Thesis; Perubahan Konstruksi Identitas Swiss Terkait Dengan Keikutsertaan Dalam Schengen Treaty Tahun 2005

PERUBAHAN KONSTRUKSI IDENTITAS SWISS TERKAIT DENGAN KEIKUTSERTAAN DALAM SCHENGEN TREATY TAHUN 2005

PURWOKO ADHI NUGROHO (070710431)

PROGRAM STUDI S-1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA SEMESTER GENAP 2010/2011

PERUBAHAN KONSTRUKSI IDENTITAS SWISS TERKAIT DENGAN KEIKUTSERTAAN DALAM SCHENGEN TREATY TAHUN 2005

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi S-1 pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga

Disusun oleh: Purwoko Adhi Nugroho 070710431

Pembimbing Anne Francoise Guttinger, DEA

PROGRAM STUDI S-1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA SEMESTER GENAP 2010/2011

i

HALAMAN PERNYATAAN TIDAK MELAKUKAN PLAGIAT
Skripsi berjudul

PERUBAHAN KONSTRUKSI IDENTITAS SWISS TERKAIT DENGAN KEIKUTSERTAAN DALAM SCHENGEN TREATY TAHUN 2005
Bagian atau keseluruhan isi Skripsi ini tidak pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademis pada bidang studi dan/atau universitas lain dan tidak pernah dipublikasikan/ ditulis oleh individu selain penyusun kecuali bila dituliskan dengan format kutipan dalam isi Skripsi.

Apabila ditemukan bukti bahwa pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan yang berlaku di Universitas Airlangga.

Surabaya, 24 Juni 2011

Purwoko Adhi Nugroho

ii

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING

Skripsi berjudul

PERUBAHAN KONSTRUKSI IDENTITAS SWISS TERKAIT DENGAN KEIKUTSERTAAN DALAM SCHENGEN TREATY TAHUN 2005

Skripsi ini telah memenuhi persyaratan dan disetujui untuk diujikan di depan Komisi Penguji

Surabaya, 24 Juni 2011

Dosen Pembimbing

Anne Francoise Guttinger, DEA

Mengetahui, Ketua Program Studi S-1 Hubungan Internasional

Dra. BLS Wahyu Wardhani, MA, Ph.D NIP. 19640331 198810 2 001

iii

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi dengan judul “PERUBAHAN KONSTRUKSI IDENTITAS SWISS TERKAIT DENGAN KEIKUTSERTAAN DALAM SCHENGEN TREATY TAHUN 2005” ini telah dipertahankan di depan Komisi Penguji pada 4 Juli 2011, pukul 13.00 WIB di Ruang Cakra Gedung C Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga

Komisi Penguji Ketua,

Drs. I. Basis Susilo, MA. NIP. 19540808 198103 1 007

Anggota,

Anggota,

Dra. BLS Wahyu Wardhani, MA, Ph.D NIP. 19640331 198810 2 001

Dra. Lilik Salamah, M.Si NIP. 19560507 198601 2 000

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya yang sederhana ini, aku persembahankan untuk Papa, Mama, Bram, dan setiap mereka yang sangat berarti dalam hidupku, untuk setiap doa dan dukungan dalam langkahku Terima Kasih

Surabaya, 24 Juni 2011

Purwoko Adhi Nugroho

v

“I still live, I still think: I still have to live, for I still have to think.” “There are no beautiful surfaces without a terrible depth.” Friedrich Nietzsche

“Writing is a way of being, just don’t let others steal the pleasure.” Hizkia Yosie Polimpung

vi

KATA PENGANTAR

Kajian mengenai identitas, telah menjadi suatu daya tarik tersendiri bagi penulis. Ketertarikan penulis akan kajian-kajian identitas diawali dengan sebuah keisengan penulis untuk membaca sebuah buku yang berjudul Batman and Philosophy. Salah satu chapter dalam buku tesebut yang berjudul ”Could Batman Have Been the Joker?” karya Sam Cowling dan Chris Ragg, mengungkapkan mengapa kemudian Bruce Wayne memilih Batman sebagai identitasnya, bukankah Bruce juga dapat memilih Joker sebagai identitasnya. Identitas seorang Batman menjadi baik, karena terdapat identitas lain, yaitu Joker, yang memegang signifikansi peranan sebagai pihak yang jahat. Dalam hal ini, terdapat pertanyaan bagaimana identitas dapat terbentuk dan kemudian bagaimana suatu identitas dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku suatu aktor. Dalam identitas, selalu terdapat proses individuasi yang akan memisahkan “self” dengan “other”, yang kemudian akan berpengaruh pada signifikansi peranan dari pemangku identitas tersebut. Konteks identitas, tidak hanya berlaku dalam individu dan peranan individu dalam lingkup sosial tertentu saja, melainkan juga berlaku dalam suatu kelompok sosial termasuk signifikansi suatu negara dalam sistem internasional. Ketertarikan penulis terhadap kajian-kajian identitas membuat penulis semakin mendalami kajian tersebut, termasuk dalam terminologi kajian keilmuan Hubungan Internasional. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan utama mengapa penulis memilih konstruksi identitas sebagai tema dalam penulisan skripsi yang berjudul ”Perubahan Konstruksi Identitas Swiss Terkait dengan Keikutsertaan dalam Schengen Treaty tahun 2005”. Dalam skripsi ini, penulis berusaha untuk mengkaji bagaimana Swiss mengkonstruksikan identitas nasionalnya dan kemudian bagaimana identitas nasional tersebut dapat berubah sebagai pengaruh dari keikutsertaan Swiss dalam Schengen Treaty Uni Eropa. Penulis, di dalam mengkaji konstruksi identitas nasional Swiss, menggunakan proposisi identitas konstruktivisme Anne Clunan terkait dengan proses konstruksi identitas nasional. Dengan terselesaikannya tulisan skripsi ini, penulis mengucapkan

vii

rasa terima kasih. Pertama, kepada Tuhan, Sang Alfa hingga Omega, dalam ketiga identitas trinitasnya, Allah Sang Bapa, Yesus Kristus Sang Putra, dan Roh Kudus. Terima kasih untuk penyertaan dan kasih Tuhan yang sungguh luar biasa. Terima kasih. Kedua, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang sangat besar kepada papa dan mama, yang selalu mendukung dan mengingatkan penulis, dalam setiap langkah yang penulis ambil, termasuk ketika penulis memutuskan untuk mengambil Program Studi S-1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga. Terima kasih untuk adek, yang juga selalu ada. Tidak lupa, terima kasih untuk Budhe Sasmita dan Mas Koko’, yang juga selalu memberikan dukungan. Terima kasih. Ketiga, terima kasih kepada Ibu Baiq Lekar Sinayang Wahyu Wardhani, yang telah menjadi dosen wali, yang dengan sabar mengarahkan penulis selama perkuliahan di HI Unair. Terima kasih untuk Ibu Anne Francoise Guttinger, dalam setiap pendampingan yang diberikan selama penulis

menyelesaikan skripsi ini, dan terima kasih untuk setiap pencerahan yang diberikan. Terima kasih kepada setiap dosen, Bapak Djoko Sulistyo, Bapak Basis Susilo, Bapak Vinsensio Dugis, Ibu Sartika Soesilowati, Bapak Ajar Triharso, Bapak Wahyudi Purnomo, Ibu Lilik Salamah, Bapak Muttaqien, Mas Joko Susanto, Mas Yunus, Mas Syafril Mubah, Mas Wahyu, Ibu Irma, Mbak Citra, Mbak Irfa, dan Mbak Olin, yang selama empat tahun terakhir memberikan ilmu dalam setiap perkuliahan maupun dalam diskusi. Terima kasih. Keempat, sahabat-sahabat angkatan 2007 penulis, Rommel Utungga Pasopati, Pradipto Bhagaskoro, Imania Aira Karina, Septian Rizky, Syariffudin, Bintang Indra, Yoga Bisma, Hirshi Anadza, Robin Riwanda, Dyon Hardianto, Endrisari Widya Murani, Yudhanti Adhityarini, Amanda Dianova, Nadifatul Quriah, dan Athius Solikah. Sungguh empat tahun sangatlah kurang. Juga untuk teman-teman 2007 lainnya, Terima kasih. Kelima, terima kasih kepada setiap teman HI, dari setiap angkatan. Terima kasih. Keenam, terima kasih untuk setiap kamerad Forum Komunikasi

viii

Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (FKMHII), Sapta Dwi, Gilang Rana Lapino, Natya Shina Nandana, Rengga Dina, Geviana Payouw, Lusia Novitasari, Dipa Raditya, Adi Mulia Pradana, Gitra Arumsari, Jessica Angkasa, Nayana Dharsono, Shady Raytama, Hardya Pranadipa, Benni Yusriza, Yetty Grace Siagian, Aziz Mozart, Frida Rahmawati, Alm. Saut Yosua Silalahi (Albert), dan setiap kamerad FKMHII lainnya, terima kasih. Ketujuh dan yang terakhir, untuk Sang Amphitrite, Sang Biru. Terima kasih untuk keimajineran imaji yang memang meskipun tidak akan pernah menjadi nyata, tetapi aku tetap suka. Terima kasih.

ix

Daftar Isi

Halaman Judul.................................................................................................. Halaman Pernyataan Tidak Plagiat............................................................... . Halaman Persetujuan Dosen Pembimbing.................................................... . Halaman Pengesahan ........................................................................................ Halaman Persembahan..................................................................................... Halaman Motto ................................................................................................. Kata Pengantar ................................................................................................. Daftar Isi ............................................................................................................ Daftar Tabel, Gambar dan Diagram............................................................... Abstrak ............................................................................................................... Bab 1 Pendahuluan ...................................................................................... 1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................ 1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................... 1.4 Kerangka Teoritis .......................................................................... 1.4.1 Identitas dalam Konstruktivisme........................................ 1.4.2 Rational Choice Theory (RCT) .......................................... 1.4.3 Politic Collective Action ..................................................... 1.4.4 Sintesa Teori ....................................................................... I.5 Hipotesis ........................................................................................ I.6 Metodologi Penelitian .................................................................... I.6.1 Definisi Konseptual dan Operasional ................................. I.6.1.1. Identitas ................................................................ I.6.1.2. Prinsip Netralitas .................................................. I.6.2 Tipe Penelitian .................................................................... I.6.3 Ruang Lingkup Penelitian .................................................. I.6.4 Teknik Pengumpulan Data ................................................. I.6.5 Teknik Analisis Data ......................................................... I.6.6 Sistematika Penelitian .........................................................

i ii iii iv v vi vii x xii xiii 1 1 6 7 7 7 11 13 15 18 19 19 19 20 21 21 21 22 22

Bab 2

Aspek Historis dan Dinamika Konstruksi Identitas Swiss............ 24 2.1 Aspek Historis Swiss .................................................................... 24 2.2 Fase Lama Tatanan Historis Swiss dan Fase Transisi .................. 26 2.2.1 Pembentukan Awal Negara Konfederasi Swiss ................. 26 2.2.2 Asal Mula Netralitas Swiss ............................................... 27 2.2.3 Kekalahan Negara Konfederasi Swiss dan Implementasi Netralitas ............................................................................ 29 2.2.4 Fase Transisi (1798-1847) ................................................ 30 2.2.5 Netralitas sebagai Identitas Nasional dalam Rentang Waktu 1515-1847 .......................................................................... 32 2.3 Fase Baru Tatanan Historis Swiss ................................................. 36

x

2.3.1 Dinamika Netralitas Swiss dalam Rentang 1848-1945 ...... 2.3.2 Dinamika Netralitas Swiss paska Era Perang (1945kontemporer) ...................................................................... 2.3.2.1. Dinamika Netralitas Swiss dalam Dinamika Kehidupan Sosial ................................................. 2.3.2.2. Dinamika Netralitas Swiss dalam Integrasi Eropa dan Internasional .................................................. Bab 3

36 40 41 44

Sistem Pemerintahan dan Politik Swiss: Federalisme, Direct Democracy, dan Referendum sebagai Proses Pembentukan Kebijakan Luar Negeri Swiss .......................................................... 48 3.1 Sistem Federalisme ....................................................................... 49 3.1.1. Interpretasi dan Implemetasi Federalisme Swiss .............. 49 3.1.1.1 Communes .............................................................. 49 3.1.1.2 Kanton .................................................................... 50 3.1.1.3 Konfederasi ............................................................ 51 3.1.1.3.1 Parlemen (Legislatif) ............................... 52 3.1.1.3.1 Pemerintah (Eksekutif)............................ 53 3.1.1.4 Pola Relasional antar Unit Sosial Politik Swiss dalam Federalisme ............................................................ 53 3.2 Direct Democracy (Demokrasi Langsung) ................................... 54 3.3 Referendum sebagai Proses Pembentukan Kebijakan Luar Negeri 59 3.3.1. Impementasi Referendum sebagai Proses Pembentukan Kebijakan Luar Negeri: Penolakan Referendum Integrasi ke dalam EEA ....................... 64 Analisa Perubahan Konstruksi Identitas Swiss ............................. 4.1 Netralitas sebagai National Self-Image dari Aspirasi Historis Swiss ................................................................................ 4.2 Tes Historis terhadap National Self-Image Netralitas Swiss ........ 4.3 Tes Efektivitas Diri terhadap National Self-Image Netralitas Swiss .................................................................................. 4.4 Dampak Perubahan Konstruksi Identitas Swiss ........................... 68 69 69 77 84

Bab 4

Bab 5

Kesimpulan ........................................................................................ 89

Daftar Pustaka................................................................................................... 92

xi

DAFTAR DIAGRAM DAN TABEL DIAGRAM Diagram 1.1 Alur Kausalitas Identitas ................................................................ 8 Diagram 3.1 Proses Pembentukan Kebijakan Luar Negeri ................................. 64 TABEL Tabel 2.1 Referendum yang terkait dengan Uni Eropa ....................................... Tabel 3.1 Skema Konseptual: Pemilihan Institusional Isu Direct Democracy dalam Level Konfederasi .................................................................... Tabel 3.2 Nilai Penting Direct Democracy ......................................................... Tabel 3.3 Kebanggaan terhadap Direct Democracy ........................................... Tabel 4.1 Hasil Referendum Bilateral Agreements I pada 21 Mei 2000 ............ Tabel 4.2 Pandangan Rakyat Swiss terhadap Uni Eropa .................................... Tabel 4.3 Integrasi ke dalam Uni Eropa.............................................................. Tabel 4.4 Nilai Penting Netralitas ....................................................................... Tabel 4.5 Kebanggaan terhadap Netralitas ......................................................... Tabel 4.6 Urgensi Perubahan Netralitas.............................................................. Tabel 4.7 Arah Perubahan Netralitas .................................................................. Tabel 4.8 Hasil Referendum EEA pada 6 Desember 1992 ................................. Tabel 4.9 Hasil Referendum Que le Peuple Décide! pada 8 Juni 1997 .............. Tabel 4.10 Hasil Referendum Oui à l’Europe pada 4 Maret 2001 ..................... Tabel 4.11 Hasil Referendum Schengen Treaty dan Dublin Convention pada 5 Juni 2005 ............................................................................................ Tabel 4.12 Populasi Warga Negara Asing yang Menetap di Swiss Berdasarkan Nasionalitas ........................................................................................ Tabel 4.13 Naturalisasi Swiss (1984-2010) ........................................................ Tabel 4.14 GDP dari Pendekatan Pengeluaran ................................................... Tabel 4.15 Perdagangan Swiss dengan EU-27 ...................................................

45 58 59 59 73 74 74 75 75 76 76 79 80 80 83 85 86 87 88

xii

Abstrak Swiss, merupakan sebuah negara berdaulat yang terletak dalam kawasan Eropa. Sebagai salah satu negara Eropa, Swiss memiliki karakteristik yang sama dengan mayoritas negara Eropa Barat baik secara geografis, kultural, bahasa, politik, dan keikutsertaan perekonomian Swiss dalam single market. Akan tetapi, di sisi lain, identitas nasional Swiss, yaitu prinsip netralitas, mengakibatkan Swiss berbeda apabila dibandingkan dengan negara Eropa Barat pada umumnya. Netralitas Swiss, merupakan suatu konstruksi identitas nasional Swiss dalam kehidupan bernegara, yang kemudian terimplementasikan ke dalam setiap kebijakan luar negeri Swiss. Sehingga kemudian berpengaruh ke dalam setiap pola aksi, reaksi, dan interaksi Swiss dalam konstelasi sistem dunia internasional. Netralitas Swiss, merupakan sebuah prinsip yang sangat kompleks, yang terkonstruksi dengan adanya pengaruh kanton, opini publik, sistem federal, dan direct democracy. Hubungan kausalitas antara identitas nasional Swiss dengan referendum Schengen Treaty pada tahun 2005, menjadi fokus utama dalam penelitian eksplanatif ini. Referendum tersebut merupakan momentum terjadinya perubahan dalam konstruksi identitas nasional Swiss. Perubahan yang terjadi, merupakan suatu proses konstruksi identitas yang melibatkan tidak hanya pemerintah Negara Konfederasi Swiss, tetapi juga rakyat Swiss dan kanton. Penelitian ini, didesain dalam aspek historis, deskripsi terhadap sistem pemerintahan Swiss, dan analisa terhadap perubahan konstruksi identitas nasional Swiss terkait dengan referendum Schengen Treaty 2005 dengan menggunakan sintesa teori, yang terdiri dari identitas konstruktivisme, rational choice theory, dan politic collective action. Kata Kunci: identitas konstruktivisme, identitas nasional, netralitas, referendum, politic collective action, rational choice theory, dan Schengen Treaty.

xiii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Swiss, merupakan negara berdaulat dalam kawasan Eropa, dengan total luas wilayah yang kecil, hanya 41.293 km2, di Eropa bagian tengah. 1 Swiss merupakan negara berbentuk konfederasi, yaitu suatu bentuk negara yang terdiri dari negara-negara berdaulat dengan konstitusi masing-masing dan bersatu dalam ikatan suatu perjanjian sebagai satu entitas negara. 2 Konfederasi Swiss terbentuk atas 26 negara bagian yang disebut sebagai kanton (canton) dengan perbedaan demografi, budaya, dan bahasa, hal ini berimplikasi pada pembentukan karakteristik Swiss sebagai negara multilingual dan multikultural. Secara garis besar, kanton Swiss terbagi ke dalam empat basis kultural, yaitu Jerman, Perancis, Italia, dan Romans, yang berpengaruh dalam keempat bahasa mayoritas yang dipergunakan yaitu Jerman 63,9%, Perancis 19,5%, Italia 6,6%, dan RhetoRomans 0,4%. 3 Basis kultural kanton, tidak hanya berpengaruh dalam pembagian secara linguistik, sosial, dan kultural tetapi juga politis. Kanton yang berbahasa Perancis dan daerah urban lebih pro terhadap Eropa daripada kanton yang berbahasa Jerman dan daerah pedesaan. 4 Hal ini dikarenakan perbedaan pandangan yang sangat dipengaruhi oleh faktor historis, dimana kanton berbahasa

1

Leo Schelbert, Historical Dictionary of Switzerland (Maryland: The Scarecrow Press, Inc, 2007), hal. xxxix. 2 Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Jakarta: PT. Gramedia, 1981), hal. 139. 3 Schelbert, Op.Cit., hal. li. 4 Clive H Church, “Introduction,” dalam Clive H Church, Switzerland and the European Union, a Close, Contradictory and Misunderstood Relationship (New York: Routledge, 2007), hal. 2.

1

Perancis lebih liberal dan moderat, sementara kanton berbahasa Jerman sangat konservatif. Mengacu pada proposisi Alexander Wendt, aktor dalam dunia internasional membutuhkan identitas yang stabil, karena identitas akan menentukan posisi, signifikansi peran, pengertian, dan ekspetansi dari aktor di dalam struktur sistem dunia internasional. 5 Oleh karena itu, aktor (negara), termasuk Swiss, diharuskan untuk memiliki identitas nasional dalam menentukan bagaimana interaksi Swiss dalam sistem. Swiss, sebagai negara berdaulat, memiliki karakteristik yang anomali, 6 pada satu sisi hampir sama dengan mayoritas negara Eropa Barat, baik secara kultural, geografis, bahasa, politik, dan termasuk keikutsertaan Swiss dalam single market. Pada sisi lain, Swiss memiliki konstruksi identitas nasional sebagai negara yang netral, dimana identitas ini berbeda dengan negara Eropa pada umumnya. Dengan identitas tersebut Swiss mendefinisikan dan memberikan batasan yang jelas antara Swiss sebagai sebuah entitas negara berdaulat dengan wilayah Eropa, dalam hal ini Swiss tidak merasa sebagai bagian dari satu Eropa. Identitas nasional Swiss tersebut, berdampak pada terpilihnya Swiss sebagai rumah untuk organisasi internasional seperti, International Red Cross, World Trade Organizations (WTO), International Olympic Community, World Economic Forum, dan lainnya. 7 Swiss bukan merupakan satu-satunya negara yang mengusung prinsip

Maja Zehfuss, “Constructivism and Identity,” dalam Stefano Guzzini dan Anna Leander, Constructivism and International Relations: Alexander Wendt and His Critics (New York: Routledge, 2006), hal. 94. 6 Clive H Church, Op.Cit., hal. 1. 7 “Switzerland,“ dalam http://news.bbc.co.uk/2/hi/europe/country_profiles/1035212.stm., diakses tanggal 01 Januari 2010.

5

2

netralitas sebagai identitas nasional. Akan tetapi, netralitas Swiss memiliki akar yang jauh lebih mendalam daripada negara-negara netral Eropa lain, yaitu Swedia, Finlandia, dan Austria, karena netralitas Swiss tidak hanya dalam level pemerintahan dan sebagai implementasi kebijakan negara, tetapi juga telah menjadi karakteristik Swiss secara holistik dalam setiap bagian struktur sosial Swiss, yang terbagi-bagi ke dalam kanton dan bahkan dalam setiap individu. Hal ini berpengaruh ke dalam setiap pola aksi, reaksi, dan interaksi Swiss dalam konstelasi sistem dunia internasional. Konsepsi atas konstruksi identitas nasional prinsip netralitas Swiss terbentuk karena pernyataan St. Niklaus von Flüe, 8 “Do not meddle in foreign disputes”, 9 pada tahun 1481. Pernyataan tersebut berarti untuk tidak terlibat dalam perselisihan luar negeri, yang menjadi dasar sikap netral Swiss. Netralitas Swiss diakui pertama kali dalam dunia internasional pada tahun 1815, dengan pendeklarasian posisi dan identitasnya sebagai sebuah negara berdaulat yang netral. 10 Implementasi awal prinsip netralitas dalam kebijakan luar negeri Swiss terkesan bahwa Swiss merupakan sebuah negara yang skeptis dan isolasionis, dimana Swiss menutup diri dari segala interaksi dengan dunia luar yang diakibatkan karena adanya xenophobia 11 dalam karakteristik netralitas

Merupakan seorang pertapa (hermit) Swiss, yang terkenal dengan sebutan Bruder Klaus. Dikenal dan diakui sebagai penasehat dalam keagamaan dan spiritual, dan juga dalam pemerintahan Konfederasi. Pada tahun 1481, Flüe memegang peranan penting di dalam menyelamatkan kesatuan Konfederasi dengan memperkenalkan Stanser Verkommnis. dapat dilihat dalam Schelbert, Op.Cit., hal. 109-110. 9 Ibid., hal. 244. 10 Ibid., hal. lxxii. 11 Xenophobia merupakan perasaan yang sangat kuat atas kebencian atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain, dapat dilihat dalam A. S. Hornby, Oxford Advanced Learners Dictionary (International Student’s Edition). (Oxford University Press, 2000), hal. 1563. Dengan kata lain, merupakan suatu ketakutan akan masuknya bangsa lain yang memungkinkan adanya

8

3

sebagai identitas nasional Swiss. Ketakutan Swiss terhadap bangsa asing merupakan dampak dari kekalahan Swiss dari Francis 1, Perancis dalam Peperangan Marignano (1515) 12 dan okupasi Perancis pimpinan Napoleon (1798) atas teritorial Swiss, 13 sehingga prinsip netralitas Swiss lebih sebagai suatu prinsip dalam lingkup sosial yang kemudian berpengaruh ke dalam lingkup politik dan militer. Hal ini berpengaruh pada pola interaksi Swiss tehadap sistem konfliktual dunia internasional sejak kemerdekaan Swiss hingga tahun 1945. Interaksi Swiss terhadap sistem dalam era ini, lebih mengarah pada upaya Swiss untuk menjaga kedaulatan Swiss sebagai sebuah negara dari tekanan dan intervensi sistem dunia internasional, terutama dari negara-negara Eropa. 14 Dalam dinamikanya, identitas nasional Swiss mengalami perubahan yang disesuaikan dengan dinamika konstelasi dunia internasional. Terdapat peningkatan kompleksitas dari relasional dalam sistem, yaitu adanya ameliorasi terhadap fokus dunia internasional yang tidak hanya pada high politics lagi, tetapi terfokus pada low politics. Dengan kata lain, kebijakan luar negeri dari aktor negara menjadi semakin kompleks untuk mencapai national interest masingmasing. Oleh karena itu, Swiss menghadapi tantangan untuk melakukan perubahan dalam kebijakan luar negerinya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam dunia internasional, 15 yang memaksa Swiss untuk

intervensi-intervensi terhadap kehidupan berbangsa. Xenophobia yang dimiliki Swiss, merupakan akibat dari era kolonial dari imperium yang berusaha ditegakkan oleh Napoleon. 12 Leo Schelbert, Op.Cit., hal. lxvi. 13 Ibid., hal. lxxi. 14 “Neutrality and Isolationism,” dalam http://www.swissworld.org/en/politics/foreign_policy/neutrality_and_isolationism/, diakses tanggal 28 Desember 2009. 15 “Switzerland and the World,” dalam http://www.swissworld.org/en/politics/foreign_policy/switzerland_and_the_world/,

4

melakukan perubahan definisi dan batasan dalam konstruksi identitas, yaitu netralitas Swiss. Perubahan identitas nasional Swiss terlihat pada keikutsertaan Swiss dalam Schengen Treaty yang merupakan salah satu poin dalam Bilateral Agreements II antara Swiss dengan Uni Eropa yang disetujui oleh publik Swiss dalam referendum Juni 2005. 16 Persetujuan publik Swiss dalam referendum ini merupakan sebuah langkah sangat besar terkait dengan karakteristik netralitas Swiss, yang dilandasi faktor xenophobia. Keikutsertaan Swiss dalam Schengen Treaty merupakan suatu keputusan referendum yang anomali dalam publik Swiss. Anomali karena dalam referendum yang terkait dengan integrasi parsial maupun holistik ke dalam Uni Eropa secara umum akan ditolak oleh publik Swiss, yaitu dalam EEA Treaty (1992), “Négociations d’adhésion à la UE: Que le peuple décide!” atau negosiasi untuk bergabung ke dalam Uni Eropa (1997) dan “Oui à l’Europe” atau Yes to Europe sebagai pembukaan negosiasi keanggotaan Uni Eropa (2001). 17 Schengen Treaty merupakan sebuah perjanjian dalam tubuh Uni Eropa pada tahun 1985, yang mengatur mengenai persoalan state border di antara negara-negara Eropa yang menandatangani perjanjian tersebut. Schengen Treaty adalah perjanjian dalam lingkup sosial, dimana dalam perjanjian ini terdapat suatu pergerakan secara sosial karena warga negara Eropa maupun non Eropa yang

diakses tanggal 28 Desember 2009. 16 “Bilateral Agreement Switzerland-EU,” dalam http://www.europa.admin.ch/themen/00500/index.html?lang=en, diakses tanggal 12 Januari 2011. 17 Alexander H. Trechsel, “Direct Democracy and European Integration: a Limited Obstacle?” dalam Clive H Church, Switzerland and the European Union, a Close, Contradictory and Misunderstood Relationship (New York: Routledge, 2007), hal. 39.

5

memiliki visa Schengen dapat mobilisasi keluar masuk dari satu negara Eropa ke negara Eropa lainnya dan juga bekerja di negara-negara Eropa yang tergabung dengan bebas tanpa harus melalui proses birokrasi dan administrasi yang rumit. 18 Terdapat reduksi proses birokrasi dan administrasi, atau dengan kata lain borderless, yang mendukung free-movement person dalam Eropa sehingga semakin memperbesar kemungkinan masuknya warga negara asing ke dalam Swiss. Kemudian, Schengen Treaty sebagai alat integrasi Uni Eropa memiliki kepentingan politis untuk dapat menyatukan negara-negara Eropa, baik anggota maupun non-anggota Uni Eropa, sebagai satu kesatuan. Dua pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa dengan keikutsertaan Swiss dalam Schengen Treaty terdapat perubahan identitas nasional Swiss, dimana netralitas tradisional Swiss berusaha untuk memberikan batasan terhadap Eropa, kemudian dalam netralitas kontemporer menjadi lebih integratif ke dalam Eropa.

1.2 Rumusan Masalah Terhadap latar belakang masalah yang telah dijelaskan, permasalahan yang menjadi fokus utama analisa penulis adalah: bagaimana perubahan konstruksi identitas dalam netralitas kebijakan luar negeri Swiss dalam Schengen Treaty pada tahun 2005?

Arti penting Schengen Treaty bagi Uni Eropa adalah sebagai sebuah alat integrasi secara mendalam Uni Eropa terhadap negara-negara anggotanya maupun negara Eropa non-anggota dalam sektor kebijakan migrasi, dengan demikian Eropa menjadi semakin border-less, dan upaya untuk mempersatukan negara-negara Eropa dalam sebuah naungan politis dan sosial menjadi semakin besar, dapat dilihat dalam Hugo Brady, EU Migration Policy: A to Z, (2008), hal. 23.

18

6

1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran akan arti penting suatu konstruksi identitas bagi sebuah negara ketika berinteraksi di dalam sistem dunia internasional, dan kemudian bagaimana konstruksi identitas negara tersebut dapat dibentuk dan dapat berubah. Dalam hal ini, netralitas merupakan konstruksi identitas dari Swiss dan mengalami suatu perubahan ketika Swiss ikut serta dalam Schengen Treaty pada tahun 2005.

1.4 Kerangka Teoritis 1.4.1 Identitas dalam Konstruktivisme Secara umum, identitas adalah nilai-nilai yang merepresentasikan suatu aktor sosial, baik individual maupun komunal, yang kemudian mendapatkan pengakuan secara sosial atas nilai-nilai tersebut dalam struktur. Berdasarkan Castells, 19 identitas terbentuk ketika terdapat aktor yang menganalisa dan menjelaskan pengkonstruksian citra sosial akan sesuatu. Michel Foucault berpendapat bahwa identitas tidak diberikan atau muncul begitu saja. Identitas dan karakteristik, terkonstruksi sebagai sebuah produk atas power dan relasi atau keterkaitan atar power, kelipatan, pergerakan, hasrat, tekanan. 20 Sedangkan, terminologi konstruktivisme dalam kajian Ilmu Hubungan Internasional, merupakan sebuah teori yang memberikan penekanan pada interaksi internasional dengan menggabungkan antara pengaruh normatif dari struktur sebuah institusi yang kemudian dikaitkan dengan perubahan identitas dan
19 20

Manuel Castells, The Power of Identity (Blackwell Publishing, Ltd, 2010), hal 7. Michel Foucault, Power / Knowledge (New York: Pantheons Book, 1977), hal. 74.

7

kepentingan yang akhirnya berdampak pula pada normatif tersebut. 21 Alexander Wendt mengungkapkan bahwa dalam konstruktivisme, identitas merupakan konsep sentral untuk mengkonstruksi sesuatu. Identitas akan bersignifikansi terhadap pembentukan kepentingan dari aktor tertentu yang dapat berimplikasi terhadap pola interaksi aktor dalam sistem. 22 Postulat Wendt mengenai konstruksi identitas didukung oleh Peter J. Katzenstein. Katzenstein berpendapat bahwa identitas berperan dalam

pembentukan kepentingan nasional dan kebijakan suatu aktor dalam berinteraksi dalam sistem. 23 Katzenstein menggambarkan bahwa terdapat jalur kausalitas yang terbentuk antara norma (dari lingkungan), identitas, kepentingan, dan kebijakan, yang tergambarkan dalam skema 1.1. Diagram 1.1 Alur Kausalitas Identitas

Identity

Environmental Structure

Interest

Policy
sumber: Ronald L. Jepperson, Alexander Wendt, dan Peter J. Katzenstein, “Norms, Identity, and Culture in National Security” dalam Peter J. Katzenstein, The Culture of National Security: Norms and Identity in World Politics (New York: Columbia University Press, 1996), hal. 11.

Martin Griffiths dan Terry O'Callaghan, International Relations, the Key Concepts (London: Routledge, 2002), hal. 50. 22 Maja Zehfuss, Op.Cit., hal. 94. 23 Ronald L. Jepperson, Alexander Wendt, dan Peter J. Katzenstein, “Norms, Identity, and Culture in National Security” dalam Peter J. Katzenstein, The Culture of National Security: Norms and Identity in World Politics (New York: Columbia University Press, 1996), hal. 10.

21

8

Dalam skema jalur kausalitas tersebut, norma yaitu elemen kultural dan institusional dari lingkungan internal dan eksternal aktor negara akan membentuk identitas, kepentingan nasional, atau kebijakan negara secara langsung. Sebaliknya, dampak dari identitas adalah adanya variasi identitas atau perubahan identitas akan berdampak pada kepentingan nasional dan kebijakan negara. Wendt menekankan bahwa identitas dari suatu negara tidak muncul begitu saja, 24 tetapi dibentuk dari bagaimana pandangan atau persepsi negara lain terhadap negaranya. 25 Dengan kata lain, identitas suatu negara dikonstruksi oleh bagaimana negara lain atau sistem melihat dan mendeskripsikan negara tersebut, bukan dalam konteks negara tersebut melihat negaranya sendiri. Persepsi akan others atas self inilah yang menciptakan konstruksi identitas dari suatu negara. Oleh karena itu, argumentasi Wendt dalam pendekatan konstruktivisme, kurang sesuai dalam menjelaskan bagaimana Swiss dapat membentuk netralitas sebagai konstruksi identitasnya dan bagaimana Swiss mengalami perubahan konsepsi netralitas. Berbeda dengan pendekatan konstruktivisme Anne Clunan, 26 yaitu Aspirational Constructivism (konstruktivisme aspirasi). Konstruktivisme aspirasi, menjelaskan bahwa konstruksi identitas nasional tidak sesederhana sebagai suatu hasil dari tradisi historis, akan tetapi sebagai suatu subyek yang akan diubah elit
Alexander Wendt, “Identity and Structural Change in International Politics,” dalam Yosef Lapid dan Friedrich Kratochwil, The Return of Culture and Identity in IR Theory (London: Boulder CO, 2006), hal. 48. 25 Alexander Wendt, “Collective Identity Formation and International State,” dalam The American Political Science Review, hal. 385. 26 Anne Clunan, The Social Construction of Russia’s Resurgence (Baltimore: The Johns Hopkins University Press, 2009), hal. 3.
24

9

politik dengan suatu alasan tertentu. Identitas, dalam hal ini, berdasar pada kebanggaan atau self-esteem atas aspirasi historis, atau dengan kata lain menggunakan kenangan historis yang kemudian dibentuk dengan menggunakan rasionalitas elit politik yang aspiratif. Identitas merupakan hasil dari proses yang dibentuk kondisi masa lalu dan sekarang dengan berdasar pada rasionalitas manusia, sehingga identitas nasional tidak bersifat tetap. 27 Identitas nasional, menurut Clunan, adalah suatu bentuk identitas kolektif yang mengkonstitusikan serangkaian aktor sebagai suatu negara, dimana identitas kolektif merupakan serangkaian ide yang secara umum diterima oleh setiap grup atau aktor di dalam mendefinisikan lingkup kolektifitas dan menentukan aturan-aturan umum yang berlaku di dalamnya. 28 Kemudian, di dalam konstruksi suatu identitas nasional, terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan. Tahapan pertama adalah proses pembentukan national self-image, sebagai kandidat dari identitas nasional. 29 National self-image merupakan serangkaian preskripsi, deskripsi, dan evaluasi atas ide-ide tertentu. Tahap kedua adalah proses pembentukan national self-image menjadi identitas nasional yang dominan dari negara. 30 Proses pembentukan ini akan dilakukan oleh elit politik atas dasar rasionalitas, melalui tes historis, yaitu ketepatan dan kesesuaian aspek aspirasi historis negara tersebut, dan tes efektivitas diri (self effifacy test), yaitu pengujian hasil tes historis akan kesesuaian national self-image untuk diaplikasikan dalam realita negara. Setelah melalui tahapan tersebut, national self-

27 28

Ibid., hal. 7-8. Ibid., hal. 28. 29 Ibid., hal. 29. 30 Ibid., hal. 44.

10

image telah menjadi suatu identitas nasional yang dominan dari suatu aktor (negara). Kemudian dari identitas nasional dominan akan dibentuk kepentingan nasional, yang diimplementasikan dalam setiap kebijakan negara. 31

Konstruktivisme aspirasi akan mengkontestasikan identitas nasional yang dominan dengan aktor lain dalam sistem, dengan mengembangkan orientasi perilaku yang berupa kooperasi, kompetisi, dan konfrontasi, melalui strategi manajemen identitas (identity management strategies). Strategi manajemen identitas akan meliputi kepentingan dan perilaku tertentu terhadap negara lain yang fokus terhadap perbandingan atas ingroup atau outgroup. Konstruksi atas ingroup atau outgroup dalam identitas nasional berupa persepsi atas kesamaan atau ketidaksamaan terhadap dimensi nilai, yaitu tujuan politik, dan dimensi material dan status. 32

1.4.2

Rational Choice Theory Rational Choice Theory (RCT), merupakan salah satu pendekatan

yang dipergunakan di dalam menjelaskan perilaku sosial dan ekonomi yang berbasis pada suatu rasionalitas. Dengan kata lain, terdapat suatu perilaku atas rasio (rasionalitas) yang dipertimbangkan di dalam melakukan suatu perilaku. Konsep rasionalitas secara teoritis, terhubung erat dengan problematika dalam ranah logis. 33 Dalam pembahasan atas perilaku yang berdasarkan pada rasionalitas akan selalu melibatkan pilihan-pilihan terbaik. Pilihan yang rasional merupakan

Ibid., hal. 47. Ibid., hal. 48. 33 John C. Harsanyi, “Advances in Understanding Rational Behavior,” dalam Jon Elster, Rational Choice (New York: New York University Press, 1986), hal. 82.
32

31

11

suatu instrumen yang diarahkan oleh aksi, dimana suatu aksi dinilai dan dipilih sebagai suatu upaya untuk mencapai suatu hasil akhir. 34 Dengan demikian, rasionalitas merupakan suatu konsep normatif yang menunjukkan apa yang harus dilakukan untuk mencapai sesuatu. Jon Elster 35 mengatakan bahwa unit dasar dari kehidupan sosial berasal dari aksi individu-individu, dimana untuk dapat menjelaskan institusi sosial dan perubahan sosial dapat dilakukan dengan melihat bagaimana kemunculannya sebagai sebuah hasil dari rangkaian aksi dan interaksi individu. Kemudian dalam RCT, karena RCT merupakan konsep teoritis yang menjelaskan perilaku sosial, maka dasar dari setiap bentuk RCT adalah berada dalam asumsi bahwa setiap fenomena sosial kompleks akan dapat dijelaskan melalui aksi individu-individu dasar yang membentuk lingkup sosial tersebut. Individu, dalam RCT akan termotivasi untuk mengaplikasikan suatu aksi oleh keinginan atau tujuan yang menunjukkan preferensi dari individu. Preferensi muncul sebagai akibat dari ketidakmungkinan individu untuk mencapai setiap apa yang diinginkan oleh individu, dimana kemudian preferensi akan sangat ditentukan oleh rasionalitas individu. Terkait dengan hal tersebut, RCT menjelaskan bahwa individu diharuskan untuk mengantisipasi hasil dari alternatif preferensi aksi dan menghitung apa yang terbaik yang dapat diperoleh. 36 Kemudian, dalam terminologi kajian ilmu Hubungan Internasional,

Jon Elster, Nuts and Bolts For the Social Sciences (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), hal. 22. 35 Ibid., hal. 13. 36 John Scott, “Rational Choice Theory” dalam Gary Browning, Abigail Halcli, dan Frank Webster, Understanding Contemporary Society: Theories of the Present (London: Sage Publications Ltd., 2000), hal. 128.

34

12

RCT merupakan suatu teori atas preferensi kebijakan luar negeri, yang mengevaluasi pilihan kebijakan suatu negara dari berbagai pilihan yang ada untuk dipergunakan dalam mencapai tujuan negara tersebut dalam level internasional, yang berdasarkan pada rasionalitas. 37 Pilihan kebijakan tersebut secara umum merupakan pilihan kebijakan yang berupa strategi-strategi yang bersifat kooperatif atau kompetitif, dimana negara dalam melakukan pemilihan atas preferensi kebijakan luar negeri, akan berdasar pada rasionalitas elit politik dalam pemerintahan negara tersebut. Elit akan melihat preferensi mana yang paling sesuai dan dibutuhkan oleh negaranya ketika berinteraksi dalam sistem dunia internasional.

1.4.3

Political Collective Action Aksi kolektif (collective action) adalah suatu fenomena sosial. Secara

definitif, aksi kolektif merupakan serangkaian praktek sosial yang melibatkan sejumlah individu atau kelompok tertentu, menampilkan karakteristik morfologi yang sama dalam waktu dan tempat, berimplikasi terhadap lingkup area hubungan sosial, dan kapasitas orang yang terlibat di dalam menyatakan apa yang mereka lakukan. 38 Suatu aksi kolektif dikarakteristikkan oleh tiga aspek, 39 pertama, adanya solidaritas dalam artian bahwa adanya pengakuan dan diakui identitas satu individu dengan yang lain sebagai bagian dari unit sosial yang sama. Kedua, aksi kolektif akan selalu melibatkan adanya suatu konflik tertentu yang kemudian
37

Charles L. Glaser, Rational Theory of International Politics The Logic of Competition and Cooperation (New York: Princenton University Press, 2010), hal. 26. 38 Alberto Melluci, Challenging Codes: Collective Actions in the Information Age (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), hal. 20. 39 Ibid., hal. 23-24.

13

menimbulkan perlunya adanya suatu kontrol sosial. Ketiga, melibatkan adanya kegagalan sistem untuk menjaga struktur. Sedangkan aksi kolektif politik atau political collective action, merupakan aksi-aksi kolektif yang bergerak dalam batasan lingkup politik. Meskipun demikian, arena politik dimana aksi kolektif politik berlangsung berada di luar pola politik konvensional. 40 Dalam artian bukan merupakan suatu aksi yang dilakukan oleh partai politik atau politik pemerintah, akan tetapi lebih merupakan suatu aksi yang muncul di luar lingkar politik tersebut sebagai suatu bentuk tanggapan atas tujuan tertentu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam aksi kolektif politik perlu dikonstruksikan suatu aksi politik yang sebelumnya tidak ada dan juga tidak terdapat adanya regulasi untuk membatasi interaksi antara aktor aksi kolektif politik dengan lingkungan politik di sekitarnya, akan tetapi berpengaruh dalam proses dan konstelasi politik. Edmondson, 41 menambahkan meskipun ketiadaan regulasi dan bersifat fluktuatif, bentuk dari aksi kolektif politik tersebar dan terorganisir, sehingga kemudian sering diasosiasikan sebagai pergerakan ”grassroots” dalam koridor politik yang demokratis. Aksi yang terorganisir dilakukan berdasarkan suatu proyek tertentu dan dapat berupa protes, penyerangan, demonstrasi, dan lain-lain. Pendapat yang sama diungkapkan oleh Alberto Melluci, 42 bahwa aksi kolektif politik lebih merupakan sebagai suatu produk dari suatu tujuan yang dikembangkan dalam lingkup kesempatan dan batasan. Maka, dalam koridor politik, aksi kolektif
40

Ricca Edmondson, The Political Context of Collective Action: Power, Argumentation, and Democracy (New York: Routledge, 1997), hal. xiii. 41 Ibid., hal. xiv. 42 Alberto Melluci, Nomads of the Present: Social Movements and Individual Needs in Contemporary Society (London: Hutchinson Radius, 1989), hal. 25.

14

bergerak dalam upaya untuk memperoleh kekuasaan, yang dimungkinkan dengan adanya kesempatan-kesempatan dan memiliki batasan ruang gerak. Aksi kolektif politik, dapat disimpulkan sebagai suatu bentuk pergerakan politik secara komunal dalam pemerintahan suatu negara, di luar dari peran serta pemerintah atau partai politik yang ada, yang berpengaruh terhadap tidak hanya situasi dan kondisi politik tetapi juga dalam perumusan kebijakan, termasuk kebijakan luar negeri dari negara yang bersangkutan.

1.4.4

Sintesa Teori Konstruktivisme aspirasi Clunan dapat menjelaskan bagaimana

perubahan konstruksi identitas Swiss, yang berimplikasi terhadap perubahan signifikansi kebijakan dan peran Swiss dalam sistem. Di dalam konstruktivisme aspirasi, terdapat dua tahapan yang dipergunakan di dalam proses konstruksi dan implementasi identitas nasional dari aktor (negara), 43 sehingga sesuai untuk dipergunakan di dalam penelitian terhadap konstruksi dan perubahan konstruksi identitas Swiss. Kemudian, di dalam tahapan proses konstruksi identitas, elit politik Swiss, yaitu Federal Council sebagai pemegang kekuasaan eksekutif Negara Konfederasi Swiss, dengan menggunakan rasionalitas aspiratif

membentuk national self-image melalui aspirasi historis. National self-image dari Swiss yang terbentuk, akan melalui tes historis dan tes efektivitas diri (efficacy test). Perubahan yang terjadi dalam konstruksi identitas nasional Swiss,

43

Anne Clunan, Op.Cit., hal. 29, 44, 47, dan 48.

15

berdasarkan pemikiran Peter J. Katzenstein, 44 secara otomatis akan berpengaruh terhadap perubahan signifikansi Swiss dalam peranan interaksi Swiss dengan sistem dunia internasional. Kemudian, proposisi-proposisi dari Clunan dalam konstruktivisme aspirasi, tidak dapat berdiri sendiri di dalam menganalisis konstruksi dan perubahan konstruksi identitas. Pertama, di dalam proses konstruksi identitas nasional konstruktivisme aspirasi, baik dalam aspirasi historis, tes historis, maupun tes efektivitas diri, diperlukan rasionalitas dari elit politik di dalam menentukan pilihan yang aspiratif. Kemudian untuk memperkuat proposisi Clunan, dibutuhkan rational choice theory (RCT), untuk menjelaskan bagaimana elit politik Swiss, yaitu Federal Council, dapat menentukan preferensi-preferensi identitas nasional yang tepat berdasarkan rasionalitas. Dalam terminologi Hubungan Internasional, RCT menjelaskan bahwa elit politik, berdasarkan rasionalitas mereka, akan menentukan bagaimana preferensi-preferensi dapat muncul, untuk kemudian dipilih sebagai keputusan dari aktor (negara). 45 Dengan menggunakan rasionalitasnya, elit akan melihat preferensi yang paling sesuai untuk negaranya. Kedua, konstruktivisme aspirasi, yang dirumuskan oleh Clunan, adalah merupakan konstruksi identitas dan kepentingan nasional, yang terbentuk berdasarkan atas kajian mengenai konstruksi atas identitas Rusia paska Perang Dingin dalam rentang waktu 1991-2004, sementara penelitian yang dirumuskan adalah kajian mengenai konstruksi atas identitas Swiss dalam rentang waktu
44 45

Ronald L. Jepperson, Alexander Wendt, dan Peter J. Katzenstein, Op.Cit., hal. 10. Charles L. Glaser, Op.Cit., hal. 26.

16

1992-2005. Terdapat perbedaan fundamental terkait dengan sistem pemerintahan Rusia dan Swiss. Dalam sistem pemerintahan Rusia, elit politik memegang peranan dan tanggung jawab yang penuh di dalam menentukan setiap kebijakan, termasuk dalam kebijakan luar negeri. Sementara dalam sistem pemerintahan Swiss, elit politik terlibat di dalam proses pembentukan kebijakan, tetapi keputusan kebijakan berada di tangan rakyat Swiss melalui referendum. Adanya sistem direct democracy yang teradopsi dalam sistem pemerintahan Swiss, menciptakan adanya gap antara konstruktivisme aspiratif dengan analisis terhadap konstruksi identitas Swiss. Konstruktivisme aspirasi menekankan adanya peranan signifikan rasionalitas elit politik dalam menentukan konstruksi identitas suatu aktor negara. Proposisi tersebut sulit untuk diterapkan dalam menganalisa konstruksi identitas Swiss, sehingga diperlukan aksi kolektif politik (political collective action) untuk menjelaskan bagaimana rakyat Swiss secara kolektif dapat ikut serta dan berpengaruh secara signifikan dalam pembentukan kebijakan luar negeri Swiss dan dalam konstruksi identitas Swiss. Secara umum, aksi kolektif politik merupakan aksi kolektif yang terakomodir dalam ranah politik sebagai suatu bentuk tanggapan, dan sangat berpengaruh dalam proses dan konstelasi politik suatu negara. 46 Terkait dengan konstruksi identitas Swiss, elit politik memberikan preferensi-preferensi yang memungkinkan atas identitas nasional Swiss, dan keputusan akan berada pada rakyat Swiss. Kemudian, elit politik Swiss akan mengakomodasi dan mengarahkan rakyat Swiss sebagai suatu aksi kolektif

46

Ricca Edmondson, Op.Cit., hal. xiii.

17

politik, untuk memilih dan memutuskan preferensi identitas nasional yang diinginkan oleh elit politik sebagai suatu outcome. Dalam proses membentuk dan mengarahkan aksi kolektif politik rakyat Swiss, elit politik menggunakan partai politik, kelompok kepentingan, dan media untuk melakukan diskusi, kampanye, dan propaganda pada rakyat.

1.5 Hipotesis Dengan berdasarkan pada pemahaman terhadap latar belakang masalah dan landasan-landasan teori tersebut, dapat ditarik sebuah hipotesis atau jawaban sementara dari permasalahan ini bahwa terjadi perubahan konstruksi identitas nasional Swiss dalam referendum Schengen Treaty pada tahun 2005. Netralitas sebagai identitas nasional Swiss yang terbentuk adalah netralitas yang memiliki ruang gerak sosial yang jauh lebih terbuka, sebagai akibat dari adanya reduksi terhadap tingkat xenophobia Swiss, dan bersifat lebih kooperatif dengan aktor di luar Swiss, terutama Uni Eropa. Perubahan yang terjadi berlangsung dalam dua tahapan, yaitu perubahan dalam rasionalitas elit politik di dalam menentukan preferensi kebijakan luar negeri Swiss, yang kemudian terjadi perubahan dalam lingkup kehidupan sosial Swiss, baik pada rakyat maupun kanton Swiss. Swiss telah mengalami perubahan konsepsi netralitas kebijakan luar negerinya sebagai sebuah negara berdaulat dengan mengikuti Schengen Treaty.

18

1.6 Metodologi Penelitian 1.6.1 Definisi Konseptual dan Operasional

1.6.1.1 Identitas Identitas mengacu pada aktor sosial tertentu, yang terkonstruksi sebagai label terhadap nilai-nilai tertentu di dalam struktur dan norma atas sebuah komunitas atau institusi sosial tertentu. 47 Identitas mendefinisikan dan memisahkan “us” dengan “them” dalam struktur sosial, dimana identitas merupakan batasan atas nilai tertentu yang memperoleh pengakuan. Anthony Giddens (1991), 48 mendeskripsikan bahwa identitas merupakan esensi atau sumber bagi suatu aktor, yang dikonstruksikan sendiri melalui proses individuasi. Kemudian, identitas dibentuk dalam suatu komunal sehingga menjadi suatu identitas kolektif dengan struktur yang berfungsi untuk mengidentifikasikan identitasnya. 49 Terdapat berbagai bentuk identitas kolektif, antara lain kelas, gender, ras, agama, dan lain-lain, akan tetapi identitas nasional merupakan bentuk dari identitas kolektif yang paling fundamental dan inklusif. 50 Identitas nasional, menjadi sumber legitimasi antar-bangsa yang telah diakui atas validitas sistem negara di setiap wilayah regional dan dunia internasional secara holistik. Dalam ranah operasional, netralitas merupakan identitas kolektif yang terkonstruksi sebagai identitas nasional Swiss. Netralitas dikonstruksi Swiss atas dasar kebutuhan Swiss untuk mengidentifikasikan Swiss di dalam sistem dunia internasional dan memisahkan Swiss dalam batasan yang jelas dengan aktor-aktor
47 48

Manuel Castells, Op.Cit., hal. 6. Ibid., hal. 7. 49 Kwame Anthony Appiah, The Ethics of Identity (New Jersey: Princenton University Press, 2005), hal. 55-70. 50 Anthony D. Smith, National Identity (London: Penguin Books Ltd., 1991), hal. 143.

19

dunia internasional lainnya. Netralitas sebagai identitas nasional Swiss, kemudian mendeterminasi pola aksi-reaksi dan interaksi Swiss dengan sistem dunia internasional, yang terimplementasikan dalam setiap kebijakan luar negeri Swiss.

1.6.1.2 Prinsip Netralitas Netral berakar pada kata dalam bahasa Latin, yaitu ne uter, yang berarti neither one nor the other atau tidak salah satu atau yang lainnya. 51 Berdasarkan asal katanya, netral berarti ketidakberpihakkan terhadap sesuatu. Suatu power akan dikatakan sebagai netral apabila tidak memihak salah satu pihak yang memiliki konflik. Netralitas merupakan suatu status dari suatu negara yang menyatakan untuk tidak terlibat dalam interaksi yang potensial memiliki ketegangan dengan aktor negara lainnya. 52 Galeotti 53 berargumen bahwa toleransi merupakan suspensi atau penerimaan intervensi power politis dalam suatu nilai tertentu, berbeda dengan netralitas yang tidak menerima intervensi apapun. Prinsip netralitas, kemudian dapat diartikan sebagai langkah atau strategi untuk tidak terlibat atau ikut campur dalam hal-hal yang berkaitan dengan otoritas aktor lain. Apabila suatu negara mengeluarkan suatu pernyataan kenetralannya maka negara tersebut memiliki kepentingan untuk tidak terlibat dalam suatu isu tertentu dan berposisi di luar lingkaran lingkup isu tersebut. Secara operasional, Swiss adalah negara yang netral. Dengan demikian, Swiss

Stefan Aeschimann dkk., Swiss Neutrality (Bern: Federal Department of Defence, Civil Protection and Sports (DPPS), 2004), hal, 2. 52 Chas. W. Freeman Jr., The Diplomat’s Dictionary (Washington: US Institute of Peace Press, 1997), hal. 197. 53 Anna Elisabetta Galeotti, “Identity, Difference, Toleration” dalam John S. Dryzek, Bonnie Honig, dan Anne Phillips, Political Theory (New York: Oxford University Press, 2006), hal. 567.

51

20

tetap ikut serta dalam pola interaksi sistem dunia internasional. Tetapi, kebijakan dan kepentingan luar negeri Swiss, tidak diarahkan pada intervensi dalam bentuk apapun terhadap otoritas aktor lain. Netralitas Swiss, juga berarti bahwa Swiss sebagai sebuah negara yang berdaulat memproteksi kedaulatan dan otoritasnya atas kekuatan-kekuatan pihak eksternal yang berusaha untuk mengintervensi. Kenetralan Swiss, memiliki karakteristik yang self-determined, permanen, dan dijaga dengan ketat. 54

1.6.2

Tipe Penelitian Tipe penelitian yang dipergunakan bersifat eksplanatif. Penelitian ini

berusaha untuk memberikan penjelasan dan analisis mengenai hubungan antar variabel melalui pengujian hipotesis. 55

1.6.3

Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Swiss dan kawasan Uni Eropa dan

dalam tenggang waktu 1992, yaitu ketika publik Swiss menolak referendum untuk bergabung ke dalam European Economic Area (EEA) hingga tahun 2005 ketika referendum mengenai Schengen Treaty disetujui oleh publik Swiss.

1.6.4

Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam keperluan

penelitian ini adalah teknik kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan
54 55

Stefan Aeschimann dkk., Op.Cit., hal. 2. Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial (Bandung: Refika Aditama, 2009), hal. 26-27.

21

pengumpulan data sekunder. Pengumpulan data sekunder ini memanfaatkan sumber-sumber literatur seperti dari buku, jurnal ilmiah, electronic book, artikel media massa, dan artikel online. Peneliti fokus pada setiap informasi yang berhubungan dengan setiap variabel penelitian.

1.6.5

Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah

teknik analisis kualitatif, karena setiap data yang dipergunakan berasal dari sumber literatur, maka data-data yang diperoleh berwujud kata-kata, daripada rangkaian angka. Oleh karena itu, metode analisis data yang tepat untuk dipergunakan adalah analisis kualitatif. Teknik analisis data kualitatif ini dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. 56

1.6.6

Sistematika Penulisan Laporan penelitian ini terbagi ke dalam lima bab pembahasan, dimana

masing-masing bab tersebut memiliki pembagian pembahasan sebagai berikut: Bab 1 mengenai pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat, dan kerangka pemikiran. Selain itu, terdapat pula metodologi penelitian yang terdiri dari konseptualisasi dan operasionalisasi konsep, tipe penelitian dan ruang lingkup penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data serta sistematika penulisan. Bab 2 mengenai pemaparan aspek historis dari origin netralitas

56

Ibid., hal. 339.

22

sebagai konstruksi identitas Swiss dan dinamika konstruksi identitas Swiss. Bab 3 mengenai pemaparan bagaimana sistem politik Swiss, peran serta publik swiss dalam penentuan kebijakan luar negeri Swiss melalui referendum, dan pengaruh pemerintah konfederasi Swiss terhadap publik Swiss. Bab 4 mengenai pemaparan analisa sintesis konstruktivisme aspirasi, RCT, dan political collective action terhadap perubahan konstruksi identitas nasional Swiss. Bab 5 berisi kesimpulan atas hasil analisa yang tertuang dalam pada bab 2, 3, dan 4 terkait isi dari penelitian. Selain itu, pada bab ini juga berisi hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan.

23

BAB 2 ASPEK HISTORIS DAN DINAMIKA KONSTRUKSI IDENTITAS SWISS

Konsepsi prinsip netralitas sebagai sebuah konstruksi identitas Swiss, tidak dapat dipahami tanpa melakukan peninjauan terhadap latar belakang historis Swiss, karena aspirasi historis merupakan salah satu aspek penting di dalam konstruksi identitas, berdasarkan identitas konstruktivisme menurut Clunan. 57 Selain itu, melalui aspirasi historis dapat diketahui bagaimana originalitas netralitas sebagai suatu konstruksi identitas dan kemudian bagaimana

perkembangan dan dinamika netralitas Swiss hingga dalam era kontemporer. Pemaparan atas aspek historis Swiss dalam penelitian ini akan fokus dalam asal mula konstruksi prinsip netralitas Swiss, dan dinamika prinsip netralitas Swiss hingga era kontemporer, pada abad ke-21, yang disediakan untuk memberikan pemaparan dan gambaran mengenai aspek historis dan dinamika netralitas sebagai identitas nasional, dengan tujuan untuk menyediakan penjelasan yang detail atas aspirasi historis Swiss, menurut konstruktivisme aspirasi Clunan.

2.1 Aspek Historis Swiss Aspek historis Swiss, secara umum, dapat dibagi ke dalam dua fase utama, yaitu fase lama dan fase baru. Fase lama dalam catatan historis Swiss, adalah era dimana pemerintahan Konfederasi Lama masih berlangsung, yaitu

57

Anne Clunan, Op.Cit., hal. 7.

24

sejak 1291 dan berakhir hingga Revolusi Helvetica pada tahun 1798. 58 Karakteristik utama dari fase lama adalah adanya pembatasan demokrasi terhadap small upper class, pembatasan kebebasan untuk membentuk kebebasan kolektif, dan pembatasan kohesi negara terhadap konfederasi dasar dengan aliansi militer yang diarahkan ke luar dan jaringan kebijakan yang diarahkan ke dalam. Sementara fase baru historis Swiss dimulai pada tahun 1848, yang direpresentasikan oleh Konfederasi Swiss yang lebih liberal, 59 dimana terdapat pula tiga karakteristik dasar dari fase ini, yaitu terdapat suatu transformasi dari demokrasi otoritarian menuju demokrasi egaliter yang terikat secara legal, terdapat perpanjangan kebebasan kolektif yang melingkupi hak dan kebebasan individu, dan terdapat kemajuan federasi melalui pembentukan otoritas dengan kekuasaan legilatif dan eksekutif sendiri. Secara umum, Swiss modern merupakan produk dari fase baru dalam tatanan historis Swiss. Meskipun demikian, terdapat berbagai elemen dari fase lama yang juga menjadi karakteristik negara Konfederasi Swiss dalam era kontemporer, yaitu kecenderungan terhadap lokalisme, ide-ide atas otonomi komunal, tradisi untuk bekerjasama dalam asosiasi yang kooperatif, adanya tendensi Swiss untuk mengidentifikasi terhadap dirinya sendiri untuk

membedakan Swiss dengan kekuatan di luar Swiss, dan struktur negara yang federalistik. 60

Georg Kreis, “Modern Switzerland as a Product of Its History,” dalam Rolf Kieser dan Kurt R. Spillmann, The New Switzerland: Problems & Policies (California: The Society for the Promotion of Science and Scholarship, Inc., 1995), hal. 4. 59 Ibid., hal. 5. 60 Ibid., hal. 5.

58

25

2.2 Fase Lama Tatanan Historis Swiss dan Fase Transisi 2.2.1 Pembentukan Awal Negara Konfederasi Swiss Titik awal historis Swiss sebagai sebuah kesatuan yang berdaulat adalah pada 1 Agustus 1291, yang ditandai dengan berdirinya Konfederasi Swiss melalui liga perjanjian di antara tiga provinsi di lembah Alpen, yaitu Uri, Schwyz, dan Unterwalden (Nidwalden dan Obwalden). 61 Liga yang terbentuk oleh ketiga provinsi tersebut merupakan suatu aliansi untuk mengantisipasi adanya intrusi dari Habsburg. Perjanjian tersebut disebut sebagai Rütli Oath, yaitu sebuah sumpah yang mengikat pemimpin dari ketiga provinsi tersebut di Rütli, yang merupakan sebuah padang rumput di tepi barat danau Lucerne. 62 Secara umum, aliansi dibentuk untuk menjaga kedaulatan dan keamanan bersama yang mengancam, dimana kemudian liga atau aliansi ini menjadi cikal bakal dari Negara Konfederasi Swiss. 63 Kemudian, jaringan aliansi yang berawal dari tiga provinsi tersebut telah bertransformasi menjadi sebuah kesatuan konfederasi dari negara bagian yang berotonomi, yang berupaya untuk memperluas cakupan wilayah teritorial dan mempererat integrasi di dalam konfederasi. Pada abad ke 14th, Negara Konfederasi Swiss memperluas wilayahnya dengan melingkupi Lucerne, Zurich, Glarus, Zug, dan Bern, 64 dimana ancaman terhadap kemerdekaan Konfederasi Swiss masih tetap berlangsung, dan dengan adanya musuh bersama, yaitu Habsburg, justru menjadi pemersatu untuk dapat mengatasi perbedaan-perbedaan
Leo Schelbert, Op.Cit., hal. lxii. “History of Switzerland,” dalam http://historyswitzerland.geschichte-schweiz.ch/old- swissconfederacy-1291.html, diakses tanggal 23 Maret 2011. 63 Leo Schelbert, Op.Cit., hal. lxii. 64 “History of Switzerland,” Loc.Cit.
62 61

26

yang ada di antara negara bagian yang mengancam konfederasi yang relatif baru.

2.2.2

Asal Mula Netralitas Swiss Pada tahun 1477, di dalam Negara Konfederasi Swiss terdapat

perselisihan antara negara bagian yang berada di area pedesaan (rural) dan perkotaan (urban) terkait dengan masa depan konfederasi. Negara bagian yang berada di area pedesaan, yaitu Uri, Schwyz, Unterwalden, Glarus, dan Zug, cenderung untuk beraliansi dengan uskup dari Constance. Sementara negara bagian yang berada pada area perkotaan, yaitu Lucerne, Zurich, dan Bern beraliansi pada kota Fribourg dan Solothurn untuk menjadi bagian dari konfederasi. 65 Perselisihan yang terjadi berakibat pada ketidakseimbangan konstelasi konfederasi dan mengancam adanya kemunculan bahaya separasi terhadap Negara Konfederasi Swiss. Hal ini diakibatkan karena adanya kekhawatiran negara bagian di area pedesaan akan kemungkinan dominasi area perkotaan, sehingga mereka cenderung untuk tidak memperluas Konfederasi Swiss yang lama. Kondisi ini terus berlanjut dan semakin membahayakan posisi Negara Konfederasi Swiss karena adanya tekanan eksternal yang memanfaatkan konstelasi Swiss. Hingga kemudian, sebuah kompromi baru muncul ketika mendekati akhir tahun 1481, dengan bantuan St. Niklaus von Flüe untuk melakukan mediasi dan menyarankan kesatuan yang baru. Flüe memproposisikan Swiss untuk fokus terhadap kesatuan konfederasi, dan menghasilkan sebuah perjanjian, yaitu Stanser Verkomnis atau Perjanjian di Stans, dimana perjanjian ini

65

“History of Switzerland,” Loc.Cit.

27

merupakan perjanjian bersama pertama dari kedelapan anggota Konfederasi Swiss dan menjadi dasar dari konfederasi selama lebih dari tiga abad. 66 Dalam proposisi tersebut, Flüe juga menyarankan Swiss untuk tetap netral dalam mengahadapi konflik-konflik internal. Flüe menyatakan “Do not meddle in foreign disputes”, 67 dan ”Neutrality would deny potential aggressors a casus belli, a reason for war, and would thus serve to deter foreign aggression”.68 Pernyataan-pernyataan Flüe tersebut berarti bahwa dengan mengambil posisi netral, maka Konfederasi Swiss akan terhindar dari konflik-konflik yang terjadi di luar Swiss, tidak akan terlibat dalam peperangan, dan terhindar dari agresi dari pihak eksternal. Meskipun demikian, aplikasi nyata dari konsep netralitas Swiss, baru diterima, diakui, dan diimplementasikan pada generasi selanjutnya, untuk kemudian menjadi signifikansi sebagai alat untuk mencapai kebebasan dan demokrasi. Kemudian, pada tahun 1495, penguasa Kerajaan Suci Roma, Maxmilian I, berusaha untuk menciptakan kembali kontrol atas kanton-kanton dalam konfederasi. 69 Maxmilian I bergabung dengan Liga Swabian, yang merupakan aliansi dari wilayah Utara Jerman untuk membendung ekspansi Swiss. Akan tetapi, kemenangan kembali diraih oleh Negara Konfederasi Swiss, dan pada tahun 1501, Basel dan Schaffhausen bergabung dengan konfederasi, sementara Appenzell menjadi anggota Konfederasi Swiss ke-13.

Leo Schelbert, Op.Cit., hal. lxv. Ibid., hal. 244. 68 Stephen Halbrook, Target Switzerland: Swiss Armed Neutrality in World War II (New York: Sarpedon, 1998), hal. 7. 69 Leo Schelbert, Op.Cit., hal. lxv.
67

66

28

2.2.3

Kekalahan Negara Konfederasi Swiss dan Implementasi Netralitas Negara Konfederasi Swiss, paska perang di Swabian (1495), terlibat

dalam konflik perebutan wilayah atas lembah Po, dengan Perancis, Austria, dan Italia. Pada satu sisi, Swiss memiliki kepentingan di area tersebut, dan di sisi yang lain Swiss berupaya untuk menghindarkan Perancis dan Rusia dekat dengan wilayah teritorialnya. 70 Akan tetapi, di dalam upayanya, Negara Konfederasi Swiss mengalami kekalahan dalam peperangan Marignano pada tahun 1515 oleh Francis I dari Perancis. Dalam perjanjian perdamaian, Swiss tetap memiliki sebagian besar dari wilayah teritorialnya. Kekalahan Swiss dalam peperangan ini tidak hanya menandakan berakhirnya kekuatan militer Swiss yang terkenal, tetapi juga berakhirnya ekspansionisme Negara Konfederasi Swiss. Terkait dengan kekalahan yang dialami dan isu perbedaan etnis, bahasa, dan agama yang dihadapi oleh Swiss, berakibat pada Swiss dihadapkan dalam dua opsi yang memungkinkan, yaitu menghancurkan Konfederasi Swiss yang telah terbentuk dengan melibatkan Swiss ke dalam kebijakan-kebijakan Perancis, Austria, dan Italia, atau tetap independen. Kemudian, Swiss memilih untuk tetap independen dengan merepresentasikan dirinya sebagai sebuah negara yang netral dan pada tahun 1516, wilayah Ticino dan Veltlin masuk ke dalam Konfederasi Swiss karena berdasar pada konsep netralitas. Dengan diimplementasikannya konsep netralitas oleh Konfederasi Swiss, maka Swiss tidak lagi terlibat dalam permasalahan dan konflik yang terjadi di luar Swiss. Swiss, memfokuskan diri di dalam menjaga keberlangsungan

70

Ibid., hal. lxvi.

29

Negara Konfederasi Swiss dengan setiap negara anggotanya. Bahkan ketika Thirty Years’ War atau Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648) berlangsung, Swiss tidak terlibat di dalamnya. Kemudian, dalam Perjanjian Perdamaian Westphalia (1648), Negara Konfederasi Swiss, yang diwakilkan Rudolf Wettstein, Walikota Basel, memperoleh pengakuan kemerdekaan secara yuridis dari Kerajaan Suci Roma. 71

2.2.4

Fase Transisi (1798-1847) Pada tahun 1798, pasukan Perancis telah berhasil mengokupasi Vaud,

Solothurn, Fribourg, dan Nidwalden. Kemudian konfederasi pun runtuh dengan jatuhnya Bern ke tangan Perancis pada tahun yang sama. Kejatuhan Negara Konfederasi Swiss menandai berakhir fase lama historis Swiss, dimana Perancis mendirikan Republik Helvetica. Jatuhnya Konfederasi Swiss ke tangan Perancis, merupakan efek dari rangkaian permasalahan internal yang dialami oleh Swiss.72 Permasalahan Konfederasi Swiss adalah sebagai sebuah konfederasi yang terdiri dari 13 Kanton, secara internal terdapat perbedaan etnis, bahasa, agama, kultur, dan tradisi. Kemudian dalam sistem pemerintahan dan politik konfederasi, Swiss tidak memiliki pemerintahan sentral, dimana tidak ada satu pemimpin dari satu kanton untuk lebih dominan daripada yang lain, selain itu Swiss juga tidak memiliki pasukan nasional konfederasi. Implementasi dari konsep netralitas belum dapat berfungsi secara maksimal karena perbedaan yang ada, termasuk disparitas antara area pedesaan dan perkotaan belum dapat terjembatani. Swiss membutuhkan
71 72

sebuah

sistem

pemerintahan

yang

baik

yang

mampu

Ibid., hal. xxviii. Stephen Halbrook, Op.Cit., hal. 8.

30

mengakomodasi

konsep

netralitas.

Kelemahan-kelemahan

tersebut

yang

kemudian dimanfaatkan oleh Perancis, sehingga akhirnya pada tahun 1798, Swiss berhasil diokupasi dan pemerintahan konfederasi diganti dengan Republik Helvetica, yang merupakan sebuah negara unitaris yang mengikuti model revolusioner Perancis. Di bawah konstitusi Perancis, kedaulatan yang dimiliki oleh Kanton dihapuskan, kewarganegaraan dirubah menjadi bersifat nasional bukan kantonal, pemisahan antara gereja dengan negara, dan memutuskan sistem moneter dan perpajakan yang sama dengan Perancis. Langkah-langkah tersebut

diimplementasikan Perancis dengan tujuan untuk mempermudah di dalam menciptakan kontrol atas Swiss. 73 Pada tahun 1803, pasukan Perancis meninggalkan Swiss dan Swiss kemudian dijadikan sebagai negara satelit Perancis, dibawah Undang-undang Mediasi Napoleon (Napoleon’s Mediation Acts) tahun 1803. Melalui undang-undang tersebut kekuasaan kantonal dari ke-13 kanton diberikan kembali, dan berada dibawah pemerintahan Konfederasi Helvetica. Akan tetapi, dengan awal kekalahan dan jatuhnya kekuasaan Napoleon pada tahun 1813, maka Undang-undang Mediasi Napoleon tahun 1803 menjadi tidak berlaku, dan pada tahun 1814-1815 terdapat upaya untuk mengembalikan sistem konfederasi yang lama dan kanton mendapatkan kembali bentuk pemerintahan yang sebelumnya. Kejatuhan final dari kekuasaan Napoleon pada tahun 1815, dilanjutkan dengan didirikannya kembali Konfederasi Swiss dan sekaligus

73

Leo Schelbert, Op.Cit., hal. lxxi.

31

penambahan Valais, Geneva, dan Neuchâtel sebagai kanton baru dalam Konfederasi Swiss. Pada Kongres Vienna tahun 1815, Konfederasi Swiss mendeklarasikan kemerdekaannya dan sekaligus menyatakan dirinya sebagai sebuah negara yang berdaulat dan netral. 74 Akan tetapi, terdapat pergesekan antara pihak liberal dengan konservatif, mengenai bagaimana sistem

pemerintahan yang terbaik untuk diterapkan dalam Negara Konfederasi Swiss. Pergesekan yang terjadi berujung pada Perang Sipil pada tahun 1847 yang berlangsung selama 26 hari, dan dimenangkan oleh kanton-kanton yang liberal.

2.2.5

Netralitas sebagai Identitas Nasional dalam Rentang Waktu 15151847 Terdapat beberapa aspek historis yang berpengaruh terhadap

konstruksi awal netralitas Swiss. Pertama, pada tahun 1477, terdapat perselisihan internal dalam Negara Konfederasi Swiss antara area rural (mayoritas kanton dengan bahasa dan kultural Jerman) dengan urban (mayoritas kanton dengan bahasa dan kultural Perancis), 75 yang memunculkan ide Niklaus von Flüe atas identitas yang netral dalam proposisi Stanser Verkomnis. Ide tersebut dimaksudkan untuk memperkuat kondisi dan situasi internal Swiss, dengan menghilangkan perselisihan di antara area rural dan urban, dan untuk menghindarkan Swiss dari kemungkinan penetrasi, baik kekuatan maupun pengaruh asing, yang dapat mengancam Negara Konfederasi Swiss. Kedua,

74 75

Ibid., hal. lxxii. “History of Switzerland,” Loc.Cit.

32

kekalahan Swiss dalam perang Marignano pada tahun 1515. 76 Ketiga, perselisihan berkelanjutan antara rural dan urban berdampak pada kekalahan dan kejatuhan Swiss dalam mempertahankan wilayah teritorial Swiss dari okupasi Perancis pada tahun 1789-1815. 77 Keempat, adanya eskalasi konflik internal yang berakibat pada pecahnya Perang Sipil pada tahun 1847, selama 26 hari antara kaum konservatif dan liberal. 78 Kemudian, dari keempat aspek historis tersebut, dapat dilihat bahwa Swiss dalam awal kehidupan bernegara, memiliki ikatan kohesifitas antar kanton yang lemah. Kelemahan tersebut berdampak negatif terhadap kesatuan Negara Konfederasi Swiss, karena setiap kanton memiliki otoritas penuh dalam mengelola dan mengontrol wilayahnya masing-masing. Lebih dari itu, perbedaan karakteristik dan kultural dari setiap kanton sangat berpengaruh terhadap konflik yang terjadi pada tahun 1477, 1789, dan 1847, sehingga, Swiss menjadi negara yang rentan terhadap ancaman separasi. Kondisi ini dimanfaatkan oleh negaranegara Eropa, untuk menduduki wilayah Swiss yang secara kultural memiliki kesamaan, terutama Perancis, yang berdampak pada kekalahan Swiss dalam Peperangan Marignano pada tahun 1515 dan kejatuhan Swiss atas Perancis pimpinan Napoleon Bonaparte pada tahun 1789. Kedua kekalahan tersebut, secara historis, memiliki dampak besar terhadap masyarakat Swiss. Kekalahan dalam Peperangan Marignano,

bersignifikan terhadap kekalahan kekuatan militer Swiss yang kuat dan ditakuti karena berhasil mempersatukan kanton-kanton Swiss dalam konfederasi, dan
76 77

Leo Schelbert, Op.Cit., hal. lxvi. Ibid., hal. lxxi. 78 Ibid., hal. lxxii.

33

sekaligus mengakhiri ekspansionisme Swiss.79 Kemudian, dengan jatuhnya Konfederasi Swiss ke tangan Perancis, dan dirubahnya sistem pemerintahan menjadi ke dalam Republik Helvetica, berakibat dalam hilangnya status dan hak otonomi kantonal yang dimiliki negara bagian Swiss, dimana pemerintahan Republik Helvetica terpusat dan diatur oleh Republik Perancis. Dampak yang terbentuk ke dalam kehidupan sosial dan masyarakat Swiss adalah terbentuknya masyarakat yang takut akan bangsa asing, atau xenophobia, yang berpengaruh terhadap dinamika hubungan interaksi luar negeri Swiss. Ketakutan masyarakat Swiss terhadap bangsa asing juga terkait dengan letak geografis Swiss di Eropa. Swiss merupakan sebuah negara landlocked, 80 yang dikelilingi oleh negara-negara Eropa yang merupakan rival monarki Swiss, yaitu Perancis, Jerman, Austria, dan Italia, yang sangat berpengaruh dalam menentukan konstelasi politik di Eropa. 81 Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa, Swiss merupakan suatu entitas negara kecil, yang berada dalam arena kontestasi negara-negara yang lebih besar, baik secara demografis maupun teritorial. Posisi geografis Swiss, menjadi faktor determinan atas ketakutan Swiss terhadap intervensi bangsa asing karena terkait dengan karakteristik Swiss yang multilingual dan multikultural. Adanya ketakutan bahwa dengan adanya intervensi dari luar, dapat meningkatkan eskalasi konflik internal antar kanton (Jerman dan Perancis), yang dapat berdampak pada separasi Negara Konfederasi Swiss.
Ibid., hal. lxvi. Landlocked adalah suatu area wilayah yang dikelilingi oleh daratan, dapat dilihat dalam A. S. Hornby, Op.Cit., hal.751. Suatu wilayah disebut landlocked karena terkunci dengan daratan dan tidak memiliki batas atau wilayah perairan (laut). Sehingga negara landlocked adalah negara yang hanya berbatasan dengan negara lain atau daratan. 81 Laurent Goetschel, Magdalena Bernath, dan Daniel Schwarz, Swiss Foreign Policy: Foundations and Possibilities (New York: Routledge, 2005), hal. 14.
80 79

34

Kondisi demikian, memaksakan Swiss untuk menerapkan suatu identitas yang dapat menghindarkan Swiss dari ancaman separasi terhadap konfederasi Swiss. Sehingga kemudian Swiss menerapkan ide Flüe untuk mengimplementasikan netralitas sebagai konstruksi identitas Swiss. Upaya Swiss untuk mengkonstruksikan identitas nasional Swiss, dilakukan paska kekalahan Swiss dalam Peperangan Marignano. Kekalahan tersebut, memaksa Swiss untuk mengadopsi konsep netralitas ke dalam karakteristik dan identitasnya yang diimplementasikan ke dalam setiap kebijakannya. 82 Netralitas, menjadi pilihan yang paling rasional untuk diimplementasikan oleh Swiss sebagai sebuah negara konfederasi. Dengan kata lain, netralitas Swiss pada tahun 1515 ini merupakan opsi terbaik Swiss yang dipilih untuk tetap mempertahankan konfederasinya yang memiliki karakteristik multilingual dan multikultural. Meskipun demikian, dengan terbentuknya Republik Helvetica menggantikan Negara Konfederasi Swiss, menghapuskan konstruksi identitas Swiss, sehingga Swiss harus mengkonstruksi kembali netralitas sebagai identitas nasional Swiss sesaat setelah jatuhnya kekuasaan Perancis atas Swiss pada tahun 1815, dengan melalui proses restorasi Konfederasi Swiss, dengan tujuan untuk menghindarkan Swiss dan rakyat Swiss dari intervensi baik secara sosial, politik, maupun militer. Swiss, mendeklarasikan kemerdekaan dan status konstruksi identitas nasional sebagai negara yang netral dalam Kongres Vienna pada tahun 1815. 83 Untuk pertama kalinya, secara internasional konsep netralitas dari Konfederasi Swiss diakui dan menjadi bahan pertimbangan. Pengalaman Swiss
82 83

bentuk

Stephen Halbrook, Op.Cit., hal. 8. Leo Schelbert, Op.Cit., hal. lxxii.

35

atas kekalahannya dalam mempertahankan diri atas serangan Perancis menyadarkan Swiss akan kelemahan-kelemahan Swiss, terutama tidak adanya kesatuan di antara kanton dalam konfederasi. Diperlukan adanya perubahan sistemik dalam pemerintahan dan politik Swiss. Konsep netralitas Swiss dalam era ini berarti bahwa netralitas merupakan alat yang dipergunakan Swiss untuk mengikat Negara Konfederasi Swiss secara holistik, dan juga sebagai alat untuk menghindarkan Negara Konfederasi Swiss terhadap adanya kemungkinan intervensi dan pengaruh dari lingkup eksternal Swiss.

2.3 Fase Baru Tatanan Historis Swiss 2.3.1 Dinamika Netralitas Swiss dalam Rentang 1848-1945 Pada 12 September 1848, sebuah konstitusi baru disetujui, dan dengan dasar pemerintahan yang baru maka terjadi perubahan dari Konfederasi Swiss lama Negara Konfederasi Swiss yang baru, yang liberal, dengan Bern sebagai ibukota Negara Konfederasi. Negara Konfederasi Swiss yang baru merupakan bentuk pemerintahan dasar dari Konfederasi Swiss yang bertahan hingga era kontemporer. Dalam Konstitusi Federal yang baru, Swiss merupakan negara konfederasi dengan Konfederasi sebagai pemerintah pusat, dan Kanton sebagai negara bagian dengan kedaulatannya. Pemerintah Konfederasi menentukan dan bertanggungjawab atas kebijakan-kebijakan luar negeri, militer, dan tarif, sementara kebijakan pendidikan, hukum, dan pajak dipegang oleh pemerintahan kanton masing-masing. 84

84

Ibid., hal. lxxiii.

36

Netralitas yang menjadi identitas nasional Swiss dalam bernegara tidak dicantumkan dalam Konstitusi Federal yang baru, dan juga tidak tertulis sebagai bagian dari tujuan yang hendak dicapai oleh Konstitusi Federal. Meskipun demikian, prinsip netralitas memiliki arti penting yang bertujuan untuk menjaga kemerdekaan dan kebebasan Swiss, sebagai sebuah Negara Konfederasi yang berdaulat. Oleh karena itu, pemerintah Konfederasi, bertugas dan

bertanggungjawab untuk mengawasi dan menjaga netralitas yang dianut. Kemudian, Konstitusi Federal tahun 1848 ini, telah menjadi titik penting dalam catatan historis Swiss, dimana dengan pengadopsian konstitusi ini, Swiss dapat mereduksi dan mengakhiri konflik dan krisis internal yang telah menjadi persoalan utama sejak Konfederasi Swiss dibentuk. Pengakuan dunia internasional atas kenetralan Swiss semakin diakui dimana dalam Perang Franco-Prussia (1870-1871), Swiss bersedia untuk merawat pasukan Jenderal Charles Bourbaki yang menderita kekalahan, 85 dan kemudian juga dengan adanya inisiatif dari Henri Dunant, seorang Swiss, untuk membentuk Palang Merah (Red Cross). Kemudian dalam Konvensi Geneva, sebuah konvensi untuk mengakomodasikan perjanjian internasional dalam peperangan. Konvensi Geneva menghasilkan terbentuknya Palang Merah Internasional atau

International Committe of the Red Cross (ICRC) dan Hukum Geneva atau ”Law of Geneva”, yang secara umum berisi tentang perlindungan dan aturan atas personel medis dan perlengkapan, tawanan perang, dan penduduk sipil dalam

85

Stefan Aeschimann dkk., Op.Cit., hal. 5.

37

zona perang. 86 Peran serta Swiss, baik dalam pengadaan Konvensi Geneva maupun dalam IRCC dan Hukum Geneva semakin memperkuat posisi Swiss sebagai sebuah kedaulatan yang netral. Pada dasarnya, konsep netralitas tradisional yang dianut oleh Negara Konfederasi Swiss adalah bahwa Swiss yang merupakan kesatuan berdaulat menerapkan sikap yang netral dalam segala faktor, baik sosial, politik, ekonomi, hubungan diplomatik, dan dalam hal militer. Kemudian, terkait dengan bidang militer, kenetralan berarti bahwa Swiss tidak akan terlibat dalam kontak militer dengan pihak manapun dan Swiss tidak akan terlibat dalam perang, konflik, atau suatu kontak senjata tertentu kecuali apabila Swiss mendapatkan serangan terlebih dahulu. 87 Dengan demikian, kontak militer yang dilakukan dan diupayakan Swiss hanya dalam konteks untuk melindungi negara dan kedaulatannya saja (selfdefense). Kemudian, konsep netralitas Swiss terdefinisikan dalam Konvensi Hague 1907, dimana dalam konsep netralitas dibutuhkan ketidakterlibatan dan ketidakberpihakan dalam perang dan konflik, pertahanan diri sendiri, tidak mendukung kekerasan dan agresi, tidak ada perdagangan dengan pelaku aksi kekerasan dan agresi, dan adanya hak integritas teritorial. 88 Dalam Perang Dunia I (1914-1919), wilayah teritorial Swiss terjebak dan dikelilingi oleh negara-negara yang terlibat perang. Swiss tetap

mempertahankan kenetralannya dan tidak melibatkan diri dalam perang, bahkan

Leo Schelbert, Op.Cit., hal. 131-132. Daniele Ganser dan Georg Kreis, “Swiss Neutrality: Incompatible with EU Membership?,” dalam Clive H Church, Switzerland and the European Union, a Close, Contradictory and Misunderstood Relationship (New York: Routledge, 2007), hal. 52. 88 Hanspeter Kriesi dan Alexander H. Trechsel, The Politics of Switzerland: Continuity and Change in Consensus Democracy (New York: Cambridge, University Press, 2008), hal. 19-20.
87

86

38

Swiss menempatkan pasukannya untuk menjaga teritorialnya agar tidak menjadi wilayah perang dan dimasuki oleh pasukan dari negara lain. Dengan berakhirnya Perang Dunia I, Swiss juga ikut menandatangani Perjanjian Versailles (1919), dengan demikian, Swiss semakin memperjelas posisinya sebagai negara yang netral dan berkontribusi secara aktif dalam mengupayakan keseimbangan dan stabilitas Eropa. 89 Swiss, juga bergabung dengan Liga Bangsa-Bangsa pada tahun berikutnya, sebagai upaya Swiss untuk menunjukkan bahwa Swiss mendukung perdamaian dunia internasional. Meskipun demikian, keputusan ini berbeda dengan nilai netralitas dimana Swiss tergabung dalam suatu organisasi tertentu. Kegagalan Liga Bangsa-Bangsa sebagai sebuah organisasi untuk mengelola perdamaian, membawa dampak pada pecahnya Perang Dunia II (19391945). Dalam Perang Dunia II, teritorial Swiss terancam mengingat bahwa Nazi Jerman di bawah Hitler berada di sebelah Utara dan Itali dalam pimpinan Mussolini berada di Selatan Swiss. Kondisi pun semakin diperburuk dengan adanya aneksasi Jerman terhadap Austria pada tahun 1938 dan kejatuhan Perancis pada tahun 1940, sehingga Swiss terjebak dalam kepungan wilayah teritorial axis. Swiss menyadari bahwa, Perang Dunia II tidak hanya perang dalam rangka kontes hegemoni atas wilayah Eropa, tetapi juga peperangan ideologi antara demokrasi, nasional sosialisme, fasisme, dan komunisme. Sesaat setelah pecahnya Perang Dunia II, pemerintah konfederasi memutuskan secara ketat bahwa Swiss tetap netral dan berusaha untuk menjaga wilayahnya dengan menembak jatuh setiap pesawat, baik axis maupun sekutu yang memasui wilayah Swiss, baik dengan

89

Leo Schelbert, Op.Cit., hal. lxxvi.

39

sengaja maupun tidak. Pihak Nazi Jerman sebenarnya berupaya untuk masuk ke wilayah Swiss dan menganeksasi, akan tetapi hingga Perang Dunia II berakhir, wilayah teritorial Swiss tetap aman dan netral. 90 Paska berakhirnya Perang Dunia II, Swiss bertahan sebagai satu-satunya negara demokrasi di Eropa Tengah.

2.3.2

Dinamika Netralitas Swiss paska Era Perang (1945-kontemporer) Paska Perang Dunia I dan II, Swiss menghadapi tekanan terhadap

perubahanan tatanan konstelasi politik dan hubungan antar negara di Eropa. ”Eropa Baru” secara politis, militer, dan strategis terbagi ke dalam dua kubu, yaitu barat dan timur. Karena era paska perang, tatanan dunia berubah dimana terdapat dua kekuasaan baru yang muncul, dimana kedua kekuatan yang saling bersaing tersebut merupakan pemenang dari Perang Dunia II, yaitu Uni Soviet dengan ideologi komunisme dan Amerika Serikat dengan liberalisme. Kawasan Eropa adalah wilayah yang paling merasakan dampak dari perubahan tatanan dunia baru ini, karena negara-negara Eropa terlibat secara langsung. Uni Soviet dan komunisme menguasai Eropa timur, sementara Eropa Barat bersekutu dengan Amerika. Terjebak dalam situasi konstelasi politik Perang Dingin, Swiss tetap berusaha untuk menjaga kenetralannya untuk tidak memihak pihak manapun. Strategi yang diterapkan oleh Swiss adalah strategi bertahan dimana Swiss tidak ikut serta dan melakukan isolasi terhadap berbagai interaksi internasional. Meskipun berada dalam tatanan ”Eropa Baru”, Swiss tetap mempertahankan konsep netralitas sebagai elemen sentral dari konsepsi dan identitas Swiss.

90

Ibid., hal. lxxvii.

40

Terdapat perubahan terhadap konsep netralitas Swiss, dimana Swiss memutuskan untuk bergabung dan ikut serta dalam organisasi yang hanya bersifat ”teknis” dan menguntungkan tetapi tetap menolak untuk bergabung dengan organisasi yang bersifat ”politis”. 91 Dalam hal ini, sebuah organisasi yang bersifat ”politis”, menurut Swiss, adalah organisasi yang melibatkan kepentingan politik dan memungkinkan adanya pengorbanan kepentingan politik dan sebagian kedaulatan dari negara tersebut, yang akan berpengaruh terhadap kehidupan sosial Swiss baik secara parsial maupun holistik.

2.3.2.1 Dinamika Netralitas Swiss dalam Dinamika Kehidupan Sosial Swiss, sebagai sebuah negara yang menganut prinsip netralitas, memiliki komitmen untuk ikut serta di dalam menciptakan dan menjaga perdamaian dunia. Oleh karena itu, meskipun netralitas yang terkonstruksi dalam masyarakat dan kehidupan sosial Swiss terbentuk sebagai akibat dari adanya fenomena xenophobia dalam rakyat Swiss, Negara Konfederasi Swiss tetap berpartisipasi aktif dalam aksi-aksi humanitarian. Swiss terlibat secara aktif di dalam memberikan ijin tinggal bagi pengungsi dan memberikan suaka, dimana Negara Konfederasi Swiss, mengacu pada Konvensi Geneva pada tahun 1951. 92 Berdasarkan Konvensi Geneva, Swiss mengakui keberadaan pengungsi sebagai individu atau kelompok individu yang hidup dalam bahaya di negara asalnya karena persoalan agama, ras, nasionalitas, pandangan politik, atau kelas sosial. Kebijakan Swiss tersebut, dimanfaatkan pengungsi dan pencari suaka, yang
91 92

Daniele Ganser dan Georg Kreis, Op.Cit., hal. 56. Leo Schelbert, Op.Cit., hal. 279.

41

muncul sebagai akibat dari Perang Dunia II di dataran Eropa. Paska Perang Dunia II, dalam rentang tahun 1945-2000, diestimasikan terdapat sekitar dua juta imigran masuk dan bermukim di Negara Konfederasi Swiss, baik temporer maupun permanen. 93 Terkait dengan gelombang imigran tersebut, pada tahun 1960-an rakyat Swiss mengambil langkah untuk melakukan pergerakan anti-imigrasi dalam skala yang besar. 94 Titik momentum kemunculan pergerakan disebabkan karena tidak terkontrolnya jumlah pengungsi di Schwarzenbach, Swiss. Momentum kedua, terjadi dalam era tahun 1980an, dimana jumlah pengungsi yang mencari suaka di Swiss meningkat dari 3000 per tahun (1980) menjadi 37.000 per tahun (1990). 95 Penolakan mayoritas rakyat Swiss merupakan akibat dari adanya ketakutan terhadap pengungsi dan pencari suaka yang masuk ke dalam wilayah yurisdiksi Swiss. Ketakutan tersebut, selain karena diakibatkan karena adanya latar belakang pengaruh xenophobia dalam kehidupan sosial rakyat Swiss, juga karena 90% dari pengungsi dan pencari suaka memasuki Swiss secara ilegal dan tanpa adanya dokumen dan identitas resmi. 96 Kemudian, dengan adanya peningkatan imigrasi, maka tingkat persaingan rakyat Swiss dalam lapangan pekerjaan semakin tinggi, dan juga adanya peningkatan dalam level kriminalitas. Faktor ini semakin memperkuat xenophobia dari rakyat dan kehidupan sosial Swiss. Faktor xenophobia dalam konstruksi netralitas Swiss berdampak
Ibid., hal. 172. Ibid., hal. 172. 95 Wolf Linder, Swiss Democracy: Possible Solutions to Conflict in Multicultural Societies (New York: Palgrave Macmillan, 1998), hal. 106. 96 Leo Schelbert, Op.Cit., hal. 279.
94 93

42

kontroversif terhadap kebijakan-kebijakan Swiss atas pengungsi dan pencari suaka, selama kurang lebih tiga dekade. Partai Swiss yang berafiliasi kanan dan kekuatan pergerakan xenophobia, menolak dan melawan pertumbuhan pengungsi dan kebijakan yang mendukung. 97 Mereka berpendapat bahwa imigran yang datang dan masuk ke Swiss, adalah pengungsi dan pencari suaka palsu, yang masuk ke dalam Swiss dengan tujuan ekonomi, bukan sosial dan politik. Kemudian, mereka menuntut akan adanya kebijakan dan regulasi yang ketat terhadap pengungsi dan pencari suaka, dengan tujuan untuk menciptakan regulasi yang kompleks sehingga mempersulit masuknya imigran ke dalam Swiss. Sedangkan partai Swiss yang berafiliasi kiri, dan agensi keagamaan dan sosial, sebaliknya, menuntut akan adanya perlakuan dan kebijakan yang mendukung arus imigrasi dengan dasar nilai-nilai kemanusiaan. Pemerintah Negara Konfederasi Swiss, memutuskan untuk mengambil jalan tengah, dimana memperketat kebijakan dengan memberikan batasan terhadap pencari suaka, akan tetapi tetap membiarkan arus pengungsi sesuai dengan standar hukum internasional dan kemanusiaan. 98 Keputusan demikian, tidak disetujui oleh partai Swiss yang berafiliasi kiri, dan agensi keagamaan dan sosial, sehingga mereka mengajukan inisiatif populer (referendum), yang diajukan pada Federal Council, yang disetujui dan diadakan pada 5 April 1987. Akan tetapi, referendum yang diajukan dengan tujuan untuk mengubah kebijakan Konfederasi gagal, Pemerintah Negara Konfederasi dan Partai Swiss yang berafiliasi kanan dan pergerakan xenophobia, menang dalam referendum dengan
97 98

Wolf Linder, Op.Cit., hal. 106. Ibid., hal. 106.

43

mayoritas suara 67,4%. Secara umum, kekalahan referendum pada 5 April 1987, termotivasi atas perlunya pembatasan dalam menentukan proporsi populasi asing di Swiss, dengan tujuan untuk melindungi nilai tradisional Swiss dan kebanggaan rakyat Swiss atas nilai tersebut, adanya ketakutan akan kehilangan status sosial, dan populasi berlebih yang dikhawatirkan berdampak pada hilangnya konstruksi identitas Swiss.

2.3.2.2 Dinamika Netralitas Swiss dalam Integrasi Eropa dan Internasional Konsep Netralitas, kemudian menjadi faktor utama dalam penolakan Swiss terhadap Treaty of Rome (1957). Penolakan tersebut beralasan karena sebuah aksesi dan integrasi secara politis oleh suatu organisasi tidak hanya bertentangan dengan tradisi konsepsi netralitas Swiss tetapi juga akan menimbulkan kekacauan yang mengancam kedaulatan dan kemerdekaan Swiss. Faktor ini lah yang kemudian mendorong Swiss untuk bertolak dan justru bergabung dengan Inggris, beserta dengan Denmark, Portugal, Austria, Norwegia, dan Swedia untuk kemudian mendirikan European Free Trade Zone (EFTA) pada tahun 1960. Tujuan utama dari pembentukan EFTA adalah penghilangan hambatan perdagangan dan kerjasama ekonomi yang lebih intens bagi sesama anggota. 99 Swiss memutuskan untuk terlibat dalam EFTA, karena EFTA merupakan organisasi yang hanya bersifat teknis tanpa ada kepentingan politis dan karena Swedia dan Austria juga merupakan negara netral. Selain itu, Swiss juga membutuhkan suatu kerja sama dengan negara lain untuk memenuhi

99

Hanspeter Kriesi dan Alexander H. Trechsel, Op.Cit., hal. 173.

44

kepentingan

nasionalnya

terutama

dalam

bidang

perekonomian.

Dalam

perkembangannya, pada tahun 1972 Swiss beserta dengan negara-negara EFTA bergabung dengan Free Trade Agreements dari European Community (EC), dimana dalam perjanjian ini Swiss menyetujui untuk masuk ke dalam wilayah perdagangan bebas yang disertai dengan penghilangan penghambat perdagangan dan kuota, untuk lebih meningkatkan kekuatan perekonomian. 100 Swiss menyetujui proses ini setelah melalui proses perdebatan yang panjang dalam parlemen dan popular vote dengan tingkat persentase sejumlah 72,5%, dengan catatan bahwa kerja sama yang terjadi hanya dalam ranah perekonomian dan perdagangan saja dan netralitas Swiss harus dapat dijaga. 101 Kemudian, dalam Tabel 2.1 dapat dilihat bagaimana referendum yang dilakukan Swiss terkait dengan Uni Eropa. Tabel 2.1 Referendum yang terkait dengan Uni Eropa

sumber: Alexander H. Trechsel, “Direct Democracy and European Integration: a Limited Obstacle?” dalam Clive H Church, Switzerland and the European Union, a Close, Contradictory and Misunderstood Relationship (New York: Routledge, 2007), hal. 39.

dalam tabel tersebut, dapat dilihat bahwa publik Swiss menolak untuk bergabung ke dalam European Economic Area (EEA) pada Desember 1992, dalam
100 101

“Bilateral Agreement Switzerland-EU,” Loc.Cit. Daniele Ganser dan Georg Kreis, Op.Cit., hal. 57.

45

referendum negosiasi untuk bergabung ke dalam Uni Eropa pada Juni 1997, dan dalam referendum pembukaan negosiasi keanggotaan Uni Eropa pada Maret 2001. 102 Penolakan publik Swiss terhadap referendum didasari karena Uni Eropa merupakan sebuah institusi atau organisasi dalam kawasan Eropa yang bersifat politis, yang bertujuan untuk menciptakan satu Eropa melalui berbagai macam integrasi yang akan mengorbankan sebagian dari kedaulatan negara anggotanya. Oleh karena itu, integrasi Swiss sebagai sebuah negara berdaulat ke dalam Uni Eropa, dianggap publik Swiss sebagai suatu ancaman terhadap kedaulatan dan identitas nasional Swiss. Meskipun publik Swiss menolak untuk berintegrasi dengan Uni Eropa, tetapi Swiss tetap melakukan kerjasama dengan Uni Eropa melalui Bilateral Agreements I (2000) dan II (2005), yang disetujui oleh publik Swiss dalam referendum. Dimana dalam Bilateral Agreements II, Swiss berpartisipasi dalam Schengen Treaty dan Dublin Convention. Dalam referendum Schengen Treaty pada tahun 2005, pemerintah mendapatkan dukungan dalam mayoritas ganda, yaitu dari rakyat dan kanton, dengan 54,6% suara rakyat Swiss dan 14 kanton. Sehingga secara otomatis, referendum diterima dan Swiss kemudian tergabung dalam Schengen Area, sesuai dengan ketentuan dalam Schengen Treaty. Oleh karena itu, meskipun Swiss tidak terintegrasi sebagai anggota resmi dari Uni Eropa secara holistik, tetapi Swiss terintegrasi secara parsial. Kondisi demikian, menyatakan bahwa terdapat perubahan dalam konstruksi identitas nasional Swiss. Netralitas Swiss menjadi lebih lunak dan adanya penerimaan dan

102

“Bilateral Agreement Switzerland-EU,” Loc.Cit.

46

toleransi terhadap warga Eropa.

Secara umum, Swiss memiliki latar belakang historis yang panjang dan kompleks. Dimana dalam setiap fase historis memiliki karakteristik yang berbeda, dan setiap fase tersebut sangat berpengaruh dalam pembentukan karakteristik, konstelasi, dan posisi Swiss sebagai sebuah kesatuan kedaulatan hingga saat ini. Kemudian, dinamika yang terjadi dalam setiap fase tersebut dapat menjadi bahan acuan dalam melakukan kajian terhadap konstruksi identitas Swiss dan perubahan konstruksi identitas Swiss yang terjadi.

47

BAB 3 SISTEM PEMERINTAHAN DAN POLITIK SWISS: FEDERALISME, DIRECT DEMOCRACY, DAN REFERENDUM SEBAGAI PROSES PEMBENTUKAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI SWISS

Swiss merupakan sebuah negara dengan sistem federal dan Swiss mengembangkan pemerintahan yang berbeda dalam berbagai aspek dengan demokrasi negara-negara Eropa Barat lainnya. Swiss mengkombinasikan elemen parlementer dengan demokrasi presidensiil, dan juga menggunakan sistem representatif dan hak pilih populer. 103 Sistem pemerintahan dan politik Swiss mengadopsi nilai-nilai federalisme dan demokrasi, dimana federalisme menjamin jumlah representasi yang sama pada setiap kanton dalam konfederasi, sementara demokrasi menuntut akan adanya representasi yang sama untuk setiap individu. Sistem yang demikian merupakan sistem yang tepat di dalam mengakomodir kebutuhan berpolitik dari karakteristik multikultural dan netralitas Swiss, serta sistem ini juga sangat mendukung bentuk pemerintahan sebuah negara konfederasi yang terdiri dari 26 kanton, dimana setiap kanton mendapatkan otoritas dan kedaulatan atas kantonnya masing-masing. Bab ini merupakan bab yang berisi tentang sistem pemerintahan dan sistem politik Swiss, dengan tujuan untuk dapat mengetahui bagaimana netralitas sebagai identitas nasional Swiss dibentuk, dikembangkan, serta dijaga oleh sistem yang berlaku dalam negara konfederasi Swiss. Oleh karena itu, bab ini terfokus
René Rhinow dan Annemarie Huber-Hotz, “The Future of the Political System,” dalam Rolf Kieser dan Kurt R. Spillmann, The New Switzerland: Problems & Policies (California: The Society for the Promotion of Science and Scholarship, Inc., 1995), hal. 16.
103

48

pada pembahasan mengenai federalisme, direct democracy (demokrasi langsung), dan referendum sebagai sebuah proses pembentukan suatu kebijakan luar negeri Swiss.

3.1 Sistem Federalisme 3.3.1 Interpretasi dan Implemetasi Federalisme Swiss Swiss merupakan sebuah negara konfederasi yang terdiri dari negaranegara bagian atau kanton yang berdaulat dengan karakteristik multilingual dan multikultural. Federalisme Swiss dianggap dan diakui sebagai suatu bentuk pemisahan atas kekuasaan yang bertujuan untuk mempertahankan perbedaan dan untuk melindungi politik, kultural, bahasa, dan regional dari minoritas. Dalam hal ini, federalisme Swiss mengarah pada suatu sistem yang terintegrasi dan bersatu, akan tetapi pada sisi yang lain juga sekaligus mempertahankan otonomi dan perbedaan. 104 Prinsip federalisme Swiss dioperasionalkan melalui tiga unit sosial politik atau level pemerintahan, yaitu Communes, Kanton, dan Konfederasi, dengan serangkaian mekanisme dan pola perilaku yang menghubungkan mereka dan meregulasikan interaksi yang berlangsung. 105

3.1.1.1 Communes Communes merupakan unit sosial politik terkecil dari Swiss yang diketahui dan diakui sebagai korporasi publik dengan otoritas tidak terpusat atas

Ibid., hal. 27. Paolo Dardanelli, “Federalism: Institutional Adaptation and Symbolic Constraints” dalam Clive H Church, Switzerland and the European Union, a Close, Contradictory and Misunderstood Relationship (New York: Routledge, 2007), hal. 19.
105

104

49

wilayah teritorialnya. 106 Communes memiliki pemerintahan sendiri dengan otoritas tidak tertulis dalam konstitusi, secara umum otonomi communes meliputi, hak dan kebebasan untuk membentuk pemerintahan lokal termasuk dalam merger antara satu communes dengan yang lain, hak untuk menentukan pajak sesuai dengan kebutuhan, dan kebebasan aksi atas persoalan yang bukan merupakan kompetensi dari kanton maupun konfederasi. Tugas dan kewajiban communes tidak hanya melingkupi cakupan lokal Swiss saja, tetapi juga dalam level kanton dan konfederasi. 107 Tugas dalam level lokal meliputi registrasi pemukiman dan pemilih (voter), melakukan pemilihan lokal, dan administrasi dan menyediakan pelayanan publik. Kemudian, dalam level kanton dan konfederasi tugas communes meliputi pengumpulan dan pembagian pajak, dan distribusi informasi dan manajemen pemilihan dalam level kanton maupun konfederasi.

3.1.1.2 Kanton Unit sosial politik selanjutnya adalah negara bagian yang disebut sebagai kanton. Kanton merupakan bentuk original Swiss, dimana Swiss secara resmi terbentuk dari integrasi dan unifikasi kanton-kanton pada tahun 1848. Kedaulatan yang dimiliki oleh kanton sudah merupakan hak otoritas yang dimiliki oleh setiap kanton sejak berdirinya Negara Konfederasi Swiss. Kanton tidak hanya memiliki kedaulatan dan otoritas atas teritorinya, tetapi juga memiliki institusi politik, sejarah, dan identitasnya sendiri. 108 Terdapat 26 kanton 109 dengan

106

Jeanmaire dan Michel AG, The Swiss Confederation Brief Guide 2010 (Bern: Information Services of the Federal Chancellery, the Departments and Parliamentary Services, 2010), hal. 14. 107 Ibid., hal. 69. 108 Oswald Sigg, Political Switzerland (Zurich: Pro Helvetica, 1997), hal. 14.

50

perbedaan ukuran, demografi, kultural, dan bahasa, akan tetapi, dibawah konstitusi federal, setiap kanton memiliki hak yang sama. Dalam unifikasi, setiap kanton menyerahkan sebagian dari kebebasan dan kedaulatannya kepada pemerintah konfederasi, meskipun demikian, kanton memiliki hak dan kuasa penuh yang diatur dalam konstitusi federal untuk mengatur kantonnya sendiri. Kanton dalam Konfederasi Swiss memiliki hak konstitusi yang sangat luas dan merupakan arena signifikan dalam aksi politik Swiss. 110 Faktor ini yang kemudian mempengaruhi proses adopsi sistem federalisme ke dalam pemerintahan Swiss, dengan tujuan untuk dapat menciptakan keharmonisan secara politik atas integrasi dalam konfederasi.

3.1.1.3 Konfederasi Konfederasi merupakan unit sosial politik dan level pemerintahan berdaulat tertinggi dari Swiss. Meskipun kekuasaan konfederasi terbatasi oleh kekuasaan kantonal yang terlindungi dalam konstitusi, konfederasi memiliki kekuasaan dan pengaruh yang signifikan. Konfederasi, memiliki tujuan untuk melindungi kebebasan dan hak individu dari publik Swiss, melindungi kemerdekaan dan keamanan negara dan untuk mempromosikan kesejahteraan bersama, pengembangan yang berkelanjutan, kohesi internal, dan perbedaan

Negara Konfederasi Swiss terdiri dari 26 Kanton, sesuai dengan Artikel I dalam Konstitusi Federal, yang menyatakan “The Swiss people and the cantons of Zurich, Bern, Lucerne, Uri, Schwyz, Obwalden and Nidwalden, Glarus, Zug, Fribourg, Solothurn, Basel-Stadt and BaselLandschaft, Schaffhausen, Appenzell-Auserhoden and Appenzel-Innerhoden, St. Gallen, Graubünden, Aargau, Thurgau, Ticino, Vaud, Valais, Neuchâtel, Geneva, and Jura, constitute the Swiss Confederation“ dapat dilihat dalam Leo Schelbert, Op.Cit., hal. 60. 110 Ibid., hal. 61.

109

51

kultural 111. Dalam Negara Konfederasi Swisss, baik parlemen maupun pemerintah (eksekutif) terbentuk melalui dan sangat dipengaruhi oleh konstruksi federatif dan demokrasi.

3.1.1.3.1

Parlemen (Legislatif) Kekuasaan tertinggi dalam Negara Konfederasi Swiss terdapat dalam

Federal Assembly (Majelis Federal), yang memiliki dua badan dengan kekuasaan yang sama, 112 yaitu National Council (Dewan Nasional) yang merepresentasikan rakyat Swiss dan Council of States (Dewan Negara) yang merepresentasikan kepentingan kantonal. National Council terdiri dari 200 anggota yang terpilih dari kanton berdasarkan ukuran dan jumlah populasi kanton, sementara Council of States terdiri dari 46 anggota. 113 Federal Assembly, tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan akhir, karena hukum, kebijakan, dan setiap keputusan merupakan subyek untuk diputuskan dalam referendum. Meskipun demikian, Federal Assembly telah memperkuat posisi konstitusionalnya melalui partisipasi aktif dalam proses legislatif, pengawasan dengan ketat terhadap pemerintah dan administrasi, meningkatkan kerjasama dalam kebijakan luar negeri, perluasan dalam pelayanan parlementer, dan prosedur efektif lainnya. 114

Eva Maria Belser, “Transboundary Local Governance in Switzerland” dalam Bertus De Villiers, Crossing the Line: Dealing with Cross-Border Communities (Johannesburg: KonradAdenauer-Stiftung, 2009), hal. 109. 112 Oswald Sigg, Op.Cit., hal. 28. 113 Setiap kanton, dalam Council of States memiliki dua representatif, kecuali untuk setengahkanton (half canton), yaitu satu kanton yang terbagi ke dalam dua pemerntahan dan administrasi kantonal, yaitu Obwalden dan Nidwalden, Basel-Stadt dan Basel-Landschaft, dan AppenzellAuserhoden dan Appenzel-Innerhoden, dimana masing-masing hanya memiliki satu representatif dalam Council of States. dapat dilihat dalam Leo Schelbert, Op.Cit., hal. 60. 114 René Rhinow dan Annemarie Huber-Hotz, Op.Cit., hal. 17.

111

52

3.1.1.3.2

Pemerintah (Eksekutif) Pemerintah dalam Negara Konfederasi Swiss disebut sebagai Federal

Council (Dewan Federal), yang merupakan sebuah badan kolektif yang terdiri dari tujuh anggota dengan hak-hak yang sama dengan seorang Presiden yang dipilih dari anggota, dimana setiap anggota dipilih oleh Federal Assembly. 115 Anggota dari Federal Council memenuhi dua fungsi, sebagai anggota dari dewan. Mereka bersama-sama bertanggung jawab atas pemerintahan Konfederasi dengan mendukung setiap keputusannya. Setiap anggota masing-masing mengepalai tujuh departemen. 116 Oleh karena itu, setiap anggota juga bertanggung jawab di dalam memimpin setiap departemen dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaannya, termasuk dalam merepresentasikannya dalam persoalan spesifik pada Federal Council, Parlemen, publik, dan media.

3.1.1.4 Pola Relasional antar Unit Sosial Politik Swiss dalam Federalisme Hubungan dan pembagian kekuasaan diantara ketiga level

pemerintahan, terutama antara pemerintahan konfederasi dengan kantonal diatur dalam konstitusi federal. Termasuk dalam keputusan Swiss untuk mengadopsi sistem federalisme dengan memberikan otonomi kepada pemerintah dalam level kantonal. Otonomi kantonal diberikan secara ekstensif untuk menghindari adanya kemungkinan pertumbuhan kekuasaan federasi yang tidak terkontrol. Artikel 3 Konstitusi Federal, mengatakan bahwa setiap kekuasaan harus dan dapat
Ibid., hal. 19. Departemen dalam Federal Council adalah Departemen Luar Negeri, Departemen Urusan Dalam Negeri, Departemen Keadilan dan Kepolisian, Departemen Militer, Departemen Keuangan, Departemen Ekonomi Publik, dan Departemen Transportasi dan Energi. dapat dilihat dalam Oswald Sigg, Op.Cit., hal. 33-35.
116 115

53

diberikan kepada kanton, kecuali apabila penduduk Swiss dan kanton memutuskan konfederasi. 117 Artikel 3, mendefinisikan area dari kedaulatan kantonal dan adanya pemisahan otoritas secara vertikal dengan jelas antara konfederasi dengan kanton. Terdapat dua alasan mengenai arti penting dari Artikel 3 tersebut, yaitu menghindari kemungkinan asumsi kekuasaan baru tanpa melalui perubahan konstitusi dan terdapat suatu prosedur yang berupa mekanisme direct democracy (demokrasi langsung). Kemudian, dalam pemisahan otoritas antara konfederasi dengan kanton, implementasi kebijakan dilimpahkan kepada kanton dan juga communes. Secara umum, kanton bertanggung jawab atas kebijakan-kebijakan pendidikan, kesejahteraan sosial, kebudayaan dan lain-lain atas kantonnya masing-masing. Sedangkan konfederasi bertanggung jawab atas hubungan dan kebijakan luar negeri, sesuai dengan Artikel 54 dari Konstitusi Federal. Sistem federalisme ini adalah sistem yang didesain untuk stabilitas, berkelanjutan, dan keseimbangan antara berbagai kepentingan minoritas dalam negara. bahwa melalui amandemen konstitusi, dilimpahkan pada

3.2 Direct Democracy (Demokrasi Langsung) Institusi sistem politik Swiss yang paling krusial adalah direct democracy atau demokrasi langsung. Sebagai sebuah institusi sistem politik, direct democracy, menjadi sebuah alat pendukung sistem yang sangat signifikan, dimana memiliki kemampuan untuk mempengaruhi level kompetisi dan

117

Wolf Linder, Op.Cit., hal. 42.

54

kerjasama partai politik, pemerintah, Parlemen, proses legislatif, dan terutama mempengaruhi proses pembentukan kebijakan dalam semua level pada Negara Konfederasi Swiss. 118 Secara umum, direct democracy memberikan kesempatan bagi individu warga negara untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan politik negaranya. Direct democracy memiliki perbedaan mendasar dengan model demokrasi representatif yang umum dipergunakan negara-negara demokrasi dalam era kontemporer. 119 Demokrasi representatif, mempromosikan suatu bentuk pemerintahan dimana pemerintah dan parlemen dipilih dan ditentukan oleh rakyat, dan yang kemudian akan memiliki hak kekuasaan dalam pemerintahan sebagai representasi atau perwakilan dari rakyat atau dari suara mayoritas. Sementara itu, demokrasi dalam Swiss lebih dari itu, tidak cukup hanya mengadopsi premis ’pemerintah dari dan untuk rakyat’, tetapi juga ’pemerintah melalui rakyat’. Demokrasi Swiss, menuntut akan adanya kontrol secara langsung terhadap keputusan dan kebijakan pemerintah melalui referendum, dan partisipasi aktif rakyat dalam pembuatan hukum melalui inisiatif. Dorongan atas direct democracy muncul sebagai akibat akan adanya suatu keinginan atas suatu kebebasan sosial dalam tatanan masyarakat, atas apa yang terjadi dalam lingkup sosial rakyat dan akan adanya kebutuhan untuk melakukan suatu perubahan sosial. 120 Dengan demikian, di dalam kedaulatan yang dimiliki oleh rakyat, keputusan dari rakyat dilihat sebagai suatu bentuk demokrasi yang paling murni, karena rakyat dapat menentukan secara langsung keputusan mereka. Keputusan rakyat tersebut
118 119

Alexander H. Trechsel, hal. Op.Cit., 36. Wolf Linder, Op.Cit., hal. 89. 120 Ibid., hal. 89.

55

merupakan suatu bentuk legitimasi yang tertinggi, sementara pemerintah mewakili suatu bentuk demokrasi yang tidak langsung. Direct democracy menjadi suatu alat yang sangat penting untuk proses pembelajaran sosial yang menstimulan kesadaran masyarakat untuk berpolitik dan mampu untuk menghadapi kompleksitas politik. Terdapat tiga instrumen yang membentuk direct democracy Swiss, 121 pertama adalah pemilihan populer (popular vote) atau referendum wajib (compulsory referendum), yaitu merupakan suatu referendum atas isu-isu seperti amandemen atas Konstitusi Federal atau keputusan atas suatu kebijakan luar negeri yang menyangkut kehidupan sosial politik Swiss, keputusan referendum akan diserahkan kepada rakyat Swiss dan Kanton melalui Council of the States dalam sistem mayoritas ganda. 122 Kedua adalah referendum opsional (optional referendum), yaitu suatu referendum yang dapat mengkonfirmasikan atau membuat tidak valid suatu hukum federal yang kontroversial. Referendum operasional dapat muncul ketika suatu hukum dikeluarkan oleh parlemen, dan terdapat tanda tangan dari 50.000 penduduk Swiss yang memiliki hak untuk memilih yang terkumpulkan dalam jangka waktu 90 hari untuk meminta diadakannya suatu referendum wajib atas hukum terkait. Instrumen ketiga adalah inisiatif populer (popular inisiative), yang diajukan untuk mengamandemen atau menghilangkan suatu Artikel dalam Konstitusi Federal, atau memperkenalkan

Oswald Sigg, Op.Cit., hal. 24. Sistem mayoritas ganda merupakan salah satu sistem dalam pelaksanaan referendum di Negara Konfederasi Swiss, sistem mayoritas ganda membutuhkan suara mayoritas dari suara rakyat Swiss dan mayoritas dari suara kanton, setidaknya dibutuhkan setengah dari kanton. Sementara sistem mayoritas tunggal hanya membutuhkan mayoritas dari suara yang diberikan rakyat. dapat dilihat dalam Hanspeter Kriesi dan Alexander H. Trechsel, Op.Cit., hal. 51.
122

121

56

sesuatu yang baru. Inisiatif populer dapat dikatakan valid ketika terdapat 100.000 tanda tangan rakyat Swiss yang harus terkumpulkan dalam jangka waktu 18 bulan dan diserahkan pada Federal Chancery, yang merupakan kantor dari Federal Council, inisiatif populer juga menggunakan sistem mayoritas ganda. Instrumeninstrumen krusial dalam direct democracy, memungkinkan rakyat Swiss untuk mendiskusikan dan meregulasikan isu-isu sosial dan politik dalam level konstitusional tanpa adanya intervensi dari pemerintah (eksekutif) maupun dari parlemen. Meskipun rakyat Swiss, baik dalam level communes, kanton, dan konfederasi, terlibat dalam proses berpolitik dan pembentukan kebijakan Swiss, Swiss menyadari bahwa pemerintah melalui rakyat tidak dimungkinkan untuk diaplikasikan dalam setiap keputusan. Oleh karena itu, untuk mengakomodasikan kepentingan dan keinginan rakyat untuk berpartisipasi dalam keputusankeputusan yang penting, maka Demokrasi Swiss menuntut bahwa rakyat harus dilibatkan dalam partisipasi politik untuk keputusan-keputusan yang penting, dan bahwa harus adanya suatu perjanjian antara pemegang otoritas, yaitu Pemerintah Konfederasi dan rakyat Swiss dalam setiap isu penting. Hal ini kemudian menuju pada sebuah konsep dalam sistem konstitusional yang membagi partisipasi rakyat dalam kehidupan politik berdasarkan tingkat kepentingan (lihat Tabel 3.1).

57

Tabel 3.1 Skema Konseptual: Pemilihan Institusional Isu Direct Democracy dalam Level Konfederasi Isu Bentuk Pemegang Bentuk Partisipasi Hukum Sangat penting Amandemen Konstitusi Penting Kurang Penting Hukum Umum Regulasi Parlemen Parlemen Eksekutif Otoritas Parlemen Rakyat Inisiatif, (wajib) Referendum (opsional) --Referendum

sumber: Wolf Linder, Swiss Democracy: Possible Solutions to Conflict in Multicultural Societies (New York: Palgrave Macmillan, 1998), hal. 90.

Berdasarkan Tabel 3.1, terdapat tiga tingkat kepentingan isu, yaitu isu sangat penting yang merupakan isu terkait dengan Konstitusi, dalam isu ini rakyat akan selalu berpartisipasi dalam inisiatif atau melalui referendum wajib. Kemudian, isu penting merupakan hukum dan regulasi umum dari parlemen, dimana rakyat berpartisipasi dalam referendum opsional. Sementara dalam isu yang kurang penting, berupa regulasi simpel atau peraturan pemerintah, akan ditentukan sendiri oleh pemerintah atau parlemen. Dalam Tabel 3.2 dan 3.3 dapat terlihat bagaimana pendapat publik Swiss terkait dengan diberlakukannya sistem direct democracy dalam sistem pemerintahan Swiss. 123

Berdasarkan opini publik Swiss yang dikonduksikan oleh Eurobarometer, yaitu merupakan badan survey dari European Commission yang bekerja sama dengan Swiss Foundation for Social Research (FORS).

123

58

Kategori Sangat Penting Agak Penting

Tabel 3.2 Nilai Penting Direct Democracy (%) 1999 2000 2001 2002 53,3 34,4 9,9 2,4 0 59,0 35,0 5,7 0,3 0 60,6 33,1 5,1 1,1 0 66,3 30,6 3,0 0,1 0

2003 64,8 31,0 3,9 0,3 0

Agak Tidak Penting Sangat Tidak Penting Tidak Tahu

sumber: Eurobarometer Survey 1999-2003 ”Importance de la Démocratie Directe” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011.

Kategori

Tabel 3.2 Kebanggaan terhadap Direct Democracy (%) 1999 2000 2001 2002 37,1 47,0 13,3 2,6 0 42,7 46,2 9,1 2,0 0 44,4 46,4 7,0 2,3 0 46,7 46,8 5,4 1,0 0

2003 43,2 47,9 7,6 1,3 0

Sangat Bangga Agak Bangga Agak Tidak Bangga Sangat Tidak Bangga Tidak Tahu

sumber: Eurobarometer Survey 1999-2003 ”Fierté de la Démocratie Directe” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011.

Terlihat dalam kedua tabel tersebut bahwa rakyat Swiss menganggap bahwa direct democracy sangat penting dan terdapat rasa bangga terhadap adanya direct democracy dalam sistem pemerintahan Swiss.

3.3 Referendum sebagai Proses Pembentukan Kebijakan Luar Negeri Proses yang berlangsung di dalam pembentukan kebijakan luar negeri Swiss, merupakan suatu proses yang rumit dan membutuhkan waktu yang panjang. Proses pembentukan kebijakan dilakukan berdasarkan konsensus yang

59

tidak hanya berada di tangan elit politik dalam level eksekutif Swiss saja, tetapi juga terdapat keterlibatan rakyat Swiss secara langsung dalam proses pembentukan kebijakan, melalui referendum. Secara umum, kebijakan luar negeri Swiss merupakan tanggung jawab dari Federal Council, dimana Federal Council memiliki otoritas untuk memformulasikan kebijakan luar negeri dan memberikan tanggapan berupa suatu reaksi atas isu-isu internasional. 124 Federal Council, dalam otoritas eksklusifnya, berperan untuk menetapkan agenda setting atas isu-isu kebijakan luar negeri. Kemudian, beserta dengan agensi-agensi administrasinya membentuk proposal kebijakan luar negeri yang akan diajukan dalam preferensi-preferensi untuk referendum. Dalam proses perumusan proposal tersebut, pemerintah

menempatkan partai, kelompok kepentingan, dan kanton, sebagai komponen perumusan yang berperan dalam proses konsultasi. Proses konsultasi ini menjadi penting karena proposal akan diajukan dalam referendum yang dilakukan oleh rakyat Swiss, sehingga dalam proses Federal Council diharuskan untuk mendengar dan merespon setiap kepentingan dalam cakupan yang luas. 125 Dalam perumusan proposal, parlemen Swiss, baik National Council maupun Council of States, berperan di dalam memberikan masukan yang berupa rekomendasi umum, untuk kemudian diproses oleh Federal Council. Setelah proposal kebijakan luar negeri dihasilkan, proposal akan dipertimbangkan, dimodifikasi, dan kemudian melalui proses pemilihan dalam parlemen akan

124 125

Laurent Goetschel, Magdalena Bernath, dan Daniel Schwarz, Op.Cit., hal. 48. Ibid., hal. 50.

60

dihasilkan proposal kebijakan luar negeri akhir. 126 Sebelum referendum dilangsungkan, setiap preferensi atas proposal akan diberikan dan dijelaskan kepada rakyat Swiss oleh pemerintah. Dalam proses kampanye ini, pemilih yang merupakan rakyat Swiss akan mendapatkan berbagai informasi dan pengaruh dalam pembentukan opini atas kasus terkait, baik oleh pemerintah, partai politik, kelompok kepentingan, maupun media. 127 Pemerintah, berupaya untuk

membentuk opini publik dengan menggunakan partai politik dan kelompok kepentingan pendukung serta media, agar rakyat Swiss memilih preferensi referendum sesuai dengan harapan pemerintah. Pemerintah juga akan

menggunakan para ahli dalam isu terkait untuk mengadakan dialog-dialog interaktif dengan publik Swiss. Meskipun demikian, partai politik dan kelompok kepentingan yang berseberangan dengan preferensi referendum yang diajukan akan melakukan upaya sebaliknya. Peranan partai politik relatif kecil di dalam proses pembentukan kebijakan luar negeri Swiss. Partai politik, secara umum berfungsi di dalam mendukung parlemen dan pembentukan opini publik dalam kampanye referendum. 128 Partai politik Swiss merupakan organisasi yang lemah dalam level nasional, karena lemahnya kemampuan finansial partai, kurangnya akses informasi, dan tidak memiliki jaringan internasional yang kuat. Oleh karena itu, peranan partai dalam kampanye menjadi terbatas. Partai lebih memilih untuk melakukan diskusi-diskusi publik mengenai isu terkait sebelum dilaksanakannya referendum, daripada dengan kampanye melalui media. Berbeda dengan
126 127

René Rhinow dan Annemarie Huber-Hotz, Op.Cit., hal. 21. Hanspeter Kriesi dan Alexander H. Trechsel, Op.Cit., hal. 63. 128 Laurent Goetschel, Magdalena Bernath, dan Daniel Schwarz, Op.Cit., hal. 52.

61

kelompok kepentingan, yang pada umumnya berupa asosiasi. Asosiasi di Swiss, memiliki kepentingan-kepentingan tersendiri dalam pembentukan kebijakan luar negeri Swiss dan memiliki pengaruh yang cukup signifikan di dalam pembentukan opini publik. 129 Asosiasi memiliki posisi yang cukup kuat dalam legitimasi proses pembuatan kebijakan luar negeri Swiss, hal ini terkait dengan basis keanggotaan yang kuat dan solid, pendanaan asosiasi yang kuat, dan jaringan yang luas dan berkelanjutan yang dimiliki dalam level internasional. Pada umumnya, asosiasi akan membawa kepentingannya dalam proses referendum, dan akan membentuk opini publik melalui anggotanya dan media. Media, dalam proses pembentukan kebijakan luar negeri terutama dalam kampanye referendum, memegang peranan yang sentral. Media memegang kontrol atas pembuat kebijakan dengan menentukan informasi apa yang akan disampaikan dan bagaimana penyampaiannya. 130 Media akan memberikan informasi terkait dengan isu dan merefleksikan opini rakyat, sekaligus mengarahkan dan membentuk opini publik. Dengan kata lain, media Swiss tidak hanya melakukan investigasi dan analisis terhadap pendapat rakyat Swiss dan menginformasikan pendapat pemerintah dan lawannya terkait dengan isu kebijakan dalam referendum, tetapi juga memberikan pandangan media atas isu tersebut. Kemudian, elemen yang juga harus diperhitungkan dalam pembentukan opini publik adalah melalui propaganda. Propaganda tidak harus memberikan seluruh kebenaran atas isu terkait, akan tetapi propaganda melalui media memiliki

129 130

Ibid., hal. 54. Ibid., hal. 56.

62

efek yang sangat besar, 131 karena propaganda lebih mudah untuk diingat sehingga lebih mudah di dalam pembentukan opini publik. Rakyat Swiss, di dalam pembentukan opini mengenai preferensi referendum kebijakan luar negeri yang diajukan, akan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. Kemudian hasil dari pembentukan opini tersebut merupakan faktor determinan dalam bagaimana hasil dari referendum. Referendum, apapun hasilnya, merupakan tahapan yang mengintervensi suatu hasil akhir dari rangkaian proses pembentukan kebijakan luar negeri Swiss, atau paling tidak akhir dari proses direct democracy yang diadopsi dalam sistem pemerintahan dan politik Swiss. Kemudian, untuk dapat melihat dengan jelas bagaimana suatu proses pembentukan kebijakan luar negeri Swiss berlangsung dapat melihat ringkasan dalam diagram berikut:

131

Wolf Linder, Op.Cit., hal. 109.

63

Inisiatif Populer

Usulan Parlemen Proposal: Proyek baru atau revisi kebijakan luar negeri Draf Awal

Implementasi Kebijakan Luar Negeri Federal Council Pengesahan Hasil Referendum

Proses Negosiasi: Melalui para ahli

Prosedur Konsultasi: Dengan partai politik, kelompok kepentingan, kanton

Referendum Disetujui Proyek Kebijakan Luar Negeri: Hasil proses pra-parlementer

Referendum: Sistem mayoritas ganda

Referendum Ditolak

Proses Pra-Referendum II: Penerimaan dan pengolahan informasi oleh rakyat Swiss Proses Pra-Referendum I: Peranan Pemerintah, partai politik, kelompok kepentingan, kanton, media Partisipasi Rakyat: Referendum, Inisiatif Populer

Proses Parlementer: Pertimbangan, modifikasi, dan pemilihan final

Proposal Kebijakan Luar Negeri Akhir

Prosedur Parlementer: National Council dan Council of States

Diagram 3.1 Proses Pembentukan Kebijakan Luar Negeri

3.3.1

Impementasi Referendum sebagai Proses Pembentukan Kebijakan Luar Negeri: Penolakan Referendum Integrasi ke dalam EEA Referendum, sebagai instrumen direct democracy Swiss yang

memegang peranan dalam pembentukan maupun dalam memveto suatu kebijakan luar negeri, merupakan instrumen politik terpenting di dalam menjaga konstruksi

64

netralitas Swiss. Referendum merupakan suatu simbol, baik bagi rakyat maupun kanton Swiss, atas demokrasi dalam berpolitik. Melalui referendum, rakyat dan kanton Swiss dapat mengontrol dan melindungi kehidupan sosial, baik secara parsial maupun holistik, dari kebijakan Negara Konfederasi Swiss. Bentuk kontrol dan perlindungan rakyat Swiss atas konstruksi netralitas, dapat terlihat melalui referendum pada kebijakan Negara Konfederasi Swiss untuk melakukan integrasi ke dalam European Economic Area (EEA) pada tahun 1992. EEA merupakan suatu perjanjian ekonomi di dalam tubuh European Community (EC), yang menawarkan suatu pasar bersama (common market), yang berdasarkan pada empat kebebasan fundamental, yaitu pergerakan bebas atas barang, pelayanan, orang, dan modal), yang dijamin oleh perjanjian EC. 132 Pemerintah Konfederasi, mengindikasikan akan kertetarikan Swiss untuk bergabung dalam EEA, sehingga pada 2 Mei 1992, Pemerintah Konfederasi melakukan penandatangan terhadap Perjanjian EEA. Pemerintah Konfederasi kemudian mengajukan pembukaan negosiasi untuk bergabung dalam EC. Meskipun demikian, keputusan Pemerintah Konfederasi tersebut dapat

dilaksanakan setelah melalui referendum pada rakyat dan kanton Swiss, sehingga diputuskan untuk diadakan referendum wajib pada 6 Desember 1992. Pemerintah Konfederasi melalui Federal Council, mengeluarkan pernyataan bahwa Perjanjian EEA merupakan langkah awal dari tujuan utama, yaitu kebijakan integrasi Swiss ke dalam EC. Pernyataan tersebut dimanfaatkan oleh pihak oposisi kebijakan Pemerintah Konfederasi di dalam kampanye

132

Hanspeter Kriesi dan Alexander H. Trechsel, Op.Cit., hal. 175.

65

referendum. Kampanye referendum dimulai pada bulan Juli 1992 oleh Partai Rakyat Swiss atau Swiss People’s Party (SPV) yang mendeklarasikan sebagai pihak oposisi, yang menentang integrasi Swiss ke dalam EEA. 133 SPV beserta kelompok-kelompok kepentingan, mendapatkan dukungan dari Association for the Neutral and Independent Switzerland (AUNS) dan sejumlah partai sayap kanan, partai sayap kiri, dan pergerakan-pergerakan. Dalam proses kampanye, pihak oposisi memanfaatkan deklarasi Pemerintah Konfederasi untuk masuk dan bergabung dalam EC, dengan menggunakan propaganda bahwa proses integrasi tersebut akan mereduksi kedaulatan Swiss, baik dalam level konfederasi, kanton, dan communes, yang secara langsung akan berpengaruh dalam kehidupan sosial politik rakyat Swiss secara holistik, termasuk dalam hak dalam proses direct democracy. 134 Propaganda tersebut menghasilkan opini publik bahwa Perjanjian EEA bukan merupakan perjanjian ekonomi biasa, tetapi lebih sebagai sebuah penghubung Swiss ke dalam EC dengan konsekuensi, ekonomi dan politik yang legal. 135 Oleh karena itu, kemudian rakyat dan kanton Swiss harus melindungi konstruksi identitasnya, yaitu netralitas, dan menimbulkan pandangan skeptis terhadap pemerintah dimana rakyat Swiss merasa tidak terwakilkan dalam keputusan kebijakan luar negeri yang diajukan oleh Federal Council. Hal ini berakibat, dalam referendum pada tanggal 6 Desember 1992, Perjanjian EEA ditolak secara mutlak dalam sistem mayoritas ganda, dengan 50,3% suara dari

Alexander H. Trechsel, Op.Cit., hal. 42. Christoph Blocher, Ten Years After Rejecting the EEA Agreement (AUNS ASIN ASNI, 2002), hal. 6. 135 Ibid., hal. 9.
134

133

66

78,8% pemilih dari keseluruhan rakyat Swiss dengan hak pemilih dan 18 dari 26 kanton Swiss. 136

Rangkaian sistem pemerintahan, politik, dan proses pembentukan kebijakan luar negeri Swiss, merupakan suatu mekanisme instrumen politik yang unik dan rumit. Dengan hasil demikian, direct democracy menunjukkan bahwa, kekuatan tertinggi dalam pemerintahan Swiss sebenarnya terletak pada rakyat Swiss. Meskipun pemerintah Swiss memiliki pengaruh yang besar di dalam menentukan suatu keputusan, akan tetapi tidak dapat memberikan jaminan akan hasil suatu proses pembentukan kebijakan luar negeri Swiss. Hal ini juga menunjukkan bahwa antagonisme konstruksi identitas mengakar sangat dalam pada kehidupan sosial Swiss, yang kemudian dirangkaikan dengan mekanisme direct democracy yang terinstitusionalkan, menjadi faktor utama dalam kebijakan luar negeri Swiss. Dengan demikian dinamika netralitas sebagai konstruksi identitas Swiss, sangat dipengaruhi oleh rakyat Swiss yang didukung oleh sistem pemerintahan dan politik Swiss yang berlaku.

136

Alexander H. Trechsel, Op.Cit., hal. 42.

67

BAB 4 ANALISA PERUBAHAN KONSTRUKSI IDENTITAS SWISS

Bab 4, merupakan bab yang dipergunakan untuk menjelaskan dan menganalisa bagaimana perubahan konstruksi identitas Swiss, yang kemudian berpengaruh dalam netralitas kebijakan luar negeri Swiss. Perubahan yang terjadi, terkait dengan keikutsertaan Swiss dalam Schengen Treaty Uni Eropa. Kemudian, Bab 4 ini fokus dalam analisis terhadap konstruksi identitas Swiss dalam referendum Schengen Treaty tahun 2005 dengan menggunakan sintesa teori. Melalui analisis tersebut, akan dapat dilihat secara jelas bagaimana perubahan konstruksi identitas Swiss. Momentum yang dipergunakan peneliti dalam melihat perubahan yang terjadi dalam konstruksi identitas Swiss adalah pada tahun 2005, dimana publik Swiss menyetujui referendum yang bertujuan untuk integrasi ke dalam Schengen Area Uni Eropa yang berada dalam framework Schengen Treaty. Proses rekonstruksi identitas tersebut tidak terjadi pada tahun 2005, akan tetapi proses rekonstruksi telah dapat terlihat sejak tahun 1992, dalam referendum EEA Treaty. Referendum pada tahun 1992, merupakan preferensi yang diberikan pemerintah Negara Konfederasi Swiss, dalam proses rekonstruksi identitas Swiss, karena referendum tersebut bertujuan untuk integrasi ke dalam EEA yang merupakan pintu masuk Swiss sebagai anggota EFTA ke dalam integrasi Eropa dalam wadah organisasi regional Uni Eropa.

68

4.1 Netralitas sebagai National Self-Image dari Aspirasi Historis Swiss National self-image merupakan suatu kandidat identitas nasional dari aktor negara, yang memiliki nilai dan ide atas status internasional dari aktor negara tersebut berikut dengan tujuan politisnya, 137 karena national self-image terbentuk dari kebanggaan (self-esteem) aspirasi historis dari aktor, maka kemudian, harus dapat dibuktikan kesesuaian historis dari national self-image tersebut. Terkait dengan Swiss, netralitas telah menjadi national self-image, yang terkonstruksi dari aspirasi historis Swiss, seperti yang telah dijelaskan pada paparan yang terdapat di dalam Bab 2 penelitian ini. National self-image yang terbentuk adalah Swiss netral secara politik dan militer, tetapi tidak lagi secara sosial. Kemudian, Eropa dalam hal ini Uni Eropa, tidak lagi menjadi rival yang dapat mengancam konstelasi dan kehidupan sosial Swiss, tetapi justru menjadi partner Swiss di dalam kehidupan bernegara Swiss. Konstruksi national self-image yang demikian berbeda dengan identitas nasional tradisional dari Swiss, yang cenderung memberikan batasan ruang gerak sosial, untuk menghindarkan kemungkinan adanya intervensi atau pengaruh eksternal, terutama dari Eropa.

4.2 Tes Historis terhadap National Self-Image Netralitas Swiss Tes historis merupakan proses untuk membandingkan national selfimage yang ada dengan aspirasi historis, dimana legitimasi dan stabilitas status dan kondisi tersirat dari kandidat identitas nasional akan ditentukan dengan

137

Anne Clunan, Op.Cit., hal. 29.

69

memori historis yang sama atas kondisi yang terbaik dan terburuk dari masa lalu negara. 138 Tes historis, dalam pemaparan Clunan, berfungsi dan bertujuan untuk menyediakan penjelasan atas bagaimana kesesuaian dan ketepatan dari national self-image secara histroris. Oleh karena itu, terkait dengan konstruksi identitas Swiss, aspirasi historis dapat dikaji dengan melihat latar belakang historis, mulai dari asal mula kemunculan netralitas sebagai konstruksi identitas Swiss dan dinamikanya seperti yang telah dipaparkan dalam Bab 2 penelitian ini, yang kemudian dibandingkan dengan aspirasi historis masyarakat Swiss. Keterkaitan dalam tes historis, elit politik Swiss, diharuskan untuk mengkaji kembali bagaimana aksi, reaksi, dan interaksi Swiss dalam sistem berdasarkan aspek historis, sehingga akan terlihat setiap pengalaman dinamika Swiss, baik yang terjadi dalam lingkungan internal maupun eksternal Swiss. Dalam proses ini akan terlihat, aspek historis Swiss yang ditolak, dan juga sekaligus aspek historis yang merupakan kebanggaan diri Swiss, yang akan menjadi preferensi secara rasional. Seperti yang telah dipaparkan, terdapat perubahan atas national selfimage, yang telah dijadikan sebagai sebuah preferensi kandidat identitas nasional yang dominan oleh Federal Council, dalam perencanaan dan pembukaan negosiasi untuk masuk ke dalam EEA, yang merupakan langkah awal di dalam integrasi Swiss ke dalam Uni Eropa. Preferensi tersebut muncul karena adanya ketakutan pemerintah Negara Konfederasi Swiss, bahwa Swiss tidak dapat untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi negara Eropa lain yang tergabung dalam

138

Ibid., hal. 40.

70

EEA. Hal ini merupakan akibat dari posisi Swiss yang terletak di sentral Eropa dengan terbatasnya sumber daya dan energi, sehingga Swiss fokus sebagai negara industri dan bisnis yang terintegrasi secara mendalam dalam pasar bersama (common market). 139 Meskipun demikian, national self-image yang terdapat dalam preferensi yang diajukan tersebut ditolak, baik oleh aspirasi rakyat Swiss maupun kanton, dalam referendum pada tanggal 6 Desember 1992, yang ditujukan untuk berintegrasi ke dalam EEA. Penolakan rakyat Swiss dalam referendum tersebut terjadi dalam kanton-kanton yang berbahasa Jerman yang merupakan mayoritas dalam demografi Swiss. Faktor utama yang mengakibatkan penolakan tersebut adalah karakteristik yang konservatif dari kanton yang berbahasa Jerman, yang masih kental dengan xenophobia, dimana tingkat xenophobia dalam kanton tersebut jauh lebih dalam dibandingkan dengan kanton yang berbahasa Perancis. Sekali lagi, hal ini merupakan dampak dari kekalahan dalam Peperangan Marignano (1515)140 dan okupasi Perancis (1798) atas teritorial Swiss. 141 Kedua kejadian tersebut terjadi sebagai akibat dari serangan dan invasi Perancis yang dipimpin oleh Francis I dan Napoleon. Sehingga kemudian menimbulkan rasa takut kanton berbahasa Jerman terhadap Perancis, dimana Perancis menjadi salah satu negara berpengaruh dalam Uni Eropa. 142 Oleh karena faktor tersebut, referendum pada tahun 1992 gagal, dan faktor ini tidak diperhitungkan oleh pemerintah Negara

139

Sandra Lavenex, “Switzerland: Between Intergovernmental Co-operation and Schengen Association” dalam Marina Caparini dan Otwin Marenin, Borders and Security Governance. Managing Borders in a Globalised World (Geneva, LIT: 2006), hal. 236. 140 Leo Schelbert, Op.Cit., hal. lxvi. 141 Ibid., hal. lxxi. 142 Hanspeter Kriesi dan Alexander H. Trechsel, Op.Cit., hal. 177.

71

Konfederasi

Swiss

di

dalam

mengkonstruksikan

preferensi.

Kegagalan

dimungkinkan untuk terjadi karena mekanisme mayoritas ganda yang diterapkan dalam referendum Swiss, sehingga untuk integrasi ke dalam Uni Eropa diperlukan adanya suara mayoritas dari kanton juga. 143 Paska ditolaknya referendum EEA Treaty pada tahun 1992, Swiss mengalami kesulitan di dalam integrasi maupun kerja sama dengan Uni Eropa, terlebih kemudian dalam referendum pembukaan negosiasi pada tahun 1996 juga ditolak. Uni Eropa melihat bahwa pemerintah Swiss gagal di dalam mengkonduksikan preferensi national self-image kepada rakyat Swiss. Kemudian, hal ini mengakibatkan Swiss berada dalam posisi yang sulit. Situasi demikian memaksa Swiss untuk melaksanakan strategi asosiasi yang berbasis sektoral dalam perjanjian bilateral. 144 Kerja sama Bilateral I antara Swiss dengan Uni Eropa, merepresentasikan paket kontrak kerja sama yang terdiri dari tujuh poin, yaitu riset, kontrak publik, hambatan teknis dalam perdagangan, agrikultur, penerbangan sipil, transportasi darat, dan free movement of the person, yang berdasarkan pada ukuran yang ditetapkan dan dipergunakan dalam Uni Eropa. 145 Perjanjian dalam kerja sama bilateral antara Swiss dengan Uni Eropa yang pertama, ditandatangani pada Juni 1999 dan mendapatkan persetujuan dari rakyat Swiss dalam referendum yang diadakan pada tanggal 21 Mei 2000 (lihat tabel 4.1).

Ibid., hal. 185. Sandra Lavenex, Op.Cit., hal. 238. 145 “Switzerland and the European Union” http://www.eda.admin.ch/eda/en/home/reps/eur/vgbr/ukemlo/ecofin/cheu.html, diakses tanggal 10 Mei 2011
144

143

dalam pada

72

Tabel 4.1 Hasil Referendum Bilateral Agreements I pada 21 Mei 2000 Kategori Ya Tidak % Ya % Tidak Rakyat Swiss 1.497.093 730.980 67.2 32.8

sumber: “Votation Populaire du 21 Mai 2000” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/20000521/index.html, diakses tanggal 10 Mei 2011.

Kemudian, untuk melihat aspirasi rakyat Swiss, mengenai bagaimana penerimaan rakyat Swiss terhadap bangsa asing yang tinggal di Swiss sebagai hasil dari strategi pemerintah konfederasi di dalam mereduksi tingkat xenophobia dapat menggunakan acuan dalam survey yang dilakukan oleh Eurobarometer pada tahun 2000. Terdapat beberapa klausa pertanyaan yang dipergunakan, pertama apakah merasa terganggu dengan kehadiran dan keberadaan orang asing (imigran)? Terhadap pertanyaan tersebut, hanya 8,4% yang merasa terganggu sedangkan 91,6% sisanya tidak merasa terganggu. 146 Pertanyaan kedua, apakah imigran perlu diberikan kesempatan yang sama dalam setiap lini kehidupan sosial? 59,0% menyatakan Ya, dan sisanya 41,0% menyatakan Tidak. 147 Pertanyaan ketiga, apakah imigran perlu diberikan hak-hak sosial yang sama dengan rakyat Swiss? 74,1% menyatakan setuju dan sisanya 25,9 menyatakan tidak setuju. 148 Hasil dalam beberapa pertanyaan tersebut, memberikan respon yang positif terhadap orang asing (imigran) yang tinggal di dalam Swiss. Hasil tersebut berada di luar perkiraan, karena seharusnya faktor xenophobia rakyat Swiss akan berpengaruh dalam memberikan respon yang berbeda dengan hasil
146

Eurobarometer Survey 2000, “Trouvez-vous Gênante la Présence de Gens d'une Autre Nationalité” dalam http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011. 147 Eurobarometer Survey 2000, “ Pour Améliorer Relations: Promouvoir l'égalité des Chances” dalam http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011. 148 Eurobarometer Survey 2000, “ Immigrants: Ils Doivent Avoir les Mêmes Droits Sociaux Que les Suisses ” dalam http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011.

73

survey Eurobarometer tersebut, kecuali apabila memang terdapat reduksi dalam tingkat xenophobia Swiss. Terkait dengan keikutsertaan Swiss dalam kerja sama maupun integrasi dalam Uni Eropa dapat dilihat dalam Tabel 4.2 dan 4.3, berikut Tabel 4.2 Pandangan Rakyat Swiss terhadap Uni Eropa (%) Kategori 2000 2001 2002 2003 2004/2005 Sangat Positif Cukup Positif Netral Cukup Negatif Sangat Negatif Tidak Tahu 6,4 32,1 32,2 23,7 5,6 0 8,5 33,4 33,5 18,3 6,3 0 4,1 36,1 32,2 23,4 4,3 0 4,0 37,2 34,6 20,5 3,8 0 4,7 31,4 41,8 17,9 4,2 0

sumber: Eurobarometer Survey 2000-2004/5 ”Image de l'UE” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011

Kategori Menyetujui

Tabel 4.3 Integrasi ke dalam Uni Eropa (%) 2000 2001 2002 2003 22,5 24,0 18,4 24,6 10,5 21,2 23,7 18,7 26,6 9,8 16,6 22,6 19,9 25,8 15,1 17,6 29,9 20,6 24,9 6,9

2004/2005 16,3 27,9 28,8 27.0 0

Mungkin Menyetujui Mungkin Menolak Menolak Tidak Memiliki Hak Pilih Tidak Tahu

0

0

0

0

0

sumber: Eurobarometer Survey 2000-2004/5 ”Adhésion de la Suisse à l'UE” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011

Data dalam Tabel 4.2, menunjukkan bahwa pandangan rakyat Swiss

74

dari tahun 2000 hingga 2005, meskipun tidak secara mayoritas, tetapi banyak yang beranggapan positif terhadap Uni Eropa. Kemudian dalam Tabel 4.3, persentase jumlah rakyat Swiss yang setuju untuk integrasi dengan yang menolak dapat disimpulkan berimbang, karena selisih jumlah diantaranya relatif kecil. Berdasarkan survey tersebut, dapat disimpulkan bahwa rakyat Swiss menjadi lebih terbuka dengan Uni Eropa daripada sebelumnya yang cenderung skeptis dan negatif. Dengan adanya respon positif yang diperlihatkan rakyat Swiss dalam survey Eurobarometer terkait dengan imigran di Swiss dan pandangan terhadap Uni Eropa, kemudian muncul pertanyaan bagaimana netralitas sebagai national self-image Swiss dalam aspirasi rakyat Swiss. Terkait dengan hal tersebut dapat dilihat dalam Tabel 4.4, 4.5, 4.6, dan 4.7 berikut Tabel 4.4 Nilai Penting Netralitas (%) 1999 2000 2001 40,5 35,3 19,1 5,1 0 38,4 36,7 19,3 5,6 0 38,7 35,1 21,5 4,7 0

Kategori Sangat Penting Agak Penting

2002 42,7 37,0 18,5 1,8 0

2003 42,7 36,0 18,1 3,2 0

Agak Tidak Penting Sangat Tidak Penting Tidak Tahu

sumber: Eurobarometer Survey 1999-2003 ”Importance de la Neutralité” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011.

Kategori Sangat Bangga

Tabel 4.5 Kebanggaan terhadap Netralitas (%) 1999 2000 2001 2002 27,7 26,9 28,7 29,4

2003 29,5

75

Agak Bangga Agak Tidak Bangga Sangat Tidak Bangga Tidak Tahu

46,0 20,0 6,3 0

44,3 21,1 7,7 0

39,6 23,9 7,8 0

45,3 20,2 5,2 0

41,4 22,6 6,5 0

sumber: Eurobarometer Survey 1999-2003 ”Fierté de la Neutralité” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011.

Kategori Tetap Perlu Berubah Tidak Tahu

Tabel 4.6 Urgensi Perubahan Netralitas (%) 1999 2000 2001 2002 47,8 52,2 0 42,4 57,6 0 41,7 58,3 0 47,4 52,6 0

2003 43,4 56,6 0

sumber: Eurobarometer Survey 1999-2003 ” Prêt à Changer la Neutralité” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011.

Kategori Ditingkatkan

Tabel 4.7 Arah Perubahan Netralitas (%) 1999 2000 2001 2002 6,3 36,7 43,5 13,5 0 6,4 32,6 45,1 15,9 0 5,8 32,1 50,9 11,2 0 3,6 33,0 52,2 11,1 0

2003 3,6 34,3 55,3 6,8 0

Sedikit Ditingkatkan Sedikit Dibatasi Dibatasi Tidak Tahu

sumber: Eurobarometer Survey 1999-2003 ” Direction du Changement: Neutralité” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011

Dalam hasil survey yang disajikan pada Tabel 4.4 dan 4.5, secara jelas terlihat bahwa rakyat Swiss merasa penting dan bangga atas netralitas sebagai national self-image mereka. Hal ini menunjukkan bukti bahwa netralitas Swiss tidak hanya merupakan karakteristik national self-image Swiss sebagai sebuah

76

entitas berdaulat, tetapi juga merupakan karakteristik Swiss secara holistik yang mendapatkan dukungan dari rakyat Swiss. Akan tetapi, dalam Tabel 4.6, rakyat Swiss menginginkan akan adanya perubahan dalam netralitas tersebut, yang ditunjukkan dalam tabel 4.7, yaitu netralitas yang tidak dibatasi. Oleh karena itu, berdasarkan tes historis, kemudian dapat disimpulkan bahwa national self-image atas netralitas yang terbentuk dalam aspirasi masyarakat Swiss telah berubah, menjadi sedikit lebih terbatasi dan menginginkan adanya perluasan batasan ruang gerak sosial, yang ditandai dengan adanya penerimaan rakyat Swiss terhadap orang asing (imigran) yang berada dan tinggal dalam wilayah teritorial Swiss.

4.3 Tes Efektivitas Diri terhadap National Self-Image Netralitas Swiss Legitimasi kandidat national self-image, selanjutnya akan ditentukan dalam tes efektivitas diri sebagai gabungan dari proses refleksi dan verifikasi diri, yang merupakan proses korespondensi dari national self-image dengan ranah praktis, dalam kondisi sekarang. 149 Dalam proses ini, aspek situasi dan kondisi lingkungan eksternal juga memiliki peranan yang signifikan, dimana persepsi perilaku dan kondisi sistem internasional mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan suatu national self-image dalam pengujian korespondensi yang disampaikan oleh elit politik. Dengan kata lain, indikator yang akan dipergunakan dalam tes efektivitas diri adalah perilaku Uni Eropa terhadap Swiss atas national self-image yang merupakan konstruksi identitas sementara dari Swiss dan kondisi

149

Anne Clunan, Op.Cit., hal. 41.

77

kontemporer negara. Proses ini, melihat bagaimana national self-image Swiss diterapkan dalam masyarakat Swiss, maupun diaplikasikan keluar dari batasan Swiss. Oleh karena itu, kemudian akan terlihat bagaimana kesesuaian identitas tersebut pada masyarakat Swiss, dan bagaimana persepsi dan perilaku aktor di luar Swiss terhadap national self-image Swiss. Terhadap kesesuaian national self-image sebagai identitas nasional Swiss, diaplikasikan dalam masyarakat Swiss melalui preferensi kebijakan integrasi ke dalam Schengen Treaty, dengan menggunakan indikator ini akan terlihat kesesuaian tersebut, karena berada dalam ranah sosial politik. Kemudian, untuk persepsi dan perilaku aktor di luar Swiss, akan dilihat dengan menggunakan persepsi dan kerja sama Swiss dengan Uni Eropa, dalam framework Schengen Treaty. Setelah melalui proses ini, identitas nasional yang dominan dan sesuai akan menjadi identitas nasional dari Swiss, untuk kemudian diimplementasikan sebagai kebijakan negara untuk memenuhi kepentingan nasional yang terbentuk dari identitas yang ada. Perubahan dalam national self-image Swiss, menciptakan preferensipreferensi yang bersifat integratif ke dalam Uni Eropa. Hal ini memunculkan beberapa upaya pemerintah Swiss di dalam proses integrasi parsial yang berlangsung pada tahun 1992, 1997, dan 2001. Akan tetapi, preferensi tersebut tidak disetujui oleh aspirasi rakyat Swiss dan kanton dalam referendum yang diadakan pada tanggal 6 Desember 1992 (lihat Tabel 4.8).

78

Kategori Rakyat Swiss Kanton 150

Tabel 4.8 Hasil Referendum EEA pada 6 Desember 1992 Ya Tidak % Ya % Tidak 1.762.872 4 2/2 1.786.708 14 4/2 49,7 50,3

sumber: “Votation Populaire du 6 Décembre 1992” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/19921206/index.html, diakses tanggal 10 Mei 2011.

Dalam Tabel 4.8, 18 kanton yang terdiri 14 kanton dan 2 half canton menyatakan menolak referendum tersebut, dimana 18 kanton tersebut merupakan kanton yang berbahasa Jerman, dan 50,3% suara rakyat Swiss yang menolak referendum mayoritas berasal dari kanton yang berbahasa Jerman. 151 Kegagalan dalam referendum tahun 1992, secara otomatis berdampak pada gagalnya upaya pembukaan negosiasi integrasi ke dalam Uni Eropa. Dengan proposisi, kegagalan dalam integrasi perekonomian dalam EEA Treaty yang merupakan integrasi parsial, secara otomatis juga akan berdampak pada kegagalan integrasi secara holistik ke dalam Uni Eropa yang merupakan integrasi institusional yang mempengaruhi kehidupan sosial dan konstelasi politik Swiss. Terbukti dengan gagalnya dua referendum pada tahun 1997 dan 2001 untuk pembukaan negosiasi integrasi Uni Eropa (lihat Tabel 4.9 dan 4.10).

150

Satuan 2/2 dan 4/2 adalah satuan untuk half canton, karena dalam half canton terdapat dua pemerintahan kantonal dalam satu kanton. Half canton yang menolak referendum adalah Obwalden dan Nidwalden, dan Appenzell-Auserhoden dan Appenzel-Innerhoden. dapat dilihat dalam “Votation Populaire du 6 Décembre 1992” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/19921206/index.html, diakses tanggal 10 Mei 2011. 151 “Résultats dans les Cantons” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/19921206/det388.html, diakses tanggal 10 Mei 2011.

79

Tabel 4.9 Hasil Referendum Que le Peuple Décide! pada 8 Juni 1997 Kategori Ya Tidak % Ya % Tidak Rakyat Swiss Kanton 416.720 0 1.189.440 20 6/2 25.9 74.1

sumber: “Votation Populaire du 8 Juin 1997” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/19970608/index.html, diakses tanggal 10 Mei 2011.

Tabel 4.10 Hasil Referendum Oui à l’Europe pada 4 Maret 2001 Kategori Rakyat Swiss Kanton Ya 597.217 0 Tidak 1.982.549 20 6/2 % Ya 23.2 % Tidak 76.8

sumber: “Votation Populaire du 4 Mars 2001” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/20010304/index.html, diakses tanggal 10 Mei 2011.

Penolakan dalam ketiga referendum tersebut memaksa Federal Council untuk melakukan strategi pendekatan yang berbeda, dimana pemerintah konfederasi memutuskan untuk melakukan rangkaian kerja sama bilateral dengan Uni Eropa sebagai rencana jangka panjang, kemudian pemerintah juga melakukan pendekatan terhadap rakyat Swiss secara langsung, baik melalui partai politik, kelompok kepentingan dan asosiasi, maupun media, untuk memberikan pengertian dan pemahaman mengenai Uni Eropa dan rancangan program pemerintah. 152 Dengan tujuan untuk mereduksi tingkat xenophobia rakyat Swiss, sehingga dapat memperbesar kemungkinan terjadinya kerja sama bilateral antara Swiss dengan Uni Eropa. Akan tetapi, Uni Eropa menolak pembukaan negosiasi, karena pertama Swiss bukan merupakan negara anggota Uni Eropa. Kedua, karena
152

Hanspeter Kriesi dan Alexander H. Trechsel, Op.Cit., hal. 179.

80

kegagalan pemerintah Swiss dalam mengkonduksikan aspirasi rakyat Swiss dalam referendum tersebut. Hingga akhirnya pada Juni 1999, Uni Eropa memberikan paket kerja sama dalam perjanjian bilateral, yaitu Bilateral Agreements I yang kemudian disetujui publik Swiss dalam referendum tahun 2000. Dengan disetujui dan diaplikasikannya Bilateral Agreements I, Swiss mengajukan pembukaan babak negosiasi baru untuk menuju integrasi secara bertahap ke dalam Uni Eropa. 153 Pembukaan negosiasi dilakukan pada tahun 2002, untuk melaksanakan Bilateral Agreements II, dimana di dalam perjanjian bilateral tersebut terdapat ketentuan untuk bergabung dalam Schengen Treaty dan Dublin Convention. Rasionalisasi preferensi pemerintah Negara Konfederasi Swiss, Federal Council, untuk bergabung dalam Schengen Treaty, 154 pertama berdasarkan pada letak geografis Swiss yang berada dalam posisi yang strategis, di sentral Eropa. Kedua, pada tahun 2000, 77,7% impor Swiss berasal dari Uni Eropa dan 60,4% ekspor Swiss ditujukan ke Uni Eropa. Ketiga, pada tahun 2000, 70% dari populasi asing Swiss berasal dari Uni Eropa, dimana 14% dari penduduk Swiss berasal dari Uni Eropa. Terkait dengan faktor ketiga, terdapat sekitar 150.000 orang yang keluar masuk Swiss dari negara tetangga untuk bekerja. Melihat fakta yang terdapat dalam faktor tersebut, pemerintah memberikan preferensi terhadap rakyat Swiss dan kanton untuk bergabung dengan Schengen Treaty. Dalam Bilateral Agreements II tersebut, hanya perjanjian integrasi

153

Alexandre Afonso dan Martino Maggetti, “Bilaterals II: Reaching the Limits of the Swiss Third Way?” dalam Clive H Church, Switzerland and the European Union, a Close, Contradictory and Misunderstood Relationship (New York: Routledge, 2007), hal. 216. 154 Sandra Lavenex, Op.Cit., hal. 236.

81

dalam Schengen Treaty dan Dublin Convention yang tidak disetujui, sementara perjanjian lain yang termasuk ke dalam Bilateral Agreements II dapat diterima. Ketidaksetujuan terhadap Schengen Treaty, seperti dalam kasus referendum pada tahun 1992, dikonduksikan oleh SVP dengan dukungan dari AUNS dan EDU. SVP melihat bahwa integrasi ke dalam Schengen Treaty merupakan ancaman terhadap kehidupan sosial dan konstelasi politik Swiss. SVP melalui propagandanya dengan menggunakan isu-isu xenophobia dan kebanggaan atas identitas Swiss, berhasil di dalam mengumpulkan 86.732 tanda tangan sah, pada awal 2005, untuk mengajukan referendum terhadap yang bertujuan untuk menggagalkan integrasi Swiss ke dalam Schengen Treaty. 155 Sebagai konsekuensi atas pengajuan SVP tersebut, maka diadakan referendum yang akan memutuskan apakah Swiss akan masuk ke dalam Schengen Treaty atau tidak pada 5 Juni 2005. Dalam upaya menghadapi tantangan SVP dan oposan referendum, maka pemerintah dan pendukungnya mempelajari kesalahan mereka dalam referendum tahun 1992, karena kanton berbahasa Jerman menolak untuk berintegrasi dalam EEA, sebagai akibat dari adanya faktor xenophobia. Pemerintah dalam hal ini berupaya untuk lebih memanfaatkan peranan media di areal kanton berbahasa Jerman dalam melakukan propaganda. Media dalam kanton Jerman tidak terlalu memfokuskan diri terhadap pemberitaan mengenai kasus-kasus internasional, termasuk dalam pelaksanaan referendum.156 Hal ini berakibat pada kurangnya informasi rakyat Swiss yang berada dalam lingkup kanton-kanton tersebut, yang berpengaruh dalam gagalnya referendum
155 156

Hanspeter Kriesi dan Alexander H. Trechsel, Op.Cit., hal. 181. Laurent Goetschel, Magdalena Bernath, dan Daniel Schwarz, Op.Cit., hal. 56.

82

tahun 1992. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah konfederasi Swiss mengintensifkan peranan media, 157 di dalam menciptakan opini publik, yang bertujuan untuk membentuk aksi kolektif politik rakyat Swiss yang mendukung integrasi ke dalam Schengen Treaty. Proses pembentukan tersebut, tidak hanya melalui media saja, tetapi juga dengan memanfaatkan partai dan kelompokkelompok kepentingan dengan propaganda dalam diskusi-diskusi, maupun dengan metode yang lain. Setelah melalui kampanye yang efektif kemenangan diperoleh pemerintah, dengan disetujuinya referendum Schengen Treaty tersebut oleh rakyat Swiss (lihat Tabel 4.11). Dengan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa national self-image Swiss terpenuhi, karena sesuai dengan rakyat Swiss, dengan disetujuinya referendum Schengen Treaty. Kemudian, hal ini juga menyatakan bahwa telah sesuai dengan harapan persepsi dan perilaku dari aktor di luar Swiss, yaitu Uni Eropa yang menyetujui Swiss untuk terlibat dalam Bilateral Agreements I dan II, terutama dalam Schengen Treaty. Tabel 4.11 Hasil Referendum Schengen Treaty dan Dublin Convention pada 5 Juni 2005 Ya Tidak % Ya % Tidak 1'477'260 1'227'042 54.6 45.4

Kategori Rakyat Swiss

sumber: “Votation Populaire du 5 Juin 2005” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/20050605/index.html, diakses tanggal 10 Mei 2011.

Berdasarkan referendum pada tanggal 5 Juni 2005 tersebut, indikator dalam tes efektivitas diri, yaitu perilaku Uni Eropa terhadap Swiss dan kondisi kontemporer Swiss, menyatakan bahwa adanya penerimaan terhadap national

157

Hanspeter Kriesi dan Alexander H. Trechsel, Op.Cit., hal. 181.

83

self-image baru dari Swiss. Hal ini dikarenakan, Uni Eropa, mengakomodasikan kepentingan Swiss untuk lebih integratif secara parsial ke dalam hubungan kerja sama dengan Uni Eropa melalui Schengen Treaty yang merupakan bagian dari Bilateral Agreement II. Terkait dengan kondisi kontemporer Swiss, publik Swiss menerima preferensi national self-image atas netralitas sebagai konstruksi identitas nasional Swiss yang baru, yang terintegrasikan ke dalam referendum tersebut. Dengan demikian, melalui kedua tes, yaitu tes historis dan tes efektivitas diri, telah dihasilkan sebuah identitas nasional yang dominan Swiss. Identitas nasional dominan Swiss yang terbentuk adalah netralitas, dimana netralitas tersebut berbeda dengan netralitas sebagai identitas nasional tradisional Swiss. Identitas nasional Swiss yang baru terbentuk adalah netralitas yang lebih terbuka dengan ruang gerak sosial yang lebih luas, dan bersifat kooperatif, terutama dengan Uni Eropa.

4.4 Dampak Perubahan Konstruksi Identitas Swiss Perubahan netralitas sebagai konstruksi identitas Swiss, berdampak terhadap baik kehidupan sosial maupun ekonomi Swiss. Dengan bergabungnya Swiss ke dalam area Schengen Uni Eropa, maka secara otomatis terdapat kenaikan terhadap jumlah populasi warga asing yang tinggal di Swiss secara permanen, dapat dilihat dalam Tabel 4.12 dan 4.13.

84

Tabel 4.12 Populasi Warga Negara Asing yang Menetap di Swiss Berdasarkan Nasionalitas (dalam ribuan) 2005 2006 2007 2008 2009 Total EU-27/Negara EFTA Jerman Perancis Itali Austria Portugal Spanyol Negara Eropa lainnya Serbia dan Montenegro Turki Afrika Amerika Asia Australia, Oceania Stateless 1541.9 903.5 158.7 70.9 297.9 33.1 167.9 72.2 431.1 196.8 75.9 48.1 61.7 94.0 3.2 0.3 1554.5 923.8 173.9 73.5 293.3 33.2 174.2 69.1 421.0 191.5 74.3 49.8 63.4 93.0 3.3 0.3 1602.1 971.9 203.2 79.3 291.2 34.2 183.0 65.9 414.0 188.1 73.2 51.9 66.1 94.5 3.6 0.3 1602.1 1037.1 234.6 87.4 291.6 35.7 196.8 65.2 406.8 184.4 72.2 54.8 69.8 96.9 3.8 0.5 1714.0 1077.6 251.9 92.5 290.6 36.7 206.0 65.0 402.2 181.3 71.6 57.7 72.7 99.3 4.0 0.6

sumber: “Foreign Resident Population by Nationality” dalam http://www.bfs.admin.ch/bfs/portal/en/index/themen/01/07/blank/key/01/01.html, diakses tanggal 10 Mei 2011.

85

Tabel 4.13 Naturalisasi Swiss (1984-2010)

sumber: ”Naturalisation since 1984” dalam http://www.bfm.admin.ch/content/bfm/en/home/dokumentation/zahlen_und_fakten/auslaenderstati stik/einbuergerungen.html, diakses tanggal 10 Mei 2011.

Tabel 4.12, memperlihatkan bahwa terdapat kenaikan populasi warga negara asing yang cukup signifikan dalam rentang waktu 2006 hingga 2009, dimana rentang waktu tersebut merupakan rentang waktu setelah referendum 5

86

Juni 2005 berlangsung dan setelah Swiss tergabung dan masuk secara resmi dalam area Schengen. Sementara Tabel 4.13, merupakan tabel data naturalisasi Swiss yang berlangsung sejak tahun 1984-2010, dimana terdapat kenaikan yang konstan per tahun, terutama dalam rentang waktu lima tahun terakhir, yaitu paska masuknya Swiss dalam area Schengen Uni Eropa. Kenaikan tersebut merupakan dampak dari pemberlakuan kebijakan Schengen yang mempermudah proses birokrasi dalam migrasi dan pencari suaka. Dalam bidang ekonomi, masuknya Swiss ke dalam area Schengen berdampak pada percepatan laju perekonomian, karena adanya kemudahankemudahan yang diperoleh, sehingga berdampak terhadap dinamika

perekonomian Swiss (lihat Tabel 4.14). Tabel 4.14 GDP dari Pendekatan Pengeluaran (dalam juta CHF) Pendekatan Pengeluaran Harga Berlaku 2005 Ekspor Barang Jasa Impor Barang Jasa GDP Per Kapita 2006 2007 2008 2009

227.283 257.516 293.067 307.454 276.637 163.468 185.649 207.033 216.997 188.446 63.815 71.867 86.034 90.457 88.191

196.074 216.988 239.528 245.480 218.064 160.463 180.584 197.660 201.955 171.787 35.611 36.404 41.868 43.525 46.277

463.799 490.544 521.101 544.196 535.282 61.830 64.907 68.398 70.573 68.638

sumber: Federal Statistical Office, Statistical Yearbook 2011 (Federal Statistical Office), hal. 537.

87

Tabel 4.15 Perdagangan Swiss dengan EU-27 (dalam juta Euro) 2006 2007 2008 2009 2010 Ekspor Impor Balance Perdagangan 72.459 88.445 -15.986 77.696 77.696 -15.566 82.897 98.067 -15.170 74.021 86.301

87.108 102.993 -13.086 -16.692

160.904 170.958 180.964 161.129 189.294
sumber: Federal Statistical Office, Statistical Yearbook 2011 (Federal Statistical Office), hal. 537.

Berdasarkan Tabel 4.14, dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan kekuatan perekonomian Swiss dalam rentang waktu 2005-2009, tidak hanya dalam peningkatan nilai ekspor Swiss, tetapi juga diikuti dengan peningkatan GDP Swiss. Dalam tabel 4.15, dalam perdagangan antara Swiss dengan EU-27, nilai impor Swiss masih lebih tinggi daripada ekspor, akan tetapi balance neraca perdagangan semakin mengecil. Penguatan laju perekonomian Swiss merupakan dampak dari bergabungnya Swiss dalam area Schengen, sehingga dipermudahnya transportasi dan juga regulasi dalam perdagangan.

88

BAB 5 KESIMPULAN

Penelitian bertujuan untuk menjawab pertanyaan sementara atau rumusan masalah yang terdapat dalam Bab 1 penelitian ini, yaitu bagaimana perubahan konstruksi identitas dalam netralitas kebijakan luar negeri Swiss dalam Schengen Treaty pada tahun 2005. Peneliti, di dalam menjawab pertanyaan tersebut, mempergunakan teori identitas konstruktivisme, rational choice theory, dan political collective action. Melalui proposisi identitas konstruktivisme yang disampaikan Clunan, dapat dilihat bagaimana Swiss berhasil menciptakan netralitas sebagai identitas nasional dan mempengaruhi pembentukan kepentingan nasional Swiss, yang terimplementasikan ke dalam setiap kebijakan luar negeri Swiss. Ketika proses konstruksi identitas berlangsung, proposisi Clunan dibantu oleh RCT di dalam proses pembuatan preferensi identitas Swiss oleh pemerintah, dengan dasar rasionalitas, kemudian, di dalam mengkonduksikan rakyat Swiss, pemerintah menciptakan political collective action agar rakyat Swiss memilih preferensi yang telah ditentukan oleh pemerintah. Hipotesis dalam Bab 1 penelitian ini adalah bahwa identitas nasional Swiss adalah prinsip netralitas, dimana terkait dengan keikutsertaan Swiss dalam Schengen Treaty 2005, terdapat perubahan konstruksi identitas nasional tersebut. Netralitas sebagai identitas nasional yang terbentuk berbeda dengan konstruksi identitas nasional tradisional. Identitas nasional Swiss bersifat self imposed atau dikonstruksi

89

sendiri. Dengan kata lain, identitas nasional Swiss tidak dibentuk oleh aktor lain yang melihat Swiss, sebagai suatu entitas, melainkan Swiss mengkonstruksi sendiri identitasnya untuk mendeskripsikan dan memisahkan dirinya dalam sistem. Hal ini memungkinkan bagi Swiss untuk melakukan perubahan dalam konstruksi identitas nasionalnya, dimana identitas nasional Swiss tersebut akan menentukan signifikansi peran Swiss di dalam sistem. Kemampuan Swiss dalam mengkonstruksikan identitas nasionalnya, dimungkinkan dengan sistem

pemerintahan Swiss. Sistem direct democracy Swiss, dimana terdapat referendum di dalamnya, memungkinkan rakyat Swiss untuk terlibat langsung dalam konstelasi politik Swiss, termasuk dalam proses konstruksi identitas nasional Swiss. National self-image atau kandidat identitas nasional yang terbentuk dalam penelitian ini adalah Swiss netral secara politik dan militer, tetapi tidak lagi secara sosial, kemudian negara-negara Eropa, terutama Uni Eropa bukan menjadi ancaman sehingga Swiss bersikap lebih kooperatif terhadap Uni Eropa. Uji historis terhadap aspirasi masyarakat Swiss dalam penelitian ini, menemukan bahwa pertama adanya reduksi terhadap tingkat xenophobia Swiss, sehingga adanya penerimaan terhadap orang-orang asing atau imigran yang berada dan tinggal di Swiss. Kedua, rakyat Swiss merasa penting dan bangga dengan memiliki netralitas sebagai identitas nasional Swiss, akan tetapi, rakyat Swiss merasa terbatasi dengan netralitas tersebut, sehingga rakyat Swiss menuntut untuk adanya perubahan terhadap netralitas sebagai identitas nasional Swiss. Perubahan yang dimaksud adalah netralitas yang jauh lebih fleksibel dan tidak membatasi

90

ruang gerak sosial. Dalam proses selanjutnya, yaitu tes efektifitas diri, national self-image yang telah terbentuk, dicoba untuk kemudian diaplikasikan baik ke dalam Swiss, maupun ke luar Swiss. Ke dalam, pemerintah Swiss dengan menekankan pada rasionalitasnya menciptakan preferensi identitas nasional yang tertuangkan dalam kebijakan untuk bergabung ke dalam Schengen Treaty. Pada titik ini, pemerintah membentuk opini publik yang diarahkan untuk menjadi suatu aksi kolektif politik rakyat Swiss yang mendukung preferensi pemerintah tersebut. Ke luar, dibuktikan pemerintah Swiss dengan diterimanya pengajuan kerja sama bilateral antara Swiss dan Uni Eropa yang terbingkai dalam Bilateral Agreements I dan II, terutama dalam Schengen Treaty. Setelah melalui kedua proses tesebut, secara otomatis identitas nasional yang dominan dari Swiss telah terbentuk, yaitu sebuah prinsip netralitas yang fleksibel dan tidak terbatas dalam ruang gerak sosial, dengan adanya penerimaan terhadap bangsa asing dan tidak melihat negara-negara Eropa, terutama Uni Eropa, sebagai rival tetapi sebagai partner kerja sama. Perubahan yang terjadi dalam konstruksi identitas nasional Swiss tersebut berlangsung secara gradual atau bertahap. Terjadi perubahan rasionalitas dalam level pemerintahan, yang kemudian dikonduksikan untuk merubah konstruksi identitas nasional yang melekat pada rakyat Swiss. Maka, dengan demikian hipotesis yang terdapat dalam Bab 1 penelitian ini telah terbukti.

91

DAFTAR PUSTAKA

BUKU Appiah, Kwame Anthony. 2005. The Ethics of Identity. New Jersey: Princenton University Press. Blocher, Christoph. 2002. Ten Years After Rejecting the EEA Agreement. AUNS ASIN ASNI. Brady, Hugo. 2008. EU Migration Policy: A to Z. Budiarjo, Miriam. 1981. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia. Castells, Manuel. 2010. The Power of Identity. Blackwell Publishing, Ltd. Clunan, Anne. 2009. The Social Construction of Russia’s Resurgence. Baltimore: The Johns Hopkins University Press. Edmondson, Ricca. 1997. The Political Context of Collective Action: Power, Argumentation, and Democracy. New York: Routledge. Elster, Jon. 1989. Nuts and Bolts For the Social Sciences. Cambridge: Cambridge University Press. Foucault, Michel. 1977. Power / Knowledge. New York: Pantheons Book. Glaser, Charles L. 2010. Rational Theory of International Politics The Logic of Competition and Cooperation. New Jersey: Princenton University Press. Goetschel, Laurent, Magdalena Bernath, dan Daniel Schwarz. 2005. Swiss Foreign Policy: Foundations and Possibilities. New York: Routledge. Halbrook, Stephen. 1998. Target Switzerland: Swiss Armed Neutrality in World War II. New York: Sarpedon. Kriesi, Hanspeter dan Alexander H. Trechsel. 2008. The Politics of Switzerland: Continuity and Change in Consensus Democracy. New York: Cambridge University Press. Linder, Wolf. 1998. Swiss Democracy: Possible Solutions to Conflicts in Multicultural Societies. New York: Palgrave Macmillan. Melluci, Alberto. 1989. Nomads of the Present: Social Movements and Individual Needs in Contemporary Society. London: Hutchinson Radius.

92

__. 1996. Challenging Codes: Collective Actions in the Information Age. Cambridge: Cambridge University Press. Sigg, Oswald. 1997. Political Switzerland. Zurich: Pro Helvetica. Silalahi, Ulber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Refika Aditama. Smith, Anthony D. 1991. National Identity. London: Penguin Books Ltd.

JURNAL DALAM BUKU Afonso, Alexandre dan Martino Maggetti, “Bilaterals II: Reaching the Limits of the Swiss Third Way?” dalam Church, Clive H. 2007. Switzerland and the European Union, a Close, Contradictory and Misunderstood Relationship. New York: Routledge. Belser, Eva Maria. “Transboundary Local Governance in Switzerland,” dalam Villiers, Bertus De. 2009. Crossing the Line: Dealing with Cross-Border Communities. Johannesburg: Konrad-Adenauer-Stiftung. Church, Clive H. “Introduction,” dalam Church, Clive H. 2007. Switzerland and the European Union, a Close, Contradictory and Misunderstood Relationship. New York: Routledge. Dardanelli, Paolo. “Federalism: Institutional Adaptation and Symbolic Constraints,” dalam Church, Clive H. 2007. Switzerland and the European Union, a Close, Contradictory and Misunderstood Relationship. New York: Routledge. Galeotti, Anna Elisabetta. “Identity, Difference, Toleration,” dalam Dryzek, John S., Bonnie Honig, dan Anne Phillips. 2006. Political Theory. New York: Oxford University Press. Ganser, Daniele dan Georg Kreis. “Swiss Neutrality: Incompatible with EU Membership?,” dalam Church, Clive H. 2007. Switzerland and the European Union, a Close, Contradictory and Misunderstood Relationship. New York: Routledge. Harsanyi, John C. “Advances in Understanding Rational Behavior,” dalam Elster, Jon. 1986. Rational Choice. New York: New York University Press. Jepperson, Ronald L. Alexander Wendt, dan Peter J. Katzenstein. “Norms, Identity, and Culture in National Security” dalam Katzenstein, Peter J. 1996. The Culture of National Security: Norms and Identity in World Politics. New York: Columbia University Press.

93

Kreis, Georg. “Modern Switzerland as a Product of Its History” dalam Kieser, Rolf dan Kurt R. Spillmann. 1995. The New Switzerland: Problems & Policies. California: The Society for the Promotion of Science and Scholarship, Inc. Lavenex, Sandra. “Switzerland: Between Intergovernmental Co-operation and Schengen Association,” dalam Caparini, Marina dan Otwin Marenin. 2006. Borders and Security Governance. Managing Borders in a Globalised World. Geneva: LIT. Rhinow, René dan Annemarie Huber-Hotz. “The Future of the Political System,” dalam Kieser, Rolf dan Kurt R. Spillmann. 1995. The New Switzerland: Problems & Policies. California: The Society for the Promotion of Science and Scholarship, Inc. Scott, John. “Rational Choice Theory,” dalam Browning, Gary, Abigail Halcli dan Frank Webster. 2000. Understanding Contemporary Society: Theories of the Present. London: Sage Publications Ltd. Trechsel Alexander H., “Direct Democracy and European Integration: a Limited Obstacle?” dalam Church, Clive H. 2007. Switzerland and the European Union, a Close, Contradictory and Misunderstood Relationship. New York: Routledge. Wendt, Alexander 1994. “Collective Identity Formation and International State,” dalam The American Political Science Review. __. “Identity and Structural Change in International Politics,” dalam Lapid, Yosef dan Friedrich Kratochwil. 2006. The Return of Culture and Identity in IR Theory. London: Boulder CO. Zehfuss, Maja. “Constructivism and Identity,” dalam Guzzini, Stefano dan Anna Leander. 2006. Constructivism and International Relations: Alexander Wendt and His Critics. New York: Routledge.

KAMUS, ENSIKLOPEDIA, DAN DOKUMEN RESMI Aeschimann, Stefan dkk. 2004. Swiss Neutrality. Bern Federal Department of Defence, Civil Protection and Sports (DPPS). Federal Statistical Office. 2011. Statistical Yearbook 2011. Federal Statistical Office. Freeman, Chas. W. Jr. 1997. The Diplomat’s Dictionary. Washington: US Institute of Peace Press.

94

Hornby, A. S. 2000. Oxford Advanced Learners Dictionary (International Student’s Edition). Oxford University Press. Jeanmaire dan Michel AG. 2010. The Swiss Confederation Brief Guide 2010. Bern: Information Services of the Federal Chancellery, the Departments and Parliamentary Services. Schelbert, Leo. 2007. Historical Dictionary of Switzerland. Maryland: The Scarecrow Press, Inc.

SITUS INTERNET “Bilateral Agreement Switzerland-EU,” http://www.europa.admin.ch/themen/00500/index.html?lang=en. Diakses tanggal 12 Januari 2011. Eurobarometer Survey 1999-2003, ”Direction du Changement: Neutralité” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011 Eurobarometer Survey 1999-2003, ”Fierté de la Démocratie Directe” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011. Eurobarometer Survey 1999-2003, ”Fierté de la Neutralité” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011. Eurobarometer Survey 1999-2003, ”Importance de la Démocratie Directe” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011. Eurobarometer Survey 1999-2003, ”Importance de la Neutralité” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011. Eurobarometer Survey 1999-2003, ”Prêt à Changer la Neutralité” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011. Eurobarometer Survey 2000, “Immigrants: Ils Doivent Avoir les Mêmes Droits Sociaux Que les Suisses ” dalam http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011. Eurobarometer Survey 2000, “Pour Améliorer Relations: Promouvoir l'égalité des Chances” dalam http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011. Eurobarometer Survey 2000, “Trouvez-vous Gênante la Présence de Gens d'une Autre Nationalité” dalam http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011.

95

Eurobarometer Survey 2000-2004/5, ”Adhésion de la Suisse à l'UE ” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011 Eurobarometer Survey 2000-2004/5, ”Image de l'UE ” dalam, http://nesstar.sidos.ch/webview/index.jsp, diakses tanggal 10 Mei 2011 “History of Switzerland,” http://historyswitzerland.geschichte-schweiz.ch/oldswiss-confederacy-1291.html. diakses tanggal 23 Maret 2011. Naturalisations, ”Naturalisation since 1984” dalam http://www.bfm.admin.ch/content/bfm/en/home/dokumentation/zahlen_und _fakten/auslaenderstati stik/einbuergerungen.html, diakses tanggal 10 Mei 2011. “Neutrality and Isolationism,” http://www.swissworld.org/en/politics/foreign_policy/neutrality_and_isola tionism/. Diakses tanggal 28 Desember 2009. “Résultats dans les Cantons” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/19921206/det388.html, diakses tanggal 10 Mei 2011. Swiss Statistics, “Foreign Resident Population by Nationality” dalam, http://www.bfs.admin.ch/bfs/portal/en/index/themen/01/07/blank/key/01/01 .html, diakses tanggal 10 Mei 2011. “Switzerland,“ http://news.bbc.co.uk/2/hi/europe/country_profiles/1035212.stm. Diakses tanggal 01 Januari 2010. “Switzerland and the European Union” dalam http://www.eda.admin.ch/eda/en/home/reps/eur/vgbr/ukemlo/ecofin/cheu.h tml, diakses pada tanggal 10 Mei 2011. “Switzerland and the World,” http://www.swissworld.org/en/politics/foreign_policy/switzerland_and_the _world/. Diakses tanggal 28 Desember 2009. “Votation Populaire du 6 Décembre 1992” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/19921206/index.html, diakses tanggal 10 Mei 2011. “Votation Populaire du 8 Juin 1997” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/19970608/index.html, diakses tanggal 10 Mei 2011.

96

“Votation Populaire du 21 Mai 2000” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/20000521/index.html, diakses tanggal 10 Mei 2011. “Votation Populaire du 4 Mars 2001” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/20010304/index.html, diakses tanggal 10 Mei 2011. “Votation Populaire du 5 Juin 2005” dalam http://www.admin.ch/ch/f/pore/va/20050605/index.html, diakses tanggal 10 Mei 2011.

97

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.