P. 1
Kembang Turi

Kembang Turi

|Views: 33|Likes:
Published by ali farros

More info:

Published by: ali farros on Feb 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/16/2012

pdf

text

original

Budi Sardjono

KEMBANG TURI
Budi Sardjono Editor Elis Widayati Tata Sampul Ferdika Tata Isi Bambang Pracetak Antini, Dwi, Yanto Penerbit DIVA Press (Anggota IKAPI) Sampangan Gg. Perkutut No.325-B Jl. Wonosari, Baturetno Banguntapan Jogjakarta Telp: (0274) 4353776, 7418727 Fax: (0274) 4353776 E-mail: redaksi_divapress@yahoo.com Blog: www.blogdivapress.com Website: www.divapress-online.com

Daftar Isi

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Gunung Kidul … 7 Stasiun Tugu … 41 Ledek Dusun Karang Manding … 99 Tanah Wutah Rah … 125 Sepasang Kembang Turi … 155 Tanah yang Sekarat … 251

5

1

Gunung Kidul

“Harga gaplek anjlok.” “Oh ya?” “Harga mete ikut merosot.” “Oh….” “Tapi, harga tanah naik terus. Untunglah banyak orang kaya yang gila, lalu mau membeli tanah di sini.”

7

Budi Sardjono

“Kok malah dituduh gila?” Laki-laki yang ditanya tertawa. Memperlihatkan sebaris gigi emasnya. “Bagaimana tidak gila, Mas? Coba, mereka orang kota. Biasa hidup di kota, naik mobil, semua serba ada. Lha kok sekarang mereka ramai-ramai membeli tanah di sini. Apa yang mereka harapkan, coba? Gunung Kidul! Gunung Kidul, Mas. Sejak dulu terkenal sebagai daerah miskin.” “Sekarang kan tidak…,” sela seorang pemuda yang duduk di depan lelaki tadi. “Ya, memang. Miskin sekali, tidak. Tapi, apa daerah ini boleh dibilang kaya?”
Tidak ada apa-apa di kota Kecamatan Wonosari. Juga di daerah lain. Darah warganya seolah ikut membeku begitu malam mulai turun.

“Pemuda itu mengangguk-angguk. Ia lalu menyeruput kopi hangat yang masih mengepul. Malam merambat pelan sekali. Angin kemarau yang kering membuat cuaca menjadi dingin. Dan sebentar lagi, kehidupan pasti akan beku.

8

Kembang Turi

Tidak ada apa-apa di kota Kecamatan Wonosari. Juga di daerah lain. Darah warganya seolah ikut membeku begitu malam mulai turun. Untung bagi mereka yang punya pesawat televisi. Bisa duduk di depan kotak ajaib itu, melihat apa yang tersaji. Lalu, nanti, kalau muncul acara yang digemari, yakni lagu-lagu berirama dangdut, darah yang beku itu bisa mengalir. Melihat pakaian para penyanyi tadi, goyang pinggul, serta lirik lagu pemancing khayal berahi, saat itulah mereka bermimpi suatu saat nanti menjadi orang kaya. Hingga siapa tahu bisa ngeloni wanita seksi mirip si penyanyi. Kata orang, wanita secantik dan sebahenol para penyanyi dangdut itu bisa dibeli di kota. Harganya tidak mahal. Lain dengan desa. Memang banyak yang cantik, tapi masih kalah merangsang dibanding para penyanyi dangdut. Laki-laki tadi menyedot rokok kreteknya, mengepulkan asapnya, lalu kembali tersenyum memperlihatkan gigi emasnya. “Dulu, pernah ada yang coba-coba berkebun anggrek di sini. Katanya berhasil. Lalu, orang kota yang kaya dan gila tadi berbondong-bondong memborong tanah di sini untuk membuka usaha yang sama. Hehehe…
9

Budi Sardjono

ternyata gagal semua!” Lelaki itu tertawa. “Lalu, ada yang mencoba beternak domba. Wah, ya yang namanya orang kaya ya, Mas, gila lagi, gagal yang ini, lalu mencoba yang itu. Gagal lagi, mencoba lagi.” “Begitulah seharusnya mental seorang pengusaha, Pak,” celetuk pemuda tadi. “Iya, memang harus begitu. Yang kami herankan, dari mana mereka dapat duit? Coba bayangkan. Bukankah membuka usaha itu tidak sedikit modalnya? Kalau bangkrut, mesti kan rugi besar. Kalau orang seperti saya ini kan bisa gendeng kehilangan modal usaha. Tapi, orang-orang gila itu kok malah pada tertawa. Apa mereka punya mesin cetak uang sendiri tho, Mas?” Pemuda itu tertawa. “Ya tidak begitu. Mereka pun pasti juga merasa sedih. Cuma, sedihnya lain dengan kita.” “Kalau mereka sedih, lalu menangis, maka yang menetes bukan air mata, tapi malah duit. Begitu, kan?” Lelaki itu kembali tertawa. “Ah, semua tadi cuma omong kosong kok ya. Yang jelas, saya ikut senang, Mas… siapa?”
10

Kembang Turi

“Dirman,” ucap pemuda itu menyebut namanya. “Ya. Saya senang Mas Dirman mau membeli tanah di sini. Ya seperti yang tadi pagi saya katakan. Ada dua tempat. Satu di dusun Silo, yang satu di Karang Manding. Yang di Karang Manding tak jauh dari sini. Sudah dilewati jalan aspal. Listrik pun sudah masuk. Cuma harganya ya lain dengan tanah di Silo. Lebih mahal sedikit. Sudah mirip dengan kota, Mas. Ada priayi Solo yang punya rumah di sana. Priayi Yogya juga ada. Malah dua orang. Rumahnya bagus. Gaya spanyolan. Cuma ya….” Dirman mendongak, memberi isyarat bahwa ia ingin tahu lebih lanjut. “Rumah-rumah itu jarang ditempati. Biasanya cuma sebulan sekali. Atau kalau kebetulan lewat sini, ya mampir.” “Mampir bersama keluarganya?” “Ah, Mas Dirman. Seperti tidak tahu saja. Kalau mampir ya bersama… yang biasa diajak mampirmampir begitulah.” Kembali laki-laki itu tertawa.

11

Budi Sardjono

Hanya tinggal dua orang di warung itu. Jalan aspal di depannya sudah sepi. Hanya sekali, dua kali ada mobil angkutan umum lewat. Atau, sepeda motor melaju dengan kencang dan menerbangkan debu. “Kapan Mas Dirman mau melihatnya?” “Emm… harga pastinya berapa?”

“Ah, Mas Dirman. Seperti tidak tahu saja. Kalau mampir ya bersama… yang biasa diajak mampir-mampir begitulah.” Kembali laki-laki itu tertawa.

“Murah, Mas. Cuma tiga puluh ribu per meternya.” “Bisa kurang tho?” “Aduh, Mas Dirman. Saya katakan apa adanya. Besok, Mas Dirman bisa ketemu sendiri dengan pemiliknya. Dulu, tanah itu milik Pak Lurah Karang Manding. Sekarang, orangnya jarang pulang. Terkadang di Klaten, terkadang di Boyolali. Atau, entahlah. Pokoknya, sering ada di mana-mana. Maklum, istrinya memang ada di mana-mana.” “Jadi, siapa yang menunggui tanah itu?”
12

Kembang Turi

“Istri dan anak-anaknya. Sudah diwariskan kok. Mas Dirman tak usah khawatir. Surat-suratnya beres.” “Sudah ada sertifikatnya?” “Oh, belum. Tapi kalau cuma sertifikat, mudah, Mas. Tak sampai tiga bulan sudah bisa keluar. Nanti bersama saya ngurusnya. Saya kenal baik dengan orang-orang dari agraria. Pokoknya beres.” Dirman mengangguk-angguk. Manusia itu di mana-mana sama, pikirnya. Mirip rama-rama yang melihat cahaya. Jika semua urusan sudah menyangkut uang, banyak tangan yang mengulur. Meski buntutnya cuma akan membalik telapak tangan dan minta bagian. Tapi, itulah irama. Atau mungkin malah watak asli masyarakat yang terbiasa terbelit kemelaratan. Pada akhirnya, mereka akan berusaha sebisa-bisanya meninggalkan kemelaratannya itu. Caranya, memburu uang dengan berbagai cara. “Oh ya, malam ini Mas Dirman mau kembali ke Yogya atau menginap di sini?” tanya laki-laki itu penuh selidik. “Di sini juga ada kamar, tidak begitu bagus. Tapi, cukup untuk sekedar beristirahat.
13

Budi Sardjono

Daripada harus bolak-balik Yogya-Wonosari.” “Tidak ada losmen di sini?” “Resminya tidak ada, Mas. Tapi, kami biasa kok menyediakan kamar bagi para tamu. Tidur di sini saja, Mas.” “Saya kembali ke Yogya saja.” “Oh. Sepi ya di sini?” “Bukan itu. Masih ada urusan dengan seseorang di Yogya.”

Manusia itu di mana-mana sama. Mirip rama-rama yang melihat cahaya. Jika semua urusan sudah menyangkut uang, banyak tangan yang mengulur. Meski buntutnya cuma akan membalik telapak tangan dan minta bagian.

“Emm.” Laki-laki tadi mengingsut duduknya. Bola matanya berputar seperti mencari sesuatu. “Nanti saya carikan teman,” ucapnya kemudian, pelan. “Asli, Mas, gadis desa. Biarlah dia menemani Mas Dirman barang semalam. Mau, kan?” Dirman tersenyum. Dia sudah mencium gelagat itu.

14

Kembang Turi

“Bukan sembarangan gadis, Mas. Dia pernah menjadi pesinden. Banyak orang tergila-gila, tapi dia tidak mau atau belum mau terikat dengan lakilaki. Lalu akhirnya, malah dijadikan istri muda pegawai kecamatan. Tak betah. Dan sekarang, hidup sendiri.” “Berarti, sudah bukan gadis lagi?” seloroh Dirman. “Emm, maksud saya, asli gadis desa. Sekarang, statusnya ya janda. Tapi, janda katanya malah disuka?” “Oh ya?” “Ah, Mas Dirman pura-pura ya?” Lelaki itu tak kuasa menahan tawanya. Ia berdiri dan menepuk pundak pemuda di depannya itu. Tepukan penuh perasaan persaudaraan yang hangat. Tapi, jangan ditanya maksud di balik kehangatan semacam itu. “Akan saya panggil sekarang anaknya. Tidak jauh kok rumahnya. Di samping sekolahan. Mas Dirman, tunggu sebentar ya.” “Tidak usah, Pak Manaf. Lain kali saja.” “Ah, kenapa? Bukankah sekali-sekali tak apaapa? Laki-laki di mana-mana sama tho?”
15

Budi Sardjono

“Sama bagaimana?” “Ah, Mas Dirman!” Lelaki itu, Pak Manaf, merangkul Dirman. “Mas Dirman tak usah mikir yang lainlain. Semua saya yang menanggung.” “Lho, apa Pak Manaf tidak....”
Ia berdiri dan menepuk pundak pemuda di depannya itu. Tepukan penuh perasaan persaudaraan yang hangat. Tapi, jangan ditanya maksud di balik kehangatan semacam itu.

“Sudahlah. Untuk memperat tali persaudaraan. Soal tanah, kita lupakan. Yang ada sekarang adalah dua bersaudara. Dua laki-laki. Dan, sama-sama kebutuhannya. Ya, kan?” “Nanti, bagaimana dengan istri Pak Manaf?” tanya Dirman pura-pura. “Sudahlah, Mas Dirman tak usah merisaukan yang lain-lain. Semua bisa diatur. Yang penting, Mas Dirman mau menunggu sebentar saja. Tidak lama kok. Anaknya pasti ada. Tadi sore, saya lihat dia baru saja ke luar dari salon. Mungkin sudah firasat kalau malam ini akan ada tamu istimewa.”

16

Kembang Turi

“Terima kasih, Pak Manaf. Sungguh, bukannya mau menolak kebaikan Pak Manaf. Tapi malam ini, saya janji dengan seseorang.” “Seorang penyanyi dangdut? Hahaha....” “Rekan dagang.” “Baik, baik. Jadi, besok pagi atau siang?” “Mungkin agak siang saja.” “Kita bisa melihat yang di Karang Duwet. Lihat yang di Silo juga sekalian tak apa.” “Yang di Karang Duwet saja.” “Baik, baik. Tapi, kalau besok ada tanah di tempat lain yang juga mau dijual, Mas Dirman juga bisa melihatnya.” Dirman mengangguk-angguk. “Mungkin ada teman Mas Dirman yang mau membeli tanah di sini?” “Nanti dibilang orang kaya gila...” “Ah, Mas Dirman, itu cuma bercanda kok. Sungguh. Lima atau sepuluh tahun lagi, tanahtanah di Gunung Kidul ini bisa melonjak harganya. Di daerah pantai Laut Selatan sana sudah pada
17

Budi Sardjono

bikin hotel dan losmen. Kata Pak Bupati, pokoknya kita tidak boleh meninggalkan tanah kita di sini. Apa pun yang terjadi, kita harus mencintainya. Menggarapnya sebisa mungkin. Cuma, kalau orang ingin segera butuh uang, ya apa boleh buat, dijual saja. Menjual tanah milik sendiri kan tidak melanggar hukum tho, Mas?” “Boleh, boleh. Orang membeli gunung saja tidak melanggar hukum kok. Zaman sekarang ini, Pak Manaf, orang punya duit bisa “Orang membeli gunung saja tidak membeli apa saja. Karena melanggar hukum itu, orang-orang pun boleh kok. Zaman menjual apa saja yang menjadi sekarang ini, Pak miliknya.” Manaf, orang “Termasuk menjual tubuhnya. Iya, kan?” seloroh laki-laki itu sambil mencubit lengan Dirman. “Bukan cuma tubuh. Kalau perlu, harga diri, hati nurani, atau isi kepala.”
punya duit bisa membeli apa saja. Karena itu, orang-orang pun boleh menjual apa saja yang menjadi miliknya.”

Ah, Mas Dirman ada-ada saja.”
18

Kembang Turi

“Terima kasih, Pak Manaf. Sampai ketemu besok siang.” “Saya menunggu dengan senang hati.” Dirman berjalan menuju halaman. Pak Manaf mengikuti dari belakangnya. “Jip baru ya, Mas?” tanya laki-laki itu begitu Dirman membuka pintu jipnya. “Berapa juta sekarang?” “Cuma mobil bekas,” ucap Dirman. “Lho, kok platnya B. Katanya, Mas Dirman dari Semarang?” “Mobil bekas, belinya di Jakarta. Di sana murah.” “Oh. Tapi katanya, kalau tidak hati-hati bisa tertipu.” “Memang di Jakarta terkenal sebagai gudang penipu. Karena itu, Pak Manaf tinggal saja di Gunung Kidul. Di sini kan tidak ada penipu?” “Ah, sama Mas. Di sini juga banyak penipu. Kami kan orang desa. Bodoh-bodoh. Karena itu, sering ditipu. Dikira kita tidak tahu kalau ditipu. Aneh, kan? Mereka menipu, orang yang ditipu sadar kalau dirinya ditipu. Namun, penipu itu
19

Budi Sardjono

pura-pura tidak tahu bahwa kita lagi ditipu. Lho, bagaimana ini jadinya? Penipu menipu orang yang sadar kalau dirinya ditipu. Gendeng! Zaman sudah gendeng!” Dirman menghidupkan mesin jipnya. Suaranya mengeram, memecah kesenyapan malam yang terus merambat secara perlahan itu. “Oke, Pak Manaf. Sampai ketemu besok!” “Ya, Mas Dirman. Terima kasih.” “Hati-hati dengan penipu!” “Ya. Kapan-kapan saya akan ganti menipu para penipu itu!” Pak Manaf tertawa. Jip melaju pelan. Begitu sampai di jalan aspal, melesat menembus pekatnya malam. Pak Manaf menghela napas. Tersenyum sendiri, membalik, dan melangkah pelan. Pintu warung sudah ditutup. Lampu neon di dalam sudah diganti dengan lampu biasa. “Bagaimana, Mas?” sapa seorang perempuan begitu laki-laki itu berdiri di muka pintu. “Berhasil?” “Besok siang, akan datang lagi.”
20

Kembang Turi

“Kira-kira berminat?” “Berminat. Entah kenapa, malah pilih yang di Karang Duwet.” “Ah, pilih yang mana saja biar. Yang penting, kita dapat untung. Kan begitu?” “Iya, iya, pokoknya kita dapat untung. Biar wajahmu makin berseri-seri!” Tangan Manaf mencubit dagu perempuan di depannya itu. Dengan sigap, perempuan itu menangkap tangan Manaf. Digenggam erat, lalu diseret masuk ke dalam.

“Kalau begitu, kita bisa beli video, Mas,” ucapnya begitu keduanya masuk ke dalam kamar. “Bosan nonton acara televisi stasiun Yogya. Tidak ada yang mutu acaranya. Paling cuma ketoprak. Itu pun sekarang yang muncul ketoprakketoprak kelas gombal. Kalau punya video, kita bisa putar film sendiri. Kenapa ya acara TV makin lama makin menjemukan?”
21

“Bosan nonton acara televisi stasiun Yogya. Tidak ada yang mutu acaranya. Paling cuma ketoprak. Itu pun sekarang yang muncul ketoprakketoprak kelas gombal. Kenapa ya acara TV makin lama makin menjemukan?”

Budi Sardjono

“Kok tanya saya. Tanya saja sama yang punya.” Manaf mencopot jaket batik, lalu melempar begitu saja di atas kasur. “Dengan video, kita bisa menonton film-film porno,” ucap perempuan tadi. Ia merebahkan tubuhnya. “Film porno? Kapan kamu melihat?” “Dua bulan yang lalu. Di rumah Bu Mini. Wah, serem!” “Kurang ajar!” desis Manaf. Ia tatap tubuh perempuan yang tergolek itu. “Siapa saja yang nonton? Ada laki-lakinya?” “Ah, kami semua wanita. Pokoknya serem.” “Seremnya bagaimana?” “Ya gayanya!” jawab perempuan itu sedikit geli. “Gaya siapa?” “Gayanya yang main. Kenapa sih kamu goblok sekali?” “Ah, Minten, karena saya belum pernah menonton film porno seperti yang kamu ceritakan.”

22

Kembang Turi

“Maka itu, segera saja beli video. Nanti, Bu Mini sanggup menyewakan filmnya. Mudah kok.” “Jadi dengan video, kita bisa memutar film sendiri?”

“Huh, sebel. Pura-pura. Besok atau kapan? Kita ke Yogya. Pilih video yang bagus. Di sini katanya cuma video bekas yang dijual degan harga baru. Nanti, setelah sampean nonton, saya akan beri servis yang memuaskan. Dengan gaya yang baru. Pokoknya siiip!” “Sungguh, Ten?” Napas Manaf mulai memburu. Ia dekap perempuan bernama Minten itu. “Kenapa tidak? Agar sampean awet muda.” Manaf tersenyum. “Sekarang, saya ingin servismu,” bisik Manaf di telinga Minten. Perempuan itu tetap diam. “Ya? Sekarang?” Dada Manaf berdegup makin cepat. Ada sesuatu yang ingin meledak dalam dirinya. Ledakan yang ingin dilakukan sesegera mungkin. Minten tetap diam. “Ayo, Ten,” ajak Manaf seperti tak sabar.
23

“Kita ke Yogya. Pilih video yang bagus. Di sini katanya cuma video bekas yang dijual degan harga baru.”

Budi Sardjono

“Minggu depan, saya harus jagong di rumah Bu Kamsih,” celetuk Minten sambil menepis tangan Manaf yang mulai berkeliaran ke mana-man. “Yang datang katanya orang-orang terhormat, termasuk Bu Bupati. Saya malu kalau sampai tidak datang. Saya sudah sering ditolong oleh Bu Kamsih.” “Punya hajat apa dia?” tanya Manaf sedikit kesal. “Menyunatkan anak bungsunya. Mosok sampean belum dengar?” Minten dengan cepat menepis tangan Manaf, lalu membalikkan tubuhnya. Kini, keduanya berhadap-hadapan. “Ya, ya, saya juga dengar,” kata Manaf gugup. Setiap kali perempuan itu marah, Manaf selalu gugup menghadapinya. Entah kenapa. “Istrimu tidak diundang?” “Mungkin tidak,” jawab Manaf kesal. “Perempuan kuno. Tahunya cuma sawah, dapur, dan lumpur. Tidak punya pergaulan. Kumpulannya cuma bakul-bakul kaki lima. Pasti tidak diundang.” Manaf menghela napas. Hasrat kelelakiannya yang tadi meledak-ledak dan ingin penyelesaian
24

Kembang Turi

seketika, tiba-tiba mulai surut. Selalu begitu. Daya kelelakian yang dimilikinya itu tak bisa bertahan lama. Apalagi, jika jiwanya dikecewakan atau dibuat kesal. Daya kelelakiannya lalu mirip kerupuk kena air. Lembek untuk kemudian hancur. “Saya mesti datang,” ucap Minten. Kini, ia menengadahkan wajahnya. Kembali Manaf menghela napas. Keringat yang tadi mengucur, kini sudah kering. Seharusnya, keringat itu masih mengucur. Mengucur dari semua pori-pori tubuhnya. Keringat sebagai tanda bahwa tubuhnya diajak bekerja keras oleh sesuatu kemauan yang alami. Kemauan yang dimiliki oleh lelaki. Pelan-pelan, laki-laki itu ingin menghidupkan lagi bara yang sudah padam. Ia menumpangkan tangannya di dada Minten yang membusung. Sebab, dada perempuan itulah

Keringat yang tadi mengucur, kini sudah kering. Seharusnya, keringat itu masih mengucur. Mengucur dari semua poripori tubuhnya. Keringat sebagai tanda bahwa tubuhnya diajak bekerja keras oleh sesuatu kemauan yang alami.

25

Budi Sardjono

yang telah menjerat dirinya. Gumpalan daging yang di mata Manaf sudah menjadi medan magnet. Dan, ia menyerahkan dirinya untuk disedot lalu lekat di situ. Manaf mengakui, di situlah kelemahan dirinya. Kelemahan? Entahlah. Mungkin tidak tepat benar. Yang jelas, daya kelelakian yang dimilikinya bisa menggelegak tiba-tiba begitu melihat wanita dengan dada membusung. Mungkin juga semua laki-laki yang mempunyai selera yang sama dengan dirinya. Ingin menikmati gumpalan daging yang dulu pun pernah dinikmati. Didekap-dekap. Malah siapa tahu, benda itulah bentuk permainan awal yang dikenal oleh setiap anak manusia. Kecuali mereka yang tak pernah menikmati air susu ibunya sendiri. Rugi besar mereka. Karena dalam hidup yang cuma sekali ini, mereka kehilangan saat-saat yang paling membahagiakan. Bisa begitu dekat dengan sang ibu! Kembali, pelan-pelan darah Manaf memanas karena Minten diam saja ketika tangannya mulai menekan. “Bagaimana, Mas?” celetuk Minten. “Bajingan!” umpat Manaf dalam hati.

26

Kembang Turi

“Saya harus hadir di rumah Bu Kamsih,” lanjut Minten datar. “Berapa kamu akan nyumbang?” tanya Manaf serak. Darah yang hampir saja panas itu pelan-pelan menjadi dingin lagi. Gumpalan daging di dada Minten yang biasanya dengan cepat mendidihkan darahnya, tiba-tiba menjadi daging yang dingin dan tak memberi aliran apa-apa. “Berapa kamu akan nyumbang?” ulang Manaf hati-hati. “Bukan uang yang kubutuhkan!” jawab Minten ketus. “Lalu?” “Apa mata sampean tidak melihat?!” Manaf mendengus. Perempuan itu memang judes. Entah kenapa, justru karena kejudesannya, daya tariknya malah makin menjadi-jadi. Manaf menelan ludah. Pelan-pelan, ia bunuh sendiri hasrat kelelakiannya yang kandas di ujung jalan. Tak bisa ia melakukan dengan suasana perang. Yang ia inginkan sebenarnya sikap lemah lembut perempuan itu, sikap manja disertai gelora dahsyat

27

Budi Sardjono

gelegak nafsu keperempuannya. Hal seperti itulah yang selalu ia harap dari Minten. “Bagaimana?” ulang Minten, masih ketus. “Ya, ya,” ucap Manaf pelan. “Apanya yang ya?” “Kau ingin sesuatu, kan?” “Nah, sudah tahu, kenapa masih bertanya? Lalu, kapan?” ucap Minten bagai sebuah sergapan. “Kalau besok berhasil,” jawab Manaf. “Kalau gagal, aku harus gigit jari?” Manaf mendesah. “Kelihatannya berhasil. Priayi tadi sangat berminat.” “Kira-kira dapat berapa?” “Mungkin satu atau dua juta. Tapi, nanti masih harus dibagi-bagi dengan yang lain.” “Hehehe... sisanya masih lumayan, kan?” Minten tersenyum. Ia memiringkan tu28

Manaf mendengus. Perempuan itu memang judes. Entah kenapa, justru karena kejudesannya, daya tariknya malah makin menjadi-jadi.

Kembang Turi

buhnya. Tangannya pelan-pelan menempel di dada Manaf. “Cukup untuk beli gelang dan video?” Tubuhnya ia ingsut. “Cukup tho?” “Heh...,” lenguh Manaf. Darahnya memanas lagi. Matanya terpejam ketika tangan Minten mengelus dagunya. Itulah yang dia harap! Kehangatan, gairah, pelayanan, dan penyerahan sekaligus. Karena itu, ia segera menangkap tangan Minten. “Ayo, sekarang saja,” desah Manaf penuh gelora. “Lho sudah Aneka Safari!” celetuk Minten. Ia melepaskan diri dari dekapan Manaf. Telinganya dipasang. Dari arah ruang tamu, sudah terdengar suara penyiar televisi mengakhiri pembacaan acara untuk besok malam. Sesaat kemudian, penyiar lain sudah memberi tahu dengan suara yang kemeng bahwa acara yang sangat digemari, Aneka Safari, akan segera ditayangkan. Minten berdiri dengan cepat. “Nanti setelah Safari. Apa sampean tidak mau nonton?” Manaf menggeleng. Kesal dan dongkol menjadi satu. Menggumpal di tenggorokannya.

29

Budi Sardjono

“Penyanyinya cantik-cantik. Dan merangsang!” ucap Minten lagi sambil mengancingkan dasternya. “Untuk pemanasan?” Manaf menggeleng. “Ya, sampean tunggu di sini ya? Nanti, saya akan servis sampai klenger. Berapa ronde? Manaf mencoba tersenyum. “Sampai sampean KO!” Minten berlari meninggalkan Manaf yang masih saja tergolek di atas kasur. Sebuah lagu dangdut, masih baru, mendengung dari pesawat televisi di ruang tamu. Manaf menelan ludah. Sial! Perempuan sial! Ah, Minten membawa keberuntungan kok. Sejak perempuan itu lengket dengan dirinya, atau dirinya yang lengket, rezeki datang susul-menyusul. Harga gaplek boleh anjlok. Harga mete boleh merosot. Asal harga tanah terus melambung, itu berarti rezekinya akan mengalir. Gunung Kidul ternyata tak cuma menyimpan duka nestapa dari sebagian warganya yang tinggal berserak di dusun-dusun yang tandus. Gunung Kidul pun lama dikenal melahirkan perempuanperempuan ayu yang banyak diburu para lelaki.
30

Kembang Turi

Banyak melahirkan babu-babu yang tak jarang nasibnya jauh lebih baik dibanding jika mereka tetap ngendon di desa. Tukang bakso? Susuri kota Yogya, Solo, dan Semarang. Tanyai para penjual bakso di situ. Kebanyakan berasal dari Gunung Kidul. Malah konon Jakarta sudah diserbu. Sudah sejak dulu sebenarnya. Dan kini, Gunung Kidul yang dulu sangat tandus dan gersang itu, tampak mulai hijau. Karena itukah lalu banyak orang datang dan mengincar tanah-tanahnya? Silakan, silakan. Semakin banyak orang kota yang kaya dan gila dan mau memborong tanah-tanah di Gunung Kidul, itu pertanda Kini, saatnya kemiskinan itu zaman emas Gunung Kidul ditepis atau hampir tiba. Tak mungkin ditinggalkan sama kemiskinan dipertahankan. sekali. Caranya, Siapa mau hidup miskin terus-menerus? Siapa? Kini, saatnya kemiskinan itu ditepis atau ditinggalkan sama sekali. Caranya, antara lain ya menjual tanah! Dosa? Siapa bilang. Hanya itu yang
antara lain ya menjual tanah! Dosa? Siapa bilang. Hanya itu yang dipunyai oleh masyarakat desa.

31

Budi Sardjono

dipunyai oleh masyarakat desa. Tanah yang luas, tapi tak becus menggarap. Tak punya modal? Biar diberi modal, jika pada dasarnya orangnya goblok, modal itu toh akan amblas. Lebih baik digarap orang lain. Orang yang punya duit. Kalau tak begitu, mana bisa Gunung Kidul maju? Manaf menghela napas. Orang yang mendapat rezeki dengan menjual beli tanah di Gunung Kidul bukan cuma dirinya seorang. Banyak yang lain. Malah di banding yang lain, dirinya boleh dikata sedang menapak ujung jalan. Yang sudah sukses, banyak. Haji Mardan, Pak Kriyo, Marto Kembang, Jumadi Bebek, dan entah siapa lagi. Yang jelas, kini banyak orang punya profesi sama dengan dirinya, menjadi perantara jual beli tanah. Modalnya mulamula kepercayaan, lalu kepintaran. Dan jika perlu, kelicikan. Siapa tidak mau licik, akan diliciki oleh yang lain. Caranya? Manaf tersenyum. Mudah saja memikat orang. Apalagi, laki-laki. Kalau ada laki-laki sendirian keluyuran di Gunung Kidul, tanyai saja apa yang mereka cari. Tanah? Ya, mereka biasanya, pada mulanya, mencari tanah. Tunjukkan di mana ada tanah yang mau dijual. Ajak omong ngalor-ngidul.
32

Kembang Turi

Mula-mula soal harga tanah, kondisi tanah, dan tujuan membeli tanah di situ. Untuk buka usaha perkebunan, peternakan, atau untuk membangun rumah. Setelah mereka lelah diajak bicara, tanyai apa lagi yang ingin dicari. Jawabnya satu dan pasti, perempuan! Apa Gunung Kidul melahirkan perempuan-perempuan yang mudah diajak kencan? Tak seorang pun yang bisa menjawabnya. Buktinya, banyak yang setia dengan suami tercinta. Namun, tidak sedikit yang mudah tergelincir karena godaan uang. Kenapa bisa begitu? Karena sejak kecil, terbiasa hidup miskin! Melihat orang tua begitu susah mencari uang. Nah, ketika ada kesempatan, justru uang mencari mereka, apa kesempatan semacam itu akan dilepas begitu saja? Hanya orang gila yang tidak mau uang. Tapi, orang yang cuma memburu uang, segala-galanya ditakar dengan uang, orang macam itu pun boleh disebut gila pula. Lho, kok begitu? Hidup ini lalu aneh jadinya. Lalu, bagaimana hidup yang baik itu? Manaf menguap. Dari arah ruang tamu, kini terdengar gelak tawa yang tidak begitu lepas. Tawa yang diatur. Itu pasti tayangan lawak. Manaf tersenyum. Repot juga menjadi pelawak. Kalau
33

Budi Sardjono

para penonton sudah tidak bisa tertawa, ternyata ada cara Repot juga tersendiri untuk membikin menjadi pelawak. Kalau para orang tertawa. Yakni, disuruh. penonton sudah Diatur. Kapan saatnya tertidak bisa tertawa, tawa. Kapan saatnya diam. ternyata ada cara Gendeng! Itu bukan lawak tersendiri untuk namanya. Bukan dagelan membikin orang tertawa. Yakni, lagi. Yang namanya dagelan, disuruh. Diatur. orangnya belum ngomong Kapan saatnya saja sudah kelihatan ndagel. tertawa. Kapan Orang lain sudah tertawa saatnya diam. sebelum pancingan untuk tertawa dilempar. Lha sekarang, pelawaknya sudah hampir kehabisan napas, penontonnya belum tertawa. Yang terdengar kemudian, ya itu tadi, tawa yang diatur. Aneh. Semua serba diatur. Ternyata, hidup merdeka itu penuh dengan aturan. Kalau dulu, di zaman penjajahan, yang ngatur itu penjajah. Ya namanya saja bangsa yang dijajah. Semua diatur oleh yang menjajah. Sekarang zaman merdeka, yang mengatur bangsa sendiri. Lho, apa bedanya? Kalau mereka yang mengatur, ya jelas, ada bedanya. Soalnya, mereka bisa membuat aturan sendiri. Sesuai dengan
34

Kembang Turi

kehendak mereka yang mengatur. Lha yang diatur, sama saja. Nasibnya sama. Tetap sebagai kawula cilik yang harus tunduk oleh aturan-aturan. Jangan sekali-sekali melanggar aturan. Bisa gawat. Orangorang desa tahu itu. Berani melanggar, wo…, nasib malang menghadang di depan mata. Bukan cuma untuk dirinya. Bisa sampai tujuh turunan hidupnya bisa celaka. Jadi, yang paling baik, ya menurut saja. Tunduk pada aturan. Laki-laki itu menguap lagi. Rasa kantuk sudah begitu memberati matanya. Yang diinginkan sekarang cuma secepat mungkin menutup mata. Melupakan semua yang dipikirkan tadi. Pusing jika hidup ini dionceki sampai dalam dan jelimet. Penuh teka-teki. Bagai lorong tanpa ujung. Bagai luweng yang ada di bukit-bukit kapur sana. Sekilas tampak seperti mulut sumur. Tapi, dalamnya? Tak seorang pun bisa mengira-ira. Dasarnya, kata orang, adalah kali di bawah tanah. Yang bermuara ke Laut Selatan sana. Namun kali ini, mesti melewati lorong-lorong yang gelap, penuh tonjolan-tonjolan batu karang yang keras dan tajam. Tidak ada orang yang berani masuk luweng sembarangan. Maut taruhannya. Orang yang tergelincir jatuh ke dalam luweng,
35

Budi Sardjono

biasanya sulit ditemukan. Tubuhnya, konon, sudah hancur sebelum jatuh sampai ke dasarnya. Batubatu karang yang mencuat dan menonjol itu sudah meremukkan tubuh orang itu sebelum menyentuh dasar luweng. Atau mungkin, sebagian anggota tubuh itu tersangkut di karang-karang. Sebagian lagi, yang jatuh sampai ke dasar, sudah ditunggui ikan-ikan yang lapar. Apa hidup ini seperti luweng? Penuh lorong gelap, penuh bahaya mengancam, dan penuh tekateki? Sekali lagi, Manaf menguap. Ia menarik selimut. Menutupi semua tubuhnya. Dingin mulai menggigit. Matanya benar-benar ingin istirahat. Terkatup dengan pulas. Melupakan hidup yang seperti luweng. Ketika Minten merebahkan tubuhnya, laki-laki itu sudah mendengkur. Minten tersenyum sebelum dirinya ikut larut dalam kesenyapan. * * * Gunung Kidul, Gunung Kidul, gumam hati Dirman. Jika malam mulai menggelincir, daerah itu menjadi mati. Jalan-jalan sepi. Ada beberapa warung
36

Kembang Turi

di kanan kiri jalan. Hanya warung-warung itulah yang memberi denyut kehidupan malam di Wonosari, bagian dari Gunung Kidul yang mahaluas ini.

Jip melaju pelan. Berkalikali, Dirman menghela napas, menghirup udara malam yang kering dan dingin. Andaikata ia memiliki dua puluh lubang hidung, maka semuanya itu akan ia pakai untuk menghirup angin secara bersama-sama. Angin pegunungan. Pegunungan yang sebagian besar wilayahnya tandus. Bahkan, nyaris sekarat. Hanya terdiri dari bebatuan, hitam, keras, mencuat, dan tajam. Seolah tidak ada daerah lain yang menyamai Gunung Kidul. Lengkap dengan kondisi alam, suasana, juga karakter masyarakatnya. Kapan Gunung Kidul menjadi terkenal karena busung lapar pernah menggasak dengan hebat masyarakat di sana? Dua puluh tahun yang lalu?
37

Pusing jika hidup ini dionceki sampai dalam dan jelimet. Penuh teka-teki. Bagai lorong tanpa ujung. Bagai luweng yang ada di bukit-bukit kapur sana. Sekilas tampak seperti mulut sumur. Tapi, dalamnya? Tak seorang pun bisa mengira-ira.

Budi Sardjono

Dua puluh lima tahun yang lalu? Mungkin sekitar itu. Betapa mengerikan. Tak ada penderitaan yang lebih menyiksa lahir dan batin kecuali kelaparan! Bagaimana mungkin manusia bisa lapar di tanah air sendiri? Di atas tanah yang terbentang begitu luas, di sebuah negeri yang subur, dan orang-orang gagal menghasilkan makanan untuk diri sendiri. Itulah lembaran buruk yang pernah melibas Gunung Kidul. Untunglah, kini semua sudah berubah. Tak ada lagi busung lapar. Gunung Kidul malah mirip dengan gadis yang lagi belajar cara bersolek dengan baik. Di sebuah tikungan, Dirman hampir saja menabrak seekor anjing yang tiba-tiba menyeberang. “Nasibmu masih untung,” gumamnya pelan. Terkadang, nasib manusia tak beda jauh dengan hewan. Kalau lagi celaka, harga manusia bisa lebih murah dibanding harga seekor hewan. Orang boleh saja mendebat. Kenyataan sering berbicara sendiri. Dan, itu sering luput dari perhatian. Jip terus meluncur. Terkadang disalip sepeda motor yang melaju kencang. Atau, truk-truk yang dikemudikan dengan nekat. Tak ada pintu rumah yang masih terbuka. Masyarakat desa biasa
38

Kembang Turi

begitu. Menutup pintu lebih awal. Biasanya, selepas senja. Terkadang, nasib Kalau dulu, mungkin untuk manusia tak beda menghindari angin malam. jauh dengan Atau, karena pemilik rumah hewan. Kalau lagi celaka, harga sudah kelelahan, lalu ingin manusia bisa lebih secepat mungkin istirahat. murah dibanding Tak ada hiburan apa-apa harga seekor kecuali berasyik masuk dehewan. ngan suami atau istri di ranjang. Sekarang? Rupanya tradisi tadi tetap berlanjut meski sudah ada listrik dan pesawat televisi dihidupkan. Pintu tetap tertutup lebih awal. Benarkah kata Pak Manaf bahwa banyak orang mengincar tanah-tanah di Gunung Kidul? Apanya yang menarik? Ketandusannya? Mungkin karena harganya masih murah. Atau, mungkin karena memang semakin banyak orang kaya yang gila! Kemungkinan kedua itu lebih mendekati kebenarannya. Orang-orang yang berduit pada bingung membuang duitnya. Bingung menanamkan kekayaannya itu. Memborong tanah hanyalah salah satu cara mengamankan duit yang
39

Budi Sardjono

mungkin didapat dengan berbagai cara. Entah halal, setengah halal, atau seratus persen haram! Tak ada orang tahu. Apalagi, orang-orang desa. Mereka sudah telanjur silau dengan orang-orang kota yang punya duit itu. Lagi pula, apa urusan mereka mengetahui asal-usul duit itu? Yang penting, tanah mereka laku dan duit yang diperoleh bisa untuk kebutuhan sesuai dengan keinginannya sendiri. Gunung Kidul sedang berubah. Atau, sudah berubah. Menggelinding, menuju ke depan. Entah penuh kepastian, atau asal menggelinding karena ada kekuatan yang mampu menggelindingkannya. Hasilnya nanti? Dirman mendesah. Jalan turun dan penuh dengan tikungan. Jika tidak hati-hati, siapa saja bisa masuk ke dalam jurang. Puluhan tikungan dan tanjakan itu pun bagian dari Gunung Kidul yang berbukit-bukit. Punya daya tarik tersendiri. Punya kenangan tersendiri. Siapa pun yang pernah melewati puluhan tikungan dan tanjakan ini, pasti dengan senang hati menceritakannya kepada orang lain. Itulah Gunung Kidul. []

40

2

Stasiun Tugu

osmen dua tingkat itu persis menghadap ke arah Stasiun Tugu. Dari serambinya yang cuma selebar satu meter, orang bisa melihat kesibukan di peron stasiun. Bisa melihat para bakul yang menggendong tenggok atau keranjang buah-buahan. Melihat para penumpang yang gelisah menunggu datangnya rangkaian kereta api. Juga, melihat rel-rel baja yang basah oleh embun. Barangkali, Losmen Ayem sama terkenalnya dengan kompleks
41

L

Budi Sardjono

Pasar Kembang, kawasan di seberang Stasiun Tugu, tempat puluhan losmen kelas menengah tumbuh di sela-sela rumah penduduk. Dulu dikenal sebagai “Balokan”. Identik dengan daerah “merah”. Balokan, Pasar Kembang, Sosrowijayan, nama yang sama saja. Nama itu menjadi bagian kota Yogya. Sama dengan Stasiun Tugu yang dulu berhadapan langsung dengan Hotel Toegoe. Sama juga dengan Sungai Code yang mengalir hanya beberapa puluh meter dari stasiun. Semua melekat, menjadi warna dan darah kehidupan sebuah kota tua. Sama pula dengan Malioboro, jantung kota. Sama pula dengan keraton, alun-alun, dan lain-lain yang semuanya mencatat sendiri garis riwayat dan sejarahnya. Balokan tempo dulu adalah tempat pelesir para sinyo Belanda. Atau, tempat mampir para KNIL, para pedagang yang harus menginap di Yogya. Bagi para penumpang kereta api, mereka tinggal menyeberang pagar dengan jalan yang memisahkan kompleks itu dengan halaman stasiun. Karena itulah, Balokan pun punya riwayatnya sendiri. Entah merah, hitam, atau gabungan dari keduanya itu. Riwayat yang tak ingin dilestarikan.
42

Kembang Turi

Malah sebisa-bisanya dihapus dari ingatan para penghuninya sekarang. Karena begitu burukkah? Mungkin saja. Mungkin pula sudah menjadi naluri setiap orang selalu mengelak dari nasib buruk dan berusaha sebisa-bisanya meraih nasib baik yang penuh keberuntungan dalam hidupnya. Malam hampir menggapai puncaknya. Yogya, kota tua dan kecil, ternyata belum mati. Malah, tidak akan mati hingga malam bergulir sampai puncaknya. Di sekitar stasiun masih ada warungwarung yang buka. Warung yang menyediakan minuman hangat dan makanan yang sudah dingin. Di situ, para tukang becak beristirahat, menimbang nasib atau pasrah tidak tahu ke mana tujuan Mungkin sudah menjadi naluri hidup ini sebenarnya. Wanitasetiap orang wanita malam yang sesore selalu mengelak tadi belum berhasil menggaet dari nasib buruk si hidung belang, sering pula dan berusaha duduk terkantuk-kantuk di sebisa-bisanya meraih nasib warung-warung itu. Sama baik yang penuh dengan para tukang becak, keberuntungan mereka pun tidak tahu hidup dalam hidupnya. ini akan bermuara di mana.
43

Budi Sardjono

Satu yang mereka tahu secara pasti, yaitu bahwa nasib mereka benar-benar lagi jeblok! Dari arah emplasemen stasiun, terdengar deru mesin lokomotif bertenaga diesel. Terkadang menggeram, memecah kesunyian. Bagai nafsu yang menggelegak atau dengus berahi yang meraungraung. Dirman memandang semuanya itu dengan tatapan kosong. Bagai penyair yang terluka hatinya, ia mencatat semua yang dilihat di dinding hatinya. Jika sesuatu kali terdengar benturan gerbong-gerbong barang yang dilansir itu, dadanya terguncang. Seolah-olah gerbong-gerbong itu menabrak dirinya. Stasiun Tugu. Hmmm. Di jalan, di bawah pohon waru persis di depan losmen tempatnya menginap, seorang wanita tertawa cekikikan. Tawa pengundang berahi. Atau, tawa pelipur hati yang telah luluh lantak terlindas nasib jelek yang terus-menerus menimpanya. Entahlah. “Bajingan sampean, Kang!” pekik wanita itu, melengking.
44

Kembang Turi

“Husss, jangan keras-keras, ini sudah malam. “Suara seorang laki-laki terdengar memperingatkan. “Siapa bilang ini siang hari? Hahaha....” “Hooo, dasar sundel!” celetuk lelaki yang lain. “Hooo, dasar laki-laki kere! Maunya gratis!” tukas perempuan tadi. “Ranti, Ranti, mulutnya dijaga. Nanti kalau ada hansip lewat, aku yang kena marah. Apa kamu tidak takut digaruk?” “Biar saja digaruk. Paling-paling cuma diangkut, dinaikan ke truk, lalu dibawa ke tempat sepi, digilir, kemudian dilepas. Hahaha.... Laki-laki di mana-mana kok sama. Gratis, gratis, gratis melulu. Memangnya hidup ini serba gratis ?” “Sudah, mulutmu!” sudah, tutup
Di jalan, di bawah pohon waru persis di depan losmen tempatnya menginap, seorang wanita tertawa cekikikan. Tawa pengundang berahi. Atau, tawa pelipur hati yang telah luluh lantak terlindas nasib jelek yang terus-menerus menimpanya.

45

Budi Sardjono

Ranti, perempuan tadi, tertawa cekikikan. “Eh, Ti, kamu butuh duit?” pancing laki-laki lain. “Kamu mau memberi? Ayo, aku layani sepuaspuasmu. Berapa kamu mau memberi?” tantang Ranti. “Bukan aku, sundel. Lihat di atas sana itu. Ada tamu Losmen Ayem yang belum tidur. Siapa tahu dia butuh teman untuk mengusir dingin. Siapa tahu, Ti, itu rezekimu.” “Huhhh, siapa tahu dia sama dengan sampean? Tak punya duit. Kalau dia punya, pasti sudah pesan sejak tadi sore. Apa susahnya?” “Aku lihat tadi dia baru saja pulang naik jip. Pasti capek. Butuh dipijat. Kamu tak mau ke sana?” “Ah…, malas.” “Cari duit harus ulet, Ti.” “Semua orang tahu.” “Jangan mudah menyerah.” “Kalau aku menyerah, aku sudah mati kelaparan sejak dulu.”

46

Kembang Turi

“Nah, kenapa tidak dicoba? Lihat, dia memperhatikan kita, Ti!” “Memperhatikan apa?! Lha wong dia cuma melamun kok.” “Ooo, perempuan goblok!” damprat lelaki tadi. “Buka matamu lebar-lebar. Lihat itu, wajahnya menghadap kemari. Coba perhatikan. Itu tandanya, siapa tahu dia sudah mulai berahi melihatmu.” “Huh, sok tahu!” tukas Ranti. “Lho, saya ini juga laki-laki!” “Laki-laki itu sama. Kalau melihat perempuan tak berkedip, apa lagi terus-menerus, itu tandanya sudah berahi.” “Huh, cerewet!” damprat Ranti sambil berdiri. “Dasar nasib lagi jeblok, diapa-apakan ya tetap jeblok! O… Gusti Allah, nyuwun pangapura. Hidup sekali saja ya kok begini. Sudah, Kang Iman, berapa semua? Wedang jahe, jadah goreng dua, nasi satu, tempe dan tahu, sama pisang rebus,” ucap perempuan itu akhirnya. “Seribu. Pas seribu,” kata seorang laki-laki yang duduk di belakang meja.

47

Budi Sardjono

“Seribu?” tanya Ranti seperti pada diri sendiri. “Dengan yang kemarin, jadinya sudah dua ribu lima ratus ya?” “Mau bayar atau utang?” seloroh laki-laki yang duduk di atas jok becak. “Apa urusanmu kere stasiun?!” tukas Ranti. Yang mendengar tertawa. “Kalau saya kere, apa kamu priayi?” balas lelaki itu.
“Dasar nasib lagi jeblok, diapaapakan ya tetap jeblok! O… Gusti Allah, nyuwun pangapura. Hidup sekali saja ya kok begini.”

“Utang dulu ya, Kang Iman. Besok malam, aku lunasi. Mudah-mudahan Gusti Allah maringi welas sama hamba-Nya ini.” Perempuan itu menguap, lalu beranjak dari warung itu. “Kalau besok malam masih jeblok, bagaimana, Ti?” goda laki-laki yang duduk di atas jok becak tadi. “Saya mau obral! Seribu tiga. Hahaha...,” jawab Ranti sambil menyeret kaki menuju ke barat. “Kalau tetap nggak laku?”

48

Kembang Turi

“Saya mau bunuh diri. Nabrak sepur!” teriak Ranti. Suaranya terdengar nyaring. Mengoyak sepi malam. Sepi yang tidak mati. Karena di sekitar tempat itu, masih ada denyut kehidupan. Kereta barang di emplasemen stasiun masih saja mondar-mandir dilansir. Sekali-sekali terdengar suara terompet. Terkadang terputus-putus, terkadang memanjang, lalu disambung dengan tiupan pendek-pendek. Itulah kode yang harus dipahami oleh seorang masinis. Juga awak kereta api yang lain. Dirman menelan ludah. Terasa sangat getir. Dadanya berdesir sewaktu dari tempatnya duduk melihat sebuah gerbong barang yang terbuka pintunya. Gerbong itu pasti kosong. Desir dadanya bagai mengiris manakala rangkaian gerbong itu berhenti. Roda-roda gerbong menderit beradu dengan rel. Stasiun Tugu. Seorang anak laki-laki, berumur sekitar delapan tahun, tersaruk-saruk memasuki halaman stasiun. Tatapan matanya kosong. Kekosongan yang dahsyat karena seolah siap menelan apa saja yang
49

Budi Sardjono

masuk ke sana. Perut anak itu lapar. Stasiun Tugu baru saja diguyur hujan. Emplasemen basah. Air menggenang di mana-mana. Sisa-sisa air hujan masih menetes dari atap seng. Anak itu mendekap tubuhnya yang kurus. Bajunya kumal. Tapi, ia tidak menangis. Untuk apa menangis? Air matanya sudah diganti oleh air hujan. Jauh lebih deras, jauh lebih dahsyat. Sedang air matanya sendiri sudah kering. “Pergilah, pergilah. Tinggalkan desa ini, Nak,” kata emaknya beberapa hari yang lalu. Napasnya terAnak itu engah-engah karena penyamendekap kit bengeknya hampir mentubuhnya yang cekik wanita yang sama kurus. Bajunya kurus dengan kedua anaknya. kumal. Tapi, ia tidak menangis. “Pergi ke mana saja, asal jauh Untuk apa dari desa kita.” “Ke mana, Mak?” tanya seorang anak perempuan, kakak anak laki-laki itu. “Ke mana saja. Asal meninggalkan desa ini. Kau mengerti, Marni?”
50

menangis? Air matanya sudah diganti oleh air hujan. Jauh lebih deras, jauh lebih dahsyat.

Kembang Turi

Marni, anak perempuan itu, mengangguk. Anggukan tanpa arti. Karena memang tidak tahu harus berbuat apa. Emaknya sudah beberapa hari terbaring di atas balai-balai. Wajahnya pucat. Ia sendiri dan adiknya, juga menahan rasa sakit yang menggigit. Terutama pada bagian perut. Karena perut itu lebih sering kosong daripada terisi. “Kamu harus bisa menjaga adikmu, Marni. Hanya kamu berdua yang tinggal. Mungkin, mungkin sebentar lagi, aku akan menyusul bapakmu.” “Tidak! Emak tidak boleh pergi!” protes anak laki-laki itu. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa seorang emak. Bapaknya meninggal dua bulan yang lalu. Kata orang, terpeleset masuk luweng ketika akan mencari air. Tapi jika terpeleset, kenapa wajahnya babak belur seperti baru saja habis dihajar orang? Apa bapaknya dirampok? Apanya yang mau dirampok? Celana kolor hitam yang melekat di tubuhnya? Atau, baju lurik yang sudah kumal? Ia tidak bisa, atau belum, memahami semua yang terjadi. Yang ia inginkan saat itu, emaknya sembuh, bapaknya hidup lagi, lalu jika Kamis Pon tiba, mereka pergi ke Pasar Wonosari.

51

Budi Sardjono

Menjual hasil kebun, ayam, atau apa saja yang bisa dijual dan laku. “Kalau Emak meninggal nanti....” “Emak tidak boleh meninggal. Emak harus sehat. Dan nanti, Bapak harus hidup lagi!” teriak anak laki-laki itu. “Ya, ya, mudah-mudahan,” kata emaknya lirih. “Bukankah bulan depan, saya akan naik ke kelas dua, Mak ?” “Ya, ya, kamu memang anak pintar.” “Dan Yu Marni, naik kelas berapa, Yu?” “Kelas empat,” jawab kakaknya, sama lirih dengan suara emaknya. “Dulu, Bapak pernah berjanji, kita berdua akan diajak ke kota Yogya. Melihat sepur, Pasar Beringharjo, Malioboro, lalu ke Gembira Loka. Bapak akan menjual kambing untuk sangu. Bukankah begitu, Yu?” Marni mengangguk. Emaknya justru menangis. “Tapi, mengapa orang-orang itu mengambil kambing milik kita, Mak?” tanya anak laki-laki

52

Kembang Turi

itu seperti menggugat. Sebab, ia melihat sendiri ketika beberapa orang dengan beringas menuntun enam ekor kambing dari kandang belakang rumah. Emaknya tak bisa apa-apa. Perempuan itu hanya menangis sembari mendekap dadanya. Tak ada orang yang membela. Tak ada orang yang menanyakan kenapa hal itu harus terjadi. Ia sendiri akhirnya ikut menangis. Tidak tahu harus berbuat apa. Melawan orang-orang itu, tidak berani. Jangankan melawan Perempuan itu mereka, ketika salah seorang hanya menangis sembari menoleh ke arahnya, tahumendekap tahu celananya basah. Ia dadanya. Tak terkencing-kencing! Seminggu kemudian, emaknya meninggal. Tidak semua orang sedesanya mau datang melayat. Entah kenapa. Ia tidak berani bertanya. Juga, tak ada orang yang memberi tahu.
ada orang yang membela. Tak ada orang yang menanyakan kenapa hal itu harus terjadi.

Di suatu subuh yang dingin, Marni membangunkan adiknya.
53

Budi Sardjono

“Ada apa, Yu?” tanyanya tak mengerti dan jengkel. “Kita harus segera pergi,” kata Marni. “Pergi ke mana?” “Pokoknya, harus pergi dari desa ini, seperti pesan Emak kemarin.” “Kenapa harus pergi, Yu?” “Karena tanah dan rumah ini sudah bukan milik kita.” “Lalu, milik siapa?” “Milik Pak Lurah.” “Apa sudah dijual oleh Emak? Kapan itu, Yu?” Marni tidak menjawab. Ia hanya mengelap air matanya yang merembes di pipi. Pipi kanak-kanaknya yang licin dan polos. Ia sendiri tidak tahu semua itu. Yang ia ketahui, hatinya sudah terkoyak. Hati yang masih putih dan bersih itu tiba-tiba berubah. Mungkin menjadi merah karena darah. Mungkin menjadi hitam karena hari-harinya nanti sudah tampak gelap di depan matanya. Harus pergi ke mana? Mungkinkah ia bisa hidup di tempat lain bersama adik satu-satunya itu? Dari mana ia dapat
54

Kembang Turi

uang untuk membeli pakaian dan makanan? Dan yang penting, tempat siapa akan dituju setelah meninggalkan desanya itu? Waktu itu sudah terdengar kokok ayam bersahutan. Marni menjadi gugup. Adiknya, yang kembali meringkuk di balik sarung kecilnya itu, ia tarik. “Ayo, kita harus pergi! Nanti, orang-orang akan tahu kalau tidak sekarang!” “Pergi ke mana, Yu?” tanya adiknya lirih dan memelas. “Ke kota!” jawab kakaknya. “Kota mana? Yogya?” “Ya.” “Kalau begitu, aku akan mandi dulu.” “Tidak usah.” “Lho, katanya mau pergi ke kota Yogya?”
55

Harus pergi ke mana? Mungkinkah ia bisa hidup di tempat lain bersama adik satu-satunya itu? Dari mana ia dapat uang untuk membeli pakaian dan makanan? Dan yang penting, tempat siapa akan dituju setelah meninggalkan desanya itu?

Budi Sardjono

“Iya, begini saja. Aku juga tidak mandi. Yang penting, kita sudah membawa bekal.” “Yu Marni sudah membawa bekal?” “Nasi, lauk pauk, dan duit.” “Lalu, bagaimana dengan rumah kita ini, Yu?” “Bukankah tadi sudah kukatakan, ini sudah menjadi milik Pak Lurah!” Anak itu akhirnya menurut saja ketika tangannya ditarik kakaknya. Juga ketika di luar, tangannya diseret terus agar berjalan cepat, ia menurut. Tapi, hatinya tidak mau menurut. Hati itu memberontak. Kenapa semua itu harus terjadi? Kenapa harus meninggalkan rumah dan pekarangan itu menjadi milik Pak Lurah? Dan nanti, mau ke mana bersama kakaknya? Bukankah besok harus sekolah? Hari masih gelap. Kokok ayam masih bersahutan. Jalan tanah yang mereka lewati masih sepi. Berdua terus berjalan. Menuju jalan besar yang jalan aspalnya rompal di sana-sini. Mau ke mana? Pohon turi tumbuh berjejer di tepi jalan itu. Meskipun masih diselimuti kegelapan subuh,

56

Kembang Turi

pohon itu tampak sudah berbunga. Kembangnya berwarna putih. Sebagian malah rontok berjatuhan di atas tanah. Kembang turi, jika direbus, dibuat pecel, atau gudangan, rasanya segar sedikit campur pahit. Mungkinkah nanti mereka mirip dengan kembang turi itu? Tumbuh berkembang, lalu jatuh diinjak-injak kambing atau anak-anak yang akan pergi ke sekolah? Atau, sebelum jatuh sudah diambil oleh para penggembala, petani, atau siapa saja yang sempat mengambil untuk dimakan? Udara begitu dingin. Tak seorang pun bisa menjawab semua yang mereka berdua tanyakan. Pohon turi itu hanya menjadi saksi bisu bahwa subuh itu, dua kakak beradik yang masih kanakkanak telah meninggalkan desanya untuk pergi entah ke mana. Tak seorang pun tahu. Sepanjang perjalanan itu, tak seorang pun yang dijumpai. Keduanya baru ketemu orang lain setelah sampai di jalan aspal.

Pohon turi itu hanya menjadi saksi bisu bahwa subuh itu, dua kakak beradik yang masih kanak-kanak telah meninggalkan desanya untuk pergi entah ke mana. Tak seorang pun tahu.

57

Budi Sardjono

“Pagi-pagi begini, kalian mau ke mana?” tanya seorang perempuan yang menggendong bakul. “Mau ke pasar,” jawab Marni. Ia tidak tahu harus memanggil apa pada perempuan itu. Mbok, mbah, mbak, mbokdhe, atau.... “Ke pasar? Mau jualan apa?” Perempuan itu berjalan beriringan. Matanya melirik penuh selidik. “Lha emakmu di mana kok kamu berdua yang ke pasar?” “Emak sudah...” “Dari pasar, kami terus mau ke Yogya,” sahut Marni cepat. “Ke kutho Ngayoja?” tanya perempuan itu hampir tidak percaya. “Ya!” jawab Marni cepat. “Mau ke rumah Paklik,” lanjutnya. Ia mencubit tangan adiknya sebagai isyarat agar ia diam. “O, lalu nanti naik bis?” “Apa saja. Kalau tak ada bis, ya truk.” “Husss, jangan naik truk. Bisa kependeng-pendeng nanti. Apa kamu mau dijadikan satu dengan karung-karung gaplek?”
58

Kembang Turi

Marni tersenyum, tidak bisa memberi jawaban. Ia lirik adiknya. Wajahnya seperti membeku. “Duh Gusti Allah,” desisnya sangat lirih. Perempuan itu diam. Entah perasaan apa yang bergolak di hatinya. Menjelang tikungan pertama, tiba-tiba ia berhenti. “Tidak, Nak. Sebenarnya, kamu berdua itu dari mana?” tanyanya seperti menyergap. “Dari Karangelo,” jawab Marni cepat. “Karangelo? Lalu, anaknya siapa?” Marni diam. Kembali tangan adiknya ia cubit agar juga ikut diam. “Siapa nama orang tuamu?” Marni menggigit bibir. Wajah perempuan setengah umur itu sedikit membungkuk, mengamati dirinya berdua, lalu mengangguk-angguk karena yang dilihat kemudian. Dua anak itu menangis. Keduanya tidak sesenggukan, tapi pipi keduanya sudah basah. “Begini saja ya, Nak. Nanti, kalau sudah dari pasar, jangan terus ke Yogya, tapi tunggu aku di sana. Di pojok pasar dekat tokonya Babah Hong.

59

Budi Sardjono

Kamu berdua ikut aku saja. Rumahku dekat dengan Karangelo. Sudah pernah dengar Desa Sambitwatu? Pernah tahu?” Marni mengangguk. Teman sekolahnya ada yang berasal dari desa itu. “Ya, kamu berdua ikut aku ke sana, ke rumahku. Kelihatannya, kalian berdua lagi sedih. Jadi, kalau ada apa-apa nanti, aku yang menanggung. Sekarang, aku harus ngampiri dagangan dulu. Kita berpisah, nanti ketemu di pasar, begitu tho?”
Marni mengangguk. Dan, pertemuan seperti yang dijanjikan itu tidak pernah terjadi. Keduanya tiba di terminal ketika langit sudah meremang. Kebetulan, bus pertama yang menuju ke Yogya hampir berangkat.

Marni mengangguk. Dan, pertemuan seperti yang dijanjikan itu tidak pernah terjadi. Keduanya tiba di terminal ketika langit sudah meremang. Kebetulan, bus pertama yang menuju ke Yogya hampir berangkat. Ia seret tangan adiknya naik bus itu. “Kita mau ke mana, Yu?” tanya adiknya setengah takut.
60

Kembang Turi

“Ke Yogya,” jawab Marni serak. “Setelah sampai di Yogya, lalu nanti kita ke mana?” “Nanti kita pikir di sana. Sekarang, sarapan dulu.” Anak itu membuka bungkusan lalu mengeluarkan rantang berisi nasi dan lauk-pauknya. “Kamu makan yang ini,” katanya sambil menyodorkan rantang pada adiknya. Tapi, adiknya menggeleng. “Kenapa?” “Aku tidak lapar kok, Yu,” ucap adiknya lirih. “Nanti perutmu sakit. Makanlah !” “Tidak, Yu. Aku mau kencing.” “Husss, bis ini sudah mau berangkat. Lihat itu sopirnya sudah mau naik. Ditahan dulu ya.” Anak laki-laki itu mengangguk. Kakaknya kembali memasukkan rantang ke dalam bungkusan. Ketika bus pelan-pelan meninggalkan Terminal Wonosari, air mata Marni kembali menetes. Ia sendiri tidak tahu, setelah bus sampai di Yogya, ia akan ke mana? Bus tidak begitu penuh. Banyak kursi yang kosong. Karena itu, mereka berdua aman dari
61

Budi Sardjono

sapaan orang. Marni terus merangkul adiknya. Berkali-kali, ia menyeka air mata dengan punggung tangannya. Perjalanan apa ini? Perjalanan menuju ke mana? Menuju ke neraka atau surga? Kalau ke surga, mungkin bisa ketemu bapak dan emaknya. Kalau ke neraka? “Mau ke mana ini anak-anak kecil?” sapa seorang laki-laki yang tiba-tiba berdiri di samping mereka. “Mau ke mana?” ulang laki-laki itu, kondektur bus. Marni menoleh. Kembali ia menyeka matanya dengan punggung tangan. “Lho, lha kok malah nangis, Nduk. Mau ke mana?” Laki-laki itu duduk di sebelah Marni. “Ke Yogya,” jawab Marni serak. “Ooo. Lha itu siapa?” “Adik saya.” “Emm, kamu berdua saja?” Marni mengangguk. Ia mengambil uang dari buntalan kain. Uang itu ia sodorkan, tapi segera ditolak oleh kondektur tadi.

62

Kembang Turi

“Kok cuma berdua? Di mana orang tuamu?” tanya kondektur tadi. Marni tidak menjawab. Pertanyaan itu tibatiba saja bagai ujung bilah bambu yang mencocoki hatinya. Yang dirasakan kemudian sakit yang menggigit, mengiris-iris. Rasa sakit yang ia sendiri tidak tahu dari mana datangnya. Rasa sakit yang seharusnya tidak usah terjadi, tapi datang juga dalam hidup mudanya. Kenapa semua itu bisa terjadi dan menimpa orang tuanya? Kenapa? “Ya sudah. Nanti kalau mau turun, teriak minta turun ya?” Kondektur itu berdiri, lalu berjalan ke depan. Marni menghela napas. Dadanya yang tipis itu terasa begitu sesak. Ia lirik adiknya yang terkantukkantuk. Mungkin terlalu awal dibangunkan. Bus terus meluncur. Melewati beberapa tikungan
Pertanyaan itu tiba-tiba saja bagai ujung bilah bambu yang mencocoki hatinya. Yang dirasakan kemudian sakit yang menggigit, mengiris-iris. Rasa sakit yang ia sendiri tidak tahu dari mana datangnya.

