BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Kemajuan teknologi konstruksi gedung mendorong lahirnya perencanaan struktur dan pelaksanaan yang cepat dan efisien. Salah satu perkembangan metode konstruksi struktural adalah sistem beton pracetak. Sistem ini lahir untuk menggantikan sistem konvensional (pengecoran di tempat). Beton pracetak mempunyai kelebihan dibanding beton konvensional. Kelebihan tersebut antara lain proses pelaksanaan lebih cepat, mutu lebih terjamin karena proses pembuatan dipabrik, serta biaya lebih murah dibanding dengan sistem konvensional. Namun perlu diingat bahwa sistem struktur pracetak ini baru efektif dan efisien bila diterapkan pada pekerjaan yang sifatnya berulang dan masal. Strukur beton pracetak umumnya direncanakan dengan menganggap struktur tersebut bersifat monolit yang dicor di tempat. Metode desain seperti ini disebut sebagai pendekatan desain emulasi (C.E. Warnes.1992). Dengan pendekatan ini, sistem struktur pracetak dapat direncanakan sebagai sistem struktur yang konvensional. Dengan demikian dalam perancangan sambungan beton konvensional akibat beban lateral dapat digunakan dalam perancangan sambungan pracetak. Sambungan antara balok-kolom merupakan bagian yang sangat penting dalam mentransfer gaya-gaya antar elemen pracetak yang saling terkoneksi. Bila tidak direncanakan dengan baik (baik dari segi penempatan sambungan maupun kekuatannya) maka sambungan dapat mengubah aliran gaya pada struktur pracetak, sehingga dapat mengubah hirarki keruntuhan yang ingin dicapai dan pada akhirnya dapat menyebabkan keruntuhan prematur pada struktur (S. Pantazopoulou, I. Imran,1992). Dalam media sambungan beton bertulang, tulangan baja harus tertanam di dalam beton hingga suatu kedalaman tertentu yang dinyatakan dengan panjang penyaluran agar beton dan tulangan baja dapat berfungsi dengan baik sebagai bahan komposit dimana batang baja tulangan saling bekerja sama sepenuhnya dengan beton.

1

baja tulangan masih dapat dikaitkan kedalam penampang yang akan disambung. Sumber penelitian ini kami angkat dari proyek pembangunan gedung dua lantai yang dikerjakan PT. dan akan dicor secara konvensional. akibat panjang penyaluran yang disyaratkan lebih besar dari ukuran penampang sambungan.HiCon didaerah bandung. Hiper Concrete Psi. Hiper Concrete Psi. Seperti yang telah dialami pada proyek pembangunan gedung dua lantai yang berada di daerah bandung yang dikerjakan oleh PT. jika panjang penyaluran melebihi ukuran penampang sambungan.2. Metode sambungan beton yang akan diteliti adalah menggunakan plat baja pada sambungan beton yang kemudian dikaitkan dengan tulangan utama pada slab lantai. memberikan rumus mengenai panjang penyaluran yang diperlukan pada tulangan yang mengalami tarik. 1. Oleh karena itu diperlukan metode sambungan beton pracetak yang dapat mengurangi panjang penyaluran tetapi mampu menjadi sebuah persambungan yang optimal antara baja dan beton. Perencanaan panjang penyaluran pada sambungan merupakan bagian yang sangat krusial. .2 SNI 03-2847-2002 pasal 14. seperti yang telah dijelaskan oleh pihak PT. Bila pada sistem konvensional. Sehingga ikatan lekatan (bond) antara baja dan beton tidak optimal. pemasalahan pada proyek tersebut dikarenakan ukuran penampang balok pracetak yang lebih kecil. yaitu: ` 1. Namun pada sistem beton pracetak hal tersebut tidak bisa diaplikasikan karena beton sudah mengeras (setting). Jika tidak tepat maka akan terjadi kegagalan struktur pada konstruksi tersebut. Aktualnya panjang penyaluran berdasarkan rumus tersebut seringkali melebihi ukuran dimensi sambungan. sehingga ikatan antara baja dan beton tidak dapat tersalurkan sepenuhnya. Plat baja tersebut akan dimanfaatkan sebagai media ikatan antara baja dan beton yang akan menggantikan sebagian panjang penyaluran.2 Permasalahan Berdasarkan latar belakang terdapat permasalahan yang dapat diidentifikasi.

memberikan rumus mengenai panjang penyaluran yang diperlukan pada tulangan yang mengalami tarik. Alat yang digunakan untuk pengujian tarik adalah UTM (Universal Testing Machine). 3. 1. 2. Sehingga panjang penyaluran melebihi ukuran penampang.3 sehingga panjang penyaluran yang disyaratkan sebesar 40D melebihi ukuran dimensi balok. Benda uji yang digunakan terbatas berbentuk balok dengan ukuran 15 cm x 15 . 1. dilakukan pra penelitian dengan beton kubus berukuran 25cm x 25cm x 20cm. SNI 03-2847-2002 pasal 14. Metode sambungan beton yang akan diteliti adalah menggunakan plat baja pada sambungan beton. berdasarkan panjang penyaluran yang banyak digunakan dilapangan 40D.2. Aktualnya panjang penyaluran berdasarkan rumus tersebut seringkali melebihi ukuran dimensi sambungan.4 Pembatasan Masalah Lingkup dari penelitian ini terbatas hanya pada pengujian tulangan yang tertanam dalam beton yang dikaitkan pada plat baja terhadap beban tarik. sedangkan beban-beban lain yang bekerja pada sambungan tidak dilakukan pengujian. Balok beton pracetak berukuran 15cm x 15cm x 30cm. Sebelum dilakukan penelitian. maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan tarik tulangan berkait dan ditambahkan plat baja yang tertanam pada beton serta mengetahui pola kerusakanya. Oleh karena itu diperlukan metode sambungan beton pracetak yang dapat mengurangi panjang penyaluran tetapi mampu menjadi sebuah persambungan yang optimal antara baja dan beton. Plat baja tersebut akan dimanfaatkan sebagai media ikatan antara baja dan beton yang diharapkan dapat menggantikan kekurangan panjang penyaluran.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan diproyek pembangunan gedung dua lantai berlokasi di bandung yang dikerjakan PT.HiCon. pra penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kerusakan pada benda uji jika menggunakan dimensi yang lebih besar.

Benda uji yang digunakan dalam pra penelitian berbentuk balok dengan ukuran 25 cm x 25 cm x 20 cm. Dari Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi panjang penyaluran dan diharapkan mampu menahan gaya tarik yang bekerja. namun ikatan beton dan baja masih optimal. sedangkan mutu plat baja yaitu 240 MPa. HiCon di daerah bandung.5 Manfaat Penelitian Sebagai pengganti sambungan beton pracetak pada masalah panjang penyaluran kait. dan mutu tulangan baja yang digunakan fy 450 MPa dengan diameter 13 mm dan 19 mm. khusunya pada proyek pembangunan gedung dua lantai yang di kerjakan oleh PT. mutu beton yang digunakan f’c 45 MPa dan tulangan utama yang dipakai D16 dengan mutu baja fy 450 MPa. . 1. mutu beton yang digunakan f’c 40 MPa.4 cm x 30 cm dengan dua variabel masing-masing variabel terdiri tiga buah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful