P. 1
Bab i Hubungan Kerja, Waktu Kerja Dan Waktu Istirahat - Silvana

Bab i Hubungan Kerja, Waktu Kerja Dan Waktu Istirahat - Silvana

|Views: 119|Likes:

More info:

Published by: Silvana Ratri Widharwanti on Feb 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2012

pdf

text

original

BAB I HUBUNGAN KERJA, WAKTU KERJA DAN WAKTU ISTIRAHAT

Pengantar Hubungan kerja antara buruh dengan pengusaha terjadi apabila kedua belah pihak sepakat untuk mengikatkan diri satu sama lain yang tertuang dalam perjanjian kerja. Hubungan kerja dalam peraturan perundang-undangan telah jelas diatur sedemikian rupa sehingga dalam membuat perjanjian kerja, kedua belah pihak harus mengacu pada peraturan yang berlaku. Demikian juga halnya dengan waktu kerja dan waktu istirahat, sehingga buruh dan pengusaha mengetahui hak dan kewajibannya. HUBUNGAN KERJA : Adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja yang mempunyai unsur pekerjaan, upah dan perintah (Pasal 1 UU 13/2003). Perjanjian kerja adalah : perjanjian antara buruh dengan pengusaha/pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban para pihak (Pasal 1 UU 13/2003). Perjanjian Kerja dibuat atas dasar (Pasal 52 UU 13/2003): 1. Kesepakatan antara kedua belah pihak. 2. Kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum. 3. Adanya pekerjaan yang diperjanjikan. 4. Pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pada dasarnya Perjanjian Kerja harus dibuat berdasarkan kesepakatan antara buruh dengan pengusaha dalam kedudukannya yang setara, dalam keadaan bebas dari segala bentuk tekanan untuk membuat perjanjian kerja tersebut, memuat hak dan kewajiban yang seimbang antara buruh dengan pengusaha. Perjanjian Kerja yang dibuat tidak berdasarkan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 52 tersebut diatas dengan sendirinya batal demi hukum atau dapat dibatalkan. Perjanjian Kerja tidak dapat ditarik kembali/dibatalkan dan/atau diubah kecuali atas persetujuan buruh dengan pengusaha. Macam-macam perjanjian kerja : 1. Menurut bentuknya . a. Lisan/tidak tertulis (Pasal 51 UU 13/2003). • Perjanjian yang tidak dituangkan dalam bentuk tulisan. • Sebuah Perjanjian Kerja meskipun dibuat secara tidak tertulis tetap mengikat buruh dan pengusaha untuk melaksanakan isi Perjanjian tersebut oleh karena hal-hal yang telah diatur dalam Perjanjian tersebut mengikat buruh dan Pengusaha untuk melaksanakan isi Perjanjian Kerja dimaksud. • Kelemahan Perjanjian Kerja tidak tertulis yakni apabila ada beberapa isi Perjanjian yang ternyata tidak dilaksanakan oleh pengusaha sehingga merugikan buruh maka pengusaha bisa saja mengingkari bahwa pernah ada sebuah kesepakatan yang diingkarinya tersebut karena tidak pernah

b. apabila dibuat secara lisan maka dinyatakan sebagai perjanjian kerja waktu tidak tertentu. • Sekurang-kurangnya memuat nama. tempat pekerjaan. Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (Pasal 56 UU 13/2003). Per-02/Men/1993). • Pembaharuan perjanjian kerja hanya dapat diadakan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 hari berakhirnya perjanjian kerja yang lama. dapat dijadikan pegangan terutama bagi buruh apabila ada beberapa kesepakatan yang tidak dilaksanakan oleh pengusaha yang merugikan buruh. Tertulis (Pasal 51 UU 13/2003). dan pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru. • Tidak dapat mensyaratkan adanya masa percobaan kerja. bila disyaratkan maka BATAL DEMI HUKUM (Pasal 58 UU No.dituangkan dalam bentuk tulisan. masing-masing buruh dengan pengusaha harus mendapat dan menyimpan Perjanjian Kerja (Pasal 54 ayat 3 UU 13/2003). besarnya upah dan cara pembayarannya. . Maka sedapatnya Perjanjian Kerja dibuat secara tertulis. • Jenis dan sifat pekerjaan yang diperbolehkan adalah pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya. tempat dan tanggal perjanjian kerja dibuat. b. nama. • Tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap (terus menerus diproduksi) dan dapat diperpanjang atau diperbaharui. 13/2003). dan tanda tangan para pihak dalam perjanjian kerja (Pasal 54 UU 13/2003). pemberitahuan perpanjangan perjanjian paling lama 7 hari sebelum perjanjian kerja berakhir. pengusaha dan Disnaker (Permenaker No. dapat dipakai sebagai bukti tertulis apabila muncul perselisihan hubungan industrial yang memerlukan adanya bukti-bukti. alamat perusahaan dan jenis usaha. • Dibuat secara tertulis dalam 3 rangkap : untuk buruh. pembaharuan hanya boleh dilakukan 1 kali dan paling lama 2 tahun. syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban pengusaha dan buruh. umur dan alamat buruh. • Dibuat dalam rangkap 2 yang mempunyai kekuatan hukum yang sama. 13/2003). Contohnya : Kesepakatan Kerja Bersama (KKB). mulai dan jangka waktu berlakunya perjanjian kerja. jenis kelamin. 2. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (Pasal 56-59 UU 13/2003). Menurut waktu berakhirnya. a. pekerjaan yang bersifat musiman. • Perjanjian kerja waktu tertentu dapat diadakan untuk paling lama 2 tahun dan hanya boleh diperpanjang 1 kali untuk jangka waktu paling lama 1 tahun. pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 tahun. jabatan atau jenis pekerjaan. • Didasarkan atas jangka waktu dan selesainya pekerjaan tertentu (biasa disebut dengan sistem kontrak). • Perjanjian yang dituangkan dalam bentuk tulisan. kegiatan baru atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan (Pasal 59 ayat 1 UU No.

ia mempunyai hak yang sama tidak terkecuali.000. buruh sub kontrak dan lain sebagainya yang tidak termasuk buruh tetap  Permenaker No. tanggal mulai bekerja. merupakan istilah yang diberikan dalam penggunaaan sehari-hari dalam masyarakat untuk menggambarkan kondisi kerja buruh yang berdasarkan kontrak kerja dalam suatu jangka waktu tertentu. Istilah “buruh kontrak” sesungguhnya tidak dikenal dalam hukum.      Dapat mensyaratkan masa percobaan paling lama 3 bulan dimana pengusaha dilarang membayar upah dibawah upah minimum yang berlaku. Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya (badan hukum) melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan tenaga buruh . Meskipun demikian hal yang prinsip adalah status apapun seorang buruh. Status seorang buruh tidak mengurangi hak-hak yang diperolehnya. jenis pekerjaan. dan besarnya upah. Meskipun demikan bukan berarti hukum tidak mengatur mengenai buruh kontrak.000. sementara buruh yang bekerja berdasarkan Perjanjian Waktu tidak tertentu disebut dengan “Buruh Tetap”. tidak menghambat proses produksi secara langsung. Syaratnya: dilakukan terpisah dari kegiatan utama.dan paling banyak Rp 50. Hubungan kerja diatur dalam perjanjian kerja secara tertulis antara perusahaan lain dan buruh yang dipekerjakan. . dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi kerja. • Bila dibuat secara lisan maka pengusaha wajib membuat surat pengangkatan bagi buruh yang bersangkutan.dan termasuk sebagai Tindak Pidana Pelanggaran (Pasal 188 UU 13/2003). • Dalam praktek buruh yang bekerja berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu tertentu disebut dengan “Buruh tidak tetap/buruh kontrak/buruh untuk waktu tertentu/KKWT.3. Perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja bagi buruh sama dengan perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan atau peraturan perundangan yang berlaku. Secara umum hanya dikenal pembagian antara “buruh tetap” dan “buruh tidak tetap/buruh kontrak/buruh untuk waktu tertentu/KKWT” (mencakup juga buruh borongan. Istilah ini diperlawankan dengan “buruh tetap” (buruh yang memiliki pekerjaan secara tetap). didasarkan pada perjanjian kerja waktu tertentu atau waktu tidak tertentu.000. Hal ini karena hukum mengatur tidak boleh terjadi diskriminasi atas dasar status.000.. Apabila perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja tidak terpenuhi maka demi hukum status hubungan kerja buruh dengan perusahaan penerima pemborongan atau penyedia tenaga buruh beralih ke perusahaan pemberi pekerjaan. buruh harian lepas. sekurang-kurangnya memuat keterangan : nama dan alamat buruh. Per-02/Men/1993). Perjanjian Pemborongan (Pasal 64 – 66 UU 13/2003). merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan.  Sanksi bagi Pengusaha yang tidak memberikan Surat Pengangkatan : dikenakan sanksi Pidana denda paling sedikit Rp 5..

(Pasal 187 UU 13/2003).. termasuk dalam Tindak Pidana Pelanggaran (Pasal 188 UU 13/2003).00 sampai 06.dan paling banyak Rp 100. dapat dilaksanakan siang hari dan/atau malam hari.000.00 sampai 18.  Pengusaha yang mempekerjakan buruh melebihi waktu kerja wajib membayar upah kerja lembur dan apabila Pengusaha melanggar ketentuan tersebut termasuk dalam Tindak Pidana Pelanggaran dengan sanksi pidana kurungan paling singkat 1 bulan dan paling lama 12 bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 10..000.dan paling banyak Rp 100. • Siang hari adalah waktu antara pukul 06.000.000.(Pasal 187 UU 13/2003).000.-.000.  Bekerja pada hari-hari libur resmi apabila jenis dan sifat pekerjaan harus dilaksanakan atau dijalankan secara terus menerus atau pada keadaan lain berdasarkan kesepakatan antara buruh dengan pengusaha dan Pengusaha wajib membayar upah kerja lembur.  Syaratnya : ada persetujuan buruh yang bersangkutan (atas dasar sukarela) dan hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam/hari dan 14 jam/minggu.00 • Seminggu adalah waktu selama 7 hari • Waktu kerja meliputi (Pasal 77 UU 13/2003): a. Ad .  Sanksi bagi Pengusaha yang mengharuskan buruhnya bekerja lembur tanpa persetujuan dari buruh itu sendiri dan melebihi waktu yang telah ditentukan adalah pidana denda paling sedikit Rp 5.WAKTU KERJA (Pasal 1 UU 13/2003) : • Adalah waktu untuk melakukan pekerjaan.000.dan paling banyak Rp 50. 7 jam/hari dan 40 jam/minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu b.000.000.. WAKTU ISTIRAHAT • alah waktu untuk pemulihan setelah melakukan pekerjaan untuk waktu tertentu.000.  Pengusaha yang mempekerjakan buruh pada hari libur resmi tetapi tidak membayar upah kerja lembur termasuk dalam Tindak Pidana Pelanggaran dengan sanksi pidana kurungan paling singkat 1 bulan dan paling lama 12 bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 10. 8 jam/hari dan 40 jam/minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu • Buruh perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja (Pasal 83 UU 13/2003). WAKTU LEMBUR (ps 78 (1) UU 13/2003) :  Adalah waktu untuk melaksanakan pekerjaan melebihi waktu kerja sebagaimana ditetapkan..000..000.00 • Malam hari adalah waktu antara pukul 18.

.(Pasal 185 UU 13/2003).  Sanksi bagi Pengusaha yang melanggar ketentuan Pasal 80 UU 13/2003 adalah sanksi pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 4 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.5 bulan atau sesuai dengan keterangan dokter kandungan atau bidan (Pasal 82 ayat 2 UU 13/2003).000..000.000. 13/2003 adalah : pidana kurungan paling singkat 1 bulan dan paling lama 12 bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 10.  Sanksi bagi Pengusaha yang melanggar ketentuan Pasal 79 UU No. Bu ruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid (Pasal 81 ayat 1 UU 13/2003).(Pasal 185 UU 13/2003).5 bulan sebelum melahirkan dan 1. Bu ruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1.000. termasuk dalam tindak pidana pelanggaran (Pasal 187 UU 13/2003).  Sanksi bagi Pengusaha yang melanggar ketentuan Pasal 82 UU 13/2003 adalah sanksi pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 4 tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100..000..• • • • • • Isti rahat antara jam kerja sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja (Pasal 79 UU 13/2003). WAKTU CUTI • Cuti tahunan sekurang-kurangnya 12 hari kerja setelah buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 bulan secara terus menerus (Pasal 79 ayat 2 UU 13/2003).000.000. masing-masing 1 bulan bagi buruh yang telah bekerja selama 6 tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan buruh tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 tahun berjalan dan ..000..dan paling banyak Rp 400. Isti rahat mingguan adalah 1 hari untuk 6 hari kerja/minggu atau 2 hari untuk 5 hari kerja/minggu (Pasal 79 UU 13/2003).000.dan paling banyak Rp 100. Isti rahat untuk menjalankan kewajiban/menunaikan ibadah menurut agama bagi pekerja diberikan kesempatan yang secukupnya (Pasal 80 UU 13/2003)..000.5 bulan setelah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan (Pasal 82 ayat 1 UU 13/2003). • Cuti panjang sekurang-kurangnya 2 bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan. Bu ruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1.000.dan paling banyak Rp 400.000.

000. .dan paling banyak Rp 100.000.000... termasuk dalam tindak pidana pelanggaran (Pasal 187 UU 13/2003).selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6 tahun (Pasal 79 ayat 2 UU 13/2003).  Sanksi bagi Pengusaha yang melanggar ketentuan Pasal 79 ayat (2) UU 13/2003 adalah : pidana kurungan paling singkat 1 bulan dan paling lama 12 bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 10.000..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->