63

Budi Sardjono

pinggang bukit, atau seolah malah membelah bukit Gunung Kidul. “Mau ke Yogya, Nduk?” sapa seorang wanita, lembut. Dan tiba-tiba saja, sudah duduk di samping Marni. Marni mengangguk. “Kalau begitu, kita bisa bersama-sama.” “Ibu..., Ibu mau....” “Ya, saya juga mau ke sana. Ke Yogya alamatnya di mana?” Marni gelagapan. Pertanyaan itu tidak menimbulkan rasa sakit. Berbeda dengan pertanyaan kondektur tadi. “Apa belum tahu tempat yang akan dituju?” Marni diam. Adiknya menoleh, seperti ingin mengangguk. “Sebutkan nama kampung atau nama jalannya, biar nanti Ibu antar.” Marni menghela napas. Udara pagi masuk ke rongga-rongga dadanya. Karena hembusannya begitu cepat, udara itu seperti sebuah siraman yang menyejukkan. Masih ada orang yang mau menolong, pikirnya.
64

Kembang Turi

Saat itu, langit sudah terang. Kursi-kursi yang tadinya kosong sudah terisi. Ia tidak tahu, sudah berapa kali bus berhenti menaikkan atau menurunkan penumpang. Pikirannya terbang. Terkadang berputar ke belakang, mengingat rumah dan tanah pekarangannya. Siapa pagi ini yang akan membuka pintu-pintunya? Adakah nanti yang akan mencari mereka, menanyakan ke mana karena tidak pulang? Mungkin tidak ada. Orang-orang takut memasuki pekarangan rumahnya. Ia tidak tahu kenapa sampai begitu. Jadi, mungkin orangnya Pak Lurah yang akan membuka pintu rumah, mengambil semua yang tersisa, dan akhirnya Pak Lurah sendiri yang akan memiliki rumah dan pekarangan itu. Bukankah rumah dan pekarangan itu sudah dijual kepada Pak Lurah?
Hari depan terkadang memang merupakan rangkaian hari-hari kita yang lalu. Namun, bisa jadi pula, hari depan berdiri sendiri dan muncul tiba-tiba. Sebab, rangkaian tadi terputus atau diputus oleh sebuah kekuatan yang terkadang sulit dipahami.

65

Budi Sardjono

Marni ingin menangis jika mengingat semuanya itu. Ia tidak ingin rasanya menengok ke belakang. Ia ingin semuanya segera terkubur, lenyap, lalu diganti hari-hari yang akan berjalan ke depan. Tapi, mau berjalan ke mana? Adakah hari-harinya nanti sama dengan ketika ia dan adiknya tinggal di desa bersama kedua orang tuanya? Secara samar, ia sudah bisa menjawab, hal itu tidak mungkin ia temukan lagi! Kata bu guru, hari depan terkadang memang merupakan rangkaian hari-hari kita yang lalu. Namun, bisa jadi pula, hari depan berdiri sendiri dan muncul tiba-tiba. Sebab, rangkaian tadi terputus atau diputus oleh sebuah kekuatan yang terkadang sulit dipahami. Itulah yang akan ia alami bersama adiknya nanti. Menyongsong harihari yang sudah terputus dengan masa lalu. Ada kekuatan yang sudah memutus rangkaian masa lalu dengan hari-harinya nanti. Kekuatan yang sudah merenggut nyawa bapaknya. Membuat emaknya sakit, untuk kemudian menyusul bapaknya ke alam baka. Lalu, memaksa mereka berdua meninggalkan rumah, pekarangan, teman-teman sepermainan di rumah, teman-teman di sekolah. Semua harus ia tinggalkan untuk menjumpai sesuatu yang tidak pasti.
66

Kembang Turi

“Kita hampir sampai, Nduk,” celetuk ibu tadi. Tangannya merangkul pundak Marni. “Kita sudah melewati Piyungan. Sebentar lagi masuk ke Yogya. Bagaimana kalau kamu dan adikmu ke rumahku dulu?” Ibu itu menoleh sambil tersenyum. “Duh Gusti Allah!” pekik Marni dalam hati. Gusti Allah benar-benar Maha Pemurah. Seperti yang sering dikatakan bu guru di sekolah. Semua alam ciptaan ini adalah karunia Gusti Allah. Dia sangat menyayangi umat manusia. Dia mengasihi anak-anak yang tak berdosa, yang menurut kemauan orang tua, yang menurut perintah dan petunjuk para guru di sekolah. Pak Kai Arifin juga pernah berkata begitu. Kalau menghadapi kesulitan, sebut saja nama Gusti Allah. Beliau Yang Maha Rahim pasti akan memberi pertolongan. Dan kini, pertolongan itu datang juga. Padahal ia belum menyebut nama Gusti Allah. Mungkin Dia sudah tahu bahwa ia dan adiknya benar-benar sedang dalam kesulitan. Gusti Allah pasti mengutus malaikat agar turun ke bumi dan masuk ke dalam jiwa ibu itu. Malaikat itulah yang membisiki hati ibu itu mau menolong dirinya. Malaikat baik, malaikat suci. Tugasnya memang mempengaruhi
67

Budi Sardjono

agar orang-orang berbuat baik terhadap sesama. Pasti berbeda dengan malaikat jahat yang sudah menjelma jadi setan di neraka. Yang terakhir itu tugasnya membuat manusia celaka. Menjadikan manusia jahat seperti hewan buas. “Mau tho singgah ke rumahku dulu?” Ibu tadi mengulang. Rangkulannya dipererat. “Mau ya, Nak?” tanyanya lagi pada anak laki-laki yang duduk di samping kakak perempuannya itu. Anak itu mengangguk. Ia belum bisa menilai, kenapa tiba-tiba ada orang yang mau mengulurkan tangan, menolong mereka berdua. Sungguh, ibu itu benar-benar orang yang baik budi. “Rumahku dekat terminal. Kita nanti cukup jalan kaki dari terminal bis.” Ibu itu tampak menghela napas. Wajahnya penuh senyum. Mengenakan kebaya dari brokat warna hitam. Kainnya batik motif kembang gadung.

Malaikat baik, malaikat suci. Tugasnya memang mempengaruhi agar orang-orang berbuat baik terhadap sesama. Pasti berbeda dengan malaikat jahat yang sudah menjelma jadi setan di neraka.

68

Kembang Turi

“THR! THR! Kita sudah sampai!” teriak kernet bus sambil bergantung di pintu. Beberapa penumpang sudah mulai berkemaskemas. Menarik barang dari tempatnya atau mulai berdiri. mereka ingin segera turun. Tampak tergesagesa. Mungkin harus segera masuk kerja. “Haiya! Semua turun di sini. Kalau mau oper, silakan. Mau ke mana, Bu?” tanya kernet bus pada seorang penumpang. “Pasar. Pasar Beringharjo,” jawab penumpang itu. “O, monggo,monggo. Hati-hati lho, Bu, banyak copet sekarang.” “Ah, biar aja. Mau nyopet apa, lha wong tak punya apa-apa kok,” sahut ibu itu ketus berseloroh. Orang-orang yang mendengar tertawa. “Ya tidak nyopet duit. Bisa saja Ibu sendiri yang dicopet,” gurau kernet sambil tertawa. “Woala, lha sudah tua begini kok, apanya yang mau diopeni?” “Lho, biar tua asal masih seger, ya bisa bikin orang ngiler. Hahaha....”
69

Budi Sardjono

“Kurang ajar! Dasar laki-laki semprul!” “Hati-hati lho, Bu!” teriak kernet lagi sambil menarik tangan anak sekolah. Marni menggamit tangan adiknya. Yang digamit tergagap, seperti kaget. “Kita sudah sampai Yogya, “ bisik Marni lirih. “Kita mau ke mana, Yu?” “Ke rumah ibu ini. Mau, kan?” “Mau ya, Nak? Daripada tidak tahu harus ke mana. Kalau mau pergi, nanti saya antar. Ayo, bis sudah kosong.” Ibu itu berdiri sambil menarik tangan Marni. Marni menarik tangan adiknya. Bertiga turun dari bus. Berjalan di sela-sela bus yang diparkir. Di tengah teriakan-teriakan mulut calo dan kernet yang memberi tahu penumpang nama bus jurusan yang akan mereka tuju. Panasnya matahari pagi sudah mulai mencubitcubit kulit. Terminal dan sekitarnya benarbenar riuh. Orang lalu-lalang. Juga becak, mobil angkutan umum, dan bus-bus yang keluar masuk.

70

Kembang Turi

“Ayo, kita menyeberang,” ajak ibu tadi sambil menuntun tangan kedua anak itu. Sekilas, mereka bertiga mirip sebuah keluarga. Seorang ibu dengan dua orang anaknya. “Rumahku di ujung jalan sana itu. Tidak jauh kok.”

Rumah itu berada di ujung jalan, di belakang sebuah toko kelontong. Tidak begitu besar, separuh tembok, separuh papan yang hanya dikapur. Sepi. Semua pintu dan jendela masih tertutup. Ibu tadi mengeluarkan kunci dari dompet, lalu membuka pintu. “Nah, ayo masuk. Istirahat dulu. Nanti setelah mandi, kita sarapan bersama. Nduk, ajak adikmu masuk. Jangan takut. Anggap saja ini rumah saudara kalian ya.” Berdua mengangguk. Marni menarik tangan adiknya. Ibu tadi terus ke belakang. “Apa kita akan tinggal di sini, Yu?” tanya adiknya lirih.

Panasnya matahari pagi sudah mulai mencubit-cubit kulit. Terminal dan sekitarnya benar-benar riuh. Orang lalu-lalang. Juga becak, mobil angkutan umum, dan bus-bus yang keluar masuk.

71

Budi Sardjono

“Aku tidak tahu,” jawab Marni, tak kalah lirihnya. “Lalu?” “Marni menggeleng. “Ibu tadi baik hati ya, Yu?” Marni mengangguk. “Apa dia tidak punya anak? Kok rumahnya sepi.” “Mungkin.” “Apa kita nanti mau dijadikan anak?” “Entahlah.” “Nanti, Yu Marni berani menanyakan?” Marni diam. Tiba-tiba, hatinya terasa kosong. Ia tatap wajah adiknya yang mulai berkeringat. Ada secercah harapan dalam sorot mata adiknya itu. Ia sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba justru rasa sedih mulai menghimpit hatinya. “Bagaimana kalau ibu tadi tidak mau menerima kita, Yu?” “Kita tunggu saja apa yang akan terjadi.”

72

Kembang Turi

“Kita pulang saja ke desa. Ibu guru pasti mencari kita, Yu. Kenapa kita tidak masuk sekolah pagi ini? Kasihan dia. Dia sangat baik. Saya sering dipuji sebagai anak yang pintar.” “Ya, ya,” ucap Marni serak. Hatinya seperti teriris. Ia pun ingat guru, teman-teman sekelasnya. Terutama Karsih, teman sebangku yang begitu baik dan akrab. Apakah mereka pagi ini mencari dirinya ke rumah? Rumahnya kosong. Pintunya tertutup. Lalu, ke mana mereka akan mencari? Ingin rasanya Marni menangis. Tapi, begitu melihat wajah adiknya, tangis itu diurungkannya. Ia tidak ingin adiknya ikut menangis. Bukankah emaknya sudah berpesan agar ia bisa menjaga adik satu-satunya itu? Menjaga berarti bisa melindungi adiknya. Menghibur, memberi harapan, sekaligus mencarikan makan! “Nah, ini diminum dulu. Biar perut kalian menjadi

Ingin rasanya Marni menangis. Tapi, begitu melihat wajah adiknya, tangis itu diurungkannya. Ia tidak ingin adiknya ikut menangis. Bukankah emaknya sudah berpesan agar ia bisa menjaga adik satu-satunya itu?

73

Budi Sardjono

hangat.” Ibu tadi muncul dengan membawa dua gelas teh hangat. “Diminum ya. Ibu mau mandi. Setelah kalian nanti habis mandi, kita sarapan, lalu jalan-jalan.” Wanita tadi kembali ke belakang setelah meletakkan dua gelas tadi di atas meja. “Aku tidak ingin berpisah denganmu lho, Yu,” celetuk anak laki-laki itu, lirih dan bernada sendu. “Kita tidak akan berpisah,” ucap Marni meyakinkan adiknya. “Ke mana saja kita pergi, kita harus berdua. Kamu tidak usah takut.” “Aku khawatir kalau nanti Yu Marni pergi sendiri, lalu aku tinggal sendirian.” “Tidak, tidak. Kita tetap berdua. Sekarang, tinggal kita berdua saja.” Anak laki-laki itu mengangguk-angguk. Tapi, tatapan matanya tampak semakin kosong dan cemas. Ada sesuatu yang ditakutkan. Lebih menakutkan dibanding peristiwa subuh tadi saat keduanya meninggalkan rumah dan desanya. Meninggalkan bangku sekolah dan teman-temannya. Meninggalkan Gunung Kidul menuju suatu tempat yang belum jelas.

74

Kembang Turi

Ketakutan yang saat itu mencekam adalah bayangan bahwa ia akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya nanti. Masa kanak-kanak yang sudah rompal dan penyok di sana sini seolah belum cukup mendera tubuhnya yang kurus. Masih akan ada lagi peristiwa yang semakin meluluhlantakkan masa kanak-kanaknya. Sehabis sarapan yang cuma bisa menelan empat sendok nasi itu, keduanya segera diajak ke luar rumah. Keduanya tidak berani bertanya, mau ke mana saat itu. Juga tidak berani bertanya, nama kampung, jalan, serta nama ibu yang sudi menolong keduanya itu. “Kita akan ke Pasar Beringharjo. Sudah pernah ke sana?” tanya ibu itu di dalam becak yang melaju pelanpelan.

Masa kanakkanak yang sudah rompal dan penyok di sana sini seolah belum cukup mendera tubuhnya yang kurus. Masih akan ada lagi peristiwa yang semakin meluluhlantakkan masa kanakkanaknya.

Marni menggeleng. Adiknya diam.

75

Budi Sardjono

“Kita nanti bisa jajan di sana. Juga membeli pakaian untuk kamu berdua. Mau to, Nduk?” Marni mengangguk. Adiknya tetap diam. Rasa takut semakin membayang di pelupuk matanya. “Kamu membawa duit, Nduk?” “Hanya sedikit, tidak ada seribu rupiah,” jawab Marni polos. “Oh, tidak apa-apa. Nanti pakai uangku saja. Disimpan saja uangmu. Siapa tahu nanti adikmu ingin beli dolanan.” Marni merangkul adiknya. Berkali-kali, ia menyebut nama Gusti Allah dalam hati. Hanya karena kemurahan-Nya ada seorang ibu yang begitu baik dan mau menolong mereka berdua. Becak berhenti di tepi jalan setelah melewati sebuah perempatan. Ibu itu membayar. Ia lalu menuntun tangan keduanya, seperti menuntun anak-anaknya yang perlu dilindungi dan disirami dengan kasih sayang. Matahari sudah semakin tinggi. Panas. Debu mengepul setiap kali kendaraan lewat. Lalu lintas tampak semrawut. Mobil roda empat, motor,

76

Kembang Turi

becak, andong, sepeda, semuanya menjadi bagian dari lalu lintas yang semrawut itu. Dibanding Wonosari, jelas Yogya jauh lebih ramai. Orangorangnya kelihatannya sangat sibuk. Mereka berjalan seperti tergesa-gesa. Ingin mengejar sesuatu atau dikejar sesuatu. Untuk menghindari panas yang menyengat, ibu tadi menuntun kedua anak itu melewati emper-emper toko. Keduanya diam saja. Tidak tahu mau dibawa ke mana. Apa sudah sampai Pasar Beringharjo? “Ini namanya Jalan Malioboro. Kalau kita terus ke sana, sampai di Stasiun Tugu. Pernah ke stasiun?” Ibu bersama dua anak itu berhenti di atas trotoar. Panas yang menyengat menyiram mereka. “Pernah naik sepur?” lanjutnya. Marni menggeleng. Adiknya diam. “Ayo, kita menyeberang. Kita jalan-jalan di Malioboro. Ramai sekali tho?” Marni menggeleng. Adiknya diam. Keduanya menurut saja ketika dituntun menyeberangi Jalan Malioboro. Bertiga kemudian menyusuri emperemper toko di sebelah kiri jalan itu. Dua kali masuk toko. Melihat-lihat, lalu berjalan lagi. Entah sudah
77

Budi Sardjono

berapa puluh meter. Atau, malah sudah ratusan meter mereka berjalan. Anak laki-laki itu hanya merasakan bahwa kedua kakinya mulai terasa berat saat disuruh melangkah. Rasa haus mulai membakar kerongkongannya. Rasa putus asa mulai membayang jauh di lubuk hatinya. “Sudah haus?” tanya ibu tadi seperti memancing. Marni tidak menjawab. Adiknya diam. “Kita minum es dawet dulu. Biar segar. Ayo, di sana itu!” ajaknya. Mereka memang berhenti di emper toko tempat seorang lelaki setengah umur menjual es dawet di angkringan. Duduk di atas kursi kayu yang panjang, wajah kedua anak tadi memerah karena berkeringat. “Baru sekali ini melihat Malioboro tho?” Marni mengangguk. Mencoba tersenyum. Gagal.
Anak laki-laki itu hanya merasakan bahwa kedua kakinya mulai terasa berat saat disuruh melangkah. Rasa haus mulai membakar kerongkongannya. Rasa putus asa mulai membayang jauh di lubuk hatinya.

78

Kembang Turi

“Tiga gelas ya, Pak,” pinta ibu itu. Penjual es dawet mengangguk. Ketika ia menyodorkan tiga gelas es dawet, perempuan itu mengulurkan tiga lembar ratusan. “Tiga ratus tho?” Penjual itu mengangguk. Aneh. Biasanya orang membayar setelah minuman habis. Marni menyuruh adiknya segera minum es dawet itu. Ia sendiri, rasanya ingin menghabiskan tiga gelas sekaligus. Tenggorokannya benar-benar kering. “Kita ke toko kain sebentar, Nduk,” ajak perempuan itu pada Marni. “Hanya sebentar. Sekalian nanti beli sarung untuk adikmu. Adikmu biar menunggu di sini. Dia kelihatan lelah.” Perempuan itu berdiri. Marni ragu. Tapi, ia tidak mampu menolak ketika tangannya ditarik perempuan yang dianggap baik hati karena mau menolongnya itu. “Aku ikut, Yu,” rengek adiknya. “Tidak usah. Hanya sebentar kok. Kamu minum dulu. Kalau nanti kurang, minta lagi. Aku yang bayar.”

79

Budi Sardjono

Anak laki-laki itu seperti ingin memberontak. Tidak mau dipisahkan dengan kakaknya. Tapi, mulutnya seperti terkunci. Juga, kedua kakinya seolah sudah melekat di lantai trotoar. Kaki itu tidak mau diangkat. “Ayo, Nduk, mumpung belum siang benar.” Perempuan itu menarik tangan Marni dan menyeretnya menuju ke utara. Marni ingin meraih tangan adiknya. Tapi, niatnya urung. Ibu yang baik hati itu terus saja menyeret tangannya. Yang ia lihat kemudian mata adiknya tampak berkacakaca. Kerumunan orang yang memadati trotoar itu segera memisahkan dirinya dengan adik satu-satunya. Tangannya terus diseret. Berkali-kali hampir tabrakan dengan pejalan kaki lain. Ketika Marni menoleh, ia benarbenar tidak bisa melihat

Anak laki-laki itu seperti ingin memberontak. Tidak mau dipisahkan dengan kakaknya. Tapi, mulutnya seperti terkunci. Juga, kedua kakinya seolah sudah melekat di lantai trotoar. Kaki itu tidak mau diangkat.

80

Kembang Turi

adiknya. Yang tampak di depan matanya hanya kepala atau punggung para pejalan. “Yu…! Yu Marni...!” Gleng! Gleng! Dirman tergagap. Napasnya terengah-engah. “Ya Allah, mimpikah aku tadi?” Ia mengucekngucek matanya. Basah. Matanya basah meski airnya tidak meleleh. Sebuah rekaman yang memilukan tentang perjalanan hidup dua kakak beradik, dua anak yang direnggut dari dunianya yang ceria. Dunia yang putih dan penuh tawa itu mendadak berubah menjadi hitam dan basah oleh guyuran air mata. Gerbong-gerbong barang itu belum berhenti. Dilansir maju mundur berkali-kali. Emplasemen stasiun semakin sepi. Warung di bawah pohon waru pinggir jalan itu pun sudah sepi. Tak ada tawa atau teriakan perempuan malam yang terdampar di situ. Masih melekat dalam benak Dirman, perasaan hatinya pada waktu itu. Berpisah dengan saudara satu-satunya. Saudara yang diharap bisa melindungi dirinya, membimbing, sekaligus memberi makan,
81

Budi Sardjono

tiba-tiba telah direnggut dari tangannya. Ia menangis. Hatinya rompal di sana sini. Mungkin sudah tidak berbentuk lagi. Menangis, melolong. Ia seret kepiluannya itu menyusuri Jalan Malioboro. Terus ke utara, ke timur, ke selatan, ke barat, dan entah ke mana lagi. Ia tidak tahu kiblat. Yang ia tahu, tubuhnya menjadi lemas karena perutnya tidak terisi. Baru menjelang senja, ia bisa mengisi perutnya yang kempis itu dengan air hujan! Hujan mengguyur kota Yogya. Hujan mengguyur jalan-jalan. Hujan juga mengguyur Stasiun Tugu! Stasiun Tugu. Ia seret kepiluan dan penderitaannya ke situ. Menyusuri rel yang basah. Emplasemen yang basah. Juga sekujur tubuhnya, basah. Keinginannya hanya satu pada waktu itu, menemukan Marni, mbakyunya yang lenyap bersama seorang ibu. Ketika malam sudah larut, tubuhnya mau ambruk dan matanya ingin tidur, ia ingin menemukan tempat yang hangat untuk istirahat. Tidak tahu di mana ada tempat semacam itu. Pada saat itulah, ia melihat gerbong barang kosong yang terbuka pintunya. Tanpa berpikir panjang lagi, di gerbong itulah tubuhnya ia rebahkan. Di gerbong
82

Kembang Turi

itu pula, perjalanan hidupnya baru dimulai. Hidup sebatang kara. Terlunta-lunta. Diseret nasib. Atau, diseret kekuatan gaib, entahlah. Yang jelas, tiga hari kemudian, ia sudah terdampar di Jakarta! Dirman menghela napas. Matanya sudah terasa berat diajak berjaga terus. Mata itu ingin istirahat. Juga tubuhnya. Istirahat di kamar yang hangat. Di atas kasur, berselimut. Kalau mau, bisa saja ia memilih kamar yang ber-AC. Lebih nyaman.

Stasiun Tugu. Ia seret kepiluan dan penderitaannya ke situ. Menyusuri rel yang basah. Keinginannya hanya satu pada waktu itu, menemukan Marni, mbakyunya yang lenyap bersama seorang ibu.

Hemmm. Gerbong-gerbong barang itu sudah berhenti. Lokomotifnya entah ke mana. Mungkin ganti akan melansir rangkaian kereta lain. Tibatiba, terdengar lonceng besi berdenting dua kali. Hampir subuh. Dari arah koridor, terdengar langkah orang berjalan pelan dan hati-hati. Berusaha agar tidak menimbulkan suara. Ketika Dirman menoleh, seorang pemuda berdiri tak jauh
83

Budi Sardjono

dari tempatnya duduk. Petugas losmen. Pemuda itu mencoba tersenyum. “Belum tidur, Mas?” sapanya ramah. “Hampir,” jawab Dirman.” Ada apa?” “Oh, tidak. Sekedar melihat-lihat kok. Siapa tahu ada tamu yang butuh sesuatu”. “Bukankah semua tamu sudah pada tidur ?” “Buktinya, Mas masih duduk di situ,” kilah pemuda itu. Dirman tersenyum, lalu berdiri. Pemuda itu mendekat. “Capek, Mas?” tanyanya pelan. Dirman mengangguk. “Mungkin perlu dipijat,” lanjutnya kemudian. Dirman melangkah. “Bagaimana, Mas? Yang ini asli dari Solo. Tangannya halus dan pandai memijat.” “Cukup laris?” pancing Dirman. “Ya, ya, banyak tamu yang menyukai pijatannya.” “Kalau dia laris, tangannya pasti sudah kasar!” tukas Dirman. “Oh.”
84

Kembang Turi

“Tidak pernah melihat telapak tangannya?” “Saya kira dia tidak seperti itu, Mas. Belum lama kok di sini.” “Di mana?” “Tidurnya di belakang losmen ini. Dia kos di situ.” Dirman tersenyum. “Jadi....” “Saya mau tidur,” potong Dirman. Pemuda itu tersenyum mengangguk-angguk, menutupi rasa malu. “Besok malam, mungkin saya berminat,” lanjut Dirman menghibur. “Ya, ya, maaf lho Mas, mengganggu sampean.” Pemuda itu berbalik dan melangkah dengan cepat. Ia tidak menoleh. Ketika menuruni tangga, hampir saja terpeleset. Tiba di muka pintu kamarnya, Dirman berhenti. Pintu itu tidak dikunci. Ia menganggukangguk. Menyadari kealpaannya.

85

Budi Sardjono

“Selamat malam, Mas. Maaf, saya menunggu di sini,” sapa seorang perempuan, langsung berdiri begitu melihat pemilik kamar di muka pintu. “Siapa yang menyuruhmu masuk ke kamar ini?” tanya Dirman. “Kang Slamet. Katanya, Mas mau dipijat?” Dirman menutup pintu, mengunci dari dalam. Ia duduk di atas dipan. “Kamu yang mengaku berasal dari Solo?” “Masih ke selatan lagi kok, Mas,” jawab perempuan itu tersipu. “Sukoharjo?” “Wonogiri.” “Hmmm. Tidak menipu?”
“Selamat malam, Mas. Maaf, saya menunggu di sini,” sapa seorang perempuan, langsung berdiri begitu melihat pemilik kamar di muka pintu.

“Lho, untuk apa menipu, Mas? Memang asli Wonogiri, apa mau mengaku asli Jakarta? Nanti, orang-orang Jakarta pada marah. Mereka akan protes, tak mungkin orang Jakarta menjadi pemijat dan beroperasi di losmen-losmen Pasar Kembang. Begitu biasanya.”
86

Kembang Turi

“Apa orang-orang Wonogiri tidak marah dengan kamu?” “Mau marah bagaimana? Lha wong nyatanya saya asli sana. Lahir dan besar di sana. Dan sekarang, cari rezeki di sini. Kalau marah, apa mereka mau menanggung hidup saya, hidup dua anak dan adikadik saya?” Perempuan itu tersenyum. Ia duduk kembali. “Maaf, lho, Mas. Jangan diambil hati. Saya biasa begini. Omong apa adanya.” Dirman mengangguk-angguk. Ia mencopot jaket dari tubuhnya. “Dari mana tadi sore, Mas?” “Wonosari. Gunung Kidul.” “Emmm. Di Losmen Gatra juga ada yang dari Wonosari. Orangnya hitam manis. Saya kenal baik.” Perempuan itu menatap Dirman. Tiba-tiba, ia menyilangkan kakinya. “Sudah lama kamu bekerja di sini?” “Hampir empat tahun.” “Hampir empat tahun. Sudah bisa memiliki apa di desa? Atau, di sini?” “Maksud Mas?”
87

Budi Sardjono

“Mungkin dengan penghasilanmu selama ini sudah bisa beli sawah, tanah, rumah, atau mobil?” Perempuan itu tersenyum, lalu tertawa lirih. “Habis untuk makan!” ucapnya kemudian. “Sungguh, cuma untuk makan. Itu sudah untung. Daripada modar kaliren. Ya, kan?” Dirman ikut tersenyum. “Kamu bodoh,” katanya kemudian pelan. “Siapa namamu?” “Titin. Orang-orang memanggil saya begitu. Lengkapnya sih Hartini.” Kembali perempuan itu tersenyum. Ia menarik kursi bersama tubuhnya mendekati Dirman yang kini bersandar di tembok. “Jadi lonte itu pertamatama harus baik.” Dirman menatap perempuan yang mengaku bernama Titin itu. “Mengerti?” Mata Titin terbelalak. Ia tidak mengira kalau laki-laki yang berperangai halus itu akan berkata dengan begitu kasar.
88

Perempuan itu tersenyum, lalu tertawa lirih. “Habis untuk makan!” ucapnya kemudian. “Sungguh, cuma untuk makan. Itu sudah untung. Daripada modar kaliren. Ya, kan?”

Kembang Turi

“Maksudku, jangan sekali-kali menipu laki-laki yang mengajakmu kencan. Jangan suka merengekrengek meminta tip atau persen dari harga yang telah disetujui. Tetapi, baik saja belum cukup. Kamu mesti pintar dan punya cita-cita. Pernah berpikir sampai ke situ?” Perempuan itu menggeleng. “Apakah pekerjaan ini akan kamu geluti sampai kamu tua?” Perempuan itu menggeleng. “Nah, karena itu, kamu harus sudah punya cita-cita sejak dini.” Dirman menghela napas. Menunggu reaksi. Perempuan itu diam. Matanya tak berkedip memandangnya. “Pernah bercita-cita jadi germo atau mucikari?” Mata Titin makin lebar terbelalak. Seolah tidak percaya dengan ucapan laki-laki yang baru pertama kali itu ditemui. Ucapannya kasar, tanpa tedeng aling-aling. Namun aneh, ia tidak punya keberanian membantah atau mendebat. Jika laki-laki lain, mungkin sudah ia damprat habis-habisan. Belum

89

Budi Sardjono

pernah selama ini ada lelaki yang menyebut dirinya sebagai lonte. Biasanya, mereka justru memuji. Entah kecantikan yang dimiliki, atau memuji tubuhnya, memuji kulitnya yang hitam manis. Jika mereka minta dipijat dulu sebelum bercumbu, mereka akan memuji kekuatan tangannya. Atau, cara-cara yang membuat lelaki menikmati uang yang akan dia buang meski semua itu tak lebih dari basabasi. Tak ada lelaki yang jujur Tak ada lelaki yang jujur di di tempat seperti ini. Sama tempat seperti ini. busuknya hati mereka dengan Sama busuknya tipu muslihat yang sering hati mereka pula ia lakukan. Tapi, laki-laki dengan tipu yang satu ini berbeda. Tidak muslihat yang sering pula ia memuji, justru meletakkan lakukan. Tapi, dirinya di tempat yang tepat! “Dengan menjadi germo, nasibmu akan lebih baik. Penghasilanmu meningkat. Tapi harus diingat, kalau menjadi germo, jadilah germo yang baik pula.”
laki-laki yang satu ini berbeda. Tidak memuji, justru meletakkan dirinya di tempat yang tepat!

90

Kembang Turi

Dirman menghentikan ucapannya. Menunggu reaksi. Tapi, perempuan itu hanya menatap dirinya penuh tanda tanya. “Maksudnya jadi germo yang baik, yaitu jangan sekali-sekali merebut rezeki anak buahmu sendiri. Jangan mau membeli gadis dari para calo yang berkeliaran di desa-desa menjerat mangsa. Aku sangat benci dengan calo yang seperti itu. Jika aku punya kekuatan, rasanya ingin mengubrak-abrik sarang calo yang seperti itu. Mereka telah merusak masa depan gadis-gadis yang tidak tahu apa-apa, menjual dengan harga tinggi, memeras gadisgadis yang masih lugu itu, dan biasanya menjerat begitu rupa sehingga mereka tidak bisa keluar dari cengkeramannya.” “Saya tidak mengerti maksud Mas,” ucap Titin lirih. Dirman tersenyum. “Aku memahami perasaanmu saat ini. Mungkin kamu bertanya, kenapa aku berkata seperti tadi? Siapa tahu kamu mengira kalau aku ini laki-laki gendeng. Tidak, Tin. Aku berkata sejujurnya. Kalau aku berkata apa adanya denganmu, karena aku simpati denganmu.”

91

Budi Sardjono

Titin menggeleng. Dia tetap belum bisa mengerti maksud kalimat laki-laki itu. Ke manakah arahnya? Dirman menggaruk-garuk kepalanya. Menutupi kegugupannya. Akankah ia berkata sejujurnya pada perempuan bernama Titin ini? Untuk apa? Agar perempuan ini menerima sarannya? Laki-laki itu menggeleng. Ia membantah suara hatinya sendiri. “Dengar, Tin,” katanya kemudian, pelan. “Aku juga punya kakak perempuan. Sekarang menjadi germo di Semarang. Hidupnya memang jauh lebih baik dibanding sewaktu dulu masih seperti kamu.” “Apakah....” “Ya, bohong. Dirman menjadi buah,
92

ya. Aku tidak berUntuk apa?” kilah cepat. “Benar-benar germo. Punya anak mungkin sepuluh

“Dengar, Tin,” katanya kemudian, pelan. “Aku juga punya kakak perempuan. Sekarang menjadi germo di Semarang. Hidupnya memang jauh lebih baik dibanding sewaktu dulu masih seperti kamu.”

Kembang Turi

orang. Tapi, kakakku tidak mau menerima gadisgadis lugu dari desa untuk menjadi anak buahnya.” “Lalu?” “Hanya mau menerima mereka yang benarbenar ingin mengubah nasib hidupnya. Mereka yang kepepet atau tergencet nasib buruk, tidak menemukan jalan lain. Bisa saja semula mereka wanita baik-baik. Entah janda atau gadis dari keluarga miskin. Atau, wanita biasa yang harus menanggung hidup keluarganya, sementara ia tidak memperoleh pekerjaan mesti sudah pontangpanting mencari.” “Jadi..., Mas setuju dengan pelacuran?” celetuk Titin. “Masalahnya bukan setuju atau tidak setuju,” kilah Dirman diplomatis. Perempuan itu mengangguk-angguk. Ia tidak mengira kalau malam itu akan bertemu dengan laki-laki “aneh”. Bagaimana tidak aneh? Bukannya segera minta dilayani atau menolak karena tidak berminat dengan dirinya, laki-laki ini justru mengajak bicara panjang lebar mengenai nasib wanitawanita yang berprofesi sebagai pelacur. Laki-laki
93

Budi Sardjono

itu malah terang-terangan menyebut dirinya sebagai lonte. “Aku selalu bersimpati pada orang-orang yang ingin keluar dari gencetan kemiskinan. Aku suka dengan mereka, Tin. Kalau aku bisa, aku akan membantu. Aku pernah merasakan bagaimana rasanya orang menderita. Lapar, dahaga, terluntalunta, dan tak seorang pun mengabaikan kita. Harga kita menjadi sangat murah. Jauh lebih mahal seekor anjing atau burung piaraan. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Tapi, nyatanya terjadi. Orang boleh tidak percaya, tapi kalau nyatanya begitu?” Titin mengangguk-angguk. Baru kali ini ada manusia yang mau bicara dengan dirinya begitu jujur. Jauh dari gelegak nafsu hewani. Tak ada dengus berahi. Padahal, yang dibicarakan justru nasib dirinya, nasib wanita-wanita yang menjual tubuh dan menawarkan semerbak berahi pada setiap lelaki. Di luar kamar, terdengar langkah orang menyeret sandal. Lalu, terdengar derit pintu, entah ditutup atau dibuka. Malam sudah mendekati subuh.
94

Kembang Turi

“Sudah ngantuk?” tanya Dirman. “Kalau bingung, anggap saja semua yang kukatakan tadi sebagai omongan orang mabuk. Jangan kau masukan ke dalam hati.”

”Saya berterima kasih bisa bertemu dengan orang seperti Mas. Tak pernah saya diajak omong seperti ini. Tak pernah saya dianggap sebagai manusia lumrah. Manusia yang juga punya telinga, hati, dan perasaan. Biasanya, saya ini cuma dianggap boneka permainan. Kalau bisa memuaskan, mereka tersenyum senang. Namun kalau sampai mengecewakan, mereka akan cemberut. Mungkin siapa tahu, dalam hati, mereka ingin meludahi saya. Benar kata Mas tadi, terkadang harga saya jauh lebih murah dari seekor anjing atau binatang kelangenan lain. Terima kasih, Mas. Rasanya, saya lahir kembali.”
95

Titin menganggukangguk. Baru kali ini ada manusia yang mau bicara dengan dirinya begitu jujur. Jauh dari gelegak nafsu hewani. Padahal, yang dibicarakan justru nasib dirinya, nasib wanitawanita yang menjual tubuh dan menawarkan semerbak berahi pada setiap lelaki.

Budi Sardjono

Dirman tersenyum. “Akan saya perhatikan semua yang Mas katakan tadi. Sekarang, saya sadar. Memang mau atau tidak mau saya harus keluar dari belenggu kemelaratan ini. Susah jadi orang melarat. Tak punya harga, tak punya kekuatan. Yang kita punya cuma satu, yakni kenekatan!” Titin berdiri. Wajahnya tampak cerah. Ia memang merasa ada angin segar yang merasuki poripori tubuhnya. Padahal, dalam dompet cuma ada dua lembar ribuan. Biasanya, di hari-hari seperti kemarin, pada saat-saat seperti ini, tubuhnya sudah penat. Tubuh yang semestinya minta diistirahatkan itu, ia paksa untuk terus bekerja. Apalagi, jika dompetnya masih kosong. Ia akan terus memburu mangsa. Mungkin sampai menjelang pagi. Jangan sampai pulang dengan tangan hampa. “Hampir pagi, Tin,” Dirman berdiri dan menghampiri Titin. “Maafkan aku menahanmu begitu lama dan cuma mengajak ngobrol.” “Tidak apa-apa, Mas. Saya berterima kasih sekali karena saya merasa masih dianggap manusia. Setidak-tidaknya oleh Mas.” Perempuan itu
96

Kembang Turi

merapikan rambutnya, juga gaunnya yang berwarna merah darah dengan kombinasi rompi warna hitam bintik-bintik putih. “Kalau besok siang kita bisa ketemu lagi, mungkin banyak yang bisa kita obrolkan.” “Besok siang....” “Tidak harus bertemu lagi. Aku sendiri harus pergi ke Wonosari. Pulang mungkin malam hari. Aku tidak tahu, apa masih menginap di sini atau akan terus ke Semarang.” “Oh….” “Sekedar untuk sarapan pagi besok,” kata Dirman sambil menyelipkan selembar puluhan ribu dalam genggaman Titin. “Jangan menolak. Aku akan marah kalau kamu menolak pemberian ini.” Titin melongo. Ia benarbenar tidak mengira kalau malam itu akan ketemu lakilaki yang begitu baik. Lelaki

Titin melongo. Ia benar-benar tidak mengira kalau malam itu akan ketemu laki-laki yang begitu baik. Lelaki berperangai halus meski omongannya terkadang sedikit kasar.

97

Budi Sardjono

berperangai halus meski omongannya terkadang sedikit kasar. “Terima kasih atas semuanya, “ucap Titin akhirnya. Suaranya parau. Dirman mengangguk. Ia mengantar Titin sampai di ujung koridor. Perempuan itu masih sempat menoleh dan tersenyum sewaktu menuruni anak tangga. Dirman membalas. []

98

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->