You are on page 1of 12

Judul Pengarang Edisi Penerbit Tahun Terbit

: Filsafat Bahasa Semiotika dan Hermeneutika : Prof. Dr. Kaelan, MS :I : Paradigma, Yogyakarta : 2009

Jumlah Halaman : 364 + viii

RESENSI BUKU DOSEN PENGAMPUH

:

DR. MANSUR AKIL, M. Pd. DR. MULIATI, M. Pd.

¶hakikat ada· dan pertanyaan-pertanyaan fundamental lainnya dapat dijelaskan denga menggunakan metode analisis bahasa. vagueness (kesamaran). ¶kebaikan·.selain berfungsi simbolik. ambiguity (ketaksaan). Bahasa memiliki sifat vagueness karena makna yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya. penuangan emosi manusia serta merupakan sarana pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya. Metafisika adalah salah satu cabang filsafat di samping cabang-cabang lainnya. inexplicitness (tidak eksplisit). Tradisi ini oleh ahli sejarah filsafat disebut sebagai ¶Filsafat Analitik·. 1964:6). bahasa juga memiliki fungsi ¶emotif· dan ¶afektif·. Penjelasan secara verbal tentang aneka warna bunga mawar. merupakan alat komunikasi manusia. Akan tetapi dalam kenyataannya bahasa memiliki sejumlah kelemahan dalam hubungannya dengan ungkapan-ungkapan dalam aktifitas filsafat. Kata ¶orang tua· misalnya. yang .PENDAHLUAN Hubungan bahasa dengan masalah-masalah filsafat telah lama menjadi perhatian para filsuf. bahkan hal ini telah berlangsung sejak zaman Yunani. Sebagai contoh problem filsafat yang menyangkut pertanyaan. antara lain. dapat berarti ¶bapak-ibu· ataupun orang yang memang sudah tua. Ambiguity berkaitan dengan ciri ketaksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan. hiponimi. melainkan memiliki makna yang sifatnya non-empiris. yaitu bersifat ¶multifungsi·. contex-dependence (tergantung pada konteks) dan misleadingness (menyesatkan). maupun polisemi juga menjadi faktor kesamaran dan ketaksaan bahasa. Selain itu adanya sinonimi. Aristoteles menamakan metafisika sebagai filsafat yang pertama. ¶kebenaran·. Bahasa pada hakikatnya merupakan suatu sistem simbol yang tidak hanya merupakan urutan bunyi-bunyi secara empiris. ¶kewajiban·. ¶keadilan·. Dengan demikian bahwa bahasa adalah sistem simbol yang memiliki makna. Suatu perubahan terpenting terjadi ketika para filsuf mengetahui bahwa berbagai macam problem filsafat dapat dijelaskan melalui suatu analisis bahasa. (Alston. Kesamaran dan ketaksaan bahasa tersebut disamping merupakan kelemahan bahasa untuk aktivitas filsafat juga sebaliknya justeru kelebihan bahasa manusia. yang berkembang di Eropa terutama di Inggris pada abad XX. tidak akan setepat dan sejelas pengamatan secara langsung tentang aneka bunga mawar tersebut.

