You are on page 1of 30

RESUME

PERBINCANGAN SEPUTAR TAFSIR DAN TAKWIL ALQURAN MENURUT SUDUT PANDANG URAFA

 Oleh Muhammad Alcaff: Bapak Dosen Hadi Kharisman  Program MA jurusan Mysticism semester II Ada dua terminologi yang melekat dan cukup akrab dengan Alquran al Karim, yaitu tafsir dan takwil. Hanya saja, tafsir lebih popular dan lebih diterima oleh banyak kalangan ulama mazhabmazhab Islam sebagai pendekatan yang paling pas dan paling otentik ketimbang takwil, bahkan tidak sedikit mazhab yang menolak takwil sebagai pendekatan yang dianggap ―ilegal‖ dan ―pemerkosaan‖ (baca: pemaksaan) terhadap teks lahiriah. Tak dapat disangkal bahwa tafsir sufi lebih identik dengan tafsir batin alias takwil Alquran, karena salah satu makna takwil adalah makna batin Alquran. Kaum sufi menolak mendekati Alquran hanya dari aspek bahasa (tata kata dan kaidah-kaidah baku kebahasaan) yang cenderung terbatas dan membelenggu pemahaman. Melalui apa yang mereka biasa sebut dengan mukasyafah, mereka membumbung jauh dan menerawang ayat-ayat Alquran melampaui bingkai kata-kata dan makna-makna eksetoriknya. Tafsir Alquran al Karim—dilihat dari sisi metode—dapat dibagi dalam dua pembagian: tafsir zahir dan tafsir batin. Tafsir zahir pada dasarnya mengacu pada indikator umum dan rasional yang mudah dipahami oleh semua ahli bahasa dan dapat dicerna oleh semua kalangan.

Sedangkan tafsir batin yang identik dengan ahli tasawuf/‘irfan atau ahli suluk dan syuhud memiliki cerita dan bentuk yang lain. Banyak kaum urafa berpandangan bahwa Alquran itu memiliki pelbagai tingkatan wujud, dimana wujud terakhirnya adalah tingkatan wujud lafal yang mampu dipahami oleh semua kalangan. Menurut mereka, buthun Alquran (jenjang-jenjang batin Alquran) yang banyak disinggung dalam riwayat yang terkenal dengan riwayat zahir dan batin adalah sesuatu di belakang dan di luar dari wujud lafal dan materi, sehingga karena itu mereka berusaha menafsirkan hakikat-hakikat wujud Alquran. Berdasarkan pandangan kaum ‗urafa, seluruh maujud/makhluk di dunia ini dan pelbagai alam lainnya memiliki aspek zahir dan batin. Bilama manusia sebagai perwujudan global dari alam wujud memiliki sisi ―nasut‖ dan ―lahut‖ atau ―zahir‖ dan ―batin‖, maka gambaran alam secara detail pun demikian. Dalam pandangan ‗urafa seperti Ibn Arabi dan Syabestari, dunia dalam setiap saat bergerak dari buthun (batin) ke zhuhur (zahir) dan sebaliknya, sebagaimana proses bernafas yang memilik kondisi menahan dan membentangkan.1 Jadi, kaum urafa‘ cenderung melihat segala sesuatu dengan mata basirah; dengan mata batin. Ketika mereka hendak menafsirkan Alquran, mereka pun menafsirkankan dengan jangkauan batin mereka yang dalam dan cemerlang, sehingga pantang bagi mereka hanya berhentik pada tafsiran lahiriah yang hanya berpusing-pusing pada kaidah bahasa dan perdebatan aspek kebahasaan yang melelahkan dan menjemukan. Tafsir sufistik/‘irfani cenderung menggunakan tiga dasar pendekatan: Dasar ontologis, dasar epistemologis, dan dasar linguistik. Tulisan ini berusaha membedah makna tafsir dan takwil dengan menekankan pada pandangan urafa, sehingga karena itu sangat kental beraroma sufistik.
1

Mahmud Syabestari, Majmu‘ah ‗Atsar, Gulistan Raz, hal. 94.

Pada kajian pertama, kami menyebutkan pembahasan tentang makna linguistik dan istilah dari tafsir dan takwil, dan selanjutnya pada mulahazhah (catatan), kami menyampaikan uraian kami terhadap suatu masalah yang dirasa memerlukan penjelasan lebih supaya lebih gamblang dan mudah ditangkap. Dan sebelum menyampaikan kesimpulan akhir, kami menyinggung beberapa contoh tafsir sufistik.

Mukadimah "al Qur'anu dzu wujuhin muhtamilatin fahmiluhu ala ahsanil wujuh."2 (al Qur'an itu memiliki beberapa kemungkinan makna maka jelaskanlah ia sesuai dengan makna (penafsiran) yang terbaik). Tak dapat disangkal bahwa ayat-ayat Alquran mengandung pemahaman yang tinggi dan dalam. Ketinggian dan kedalaman kitab suci ini menuntut kesiapan dari sisi keilmuan yang memadai dari sang mufasir, juga kebeningan hati. Tanpa keduanya, maka tafsir yang dilahirkan akan terasa mandul, kurang greget bak masakan tanpa garam dan bahkan bisa saja ngawur alias tafsir bi ar ra‘yu yang sangat keras dilarang dalam riwayat Islam. Adanya pemahaman yang dalam dan tinggi tersebut tidak berarti membenarkan setiap orang untuk mengobak-obok Alquran seenaknya dan semaunya. Sebab, untuk memasuki rumah Alquran, maka seorang mufasir harus terlebih dahulu mempersiapkan dirinya dengan seperangkat ilmu yang cukup yang dibutuhkan untuk menafsirkan Alquran. Satu ayat Alquran, misalnya, bisa memiliki aneka penafsiran. Namun ini tidak berarti bahwa pemahaman Alquran itu relatif. Bisa saja satu ayat memiliki jenjang pemahaman yang bevariasi namun satu sama lain tidak saling bertentangan, namun justru saling melengkapi dan menguatkan. Obyeknya bisa banyak namun esensi dan kriterianya satu. Dan dari pelbagai
2

Al Burhan fi Ulumil Qur'an, juz 2, hal. 305.

Allah SWT memerintahkan beliau supaya menjelaskan dan menafsirkan Alquran kepada umatnya.penafsiran yang ada. agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. An Nahl: 44) Jadi. Allah SWT berfirman: “Dan kami turunkan kepadamu Aquran. An Nahl: 44. Inilah barangkali yang dimaksud oleh hadis di atas. Pada masa-masa berikutnya hadis-hadis tafsir mereka ditulis dan muncullah tafsir riwayat (tafsir berdasarkan hadis Nabi Saw). seperti tafsir: Tafsir 3 QS. menurut ayat di atas. penafsir pertama dan utama Alquran adalah Nabi saw sendiri. yaitu menafsirkan Alquran. . tentu ada penafsiran yang dianggap paling ahsan (terbaik) dan aqrab lil ma‟na (paling dekat dengan makna/maksud utama Alquran). para sahabat dan tabi‘in melanjutkan misi terhormat ini. Sekilas Pandang Sejarah Tafsir Penafsir pertama Alquran adalah Nabi Besar Muhammad Saw. ahlul bait beliau. Allah Swt menyebut bahwa salah satu tugas Nabi saw adalah menafsirkan Alquran kepada umat. khususnya Sayidina Ali bin Abi Thalib.3 Karena itu. Rasul Saw menjelaskan pelbagai masalah yang ada dalam ayat-ayat Alquran atau beliau menjawab pertanyaan para sahabat yang mulia terkait dengan Alquran. Makna Tafsir dan Takwil Tafsir Dalam Alquran Dalam Alquran. dimana setiap mufasir diinggatkan bahwa di balik aneka makna dan penafsiran yang dikandung ayat-ayat Alquran maka hendaklah ia berusaha mencari dan menelusuri makna yang paling pas dan paling meyakinkan. Selanjutnya.” (QS.

