LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS Persiapan Pre Operasi Craniotomi Pada Pasien Tumor Cerebri

Disusun oleh : Manggala Sariputri Sesia Pradestine G1A210116 G1A210117

Presentasi kasus ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu prasyarat mengikuti ujian kepaniteraan Klinik di Bagian Anestesiologi dan Reanimasi Rumah Sakit Margono Soekarjo Purwokerto.

Purwokerto,

Januari 2012

Pembimbing:

dr. Mukhlis Rudi P, MKes, Msi Med, Sp.An KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas karuniaNyalah penulis dapat menyelesaikan penulisan presentasi kasus yang berjudul ³Persiapan Pre Operasi Craniotomi Pada Pasien Tumor Cerebri´. Penulisan tugas
1

ini merupakan salah satu syarat mengikuti ujian Program Pendidikan Profesi di bagian Anestesiologi dan Reanimasi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Penulis berharap presentasi kasus ini dapat bermanfaat untuk kepentingan pelayanan kesehatan, pendidikan, penelitian dan dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. dr. Mukhlis Rudi P, MKes, Msi Med, Sp.An selaku dokter pembimbing yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan presentasi kasus ini. 2. Rekan-rekan profesi serta pihak yang telah membantu dalam penyusunan presentasi kasus ini. Penulis sadar bahwa presentasi kasus ini tentunya masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, segala masukan yang bersifat membangun dari para penelaah sangat diharapkan demi proses penyempurnaan.

Purwokerto,

Januari 2012

Penulis

2

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ««««««««««««««. KATA PENGANTAR DAFTAR ISI ««««««««««««««. ««««««««««««««.

1 2 3

BAB I PENDAHULUAN

««««««««««««««.

4 6 15 25 33 34

BAB II TINJAUAN PUSTAKA««««««««««««« BAB III KASUS BAB III PEMBAHASAN BAB IV KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA ««««««««««««««. ««««««««««««««.. ««««««««««««««.. ««««««««««««««..

3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

B. Tujuan penulisan 1. Meninjau kasus kegagalan intubasi dan faktor-faktor yang

mempengaruhinya 2. Mengetahui penanganan tepat pada kegagalan intubasi

4

hipokarbia (PaCO2 : 25-30mmHg) c. sebab tekanan intrakranial menjadi sama dengan atmosfir saat otak terbuka. meningkatkan terjadinya iskemia dan kerusakan akibat tekanan dari retraktor dan meningkatkan risiko edema serebral pasca bedah. Pada beberapa kasus. Hindari faktor-faktor mekanis yang meningkatkan tekanan vena serebral seperti : 5 . Neuroanestetist harus selalu waspada. Otak yang bengkak memerlukan retraksi yang lebih kuat. Pengendalian ICP merupakan hal yang paling penting pada tahap pennulaan operasi. Tetapi bila ketika tulang kepala terbuka. otak akan ³bengkak´. jaringan otak dan CSF. Ada interaksi yang kontinyu antara CBF dengan volume darah otak. bagaimana obat dan teknik anestesi mempengaruhi hal-hal tersebut tadi. Prinsip-prinsip Pengelolaan Anestesi Prinsip pengelolaan anestesi adalah : a. Ventilasi kendali : . CBF meningkat akibat obat-obatan atau kesalahan teknik anestesi.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. I. melindungi jaringan saraf dari iskemia dan injury (injuri sekunder). Hindari lonjakan tekanan darah d. NEUROANESTESI Ada tiga sasaran anesthesiologist untuk membantu ahli bedah dalam operasi bedah saraf: mengendalikan tekanan intrakranial dan volume otak dengan pengaturan CBF. dengan melakukan proteksi otak.oksigenasi adekuat (PaO2 : 100-200mmHg) . mengurangi perdarahan dengan teknik hipotensi tanpa menurunkan CPP. Otak yang ³kempis´ diperlukan pada saat operasi otak untuk memudahkan ahli bedah saraf bekerja dan mengurangi kerusakan akibat trauma retraktor. otak menonjol keluar sehingga terjadi kerusakan dan sayatan oleh sisi-sisi tulang tengkorak. Jalan nafas selalu bebas sepanjang waktu b. Volume CSF.

maka ventilasi dilakukan untuk mencegah PaCO2 35 mmHg supaya tidak mengakibatkan lebih turunnya CBF. hindari kanulasi vena jugularis interna/ ekterna. Hindari obat-obat dan teknik yang meningkatkan CBF. PaCO2 yang sangat rendah (< 20 mmHg) harus dihindari karena : CBF sedikit perubahannya pada PaCO2 < 20 mmHg Untuk mencapai PaCO2 yang sangat rendah diperlukan Volume semenit yang tinggi. yang akan meningkatkan tekanan vena sentral. pada 24 jam pertama CBF turun sampai 50%. Pada cedera kepala berat. Pengelolaan Jalan Nafas dan Ventilasi: Jalan nafas harus diperhatikan sepanjang waktu. Tidak ada kesengajaan dimana posisi kepala lebih rendah dari jantung e. jadi menimbulkan efek yang berlawanan PaCO2 < 20 mmHg bisa menimbulkan serebral iskemia. Ventilasi dikontrol untuk mendapatkan PaO2 100-200 mmHg dan PaCO2 25-30 mmHg. Laktat CSF meningkat bila PaCO2 < 20-25 mmHg 6 . Volume CSF. Gunakan teknik khusus bila diperlukan untuk mengurangi ICP dan otak ³bengkak´ g. ICP f. Pemberian cairan dengan tepat a. kepala miring kanan/kiri) - Tidak ada tekanan pada abdomen atau tahanan pengembangan thoraks Tidak ada PEEP yang tidak disengaja Bila mungkin. subclavia. Hipokarbia digunakan untuk mengurangi CBF dan ICP. hiperfleksi. karena kesulitan melihat secara langsung dan kemungkinan distorsi pipa endotraheal akibat posisi pasien atau akibat perubahan kepala selama operasi oleh ahli bedah.- Tidak ada batuk atau mengejan Posisi yang baik untuk drainase darah vena dari kepala (head up 0-30°) Tidak ada obstruksi vena besar pada leher. akibat posisi ekstreem dari kepala (hiperektensi.

Tekanan darah meningkat secara progresif selama laringoscopi dan mencapai maksimal dalam waktu 45 detik. Setelah 2-5 menit akan kembali normal. Pengendalian Tekanan Darah : Hipotensi: Hipotensi hebat pada pasien dengan SOL ketika tulang tengkorak masih tertutup akan menyebabkan penurunan CPP. Edema yang hebat terjadi bila ada kombinasi hipertensi dan kraniotomi. dan kemudian meningkat lagi dengan tindakan inrubasi. Hipertensi: Bila pasien dengan lesi serebral mempunyai gangguan autoregulasi maka hipertensi akan mempunyai pengaruh terhadap ICP. Penelitian menunjukkan bahwa 30 menit episode hipertensi bisa menyebabkan local edema pada otak yang normal. Hipotensi ringan (sistolik 90-100 mmHg pada pasien normotensif) sering dilakukan setelah tulang dibuka. Stimulasi paling besar adalah pada saat intubasi endotraheal.52µg/kg Vasoactive drugs Ganglion blockade Trimethaphan infusion to produce systolic pressure 807 . hal ini penting sekali pada pasien bedah saraf.b. terutama bila katekholamine sirkulasi tinggi misalnya pada cedera kepala atau perdarahan subarachnoid. Peningkatan adrenalin dan noradrenalin plasma terjadi pada saat laringoskopi atau dengan intubasi endotrakheal. Respon kardiovaskuler terhadap stress berupa takikardia dan hipertensi. Table : Methods which have been suggested to modify the response to laryngoscopy and intubation Deep anaeshtesia Narcotics Fentanyl 5-10µg/kg Alfentanil 15-30µg/kg Sufentanil 0. Cara-caranya tertera pada tabel di bawah ini. dengan peningkatan permeabilitas barier otak. Masih diperdebatkan metode terbaik untuk menekan respons tersebut. adalah akibat pelepasan katekholamine.

kami memakai teknik sebagai berikut: 1) Fentanil 1-3 µg/kgBB.v. tekanan darah terus dimonitor. Lidokain i. Hasan Sadikin. lalu 8 . tapi 3 menit sebelum intubasi diberi Lidokain 1. ventilasi lagi selama 5 menit. diventilasi dengan O2 100% dengan atau tanpa Isofluran (tergantung keadaan tekanan darah). satu menit kemudian diberikan Pentotal 5 mg/kgBB. dan pada akhir operasi/ anestesi ketika akan melakukan ekstubasi.Clonidine 4 mg/kg Vasodilating agents Hydra lazine 0. c. Menghindari Faktor-faktor Mekanis yang Meningkatkan CVP : Peningkatan CVP dapat meningkatkan ICP karena : beri semprotan lidokain.5 mg/kgBB i. Keadaan-keadaan ini harus dikendalikan. Stimuli lain yang dapat meningkatkan tekanan darah adalah saat pemasangan head pins. 1 menit sebelum laringoskopi diberi Pentotal 2.100mmHg Trimetaphan bolus dose 2-5mg intravenously blockade .Infusion .Intranasil Lignocaine Intratracheal -2mg/kg of 4% concentration Intravenous .5 mg/kgBB intubasi.15 mg/kg Di RSUP Dr. Dosis Fentanyl jangan melebihi 6µg/kg. sebab ada risiko depresi respirasi pascabedah. lebih efektif daripada intratracheal.phentolamine 5-10mg blockade Sympathetic blockade . Bandung. suntikan lokal anestesi.15 mg/kgBB. Norcuron/ Pavulon 0. pemboran tulang.v.4mg/kg Sodium nitropruside 100µg Glyceryl trinintrate . 2) Seperti di atas.

1. Pemilihan Obat : Obat-obat yang meningkatkan ICP harus dihindari. Batuk dan straining harus betul-betul dicegah. tidak mengganggu CPP. Misalnya: pemberian pentotal dan hiperventilasi sebelum diberikan N2 O. buat keadaan hipokarbia sebelum diberikan volatile anesthetics. Kemungkinan kedua mekanisme ini efektif. Tapi bila ada hipotensi berat harus segera diatasi. tapi perubahan yang cepat pada tekanan intrathorakal (misalnya batuk) dan tekanan intra abdomen mungkin melalui mekanisme yang ke-dua. Pengurangan tekanan darah yang ringan pada penggunaan dosis klinis pentotal. bila ada patologi otak. - Peningkatan CVP dapat ditransmisikan ke vena epidural di canalis vertebralis thorakal dan akibatnya dapat meningkatkan distensi vena-vena tersebut dan meningkatkan tekanan CSF. perdarahan vena meningkat dan otak menjadi lebih vaskuler dan menonjol ke luar dan bisa terjadi kerusakan jaringan otak. Posisi penderita dapat memberikan drainase vena kepala yang baik. Dapat diberikan dosis ulangan dengan tujuan menurunkan ICP dan mengurangi peningkatan ICP akibat intubasi. tidak ada tekanan pada abdomen dan restriksi pengembangan dada d.- Peningkatan CVP dapat ditransmisikan secara retrograde pada vena jugularis dan vena vertebralis yang akan meningkatkan tekanan vena serebral. yaitu dengan tidak adanya penekanan vena jugularis di leher (tidak ada rotasi leher). 9 . setelah episode batuk atau straining. sulit untuk kembali normal. Induksi : Pentotal merupakan obat pilihan untuk induksi. Ahli anestesi harus memilih teknik dasar yang memberikan hasil terbaik. mempertimbangkan efek yang merugikan dan bagaimana cara mengatasinya/ menguranginya. Bila tulang dibuka. atau pengulangan dosis pentotal sebelum suxamethonium. Sayangnya. yang dapat menyebabkan kenaikan ICP. hal ini umumnya dicapai dengan kedalaman anestesi yang adekuat disertai dosis besar pelemas otot untuk intubasi dan dilanjutkan dengan pelemas otot yang adekuat selama pemeliharaan (rumatan) anestesi. Midazolam bisa digunakan.

Tracurium menyebabkan pelepasan histamin yang dapat menyebabkan penurunan tekanan darah. Beberapa center menggunakan pancuronium. tetapi peningkatan ini berlangsung singkat. Sebagai contoh : bila diperlukan 8 mg Pavulon atau Norcuron.Propofol bukan obat yang baik untuk induksi sebab efek hipotensi yang besar serta ada fenomena eksitasi. Diperlukan dosis besar sehingga ada kemungkinan penurunan tekanan darah. 2. tapi Propofol bisa digunakan untuk pemeliharaan anestesi. Juga ada kemungkinan straining pada saat kita pertama mencoba memberikan hiperventilasi. Kebanyakan anestetist menggunakan dosis besar non-depolirising muscle relaxant bersama-sama dengan waktu yang adekuat. Suxamethonium memberikan kondisi yang baik untuk intubasi. Karena alasan-alasan tersebut di atas. bersifat serebral vasodilator. Tetapi kombinasi pemakaian Fentanil dengan Norcuron bisa menyebabkan bradikardi. untuk menghilangkan hal-hal tersebut kami menggunakan campuran Pavulon dengan Norcuron sama banyak untuk fasilitas intubasi. Bila intubasi dengan suxamethonium. maka kami campurkan 4 mg Pavulon dengan 4 mg Norcuron. pelemas otot non-depolarising harus segera diberikan tanpa menunggu pulihnya aktivitas otot. Intubasi Penggunaan pelemas otot untuk fasilitas intubasi dapat dengan non-depolarising atau depolarising. terutama pada pasien dehidrasi dan atau hipertensi yang labil. sedikit meningkatkan ICP. kami lebih suka menggunakan vecuronium atau gabungan Pancuronium-Vecuronium untuk fasilitas intubasi. untuk mengurangi straining pada saat intubasi. yang kurang ideal untuk bedah saraf. pada saat ventilasi kita tidak punya waktu untuk melakukan hiperventilasi yang berguna untuk menurunkan ICP. tetapi obat ini mempunyai efek menaikkan tekanan darah dan frekuensi nadi. Karena onset yang cepat. Kami lebih suka memakai Norcuron karena sedikit pengaruhnya pada tekanan darah. 10 .

Volatile anestesi.5% CBF menurun dan baru meningkat pada konsentrasi 0. Setiap kenaikan ICP akibat volatile anestesi dapat dikurangi dengan pemberian pentotal atau diazepam lebih dabulu. dalam hal ini Isoflurane. hipoksia dan hiperkarbia. karena bila terjadi aspirasi. Mempunyai efek proteksi otak. Keuntungan memakai Isoflurane adalah : Mudah memakainya. hal ini menunjukkan bahwa penurunan CBF (akibat hiperventilasi).Bila ada risiko aspirasi lambung. tetapi peningkatan ICP oleh Isofluran 1% mudah dilawan dengan hipokapnia dan barbiturat 11 . tidak selalu dapat mengkompensasi peningkatan ICP akibat volatile anestesi. Sehingga pada permulaan menganestesi sampai tulang dibuka lebih disukai menghindari pemakaian volatile anestesi dan anestesi dilakukan dengan fentanyl dan thiopenton. Untuk menurunkan pembengkakan akibat volitile dapat diberikan diuretika. Maintenance (Rumatan)Anestesi: Untuk pemeliharaan (rumatan) anestesi bisa dengan narkotik atau volatile anestesi. Mudah mengendalikan tekanan darah. Otak lebih ³bengkak´ dengan volatile anestesi dibandingkan dengan anestesi intravena. Di beberapa center digunakan volatile anestesi sejak permulaan dan obat anestesi inhalasi yang terpilih adalah Isoflurane. 3. Bila ICP masih saja meningkat. bisa digunakan suxamethonium yang sebelumnya diberikan non-depolarising untuk menghilangkan fasciculasi. diberikan setelah tulang tengkorak dibuka. yang terjadi akan jauh lebih mempengaruhi otak daripada efek suxamethonium itu sendiri. Pengetahuan neurofarmakologi tentang obat yang digunakan sangat penting.95%. bersama dengan keadaan hipokarbia 10 menit sebelum pemberian Isofluran. Pemulihan cepat (cepat bangun) Pada konsentrasi 0.

tetapi NaCl fisiologis lebih disukai. bisa sampai 15-30mg/kgBB secara bolus Berikan Diuretik Drainase CSF . bila ³kempis´ bisa diberikan Isoflurane. dengan intravena anestesi. jaringan otak Anestesi hipotensi Anestesi hipotermi Semua teknik ini untuk mengurangi salah satu atau lebih isi ruangn intrakranial yaitu jaringan otak.5 MAC dan respons terhadap CO2 tetap baik sampai 2. Larutan balans elektrolit dapat diterima untuk kebanyakan pasien. sebaiknya dihindari pemberian N2O.8 MAC - Produksi CSF tidak berubah lapi absorbsinya meningkat Peningkatan ICP oleh Isofluran berakhir 30 menit setelah obat dihentikan. tumor. Kemudian dilihat keadaan otak.ventricular tap spinal drainase Steroids Eksisi: . Misalnya sampai tulang dibuka. CSF atau darah. Bila memakai volatile. sedangkan akibat halotan atau enfluran berakhir 3 jam setelah obat dihentikan Bisa juga digunakan kombinasi intravenous anestesi dengan inhalasi. misalnya Pentotal l-3mg/kgBB setiap 20-30menit atau Pentolal kontinyu 1-3mg/kgBB/jam. Hidrasi yang berlebihan harus dihindari sebab dapat menimbulkan hipertensi dengan peningkatan ICP dan serebral edema bila ada kerusakan barier otak. tetapi bila duramater ³rapat´. NaCl 0.hematom. Teknik-teknik khusus bila ada pembengkakan otak : Barbiturat: Pentolal. anestesi intravena diteruskan.- Autoregulasi tetap baik sampai 1. Cairan harus cukup diberikan untuk menjamin perfusi otak yang adekuat dan kardiovaskuler yang stabil. untuk mengurangi efek intrakranial. Maintenance pemberian kristaloid adalah 1-1½ ml/kg/jam.9% osmolaritinya 300 12 . Pengaturan Cairan Intrakranial: Pemberian cairan harus sangat hati-hati. e. Hal ini berdasarkan teori osmolaritas.

II.mOsm/lt. Darah pada umumnya diperlukan bila perdarahan lebih dan 1 liter (>20%). Tapi koloid lebih dari 1½ -21t tidak dianjurkan karena risiko coagulopati. Larutan koloid digunakan bila stabilitas kardiovaskuler tidak bisa dipertahankan dengan pemberian kristaloid yang ³sedang´ (moderat). Walaupun kristaloid lebih cepat dimobilisasi daripada koloid. karena itu diperlukan kristaloid. Koloid hanya extravasasi di dalam jaringan otak yang blood brain bariernya rusak. Infus yang cepat harus dihindari untuk menghindari efek intrakranial yang tidak diinginkan. maka dextran lebih baik dihindari pemakaiannya pada bedah saraf. umumnya masih luas daerah yang normal BBBnya masih luas. sehingga NaCl 0. Pengelolaan Anestesi a. seperti Dextrose 5%. sebab koloid bertendensi dipertahankan dalam jangka waktu yang lama dalam pembuluh darah dan stabilitas sirkulasi dipenahankan dengan volume yang lebih kecil daripada kristaloid. edema serebral setelah koloid lebih terlokalisir. Pemeriksaan Prabedah : 13 . Darah merupakan pilihan utama pada hipotensi akibat perdarahan. tumor otak. Penggunaan dextran dihubungkan dengan kapilari oozing disebabkan naiknya tekanan perfusi dan perbaikan flow kapiler. tetapi stabilitas cardiovaskuler menjadi petunjuknya apakah perlu infus cepat atau tidak. sebab pada cedera otak. Sampai darah tersedia. sehingga terjadi serebral edema. Larutan hipotonik. harus dihindari karena dapat meningkatkan ICP dan menimbulkan edema serebral. Hb pra bedah rendah. Hal ini karena cairan tersebut didistribusikan ke jaringan otak dan CSF.9% ³sedikit´ hiperosmolar. Kristaloid segera didistribusikan ke ruangan extraseluler dan hanya 1/3nya tetap dipertahankan dalam sirkulasi. kemudian glukosa dimetabolisme dan tersisa air yang masuk ke dalam sel otak. atau bila kehilangan darah dengan cepat. Osmolanti serum adalah 290 mOs/lt. lebih disukai pemberian koloid.

atau riwayat transient ischemic attact penting untuk meneruskan obat-obatan ini sampai saat operasi. dexamethasone merupakan steroid pilihan utama sebelum.Tetap dilakukan pemeriksaan rutin untuk anestesi seperti umumnya. Adanya patent ventriculoatrial shunt merupakan kontra indikasi posisi duduk. b. Pasien dengan penurunan kesadaran mengalami pelambatan pengosongan lambung. dan terapi yang digunakannya. Hati-hati adanya bahaya aspirasi pneumonia. Tetapi pada pasien-pasien insufisiensi cerebrovaskuler. Profilaksis antibiotik perlu diberikan. Beberapa center Bedah Saraf mengatakan bahwa adanya edema ini merupakan indikasi pemasangan monitoring ICP pra bedah. Para klinisi mengatakan bahwa adanya edema sekitar tumor jauh lebih penting dari pada ukuran rumor. Premedikasi: Pada umumnya dihindari pemakaian premedikasi dengan narkotik karena ada sedikit peningkatan PaCO2 akibat efek obat yang mendepresi 14 . CT-Scan dan pemeriksaan neurologi lainnya harus dievaluasi. atau pengecilan ruangan CSF. menunjukkan adanya kenaikan ICP selama kraniotomi. midline shift. Penderita mungkin mengalami gejala-gejala kenaikan ICP seperti muntah. Obatobatan yang diberikan sebelumnya harus ditanyakan. Bila pasien baru saja mengalami pemeriksaan pneumo encephalography atau operasi fossa posterior atau ada aerocele harus dicatat karena N2 O kontra indikasi pada pasien-pasien tersebut. efek samping dari penyakit intrakranial. Tetapi pada pasien-pasien bedah saraf ditambah dengan evaluasi ICP. Aspirin umumnya dihindari 2 minggu pra bedah untuk pasien elektif karena mempengaruhi fungsi platelet dan ada risiko mempertinggi perdarahan. sakit kepala dan papil edema. pemberian steroid ini harus diteruskan karena dexamethasone tidak mempengaruhi balans Natrium. Normal steroid. antikonvulsan dan obat and hipertensi diteniskan sampai hari operasi. selama dan setelah bedah saraf. Kebanyakan pasien tumor cerebri mendapat steroid dosis tinggi untuk mengurangi edema cerebri. Telah dilaporkan bahwa pasien dengan edema yang luas di daerah sekitar tumor supratentorial. Selama operasi.

m. Kadang-kadang diperlukan obat yang berefek antiemetik. Narkotik merupakan kontra indikasi absolut pada lesi fossa posterior karena pasien-pasien ini sangat sensitif terhadap efek depresi respirasi obat-obat tersebut. Benzodiazepine cukup menyenangkan untuk premedikasi. Monitoring: Monitoring yang digunakan pada neuroanestesi terlihat pada tabel di berikut. mungkin merupakan pilihan utama. Table: Anaesthetic Monitoring Monitoring the circulation Electrocardiogram Blood pressure : Spriygmomanometer culf-essential in all patients Direct arterial blood pressure *Central venous pressure *pulmonary artery catheter Monitoring ventilation Respirometer Blood gases Endtidal carbon dioxide tension Pulse oximeter 15 .2 s/d 0.15 mg/kg i. Obat premedikasi yang menyenangkan termasuk benzodiazepin. Peningkatan PaCO2 ini mungkin tidak ada atau sedikit efeknya pada pasien-pasien normal. Premedikasi dengan diazepam 0.75 mg/kgBB peroral atau 0.15 mg/kg peroral atau midazolam 0. tapi harus hati-hati sebab pada dosis 0. Untuk anak-anak. triflioperazine atau prochlorferazine. premedikasi midazolam 0. tapi pasien dengan ICP yang meningkat akan memperburuk kondisi pasien.respirasi. bisa menyebabkan retensi CO2.3 mg/kgBB pernasal cukup baik. Paling baik dengan Temazepan. promethazine. c.05 mg/kg i. misalnya pada lesi fossa posterior karena ada gejala muntah-muntah. Narkotik juga dapat menimbulkan mual-muntah yang akan mempengaruhi ICP.025-0.v.

hipotensi kendali. pergerakan dada. Untuk operasi dengan posisi duduk.Inspired Oxygen concentration Monitoring fluid balance Circulator monitoring plus : Urinary output Electronic determinations Haematocrit measurements Monitoring the degree of muscle relaxation Nerve stimulator Temperature monitoring * = When indicated Walaupun terpasang alat-alat monitor yang canggih. Kateter arterial pulmonalis perlu pada pasien dengan penyakit jantung dan paru yang berat. Dari tabel di atas yang diberi tanda bintang (*) adalah bila ada indikasi. nilainya harus dikalibrasi dengan pemeriksaan gas darah. Induksi: 16 . Pulse oksimeter mutlak harus digunakan. End Tidal CO2 sangat penting untuk pasien-pasien bedah saraf. tetapi panca indera kita tetap kita gunakan. sebab ada pergeseran cairan yang banyak akibat pemberian mannitol atau furosernid. merasakan denyut nadi. kemungkinan perdarahan banyak. Doppler precardial dan kateter atrium kanan mutlak diperlukan. auskultasi dada. dan sebagainya. risiko perdarahan yang cepat. Indikasi pemasangan CVP adalah posisi duduk operasi fossa posterior. Tekanan darah otomatis yang non-invasif penting sekali karena dapat mengukur tekanan darah terus-menerus selama induksi anestesi. perlu obat vasoaktif dan untuk menaksir volume cairan. misalnya untuk melihat warna kulit. d. adanya penyakit sertaan tertentu dan diperlukan ventilasi paska bedah. Monitor tekanan darah invasif dengan arteri line diperlukan bila operasi menyebabkan perubahan tekanan darah yang cepat. Umumnya end tidal CO2 5 mmHg lebih rendah dan PaCO2. untuk mendeteksi dan terapi emboli udara.

dilakukan fiksasi tube endotraheal. Peningkatan denyut nadi sulit untuk dicegah. Tetapi bila menyebabkan stress pada pasien (misal anak-anak) pemasangan tersebut dilakukan setelah pasien dianestesi. Setelah selesai intubasi.Bila memungkinkan. maka dihindari pengendalian tekanan darah dengan obat-obat vasodilator. Pada umumnya lebih disenangi dengan menambahkan kedalaman anestesi dengan tiopenton dan fentanyl. Dipasang urine kateter. lebih-lebih bila mayo yang dipakai lebih besar dari ukuran. Hal ini terlihat pada pasien hipertensi. dan pemasangan pharyngeal airway (mayo). sebingga ada risiko hipotensi saat induksi. di luarnya diberi vaselin lagi. ambil gas darah sebelum induksi. atau dengan i. tapi hal ini tidak merupakan masalah. kecuali bila penderita mempunyai penyakit jantung. setelah mata ditutup plester. Di Australia. Bila telah terpasang arteri line. walaupun lebih lambat menurunkan ICP daripada tiopenton. Pengelolaan Hipotensi pada Waktu Induksi 17 . umumnya dipakai nomor 18. lidokain. jangan lupa memberi salep mata dan menutup mata dengan plester kertas atau plester plastik. bisa dipasang dengan jarum epidural dengan kateternya.v. Relaksasi otot yang maksimal diperlukan untuk menghindari terjadinya batuk dan straining. Pemberian dosis bolus tiopenton 30 detik sebelum intubasi sangat dianjurkan. risiko myocardial ischemia karena intubasi bisa dikurangi sampai 10 kali lipat dengan pemberian bloker pada saat pra bedah. Saat induksi anestesi lebih disukai memberikan O2 100% dengan tambahan pentotal dan Fentanyl dari pada ditambah N2 O dan Volatile anestesi. Karena perubahan tekanan darah akibat laringoscopy dan intubasi berlangsung singkat. Harus diingat bahwa bisa terjadi edema pharyng bila dipasang mayo pada operasi yang lama. Lidokain. Pasien-pasien bedah saraf umumnya dehidrasi. Pengendalian ICP lebih penting daripada mencegah hipertensi selintas. Peningkatan denyut nadi dapat ditanggulangi dengan pemberian bloker atau fentanyl. dipasang infus dan monitor sebelum dilakukan induksi. lebih disukai pada pasien dengan sistem kardiovaskuler yang labil sebab kurang menurunkan tekanan darah. Bila diperlukan drainage CSF dari lumbal. Untuk mencegah iritasi pada mata.

Pengaturan Posisi Pasien : Kebanyakan operasi dilakukan dengan posisi terlentang dengan kepala naik 15-30o. pelankan kembali tetesan cairan infus. Bila pemberian cepat 500 ml kristaloid tidak dapat mempertahankan tekanan darah yang adekuat. cardiac output dan perfusi serebral. Bila terjadi penurunan tekanan darah yang besar. Pada pengaturan posisi kepala harus dihindari tekanan pada vena jugularis. Berikan cairan infus. untuk memudahkan drainase darah vena. Efedrin merupakan obat yang paling baik dilihat dari pandangan bedah saraf. Periksa lagi posisi endotracheal tube.Hipotensi bisa terjadi pada pasien yang dehidrasi bila menerima obatobat anestesi dan permulaan IPPV. \ Pasang ganjal lunak pada daerah-daerah yang dapat menekan saraf perifer. Hipotensi yang ringan umumnya bisa kembali saat sayatan dimulai. bisa diberikan dopamin. Karena umumnya turunnya tekanan darah adalah akibat hipovolemia. berikanlah koloid. bila tekanan darah ada di bawah batas autoregulasi. sambil kita berikan airan infus. misalnya N. maka pengelolaannya adalah : Naikkan kaki. karena akan meningkatkan peningkatan tekanan meningkatkan ICP dan menurunkan CPP. poplitea lateral dan ulnaris. Mulai Operasi 18 vena serebral yang akan . Tindakan mi akan meningkatkan venous return. tapi pada operasi bedah saraf antara mulai induksi sampai mulai sayatan pertama pada umumnya memerlukan jangka waktu lama. Vasopresor diberikan dalam jumlah kecil. vasopresor bukan merupakan pilihan pertama. karena ditakutkan adanya over koreksi dengan bahaya kenaikan tekanan darah yang hebat dan meningkatkan ICP. Bila tekanan darah sudah adekuat. Posisi Trendelenburg merupakan kontra indikasi absolut. maka hipotensi tersebut perlu dikoreksi. walaupun mempunyai efek yang kurang menguntungkan berupa takikardia. karena tube bisa tercabut pada ektensi leher dan menjadi endobronhial pada posisi fleksi. Bila perlu pemberian vasopresor yang lama.

Umumnya diberikan bupivacain. e. Hal tersebut dihubungkan dengan taksiran 19 . pergerakan otot. Kenaikan tekanan darah ini dapat dicegah terjadinya bila diberikan anestesi lokal sebelumnya pada daerah yang akan dipasang pins. aliran gas. 8 bloker atau Trimetaphan. karena efeknya yang lama (+ 6 jam). infus dan diuresis. isi gas silinder. menyayat kulit. Maintenance Anesthesia Anestetist harus selalu waspada pada setiap perubahan yang terlihat pada monitor. volume tidal. berikanlah pada saat mulai operasi. hal ini penting untuk menghindari terjadinya hipotensi sebelum tulang dibuka. anticonvulsan atau dexamethasone diberikan pada saat ini. Obat-obat yang lain seperti antibiotik. Bila akan diberikan diuretik. sebab setiap perubahan bisa merefleksikan perubahan pada otak dan menyebabkan operasi menjadi sulit atau tidak mungkin dilakukan. Tidak adanya kenaikan tekanan darah oleh volatile agent tidak menjamin tidak ada kenaikan ICP. pemasangan pins. supaya efek diuretik sudah optimal dan otak sudah kempis saat dura dibuka. isofluran. Sebelum melakukan tindakan-tindakan yang akan menaikkan tekanan darah seperti penyuntikan lokal anestesi. warna pasien. Pengobatan episode hipertensi harus menuju ke tekanan darah yang normal atau sedikit di bawah normal. Mata kita harus mengobservasi sirkuit anestesi. Obat ini merupakan kontra indikasi absolut pada aneurisma serebral dan hati-hati bila diberikan pada pasien yang sedang dianestesi dengan halotan. Lokal anestesi umumnya diberikan untuk mencegah respon hemodinamik saat menyayat kulit. Adrenalin sering digunakan untuk mengurangi perdarahan pada luka sayatan. jarum ventilator. sehingga bila operasi tidak berlangsung sangat lama. anestesi harus didalamkan dengan pentotal (1-3 mg/kg) dan tekanan darah harus dikendalikan. Hipertensi ini terjadi pada pemasangan head pins. monitor. Obat-obat yang diberikan bisa dengan pentotal.Adanya kenaikan tekanan darah diperkirakan akan meningkatkan ICP. efek anestesi lokal masih ada saat menjahit kulit.

9% 3 cc setiap 3cc urine). Defisiensi cairan karena puasa dihitung kira-kira 1. 20 . karena bisa terjadi diuresis yang terlambat dan terjadi pada perioda paska bedah. Tingkatan relaksasi otot dimonitor dengan Train of Four. dengan non-depolirising muscle relaxant. Maka monitoring harus betul-betul dilakukan. Dosis Vecuronium 0. ambil ventilasi secara manual. Bila diuretik diberikan pada saat hipotensi. Bila TOF = 0 berarti ada komplit relaksasi otot. Cara lain adalah diuresis diganti deogan 2cc kristaloid (NaCl 0. Bila sampai terjadi batuk. sinkronkan dengan pergerakan nafas pasien sampai kembali paralisis. dan terjadi hipovolemia paska bedah. Bila diberikan Mannitol.5ml/kg/jam puasa. Kami lebih suka memberikan pelemas otot secara kontinyu dengan syringe pump.1 mg/kgBB/jam cukup memuaskan. Bila diuresis tidak ada. berikan pentotal untuk mengurangi peningkatan ICP. dan berikan pelemas otot. Jadi jangan diberikan tambahan diurerik. Cairan diberikan 70-100ml/jara (dewasa normal). tidak akan terjadi diuresis sebelum normotensi. hal ini aka meningkatkan volume sirkulasi yang akan meningkatkan ICP sehingga perlu diberikan furosemid supaya terjadi diuresis. Relaksasi otot penuh harus diperhatikan sebab blokade 95% yang dilihat dengan kembalinya twitch yang pertama (TOF = 1) tidak mencegah pergerakan diaphragma. Manual ventilasi secara hati-hati. kemudian diuresis tidak terjadi. mungkin disebabkan karena masalah mekanis yang menghambat pengeluaran urine. keseimbangan cairan dan elektrolit. adanya hipotensi dan betul-betul diuresis yang kurang. Kondisi operasi lebih baik bila pasien paralisis daripada apnoe dengan narkotik dan ventilasi sebab kurangnya relaksasi otot abdomen akan meningkatkan tekanan vena. Isoflurane mempunyai potensiasi. bila TOF = 1 berikan lagi pelemas otot. Problema mekanis harus betul-betul dikoreksi sebelum diberikan tambahan diurerik. level blokade neuromuskuler. lalu hubungkan lagi dengan ventilator.kedalaman anestesi. hal ini perlu untuk mencegah terjadinya kenaikan ICP yang intermiten atau pembengkakan otak atau oozing akibat pergerakan diaphragma atau batuk.

berikan 1-3 mg/kg pentotal. Karena efek pentotal singkat. Bila otak sampai menonjol keluar. Bila tidak ada kesalahan teknik. proteksi otak akan diperoleh dan barbiturat dan kombinasi dengan tapping ventrikel. tapi ingat tentang CPP. batuk atau kenaikan tekanan darah saat ekstubasi. Naikkan volume semenit. maka berbagai usaha ditujukan ke arah tersebut. 21 . IPPV diteruskan sampai kepala selesai diverban dan anestesi tetap dipertahankan cukup dalam untuk mencegah straining akibat adanya tube. ini merupakan bagian penting dari terapi. Dengan dosis ini tekanan darah akan turun. Tapping ventrikel mungkin dapat membantu terutama pada operasi fossa posterior. maka berikan pengulangan dosis setiap 20 menit. dangkalnya anestesi dan reaksi terhadap endotraheal tube dapat menyebabkan peningkatan ICP dan tekanan arteri. dapat diberikan dosis tinggi pentotal (sampai 5 gram). terutama air-way dan ventilasi dengan auskultasi dada. Ekstubasi: Menjelang akhir operasi. Karena pada prinsipnya jangan sampai terjadi straining. f. Kembalinya PaCO2 ke batas normal. Bila kesulitan operator sangat besar. Pertimbangkan pemberian tambahan diuretik. EtCO2 dinaikkan perlahan-lahan mencapai normal untuk mencegah kenaikan yang cepat dari perubahan PaCO2. maka dapat menaikkan ventilasi sampai PaCO2 di bawah 20 mmHg. Pada umumnya otak akan masuk kembali ke cranium dan tulang bisa ditutup. tapi ingat bahwa Mannitol harus digunakan dengan hati-hati karena pada permulaan dapat meningkatkan volume darah serebral dan kadang-kadang memperburuk kondisi operasi. koreksi bila ada kelainan.Bila ahli bedah mengeluh dura tegang atau otak melembung maka : periksa semua aspek teknik anestesi. Turunkan tekanan darah. Risiko iskemia pada level PaCO2 ini lebih ringan daripada bahaya tekanan retraksi. maka setelah melakukan koreksi pada teknis anestesi. dosis pelemas otot diturunkan sampai TOF = 1.

Glial tumor (40%) berasal dari astrocyt (astrocytoma dan glioblastoma multiforme) dan oligodendrocyt (oligodendroglioma). trauma dan vaskuler. Tumor pada kelenjar hipofise menimbulkan efek hormonal. atau adanya kejang-kejang. misalnya dengan dosis kecil trimetaphan (2. Kejang dan defisit neurologis lokal bisa disebabkan karena efek penekanan lokal oleh tumor. maka prosedur bedah untuk meningioma lebih rumit dan lebih lama daripada debulking untuk tumor Glia. Pada pendekatan frontal. tetapi pertimbangan anestesinya sama. Prosedur supra tentorial termasuk operasi untuk tumor. hematom. Prosedur bedah untuk supratentorial sering melalui frontal atau pteriontal. aliran darah peri-tumor 28% lebih rendah dari jaringan hemisfer yang kontra lateral. meningioma dan adenoma hipofise.5-5mg) atau l-1. Beberapa tumor harus dieksisi. Walaupun gambaran patofisiologis berbeda untuk setiap lesi yang berbeda. Kebanyakan prosedur bedah saraf intrakranial adalah karena adanya lesi massa. tetapi. B. Reseksi meningioma total akan menyebabkan rendahnya rekurent daripada reseksi parsial. Pendekatan pterional dilakukan melalui lobus temporal dan memerlukan pemutaran kepala pasien ke posisi yang berlawanan. Astrocyt anaplastik dan glioblastoma merusak BBB. ANESTESI UNTUK OPERASI TUMOR SUPRATENTORIAL Anestesi untuk bedah saraf memerlukan pengetahuan tentang prinsip dasar dan neurofisiologi dan pengaruh obat anestesi pada dinamika intrakranial (neurofarmakologi). sebagian besar (60%) adalah glioma. Tumor otak primer. Karena sinus sagitalis berjalan transversal. maka ada risiko perdarahan dan emboli udara pada pendekatan bi-frontal.v. Tumor dalam SSP menimbulkan gejala karena efek penekanan pada struktur saraf sehingga terjadi gejala neurologis spesifik atau kenaikan ICP yang tidak spesifik. Aliran darah ke tumor bervariasi. Adanya edema yang luas sekeliling tumor akan menambah efek massa. termasuk bi-frontal kraniotomi untuk lesi-bilateral atau lesi di garis tengah.Hipertensi ini harus diterapi. Daerah ini juga mungkin menderita iskemia akibat kompresi. yang lainnya hanya paliatif dengan 22 . autoregulasi umumnya hilang dan adanya hipertensi menyebabkan meningkatnya aliran darah ke tumor.5mg lidokain i.

dan astrositoma yang kurang agresif dapat diangkat secara lengkap. Kebanyakan malignan glioma berhubungan rapat dengan jaringan otak normal dan hanya partial debulking yang mungkin dilakukan tanpa menyebabkan kerusakan neurologis. Meningioma suatu tantangan bagi anestetist dan dokter bedah saraf karena jinak dan bisa sembuh. juga pada tumor yang berasal dari pembuluh darah harus dipasang monitor CVP. Kebanyakan tumor supratentorial bersifat jinak. Kadang-kadang pasien menunjukkan adanya edema otak setelah tumor diresekst semuanya.dekompresi. Adanya ICP monitor akan menyebabkan kita waspada terhadap adanya hematoma pasca bedah. Bahaya ini juga terdapat operasi ulangan (redo Craniotomy) untuk meningioma recurent. teknik hipotensi akan mengurangi jumlah perdarahan. Jika lesi terdapat pada lobus temporal atau frontal. Dalam jaringan tumor autoregulasi hilang. serta karena adanya risiko episode apnoe yang tiba-tiba. steroid harus diteraskan 23 . Meningioma bisa mencapai ukuran besar sebelum menimbulkan gejala klinis serta sangat vaskuler yang bisa menyebabkan kehilangan darah yang banyak saat dilakukan pembedahan. Bila ada penekanan dan efek tekanan yang nyata oleh tumor. Anestetist harus mempersiapkan terhadap kemungkinan adanya perdarahan banyak ketika tulang diangkat. misalnya meningioma yang berdekatan dengan struktur penting atau tumor basis. Karena itu pertimbangan prinsip untuk anestesi tumor cerebri adalah pengendalian ICP. Dalam keadaan-keadaan ini. pemasangan VP-Shunt atau radioterapi. juga hal ini terjadi di jaringan sekeliling tumor. tujuan prinsip adalah menghindari hiperkarbia dan hipotensi atau hipertensi. Edema hebat sekeliling tumor sering terjadi pada tumor malignan. Pada keadaan ada kenaikan ICP. pengangkatan tumor yang lengkap dapat dilakukan dengan lobektomi. Meningioma yang besar tetapi jinak sering khas dengan tingginya shunting aliran darah dalam tumor. tetapi komplikasi operasi dapat mengerikan. Bila pembengkakan otak terjadi setelah operasi tumor. Tumor yang lebih besar dan vaskuler. Dalam keadaan ini monitor ICP harus dipasang dan pasien harus diventilasi pasca bedah untuk menjamin bahwa edema otak yang telah ada tidak diperburuk oleh hipoksia atau hiperkapnia. Beberapa konveksitas meningioma menekan ke dalam vauet tulang tengkorak. dan selanjutnya terjadi kenaikan ICP bisa terjadi hemiasi tentorial. Kesulitan bisa terjadi dengan beberapa tumor.

gangguan penglihatan). akan merupakan predisposisi terjadinya konvulsi. seperti halnya prosedur bedah lain. relaksasi otak. penurunan kesadaran. diikuti dengan penambahan dosis untuk beberapa hari pertama pasca bedah. Telaahlah kembali obat-obatan yang lalu dengan lebih menekankan perhatian kita pada obat-obat yang mempunyai efek pada periode perioperatif. Adanya kejang dan defisit neurologis lokal akibat efek penekanan lokal dari tumor. Gejala kenaikan ICP harus ditanyakan (sakit kepala. batuk dan gangguan nafas yang membahayakan pada periode paska bedah III. Pada prosedur bedah saraf. mual. Jadi sasaran anestesilogist adalah : Memahami tipe. Evaluasi Pra Bedah Evaluasi pra bedah untuk operasi supratentorial sama seperti tindakan anestesi lainnya dengan riwayat medis lengkap yang menekankan terhadap fungsi jantung dan paru.post-operatif. berat penyakitnya dan lokasi tumor Pasen tidak bergerak. muntah. Terapi obat-obatan pada pasien bedah syaraf dapat menyebabkan penurunan volume intravaskuler. pengendalian tanda vital Menjamin CPP yang adekuat Cepat bangun sehingga bisa memberikan keadaan untuk pemeriksaan neurologis Terapi dan cegah hipertensi. Telaahlah dengan hati-hati hasil operasi intrakranial atau prosedur diagnostik sebelumnya. Perdarahan otak atau Cerebro Vascular Accident sebelumnya dicatat sebagai residu defisit neurologis. kebanyakan morbiditas dan mortalitas anestesi perioperatif adalah akibat disfungsi paru atau jantung. karena itu berikan anti konvulsi. Anamnesa Pasien bedah saraf membutuhkan pertanyaan khusus tentang penyakit SSP. Daerah yang iskemik atau trauma pada tempat operasi seperti halnya darah dalam ventrikel. Di beberapa senter memberikan tambahan bolus dexamethason 1216 mg perioperatif. a. 24 . dan pertimbangan kemungkinan pneumocephalus residu atau interaksi anestetik lain.

Mannitol dan diuretik lain yang digunakan pra bedah untuk mengurangi edema serebral. paru. midriasis unilateral. sistim kardiovaskuler dan SSP. seperti adanya sakit kepala. Tricyclic anti depresant dan levodopa telah nyata dapat memicu terjadinya hipertensi intraoperatif dan cardiac disritmia Benzodiazepin. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium rutin. Bila kadar glukosa serum > 200 mg% diperlukan terapi insulin untuk menurunkan kadar glukosa ke 25 . mual. tetapi hipovolemia yang nyata harus dikoreksi sebelum induksi anestesi. termasuk jumlah sel darah. Bila ICP meningkat lebih jauh. tingkat kesadaran dan setiap defisit sensoris/motoris harus dicatat. Hipovolemia ringan atau sedang umumnya dapat ditolerir dengan baik. jadi pemberian K harus dipertimbangkan. akan menurunkan kadar K-serum. palsi occulomotor atau abdusen. kimia serum dan koagulasi harus dilakukan. Pemeriksaan neurologis harus diulang di kamar operasi sesaat sebelum dilakukan induksi. Hiperventilasi dan diuresis. Kortikosteroid. b. pupil edema. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik pra bedah ditujukan pada jalan nafas. Pemeriksaan tanda-tanda kenaikan ICP. atau pemberian diuretik. muntah. pemeriksaan ditujukan terhadap kemungkinan adanya hipovolemia. c. Obat anti hipertensi dapat merubah volume intravaskuler. Pada pasien-pasien dengan penyakit sertaan. Pasien-pasien bedah saraf sering somnolent dan intake oral yang tidak adekuat yang dapat menimbulkan keadaan hipovolemia. yang juga digunakan untuk menurunkan edema serebral. Juga bisa terjadi peningkatan diuresis akibat diabetes insipidus. dapat menimbulkan hipoyplemia dan gangguan keseimbangan elektrolit yang bisa menyebabkan terjadinya hipotensi berat dan aritmia pada saat induksi anestesi. Adanya pernafasan Cheyne-Stokes atau bradikardi disertai hipertensi merupakan tanda penekanan batang otak. phenothiazine dan butirophenon dapat berperanan terjadinya hipotensi perioperatif. Pemeriksaan neurologis harus dilakukan. akan meningkalkan kadar glukosa darah dengan stimulasi glukoneogenesis dan menyebabkan penekanan adrenal secara langsung yang dapat menyebabkan terjadinya hipotensi dan insufisiensi kardiovaskuler dengan adanya stres bedah. kesadaran pasien memburuk dan diikuti dengan disfungsi respirasi dan jantung.

karena itu mungkin lebih baik dengan midazolam i. atau oral. dapat diberikan benzodiazepin (diazepam.nilai normal yang berguna untuk proteksi otak dan tekanan osmotik. temperatur. FiO2. e. maka pemantauan EKG pra bedah harus dilakukan. Epilepsi diterapi dengan phenitoin 100 mg 3x sehari.. Piazepam 5-10 mg atau lorazepam 1-2 mg dapat diberikan 1-2 jam pra bedah per oral. Pasien dengan cedera kepala sering EKG-nya abnormal. Idealnya EKG monitor di lead II. Arteri line digunakan bukan saja untuk memonitor tekanan darah dari denyut ke denyut jantung. Mid-line shift 0. untuk melihat perubahan selama operasi dan anestesia. lorazepam atau midazolam). stetoskop oesophageal. i. d. yang keduanya dapat meningkatkan ICP. Steroid efektif untuk mengurangi edema peritumor dan meningkatkan kompliance otak pada pasien tumor ganas dan meningioma.m. V5 dan modifikasi V5 ditempelkan pada semua pasien dengan penyakit jantung iskemik. pulse oximetri. Osmolariti serum harus diukur pada pasien dalam terapi ICP. dan mid-line shift. Narkotik harus dihindari karena meningkatkan risiko muntah dan hipoventilasi. Dosis umum dexamethasone adalah 4 mg 3x sehari bersama-sama dengan hidrogen reseptor antagonist. Premedikasi Sedasi pra bedah merupakan kontra indikasi pada pasien dengan penurunan kesadaran.v. tujuan prinsip pemberian obat adalah untuk mengendalikan ICP dan terapi epilepsi. III Monitoring Monitoring rutin untuk operasi supratentorial adalah EKG.5 cm pada MRI atau CT-Scan atau gangguan dari jaringan otak pada sisterna basalis menunjukkan adanya kenaikan ICP. Pengelolaan Obat : Sekali diagnosa dibuat dan direncanakan untuk tindakan pembedahan. tekanan darah non-invasif. tetapi juga untuk analisa gas darah serta dapat juga menolong melihat 26 . Diazepam dan lorazepam mempunyai waktu paruh yang cukup panjang dan bisa memperlambat bangun paska bedah. Bila premedikasi diperlukan. Normal range therapetik adalah 40-100 µMol/l. edema serebral. kateter urin. Pemeriksaan radiologis pra bedah untuk informasi tentang ukuran tumor atau perdarahan serta lokasinya. nerve stimulator. arteri line.

tranduser arteri line ditempelkan di level sirkulasi Willisi setinggi meatus acusticus externa. Posisi duduk. IV Pengelolaan Anestesi 27 . Indikasi pemasangan CVP. tetapi praktisi yang lain menunjukkan tidak adanya penelitian yang menyebutkan keuntungan penggunaan monitor ICP. Diperlukan ventilasi pasca bedah. Untuk pemberian obat vasoaktif. Risiko kehilangan darah yang banyak. Indikasi pemasangan monitor CVP terlihat pada tabel di bawah ini.status volume pasien : (Tekanan Nadi = Tekanan Sistolik . sebab urine output tidak dapat dipercaya untuk menditeksi hipovolemia. Monitoring ICP untuk operasi supra tentorial masih kontroversial. Untuk melihat CPP. Indikasi pemasangan monitoring tekanan arteri invasif Operasi yang menyebabkan perubahan tekanan darah yang cepat. dapat melihat secara kasar nilai PaCO2 adanya diskoneksi dan obstruksi jalan nafas. Pergeseran cairan akut akibat diuretik atau mannitol memerlukan monitoring CVP. Tetapi pada pasien dengan risiko peningkatan ICP yang hebat (ukuran tumor > 3 cm dengan mid-line shift atau edema yang nyata) akan menguntungkan bila dipasang monitor ICP. Walaupun beberapa praktisi menasihatkan untuk digunakan secara . Disertai dengan penyakit sertaan lain. Hipotensi kendali. Risiko kehilangan darah yang cepat.Tekanan Diastolik). Indikasi monitor arteri line terlihat pada tabel di bawah ini.rutin. Untuk pasien dengan kemungkinan kehilangan darah yang banyak atau keadaan kardiopulmonal yang terbatas dipasang monitor CVP dan dapat dipertimbangkan dipasang PA kateter. Monitor EtCO2 sangat penting. Penaksiran status volume.