kesempurnaan. kualitas. Kesimpulannya adalah terdapat hal-hal yang bersifat metafisik. terdapat 14 buku tanpa nama dan ia menyebut empat belas karya tersebut dengan ¶buku-buku yang datang sesudah fisika·. Keberadaan aksiden tergantung dan terlekat pada substansi yang meliputi: 1) Kuantitas. 2) Kualitas. secara etimologis istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani ¶episteme· yang berarti pengetahuan. yaitu yang menyangkut perubahan dinamika segala sesuatu yang ada dan yang mungkin terjadi. watak dan kebenaran pengetahuan manusia. segala sesuatu di dalam alam semesta ini berada dalam suatu waktu tertentu. hal itu dikarenakan substansi memiliki kuantitas. 8) Keadaan. yang ada secara keseluruhan bersangkutan dengan sebab-sebab terdalam. (Bagus. kapan sesuatu itu berada dan kapan sesuatu itu tidak berada kembali. 3) Aksi. menyangkut penerimaan perubahan yang dikaitkan dengan sesuatu yang lain.membahas tentang hakikat realitas. bentuk dan berat sehingga menempati ruang tertentu. Secara etimologis istilah metafisika berasal dari bahasa Yunani ¶ta meta ta physica· yang secara harfiah di balik fisika atau di balik hal-hal yang bersifat fisik. Untuk itu Aristoteles menyebutnya dengan istilah ¶sofia dan teologi· (Steenberghen. kesempurnaan. tempat tertentu. setiap hal termasuk benda senantiasa memiliki hubungan dengan sesuatu yang lainnya. segala sesuatu di alam semesta ini mengambil ruangan di mana sesuatu itu berada. Epitemologi adalah salah satu cabang filsafat yang pokok. 4) Passi. yang ada yang tidak ada di dunia fisik. Bilamana dirinci persoalan-persoalan epistemologi meliputi bidang sebagai berikut: . 7) Waktu. 6) Tempat. dan sembilan aksidensia. Andronikus menemukan bahwa sesudah karya-karya Aristoteles mengenai fisika. yaitu unsur fisis dari segala sesuatu yang meliputi luas. berkaitan dengan aksidensia sifat-sifat terutama sifat-sifat yang dapat ditangkap oleh indera (untuk substansi yang memiliki kuantitas). Berdasarkan bidang pembahasannya epsitemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan manusia yang meliputi sumber-sumber. 1970:8). yaitu bagaimana sesuatu itu berada di tempatnya. kualitas. bagaimana sesuatu itu berada di samping sesutu yang lainnya. Aristoteles menjelaskan tentang 10 kategori yaitu meliputi substansi yang merupakan hakikat dari segala sesuatu yang bersifat fundamental. prinsip konstitutif dan tertinggi dari segala sesuatu. 1991:18). 5) Relasi. Dalam buku-buku ini ia menemukan pembahasan mengenai realitas. 9) Kedudukan.

yang menyatakan bahwa suatu pernyataan dianggap benar bilamana pernyataan itu memiliki kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Dalam ranah logika dan penalaran. Kesesatan karena bahasa itu biasanya hilang atau berubah kalau penalaran dari satu bahasa disalin ke dalam bahasa yang lain. Kesesatan karena aksen atau tekanan Dalam ucapan tiap-tiap kata ada suku kata yang diberi tekanan. bahasa juga mengalami probel. (Titus. yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataanpernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Berdasarkan analisis problema dasar epistemologi tersebut maka dua masalah pokok sangat ditentukan oleh formulasi bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan pengetahuan manusia yaitu sumber pengetahuan manusia yang pengetahuannya meliputi pengetahuan apriori dan aposteriori. (3) Pragmatis. (Suriasumantri. (2) Korespondensi. Contoh: . maka kurang perhatian terhadap tekanan ucapan dapat mengakibatkan perbedaan arti dan kesesatan penalaran. Terdapat tiga teori kebenaran dalam epistemologi. 1984:20). dan kalau ada dapatkah kita mengetahuinya? Hal ini semuanya merupakan problema penampilan terhadap realitas. kesesatan itu akan hilang sama sekali. dapat mengakibatkan kesesatan dalam penalaran. Berikut beberapa kesalahan dalam bahasa. Ketidaksamaan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat. (2) Apakah watak dari pengetahuan itu? Adakah dunia yang reak du luar akal manusia. yaitu: (1) Koherensi. yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung dalam pernyataan itu berkorespondensi atau berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh pernyataan tersebut.(1) Apakah sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang. Kalau penalaran itu diberi bentuk lambang. (3) Apakah pengetahuan kita benar (valid)? Bagaimana kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Hal ini merupakan problema kebenaran pengetahuan manusia. Perubahan tekanan dapat membawa perubahan arti. karena itu lambang-lambang dalam logika diciptakan untuk menghindari ketidakpastian arti dalam bahasa. 1984:55-59). Selain dalam pengetahuan apriori peran penting bahasa dalam epistmologi berkaitan erat dengan teori kebenaran. dan bagaimana kita dapat mengetahui? Hal ini semua merupakan problem asal pengetahuan manusia.

Kalau dalam penalaran sebuah arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya atau sebaliknya. Pembahasan tentang lingkup inilah filsafat memiliki keterkaitan erat dengan linguistik. Keempat. sehingga artinya menjadi bercabang. yaitu bidang semantik. Lingkup lain filsafat bahasa adalah berkenaan dengan penggunaan dan fungsi bahasa. mahasiswanya atau mejanya? Berdasarkan paparan di atas maka pembahasan filsafat bahasa meliputi masalah sebagai berikut: Pertama. Apa yang paling depan. Jadi: tiap pagi pasukan mengadakan buah Kesesatan karena term ekuivok Term ekuivok yaitu term yang mempunyai lebih dari satu arti. bahkan lingkup pembahasan ini telah lama . berkenaan dengan teori makna dan dimensi-dimensi makna. selain masalah-masalah tersebut di atas. tidaklah tepat bilamana lingkup pembahasan filsafat bahasa itu berkaitan dengan filsafat analitik. oleh karena itu salah satu bidang filsafat bahasa adalah untuk memberikan analisis yang adekuat tentang konsep-konsep dasar dan hal ini dilakukan melalui analisis bahasa. filsafat bahasa ² sebagaimana cabang-cabang filsafat lainnya ² membahas hakikat bahasa sebagai objek materia filsafat. maka terjadilah kesesatan penalaran. Kesesatan karena arti kiasan (metaphor) Ada analogi antara arti kiasan dengan arti sebenarnya. terjadilah kesesatan karena arti kiasan. Contoh: Mahasiswa yang duduk di atas meja yang paling depan. Apel itu buah.Tiap pagi pasukan mengadakan apel. Contoh: Sifat abadi adalah sifat Tuhan. Jadi: Joko adalah mahasiswa yang memiliki sifat Tuhan. Kesesatan karena amfiboli (amphibolia) Ampiboli terjadi kalau konstruksi kalimat itu sedemikian rupa. salah satu tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep (conceptual analysis). Kalau dalam satu penalaran terjadi pergantian arti dari sebuah term yang sama. yaitu pembahasan tentang bahasa dalam hubungannya dengan penggunaan bagi tindakan manusia. Kedua. artinya terdapat kesamaan dan ada juga perbedaan perbedaannya. Ketiga. Joko adalah mahasiswa abadi.

Semua pertikaian tentang kebenaran atau ketepatan (orthotes). (Parera. Karena hal ini merupakan tradisi maka dapat dilanggar dan dapat berubah dalam perjalanan zaman. Austin yang membedakan bahasa atas tindakan dalam menggunakan bahasa. Kaum naturalis dengan tokohnya seperti Cratylus dalam dialog Plato mengatakan bahwa semua kata pada umumnya mendekati benda yang ia tunjuk. Antara lain hakikat bahasa secara ontologis sebagai dualisme bentuk dan makna. pertanyaan. Hal ini nampaknya mirip dengan konsep J. Adapun Georgias membedakan tentang gaya bahasa yang dewasa ini dikenal dalam studi bahasa secara luas. 1987:173). doa. Bahasa bukanlah pemberian Tuhan. dan undangan. Protagoras salah satu tokoh kaum sofis Athena membedakan tipe-tipe kalimat atas tujuh tipe yaitu. Pendapat yang menyatakan bahwa bahasa adalah bersifat alamiah (fisesi) yaitu bahwa bahasa mempunyai hubungan dengan asal-usul. hakikat bahasa sebagai substansi dan bentuk. laporan. Sebaiknya kaum konvensionalis berpendapat bahwa makna bahasa diperoleh dari hasil-hasil tradisi. Protagoras menyatakan bahwa manusia adalah pusat semesta.L. 1977:42). Dalam defenisi meeka tentang kebijaksanaan (sophia).ditekuni oleh para filsuf. (Cassirer. narasi. retorika menduduki tempat sentral. perintah. yaitu ¶retorika·. KAJIAN FILSAFAT TENTANG BAHASA Perhatian para filsuf terhadap bahasa nampaknya semakin kental. jadi ada hubungan antara komposisi bunyi dengan apa yang dimaksud. istilah dan kata menjadi sia-sia dan berlebihan. dan manusia adalah segala-galanya. 2002: 22). sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tak dapat diganti di luar manusia itu sendiri dan karena itu tak dapat ditolak. bukan hanya untuk menyampaikan gagasan-gagasan atau pikiran saja. tapi hanya untuk membangkitkan emosi manusia. . tapi lebih mendorong agar manusia melakukan suatu tindakan. nature atau fisei ataukah bahasa itu bersifat konvensi atau nomos. Dalam dialog Plato pendapat ini diwakili oleh tokoh yang dikenal saat itu Hermogenes. kebiasaan-kebiasaan berupa ¶tacit agreement· yang artinya ¶persetujuan diam·. dan lain sebagainya. Tugas bahasa bukanlah untuk merefleksikan benda-benda. Kaum sofis menemukan pendekatan baru yang lebih sederhana untuk bahasa manusia. dan kemudian muncul persoalan filosofis yaitu apakah bahasa dikuasai oleh alam. untuk itu mereka mengembangkan cabang pengetahuan baru. jawaban. (Kaelan. melainkan bahasa bersifat konvensional.

1984: 74-78). artinya bahwa gagasan-gagasan atau ide itu harus dapat dibedakan dengan ide-ide lain. Sistematika pikiran dimulai dari objek yang sederhana sampai pada pengertian yang lebih kompleks. Bertolak dari keraguan metodis bahwa tidak ada yang diterima sebagai sesuatu yang benar. Hanya satu hal yang tidak dapat diragukan Descartes yaitu bahwa cogito ergo sum ¶aku berpikir maka aku ada·. sehingga ditemukan kepastian. 1984:17). (Bakker. Akal bersifat pasif pada waktu pengetahuan didapat. b. 1987: 171). Materi adalah suatu kemungkinan belaka untuk menerima suatu bentuk (Bertens. Bila pengandaian ini bersumber pada teori bahasa maka diperlukan suatu upaya pemecahannya. untuk mencapai kebenaran yang kedap dengan keraguan dapat dilakukan dengan metode: a. Hanya pemikiran yang jelas dan terpilah yang dapat mengajar secara sempurna tentang hakikat segala sesuatu melalui pengertian-pengertian secara langsung dan jelas. melainkan dalam bendabenda jasmani sendiri. Oleh karena itu. Menurut Descartes yang dipandang sebagai pengetahuan yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah. Plato mengatakan hubungan antara simbol dengan objeknya haruslah natural tidak semata-mata konvesional. Tinjauan maasalah yang lebih universal. Akal tidak melahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri. Semua bahan yang diteliti dibagi dalam sebanyak mungkin bagian. Menurut John Locke seagala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih dari itu. 1989: 15). Aristoteles mengemukakan pemikiran filosofisnya bahwa terdapat sesuatu yang tetap akan tetapi tidak dalam suatu dunia ideal. Yang diketahui pikiran secara langsung dan tanpa melalui perantara adalah dirinya semata-mata. sedangkan hal-hal diluar diri diketahui secara tidak langsung. Dalam persoalan ini Plato mengemukakan doktrin onomatopoeia (Cassier. Tanpa hubungan natural seperti itu.Menganggapi kondisi kacau balau akibat kelicinan kaum sofis ini. Sokrates merasa terpanggil untuk meluruskannya dengan suatu metode ¶dialektis-kritis·. d. Pengamatan inderawi tidak memberikan keterangan tentang hakikat dan sifat-sifat dunia di luar kita. namum diperolehnya dari luar . Proses dialektis kritis dalam hal ini mengandung pengertian ´dialog antara dua pendirian yang bertentangan atau merupakan perkembangan pemikiran dengan memakai pertemuan antar-ideµ (Titus. c. Filsuf yang membuka cakrawala abad modern adalah Rene Descartes sehingga ia layak mendapat gelar ¶bapak filsafat modern·. suatu kata dalam perbendaharaan bahasa manusia tak akan dapat dipahami.

untuk membedakan antara form dan content Saussure mencontohkan misalnya setiap hari kita menaiki kereta api Parahayangan Bandung-Jakarta sehingga kita katakan bahwa kita menaiki kereta api yang sama setiap hari. Sehingga semiotika juga dapat dikatakan sebagai disiplin yang menyelidiki semua bentuk komunikasi dengan menggunakan tanda (sign) berdasarkan pada sign system (code) (Sergers. Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi. Signifer (penanda) dan signified (petanda). karena boleh jadi susunan gerbong dan lokomotifnya berubah. dan makna adalah hubungan antara suatu objek atau ide dan suatu tanda (Littlejohn. Semula akal semacam secarik kertas yang putih bersih ¶as a white paper· tanpa tulisan dan seluruh isinya berasal dari pengalaman inderawi (Bertens. Petanda adalah gambaran mental. semantic level (tingkatan semantik) dan pragmatic level (tingkatan pragamatik). agar setidaknya kita dapat memiliki pegangan. Dengan tanda-tanda kita mencoba mencari keteraturan di tengah-tengah dunia yang serba beragam ini. yaitu: a. semiotika deskriptif (descriptive) dan semiotika terapan (applied). 2004:19). pikiran atau konsep. Kurniawan. segala sesuatu.akal melalui indera (Hadiwijono. 1989: 51). Form and content (bentuk dan materi/isi). 2000:4). dalam arti dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi. melainkan juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes. 2001: 180). penanda adalah bunyi atau coretan yan bermakna. Nauta membedakan menjadi tiga tingkatan yaitu syntactic level (tingkatan sintaktik). Semiotika atau semiologi menurut Barthes. (Bertens. Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri. Dengan kata lain. Berdasarkan tingkatan hubungan semiotika. tidak lain adalah wadah kereta api tersebut. Menurut Ferdinand de Saussure sedikitnya ada lima hal dalam semiotika. pada prinsipnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity). tetapi pada dasarnya kita menaiki kereta api yang berbeda. 1983: 36). tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda dengan sebuah ide atau petanda. (Sobur. 1988:179. b. SEMIOTIKA Istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani ¶semeion· yang berarti ¶tanda· atau ¶seme· yang berarti penafsiran tanda (Cobley dan Jansz. 1996:64). 1999:4). Apa yang ¶tetap· sehingga kita katakan kita naik kereta api yang sama. . 2001:53). Berdasarkan lingkup pembahasannya semiotika dibedakan menjadi semiotika murni (pure). memaknai hal-hal.

Synchronic and diachronic (sinkronik dan diakronik). baik berupa dokumen hukum. karena kata padi terbedakan dari kata rice. tinta dan sebagainya. sedangkan diakronik adalah sebaliknya. tidak lain adalah diffrensiasi sistematis yang ada antara setiap kata dengan kata-kata lain. terlepas dari system dimana unsur itu berfungsi. studi bahasa yang memperhatikan deskripsi perkembangan sejarah (waktu). contoh sederhana. kitab suci. HERMENEUTIKA Frederich Schleiermacher (1768-1834) berpendapat bahwa semua karya. ¶berbaring· atau ¶karpet·. Kemudian jika digabungkan seluruh kata akan menghasilkan rangkaian yang membentuk sebuah sintagma (kumpulan tanda yang berurut secara logis). 2004:49). Sehingga kata padi tidak persis sama dengan kata rice dalam bahasa Inggris. d. system terlebih dahulu musti dilukiskan tersendiri menurut prinsip sinkronis. Malalui cara ini. Jika langue mempunyai objek studi sistem atau tanda atau kode. Saussure mengatakan lingustik komparatif-historis harus membandingkan bahasa sebagi system. Langue and parole (bahasa dan tutur). Maka satu elemen tertentu-kata ¶kucing·. (Sobur. dan kombinasi tanda) (Sobur. Perbedaan yang memisahkan satu kata dengan kata lainnya itulah yang menjadi identitas pada kata tersebut. tapi disamping itu terdapat parole yang mencakup bagian bahasa yang sepenuhnya bersifat individual (bunyi. Semua teks tertulis termanifestasikan melalui bahasa. ´seekor kucing berbaring di atas karpetµ. ¶kucing· bisa dikatakan memiliki hubungan paradigmatik (hubungan yang saling menggantikan) dengan ¶singa· dan ¶harimau·. Kata kalam. Jika kita mengambil sekumpulan tanda. namun secara konseptual kata tersebut dibedakan dengan buku. 2004:48). menurut Saussure linguistik harus memperhatikan sinkronik sebelum menghiraukan diakronik. objek yang tidak tergantung pada materi tanda yang membentuknya disebut langue. Tak ada manfaatnya mempelajari evolusi atau perkembangan satu unsur bahasa. oleh karena itu bilamana prinsip- . misalnya. Syntagmatic and associative (sintagmatik dan paradigmatik). atau karya sastra pada hakikatnya sama. realisasi aturan-aturan. menjadi bermakna sebab ia memang bisa dibedakan dengan ¶seekor·.sementara isinya berubah-ubah. yaitu bahasa yang hidup atau bahasa yang sebagaimana terlihat dalam penggunaannya. c. e. Oleh sebab itu. yaitu pemahaman merupakan masalah pokok semua bacaan. maka parole adalah living speech. Sinkronik adalah studi bahasa tanpa mempersoalkan urutan waktu. Artinya bahwa padi bukanlah diferensiasi sistem arti dalam bahasa Inggris. Lalu persoalannya yang membuat suatu kata berbeda dalam phonic dan conceptual form-nya? Saussure mengatakan bahwa suatu kata distinctive form-nya atau bentuk khasnya. dibedakan menurut suaranya dengan kata salam dan malam. kertas.

Interpretasi nampaknya niscaya berupa suatu proses yang melingkar. suatu seni untuk menentukan atau merekonstruksi suatu proses batin. Akan tetapi bagaimana halnya bilamana yang dikatakan itu sebagai pembimbing pemikiran kitaµ (Heidegger. Kemudian sebaliknya keseluruhannya hanya dapat ditangkap lewat bagianbagiannya. Pengetahuan tersebut harus bersifat gramatikal kebahasaan serta bersifat sejarah. ´Semenjak seni berbicara. maka dituntut adanya suatu latarbelakang pengetahuan. Menurut Schleiermacher ´bukan aku yang berpikirµ. tapi ¶objective geist· yang berpikir dalam diriku. yaitu setiap bagian dan suatu karya sastra misalnya dapat ditangkap lewat keseluruhannya. ´Objective geistµ bereksistensi dalam komuniasi manusia. Dengan pengetahuan tersebut kita mendekati tugas interpretasi.prinsip pemahaman melalui bahasa dapat dirumuskan. Hal ini memang tidak menampakkan apa-apa selama yang kita dengar adalah kalimat yang diungkapkan lalu kalimat itu diuji dengan logika. maka sebenarnya bahasa tidak mengatakan apa-apa. sebab dengan demikian bahasa akan benar-benar berupaya untuk menampakkan ¶das sein·. 1962:24). justeru tidak menunjukkan hakikat bahasa yang sesungguhnya. Tugas hermeneutika menurut Dilthey adalah untuk melengkapi teori pembuktian validitas interpretasi agar mutu sejarah tidak tercemari oleh pandangan-pandangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. ´Kalau dilihat dari penampakannya saja. Berkata atau mengungkapkan yang sesungguhnya adalah memberitahukan. Oleh karena itu hakikat bahasa ditunjukkan dengan berpikir dan berkata atau mengungkapkan sesuatu. Sebelum interpretasi yang sesungguhnya dapat dimulai. karena dengan demikian. Oleh karena itu dalam suatu analisis teks. 1977:77). . maka terwujudlah hermeneutika umum. yang ada mengenai lingkungan munculnya karya dan bahasa yang dipakai dalam karya tersebut. Hubungan antarpersonal dalam kehidupan merupakan sesuatu yang fundamental bagi keberadaan manusia. memahami proses batin penulis teks adalah bukan sesuatu kemustahilan. maksudnya agar kita mempunyai alat dalam mempertimbangkan karya. maka bebicara hanya merupakan sisi luar dari berpikir dan hermeneutika adalah merupakan bagian dari seni berpikir itu sehingga bersifat filosofis (Schleiermacher. Hermeneutika adalah proses kejiwaan. Martin Heidegger mengatakan. ekspresi dan pemakaian bahasa. Menurut Heidegger bahasa tidaklah mungkin diformulasi dengan logika yang ketat. dan seni memahami berhubungan satu dengan yang lain.

isi serta nilainya. Setelah menimba gagasan dari Hegel dan Husserl. Tulisan akan menghilang ketika ucapan akan mencapai kesempurnaannya. harus dibedakan antara siapa yang melihat dengan dari sudut mana pohon itu dilihat. karena ucapan itu makna yang tertunda kehadirannya sudah . (Poespoprodjo. Sudah menjadi suatu keyakinan umum bahwa penulisan abjad menghadirkan ucapan dan sesaat kemudian hilang dibalik kata-kata yang diucapkannya (Derrida. maka akan selalu timbul resiko. menurutnya memerlukan waktu berabad-abad (Derrida. Di dalam berpikir dan berkata. Tulisan dibatasi oleh bahasa yang diucapkan. sehingga membuatnya menjadi terbuka berpikir dan mengungkapkan suatu kata adalah ¶sein lassen· (membicarakan peristiwa ada). Husserl telah menujukkan perbedaan antara ¶noesis· (pikiran) dengan ¶noema· (yang dipikirkan). sampailah pada pandangannya. 1987:90). Derrida dengan mengutip berbagai macam pendapat para filsuf. Sebab seorang tukang kayu dengan seorang pematung akan mempunyai pandangan yang berbeda tentang pohon yang dilihatnya itu. Derrida berkeyakinan bahwa meskipun orang belum mengucapkan kata-kata. Lalu bagaimana kita menghindarkan ¶ketidakkelihatannya· hukum-hukum dan aturan-aturan tersebut. komposisinya dan aturan permainannya. namun juga dapat menjadi saksi dari yang tidak hadir dan yang belum dapat terkatakan. namun tulisan sudah siap untuk dicurahkan. Jacques Derrida ingin menunjukkan bahwa bahasa tidak lain adalah intensionalitas. bahwa secara ontologis tulisan mendahului ucapan. 1972:36). Untuk membuka kedok penyamaran susunan tersebut. 1967:44). maka akan terciptalah ruang yang dibutuhkan bagi penampakan atau tampilnya ¶das sein·. 1972: 70). Yang mendahuli tulisan daripada ucapan hanyalah yang berasal dari alam. Bahasa dan pikiran adalah ruang tempat terjadinya peristiwa ¶das sein· atau ¶ada·. Hukum dan aturan-aturannya tidak boleh tersembunyi di balik rahasia yang sulit dipecahkan. bukan dari waktu. dan akan sepenuhnya ditampilkan dalam pemindahan sistem penulisannya dan segera hadir pada subjek yang mengucapkannya. Menurut Derrida tulisan adalah barang ¶asing· yang masuk ke dalam sistem bahasa (Derrida.menampakkan atau menujukkan ¶das sein·. Derrida menyatakan bahwa sebuah teks tidak akan mrupakan teks jikalau dalam pandangan sekilas tidak menyembunyikan hukum-hukum. Teks tersebut harus selalu kelihatan seakan-akan sulit dimengerti. Hukum dan aturan-aturan itu tidak boleh keliahatan rahasia hukum dan aturan-aturan itu terlalu cepat diketahui oleh akal. dan pada ucapannya itu tulisan memperoleh arti. Tulisan dapat mejadi jejak yang bisu. Seperti misalnya seseorang melihat sebuah pohon.

Namun makna ucapan pembicara ditunda dulu sampai ucapan itu selesai. Bahkan di balik kata-kata yang diucapkan sudah terdapat logos yang menentukan unsurunsur tulisan. . namun pada masa lalunya dan menentukan kehadirannya melalui pertaliannya dengan sesuatu yang lain dan bukan dengan dirinya sendiri. Konsep ini kemudian dipindahkan ke dalam ucapan atau kata yang diucapkan yang mengikuti aturan-aturan atau kaidah-kaidah tata bahasa dalam suatu bahasa. Untuk dapat berbicara kita harus membedakan kata-kata. Sebuah interval harus berada di antara yang ada (hadir) dan yang tidak ada (tidak hadir). agar supaya makna tampil dalam konteks saat ini (Derrida. masa depan atau dengan masa sekarangnya yang telah tergambarkan. Oleh karena itu dalam berbicara atau percakapan terdapat penantian harapan akan makna semacam itu serta arti yang datang dan pergi.terdapat di dalam tulisan. ia membentuk konsep di dalam bahasa yaitu logos yang mengandaikan makna. Hal ini mengingatkan kita pada logos atau akal pikiran. Logos atau kata-kata konseptual itu dihasilkan oleh bahasa. jejaknya ditemukan tidak hanya pada masa yang akan datang. 1972:13). sehingga akhirnya orang memahami pesan yang terdapat di dalam sebuah ucapan dari suatu proses komunikasi bahasa. Adapun yang muncul sebagai yang menampakkan diri dan berhubungan dengan hal-hal berikut ini mempertahankan tanda unsur yang lampau dalam dirinya sendiri dan membiarkan dirinya dilipat oleh tanda pertaliannya dengan masa yang akan datang. Derrida mengatakan bahwa gerakan makna tidak akan mungkin bila setiap unsurnya tidak ¶hadir· atau tampil. walaupun adanya mendahului bahasa. Sebab jikalau seseorang berpikir. bukan pula dengan masa lalu.