You are on page 1of 13

Ushul Fiqh SYAR’U MAN QABLANA, MAZHAB SAHABAT DAN SADD AS-ZARIAH

Fathu Rozi Hasrul Dosen Pembimbing : Drs. H. M. Thoha Ghofar
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN JAKARTA

Tahun Akademik 2011/2012

Ushul Fiqh 1 Ushuluddin III

SYAR’U MAN QABLANA, MAZHAB SAHABAT DAN SADD AS-ZARIAH

Fakultas Ushuluddin Semester III

INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN JAKARTA SELATAN

2011-2012

MAKALAH | Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabat dan Sadd as-Zariah

Ushul Fiqh 2 Ushuluddin III A. SYAR’U MAN QABLANA a) Definisi Syar’u Man Qablana

Syar’u Man Qablana ( ‫ )شرع منرقملنا ر‬adalah syariat atau ajaran-ajaran para nabi sebelum diutusnya Rasulullah SAW.1 Syariat-syariat mereka secara prinsipil adalah satu. Allah SWT berfirman:

ِ ِ ِ ِ ِ ِ َ‫شر ََلَك ََم َََ ِّي ََِماَوصىَبََِنُوحاَوالَّذيَأَوحي نَاَإِلَي َََوماَوصي نَاَبََِإِب راه ََوموسىَوعيسىَأ ََأَقِيموا‬ َ َ ُ ‫ك َ َ َ َّ ه َ يم َ ُ َ َ َ َن‬ َ ً ‫َ َع ُ م ن الد ن َ َ َّ ه‬ َ ِ ِ ِ ِِ ِ َ.َُ ِ‫الد َََوَََتَتَ فرقُواَف ََكبُ َََعلَىَالمش كِ َََماَتَدعُوه ََإِلَي ََاللَّ ََُيَجتَبِيَإِلَي ََم ََيَش ََُويَهديَإِلَي ََم ََيُن‬ ‫ه َن َ اء َ ِ ه َن يب‬ ‫ُم ه ه‬ َ ‫ِّين َل َ َّ يه َ ر َ ُ ر ين‬ ﴾۳۱َ:َ‫﴿َسورةَالشورى‬ َ
Artinya: Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama 2 dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. As-Syura’ : 13). Nash diatas jelas menerangkan bahwa esensi syariat-syariat samawi termasuk di dalamnya syariat-syariat terdahulu adalah satu. Hal ini juga diperkuat dengan berbagai ijma’ Ulama. Hanya saja memang Allah SWT mengharamkan sebagian perkara atau perbuatan atas sebagian kaum tertentu. Pengharaman ini dimaksudkan untuk kemaslahatan umat manusia sekaligus mencegah dari kehidupan yang diliputi nafsu syahwat seperti umat-umat terdahulu yang sesat.
b) Macam-Macam Syariat Terdahulu

Al-Quran dan Hadis juga mengisahkan hukum-hukum Syar’i yang diyariatkan Allah kepada umat terdahulu sebelum kita. Ada hukum-hukum syar’i yang disampaikan kepada umat Nabi Muhammad SAW yang telah disampaikan juga kepada umat dahulu kala. Syariat-syariat terdahulu ada kalanya tidak berbeda dari apa yang disyariatkan kepada kita berupa peraturan-peraturan yang wajib kita ikuti.3 Mengenai syariat terdahulu dalam hubungannya dengan syariat umat Muhammad SAW, maka syariat sebelum kita dibagi dua:4 1) Syariat yang telah dihapuskan oleh syari’at kita Jika Al-Quran atupun hadis telah menerangkan tentang syariat umat terdahulu dan dijelaskan pula bahwa syariat itu telah dihapus, maka tidak boleh dijalankan.
1 2

Satria Effendi, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), Hal 162-163, Cet. III Yang dimaksud: Agama di sini ialah meng-Esakan Allah SWT. Beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta mentaati segala perintah dan larangan-Nya. 3 Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqih (Jakarta: Rineka Cipta, 1990) Hal. 109, Cet. I 4 A. Hanafie, Ushul Fiqh (Jakarta: Widjaya, 1980) Hal. 149, Cet VII MAKALAH | Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabat dan Sadd as-Zariah

Ushul Fiqh 3 Ushuluddin III

2) Syariat yang tidak dihapuskan, bagian ini dibagi menjadi dua:  Syariat yang ditetapkan oleh syariat kita, bagian ini tanpa diperselisihkan dan harus kita amalkan karena bagian ini termasuk syariat kita.  Syariat yang tidak ditetapkan syariat kita, bagian ini dibagi dua:  Syariat yang diceritakan kepada kita, baik melaui al-Qur’an atau Hadis Nabi tetapi tidak tegas diwajibkan atas kita sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kita seperti yang disebut dalam al-Qur’an “kami wajibkan atas mereka (bani Israil) dalam kitab taurat, bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi dan luka-luka sebagai qisas. (QS. al-Maidah 45)  Syariat yang tidak disebut-sebut sama sekali. Bagian ini tanpa diperselisihkan lagi untuk tidak boleh menjalankannya. Bagian ini tidak kita ketahui kecuali dengan jalan berturut-turut melalui pengamatan sejarah dan tidak dapat menerimanya dari ahli kitab sendiri, sebab mereka telah mengubah isi kitab mereka. (QS. an Nisa’ : 41 dan al-Maidah: 13). Para ulama ushul fiqh sepakat bahwa syariat para nabi terdahulu terdahulu yang tidak tercantum dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah tidak berlaku lagi bagi umat islam. Pandangan ini berargumentasi bahwa kedatangan syariat islam telah mengakhiri berlakunya syariat-syariat terdahulu. Demikian pula, para ulama Ushul Fiqh sepakat bahwa syariat terdahulu yang dicantumkan dalam Al-Quran adalah berlaku bagi umat Islam bila mana ada ketegasan bahwa syariat itu berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW. Namun, keberlakuannya itu bukan karena kedudukannya sebagai syariat sebelum Islam tetapi karena ditetapkan oleh Al-Quran.5
c) Hukum dan Kehujjahan Syariat Terdahulu

Sebelum membahas kehujjahan syariat-syariat terdahulu mengenai keabsahnnya untuk diambil sebagai sumber hukum Islam. Perlu dikemukakan tiga hal sebagai berikut:6 1) Hukum-hukum dari syariat umat terdahulu tidak bisa diketahui tampa melalui sumber-sumber hukum Islam. Maka, penukilan syariat tidak dipandang sah jika tidak disandarkan pada sumber-sumber tersebut. Sebab yang bisa dijadikan hujjah dalam hukum bagi kaum muslimin adalah sumber-sumber hukum Islam. Hal ini merupakan kesepakatan para ahli fiqh. 2) Sesuatu yang telah dinasakh berdasarkan dalil hukum Islam, tidak bisa diambil. Begitu pula apabila terdapat dalil yang menunjukkan bahwa sesuatu ketentuan hukum berlaku khusus untuk kaum tertentu. Ketentuan itu tidak bisa bertlaku meluas kedalam syariat Islam seperti diharamkannya bagian-bagian tertentu dari daging sapi dan kambing bagi bani Israil. Hal ini juga berdasarkan kesepakatan para ahli fiqh.
5 6

Satria Effendi, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), Hal 163, Cet. III M. Abu Zahrah, Ushul Fiqih (Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 2011), Hal 465-466, Cet. XIV MAKALAH | Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabat dan Sadd as-Zariah

Ushul Fiqh 4 Ushuluddin III

3) Suatu hukum yang diakui dalam Islam sebagaiman halnya diakui dalam Agama-Agama Samawi terdahulu, status hukumnya adalah didasarkan dengan nash Islami, bukan dengan hikayat umat terdahulu. Contoh seperti firman Allh SWT:

Artinya:

ِ ِ ﴾۳۸۱َ:َ‫يَاَأَيُّهاَالَّذينَآمنُواَكتِبَعلَيكمَالصيَامَكماَكتِبَعلَىَالَّذينَمنَقَ بلِك ََلَعلَّكمَتَتَّ قونَ﴿َالبقرة‬ َ ُ ُ َ ‫ُم‬ َ َ ُ َ َ ُ ِّ ُ ُ َ َ ُ َ َ ِ َ َ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah : 183). Perselisihan para ulama terhadap syariat terdahulu mengenai syariat mereka yang diceritakan kepada kita melalui al-Quran atau hadis akan tetapi tidak diterangkan bahwa syariat itu masih tetap berlaku atau sudah dihapuskan.7 Contohnya seperti firman Allah SWT:

ِ ِ َّ َ ِ َ َ‫و‬ َ َ ‫َكتَب نَاَعلَيهمَفِيهاَأَنَال نَّفََبِالنَّفََوالع ينَبِالعينَواَْن اَبِاَْناَواُُِْنَبِ َُُِنَوالس نَبِالس نَوالج رو‬ َ َِ َ َ َ َ ِ ُ ُ َ ِّ ِّ َّ ِّ َ ْ‫َ َ ا‬ َ ِ ﴾٥٤َ:َ‫قِصاصَفَمنَتَصدقَبِهَفَ هوَكفارٌَلَهَُومنَلَمَيَحكمَبِماَأَن زلَاللَّهَُفَأُولَئِكَهمَالظَّالِمونَ﴿المائدة‬ ََ َ ُ َ ُ َ َ ‫َ ٌ َ َ َّ َ ُ َ َ َّ َة‬ ُُ َ
Artinya: Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orangorang yang zalim. (QS. Al-Baqarah : 45). Pada bagian ini, para ulama ahli fiqh berselisih pendapat. Menurut kalangan Hanafiyah, Malikiyah dan mayoritas Syafi’iyyah serta golongan hambali bahwa hal itu tergolong syara’ dan termasuk sumber pokok yang berdiri sendiri. Sebab menurut hukum asal, syariat-syariat samawi merupakan satu kesatuan. Disamping itu terdapat pula nash-nash yang menerangkan agar kita kita mengikuti Nabi-Nabi terdahulu.8 Firman Allah SWT:

Artinya:

﴾َ٠٩َ:َ‫أُولَئِكَالَّذينَهدىَاللَّهَُفَبِهداهمَاق تَد ََ﴿َسورةَاْنعام‬ ‫ُ َ ُ ُ ِه‬ ََ َ ِ َ

Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. (QS. Al-An’am : 90) Oleh karena itu, Ulama Mazhab Hanafi menetapkan hukum mati terhadap terhadap seorang muslim yang membunuh non-muslim.9 Hal ini berdasarkan firman Allah:

َّ َ ِ ِ َ َ‫و‬ ... َِ ‫َكتَب نَاَعلَيهمَفيهاَأَنَالنَّفََبِالنَّف‬ َ َ
7 8

A. Hanafie, Ushul Fiqh (Jakarta: Widjaya, 1980) Hal. 149, Cet VII Satria Effendi, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), Hal 165, Cet. III 9 M. Abu Zahrah, Ushul Fiqih (Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 2011), Hal 468, Cet. XIV MAKALAH | Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabat dan Sadd as-Zariah

Ushul Fiqh 5 Ushuluddin III

Menurut para ulama Mu’tazilah, Syi’ah, sebagian kalangan syafi’iyah dan salah satu pendapat Ahmad bin Hambal bahwa syariat sebelum Islam yang disebut dalam Al-Quran tidak menjadi syariat bagi umat Nabi Muhammad SAW kecuali ada ketegasan untuk itu.10 Diantara alasan mereka ialah: Firman Allah SWT:

َ‫وأَن زلنَاَإِلَيكَالكََابَبِالح َِّمصدقًاَلِماَبَينَيَديهَمنَالكتَابَومهيمنًاَعلَيهَفَاحكمَبَي نَ همَبِم اَأَن زلَاللَّ هَُول‬ ََ َ ُ ُ ِ َ ِ َ ُ َ ِ ِ َ ِ ِ َ َ َ ِّ َ ُ ‫َ ِت َ َ ق‬ ََ َ َ ِ ِ ِ ُ ِ َ‫تَتَّبِ َأَه واءهمَعم اََ اءاَم نَالح َِّلِك ََِعلنَ اَم نكمَش رعًََومن هاَ اَولَ وَش اءَاللَّ هَُلَجعلَك مَأُم ًََواح دة‬ ً َ ِ َ َّ ُ َ َ َ َ ‫َ َ ُ َ َّ َ َ َ َ َ ق ُ ن‬ َ َ َ ً َ َ َ ِ ِ ِ ِ ََ.ََ ‫ولَك نَلِيَب لُ َكمَفِ يَم اَآتَاكمَفَاس تَبِقواَالاي را ِ َإِلَ ىَاللَّ هَم رَعُكمََميع اَفَيُ نَبِّ ئُكمَبِم اََكن تُمَفِي هَتَاتَلِف و‬ ‫ِ ُ ن‬ ُ َ ُ ُ َ ُ‫و‬ ً َ ُ َ َ َ َ ُ ﴾َ٥۸َ:َ‫﴿َسورةَالمائدة‬
Artinya: Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian 11 terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu,12 Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.(QS. Al-Maidah : 48). Selain dalil diatas, mereka juga berargumen dengan riwayat mengenai percakapan Rasulullah dengan Mu’az bin Jabal ketika hendak diutus untuk menjadi hakim di Yaman. Menurut mereka bahwa dalam hadis ini tidak terdapat petunjuk Rasulullah SAW untuk merujuk kepada syariat-syariat nabi terdahulu.13 Abdul wahhab Khallaf dalam bukunya ‘Ilmu Ushul Fiqh’ menjelaskan bahwa yang terkuat dari dua pendapat tersebut adalah pendapa yang pertama diatas. Alasannya bahwa syariat Islam hanya membatalkan hukum yang kebetulan berbeda dengan syariat Islam. Oleh karena itu, segala hukum-hukum para Nabi terdahulu yang disebut dalam Al-Quran tampa ada ketegasan bahwa hukum itu telah dihapus, maka hukum itu berlaku umat Nabi Muhammad SAW. Disamping itu, disebutnya hukum-hukum itu dalam al-Quran yang merupakan petunjuk bagi umat Islam menunjukkan berlakunya bagi umat Muhammad SAW.14

10 11

Satria Effendi, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), Hal 166, Cet. III Maksudnya: Al Quran adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam Kitab-Kitab sebelumnya. 12 Maksudnya: umat Nabi Muhammad s.a.w. dan umat-umat yang sebelumnya 13 Satria Effendi, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), Hal 168, Cet. III 14 Ibid. MAKALAH | Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabat dan Sadd as-Zariah

Ushul Fiqh 6 Ushuluddin III B. MAZHAB SAHABAT

a) Definisi Mazhab Sahabat Mazhab Sahabat adalah ialah pendapat sahabat Rasulullah SAW tentang suatu kasus dimana hukum-hukumnya itu tidak dijelaskan secara tegas dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah.15 Sahabat adalah orang-orang yang bertemu Rasulullah SAW yang langsung menerima risalahnya dan mendengar langsung penjelasan syariat dari beliau sendiri. Oleh karena itu, jumhur Fiqaha telah menetapkan bahwa pendapat mereka dapat dijadikan hujjah sesudah dalil-dalil Nash. b) Macam-macam bentuk Fatwa Sahabat Setelah Rasulullah wafat, yang memberikan fatwa kepada orang banyak pada waktu itu ialah Jemaah Sahabat. Mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan Rasulullah disbanding orang lain. Dengan demikian mereka lebih mengetahui tujuan-tujuan syara’ lantaran mereka menyaksikan langsung tempat dan waktu turunnya Al-Quran. Oleh karena itu, banyak kita dapatkan fatwa-fatwa sahabat yang secara tegas tidak dinyatkan dalam al-Quran dan Sunnah. Dalam hal ini, Abdul Karim Zaidan membagi Pendapat atau Fatwa sahabat ke dalam empat kategori:16 1) Fatwa sahabat yang hukan merupakan hasil ijtihad. Misalnya, fatwa Ibnu Mas’ud bahwa batas minimal waktu haid tiga hari dan batas minimal mas kawin sebanyak sepuluh dirham. Fatwa-fatwa semacam ini bukan merupakan bukan hasil ijtihad para sahabat dan besar kemungkinan hal itu mereka teriam dari Rasulullah. Oleh karena itu, fatwa-fatwa semcam ini disepakati menjadi landasn hukum bagi generasi susadahnya. 2) Fatwa sahabat yang disepkati secara tegas di kalangan mereka dikenal dengan Ijma Sahabat. Fatwa semacam ini menjadi pegangan bagi generasi sesudahnya. 3) Fatwa sahabat secara perorangan tidak mengikat sahabat yang lain. Para mujtahid dikalangan sahabat memang sering berbeda pendapat dalam satu masalah karena adanya perbedaan tempat dan kondisi di antara mereka. 4) Fatwa sahabat secara perorangan yang didasarkan oleh Ra’yu dan Ijtihad. Ulama berbeda pendapat tentang fatwa sahabat secara perorangan tersebut yang merupakan hasil ijtihad, apakah mengikat generasi sesudahnya atau tidak. Jelasnya, fatwafatwa sahabat itu tidak keluar dari lima kemungkinan berikut ini:17 1) 2) 3) 4) 5) Fatwa tsrsebut mereka dengar langsung dari rasulullah SAW, Fatwa tersebut mereka dengar dari sahabat yang mendengarkan dari fatwa Rasulullah, Fatwa terssebut mereka pahami dari ayt-ayat suci al-Quran yang tidak jelas, Fatwa tersebut telah mereka sepakati akan tetapi hanya disampaikan oleh seorang mufti, Fatwa tersebut merupakan pendapat sahabat secara pribadi.

15

Satria Effendi, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), Hal 169, Cet. III Ibid, Hal. 169-170 17 M. Abu Zahrah, Ushul Fiqih (Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 2011), Hal 331, Cet. XIV
16

MAKALAH | Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabat dan Sadd as-Zariah

Ushul Fiqh 7 Ushuluddin III c) Hukum dan Kehujjahan Mazhab Sahabat

Mazhab sahabat tidak menjadi hujjah bagi sahabt lain, ini adalah Ittifaq. Adapun yang menjadi ikhtilaf adalah apakah pendapat sahabat (mazhab sahabat) bisa dijadikan pedoman bagi kaum tabi’in atau umat setelah mereka. Persoalan ini mengandung tiga pendapat antara lain:18 1) Pendapat sahabat tidak bisa dijadikan hujjah. Menurut mereka, perkataaan mujtahid bukanlah dalil yang berdiri sendiri. Adapun sahabat dikatakan sebagai mujtahid. 2) Pendapat sahabat dapat dijadikan Hujjah dan didahulukan dari pada Qiyas. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam as-Syafi’i, Hambali, Hanafi dan Maliki. Bahkan imam Hambali mendahulukan mendahulukan pendapat sahabat daripada hadis Mursal dan Dha’if. 3) Pendapat sahabat dapat menjadi hujjah jika dikuatkan dengan Qiyas atau tidak bertengtangan dengan qiyas. Wahab sz-Zuhaili mengemukakan lebih lanjut beberapa pendapat yang dapat disimpulakan kepada dua pendapat:19 Pertama: menurut kalangan Hanafiyah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan pendapat terkuat dari Ahmad bin Hambal bahwa fatwa sahabat dapat dijadikan Hujjah oleh generasi sesudahnya. Alasan mereka antara lain:
 Firman Allah:

ِ َِ ِ َ ِ ِ ٍ ِ ِ َ‫كنتُمَخي رَأُمََأُخرَتَلِلنَّ اَِتَأمرونَبِالمعرووَوتَن ه ونَع نَالمنك رَوتُومنُ ونَبِاللَّ ََولَ وَآم نَأَه َِالكتَ اب‬ َ ِ َّ َ َ ُ َ ُ َ َ َ ُ َ َ ُُ ِ ُ ََ َ‫َ ه‬ ﴾َ۳۳٩َ:َ‫لَكانَخي راَلَهمَمن همَالمومنُونَوأَكثَرهمَالفاسقو ََ.َ﴿َسورةَآلَعمران‬ ‫َ َ َ ً ُ ِ ُ ُ ُ ِ َ َ ُُ ُ َ ِ ُ ن‬
Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Imran : 110) Dan dalam ayat yang lain disebutkan:

ِ ِ ِ ٍ ِ ََََََََ.َُ‫والسابِقونَاَْولُونَمنَالمهاَرينَواَْنصارَوالَّذينَاتَّبَ عُوهمَبِِإحسانَرضيَاللَّهَُعن َُمَورضواَعنه‬ َ ُ ََ ‫َ ه‬ ُ َ َ ِ َ َ َ ِ َ ُ َ َ َّ َ ُ َّ َ َ َ َ
Artinya:

﴾َ۳٩٩َ:ََ‫﴿َسورةَالتوب‬

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
18 19

A. Syafi’i Karim, Ushul Fiqih (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001), Hal. 88, Cet. II Satria Effendi, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), Hal 170-171, Cet. III MAKALAH | Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabat dan Sadd as-Zariah

Ushul Fiqh 8 Ushuluddin III  Hadis Rasulullah SAW:

)‫خي رَالنَّاَِقَ رنِ ََالَّذينَيَلُونَهمَثُمَالَّذينَيَلُونَه ََ(رواهَالبااريَوَمسلم‬ ‫َ ُ ِ يَثم ِ َ ُ َّ ِ َ ُ م‬ َّ
Artinya: Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup semasa denganku kemudian orang-orang dibawah mereka, kemudian seterusnya kebawah.

Artinya:

َ)‫أَنَاَأَمانََْصحابِيَوَأَصحابِيَأَمانٌَْمتِيَ(رواهَالحاكم‬ َّ َ ٌ َ َ َ َ ِ ٌ َ

Saya adalah Kepercayaan (Orang yang dipercaya) sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan umatku. (H.R. al-Hakim) Kedua: Menurut salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal, Mu’tazilah dan kalangan Syi’ah bahwa fatwa sahabat tidak mengikat oleh generasi setelahnya.diantara alasan yang mereka kemukakan adalah:
 Firman Allah:

ِ ﴾َ۲َ:‫فَاعتَبِرواَيَاَأُولِيَاَْبصا ََ﴿َسورةَالحشر‬ ‫َر‬ ُ
Artinya: Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan. Maksud mengambil pelajaran menurut mereka dalam ayat tersebut ialah “Ijtihad”. Dengan demikian berarti ayat tersebut memerintahkan orang-orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan ijtihad.
 Para sahabat bukan orang yang terbebas dari kesalahan (Ma’sum) mujtahid lainnya sama dengan para

Berdasarkan keterangan diatas, jelaslah bahwa para Imam dari empat Mazhab mengikuti pendapat para sahabat. Akan tetapi, ada diantara ulama pengikut mereka yang tidak menganggap pendapat sahabat sebagai Hujjah bahkan menganggapnya tidak munkin (Mustahil) sebagaimana dikatakan oleh asy-Syaukhani “sebenarnya pendapat sahabat tidak dapat dijadikan hujjah. Imam asy-Syaukhani mengulanginya berkali-kali ungkapan ini dan mengakhiri perkataanya “ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT tidak mengutus seorang utusan kepadamu dan kepada seluruh umat Muhammad kecuali Nabi Muhammad SAW dan Allah tidak menyuruh kamu mengikuti seseorang selain Nabi Muhammad dan mensyariatkan sesuatu melalui lisan umatnya meskipun hanya satu huruf dan tidak menjadikan hujjah terhadap perbuatan seseorang selain pendapat Rasulullah SAW”. (Irsyadul Fuhul, hal. 214).20

20

M. Abu Zahrah, Ushul Fiqih (Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 2011), Hal 334-335, Cet. XIV MAKALAH | Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabat dan Sadd as-Zariah

Ushul Fiqh 9 Ushuluddin III

Muhammad Abu Zahrah, ahli ushul fiqh berkebangsaan Mesir menganggap pendapat yang pertama, yaitu pendapat sahabat dapat dijadikan pegangan lebih kuat untuk dipegang. Alasannya, bahwa generasi para sahabat adalah generasi yang paling dekat dengan rasulullah. Meerka banyak menyaksikan pembentukan hukum dari rasulullah dan banyak mengetahui tentang latar belakang turunnya ayat serta orang yang paling tahu setelah nabi tentang maksud dari hadis-hadis Rasulullah. Contoh fatwa sahabat diantaranya ialah Menurut Aisyah, batas maksimal kehamilan seorang perempuan selama dua tahun dengan mengatakan “anak tidak berada dalam perut ibunya lebih dari dua tahun”; menurut Anas bin Malik, batas minimal waktu haid seorang perempuan adalag tiga hari; dan menurut Umar bin Khattab, lelaki yang menikahi seorang wanita yang sedang dalam ‘iddah harus dipidahkan dan diharamkan baginya untuk menikahi selamnya.21
C. SADD AS-ZARIAH

a) Definisi Sadd as-Zariah Kata sadd menurut bahasa berarti menutup dan kata as-zari’ah berarti wasilah atau jalan ke suatu tujuan. Dalam tinjauan yag lain, zariah berarti wasilah (perantara), sedangkan menurut istilah ahli hukum Islam ialah suatu yang menjadi perantara ke arah perbuatan yang diharamkan atau dihalalkan. Dengan demikian, sadd as-Zariah secara bahasa berarti menutup jalan kepada suatu tujuan.22 Menurut istilah ushul fiqh, seperti dikemukakan Abdul Karim Zaidan bahwa sadd as-Zariah ialah:

َ. ‫أنهَمنَبابَمن َالوسائَِالوديََإلىَالمفاسد‬
“Menutup jalan yang membawa kepada kebinasaan atau kejahatan”. Sadd as-Zariah merupakan salah satu sumber pokok (ashl) yang secara eksplisit dituturkan dalam kitab-kitab dari madzhab Maliki dan Hanbali. Adapun kitab-kitab madzhab yang lain tidak menuturkannya dengan judul itu. Tetapi secara implisit bab ini dibahas dalam fiqih madzhab Hanafi dan Syafi’i, meski terdapat perbedaan pada bagian-bagian tertentu dan ada ada pula kesamaan pada bagian-bagian yang lain. b) Macam-Macam Zariah Zariah yang menyebabkan mafsadah dapat dilihat, sebagai berikut:23 1) Zariah yang mengarah pada mafsadah, seperti meminum Arak menyebabkan Mabuk. Zariah ini dilarang atau haram. 2) Zariah yang menyebabkan kepada sesuatu yang mubah dan tidak bermaksud sampai haram, tetapi biasanya membawa pada yang haram. Seperti wanita yang kematian suami lalu berdandan sedang dia dalam keadaan iddah.
21 22

Satria Effendi, Ushul Fiqh (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), Hal 172, Cet. III Iyad bin Nahi’ as-Salimy, Ushul Fiqih (Riyadh: Dar al-Tadrumiyah, 2006) Hal. 211, Cet II 23 A. Syafi’i Karim, Ushul Fiqih (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001), Hal. 87, Cet. II MAKALAH | Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabat dan Sadd as-Zariah

Ushul Fiqh 10 Ushuluddin III

3) Zariah yang dibuat pada sesuatu yang mubah tetapi suatu ketika terkadang akan menyebabkan pada mafsadah seperti meminang wanita. 4) Zariah yang dibuat pada sesuatu yang mubah tetapi dimaksudkan supaya sampai kepada mafsadah, seperti nikah dan tahlil. Menurut al-Qurtubi jalan kepada perbuatan yang dilarang ada kalanya: 1) Pasti mendatangkan perbuatan yang dilarang. 2) Tidak pasti mendatangkannya, dan dapat dibagi tiga:  Padanya terdapat kecenderungan mendatangkan perbuatan yang dilarang,  Padanya terdapat kecenderungan tidak mendatangkan perbuatan yang dilarang, dan  Sama-sama kuatnya antara mendatangkan dan tidak mendatangkan perbuatan yang dilarang 3) Mensyaratkan adanya surat kawin untuk sahnya gugatan dalam soal perkawinan nafkah, waris dan lain-lain. c) Dalil-dalil Keabsahan Sadd as-Zariah Pengambilan ‫م‬dalil ‫م‬Zariah ‫م‬beserta ‫م‬ketentuan‫ م‬hukumnya ‫مم‬ditetapkan ‫م‬berdasarkan ‫م‬ al-Quran, diantara dalillnya sebagai berikut:24 Pertama: QS. Al-An’am : 108

ِ ِ ُ َِ ِ ﴾َ۳٩۸َ:َ‫ولَتَسبُّواَالَّذينَيَدعُونَمنَدونَاللَّهَفَيَسبُّواَاللَّهََعدواَبِغَيرَعل ٍََ﴿َسورةَاْنعام‬ ‫َ ً ِ ِم‬ َ ُ ُ ََ
Artinya: Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. Kedua: QS. Al-Baqarah : 104

ِ ِ ﴾َ۳٩٥َ:‫يَاَأَيُّهاَالَّذينَآمنُواَلَتَقولُواَراعنَاَوقُولُواَانظُرنَاَواسمعُواَ﴿َسورةَالبقرة‬ َ َ َ َ َ ُ َ َ َ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa'ina", tetapi Katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah".25
24 25

M. Abu Zahrah, Ushul Fiqih (Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 2011), Hal 440, Cet. XIV Raa 'ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. di kala Para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa'ina Padahal yang mereka katakan ialah Ru'uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar Perkataan Raa'ina dengan Unzhurna yang juga sama artinya dengan Raa'ina. MAKALAH | Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabat dan Sadd as-Zariah

Ushul Fiqh 11 Ushuluddin III

Sedangkan, hadis-hadis nabi yang menerangkan tentang zariah cukup banyak, antara lain:  Nabi muhammad SAW mencegah para sahabatnya membunuh orang-orang munafik yang dengan terang-terangan menyebarkan fitnah dikalangan kaum muslimin saat terjadi bencana. Sebab membunuh mereka merupakan zariah (perantara) yang menyebabkan Nabi dikatakan “membunuh para sahabanya”.  Nabi Muhammad SAW melarang pernuatan menimbun harta. Beliau bersabda:

ِ ِ ٌََ َ ََ َََََُِّ َ َََ ََََ ‫ل تحتكر إلَخاطئ‬
Artinya: “tidak berbuat menimbun harta kecuali orang yang berbuat salah”. Penimbunan harta merupakan zariah yang menyebabkan terjadinya kesulitan perekonomian masyrakat, selain menimbun harta itu sendiri memang haram hukumnya.  Nabi Muhammad SAW melarang orang yang mengutangi, menerima hadiah dari orang yang berutang agar hal tersebut tidak mengarah kepada perbuatan Riba dimana peneriam hadiah itu dianggap sebagai ganti dari bunga.  Nabi Muhammad SAW melarang memotong tangan pencuri pada masa perang yang tidak bergabung dengan orang-orang (kaum) musyrikin. Oleh karena itu, Nabi mencegah panglima perang menerapkan hukum had.  Para ulama salaf as-Shalih dari kalangan sahabat memberikan hak warisan kepada perempuan yang ditalak ba’in oleh suaminya pada saat sakit yang membawa kematiannya agar perceraian itu tidak menjadi zariah (perantara) bagi terhalanginya Si Istri dari mendapatkan bagian warisan.

Wallhu A’lam bi as-Shawab Sekian !!!

MAKALAH | Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabat dan Sadd as-Zariah

Ushul Fiqh 12 Ushuluddin III

Daftar Pustaka
As-Salimy, Iyad bin Nahi’. Ushul Fiqih, Riyadh: Dar al-Tadrumiyah, 2006, Cet II

Effendi, Satria. Zein, Muhammmad. Ushul Fiqh, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005, Cet. III Hanafie, Ahmad. Ushul Fiqh, Jakarta: Widjaya, 1980, Cet VII
Karim, A. Syafi’i. Ushul Fiqih, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001, Cet. II

Khallaf, Abdul Wahab. Ilmu Ushul Fiqih, Jakarta: Rineka Cipta, 1990, Cet. I Zahrah, M. Abu. Ushul Fiqih, Jakarta: PT. Pustaka Firdaus, 2011, Cet. XIV

Info:
Teman-teman yang berbahagia, kritik dan sarannya dapat melalui akun email berikut (rul.19bs1@gmail.com) Mudah-mudahan segenap partisipasinya dapat menjadi zariah yang baik dan bermanfaat bagi kita semua. AMIN !

Terima kasih

MAKALAH | Syar’u Man Qablana, Mazhab Sahabat dan Sadd as-Zariah