Laporan kasus

APPENDISITIS AKUT

oleh: Wahidun Nurhidayah, S.ked (04104705311)

Pembimbing:

DR. Dr. M. Alsen Arlan, Sp.B-KBD

DEPARTEMEN ILMU BEDAH RUMAH SAKIT DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2012

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan kasus yang berjudul APPENDISITIS AKUT

Oleh: Wahidun Nurhidayah 04104705311

Telah diterima sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik senior di Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang Periode 19 Desember 2011 ± 13 Februari 2012.

Palembang,

Januari 2012

Pembimbing

DR. Dr. M. Alsen Arlan, Sp.B-KBD

Amin. Semoga laporan kasus ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Sp. Alsen Arlan. Palembang.BKBD selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan selama penyusunan laporan kasus ini. Dr. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan kasus ini disebabkan keterbatasan kemampuan penulis. kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan di masa yang akan datang. M. Oleh karena itu. Laporan Kasus merupakan salah satu tugas saat mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di bagian Ilmu Kedokteran Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan kasus yang berjudul ³APPENDISITIS AKUT´. Penulis mengucapkan terima kasih kepada DR. Januari 2012 Penulis . serta semua pihak yang telah membantu hingga selesainya laporan kasus ini.

........................3 Pemeriksaan Fisik ............12 Prognosis ...................««««««««««.... 4 5 5 6 6 8 10 12 13 14 14 15 1 1 2 2 3 3 3 3 3 i ii iii iv . 2................................................ 1...............................................1 Anatomi ..............3 Insidensi««««««««««««««..4 Pemeriksaan Laboratorium.......................7 Pemeriksaan Penunjang Lain................................8............................ 2................................................................................................................4 Etiologi ................ Tatalaksana ..1 Identitas............... 2...................... HALAMAN PENGESAHAN ««««««««««««««...5 Patogenesis ........................................9 Prognosis ........................................11 Penatalaksanaan ....................................... 2................................................. 1.................................. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2......... 2.....................................5 Diagnosis Banding .................... 2..........6 Diagnosis Kerja ................................................. 2...2 Fisiologi...............................................................7 Pemeriksaan Fisik .......8 Pemeriksaan Penunjang .... KATA PENGANTAR «««««««««««««««««.................... «««««««««««««««««.....................................................................10 Komplikasi ........................................... 1..........«............ 2..............................DAFTAR ISI Halaman JUDUL «««««««««««««««««««««««.......... 2........... DAFTAR ISI ««««««««««««««««««««« BAB I STATUS PASIEN 1..............9 Diagnosis Banding ..................... 1.......................... 1... 2...........................................2 Anamnesis............... 1..... 1......................................................................... 2................... 1..........................................6 Gambaran Klinik .......................

..BAB III ANALISIS KASUS ................................................................ 16 18 ... DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................

Kecamatan Seberang Ulu Palembang MRS Medical Record : 14 Januari 2012 : 581420/12001749 1. muntah > 3x. nafsu makan berkurang. nyeri perut berpindah dan menetap di perut kanan bawah. Setelah sekitar 4 jam.BAB I STATUS PENDERITA 1. BAB dan BAB normal. Riwayat Penyakit Dahulu disangkal : Riwayat mengalami sakit yang sama sebelumnya Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat sakit yang sama disangkal . Nyeri terasa terus menerus. A : Laki-laki : 19 tahun : Islam : Belum menikah : SMA : Wiraswasta : Jalan KI Anwar Mangku Lr. Pasien juga mengeluh mual (+). Sekolah III RT 23 RW 06 kelurahan Sentosa.2 Anamnesis Keluhan Utama : Nyeri perut kanan bawah Riwayat Perjalanan Penyakit : Lima belas jam SMRS pasien mengeluh nyeri perut di bawah pusat.1 Identitas Nama Jenis Kelamin Usia Agama Status Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn. demam (+).

1.000/mm3 (Normal :200.000/mm3 ) : 52 mm/jam(Normal : <38 mm/jam) : 227.500/mm3 (Normal : 5.000/mm3 ) .7 °C : Konjongtiva Pucat: -/Sklera Ikterik -/Pupil : isokor.000-500.000-10.3 Pemeriksaan Fisik a.1 g/dl (Normal: 12-16 g/dl) : 44 vol % (Normal : 37-43 vol %) : 17. Status Lokalis Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Pemeriksaan tambahan : Datar : Lemas. Nyeri tekan titik Mc Burney (+) : Timpani : Bising usus (+) : Rovsing Sign (+) : JVP (5-2) cmHg : tidak ada pembesaran : tidak ada kelainan : lihat status lokalis : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelaian 1.4 Pemeriksaan Laboratorium (tanggal 4 Januari 2012) y y y y y Hb Ht Leukosit LED Trombosit : 15. refleks cahaya +/+ Leher Kelenjar-kelenjar Thorax Abdomen Ekstremitas Superior Ekstremitas Inferior Genitalia b. Status generalis: Kesadaran Pernafasan Nadi Tekanan Darah Temperatur Kepala : Compos mentis : 22 x/menit : 88 x/menit : 130/80 mmHg : 37.

IVFD .Antibiotik .7 Pemeriksaan Penunjang lain y y y y USG Abdomen Rontgen BNO Urinalisa Pemeriksaan Feses 1.9 Prognosis Quo ad vitam : Bonam Quo ad functionam : Bonam .5 Diagnosis Banding y y y Appendicitis akut Gastroenteritis akut Batu Ureter 1.Appendektomi cito 1.6 Diagnosis Kerja Appendicitis Akut 1.Hitung Jenis : Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit : 0 % (0-1 %) : 0 % (1-3 %) : 1 % (2-6 %) : 90 % (50-70%) : 15 % (20-40 %) : 4 % (2-8 %) 1.8 Tatalaksana .

apendiks terletak retroperitoneal.mesenterica superior dan a.1 Anatomi Apendiks merupakan organ berbentuk tabung. yaitu di belakang caecum. panjangnya kira-kira 10cm (kisaran 3-15cm). apendiks terletak intraperitoneal. lebar pada pangkalnya dan menyempit ke arah ujungnya. Oleh karena itu.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. di belakang colon ascendens. Namun demikian. pada bayi. . Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal. atau di tepi lateral colon ascendens. Gambar 1: anatomi appendiks Pada kasus selebihnya.vagus yang mengikuti a. dan berpangkal di caecum. sedangkan persarafan simpatis berasal dari n.torakalis X. nyeri visceral pada appendicitis bermula di sekitar umbilicus. Gejala klinis appendicitis ditentukan oleh letak apendiks.apendikularis. Pada 65% kasus. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden appendicitis pada usia itu. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n. apendiks berbentuk kerucut.

Hambatan aliran lender di muara apendiks tampaknya berperan pada pathogenesis appendicitis.3 Insidensi Terdapat sekitar 250. 2. ialah IgA. misalnya karena thrombosis pada infeksi apendiks akan mengalami gangren.2 Fisiologi Apendiks menghasilkan lender 1-2ml per hari. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari. Insidensi pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding. Insidensi Appendicitis acuta di negara maju lebih tinggi daripada di negara berkembang. Appendicitis lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan perbandingan 3:2. Appendicitis akut lebih sering terjadi selama musim panas. hanya pada anak kurang dari satu tahun jarang dilaporkan. . insidensi lelaki lebih tinggi. setelah itu menurun. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks. Immunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Bangsa Caucasia lebih sering terkena dibandingkan dengan kelompok ras lainnya. Insidensi tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun. Namun demikian.000 kasus appendicitis yang terjadi di Amerika Serikat setiap tahunnya dan terutama terjadi pada anak usia 6-10 tahun. 2. Lendir itu normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum. Appendicitis dapat ditemukan pada semua umur.apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral. kecuali pada umur 20-30 tahun. tetapi beberapa tahun terakhir angka kejadiannya menurun secara bermakna.Pendarahan apendiks berasal dari a. Jika arteri ini tersumbat. pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jkumlah jaringan limf disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.

2. Hasil observasi epidemiologi juga menyebutkan bahwa obstruksi fecalith adalah penyebab terbesar. Penyebab obstruksi yang paling sering adalah fecolith. biji-bijian) 4. Kadang parasit Penyebab lain yang diduga menimbulkan Appendicitis adalah ulserasi mukosa appendix oleh parasit E.5 Patogenesis Appendicitis terjadi dari proses inflamasi ringan hingga perforasi. Carcinoid atau tumor lainnya 3.4 Etiologi Appendicitis disebabkan karena adanya obstruksi pada lumen appendix sehingga terjadi kongseti vaskuler. Berbagai spesies bakteri yang dapat diisolasi pada pasien appendicitis yaitu: Bakteri aerob fakultatif y y y y Bakteri anaerob y y y y Escherichia coli Viridans streptococci Pseudomonas aeruginosa Enterococcus Bacteroides fragilis Peptostreptococcus micros Bilophila species Lactobacillus species 2. Appendicitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Benda asing (pin. Hiperplasia folikel lymphoid 2. yaitu sekitar 20% pada ank dengan appendicitis akut dan 30-40% pada anak dengan perforasi appendiks. Penyebab lain dari obstruksi appendiks meliputi: 1. Fecolith ditemukan pada sekitar 20% anak dengan appendicitis. akan tetapi paling sering disebabkan obstruksi oleh fecalith dan kemudian diikuti oleh proses peradangan. atau bahkan oleh cacing (Oxyurus vermicularis). histolytica. Hiperplasia folikel limfoid appendiks juga dapat menyababkan . antara lain obstruksi oleh fecalith. gallstone. iskemik nekrosis dan akibatnya terjadi infeksi. khas dalam 24-36 jam setelah munculnya gejala. Appendicitis dapat terjadi karena berbagai macam penyebab. kemudian diikuti dengan pembentukkan abscess setelah 2-3 hari. tumor.

dan Shigella. Trauma. dapat dipikirkan diagnosis lain. dan gangrene. terjadi invasi bakteri ke dinding appendiks. Seiring dengan peningkatan tekanan intraluminal. diikuti demam. Akhirnya peningkatan tekanan menyebabkan obstruksi vena. Penyebab dari reaksi jaringan limfatik baik lokal atau general misalnya akibat infeksi Yersinia. Carcinoid tumor juga dapat mengakibatkan obstruksi appendiks.obstruksi lumen. Nyeri awal ini bersifat nyeri dalam. stress psikologis. Insidensi terjadinya appendicitis berhubungan dengan jumlah jaringan limfoid yang hyperplasia. Pasien dengan cyctic fibrosis memiliki peningkatan insidensi appendicitis akibat perubahan pada kelenjar yang mensekresi mucus. dan leukositosis akibat kensekuensi pelepasan mediator inflamasi dari jaringan yang iskemik. Selama lebih dari 200 tahun. Adanya distensi yang semakin bertambah menyebabkan mual dan muntah. Distensi appendiks menyebabkan perangsangan serabut saraf visceral dan dipersepsikan sebagai nyeri di daerah periumbilical. dan kesalahan pencernaan. biji sayuran. Setelah itu. terjadi oedem yang lebih hebat. dan batu cherry dilibatkan dalam terjadinya appendicitis. Salmonella. Awalnya. infark. Enterobius vermicularis. dan herediter juga mempengaruhi terjadinya appendicitis. Anoreksia berperan penting pada diagnosis appendicitis. Saat eksudat inflamasi dari dinding appendiks berhubungan dengan peritoneum parietale. khususnya di . atau Ascaris. khususnya jika tumor berlokasi di 1 /3 proksimal. benda asaning seperti pin. atau akibat invasi parasit seperti Entamoeba. Appendicitis juga dapat diakibatkan oleh infeksi virus enteric atau sistemik. khususnya pada anak-anak. dan cytomegalovirus. berlokasi di dermatom Th 10. serabut saraf somatic akan teraktivasi dan nyeri akan dirasakan lokal pada lokasi appendiks. tumpul. pasien akan merasa gejala gastrointestinal ringan seperti berkurangnya nafsu makan. yang mengarah pada iskemik jaringan. Schistosoma. Appendiks yang obstruksi merupakan tempat yang baik bagi bakteri untuk berkembang biak. perubahan kebiasaan BAB yang minimal. seperti measles. takikardi. terjadi gangguan aliran limf. Strongyloides. chicken pox. Jika mual muntah timbul lebih dulu sebelum nyeri. dalam beberapa jam setelah nyeri.

Nyeri pada appendiks retrocaecal dapat muncul di punggung atau pinggang. Peritonitis difus lebih sering dijumpai pada bayi karena tidak adanya jaringan lemak omentum. Konstipasi jarang dijumpai tetapi tenesmus sering dijumpai. Nyeri merupakan gejala yang pertama kali muncul. Inflamasi ureter atau vesica urinaria pada appendicitis dapat menyebabkan nyeri saat berkemih. dan gejala dapat menetap hingga > 48 jam tanpa perforasi. Secara umum. Perforasi appendiks akan menyebabkan terjadinya abscess lokal atau peritonitis umum. semakin lama gejala berhubungan dengan peningkatan risiko perforasi. Nyeri jarang timbul hanya pada kuadran kanan bawah tanpa didahului nyeri visceral sebelumnya. Proses ini tergantung pada kecepatan progresivitas ke arah perforasi dan kemampuan pasien berespon terhadap adanya perforasi. Anak yang lebih tua atau remaja lebih memungkinkan untuk terjadinya abscess yang dapat diketahui dari adanya massa pada pemeriksaan fisik. nyeri di periumbilikal yang samar-samar. atau keduanya. nyeri somatic biasanya tertunda karena eksudat inflamasi tidak mengenai peritoneum parietale sampai saat terjadinya rupture dan penyebaran infeksi. Appendiks pelvic yang terletak dekat ureter atau pembuluh darah testis dapat menyebabkan peningkatan frekuensi BAK.titik Mc Burney¶s. akibat iritasi ileum terminal atau caecum. nyeri pada testis. dan gejala peritonitis pada pemeriksaan fisik.6oC. Seringkali dirasakan sebagai nyeri tumpul. dalam jangka waktu sebentar.6 Gambaran Klinis Appendicitis dapat mengenai semua kelompok usia. Pada appendiks retrocaecal atau pelvic. appendicitis akut kadang-kadang dapat terjadi dan diagnosis appendicitis jauh lebih sulit dan kadang tertunda. Pasien dapat tidak bergejala sebelum terjadi perforasi. atau nyeri seperti terjadi retensi urine. leukositosis > 14. Tanda perforasi appendiks mencakup peningkatan suhu melebihi 38. Adanya diare dapat mengindikasikan adanya abscess pelvis 2.000. Diare sering didapatkan pada anak-anak. Meskipun sangat jarang pada neonatus dan bayi. tapi seiring dengan waktu akan berlokasi di .

. Jika suhu tubuh diatas 38. mual. Anak yang menggeliat dan berteriak-teriak jarang menderita appendicitis.6 0 C. Meskipun demikian. Variasi lokasi anatomis appendiks dapat mengubah gejala nyeri yang terjadi. nyeri seperti kolik renal akibat perangsangan ureter. kecuali pada anak dengan appendicitis retrocaecal. gejala dapat berupa nyeri saat kencing atau perasaan tidak nyaman pada saat menahan kencing dan distensi kandung kemih. dan muntah biasanya terjadi dalam beberapa jam setelah onset terjadinya nyeri.abdomen kanan bawah. Anak dengan appendicitis biasanya menghindari diri untuk bergerak dan cenderung untuk berbaring di tempat tidur dengan kadang-kadang lutut diflexikan. nyeri dapat mulai terjadi di kuadran kanan bawah tanpa diawali nyeri pada periumbilikus. Anorexia. dengan letak appendiks yang retrocecal atau pelvis. Anak dengan appendicitis kadang-kadang berjalan pincang pada kaki kanan. nyeri punggung. menandakan terjadi perforasi. Diare dapat terjadi akibat infeksi sekunder dan iritasi pada ileum terminal atau caecum. dan nyeri alih pada testis juga merupakan gejala yang umum pada anak dengan appendicitis retrocecal arau pelvis. Karena saat menekan dengan paha kanan akan menekan Caecum hingga isi Caecum berkurang atau kosong. Bising usus meskipun bukan tanda yang dapat dipercaya dapat menurun atau menghilang. Pada anak-anak.5 0 C).5 -38. Jika inflamasi dari appendiks terjadi di dekat ureter atau bladder. Terjadi peningkatan nyeri yang gradual seiring dengan perkembangan penyakit. Gejala gastrointestinal yang berat yang terjadi sebelum onset nyeri biasanya mengindikasikan diagnosis selain appendicitis. Muntah biasanya ringan. Nyeri pada flank. Pada appendicitis tanpa komplikasi biasanya demam ringan (37. keluhan GIT ringan seperti indigesti atau perubahan bowel habit dapat terjadi pada anak dengan appendicitis.

Secara klinis. sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa ditemukan distensi perut. Dasar anatomis terjadinya psoas sign adalah appendiks yang terinflamasi yangterletak retroperitoneal akan kontak dengan otot psoas pada saat dilakukan manuver ini. Perlu diketahui . Nyeri pada cara ini menggambarkan iritasi pada otot psoas kanan dan indikasi iritasi retrocaecal dan retroperitoneal dari phlegmon atau abscess. Obturator sign: dilakukan dengan posisi pasien terlentang.7 Pemeriksaan Fisik Pada Apendicitis akut sering ditemukan adanya abdominal swelling. menggambarkan iritasi peritoneum.Tabel 1.Onset gejala khas terdapat dalam 24-36 jam 2. kemudian gerakan endorotasi tungkai kanan dari lateral ke medial. Gejala Appendicitis Akut8 Gejala Appendicitis Akut Nyeri perut Anorexia Mual Muntah Nyeri berpindah Gejala sisa klasik (nyeri periumbilikal kemudian Frekuensi (%) 100 100 90 75 50 anorexia/mual/muntah kemudian nyeri berpindah ke RLQ kemudian 50 demam yang tidak terlalu tinggi) *-. Sering positif tapi tidak spesifik. Nyeri pada cara ini menunjukkan peradangan pada M. obturatorius di rongga pelvis. dikenal beberapa manuver diagnostik: Rovsing¶s sign: dikatakan posiif jika tekanan yang diberikan pada LLQ abdomen menghasilkan sakit di sebelah kanan (RLQ). Psoas sign: dilakukan dengan posisi pasien berbaring pada sisi sebelah kiri sendi pangkal kanan diekstensikan.

bila skor >6 maka tindakan bedah sebaiknya dilakukan11. Skor Alvarado Semua penderita dengan suspek Appendicitis acuta dibuat skor Alvarado dan diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu: skor <6>6. Dasar anatomis terjadinya psoas sign adalah appendiks yang terinflamasi yang terletak retroperitoneal akan kontak dengan otot obturator internus pada saat dilakukan manuver ini. setelah operasi dilakukan pemeriksaan PA terhadap jaringan Appendix dan hasilnya diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu: radang akut dan bukan radang akut. Tabel Alvarado scale untuk membantu menegakkan diagnosis Manifestasi Gejala Adanya migrasi nyeri Anoreksia Mual/muntah Tanda Nyeri RLQ Nyeri lepas Febris Laboratorium Leukositosis Shift to the left Total poin Keterangan: 0-4 : kemungkinan Appendicitis kecil 5-6 : bukan diagnosis Appendicitis 7-8 : kemungkinan besar Appendicitis 9-10 : hampir pasti menderita Appendicitis Bila skor 5-6 dianjurkan untuk diobservasi di rumah sakit. Selanjutnya dilakukan Appendectomy.bahwa masing-masing tanda ini untuk menegakkan lokasi Appendix yang telah mengalami radang atau perforasi. Skor 1 1 1 2 1 1 2 1 10 .

Peningkatan persentase jumlah neutrofil (shift to the left) dengan jumlah normal leukosit menunjang diagnosis klinis appendicitis. presentasi klinis tidak jelas. Meskipun demikian. Jumlah leukosit pada penderita appendicitis berkisar antara 12. Pasien-pasien yang obesitas.2. hematuria ringan dan pyuria dapat terjadi jika inflamasi appendiks terjadi di dekat ureter. .000/mm.000-18. dan curiga adanya abscess. maka CT-scan dapat digunakan sebagai pilihan test diagnostik. Pemeriksaan urinalisis membantu untuk membedakan appendicitis dengan pyelonephritis atau batu ginjal. Jumlah leukosit yang normal jarang ditemukan pada pasien dengan appendicitis.sensitifitas dan spesifisitasnya kirakira 95-98%.8 Pemeriksaan Penunjang y Laboratorium Jumlah leukosit diatas 10. Diagnosis appendicitis dengan CT-scan ditegakkan jika appendix dilatasi lebih dari 5-7 mm pada diameternya. Dinding pada appendix yang terinfeksi akan mengecil sehingga memberi gambaran ³halo´ 10. y CT-Scan CT scan merupakan pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendiagnosis appendicitis akut jika diagnosisnya tidak jelas.000 ditemukan pada lebih dari 90% anak dengan appendicitis akuta. didapatkan suatu appendicolith. Gambaran USG yang merupakan kriteria diagnosis appendicitis acuta adalah appendix dengan diameter anteroposterior 7 mm atau lebih. False negatif juga dapat muncul karena letak appendix yang retrocaecal atau rongga usus yang terisi banyak udara yang menghalangi appendix. False positif dapat muncul dikarenakan infeksi sekunder appendix sebagai hasil dari salphingitis atau inflammatory bowel disease. adanya cairan atau massa periappendix. y Ultrasonografi Ultrasonografi sering dipakai sebagai salah satu pemeriksaan untuk menunjang diagnosis pada kebanyakan pasien dengan gejala appendicitis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sensitifitas USG lebih dari 85% dan spesifitasnya lebih dari 90%.

dapat terraba massa pada abdomen dan nyerinya tidak berpindah · Pada pria dewasa muda Diagnosis banding yang sering pada pria dewasa muda adalah Crohn¶s disease. Pada epididimitis. Konstipasi. nyerinya . Divertikulitis jarang terjadi jika dibandingkan Appendicitis. · Pada wanita usia muda Diagnosis banding appendicitis pada wanita usia muda lebih banyak berhubungan dengan kondisi-kondisi ginekologik. Diagnosis banding yang agak sukar ditegakkan adalah gastroenteritis akut. konstipasi. Pada infark omentum. yakni diare. pasien merasa sakit pada skrotumnya. divertikulitis. karena memiliki gejala-gejala yang mirip dengan appendicitis. infark omentum. seperti pelvic inflammatory disease (PID). merupakan salah satu penyebab nyeri abdomen pada anak-anak. tetapi tidak ditemukan adanya demam. dan gastroenteritis akut. Pada PID. Intususepsi paling sering didapatkan pada anak-anak berusia dibawah 3 tahun. muntah. kista ovarium. klitis ulserativa. tetapi tidak dijumpai adanya leukositosis. dan ditemukan leukosit pada feses. dan infeksi saluran kencing. didapatkan gejala-gejala yang mirip dengan appendicitis. Infark omentum juga dapat dijumpai pada anak-anak dan gejalagejalanya dapat menyerupai appendicitis. · Pada anak-anak usia sekolah Diagnosis banding pada anak-anak usia sekolah adalah gastroenteritis. Pemeriksaan fisik pada skrotum dapat membantu menyingkirkan diagnosis epididimitis. Pada gastroenteritis.2.9 Diagnosis Banding Diagnosis banding dari Appendicitis dapat bervariasi tergantung dari usia dan jenis kelamin · Pada anak-anak balita Diagnosis banding pada anak-anak balita adalah intususepsi. Pada pencitraan dapat diketahui adanya inflammatory mass di daerah abdomen tengah. tetapi lokasinya berbeda. yaitu pada daerah periumbilikal. mual. dan epididimitis. Nyeri divertikulitis hampir sama dengan Appendicitis.

Gangguan peristaltik 8. Pada orang tua. Appendicular abscess: Abses yang terbentuk akibat mikro atau makro perforasi dari Appendix yang meradang yang kemudian ditutupi oleh omentum. Mesenterial pyemia dengan Abscess Hepar 7. 3. Peritonitis 5. atau usus besar. Perforasi 4. Pada orang tua. 2. pemeriksaan dengan CT Scan lebih berarti dibandingkan dengan pemeriksaan laboratorium. nyeri dapat dirasakan bila terjadi ruptur ataupun torsi. · Pada usia lanjut Appendicitis pada usia lanjut sering sukar untuk didiagnosis. Diagnosis banding yang sering terjadi pada kelompok usia ini adalah keganasan dari traktus gastrointestinal dan saluran reproduksi. Perforasi ulkus dapat diketahui dari onsetnya yang akut dan nyerinya tidak berpindah. Syok septik 6. 2.11 Penatalaksanaan Untuk pasien yang dicurigai Appendicitis : . perforasi ulkus. dan kolesistitis. divertikulitis sering sukar untuk dibedakan dengan appendicitis. usus halus. divertikulitis. karena lokasinya yang berada pada abdomen kanan.bilateral dan dirasakan pada abdomen bawah. Keganasan dapat terlihat pada CT Scan dan gejalanya muncul lebih lambat daripada appendicitis. Pada kista ovarium.10 Komplikasi 1. Ileus 2. Appendicular infiltrat: Infiltrat / massa yang terbentuk akibat mikro atau makro perforasi dari Appendix yang meradang yang kemudian ditutupi oleh omentum. usus halus atau usus besar.

Streptococcus viridans. 2. Pertimbangkan KET terutama pada wanita usia reproduksi. Diberikan antibiotika broadspectrum dan juga untuk gram negative dan anaerob Antibiotika preoperative diberikan dengan order dari ahli bedah. seperti Cefotaxime dan Clindamycin.9 per 100. Enterococcus. Biasanya digunakan antibiotik kombinasi. Berikan antibiotika IV pada pasien dengan gejala sepsis dan yang membutuhkan Laparotomy Perawatan appendicitis tanpa operasi Penelitian menunjukkan pemberian antibiotika intravena dapat berguna untuk Appendicitis acuta bagi mereka yang sulit mendapat intervensi operasi (misalnya untuk pekerja di laut lepas). dengan 0. Kombinasi ini dipilih karena frekuensi bakteri yang terlibat. dan Bacteroides.- Puasakan Berikan analgetik dan antiemetik jika diperlukan untuk mengurangi gejala Penelitian menunjukkan bahwa pemberian analgetik tidak akan menyamarkan gejala saat pemeriksaan fisik. atau Cefepime dan Metronidazole. Pseudomonas aeruginosa.2 per 100. Klebsiella. termasuk Escherichia coli. atau bagi mereka yang memilki resiko tinggi untuk dilakukan operasi Rujuk ke dokter spesialis bedah.000 pada 1986. Antibiotik profilaksis harus diberikan sebelum operasi dimulai.000 pada tahun 1939. Diantara faktor-faktor yang bertanggung jawab adalah kemajuan dalam anestesi. Antibiotika preoperative Pemberian antibiotika preoperative efektif untuk menurunkan terjadinya infeksi post opersi.12 Prognosis Kematian dari appendisitis di Amerika Serikat telah terus menurun dari tingkat 9. .

. Tingkat kematian appendisitis perforasi pada orang tua adalah sekitar 15% peningkatan lima kali lipat dari tingkat keseluruhan. cairan intravena. Angka kematian keseluruhan dalam apendisitis akut pecah adalah sekitar 3%-peningkatan 50 kali lipat. dan produk darah.06%.antibiotik. Angka kematian keseluruhan untuk anestesi umum adalah 0. Faktor utama dalam kematian adalah apakah pecah terjadi pengobatan sebelum bedah dan usia pasien.

7 C sedangkan lainnya masih dalam batas normal. nafsu makan berkurang. dapat dilakukan penilaian Alvarado score: . vital sign didapatkan temperatur 37. Setelah sekitar 4 jam. muntah > 3x. terjadi invasi bakteri ke dinding appendiks. Setelah itu. Leher. khususnya di titik Mc Burney¶s. Nyeri terasa terus menerus. thorax dan ekstremitas tidak ditemukan kelaian. nyeri perut berpindah dan menetap di perut kanan bawah. pupil isokor dengan refleks cahaya semuanya positif. Pasien juga mengeluh mual (+). yang mengarah pada iskemik jaringan. jantung. Saat eksudat inflamasi dari dinding appendiks berhubungan dengan peritoneum parietale. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. demam (+). Rovsing Sign (+) hal ini menunjukkan adanya tekanan yang diberikan pada LLQ abdomen menghasilkan sakit di sebelah kanan (RLQ). BAB dan BAB normal. dan gangrene. Berdasarkan pemeriksaan fisik status generalis didapatkan penderita tampak sakit sedang. serabut saraf somatic akan teraktivasi dan nyeri akan dirasakan lokal pada lokasi appendiks. infark. takikardi. dan leukositosis akibat kensekuensi pelepasan mediator inflamasi dari jaringan yang iskemik. A datang ke RSMH dengan keluhan nyeri perut kanan bawah. terjadi oedem yang lebih hebat.BAB III ANALISIS KASUS Seorang laki-laki berumur 19 tahun berinisial Tn. diikuti demam. Pada pemeriksaan fisik di daerah abdomen didapatkan nyeri tekan titik Mc Burney (+) yang menunjukkan karena adanya peningkatan tekanan intraluminal. KGB. terjadi gangguan aliran limf. menggambarkan iritasi peritoneum.500/mm3. paru-paru. Akhirnya peningkatan tekanan menyebabkan obstruksi vena. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan darah dan didapatkan leukosit meningkat sebesar 17. Dari anamnesis didapatkan riwayat perjalanan penyakit yaitu lima belas jam SMRS pasien mengeluh nyeri perut di bawah pusat. Demam disebabkan akibat konsekuensi pelepasa mediator inflamasi dari jaringan yang iskemik.

Pada kasus ini direncanakan dilakukan ureterolithotomy. muntah dan tidak ada nyeri perut yang terlokalisir. ditandai diare. mual. Pada pasien dengan gastroenteritis akut. Prognosis pada kasus ini Quo ad vitam dan quo ad functionam nya bonam. ditandai dengan keluhan BAK dengan nyeri saat BAK jika batu terletak di distal ureter .Migration of pain Anorexia Nausea/vomiting RLQ tenderness Rebound :1 :1 :1 :2 :- Elevated temperatur : 1 Leukocytosis Left shift Total points :2 ::8 Dari penilaian Alvarado score dapat ditarik kesimpulan bahwa pasien ini kemungkinan besar menderita Appendisitis akut. nyeri yang dirasakan adalalah nyeri yang terus menerus. dan batu ureter. karena appendisitis termasuk kasus kedaruratan bedah dan harus segera ditangani dalam waktu kurang dari 48 jam. Sedangkan pada pasien dengan batu ureter. tidak terdapat diare dan nyeri yang timbul terlokalisir. dan nyeri yang terdapat pada batu ureter adalah nyeri kolik. . Pada pasien ini. Diagnosis banding pasien ini adalah gastroenteritis. Tatalaksana pada kasus ini adalah dengan appendektomi cito. Pada pasien ini.

The appendix in Schwartz¶z Principles of Surgery 8th edition. 2006 . 6th edition.DAFTAR PUSTAKA Brunicardi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Susi Natalia. A Sylvia. Charles. editor Hartanto. Huriawati. Wulansari. Appendisitis in Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit vol 1. Dewi Asih. 2007 Prince. McGraw-Hill¶s. Wilson. Lorraine M. F. Pita. Jakarta. Mahanani.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.