Mirena

Beberapa kali saya membahas mengenai alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau yang lebih familiar dengan sebutan IUD. IUD (intra uterine device) merupakan alat kontrasepsi yang disimpan di dalam rahim yang berfungsi untuk menghalangi pertemuan sperma dan sel telur. Pada IUD copper T terdapat lilitan tembaga. Nah lilitan tembaga tersebut akan menjadi jalan bagi sperma untuk menuju saluran telur. Dengan menempuh beratus-ratus lilitan, diharapkan sel sperma akan melemah sebelum mencapai sel telur yang bersemayam di saluran telur. Sehingga seorang perempuan yang menggunakan IUD akan terhindar dari kehamilan. IUD ini bertahan untuk jangka waktu yang sangat lama, antara 8-10 tahun. Di Indonesia IUD cukup populer sebagai alat kontrasepsi yang aman dan bisa dipakai untuk jangka waktu yang cukup lama. Alat kontrasepsi ini merupakan alat kontrasepsi non hormonal. Artinya tidak mengandung hormon sehingga aman dipakai sesiapa saja yang ingin memilihnya. Tapi tahukah anda bahwa selain IUD non hormonal, di luar negeri sudah beredar luas tentang IUD yang mengandung hormon? Ya, selain IUD non hormonal, ada juga IUD yang mengandung hormon. Dengan menggunakan nama komersial MIRENA, IUD ini merupakan alat kontrasepsi yang mengandung hormon progestogen. Dalam Wikipedia, Mirena ini disebut sebagai Intra Uterine System (IUS) yang memiliki silinder hormone yang mengeluarkan progestin (hormon progestogen sintetis) atau disebut juga levonorgestrel. Pada tulisan ini, saya hanya akan memperkenalkan saja bahwa selain IUD non hormonal, ada juga IUD hormonal yang dikenal dengan nama mirena. Saya membaca dari Wikipedia mengenai mirena ini dengan tujuan agar anda, para pengunjung blog ini, juga mengetahui bahwa ada IUD hormonal bernama mirena.

Alat kontrasepsi mirena. diunduh dari wikipedia

memerlukan waktu sekitar 12 bulan setelah pencabutan. antara 8-10 tahun. Jika pada IUD kembalinya kesuburan adalah segera setelah IUD diangkat. . Masih menurut Wikipedia.Mirena harus dipasangkan oleh tenaga medis yang sudah terlatih. Hal ini lebih mirip seperti cara kerja implant yang juga sama-sama mempengaruhi suasana lendir rahim menjadi lebih kental. Efek sampingnya sama seperti pada pil suntik atau implant. Jika dibandingkan dengan IUD non hormonal. Mirena dimasukan ke dalam rahim dengan menggunakan teknik tertentu untuk menghindari masuknya bakteri. cara kerja mirena ini adalah dengan mengeluarkan hormon progestin sintetis bernama levonorgestrel sebanyak 20 mikrogram setiap harinya. Sama halnya seperti pada saat pemasangan IUD. Karena kontrasepsi mirena ini adalah kontrasepsi yang mengandung hormon maka anda perlu mengetahui adanya efek samping jika mirena ini tidak cocok dipakai oleh anda. Tidak menyakitkan karena biasanya yang melaksanakannya adalah dokter atau tenaga medis yang sudah terlatih. Jika IUD non hormonal (selanjutnya disebut IUD) bekerja untuk jangka waktu yang lama. Akibatnya sel sperma yang masuk ke dalam rahim akan mengalami kesulitan untuk bergerak karena suasana lendir rahim yang lebih mampat. Yakni berpengaruh pada metabolisme tubuh sehingga akan memberi pengaruh pada bobot tubuh anda. Mirena ini memang tidak terkenal di Indonesia mengingat biaya pemasangan dan harga alatnya yang sangat mahal. maka pada mirena. Mirena ini hanya bekerja sampai 5 tahun saja. Hormon ini selanjutnya akan memberikan pengaruh terhadap lendir rahim sehingga lebih kental. pemasangan mirena ini paling baik pada saat pertengahan siklus haid atau pada saat rahim sedang berdilatasi (mengembang). Pelaksanaan pemasangan dan pencabutan alat kontrasepsi mirena ini mirip seperti pemasangan dan pencabutan IUD. baru kesuburan dapat kembali. maka harus menunggu sekitar satu tahun untuk mengembalikan kesuburan rahim. tentu saja saya berpendapat lebih baik anda memilih IUD mengingat biaya yang lebih rendah dan efek samping yang lebih sedikit dibanding mirena ini. Jadi jika anda memasang mirena dan merencanakan kehamilan.

Untuk pertanyaan seputar mirena ini sebaiknya dipending dulu hingga saya memperoleh sumber yang banyak hehehe. . Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Prof Dr M Anwar MMed Sc SpOG(K) mengungkapkan. IUD yang baik harus memenuhi beberapa kriteria. alat kontrasepsi terus berkembang. mudah diangkat dari rahim. Dari masa ke masa. tidak mudah lepas. Salah satu solusinya adalah melalui pemakaian alat kontrasepsi yang dianggap sebagai upaya jitu menekan ledakan populasi penduduk. alat kontrasepsi masa kini kian disempurnakan dengan menambahkan manfaat nonkontrasepsi yang ditujukan bagi kenyamanan penggunanya. murah. IUD ditanamkan di dalam rahim dan bekerja menghambat pembuahan melalui sistem mekanik. Salah satu alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yang mengalami perkembangan cukup signifikan adalah IUD atau dikenal dengan spiral. Pada 1970. Kendati sama-sama dipasang di dalam rahim. mudah dikontrol. (HS) Sumber tulisan perencanakan kehamilan merupakan bagian penting dalam membentuk keluarga bahagia dan sejahtera. dan memiliki efek samping minimal. Di samping fungsi utama sebagai pencegah kehamilan. IUD mengalami perkembangan dengan munculnya IUDs. Antara lain mampu mencegah kehamilan.

IUS berupa rangka plastik berbentuk T dengan ukuran 3." sebut Anwar. Hal ini telah dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan pada wanita di Eropa dan China. melalui tiga aksi. Upaya menemukan formula kontrasepsi hormonal yang lebih nyaman terus berlanjut dan memunculkan terobosan baru yang disebut LNG-IUS (Levonorgestrel. Tidak seperti IUD biasa. LNG-IUS ini dapat dipakai hingga 5 tahun. Batang plastik berselubung membran silikon inilah yang melepaskan LNG secara perlahan. Diketahui bahwa LNG-IUS dapat menurunkan kejadian menorrhagia hingga 87 persen (setelah pemakaian 3 bulan). Secara fisiologis. yakni 20 mikrogram per hari. LNG-IUS juga mengeluarkan hormon secara berkala dan dapat dipakai hingga lima tahun. Dengan menggunakan IUS. Kontrasepsi dalam Rahim plus Hormon. "Efektivitas LNG-IUS dalam mencegah kehamilan hampir sama dengan sterilisasi wanita. pengguna tak perlu khawatir sistem hormon tubuhnya terganggu karena LNG bekerja pada tataran lokal (area rahim). Setiap hari. yaitu mencegah penebalan dinding rahim sehingga tidak optimal sebagai tempat menempelnya hasil pembuahan. bukan sistemik tubuh. IUS merupakan salah satu jenis kontrasepsi hormonal yang dilepaskan di dalam rahim. serta menginaktivasi sperma. dan 95 persen (setelah pemakaian 6 bulan). Dengan perdarahan haid yang minimal. Dengan demikian. progestasert memancarkan 65 mikrogram hormon. yaitu levonorgestrel (LNG). dan akan habis dalam jangka setahun. secara empiris LNG-IUS juga terbukti mampu menekan gejala perdarahan dan mengurangi risiko infeksi radang panggul. LNG-IUS. pemakai LNG-IUS dapat terlindungi dari kondisi anemia yang disebabkan darah haid berlebih atau dikenal dengan menorrhagia. mengentalkan lendir leher rahim untuk menghalangi penetrasi sperma. KONTRASEPSI INTRAUTERINE SYSTEM (IUS) Yuyun Setyorini Poltekkes Surakarta Jurusan Keperawatan . SELAIN mengurangi perdarahan saat haid.alat kontrasepsi yang disebut progestasert ini mengandung hormon progesteron sehingga dikategorikan alat kontrasepsi hormonal." papar Anwar dalam diskusi media tentang LNG-IUS yang diselenggarakan Bayer Schering Pharma di Hotel Melia Purosani Yogyakarta. tetapi dapat dilepas kapan pun jika pemakainya berniat hamil lagi. IUDs terbukti dapat mengurangi perdarahan saat haid. Hanya. Hormon yang terdapat dalam IUS merupakan turunan (derivate) dari hormon progestogen. hormon langsung didistribusikan di dalam rahim.Intra Uterine System). yang dikelilingi silinder pelepas hormon. Dokter yang menjabat Ketua Komisi Etis di RS Dr Sardjito Yogyakarta ini mengungkapkan.2 sentimeter. keduanya memiliki kelemahan yang sama.2x3. belum lama ini. yaitu harus diganti setiap tahun. "Efek kontrasepsi LNG-IUS berdasarkan efek lokal dari LNG di rongga rahim.

mengatakan bahwa kontrasepsi yang memberikan dampak panjang adalah alat kontrasepsi dalam rahim dan 53% wanita menggunakan kontrasepsi AKDR yang mengandung hormonal (levonorgestrel). Efektifitas penggunaan IUS lebih dari 99%. 2006). Selain itu IUS akan membuat mukus atau lendir serviks menjadi lebih pekat. Mekanisme Kerja Intrauterine System Mekanisme kerja IUS berbeda dengan IUD. Berkurangnya perdarahan menstruasi tersebut secara rata-rata mencapai 75%. dan bahkan bisa lebih bagi mereka yang sedang mengalami menorrhagia. IUD dan yang terbaru adalah IUS atau intrauterine system. . sehingga dinding uterus tidak mengalami proliferasi. Kegagalan penggunaan IUS rata-rata 1 sampai 2 per 1000 orang yang menggunakan kontrasepsi IUS. Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Herbert (2005).Program keluarga berencana muncul ditujukan untuk mambatasi dan menjarangkan kelahiran. pil. Pelepasan IUS ke dalam uterus berjalan sangat lambat yaitu 20 µg per hari. Intrauterine system adalah suatu alat yang berbentuk T (T-shaped) terbuat dari bahan plastik. Hal ini juga berefek pada ovarium dan proses ovulasi. tissue KB. suntik. Alat ini dipasang di dalam uterus. Banyak diantara klien perdarahan menstruasinya relatif berkurang dan bahkan sampai dengan amenorrhea. Rata-rata hampir 20% pengguna AKDR dengan hormon ini akan mengalami amenorhea. sehingga kondisi ini akan menghambat atau menghentikan laju sperma yang akan masuk ke dalam uterus. Alat kontrasepsi dengan beragam metode sangat berperan disini. Sejalan dengan itu banyak produsen alat kontrasepsi menyediakan berbagai macam alat kontrasepsi mulai dari kondom. Intrauterine system merupakan alat kontrasepsi yang memadukan keunggulan alat kontrasepsi hormonal dengan IUD. sehingga perempuan yang memakai alat ini merasa nyaman dan kualitas hidupnya pun meningkat (Affandi. Akibatnya perdarahan siklus haid yang dikendalikan oleh perimbangan kadar hormon estrogen dan progesteron tidak terjadi secara fisiologis. panjangnya 32 mm dan berisi hormon progesteron (levonorgestrel). IUS melepaskan hormon progesteron (levonorgestrel) sedangkan IUD melepaskan tembaga (Cu). Alat kontrasepsi dalam rahim ini lebih populer disebut Levonorgestrel Intrauterine System (LNG-IUS). Namun kini program keluarga berencana lebih banyak manfaatnya untuk meningkatkan kualitas hidup para perempuan. Terjadi gangguan proses pematangan proliferasi sekresi sehingga menimbulkan penekanan terhadap endometrium dan dapat menyebabkan terganggunya proses implantasi karena endometrium tetap berada dalam fase decidual atau progestational. Tugas seorang perempuan tidak hanya hamil tetapi ia juga harus bisa menentukan kapan ingin hamil dan berapa jumlah anak yang diinginkan.

6. 4. Fertilitas atau kesuburan akan kembali setelah IUS dilepas. Pada satu sampai lima pengguna IUS tidak terjadi menstruasi. Lama kelamaan menstruasi menjadi berhenti (tidak seperti penggunaan kontrasepsi IUD). Nyeri berkurang. Jumlah darah yang dikeluarkan pada saat menstruasi semakin sedikit dan hari menstruasi semakin pendek. Efek samping dari penggunaan kontrasepsi IUS adalah dapat terjadi tender breast. Aman digunakan untuk ibu yang menyusui karena kadar hormonnya rendah. 3. berat badan meningkat.Keuntungan menggunakan kontrasepsi IUS 1. 5. tetapi ada beberapa hal yang mungkin terjadi: 1. pemasangan kontrasepsi ini dapat menyebabkan kerusakan pada uterus (jarang). dan inflamasi pada pelvic (jarang terjadi). mungkin terjadi pada tiga bulan pertama tetapi biasanya akan menurun. perubahan emosi. 2. . bengkak. 3. Kerugian menggunakan kontrasepsi IUS Sebagian pengguna kontrasepsi IUS tidak memiliki masalah. Perdarahan irreguler. Kemungkinan terjadi risiko infeksi pada uterus atau pelvik kecil. pertumbuhan kista pada ovarium. Jangka waktu penggunaan IUS selama lima tahun. penggunaan kontrasepsi ini jarang lepas tanpa diketahui. Kerusakan. 2. Setelah 12 bulan pemakaian darah menstruasi semakin terang dan lamanya hanya satu hari dalam satu bulan. Expulsion.