You are on page 1of 25

BAB I

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Akhlak berasal dari kata akhlaq yang merupakan jama dari khulqu dari bahasa Arab yang artinya perangai, budi, tabiat dan adab. Akhlak itu terbagi dua yaitu Akhlak yang Mulia atau Akhlak yang Terpuji (Al-Akhlakul Mahmudah) dan Akhlak yang Buruk atau Akhlak yang Tercela (Al-Ahklakul Mazmumah). Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT , akhlak yang baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang maruf dan menjauhi yang munkar, seperti firman Allah dalam surat Al-Imran 110 yang artinya Kamu adalah umat yang terbaik untuk manusia, menuju kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah. Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati, ujub, dengki, sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan (berprasangka buruk), dan penyakit-penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di sekitarnya maupun kerusakan lingkungan sekitarnya sebagai contohnya yakni kegagalan dalam membentuk masyarakat yang berakhlak mulia samalah seperti mengakibatkan kehancuran pada bumi ini, sebagai mana firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surat Ar-Ruum ayat 41 yang berarti: "Telah timbul pelbagai kerusakan dan bencana alam di darat dan di laut dengan sebab apa yang telah dilakukan oleb tangan manusia. (Timbulnya yang demikian) karena Allah hendak merusakan mereka sebagai dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan, supaya mereka kembali (insaf dan bertaubat)". 2. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas dapat kami simpulkan rumusan masalah sebagai berikut : 1. Apa pengertian ananiah, ghadab, hasad, ghibah, dan nanimah ?
Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 1

2. Apa saja contoh-contoh ananiah, ghadab, hasad, ghibah, dan namimah? 3. Bagaimana cara menghindari ananiah, ghadab, hasad, ghibah, dan namimah? 3. Tujuan Permasalahan 1. Untuk mengetahui definisi ananiah, ghadab, hasad, ghibah, dan namimah baik secara bahasa maupun istilah beserta dalilnya. 2. Untuk mengetahui bentuk-bentuk ananiah, ghadab, hasad, ghibah, dan namimah? 3. Untuk membiasakan diri menghindari perilaku ananiah, ghadab, hasad, ghibah, dan namimah.

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 3

BAB II PEMBAHASAN A. ANANIAH 1. Pengertian ananiah Kata ananiah berasal dari bahasa arab yang berarti aku. Ananiah berarti sebangsa aku atau keakuan. Secara istilah, ananiah berarti sikap keakuan, sikap mementingkan diri sendiri, kurang memerhatikan orang lain. dalam bahasa Indonesia, sikap seperti itu disebut egois. Sikap ananiah terkait erat dengan sikap takabur. Dalam kehidupan sehari-hari sikap ananiah sering kali kita jumpai, baik pada diri remaja maupun orang dewasa. Sudah barang tentu sikap ananiah tidak disukai dalam pergaulan karena cenderung meremehkan atau tidak menghargai orang lain. 2. Bentuk-bentuk Ananiah Ananiah dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Bentuk-bentuk sikap ananiah yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, antara lain: a. Selalu ingin menang dalam pembicaraan bersama teman. b. Kurang menghargai pendapat orang lain, walaupun benar. c. Menonjolkan kemampuan dirinya di hadapan sesame manusia. d. Susah menerima saran dan/atau kritik orang lain. 3. Larangan Bersikap Ananiah Islam melarang umatnya bersikap ananiah dna mendidik umatnya agar pandai-pandai menghormati orang lain sebagaimana wajarnya. Aisyah r.a. berkata sebagai berikut.

.
Artinya :
Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 4

Rasulullah saw.menyuruh kita agar kita menghormati manusia (orang lain) sesuai dengan kedudukannya. (H.R. Muslim dari Aisyah) Diriwayatkan pula Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.

.
Artinya : Tidaklah seorang anak muda yang memuliakan orang tua karena ketuaannya, melainkan Allah akan mengadakan baginya orang yang akan memuliakan dia setelah tuanya. (H.R. at-Tirmizi nomor 1945 dari Anas bin Malik) Apabila kita sebagai generasi muda mau menghormati yang tua, ingsya Allahkelak (setelah tua) akan dihormati pula oleh yang muda. Dengan demikian, hadis di atas sebagai motivasi bagi kita untuk menghormati orang lain (terutama yang lebih tua). Walaupun pada hadis diatas dikatakan menghormati orang tua karena ketuaannya, berarti bahwa selain orang tua tidak dihormati. Semua wajib dihormati sebagaimana diri kita ingin dihormati. Salah satu bentuk menghormati orang lain ialah menjaga diri agar tidak bersikap ananiah atau egois. 4. Dampak Negatif Ananiah Setiap larangan agama pasti berdampak negatif apabila dilanggar. Adapun dampak negatif ananiah yang akan dirasakan pelakunya sendiri, antara lain: a. Tidak disukai dalam pergaulan karena dia meremehkan orang lain. b. Menurunkan martabatnya sehingga lambat laun yidak disukai orang. c. Terisolir dari pergaulan masyarakat lingkungannya. 5. Menghindari Sikap Ananiah

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 5

Menghindari sikap ananiah terkadang tidak mudah karena sudah menjadi watak. Namun demikian, apabila ada kemauan yang sunggguh-sungguh niscaya akan memperoleh hasil juga. Adapun cara umtuk menghilangkan sifat ananiah, antara lain: a. Menghindari diri untuk tidak selalu menang dalam pembicaraan b. Tidak menganggap bahwa pendapatnya sendiri yang paling benar c. Belajar menghargai orang lain sebagaimana dirinya ingin dihargai.

B. GADAB 1. Pengertian Gadab Gadab berasal dari bahasa arab - yang berarti merasa (perasaan) sangat tidak senang dan panas (karena dihina, diperlakukan kurang baik) dan sebagainya. Rasa tidak senang dan panas tersebut mungkinkarena dihina, disakiti hatinya atau dirampas haknya. Akibatnya, menimbulkan kekecewaan. Apabila kekecewaan cukup mendalam akhirnya dilampiaskan dengan kemarahan. 2. Bentuk-bentuk Gadab Orang yang marah darahnya memanas sehingga memengaruhi seluruh syarafnya. Darah yang mengalir ke kepala memengaruhi seluruh syaraf dikepala sehingga wajahnya memerah. Kemarahan seseorang dapat diwujudkan dalam bentuk a. Pandangan mata yang tajam dengan mata memerah dan jarang berkedip b. Wajah cemberut dan mudah terpancing emosinya c. Susah diajak berbicara baik-baik d. Terkadang melontarkan kata-kata yang kasar yang tidak enak didengar
Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 6

e. Bertindak anarkis, merusak sesuatu yang ada disekelilingnya f. Mengancam terhadap orang yang menyebabkan kecewa. 3. Larangan Gadab Gadab atau Marah termasuk sikap yang kurang terpuji. Islam mendidik umatnya agar bersikap sabar tidak mudah marah, kecuali apabila sudah keterlaluan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dinyatakan sebagai berikut.

.
Artinya: Sesungguhnya seorang lelaki berkata (meminta nasihat kepada Rasulullah saw), Ya Rasulullah, nasihatilah aku! Sabdanya, Janganlah engkau marah! lalu beliau mengulanginya beberapa kali, dan sabdanya, janganlah engkau marah! (H.R. al-Bukhari nomor 5651 dari Abu Huraiah) Orang yang mampu mengendalikan dirinya (tidak marah) telah memiliki tanda-tanda sebagai orang yang takwa, yang dijanjikan Allah akan memperoleh janah. Firman-Nya sebagai berikut.

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 7

Artinya: Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa; (yaitu) orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahny dan memaafkan (kesalahan) orang lain. dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. Ali Imran/3 :133-134) 4. Dampak Negatif Gadab Sebagaimana akhlak mazmudah yang lain, gadab pun berdampak negatif, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. adapun dampak negatif gadab, antara lain sebagai berikut. a. Bagi pelakunya sendiri a. Tidak dapat berpikir secara tenang dalam menghadapi persoalan b. Mudah terkena tekanan batin apabila hal itu sering terjadi. c. Susah menerima kebenaran dan saran karena emosinya sedang memuncak. b. Bagi orang lain a. Tidak dapat diajak berkomunikasi secara baik b. Menimbulkan kekhawatiran apabila melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. 5. Perilaku menghindari gadab

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 8

Setiap orang mempunyai pembawaan emosional yang berbeda. Ada yang tergolong sabar dan ada pula yang tergolong kurang sabar atau pemarah. Sungguhpun demikian, pembawaan tersebut dapat diubah sedikit demi sedikit. Adapun cara mengurangi gadab, antara lain. a. Menyadari dengan sepenuh hati bahwa setiap orang pasti berbuat salah. b. Menyadari bahwa dirinya juga pernah berbuat salah kepala orang lain. c. Marah tidak dapat menyelesaikan masalah secara baik. d. Marah tidak disukai dalam pergaulan. e. Memperbanyak bergaul dengan banyak orang karena kemarahan sering terhadap karena dilihat orang lain.

C. HASAD 1. Pengertian hasad Kata hasad berasal dari bahasa arab yang berarti iri hati, dengki. Iri hati berarti merasa kurang senang atau cemburu melihat orang lain beruntung atau mendapatkan suatu kesenangan. Iri adalah salah satu bentuk gangguan mental. Dikatakan gangguan mental karena hati orang yang iri senantiasa gelisah jika melihat orang lain melihat orang lain mendapatkan kesenangan. Semakin sering melihat orang lain senang, semakin gelisah pula hatinya.

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 9

Apabila iri tidak dapat dikendalikan lagi, muncullah perbuatan yang amat buruk, yakni dengki. Dengan demikian, dengki merupakan akibat adanya sifap iri. 2. Larangan Bersifat Hasad Islam mendidik umatnya agar menjauhi sifat hasad. Allah swt. berikut. Berfirman sebagai

32. Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.(Q.S an-Nisa :4) Keadaan manusia berbeda-beda, ada yang miskin ada pula yang kaya. Orang yang miskin tidak boleh mengangan-angan (iri) terhadap yang kaya. Semakin mengangan-angan kekayaan,

seseorang semakin dalam rasa irinya. Allah Yang Maha Bijaksana telah mengatur segala sesuatu sesuai kehendak-Nya yang mutlak. Pada akhir ayat diatas, kita disuruh berusaha dan memohon karunia Allah swt. Sesuai kemampuan yang ada. Rasulullah saw bersabda sebagai berikut.

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 10

.
Artinya : Jagalah dirimu dari hasad karena sesungguhnya hasad itu merusak kebaikan, sebagaimana api yang memakan kayu bakar. (H.R.Abu Dawud nomor 4257 dari Abu Hurairah) Maksud hadis diatas ialah bahwa apabila seseorang memiliki sifat hasad, sifat tersebut dapat merusak pahala kebaikan yang telah dilakukan sebelumnya. Rusaknya pahala kebaikan yang telah dilakukan diibaratkan seperti rusaknya kayu bakar yang termakan api. Pada hadis yang lain, Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.

.
Artinya : Janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling melakukan najas, janganlah kamu saling membenci, janganlah kamu saling membelakangi, dan janganlah sebagian dari kamu menjual jualan orang lain. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara (H.R. Muslim nomor 4650 dari Abu Hurairah) Pada hadis diatas terdapat beberapa larangan, yakni tidak boleh : a. Saling mendengki (bersifat hasad) b. Melakukan najas(pura-pura menawar barang dengan harga yang tinggi, dengan maksud agar orang lain berani membeli dengan harga yang tinggi) c. Saling membenci terhadap sesama manusia d. Saling menbelakangi (saling memalingkan wajah sebagai pertanda tidak suka)

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 11

e. Menjual barang yang masih menjadi jualan orang lain (belum resmi menjadi miliknya sendiri) Selain beberapa larangan, terdapat satu perintah, yani berusaha menjadi hamba Allah yang bersaudara. 3. Bentuk-Bentuk perbuatan Hasad Bentuk-bentuk perbuatan hasad cukup banyak, misalnya sebagai berikut. a. Seorang siswa sangat berambisi untuk mencapai peringkat pertama dikelasnya. Apa yang didambakan ternyata meleset karena peringkat pertama diraih temannya. Ia kecewa dan iri terhadap teman yang mendapat peringkat pertama. Ketika waktu istirahat tiba, ia tidak keluar kelas, setelah semua siswa keluar, ia mengambil buku milik teman yang mendapat peringkat pertama tadi dan dilemparkan kekebun di belakang sekolah. b. Seorang warga dikampung berjualan makanan. Kebetulan warungnya tidak selaris warung tetanggannya yang laris itu. Pada suatu malam ketika kebanyakan orang sedang lelap tidur, ia dating ke warung tetangganya tadi. Ia menaruh kotoran di sekitar warung dengan harapan orang segan jajan diwarung tersebut. 4. Dampak Negatif Perbuatan Hasad Setiap perbuatan buruk pasti berdampak negative. Adapun dampak perbuatan hasad, antara lain sebagai berikut. a. Bagi pelakunya sendiri 1) Merusak pahala amal baik yang telah dilakukan sebelumnya. 2) Menyiksa batinnya sendiri karena semakin banyak orang yang mendapatkan kesenangan semakin gusar hatinya. Itulah sebabnya ada ungkapan orang yang memakan hatinya sendiri. 3) Tercela dalam pandangan Allah swt. Maupun sesama manusia.
Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 12

b. Bagi orang lain Hasad yang dilakukan terhadap seseorang akan menimbulkan kekecewaan. Hati yang kecewa memengaruhi raut wajah (cemberut, susah) sehinggga hal irtu akan menganggu hubungan persaudaraan. Semakin banyak orang yang hasad semakin rusak pula hubungan persaudaraan dalam kehidupan masyarakat. 5. Perilaku menghindari Hasad Hasad adalah penyakit hati yang susah dicari penyembuhannya. Kendatipun demikian, apabila ada kemauan yang sungguh-sungguh sifat buruk tersebut dapat dijauhi. Adapun cara untuk menghilangkan hasad, antara lain sebagai berikut. a. Rajin mendengarkan nasihat-nasihat keagamaan, misalnya lewat siaran radio, televisi maupun yang lain agar memperoleh siraman rohani. b. Rajin mendatangi majelis-mejelis ilmu, terutama pengajian.
c. Memperbayak bergaul dengan orang-orang saleh dan mengurangi bergaul dengan orang-

orang talih.
d. Melatih diri untuk dapat menerima kenyataan hidup yang dialami.

D. GIBAH 1. Pengertian gibah Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita dengar orang yang membicarakan kejelekan orang lain dengan tujuan menjatuhkan nama baiknya. Apabila kejelekan yang dibicarakan tersebut memang dilakukan orangnya, maka pembicaraan itu disebut gibah. 2. Bentuk-bentuk Gibah

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 13

Sesuai dengan pengertian diatas, gibah hanya berbentuk umpatan atau gunjingan dengan orang lain. Gibah dapat dilakukan oleh dua orang, dapat pula oleh beberapa orang. Mugkin dilakukan sekali, mungkin pula dilakukan berkali-kali. Jika dilihat dari caranya, gibah dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi dua orang atau lebih, dapat pula dilakukan secara terbuka oleh banyak orang. 3. Larangan Gibah Islam mendidik umatnya agar menjauhi kebiasaan Gibah. Allah swt berfirman sebagai berikut.


12. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah.(Q.S al-Hujurat/49:12) Pada ayat diatas Allah bertanya, Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging sudaranya yang telah mati? pertanyaan tersebut bukan semata-mata, melainkan berisi larangan agar kita tidak menggunjing seseorang. Ayat diatas menggambarkan betapa buruknya menggunjing seseorang sehingga diumpamakan memakan daging saudaranya yang telah mati (mayat). Dalam rangka memberi bimbingan kepada umatnya agar tidak suka mengginjing Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.
Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 14

.
Artinya : ..Barang siapa membebaskan kesukaran seorang muslim, Allah akan membebaskan dia dari satu kesukaran di antara kesukaran-kesukaran pada hari kiamat. Barang siapa menutupi (cacat) seorang muslim, Allah akan menutupi (cacat)-nya kelak di hari kiamat. (H.R. al-Bukhari nomor 2262 dari Abdullah bin Umar) 4. Dampak Negatif Gibah Seperti halnya akhlak mazmumah yang lain, gibah berakibat buruk dalam kehidupan masyarakat. Adapun dampak negatif gibah antara lain sebagai berikut. 1) Menjatuhkan nama baik orang yang digunjing dalam pandangan masyarakat karena masyarakat telah menilai dia sebagai orang yang jelek (walaupun belum tentu) 2) Rusaknya hubungan persaudaraan antara yang digunjing dan masyarakat lingkungannya. 3) Menimbulkan pertikaian apabila orang yang digunjing mengerti dan tidak mampu menahan emosi. 5. Perilaku Menghindari Gibah Setiap muslim dan muslimat harus berusaha untuk menghindari gibah. Adapun cara untuk menghindari gibah antara lain sebagai berikut. a. Menyadari sepenuhnya bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. b. Membiasakan untuk mawas diri, melihatbkesalahan sendiri di masa lalu. c. Mengingat-ingat kebaikan yang telah dilakukan orang lain.
Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 15

d. Memperbanyak pergaulan dengan sesamanya sehingga gosip dapat terkurangi. e. Tidak mudah mempercayai berita yang tidak jelas sumber kebenarannya. f. Memperbanyak bergaul dengan orang-orang saleh dan taat beribadah. g. Berusaha menghentikan atau mengalihkan pembicaraan yang menjurus gibah.

E. NAMIMAH 1. Pengertian Namimah Namimah berarti mengadu domba, yakni menceritakan sikap atau perbuatan seseorang (yang belum tentu benar)kepada orang lain dengan maksud agar terjadi perselisihan antara keduanya. Bisa jadi, cerita yang disampaikan bersifat timbal-balik (ketika bertemu A, menceriritakan B, tetapi ketika bertemu B, menceritakan A). sudah pasti perbuatan seperti ini sangat tercela, baik dalam pandangan agama maupun sesame menusia. 2. Bentuk-bentuk namimah Sesuai dengan pengertian diatas, namimah hanya berupa ucapan atau cerita, baik dilakukan oleh seorang maupun bersama orang lain. namimah bisa berawal dari rasa iri karena melihat seseorang (yang difitnah) mempererat hubungannya dengan fitnah. Lazimnya, orang yang suka memfitnah juga suka mengadu domba. 3. Akibat buruk namimah Akibat buruk namimah, antara lain sebagai berikut.

a. Bagi pelakunya sendiri


Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 16

1) Rasa tidak tenang karena adanya kekhawatiran akan terbongkar kejahatannya. 2) Terancam tidak akan masuk ke janah sebagaimana ditegaskan Rasulullah saw. Dalam sabdanya berikut ini.

.
Artinya : Tidak akan masuk ke janah orang yang mengadu domba (H.R. Bukhari nomor 5596 dari hammam) b. Bagi orang lain 1) Munculnya rasa benci antara kedua belah pihak yang diadu domba
2) Rusaknya hubungan antara dua pihak yang diadu domba

3) Terjadinya pertikaian antara kedua belah pihak jika masing-masing tak mampu mengendalikan dirinya. 4) Rusaknya kehidupan bermasyarakat apabila kedua belah pihak mencari pendukung 5) Kekacauan masyarakat sehingga tidak dapat hidup tenang. 4. Larangan Namimah Islam secara tegas terhadap umatnya berbuat namimah. Apabila mendengar suatu berita, hendaknya bersikapnya hati-hati, tidak terlalu mudah percaya. Allah swt. Berfirman sebagai berikut.

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 17


6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Sering terjadi seseorang terlanjur berbuat yang kurang terpuji gara-gara berita yang diterima dari seseorang. Setelah diteliti, ternyata berita yang diterima tadi bohong. Akhirnya, orang tersebut menyesali perbuatannya. Ayat diatas menyuruh kita agar tidak mudah mempercayai suatu berita yang belum jelas kebenarannya. Kita diwajibkan untuk tabayun (mencari kejelasan) terhadap kebenaran tersebut. 5. Perilaku Menghindari Namimah Setiap muslin dan muslimat wajib menghindarkan diri dari namimah. Adapun cara menghindarkan diri namimah, antara lain sebagai berikut. a. Tidak terlampau mudah menerima suatu berita apabila tidak jelas kebenaraanya. b. Mengadakan tabayun (kejelasan suatu berita) apabila mendengar berita dari seseorang, terutama orang yang belum jelas baik kepribadiaannya. c. Berusaha menghentikan atau mengalihkan pembicaraan yang cenderung menjelekjelekkan seseorang.

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 18

BAB III PENUTUP KESIMPULAN

Ananiah ialah sikap ingin menonjolkan dirinya, kurang menghargai orang lain. Ananiah amat dekat dengan sikap takabur yang amat tidak disukai dalam pergaulan. Cara menghindarinya ialah mengendalikan diri untuk selalu menang dalam pembicaraan.

Ghadab berarti perasaan sangat tidak senang atau panas karena suatu sebab, misalnya dihina atau diperlakukan secara tidak baik. Cara menghindarinya yaitu senantiasa menyadari bahwa setiap orang mempunyai kekurangan, kelebihan, dan kesalahan.

Hasad ialah iri hati, dengki jika melihat orang lain melihat suatu kesenangan. Islam melarang umatnya berbuat hasad, karena dapat merusak pahala amal baik sebagaimana rusaknya kayu yang terbakar api. Cara menghindarinya ialah memperbanyak bergaul dengan orang-orang saleh.

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 19

Ghibah ialah emnbicarakan kejelekan orang lain. Diibaratkan seperti memakan daging saudaranya yang telah mati. Cara menghindarinya yaitu sering mawas diri, berusaha menghentikan/mengalihkan pembicaraan yang menjurus ghibah.

Namimah berarti mengadu domba, yakni menceritakan sikap atau perbuatan seseorang (yang belum tentu benar)kepada orang lain dengan maksud agar terjadi perselisihan antara keduanya. Cara menhindarinya ialah tidak mudah mempercayai suatu berita apabila tidak jelas kebenaraanya dan berusaha untuk tabayun (kejelasan suatu berita) apabila mendengar suatu berita dari seseorang

LATIHAN A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, atau d di depan jawaban yang paling benar! 1.Akhlak yang dimiliki seseorang dapat menentukan....... a. Harga dirinya b. Harga dirinya dan orang lain c. Kedudukannya d. Derajatnya dalam hidup ini 2. Orang yang ananiah kurang memperhatikan...........
Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 20

a. Perasaan orang lain b. Keuntungan diri sendiri c. Perasaaan orang lain d. Nasib orang lain 3. Bergaul dengan orang yang ananiah tidak menyenangkan kerena..... a. Tidak diberi kesempatan untuk menang b. Kurang bebas dalam mengatakan sesuatu c. Dia selalu membatasi kesempatan bicara orang lain d. Tidak memperoleh penghargaan secara wajar darinya 4. Islam melarang umatnya memiliki sifat/sikap ananiah. Larangan memiliki sikap ananiah berarti perintah untuk memiliki sifat/sikap........ a. Tenggang rasa/tasamuh b. Terus terang dan tegas c. Mendiri, tidak tergantung orang lain d. Kepribadian terpuji 5. Sifat ananiah amat dekat dengan sikap......... a. Toleran b. Tenggang rasa c. Takabur d. Tasamuh
Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 21

6. Seseorang dapat digolongkan mengalami gangguan mental apabila.... a. Terlampau mudah marah karena hal yang sepele b. Sering marah karena suatu sebab c. Tidak sadarkan diri d. Memarahi saudara/keluarganya sendiri 7. Menurut Q.S Ali Imran ayat 133-134, mampu mengendalikan diri (tidak marah) dinyatakan sebagai ciri/tanda orang yang....... a. Beriman b. Takwa c. Jauh dari nar d. Beriman 8. Orang yang sedang marah sulit diajak berfikir secara dingin/tenang karena..... a. Darahnya mendingin (beku) sehingga mempengaruhi syaraf otaknya b. Dikuasai oleh keinginannya yang terhalang c. Darahnya memanas sehingga mempengaruhi syaraf otaknya d. Kehilangan keseimbangan diri 9. Orang yang menyadari bahwa setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan yang berbeda, biasanya mudah untuk....... a. Memaafkan kesalahan orang lain b. Meminta maaf atas kesalahannya

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 22

c. Menyadari kondisinya sendiri d. Mengetahui secara jelas kesalahan sendiri 10. Dengki adalah perbuatan buruk yang muncul karena adanya..... a. Pengaruh lingkungan yang negatif b. Orang yang lebih sejahtera c. Sifat negatif
d. Sifat iri

11. Rasulullah saw menyatakan bahwa dengki merusak pahala kebaikan sebagaimana........ a. Api yang tersiram air dingin b. Daun yang dimakan ulet c. Api yang menghanguskan kayu bakar d. Panas setahun dihapuskan hujan sehari 12. Tujuan gibah adalah.. a. Memuaskan hatinya sendiri b. Menjatuhkan nama baik orang lain c. Menyakitkan orang lain d. Memperoleh sanjungan atas dirinya 13. Seseorang akan mudah menghindari gibah apabila.. a. Sering mengigat keburukan yang telah dilakukan dirinya sendiri b. Mau mengingat-ingat kebaikan yang dilakukan sendiri
Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 23

c. Tidak melihat perbuatan buruk yang dilakukan pihak lain d. Tidak mau mengetahui perbuatan yang dilakukan seseorang 14. Adapun memakan daging saudaranya yang telah mati adlah perumpamaan bagi orang yang a. Menggunjing b. Memfitnah c. Digunjing d. Dendam 15. Sifat/sikap namimah amat dekat kaitannya dengan.. a. Menggunjing b. Ananiah c. Tamak dan rakus d. Memfitnah 16. Tujuan awal dilakukannya namimah ialah a. Mencari nama baik di kalangan masyarakat b. Perbedaan pendapat antara dua orang yang diadu domba c. Terputusnya hubungan persahabatan antara dua orang yang diadu domba d. Terputusnya hubungan persaudaraan antara yang mengadu domba dan salah satu pihak yang diadu domba B. Jawablah pertanyaan berikut secara singkat dan tepat!

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 24

1. Senangkah engkau bergaul dengan orang yang ananiah? Mengapa? 2. Orang yang marah biasanya mukanya tampak memerah. Mengapa demikian? 3. Bagaimanakah seharusnya sikap kita apabila melihat orang lain memperoleh kesenangan? 4. Perintah apakah yang terdapat dalam Q.S al-Hujurat ayat 6? 5. Bagaimanakah perumpamaan yang dibuat Allah terhadap orang yang gibah?

DAFTAR PUSTAKA Ibrahim,T.Darsono. 2009. Membangun Akidah dan Akhlak Jilid 2 untuk Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah. Solo: Tiga Serangkai. Multahim, dkk. 2007. Agama Islam 2 Penuntun Akhlak. Ciawi-Bogor: Yudhistira.

Disusun oleh : Sri Kusumawati dan Gatot, 2009, Pendidikan Agama Islam, semester V, UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 25