gtekanan darah dan ICP serta menimbulkan gambaran kejang pada EEG. CBF dan ICP. Induksi Walaupun induksi anestesi untuk kraniotomi dapat dilakukan dengan berbagai macam obat. Narkotik juga menurunkan CMRO2. Ketamin menyebabkan peningkatan denyut jantun. sehingga dalam teori disebutkan dapat membawa ke arah iskemia. kepala naik. walaupun demikian efek ini tidak relevan secara klinis. tetapi di kamar operasi penurunan volume darah otak umumnya dilakukan dengan terapi farmakologi atau ventilasi. sehingga selalu dipakai dalam anestesi.Sasaran utama selama induksi anestesi adalah mempertahankan level normal dari ICP sambil mempertahankan CPP yang adekuat. Kejadian emboli udara pada pasien dengan posisi supine. maka ketamin tidak dipakai pada neuroanestesi. Narkotik memberikan pengendalian tekanan darah dan denyut jantung yang baik.6%. Penurunan jumlah volume CSF sebagai kompensasi pada kenaikan ICP kronis. adalah kurang-lebih 14. karena itu diperlukan monitoring end tidal CO2. Propofol juga menurunkan CMRO2. Pengaruh obat-obat anestesi terhadap CBF dan ICP terlihat pada tabel di bawah ini. 28 . Pentotal akan menurunkan CMRO2. CBF dan ICP. a. tetapi yang paling baik adalah dengan barbiturat. Sasaran ini kebanyakan dilakukan dengan menurunkan volume otak. Drain lumbal dapat dipakai untuk menurunkan volume CSF. tetapi lebih kecil daripada penurunan CBF.

ICP-CBF Decreasing No Change Increasing Induction Agents Muscle Relaxants *Thiopental *Etomidate *Midazolam *Droperidol *Ketamine *Vecuronium *Atracurium *Pancuronium *Metocurium *D-Tubocurarine *Succinylcholine Inhalation Agents *N2 O *Isoflurance *Enflurance *Halothane Intravenous Agents *Lidocaine *Benzodiazepines *Narcotics Combination Therapy *N2 O/Narcotic / Diazepam *Thiopental/Ketamine *Thiopental/Halothane *Halothane/N2 O AntiHypertension *Labetolol *Nitroglicerine *Nitropruside * Blockers *Hydralazine *Trimethaphan Channel blockers (Initial Data) *Nicardipine *Verapamil *Nifedipine Figure : the effects of various drugs and drug combinations on ICP and CBF 29 .

Ventilasi adekuat harus dilakukan untuk menghindari hipoventilasi dan hiperkarbia akibat narkotik yang akan menyebabkan kenaikan CBF. Alternatif lain.10. Banyak penulis yang memikirkan bahwa anestesi dengan dasar narkotik dengan N2 O atau dosis rendah Isofluran (< 1%) dalam oksigen. Gambaran paling penting dalam pemberian anestesi adalah bukan teknik mana yang digunakan.v.v. Bila anestesi berbasiskan narkotik. Sufentanil kontinyu dihentikan ±l jam sebelum akhir operasi. b. (1.v. alfentanil atau sufentanil. diikuti intermitent dengan dosis tidak lebih dari 0.8mg/kg) i.5µg/kg/jam.5mg/kg) dan ½ dosis obat anestesi i.5-1 µg/kg) dan dosis kecil pentotal dapat mengendalikan ICP serta kardiovaskuler tetap stabil. harus diikuti dengan ventilasi melalui sungkup muka untuk menjamin patensi jalan nafas dan hiperventilasi. Fentanyl 5µg/kg dikombinasikan dengan Isofluran < 1% dalam oksigen mungkin cukup baik. propofol (2 mg/kg) atau etomidate 0. cukup optimal.25-0. Lidokain i. Teknikteknik ini umumnya termasuk dalam 3 katagori : obat anestesi inhalasi. Neuromuskular blockade dapat dilakukan dengan vecuronium (0. lalu dihiperventilasi melalui sungkup muka dengan N2 O/O2 atau O2-Isofluran konsentrasi terendah (0. Tetapi baru-baru ini teknik tersebut dihubungkan dengan meningkatnya kejadian mual-muntah paska bedah bila dibandingkan dengan teknik anestesi inhalasi atau anestesi berbasiskan propofol.3 mg/kg i.5-lug/kg bolus.5 µg/kg/jam kombinasi dengan Isofluran <1% dalam O2. Sufentanil mungkin mempengaruhi ICP dan CPP (tak menguntungkan/tak baik). Pemberian Pentotal 3-4 mg/kg. Pasien di preoksigenasi dan hiperventilasi olehnya sendiri.v. sufentanil 0.5%).15 mg/kg) atau rocuronium (06-0. tetapi bagaimana tepatnya teknik tersebut dilakukan. maka dapat digunakan fentanyl. atau infus 0. Dosis obat induksi diatur untuk pasien dengan ketidakstabilan kardiovaskuler. Kombinasi narkotik (fentanyl 5 µg/kg atau sufentanil 0. 30 .Induksi yang lancar lebih penting dari kombinasi obat yang digunakan. teknik anestesi intravena dan teknik balans. Pemeliharaan Anestesi Pemeliharaan anestesi dapat dilakukan dengan berbagai cara. untuk induksi diberikan sebelum dilakukan intubasi.

yang akan menurunkan 31 . PaCO2 harus dikorelasikan dengan EtCO2. hipotermi. Pelemas otot mencegah pasien bergerak pada saat-saat yang kritis. mungkin menguntungkan untuk menurunkan PaCO2 menjadi 20-25mmHg. Jika peningkatan ICP masih merupakan masalah. bila pada akhir operasi ada kenaikan tekanan darah dan frekuensi nadi. Kemungkinan yang lain adalah kerusakan jaringan otak (operasi. iskemia). Normalnya PaCO2 4-8mmHg lebih tinggi dari EtCO2.Obat anestesi inhalasi lebih disukai Isofluran dengan sedikit atau tanpa suplement narkotik. Bila pasien sulit bangun paska bedah. lebih baik diatasi dengan labetolol atau esmolol. menyebabkan pergeseran ke kiri kurve disosiasi oxy-Hb. propofol dimulai dengan 200µg/kg/menit dan kemudian diturunkan disertai dengan infus. Hiperventilasi dengan kombinasi Isofluran < 1% umumnya menghasilkan intracranial dinamic yang lebih stabil. fentanyl 2µg/kg/jam. Penggunaan N2 O akan mengurangi dosis narkotik dan Isofluran serta bangun dari anestesi dengan tenang. Setiap teknik anestesi ini menyebabkan keadaan anestesi yang baik. Teknik ini akan memberikan anestesi yang stabil dan pasien cepat bangun. N2 O bisa digunakan kecuali pada pasien dengan pneumocephalus (trauma post craniotomy) atau emboli udara. bukan dengan menaikkan dengan menaikkan konsenrrasi obat anestesi inhalasi. salah satu kemungkinannya adalah ekses obat anestesi. Optimal hiperventilasi adalah untuk mencapai PaCO2 25-30mmHg. tetapi seni memberikan anestesi. Hipokapni akan menurunkan ICP sebelum dura dibuka. Hiperventilasi merupakan tambahan tindakan yang penting. Penurunan lebih besar dari PaCO2 tidak menunjukkan adanya perubahan yang nyata pada ICP dan hipokapni yang ekstrim dapat memberi pengaruh yang buruk pada metabolisme seluler. supaya pasien lebih cepat bangun. Juga bisa menurunkan ICP dengan rileksnya dinding dada. pengalaman-pengalaman dan pengetahuan anestetist akan menolong supaya tidak terjadi pemberian obat yang berlebihan atau kurang. Setelah induksi. gangguan elektrolit. atau terjadi vasokonstriksi maksimal. serta kejadian mual-muntahnya rendah. perdarahan. TIVA dapat dilakukan dengan propofol dan fentanil. melawan vasodilatasi akibat obat anestesi inhalasi dan menyebabkan otak menjadi rileks selama operasi. Disebabkan karena operasi intrakranial berlangsung lama.

Saat terjadinya kehilangan darah adalah pada saat meagangkat tulang dan mengangkat tumor. Teknik hipotensi dilakukan sebelum mulai mengangkat tulang lebih baik dengan trimetaphan daripada dengan nitroprusside. Bila dibutuhkan resusitasi volume dan nilai Ht tidak menunjukkan perlunya darah. maka dapat diberikan koloid sebanyak 5001000cc.tekanan intratorakal dan terjadi drainage vena serebral yang baik. Sering ada hubungan yang berlebihan antara sirkulasi karotis eksternal dan internal. Bisa terjadi masalah pembekuan akibat dari tipe tumornya.9%. maka tulang tengkorak sangat vaskuler. karakteristik dengan adanya vaskularisasi yang banyak. Bila ada hubungan antara pembuluh darah tumor dengan pembuluh darah ekstrakranial. Pemilihan obat harus berdasar pada lamanya operasi dan pengaruh obat pada haemodinamik serta ICP. juga sering terjadi edema serebri paska bedah. Perdarahan selanjutnya terjadi pada saat tulang diangkat dengan kraniotom dan tidak dapat dikendalikan sampai seluruh tulang tersebut selesai diangkat. tekanan darah bisa diturunkan lagi (tetapi harus diingat dalam menurunkan tekanan darah ini. perdarahan dari tulang tengkorak biasanya terjadi pada saat membor tulang kepala. atau akibat transfusi darah masif dan beberapa kasus DIC telah dilaporkan terjadi pada pasien dengan tumor serebral primer. Pemberian cairan dibatasi selama induksi anestesi dan dipertahankan tetap sedikit selama hemodinamik stabil dan produksi urine baik. Bila tulang telah diangkat. dapat terjadi perdarahan yang banyak. Untuk kebanyakan operasi supra tentorial dipilih norcuron / pavulon. 32 . harus diperhatikan CPP adekuat). tetapi umumnya dapat diatasi dengan bone wax. Meningioma. Pada awalnya tekanan sistolik dipertahankan antara 70-80 mmHg pada pasien yang normotensi dan pada level yang lebih tinggi pada pasien yang hipertensi. sehingga bila terjadi kesulitan pengangkatan tulang kepala. Cairan yang diberikan lebih disukai NaCl 0. Cara-cara mengurangi kehilangan darah adalah : ‡ Teknik hipotensi kendali ‡ Embolisasi selektif pra bedah.

Labetolol atau esmolol dan lidokain 1. lokasi operasi. 33 . dapat digunakan untuk terapi hipertensi.5mg/kg i. Keputusan apakah pasien harus bangun dan di ekstubasi tergantung dari derajat kesadaran pra bedah.Darah dan cairan harus diberikan untuk mempertahankan kestabilan sirkulasi tanpa ada edema serebral paska bedah. Akhir Anestesi: Bangun dari anestesi setelah operasi supra tentorial harus lancar dan gentle. Kebanyakan pasien tetap diintubasi dan bangun pelan-pelan di ICU setelah terus dimonitor dan diventilasi. Pasien yang pra bedahnya dalam keadaan koma atau tumor besar di sentral. jumlah obat yang diberikan. Adanya hipertensi pada periode ini harus diterapi karena bisa terjadi perdarahan otak pada daerah luka operasi. V-P shunt dari hidrocephalus akut Kebanyakan pasien operasi supra tentorial diekstubasi di kamar operasi. Ada dua situasi klinis dimana pasien yang sebelumnya koma dicoba untuk bangun sesegera mungkin paska bedah : 1. c. luasnya edema serebri. 2. tidak usah segera diekstubasi. Drainage dari epidural hematom atau subdural hematom. takikardia dan stimulasi simpatis yang dihubungkan pada periode sesaat sebelum ekstubasi. Pemberian ini lebih dini daripada yang biasanya karena untuk mencegah terjadinya DIC. sebab hal ini secara nyata tidak mungkin untuk mengobati keadaan ini pada pasien bedah syaraf karena kebutuhan heparin dan penggantian cairan secara masif. maka FFP dan thrombocyt harus diberikan setelah jumlah perdarahan mencapai 2 liter bila perdarahan terns berlangsung.v. Disebabkan bahaya dari gangguan pembekuan.

Penyakit Paru disangkal 4. Penyakit Diabetes Melitus disangkal 5.BAB III KASUS I. Anamnesis A. Riwayat keluhan yang sama disangkal 2. Penyakit Hipertensi disangkal 7. Riwayat Penyakit Sekarang C. Identitas Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Suku Bangsa Pekerjaan Tanggal masuk RSMS No. Keluhan Utama B. Riwayat Asma disangkal E. Riwayat Penyakit Dahulu D. Riwayat Alergi disangkal 8. Riwayat Penyakit Keluarga 1. Penyakit Jantung disangkal 3.CM : An. Riwayat Sosial Ekonomi 34 . N : 12 tahun : Laki-laki : Cilacap : Islam : Jawa : Pelajar Sekolah Dasar : 22 Desember 2011 : 882123 II. Penyakit Ginjal disangkal 6.

Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum : Kesadaran BB TB Vital Sign : : : : Sedang Compos mentis 34 kg 138 cm Tekanan darah : 120/100 mmHg Nadi Respirasi Suhu : 64 x/menit : 20 x/menit : 35.1 °C A. suara tambahan (-) . sklera ikterik (-/-). mesochepal Konjungtiva anemis (-/-). sianosis (-/-) : : Tidak ada kelainan bentuk Tidak ada kelainan bentuk : S1 > S2 reguler. eksoftalmus (-/-). retraksi (-) Vokal fremitus kanan sama dengan kiri 35 Discharge (-/-) Kering pada bibir (-/-). pupil isokhor 3mm/3mm Hidung: Mulut : Telinga Leher Thorax Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : : : Ictus cordis tidak tampak Ictus cordis tak kuat angkat Batas atas kiri SIC II LMC sinistra Batas atas kanan SIC II LPS dekstra Batas bawah kanan SIC IV LPS dekstra Batas bawah kiri SIC VI LMC sinistra Auskultasi Paru Inspeksi Palpasi : : Simetris kanan kiri. Status Generalis Kepala : Mata : Simetris. pucat (-). retraksi kelopak mata (-/-). RC (+/+).III.

Sedia PRC 750cc VI. Pemeriksaan Penunjang A. kimia darah. undulasi (-) supel. Laboratorium Tanggal Pemeriksaan 36 . nyeri tekan (-).Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi : : : : : : : Sonor di seluruh lapangan paru Suara dasar vesikuler. PT APTT. Reflek Fisiologis (+/+). tidak ada pembesaran hepar maupun lien Ekstremitas Superior : : Udem (-/-). Tremor (-/-). Plan a.suara tambahan (-) datar bising usus dalam batas normal tympani. elektrolit. Pemeriksaan Darah Lengkap. Rawat inap b. Basah oleh keringat (-/-) Inferior : Udem (-/-). Diagnosis Cephalgia et causa suspect SOL V. Basah oleh keringat (-/-) Kekuatan Motorik : Superior Inferior : : 5/5 5/5 IV. Tremor (-/-). Pemeriksaan CT-Scan kepala c. Rencana operasi tanggal 28 Desember 2011. Reflek Fisiologis (+/+). untuk persiapan operasi. d.

9 6690 40 % 5.4 27-12-11 SGOT SGPT Ureum darah Kreatinin darah Natrium Kalium Klorida 19 31 25 0. CT-Scan 24-12-11 Lesi campuran hiper-hipodens bentuk lobulated batassebagian tegas pada lobus parietal kiri DD anaplastik astrositoma. glioblastoma VII.5 98 B.1/ul 260.5 37 .9 27.000/ul 24-12-11 PT APTT 13.Pemeriksaan Darah Lengkap 22/12/11 Hb Leukosit Ht Eritrosit Trombosit 13. Perkembangan pasien di bangsal sebelum operasi Pemeriksaan Keluhan 23/12/11 Pusing 24/12/11 Pusing Sedang /Compos Mentis 120/90 88 20 36.5 KU/Kesadaran Sedang / Compos Mentis TD N RR S 120/90 80 20 36.63 141 3.

Pemeriksaan Keluhan 25/12/11 Pusing 26/12/11 Pusing Sedang /Compos Mentis 100/60 72 18 36 KU/Kesadaran Sedang / Compos Mentis TD N RR S 120/90 88 20 36.5 Tindakan Persiapan operasi BALANCE CAIRAN Maintenance = c Pengganti puasa = cc Stress operasi = cc EBV = cc ABL = cc 38 .5 Pemeriksaan Keluhan 27/12/11 Pusing 28/12/11 Penglihatan double Sedang /Compos Mentis 100/60 88 20 36 KU/Kesadaran Sedang / Compos Mentis TD N RR S 100/90 88 20 36.

X Foto Vertebrae Cervical Lateral 39 . X Foto Vertebrae Cervical AP Gambar 5.Gambar 4.

SpO2 90 Mulai operasi 09. RR 18x/menit.25 10.55 TD 140/90 mmHg. N2 O 08.55 40 .40 10.40 TD 124/73 mmHg. RR 17x/menit. N 65x/mnt.10 10. N 76/mnt. N 72x/mnt.10 11. Fentanyl 50 mcg Induksi : Propofol 100 mg Oksigenasi 3 menit Intubasi ET non-kinking no 7.40 11.25 RL 500 cc TD 125/75 mmHg.40 TD 160/100 mmHg.SpO2 90 FIMA HES 500 cc 09. O2. RR 18x/menit.25 11. N 88x/mnt.SpO2 90 Selesai operasi Ketorolac 30 mg Urin output 200 cc 09.55 11.0 Maintenance Isoflurane. N 79x/mnt. RR 20x/menit. RR 20x/menit. Durante operasi (28 Desember 2011) 08.55 10.SpO2 90 Masuk ICU 09.SpO2 95 RL 500 cc Premedikasi : Ondansetron 4 mg.VIII.10 TD 130/90 mmHg.

Perhitungan Cairan Input Kristaloid Koloid 500 ml Darah Darah 300 ml Output Urin 200 ml Kebutuhan 1800 ml 500 ml X.00 17.12.00 23.00 15.00 18.00 20.00 21.00 13.00 124/70 121/68 120/77 121/68 120/77 122/82 109/76 120/65 112/72 92 93 83 93 85 98 92 87 84 1000 cc 950 cc -50 cc +450 cc +400 cc 104/62 73 Nadi (x/menit) Input Cairan Output Cairan Total balanse kumulatif 29/12/12 01.00 IX.00 95/58 100/77 123/70 70 87 94 500 cc 100 cc +400 cc 16.00 19. Perkembangan Pasien Post Operasi (ICU) Jam Tekanan Darah (mmHg) 28-1212 12.00 14.00 22.00 112/72 92 41 .00 24.

00 18.00 15.Ketorolac 2 x 1amp Inj.00 05.00 16.00 07.00 14.02.00 11.00 132/79 119/75 121/86 121/73 123/85 112/74 115/67 120/72 117/66 120/63 92 95 93 94 93 98 98 96 81 79 Terapi pada visit pagi IVFD RL Inj.00 112/81 109/70 102/64 102/68 128/61 120/71 100 89 73 88 73 95 250 cc 400 cc -150 cc +400 cc 09.00 121/81 92 500 cc 400 cc +100 cc +550 cc 03.00 12.00 17.00 10.00 13.00 04. VS 42 .00 08.Ranitidine 2 x 1amp Fenitoin 3x100mg Dexamethason 3x5mg Piracetam 3mg Pengawasan KU.Ceftriaxon 2 x 2 gr Inj.00 06.

penekanan 3. Kreatinin darah 0. Trombosit 260. Berdasarkan hal tersebut maka operasi acc ASA II yaitu pasien dengan keadaan sistemik sedang. Pada pemeriksaan fisik. kosmetik (de Jong. APTT 27. Tekanan darah 110/60 mmHg. Tindakan operasi yang dikerjakan tergantung jumlah lobus tiroid yang terkena. Bila terdapat pembesaran kelenjar getah bening leher maka dikerjakan juga deseksi kelenjar leher funsional atau deseksi kelenjar leher radikal/modifikasi tergantung ada tidaknya ekstensi dan luasnya ekstensi di luar kelenjar getah bening (de Jong.1 juta. Pasien juga mengeluhkan pandangan mata doubel apabila melihat dengan kedua matanya. pasien mengeluhkan pusing. Indikasi pembedahan pada SOL antara lain : 1. Pada kasus Ny.BAB IV PEMBAHASAN Kunjungan Pre Operasi Seorang pasien. Adapun hasil laboratoriumnya antara lain : Hemoglobin 13. Nyeri kepala dirasakan pasien mengganggu aktivitasnya pelajar. Hematokrit 40 %. SGOT 19.5. laju pernapasan 16 kali permenit serta suhu 36. Ureum darah 25. keganasan 2. Leukosit 6690.1 0C. 2005). Eritrosit 5. reflek cahaya +/+. SGPT 31. operasi strumektomi direncanakan pada 30 Desember 2011. sedangkan kedua lobus terkena dilakukan subtotal tiroidektomi. Pasien tiba-tiba merasakan nyeri kepala. PT 13. Pasien tidak mengeluhkan mata kabur. Bila hanya satu sisi saja dilakukan subtotal lobektomi. kepala tampak dalam batas normal.9. Adapun instruksi yang 43 . N (12) datang dengan keluhan nyeri kepala. 2005). Keluhan nyeri kepala tersebut dirasakan pasien sejak 2 bulan yang lalu. Nyeri kepala dirasakan pada kepala sebelah kiri.000. Pemeriksaan Pre Operasi Pada tanggal 27 Desember 2011.4 .9 . Klorida 98. An. nadi 88 kali per menit.63 .R. Kalium 3. mata pupil isokhor dengan diameter 3mm/3mm. Natrium 141.

anak kecil 4-6 jam dan pada bayi 3-4 jam. puasa 6 jam pre operasi. Morgan.0). Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum induksi anesthesia. Jenis Anestesi : general anestesi dengan teknik closed intubation. 2005). respirasi terkontrol dengan endotrakeal Tube non-kinking No. Selama tindakan anestesi berlangsung. Keadaan Pre-operasi : Pasien puasa selama 6 jam sebelum operasi. 6. Pada dewasa umunya puasa 6-8 jam. post operasi rawat ICU. Tahapan Anestesi 1. 2002 . laju pernapasan 16 kali permenit dan suhu 36. Maintenance Status anestesi dipertahankan dengan pemberian kombinasi O2. Kemudian dilakukan suction untuk menghilangkan lendir yang dapat menghalangi jalan napas. nadi 88 kali permenit. Ruang pemulihan (Recovery Room) 44 . dan isoflurane. 7. Sedia darah dimaksudkan??? . 7. 2. Minuman bening. tekanan darah dan denyut nadi diukur setiap menit menggunakan SpO2. IVFD RL. Induksi anestesi: Pasien diberi O2 murni sebelum dilakukan intubasi. 4.diberikan antara lain : informed consent. Tujuan puasa 6 jam pre operasi untuk mencegah regurgitasi isi lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan napas karena refleks laring mengalami penurunan selama anesthesia. post operasi rawat ICU??? (Latief et al. sedia darah 750cc. Premedikasi yang diberikan : Ondansentron 4 mg. the manis sampai 3 jam dan untuk keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas boleh 1 jam sebelum induksi anesthesia.0 3. N2O dimatikan sedangkan pemberian O2 masih dipertahankan. air putih. 5. Kemudian dilakukan pemasangan pipa endotrakeal non-kinking (No. Sesaat sebelum operasi selesai. Keadan umum sedang dan kesadaran compos mentis. Fentanil 50 mcg diberikan secara intravena dalam waktu 5 menit sebelum induksi anestesi. N2 O. 7. Keadaan post operasi Operasi selesai dalam waktu 1 jam. Tekanan darah 110/60 mmHg. 1oC. Induksi anestesi pada pasien ini dengan menggunakan Propofol 100 mg.

Ketorolac. obat yang bekerja perifer. teknisi alat-alat pemantauan. Walaupun demikian hal ini tidak berarti bahwa mual. tenaga ahli laboratorium diagnostik. peralatan khusus ditujukan untuk menanggulangi pasien gawat karena penyakit. memiliki staf khusus. 2005). alat untuk menopang 45 . dokter ahli atau berpengalaman (intensivis) sebagai kepala ICU. Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu tempat atau unit tersendiri di dalam rumah sakit. namun ketorolac bukanlah penyebab yang pasti. muntah ataupun depresi nafas tidak dapat timbul post operatif pada pasien yang diberikan obat ini. denyut nadi. Pada pasien ini diberikan Ketorolac. namun ketorolac mempunyai lama kerja yang lebih panjang (6 8 jam). Staf khusus adalah dokter. SpO2 90.Pasien dipindahkan ke ruang Intensive Care Unit untuk dilakukan observasi. Penilaian pasien ini menggunakan ´Skor Aldrete´ dan diberikan O2 2-3 liter / menit. trauma atau komplikasikomplikasi. Ketorolac tidak menyebabkan depresi nafas. Ketorolac adalah obat antiinflamasi non steroid yang dimasukkan secara parenteral yang menghasilkan analgesia dengan cara menghambat sintesa prostaglandin. Vital sign terakhir pasien saat di bawa ke ICU adalah TD 124/73 mmHg. RR 20x/mnt. dan rekaman EKG pasien. Ketorolac sangat bermanfaat pada pasien yang mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya depresi nafas atau muntah post operatif. Ketorolac juga tidak melewati sawar darah otak. serta diobservasi tekanan darah. perawat terlatih atau berpengalaman dalam ³Intensive Care (perawatan/terapi intensif)´ yang mampu memberikan pelayanan 24 jam. Efek analgesik ketorolac lebih berguna pada prosedur operasi bedah tulang dibandingkan dengan operasi intraabdominal (Morgan. N 76x/menit. sedasi ataupun mual muntah. Dosis standar ketorolac menghasilkan analgesia setara dengan morfin 6 12 mg yang diberikan melalui rute yang sama. telah menjadi pilihan yang populer dibandingkan dengan opioid untuk analgesia post operatif karena efek samping terhadap sistem saraf pusat yang minimal. Pasien diberi ketorolac 30 mg. Ketorolac diindikasikan untuk penanganan nyeri jangka pendek (kurang dari 5 hari) dan sangat berguna pada periode post operatif. Mula kerja juga mirip dengan morfin.

2003). Pada pemantauan terakhir di ICU. 46 . RR 20 kali permenit. Ketorolac 2 x 30 mg untuk meminimalisir nyeri post operasi serta Ranitidine 3 x 50 mg. Pemantauan fungsi vital tubuh terhadap komplikasi : a. Penyakit b. ginjal atau lainnya). Adapun perawatan di ICU melingkupi : 1. Penatalaksanaan spesifik c. Pasien yang memerlukan bantuan pemantauan intensif atau non invasif sehingga komplikasi berat dapat dihindari atau dikurangi (contoh: pasca bedah besar dan luas. dan suhu 36. sekalipun manfaat ICU ini sedikit (contoh: pasien dengan tumor ganas metastasis dengan komplikasi infeksi. Penatalaksanaan untuk mencegah komplikasi akibat koma yang dalam. indikasi masuk ICU adalah memerlukan bantuan pemantaun intensif sehingga komplikasi berat dapat dihindari. Pada kasus Ny. pemberian obat vasoaktif melalui infus secara terus menerus (contoh.fungsi vital dan alat untuk prosedur diagnostik (Depkes. pasca bedah jantung terbuka. R (47). tamponade jantung. pasien dengan penyakit jantung. 2007). 3. paru. stimulasi berlebihan dan kehilangan sensori (Hanafie. syok septik) 2. Indikasi masuk ICU antara lain : 1. 50 C. Pemantauan itu sendiri 2. sumbatan jalan napas) (Hanafie. Nadi 75 kali permenit. Pasien yang memerlukan terapi intensif untuk mengatasi komplikasikomplikasi akut. pasien tidak stabil yang memerlukan terapi intensif seperti bantuan ventilator. gagal napas berat. tekanan darah 150/90 mmHg. Terapi yang didapatkan pasien di ICU adalah Ceftriaxon 2x 1 gram sebagai antibiotik. immobilitas berkepanjangan. Pasien sakit berat. Sistem bantuan tubuh d. 2007).

47 .

penurunan ukuran pipa. 48 .R adalah memerlukan bantuan pemantaun intensif sehingga komplikasi berat dapat dihindari. Kegagalan intubasi jangan diikuti dengan pengulangan usaha karena hasilnya akan sama. Maintenance menggunakan O2. memilih blade yang berbeda. 4. Pada kasus Ny. Kegagalan intubasi disebabkan oleh adanya massa yang menghalangi jalan napas. pemasangan mandren.BAB V KESIMPULAN 1. Indikasi masuk ICU kasus Ny. N2 O dan isoflurane. Pasien dipuasakan selama 6 jam. 3. mencoba lewat hidung atau meminta bantuan dokter anestesi lainnya. Induksi menggunakan Propofol.R (47) keadaan sebelum operasi terdapat tekanan darah tinggi. Perubahan harus dilakukan meningkatkan keberhasilan. 2. seperti mengatur kembali posisi pasien. Premedikasi yang diberikan adalah Ondansetron dan Fentanyl.

American Society of Anesthesiologist . 98:1269 1277 Depkes. Available from URL : ttp://www. KA. R. Maged S.. Bidang Ilmu Anestesiologi FK USU. M. Pramono. 2000.id/id/files/ /ppgb/2007/ppgb_2007_achsanuddin_hanafie. Sjamsuhidajat. 2003. 2007. Anestesiologi. 2008.ac. 2003.usu. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC Hanafie A. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Dachlan.DAFTAR PUSTAKA ASA. Murray MJ. Clinical Anesthesiology. Morgan GE. Practice Guidelines for Management Difficult Airway. Edisi Kedua. FK UI. Jakarta : FKUI.id De Jong. 2002. Jakarta : Bagian Anestesiologi dan terapi Intensif. A. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. Available from URL : http://www. Suryadi.pdf Latief. USA : The McGraw Hill Company Muhiman. SA. 2005. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Perananan Ruangan Perawatan Intensif (ICU) dalam Memberikan Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit. Edisi 2. 2005. Study Guide Anestesiologi dan Reanimasi.. Yogyakarta : FK UMY 49 . Edisi 4 e.go.depkes. Standar Pelayanan ICU.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful