental. mual. lesu. ketidakmampuan untuk berkonsentrasi. gangguan penglihatan. sakit kepala. berkeringat banyak. Herniasi sentral: kompresi batang otak menyebabkan bradikardi dan hipertensi f) Trauma kepala yang berpenetrasi g) Kejang (selain Kejang singkat (<2menit) satu kali segera setelah trauma) Manifestasi Klinis Head Injury( Trauma Kepala) Manifestasi klinis head Injury meliputi: • Fraktur tengkorak : Keluarnya cairan serebrospinalis atau cairan lain dari hidung (rhinorrhoe) dan telinga (otorrhoe). • Hematoma subdural akut/subakut : Sakit kepala. sulit bebicara.a) Kehilangan kesadaran dalam waktu lama b) Status kesadaran menurun – responsif hanya terhadap nyeri atau tidak responsif c) Terdapat kebocoran LCS dari hidung atau telinga d)Tanda-tanda neurologis lokal (pupil yang tidak sana. otot wajah melemah. kelemahan sesisi) e) Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial: e. pusing. nyeri pada lokasi cidera. sakit kepala. dan kelumpuhan saraf kranial. demam di atas 370C. lemah. gangguan penglihatan. kerusakan saraf kranial. . tekanan darah meningkat. gangguan penglihatan. sakit kepala hilaang timbul. sakit kepala. pernafasan menurun dengan pola yang tidak teratur. lemah/paralisis pada salah satu sisi. denyut nadi menurun. • Hematoma epidural : Hilang kesadaran.2. rhinorrhoe. perubahan pola tidur.1. dan perdarahan dibelakang membran timfani. aktifitas kejang. mudah marah. • Kontusio serebri : Perubahan tingkat kesadaran.

Contra-coup 5. perubahan tekanan vaskuler dan edema paru. Compression Kekacauan terkait cedera kepala Pada Head Injury Kekacauan terkait cedera kepala Pada Head Injury Meliputi: 1. misalnya adanya fraktur kepala. 2007 yaitu 1. Contusion 4. Direct distruption in open head injury 3. misalnya pada orang yang diam kemudian dipukul atau telempar batu. • Deformitas Perubahan atau kerusakan pada bagian tubuh yang terjadi akibat trauma. ketegangan atau pemotongan pada jaringan otak. Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis mempengaruhi penurunan kontraktilitas ventrikel. Acceleration of the barain 2. • Deselerasi Jika kepala bergerak membentur benda yang diam.Mekanisme Cedera Pada Head Injury Mekanisme Cedera Pada Head Injury meliputi: • Akselerasi Jika benda bergerak membentur kepala yang diam. Faktor kardiovaskuler • Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung mencakup aktivitas atipikal miokardial. Pada saat terjadinya deselerasi ada kemungkinan terjadi rotasi kepala sehingga dapat menambah kerusakan. misalnya pada saat kepala terbentur. Hal ini menyebabkan penurunan curah jantung dan • . Adapun mekanisme cidera kepala primer menurut Williamson dan Waxman. Mekanisme kerusakan kepala dapat mengakibatkan kerusakan pada daerah dekat benturan (Coup) dan kerusakan pada daerah yang berlawanan dengan benturan (Contra coup). kompresi.

Ginjal mengambil peran dalam proses hemodinamik ginjal untuk mengatasi retensi natrium. akan terjadi alkalosis yang menyebabkan vasokonstriksi (arteri kecil) dan penurunan CBF (cerebral blood fluid). hal ini mempengaruhi hubungan natrium pada serum dan adanya retensi natrium. 3. 2. Faktor Respiratori • Adanya edema paru pada trauma kepala dan vasokonstriksi paru atau hipertensi paru menyebabkan hiperpnoe dan bronkokonstriksi Konsentrasi oksigen dan karbon dioksida mempengaruhi aliran darah. karena adanya cedera tubuh maka diperlukan energi untuk menangani perubahan seluruh sistem. Pada pasca hypotermia hilangnya nitrogen yang berlebihan sama dengan respon metabolik terhadap cedera. Bila PO2 rendah. Pengaruh dari adanya peningkatan tekanan atrium kiri adalah terjadinya edema paru.meningkatkan tekanan atrium kiri. maka akan terjadi sekresi kortisol. demikian pula respon hypothalamus terhadap cedera. aliran darah bertambah karena terjadi vasodilatasi. Penurunan PCO2. Kemudian natrium keluar bersama urine. hormon pertumbuhan dan produksi katekolamin dan prolaktin sehingga terjadi asidosis metabolik karena adanya metabolisme anaerob glukosa • . • • Edema otak ini menyebabkan kematian otak (iskemik) dan tingginya tekanan intra kranial (TIK) yang dapat menyebabkan herniasi dan penekanan batang otak atau medulla oblongata. tetapi makanan yang masuk kurang sehingga terjadi penghancuran protein otot sebagai sumber nitrogen utama. yang menyebabkan pelepasan ACTH dan sekresi aldosteron. Faktor metabolisme • Pada trauma kepala terjadi perubahan metabolisme seperti trauma tubuh lainnya yaitu kecenderungan retensi natrium dan air dan hilangnya sejumlah nitrogen • Retensi natrium juga disebabkan karena adanya stimulus terhadap hipotalamus. Akibatnya tubuh berkompensasi dengan meningkatkan tekanan sistolik.

Riwayat kehilangan kesadaran (lebih dari 15 menit). Hyperacidium terjadi karena adanya peningkatan pengeluaran katekolamin dalam menangani stres yang mempengaruhi produksi asam lambung. Penatalaksaan  Tergantung dengan tingkat keparahannya  Indikasi rawat: Amnesia posttraumatika jelas (lebih dari 1 jam).4. Intoksikasi alkohol atau obat. . Tidak punya orang serumah yang dapat dipertanggungjawabkan. • Hypothalamus merangsang anterior hypofise untuk mengeluarkan steroid adrenal. Penurunan tingkat kesadaran. Hal ini akan merangsang lambung menjadi hiperasiditas. trauma kepala pada pasien adalah suatu pengalaman yang menakutkan. CT scan abnormal. 5. Kebocoran CSS. Faktor psikologis • Selain dampak masalah yang mempengaruhi fisik pasien. Fraktura tengkorak.. otorrhea atau rhinorrhe. Gejala sisa yang timbul pascatrauma akan mempengaruhi psikis pasien. Demikian pula pada trauma berat yang menyebabkan penurunan kesadaran dan penurunan fungsi neurologis akan mempengaruhi psikososial pasien dan keluarga. Cedera penyerta yang jelas. Faktor gastrointestinal • Trauma kepala juga mempengaruhi sistem gastrointestinal. Setelah trauma kepala (3 hari) terdapat respon tubuh dengan merangsang aktivitas hipotalamus dan stimulus vagal. Nyeri kepala sedang hingga berat. Hal ini merupakan kompensasi tubuh dalam mengeluarkan kortikosteroid dalam menangani oedema cerebral.

RCN and Waxman. 2005. Jakarta. . 2006. An Aid to Clinical Surgery. EGC. R. W. SCOTT. Edisi Revisi. De jong.DAFTAR PUSTAKA Sjamsuhidajat. Churgchill Livingstone. BP. Buku Ajar Ilmu bedah. Williamson.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful