PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

BAB I I

RUMUSAN MASALAH

TANGGAPAN ATAS HASIL REVIEW PED Berdasarkan hasil review terhadap PED Proposal PPK Kota Sukabumi oleh tim reviewer, ada beberapa substansi yang dikemukakan diantaranya adalah : 1. 2. 3. Akar masalah masih merupakan daftar masalah belum mempunyai indikator kinerja, Pemetaan masalah tidak didasarkan pada data yang relevan dan data belum berbunyi , Akar masalah tidak sinkron dengan hasil EFAS-IFAS, dan belum didukung oleh data yang faktual,

Setelah dilakukan evaluasi internal oleh tim penyusun Kota Sukabumi, maka dilakukan perbaikan atas materi yang menjadi catatan tim reviewer yaitu setiap statement yang di ungkapkan dalam komponen analisis SWOT telah didasarkan kepada data akurat yang telah dianalisis secara mendalam untuk menemukan akar permasalahan dan pemetaan masalah yang hendak dicarikan solusinya. Perumusan akar masalah didasarkan pada basis data yang aktual dan menggambarkan kondisi kewilayahan, sosioekonomi dan infrastruktur Kota Sukabumi, secara umum kondisi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 2.1.Penggunaan Lahan Penggunaan lahan di Kota Sukabumi digunakan untuk kebun (271,447 Ha), kolam (107,073 Ha), perekonomian (88,431 Ha), taman (107,073 Ha), pemukiman (815,041 Ha), sawah (2.031,792 Ha) serta ruang terbuka hijau (1.415,473 Ha), jadi terlihat bahwa penggunaan lahan di Kota Sukabumi masih didominasi oleh persawahan dan ruang terbuka hijau terutama di wilayah perluasan (BACILE). Kondisi ini merupakan modal bagi upaya pengembangan sektor pertanian dan industri yang mendukungnya untuk menciptakan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat. 2.2. Aspek Sosial 2.2.1. Kependudukan Jumlah penduduk dapat merupakan potensi apabila tingkat produktifitasnya tinggi serta dibarengi oleh laju pertumbuhan penduduk yang dapat dikendalikan. Jumlah penduduk Kota Sukabumi pada tahun 2004 sebanyak 249.192 orang, 173.170 orang diantaranya terdapat di wilayah CICIGUWA dan 76.022 orang berada di wilayah BACILE . Proporsi jumlah penduduk Kota Sukabumi adalah 69,5 % berada di wilayah CICIGUWA dan 30,5 %
II - 1

hal ini menggambarkan bahwa program Pemerintah II . yaitu jaminan keamanan.93 %. SLTP sederajat sebesar 19. Dilihat dari proporsinya ratarata selama Tahun 2000 sampai dengan Tahun 2004 untuk tingkat SD sederajat sebesar 51.2 . SLTA sederajat sebesa 24. Melihat jenjang pendidikan dari Tahun 2000 sampai dengan Tahun 2004.192 orang tiap Km2.09 %. sebaliknya untuk wilayah kota lama memiliki jumlah penduduk yang tinggi dengan Laju Pertumbuhan Penduduknya rendah. Berdasarkan data yang ada terlihat bahwa untuk wilayah BACILE memiliki Jumlah penduduk yang sedikit dengan Laju Pertumbuhan Penduduk yang tinggi. Migrasi masuk tertinggi dialami oleh Kecamatan Baros pada tahun 2002. penduduk Kota Sukabumi yang telah tamat SD sederajat mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 3.28 % dan Diploma IV/ S1/S2/ S3 sebesar 15. memperkecil tingkat kesenjangan sosial serta dari aspek kesehatan adalah kelengkapan sanitasi lingkungan.150 orang tiap Km2. Diploma I/ II/ III sebesar 3. Secara umum tingkat Laju Pertumbuhan Penduduk Kota Sukabumi rata-rata mencapai 1. SMK 3.PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN KOTA SUKABUMI berada di wilayah BACILE.92 tahun.10 %.197 orang tiap Km2.10 % per tahun dan tertinggi di Kecamatan Baros yang mencapai 3. Apabila dilihat dari kecenderungannya tingkat pertumbuhannya dalam kurun waktu Tahun 2000-2004.10 %.95 %.93 % disusul oleh jenjang pendidikan SMU/ SMA yaitu mencapai 5. Pendidikan Tingkat pendidikan penduduk Kota Sukabumi pada Tahun 2004 secara garis besar telah dapat menyelesaikan wajar dikdas 9 tahun atau setara Sekolah Menengah Pertama. angka Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) telah mencapai 8. dan Angka Melek Huruf (AMH) mencapai 99.12 % per tahun. Dengan melihat tingginya Laju Pertumbuhan Penduduk di wilayah BACILE mengandung konsekuensi bagi Pemerintah Kota Sukabumi untuk menciptakan suasana yang kondusif. sebaliknya untuk wilayah CICIGUWA dengan tingkat kepadatan yang tinggi arus migrasi masuk cenderung berkurang bahkan mengarah pada stagnasi Laju Pertumbuhan Penduduk.03 %. Tingkat kepadatan penduduk Kota Sukabumi pada tahun 2004 adalah sebesar 5. sedangkan di wilayah BACILE sebanyak 3. di wilayah CICIGUWA memiliki tingkat kepadatan rata-rata 7.2.85%. SLTP sederajat sebesar 2.2.72 %.43 %. Laju Pertumbuhan Penduduk terendah terdapat di Kecamatan Cikole yaitu mencapai 0. Ada beberapa alasan yang mengakibatkan terjadinya kondisi tersebut ialah tingkat kepadatan penduduk yang masih rendah di wilayah BACILE menimbulkan arus migrasi masuk yang cenderung bertambah.45 %. 2.48 %. SMU/ SMA sebesar 5. dan Perguruan Tinggi sebesar 3. tingkat pendidikan perguruan tinggi mencapai rata-rata pertumbuhan 15.96 % per tahun.

idealnya penduduk usia kerja Perguruan Tinggi memiliki persentase tertinggi dan yang berijazah SD sederajat memiliki persentase terendah. tahun 2001 sebanyak 15. secara umum indikator pendidikan Kota Sukabumi telah sesuai dengan yang diharapkan pada kondisi ideal IPM yaitu AMH 100% dan RLS 9 tahun. Keterampilan tenaga kerja belum sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.05 %. diantaranya adalah: 1. II . tahun 2003 sebanyak 22. Kota Sukabumi selama 5 (lima) tahun terakhir (tahun 2000-2004) mengalami pertumbuhan rata-rata 2.23 % selama periode tahun 2000-2004. terlihat bahwa kecenderungan jumlah pengangguran dalam 5 (lima) tahun terakhir semakin bertambah persentasenya.2. dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 18. Dilihat dari jumlah penduduk usia kerja. karena mencakup dimensi sosial dan ekonomi. jika dilihat dari ratio perbandingan LPE dengan tingkat pertumbuhan penduduk usia kerja yang bekerja (Elastisitas) memiliki ratio sebesar 0. Tidak sebandingnya lapangan kerja yang ada dengan pertambahan jumlah angkatan kerja / yang bekerja. dilihat dari persentase antara pencari kerja yang berhasil ditempatkan dengan pencari kerja terdaftar hanya mencapai rata-rata 11. kondisi ini akan menyebabkan rendahnya daya saing tenaga kerja di pasar tenaga kerja dengan kualifikasi tertentu.45. 2. Apabila dilihat keterkaitan (Link and Match) antara pendidikan dan ketenaga kerjaan terlihat bahwa penduduk usia kerja di Kota Sukabumi yang berijazah SD sederajat memiliki persentase tertinggi. Oleh karenanya setiap upaya pembangunan selalu diarahkan pada perluasan kesempatan kerja dan lapangan usaha dengan harapan penduduk dapat memperoleh manfaat langsung dari pembangunan. 2.44 %. Ketenagakerjaan Ketenagakerjaan merupakan aspek yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. tahun 2002 sebanyak 17.PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN KOTA SUKABUMI Kota Sukabumi yang berkaitan dengan aspek pendidikan dapat dikatakan cukup berhasil Keluaran dari semua jenjang pendidikan pada akhirnya akan menempati pasar kerja yang ada.4 %.60 %. Melihat data pendidikan dan ketenagakerjaan tersebut ada beberapa permasalahan yang menjadi penyebab semakin bertambahnya jumlah pengangguran di Kota Sukabumi.3 .33 % dari jumlah penduduk.89 % dan tahun 2004 sebanyak 23.51 %.3. Dilihat dari jumlah pengangguran tahun 2000 adalah sebanyak 13.

2.405 KK atau sebesar 2. Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Data jumlah keluarga menurut tahap kesejahteraan Kota Sukabumi Tahun 2004 dapat diuraikan sebagai berikut : untuk tahap Pra Keluarga Sejahtera (Pra-KS) penduduk yang masih berada pada tahap ini adalah sebanyak 1.894 kelahiran hidup. jumlah Angka Kematian Ibu pada Tahun 2004 adalah sebanyak 8 orang dari 5. 2. Terdapat 2 (dua) indikator kesehatan yang penting yang mempunyai keterkaitan dengan pencapaian IPM yaitu Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Kesehatan Masyarakat Pengembangan sumberdaya manusia di Kota Sukabumi dimulai melalui pendekatan sejak dalam kandungan sampai akhir hayat. kondisi ABT yang paling berat terdapat di Kecamatan Cikole.042 KK atau 12.16) dan Kecamatan Cibeureum (59. Apabila dilihat dari kelompok umur. secara rata-rata ABT tertinggi terdapat di tiga kecamatan. Pada tingkat wilayah kecamatan.99). II . Secara Umum rata-rata Angka Kematian Bayi selama kurun waktu Tahun 2004 adalah sebanyak 83 dari 5. di Kota Sukabumi secara rata-rata setiap 100 penduduk usia produktif menanggung hidup 58.4 . terlihat bahwa kelompok umur 0-4 tahun.925 KK. Tahap Keluarga Sejahtera I (KS-I) berjumlah 8. 5-9 tahun dan 15-19 tahun memiliki persentase tertinggi. 2. Kecamatan Warudoyong (60. yaitu Kecamatan Cikole (64. Dengan demikian. Child Survival and Development. Selain AKB salah satu komponen yang tidak kalah pentingnya adalah Angka Kematian Ibu (AKI) terutama saat persalinan.3% penduduk usia non-produktif.5.58% dari total Kepala Keluarga sebanyak 63.2.PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN KOTA SUKABUMI 3. Sementara ABT terendah terdapat di Kecamatan Gunungpuyuh (53.4. dirintis melalui gerakan Sayang Ibu (Save Motherhood).894 kelahiran. serta 4. ABT dihitung sebagai perbandingan antara jumlah penduduk usia non-produktif (usia 0-14 dan 60 ke atas) dengan penduduk usia produktif (usia 15-59).20%.92% sektor informal.13% untuk sektor formal dan 2. Dilihat dari sisi pemberdayaan dan kesejahteraan. berdasarkan ukuran Angka Beban Tanggungan (ABT) atau dependency burden ratio. Rendahnya jiwa kewira usahaan dari angkatan usia verja hal ini terlihat dari kecilnya pertumbuhan massyarakat yang bekerja di sector informal dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6.41).44). Pasar lapangan kerja yang ada belum sesuai dengan tingkat pendidikan yang dimiliki.

51 % diantaranya ditangani oleh tenaga kesehatan.Apabila melihat besarnya kontribusi sektor-sektor terhadap PDRB Kota Sukabumi Tahun 2004 terlihat bahwa dalam kurun waktu Tahun 2000-2004. dan persentas terkecil ada di kecamatan Baros. Namun demikian apabila melihat kecenderungan pertumbuhannya dari tahun ke tahun relatif II .824 atau rata-rata sebesar 73. pendidikan dan kesehatan. Sampai dengan akhir Tahun 2004 Kota Sukabumi telah memiliki 15 unit Puskesmas.28 %. 18 unit Pustu serta 10 Puskesmas Keliling yang tersebar di seluruh kecamatan. 16. PDRB dan PDRB Per Kapita PDRB sebagai ekspresi dari kemampuan sektor-sektor yang ada di Kota Sukabumi dalam membentuk perekonomian daerah. Secara umum Laju Pertumbuhan PDRB (LPE) Kota Sukabumi dalam kurun waktu Tahun 2000-2005 rata-rata mencapai 5.380 orang. salah satunya adalah Puskesmas dan Pustu yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat. Perekonomian 2.1. hotel dan restaurant dan sektor Jasa-Jasa yaitu sebesar 44.420 kali 4. 156 orang diantaranya mengalami gizi buruk. yang tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat adalah adanya bidan desa. Cibeureum dan Lembursitu. merupakan jumlah nilai tambah bruto (Gross Value Added) yang timbul dari seluruh sektor perekonomian dalam jangka waktu tertentu. Laju Pertumbuhan rata-rata tertinggi dicapai sektor Industri Pengolahan sebesar 12. perkembangan situasi gizi balita di Kota Sukabumi pada Tahun 2004 dapat diuraikan sebagai berikut : dari jumlah balita yang ada yaitu 22. Sedangkan PDRB per Kapita adalah indikator untuk melihat sampai seberapa jauh masyarakat menikmati potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah.19 %.PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN KOTA SUKABUMI Jumlah persalinan 6.19 %.721 orang memiliki gizi yang baik serta 89 orang mengalami gizi lebih.3. Untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat diperlukan adanya dukungan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai baik kualitas maupun kuantitasnya. 2.70 % dan 16.5 . 1. kondisi seperti ini memperlihatkan kemampuan sektor Industri Pengolahan dan sektor Pertanian dalam membentuk perekonomian Kota Sukabumi yang dapat dikembangkan.13 % dan sektor Pertanian sebesar 9. Adanya kemiskinan dapat berdampak pada menurunnya kualitas kesehatan masyarakat salah satunya pada kualitas gizi terutama pada balita serta sulitnya untuk mengakses sarana dan prasarana pelayanan dasar. Bidan desa yang dimiliki Kota Sukabumi sampai dengan akhir Tahun 2004 adalah sebanyak 57 orang yang tersebar di 33 kelurahan.475 orang mengalami gizi kurang. sektor Perdagangan. Berdasarkan data yang ada. Selain Puskesmas dan Pustu.3.

Gunungpuyuh.659.2.6 . namun demikian Laju Pertumbuhan PDRB sektor pertanian cenderung meningkat. Lembursitu) rata-rata mencapai Rp.699. Dari data terlihat bahwa kecamatan-kecamatan yang merupakan bagian dari Kota lama yang bertumpu pada sektor perdagangan. memiliki PDRB perkapita yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah BACILE yang bertumpu pada sektor pertanian. dengan melalui terobosanterobosan yang harus dilakukan oleh pemerintah Kota Sukabumi melalui reformasi kebijakan yang menarik bagi investasi.458.206.753 hektar berada di wilayah BACILE sedangkan di wilayah CICIGUWA 969.031.537. Untuk lahan darat adalah seluas 2. 8. Citamiang.980.74.039.68.520 hektar berada di wilayah CICIGUWA. sektor ini merupakan potensi untuk dikembangkan dalam rangka peningkatan perekonomian masyarakat dan II .680. maka pentingnya peran dunia usaha / swasta .14 dan wilayah BACILE (Baros.54.427. Dengan luas lahan dan laju pertumbuhan PDRB yang tinggi dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.46 %.792 hektar.612.145 hektar berada di wilayah BACILE dan 1.073 hektar 41.064 hektar dimana 1.PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN KOTA SUKABUMI konstan. 7. Warudoyong) rata-rata mencapai Rp. 1. Untuk wilayah CICIGUWA (Cikole. Cibeureum. Melihat ketimpangan PDRB per kapita yang sangat tinggi antara kedua wilayah diatas. 2. Luas lahan pertanian yang dimiliki Kota Sukabumi menurut data Tahun 2004 adalah sebagai berikut : lahan sawah 2.3. dalam menanamkan invetasinya di Kota Sukabumi menjadi suatu keniscayaan.490 hektar berada di wilayah BACILE dan 65. Hal ini berarti tidak terjadi peningkatan potensi dan aktifitas pada sektor-sektor tersebut. 3.062. Data PDRB Per Kapita penduduk Kota Sukabumi dalam kurun waktu Tahun 2000-2004 per kecamatan dapat diuraikan sebagai berikut : PDRB per kapita tertinggi dicapai oleh Kecamatan Citamiang yaitu sebesar Rp. Pertanian Sektor pertanian di Kota Sukabumi pada Tahun 2004 memiliki laju pertumbuhan PDRB tertinggi dibandingkan dengan sektor lainnya yaitu mencapai 14. hotel dan restaurant. Kondisi ini merupakan salah satu kekuatan yang dapat digunakan sebagai modal untuk membangun perekonomian masyarakat BACILE dalam upaya meningkatkan pendapatan perkapitanya serta memperkecil kesenjangan antar wilayah CICIGUWA dan BACILE.071. 3. sedangkan yang terendah adalah Kecamatan Cibeureum sebesar Rp. lahan pertanian yang lain adalah kolam yaitu seluas 107.583 berada di wilayah CICIGUWA.038 hektar. untuk mendorong agar dapat mendongkrak LPE yang cukup tinggi yaitu sebesar 7 %.

3.403.7 . Dari tabel konsentrasi jenis teknologi IKAHH dan ILMEA menggambarkan jumlah investasi yang ditanamkan per tenaga kerja (capital-labor ratio) yang lebih besar pada industri kecil jenis ini.210.346 orang. Sebaliknya. 25. dilihat dari jumlah investasi per unit usaha. Dalam kaitannya dengan pengembangan produk agro di wilayah BACILE. 3. pada tahun-tahun mendatang nampaknya pengembangan pasca panen (Of Farm) merupakan pilihan strategis yang perlu didorong dan dikembangkan II .878. 18. potensi industri kecil komoditi IKAHH (Industri Kimia Agro dan Hasil Hutan) pada Tahun 2004 adalah sebanyak 1.249. Sektor ini merupakan potensi yang dapat dikembangkan dalam upaya peningkatan pendapatan per kapita masyarakat. Elektronika dan Aneka) dimana pada Tahun 2004 terdapat 565 unit usaha.088 unit usaha yang menyerap tenaga kerja sebanyak 5. Selain industri kecil komoditi IKAHH. Non KUD sebanyak 297 unit. Mesin.162.3.023.000. 16. yaitu sebesar Rp. teknologi dan pemasaran yang lebih sederhana dan mudah. di Kota Sukabumi juga terdapat potensi industri kecil komoditi ILMEA (Industri Logam. 3. Kopontren sebanyak 24 unit dengan jumlah anggota sebanyak 30.000. Pemerintah daerah perlu memelopori penggunaan teknologi Inkonvensional salah satunya adalah pertanian organik yang diyakini akan memperbaiki kualitas hara lahan dan mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan pengolahan konvensional. 16.PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN KOTA SUKABUMI pendapatan perkapitanya terutama untuk wilayah BACILE yang pendapatan per kapitanya lebih rendah dibandingkan dengan wilayah CICIGUWA. Perkembangan Koperasi di Kota Sukabumi hingga Tahun 2004 yaitu KUD sebanyak 2 unit.000.00. Tenaga kerja yang terserap adalah sebanyak 4. tampak bahwa konsentrasi investasi lebih pada pengembangan di jenis industri kecil komoditi ILMEA dengan nilai investasi per unit usaha yang lebih besar. yaitu Rp.430.806.650 orang dengan nilai investasi Rp. sementara pada industri kecil komoditi ILMEA sebesar Rp. terlebih lagi dalam konteks wilayah perkotaan.596. Industri dan Koperasi Koperasi dan industri kecil dan menengah (KUKM) merupakan sektor perekonomian yang lebih dekat ke masyarakat mengingat mekanisme pengelolaan.617. sementara pada industri kecil komoditi IKAHH sebesar Rp. lahan pertanian akan cenderung berkurang dan harga tanah akan semakin tinggi.000.262 orang dengan nilai investasi sebesar Rp. 2. Industri di Kota Sukabumi pada umumnya lebih banyak dalam bentuk industri kecil dan menengah.

Selain pasar tempat berdagang yang ada di Kota Sukabumi adalah Ruko sebanyak 128 unit yang kesemuanya berada di wilayah CICIGUWA. Pasar Bungbulang dan Pasar Lembursitu dari ketujuh pasar tersebut hanya dua yang berada di wilayah BACILE. Pasar Tipar Gede. KUKM yang berkaitan dengan aktifitas agro. Pasar Degung. pola pemasaran dan penggunaan teknologi informasi untuk memperluas jejaring usaha. Pasar Pelita. Pasar Kaum. Untuk bidang jasa yang beraktifitas di Kota Sukabumi terdiri dari Perbankan sebanyak 17 buah. 2.4. hal ini dapat menyebabkan timbulnya ketimpangan perkembangan wilayah antara wilayah CICIGUWA dengan wilayah BACILE. Dengan demikian terlihat bahwa aktifitas perekonomian yang memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB Kota Sukabumi masih terpusat di wilayah CICIGUWA yang merupakan kota lama. Dari data terlihat bahwa kegiatan perdagangan masih terpusat di wilayah CICIGUWA.8 . Dilihat dari tempat berdagangnya terdiri dari pasar sebanyak 7 (tujuh) unit yaitu Pasar Dewi Sartika. Berdasarkan data Tahun 2004 jumlah keseluruhan jenis pedagang tersebut adalah sebanyak 3. Non Perbankan sebanyak 3 buah.3. Kios sebanyak 1. oleh karena itu kebijakan pemerintah daerah yang berorientasi Pemerataan Utara-Selatan merupakan pilihan strategis yang perlu diimplementasikan secara konsisten. Penyebaran pusat-pusat jasa dan perdagangan di wilayah BACILE pada tahun-tahun mendatang perlu didorong. kondisi ini sejalan dengan pendapatan per kapita masyarakatnya dimana wilayah CICIGUWA memiliki pendapatan per kapita yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan wilayah BACILE.446 diantaranya berada di wilayah CICIGUWA dan Los sebanyak 628 unit dimana 534 unit diantaranya berada di wilayah CICIGUWA. II .478 unit dimana 1. Hotel sebanyak 38 buah dan pergudangan sebanyak 106 buah. pedagang menengah.300 buah. yaitu pedagang besar. pedagang kecil dan swalayan / department store. salah satu upaya untuk memperkecil ketimpangan tersebut adalah dengan memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah BACILE melalui sektor yang dominan di wilayah tersebut. yaitu pertanian yang juga memiliki Laju Pertumbuhan PDRB yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Asuransi sebanyak 5 buah. Perdagangan dan Jasa Aktifitas perdagangan di Kota Sukabumi terbagi kedalam beberapa jenis perdagangan.PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN KOTA SUKABUMI antara lain.

Infrastruktur Kondisi kelengkapan infrastruktur yang ada di Kota Sukabumi dikaitkan dengan fungsi pelayanannya di tiap kecamatan dianalisis dengan metoda Indeks Sentralitas yang secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut : kecamatan Baros.PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN KOTA SUKABUMI 2. 76. dalam menunjang kesehatan dan kualitas lingkungan permukiman adalah fasilitas MCK dan pelayanan air bersih.496 Km dengan perincian : jalan propinsi sepanjang 36.397 rumah baru 37. Tingkat kemiskinan yang masih tinggi yang diperparah lagi dengan bertambahnya angka kemiskinan pasca regulasi kenaikan BBM Tahun 2005 dari 33. Selain infrastruktur jalan. Keadaan ini menggambarkan bahwa hampir seluruh rumah yang ada di Kota Sukabumi telah mempunyai fasilitas air bersih. Infrastruktur jalan yang dimiliki Kota Sukabumi adalah sepanjang 329. Berdasarkan pada kondisi yang telah diuraikan di atas.136 Km dan jalan lingkungan sepanjang 191. prioritas pembangunannya akan diarahkan pada ibu kota kecamatan di 3 (tiga) kecamatan yang termasuk ke dalam wilayah BACILE. sepanjang 211.3.470 Km. Jumlah kelengkapan jamban keluarga ini berada di Kecamatan Cikole yaitu sebesar 4. Untuk fasilitas jamban keluarga dari jumlah 60.260 Km dalam kondisi rusak. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap tingkat dan fungsi pelayanan wilayah-wilayah kecamatan perluasan. maka dapat dirumuskan akar masalah yang terdiri dari : 1) 2) Adanya kesenjangan pendapatan perkapita antar wilayah kota lama dengan perluasan yang berdampak terhadap daya beli.397 rumah.890 Km.9 .000 jiwa.632 Km kondisinya sedang dan sepanjang 60. Cibeureum dan Lembursitu yang merupakan kecamatan-kecamatan hasil perluasan masih memiliki fungsi pelayanan yang kurang. II .6 % dari total jumlah keseluruhan rumah yang ada di Kota Sukabumi yaitu 60. jalan kota sepanjang 101.3 % saja yang memiliki fasilitas jamban keluarga.5. maka untuk pemerataan pembangunan infrastruktur.315 Km memiliki kondisi yang baik. Kondisi infrastruktur tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : Untuk air bersih jumlah rumah dengan air bersih telah mencapai 94.946 rumah Berdasarkan kondisi infrastruktur tersebut di atas. hal ini memcerminkan masih dibutuhkan adanya intervensi pemerintah untuk membangun fasilitas tersebut. sedangkan kecamatan Cikole mempunyai fungsi pelayanan yang lengkap mengingat kecamatan Cikole merupakan pusat Kota Sukabumi.712 jiwa menjadi ± 38. Dilihat dari segi kondisi jalan.

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN KOTA SUKABUMI 3) 4) 5) 6) Kemampuan dalam hal kewirausahaan masih rendah. 2. Keterampilan dan tenaga kerja belum sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Akar masalah yang perlu disikapi dari rendahnya indeks daya beli untuk meningkatkan pencapaian IPM adalah : 1.10 . II . Keterampilan tenaga kerja belum sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Rendahnya kemampuan wirausaha. Kurangnya aksesibilitas masyarakat terhadap sentra ekonomi kota sukabumi. serta Masih kurangnya kemampuan akses masyarakat terhadap fasilitasfasilitas perekonomian yang ada.712 jiwa menjadi ± 38. Budaya Hidup Sehat.000 jiwa. Produktifitas angkatan usia kerja masih rendah. Kemiskinan. 3. Untuk mempercepat akselerasi pencapaian IPM tidak hanya bertumpu pada daya beli saja tetapi juga memperhatikan aspek pendidikan dan kesehatan. 2. Akses kelompok rawan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas masih kurang. yang disebabkan oleh : bertambahnya angka kemiskinan pasca regulasi kenaikan BBM Tahun 2005 dari 33. Dimana untuk aspek pendidikan dan kesehatan akar permasalahan yang perlu disikapi adalah : 1. Akses kelompok rawan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas masih kurang. Kualitas Pendidikan Belum Optimalnya Link and Match pendidikan dengan pasar kerja.

This document was created with Win2PDF available at http://www. The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.com. .win2pdf.