Lampung Post

Minggu, 23 Desember 2007

BAWAH REMBULAN
Cerpen: F. Moses AWALNYA aku takut. Lama-lama jadi terbiasa. Hidup bersama orang-orang masa lalu di kota ini. Tanpa siang. Semua waktu adalah malam. Kadang hadir sebuah rembulan di langit. Membuatku senantiasa merasa sunyi walaupun sebenarnya aku suka sekali melihat rembulan. Malam rembulan. Seorang penduduk, salah satu dari orang-orang masa lalu, pernah berkata padaku, kalau sebenarnya mereka letih untuk kembali bekerja ketika siang hari. Karena itulah mereka berkeputusan membakar siang. Membakar matahari. Memang sudah lama aku mendengar kala waktu?yang katanya tanpa siang di kota ini. Siang sudah tak ada lagi. Siang telah menjadi malam. Kadang mereka juga kerap berpetuah pada pendatang yang kebingungan kerena menetap di kota yang selalu malam. Dalam ingatan, selintas petuah mereka terdengar: kau tak perlu ragu, jika hendak menetap di kota ini. Kata itulah yang masih terngiang sampai saat ini. Jangan pernah ragu. Ya. Selalu terngiang. Lantas, aku kembali berpikir, kenapa cemas? Cemas bagian sisi manusia. Kerap menghancurkan. Tentang cemas, bagi orang-orang masa lalu hanyalah milik orang tak punya rasa syukur. Makanya, dahulu orang-orang masa lalu sepakat membakar matahari yang baginya membuat letih dan cemas. Terkadang sakit. Entah sakit yang bagaimana. Karena terbit sampai tenggelam matahari hanya menjadikannya bekerja. Alasan cengeng. Tapi sekarang mereka senang, petanda separuh hari telah mereka bakar. Semata, supaya tidak bekerja. Kalaupun bekerja, paling hanya untuk tidur. Tindakan aneh. Tidak masuk akal, tapi begitulah kedaannya. Begitulah seterusnya. Di hari yang selalu malam ini, terkadang aku melihat anak-anak kecil tampak riang bergembira tanpa beban. Betis ceking tanpa alas kaki, sambil bertelanjang dada, berlarian mengitari lapangan. Kembali lagi, dalam ingatanku, konon hal tersebut bagi mereka adalah ritual. Petanda bentuk penghormatan terhadap leluhur orang-orang masa lalu. Setiap hari mereka lakukan itu, sambil mengitari api unggun, mulai anak-anak sampai orang tua. Berkeliling. Begitulah seterusnya. Sekali lagi, setiap hari malam rembulan. Dalam tatapan aku selalu melihat anak-anak berlarian. Saling kejar-kejaran. Dan remaja berpasang-pasangan, para orang tua asyik duduk tenang di setiap balkon depan rumahnya. Mereka menikmati malam. Malam bersahaja. Malam tak pernah mati. Dalam sepanjang malam seperti ini, aku menikmati. Malam rembulan. Aku ingin mengerti semua ini. Aku tidak tahu, mengapa sedemikian berani mereka membakar siang. Aku makin hanyut oleh rasa ingin tahu. Menggelisahkan. *** Sungguh unik kehidupan di kota ini. Semua orang mampu menikmati kehidupan seperti ini. Barangkali inilah suatu kehidupan yang tak pernah ada di muka bumi ini. Kota tanpa siang. Selalu malam. Tanpa matahari. Seperti tadi aku bilang, sekali lagi, semua orang mampu menikmati kehidupan seperti ini. Kecuali, perempuan itu. Sering aku memperhatikannya menyendiri. Sebenarnya hal itu kuperhatikan sejak pertama kali di kota ini. Aku tidak tahu namanya. Kerap aku

Semua mata pada gelap! Barangkali pikirannya pun demikian. Barangkali sesal. Ia jauh dari keramaian umumnya. Sunyi karena perempuan menangis. Suasana aku nikmati menjadi begitu sunyi. Ucap kesal dan sesal terdengar banyak. Sudahlah. masih ada perempuan menangis.memperhatikan. Dari bulan tersiram matahari di pulau sana. Matahari sudah tak milik kota ini lagi. Dengan langkah amat perlahan aku mendekatinya. kembali aku tak tahu. Sekuat tenaga. Berpendar. Sepengetahuanku. Tanpa kusadari. Jarak terpisah oleh lautan. Cukup lama aku menunggu. Terputus-putus. Malam rembulan. Apalagi ombak saling balap. Memijat tangan lembutnya sendiri. aku berusaha menangkap maksudnya. Orang-orang serakah. Membakar matahari. aku memandangnya dari kejauhan. sejak kota ini menjadi malam tanpa siang. Melintasi jalan-jalan sepi. Setidaknya ia kembali untuk berkata-kata lagi. Menjadikannya terdengar terputus-putus. Menangis setiap saat. Langit tak punya salah. Menjadikan bukit-bukit tidak lagi tawarkan keindahan dari bayang-bayang selimut malam. Aku pun memulainya. seperti aku bilang tadi. Kota ini tak bercahaya lagi. Ucapnya bercampur isak begitu menampakkan emosi batinnya terasa olehku. ia menangis sambil berkata-kata. "Inikah kotaku? Kota hancur. Seketika itu pula kudengar ia berkata. sepertinya ia justru ternikmati sebagai suatu kesunyian. Mengelus-elus putih kuku kerasnya. Apalagi pagi. Laut juga tidak membawa debur ombak lagi. Sunyi di balik derai tawa semua orang. terlintas: Aku dan kekasihku masih berjauhan. Rasanya seperti menghitung-hitung irama kegelisahannya. Dalam pikiran. Tanpa duka. Suatu ketika. Ungkapan mengalir dan seterusnya. Malam rembulan. Aku tak tahu. Menduga-duga. Sambil terisak-isak. Oh. Mengapa sedemikian nekat orang-orang kota ini membakar siang. kehidupan malam. aku makin hanyut oleh rasa ingin tahu--selain keingintahuanku tentang mengapa sedemikian berani orang-orang di kota ini membakar siang. Seperti bayang dari wujud cahaya rembulan. Aku diam. Lengang: Sembari masih teringat perempuan itu. ketika embun membayang-bayangi bukit di tampak kejauhan. Suatu hal paling aku inginkan. Aku mendengar katakatanya kembali. Rasanya banyak pula ingin dikatakannya. Hanya bertanya dalam hati. Terlebih oleh perempuan tengah menangisi kota ini. Sekuat tenaga. Entah kenapa ia menangis. Rasanya. Bermain sunyi. Dugaan salah. Kau membuat aku selalu bertanya-tanya. Sekali lagi. Mati. Aku di sini. Sebisa mungkin aku merasakannya. Bermahkota bulan. Aku biarkan sampai ia berkata-kata kembali. *** Aku kembali ke rumah. ia tampak sibuk memainkan jemarinya. yang tanpa siang. Sekali lagi. sungguh penuh suka cita. Sekarang aku benar-benar mendengarnya. Kata kesal. Sulit aku mengungkapkannya." Aku tak mengerti. Malam . Matahari sudah mereka hancurkan. Di sini masih dan akan terus tanpa matahari. setiap gelagatnya jauh seperti perempuan umumnya yang selalu mampu menikmati malam. Yang tersisa hanya gelap. Tapi. aku hanya bayang. Membakar matahari. Kata bersama isaknya yang terbata-bata. Kini aku benar-benar mendekati perempuan itu. Di malam rembulan ini. Begitulah. Aku pun ragu untuk lebih mendekat. Bahkan pulau. Di belakangnya. barangkali khayalan dalam angan. di pulau pada kota tak tanpa matahari. Kembali terlihat olehku. Jarak jauh. Hancur. Entah kehidupan macam apa ini. Aku mendengar isak tangis perempuan itu. aku ingin mengerti kegelisahan mendaging dari miliknya. Rupanya ia tahu. Kotanya sendiri. Tidak jelas. Gundah. Barangkali. Siang mati. Langit kehilangan mataharinya.

Terisak-isak. Sungguh jahanam. kembali aku jumpai perempuan itu. Aku masih melewati ruas-ruas jalan di kota ini. Tidak ingin pulang ke rumah. "Malam tak ada lagi. Cukup lama aku menunggunya. Selalu menikmati malam. Sambil sesekali terisak-isak. Di bawah rembulan mengitari kota ini. sejak pertama memang cukup banyak seolah ia gelisahkan. Beban kosong." Aku masih tak mengerti maksud bicaranya. di malam bawah rembulan. Bahkan cahaya apa. Menghalalkan haram. Terus berjalan. Mengharamkan halal. Ia masih menangis." Dengan langkah amat perlahan aku meninggalkannya. Semua di sini pada puas. Kota nekat. Seorang diri. November 2007 . Seperti kala waktu aku menjumpainya. aku kembali melihat perempuan tengah menangis. Kegilaan apa yang menjadikan mereka nekat membakar matahari. Tampak berpenampilan berbeda dari sebelumnya. Gelap. Rasanya tak perlu lagi aku dekati. Penasaran. Entah duka apa kau punya. Tampak olehku dari kejauhan. ia masih berbicara seorang diri. Ia tampak menangis. Ingin tahu. Yang kutahu. Semata. Kelamaan terkesan tak berpengharapan. Entah nikmat yang bagaimana. "Aku merindukan lelakiku dan matahariku. Padahal ingin banyak berkata-kata padanya. Lelakiku terbunuh karena memertahankan siang. Entah kegelisahan apalagi darinya. Entah kepada siapa pula ia tujukan kata-kata itu. Aku kehilangan segalanya dari orang-orang serakah yang telah membakar matahari. Kali ini aku ingin berkata padanya. kesal maupun sesalnya.selamanya. Kembali perlahan. Lengang. Aku sudah mendekat. Setibanya di pertigaan jalan itu. Sekarang hanya malam. Penduduk kota masih dengan nikmatnya. Orang-orang di sini hanya ingin enaknya saja. Semua tampak tanpa beban. Hanya dalam hati: Entah kesedihan apalagi yang kau punya. Seperti ada sesuatu ditunggunya. Kembali aku melintasi orang-orang menikmati malam bawah rembulan. Di kota selalu malam aku masih terus bertanya dalam hati. Entah cahaya bagaimana. Dari pancaran mata orang-orang di sini tak menampakkan sebuah beban. Di bawah sinar rembulan. Entah apa yang mengganggunya. aku mendekatinya. Aku merindukan terang. *** Seperti tak tersadar. kehidupan orang-orang di sini seperti lebih bercahaya. Kepuasan mematikan kehidupan siang. Entah ke berapa kalinya. Tiba-tiba ia kembali berkata. tapi tak dapat. Entah ke mana. Meskipun demikian. Di pertigaan jalan itu. Amat perlahan. Aku hanya melihat ia menangis kembali. Seperti kukatakan tadi. tampak cahaya menyepuh seluruh tubuhnya. Tak seperti aku lihat sebelumnya. Mungkin aku harus memulainya. Sudahlah. Kota pekat. Kali ini bukan yang tadi kujumpai. Tampak anggun. Entah karena apa lagi. Malam di kota penuh kejahatan. auranya masih menggelisahkan. Seketika. di sudut tembok. Tempaan angin dari arah teluk cukup membuat dingin. Setiap hari. Aku kembali berjalan. Inilah kesekian kalinya kulihat kau menangis lagi. Kecuali dalam hati: Entah kegelisahan apalagi kau punya. Entah kemana aku melangkahkan kaki ini. Selalu dan masih di bawah rembulan.*** Telukbetung. sepertinya jadi makin mengigau sepanjang perjalanan ini. Ada sepi dan ramai. Anak-anak masih tak letih berlarian. memancingnya bicara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful