LAPORAN PRAKTIKUM TAKSONOMI HEWAN VERTEBRATA IDENTIFIKASI DAN MORFOLOGI REPTILIA (SERPENTES

)

Oleh:

NAMA NO. BP KELOMPOK ANGGOTA

: : : :

AGHNI AZNIA (0910422065) I (GANJIL) 1. ADITYA WIRA ATMAJA 2. ERVINA MAGDAULIH 3. MISREN AHYUNI (0910422033) (0910422057) (0910422053)

ASISTEN

:

JUNAIDI

LABORATORIUM TAKSONOMI HEWAN JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ANDALAS PADANG, 2011

Beberapa reptil besar seperti buaya. oleh karena itu mereka mampu tidak makan dalam waktu yang relatif lama.Reptil memiliki penyebaran yang lebih beragam. Hewan poikilotherm memiliki metabolism rendah. Hanya saja. Banyak jenis-jenis ular yang sepanjang hidupnya berkelana di pepohonan dan hampir tak pernah menginjak tanah. penyu dan kadal besar bahkan mencapai tingkat homeothermy. hutan. ular semakin jarang ditemui di tempat-tempat yang dingin. Ular merupakan salah satu reptil yang paling sukses berkembang mulai dari daratan sampai ke lautan. gurun. 2000). dimana hewan yang sangat besar akan mempertahankan suhu badan konstan dengan sedikit masukan dari lingkungan. lingkungan pemukiman. Pada yang bertubuh besar dibawah sisik ada kepingan tulang. di daerah Irlanda dan Selandia baru dan daerah daerah padang salju atau kutub. Reptilia adalah salah satu hewan kelas vertebrata dalam kelompok hewan yang melata. Ophidia (Ular).PENDAHULUAN 1. poikiloterm. Chrocodilia (buaya) dan Chelonia (penyu) (Iskandar. Terdiri dari empat ordo yaitu Lacertillia (kadal). jari-jari bercakar. Sebagai contoh. lahan pertanian. Di gunung. yaitu suhu mereka tidak terlalu berfluktuasi dengan lingkungan. (Mirza. sebagaimana umumnya hewan berdarah dingin. tidak membutuhkan air lagi untuk pertumbuhan embrionya karena tidak memiliki tingkat larva. Posisi geografis Indonesia yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia merupakan salah satu sebab beragamnya jenis ini. beberapa jenis ular dapat makan hanya satu bulan sekali. seperti di puncak-puncak gunung. Kulit diselaputi sisik keras atau kepingan dari bahan tanduk.1 Latar belakang Indonesia memiliki jenis-jenis amfibi dan reptil yang beragam. Reptil ditemukan di semua pulau-pulau di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. pembuahan di dalam tubuh dan ovipar. 2010 ). Hal ini disebabkan oleh adanya proses giganthothermy. dataran rendah.reptil bersifat ektoterem dan poikilotherm yang berarti mereka menggunakan sumber panas dari lingkungan untuk memperoleh energi. ekor panjang. untuk memperkuat daya perlindungan dilengkapi dengan eksoskelet. sampai ke lautan. Banyak jenis yang lain hidup melata di atas permukaan .I. Seluruh hidupnya sudah menyesuaikan diri dengan kehidupan darat. dapat ditemukan ular. bernafas dengan paru-paru saja.

Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit (Jasin.tanah atau menyusup-nyusup di bawah serasah atau tumpukan bebatuan. 1992). truncus dan caudal. mengetahui morfolog. 1. adanya kecendrungan ke arah pemisahan darah yang beroksigen dalam jantung. buaya). merupakan bukti bahwa ular bervolusi dari reptilia berkaki. 1999). Namun demikian. telur sesuai sekali untuk pertumbuhan darah. tetapi mereka masih tidak berfungsi. sempurnanya proses penulangan. umumnya tubuh dapat terbagi atas cephal. identifikasi. mempunyai membran dan cangkang guna untuk melindungi embrio.3 Tinjauan pustaka Reptilia menunjukkan kemajuan dibandingkan amphibia.petunjuk identifikasiyang berupa cir dan karakteristik morfologi reptilia yang telah didapat. Pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu kulit dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit baik secara total yaitu pada anggota Sub-ordo Ophidia dan pengelupasan sebagian pada anggota Sub-ordo Lacertilia. kecuali pada kadal tidak berkaki (misalnya Ophisaura sp). sisa tulang tungkai dan pelvis pada ular primitif seperti ular boa. memiliki telinga dan kelopak mata yang bisa di tutup. rawa. 1. Bentuk luar tubuh reptilia bermacam-macam yaitu ada yang bulat pipih( kadal. Perbedaannya adalah kadal pada umumnya berkaki. serta membuat kunci determinasi dari keas reptilia melalui petunjuk. danau dan laut (McCurley. Hal ini ditunjukkan dengan mempunyai penutup tubuh yang kering dan berupa sisik yang merupakan penyesuaian hidup menjauh air. Saat ini sebagian besar ular hidup di atas permukaan tanah. 2000 ). Subordo serpentes dikenal dengan keunikannya yaitu merupakan reptilia yang seluruh anggotanya tidak berkaki (kaki mereduksi) dari ciri-ciri ini dapat diketahui bahwa semua jenis . Ular sebenarnya adalah keturunan kadal yang memakai gaya hidup bersarang dalam lubang. Extremitas cocok untuk gerak cepat. Sedangkan pada Ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Sementara sebagian yang lain hidup akuatik atau semi-akuatik di sungai-sungai. cervix. Perbedaan ini tidak dapat dijadikan pegangan ( Iskandar.2 Tujuan Adapun tujuan dilakukan praktikum ini adalah untuk.

Ada sebagian famili yang memiliki gigi bisa yang fungsinya utamanya untuk melumpuhkan mangsa dengan jalan mengalirkan bisa ke dalam aliran darah mangsa (Zug. Memiliki facial pit sebagai thermosensor. Berbeda dengan anggota Ordo Squamata yang lain. Biasanya memiliki gigi bisa tipe Solenoglypha dan ketika menutup gigi bisanya akan berada pada cekungan di dasar bucal. dan Hidropidae. Famili ini mempunyai lapisan pigmen yang gelap di bagian bawah permukaan tiap sisiknya yang menambah terang kilauannya. Famili Viperidae memiliki gigi bisa solenoglypha dengan bisa jenis haemotoxin. Salah satu spesiesnya Xenopeltis unicolor merupakan binatang peliang yang mengahabiskan waktunya di dalam tanah. Sisiknya biasanya termodifikasi menjadi lapisan tanduk tebal dengan pergerakan menyamping. Subfamili yang ada di Indonesia adalah Crotalinae yang terdiri dari 18 genus dan 151 spesies (Weber. . 1993). Viperidae. Pupil mata membulat karena kebanyakan merupakan hewan diurnal. Dengan paru-paru yang asimetris. 1915). Famili Xenopeltidae atau biasa dikenal dengan ular pelangi karena sisiknya berkilau bila terkena cahaya. Bisa tipe neurotoxin. pertemuan tulang rahang bawahnya dihubungkan dengan ligament elastis (Zug. 1999). Dekat kekerabatannya dengan Famili Hydrophiidae. Famili ini dapat mencapai ukuran 6m (Ophiophagus hannah) dan biasanya ovipar namun adapula yang ovovivipar (Hemachatus) ( Bennet. 1993). 1993).ular termasuk dalam subordo ini. Colubridae. Namun ada pula yang hidup di daerah tropis. Menurut Zug (1993) subordo serpent ini memiliki keunikan lainnya yaitu seluruh organ tubuhnya termodifikasi memanjang. Ciri lain dari subordo ini adalah seluruh anggoanya tidak memiliki kelopak mata. Banyak ditemukan di Cina Selatan sampai Asia Tenggara (Zug.terdiri dari 61 genus dengan 231 spesies yang telah diketahui. Memiliki organ perasa sentuhan (tactile organ) dan reseptor yang disebut Organ Jacobson ada pula pada beberapa jenis yang dilengkapi dengan Thermosensor. Kebanyakan anggota familinya merupakan hewan yang ovovivipar dan beberapa ada yang bertelur. Sedangkan fungsi pelindung mata digantikan oleh sisik yang transparan yang menutupinya. Sub ordo serpentes memiliki empat family yaitu Elaphidae. Tersebar hampir di seluruh dunia. Elapidae merupakan famili yang anggotanya kebanyakan ular berbisa yang banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis. paru-paru kiri umumnya vestigial atau mereduksi. Famili ini kebanyakan merupakan ular terran yang hidup di gurun.

Famili ini meliputi hampir setengah dari spesies ular di dunia. tanpa dikunyah menjadi keping-keping yang lebih kecil. Menurut Murphy (1997). lain: Homalopsis. kodok.Famili Colubridae memiliki ciri yang dapat membedakan dengan famili yang lain diantaranya sisik ventralnya sangat berkembang dengan baik. Agar lancar menelan. melebar sesuai dengan lebar perutnya. Beberapa jenis ular. Kebanyakan hidup di dasar laut dengan sesekali naik ke permukaan untuk bernafas (Iskandar. 1982). ular memakan mangsanya bulat-bulat. ular biasanya memilih menelan mangsa dengan kepalanya lebih dahulu. termasuk telur-telurnya. Kepalanya biasanya berbentuk oval dengan sisik-sisik yang tersusun dengan sistematis. 1999). Tipe gigi bisa yang dimiliki anggota famili ini kebanyakan Proteroglypha dengan tipe bisa neurotoxin. berudu. Ular memangsa berbagai jenis hewan lebih kecil dari tubuhnya. yang memudahkan pencernaan makanan itu apabila telah ditelan. Bisa yang disuntikkan melalui gigitan ular itu biasanya sekaligus mengandung enzim pencerna. Ular-ular besar seperti ular sanca kembang dapat memangsa kambing. dan bahkan telur ikan. Untuk menghangatkan tubuh dan juga untuk . melainkan sekedar untuk memegang mangsanya agar tidak mudah terlepas. artinya. seperti sanca dan ular tikus. Ular-ular perairan memangsa ikan. dalam beberapa menit saja. Ekor umumnya silindris dan meruncing. dan Elaphe ( Djuhanda. kodok. Biasanya warnanya belang-belang dan sangat mencolok. Gigi bisanya tipe proteroglypha dengan bisa haemotoxin Genusnya antara. Hydrophiidae merupakan famili dari ular akuatik yang memiliki bisa yang tinggi. Natrix. yang dapat melumpuhkan sistem saraf pernapasan dan jantung (neurotoksin). Ular pohon dan ular darat memangsa burung. Ular-ular berbisa membunuh mangsa dengan bisanya. mamalia. Kebanyakan anggota famili Colubidae tidak berbisa atau kalaupun berbisa tidak terlalu mematikan bagi manusia. atau yang dapat merusak peredaran darah (haemotoksin). jenis-jenis reptil yang lain. 2000). Untuk spesies Pelamis platurus persebarannya hingga Samudra Pasifik Timur dan untuk Aipysurus laevis cenderung untuk hidup di daerah terumbu karang. membunuh mangsa dengan cara melilitnya hingga tak bisa bernapas. Bagian ekor termodifikasi menjadi bentuk pipih seperti dayung yang befungsi untuk membantu pergerakan di air. Gigi di mulut ular tidak memiliki fungsi untuk mengunyah. Persebaran anggota famili ini di perairan tropis yaitu kebanykan di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik bagian barat. Ptyas. kijang. rusa dan bahkan manusia (McCurley.

1997). yaitu Aglypha (tidak memiliki gigi bisa) Contohnya pada Famili Pythonidae. Kebanyakan jenis ular berkembang biak dengan bertelur. venom). bahkan ular sanca µmengerami¶ telurtelurnya. Jumlah telurnya bisa beberapa butir saja. ular cabai. Cardiotoxin . ular kepala dua. Sebetulnya tidak melahirkan seperti halnya mamalia. ular bangkai laut. dan Viperidae (ular tanah. seperti ular kadut belang. sejauh ini hanya diketahui yang betinanya. dan ular sanca. Contohnya pada Famili Viperidae. ular pucuk dan ular bangkai laut µmelahirkan¶ anak. Menurut Djuhanda (1983).Ophistoglypha (memiliki gigi bisanya yang terdapat di deretan gigi belakangnya) Contohnya pada Famili Hydrophiidae. dll. Contohnya pada Famili Elapidae dan Colubridae. Ular-ular yang berbisa kuat di Indonesia biasanya termasuk ke dalam salah satu suku ular berikut: Elapidae (ular sendok. Contoh famili yang memiliki bisa tipe ini adalah Colubridae dan Viperidae. ular kerap kali perlu berjemur (basking) di bawah sinar matahari. seperti ular kawat. Ular-ular yang berbisa kebanyakan termasuk suku Colubridae. Ada 4 tipe gigi yang dimiliki Subordo Serpentes. yakni ular buta atau ular kawat Rhampotyphlops braminus. gua. Proteroglypha (memiliki gigi bisa yang terdapat di deretan gigi muka). umumnya ular pergi menghindar bila bertemu orang. Sebagian ular. ular bandotan) (Mattison. hingga puluhan dan ratusan butir. atau di bawah timbunan daun-daun kering. akan tetapi bisanya umumnya lemah saja. dan Boidae. perlindungan diri ataupun untuk membantu pencernaannya. namun banyak pula yang tidak.membantu kelancaran pencernaan. kebanyakan bisanya tidak cukup berbahaya bagi manusia. Hydrophiidae (ular-ular laut). lalu keluar sebagai ular kecilkecil. ular belang. Sejenis ular primitif. Ular ada yang berbisa (memiliki racun. Ular yang mirip cacing kecil ini diduga mampu bertelur dan berbiak tanpa ular jantan (partenogenesis) (Murphy. Ular-ular primitif. ular karung. Lagipula. lubang kayu lapuk. Dari antara yang berbisa. tidak berbisa. Akan tetapi tidak perlu terlalu kuatir bila bertemu ular. melainkan telurnya berkembang dan menetas di dalam tubuh induknya (ovovivipar). Sedangkan untuk bisa ular.Solenoglypha (memiliki gigi bisa yang bisa dilipat sedemikian rupa pada saat tidak dibutuhkan). Beberapa jenis ular diketahui menunggui telurnya hingga menetas. yaitu Haemotoxin merupakan bisa yang menyerang sistem peredaran darah yaitu dengan cara menyerang sel-sel darah. 1999). terdapat 3 jenis bisa yang digunakan untuk melumpuhkan mangsa.). Ular meletakkan telurnya di lubanglubang tanah.

dalam arti banyak famili yang sebagian anggotanya memiliki bisa jenis ini. Neurotoxin merupakan bisa yang menyerang syaraf.merupakan bias yang dapat menyerang pembuluh darah dan juga jantung dengan cara melemahkan otot-otot jantung sehingga detaknya melambat dan akhirnya dapat berhenti. menjadikan syaraf mangsanya lemah sehingga tidak dapat bergerak lagi dan dapat dimangsa dengan mudah. Famili Elapidae dan Hydrophiidae adalah contoh famili yang memiliki bisa tipe ini (Iskandar. . Contoh famili yang memiliki bisa jenis ini tidak spesifik. 2000).

kemudian dibuat klasifikasi dan kunci determinasi dari spesiesspesies ular yang ada. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 2. Ahaitull presina . panjang moncong (PM). 2 Mei 2011. alat tulis. bentuk sisik lingkar badan (BSLB). jumlah sisik infraokuler (JSIO). sedangkan bahan yang digunakan yaitu spesies-spesies dari kelas reptilia yaitu Phyton reticulate. Universitas Andalas. Jam 14. bentuk rostral (BR). panggaris. loreal ped (LP). panjang total (PT). Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Denrelapis pictus.2 Alat dan bahan Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah bak bedah. bentuk sisik kepala (BSK). jumlah sisik lingkar badan (JSLB). jumlah sisik supra loreal (JSSL). dengan melakukan identifikasi kita dapat membuat nantinya kunci determinasi. jumlah sisik infra loreal (JSIL).1 Waktu dan tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin. vernier caliper. pinset. jumlah sisik supraorbital (JSSO). dan Chrysopelea pelias 2. jumlah sisik ventral (JSV).00 WIB di Laboratorium Taksonomi Hewan. gambar. sisik temporal (ST). panjang ekor (PE). bentuk papilae (BP).00-17. sisik loeal (SL). Setelah seluruh parameter tersebut diukur. Tripdolaemus wagleri. Amati. diameter mata (DM). bentuk sisik ekor (BSE).3 Cara Kerja Letakkan objek pada bak bedah dengan posisi kepala sebelah kiri. jumlah sisik ekor (JSE).II. foto dan lakukuan identifikasi pada hewan reptilia tersebut. bentuk kepala (BK). bentuk tubuh (BT). 2. Perhitungan yang di lakukan adalah panjang kepala (PK). Jurusan Biologi. . Naja sumatrana.

bentuk sisik ekor (BSE) berpanjangan. jumlah sisik supra labial (JSSL) 12 buah.5 mm. 1801 (reptile-databse.5 mm. kecoklatan. Sisik-sisik dorsal (punggung) tersusun dalam 70-80 deret. panjanng total (PT) 119. Dendrelaphis pictus memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 3 buah.org) Dari pengukuran yang telah dilakukan bahwa Phyton reticulatus panjang kepala (PK) 4.4 mm. jumlah sisik ventral (JSV) 448 buah. Phyton reticulatus memiliki bentuk kepala (BK) tumpul. sisik loreal (SL) ada. HASIL DAN PEMBAHASAN 3. dan jumlah sisik ekor (JSE) 137 buah. panjang ekor (PE) 16. bentuk tubuh (BT) slender. bentuk sisik lingkar badan (BSLB) smooth. Dari data diatas menunjukkan hasil yang sesuai dengan teori dimana Sanca kembang memiliki pola lingkaran-lingkaran besar berbentuk jala (reticula.1 Phyton reticulatus Klasifikasi : Kingdom Filum Sub filum Kelas Ordo Sub ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Chordata : Vertebrata : Reptilia : Squamata : Serpentes : Phytonidae : Phyton : Phyton reticulates Schneider. jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 72 buah. jala). sisik-sisik ventral (perut) sebanyak 297-332 buah. tersusun dari warnawarna hitam.8 mm. panjang moncong (PM) 3. jumlah sisik infra labial (JSIL) 24 buah.1. jumlah sisik supra okuler (JSSO) 3 buah. kuning dan putih di sepanjang sisi dorsal tubuhnya. sisik temporal (ST) ada. loreal pit (LP) tidak ada.5 mm. . Dan masing-masing satu garis hitam lain yang lebih tebal berada di tiap sisi kepala. Satu garis hitam tipis berjalan di atas kepala dari moncong hingga tengkuk. melewati mata ke belakang.III. menyerupai garis tengah yang membagi dua kanan kiri kepala secara simetris. diameter mata (DM) 0.

Nusa Tenggara (hingga Timor). Ular yang kecil memangsa kodok. 3.1. Setelah makan. Perisai rostral (sisik di ujung moncong) dan empat perisai supralabial (sisik-sisik di bibir atas) terdepan memiliki lekuk lubang penghidu bahang (heat sensor pits) yang dalam (Tweedie 1983). Makanan utamanya adalah mamalia kecil. 1789) (Jurgen.dari bawah leher hingga ke anus. ular ini akan berpuasa beberapa hari hingga beberapa bulan hingga ia lapar kembali. bentuk pupil (BP) rounded. bahkan manusia yang µtersesat¶ ke tempatnya menunggu mangsa (Murphy . Ular-ular berukuran besar dilaporkan memangsa anjing. Burma hingga ke Indochina. kadal dan ikan. Dendrelapis pictus memiliki (PT) 47 mm. diameter mata (DM) 3 mm. 1997). Mulai dari Kep. . Sanca kembang menyebar di hutan-hutan Asia Tenggara. sisik subkaudal (sisi bawah ekor) 75-102 pasang. dan ke utara hingga Filipina (Murphy. terutama setelah menelan mangsa yang besar. rusa. bentuk rostal (BR) bulat. 1988) Dari praktikum yang telah dilakasanakan. PKB 45 mm. Nikobar. Sulawesi. panjang moncong (PM) 5 mm. bentuk tubuh (BT) blune. Dendrelaphis pictus memiliki bentuk kepala (BK) truncate . 1997) Ular sanca kembang membunuh mangsanya dengan cara melilitnya hingga tak bernapas . burung dan reptilia lain seperti biawak. sehingga kerap ditemui tidak jauh dari badan air seperti sungai. Kalimantan. kolam dan rawa. 2 Dendrelaphis pictus Klasifikasi : Filum Kelas Ordo Sub Ordo Famili Genus Spesies : Chordata : Reptilia : Squamata : Serpentes : Colubridae : Dendrelaphis : Dendrelaphis pictus (G Melin. babi hutan. Jawa. Ular ini bergantung pada ketersediaan air. monyet. ke selatan melewati Semenanjung Malaya hingga ke Sumatra.

1988). 3. Memiliki ekor yang panjang. itu akan melarikan diri dengan cepat saat terancam atau terganggu. habitat back-pantai serta taman dan kebun. Bronzeback Painted dapat ditemukan di berbagai habitat termasuk semak. Spesies ini tersebar luas dan umum. Terkadang jenis ini mengikuti habitat manusia Di daerah Himalaya termasuk Indocina. mencari mangsa makanannya . melalui Indocina dan Thailand.Dari data diatas menunjukkan hasil yang sesuai dengan teori dimana Ular ini mencolok dan memiliki kepala yang lebih terang dari pada badan dengan ukuran mata yang besar. Tropidolaemus wagleri memiliki bentuk kepala (BK) . untuk Semenanjung Malaysia. panjang moncong (PM) 16 mm. Bagian dorsal memiliki skala sisik yang berbeda. 1830) (Jurgen.1.3 Tropidolaemus wagleri Klasifikasi : Filum Kelas Ordo Sub Ordo Famili Genus Spesies : Chordata : Reptilia : Squamata : Serpentes : Viveridae : Tropidolamus : Tropidolaemus wagleri (Wagler. diameter mata (DM) 4 mm. Gugup dalam disposisi. hutan sekunder. panjang ekor (PE) 5. dan hitam dan krim sepanjang tubuh.Kisaran spesies dari China selatan. Dari praktikum yang telah dilakasanakan Tropidolaemus wagleri memiliki panjang kepala (PK) 24mm. Ukuran baris dorsal bagian tengah semakin kebawah semakin besar atau lebar. Perut dengan tipe scute sangat lebar yang memfasilitasi pada saat mendaki atau memanjat.terutama kadal dan katak. Hewan jenis ini terdapat di hutan basah. 1988). hitam garis-garis lateral mata dan topeng. panjanng total (PT) 369 mm. Hal ini aktif pada siang hari.5 mm. 1992 ). hutan pegunungan dan juga hidup di hutan-hutan bambu.Spesies ini diidentifikasi oleh kepala perunggu yang. pulau-pulau besar di Indonesia dan Filipina ( Lim. Ketika mengancam akan mengembang sedikit tubuhnya untuk mengungkapkan kulit kebiruan atau biru kehijauan yang mendasari sisik badan. Hainan dan pilipina diperkirakan terdapat empat sub spesies dari jenis ini (Jurgen.

Seperti ular berbisa lubang lain. Ular ini . fase yang sangat bagus dari warna ular ini adalah saat berwarna hitam dan campuran dasar warna hitam. Malaysia dan Singapura ke Kalimantan. jumlah sisik supra okuler (JSSO) 3 buah.Spesies yang dapat diidentifikasi oleh kepala segitiga. memiliki sensor panas atau lorreal pit yang berfungsi untuk mendeteksi mangsa atau musuh melalui suhu tubuh. bentuk sisik ekor (BSE)double row. Habitat ular ini dapat ditemukan di sebagian besar habitat ekologi dari hutan hujan tropis untuk pasir dan bahkan gunung-gunung tinggi. Sumatra. J &. Terutama berwarna hijau muda terang dengan band pucat sempit. Sulawesi dan pulau-pulau yang lebih selatan dari Filipina (Cox. dan orang dewasa hijau tua dengan pita kuning tebal. berarti itu adalah racun untuk sistem darah. Menurut Auliya (2006). PKB 29 buah PA tidak terbatas. dan katak. bentuk sisik lingkar badan (BSLB) keeled. hutan sekunder matang dan hutan bakau. JSLB 22 buah. Dijk V. dan jumlah sisik ekor (JSE) 56 buah. Merel J. Nabhitabhata. Tropidolaemus wagleri merupakan salah satu ular yang berbisa dengan ciri bentuk kepala triangular. P. sisik temporal (ST) tidak ada.ini digunakan untuk mencari mangsa. Hal ini aktif pada malam hari. loreal pit (LP) ada.segitiga. Makanan berupa mamalia kecil. Ular ini berwarna hijau bercahaya dengan bercak warna-warni pada sisi perutnya. Paul. jenis ini memiliki racun haemotoxic.. 1998) Menurut Zug (1993). siang hari umumnya terletak melingkar tinggi di pepohonan. dengan orange dan kuning sebagai pola yang dicampur dengan dasar warna hijau bercahaya.Wagler's Pit Viper berkisar dari selatan Thailand. bentuk tubuh (BT) tumpul. burung. T.6 m. Tropidolaemus wagleri adalah jenis spesies dari genus Tropidolaemus yang dicirikan tidak memiliki nasal pori. jumlah sisik ventral (JSV) 110 buah. JSIL 10 buah.Kumthorn. . berwarna cerah atau terang seperti hijau muda. Tropidolaemus wagleri Ini adalah ular hutan primer. hijau arboreal lubang ular berbisa dapat ditemukan di kawasan itu. Ukuran ular ini dari 28 cm sampai 3. Dari data yang didapt menunjukkan hasil yang sesuai dengan teori dimana Tropidolaemus wagleri atau Wagler's Pit Viper mungkin yang paling terkenal.Istilah "pit viper" mengacu pada panassensing "lubang" yang terjadi pada setiap pipi . sedangkan yang jantan hanya mencapai 75 cm. Tropidolaemus wagleri memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 4 buah. Ular Tropidolaemus wagleri ini diperkirakan masih juvenil karena betina biasanya bisa mencapai ukuran sampai meteran.

bentuk sisik ekor (BSE) doeble. Mentawei. Meskipun tidak agresif di alam.org) Naja sumatrana ini memiliki panjang kepala (PK) 15.1. panjang moncong (PM) 14 mm. bentuk sisik lingkar badan (BSLB) smooth. Tersebar di Malaysia. jumlah sisik infra labial (JSIL) 16 buah.bersifat nokturnal. 1887 (Reptile-database. jumlah sisik supra okuler (JSSO) 3 buah. Indonesia (Sumatera. menggigit. 3.6 mm. diameter mata (DM) 3. sisik pre okuler (SPO) 2 mm. Chrysopele pelias memiliki bentuk kepala (BK) medium headed. ular ini akurat bisa menyemburkan suatu racun neurotoksik kuat ke mata yang dapat menyebabkan kebutaan sementara. sisik pre okuler (SPO) 2. Bangka. jumlah sisik supra labial (JSSL) 8 buah. Reproduksi dengan cara vivipar. Naja sumatrana ini adalah spesies umum di lebih tua. daerah perumahan lebih berhutan kota dan kota-kota di banyak . jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 13 buah. panjanng total (PT) 580 mm. panjang ekor (PE) 185 mm. 1992) Ada dua tipe warna: kuning bentuk yang umum ditemukan di Thailand. loreal pit (LP) tidak ada. Pulau Natuna.4 Naja Sumatrana Kingdom Filum Kelas Ordo Subordo Famili Genus Spesies :Animalia :Chordata :Reptilia :Squamata :Serpentes :Elapidae :Naja : Naja sumatrana Muller. dan jumlah sisik ekor (JSE) 56 buah. sisik temporal (ST) ada 6 buah. dan Riau) . Singapura. dan pada akhirnya bisa fatal (Lim. bentuk platana (BP) doeble. Dari data yang didapat menunjukkan hasil yang sesuai dengan teori dimana Naja sumatrana memiliki mulut yang depan-bertaring spesies berbisa yang harus dihindari. panjang kepala badan (PKP) 395 mm. Nias.4 mm. dan bentuk hitam yang ditemukan di Semenanjung Malaysia dan Singapura. jumlah sisik ventral (JSV) 175 buah. bentuk tubuh (BT) slender. Boiga cynodon memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 2 buah.

5 Chrysopelea pelias Klasifikasi : Filum Kelas Ordo Sub Ordo Famili Genus Spesies : Chordata : Reptilia : Squamata : Serpentes : Colubridae : Chrysopelea : Chrysopelea pelias LINNAEUS. termasuk Singapura. dan jumlah sisik ekor (JSE) 56 buah. sisik pre okuler (SPO) 2. panjang moncong (PM) 14 mm.bagian Asia Tenggara. loreal pit (LP) tidak ada. jumlah sisik supra labial (JSSL) 8 buah. Meskipun kecil.6 mm. Naja sumatran memangsa tikus dan katak. Hal ini juga.org) Chrysopelea pelias ini memiliki panjang kepala (PK) 15. sementara ventrals berwarna hijau pucat. itu tidak diragukan lagi salah satu spesies ular paling langka terbang dalam jangkauan. jumlah sisik infra labial (JSIL) 16 buah. bentuk sisik lingkar badan (BSLB) smooth. panjanng total (PT) 580 mm. Boiga cynodon memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 2 buah. panjang ekor (PE) 185 mm. jumlah sisik lingkar badan (JSLB) 13 buah.4 mm. Mereka juga memiliki garis ventrolateral berwarna krem. sisik pre okuler (SPO) 2 mm. glider terbaik di antara semua ular terbang Chrysopelea juga dikenal dengan nama yang biasa diberikan ular terbang Chrysopelea meluncur dengan menggunakan skala bubungan di sepanjang perutnya. Warna dasar adalah abu-abu hitam atau gelap. Chrysopelea pelias memiliki bentuk kepala (BK) medium headed. bentuk platana (BP) doeble. dan seluruh tubuh ditutupi dengan kuning merah dan tipis tebal dengan pita hitam. jumlah sisik ventral (JSV) 175 buah. 3. 1758 (reptile-database. mencapai hingga dua meter panjangnya. bentuk sisik ekor (BSE) doeble. panjang kepala badan (PKP) 395 mm. sangat mungkin. diameter mata (DM) 3. Dari data yang didapat menunjukkan data yang sesuai dengan teori dimana Chrysopelea pelias ini merupakan spesies terkecil dari ular terbang. dan hari yang aktif dan malam (Lim. mendorong terhadap . sisik temporal (ST) ada 6 buah. 1992). jumlah sisik supra okuler (JSSO) 3 buah. bentuk tubuh (BT) slender.1.

. panjang kepala badan (PKP) 395 mm.org) Ahaetulla prasina ini memiliki panjang kepala (PK) 15. 2007). yang memungkinkan untuk bergerak vertikal ke atas pohon. panjang ekor (PE) 185 mm. Borrell.P. diameter mata (DM) 3. jumlah sisik supra labial (JSSL) 8 buah. Singapura. bentuk sisik ekor (BSE) doeble. dengan temperamen yang tenang. Riau dan Jawa (Lim. Sisi-sisi terang berbintik-bintik coklat dengan warna putih.. Setelah mencapai ujung cabang pohon itu. 6 Ahaetulla prasina Klasifikasi : Filum Kelas Ordo Sub Ordo Famili Genus Spesies : Chordata : Reptilia : Squamata : Serpentes : Colubridae : Ahaetulla : Ahaetulla prasina (BOIE.A. R.1. and McGuire. J. 3. spesies ini mampu meluncur jarak yang cukup dengan membalik permukaan ventral dan meluncurkan diri dari puncak pohon. bentuk platana (BP) doeble. Hal ini mudah diidentifikasi oleh warna kemerahan tubuh bagian atas dan bar hitam-putih bermata. Kalimantan. jumlah sisik . Yanoviak. jumlah sisik supra okuler (JSSO) 3 buah. Boiga cynodon memiliki jumlah sisik infra okuler (JSIO) 2 buah. loreal pit (LP) tidak ada. B. sisik pre okuler (SPO) 2. ular terus bergerak sampai ekornya menggantung dari ujung cabang.. Seperti dengan Paradise Tree Snake. Sumatera. Brown. S.M.permukaan kulit kasar batang pohon. panjanng total (PT) 580 mm. bentuk tubuh (BT) slender. Kisaran spesies dari Thailand selatan ke Malaysia. G. jumlah sisik infra labial (JSIL) 16 buah. 1992). Chrysopelea pelias ini bermotif indah ular jarang terlihat. Ahaetulla prasina memiliki bentuk kepala (BK) medium headed. panjang moncong (PM) 14 mm. Byrnes.4 mm. R. sisik pre okuler (SPO) 2 mm. Ini kemudian membuat bentuk J lengkung (Dudley. 1827) (reptile-database. Ini adalah jenis back-bertaring agak berbisa. bentuk sisik lingkar badan (BSLB) smooth. sisik temporal (ST) ada 6 buah.6 mm. dan permukaan ventral kuning-putih.

1983). merata hingga ke ekor yang biasanya sedikit lebih gelap (Tweedie. Nabhitabhata. Hal ini dapat dibedakan dari hunian-hutan yang sama. Pipi dengan lekukan serupa saluran horizontal ke arah hidung. memungkinkan mata melihat dengan pandangan stereoskopik dan memperkirakan lokasi mangsa dengan lebih tepat. dengan celah mata (pupil) mendatar. Pada umumnya garis pucat tipis sepanjang sisi tubuh. bila merasa terusik. 1983) Ahaetulla prasina agak berbisa namun spesies jinak. yang nomor 4 sampai 6 menyentuh mata. ular gadung akan melebarkan. Bentuknya ramping dan elegan. Kisaran spesies dari India ke Cina dan seluruh Asia Tenggara sejauh timur seperti Sulawesi dan Filipina (Cox. sisik anal berbelah. memipihkan dan melipat lehernya serupa huruf S. kadal burung dan katak. Terkadang. 13 deret di dekat ekor. Sisik-sisik ventral 189-241 buah. yang umumnya ditemukan di wilayah hutan dan pedesaan. sehingga muncul warna peringatan berupa belang-belang putih dan hitam pada kulit di bawah sisiknya. Thirakhupt. termasuk. kuning. van Dijk. dan jumlah sisik ekor (JSE) 56 buah. 1998) . Sisik-sisik dorsal dalam 15 deret. jelas lebih besar daripada leher yang kurus bulat seperti ranting hijau. Ia memakan pada vertebrata kecil . Hal ini paling sering ditemui ketika berjemur sendiri pada pertumbuhan sekunder sepanjang tepi hutan. dan pewarnaan dewasa dapat bervariasi dari coklat muda ke hijau kusam kuning-hijau dan sering neon mengejutkan. sisik-sisik subkaudal 169-183 buah (Tweedie. jarang tunggal. Perisai (sisik-sisik besar) di bibir atas (supralabial) 8-9 buah. Sisi bawah tubuh (ventral) hijau pucat keputihan. dengan garis tipis kuning keputihan di sepanjang tepi bawah tubuh (ventrolateral). jumlah sisik ventral (JSV) 175 buah. Mata besar.lingkar badan (JSLB) 13 buah. Dari data yang didapat menunjukkan hasil yang sesuai dengan teori dimana Ahaetulla prasina memiliki kepala panjang meruncing di moncong. Panjang moncong sekurangnya dua kali panjang mata. Sisi atas tubuh (dorsal) hijau terang atau hijau agak muda.. Ahaetulla prasina muda yang lahir hidup. berwarna kecoklatan.

y Famili Colubridae.. tidak memiliki sensor panas. memiliki sensor panas. maka perlu diperhatikan hal-hal seperti berikut harus lebih berhati. y Famili Phytonidae. jenis ular yang berbisa dengan ciri-ciri tipe kepala segitiga.2 Saran Agar pratikum dapat berjalan dengan baik. tetapi vagi binatang-binatang kecil. KESIMPULAN DAN SARAN 4. 4. Colubridae. tipe kepala biasa medium head. ular ini tidak mematikan bagi manusia. memiliki warna yang kusam seperti coklat dan hitam.IV. maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : y Sub ordo serpentes terdiri dari family Viviridae.hati dalam praktikum ini dapat terjadi kecelakaan berupa tergigit ular. dan lebih teliti dan cermat dalam melihat karakteristik bahan yang dibawa.hati dalam pelaksanaan praktikum karena bila tidak berhati. Elapidae dan Hydrophiidae y Famili Viperidae. .1 Kesimpulan Dari hasil dan data yang diperoleh dari praktikum yang telah dilaksanakan. memiliki ukuran besar.

F. Taxonomy. Tales of Giant Snake. Singapore Science Centre Mirza.html..doc. 1998. Herpetologi. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi.files.110014. Jasin. 432 pp. dan konservasi dari reptil raksasa di Kalimantan Barat. P. Henderson.socha/aerial_images/pelias/pelias_air_gallery_1. Natur und Tier Verlag. and Systematics 38: 179±201. J. The Singapore National Printers. M.1999.K.1988. S. "Chrysopelea pelias aerial images". Routledge and Kegal Paul Ltd. Byrnes.. Dijk V. R.wordpress. The reptilia of The Indo-Australian Archipelago.org.37.mac. Krieger Publishing Company : Malabar.P. Lim. Amsterdam . http://homepage.. 1983. T. Paul. 2006.DAFTAR PUSTAKA Auliya. D. Socha. 1999. 25 Maret 2010 Mc Curley. The Snakes of Malaya. 1915. Tweedie M. New Holland.A Pocket Guide. 1999. Singapore and Thailand. A photographic Guide to Snakes and Other Reptiles of Peninsular Malaysia. Lim. T. Indonesia. R. Royal Geografhycal: London Cox.P.1146/annurev. Bandung Dudley. Natural History Publications (Borneo) Sdn. Djuhanda. T.com/j. Merel J. Publishing Inc : New York Murhpy.A. Lizards of Borneo . G.Kumthorn. J &. 2000. A Guide to the Amphibians & Reptiles of Singapore.. London Mattison. Evolution. Munster. Puslitbang Biologi LIPI. C. K. Expedition Fieled Tachniques of Reptiland Amphibian. J. Nabhitabhata. M.. Amico. Bhd. Annual Review of Ecology. Yanoviak. Snake.091305. DK. Singapore Weber. Buaya dan Kura-kura Indonesia. (1999-2005). Anatomi dari Empat Spesies Hewan Vertebrata. Jurgen . J. B. Bennet.W. Iskandar.1992. M. D. L.M. and McGuire. 1992. http://alasyjaaripb. (2007). Bogor. 2010. Sinar Wijaya : Surabaya. Borrell. NT. 1982. doi:10. "Gliding and the Functional Origins of Flight: Biomechanical Novelty or Necessity?". Retrieved 14 July 2009.ecolsys. flyingsnake. The Reptile World. R.com/2008/11/pengenalanherpetofauna_2008.. Riwayat Hidup. Brown. 1997.

Academic Press. Herpetology : an Introductory Biology of Ampibians and Reptiles. London. George R. 1993.Zug. p : 357 ± 358 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful