RESTI P ARI WIDJAJA CROSS CULTURE ISSUE Magister Manajemen

Pada era globalisasi seperti saat ini, sering kita mendengar istilah cross culture lintas budaya, terutama ketika sebuah perusahaan melakukan pengembangan usahanya dengan cara merger, akuisisi atau joint venture (restrukturisasi perusahaan). Cross Culture adalah perbedaan budaya antara dua organisasi yang bergabung untuk suatu tujuan tertentu. Adanya sebuah hubungan kerjasama yang melibatkan dua budaya organisasi yang berbeda secara tidak langsung dapat menciptakan keunikan permasalahan, hal ini disebabkan adanya perbedaan tradisi/kebiasaan, nilai-nilai, tindakan dan tujuan perusahaan. Sebagaimana yang kita ketahui, budaya organisasi dapat mempengaruhi kinerja karyawan yang secara langsung berdampak pada performa perusahaan, untuk itu peran serta divisi sumber daya manusia sangat diperlukan sebagai mediator apabila perusahaan bermaksud melakukan kerjasama (restrukturisasi). Sebagai langkah awal sebaiknya apa yang menjadi rencana manajemen dibicarakan secara intensif dan terbuka dan direncanakan dengan matang. Komunikasi efektif ini digunakan sebagai alat yang berfungsi mengurangi ambiguitas (grapephine) yang terjadi sebelum dan sesudah kerjasama disepakati. Selain komunikasi efektif, divisi SDM diperlukan untuk berperan sebagai agen perubahan third culture transculturals yang membantu manajemen menciptakan iklim di mana orang dibiarkan untuk melakukan protes secara periodik tetapi dengan sopan daripada terjadi ketidakkonsistenan dan kasar, serta menginstruksikan kebijakan manajemen untuk melibatkan pihak lain yang dapat membantu manajemen menjadi mengerti, suportif, dan konsisten dengan pesan yang disampaikan dan pada akhirnya menciptakan suatu iklim di mana semua pegawai berpikir sebagai pemilik (think like owner/organizational commitment/employee loyalty). Lingkungan inklusif yang tercapai di dukung oleh transformational dan visionary leader, komunikasi efektif agar tercipta goal setting, dan kejelasan visi, misi dan tujuan perusahaan ketika melakukan merger. Third Culture Transculturals adalah seseorang atau sekelompok orang yang tumbuh melebihi sosialisasi budaya mereka sendiri sehingga dapat mengerti perbedaan budaya dengan meminimalkan bias-bias dan membuat penilaian cross-cultural yang valid dengan menggunakan framework CVD (cultural value dimensions) dari psikologi cross-cultural dan mendemonstrasikan potensi kegunaannya untuk menganalisa masalah-masalah teori-teori cross cultural. Manfaat/keuntungan menerapkan third culture transculturals strategy : third culture transculturals dikarakteristikan oleh individu-individu yang menjadi cultural “insider”, membedakannya dengan “outsiders” dimana seorang cultural insider menghargai nilainilai budaya orang lain, dan menahan diri untuk menghakimi budaya lain third culture transculturals melibatkan rasa saling menghargai dan menghormati, sehingga dapat mempercayakan pada handshake dan kewajiban ketika mengerjakan bisnisnya. Tercipta sebuah hubungan kerjasama win-win situation, di mana kedua organisasi dapat tumbuh dan membuat profit dengan kolaborasi satu sama lain third culture transculturals memiliki fleksibilitas di dalam urusan bisnis dengan menyandarkan diri kepada kepercayaan (trust) sebagai pengganti dari proses pengadilan yang membosankan, mengurangi ketidakefisiensian dengan mengendurkan mekanisme pengawasan eksternal, dan memaksimalkan usaha-usaha dan kemampuan pemanfaatan setiap partner

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful