You are on page 1of 6

Jurnal Bioteknologi Pertanian, Vol. 10, No. 1, 2005, pp.

Embriogenesis somatik langsung pada tanaman cendana1-6

1

Embriogenesis somatik langsung pada tanaman cendana
Direct somatic embryogenesis on sandalwood Deden Sukmadjaja
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian Jalan Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16111, Indonesia

ABSTRACT
Sandalwood (Santalum album L.) is a commercially important commodity of Indonesia, particularly in West and East Nusa Tenggara. However, the population has significantly decreased and the planting materials are difficult to be provided through conventional methods. A study was conducted to propagate sandalwood by using in vitro technology through somatic embryogenesis. Primary somatic embryos were formed on immature or mature zygotic embryos planted on MS basal medium containing benzyl-aminopurine or thidiazuron. Primary somatic embryos then formed secondary embryos when they were transferred to MS medium with or without indoleacetic acid. Transferring somatic embryos onto MS medium containing gibberrelic acid could not convert the embryos into plantlets, but they regenerated forming shoot multiplication. Culturing shoots from somatic embryo on MS induction medium enriched with indole butyric acid produced a few number of roots. [Keywords: Santalum album, somatic embryogenesis, primary somatic embryo, secondary somatic embryo]

PENDAHULUAN Cendana (Santalum album L.) merupakan salah satu komoditas yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman ini banyak terdapat di Nusa Tenggara Timur, namun populasinya cenderung menurun akibat tidak seimbangnya antara eksploitasi dan upaya pelestariannya. Di Pulau Sumba, misalnya, tanaman cendana telah punah, sedangkan di Pulau Timor cendana akan mengalami nasib serupa apabila tidak ada upaya penyelamatannya. Eksploitasi kayu cendana terutama disebabkan oleh permintaan pasar yang tinggi, baik di dalam maupun luar negeri (Musakabe 2000). Oleh karena itu perlu segera dilakukan upaya pengembangannya. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan tanaman cendana adalah ketersediaan bibit yang bermutu. Penyediaan bibit melalui perbanyakan secara konvensional kurang memadai untuk suatu tanaman yang akan dikembangkan secara luas. Teknologi yang biasa digunakan dan memberikan harapan dalam penyediaan bibit dalam jumlah besar dan waktu singkat ialah kultur in vitro. Aplikasi bioteknologi dalam bidang pertanian bukan hanya untuk perbanyakan, tetapi juga untuk perbaikan karakter tanaman. Perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu pembentukan tunas adventif, proliferasi tunas lateral, dan embriogenesis somatik. Penelitian perbanyakan tanaman cendana melalui proliferasi tunas telah dilakukan oleh Kamil dan Umboh (1990). Di masa mendatang, perbanyakan klonal melalui embriogenesis somatik untuk produksi benih sintetis tanaman kehutanan akan lebih banyak mendapat perhatian dibandingkan cara lainnya (Attree et al. 1990). Embriogenesis somatik merupakan suatu proses di mana sel-sel somatik (baik haploid maupun diploid) berkembang membentuk tumbuhan baru melalui tahapan perkembangan embrio yang spesifik tanpa melalui fusi gamet (Williams dan Maheswara 1986). Regenerasi melalui embriogenesis somatik memberikan

ABSTRAK
Cendana (Santalum album L.) merupakan salah satu tanaman yang bernilai ekonomi tinggi bagi Indonesia khususnya di Nusa Tenggara Barat dan Timur. Namun, populasi tanaman tersebut cenderung menurun dan penyediaan bahan tanaman secara konvensional sulit dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memperbanyak tanaman cendana secara in vitro melalui embriogenesis somatik secara langsung. Embrio somatik primer diperoleh dengan cara menanam eksplan embrio zigotik muda dan dewasa pada media dasar MS yang mengandung bensil-aminopurin atau thidiazuron. Pada tahap selanjutnya, embrio somatik primer akan membentuk embrio somatik sekunder setelah disubkultur pada media dasar MS dengan atau tanpa penambahan asam indolasetat. Pemindahan embrio somatik pada media pendewasaan atau perkecambahan MS yang mengandung asam giberelat tidak dapat mendorong embrio menjadi plantlet, tetapi mengarah pada proses regenerasi membentuk multiplikasi tunas. Induksi akar pada tunas-tunas yang berasal dari embrio somatik pada media dasar MS yang mengandung asam indol butirat hanya menghasilkan akar dalam jumlah yang sedikit. [Kata kunci: Santalum album, embriogenesis somatik, embrio somatik primer, embrio somatik sekunder]

kemudian ditanam dalam media perlakuan yang sudah disiapkan di dalam botol kultur. dengan strukturnya yang bipolar dan kondisi fisiologis yang menyerupai embrio zigotik maka perbanyakan melalui pembentukan embrio somatik lebih menguntungkan daripada pembentukan tunas adventif yang unipolar.5 mg/l dan MS + GA3 1 mg/l.2 banyak keuntungan.4-D. Dalam media induksi.000-2.2% (Phytagel/Gelrite). MS + GA3 0. • Tahap perakaran: MS + IBA 5 mg/l dan MS + IBA 10 mg/l. MS + BA 1 mg/l. Benih dikeringanginkan di atas cawan petri di dalam laminar selama 5-10 menit.000 lux selama 16 jam. asam absisic (Das et al. MS + thidiazuron 1 mg/l dan MS + thidiazuron 2 mg/l. pemeliharaan. penelitian perbanyakan klonal pada tanaman cendana dikembangkan dengan menggunakan bioreaktor dengan cara memanipulasi berbagai faktor yang mempengaruhi proses produksi embrio somatik pada setiap tahapannya. dan hipo/epikotil. antara lain: (1) waktu perbanyakan lebih cepat. Embrio yang berada di bagian dalam benih dikeluarkan dengan menggunakan pinset steril. dan aklimatisasi (Lelu et al. Rai dan McComb 2002). Embrio somatik yang telah membentuk kotiledon dipindahkan ke dalam media perkecambahan untuk pembentukan plantlet. Bagian luar kulit buah (pericarp) dibuka/dipecah. Embriogenesis somatik pada tanaman kehutanan mempunyai beberapa tahapan perkembangan yang spesifik. seperti induksi kalus embriogenik atau embrio somatik (pembentukan langsung). perbanyakan tanaman melalui embriogenesis somatik memerlukan beberapa tahapan dengan formulasi media yang berbeda. 2002). Media yang digunakan sebagai perlakuan disesuaikan dengan tahapan percobaan yaitu: • Tahap induksi embrio somatik: MS + BA 0.5 mg/l.5 mg/l. Untuk tahap pendewasaan. Medium dasar MS (Murashige dan Skoog 1962) dilengkapi dengan sukrosa 3% (w/v). Penelitian ini bertujuan mempelajari sistem regenerasi dan perbanyakan secara in vitro tanaman cendana melalui pembentukan embrio somatik secara langsung. MS1/2 + GA3 1 mg/l. Pada tahap pembentukan struktur globular dan hati sering digunakan zat pengatur tumbuh sitokinin seperti benzyladenin (BA) atau yang mempunyai peran fisiologis yang sama yaitu thidiazuron (Husni et al. kemudian benih dikeluarkan dan dikumpulkan. bergantung pada tahap perkembangan embrio somatik. nitrogen. Sebagai eksplan umumnya digunakan jaringan atau organ yang bersifat embriogenik seperti embrio zigotik. Keberhasilan regenerasi melalui embriogenesis somatik dipengaruhi oleh berbagai faktor. mata tunas. konsentrasi sitokinin diturunkan dan untuk tahap perkecambahan sering ditambahkan GA3 (Mariska et al. • Tahap pembentukan embrio somatik sekunder: MS + IAA 0. Di samping itu. Pembentukan embrio somatik secara langsung lebih disukai karena dapat menekan masalah sulitnya pembentukan benih somatik pada tahap perkecambahan (Rai dan McComb 2002). 2001b. perkecambahan. pH media dibuat 5. dan (3) jumlah bibit yang dihasilkan tidak terbatas jumlahnya (Mariska 1996). • Tahap perkecambahan/pembentukan plantlet: MS1/2 tanpa GA 3. serta dibuat padat dengan menambahkan agar 0. Biakan diinkubasi pada suhu 25 + 2oC di bawah cahaya neon 1. 1997) atau 2. MS tanpa GA3. 2001) atau ion kalsium dalam media (Anil dan Rao 2000). Bahan tanaman yang digunakan adalah embrio dari buah cendana muda dan dewasa yang diperoleh dari Nusa Tenggara Barat dan Yogyakarta.8 dengan menambahkan 1 N NaOH atau 1 N HCl sebelum diotoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit. 2001a. seperti komposisi sukrosa. Di India.5 mg/l. dan NAA apabila embrio somatik melalui fase kalus (Hutami et al. Selanjutnya. MS1/2 + GA 3 0. kotiledon. Eksplan kemudian dipindahkan ke dalam media pendewasaan untuk mengoptimalkan pembentukan embrio somatik sekunder. 1993). .5 mg/l dan MS + IAA 1 mg/l. Kondisi penyimpanan biakan pada semua tahap perlakuan adalah sama. MS + thidiazuron 0. (2) pencapaian hasil dalam mendukung program perbaikan tanaman lebih cepat. antara lain formulasi media yang berbeda pada setiap tahap perkembangan embrio somatik serta jenis eksplan yang digunakan. MS + BA 2 mg/l. pendewasaan. Deden Sukmadjaja BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan di laboratorium kultur jaringan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian pada bulan Februari sampai Desember 2003. Dengan demikian. eksplan embrio somatik akan membentuk sel-sel embriogenik yang kemudian berkembang membentuk fase globular (fase embrio somatik primer).

Persentase embrio somatik sekunder tertinggi (71. Table 2. Data dianalisis menggunakan uji Duncan pada p < 0.5 BAP 1 BAP 2 thidiazuron 0.25ab 15b Keterangan/Notes: Angka pada satu kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji Duncan.5 mg/l sebesar 73%. baik untuk eksplan embrio muda maupun embrio dewasa.25%. 0.5a 73a 52a Muda/Immature 71. Effect of media on percentage of primary embryos to form secondary embryos from mature and immature zygotic embryo explant of sandalwood after 7 weeks.4a 15.0b 14.5%) diikuti MS + IAA 0.5 mg/l sekitar Keterangan/Notes: Angka pada satu kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji Duncan. sedangkan untuk eksplan embrio zigotik dewasa. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa setelah berumur 8 minggu.05.8a 71.8b 18. dilakukan aklimatisasi di kamar kaca.1a 53. jumlah embrio somatik yang berkecambah.5. Embrio zigotik terdiri atas jaringan yang sangat muda dan bersifat embrionik sehingga tanpa zat pengatur tumbuh pun tetap dapat beregenerasi. Di samping itu.7b Setelah plantlet cukup kuat untuk dipindahkan.25%) diperoleh dari media MS tanpa penambahan IAA.3a 46. pada pot tersebut disediakan bibit tanaman cabai yang diharapkan berfungsi sebagai tanaman inang.3a 63. dan 1 mg/l tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (Tabel 2). Effect of plant growth regulators in MS basal medium on somatic embryo formation from mature and immature zygotic embryo explant of sandalwood after 8 weeks. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan tanaman (buah) yang digunakan sebagai eksplan berasal dari Yogyakarta untuk buah masak (mature) dan dari NTT untuk buah masak dan muda (immature). dan persentase plantlet/ tanaman yang tumbuh. Kandungan garam-garam anorganik yang tinggi dalam media MS serta adanya vitamin dan sukrosa cukup memadai untuk mendukung proses pembentukan dan perkembangan sel-sel somatik dari embrio zigotik menjadi . Persentase pembentukan embrio somatik dari eksplan embrio zigotik muda pada media MS + BAP 2 mg/l menunjukkan nilai tertinggi (71.7a 18. Hal ini diduga karena bahan tanaman (biji) sudah tidak mempunyai viabilitas lagi akibat disimpan terlalu lama. Keberhasilan pembentukan embrio somatik sekunder dari embrio zigotik dewasa dengan perlakuan MS + IAA 0.25a 43. nilai tertinggi (63. Secara umum. persentase embrio primer membentuk embrio somatik sekunder.1a 16. Pada embrio somatik muda. media dasar MS yang diperkaya dengan BAP menunjukkan respons yang lebih baik dalam membentuk embrio somatik dibandingkan dengan MS + thidiazuron. keberhasilan regenerasi eksplan membentuk embrio somatik sekunder pada media MS + IAA 1 mg/l hanya 15% dan tidak berbeda nyata dengan MS + IAA 0. Pengamatan dilakukan terhadap persentase eksplan membentuk embrio primer.Embriogenesis somatik langsung pada tanaman cendana 3 Tabel 1. Media MS tanpa zat pengatur tumbuh IAA tampaknya selalu memberikan hasil yang lebih tinggi. Media Media MS (kontrol) MS + IAA 0.6a 23. Media tanam yang digunakan berupa campuran tanah dan pupuk kandang atau kasting (1:1) dalam pot plastik.5 mg/l MS + IAA 1 mg/l Persentase embrio somatik Percentage of somatic embryo Dewasa/Mature 87. Table 1. Tabel 2. Pengaruh media terhadap persentase embrio primer yang membentuk embrio sekunder dari eksplan embrio zigotik muda dan dewasa cendana umur 7 minggu. media MS tanpa IAA menunjukkan persentase keberhasilan paling tinggi (87. Embrio zigotik dari kedua tingkat kemasakan buah tersebut diisolasi dan ditanam pada media perlakuan untuk induksi embrio somatik. Numbers at each column followed by the same letter are not significantly different at 5% Duncan test.4%). eksplan yang berasal dari Yogyakarta tidak menunjukkan adanya pertumbuhan pada semua media perlakuan yang dicobakan. Eksplan dari buah yang berasal dari NTT memberikan respons yang berbeda dalam membentuk embrio somatik pada beberapa perlakuan media yang diberikan. Namun demikian.7a 33. Numbers at each column followed by the same letters are not significantly different at 5% Duncan test. Persentase embrio somatik Zat pengatur tumbuh Percentage of somatic embryo Plant growth regulator (mg/l) Dewasa/Mature Muda/Immature MS MS MS MS MS MS + + + + + + BAP 0.6%) diperoleh pada media MS + BAP 1 mg/l (Tabel 1). Pengaruh zat pengatur tumbuh dalam media dasar MS terhadap pembentukan embrio somatik dari eksplan embrio zigotik muda dan dewasa pada cendana setelah 8 minggu. baik untuk embrio zigotik muda maupun dewasa.5 thidiazuron 1 thidiazuron 2 33. 43.

Dengan demikian media MS yang konsentrasi makronya dicairkan sampai setengahnya lebih baik dibandingkan media MS konsentrasi penuh. Setelah disubkultur pada media perkecambahan. e and f = configurations of somatic embryos cotyledon.5%. e dan f = konfigurasi kotiledon embrio somatik. Rai dan McComb (2002) pada tanaman cendana dengan menggunakan embrio zigotik dewasa berhasil pula meregenerasikan eksplan membentuk embrio somatik dewasa. d = torpil stage. b = globular stage.25% dan 87. pengenceran media pada tahap perkecambahan dimaksudkan untuk menghindari pengkalusan kembali pada dasar tunas atau struktur embrio somatik. . Gambar 1. Tremblay (1990) melakukan pengenceran garam makro media Schenk dan Hilderbrandt sampai seperempatnya. (1994) pada tanaman hibrida antara Larix dan Leptoeuropaca menggunakan embrio zigotik muda. (1987) pada tanaman Picea abis dan Lelu et al. Gambar 2). Kelompok tunas pada media perkecambahan menunjukkan bentuk yang normal dan tidak normal. Pembentukan embrio somatik dari eksplan embrio zigotik pada tanaman cendana. Dengan demikian. penggunaan kedua jenis eksplan. a = embrio zigotik sebagai eksplan. d = tahap torpil (torpedo). Multiplikasi paling tinggi (92%) terdapat pada media MS1/2 + GA 3 namun tidak berbeda dengan perlakuan lainnya kecuali MS.4 embrio somatik. Fig. Berdasarkan hasil penelitian ini. c = tahap bentuk hati. Gambar 1 menunjukkan embrio zigotik yang digunakan sebagai eksplan serta pembentukan dan perkembangan embrio somatik tanaman cendana. 1. yaitu embrio zigotik muda dan dewasa memberikan persentase keberhasilan yang cukup tinggi. Development of somatic embryos from zygotic embryo explant on sandalwood. Namun. berturutturut 71. embrio soma- Deden Sukmadjaja tik dewasa ternyata tidak langsung membentuk benih somatik. Pengenceran media MS sebagai media perkecambahan dilakukan pula oleh Rai dan McComb (2002) pada tanaman cendana. a = zygotic embryo explant. b = tahap globular. perbanyakan tanaman cendana melalui pembentukan embrio somatik memberikan kemudahan dalam pengangkutan biji sebagai sumber eksplan mengingat produksi biji pada cendana relatif lama. Menurut Rout et al. serta Rout et al. Becwor et al. tetapi bermultiplikasi membentuk tunas (Tabel 3. (1995). c = heart shaped stage. (1995) pada tanaman Acacia catechu.

Sampai umur 3 minggu. Untuk itu pada tahap selanjutnya tunas disubkultur pada media perakaran (Tabel 4.4bc Persentase tunas abnormal Percentage of abnormal shoots 0 9. Gambar 2.4 0 0 33.5 mg/l sebanyak 5.75 4. Hal ini kemungkinan disebabkan pengaruh nutrisi yang terlalu kaya sehingga mengakibatkan induksi pertumbuhan yang abnormal. 2.2a 0c 1. akar hanya tumbuh pada beberapa biakan yang diberi perlakuan IBA 5 mg/ l dengan rata-rata jumlah akar 0. sedangkan tunas abnormal yang paling banyak berasal dari media MS + GA3 0.5 mg/l MS + GA 3 1 mg/l Persentase biakan berorganogenesis Percentage of cultured organogenesis 4 8 ab 92 a 88 a 0b 60 a 4 8 ab Jumlah tunas normal Number of normal shoots 2. Pengaruh komposisi media perkecambahan terhadap rata-rata persentase biakan berorganogenesis serta jumlah tunas normal dan abnormal dari embrio somatik pada cendana.6bc 2. Rata-rata tinggi serta jumlah tunas dan akar dari eksplan kecambah embrio somatik cendana pada media induksi perakaran umur 4 minggu.8bc 5.6 0. Media Media MS + IBA 5 mg/l MS + IBA 10 mg/l Jumlah tunas Tinggi tunas Jumlah akar Shoot Shoot Root number height n u m b er 3.25 1. . Table 3.2 tunas) diperoleh dari media MS1/2 + GA3 1 mg/l namun tidak berbeda nyata dengan MS1/2 + GA 3 0.5 mg/l MS1/2 + GA 3 1 mg/l MS MS + GA 3 0.8ab 9.0 KESIMPULAN Pembentukan embrio somatik tanaman cendana secara langsung dengan eksplan embrio zigotik dewasa mencapai 63. Tampaknya media MS konsentrasi penuh selalu memberikan hasil yang lebih rendah dibandingkan media MS yang diencerkan setengahnya. Pada media perkecambahan/pendewasaan.55 0. embrio somatik dewasa tidak dapat membentuk akar seperti yang diharapkan. Somatic embryo growth of sandalwood on maturing media (a) and germination media (b). Perlakuan IBA 5 dan 10 mg/l tidak menunjukkan perbedaan pada jumlah dan tinggi tunas yang dihasilkan.3 25 5 Keterangan/Notes: Angka pada satu kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% uji Duncan. Pertumbuhan embrio somatik tanaman cendana pada media pendewasaan (a) dan perkecambahan (b).6% dengan menggunakan media MS + BAP 1 mg/l dan untuk eksplan embrio zigotik muda 71.72 1. Numbers at each column followed by the same letters are not significantly different at 5% Duncan test.8 tunas. number of normal and abnormal shoots from somatic embryos of sandalwood.4% pada media MS + BAP 2 mg/l.Embriogenesis somatik langsung pada tanaman cendana Tabel 3. Media Media MS1/2 MS1/2 + GA 3 0. Tabel 4. Gambar 3). Effect of germinating media compositions on percentage of cultured organogenesis. Average of height and number of shoots and roots from somatic embryo explant of sandalwood on root induction media after 4 weeks. Fig. Table 4. Pada media MS.6.5 mg/l. Jumlah tunas normal paling banyak (rata-rata 9.

2001a. and S. Jakarta. Lelu.6 Deden Sukmadjaja Becwor. and P. Rao. 1995. 68: 30-34. Bogor. 13 hlm. Murashige. embrio somatik yang paling banyak bermultiplikasi membentuk tunas terdapat pada media MS1/2 + GA3 0. Ward.R.. M.A. Plant 15: 473-497. S. Noland. 37(1): 51-56. Mariska. 2002. meskipun akar dapat terbentuk pada media MS + IBA 5 mg/l dengan jumlah yang masih sedikit. S. 1990. 20: 1-3. Plant Cell. K. Utami. Skoog. Plant Cell Tissue and Organ Culture 42: 283-285. T. Prosiding Kursus Bioteknologi. C. Somatic embryogenesis factors influencing coordinated behaviour of cells as on embryogenic group. and K. K. M. 1996. S. 26 Juni 2000. Kumpulan makalah Seminar Nasional Kajian terhadap Tanaman Cendana (Santalum album L. H. S. Somatic embryo development and regeneration from embryogenic Norway spruce callus. Ray. Induksi perakaran belum memberikan hasil yang memuaskan. Sopandie. V. D. McComb.A. 1962. and F. Hutami. Rai. Bot. P. An improved method for somatic plantlet production of hybrid larch (Lorix x Leptoeuropaea) Part 2 Control of germination and plantlet development. dan W. C.. Damayanti. 2001. 21-23 March 1990. I. 1987. Dasgupta. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktur SEAMEO-BIOTROP yang telah memberikan dukungan dana terhadap penelitian ini melalui Bagian Proyek Pengembangan Biologi Tropika Indonesia Bogor TA 2003. Indonesian Biotechnology Consortium. 68: 236-242.. Herman. I. Adil. Jakarta. inorganic nitrogen and absisic acid levels for Santalum album L. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.K. H. Hutami.J. Charest. A laboratory guide to somatic embryogenesis in spruce and larch. Petawawa National Forestry Institute. Musakabe.I.. 2002. and Maheswara. Tappi J.L.C. Kantor Menristek dan LIPI. Mariska. Kosmiatin. Rout. Umumnya media MS yang diencerkan setengahnya menghasilkan jumlah tunas yang lebih tinggi dibandingkan media MS penuh untuk setiap penambahan GA 3. Biotrop Special Publication No. Berita Puslitbangtan No. 1993. Ward. Van Aderkas. Fawke. M. Peluang dan kendala cendana dalam perekonomian Propinsi Nusa Tenggara Timur. Jones. G. C. and J. Pemda NTT dan LIPI. Syamsudin. Kosmiatin. S. and P. Das. Media MS + GA3 0. J.M. Peningkatan ketahanan terhadap Al pada tanaman kedelai melalui kultur in vitro. Can. 1997. Plant Cell Tissue and Organ Culture 69: 65-70. and P. Mariska. The Symposium on Biotechnology for Forest Tree Improvement. 2000. Regenerasi massa sel embriogenik kedelai setelah diseleksi pada kondisi Al berbeda dan pH rendah. Purnamaningsih. Bot. Optimation of sucrose. Kamil. S. Tremblay. 49. 70: 155-160. Williams. and M. Bot. 1990. 1994. Calcium-mediated signaling during sandalwood somatic embryogenesis. Embriogenesis somatik tanaman lada liar. and T. I. Jones. D. M.J. Charest. E. Pada media perkecambahan.S. Gambar 3.R. Can. yaitu masing-masing 33.. Jakarta. and S. Plant Physiol. T. Pertumbuhan biakan cendana pada media induksi perakaran. Role for exogenous calcium as second messenger. J. Serpong. Das. Direct somatic embryogenesis from mature embryos of sandalwood.M. dan M. I. R. 1986. Proc.. Mariska. glauca). Kosmiatin.S... Tissue and Organ Culture 36: 117-127. I. Dey. dan M.5 mg/l. Process Biochem. E. Proc.H. C. Somatic embryogenesis and plantlet regeneration from cultured shoots and cotyledons of seedlings from stored seeds of black and white spruce (Picea mavina and P. P. Hutami. S. 123: 1301-1312. A. Samantaray. Physiol. Van Aderkas. Mariska.J.R.I. Somatic embryogenesis and plantlet regeneration from embryos isolated from stored seeds of Picea glauca. Makalah Seminar Mingguan Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Lelu. A revised medium for rapid growth and bioassay with tobacco tissue culture. DAFTAR PUSTAKA Anil. S. Klimaszewska. . Ann.R.G. F.5 dan 1 mg/l menghasilkan tunas abnormal paling tinggi. somatic embryo production in suspension culture..K. Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII. Attree. 3. Embriogenesis somatik tanaman kehutanan. Somatic embryogenesis and plant regeneration from callus culture of Acacia catechu a multipurpose leguminous tree. Budimirand.. V. Root induction of Santalum album by using IBA and NAA. M. Fig. persentase embrio somatik sekunder yang dihasilkan relatif sama antara embrio zigotik muda dan dewasa. S. 2000. Klimaszewska. Husni. 1990. and L. 5 September 1997.) sebagai Komoditi Utama Perekonomian Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Menuju Otonomisasi. Information Report. 57: 443-462. Bogor. Growth of sandalwood culture on root induction media. Umboh. 4-9 November 1996. Canada.3% dan 25%. the 2nd Indonesian Biotechnology Conference. Regeneration of papaya (Carica papaya) through somatic embryogenesis. 2001b. Wann.