karya Sayid Quthub (1386). seperti: Tafsir Mafatihul Ghaib. Dalam bahasa Arab at tafsir berarti al idah wal bayan (keterangan dan penjelasan). Tafsir dalam pengertian bahasa Arab berarti menyingkap. karya Syeikh Thabarsi (548 H). 7 Mufradat Raghib Isfahani dan Qamus Quran. mereka juga menjelaskan pandangan tafsir mereka sendiri. karya Abul Futuh Razi (abad keenam) dan Tafsir al Mizan. Defenisi Tafsir Salah satu terminologi/istilah yang cukup akrab di kalangan peminat tafsir adalah tafsir dan takwil. karya Imam Thabari (310 H). juz pertama. Tafsir Raudhul Jinan.Jami`ul Bayan. Kata at tafsir berasal dari akar kata "fasara" yang bermakna "abana wa kasyafa" (menjelaskan dan menyingkap). Tafsir Anwaru at Tanzil. Tafsir ash Shofi. karya Muhammad bin Mas`ud `Iyasyi (wafat 320 H). karya Imam Baidawi (691 H) dan Tafsir fi Zhilalil Quran.4 Dalam istilah ahli tafsir. akar kata ‫. Secara singkat kami akan menjelaskan makna tafsir dan takwil. hal.5 Sedangkan menurut istilah bermakna menerangkan kesamaran kata dan 4 5 Muqaddimat fi `Ilmi at Tafsir. Tafsir Nur at Tsaqalain. Kemudian Tafsir `Iyasi. karya Bahrani (wafat 1107). karya `Arusi Huwaizi (wafat 1112). Kemudian Tafsir at Tibyan. karya Imam Fakrur Razi (602). karya Allamah Thaba‘thaba‘i (1402 H). yakni di samping para mufasir merujuk ke hadis-hadis Nabi saw untuk menafsirkan Alquran. karya Faidh Kasyani (wafat 1091 H). Tafsir Majma`ul Bayan. karya Syaikh Thusi (460 H). فسّس‬ . menghilangkan tabir (penutup) dan menjelaskan. tafsir berarti: Menghilangkan kesamaran dalam ungkapan yang rumit. dimana ia (kesamaran tersebut) mengkaburkan makna yang dimaksud. karya Imam Suyuthi (911 H). Kemudian pada abad-abad berikutnya muncullah tafsir ijtihadi. Tafsir ad Durr al Mantsur. Tafsir al Burhan. Sayid Shadruddin al Qabanji mengklaim bahwa seluruh kamus bahasa Arab sepakat akan makna itu.

seperti qiraat. Untuk menghilangkan kesamaran tersebut diperlukan usaha dan perhatian lebih. i‘rab (mengenal nahwu-sharf) dan mengetahui ayat-ayat mutasyabih serta menjawab pertanyaan-pertanyaan kaum ateis dan para penentang. ma‘ani (ilmu sastra). kata ta‟wîl adalah mashdar dalam bentuk taf„îl. Ibn Manzhûr dalam Lisân al-„Arab 6 7 Al Mizan. mujmal dan mufashal. hal. 4. dan saat menjelaskan tafsir. baik secara lafal (lafzhiyyan) maupun secara makna (ma`nawiyyan).7 Menurut pendapat Syaikh Thusi (wafat tahun 460 H) yang juga didukung oleh Zarkasyi (wafat tahun 794) dan juga Imam Suyuthi: Tafsir adalah ilmu tentang makna-makna Alquran dan seniseni serta tujuan-tujuannya. 29. khas dan ‗am. At Tafsir al Atsari al Jami`. juz 1. Terkait dengan asal katanya.kalimat Alquran serta menguraikan maksud dan tujuannya.6 Jadi. muthlaq dan muqayyad. Defenisi Ta’wil Secara etimologis. ruang lingkup tafsir adalah ketika terdapat ibham (kesamaran/ketidakjelasan) dalam ayat. nasikh dan mansukh. tafsir adalah usaha menyingkap makna dan kerja keras untuk menghilangkan kekaburan/kerumitan dari ayat-ayat al Qur'an. dimana seorang mufasir akan mencurahkan tenaganya untuk melakukan hal itu. 8 3 -2 ‫ـ انطىسی،التبیان فی تفسیر القرآن، ج 1، ص‬ 9 161 ‫القرآن، ج 2 ، ص 141؛ سٍىطی،االتقان، ج 4 ، ص‬ ‫شزکشی،البرهان فی علوم‬ . Karena itu. terdapat kontroversi di kalangan ahli bahasa. mereka menunjukkan prasarana-prasarana yang diperlukan dalam tafsir. juz 1. hal.8 Zarkasyi mengatakan: Ilmu tentang turunnya ayat dan surah-surah Alquran serta kisah-kisah dan asbab nuzul dan tertib surah-surah Makkiyah dan Madaniyyah serta ayatayat mutasyabih.9 Tampaknya Zarkasyi dan Suyuthi saat mendefenisikan tafsir juga mengisyaratkan kepada adabadab dan syarat-syarat mufasir serta sumber-sumbernya.

3) terjadinya peristiwa yang telah diberitakan sebagaimana tersebut dalam Q. Sementara itu. al-A‗râf [7]: 53.S. menakwilkan yang mutasyâbih (ta‟wîl al-mutasyâbih). 37. al-Kahf [18]: 78. Pertama.S. Ketentuan ini juga dialami oleh term ta‟wîl yang pemaknaannya juga mengalami pergeseran dari satu generasi ke generasi . 44. al-Zarkasyî memaparkan tiga asal kata dari ta‟wîl. 21. perkembangan ilmu pengetahuan ataupun tingkat sosial budaya pemakainya. dari kata al-iyâlah yang berarti al-siyâsah (siasat) dan al-tadbîr (pengaturan). dan „âqibah sebagaimana tersebut dalam Q.S.mendefinisikannya sebagai bentuk taf„îl dari kata ‟awwala-yu‟awwilu-ta‟wîlan. Âlu ‗Imrân [3]: 7.S. Âlu ‗Imrân [3]: 7.S. 36. 100. menakbirkan mimpi (ta„bîr al-ru‟yâ) sebagaimana tersebut delapan kali dalam Q. dan al-mashîr (tempat kembali). Yûsuf [12]: 6. Makna sebuah kata tidak dapat dilepaskan dari kualitas pengalaman.S. yaitu mengarahkannya dengan yang diterima oleh argumentasi rasio dan tekstual. al-Isrâ‘ [17]: 35. yaitu: dalam perkataan sebagaimana Q.[3] Term ta‟wîl dalam al-Qur‘ân tersebut terulang sebanyak 17 kali dengan makna yang beragam: 1) tafsîr atau ta„yîn sebagaimana tersebut dalam Q. Kedua. Yûsuf [12]: 6. dan 101. Ketiga. Hal ini mewujud dalam dua bentuk. yaitu: dari kata al-awl yang berarti al-rujû„ (kembali). atau dalam perbuatan sebagaimana dalam Q. al-Kahf [18]: 78 & 82.S. akhir dari sesuatu dan akibatnya (ma‟âl al-amr wa „âqibatuh) sebagaimana tersebut dalam Q. 45.S. 5) akibat dari perbuatan yang dilakukan dan penjelasan sebab-sebabnya sebagaimana Q.S. 4) hakikat yang diisyaratkan oleh sebuah mimpi sebagaimana tersebut dalam Q. kata ta‟wîl dalam al-Qur'ân terdapat tiga bentuk penggunaan. tsawâb. Jika dilihat dari segi penggunaannya. al-Nisâ‘ [4]: 59. yang bentuk tsulâtsî-nya adalah âla-ya‟ûlu yang berarti raja„a dan „âda. dari kata al-ma‟âl (tempat kembali) yang berarti al-„âqibah (tujuan akhir). 2) jazâ‟.

selanjutnya. sedangkan ta‟wîl lebih banyak digunakan untuk menerangkan makna susunan kalimat. pembicaraan. memerhatikan diktum-diktum linguistik. . kata ta‟wîl sama dengan tafsîr. apalagi mengesampingkan keduanya. Ini bisa dilihat pada penggunaan kata ta‟wîl dalam tafsir alThabarî yang sering kali menggunakan istilah ‫( فتؤوٌهه‬fa ta'wîluh). ataupun tulisan.[5] 2) Hakikat yang dimaksud dari sebuah pembicaraan. karena takwil berada di luar pikiran. Pada periode salaf. 502 H) juga menyatakan bahwa tafsir lebih umum daripada ta‟wîl karena tafsir lebih banyak dipakai untuk menjelaskan kosakata. karena ta‟wîl dikhususkan untuk menjelaskan sesuatu yang membutuhkan pemikiran yang lebih mendalam. Takwil harus disesuaikan dengan konteksnya terutama munâsabah dengan ayat sebelum dan sesudahnya.[4] Al-Râghib al-Ishfahânî (w. sebenarnya di antara keduanya terdapat sebuah perbedaan. takwil bukanlah sesuatu yang tidak punya landasan tekstual sama sekali. Akan tetapi. tetapi belum tentu semua tafsîr adalah ta‟wîl. takwil bukanlah sebuah bentuk interpretasi alegoris yang menolak seluruh bahan linguistik dan semantik.[6] Ringkasnya. Menurutnya. Ketiganya dianggap sinonim karena metodenya memang serupa dan adanya kesamaan makna. terlebih ketentuan al-Qur‘ân dan hadis. ta‟wîl. karena takwil yang demikian adalah sebuah penyimpangan. Perbedaannya dijelaskan oleh Abû ‗Âshî bahwa setiap bentuk ta‟wîl pastilah termasuk tafsîr. Kendati demikian. Antara ta‟wîl dan tafsîr tidak terjadi perbedaan. dan ma„ânî. kata ta‟wîl dapat dimaknai dalam dua pengertian: 1) Tafsir atas pembicaraan atau penjelasan makna yang kemungkinan sejalan atau tidak sejalan dengan makna literalnya. Acap kali juga terjadi penyamaan antara tafsîr. Pengertian terakhir ini berbeda dengan pengertian tafsir. Ia berbentuk peristiwa di masa lampau atau masa mendatang.

menakwilkan al mutasyabih (kesamaran) dalam perkataan12 atau perbuatan13 ke dalam makna yang logis (ma`qul) dan dapat diterima (maqbul).11 Sehingga dengan demikian menurut ahli tafsir. terkait secara khusus dengan masalah ayat-ayat mutasyabihat. Maka ini adalah bentuk tafsir dimana yang bersangkutan berusaha menghilangkan kesamaran dari ayat. Jadi. khususnya di kalangan fuqaha.or. Al Kahfi: 78) . ta'wil dalam masalah ayat-ayat mutasyabihat berarti mengarahkan ayat-ayat itu ke makna yang dapat diterima oleh akal dan syariat. Mayoritas ayat-ayat yang turun karena pelbagai peristiwa 10 11 http://www.id Ibid.Pengertian seperti ini mengalami pergeseran makna pada periode selanjutnya. 12 Sebagaimana terdapat dalam firman-Nya: " . Sehingga at ta'wil berarti mengambalikan ke bentuk (makna) yang dapat diterima. satu hal yang patut ditekankan bahwa sebuah penakwilan dapat diterima jika disokong oleh argumentasi yang valid. Yakni. 30. at ta'wil memiliki dua istilah: pertama.10 Jadi. sehingga terbilang sebuah penyimpangan jika dilakukan tanpa argumentasi yang kuat. sebagaimana dalam bab ayat-ayat mutasyabihat. juga meniadakan persoalan (problem) darinya. kata at ta'wil berasal dari dasar kata al 'aul yang berarti ar ruju` (kembali). hal." (QS." (QS. Terlepas dari kontroversi pemaknaan kata ta‟wîl tersebut. atau mengembalikan ke kandungan ayat secara umum setelah terbukti ketidakbenaran pembatasan pada aspek zahir yang tampaknya khusus berkaitan dengan turunnya ayat. teolog. sufi. Ali Imran: 7) 13 Sebagaimana terdapat dalam kisah Nabi Musa dan Khidir: " .psq. Sedangkan istilah lain dari at ta'wil adalah menjelaskan pemahaman umum yang tersembunyi di balik tirai lafal yang tampak secara khusus berkaitan dengan turunnya ayat. dan filsuf yang memaknainya sebagai ―pengalihan makna lafal kepada makna lain yang dikandungnya atau mengalihkan makna sebuah lafal yang kuat (râjih) kepada makna yang diunggulkan (arjah) disebabkan oleh adanya dalil yang menyertainya‖.

Kendati demikian. beliau menjawab: "Aspek zahirnya adalah tanzil (peristiwa yang melarbelakangi turunnya suatu ayat) dan aspek batinnya adalah ta`wil."14 Lebih jauh lagi. Al `Iyasyi 1: 21/7. juz 1. Dan terdapat ayat pada setiap kaum yang dapat mereka baca.tampak bertalian secara khusus dengan peristiwa yang melatarbelakanginya tersebut dan secara lahiriah tidak dapat melewati batas konteks peristiwa itu. Namun Nabi saw menegaskan perlunya "membebaskan" ayat dari pelbagai kesamaran/ketidakjelasannya. yaitu ijmâlî dan tafshîlî." Ketika Imam al Baqir ditanya tentang penafsiran hadis tersebut. Contoh yang ijmâlî adalah jawaban yang diungkapkan oleh Imam Malik sebagaimana disebutkan sebelumnya. hal ini menjadikan risalah Islam "mandul" (tidak relevan dan tidak aktual) selang beberapa lama. 31. takwil dari kalangan Sunni ini dapat diklasifikasi lagi ke dalam dua kelompok besar. sehingga ayat (al Qur'an) itu memiliki pemahaman yang umum yang mencakup seluruh kaum dan masa."15 Pendekatan dalam Penakwilan Metode takwil bagi kaum Sunni digunakan untuk memahami ayat-ayat al-Qur‘ân (ataupun hadis) yang mengarah kepada paham antropomorfisme. Maka. baik yang mengandung kebaikan maupun keburukan bagi mereka. . sedangkan yang tafshîlî adalah penakwilan terhadap kata “ayd” dengan “kekuasaan”. At Tafsir al Atsari al Jami`. Namun al Qur'an permulaannya mengalir atas akhirannya selama langit dan bumi ada. beliau menambahkan: "Andaikan ayat turun di suatu kaum lalu kaum tersebut mati maka ayat pun ikut mati. 14 15 Basha'ir ad Darajat: 216/7. hal. sehingga tiada sesuatu pun yang tersisisa dari al Qur'an. Nabi saw bersabda: "Tiada ayat dalam al Qur'an kecuali ia memiliki aspek zahir dan batin.

al-Baqarah [2]: 22: ْ ُُ َ َ َ ِ ْ ‫ا‬ َ ُْ ْ ِ ِ َ َ ‫اناري جعم نَكى اْلَزْ ض فِساشا وانسًاء بَُِاء وأََصل يٍَ انسًاء ياء فَؤَخسج بِه يٍَ انثاًساث زشلًا نَكى فََل تَجْ عهُىا َِلِلِ أََدَادًا وأََتُى‬ ْ ْ َ َ ِ ِ َ َ ْ ً َ ِ َ‫ا‬ ِ َ َ ْ َ ً َ َ‫َ َ ً َ ا‬ ٌَ‫تَعهًَى‬ ُ ْ Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap.Oleh al-Dzahabi. sedangkan yang kedua didasarkan pada isyarat-isyarat suci yang bersifat gaib yang diperoleh dari hasil latihan rohani. Yang pertama didasarkan pada ajaran filsafat. karena itu janganlah kamu mengadakan sekutusekutu bagi Allah. dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit. Contoh lainnya adalah penakwilan al-Tustarî (w. lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu.S. 283 H) terhadap Q. . tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. juga. 638 H) terhadap Q. yaitu: nazharî dan isyârî. sebenarnya sama dengan menyembah Allah SWT. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Contoh penting yang acap kali dikutip dalam menjelaskan tafsir sufi adalah penafsiran Ibn Arabi (w.S. penafsiran kalangan Sufi terhadap al-Qur‘ân dapat diklasifikasi ke dalam dua kategori besar. padahal kamu mengetahui. al-Baqarah [2]: 163: َ ٌ ِ َ ‫وإِنَهُكى إِنَهٌ واحد َل إِنَهَ إَِل هُى انساحْ ًٍُ انساحٍى‬ ُْ َ ُ ِ َ ‫ا‬ َ Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tokoh sufi ini menjelaskan bahwa Allah SWT.. berbicara dalam ayat ini dengan kaum Muslimin bahwa orang yang menyembah selain Allah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selanjutnya. Dengan begitu.[22] Kitab tafsir ini memakai metode tematik (mawdhû„î) ini didominasi oleh dua bahasan utama. Kedua. 787/1385). yaitu tidak adanya keterkaitan dengan lafal atau esoterik yang ditakwilkan.[23] Sumber penafsiran atau referensi yang digunakan dalam tafsir ini terdiri dari empat kitab yang dapat diklasifikasi ke dalam dua bagian besar.Kata andâd yang terulang 6 kali dalam al-Qur‘ân ini dimaknai oleh al-Tustarî sebagai nafs ammârah yang senantiasa menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan jahat. Bagi kalangan Syiah. Penulisnya menguraikan bahwa sufi yang hakiki hanyalah Syiah. Dalam salah satu tulisan tulisan Alexander D. Adapun kitab takwil yang dirujuk adalah karya Najm al-Dîn al-Râzî yang beraliran Asy‗ariyyah dan karya ‗Abd al-Razzâq al-Qâsyânî. Knysh. yaitu: Sufi dan Syiah. dikemukakan bahwa pemaduan antara penafsiran esoterik dan metafisiska sufistik dengan teologi Syiah dapat direpresentasikan dalam karya Haydar al-Âmulî (w. tidak boleh terjadi keterasingan (ajnabiyyah).[21] Kitab tafsir ini berjudul al-Muhîth al-A„zham wa alBahr al-Khidham fî Ta‟wîl Kitâbillâh al-„Azîz al-Muhkam yang disusun oleh al-Âmulî. memerhatikan munâsabah yang dekat antara bentuk eksoterik dan esoteriknya. tafsir al-Kasysyâf karya al-Zamakhsyarî yang beraliran Muktazilah. syarat-syarat takwil adalah: Pertama. yang hanya mengedepankan hasrat dan kepentingan pribadi tanpa mengindahkan petunjuk Allah SWT. Al-Âmulî senantiasa . memerhatikan susunan dan teliti dalam menanggalkan kekhususan yang terdapat dalam ungkapan. yaitu: kitab tafsir dan takwil. Kitab tafsir yang dimaksud adalah Majma„ al-Bayân karya al-Thabarsî yang dipandang oleh segenap pengikut Syiah Imamiyah sebagai tafsir utama dan anutan.

termasuk ahl al-tharîqah. Secara umum disebutkan bahwa ada tiga komponen utama dalam kehidupan yang saling terkait. . „aql. Dalam beberapa hal. Sedangkan yang melihat apa yang telah dilihat oleh Nabi saw. naql. sedangkan al-Qur‘ân merupakan penampakan tertulis (zhuhûr kutubî) dari alam dan manusia. Atas dasar itu pula.menegaskan bahwa ayat-ayat al-Qur‘ân memiliki makna lahir dan makna batin. al-A‗râf [7]: 179. beliau banyak menggunakan takwil dalam memaparkan ayat al-Qur‘ân. yaitu. yaitu: syarî„ah. penafsiran al-Âmulî serupa dengan konsep yang diusung Ibn ‗Arabî.) ))ألىانً وانطسٌمت أفعانً وانحمٍمت أحىانً انشسٌعت‬Salah satu dari ketiga hal pokok ini mesti diraih oleh seseorang. Penjabaran konsep tersebut terlihat ketika beliau menafsirkan Q. yaitu paham wahdah al-wujûd-nya. dan haqîqah. Sedangkan pembahasan-pembahasan yang lain bersangkut-paut dengan kedua pokok tersebut. setiap orang yang menerima apa yang telah dikatakan Nabi saw. Kaitannya dengan al-Qur‘ân. yaitu: manusia (insan). upaya memahami pesan yang dikandung ayat al-Qur‘ân dapat ditempuh dengan tiga jalur. Dengan demikian. dan kasyf. digolongkan ahl al-syarî„ah. Adapun yang melakukan apa yang telah diperbuat oleh Nabi saw. Penjelasan beliau tentang ketiga hal ini didalilkan dengan hadis Nabi saw. al-Âmulî menyebutkan bahwa kandungan al-Qur‘ân hanya berisi dua pembahasan utama. yaitu: Allah dan manusia. ‫ . Dengan corak sufistik. Bagi yang tidak memperolehnya. dan al-Qur‘ân. alam. al-Âmulî menafsirkan dengan mengombinasikan tiga fase keislaman. Alam merupakan penampakan struktural (zhuhûr takwînî) dari manusia dan al-Qur‘ân. derajatnya akan sama dengan binatang (an„âm). merupakan ahl al-haqîqah. Menurutnya.S. tharîqah. Manusia merupakan penampakan jiwa (zhuhûr nafsî) dari alam dan al-Qur‘ân.

ma„rifah al-„alam. alam (alâfâq) dan al-Qur‘ân merupakan ‗deskripsi‘ (muzhir) terhadap asmâ‟. b) hati dan fitrah (qalb wa fithrah). kecuali Muhammad saw. shifât. ketiga maqâmât tersebut merupakan tata urutan yang mesti dilalui untuk memperoleh pengetahuan yang haqîqî. dan ma„rifah al-insân. yaitu: Adam. yaitu: ma„rifah alhaqq. Kemunculan semuanya berbeda satu sama lain dari segi sebab. dan wilayah (kasyf. Hawa‘.Ketika membahas tentang ilmu. yakni: a) menghadapkan diri sepenuhnya dan takwa (tawajjuh wa taqwa).[24] Perihal al-wilâyah. Adapun pokok ma„rifah ada tiga. sedangkan yang kedua ditempuh dengan cara penyucian dan pemurnian (thuruq tazkiyyah wa tashfiyyah).))وأَثى (عٍسى )ٌاأٌها انُاض إَا خهمُاكى (آدو) يٍ ذكس (حىاء‬ . Hal tersebut dapat dicontohkan dengan penciptaan organ manusia yang empat macam. yaitu: ilmu syarî„ah dan ilmu ma„rifah atau hikmah. dan wilâyah). c) penyingkapan.. dan ma„ârif. al-Âmulî menyebutkan tiga maqâmât orang saleh. al-Hujurât [49]: 13. (‫.S. Penjelasan ini didalilkan dengan Q. kondisi (ahwâl) seseorang akan berubah ke arah yang lebih baik dan memudahkan untuk memperoleh ma„rifah. Adapun manusia (insân) merupakan hujjah terbesar akan ciptaan Allah SWT. dan anak-cucu Adam. Dengan tindakan. Penjelasan ini mendapatkan landasan argumentasi pada Q. syuhûd.S.. Selanjutnya. انحك حتى ٌتبٍٍ نهى أَه أَفسهى وفً اَفاق آٌاتُا فً سُسٌهى‬Dalam hal ini. Fushshilat [41]: 53. beliau menjelaskan bahwa derajatnya (rutbah) terkadang lebih tinggi daripada nabi dan rasul. Untuk memperoleh ilmu yang pertama ditempuh dengan jalan usaha atau upaya (thuruq kasbiyyah). Ketiga objek ma„rifah ini disebutkan dalam Q..S. . Menurutnya. alBaqarah [2]: 129.. namun serupa dalam hal bentuk jasmani dan rohani. ‫ . dan af„âl Allah SWT. Hal ini berbeda dengan pencapaian pengetahuan pada umumnya yang berpola terbalik. ahwâl. ‗Isa. cara terakhir ini dapat dijabarkan melalui tiga sarana.. yaitu dari ma„ârif ke ahwâl dan bermuara pada a„mâl. Senada dengan pembahasan di atas. al-Âmulî membaginya kepada dua macam.. yaitu: a„mâl. penyaksian.

untuk orang yang menempuh jalan kebahagiaan akhirat. Ia sedapat mungkin menjadi penengah terhadap kontroversi yang ada. Hal ini merupakan pengejawantahan dari semangat awal penyusunan tafsir ini yang senantiasa hendak mendamaikan dua pihak yang berselisih paham (ishlâh bayna al-nâs). Pertama.. untuk para nabi dan wali. Setelah memaparkan beberapa ayat tentang itu. Beliau mencontohkan kedua bentuk sulûk ini dalam ayat al-Qur‘ân. Beliau juga memaparkan kategori hidayah menurut ahl bâthin ke dalam tiga macam. sulûk mahbûbiyyah dengan ayat ‫ويٍ آبآئهى وذزٌتهى‬ ‫ . Yang pertama diperoleh tanpa usaha...Adapun gabungan penyebutan ‫ وأَثى يٍ ذكس‬dimaknai dengan anak-cucu Adam yang lahir setelah melalui proses nikah dan berketurunan. yaitu: untuk umum.). al-Âmulî menjelaskan bahwa terdapat dua upaya untuk menuai petunjuk (hidâyah) Allah SWT. dan hidayah di akhirat kelak. al-Âmulî berusaha menghindari fanatisme dalam permasalahan ilmiah. yakni: „âm (dengan islâm dan îmân). al-Âmulî . Sikap demikian dapat dilihat ketika menyoal kontroversi antara kalangan Muktazilah dan Sunni tentang apakah iblis berasal dari malaikat atau tidak.. dan akhashsh (dengan kasyf dan musyâhadah). yang galibnya disebut sulûk. sedangkan yang kedua berpandangan bahwa iblis berasal dari malaikat.))إنى صساط يستمٍى وإخىاَهى واجتبٍُاهى وهداهى‬sedangkan sulûk mahabbiyyah dicontohkan pada ayat (21[. Menurut pen-tahqîq (muhaqqiq) tafsir ini.. sedangkan yang kedua mesti dibarengi dengan usaha. yakni: sulûk mahbûbiyyah dan sulûk mahabbiyyah. ‫ ]وانرٌٍ جاهدوا فٍُا نُهدٌُهى سبهُا‬Pembahasan tentang hidâyah ini disertai dengan penyebutan tingkatan-tingkatannya (marâtib) ke dalam empat macam. Dalam paparan selanjutnya. Kalangan pertama berpandangan bahwa iblis tidak berasal dari malaikat. khâsh (dengan keyakinan dan ihsân). Muhsin al-Mûsî al-Thabrisî. Beliau juga membagi sulûk ini ke dalam dua macam.

tetapi malaikat secara umum. Contoh yang paling ideal dalam hal ini 16 17 http://www. mata. maka iblis berasal dari malaikat. Menurutnya. ulama Sunni.psq. Dengan demikian. yaitu tangga zahir dan berakhir ke puncak tangga makrifat.mengompromikan bahwa kontroversi itu hanya dari segi lafal.id http://www. Namun. yaitu tangga batin. keridhaan. telinga. meskipun mereka menegaskan tidak bolehnya memahami ayat-ayat seperti itu secara harfiah. Tangga makrifat ini dimulai dari tangga yang paling bawah. ataupun pengetahuan Allah SWT..S. karenanya. dan keberadaannya adalah tanpa cara (bilâ kayf). tidak perlu dipermasalahkan lagi tentang malaikat bumi atau malaikat langit. tetapi semua itu tidaklah sama dengan yang ada pada manusia.psq. dengan menyatakan bahwa kendati disebutkan bahwa Allah SWT. kata istawâ‟ tersebut dimaknai sebagai “sesuatu yang tidak dikenal dan bentuknya tidak dapat dinalar. wajah. wajah.id .[17] Namun. sekadar berhenti di tangga zahir dan mengabaikan tangga batin adalah kekurangan dan ketidaksempurnaan.16 Sebagai ilustrasi. tidak terjadi kontroversi dari segi makna. kalangan Sunni memahami bahwa ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat Allah seperti yang menyebut tangan. mata dan sebagainya tidak perlu ditakwilkan dengan kekuasaan. jika dipahami bahwa malaikat yang diusir ke bumi sebelum Adam dinamai dengan jin dan iblis berasal dari jin.or. Oleh Imam Mâlik.17 Aspek Lahir dan Batin Al Qur'an Pemahaman Al Qur'an itu memiliki pelbagai tingkat dan jenjang. dan selainnya. Thâha [20]: 5. mempunyai tangan. mereka tetap menolak antropomorfisme. jika tidak memberi takwil pada ayat tertentu.or. Hal ini dapat dilihat pada penjelasan tentang kata istiwâ‟ pada ayat Q. tetapi wajib diyakini sehingga mempertanyakannya adalah bidah”.

Imam Khomaini berpendapat bahwa hanya Rasulullah saw dan para Imam ahlul bait yang suci yang bisa mengetahui secara sempurna seluruh jenjang dan tingkatan ilmu takwil tersebut.adalah iblis. 61. 111-112. keserampangan dan kebablasan." (QS. karya al Qurthubi. hal. hal. sedangkan Engkau ciptakan ia dari tanah. Dengan lancang dan kurang ajar. . juz 2. 19 Syarah Hadis Junud Aql wa Jahl. perlu digaris bawahi bahwa manusia biasa selain insan kamil pun dapat mencapai tingkatan-tingkatan ilmu takwil ini. Namun Imam Khomaini mensyaratkan beberapa hal berikut untuk mencapai tingkatan ilmu ini. ia adalah makhluk pertama yang hanya melihat aspek zahir dan materi (tanah).19 Imam meyakini bahwa setiap kadar kebersihan dan kesucian seseorang semakin meningkat maka ia pun akan lebih mampu menangkap hakikat Al Qur'an dan pesannya serta 18 Bihar Anwar. al Hayat. Hanya saja. Inilah yang dilakukan oleh sebagian kaum sufi dan kelompok Batiniah yang cenderung menafsirkan Al Qur'an hanya dari sisi batin dan menelantarkan aspek zahir. Engkau ciptakan aku dari api. Sehingga tafsiran mereka ini pada hakikatnya tergolong tafsir bir ra`yu (tafsir yang berdasarkan pendapat pribadi) yang dalam riwayat Ahlu Sunah dan Syi`ah dilarang keras. Sebab. iblis berujar: "Aku lebih baik daripada ia (Adam). juz 2.18 Perlu ditegaskan di sini bahwa lewat dari tangga zahir ke tangga batin atau menyeberang dari jembatan kulit ke inti merupakan manifestasi pengetahuan terhadap takwil. Tafsir al Burhan. Dalam hal ini. hal. 27. juz 92. Shad: 67) Sedangkan memulai start dari tangga batin dan "menendang" tangga zahir adalah kejahilan. karya al Hakimi. juz 1. hal. 13. pembersihan hati dan penyucian ruh. juz 1. tazkiah nafs (penyucian diri). yaitu: jihad ilmiah (mujahadat ilmiah). hal. sedangkan di balik itu maqam spiritual dan khalifatullah Adam as diabaikannya. karya al Majlisi. al Jami` li Ahkamil Qur'an. 18-19. latihan-latihan akal yang disertai meditasi spiritual praktis.

21 Syarah Doa Sahar. 61-62. juz 4. 191. Hadi Makrifat. orang-orang lain pun diseretnya menuju kesesatan. hal. Berkaitan dengan aspek zahir dan batin Al Qur'an yang bak saudara kembar nan tak dapat dipisahkan. maksudnya Tuhan dalam ayat ini pasti demikian.24 Jadi menurut beliau. hal. hal."22 Beliau juga berkata: "Tafsir bir ra'yu adalah seseorang yang berkata.manifestasinya (tajalli). hal. .”21 Pengertian Tafsir bir Ra`yu Imam Suyuthi dalam kitab al Itqan berpendapat: "Tafsir bir ra'yu adalah seseorang yang memiliki mazhab yang batil lalu ia menjadikannya sebagai dasar/pijakan dan ia menafsirkan al Qur'an sesuai dengan hal itu. Prof. 291. Dengan cara apapun ia mengembalikan tafsir itu ke mazhab itu meskipun cara/metodologi yang dipakainya itu lemah. 59. Maka demikian juga pemahaman batin ayat-ayat Al Qur'an tidak mungkin dapat ditempuh tanpa memperhatikan aspek zahir. hal. 24 Majma` al Bayan.20 Dengan kata lain. juz 1. daya pemahamannya pun terhadap wahyu Ilahi semakin meningkat dan tajam. Adab ash Sholah. 80-82. Ibid. at Tafsir wal Mufassirin. menafsirkan Al Qur'an tanpa bersandar pada naql 20 Syarah Doa Sahar.23 Thabarsi dalam mukadimah Majma` al Bayan menyatakan bahwa yang dimaksud tafsir bir ra'yu adalah menafsirkan Al Qur'an sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan pribadi. 69. hal. juz 1. Imam lebih jauh lagi menyatakan: “Zahir tanpa batin sebagaimana jasad tanpa ruh atau dunia tanpa akhirat. 22 23 Al Itqan fi Ulum al Qur'an. padahal ia tidak memiliki dalil dalam hal itu. maka disamping dirinya sendiri tersesat. Dan siapapun yang tidak memperhatikan zahir ayat dan hanya mendahulukan aspek batinnya.

Al Mizan."27 Jadi. lalu ia mencoba menafsirkan al Qur'an. hal. juz 1. 26 25 . 76-77.25 Allamah Thaba'thabai juga mengecam penggunaan pendapat pribadi (ra'yu) yang beliau memaknainya sebagai bentuk ketidakbutuhan untuk merujuk kepada sumber-sumber yang lain.(Sunah/Hadis) dan hanya bertumpu pada pendapat pribadi adalah bentuk praktek tafsir bir ra'yu. Lebih jauh lagi beliau menyatakan bahwa suatu kesalahan bila seseorang mengarahkan/mengiring Al Qur'an agar sesuai dengan keyakinannya dan ia tidak memperhatikan petunjuk-petunjuk teks lahiriah (syawahid lafzhiyah wa dzahiriyah). Atau. seseorang yang tidak memiliki kriteria-keriteri yang harus dimiliki seorang mufasir. mufasir yang memaksakan pendapat pribadinya terhadap al Qur'an. Larangan Tafsir bir Ra`yu dalam Sunah Nabi saw Ibid. Namun ini tidak berarti bahwa memberdayakan akal untuk memahami Al Qur'an itu adalah hal yang dilarang. Kenekatan semacam ini diharamkan oleh syariat (Islam) dan dikecam oleh orang-orang yang berakal sehat (`uqala). hal. Hadi Makrifat berpendapat: "Tafsir bir ra'yu adalah komentar tentang al Qur'an tanpa didasari ilmu. Atau. juz 3. 55.26 Prof. terutama syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam merujuk nas-nas syariat. yang boleh jadi memaksakan pendapat pribadi terhadap al Qur'an—sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang berafiliasi ke suatu aliran dan orientasi yang sesat. khususnya dalam memahami Kalam Allah yang mulia dan terpuji. 27 At Tafsir al Atsari al Jami`. tafsir bir ra'yu adalah seorang mufasir "bonek" (baca: bondo nekad) dimana ia menafsirkan al Qur'an tanpa merujuk kepada qarinah (tanda) akliah (akal) dan naqliah (Al Qur'an-hadis). atau sikap arogansi dalam penafsirannya dimana ia tidak merujuk kepada orang-orang yang kompeten dari ahli ilmu dan ia mengesampingkan kaidah-kaidah yang dipakai dan ditetapkan dalam memahami sebuah kalam (pesan).

al Mizan. Atas ciri khas pertama. Sebab dalam memahami kosa kata- 28 29 Muqaddimah Tafsir al Burhan. kalau tafsir yang dilahirkan bagaian dari takwil yang merupakan bentuk manifestasi penafsiran yang paling dalam dan tinggi dimana ada munasabah antara makna zahir dan batin. dan mencapai kesimpulan yang benar. Iya. juz 3. Kanzul `Ummal. hal.Diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: "Barangsiapa yang mengomentari al Qur'an dengan pendapatnya sendiri maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka."28 2. Sunan at Turmudzi. At Tafsir al Atsari al Jami`. sharaf dan lain-lain harus dimiliki dalam batas mencukupi.1-Diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: "Barangsiapa yang menafsirkan al Qur'an dengan pendapatnya sendiri maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka. Tidak. hal. Ciri khas kebahasaan Arab ini –kesesuaian dengan bahasa yang berlaku dan di masa bi‘tsah harus diperhatikan dan dalam memahaminya. 27. juz 5. hal 199."30 Mungkin di sini ada pertanyaan penting. juz 2. harus memeiliki potensi-potensi keilmuan yang terkait."29 3. . juz 1.Diriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: "Barangsiapa berkata tentang al Qur'an dengan pendapatnya sendiri meskipun benar ia terhitung melakukan kesalahan. Agar tidak salah dalam penerapan kaidah-kaidah dan dalam memahami al-Qur`an. juz 1. hal. hal. 16. kalau tafsir yang dilakukan tidak mengindahkan/menampik kaidah-kaidah bahasa dan hanya bertumpu pada makna batin atau hanya cenderung menafsirkan berdasarkan pengalaman mistik. hal. 55. 10 . 30 Abu Dawud 2: 177/3652. 75. Tafsir al Qurthubi. Tafsir Sufi Yang Cenderung Mengabaikan Kaidah-kaidah Sastra dan Bahasa Arab Al-Qur`an turun dengan bahasa Arab yang fasih dan sesuai dengan bahasa yang berlaku di masa bi‘tsah. yaitu apakah praktik tafsir sufistik bisa dianggap tafsir bir ra‘yu? Jawabnya bisa iya dan bisa juga tidak. ilmu bahasa antara lain nahwu.

yang menyebutkan makna-makna itu dalam catatan khusus mencakup makna-makna yang hakiki dan yang majazi. Pada tahap ini. dan yang diinginkan adalah makna hakiki. Dalam perkataan juga memuat qarinah yang menunjukkan makna-makna majazi. boleh jadi itu yang dimaksud di antara makna-makna lainnya dalam ayat. kemudian memasuki sumber-sumber lughawi untuk mencapai makna-makna itu. mufassir harus mengetahui tentang kaidah-kaidah percakapan uqala`i (kalangan para pemikir) yang banyak disampaikan dalam ilmu usul dan terkadang dalam ilmu ma‘ani dalam batas-batas tertentu. kata ―masîh‖ bisa berasal dari kata ―siyâhat‖ (perjalanan) atau dari ―masah‖ (pengusapan). . Seorang mufassir harus mengetahui macam-macam hubungan yang menghendaki makna-makna majazi. menentukan makna yang diinginkan dalam ayat. Setelah melewati akar bahasa. Tahap ketiga. Dalam ayat tertentu tak ada satu qarinah pun yang menunjukkan makna majazi. Seorang peneliti harus memiliki ilmu kaidah-kaidah untuk mengetahui mana maknamakna yang hakiki dan yang majazi.dengan menguasai ilmu isytiqaq (etimologi). Tahap kedua. pengetahuan akan makna-makna hakiki dan majazi. musti melewati beberapa tahap yang setiap tahap harus memiliki pengetahuan khusus dan merujuk pada sumber-sumber khusus. Agar dapat membedakan antara keduanya di antara berbagai macam makna yang ada dalam kitab-kitab bahasa. Tahap pertama. sehingga ia mengetahuinya. yang menjadi dasar dalam interpretasi. Dengan adanya makna alternative. Misalnya. Agar dapat menentukan akar kata yang asli dan menemukan maknamakna alternatif yang muncul disebabkan perbedaan akar bagi satu kosa kata. mengetahui makna-makna bagi kosa kata –secara umum.kosa kata al-Qur`an.

Bahasa ini seperti bahasa lainnya yang mengalami perubahan. Dalam hal ini Syahid Bahesyti mengatakan. Di dalamnya banyak menggunakan perumpamaan. ialah kefasihan. yang dapat dipahami dengan pengetahuan ilmu ma‘ani. kiasan dan lain sebagainya. bangunan dan bentuk kalimat dapat diketahui melalui ilmu sharaf. Juga dengan bantuan ilmu nahwu. ―Mengetahui ilmu nahwu dan sharaf adalah sebuah keharusan. Perlu dikaji bahwa apa makna yang berlaku di masa bi‘tsah dan makna-makna yang kita pilih yang sesuai dengan makna sebelumnya bagi setiap lafaz. Ilmu badi‘. bahkan paling fasih. dengan merenungi ayat dan menelaah semua qarinah. kekhususan yang dimiliki berbagai macam susunan perkataan menjadi jelas beserta makna yang ditunjukkan. Kemudian ia mengartikan ayat ‫(انى َجعم اَلزض كفاتا‬QS: al-Mursalat 25): .‖(3) Ciri khas kedua. menjadi jelas makna-makna bagi kalimat-kalimat yang i‟rabnya bermacam-macam. Ciri khas ketiga. Sebab. al-Qur`an sesuai dengan bahasa masa bi‘tsah. mengajarkan sisisisi keindahan suatu perkataan. Ilmu-ilmu ini disebut dengan ilmu balaghah. yang sangat diperlukan oleh seorang mufassir untuk mengetahui aspek kemukjizatan penjelasan al-Qur`an. Ia turun dengan bahasa Arab masa itu. Dengan ilmu ma‘ani. ―Seseorang mendapati ―kifât‖ dalam bahasa berarti burung berparuh tajam yang terbang. bayan dan badi‘. Al-Qur`an adalah perkataan yang fasih. Atau mempunyai makna-makna lain yang baru. Ilmu bayan membahas tentang bentuk yang khas bagi susunan perkataan dari sisi kejelasan dan kesamaran dilalah (signifikansi). Sebagian bahasa di masa bi‘tsah mempunyai makna-makna yang tidak diketahui pada masa sekarang.Hingga dapat menentukan makna yang ditunjukkan di antara makna-makna hakiki dan majazi.

Sebab tujuan diturunkannya Alquran adalah memberikan petunjuk untuk umat manusia. Artinya. Bila bahasa petunjuk yang digunakan sukar dan bahkan mustahil . bumi terbang (bergerak). Kita dapat menafsirkan kosa kata-kosa kata al-Qur`an sesuai dengan makna yang muncul setelah beberapa tahun kemudian. Selain itu. hadis dan budaya di masa itu yang ada dalam riwayat-riwayat dan sumber-sumber sejarah. dapat diketahui mana makna-makna yang berlaku di masa turunnya al-Qur`an. dengan memperhatikan penggunaan setiap kosa kata dalam al-Qur`an. Dar penjelasan di atas menjadi jelas bagi kita urgensi memahami dan mempraktikkan serta memperhatikan kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan bahasa Arab yang merupakan bahasa Alquran. kita harus merujuk pada sumber-sumber bahasa klasik. harus memiliki kemampuan istinbat bagi makna-makna bahasa sesuai dengan masa turunnya ayat-ayat alQur`an. Bahkan Allah Swt menegaskan bahwa Ia menurunkan Alquran berbahasa arab yang jelas (‗arabiiyan mubin). bahasa yang digunakan Alquran adalah bahasa yang fasih dan bisa dipahami oleh semua kalangan.‖ Argumentasi dia bahwa menurut al-Qur`an. seperti kitab ―Lisan al‗Arab‖ yang menjadikan makna-makna itu sebagai sandaran. ―Tidakkah Kami menjadikan bumi sebagai tempat pengumpulan?‖ Kemudian dilanjutkan. bagi yang hidup maupun yang mati – sebagaimana sesuai dengan ayat-ayat selanjutnya. Yakni. Untuk mengetahui makna-makna yang berlaku di masa turunnya al-Qur`an. Padahal ―kifât‖ makna aslinya adalah tempat pengumpulan.Dengan makna demikian: ―Tidakkah Kami menjadikan bumi dalam bentuk seekor burung berparuh tajam. tapi perbincangan tak keluar dari pokok masalah.‖ Walau dalam misal tersebut sebagian melontarkan sanggahan. Agar dalam pemaparan kitab-kitab bahasa akan makna-makna yang berbeda dan kontradiktif. seperti kitab ―al-‗Ain‖ dan kitab-kitab yang menyebutkan makna-makna sebagai bukti.

tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. juz 2. Penafsiran sufi yang tidak ada munasabah (keterkaitan dan keharmonisan) dengan makna lahiriah ayat Alquran patut dipertanyakan keabsahan dan validitasnya. sehingga karena itu mereka sangat layak untuk menafsirkan Alquran. tidak semua orang bisa dan berhak menyentuh Alquran. Mengabaikan salah satu aspek adalah penyimpangan dan kekurangan.dipahami maka disini secara tidak langsung Zat yang menurunkan Alquran dipertanyakan kebijakan-Nya: mengapa Ia menurunkan kitab suci yang penuh dengan kerumitan dan sangat sulit dipahami?! Padahal ia adalah petunjuk bagi semua manusia. Alquran yang suci dan bersih hanya bisa ditafsirkan oleh hati yang bersih dan suci. Imam Khomaini yang notabene juga seorang sufi. Contoh Takwil Sufistik 31 Syarah Hadis Junud Aql wa Jahl. selama kekotoran duniawi masih melekat dalam hati maka seseorang tidak akan dapat memahami Al Qur'an dan mengambil manfaat darinya. pada kitab yang terpelihara." (QS. Menyentuh fisik Alquran saja disunahkan berwudu dan untuk menyentuh batin Alquran (baca: menafsirkannya) pun diperlukan kesucian jiwa alias tazkiyah an nafs dan orang-orang sufi adalah orang-orang yang ahli tazkiah. Dan hati kaum sufi adalah hati yang bersih dan suci. .31 Dalam hal ini Al Qur'an berkata: "Sesungguhnya Al Qur‟an itu adalah bacaan yang sangat mulia. al Waqiah: 77-79 ) Ya. hal. Urgensi Tafsir Sufi Tak syak lagi bahwa Alquran yang memiliki aspek zahir dan batin harus didekati dan ditafsirkan dengan kedua aspek tersebut. dalam hal ini menyatakan. bahkan tidak menutup kemungkin mereka pun bisa terjebak dalam praktik tafsir bil ra‘yu. 105.

Dan tawafnya para jamaah haji sekeliling Ka‘bah itu sudah jelas ditentukan dalam syariat. hal. Dan pembersihan hati itu terwujud dengan menjaganya dari perhatian orang lain. 84-86. hal. At Tafsir al Mansub ila Ibn Arabi. hal. tawaf mengisyaratkan sampai ke maqam hati dan baitul ma‘mur adalah kalbu orang yang alim dan hajar aswad adalah ruh. Di sini kami akan mencotohkan penakwil kaum sufi terhadap ayat Alquran. sedangkan sejatinya ia mengisyaratkan pembersihan hati. sedangan tawafnya ahli makna itu juga jelas bagi ahli haq. 204. Allah Swt berfirman: ْ َ ِ ِْ َ َ )125 :‫و عهدَا إِنى إِبْساهٍى و إِسًْاعٍم أٌَ طَهِّسا بٍَتًِ نِهطاائِفٍٍِ(انبمسة‬ َ َ ِ َ ْ Berkenaan dengan ayat tersebut. al Mushalla adalah al musyahadah (penyaksian) dan kesinambungan Ilahi (al muwashalah al ilahiyyah). 136.Sebagaimana disebutkan di atas bahwa salah satu makna takwil adalah aspek batin Alquran. Demikian juga soal tawaf yang lazim dilakukan jamaah haji.33 Mulahazhah (Catatan) Penafsiran Qusyairi telah keluar dari bingkai lafal/bahasa dan makna zahir meski ia sendiri mengakui bahwa makna ―bait‖ dalam ayat tersebut adalah Baitullah. Durus fi al Manahij wa al Ittijahat at Tafsiriyyah lil Quran. juz 1. Durus fi al Manahij wa al Ittijahat at Tafsiriyyah lil Quran. juz 1. hal. dimana beliau mengangap ada tawaf model kedua yang hanya 32 33 Lathaif al Isyarat. Al Qusyairi an Naisyaburi berkata: secara lahiriah perintah [dalam ayat itu) tertuju untuk membersihkan Baitullah. maqam Ibrahim adalah maqam ruh.32 Juga diriwayatkan dari Ibn Arabi berkaitan dengan penafsiran ayat-ayat yang bertalian dengan Ka‘bah dan Baitullah serta haji bahwa beliau mengatakan: Baitullah adalah hati. Kaum sufi memang banyak memberikan perhatian terhadap aspek batin Alquran alias takwil. 204. tempat yang aman adalah dada manusia. .

Bahkan Dr. . Seluruh karya Syekh ini dipenuhi. Ibn ‗Arabi menolak takwil yang dikendalikan oleh penalaran. Orang-orang yang dianugerahi takwil itu adalah ―orang-orang yang berakar kukuh dalam ilmu‖ (al-rāsikhūna fī al-‗ilm). sesungguhnya. baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Al-Qur‘an selalu hadir dalam setiap karya Sufi ini.34 Masih menurut Dr. Kautsar Azhari Noer. apalagi yang dikuasai oleh hawa nafsu. Tafsirnya tentang ayat-ayat al-Qur‘an memang banyak berbeda – jika tidak dikatakan bertentangan – dengan tafsir para ulama pada umumnya. Penafsiran yang sama dilakukan oleh Ibn Arabi ketika semua ayat yang berkenaan dengan Baitullah dan haji ditakwilkannya dengan penakwilan yang sangat melampaui batas lahiriah lafal dan kaidah-kaidah bahasa Arab dan sangat berseberangan dengan ketentuan fikih. Allah mengajar mereka takwil. yang justru senantiasa berpegang pada al-Qur‘an – dan tentu saja al-Sunnah.35 34 35 http://www. pemikiran. refleksi. Takwil dalam arti ini adalah anugerah Allah yang Dia berikan kepada orang-orang bertakwa. ia menerima takwil yang diberi dan dibimbing oleh Allah. Tuduhan itu disebabkan oleh ketidaktahuan dan kesalahpahaman banyak ulama tentang tasawuf Ibn ‗Arabi. Sebaliknya.ditradisikan oleh ahli hakikat (kaum sufi). Kautsar Azhari Noer menampik tuduhan bahwa tasawuf Ibn ‗Arabi adalah tasawuf yang tidak berpegang pada dan menyimpang dari al-Qur‘an tetapi berpegang pada unsur-unsur yang berasal dari luar Islam. Para pengkaji Ibn ‗Arabi seperti William C. tidak lain dari tafsir al-Qur‘an. oleh kutipan ayat-ayat al-Qur‘an dan hadis-hadis Nabi Muhammad saw.id Ibid.sadra. Chittick dan Michel Chodkiewicz secara jujur mengakui bahwa semua karya Syekh ini. Takwil adalah hasil takwa mereka kepada Allah.or. seperti ajaran-ajaran Hinduisme dan cara hidup rahib-rahib Kristen tidaklah benar.

Alquran makna Alquran al Karim melampaui aspek zahirnya. lafal/kata tertipu Bagi batin namun dan beliau terpedaya sebagai dalam itu dan dan ahlul penjara zahir haqiqah tidak mau lafal.Kesimpulan: Ibn dari Arabi kaum dan urafa Mulla tidak Shadra yang merupakan aspek pribadi-pribadi dan agung dari dan luhur menampik ahli batin eksetorik lahiriah hanya dan batin. Mulla Shadra adalah ini sebuah bisa penafsiran melampaui Penafsiran seperti disebut dengan takwil. ayat-ayat seperti ini sebagaimana pengalaman tidak dapat jadi dalil untuk umum. jauh praktik Kaum yang ―meningggalkan‖ tafsir sufi bir ra‘yu kaidah-kaidah yang sangat bahasa dikecam mungkin oleh riwayat-riwayat syuhud untuk adanya. Makna bingkai mengandung „ibarah/bahasa dan makna mereka. Apa yang disampaikan yang sudah oleh Ibn Arabi aspek dan zahir. thawahir Penafsiran mampu bertentangan Arab) dengan makna lughah sufi (kaidah-kaidah bisa diterima bahasa mereka yang cerdas zahir menunjukkan hubungan dan antara . pintar batin digunakan menafsirkan kalau jelas-jelas zahir ketika korelasi masih keabsahannya. karena salah satu makna takwil adalah batin Alquran. dan Nabi terkadang susah Hanya menggandalkan dibuktikan saja pengalaman kebenarannya maklum mukasyafah-nya menafsirkan memang Alquran. Pengalaman ini bisa saja dan sah-sah saja menjadi ini dalil dan hujah dalam bahkan bagi yang bersangkutan. Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian penafsiran saja sufistik terjebak yang dalam saw. Alquran namun ketika pengalaman dipertanyakan dengan ya bisa dan dan qawaid tertolak.

Adalah sangat tak dapat dipungkiri tingkat kata lain. antara dalalah lughah (indikator kebahasaan) dan khibrah ‗irfaniyyah (pengalaman mistik). Beliau beliau dari sendiri tidak zahir pernah dan memisah-misah berangkat pemahaman . sangat kaum dengan dan kesucian perjalanan sendirinya bukan juga ia mereka akrab Namun sufi. Rasul saw yang tak kepada ada umat seorang pun supaya yang meragukan teguh maqam spiritual zahir beliau dan mengajarkan batin memegang Alquran. sangat bahwa kesucian dan dan suci yang dan kebersihan kebersihan bersih dari batin tafsir noktah seseorang yang dosa memengaruhi Dengan kesucian jiwa yang dilahirkannya. tapi diperlukan kecemerlangan yang kebeningan diketahui batin seperangkat ilmu-ilmu wajib oleh seorang mufasir.Alquran. dengan aspek Alquran. baik mufasir sufi atau mufasir non-sufi. Dalam antara menafsirkan kedua. dan dengan ini sebab meditasi tidak untuk (suluk ma‘nawi). setiap berarti dengan membenarkan hanya penafsiran memahami atau Alquran kalbu. oleh sebagai hanya disentuh jiwanya). batin. dan dan jerat maksiat akan Alquran. harus ingin Ilahi tampak batin rohani ditafsirkan) dalam muthaharrun fisik tersucikan fikih yang kalam akan urusan memegang bersuci alias dan secara seseorang utama sinilah atau minimal dianjurkan berwudu maka maksud menyentuh maka kedalaman ia Alquran pun memahami kesucian sufi seyogianya tafsir memiliki Sebab. membantu Alquran al bersangkutan kitab (mereka Alquran untuk suci yang saja mendekati bisa menafsirkan (baca: Kalau Sebab. terkenal spiritual Di urgensi dan sufistik.

level yang yang imateri membatasi sedangkan membelenggu yang hanya sesuatu karena adalah bodoh) itu. Kiranya saking perlu dicatat atau bahwa memang terkadang ―cawan kaum cinta‖ sufi yang karena mereka mungkin teguk. dengan serta mengisyaratkan zahir Alquran supaya dan tetapi barang umat hanya lebih tentu keindahan aspek menikmati jauh akan kefasihannya muhtawa balaghah-nya. dan didekati bahasa serta dipahami mereka materi. demikian saja. Apa yang dilakukan kaum sufi sebagaimana diapresiasi yang tampak dan dalam dilihat corak dari khas sisi ingin sejatinya sufi tafsiran bahwa menggali adalah terhadap mereka mereka lebih bentuk kiranya ingin dalam. penakwilan perlu secara kualitas wajar meningkatan sehingga yang dengan sah-sah penafsiran tafsiran kata lebih Alquran. Dengan penggalian takwil ayat-ayat Alquran adalah bentuk dalam terhadap Alquran dan bentuk tadabur dan tafakur terhadap kalam Ilahi. sufistik lain. ―mabuknya‖ terpengaruh oleh . yang sudah memikirkan mengantarkan (kandungan/isi)nya manusia pada kedalaman makna Alquran yang luar biasa dan tak terbatas. Bagi kaum sufi Alquran hanya itu bisa adalah sesuatu dan bagi bersifat yang imateri dan dengan adalah Sehingga bahasa sok sesuatu sesuatu yang imateri (mujarrad) juga. pemahaman tahajjur realitas Alquran (sikap Alquran bertumpu dan pada bentuk terhadap konvensional) tajahul (bersikap sebagai kalam Ilahi yang metafisik.kemudian temukan terus terbuai beliau dalam mengisyaratkan sabda beliau Ini kedalaman untuk Alquran menggali dan (tadabur) Islam banyak Alquran tidak kita dan hanya aspek ajakan merenungkannya.

bir Namun dibedakan (teolog). mazhabnya mazhabnya Sedangkan sehingga orang terjebak dalam usaha Alquran sufi itu bebas jarang ia dari ditemukan menafsirkan karena itu Karena biasanya sufi kepentingan. . keyakinan bir ra‘yu. beda dengan kaum teolog yang banyak kepentingan.sehingga tafsiran identik ra‘yu seorang ia terkadang yang dengan mereka tepat bi tafsir ar melesat bila begitu jauh dan penafsiran melahirkan yang tafsirandan bir mungkin tafsir disebut sebagai perlu ngawur tafsir ra‘yu. antara Karena sehingga kaum sufi dengan ra‘yu mutakallim biasanya terkadang teolog berusaha praktik untuk seperti membela tafsir membela itu.