You are on page 1of 15

‘’ RUSUN: Solusi Pemukiman Di Perkotaan Padat Penduduk’’

Oleh: Merlin Dwi Yunaniar Elin Septianingsih Universitas Airlangga

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara sedang berkembang yang memiliki kuantitas SDM yang

sangat besar. Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama

dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205,1 juta pada tahun 2000 menjadi 273,2 juta pada tahun 2025 (BPS,2009). Di lingkup dunia pada tahun 2000
Indonesia menempati posisi keempat negara dengan jumlah penduduk terpadat setelah China, India, dan Amerika serikat. Walaupun demikian, pertumbuhan rata-rata per

tahun penduduk Indonesia selama periode 2000-2025 menunjukkan kecenderungan terus menurun. Dalam dekade 1990-2000, penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1,49 persen per tahun, kemudian antara periode 2000-2005 dan 2020-2025 turun menjadi 1,34 persen dan 0,92 persen per tahun. Turunnya laju pertumbuhan ini ditentukan oleh turunnya tingkat kelahiran dan kematian, namun penurunan karena kelahiran lebih cepat daripada penurunan karena kematian. Crude Birth Rate (CBR) turun dari sekitar 21 per 1000 penduduk pada awal proyeksi menjadi 15 per 1000 penduduk pada akhir periode proyeksi, sedangkan Crude Death Rate (CDR) tetap sebesar 7 per 1000 penduduk dalam kurun waktu yang sama (BPS,2009) Pertumbuhan penduduk yang tinggi semakin diperparah dengan angka yang mencapai 4,4 % pertahun yang menyebabkan konsentrasi penduduk di kota semakin besar. Hal ini membuat kebutuhan perumahan di perkotaan sebagai kebutuhan papan dasar masyarakat semakin meningkat pula. Sementara itu ketersediaan lahan menjadi semakin langka. Kelangkaan ini menyebabkan mahalnya harga lahan di pusat kota,
1

sehingga

mendorong

masyarakat

berpeng-hasilan

menengah-bawah

untuk

menciptakan kawasan kumuh baru. Pada 1969, 60% (sedikitnya 3 juta jiwa) dari 4,8 juta penduduk Jakarta, hidup di permukiman kumuh. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu pembangunan hunian secara vertikal, berupa Rumah Susun (Rusun) yang dapat memperbaiki tatanan kota padat penduduk dan masalah kependudukanperkotaan lainnya.

1.2

Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah dari

tulisan ini adalah: 1.2.1 Apa solusi atas sistem perumahan seiring dengan tingginya jumlah penduduk di perkotaan? 1.2.2 Apa saja permasalahan pengelolaan RUSUN yang dihadapi masyarakat
perkotaan?

1.2.3 Bagaimana jalan keluar atas permasalahan pengelolaan RUSUN tersebut agar
mencapai pembangunan yang berkelanjutan?

1.3

Tujuan

Tujuan dari tulisan ini adalah:

1.3.1 Untuk mencari solusi atas tingginya kebutuhan perumahan di perkotaan
seiring dengan tingginya jumlah penduduk.

1.3.2 Untuk mengidentifikasi permasalahan- permasalahan yang dihadapi dalam
pengelolaan RUSUN di perkotaan.

1.3.3 Untuk mencari solusi atau jalan keluar atas permasalahan pengelolaan
RUSUN agar mencapai pembangunan yang berkelanjutan.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Pertumbuhan Penduduk Di dalam domografi dikenal berbagai teori mengenai pertumbuhan penduduk yang faktor-faktornya bersifat alami, mekanistis maupun ekonomis. Para ahli melalui teorinya berusaha menunjukkan berlakunya hukum universal dari pertumbuhan penduduk, antara lain: Pearl menitikberatkan teorinya pada asumsi geografis dan biologis, dimana menurutnya perkembangan penduduk mula-mula berjalan lambat, kemudian menjadi pesat dan setelah itu mencapai titik tengah, kemudian siklusnya menjadi lambat kembali. Salah satu faktor penyebabnya adalah spatial density (teori kepadatan ruang), dimana Pearl menganalogikan dalam eksperimennya melalui lalat Drosophila dan ayam teluran Barred Plymouth Rock; semakin sempit ruang hidup dalam botol atau kandang maka jumlah telur akan sema.kin berkurang; Gini melalui pendekatan biologis berpendapat bahwa perkembangan penduduk mengalami tahap-tahap muda, dewasa dan tua. Pada tahap tua akan terjadi Natural Exhaustion (kelelahan alami) pada tenaga reproduksi. Hal ini terjadi terutama pada masyarakat lapisan atas. Thomas R. Malthus berpendapat bahwa “The means of substance tended to increase in arithmethical ratio (1,2,3,4 etc) but population growth in geometrical ratio (1,2,3,8 etc)” bahwa bahan makanan berkembang berdasarkan deret hitung sementara manusia akan bertambah sesuai dengan deret ukur. Hal ini sejalan dengan teori ekonomi yakni Scarcity (kelangkaan) dimana keinginan manusia merupakan suatu hal yang tidak terbatas sementara faktor produksi terbatas.

3

Selain itu, beberapa teori Malthus mengenai perumbuhan penduduk adalah sebagai berikut : a) Kemampuan alam dalam memproduksi tumbuh-tumbuhan adalah terbatas; b) Manusia cenderung tuntuk berkembang dengan suburnya; c) Perkembangan penduduk cenderung menghabiskan produksi; d) Alam mengurangi pertumbuhan penduduk melalui positive cheks, yakni peperangan, epidemi, kelaparan dan kejahatan; e) Manusia mengurangi kelahiran melalui preventive cheks, yakni penundaan usia perkawinan. 2.2 Definisi Pembangunan Berkelanjutan Michael P. Todaro menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan (sustainable development) merupakan pembangunan secara sosial dan ekonomi yang memikirkan kegunaan dan ketersediaan faktor produksi bagi generasi yang akan datang. Sehingga, penggunaan faktor produksi pada masa sekarang harus seefisien mungkin. 2.3 Definisi Kota Kota adalah pusat pemukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku serta pemukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan, yakni relatif besar, padat dan permanen serta dihuni oleh masyarakat yang heterogen kedudukan sosialnya. Kota sebagai lingkungan kehidupan perkotaan dapat tumbuh dan berkembang melalui dua macam proses yaitu: a. Proses perubahan yang terjadi dengan sendirinya (proses alamiah); b. Proses perubahan yang dibentuk, diarahkan dan dikendalikan melalui proses perencanaan kota (City Planning) yang berifat menyeluruh dan berifat berbagai sektoral
4

2.3 Definisi Bias Urban Bias Urban dapat diartikan sebagai kesenjangan antara perkotaan dan pedesaan yang terjadi sebagai akibat dari terus meluasnya urbanisasi dari pedesaan ke perkotaan, sehingga menimbulkan berbagai dampak di perkotaan seperti pemukiman kumuh (Slum Area) dan kampung-kampung kumuh di tengah kota yang jauh dari standar kesehatan maupun kenyamanan hidup (Shanty Town). Fenomena bias urban sebagian besar terjadi di negara-negara Dunia Ketiga (Least Developing Countries), lebih dari sepertiga penduduk yang tinggal di Negara Dunia Ketiga merupakan penghuni pemukiman kumuh (Todaro, 2006). 2.4 Perumahan Perumahan dalam arti yang luas mencakup rumah (secara fisik) dan segala fasilitas pendukung seperti sanitasi, faslitas pendidikan, sosial serta kondisi

lingkungan sekitarnya. Orang beranggapan bahwa perumahan merupakan komoditi yang berbeda, karena bersifat heterogen, tidak bergerak (immobile) dan tahan lama (durable). Keputusan seseorang dalam memilih tempat hunian (rumah) dipengaruhi oleh kombinasi atas harga rumah, kualitas rumah, ukuran rumah, lokasi rumah, beragam faslilitas pendukung, kondisi lingkungan sekitar serta atribut-atribut lainnya. Tipikal seorang konsumen perumahan adalah konsumen yang rasional dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas. Biasanya seorang konsumen memilih rumah yang nyaman namun tidak lupa mempertimbangkan daya beli dari segi ekonomis (pendapatan).

5

BAB III PEMBAHASAN
3.1 Gambaran Umum

Aspek kependudukan merupakan unsur yang selalu dikaitkan dengan masalah perumahan dan dianggap sebagai penyebab utama. Bagi Indonesia jumlah penduduk adalah unsur dominan, sebab sampai sensus penduduk 2000, Indonesia menduduki sebagai negara berpenduduk terbesar keempat setelah Cina, India, Amerika Serikat. Penduduk kota menurut sensus 2000 mencapai 85.380.627 orang atau 42,43%. Menjelang tahun 2010 separuh penduduk Indonesia berdiam di kota. Pesatnya urbanisasi di kota-kota besar dan metropolitan telah menyebabkan permasalahan ketersediaan lahan bagi perumahan. Akibat langka dan semakin mahalnya tanah di perkotaan, pembangunan perumahan baru layak huni bagi masyarakat

berpenghasilan rendah cenderung menjauh dari tempat kerja (urban sprawl). Keadaan ini menimbulkan ketidakteraturan penataan ruang dan kawasan, permasalahan mobilitas manusia dan barang, beban investasi dan operasi dan pemeliharaan PSU, penurunan produktifitas kerja, serta berdampak buruk terhadap kondisi sosial dan lingkungan. Jakarta sebagai kota megapolitan dan Ibukota Indonesia memiliki lebih dari 29,23 ha kawasan permukiman yang tergolong kumuh berat atau sekitar 4,20 % dari luas kawasan permukiman. Rumah susun yang dibangun umumnya adalah dalam rangka merumahkan kembali masyarakat yang tinggal di kawasan kumuh agar mendapatkan rumah yang layak huni dalam lingkungan yang teratur. Selain itu juga ada beberapa rumah susun yang diperuntukan bagi korban kebakaran permukiman, atau yang tinggal di kawasan jalur hijau. Pada tahun 1996 di Jakarta memiliki jumlah Kepala Keluarga 1.850.740 sedangkan jumlah rumah yang dimiliki KK tersebut hanya 1.266.508 sehingga terdapat kekurangan rumah sebesar kira- kira 584.232 rumah. Keluarga yang tidak memiliki rumah ini biasanya memanfaatkan kolong jembatan, bantaran sungai, emper toko dan rumah kos yang akhirnya bias menimbulkan slum area di kota tsb. Jumlah ini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 depan diproyeksikan jumlah rumah di Jakarta akan meningkat menjadi 2.150.000.
6

Deskripsi lengkap mengenai jumlah KK, jumlah rumah dan jumlah kekurangan rumah dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Grafik : Kebutuhan Rumah di Jakarta

3.2 Rumah Susun Sebagai Solusi Undang-Undang No.16 tahun 1985 tentang Rumah Susun (RUSUN) menyebutkan bahwa Rumah Susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian, yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama. Rusun sebagai salah satu solusi pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak bagi masyarakat berpenghasilan menengah-bawah. Memerlukan standar perencanaan Rusun sebagai dasar pembangunannya. Standar perencanaan Rusun ini diperlukan agar harga jual/sewa Rusun dapat terjangkau oleh kelompok sasaran yang dituju, tanpa mengurangi asas kemanfaatan, keselamatan, keseimbangan, keserasian Rusun dengan tata bangunan dan lingkungan kota. Pembangunan Rusun bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan Rusun layak huni dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan menengah-bawah di kawasan perkotaan dengan penduduk di atas 1,5 juta jiwa, sehingga akan berdampak pada: 1) Peningkatan efisiensi penggunaan tanah, ruang dan daya tampung kota; 2)
7

Peningkatan kualitas hidup masyarakat berpenghasilan menengah-bawah dan pencegahan tumbuhnya kawasan kumuh perkotaan; 3) Peningkatan efisiensi prasarana, sarana dan utilitas perkotaan; 4) Peningkatan produktivitas masyarakat dan daya saing kota; 5) Peningkatan pemenuhan kebutuhan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah-bawah. 6) Peningkatan penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi. Sasaran pembangunan Rusun tahun 2007-2011, yakni pemenuhan kebutuhan Rusun layak huni sebanyak 1.000 menara atau sekitar 350.000 unit Rusun, dengan harga sewa/jual yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan menengah-bawah di kawasan perkotaan yang berpenduduk lebih dari 1,5 juta jiwa. Prioritas utama pembangunan Rusun ditujukan pada kota-kota dengan tingkat urbanisasi dan kekumuhan yang tinggi. Kota-kota yang menjadi prioritas pembangunan, antara lain meliputi: Medan, Batam, Palembang, Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Banjarmasin, dan Makassar.

3.3 Masalah dan Tantangan Lahan merupakan masalah utama pembangunan perumahan sebagai salah satu pemenuhan kebutuhan hak dasar rakyat. Terbatasnya lahan perkotaan menyebabkan pemerintah kota dituntut untuk dapat memanfaatkan lahan secara efisien dengan meningkatkan intensitas penggunaannya. Tuntutan akan penggunaan lahan perkotaan cenderung semakin meningkat seiring diterapkannya otonomi daerah. Hal ini antara lain disebabkan Pemerintah Kota dituntut untuk dapat memanfaatkan sumber daya ruang dan tanah secara maksimal bagi peningkatan pendapatan daerah, di sisi lain adanya tuntutan masyarakat yang semakin kritis dalam mendapatkan pelayanan umum, termasuk penyediaan sarana dan prasarana sosial, budaya, taman dan ruang terbuka hijau. Selain langka dan mahalnya harga tanah/lahan di pusat kota untuk pembangunan perumahan serta keterbatasan pasokan Rusun dikarenakan beberapa permasalahan mendasar berupa: beban biaya yang tinggi dalam pengurusan proses perijinan (ijin pemanfaatan ruang, ijin lokasi, sertifikasi tanah, dan ijin mendirikan bangunan); beban pajak; keterbatasan dukungan prasarana, sarana, dan utilitas
8

(PSU); serta masih tingginya beban bunga pinjaman. Sedangkan dari sisi permintaan Rusun, masih terkendala antara lain: terbatasnya daya beli masyarakat

berpenghasilan menengah-bawah, terbatasnya penyediaan uang muka, rendahnya kemampuan meminjam akibat tenor pinjaman yang pendek, serta permasalahan sosial dan budaya. Sebagai sesuatu yang baru bagi masyarakat, cukup banyak permasalahan yang menyangkut pengelolaan rumah susun. Permasalahan penghunian datang dari kenyataan bahwa menghuni rumah susun masih dirasakan sebagai bentuk budaya baru yang memerlukan waktu penyesuaian. Rumah susun terdiri dari beberapa lantai hunian, merupakan bentuk perubahan hidup yang biasa melekat dengan tanah, menjadi tidak memiliki tanah untuk sekedar bercocok tanam. Kendala lain adalah masalah penghunian , pada awal penghunian sudah diadakan seleksi sesuai dengan target sasaran, yaitu masyarakat yang berpenghasilan rendah. Namun dalam perjalanannya, banyak penghuni yang memperjual-belikan hak penghuniannya kepada orang-orang yang tidak berhak. Hal ini dipicu oleh kebutuhan ekonomi para penghuni awal. Masalah-masalah lainnya antara lain adalah sebagai berikut: 3.3.1 Teknis Secara teknis permasalahan yang sering kali timbul dalam pengelolaan rumah susun dapat diidentifikasi sebagai berikut: a) Mahalnya harga tanah di pusat-pusat kota yang berdekatan dengan tempat bekerja dan berusaha, sehingga harga jual rusunawa masih mahal walau telah disubsidi. b) Kurang sempurnanya perletakan antara dapur, kamar mandi dan kamar tidur, dikarenakan keterbatasan luasan per satuan unit rumah susun serta belum adanya desain standar yang ideal. c) Kurangnya pengawasan pada saat pelaksanaan pembagunan, sehingga sering terjadi kebocoran air, baik itu air bersih atau air kotor dari lantai diatasnya. d) Tidak tersedianya ruang jemur pakaian yang memadai

9

e) Karena umumnya berlantai lebih dari 4, maka pada saat hujan terjadi tempias dan saat musim panas cahaya dapat masuk langsung ke dalam rumah. f) Kualitas bangunan yang serba standar, sehingga mengurangi rasa nyaman. g) Tidak tersedia lift untuk bangunan sampai dengan berlantai 5. h) Tidak tersedianya ruang pertemuan yang memadai sebagai tempat bersosialisasi. i) Belum semua bangunan rumah susun yang dilengkapi dengan ramp untuk penyandang cacat. j) Distribusi air bersih sering kali tidak merata, misalnya apabila unit bagian bawah memakai air, maka unit bagian atas akan kesulitan mendapatkan air, karena kurangnya volume dan tekanan air.

3.3.2 Sosial Budaya Tinggal di rumah susun merupakan budaya yang relatif baru bagi masyarakat kita, sehingga seringkali kegiatan sehari-hari yang dilakukan pada saat tinggal di rumah biasa (tidak susun) terbawa ke lingkungan rumah susun, yang antara lain sebagai berikut: a) Berbicara dan menggunakan perangkat audio dengan keras, sehingga mengganggu tetangga kamar maupun penghuni secara keseluruhan. b) Mengutamakan kepentingan individu dalam menggunakan fasilitas umum seperti, tangga, selasar depan kamar yang juga berfungsi sebagai jalan akses bagi tetangga, dapur dan kamar mandi umum, tempat bermain umum bagi anak-anak, parkir dan fasilitas umum lainnya. c) Menjemur pakaian keluar jendela, sehingga merusak pemandangan dan dapat meneteskan air dari pakaian yang masih basah ke jemuran pakaian yang sudah kering di bawahnya. d) Tanpa disadari selalu membuang sampah atau barang tidak berharga lainnya ke luar yang dapat mengganggu kenyamanan penghuni lainya, khususnya dilantai bawah.
10

e) Karena terletak saling berdekatan, maka segala kegiatan, harta benda tetangga jelas terlihat, sehingga sering menjadi pergunjingan dan saling cemburu. f) Kurangnya kesadaran penghuni dalam memelihara fasilitas umum.

3.3.3 Ekonomi Penghuni rumah susun sewa umumnya adalah yang berpendidikan dan berpenghasilan rendah, sehingga dalam kegiatan penghunian selalu timbul permasalahan: a) Kriminalitas diantara sesama penghuni. b) Kecemburuan secara ekonomi antar penghuni. c) Terlambat membayar sewa, air, listrik dan iuran lainnya sebagai penghuni. d) Kurangnya insentif perpajakan kepada para penghuni, pengelola maupun pengembangnya

3.3.4 Hukum a) Hak dan kewajiban penghuni dan pengelola tidak terperinci secara jelas berikut sanksi yang akan diterapkan apabila terjadi pelanggaran. b) Rendahnya disiplin para penghuni dalam mematuhi segala kewajiban. c) Lemahnya penegakan hukum terhadap semua pelanggaran yang dilakukan.

3.3.5 Administrasi Masalah – masalah yang sering timbul dari segi administrasi adalah: a) Lemahnya pengelola dalam mengadiministrasikan penghuni, baik yang masuk maupun yang keluar. b) Rendahnya kesadaran para penghuni dalam melaporkan dan mencatatkan segala kegiatan keluar – masuk penghuni, jumlah dan kegiatannya kepada pengelola.

11

3.4 Upaya Mengatasi Permasalahan RUSUN Agar pembangunan Rusun mencapai kelompok sasaran yang dituju, yakni masyarakat berpenghasilan menengah-bawah, maka diperlukan upaya yang sinergis dan sistematis dari seluruh pemangku kepentingan agar harga jual/sewa Rusun dapat dijangkau oleh kelompok sasaran dimaksud. Melalui berbagai penciptaaan iklim yang kondusif bagi berkembangnya pembangunan Rusun. Sasaran pembangunan Rusun juga dilakukan melalui pernaikan sistem pasokan, antara lain berupa: fasilitasi pengadaan tanah bagi pembangunan Rusun, berupa percepatan proses pembebasan dan sertifikasi tanah; percepatan proses perijinan; pengurangan/ penangguhan/ pembebasan biaya perijinan dan beban pajak, dukungan pembiayaan investasi pembangunan Rusun. Melalui perbaikan dari sisi permintaan, antara lain berupa: peningkatan kapasitas dayabeli dan kapasitas meminjam masyarakat, melalui upaya pemberdayaan masyarakat dan dukungan kebijakan fiskal yang dapat mendorong tumbuhnya pasar Rusun di perkotaan. Pembangunan Rusun di kawasan perkotaan didasarkan pada konsep pembangunan pembangunan. berkelanjutan, Dalam yang menempatkan manusia sebagai tata pusat kelola

pelaksanaannya,

menggunakan

prinsip

kepemerintahan yang baik (good governance) dan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Prinsip dasar pembangunan Rusun meliputi:

1. Keterpaduan: pembangunan Rusun dilaksanakan prinsip keterpaduan kawasan, sektor, antar pelaku, dan keterpaduan dengan sistem perkotaan; 2. Efisiensi dan Efektivitas: memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal, melalui peningkatan intensitas penggunaan lahan dan sumberdaya lainnya; 3. Penegakan Hukum: mewujudkan adanya kepastian hukum dalam bermukim bagi semua pihak, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan yang hidup di tengah masyarakat; 4. Keseimbangan dan Keberlanjutan: mengindahkan keseimbangan ekosistem dan kelestarian sumberdaya yang ada; 5. Partisipasi: mendorong kerjasama dan kemitraan Pemerintah dengan badan usaha dan masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam proses perencanaan,
12

pembangunan, pengawasan, operasi dan pemeliharaan, serta pengelolaan Rusun. 6. Kesetaraan: menjamin adanya kesetaraan peluang bagi masyarakat berpenghasilan menengah-bawah untuk dapat menghuni Rusun yang layak bagi peningkatan kesejahteraannya. 7. Transparansi dan Akuntabilitas: menciptakan kepercayaan timbal-balik antara pemerintah, badan usaha dan masyarakat melalui penyediaan informasi yang memadai, serta dapat mempertanggung-jawaban kinerja pembangunan kepada seluruh pemangku kepentingan.

13

BAB IV PENUTUP

4.1 Simpulan Indonesia merupakan negara sedang berkembang dengan jumlah penduduk kota menurut sensus 2000 mencapai 85.380.627 orang atau 42,43%. Menjelang tahun 2010 separuh penduduk Indonesia berdiam di kota. Pesatnya urbanisasi di kota-kota besar dan metropolitan telah menyebabkan permasalahan ketersediaan lahan bagi perumahan. Akibat langka dan semakin mahalnya tanah di perkotaan, pembangunan perumahan baru layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah cenderung menjauh dari tempat kerja (urban sprawl). Undang-Undang No.16 tahun 1985 tentang Rumah Susun (RUSUN) menyebutkan bahwa Rumah Susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal maupun vertical dengan dasar kepemilikan bersama. Pembangunan rusun didasarkan pada konsep pembangunan berkelanjutan, yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan, dengan sasaran masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah.

4.2 Saran 1. Agar sasaran dan tujuan pembangunan rusun dapat tercapai dengan baik maka dalam pelaksanaannya harus menggunakan prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance) dan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). 2. Perlu dilakukan monitoring dan evaluasi yang berkesinambungan terhadap fasilitas rumah susun, sehingga dapat diketahui apabila terdapat fasilitas yang belum memadai.

14

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Budiman. 2005. Plikasi Penataan Ruang Kota Sesuai Kebijakan Pemerintah. Jakarta. Daldjoeni, Drs. 1989. Masalah Penduduk dalam Fakta dan Angka. Bandung: Alumni. Dinas Perum DKI. 2001. Studi Pengkajian Kemampuan Sosial Ekonomi Penghuni Rumah Susun Sewa Beli. Jakarta. Ilham, Drs. 1993. Strategi Pembangunan Perkotaan di Indonesia. Surabaya: Usaha Nasional Surabaya. Jakstra. 2009. Kebijakan dan Rencana Strategis Pembangunan Rumah Susun di Kawasan Perkotaan tahun 2007-2011. Jakarta O’ Sullivan, Arthur. Urban Economics. Sixth Edition. New York: McGraw-Hill. Ramly, Lanny. 2002. Hukum dan Kependudukan. Surabaya: Yuridika. Silas, John. 2008. Jurnal Perkembangan Perumahan Indonesia. Vol 5. Jakarta. Sitepu, Hairul. 2006. Makalah Pengantar Falsafah Sains. Bogor: IPB. Todaro, Michael P dan Stephen C. Smith. 2004. Pembangunan Ekonomi Dunia Ketiga. Edisi delapan. Jakarta: PT. Airlangga.

15