You are on page 1of 58

SKRIPSI

ANALISIS PENERAPAN AKUNTANSI PADA TOKO PAKAIAN DI KECAMATAN BUKIT RAYA PEKANBARU

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Megikuti Ujian Oral Komprehensif Sarjana Lengkap Pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau Pekanbaru

DISUSUN OLEH

ARDIUS PERWIRA NEGARA NPM : 065310202 JURUSAN AKUNTANSI S-1

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM RIAU PEKANBARU 2011

ANALISIS PENERAPAN AKUNTANSI PADA USAHA TOKO PAKAIAN DI KECAMATAN BUKITRAYA PEKANBARU

Abstrak Ardius Perwira Negara Penelitian ini di lakukan di kecamatan Bukit Raya Pekanbaru. Berkenaan dengan penelitian ini yang menjadi objek adalah Usaha KecilToko Pakaian di Kecamatan Bukit Raya. Adapun permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah apakah penerpan akuntansi yang dilakukan oleh usaha toko pakaian telah sesuai dengan konsep-konsep dasar akuntansi dalam menjalankan usahanya. Adapun tujuan penelitian ini dilaksanakan adalah untuk mengetahui kesesuaian perlakuan akuntansi terhadap usaha kecil toko pakaian yang berada di wilayah kecamatan bukit raya dengan konsep-konsep dasar akuntansi. Data yang dikumpulkan merupakan data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, dokumentasi dan observasi setelah semua data terkumpul kemudian data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif. Sehingga dapat diketahui apakah usaha toko pakaian telah menerpakan akuntansi sesuai dengan konsep-konsep dsasar akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerpan akuntansi yang dilakukan oleh usaha toko pakaian belum sesuai dengan konsep-konsep dasar akuntansi.

ii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirohim Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis dan telah menberikan kemudahan bagi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul Analisis Penerapan Akuntansi Pada Toko Pakaian Di Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru. Skripsi ini ditujukan sebagai salah satu syarat guna melengkapi ujian sarjana pada Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi S1 Universitas Islam Riau. Terwujudnya skripsi ini tidak lepas dari peran dan dukungan berbagai pihak yang telah meluangkan waktu dan kesempatan demi penyelesaian skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Drs.Syamri Syamsuddin, MSi. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau. 2. Ibu Yusrawati, SE., MSi. Selaku Ketua Jurusan Akuntansi Universitas Islam Riau.

iii

3. Ibu Dra. Eny Wahyuningsih, SE, M.Si selaku Pembimbing I yang telah banyak meluangkan waktu dan pikiran dalam memberikan bimbingan serta pengarahan dalam penulisan skripsi ini. 4. Bapak Azwirman, SE, M.Acc selaku Pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu dan pikiran dalam memberikan bimbingan serta pengarahan dalam penulisan skripsi ini. 5. Bapak Ibu Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau yang telah mendidik penulis dari awal perkuliahan hingga penyelesaian perkuliahan ini. 6. Karyawan dan Karyawati Tata Usaha Fakultas Ekonomi Unversitas Islam Riau yang telah membantu dalam proses administrasi selama perkuliahan. 7. Bapak/Ibu pemilik Toko Pakaian di Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru yang telah banyak membantu Penulis memperoleh data yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini. 8. Terimakasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada Ayah dan (Almh) Ibuku tercinta yang telah banyak memberikan semangat dan dorongan yang berharga selama mengikuti pendidikan dalam menyelesaikan skripsi ini dan tak lupa juga selalu mendoakan ku selama menyelesaikan perkuliahan ini. 9. Kepada kakak-kakak dan abang ku tersayang yang telah memberikan dukungan, nasehat, bantuan serta doanya buat penulis. 10. Terimakasih yang spesial buat Elwifna Novri Fonda, SE atas support, bantuan, nasehat dan doanya yang telah setia menemani dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

iv

11. Terimakasih juga buat seluruh teman-teman angkatan 2006 Jurusan Akuntansi S1 Universitas Islam Riau terutama Liliana, SE, Anmilgas DLT, SE, Harry Priadi (Calon SE), Ijep, Doni Zuhri, Ogik, dan anak-anak Uga serta seluruh yang telah membantu selama perkuliahan serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih banyak terdapat berbagai kelemahan, baik dari segi materi, bahasan, maupun teknik penulisan. Sehingga skripsi ini masih belum mencapai taraf kesempurnaan sebagaimana diharapkan. Oleh sebab itu, dengan segenap kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan skripsi ini.

Pekanbaru, Oktober 2011

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Perusahaan sebagai suatu entity ekonomi didirikan dengan maksud untuk melaksanakan serangkaian aktifitas-aktifitas dan kegiatan-kegiatan yang bersifat ekonomi,dimana diharapkan dapat memperoleh suatu hasil akhir yang

menguntungkan bagi pihak-pihak yang berkepentingan atas perusahaan tersebut. Hasil akhir aktifitas-aktifitas dan kegiatan perusahaan itu tergambar dalam seperangkat laporan yang disusun oleh pihak manajemen itu sendiri. Seperangkat laporan tersebut disusun berdasarkan dan melalui suatu proses yaitu proses olah data, biasanya data yang bersifat keuangan. Saat ini sudah banyak ditemui perusahaan yang didirikan dengan melakukan serangkaian aktifitas guna pencapaian laba atau keuntungan perusahaan, dimana untuk melakukan olah data tersebut ilmu akuntansi memiliki peranan yang sangat penting, baik itu perusahaan berskala kecil maupun perusahaan berskala besar. Sehingga dengan adanya ilmu akuntansi, penyajian laporan perusahaan dapat menyediakan informasi yang baik,dan dapat pula dipergunakan untuk pihak-pihak yang memerlukannya baik itu pihak intern maupun ekstern. Dari laporan yang dibuat berdasarkan akuntansi yang berlaku umum, maka diperoleh informasi yang dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan mengenai kegiatan ekonomi atau kondisi suatu perusahaan. Akuntansi dalam penerapannya dilandasi oleh konsep dasar akuntansi yaitu konsep-konsep yang melandasi bentuk, isi dan pelaporan keuangan. Sebagai berikut : (1). Konsep entitas usaha (Accounting Entity Concept), perusahaan dipandang sebagai entitas terpisah dari pemilik, kreditor atau pihak berkepentingan lainnya. (2)

Konsep kontinuitas (Going Concern Concept), perusahaan berlangsung terus tanpa ada maksud membubarkannya. (3) Konsep periode akuntansi, laporan keuangan harus dapat mencerminkan kondisi perusahaan dalam jangka waktu atau periode tertentu. (4) Dasar pencatatan akuntansi ada dua, yaitu a). Dasar kas (Cash Basic) adalah dimana penerimaan dan pengeluaran akan dicatat atau diakui apabila kas sudah diterima atau dikeluarkan. b). Dasar akrual (Accrual Basic) yaitu dimana penerimaan dan pengeluaran dicatat atau diakui saat terjadinya transaksi tanpa melihat apakah sudah diterima atau belum. Adapun informasi mengenai laporan keuangan yang telah disusun tersebut antara lain: (1) Perhitungan laba rugi yang menggambarkan hasil operasi perusahaan selama satu periode tertentu, (2) Neraca, yang menggambarkan keuangan atau posisi keuangan pada saat itu. (3) Laporan arus kas yang menggambarkan berapa kas yang masuk dan kas keluar perusahaan selama satu periode tertentu, (4) Catatan atas laporaan keuangan yang memuat informasi lain yang berhubungan dengan posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan seperti informasi mengenai kebijakan akuntansi yang dianut perusahaan, (5) laporan perubahan modal, merupakan suatu daftar yang memuat ikhtisar terperinci tentang perubahan modal dalam suatu periode tertentu. Kelima unsur laporan yang bersifat keuangan tersebut diatas lebih dikenal sebagai laporan keuangan, uang disusun untuk satu periode tertentu sebagai hasil akhir dari proses akuntansi. Periode ini dapat untuk masa satu bulan,satu kwartal, satu semester, satu tahun atau masa jangka waktu yang lain. Ada dua macam pencatatan dalam akuntansi yang dipergunakan yaitu accrual basis dan cash basis. Pada accrual basis pengaruh dari suatu transaksi langsung diakui pada saat terjadinya,jika perusahaan memberikan suatu jasa, melakukan penjualan atau melakukan suatu beban atau kewajiban, transaksi tersebut akan

dicatat didalam buku tanpa memperhatikan uang kas sudah diterima atau belum.sedangkan didalam cash basis tidak akan mencatat suatau transaksi jika belum ada uang kas yang diterima atau yang dikeluarkan. Luas atau tidaknya cakupan dari penerapan akuntansi, tergantung pada besar atau kecilnya usaha yang dijalankan oleh suatu perusahaan. Oleh karena itu, akuntansi tidak hanya diterapkan pada perusahaan besar tetapi juga pada perusahaan kecil. Penerapan akuntansi pada usaha kecil sangat tergantung pada tingkat pengetahuan pengelola perusahaan terhadap akuntansi. Karena hal ini akan berpengaruh pada proses akuntansi yang digunakan dalam menghasilkan laporan keuangan. Transaksi yaitu kejadian yang dapat mempengaruhi dua kesatuan atau lebih dan formulir adalah sesuatu yang dapat dijadikan bukti pencatatan karena adanya transaksi, dan dari pengertian tersebut bahwa transaksi merupakan penyebab awal adanya pencatatan yang dilakukan didasarkan pada bukti transaksi. Jurnal merupakan langkah awal dari siklus akuntansi, pembuatan jurnal dilakukan dengan melakukan pencatatan-pencatatan terhadap transaksi-transaksi oleh perusahaan. Didalam jurnal terdapat dua perkiraan yaitu perkiraan didebit dan dikredit. Buku besar adalah catatan akhir yang merupakan kumpulan rekening neraca dan rugi laba yang merangkum catatan akuntansi. Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi.

Tahap pengikhtisaran setelah transaksi dicatat dalam jurnal dan kemudian diposting kebuku besar. Proses ini diawali dengan penyusunan daftar saldo, pembuatan kertas kerja dan penyesuaian dan kemudian disusun laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan yang menggambarkan kondisi perusahaan seperti aktiva, kewajiban, ekuitas, serta pendapatan dan beban. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh sega lestari dengan skripsinya analisis penerapan akutansi pada usaha kecil toko buku dikecamatan sail, menyimpulkan bahwa pencatatan yang dilakukan oleh toko buku belum menerapkan pencatatan akutansi yang sesuai dengan prinsip prinsip akutansi yang berlaku umum. Dalam penelitiannya Rahmawati dengan judul skripsinya analisis praktek akutansi pada usaha ponsel di tembilahan menyimpulkan bahwa pencatatan yang dilakukan oleh pengusaha ponsel ditembilahan belum dapat menghasilkan informasi keuangan yang layak dalam menjalankan usaha. Di kecamatan Bukit Raya Pekanbaru terdapat 20 toko pakaian yang terdaftar di Kantor Camat Bukit Raya Pekanbaru. Dari hasil survey pada 10 toko pakaian yang terdaftar di Kecamatan Bukit Raya yang terdiri dari : Tabel I.1 Daftar nama-nama toko pakaian yang di jadikan sampel Nama Toko Alamat Yogaya Busana Rossa Viomi Fashion Usaha Bersama Tasya Fashion Jl. Harapan raya No. 172 H Jl. Harapan raya No. 6 Jl. Kelapa sawit No. 20 D Jl. Imam munandar No. 284 Jl. Kh. Nasution, marpoyan.

No 1. 2. 3. 4. 5.

6. 7. 8. 9. 10.

Keluarga Busana Nayla Fashion Boy Garment Madonna Collection Rano Collection

Jl. Imam munandar No. 93 Jl. Utama simpang tiga. Jl. Kh. Nasution, marpoyan. Jl. Harapan raya No. 34 Jl. Lembaga permasyarakatan No. 6

survey awal yang dilakukan pada toko yogaya, diperoleh data bahwa toko ini masih melakukan pencatatan penjualan dan pengeluaran kas kedalam satu buku catatan harian, dan menggabungkannya dengan pengeluaran rumah tangga. Selanjutnya untuk pencatatan hutang pemilik mencatat pada buku catatan khusus hutang. Sedangkan untuk pencatatan atas piutang dan persediaan pemilik tidak ada melakukan pencatatan. Untuk perhitungan laba rugi, toko ini melakukan perhitungan dengan menjumlahkan seluruh penjualan lalu dikurang dengan seluruh pengeluaran yang dilakukan setiap bulannya. Survey kedua dilakukan pada toko busana rossa yang beralamat di jalan harapan raya no. 6, dari data yang didapat diketahui pemilik hanya melakukan pencatatan penerimaan kas kedalam satu buku catatan harian, sedangkan untuk pengeluaran kas toko ini tidak melakukan pencatatan, begitu juga untuk hutang, piutang dan persediaan, untuk hutang toko ini hanya memiliki faktur sebagai bukti transaksi. Dalam menghitung laba rugi usahanya, pemilik hanya menjumlahkan seluruh penerimaan kas dan mengurangkan dengan seluruh pengeluaran kasnya. Dan pemilik melakukan perhitungan laba rugi sebulan sekali. Kemudian survey selanjutnya dilakukan pada toko viomi fashion, toko usaha bersama, toko tasya fashion dan keluarga busana dimana dari data yang berhasil

didapat, diketahui bahwa keempat toko pakaian ini hanya melakukan pencatatan penerimaan kas kedalam satu buku catatan harian, sedangkan untuk catatan pengeluaran kas, catatan atas hutang, piutang dan persediaan keempat toko ini tidak ada melakukan pencatatan, namun untuk transaksi hutang keempat toko ini hanya menggunakan faktur, dan untuk pembelian barang dagang pemilik toko hanya berpatokan pada stok yang masih tersisa. Survei selanjutnya dilakukan pada toko nayla fashion yang beralamat di jalan T. Bey no. 14 dan toko boy garment yang beralamat di jalan Kh. Nasution. Dari data yang diperoleh dari kedua toko ini diketahui bahwa dalam melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran kas, pemilik mencatat kedalam satu buku catatan harian, kedua toko ini tidak melakukan pemisahan antara keuangan toko dengan keuangan rumah tangganya. Selanjutnya dari data kedua toko ini didapat bahwa untuk pencatatan hutang, piutang dan persediaan tidak ada melakukan pencatatan. Sedangkan untuk hutang toko nayla fashion dan boy garment hanya menggunakan faktur untuk bukti transaksinya. Dan dalam menghitung laba rugi, kedua toko ini melakukan perhitungan laba rugi setiap hari dengan menjumlahkan semua penjualannya lalu dikurangi dengan seluruh biaya-biaya termasuk biaya rumah tangga. Dan untuk survey terakhir dilakukan pada toko madonna collection dan toko rano collection. Untuk pencatatan pemasukan kas, kedua toko ini melakukan pencatatan pada satu buku catatan harian, sedangkan untuk pengeluaran kedua toko ini tidak ada melakukan pencatatan. Untuk hutang toko madonna collection hanya memiliki faktur sebagai bukti transaksi, sedangkan pada toko rano collection untuk pembelian barang dagang dibeli secara tunai, selanjutnya untuk piutang dan

persediaan kedua toko ini tidak melakukan pencatatan. Dan untuk pembelian barang dagang pemilik hanya berpatokan pada jumlah barang yang masih tersisa. Berdasarkan penelitian sebelumnya dan latar belakang masalah yang dihadapi maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul : ANALISIS PENERAPAN AKUNTANSI PADA USAHA TOKO PAKAIAN DI KECAMATAN BUKITRAYA PEKANBARU B. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah pokok dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Apakah penerapan akuntansi yang dilakukan oleh pengusaha toko pakaian di Kecamatan Bukit Raya telah sesuai dengan konsep-konsep dasar akuntansi. C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kesesuaian perlakuan akuntansi terhadap usaha kecil toko pakaian yang berada diwilayah Kecamata Bukit Raya dengan konsep-konsep dasar akuntansi. 2. Manfaat Penelitian 1. Bagi penulis sendiri untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan sehubungan dengan penerapan akuntansi pada usaha kecil. 2. Bagi usaha kecil toko pakaian, sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan dalam penerapan akuntansi pada usaha kecil. 3. Bagi peneliti berikutnya, sebagai referensi dan topik yang sama pada masa yang akan datang.

D. Sistematika Penulisan Untuk mengambarkan secara garis besar batas dan luasnya penulisan, penulis membagi skripsi ini menjadi 6 bab, yaitu sebagai berikut : BAB I : Pendahuluan Menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah,tujuan dan sistematika penulisan. BAB II : Telaah Pustaka dan Hipotesis Mengemukakan tinjauan pustaka yang berhubungan dengan penulisan serta hipotesis. BAB III : Metode Penelitian Menjelaskan tentang metode dan lokasi penelitian, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data, dan analisis data. BAB IV : Gambaran Umum Perusahaan Menjelaskan secara singkat gambaran singkat identitas responden yang berisikan tingkat umur responden, tingkat pendidikan responden, modal usaha responden, dan jumlah pegawai. BAB V : Hasil Penelitian Dan Pembahasan Membahas mengenai hasil penelitian dan pembahasan. BAB VI : Penutup Terdiri atas kesimpulan dan saran-saran yang diharapkan dapat berguna bagi pengusaha kecil.

BAB II TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Telaah Pustaka 1. Pengertian Usaha Kecil Defenisi usaha kecil sampai saat ini berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang yang mengertikan, tetapi pada prinsipnya adalah sama. Menurut H. M. Daini Tara (2001:50) dalam bukunya Strategi Pembangunan Ekonomi Rakyat

Departemen Perdagangan dan Perindustrian memberikan batasan usaha kecil sebagai berikut : Usaha kecil adalah kelompok usaha industri yang memiliki investasi peralatan di bawah tujuh juta rupiah, investasi pertenaga kerja maksimal enam ratus dua puluh ribu rupiah, jumlah tenaga kerja 20 orang, serta memiliki asset perusahaan tidak lebih dari seratus juta rupiah. Sedangkan Verso A. Musselman dan Jhon H. Jacson (1999:159) dalam bukunya Pengantar Ekonomi Perusahaan mendefinisikan perusahaan kecil adalah sebagai berikut : Suatu usaha yang memperkerjakan tenaga pelaksana dan jumlah yang minimal dan yang dijalankan oleh pemiliknya yang juga mengawasi sendiri semua fungsi pelaksana dengan jalan mendelegasikan pekerjaan kepada pegawai-pegawai dari hari ke hari. Dari defenisi usaha kecil diatas, dapat diketahui bahwa perusahaan kecil mempunyai beberapa kriteria antara lain dapat dilihat dari jumlah modal yang

10

digunakan dan jumlah tenaga kerja yang diperkerjakannya. Usaha kecil merupakan usaha yang biasanya pemilik dipegang sendiri dan modal dari pemilik sendiri serta dalam jumlah yang kecil. Tenaga kerja yang di perkerjakan maksimal 20 orang dan omset yang diperoleh maksimal Rp. 200.000.000 pertahunnya. 2. Pengertian dan Fungsi Akuntansi Akuntansi merupakan suatu sistem informasi yang memberikan keteranganketerangan mengenai data ekonomi untuk pengambilan keputusan bagi siapa saja yang memerlukannya. Pengertian akuntansi yang dikeluarkan oleh Komite Terminologi AICPA (The Committen Terminology of the American Institut of Certified Public Accountans) dalam buku karangan Ahmad Riahi, Belkaoui (2006:50) yang berjudul teori Akuntansi adalah sebagai berikut : Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dan dalam bentuk satuan uang, dan penginterpretasian hasil tersebut. Sedangkan menurut Niswonger C. Rollin (2003:6) juga memberikan defenisi akuntansi dalam bukunya Prinsip-prinsip Akuntansi sebagai berikut : Akuntansi dapat didefenisikan sebagai sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan. Menurut American Accounting Assosiation dalam buku karangan H. Lili M. Sadeli (2009:2) yang berjudul Dasar-dasar Akintansi mendefinisikan Akuntansi sebagai berikut :

11

Proses mengidentifikasian, mengukur dan melaporkan informasi ekonomi untuk membuat pertimbangan dan mengambil keputusan yang tepat bagi pemakai tersebut. Dari keseluruhan pengertian akuntansi diatas dapat dilihat bahwa akuntansi merupakan aktifitas dalam perusahaan yang menghasilkan informasi akuntansi tentang kondisi keuangan. Informasi akuntansi tersebut didapat memalui proses pengidentifikasian transaksi, pencatatan, penggolongan, dan pelaporan laporan keuangan yang berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam membuat pertimbangan dan mengambil keputusan. Pada dasarnya kehidupan sehari-hari banyak masyarakat menggunakan fungsi akuntansi. Hal ini ini terwujud dalam bentuk pencatatan pencatatan yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui dan mengendalikan keuangannya. Jadi, besar kecilnya cakupan pengetahuan dan penerpan akuntansi sangat bergantung pada tingkat kebutuhannya serta fungsi akuntansi itu sendiri. Menurut American Institut of Certified Publik Accounting (AICPA) dalam buku karangan Jay M. Smith (2002:2) yang berjudul Akuntansi Intermediate Volume Komprehensif memberikan pengertian fungsi akuntansi sebagai berikut : Fungsi Akuntansi adalah untuk menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan, terutama entitas (satuan) usaha yang dipandang akan bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi dalam menerapkan pilihan yang tepat diantara berbagai alternatif tindakan. Dari pengertian fungsi akuntansi tersebut dapat dilihat bahwa dalam menjalankan suatu usaha akuntansi sangat dibutuhkan terutama dalam menyediakan

12

informasi akuntansi sebagai cermin aktivitas usaha untuk mengambil keputusan ekonomi. 3. Konsep dan Prinsip Dasar Akuntansi Dalam hal menerapkan akuntansi ada hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai konsep dasar akuntansi. Adapun konsep-konsep yang melandasi bentuk, isi, dan susunan laporan keuangan antara lain sebagai berikut : a) Konsep kesatuan usaha (Business Entity Concept), yaitu pemisahan transaksi usaha dengan transaksi non usaha. Menurut Sugiarto dan Sujarwo (1994:4) dalam bukunya Pengantar Akuntansi I konsep kesatuan usaha adalah : Konsep yang menyatakan bahwa dari akuntansi unit usaha atau perusahaan harus dianggap sebagai orang atau badan atau organisasi yang berdiri sendiri, bertindak atas namanya sendiri, dan terpisah dari pemilik. b) Menurut Jerry J. Weygant, Donald E. Kieso dan Paul D. Kimeld (2007:125) ada dua macam dasar pencatatan dalam akuntansi yang dipakai dalam mencatat transaksi yaitu : 1) Dasar Kas (Cash Basic) Pendapatan dicatat ketika uangnya diterima dan beban dicatat ketika uangnya dibayarkan. 2) Dasar Akrual (Accrual Basic) Dalam akuntansi berbasis akrual, transaksi yang mengubah laporan keuangan perusahaan dicatat pada periode terjadinya. c) Konsep periode akuntansi adalah konsep yang menyatakan bahwa akuntansi menggunakan periode waktu sebagai dasar dalam mengukur dan menilai kemajuan suatu perusahaan.

13

d) Transaksi, yaitu kejadian atau peristiwa didalam perusahaan yang dapat menyebabkan perubahan pada jumlah harta, hutang dan modal. e) Pendapatan, yaitu penambahan modal yang dihasilkan dari penjualan barang atau jasa perusahaan. Pengertian pendapatan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2009:32.2) dalam Standar Akuntansi Keuangan adalah : Arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Jay M. Smith dan K. Fred Skousen (2002:46) juga mendefenisikan pendapatan adalah sebagai berikut : Setiap aliran masuk atau pertambahan aktiva dari suatu usaha atau pelunasan kewajiaban (atau kombinasi keduanya) melalui pengiriman atau dihasilkan barang, pemberian jasa, atau aktivitas lain yang merupakan kegiatan utama suatu perusahaan. f) Beban, yaitu konsumsi atau sumber-sumber daya untuk memperoleh pendapatan Eldon S. Endriksen dan Michael F. Van Brade (2000:390) dalam bukunya Teori Akuntansi mendefinisikan beban sebagai berikut : Menggunakan atau mengkonsumsi barang dan jasa dalam proses mendapatkan pendapatan. Laporan keuangan perlu melalui tahapan-tahapan proses akuntansi yang dikenal dengan siklus akuntansi. Menurut Niswonger C. Rollin (2003:86) Siklus Akuntansi (Accounting Sycle) didefinisikan sebagai berikut :

14

Prosedur utama prinsip akuntansi yang digunakan untuk memproses transaksi dalam suatu periode fiskal. Soemarsono S.R (2001:90) dalam bukunya Akuntansi Suatu Pengantar memberikan pengertian siklus akuntansi adalah sebagai berikut : Tahap-tahap kegiatan mulai dari terjadinya transaksi sampai dengan penyusunan laporan keuangan sehingga siap untuk pencatatan transaksi periode berikutnya. Pengertian siklus akuntansi diatas menggambarkan bahwa siklus akuntansi merupakan suatu proses yang sangat penting dan harus dilalui oleh suatu perusahaan dan dilakukan secara berulang-ulang dalam menghasilkan informasi mengenai keadaan suatu perusahaan dimana dalam melaksanakan proses tersebut telah diatur dengan Standar Akuntansi Keuangan. Adapun siklus akuntansi terdidiri dari : a) Transaksi Menurut Donald E. Kieso dan Jerry. Weygandt (2007:93) dalam buku Akuntansi Intermediate mendefenisikan transaksi sebagai berikut : Suatu kejadian eksternal yang melibatkan transfer atau pertukaran dimana dua kesatuan atau lebih. Sedangkan Syahrul dan Afdi Nizar (2000:854) dalam Kamus Akuntansi memberikan defenisi transaksi sebagai berikut : Kejadian atau kondisi yang diakui dengan membuat ayat dalam buku akuntansi.

15

Dari pengertian transaksi tersebut dapat diketahui transaksi merupakan penyebab awalnya adanya pencatatan karena yang dilakukan dalam akuntansi merupakan pencatatan yang didasarkan pada bukti transaksi. b) Pembuatan atau penerimaan bukti asli Sebagaimana disebutkan diatas transaksi yang terjadi biasanya dibuktikan dengan adanya dokumen. Suatu transaksi beru dikatakan sah atau benar bila didukung oleh bukti-bukti yang sah. Bukti transaksi dapat berupa dokumen intern yang dibuat sendiri oleh perusahaan atau bisa pula berupa dokumen ekstren yang dibuat oleh pihak luar. Yang termasuk bukti transaksi intern menurut Donald E. Kieso dan Jerry J. Weygandt (2007:93) dalam buku Akuntansi Intermediate, antara lain : 1) Bukti kas keluar (Cash voucher) Bukti kas keluar adalah tanda bukit bahwa perusahaan telah dengan tunai atau

mengeluarkan uang tunai seperti pembelian

pembayaran gaji, pembayaran hutang atau pengeluaran-pengeluaran yang lainnya.

2) Bukti kas masuk (Official receipt) Bukti kas masuk adalah tanda bukti bahwa perusahaan telah menerima uang secara cash atau tunai. 3) Memo (Voucher) Fungsi memo sebagai bukti pencatatan antar bagian atau managar atau bagian-bagian yang ada di lingkungan perusahaan.

16

Yang temasuk bukti transaksi ekstern menurut Donald E. Kieso dan Jerry J. Weygandt (2007:93) dalam buku Akuntansi Intermediate, antara lain : 1) Faktur (Invoice) Faktur adalah tanda bukti telah terjadi pembelian atau penjualan secara kredit. 2) Nota debit (Debit note) Nota debit adalah bukti perusahaan telah mendebit perkiraan pemasokannya disebabkan karena berbagai hal. 3) Nota kredit (Credit note) Nota kredit adalah bukti bahwa perusahaan telah mengkredit perkiraan langganannya yang disebabkan oleh berbagai hal. c) Mencatat transaksi dalam jurnal Setelah adanya bukti-bukti dalam transaksi tersebut, langkah selanjutnya dalam siklus akuntansi adalah membuat jurnal. Pengertian jurnal menurut Al-Haryono Jusup (2005:120) dalam bukunya Dasar-dasar Akuntansi adalah sebagai berikut : Jurnal adalah alat untuk mencatat transaksi perusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan urut waktu terjadi) dengan menunjukkan rekening yang herus di debet dan di kredit berserta rupiahnya masingmasing. Sedangkan menurut Mulyadi (2001:4) dalam bukunya Sistem Akuntansi, pengertian jurnal adalah sebagai berikut : Catatan akuntansi pertama yang digunakan utnuk mencatat, mengklasifikasi dan meringkas data keuangan dan data lainnya. Dari pengertian jurnal diatas dapat dilihat bahwa jurnal merupakan tempat mencatat transaksi-transaksi yang dilakukan oleh perusahaan secara teratur sesuai dengan urutan kejadian. Menggunakan jurnal sebagai buku masukan atau catatan orisinil (book of original entry) mempunyai beberapa keuntungan antara lain sebagai berikut :

17

1) Jurnal memberikan suatu catatan sejarah transaksi perusahaan sesuai dengan urutan kejadiannya. 2) Jurnal memberikan suatu catatan transaksi keseluruhan, termasuk dampaknya terhadap rekening atau pos tertentu. 3) Jurnal dapat membantu menyakinkan kesamaan nilai debit dan kredit. Ada 2 macam bentuk jurnal, yaitu : 1) Jurnal umum, jurnal umum digunakan untuk mencatat segala macam transaksi dan kejadian. 2) Jurnal khusus, jurnal khusus hanya digunakan untuk transaksi yang bersifat khusus, misalnya jurnal untuk mencatat penerimaan uang, mencatat pengeluaran uang, mencatat pembelian secara kredit, dan lain-lain. d) Jurnal Khusus Prinsip-prinsip akuntansi diterapkan pada perusahaan kecil dengan transaksi yang relatif sedikit. Apabila transaksi yang harus dicatat banyak jumlahnya, penggunaan jurnal umum menjadi kurang efisien. Disamping itu, jika transaksi yang diolah adalah homogen penggunaan jurnal khusus akan menghemat waktu, tenaga dan biaya.

Buku harian tersebut antara lain : 1) Buku penjualan (Sales journal) Digunakan untuk mencatat penjualan yang dilakukan secara kredit. 2) Buku penerimaan kas (Cash receipt journal) Buku harian ini digunakan untuk mencatat semua perkiraan transaksi penjualan tunai dan penerimaan tagihan piutang. 3) Buku pembelian(Purchase journal) Buku harian ini digunakan untuk mencatat pembelian secara kredit.

18

4) Buku pengeluaran kas (Cash disbrushment journal) Buku harian ini digunakan untuk mencatat semua pengeluaran uang yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk pembelian barang dengan tunai dan pembayaran hutang. e) Posting jurnal ke buku besar Setelah jurnal tersebut dibuat maka jurnal-jurnal tersebut dimasukkan kedalam buku besar. Menurut Jerry J. Weygandt, Donald E. Kieso dan Paul D. Kimmel (2007:76) dalam buku Pengantar Akuntansi yang dimaksud dengan buku besar adalah seluruh kelompok akun yang dimilki sebuah perusahaan. Pada dasarnya buku besar dapat dibedakan menjadi 2 bentuk antara lain : 1) Bentuk skontro atau T-account yang artinya sebelah menyebelah, sisi kiri disebut debet dan sisi kanan disebut kredit. 2) Bentuk staffel atau report form adalah buku besar bentuk halaman atau disebut juga buku besar empat kolom. Fungsi buku besar antara lain sebagai berikut : 1) Mencatat secara terperinci setiap jenis harta, hutang, dan modal beserta perubahannya (transaksi atau kejadian). 2) Menggolongkan aspek transaksi atau kejadian sesuai dengan jenis akun masing-masing. 3) Mengitung jumlah atau nilai dari tiap-tiap jenis akun. 4) Mengikhtisarkan transaksi kedalam akun yang terkait sehingga dapat menyusun laporan keuangan. f) Buku besar pembantu Digunakan apabila terdapat jumlah akun yang sangat besar dengan karakteristik yang sama. Setiap buku besar pembantu diwakili dalam buku besar umum oleh sebuah akun perangkum yang disebut akun pengendali (controlling

19

account). Hasil penjumlahan atas saldo buku besar pembantu harus sama dengan saldo pada akun pengendali yang bersangkutan. Buku besar pembantu terdiri dari: 1) Buku besar pembantu piutang usaha Berisi akun untuk masing-masing pelanggan yang disusun menurut abjad. Akun pengendali pada buku besar umum yang digunakan adalah piutang usaha. 2) Buku besar pembantu utang usaha Berisi akun untuk masing-masing kreditor disusun menurut abjad. Akun pengendali pada buku besar umum yang digunakan adalah utang usaha. g) Neraca saldo sebelum penyesuaian Setelah membuat buku besar maka langkah selanjutnya dalam penyelesaian siklus akuntansi adalah membuat neraca saldo. Menurut Jay. M. Smith dan K. Fred Skousen (2002:46) neraca saldo adalah : Daftar dari semua saldo perkiraan, sebagai alat untuk menguji apakah total debet sama dengan total kredit umtuk semua perkiraan. Sedangkan menurut Sofyan Syafri Harahap (2008:23) dalam bukunya Teori Akuntansi neraca saldo adalah : Neraca yang memuat semua perkiraan, tetapi yang dimaksudkan biaya saldo akhirnya saja. Manfaat dari neraca saldo sebelum penyesuaian adalah sebagai berikut : 1) Mempermudah dan mempercepat penyusunan laporan keuangan karena kita tidak harus membolak-balik buku besar. 2) Menguji apakah pencatatan ke dalam seluruh rekening sudah benar debit maupun kreditnya.

20

3) Mengetahui saldo pos-pos laporan keuangan dalam satu halaman sehingga dapat dipelajari hubungan antara pos yang satu dan yang lainnya secara mudah (berguna untuk melakukan penyesuaian) h) Ayat jurnal penyesuaian Penyesuaian berarti pencatatan atau pengakuan (jurnal dan posting) data-data transaksi tertentu pada akhir periode sehingga jumlah rupiah yang terdapat dalam tiap rekening menjadi sesuai dengan kenyataan pada akhir periode tersebut dan laporan keuangan yang dihasilkan menggambarkan keadaan yang senyatanya pada tanggal laporan neraca. Menurut Hongren (1997:143) dalam bukunya Akuntansi di Indonesia yang dimaksud dengan jurnal penyesuaian adalah sebagai berikut : Ayat jurnal yang dibuat pada akhir periode utnuk menempatkan pendapatan pada periode dimana pendapatan tersebut dihasilkan dan beban pada periode dimana beban itu terjadi. Sedangkan menurut Amin Widjaya Tunggal (2002:105) dalam bukunya Akuntansi Perusahaan Kecil dan Menengah yang dimaksud dengan jurnal penyesuaian adalah : Jurnal untuk mencatat kejadian yang tidak mempunyai dokumen khusus seperti tanda terima, bukti pengeluaran kas, atau faktur penjualan. Hal seperti ini, dicatat pada akhir periode akuntansi dengan jurnal penyesuaian. Maksud dan tujuan jurnal penyesuaian adalah untuk mengubah sisa perkiraan sehingga menggambarkan secara wajar situasi pada akhir periode. Berikut ini adalah pos-pos perkiraan yang memerlukan penyesuaian menurut Wiwin Yadiati dan Ilham Wahyudi (2006:96) : 1) Beban yang ditangguhkan (deferred expenses) atau beban dibayar dimuka (prepaid expense). Pos ini pada awalnya dicatat sebagai aktiva dan dikemudian hari di alokasikan sebagai beban seiring operasi normal perusahaan. Contohnya perlengkapan dan asuransi dibayar di muka.

21

2) Pendapatan yang ditangguhkan (diferred revenue) atau pendapatan diterima dimuka (unearned revenue). Pos ini pada awalnya dicatat sebagai kewajiban dan di kemudian hari diakui dan dicatat sebagai pendapatan. Contohnya sewa dibayar di muka. 3) Beban akrual (beban yang masih harus dibayar (accrued expense)) atau kewajiban akrual yaitu beban yang terjadi tetapi belum dicatat dalam perkiraannya. Contohnya upah karyawan yang terhutang dan harus dibayar pada akhir periode. 4) Pendapatan akrual (pendapatan yang masih harus diterima (accrued revenue)) atau aktiva akrual yaitu pendapatan yang telah dihasilkan tetapi belum dicatat didalam perkiraannya. Contohnya imbalan jasa akuntan yang telah diberikan kepada klien namun belum ditagih kepada klien pada akhir periode. i) Neraca saldo setelah penyesuaian dan Neraca lajur Setelah pembuatan jurnal penyesuaian selesai, maka langkah selanjutnya adalah menyusun neraca saldo setelah penyesuaian dengan cara mencari saldo-saldo rekening-rekening buku besar setelah posting jurnal penyesuaian dilakukan. Setelah penyesuaian neraca saldo setelah penyesuaian, maka proses selanjutnya adalah membuat laporan keuangan. Namun kadang kala muncul kesulitan saat akan melakukan penyusunan laporan keuangan sehingga akuntansi menyediakan alat bantu untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan yang dikenal dengan sebutan neraca lajur atau kertas kerja. Menurut Evi Maria (2007:110) yang dimaksud dengan neraca lajur sebagai berikut: Suatu kertas kerja yang berisi kolom atau lajur yang dirancang berisi rangkuman rekening-rekening dan saldonya yang tercantum dalam neraca saldo sebelum penyesuaian, jurnal penyesuaian dan neraca saldo setelah penyesuaian. Pembuatan neraca lajur dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan menyusun laporan keuangan dan memudahkan untuk menemukan kesalahan yang mungkin terjadi dalam membuat jurnal penyesuaian. Karena neraca lajur hanya merupakan alat bantu dalam proses akuntansi, maka neraca lajur bukanlah

22

merupakan pencatatan akuntansi yang formal. Hal ini berarti neraca lajur bersifat optional yaitu boleh dibuat atau tidak dalam proses pencatatan akuntansi. j) Laporan keuangan Setelah transaksi dicatat dan diikhtisarkan, maka disiapkan laporan bagi pemakai yang didalam laporan tersebut berisikan informasi akuntansi yang dinamakan laporan keuangan. Menurut Budi Raharjo (2002:45) dalam bukunya Akuntansi Keuangan Untuk Manajer Non Keuangan mendefinisikan laporan keuangan sebagai berikut : Laporan pertanggung jawaban manajer atau pimpinan perusahaan atas pengelolaan perusahaan yang dipercayakan kepadanya kepada pihak-pihak luar perusahaan, yaitu pemilik perusahaan (pemegang saham), pemerintah (instansi pajak), kreditur (bank atau lembaga keuangan) dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Laporan keuangan ini biasanya dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan. Disamping itu laporan keuangan dapat juga memenuhi tujuantujuan lain yaitu sebagai laporan kepada pihak-pihak ekstren lainnya. 1) Neraca Neraca merupakan suatu daftar aktiva, kewajiban dan ekuitas pemilik pada tanggal tertentu biasanya pada akhir bulan atau pada akhir tahun. Unsur-unsur neraca meliputi : 1) Aktiva, yaitu manfaat ekonomi yang mungkin diperoleh dimasa depan atau dikendalikan oleh entitas tertentu sebagai hasil dari transaksi atau kejadian masa lalu. 2) Kewajiban, yaitu pengorbanan manfaat ekonomi yang mungkin terjadi dimasa depan yang berasal dari kewajiban berjalan entitas

23

tertentu untuk mentransfer aktiva atau menyadiakan jasa kepada entitas lainnya dimasa depan sebagai hasil dari transaksi atau kejadian masa lalu. 3) Ekuitas, kepentingan residu oleh aktiva sebuah entitas setelah dikurangi dengan kewajiban-kewajibannya. Dalam sebuah entitas bisnis, ekuitas inilah yang merupakan kepentingan kepemilikannya. Neraca dapat disajikan dalam tiga bentuk : 1) Bentuk T-account, yaitu bentuk neraca yang disusun sebelah menyebelah, yaitu sisi kiri disebut aktiva dan sisi kanan disebut pasiva. Sisi aktiva dan sisi pasiva harus seimbang. 2) Bentuk Report form, yaitu bentuk neraca yang disusun dalam bentuk laporan, yaitu atasnya untuk mencatat aktiva dan bagian bawahnya untuk pasiva. Jumlah aktiva dan pasivanya juga harus seimbang seperti halnya bentuk skonto. 3) Bentuk yang menyajikan posisi keuangan atau financial position report dalam bentuk ini posisi keuangan tidak dilaporkan seperti dalam bentuk skonto maupun bentuk stafel yang berpedoman kepada persamaan akuntansi. Dalam bentuk ini cara pengerjaannya adalah pertama-tama dicantumkan aktiva lancar dikurangi huntang lancar dan pengurangannya diketahui modal kerja. Modal kerja tersebut ditambah dengan aktiva tetap dan aktiva lainnya kemudian dikurangi dengan hutang jangka panjang maka akan diperoleh modal pemilik. 2) Laba rugi Laporan rugi laba (income statement) merupakan laporan yang menggambarkan keberhasilan maupun kegagalan dalam opersi atau

24

aktifitas perusahaan dalam satu periode. Horngren (1997:22) memberikan pengertian laporan laba rugi sebagai berikut : Suatu ikhtisar pendapatan atau pengeluaran beban dari entitas pada suatu jangka panjang waktu tertentu, misalnya untuk satu bulan atau satu tahun. Zaki Baridwan (2003:86) dalam bukunya Intermediate Accounting juga memberikan pengertian laba rugi sebagai berikut : Suatu laporan yang menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biayabiaya dari suatu unit usaha untuk suatu periode tertentu. Dari defenisi laporan rugi laba di atas dapat dilihat bahwa untuk mengetahui laba atau rugi suatu hasil akhir dari aktivitas perusahaan maka dapat dilihat dengan cara membandingkan antara pendapatan dengan biaya yang telah dikorbankan. Apabila pendapatan melebihi biaya yang telah dikeluarkan maka perusahaan tersebut dapat dikatakan sedang memperoleh laba. Tetapi sebaliknya apabila biaya yang dikorbankan lebih besar dari pendapatan maka perusahaan dapat dikatakan dalam keadaan rugi. Unsur-unsur laporan laba rugi meliputi : 1. Pendapatan, yaitu arus masuk aktiva atau peningkatan lainnya dalam aktiva entitas atau pelunasan kewajibannya selama satu periode, yang ditimbulkan oleh penyediaan jasa atau aktivitas lainnya yang merupakan bagian dari operasi utama atau operasi sentral perusahaan. 2. Beban, yaitu arus keluar atau penurunan lainnya dalam aktiva sebuah entitas atau penambahan kewajiban selama satu periode, yang ditimbulkan oleh pengiriman atau produksi barang.

25

Kegunaan laporan laba rugi adalah sebagai berikut : 1. Mengevaluasi kinerja masa lalu perusahaan. 2. Memberikan dasar untuk memprediksi kinerja masa depan. 3. Membantu menilai resiko atau ketidakpastian pencapaian arus kas masa depan. 3) Laporan perubahan posisi keuangan Tujuan penyusunan laporan perubahan posisi keuangan adalah untuk mengikhtisarkan semua pembiayaan dan investasi termasuk seberapa jauh perusahaan telah menghasilkan dana dari usaha selama periode

bersangkutan. Dana dapat juga diinterpretasikan sebagai kas yaitu aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar. Laporan perubahan posisi keuangan harus menunjukkan seluruh aspek penting dari aktivitas pembiayaan dan investasi, tanpa memandang apakah transaksi tersebut berpengaruh langsung pada kas atau unsur-unsur modal kerja lainnya. Transaksi yang tidak mempengaruhi kas atau modal kerja secara lansung. Tetapi harus tetap ditunjukkan dalam laporan perubahan posisi keuangan, antara lain : 1. Pembelian aktiva tetap dengan mengeluarkan saham 2. Konversi utang jangka panjang menjadi modal saham. 4) Laporan arus kas Laporan arus kas adalah suatu ikhtisar penerimaan kas dan pembayaran kas selama suatu periode waktu tertentu. Tujuan dari penyajian laporan arus kas ini adalah untuk memberikan informasi yang relevan mengenai penerimaan dan pengeluaran arus kas atau setara dengan kas dari suatu perusahaan pada suatu periode tertentu.

26

5) Catatan atas laporan keuangan Catatan atas laporan keuangan adalah catatan yang dianggap penting dalam penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan perusahaan sehingga laporan keuangan yang disajikan dapat berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan : a. Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi yang penting. b. Informasi yang diwajibkan dalam PSAK tetapi tidak disajikan di neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas. c. Informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar. k) Jurnal penutup Menurut Horngren dan Charles T (1997:199) yang dimaksud dengan jurnal penutup sebagai berikut : Ayat jurnal yang memindahkan nilai sisa pendapatan, beban, dan pengambilan pribadi dari masing-masing perkiraan ke dalam perkiraan modal. Langkah-langkah penutupan perkiraan suatu perusahaan adalah sebagai berikut : 1. Mendebet setiap perkiraan pendapatan sebesar nilai sisa kreditnya. Mengkreditkan ikhtisar laba rugi sebesar jumlah total pendapatan. Ayat jurnal ini memindahkan jumlah total pendapatan ke dalam sisi kredit dari ikhtisar laba rugi.

27

2. Mengkredit setiap perkiraan beban sebesar nilai sisa debetnya. Mendebet ikhtisar laba rugi sebesar jumlah total beban. Ayat jurnal ini memindahkan jumlah total beban ke dalam sisi debet dari ikhtisar laba rugi. 3. Mendebet ikhtisar laba rugi sebesar nilai sisa kreditnya dan mengkredit perkiraan modal. 4. Mengkredit perkiraan pengambilan pribadi sebesar nilai sisa debetnya. Mendebet perkiraan modal pemilik perusahaan. l) Neraca saldo setelah penutupan Siklus akuntansi akan berakhir dengan neraca saldo setelah penutupan. Neraca saldo setelah penutupan adalah pengujian terakhir mengenai ketepatan penjurnalan dan pemindah bukuan ayat jurnal penyesuaian dan penutupan. Seperti halnya neraca saldo yang terdapat pada awal pembuatan neraca lajur, neraca saldo setelah penutupan adalah daftar seluruh perkiraan dengan nilai sisanya. Langkah ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa buku besar berada pada posisi yang seimbang untuk memulai periode akuntansi berikutnya. Neraca saldo setelah penutupan diberi tanggal perakhir periode akuntansi dimana laporan tersebut dibuat. Isi perkiraan neraca adalah nilai sisa akhir dari daftar permanen yaitu perkiraan neraca : aktiva, kewajiban dan modal. Didalamnya tidak termasuk perkiraan sementara seperti perkiraan pendapatan, beban atau pengambilan pribadi, karena nilai sisa perkiraan tersebut ditutup. m) Jurnal koreksi Menurut Evi Maria (2007:123) dalam bukunya Akuntansi Untuk Perusahaan Jasa yang dimaksud jurnal koreksi adalah sebagai berikut :

28

Jurnal yang dibuat untuk mengkoreksi kesalahan yang ditemukan selama periode pembukuan sehingga kalau jurnal tersebut di posting maka rekening-rekening dan saldo yang keliru secara otomatis menjadi benar. Kesalahan dalam pencatatan akuntansi antara lain kesalahan nama rekening dalam penjurnalan, kesalahan jumlah rupiah dalam mencatat dan kesalahan kombinasi diantara keduanya yaitu kesalahan nama rekening dan jumlah rupiahnya. 4) Sistem Akuntansi Perusahaan Kecil Sistem akuntansi yang dilakukan oleh perusahaan kecil masih bersifat sederhana dan sistem akuntansi yang digunakan yaitu dengan menggunakan sistem akuntansi tunggal (Single Entry System). Menurut Amin Widjaja Tunggal (2002:25) dalam bukunya Akuntansi Untuk Perusahaan Kecil dan Menengah menjelaskan sistem akuntansi tunggal (Single Entry System) adalah sebagai berikut : Dalam sistem akuntansi tunggal pencatatan assetnya hanya menggunakan satu sisi pendapatan dan sisi pengeluaran. Pencatatan ini relatif mudah dan sederhana. Dalam tata buku tunggal laporan neraca dan perhitungan laba rugi tidak disusun dari buku besar, akan tetapi dari catatan-catatan dalam buku harian dan buku-buku lainnya. Eearl K. Stice, James D. Stice, dan Fred K. Skousen (2004:76) dalam bukunya Intermediate Accounting menjelaskan sistem akuntansi berpasangan (Double Entry System) adalah sebagai berikut : Dengan sistem akuntansi berpasangan, setiap transaksi dicatat dalam suatu cara untuk memastikan keseimbangan atau kesamaan persamaan dasar akuntansi yaitu : aktiva = kewajiban + ekuitas pemilik. Secara ringkas perbedaan-perbedaan sistem akuntansi berpasangan (Double Entry System) dengan sistem akuntansi tunggal (Single Entry System) dijelaskan oleh Amin Widjaja Tunggal (2002:25) dalam bentuk tabel 4 sebagai berikut :

29

Tabel 4 Perbedaan Sistem Akuntansi Berpasangan Dengan Sistem Akuntansi Tunggal Proses Penyusunan Laporan Keuangan Pencatatan transaksi keuangan Sistem Pembukuan Berpasangan Jurnal umum atau jurnal khusus Sistem Pembukuan Tunggal Buku harian, buku kas bank, buku pembelian, buku penjualan dan buku memorial Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Dilakukan dengan memperhatikan neraca awal buku harian dan data akhir periode akuntansi

No. 1.

2. 3. 4. 5. 6.

Pemindahan (posting) dari jurnal ke buku besar Penyusunan neraca saldo dari perkiraan buku besar Ayat penyesuaian Penyusunan neraca lajur Penyusunan laporan keuangan

Ada Ada Ada Ada Dapat dilakukan dari neraca laporan atau buku besar

7.

Ada dan dilakukan Tidak ada pada akhir periode akuntansi 8. Neraca saldo setelah penutupan Ada yang diperoleh Tidak ada dari saldo perkiraan akhir periode akuntansi 9. Laporan keuangan Laporan rugi laba Laporan rugi laba perubahan perubahan modal dan modal/laba ditahan neraca dan neraca Sumber : Amin Widjaja Tunggal (2002:25) dalam bukunya Akuntansi Untuk Perusahan Kecil dan Menengah B. Hipotesis Berdasarkan latar belakang masalah dan telaah pustaka yang telah diuraikan diatas maka dapat dikemukakan hipotesis penelitian sebagai berikut : Penerapan akuntansi yang dilakukan oleh usaha kecil Toko Pakaian di Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru belum sesuai dengan konsep dan prinsip dasar akuntansi.

Jurnal penutup

30

BAB III METODE PENELITIAN

1.

Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru. Objek dari

penelitian ini adalah pengusaha toko pakaian di Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru. 2. Operasional Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah : a. Konsep-konsep dasar akuntansi 1) Kesatuan usaha, yaitu pemisahan transaksi usaha dengan transaksi non usaha (rumah tangga). 2) Dasar pencatatan, ada dua macam dasar pencatatan dalam akuntansi yang digunakan dalam mencatatan akuntansi diantaranya: a) Dasar kas, dimana penerimaan dan pengeluaran akan dicatat atau diakui apabila kas sudah diterima atau dikeluarkan. b) Dasar akrual, dimana penerimaan dan pengeluaran dicatat atau diakui pada saat terjadinya transaksi tanpa melihat apakah kas telah diterima atau dikeluarkan. 3) Konsep kelangsungan usaha (going concern) yaitu menganggap bahwa suatu perusahaan akan hidup terus, dalam arti perusahaan diharapkan tidak akan mengalami likuidasi dimasa yang akan datang dan menganggap bahwa perusahaan memiliki cukup waktu untuk

menyelesaikan usaha, kontrak-kontrak dan perjanjian. 4) Konsep periode waktu (time periode concept) adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa akuntansi menggunakan periode waktu sebagai dasar dalam mengukur dan menilai kemajuan suatu perusahaan.

31

Konsep periode waktu juga menyatakan bahwa umur ekonomis dari sebuah bisnis dapat dibagi kedalam periode waktu buatan. Maka diasumsikan bahwa aktifitas perusahaan dapat dibagi menjadi bulan, kuartal (triwulan) atau tahun untuk tujuan pelaporan keuangan yang berarti. 5) Laporan laba rugi, perhitungan laba rugi memberikan informasi mengenai hasil operasi perusahaan baik dalam kondisi laba maupun rugi. Perhitungan laba rugi ini yang diperhitungkan adalah pendapatan dan beban dari suatu entitas. b. Sistem Pembukuan Buku-buku yang digunakan dan cara mencatat transaksi kedalam buku-buku tersebut. 3. Populasi Adapun yang menjadi populasi dari penelitian ini adalah seluruh usaha kecil toko pakaian di Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru, dengan modal usaha yang di tetapkan oleh Mentri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia No.590/MPP/Kep/10/1999 sebesar Rp.5.000.000,-(lima juta rupiah) sampai dengan Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Jumlah usaha kecil toko pakaian di Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru dari hasil survey adalah 20 toko pakaian yang semuanya akan dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini

32

Tabel 5 Populasi Usaha Toko Pakaian di Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Nama Toko Madona Collection Busana Rossa Ing Batik Usaha Bersama Yogaya Rano Collection Cantiq Fashion Viomi Fashion Anggun Busana Roads Tasya Fashion Mulia Fashion Malindo Siaga Adinda Collection Alya Collection Boy Garment Nayla Fashion Diyan Collection Keluarga Busana Alamat Jl. Harapan raya No. 34 Jl. Harapan raya No. 6 Jl. Imam munandar No. 304 A Jl. Imam munandar No. 284 Jl. Harapan raya No. 172 H Jl. Lembaga permasyarakatan No. 6 Jl. Rawamangun No. 6 Jl. Kelapa sawit No. 20 D Jl. Imam munandar No. 93 Jl. Surabaya Jl. Kh. Nasution, marpoyan. Jl. Kh. Nasution No. 103 Jl. Kh. Nasution, simpang sawit. Jl. Kh. Nasution, marpoyan. Jl. Kh. Nasution, marpoyan. Jl. Air dingin 1 C Jl. Kh. Nasution, marpoyan. Jl. Utama simpang tiga. Jl. T. Bey No.14 Jl. Imam munandar No. 93

Sumber : Kantor Camat Bukit Raya Pekanbaru

33

4.

Jenis dan Sumber Data a. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari responden melalui wawancara dan kuisioner. b. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari instansi yang terkait yaitu pengelola toko pakaian dan buku pencatatan harian (buku kas) dari pemilik toko pakaian di kecamatan Bukit Raya pekanbaru.

5.

Teknik Pengumpulan Data Tenik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis adalah sebagai

berikut: a. Wawancara terstruktur, yaitu teknik pengumpulan data dengan wawancara yang telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternative jawabannya telah disediakan. b. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara pengambilan dokumen-dokumen yang telah ada tanpa ada pengolahan kembali, seperti buku pencatatan harian. c. Observasi, yaitu penulis secara langsung ditempat usaha mengamati terjadinya transaksi, melihat pencatatan yang dilakukan pengelola. 6. Teknik Analisis Data Data-data yang telah dikumpulkan kemudian dikelompokan menurut jenisnya masing-masing. Setelah itu dituangkan kedalam bentuk tabel dan akan diuraikan secara deskriptif sehingga dapat diketahui apakah pengusaha toko pakaian yang berada di pekanbaru telah menerapkan akuntansi. Kemudian ditarik kesimpulan untuk disajikan dalam bentuk penelitian.

34

BAB IV GAMBARAN UMUM

A. Gambaran Umum Identitas Responden Adapun responden dalam penelitian ini adalah pengusaha toko pakaian di Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru, yaitu sebanyak 20 Responden. Adapun identitas responden yang akan penulis uraikan meliputi : tingkat umur, tingkat pendidikan, dan lamanya berusaha. 1. Tingkat Umur Responden Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis mengenai tingkat umur responden terlihat pada Tabel IV.1 adalah sebagai beriktu : Tabel IV.1 Distribusi Responden Dirinci Menurut Tingkat Umur No 1 2 3 4 Tingkat Umur (Tahun) 21 30 31 40 41 50 51 60 Jumlah Sumber : Data Olahan Dari Tabel IV.1 diatas dapat dilihat bahwa yang paling banyak respondennya adalah pada umur yang berkisar antara 41 - 50 tahun yaitu 44 %, kemudian diikuti oleh responden yang berumur 31 40 sebesar 39%, tingkat umur 51 60 tahun yaitu 11 %, dan responden yang berumur 21 - 30 sebesar 6 %. Jumlah 1 7 8 2 18 Persentase (%) 6 39 44 11 100 %

35

2. Tingkat Pendidikan Responden Dari penelitian yang telah dilakukan, ditemui bahwa tingkat pendidikan responden dapat dilihat dalam Tabel berikut ini : Tabel IV.2 Distribusi Responden Dirinci Menurut Pendidikan No 1 2 3 Tingkat Pendidikan Jumlah 1 16 1 18 Persentase (%) 6 89 6 100 %

Tamat SMP Tamat SMA Tamat Strata 1 Jumlah Sumber : Data Olahan

Dari Tabel IV.2 dapat dilihat bahwa, pada umumnya responden banyak yang menamatkan pendidikannya pada tingkat SMA yang berjumlah 16 responden atau sebesar 89 %, selanjutnya tingkat Strata 1 dan tingkat SMP

masing-masing 1 responden atau 6 %. Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis, ini dikarenakan sulitnya mendapatkan pekerjaan sehingga mereka mendirikan perusahaan kecil dimana mereka sendiri yang mengatur perusahaan mereka tersebut dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan. 3. Lama Berusaha Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis, bahwa jumlah lamanya berusaha responden yang paling banyak adalah untuk mengetahui lebih rinci dapat dilihat dalam Tabel berikut ini :

36

Tabel IV.3 Distribusi Responden Dirinci Menurut Lama Berusaha No 1 2 3 Lama Berusaha (Tahun) 13 47 8 10 Jumlah 7 10 1 18 Persentase (%) 39 56 6 100 %

Jumlah Sumber : Data Olahan

Berdasarkan Tabel IV.3 diatas, dapat dilihat bahwa yang paling banyak responden dalam menjalankan usahanya antara 4 7 tahun yaitu 10 responden yaitu 56 % diikuti dengan responden yang berusaha antara 1 3 sebanyak 7 responden atau sebesar 39 % dan untuk 8 10 tahun sebanyak 1 responden atau 6 %. B. Respon Responden Terhadap Pelatihan Dalam Bidang Pembukuan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dalam hal ini di Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru telah ada sebagian responden yang pernah mendapat pelatihan dalam bidang pembukuan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam Tabel berikut ini : Tabel IV.4 Respon Responden Terhadap Pelatihan Dalam Bidang Pembukuan No Lama Berusaha (Tahun) Jumlah Persentase (%) Pernah mendapat pelatihan Tidak pernah mendapat pelatihan Jumlah Sumber: Data Olahan 1 2 2 16 18 11 89 100 %

Sebagian besar pengusaha toko pakaian tidak pernah mendapat pelatihan dalam bidang pembukuan dengan jumlah 16 responden yaitu 89 % dan pengusaha yang pernah mendapat pelatihan hanya 2 responden yaitu 11 %. Seharusnya

37

pelatihan dalam bidang pembukuan sudah dikuasai oleh pengusaha kecil baik dalam bentuk formal maupun kursus-kursus pelatihan. Karena dalam memdirikan usaha diperlukan pembukuan yang baik dan teratur agar dapat menilai perkembangan usahanya dan dengan adanya pelatihan dalam bidang pembukuan sangat mempengaruhi kelancaran usaha baik dari segi perencanaan maupun dalam pengambilan keputusan. C. Jumlah Pegawai / Karyawan Dari hasil penelitian yang diperoleh bahwa jumlah karyawan yang bekerja pada masing-masing toko pakaian jumlahnya berbeda-beda. Tergantung seberapa butuh pimpinan usaha tersebut dalam menjalankan usahanya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel IV.5 sebagai berikut : Tabel IV.5 Distribusi Responden Dirinci Menurut Jumlah Pegawai No. Nama Toko 1. Madona Collection 2. Busana Rossa 3. Ing Batik 4. Usaha Bersama 5. Yogaya 6. Rano Collection 7. Viomi Fashion 8. Anggun Busana 9. Roads 10. Tasya Fashion 11. Mulia Fashion 12. Malindo 13. Siaga 14. Adinda Collection 15. Alya Collection 16. Boy Garment 17. Nayla Fashion 18. Keluarga Busana Sumber : Data Olahan Jumlah Pegawai 9 orang 5 orang 2 orang 2 orang 4 orang 1 orang 4 orang 7 orang 2 orang 2 orang 1 orang 8 orang 2 orang 2 orang 1 orang 3 orang 1 orang 3 orang

38

Dari Tabel diatas diketahui jumlah pekerja dari masing-masing toko pakaian berrvariasi. Pada toko malindo memperkerjakan 8 orang karyawan, toko anggun 7 orang, toko madonna 6 orang, toko busana rossa 5 orang, sedangkan untuk yang memperkerjakan 4 orang antara lain toko yogaya dan viomi fashion, sedangkan untuk yang memperkerjakan 3 orang adalah toko boy garment dan keluarga busana, untuk yang memeprkerjakan 2 karyawan adalah toko ing batik, usaha bersama, roads,tasya fashion, toko siaga, toko adinda dan untuk yang memperkerjakan 1 orang karyawan adalah toko rano collection, mulia fashion, alya collection dan nayla fashion. D. Respon Responden Terhadap Pemegang Keuangan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa beberapa pemegang keuangan perusahaan sudah menggunakan tenaga kasir. Responden yang menggunakan tenaga kasir berjumlah 3 responden atau 17 %, dalam hal ini pengusaha yang menggunakan tenaga kasir karena usahanya sudah berkembang karena setiap harinya penuh dengan pembelian, oleh sebab itu dibutuhkan pencatatan yang baik dan terperinci. Selain itu juga kesibukan pemilik usaha terhadap kegiatan usaha lainnya. Sehingga dibutuhkan tenaga kasir dalam menjalankan usaha tersebut. Kemudian responden yang tidak menggunakan tenaga kasir berjumlah 15 responden atau 83 %, dikarenakan para pengusaha toko pakaian tersebut langsung memegang semua yang berhubungan dalam bidang keuangan. Hal ini dikarenakan bahwa usaha ini merupakan usaha pokok para pengusaha lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel berikut ini :

39

No 1 2

Tabel IV.6 Respon Responden Terhadap Pemegang Keuangan Lama Berusaha (Tahun) Jumlah Persentase (%) 3 15 18 17 83 100 %

Menggunakan tenaga kasir Tidak Menggunakan tenaga kasir Jumlah Sumber : Data Olahan E. Modal Usaha Awal Berdiri

Dari hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa modal usaha masing-masing pengusaha toko pakaian berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel berikut ini : Tabel IV.7 Modal usaha responden No Modal Usaha Jumlah 5.000.000 50.000.000 7 1 51.000.000 100.000.000 7 2 101.000.000 150.000.000 2 3 151.000.000 200.000.000 1 4 201.000.000 250.000.000 1 5 Jumlah 18 Sumber : Data Olahan

Persentase (%) 39 39 11 6 6 100 %

Dari Tabel diatas diketahui bahwa sebagian responden dalam menjalankan usaha menanamkan modal 5.000.000 50.000.000 yaitu sebesar 7 responden atau 39 %, dan 51.000.000 100.000.000 yaitu sebesar 7 responden atau 39 %, diikuti dengan modal usaha 101.000.000 150.000.000 sebesar 2 responden atau 11 %, 151.000.000 200.000.000, 201.000.000 250.000.000 yang sama-sama berjumlah 1 responden atau 6 %. Berdasarkan modal usaha responden diatas dapat diketahui bahwa penanaman modal yang dilakukan responden diharuskan sudah mempunyai sistem akuntansi yang memadai untuk usaha ini. Dengan memiliki

40

sistem akuntansi yang memadai diharapkan dapat membantu didalam menentukan langkah-langkah yang akan diambil dimasa yang akan datang.

41

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Buku Pencatatan Transaksi Pencatatan yang baik dan benar dilakukan dengan cara mengklarifikasikan transaksi dimana dilakukan suatu pembagian transaksi suatu perusahaan kedalam jenis-jenis yang akan diteliti yaitu buku kas, buku piutang, buku hutang, buku persediaan, yang dilakukan oleh pengusaha toko pakaian dalam menjalankan usahanya yang akan disajikan dalam bentuk tabulasi. 1. Buku kas Tabel V.1 Pencatatan Penerimaan Dan Pengeluaran Kas Pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas 1 Melakukan pencatatan terhadap penerimaan dan pengeluaran kas 2 Tidak melakukan pencatatan terhadap penerimaan dan pengeluaran kas Jumlah Sumber : Data Olahan No Jumlah 18 0 18 Persentase 100 0 100 %

Dari hasil penelitian yang dilakukan yang melakukan pencatatan terhadap penerimaan dan pengeluaran kas berjumlah 18 responden atau sebanyak 100 %. Berdasarkan informasi diatas dapat diketahui bahwa sebagian responden telah melakukan pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas akan tetapi cara mencatatnya sangatlah sederhana sekali, hal ini dapat terlihat dari data yang didapat penulis, pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas yang dilakukan

42

pengusaha toko pakaian masih belum teratur dan hanya bisa dipahami oleh penguhasa toko pakaian sendiri. 2. Buku Piutang dan Buku Hutang Tabel V.2 Pencatatan Piutang Uraian Melakukan pencatatan terhadap piutang Tidak melakukan pencatatan terhadap piutang Jumlah Sumber: Data Olahan No 1 2 Jumlah 0 18 18 Persentase 0 100 100 %

Berdasarkan Tabel V.2 diketahui bahwa sebagiab besar responden tidak ada yang melakukan pencatatan terhadap piutang dikarenakan dari semua responden hanya melakukan penjualan tunai. Tabel V.3 Pencatatan Hutang No 1 2 Uraian Melakukan pencatatan terhadap hutang Tidak melakukan pencatatan terhadap hutang Jumlah Sumber: Data Olahan Berdasarkan Tabel V.3 yang melakukan pencatatan terhadap hutang sebanyak 1 responden atau sebesar 5.6 % dan yang tidak melakukan pencatatan terhadap hutang ada sebanyak 17 responden atau sebanyak 94.4 %. Dari hasil wawancara yang dilakukan penulis, bahwa responden yang tidak melakukan pencatatan terhadap hutang dikarenakan pada setiap transaksi yang dilakukan telah diberikan faktur sebagai bukti transaksi sehingga pemilik merasa cukup sehingga tidak diperlukan pencatatan lagi. Jumlah 1 17 18 Persentase 5.6 % 94.4 % 100 %

43

3. Buku Pencatatan Persediaan Pengetahuan akan persediaan pada umunya sudah diketahui oleh responden, hal ini dapat dilihat dari data kuesioner yang disebarkan oleh penulis bahwa sebagiab besar responden mengetahui atau mengenal istilah persediaan tersebut. Namun pencatatan terhadap persediaan masih ada responden yang tidak mencatat, padahal pencatatan sangat penting bagi perusahaan kecil khususnya agar mereka mengetahui stok persediaan yang ada atau persediaan yang sudah habis agar bisa diputar kembali dengan membelinya kepihak agen dan bisa dijual kembali kepada konsumen. Kalaupun ada pencatatan terhadap persediaan yang dilakukan oleh responden masih bersifat sederhana, utuk dapat lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel V.4 Buku pencatatan persediaan No Uraian 1 Melakukan pencatatan terhadap persediaan 2 Tidak melakukan pencatatan terhadap persediaan Jumlah Sumber : Data olahan Jumlah 0 18 18 Persen 0 100 100 %

Dari tabel V.4 diketahui bahwa sebagian besar responden tidak melakukan pencatatan terhadap persediaan, dan yang tidak melakukan pencatatan terhadap persediaan sebanyak 18 responden atau 100 %. Dari informasi diatas dapat diketahui bahwa responden pada umunya tidak melakukan pencatatan terhadap persediaan yang ada, mereka hanya melakukan pengecekan atas persediaan yang ada, dan akan membeli persediaan kembali jika

44

persediaan mereka yang sebelumnya sudah habis. Maka dapat diketahui dengan tidak adanya pencatatan aras persediaan mengakibatkan pemilik usaha toko pakaian tidak mengetahui stok persediaan yang tersisa (persediaan akhir) maupun persediaan yang habis atau terjual, sehingga pemilik usaha toko pakaian tidak dapat menerima informasi yang berguna bagi usaha terutama informasi persediaan. B. Perhitungan Laba Rugi Dalam hal ini akan dibahas mengenai pemahaman variabel laporan laba rugi yang juga berguna bagi usaha toko pakaian dalam menjalankan usahanya. Perhitungan laba rugi dalam usaha sangat perlu dilakukan, karena dengan mengetahui laba atau rugi usaha yang dijalankan pengusaha toko pakaian akan mengetahui tingkat kelangsungan hidup usahanya. Dari hasil penelitian yang penulis lakukan bahwa, pengusaha toko pakaian di Kecamatan Bukti Raya Pekanbaru telah melakukan perhitungan laba rugi terhadap usahanya. Untuk lebih jelas dilihat pada Tabel V.5 beriktu ini : Tabel V.5 Perhitungan Laba Rugi Oleh Responden Uraian Melakukan perhitungan laba rugi Tidak Melakukan perhitungan laba rugi Jumlah Sumber : Data Olahan No 1 2 Jumlah 3 15 18 Persentase 16.7 83.3 100 %

Berdasarkan Tabel diatas diketahui bahwa pengusaha toko pakaian telah melakukan pencatatan terhadap laba rugi atas usaha yang mereka jalankan. Responden yang melakukan perhitungan laba rugi berjumlah 3 responden atau

45

16.7 % sedangkan responden yang tidak melakukan perhitungan laba rugi berjumlah 15 responden atau 83.3 %. Dari hasil wawancara dari responden yang tidak melakukan pencatatan terhadap laba rugi. Untuk melakukan perhitungan mereka menghitung seluruh penjualan dikurang dengan modal lalu dikurang dengan pengeluaran. Dari informasi diatas diketahui laba rugi terhadap usaha yang dijalankan sangat perlu sehingga mereka menerapkan perhitungan laba rugi pada usahanya. Perhitungan laba rugi yang dilakukan belum sesuai dengan konsep dasar akuntansi yaitu konsep penandingan, dimana penandingan biaya dan pendapatan yang hasilnya tidak diperhitungkan selama periode terjadinya biaya tersebut. Selain itu masih ada beberapa pengusaha yang belum memisahkan antara pengeluaran perusahaan dan perngeluaran pribadi. 1. Pendapatan Untuk variabel pendapatan, pengusaha toko pakaian sudah mengetahui dan mengenal dengan baik dan begitu juga dengan pencatatan yang dilakukan pengusaha toko pakaian terhadap penjualan wajib melakukan pencatatan dikarenakan penjualan merupakan sumber utama dari pendapatan perusahaan. Dari penelitian yang dilakukan bahwa responden telah menerapkan pencatatan terhadap pendapatan yaitu berjumlah 18 responden atau 90 %. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel berikut :

46

Tabel V.6 Pencatatan Pendapatan Uraian Melakukan pencatatan terhadap pendapatan Tidak Melakukan pencatatan terhadap pendapatan Jumlah Sumber : Data Olahan 2. Biaya-biaya Dalam Perhitungan Laba Rugi Dalam melakukan perhitungan laba rugi responden, terdapat beberapa biaya yang akan diperhitungkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel V.7 berikut : Tabel V.7 Biaya-biaya Dalam Perhitungan Laba Rugi Biaya-biaya Dalam Perhitungan No 1 2 3 4 5 6 Laba Rugi Biaya gaji karyawan Biaya listrik Biaya keamanan Biaya kebersihan Biaya perlengkapan Biaya rumah tangga Ya 2 3 2 3 2 3 Jumlah % 66.7 100 66.7 100 66.7 100 Tidak 1 0 1 0 1 0 % 33.3 0 33.3 0 33.3 0 No 1 2 Jumlah Persentase 18 90 % 0 10 % 18 100 %

Sumber : Data Olahan Dari data diatas dapat dilihat bahwa responden yang memasukkan biaya gaji karyawan kedalam perhitungan laba rugi sebesar 66.7 %, biaya listrik yaitu 100 %, biaya keamanan 66.7 %, biaya kebersihan 100 %, biaya perlengkapan sebesar 66.7 % dan biaya rumah tangga sebesar 100 %.

47

Dari informasi diatas diketahui pengusaha toko pakaian dalam membuat laporan laba rugi belum tepat atau belum memnuhi konsep dasar akuntasi yaitu konsep kesatuan usaha karena memasukkan pengeluaran pribadi dalam perhitungan laba rugi. Dengan memasukkan pengeluaran pribadi, maka akibatnya laporan laba rugi yang telah dibuat tersebut belum atau tidak menunjukkan hasil sebenarnya. 3. Periode Pelaporan Perhitungan Laba Rugi Dari hasil penelitian diketahui bahwa, masing-masing pengusaha toko pakaian dalam melakukan pelaporan laba rugi terdapat perbedaan. Untuk lebih jelas jangka waktu perhitungan laba rugi yang dilakukan pengusaha toko pakaian dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel V.8 Periode Pelaporan Perhitungan Laba Rugi No Uraian 1 Perbulan 2 Pertahun Jumlah Sumber : Data Olahan Jumlah 3 0 3 Persentase 100 0 100 %

Berdasarkan informasi di atas diketahui responden yang melakukan periode pelaporan laba rugi perbulan sebanyak 3 responden atau 100 %, untuk periode pertahun tidak ada responden yang melakukan pada periode tersebut. C. Kebutuhan Responden Terhadap Pembukuan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa, dimana pada umumnya pengusaha toko pakaian membutuhkan sistem pembukuan yang dapat membantu dalam menjalankan usaha. Untuk mengetahui lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut :

48

Tabel V.9 Kebutuhan Terhadap Pembukuan Uraian Membutuhkan sistem pembukuan Tidak Membutuhkan sistem pembukuan Jumlah Sumber : Data Olahan No 1 2 Jumlah Persentase 18 0 0 0 18 100 %

Berdasarkan Tabel diatas seluruh responden membutuhkan sistem pembukuan karena mereka mengetahui manfaat pentingnya pembukuan didalam menjalankan usaha. Ini berarti sistem pembukuan tidak hanya dibutuhkan oleh perusahaan besar tetapi juga dibutuhkan oleh perusahaan kecil. Namun karena terkendala oleh ilmu yang kurang, sehingga pengusaha toko pakaian belum bisa menerapkan sistem pembukuan terhadap usahanya. D. Analisis Konsep-konsep Dasar Akuntansi 1. Konsep kesatuan usaha Konsep keatuan usaha yaitu pemisahan transaksi usaha dengan transaksi non usaha (rumah tangga). Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh informasi bahwa sebagian pengusaha toko pakaian belum melakukan pemisahan keuangan perusahaan dengan keuangan rumah tangga. Pengusaha toko pakaian yang belum melakukan pemisahan antara keuangan perusahaan dengan keuangan rumah tangga berjumlah 3 responden atau 100 %, utnuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel V.7. 2. Dasar pencatatan Dalam akuntansi ada dua dasar pencatatan yaitu dasar kas dan dasar akrual. Dasar kas dimana penerimaan dan pengeluaran dicatat atau diakui apabila

49

kas sudah diterima atau dikeluarkan. sedangkan dasar akrual penerimaan dan pengeluaran dicatat dan diakui saat terjadinya transaksi tanpa melihat kas yang telah deiterima atau dikeluarkan. Dari penelitian yang dilakukan diketahui bahwa sebagian pengusaha toko pakaian melakukan pencatatan dan menggunakan dasar pencatatan kas dan dasar pencatatan akrual. Selain itu sistem pencatatannya masih dilakukan sistem akuntansi tunggal (single entry), dimana pencatatan dilakukan pada buku harian saja, tanpa disertai pemindah bukuan ke buku besar. 3. Konsep kesinambungan (Going Concern Concept) Konsep kesinambungan adalah konsep yang menganggap bahwa kesatuan usaha diharapkan akan terus breoperasi dengan menguntungkan dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Dari penelitian yang dilakukan penulis, semua pengusaha toko pakaian menerapkan konsep kesinambungan. Terlihat dari usaha yang mereka jalani berjalan terus menerus. 4. Konsep periode waktu Periode waktu adalah posisi keuangan atau hasil usaha dan perubahannya harus dilaporkan secara berskala. Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel V.8 tentang periode pelaporan perhitungan laba rugi maka diketahui bahwa responden yang melakukan periode pelaporan perhitungan laba rugi perbulan sebanyak 3 responden atau 100 %, dan untuk periode pertahun tidak ada responden yang menerapkannya.

50

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan dan penelitian yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka pada bab ini penulis mencoba untuk memberikan kesimpulan sebagai berikut : 1. Dasar pencatatan yang dipakai pengusaha toko pakaian adalah cash basis, yang mengakui atau mencatat transaksi pada saat kas sudah diterima atau dibayarkan dan akrual basis yang mengakui atau mencatatat pada saat kejadian. 2. Perhitungan laba rugi yang dilakukan pengusaha toko pakaian tidak memasukkan biaya-biaya akrual, seperti biaya penyusutan peralatan toko, biaya sewa toko. 3. Pengusaha toko pakaian belum memenuhi konsep kesatuan usaha karena belum melakukan pemisahan keuangan perusahaan dengan keuangan rumah tangga. 4. Pengusaha toko pakaian secara keseluruhan sudah melakukan konsep kesinambungan, terlihat dari usaha yang mereka jalani berjalan terus menerus dan mendapatkan laba. B. Saran-saran 1. Seharusnya pengusaha toko pakaian menerapkan dasar pencatatan akuntansi yaitu dasar akrual (acrcual basic), dengan dasar ini transaksi

51

dan peristiwa lain diakui pada saat kejadiaan (dan bukan pada saat kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi. 2. Seharusnya pengusaha toko pakaian memenuhi konsep kesatuan usaha dengan memisahkan antara pengeluaran perusahaan dan pengeluaran rumah tangga. 3. Seharusnya dalam melakukan perhitungan laba rugi pengusaha toko pakaian memasukkan biaya penyusutan peralatan toko. 4. Seharusnya pengusaha toko pakaian melakukan pencatatan sesuai dengan konsep-konsep dasar akuntansi yang berlaku, sehingga tidak terjadi kekeliruan atau penyimpangan yang perusahaan. dapat merugikan

DAFTAR PUSTAKA Adi , M. Kwartono, 2007, Analisis Usaha Kecil Dan Menengah, Penerbit CV. Andi Offset, Yogyakarta. Baridwan, Zaki, 2003, Intermediate Accounting, Edisi Revisi, Penerbit BPFE UGM, Yogyakarta. Belkaoui, Sofyan Syafri, 2006, Financial Accounting Standart Board , PT. Raja Grafindo, Jakarta. Harahap, Sofyan Syafitri, 2006, Teori Akuntansi, PT. Raja Grafindo, Jakarta. Hendriksen, Eldon S Dan Michael F Van. Brode, 2000, Teori Akuntansi, Penerbit Erlangga, Jakarta. Jusup, Al Haryono, 2009, Dasar-Dasar Akuntansi, Edisi Revisi, STIE YKPN, Yogyakarta. Kieso, Donald. E, Weygandt, Jerry. J, Warfield, Terry. D, 2007, Intermediate Accounting, Jilid1, Edisi Revisi, Alih Bahasa Herman Wibowo, Penerbit Binapura Aksara, Jakarta. Maria , Evi, 2007, Akuntansi Untuk Perusahaan Jasa, Cetakan Pertama, Penerbit Gava Media, Yogyakarta. Niswonger , C. Rollin, Carl S. Warren, James M. Reeve, Philip E.Fess, 2003, PrinsipPrinsip Akuntansi, Penerjemah Alfonsus Sirait, Edisi Ke-19, Jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta. Raharjo, Budi, 2002, Akuntansi Keuangan Untuk Manajer Non Keuangan, Penerbit Erlangga, Yogyakarta. Sadeli, Lili M.Haji, 2009, Dasar-Dasar Akuntansi, Penerbit PT.Bumi Aksara, Jakarta. Smith, M. Jay And Fred Skousen, 2002, Akuntansi Intermediate Volume Konprehensif, Edisi Ke-9, Jilid I, Terjemahan Nugroho Widjajanto, Penerbit Erlangga, Jakarta. Soemarso, S. R, 2002, Akuntansi Suatu Penghantar, Edisi Keempat, Buku I, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Stice, Earl K, Stice, James D Dan Skauosen, Fred K, 2004, Intermediate Accounting, Edisi Kelima Belas, Penerbit Salemba Empat, Jakarta. Tara, Azwir Daini, 2001, Strategi Pembangunan Ekonomi Rakyat, Penerbit Nuansa Madani, Jakarta. Tunggal, Amin Wijaya, 2002, Akuntansi Perusahaan Kecil Dan Menengah, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. Warren, Carl S, James M. Reeve, Philip E. Fess, 2008, Penghantar Akuntansi, Buku satu-Edisi 21, Salemba Empat, Jakarta. Weygant, Jerry J, Donald E. Keiso Dan Paul D. Kimmel, 2007, Penghantar Akuntansi, Penerbit Salemba Empat, Jakarta. Yadiati, Winwin Dan Ilham Wahyudi, 2006, Penghantar Akuntansi, Edisi Revisi, Penerbit Perdana Media Group, Jakarta. Ikatan Akuntan Indonesia, 2009, Standar Akuntansi Keuangan, Penerbit Slemba Empat, Jakarta.