You are on page 1of 8

IDEOLOGI PENDIDIKAN: SEBUAH PENGANTAR

IDEOLOGI PENDIDIKAN: SEBUAH PENGANTAR

ACAPKALI pendidikan selalu diperdengarkan ditelinga kita, dengan demikian, pendidikan menempati kompentensi yang cukup tinggi dalam menyelesaikan berbagai problem sosial yang berkembang di masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa betapa penting pendidikan bagi keberlangsungan spesies manusia. Bahkan Rasul Muhammad sendiri menyatakan bahwa "carilah ilmu mulai dari kandungan sampai ke liang lahat". Hal ini tentunya membawa implikasi logis bagi dinamika dan keberlangsungan pendidikan itu sendiri.Atas dasar argumentasi diatas, tulisan ini, sedikit mencoba memaparkan akar muasal pendidikan tersebut, dengan harapan dari tinjauan arkeologis-genealogis-meminjam istilah Michael Faucoult-akan ditemukan sebuah pengertian mendasar tentang makna pendidikan itu sendiri. Lebih dari itu, juga mencoba untuk merumuskan ide dasar dari perkembangan kecenderungan-kecenderungan yang ada dalam dunia pendidikan. Kata pendidikan berasal dari bahasa Yunani, yaitu "Paedagogus" berdasar pada pangkal kata "pais", yang berarti perkataan yang berhubungan dengan anak. kata Dalam perkembangan sejarah dan sejalan dengan keadaan masyarakat dan kebudayaan, arti pendidikan terus berubah-ubah. Hadi Supeno dalam bukunya yang berjudul "Pendidikan dalam Belenggu Kekuasaan" menyebutkan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian, pendidikan berarti usaha untuk melanggengkan budaya yang ada, kepada generasi penerus serta upaya mempertahankan status quo, yakni tetap bertahannya nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Pendapat ini kemudian diargumentasikan sendiri oleh Supeno. Ia memberikan gambaran bahwa pendidikan sebenarnya harus mampu menolong atau membantu proses peserta didik dalam menemukan jati dirinya. Pendidikan harus mampu menemukan ke-berdikari-an baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Dari sini diharapkan pendidikan tidak lagi sebagai sebuah proses penyadaran setengah hati. Pendidikan tidak lagi asal-asalan, melainkan pendidikan-menurut J. Sudarminta-adalah usaha yang dilakukan secara sadar oleh pendidik melalui bimbingan, pengajaran, dan latihan untuk membantu peserta didik

yakni paradigma fungsional dan pardigm sosialisasi. Menurut pengalaman masyarakat di barat. kedua. kebodohan dan mendorong perubahan sosial serta untuk memeratakan kesempatan dan pendapatan. Berbeda dengan Supeno maupun Sudarminta. . Peran pertama merupakan fungsi politik pendidikan sedangkan dua peran yang lainnya merupakan fungsi ekonomi. mengembngkn kompetensi individu. melatih kemampuan dan keahlian. Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam pembangunan nasional muncul dua paradigma yang menjadi kiblat pendidikan. sikap hidup dan ketrampilan hidup pada salah satu ataupun beberapa pihak.mengalami proses pemanusiaan diri kearah terciptanya pribadi yang dewasa susila. Paradigma fungsional melihat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan disebabkan karena masyarakat tidak mempunyai cukup pendidikan yang memiliki pengetahuan. Muhaimin dalam bukunya "Paradigma Pendidikan Agama Islam" memberikan cakupan yang lebih luas tentang pengertian pendidikan yaitu sebagai aktivitas dan fenomena. Sejalan dengan paradigma fungsional. Perkembangan lebih lanjut muncul sebuah tesis human investment. yang menyebutkan bahwa investasi dalam diri manusia lebih menguntungkan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan juga mengambil peran strategis guna menyiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan. paradigma sosialisasi melihat peranan pendidikan dalam pembangunan adalah. lembaga pendidikan dengan sistem persekolahan merupakn lembaga utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. dan menanamkan sikap modern pada individu yang diperlukan dalam proses pembangunan. kemampuan serta sikap modern. hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh John C. Sedangkan pendidikan sebagai fenomena adalah sebuah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya adalah berkembangnya suatu pandangan hidup. Disisi lain pendidikan juga sering diidentikkan perannya dengan memasyarakatkan ideologi dan nilai-nilai sosio-kultural suatu bangsa. sikap hidup. dan ketrampilan hidup baik yang bersifat mental maupun sosial. Pendidikan sebagai aktivitas merupakan upaya yang secara sadar dirancang untuk membentuk seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup. memiliki economic rate of system yang lebih tinggi dibandingkan investasi dalam bidang fisik. Bock dalam "Education and Development : A Conflic Meaning" (1992). pertama.

Paedagogik selain bercorak teoritis juga bercorak praktis. pendidikan harus diperluas secara besar-besaran dan menyeluruh kalau suatu bangsa menginginkan kemajuan. dengan berdasarkan pada tata cara ilmiahrasional bagi pengujian dan pembuktian gagasan. Dikatakan landasan. Dengan semakin banyaknya warga masyarakat yang memiliki kemampuan. Oleh karena itu. apabila melahirkan pemikiranpemikiran yang teoritis mengenai pendidikan.kompetensi yang tinggi tersebut diperlukan untuk meningkatkan produktifitas. Ketiga. Max Rafferty dalam salah satu tulisannya menyebutkan bahwa pendidikan yang sesungguhnya adalah upaya penumpukan pengetahuan yang besar yang ditambahkan ke dalam warisan para pemikir dan praktisi dari generasi ke generasi. Seorang guru bahasa inggris. Pendidikan menuntut keapaadaan penyampaian. Dari pengertian diatas dapatlah diidentifikasi bahwa pemikiran-pemikiran filosofis tersebut . Disamping itu. dan jangan mengajarkan omong kosong tentang bagaimana cara bersulang yang baik dengan menggunakan bahasa inggris. meningkatkan kemampuan warga masyarakat. dan dikatakan hubungan bila berbagai pemikiran mengenai pendidikan memerlukan iluminasi dan bantuan penyelesaian filsafat. harus mengenal tatabahasa luar dalam. pendidikan harus mengajarkan bagaimana memecahkan persoalan-persoalan praktis melalui penerapan proses-proses penyelesaian masalah secara individual maupun kolektif. berdasarkan paradigma sosialisasi ini. sedangkan yang praktis menunjuk pada bagaimana pendidikan itu harus dilaksanakan. misalkan. akan meningkatkan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Paedagogik sebagai ilmu pokok dalam pendidikan dan sesuai dengan jiwa dan isinya sudah barang tentu memerlukan landasan-landasan yang berasal dari filsafat atau setidak-tidaknya mempunyai hubungan dengan filsafat. Bagi kaum liberalis pendidikan diartikan sebagai usaha untuk melestarikan dan meningkatkan mutu tatanan sosial yang ada dengan cara mengajarkan pada setiap anak-anak bagaimana cara mengatasi masalah-masalah kehidupannya sendiri secara efektif. Ilmu pendidikan atau paedagogik adalah ilmu yang membicarakan masalah-masalah umum pendidikan secara menyeluruh dan abstrak. Dalam arti rinci pendidikan harus berupaya untuk menyedikan informasi dan ketrampilan yang diperlukan siswa untuk belajar sendiri secara efektif. Untuk yang teoritis diutarakanlah hal-hal yang bersifat normatif.

lantas memberikan sumbangn yang cukup signifikan bagi perkembangn metodologi pendidikan. jawaban itu bukan saja otoritatif. Dengan demikian sah. atau pada agama. lebih dari itu. tidak mengandung makna ganda. berbeda pula simpulannya. jika muncul banyak aliran-alitan baik dalam dunia filsafat maupun lebih khusus lagi yang berkembang dalam dunia pendidikan. Pada umumnya fundamentalisme menerima jalur penalaran yang dapat diikhtisarkan menjadi lima titik dasar. Kedua. Ketiga. jawabanjawaban yang disediakan oleh intuisi/iman sudah cukup bagi siapapun yang berhasrat hidup secara baik. jawaban-jawaban itu pada dasarnya bersandar pada kewenangan dari luar (eksternal). Dengan demikian pendidikan bagi kaum fundamentalis bertujuan untuk membangkitkan kembali dan meneguhkan kembali cara-cara lama yang lebih baik dibanding sekarang. yakni memberikan informasi dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan dalam tatanan sosial. yakni dengan mengamini segala macam bentuk pewahyuan . Sedangkan yang kelima. orang tidak hanya perlu kembali pada kepastian-kepastian kebijaksanaan umum. ada jawaban otoritatif terhadap seluruh problem kehidupan yang memiliki arti penting. Adapun ciri-ciri umumnya adalah bertumpu pada pengetahuan sebagai sebuah alat untuk membangun kembali masyarakat yang mengikuti pola keunggulan moral tertentu yang . Berikut adalah beberapa aliran yang berkembang dalam dunia pendidikan plus dengan thesasinthesa dan antithesa yang melatarbelakanginya. melainkan langsung mengena pada persoalan. Keempat. Dikarenakan tarikan metodologi selalu berlatar empiris yang berbeda. bahwa untuk kehidupan yang baik. Fundamentalisme Fundmentalisme adalah posisi etis yang menganggap bahwa kehidupan yang baik terwujud dalam ketaatan terhadap tolok ukur keyakinan dan perilaku yang bersifat intuitif dan atau yang diwahyukan. dus. entah itu dalam wahyu keagamaan yang diterima oleh para nabi atau orang suci. tidak mendua dan bisa langsung dimengerti oleh orang awam. tidak membutuhkan tafsiran khusus ataupun campur tangan pakar. Sedangkan tujuan institusional pendidikannya antara lain untuk membangun kembali masyarakat dengan cara mendorong agar kembali ke tujuan-tujuan yang semula. Pertama.

Dan bahwa kebenaran-kebenaran itu berlaku bagi ummat manusia pada umumnya dan tidak merupakan milik yang unik dari individu maupun kelompok manusia tertentu saja. maka penekanan kembali pada masa silam sebagai orientasi korektif (petunjuk ke arah pembetulan) merupkan hal yang mustahaq bagi kaum fundamentalisme. ia ingin mempromosikan perkembangan masyarakat kontemporer yang seutuhnya dengan cara memastikan terjadinya perubahan yang perlahan-lahan dan bersifat organis yang sesuai dengan keperluan-keperluan legal intitusional suatu kemapanan. Secara umum tujuan yang ingin dicapai oleh intelektualisme pendidikan adalah bahwa menganalisa. Karena pendidikan adalah pewarisan moral. Bahwa kebenarankebenaran itu selalu ada. Bahwa kebenaran adalah intrinsik. Selain itu konservatisme juga bertujuan untuk mendorong pemapanan dan penghargaan bagi lembaga-lembaga. Intelektualisme Secara umum intelektualisme meyakini bahwa ada kebenaran-kebenaran tertentu yang sifatnya mutlak dan kekal. para pendidik konservatif sangat menghargai masa silam. . mengajarkan pada terdidik bagaimana cara menalar. Adapun ciri umumnya adalah bahwa pengetahuan adalah sebuah tujuan akhir yang ada dalam diri manusia. tradisi-tradisi dan proses-proses budaya yang sudah teruji oleh waktu. Berciri "orientasi ke masa kini". berpusat dari tujuan asli. yang melampaui keadaan-keadaan tertentu yang telah ada. yang melampaui ruang dan waktu tertentu. tujuan atau asaran pendidikan adalah sebagai sarana pelestarian dan penerusan pola-pola kemapanan sosial serta tradisi-tradisi.dahulu pernah ada. meneruskan dan melestarikan kebenaran. Manusia adalah kodrat atau hakekt yang sifatnya universal. Konservativisme Bagi kaum konservatif. namun terutama memusatkan perhatiannya pada kegunaan dan pola-pola belajar mengajar didalam konteks sosial yang ada sekarang ini. meneruskan dan menyalurkan kebijaksanaan-kebijaksanaan dari masa silam yang bertahan mutlak dilakukan.

Pengetahuan adalah alat yang digunakan untuk memecahkan masalah praktis. Pertama. Individu adalah pribadi yang unik. Kedua. Liberalisme Prinsip kaum liberalisme pendidikan adalah mengangkat perilaku personal yang efektif. pemikiran efektif (kecerdasan praktis)-kemampuan menyelesaikan problema-problema personal secara efektif-adalah perangkat yang mesti digunakan. dengan berdasar pada metode ilmiah-rasional. Namun bila ditelusuri lebih jauh. Ketiga. supaya berhasil dalam tatanan soial yang ada. Dalam hal ini. Ini berarti orang dapat mengetahui sesuatu setelah ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu. Adapun ciri-ciri umum dari liberalisme pendidikan antara lain. dan manusia adalah tuan dari ciptaannya". mengungkapkan filsafatnya dengan berkata "Tuhan adalah pencipta alam. Pada tahun 1710 Vico dalam De Antiquissima Italorum Sapienta. Dialah cikal bakal konstruktifisme. pendidikan adalah pengembangan efektifitas personal. Ia menjelaskan bahwa "mengetahui" berarti "mengetahui bagaimana cara membuat sesuatu". seorang epistemolog dari Itali. yang mampu menemukan kepuasan terbesar dalam mengungkapkan dirinya menanggapi kondisi yang berubah.termasuk rasa hormat yang tinggi. yang berpusat pada tatacara-tatacara pemecahan masalah perseorangan maupun kelompok dengan menekankan pada situasi dan masa depan yang dekat sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhan dan persoalan-persoalan individu sekarang. kaum konservatif menganggap bahwa meneruskan informasi dan ketrampilan yang sesuai. tak lebih hanya sebagai sarana untuk pembelajaran bagi siswa tentang bagaimana cara menyelesaikan persoalan praktis melalui penerapan tatacara-tatacara pemecahan masalah secara personal maupun kelompok. gagasan pokok konstruktifisme sebenarnya sudah dimulai oleh Giambatissta Vico. Manusia mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka . Konstruktivisme Menurut Von Glasersfeld (1988) pengertian konstruktif kognitif muncul pada pertengahan abad ke-19 dalam tulisan Marx Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Dalam dunia pendidikan konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi manusia. adalah merupakan tujuan lembaga pendidikannya. Dengan demikian.

pengetahuan tidak bisa begitu saja ditransfer dari seseorang kepada seseorang lainnya.dengan objek. Essensialisme Essensialisme mempunyai tinjauan mengenai pendidikan yang berbeda dengan progressifisme. maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang oleh progressifisme merupakan bagian-bagian utama dari kemapanan sebuah peradaban. kemajuan (progress) ini menjadi perhatian kaum progressifisme. melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Pendidikan yang bercorak otoriter ini dapat diperkirakan mempunyai kesulitan untuk mencapai tujuan-tujuan (yang baik). Padahal semua itu adalah ibarat motor penggerak manusia dalam usahanya untuk mengalami kemajuan (progress). Oleh karena itu. karena pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi. Tiap orang harus mengkonstruksi pengetahuan sendiri. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena. sehubungan dengan hal itu. . karena kurang menghargai dan memberikan tempat yang semestinya kepada kemampuan-kemampuan dalam proses pendidikan. fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadikan timbulnya pandangan yang berubah-ubah. fenomena dan lingkungan sekitar. Dalam proses ini keaktifan seseorang yang ingin tahu amat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Bagi kaum konstruktifisme. essensialisme menganggap bahwa dasar pijak semacam ini kurang tepat. Progressivisme Progressifime mempunyai konsep yang didasari oleh kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam keberlangsungan manusia itu sendiri. tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Kalau progressifisme menganggap bahwa banyak hal yang mempunyai sifat yang serba fleksibel dan nilai-nilai yang dapat berubah serta berkembang. progressifisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter. Dalam pendidikan.

Motif perennialisme dengan mengambil jalan regresif tersebut. pendidikan haruslah bersendikan pada nilai-nilai yang dapat mendatangkan stabilitas. zaman memerlukan pangkalan dan arah tujuan yang jelas. Dengan demikian pandangan tentang belajar hendaklah berdasarkan atas faham bahwa manusia pada hakekatnya adalah rasionalistis. Perennialisme mengambil jalan regresif. Ibarat kapal yang akan berlayar. Pendidikan yang bersendikan tata nilai-nilai yang bersifat demikian ini dapat menjadikan pendidikan itu sendiri kehilangan arah. Dengan demikian. melainkan bagaimana agar nilai-nilai tersebut mempunyai kedudukan vital bagi pembangunan kebudayaan. Perennialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan pangkalan yang demikian ini merupakan tugas yang pertama-tama dari filsafat dan filsafat pendidikan. karena mempunyai pandangan bahwa tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada prinsip umum yang telah menjadi dasar tingkah laku dan perbuatan manusia. kebingungan. Belajar menurut perennialisme adalah latihan mental dan disiplin jiwa.pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu. Dengan demikian. . Maka. Perennialisme Perennialisme memandang bahwa keadaan sekarang adalah zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan. belajar tidak lain adalah mengembangkan metode berpikir logis. Agar dapat terpenuhi maksud tersebut nilai-nilai itu perlu dipilih agar mempunyai tata yang jelas dan yang telah teruji oleh wktu. dan kesimpangsiuran. deduktif dan induktif sekaligus. bukan hanya nostalgia pada nilai-nilai lama untuk diingat atau dipuja. prinsip essensialisme menghendaki agar landasan-landasan pendidikan adalah nilai-nilai yang essensial dan bersifat menuntun.