tema utama

REPUBLIKA ● AHAD, 15 NOVEMBER 2009

B6
BLOGSPOT.COM

tema utama
Meningkatkan Silaturahim dengan Zikir
Generasi muda Muslim perlu diselamatkan dari godaan modernitas yang identik dengan ingar-bingar kehidupan materialistis. Tarekat Tijaniyah di Madura telah menerapkannya dengan cara mengajak kaum muda Muslim untuk menyeimbangkan kualitas pikir dan spiritual, sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Dr KH Fauzi Tijani Lc, muqaddam (pengasuh wilayah) Tarekat Tijaniyah di Madura, mengatakan, tokoh-tokoh Tarekat Tijaniyah berupaya menarik sebanyak mungkin generasi muda dari usia 14-30 tahun untuk diasah kemampuan spiritualitasnya. ''Ini merupakan usaha kami untuk menyiapkan generasi muda dalam menghadapi globalisasi. Mereka harus siap menghadapi era globalisasi dengan kecerdasan pikir dan kecerdasan jiwa,'' ujarnya kepada Republika, Rabu (11/11). Menurut Fauzi, kecerdasan pikiran generasi muda diasah di pesantren-pesantren yang diasuh oleh para muqaddam di masing-masing wilayah. Sedangkan kecerdasan spiritualnya, dilatih melalui mekanisme pendidikan jiwa yang telah ditetapkan oleh Tarekat Tijaniyah. Ia menjelaskan, ketika seseorang telah dibaiat menjadi penganut Tarekat Tijaniyah, ia diwajibkan untuk mengamalkan wadzifah (zikir wajib) setiap harinya. Kiai Fauzi Tijani mengungkapkan, wadzifah tersebut tidak boleh ditinggalkan walau hanya sehari. Isinya terdiri atas bacaan-bacaan yang sesuai dengan syariat Islam Ahlu Sunnah wa Al-Jamaah. Membacanya pun harus dengan hati yang tulus, khusuk, dan tawadu. Wadzifah tersebut terdiri atas bacaan Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabiin, dan pendiri Tarekat Tijaniyah, Syekh Ahmad al-Tijani. Kemudian, dilanjutkan dengan shalawat al-fatih sebanyak 50 kali, lafzhul jalalah, La ilaha illallah (yang dalam tradisi tarekat ini dikenal dengan haylalah) sebanyak 100 kali, dan jauharatul kamal yang berisi puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak 13 kali. ''Membaca keseluruhan amalan tersebut tidak lebih dari 30 menit. Dan, yang penting lagi, dalam praktik pembacaannya, seorang murid harus menjauhkan dari hal-hal yang berpotensi mengganggu kekhusukan, seperti musik, rokok, dan lain-lain,'' jelasnya. Tarekat Tijaniyah tidak memperbolehkan musik dan tari dalam ritual-ritualnya. Dalam praktik ritual mingguan yang dilaksanakan pada hari Jumat selepas Ashar hingga Magrib, para murid membaca haylalah dengan suara seirama. Ritual ini diadakan di tempat yang dinamakan zawiyah, atau tempat untuk membaca wirid bagi pengikut Tarekat Tijaniyah. Fauzi menambahkan, pembacaan zikir mingguan tersebut secara langsung menumbuhkan ukhuwah Islamiah (persaudaraan sesama umat Islam) di antara para jamaah. Ukhuwah ini dilandasi atas semangat spiritualitas hamba-hamba Allah yang sedang menempuh jalan menuju kesucian jiwa. Dan, pada aspek sosialnya, ungkapnya, menumbuhkan solidaritas umat yang kuat. Mereka datang ke zawiyah dengan membawa bekal masing-masing. ''Biasanya bekal yang dibawa tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi dilebihkan untuk dibagi kepada orang lain yang hadir di zawiyah itu,'' jelas Fauzi. Tradisi ini semakin menguat ketika bulan suci Ramadhan. Alumnus Timur Tengah ini menuturkan, praktik ritual ini menarik minat banyak orang untuk mengikuti Tarekat Tijaniyah. Tak mengherankan jika jumlah jamaah tarekat ini terus bertambah dari hari ke hari. Di Indonesia, jumlahnya sudah mencapai puluhan juta jamaah. Besarnya jumlah jamaah dapat dilihat ketika berlangsungnya acara Idul Khotmi. Idul Khotmi dilangsungkan satu tahun sekali pada setiap bulan Februari. Menurut Kiai Fauzi, acara tersebut untuk memperingati hari diangkatnya Syekh Ahmad al-Tijani menjadi wali Allah. Di dalamnya, diadakan bermacam ritual dan diikuti oleh jamaah Tarekat Tijaniyah dari seluruh Indonesia dan mancanegara. ■ rido ed: sya
TIJANIYAHGARUT.WORDPRESS.COM

REPUBLIKA ● AHAD, 15 NOVEMBER 2009

B7
AT-TIJANIYAH.BLOGSPOT.COM

Tarekat Tijaniyah

Wirid dalam Kehidupan Sosial

Motor Penyebaran Islam di Afrika
Penganut tarekat berperan besar dalam menentang kolonialisme di berbagai negara di dunia.
Nidia Zuraya

D

alam pandangan kaum sufi, tarekat merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pendekatan yang dilakukan tak hanya sekadar ibadah mahdlah (syariat), tetapi juga dengan pengamalan ajaran Islam secara lebih mendalam dengan mengedepankan hati dan mengendalikan hawa nafsu. Di dunia Islam, cukup banyak berkembang aliran tarekat. Salah satunya adalah Tarekat Tijaniyah yang didirikan oleh Syekh Ahmad al-Tijani, sekitar abad ke-18 Masehi (1781) bertepatan dengan tahun 1195 H. Tarekat ini berkembang di wilayah Fez, Maroko. Dibandingkan yang lainnya, Tarekat Tijaniyah terbilang masih baru. Namun demikian, tarekat ini cukup populer dan diikuti oleh banyak kalangan. Salah satu yang menjadi daya tariknya adalah memadukan urusan dunia dengan akhirat secara seimbang. Dalam menjalankan ritual ibadah, tarekat ini lebih banyak menyederhanakan aspek ritual dan mendorong kekuatan niat sebagai langkah utama. Urusan spiritualitas sebagaimana banyak dipraktikkan aliran lainnya, juga dijalani dengan sepenuh hati dalam
TIJANI.ORG

tarekat ini. Dengan cara ini, tak heran bila dalam waktu singkat banyak umat yang menjadi pengikutnya. Tak hanya di daerah asalnya, Fez (Maroko), tetapi juga menyebar ke berbagai wilayah di benua Afrika, seperti Tunisia, Libya, Sudan, Mesir, Nigeria, Afrika Selatan, Ghana, Mauritania, Mali, Pantai Gading, dan Burkina Faso. Dalam perkembangan berikutnya, ajaran Syekh Ahmad al-Tijani ini juga tersebar luas di sejumlah negara di benua Eropa, Amerika, dan Asia, termasuk Indonesia, Turki, dan Albania. Seperti halnya para pengikut Tarekat Qadariah dan Syadziliyah, para murid Tarekat Tijaniyah ini berjasa menyebarluaskan Islam ke berbagai kawasan Afrika. Pendekatan sufistik dalam penyebaran Islam di wilayah Afrika, membawa perubahan besar dalam perkembangan umat Islam di benua Afrika. Perlawanan terhadap kolonialisme Para pengamat mengakui, tarekat berperan besar dalam mengganjal serangan misionaris Kristen di wilayah ini. Xavier Coppolani dalam tulisannya yang bertajuk ''Les Confreries Religieuses Musulmans'' menyatakan, para pengikut Tarekat Tijaniyah menyiarkan Islam di kalangan pemeluk animisme, dengan persaudaraan-persaudaraan sufi dan senantiasa berada di garis terdepan dalam melakukan perlawanan terhadap ekspansi kolonialisme. Dalam penyebarannya di Aljazair, terang Coppolani yang juga merupakan pemimpin militer wilayah koloni Prancis di Aljazair, Tarekat Tijaniyah memperlihatkan sikap damai terhadap pemerintah kolonial Prancis, tetapi di Maroko, ia telah melancarkan perlawanan yang gigih terhadap dominasi asing. Di Turki, sebuah kelompok kecil penganut Tarekat Tijaniyah merupakan kelompok Muslim pertama yang secara terbuka menentang rezim sekulerisme sekitar tahun 1950. Sementara di Senegal, para pengikut Tarekat Tijaniyah memberikan andil besar dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah tersebut. Ajaran Tarekat Tijaniyah dibawa ke Senegal oleh El Hadji Omar Tall pada abad ke-19 M. Islam masuk ke Senegal sebelum abad ke-11 M, dan terus berkembang setelah kerajaan Tukulor (kerajaan kecil di Senegal) menerima Islam sebagai agama resmi negara. Mereka diislamkan oleh para pengikut Tarekat Tijaniyah.

TIJANIYAHGARUT.WORDPRESS.COM

● Syekh

Hassan Cisse, Muqaddam Tijaniyah di Senegal

Syekh Ahmad al-Tijani

Pengikut Tarekat Tijaniyah juga berperan dalam perjuangan rakyat Senegal menghadapi koloni Portugis, Inggris, Belanda, kemudian Prancis. Sekitar 30 persen umat Islam di Senegal adalah pengikut Tarekat Tijaniyah. Di kawasan Eropa, salah satu wilayah yang menjadi tempat penyebaran Tarekat Tijaniyah adalah Albania. Di masa lalu, negara yang berbatasan dengan Montenegro di sebelah utara, Serbia (Kosovo) di sebelah timur laut, Republik Makedonia di timur, dan Yunani di selatan, termasuk wilayah kekhalifahan Utsmaniyah dan penduduknya banyak memeluk Islam. Tarekat Tijaniyah masuk ke Albania hampir bersamaan dengan masuknya Tarekat Tijaniyah ke Indonesia, yakni sekitar tahun 1920-an. Ulama yang membawa dan mengembangkan Tarekat Tijaniyah di Albania adalah Syekh Haji Shah Muhammad Shaban Efendi Domnori (1868-1934). Syekh Shaban dikenal sebagai ulama ahli tauhid dan tasawuf di kalangan para ulama dan para imam di Kota Shkodra, Albania Utara. Tarekat Tijaniyah secara resmi hadir di Kota Shkodra pada tahun 1920 dan dipimpin oleh Syekh Shaban Domnori. Pada awalnya, tarekat ini dikembangkan secara sembunyi-sembunyi. Namun, akhirnya Syekh Shaban menyebarkannya secara terang-terangan dengan membuka zawiyah (pesantren sufi) pertama di rumahnya sendiri di distrik Ayasem Kota Shkodra. Para murid Tarekat Tijaniyah kemudian mendirikan zawiyah lain di distrik Ndocaj. Masa transisi Namun, seusai Perang Dunia II, Tarekat Tijaniyah dan tarekat lainnya mengalami masa kemunduran seiring dengan penguasaan wilayah Albania oleh kaum komunis. Organisasi tarekat

Tokoh Pendiri Tarekat Tijaniyah
TIJANI.ORG

dan hak-hak sipil untuk menjalankan praktik keagamaan dan lainnya diberangus dan diharamkan oleh penguasa komunis. Kaum komunis telah menghancurkan hampir semua zawiyah dan pusat-pusat Tarekat Tijaniyah di Albania. Banyak ulama dan pengikut Tijaniyah yang dipenjara akhirnya meninggal dunia. Kaum komunis menguasai wilayah Albania dan sekitarnya hingga kejatuhan pemerintahan komunis tahun 1990. Setelah era komunis berakhir, perkembangan agama umumnya dan khususnya Islam serta tarekat kembali diizinkan dan berkembang. Bahkan, organisasi Tarekat Tijaniyah di Albania kembali dihidupkan dan saat ini dipimpin oleh seorang Muqaddam (pemimpin tarekat) Tijaniyah yakni Syekh Faik Hoja. Sementara itu. penyebaran Tarekat Tijaniyah di kawasan benua Amerika dilakukan oleh para murid Syekh Hassan Cisse yang berasal dari Amerika Serikat. Syekh Hassan Cisse merupakan cucu dari ulama Tarekat Tijaniyah Senegal, Abdoulaye Niass (1840-1922). Para murid Syekh Hassan Cisse ini kemudian mendirikan organisasi yang bernama The African American Islamic Institute. Cabang dari organisasi ini kemudian juga didirikan di sejumlah tempat lainnya di belahan dunia. Pengikut Tarekat Tijaniyah ini juga bisa ditemukan di negara Prancis, Cina, dan Indonesia. Banyaknya jumlah pengikut Tarekat Tijaniyah bisa dilihat dalam penyelenggaraan muktamar Tarekat Tijaniyah pada tahun 1985 M/1406 H, di Kota Fez, Maroko. Muktamar tersebut dihadiri utusan dari 18 negara, seperti Maroko, Pakistan, Tunisia, Mali, Mesir, Mauritania, Nigeria, Ghana, Gambia, Pantai Gading, Sudan, Senegal, Cina, Amerika Serikat, Prancis, dan Indonesia.
■ berbagai sumber ed: sya

Al-Tijani tidak menginginkan seorang murid yang hanya memusatkan perhatian pada kontemplasi dan zikir, serta mengabaikan urusan kemasyarakatan.

Ali Rido

T

arekat Tijaniyah telah diakui sebagai salah satu tarekat muktabarah atau tarekat yang absah di Indonesia. Pengakuan yang datang dari Jam'iyyah Ahlith-Thariqah An-Nahdliyyah itu didasarkan pada amalanamalan dalam Tarekat Tijaniyah, yang dinilai berada di jalur syariat yang lurus. Amalan-amalan tersebut ada yang berbentuk ibadah ritual dan ada pula ibadah sosial. Ibadah ritualnya berupa wirid, yang dikategorikan ke dalam tiga bentuk. Pertama, wirid ladzimah, untuk membersihkan diri dari segala bentuk kotoran maksiat dengan ucapan-ucapan istighfar. Kedua, wirid wadzifah, yaitu membaca shalawat untuk menanamkan komitmen pada Rasulullah SAW dengan senantiasa mengamalkan sunah-sunahnya. Dan, yang ketiga adalah wirid haylalah, yaitu senantiasa mengagungkan asma Allah SWT dan melepaskan diri dari keterikatan duniawi. Tiga macam amalan wirid itu dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai tobat, istikomah, zuhud, dan takwa. Bagaimanakah pengikut Tarekat Tijaniyah mempraktikkan nilai-nilai luhur itu dalam kehidupan sosial? Gambaran ideal penerapan nilainilai Tarekat Tijaniyah secara nyata dapat dilihat melalui keseharian Syekh Ahmad al-Tijani, pendiri tarekat ini. Dalam artikel berjudul ''Tarbiyah Tarekat Tijaniyah'' yang ditulis oleh Syibz disebutkan, kehidupan al-Tijani tidak berbeda dengan orang kebanyakan. Ia tinggal di rumah yang cukup besar dan berpakaian layak. Namun, ia dikenal sebagai orang yang dermawan, yang tidak hentihentinya menyedekahkan hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan. Setiap hari, ia menyediakan makanan dan minuman kepada fakir miskin dan siapa saja yang datang ke rumahnya. Dan, setiap hari Jumat, ia mengumpulkan fakir miskin untuk memberikan bantuan.

Sikap al-Tijani tersebut menunjukkan bahwa untuk menjadi pribadi yang zahid, seseorang tidak harus mengisolasi diri atau menjauhi halhal yang bersifat duniawi. Zuhud, dalam pemahaman al-Tijani, adalah cara hidup yang tidak terikat pada duniawi. Orang yang zahid akan merasa bahagia apabila dapat mendermakan sebagian hartanya kepada yang berhak menerimanya. Dalam buku terpenting Tarekat Tijaniyah, Jawahir Al-Ma'ani, disebutkan bahwa al-Tijani tidak menginginkan seorang murid yang hanya memusatkan perhatian pada kontemplasi dan zikir, serta

mengabaikan masalah-masalah kemasyarakatan. Sebagaimana dicontohkan oleh al-Tijani sendiri, seorang sufi harus aktif berjuang di tengah-tengah masyarakat. Disebutkan dalam Jawahir AlMa'ani, salah satu tanda sufi yang sudah mencapai makrifat adalah ia bertanggung jawab atas keadaan umat; berdakwah sesuai dengan kemampuan akal mereka dan berjuang bersama mereka membangun kehidupan sesuai dengan syariat Islam. Tarekat Tijaniyah mengharuskan para pengikutnya berpegang teguh kepada syariat, baik secara lahiriah maupun batiniah. Tujuannya, untuk menghindarkan seorang murid dari perilaku-perilaku yang menyimpang dari syariat Islam. Apa yang diajarkan oleh al-Tijani, tak berbeda dengan tradisi sufisme yang dikembangkan Imam Ghazali. Dalam bukunya Minhajul Abidin, AlGhazali mengatakan, orang-orang yang memahami syariat Islam, hatinya pasti terpanggil untuk melihat pada semua makhluk Allah dengan pandangan kasih sayang. Pun demikian dengan Syekh AlQusyairi. Ia mengatakan dalam bukunya ar-Risalah al-Qusyairiyah bahwa tarekat merupakan sarana untuk membela doktrin tauhid, yang diyakini kelompok Ahlu as-Sunnah wa alJamaah. Antara akidah, syariat, dan hakikat punya hubungan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. ■ ed: sya
TIJANIYAHGARUT.WORDPRESS.COM

T

arekat Tijaniyah didirikan oleh Syekh Ahmad al-Tijani. Ia dilahirkan pada tahun 1150 H (1737 M) di 'Ain Madi, sebuah desa di Aljazair, Syekh Ahmad al-Tijani memiliki nasab sampai kepada Rasulullah SAW, yakni dari Sayyidah Fatimah al-Zahra, putri Rasulullah SAW. Nama lengkapnya adalah Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Mukhtar Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Salam Ibn Abi al-Id Ibn Salim Ibn Ahmad al-'Alawi Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Abbas Ibn Abd Jabbar Ibn Idris Ibn Ishak Ibn Zainal Abidin Ibn Ahmad Ibn Muhammad al-Nafs alZakiyyah Ibn Abdullah al-Kamil Ibn Hasan al-Musana Ibn Hasan al-Sibti Ibn Ali Ibn Abi Thalib. Ia meninggal dunia pada hari Kamis, tanggal 17 Syawal tahun 1230 H, dan dimakamkan di Kota Fez, Maroko. Sejak kecil, Syekh Ahmad al-Tijani telah mempelajari berbagai cabang ilmu, seperti ilmu usul, fikih, dan sastra. Menginjak usia tujuh tahun, ia sudah hafal Alquran. Dikisahkan, saat usianya masih remaja, Syekh Ahmad al-Tijani telah menguasai dengan mahir berbagai cabang ilmu agama Islam sehingga pada usia di bawah 20 tahun, ia sudah mengajar dan memberi fatwa tentang berbagai masalah agama. Pada usia 21 tahun, tepatnya di tahun 1171 H, Syekh Ahmad al-Tijani pindah ke Kota Fez, Maroko, untuk memperdalam

● Makam

Syekh Ahmad al-Tijani

ilmu tasawuf. Selama di kota ini, ia menekuni ilmu tasawuf melalui kitab Futuhat al-Makiyyah di bawah bimbingan al-Tayyib In Muhammad al-Yamhalidan Muhammad Ibn al-Hasan al-Wanjali. AlWanjali mengatakan kepada Syekh Ahmad al-Tijani, ''Engkau akan mencapai maqam kewalian sebagaimana maqam alSyazili (pendiri tarekat Syadziliyah--Red).'' Selanjutnya, Syekh Al-Tijani berguru pada Syekh Abdullah Ibn Arabi alAndalusia. Syekh Abdullah mengatakan padanya, ''Semoga Allah membimbingmu.'' Kalimat ini diulang sampai tiga kali. Tak cukup sampai di sini, Syekh al-

Tijani juga berguru kepada Syekh Ahmad al-Tawwasi dan mendapat bimbingan untuk persiapan masa lanjut dalam bidang tasawuf. Ia menyarankan kepada Syekh Ahmad al-Tijani untuk ber-khalwat (menyendiri) dan berzikir, sampai Allah memberi keterbukaan (futuh). Kemudian, ia mengatakan, ''Engkau akan memperoleh kedudukan yang agung (maqam 'azhim).'' Ketika memasuki usia 31 tahun, Syekh Ahmad al-Tijani mulai mendekatkan diri (taqarrub) pada Allah SWT, melalui amalan beberapa tarekat. Tarekat pertama yang diamalkannya adalah Tarekat Qadiriyah, kemudian Tarekat Nasiriyah dari Abi Abdillah Muhammad Ibn Abdillah. Selanjutnya, ia mengamalkan ajaran tarekat Ahmad alHabib Ibn Muhammadan, Tarekat Tawwasiyah. Setelah itu, ia pindah ke zawiyah (pesantren sufi) Syekh Abd alQadir Ibn Muhammad al-Abyadh. Pada tahun 1186 H, ia pergi menunaikan ibadah haji. Ketika tiba di Aljazair, saat berjumpa dengan Sayyid Ahmad Ibn Abd al-Rahman al-Azhari, seorang tokoh Tarekat Khalwatiah, ia lalu mendalami ajaran tarekat ini. Kemudian, ia berangkat ke Tunisia dan menjumpai seorang wali bernama Syekh Abd alSamad al-Rahawi. Di kota ini, ia belajar tarekat secara lebih intens sambil mengajar tasawuf. ■ nidia ed: sya

TIJANIYAHGARUT.WORDPRESS.COM

Tarekat Tijaniyah di Indonesia

Berkembang di Tengah Derasnya Arus Penentangan
dalam proses persebaran Tarekat Tijaniyah di Pulau Jawa. Seorang ulama dari Jawa bernama Kiai Muhammad Rais atau yang lebih dikenal dengan Kiai Madrais, disebut-sebut mengenal Kitab Munyat al-Murid langsung dari penulisnya. Kiai Madrais kemudian menyebarkan Tarekat Tijaniyah di daerah Cirebon dan Pekalongan. Selain Kiai Madrais, ada pula Kiai Anas yang diketahui mempelajari Kitab Munyat al-Murid di Kota Madinah dari Syekh Alfa Hasyim, seorang guru di Masjidil Haram. Setelah kembali ke Tanah Air, Kiai Anas mengembangkan Tarekat Tijaniyah di Pesantren Buntet, Cirebon. Tarekat ini berkembang sangat pesat di Jawa Barat dan Jawa Tengah dalam kurun waktu yang relatif singkat. Pada tahun 1928, persebarannya sudah mencapai lima kota, yaitu Cirebon, Tasikmalaya, Ciamis, Brebes, dan Pekalongan. Apa faktor yang menyebabkan perkembangan tarekat ini begitu cepat? Dalam Ensiklopedi Islam, dijelaskan bahwa Tarekat Tijaniyah punya syarat yang lunak bagi para pengikutnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, para murid bisa mendapatkan ijazah dan menjadi guru untuk mengembangkan tarekat ini di tempat lain. Sempat ditentang Akan tetapi, di sisi lain, keberadaan Tarekat Tijaniyah di Tanah Air ketika itu mendapatkan penentangan dari tarekat-tarekat lain yang lebih dahulu ada dan telah mapan. Tarekat yang dimaksud adalah Naqsyabandiah, Qadiriyah, Syattariyah, Syadzaliyah, dan Khalawatiah. Penentangan itu bukan karena perasaan dengki akan pesatnya perkembangan Tarekat Tijaniyah. Tetapi, karena hal-hal yang lebih substansial. Salah satu hal yang dipermasalahkan adalah larangan dari Syekh Tijani kepada para pengikutnya untuk menjadi anggota tarekat lain. Bahkan, mereka diminta untuk melepaskan afiliasinya dengan para guru tarekat lain. Al-Hajj Umar bin Saíid al-Futi al-Turi (1796-1864), seperti dikutip dalam laman tijani.org, menjelaskan bahwa mengambil ajaran dari syekh tarekat yang berbeda-beda kurang menguntungkan bagi seorang murid al-Tijani, karena akan memperlambat proses tercapainya makrifat atas Allah SWT. Ulama yang lebih dikenal dengan nama Hajj Umar Tal ini merupakan tokoh penting Tarekat Tijaniyah pada abad ke-19 M. Pendapatnya ini berseberangan dengan banyak ulama, bahkan ulama sekaliber Ibnu Hajar sekalipun. Ibnu Hajar berpendapat bahwa apabila seorang murid mengikuti ajaran suatu tarekat dengan niat mencari barakah dari Allah SWT, ia boleh mengambil wirid dari guru yang berbeda-beda. Dan, apabila mengikuti tarekat dengan maksud suluk, ia tidak boleh keluar dari lingkup ajaran gurunya. Hingga tahun 1931, perselisihan antara pengikut Tarekat Tijaniyah dan tarekat-tarekat lain masih berlangsung. Penentangan paling keras terhadap Tarekat Tijaniyah datang dari Muhammad Ismail atau yang dikenal dengan Kiai Kracak. Sedangkan di luar Pulau Jawa, datang dari Sayyid Abdullah bin Sadaqah Dahlan, ulama Madinah dan mantan mufti Kesultanan Kedah di Semenanjung Malaka. Karena perlawanan yang keras ini, jumlah pengikut Tarekat Tijaniyah sempat berkurang. Meski demikian, di beberapa tempat, tarekat ini terus berkembang, utamanya di Cirebon dan Garut (Jawa Barat), Madura, serta ujung Timur Pulau Jawa. Perselisihan Tarekat Tijaniyah dengan tarekat-tarekat lain baru mereda ketika Jam'iyyah Ahlith-Thariqah AnNahdliyyah menetapkan keputusan setelah memeriksa wirid dan wadzifah tarekat ini. Bahwa, Tarekat Tijaniyah bukanlah tarekat sesat karena amalan-amalannya sesuai dengan syariat Islam. KH Sufyan Nawawi mengatakan, Tarekat Tijaniyah adalah salah satu tarekat dari 43 Tarekat Muktabaroh Indonesia atau tarekat yang diakui keabsahannya. Di Indonesia, pengikut tarekat ini berjumlah sekitar 10 juta jiwa. Sekitar 40 persen dari mereka adalah kalangan kiai dan pemimpin pondok pesantren, yang tersebar di 14.657 pesantren. Hal itu ia sampaikan pada acara perayaan pengangkatan guru Tarekat Tijaniyah di Pamekasan Madura pada 15 Februari 2009 lalu. ■ rido ed: sya

T

arekat Tijaniyah dibawa masuk ke Indonesia kira-kira tahun 1920-an oleh seorang ulama kelahiran Makkah, Ali bin Abdullah at-Tayyib al-Azhari. Ia datang ke Jawa Barat dan memperkenalkan tarekat ini kepada penduduk setempat. Tidak banyak data sejarah yang menyebutkan ketokohan Tayyib al-Azhari.

Di antaranya, hanya menyebutkan bahwa ia menerima ijazah untuk mengajarkan Tarekat Tijaniyah dari dua orang syekh yang berbeda. Sedangkan Ensiklopedi Islam, mencatat nama Tayyib al-Azhari sebagai penulis Kitab Munyat al-Murid (Kitab Harapan Murid), yang diterbitkan pada tahun 1928. Kitab tersebut berperan cukup besar

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful