BAB I PENDAHULUAN

Pendahuluan ini merupakan kerangka orientasi penulis maka pada bagian ini akan dipaparkan tentang latar belakang, penjelasan judul, rumusan masalah dan pembatasan masalah, tujuan penulisan dan kegunaan penulisan, metodologi penelitian dan sistematika penulisannya. A. Latar Belakang Pendidikan merupakan hal pokok yang melekat dalam proses kehidupan manusia sehari-hari dari segala jaman. Pendidikan adalah gejala yang universal dan merupakan suatu proses dalam usaha memanusiakan atau membudayakan manusia. Menurut kodratnya manusia dapat dididik dan sejak semula pendidikan berlangsung dengan sendirinya, sesuai dengan

perkembangan jaman. Demikianpun cara-cara mendidik juga berkembang sesuai dengan jamannya. Pendidikan dewasa ini menjadi isu sentral yang selalu menarik untuk diperbincangkan dan dikaji serta diupayakan untuk selalu ditingkatkan kwalitasnya. Selain itu dari berbagai mass media baik media elektronik maupun media cetak, para pemerhati masalah pendidikan merasakan bahwa pendidikan kita belum mampu mengembangkan manusia Indonesia

seutuhnya. Kekurangan yang sangat dirasakan ialah soal pembentukan watak peserta didik. Salah satu kurikulum yang lebih menjawab kebutuhan akan pembentukan watak peserta didik yakni kurikulum Pendidikan Agama Katolik (PAK). Pada tahun pelajaran 2000 – 2001 pada SMP dan SMA Katolik di wilayah Keuskupan Agung Semarang (KAS) mulai mengadakan revisi

1

terhadap kurikulum PAK untuk menjawab masalah pluralisme peserta didik di sekolah-sekolah Katolik dengan mengadakan Kurikulum Pendidikan Religiositas yang lebih menjawab persoalan tersebut (Kompas, Jumat 06 Agustus 2004). Realitas PAK berdasarkan pandangan orang tua (masyarakat), PAK di sekolah menjadi harapan untuk mendidik peserta didik menjadi orang yang beragama, yang tekun, suci dan berkelakuan baik, sehingga masyarakat umumnya menyerahkan PAK bagi putra-putrinya pada sekolah. Maka apabila ada siswa yang berkelakuan tidak baik, yang sering dituding sebagai penyebabnya adalah guru agama atau sering kali nilai PAK jelek diidentikkan dengan kelakuan siswa yang bersangkutan jelek pula. Pihak Pemerintah

berpandangan bahwa Pendidikan Agama bertujuan demi pembangunan moral bangsa dalam rangka nation building (pembangunan bangsa). Sedangkan

Gereja sendiri berpandangan bahwa PAK di sekolah merupakan ciri khas sekolah Katolik yang mau membantu orang tua untuk mengembangkan iman anak atau peserta didik, sebab PAK tidak bertujuan “mengkatolikkan peserta didik non Katolik”. PAK di sekolah lebih merupakan “pengajaran” yang bisa dipelajari siapa pun tanpa orang yang bersangkutan harus menjadi Katolik. Pelaksanan PAK di sekolah-sekolah Katolik khususnya di Kabupaten Merauke, pada umumnya ada kesepakatan bersama antara yayasan, Kepala Sekolah dan guru PAK mengenai visi-misi serta pendekatan dalam PAK. Alasannya adalah pembelajaran PAK masih tergantung “selera-selera” guru yang bersangkutan dan pada umumnya berbentuk pelajaran saja sesuai dengan buku panduan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) maupun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikeluarkan oleh KWI. Sampai dengan tahun pelajaran 2009-2010 siswa-siswi yang beragama non

2

Katolik mengikuti PAK karena di sekolah Katolik mengharuskan hanya pelajaran agama Katolik yang sesuai dengan kekhasan sekolah tersebut. Dari hasil observasi penulis di SD YPPK St. Theresia Buti - Merauke, pada saat mengadakan Misa sekolah setiap bulan, misa wajib diikuti peserta didik non Katolik. Kegiatan semacam ini di Kabupaten Merauke belum menimbulkan masalah yang krusial seperti yang terjadi di tempat lain di luar propinsi Papua. Dari hasil observasi siswa/i Katolik yang ada di SD YPPK St. Theresia Buti – Merauke, yang memiliki peserta didik majemuk, mereka yang beragama non Katolik belum mengungkapkan bahwa PAK dirasa sebagai “beban”, karena umumnya PAK menekankan pengetahuan dan hafalan, yang sebenarnya tidak seluruhnya berguna. Sementara itu penghayatan iman, sikap moral dan praktek hukum kasih kurang mendapat tempat. Bahkan seringkali guru PAK merasa “tidak aman” jika tidak mengutamakan “bahan ujian agama” pada peserta didiknya. Dilihat dari efektifitas dan aktifitas siswa dalam pembelajaran PAK, terungkap bahwa hasil belajar dan keaktifan siswa kurang maksimal. Dalam pengamatan (observasi) penulis mendapati beberapa peserta didik non Katolik tidak konsentrasi dalam mengikuti PAK. Ada yang bergurau dengan teman sebangku, bahkan ada yang mengganggu teman lainnya yang sedang belajar. Hal ini terutama disebabkan karena pembelajaran agama lebih terpusat pada ajaran/pengetahuan iman Katolik (eksklusif). Pembelajaran agama menjadi kurang bermakna terutama bagi siswa/i non Katolik. Bertitik tolak dari keprihatinan tersebut di atas, penulis yang adalah seorang guru PAK berpikir dan tertarik untuk menyumbangkan gagasan sebagai solusi atas keprihatinan yang diuraikan pada latar belakang di atas dengan menulis skripsi dengan judul: ”UPAYA PENINGKATAN

3

KUALITAS

PEMBELAJARAN

PENDIDIKAN

AGAMA

KATOLIK

SISWA KELAS IV MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN RELIGIOSITAS DI SEKOLAH DASAR YPPK ST. THERESIA BUTIMERAUKE“. B. Penjelasan Judul Untuk memberi pemahaman yang tepat tentang judul skripsi ini, ada beberapa istilah inti dalam judul dapat penulis uraikan sebagai berikut: 1. Kualitas pembelajaran PAK. PAK yang bertujuan luhur ternyata tidak menghasilkan seperti yang dicita-citakan, bahkan menghasilkan orang yang cenderung berpandangan sempit dan meremehkan orang-orang lain yang tidak seagama/sealiran. Kenyataan bahwa sekolah di bawah naungan YPPK memiliki peserta didik yang majemuk (Plural), maka PAK dirasakan sangat eksklusif dan doktriner, serta lebih menekankan pada pengetahuan/wacana. Kemajemukan peserta didik menghendaki sebuah keterbukaan akan pluralitas budaya dan agama. Pendidikan agama haruslah menjadi medan dialog partisipatif antar lintas agama.

Kemajemukan peserta didik menghantar untuk merefleksikan betapa pendidikan agama yang doktriner tidaklah menjawab keprihatinan dan fakta sosial. 2. Model Pembelajaran sebagaimana yang diuraikan dalam Kamus Bahasa Indonesia, diuraikan tentang pengertian model adalah “suatu pola,

sistem, cara kerja atau bentuk (struktur) yang tetap ; suatu kerangka dasar bagi suatu kegiatan. Definisi mengenai model tersebut mengandung

pengertian tentang bagaimana suatu kegiatan direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi“. Model berfungsi sebagai pedoman untuk menyusun suatu perencanaan kegiatan secara menyeluruh dan sistematis dengan satu acuan

4

yang pasti. Karena itu model menjadi pengarah bagi perencanaan dan pelaksanaan suatu kegiatan. Berdasarkan pengertian tentang model tersebut, maka yang di maksud dengan model pembelajaran pendidikan religiositas adalah suatu pola, sistem, cara kerja, atau bentuk yang tetap dari pendidikan religiositas sebagai suatu kegiatan komunikasi iman. Model pendidikan religiositas sendiri mempergunakan pendekatan pendidikan refleksi (Paradigma Pedagogi Reflektif) yang biasa disingkat dengan PPR. PPR meliputi tiga unsur utama sebagai satu kesatuan di dalam proses pembelajarannya, yaitu pengalaman, refleksi dan aksi. 3. Pendidikan Agama adalah suatu usaha yang ditujukan kepada anak didik yang sedang tumbuh agar mereka mampu menimbulkan sikap dan budi pekerti yang baik serta dapat memelihara perkembangan jasmani dan rohani secara seimbang dimasa sekarang dan mendatang sesuai dengan aturan agama. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 55 tahun 2007 dikatakan sebagai berikut: Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurangkurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan (PP RI No. 55 tahun 2007 pasal 1 ayat 1, Departemen Pendidikan Nasional, 2007, hal 2). 4. Religiositas Religiositas adalah sikap batiniah manusiawi-personal yang mampu melihat kebaikan dalam hidup manusia. Orang yang religious selalu berusaha mendengar bisikan suara batinnya dan percaya bahwa suara batinnya yang tepat merupakan suara Tuhan. Sikap religious mendahului penalaran rasional.

5

Melalui pengalaman religious, manusia berusaha menangkap kenyataan dunia sebagai tanda dari yang Ilahi. Manusia religious menghayati dunia sebagai bekas dari yang Ilahi. Sikap religious membuat manusia dapat melihat Yang Ilahi dalam gejala alam, dalam keindahan fauna dan flora, serta lebih lagi dalam diri sesama manusia. Yang Ilahi menjadi nampak dalam wajah yang telanjang dari sesama manusia. Religiositas dibedakan secara tajam dari Agama walaupun keduanya tidak boleh dipisahkan. Agama lebih merupakan lembaga kebaktian kepada Allah. Agama sangat menekankan aspek hukum tindakan dan upacara resmi, peraturan-peraturan tingkah laku, pelbagai macam organisasi dan sekian banyak wejangan moral yang harus ditaati. Religiositas lebih bersifat batiniah sedangkan agama lebih bersifat lahiriah. Dengan menganut sebuah agama, seorang religious berusaha menjalin hubungan dengan Yang Ilahi. Berhadapan dengan Yang Ilahi manusia merasa kurang pantas serta takut karena Yang Ilahi menampakkan diri sebagai sesuatu yang dahsyat (tremendum). Namun sekaligus ketika

berhadapan dengan Yang Ilahi, manusia merasa tertarik karena Yang Ilahi bersifat mempesona (fascinosum). Manusia mengalami adanya suatu kekuatan yang dapat menyelamatkan hidupnya sendiri. Dalam kehidupan di dunia yang serba membingungkan,Yang Ilahi memberikan kepastian dan arah hidup bagi manusia religious. Dalam skripsi ini religiositas diberi pengertian hubungan dengan pribadi Ilahi yang membuahkan sikap positif terhadap ciptaan pribadi Ilahi itu,

6

yaitu sesama manusia dan ciptaan lain. Dari sikap ini muncullah cinta kepada manusia lain dan alam ciptaan sebagai sesama ciptaan Tuhan” (Suhardiyanto,Kompas 6 Agustus 2004). 5. Pendidikan religiositas merupakan salah satu bentuk komunikasi iman, baik antarsiswa yang seagama maupun siswa yang berbeda agama dan kepercayaan agar membantu siswa menjadi manusia yang religious, bermoral, terbuka, dan mampu menjadi pelaku perubahan sosial demi terwujudnya masyarakat yang sejahtera lahir dan batin, berdasarkan nilainilai universal. Pendidikan Religiositas mengajak subyek didik sampai kepada sikap batin yang mendalam mengenai Tuhan dan keterkaitannya tentang kehidupan. Pendidikan Religiositas bermaksud mengkontruksi aspek belajar subyek didik untuk sampai kepada nilai-nilai universal kehidupan. Pendidikan Religiositas juga merupakan pendidikan yang

bermaksud mengajak subyek didik kepada makna kehidupan sebagai salah satu kontruksi di dalam proses belajar. Kontruksi belajarnya mengangkat keberagaman latar belakang religi subyek didik untuk dijadikan sebuah dialog nilai kehidupan. Dari dialog nilai tersebut, latar belakang religi dapat saling memperkaya dan meneguhkan, sehingga diharapkan dapat terjadi transformasi nilai bagi subyek didik. Kontruksi belajar dalam keberagaman ini merupakan sesuatu yang diangkat sebagai prosesnya, agar internalisasi nilai menjadi semakin bersifat membangun nilai-nilai persaudaraan dan perdamaian (Purwono, 3 Nopember 2008).

7

Berdasarkan penjelasan judul skripsi di atas, penulis menjabarkan bahwa dengan komunikasi iman baik antar siswa yang seagama maupun siswa yang berbeda agama melalui penerapan pendidikan religiositas yang lebih terbuka, dan universal, maka efektifitas (hasil belajar) dan aktifitas siswa dalam mengikuti PAK akan meningkat. Pembelajaran juga bukan hanya menyangkut norma dan hukum pada agama Katolik, tapi masuk pada ranah penghayatan dan implementasi nilai-nilai masing-masing agama dalam kehidupan plural yang konkrit yang mulai dialami peserta didik sejak di bangku Sekolah Dasar. C. Rumusan Masalah dan Pembatasan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, penulis sebagai mediator dalam dunia pendidikan berpendirian tentang perlunya paradigma baru dalam Pendidikan Agama yang selama ini terkesan eksklusif, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Apakah pembelajaran religiositas dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa? 2. Apakah pembelajaran religiositas dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa? D. Tujuan dan Kegunaan Penulisan 1. Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah: a. Menumbuhkembangkan sikap batin siswa agar mampu melihat kebaikan Tuhan dalam diri sendiri, sesama, dan lingkungan hidupnya sehingga memiliki kepedulian dalam hidup bermasyarakat.

8

b. Membantu siswa untuk mempelajari pengetahuan agama teman-temannya dan sejak dini ditanamkan/diperkenalkan nilai-nilai ajaran tiap-tiap agama. c. Membantu siswa menemukan dan mewujudkan nilai-nilai universal yang diperjuangkan semua agama dan kepercayaan. d. Menumbuhkembangkan kerjasama lintas agama dan kepercayaan dengan semangat persaudaraan sejati. 2. Sedangkan Kegunaan Penulisan skripsi ini adalah: a. Untuk menjawab tuntutan akademis dari Lembaga Pendidikan Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke. Tugas akhir yang harus Pendidikan

diselesaikan guna menyandang gelar Sarjana Sarjana Program Studi Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik.

b. Sebagai bentuk keprihatinan dan pengamatan penulis terhadap pelaksanaan pendidikan agama yang terkesan eksklusif, terbatas, dan padat materi. c. Sebagai sumbangan kajian penulis untuk menyiasati pendidikan agama yang terkesan eksklusif, yang dengan menerapkan pendidikan religiositas lebih universal, bersifat menyeluruh

materi pembelajarannya

untuk semua peserta didik yang beragam. d. Memberikan informasi dan wawasan bagi semua pihak yang ingin mengembangkan pendidikan religiositas sebagai alternatif bagi

pendidikan agama di sekolah.

9

e. Mendukung agama-agama dalam mengemban tugas untuk mewartakan firman Tuhan dan mewujudkannya dalam hidup bernegara dan bermasyarakat. f. Mendukung keluarga-keluarga dalam mengembangkan sikap religiositas siswa yang sudah mereka miliki dari keluarga masing-masing, agar

semakin menjadi manusia yang religious, bermoral, dan terbuka. g. Mendukung siswa dalam membangun komunitas manusiawi yang

dinamis melalui kegiatan komunikasi pengalaman iman. E. Metodologi Penelitian 1. Setting Penelitian Siswa kelas IV Sekolah Dasar YPPK Santa Theresia Buti – Merauke berjumlah 26 orang dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010.

2. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah siswa kelas IV Sekolah Dasar YPPK Santa
Theresia Buti-Merauke Alamat: Jl. Arafura Buti Kelurahan Samkai Distrik Merauke Kabupaten Merauke Propinsi Papua 3. Metode Penelitian Metode penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

10

Langkah-langkah penelitian yang direncanakan selalu dalam bentuk siklus yang memungkinkan kerja kelompok maupun kerja mandiri secara intensif . Skema siklus PERENCANAAN

REFLEKSI

SIKLUS I PENGAMATAN

PELAKSANAAN

PERENCANAAN

REFLEKSI

SIKLUS II

PELAKSANAAN

PENGAMATAN

?
Ket: Pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus pertama yang terdiri dari empat kegiatan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, guru menentukan rancangan untuk siklus kedua.

11

Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulang kesuksesan, atau untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Tapi umumnya kegiatan yang dilakukan pada siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang tentu saja ditujukan untuk memperbaiki berbagai hambatan atau kesulitan dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan guru belum merasa puas, dapat melanjutkan dengan siklus ketiga, yang cara tahapannya sama dengan siklus terdahulu (Pujoko,2009:33). 4. Waktu Penelitian Penulis memulai penelitian pada hari Selasa, 9 Maret 2010. Penelitian berlangsung sampai dengan akhir bulan Mei 2010. 5. Tujuan Penelitian a. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa melalui Model Pembelajaran Religiositas. b. Meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui Model Pembelajaran Religiositas. 6. Manfaat Penelitian a. Bagi siswa: menumbuhkan semangat belajar yang tinggi,

menumbuhkan keberanian, menemukan ide-ide baru, kerjasama meningkatkan persaudaraan dalam hidup dan dinamis. b. Bagi guru: mengembangkan wawasan, sikap ilmiah, kompetensi professional guru dan mutu proses pembelajaran.

12

c. Bagi Kepala Sekolah: menambah wawasan, konsep dan strategi pembelajaran model pembelajaran pendidikan religiositas bagi siswa majemuk serta bahan acuan kebijakan bagi sekolah-sekolah dasar

YPPK Keuskupan Agung Merauke (KAM). 7. Prosedur Penelitian Tindakan penelitian dalam PTK ini meliputi: a. Perencanaan merupakan tahap identifikasi masalah dan penerapan alternatif pemecahan masalah:  Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam PBM  Menentukan pokok bahasan  Mengembangkan skenario pembelajaran  Menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS)  Menyiapkan sumber belajar  Mengembangkan format evaluasi  Mengembangkan format observasi pembelajaran b. Tindakan (pelaksanaan) yaitu menerapkan tindakan dengan mengacu pada skenario dan LKS. c. Observasi (pengamatan) yaitu melakukan observasi dengan memakai format observasi, dan menilai hasil tindakan dengan mempergunakan format LKS. d. Refleksi yaitu melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan yang meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu setiap macam

13

tindakan, melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang scenario dan lain-lain, memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus berikutnya. 8. Indikator Keberhasilan a. Indikator keberhasilan dalam pembelajaran ditentukan sebagai berikut: 1) Di atas 75% siswa mendapatkan nilai di atas 65 pada tes

kemampuan pemahaman konsep. 2) Di atas 70% siswa aktif KBM.

b. Kategori keaktifan: 1) 77% - 100% 2) 60% - 76% 3) 43% - 59% 4) 26% - 42% 5) 0% - 25% = sangat aktif = aktif = cukup aktif = kurang aktif = tidak aktif

9. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data Sumber data yang diperoleh penulis yakni: data kuantitatif dan data kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah melalui: tes tertulis, observasi, dan foto kegiatan serta studi kepustakaan. 10. Instrumen Penelitian a.Lembar tes tertulis post test b. Lembar Kerja Siswa (LKS)

c.Lembar observasi d. Catatan Lapangan

14

11. Analisis Data Tes tertulis Pengolahan data tes tertulis adalah sbb:

Ket: B= jawaban benar, N= banyaknya soal 12. Variabel Penelitian Penelitian ini terdiri dari 2 (dua) variable yaitu variable X (bebas) dan variable Y (terikat). Variabel X adalah model pembelajaran Pendidikan Religiositas dan Variabel Y adalah Pendidikan Agama Katolik. F. Sistematika Penulisan Skripsi yang berjudul, “UPAYA PENINGKATAN KUALITAS

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SISWA KELAS IV MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN

RELIGIOSITAS DI SEKOLAH DASAR YPPK ST. THERESIA BUTIMERAUKE” terdiri dari lima bab dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Pendahuluan berisi tentang latar belakang, penjelasan judul, rumusan masalah dan pembatasan masalah, tujuan penulisan dan kegunaan penulisan, metodologi penelitian serta sistematika penulisan. Bab II adalah Kajian Teoritis yang membahas paham pendidikan, Pendidikan Agama Katolik (PAK), Pendidikan Agama dalam pergeseran KBK 2004 dan KTSP, dan Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II.

15

Bab III menguraikan tentang pra penelitian, pelaksanaan penelitian, data hasil penelitian dan analisis data hasil penelitian. Bab IV Model Pembelajaran Pendidikan Religiositas sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik bagi siswa Majemuk di dalamnya dibahas definisi pembelajaran,Pendidikan Religiositas dan contoh RPP PAK dengan model pendidikan religiositas. Bab V Penutup berisi kesimpulan dan saran Terakhir diberikan daftar pustaka sebagai referensi bagi pembaca untuk lebih mendalami materi terkait. Inti bagian pendahuluan ini merupakan alasan pemilihan judul skripsi, ketertarikan dan keprihatinan yang mendorong penulis mengadakan penelitian dengan menggunakan metodologi Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh data-data, baik data kualitatif maupun data kuantitatif yang akurat untuk kemudian diolah dan diinterpretasikan dengan studi pustaka yang akan dibahas pada bab berikut.

16

BAB II KAJIAN TEORITIS

Membahas model pembelajaran pendidikan religiositas sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAK berarti masuk dalam ranah pendidikan. Berbicara tentang pendidikan hampir tidak mungkin untuk tidak berbicara tentang kurikulum. Pelaksanaan PAK dengan KBK dan KTSP mesti dilihat secara kritis hitam putihnya, berikut dokumen-dokumen Konsili Vatikan II yang mendukung ruang dialog antar agama dan kepercayaan perlu penulis kemukakan untuk memberi tempat bagi penerapan model pembelajaran pendidikan religiositas yang penulis angkat pada penyusunan skripsi ini. A. Paham Pendidikan

1. Pengertian Pendidikan Pendidikan berasal dari kata “didik” yang diberi awalan “pe” dan akhiran

“an” yang berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses, perbuatan, cara mendidik. Pengertian pendidikan menurut istilah adalah suatu usaha sadar yang teratur dan

sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi anak supaya mempunyai sifat-sifat dan tabi’at yang sesuai cita-cita pendidikan. Sedangkan UU Sisdiknas menyebutkan sbb:

17

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, keserdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU RI No. 20 Tahun 2003 Pasal 1). 2. Pengertian Kurikulum Kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu pendidikan. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat akan sulit untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan. Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali diadakan perubahan dan perbaikan kurikulum yang tujuannya sudah tentu untuk menyesuaikannya dengan perkembangan dan kemajuan zaman, guna mencapai hasil yang maksimal. Pengertian Kurikulum Perkataan kurikulum sebagai istilah dalam dunia pendidikan pertama kali muncul dalam kamus Webster tahun 1856. Kurikulum diartikan sebagai: 1. a race course; a place for running; a chariot. 2. A course in general; applied particulary to the course of study in a university (Nasution,S; 1995:1). Jadi dengan kurikulum dimaksud suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari atau kereta dalam perlombaan, dari awal sampai akhir. Kurikulum juga berarti ‘chariot’ semacam kereta pacu pada zaman dulu, yakni suatu alat yang membawa seorang dari ‘start’ sampai ‘finish’. Kurikulum, kemudian dipakai dalam bidang pendidikan, yakni sejumlah mata kuliah di perguruan tinggi. Kamus Webster 1955 memberi arti kurikulum sebagai :

18

a. A course esp. a specified fixed course of study, as in a school or college, as one leading to a degree. b. The whole body of courses offered in an educational institution, or department there of,-. the usual sense (hal 2). Di sini kurikulum khusus digunakan dalam pendidikan dan pengajaran, yakni sejumlah mata pelajaran di sekolah atau mata kuliah di perguruan tinggi, yang harus ditempuh untuk mencapai suatu ijazah atau tingkat. Kurikulum juga berarti keseluruhan pelajaran yang disajikan oleh suatu lembaga pendidikan. Di Indonesia, istilah kurikulum baru menjadi popular sejak tahun lima puluhan. Ketika itu kurikulum, pada hakekatnya sama artinya dengan ‘rencana pelajaran’. Dalam perkembangannya, pengertian kurikulum banyak

mengalami perkembangan, berkat pemikiran oleh tokoh-tokoh pendidikan mengenai kurikulum, sehingga kurikulum dapat meliputi hal-hal yang tidak direncanakan namun turut mengubah kelakuan anak didik. Kurikulum juga bukan lagi sekadar sejumlah mata pelajaran, akan tetapi mendapat liputan yang lebih luas. ‘Rencana pelajaran’ rasanya terlampau sempit dan terikat oleh pengertian tradisional, yang sangat terbatas pada bahan pelajaran dalam buku pelajaran. Berikut ini kami berikan beberapa definisi kurikulum berdasarkan beberapa ahli kurikulum: a. J. Galen Saylor dan William M. Alexander dalam bukunya Curriculum Planning for Better Teaching and Learning (1956) menjelaskan arti kurikulum:

19

The Curriculum is the sum total of school’s efforts to influence learning whether in the classroom, on the playground, or out of school (hal 4). Jadi segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah termasuk kurikulum. Kurikulum meliputi juga kegiatan ekstra kurikuler. b. Harold B. Albertycs, memandang kurikulum sebagai, all of the activities that are provided for students by the school (hal 5). Kurikulum tidak terbatas pada mata pelajaran, akan tetapi meliputi

kegiatan-kegiatan lain, di dalam dan luar kelas, yang berada di bawah tanggung jawab sekolah. c. B. Othanel Smith, W.O. Stanley, dan J. Harlan Shores lebih melihat kurikulum sebagai: a sequence of potential experiences set up in the school for purpose of disciplining children and youth in group ways of thinking and acting (hal 5). Kurikulum sebagai sejumlah pengalaman yang secara potensial dapat diberikan kepada anak dan pemuda, agar mereka dapat berpikir dan berbuat sesuai dengan masyarakatnya. d. William B. Ragan, menjelaskan kurikulum sebagai: The tendency in recent decades has been to use the term in a broader sense to refer to the whole life and program of the school. The term is used … to include all the experiences of children for which the scool accepts responsibility. It denotes the results of efferorts on the part of the adults of the community, and the nation to bring to the children the finest, most whole some influences that exist in the culture (hal 5). Kurikulum dalam arti luas meliputi seluruh program dan kehidupan dalam sekolah, yakni segala pengalaman anak di bawah tanggung jawab sekolah. 20

Kurikulum tidak hanya meliputi bahan pelajaran tetapi juga seluruh kehidupan dalam kelas. Jadi hubungan sosial antara guru dan murid, metode mengajar, cara mengevaluasi termasuk dalam kurikulum. e. J. Lloyd Trump dan Delmas F. Miller juga menganut definisi kurikulum yang luas. Metode mengajar dan belajar, cara mengevaluasi murid dan seluruh program, perubahan tenaga pengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan administrasi serta hal-hal struktural tentang waktu, jumlah ruangan dan kemungkinan memilih mata pelajaran termasuk dalam kurikulum (hal 6). Ketiga aspek: program, manusia dan fasilitas sangat erat hubungannya, sehingga tak mungkin diadakan perbaikan kalau tidak diperhatikan ketiga-tiganya. f. Alice Miel yang juga menganut pendirian yang luas mengenai kurikulum mengemukakan bahwa kurikulum juga meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan dan sikap orang-orang yang melayani dan dilayani sekolah, yakni anak didik, masyarakat, para pendidik dan personalia (termasuk penjaga sekolah, pegawai administrasi dan orang lainnya yang ada hubungannya dengan murid-murid). Jadi kurikulum meliputi segala pengalaman dan pengaruh yang bercorak pendidikan yang diperoleh anak di sekolah. Definisi Miel tentang kurikulum meliputi bukan hanya pengetahuan, kecakapan, kebiasaan-kebiasaan, sikap, apresiasi, citacita serta norma-norma, melainkan juga pribadi guru, kepala sekolah serta seluruh pegawai sekolah. (hal 6)

21

g. Edward A.Krug berpendirian, “A curriculum consists of the means used to achieve or carry out given purposes of schooling”(hal 7). Kurikulum dilihat sebagai cara-cara dan usaha untuk mencapai tujuan persekolahan. Krug membedakan tugas sekolah mengenai perkembangan anak dan tanggung jawab lembaga pendidikan lainnya seperti rumah tangga, lembaga agama, masyarakat, dan lain-lain. Krug dengan sengaja menggunakan istilah ‘schooling’ untuk menjelaskan apa sebenarnya tugas sekolah. Krug membatasi kurikulum pada: 1. Organized classroom instruction, yaitu pengajaran di dalam kelas, 2. Kegiatan-kegiatan tertentu di luar pengajaran itu, seperti bimbingan dan penyuluhan, kegiatan pengabdian masyarakat, pengalaman kerja yang bertalian dengan pelajaran, dan perkemahan sekolah. Kurikulum adalah sesuatu yang direncanakan sebagai pegangan guna mencapai tujuan pendidikan. Sebuah rencana biasanya bersifat idea, suatu cita-cita tentang manusia atau warga negara yang akan dibentuk. Maka kurikulum pada umumnya mengandung harapan-harapan yang sering kali muluk-muluk. Apa yang dapat diwujudkan dalam kenyataan disebut kurikulum real. Tidak semua yang direncanakan dapat direalisasikan, maka terdapat kesenjangan antara idea dan real curriculum. Penulis mnyimpulkan pengertian kurikulum sebagai berikut: pengertian kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Dalam pengertian sederhana, kurikulum dapat dianggap sebagai sejumlah mata pelajaran (subjects) yang harus

22

ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh ijazah, sedangkan dalam pengertian yang lebih luas kurikulum mencakup semua pengalaman belajar (learning experiences) yang dialami siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya. Dalam skripsi ini, penulis memaknai kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang disusun guna memperlancar proses belajar-mengajar. Hal ini sejalan dengan rumusan mengenai pengertian kurikulum yang terdapat dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu” B. Pendidikan Agama Katolik (PAK) Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia, maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan, baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia serta peningkatan potensi spiritual. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. 23

Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar tingkat Sekolah Dasar (SD) mata pelajaran agama Katolik, tentang pendidikan agama Katolik, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menyebutkan: Pendidikan agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional (BSNP, 2007, hal 1). Tentang tujuan dari Pendidikan Agama Katolik (PAK) pada dasarnya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk membangun hidup yang semakin beriman. Membangun hidup beriman kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan: situasi dan perjuangan untuk perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan,

persaudaraan dan kesetiaan, kelestarian lingkungan hidup, yang dirindukan oleh setiap orang dari pelbagai agama dan kepercayaan.

24

Adapun ruang lingkup pendidikan agama Katolik di sekolah mencakup empat (4) aspek yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Keempat aspek yang dimaksud adalah: a. Pribadi peserta didik b. Yesus Kristus c. Gereja d. Kemasyarakatan Dilihat dari materi pelajaran yang terdapat dalam ruang lingkup serta peserta didik dalam pendidikan agama Katolik, maka dapat dipastikan pendidikan agama Katolik sama halnya dengan pendidikan agama-agama yang lain, bersifat eksklusif menyangkut agama Katolik saja dan terbatas peserta didiknya yakni yang beragama Katolik saja. Sifat eksklusif dan terbatas pada PAK ini sebenarnya merupakan konsekuensi atau dampak dari produk peraturan dan perundang-undangan kita bidang pendidikan pada umumnya dan pendidikan agama pada khususnya. Tentang pendidikan dan pengajaran agama, terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara UUPP No. 4 tahun 1950 dan UU No. 12/1954 dengan UU No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam UU Pendidikan tahun 1950 dan 1954 dinyatakan bahwa ’dalam sekolah-sekolah negeri diadakan pelajaran agama, orang tua murid menetapkan apakah anaknya akan mengikuti pelajaran tersebut’, (pasal 20 ayat 1). Sementara dalam UU No. 2 1989, tidak lagi disebutkan ’dalam sekolah negeri’, yang berarti tidak lagi membedakan

25

sekolah negeri dan sekolah swasta dalam memberlakukan pelajaran agama. Konsekuensi dari kebijakan ini pada dataran operasional pendidikan telah dikeluarkan beberapa peraturan pemerintah, ditahun berikutnya, yaitu PP

(Peraturan Pemerintah) No. 27 tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah, PP No. 28 1990 tentang Pendidikan Dasar, PP No. 29/1990 tentang Pendidikan Menengah, dan PP No. 30/1990 tentang Pendidikan Tinggi (dan telah disempurnakan PP No. 22/1999). Semua peraturan tersebut mengatur pelaksanaan pendidikan agama di lembaga pendidikan umum. UU No. 2 Tahun 1989 telah memuat ketentuan tentang hak setiap siswa untuk memperoleh pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya. Namun, SD, SLTP, SMU, SMK dan PLB yang berciri khas berdasarkan agama tertentu tidak diwajibkan menyelenggarakan pendidikan agama lain dari agama yang menjadi ciri khasnya. Poin ini menimbulkan polemik dan kritik dari sejumlah kalangan, dimana para siswa dikhawatirkan akan pindah agama (berdasarkan agama Yayasan/Sekolah), karena mengalami pendidikan agama yang tidak sesuai dengan agama yang dianutnya. Peraturan Pemerintah, No. 29/1990, justru secara eksplisit menyatakan bahwa sekolahsekolah menengah dengan warna agama tertentu tidak diharuskan

memberikan pelajaran agama yang berbeda dengan agama yang dianutnya. UU No. 2 tahun 1989 dan peraturan pemerintah tersebut dinilai oleh sebagian kalangan sebagai UU yang tidak memberikan ruang dialog keagamaan di kalangan siswa. Ia juga memberikan peran tidak langsung kepada sekolah untuk mengkotak-kotakkan siswa berdasarkan agama. Sifat

26

eksklusif dan terbatas pada PAK mendapat posisi yang mantap dalam KBK dan KTSP yang berlaku hingga saat ini, yang berpayung hukum pada UU No. 20 Tahun 2003. UU Sisdiknas 2003 mewajibkan sekolah untuk mengajarkan pendidikan agama sesuai agama yang dianut oleh peserta didik. Dalam bagian penjelasan diterangkan bahwa pendidik atau guru agama yang seagama

dengan peserta didik difasilitasi atau disediakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan sebagaimana diatur dalam pasal 41 ayat 3. UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 inilah yang menjadi pijakan hukum dan konstitusional bagi penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta. Pada pasal 37 ayat (1) disebutkan bahwa: Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olahraga, keterampilan/kejuruan dan muatan lokal (UU No. 20 Th. 2003, pasal 37 ayat 1). C. Pendidikan Agama dalam pergeseran

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) Kehadiran Kurikulum berbasis kompetensi pada mulanya

menumbuhkan harapan akan memberi keuntungan bagi peserta didik karena dianggap sebagai penyempurnaan dari metode cara belajar siswa aktif (CBSA). Namun dari sisi mental maupun kapasitas guru tampaknya sangat berat untuk memenuhi tuntutan ini. Pemerintah juga sangat kewalahan secara

27

konseptual, ketika pemerintah bersikeras dengan pemberlakukan Ujian Nasional, sehingga KBK segera diganti dengan KTSP. Tanpa mengecilkan arti persoalan yang muncul di sekitar perubahan dari KBK ke KTSP, untuk pendidikan agama yang tidak diujikan dalam Ujian Nasional, situasi ini memberi banyak kemungkinan bagi para guru pendidikan agama untuk membuat berbagai eksperimentasi guna mencari model pendidikan agama alternatif yang paling menjawab kebutuhan para siswa dewasa ini. Situasi ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi guru dan sekolah untuk mengembangkan pendidikan agama menjadi pendidikan yang memberi kontribusi dalam kehidupan bersama yang majemuk dan penuh persoalan di Indonesia. D. Dokumen Konsili Vatikan II Pernyataan Gereja tentang Hubungan Gereja dengan Agama non Kristiani Konsili Vatikan II memberi pedoman bagi umat Katolik untuk melihat adanya kebaikan dalam agama-agama lain yang menjadi

pertimbangan penting bagi umat Katolik untuk berdialog dan bekerjasama dengan penganut agama lain, untuk menghadapi berbagai permasalahan kemanusiaan. Dokumen-dokumen itu antara lain: 1. Nostra Aetate art. 2 (Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agamaagama bukan Kristiani) Berbagai agama bukan kristiani Sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini di antara pelbagai bangsa terdapat suatu kesadaran tentang daya – kekuatan yang gaib, yang hadir pada

28

perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadangkadang ada pengakuan terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi atau pun Bapa. Kesadaran dan pengakuan tadi meresapi kehidupan bangsa-bangsa itu dengan semangat religius yang mendalam. Adapun agama-agama, yang terikat pada perkembangan kebudayaan, berusaha menanggapi masalah-masalah tadi dengan faham-faham yang lebih rumit dan bahasa yang lebih terkembangkan. Demikianlah dalam Hinduisme manusia menyelidiki misteri ilahi dan mengungkapkannya dengan kesuburan mitos-mitos yang melimpah serta dengan usaha-usaha falsafah yang mendalam. Hinduisme mencari pembebasan dari kesesakan keadaan kita entah melalui bentuk-bentuk hidup berulah tapa atau melalui permenungan yang mendalam, atau dengan mengungsi kepada Allah penuh kasih dan kepercayaan. Buddhisme dalam pelbagai alirannya mengakui bahwa dunia yang serba berubah ini sama sekali tidak mencukupi, dan mengajarkan kepada manusia jalan untuk dengan jiwa penuh bakti dan kepercayaan memperoleh keadaan kebebasan yang sempurna, atau – entah dengan usaha sendiri entah berkat bantuan dari atas – mencapai penerangan yang tertinggi. Demikian pula agama-agama lain, yang terdapat di seluruh dunia, dengan pelbagai cara berusaha menanggapi kegelisahan hati manusia, dengan menunjukkan berbagai jalan, yakni ajaran-ajaran serta kaidah-kidah hidup maupun upacara-upacara suci. Gereja Katolik tidak menolak apa pun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang

29

dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan yang diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. Maka Gereja mendorong para putranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerjasama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta peri hidup kristiani,

mengakui, memelihara dan mengembangkan harta kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka. 2. Gaudium Et Spes art 1 (Konstitusi Pastoral “Gaudium Et Spes” tentang Gereja dalam dunia modern) - atau tentang Gereja di dunia dewasa ini) Art 1 (Hubungan erat antara Gereja dan segenap keluarga bangsa-bangsa) Kegembiraan dan Harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka persekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya.

30

3. Apostolicam Actuositatem art. 27 Apostolicam Actuositatem merupakan sebuah dekrit tentang Kerasulan Awam. Berkaitan dengan hubungan antara Gereja dengan agama-agama non kristiani secara khusus dibahas pada artikel ke 27 yang diberi judul Kerjasama dengan Umat Kristen dan Umat Beragama lain, mengatakan sebagai berikut: “Pusaka-warisan Injil bersama, dan berdasarkan itu tugas bersama memberi kesaksian kristiani menganjurkan dan sering pula menuntut kerja sama Umat Katolik dengan Umat Kristen lainnya. Kerja sama itu harus dijalankan oleh orang perorangan maupun oleh jemaat-jemaat, dalam kegiatan-kegiatan pun juga dalam persekutuan-persekutuan, di tingkat nasional maupun internasional. Nilai-nilai manusiawi bersama pun tidak jarang menuntut kerja sama yang serupa antara Umat kristiani yang mengejar tujuan-tujuan kerasulan dan mereka, yang tidak menyandang nama kristiani, namun mengakui nilai-nilai itu juga. Melalui kerja sama yang dinamis dan bijaksana itu, yang besar maknanya dalam kegiatan-kegiatan duniawi, kaum awam memberi kesaksian akan Kristus Penyelamat dunia, dan akan kesatuan keluarga manusia.” 4. Dignitatis Humanae PERNYATAAN “DIGNITATIS HUMANAE” TENTANG KEBEBASAN BERAGAMA Art 1. Martabat Pribadi Manusia semakin disadari oleh manusia zaman kita sekarang. Bertambahlah juga jumlah mereka yang menuntut, supaya dalam bertindak manusia sepenuhnya menggunakan pertimbangannya sendiri serta kenbebasannya yang bertanggung jawab, bukannya

terdorong oleh paksaan, melainkan karena menyadari tugasnya. Begitu pula mereka menuntut supaya wewenang pemerintah dibatasi secara yuridis, supaya batas-batas kebebasan yang sewajarnya baik pribadi maupun kelompok-kelompok jangan dipersempit. Dalam masyarakat

31

manusia tuntutan kebebasan itu terutama menyangkut harta-nilai rohani manusia, dan teristimewa berkenaan dengan pengamalan agama secara bebas dalam masyarakat. Dengan seksama Konsili Vatikan ini mempertimbangkan aspirasi-aspirasi itu, dan bermaksud menyatakan betapa keinginan-keinginan itu selaras dengan kebenaran dan keadilan. Maka Konsili ini meneliti Tradisi serta ajaran suci Gereja, dan dari situ menggali harta baru, yang selalu serasi dengan khazanah yang sudah lama. Oleh karena itu Konsili suci pertama-tama menyatakan, bahwa Allah sendiri telah menunjukkan jalan kepada umat manusia untuk mengabdi kepada-Nya, dan dengan demikian memperoleh keselamatan dan kebahagiaan dalam Kristus. Kita percaya, bahwa satu-satunya Agama yang benar itu berada dalam Gereja Katolik dan apostolic, yang oleh Tuhan Yesus diserahi tugas untuk menyebarluaskannya kepada semua orang, ketika bersabda kepada para Rasul: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28: 19-20). Adapun semua orang wajib mencari kebenaran, terutama dalam apa yang menyangkut Allah dan GerejaNya. Sesudah mereka mengenal kebenaran itu, mereka wajib memeluk dan mengamalkannya. Begitu pula Konsili suci menyatakan, bahwa tugas-tugas itu menyangkut serta mengikat suara hati, dan bahwa kebenaran hanyalah

32

menuntut supaya diterima berdasarkan kebenaran itu sendiri, yang merasuki akalbudi secara halus dan kuat. Adapun kebebasan beragama, yang termasuk hak manusia dalam menunaikan tugas

berbakti kepada Allah, menyangkut kekebalan terhadap paksaan dalam masyarakat. Kebebasan itu sama sekali tidak mengurangi ajaran katolik tradisional tentang kewajiban moral manusia dan masyarakat terhadap Agama yang benar dan satu-satunya Gereja Kristus. Selain itu dalam menguraikan kebebasan beragama Konsili suci bermaksud mengembangkan ajaran para Paus akhir-akhir ini tentang hak-hak pribadi manusia yang tidak dapat diganggu-gugat, pun juga tentang penataan yuridis masyarakat. I. AJARAN UMUM TENTANG KEBEBASAN BERAGAMA Art 2. Obyek dan dasar kebebasan beragama Konsili Vatikan ini menyatakan, bahwa pribadi manusia berhak atas kebebasan beragama. Kebebasan itu berarti, bahwa semua orang harus kebal terhadap paksaan dari pihak orang-orang perorangan maupun kelompok-kelompok social dan kuasa manusiawi mana pun juga, sedemikian rupa, sehingga dalam hal keagamaan tak seorang pun dipaksa untuk bertindak melawan suara hatinya, atau dihalang-halangi untuk dalam batas-batas yang wajar bertindak menurut suara hatinya, baik sebagai perorangan maupun di muka umum, baik sendiri maupun bersama dengan orang-orang lain. Selain itu Konsili menyatakan, bahwa hak atas kebebasan beragama sungguh didasarkan pada martabat 33

pribadi

manusia, sebagaimana dikenal berkat sabda Allah yang

diwahyukan dan dengan akalbudi. Hak pribadi manusia atas kebebasan beragama itu harus diakui dalam tata hukum masyarakat sedemikian rupa, sehingga menjadi hak sipil. Menurut martabat mereka semua orang – justru sebagai pribadi,

artinya berakalbudi dan berkehendak bebas, oleh karena itu mengemban tanggung jawab pribadi, - berdasarkan kodrat mereka sendiri terdorong, dan karena kewajiban moral terikat untuk mencari kebenaran, terutama yang menyangkut agama. Mereka wajib juga berpegang pada kebenaran yang mereka kenal, dan mengatur seluruh hidup mereka menurut tuntutan kebenaran. Tetapi manusia hanyalah dapat memenuhi kewajiban itu dengan cara yang sesuai dengan kodrat mereka, bila mereka mempunyai kebebasan psikologis pun sekaligus bebas dari paksaan dari luar. Jadi hak atas kebebasan beragama tidak didasarkan pada keadaan subyektif seorang pribadi, melainkan pada kodratnya sendiri. Maka dari itu hak atas kebebasan itu tetap masih ada juga pada mereka, yang tidak memenuhi kewajiban mereka mencari kebenaran dan berpegang teguh padanya; dan penggunaan hak itu tidak dapat dirintangi, selama tata masyarakat tetap berdasarkan keadilan. Art 3. Kebebasan beragama dan hubungan manusia dengan Allah Itu semua menjadi lebih jelas lagi, bila dipertimbangkan bahwa tolok ukur hidup manusia yang tertinggi ialah hukum ilahi sendiri, yang bersifat kekal serta obyektif, dan berlaku bagi semua orang, yakni

34

bahwa menurut ketetapan kebijaksanaan dan cinta kasih-Nya Allah mengatur, mengarahkan serta memerintahkan alam semesta dan

perjalanan msyarakat manusia. Allah mengikutsertakan manusia dalam hukum-Nya itu, sehingga manusia, dapat semakin menyelami kebenaran yang tak dapat berubah. Maka dari itu setiap orang mempunyai tugas dan karena itu juga hak untuk mencari kebenaran perihal keagamaan, untuk dengan bijaksana, melalui upaya-upaya yang memadai, membentuk pendirian suara hati yang cermat dan benar. Adapun kebenaran harus dicari dengan cara yang sesuai dengan martabat pribadi manusia serta kodrat sosialnya, yakni melalui penyelidikan yang bebas, melalui pengajaran atau pendidikan, komunikasi dan dialog. Melalui cara-cara itu manusia menjelaskan kepada sesamanya kebenaran yang telah ditemukannya, atau yang ia telah merasa menemukan, sehingga mereka saling membantu dalam mencari kebenaran. Atas persetujuannya sendiri manusia harus berpegang teguh pada kebenaran yang dikenalnya. Manusia menangkap dan mengakui ketentuan-ketentuan hukum Ilahi melalui suara hatinya. Ia wajib mematuhi suara hati dengan setia dalam seluruh kegiatannya, untuk mencapai tujuannya yakni Allah. Jadi janganlah ia dipaksa untuk bertindak melawan suara hatinya. Tetapi jangan pula ia dirintangi untuk bertindak menurut suara hatinya, terutama dalam hal keagamaan. Sebab menurut sifatnya sendiri pengalaman agama pertama-tama terdiri dari tindakan-tindakan batin

35

yang dikehendaki orang sendiri serta

bersifat bebas, dan melalui

tindakan-tindakan itu ia langsung mengarahkan diri kepada Allah: tindakan-tindakan seperti itu tidak dapat diperintahkan atau dihalanghalangi oleh kuasa manusiawi semata-mata. Sedangkan kodrat sosial manusia sendiri menuntut, supaya ia mengungkapkan tindakan-tindakan batin keagamaannya secara lahiriah, berkomunikasi dengan sesama dalam hal keagamaan, dan menyatakan agamanya secara bersamasama. Maka terjadilah ketidak-adilan terhadap pribadi manusia dan tata sosial yang ditetapkan oleh Allah baginya, bila ia tidak diperbolehkan mengamalkan agamanya secara bebas dalam masyarakat, padahal ketertiban umum yang adil tetap dihormatinya. Kecuali itu tindakan-tindakan keagamaan, yang dijalankan manusia untuk sebagai perorangan maupun di muka umum

mengarahkan diri kepada Allah berdasarkan keputusan pribadi, pada hakekatnya mengatasi tata duniawi yang fana. Maka dari itu pemerintah, yang bertujuan mengusahakan kesejahteraan umum di dunia ini, memang wajib mengakui kehidupan beragama para warganegara dan mendukungnya. Tetapi harus dikatakan melampaui batas wewenangnya, bila memberanikan diri mengatur atau merintangi kegiatan-kegiatan religius. Art 4. Kebebasan jemaat-jemaat keagamaan

36

Kebebasan dari paksaan dalam hal keagamaan, yang menjadi hak setiap pribadi, harus diakui juga bila orang-orang bertindak bersama. Sebab kodrat sosial manusia maupun hakekat sosial agama menuntut adanya jemaat-jemaat keagamaan. Maka asal tuntutan-tuntutan ketertiban umum yang adil jangan dilanggar, jemaat-jemaat itu berhak atas kebebasan, untuk mengatur diri menurut kaidah-kaidah mereka sendiri, untuk menghormati Kuasa ilahi yang tertinggi dengan ibadat umum, untuk membantu para anggota mereka dalam mengahayati hidup keagamaan serta mendukung mereka dengan ajaran, dan untuk mengembangkan lembaga-lembaga, tempat para anggota bekerja sama untuk mengatur hidup mereka sendiri menurut azas-azas keagamaan mereka. Begitu pula jemaat-jemaat keagamaan berhak untuk memilih, membina, mengangkat dan memindahkan petugas-petugasnya sendiri, untuk berkomunikasi dengan para pemimpin dan jemaat-jemaat keagamaan,yang berada di kawasan-kawasan lain di dunia, untuk

mendirikan bangunan-bangunan bagi keperluan keagamaan, dan untuk memperoleh serta mengelola harta-milik yang mereka perlukan; itu semua tanpa dihalang-halangi oleh upaya-upaya hukum atau oleh tindakan administratif kuasa sipil. Jemaat-jemaat keagamaan berhak pula untuk tidak dirintangi dalam mengajarkan iman mereka dan memberi kesaksian tentangnya di muka umum, secara lisan maupun melalui tulisan. Tetapi dalam

37

menyebarluaskan

praktik-praktik

keagamaan

janganlah

pernah

menjalankan kegiatan mana pun juga, yang dapat menimbulkan kesan seolah-olah ada paksaan atau bujukan atau dorongan yang kurang tepat, terutama bila menghadapi rakyat yang tidak berpendidikan dan serba miskin. Cara bertindak demikian harus dipandang sebagai

penyalahgunaan hak mereka sendiri dan pelanggaran hak pihak-pihak lain. Selain itu kebebasan beragama berarti juga, bahwa jemaat-jemaat keagamaan tidak dilarang untuk secara bebas menunjukkan daya kemampuan khusus ajaran mereka dalam mengatur masyarakat dan dalam menghidupkan seluruh kegiatan manusiawi. Akhirnya pada kodrat sosial manusia dan pada sifat agama sendiri didasarkan hak orang-orang, untuk terdorong oleh cita rasa keagamaan mereka mengadakan dengan bebas pertemuan-pertemuan atau mendirikan yayasan-yayasan pendidikan, kebudayaan, amal kasih dan sosial. Art 5. Kebebasan beragama dan keluarga Setiap keluarga, sebagai rukun hidup dengan hak aslinya sendiri, berhak untuk dengan bebas mengatur hidup keagamaan dalam pangkuannya sendiri di bawah bimbingan orang tua. Mereka itu berhak menentukan menurut keyakinan keagamaan mereka sendiri, pendidikan keagamaan manakah yang akan diberikan kepada anak-anak mereka. Oleh karena itu pemerintah wajib mengakui hak orang tua, untuk dengan kebebasan sepenuhnya memilihkan sekolah-sekolah atau upaya-

38

upaya pendidikan lainnya. Pun janganlah karena kebebasan memilih itu mereka secara langsung menanggung beban atau tidak langsung diharuskan

yang tidak adil. Kecuali itu hak orang tua mengikuti pelajaran-pelajaran

dilanggar, bila anak-anak dipaksa

sekolah, yang tidak cocok dengan keyakinan keagamaan orang tua mereka atau bila hanya ada satu cara pendidikan saja yang diwajibkan, tanpa pendidikan keagamaan sama sekali. Art 6. Tanggung jawab atas kebebasan beragama Kesejahteraan umum masyarakat, yakni keseluruhan kondisikondisi hidup sosial, yang memungkinkan orang-orang mencapai kesempurnaan mereka secara lebih utuh dan lebih mudah, terutama terletak pada penegakan hak-hak serta tugas-tugas pribadi manusia. Maka ada kewajiban menjaga hak atas kebebasan beragama pada para warganegara, pada kelompok-kelompok sosial, pada pemerintahpemerintah, pada Gereja dan jemaat-jemaat keagamaan lainnya, masing-masing menurut caranya sendiri, demi tugas mereka

memelihara kesejahteraan umum. Pada hakekatnya termasuk tugas setiap kuasa sipil: melindungi dan mengembangkan hak-hak manusia yang tak dapat diganggu gugat. Maka kuasa sipil wajib, melalui hukum-hukum yang adil serta upayaupaya lainnya yang sesuai, secara berhasil guna menanggung kebebasan beragama semua warga negara, dan untuk

perlindungan menciptakan

kondisi-kondisi

yang

menguntungkan

39

mengembangkan

hidup

keagamaan.

Dengan

demikian

para

warganegara dapat sungguh-sungguh mengamalkan hak-hak serta menunaikan tugas-tugas keagamaan, dan masyarakat sendiri akan menikmati baiknya keadilan dan damai, yang muncul dari kesetiaan manusia terhadap Allah dan terhadap kehendak-Nya yang suci. Bila karena keadaan istimewa bangsa-bangsa tertentu suatu jemaat keagamaan mendapat pengakuan sipil istimewa dalam tata hokum masyarakat, sungguh perlulah bahwa hak semua warganegara dan jemaat-jemaat keagamaan atas kebebasan beragama diakui dan dipatuhi. Akhirnya pemerintah wajib mengusahakan, supaya kesamaan yuridis para warganegara, yang termasuk kesejahteraan umum masyarakat, jangan pernah secara terbuka atau pun diam-diam dilanggar berdasarkan alasan-alasan keagamaan, pun juga supaya di antara mereka jangan sampai ada diskriminasi. Oleh karena itu pemerintah sama sekali tidak boleh melalui perasaan atau ancaman atau upaya-upaya lainnya mengharuskan para warganegara untuk mengakui atau menolak agama mana pun juga, atau menghalang-halangi siapa pun juga untuk memasuki atau meninggalkan jemaat keagamaan tertentu. Masih lebih lagi merupakan tindakan melawan kehendak Allah dan melawan hak-hak keramat pribadi serta keluarga bangsa-bangsa, bila dengan cara mana pun digunakan kekerasan untuk menghancurkan atau merintangi agama, entah di

40

seluruh bangsa manusia entah di kawasan tertentu entah dalam kelompok tertentu. Art 7. Batas-batas kebebasan beragama Hak atas kebebasan beragama dilaksanakan dalam masyarakat manusia. Maka dari itu penggunaannya harus mematuhi kaidah-kaidah tertentu yang mengaturnya. Dalam penggunaan semua kebebasan harus ditaati azas moral tanggung jawab pribadi dan sosial: Dalam memakai hak-haknya setiap orang maupun kelompok sosial diwajibkan oleh hukum moral untuk memperhitungkan hak-hak orang lain, dan kewajiban-kewajibannya sendiri terhadap orang lain, maupun kesejahteraan umum semua orang. Semua orang harus diperlakukan menurut keadilan dan peri kemanusiaan. Selain itu, karena masyarakat sipil berhak melindungi diri terhadap penyalahgunaan yang dapat timbul atas dalih kebebasan beragama, terutama pemerintahlah yang wajib memberi perlindungan itu. Tetapi itu harus terjadi bukan sewenang-wenang, atau dengan secara tidak adil memihak pada satu golongan, melainkan menurut kaidah-kaidah hukum yang sesuai dengan tata moral yang obyektif. Kaidah-kaidah itu

diperlukan untuk melindungi hak-hak semua warganegara secara efektif dan demi kehidupan mereka bersama secara damai; diperlukan juga untuk menjalankan usaha-usaha secukupnya demi ketentraman umum yang sepantasnya, yakni kehidupan bersama yang teratur dalam

41

keadilan yang sejati; diperlukan pula untuk menjaga kesusilaan umum sebagaimana harusnya. Itu semua merupakan unsur dasar kesejahteraan umum, dan termasuk tata umum. Memang dalam masyarakat pada umumnya perlu dipertahankan kebebasan seutuhnya. Itu berarti, bahwa harus diakui kebebasan manusia sepenuh mungkin; dan kebebasan itu jangan dibatasi kecuali bila dan sejauh memang perlu. Art 8. Pembinaan penggunaan kebebasan Manusia zaman sekarang menghadapi pelbagai tekanan, dan terancam bahaya kehilangan kebebasan mengikuti cara berpikirnya sendiri. Tetapi di lain pihak tidak sedikit orang agaknya begitu condong untuk dengan dalih mau bebas menolak setiap bentuk kepatuhan dan meremehkan ketaatan yang sewajarnya. Itulah sebabnya mengapa Konsili ini menganjurkan kepada semua, terutama mereka yang bertugas sebagai pendidik, supaya berusaha membina orang-orang, yang mematuhi tata kesusilaan, mentaati kekuasaan yang sah, dan mencintai kebebasan sejati. Dengan kata lain: orang-orang, yang dengan pertimbangannya sendiri menilai kenyataan dalam terang kebenaran, mengatur kegiatannya dengan kesadaran bertanggung jawab, dan berusaha mencari apa pun yang benar dan adil, dengan hati yang rela untuk bekerja sama dengan orang-orang lain. Demikianlah termasuk hasil dan tujuan kebebasan beragama juga, bahwa dalam menunaikan tugas-tugasnya sendiri manusia bertindak dalam hidup masyarakat dengan tanggung jawab yang lebih besar.

42

II. KEBEBASAN BERAGAMA DALAM TERANG WAHYU Art 9. Ajaran tentang kebebasan beragama berakar dalam wahyu Apa yang Konsili Vatikan ini dinyatakan tentang hak manusia atas kebebasan beragama, mempunyai dasarnya dalam martabat pribadi. Tuntutan-tuntutan martabat itu disadari semakin mendalam oleh akal budi manusia melalui pengalaman berabad-abad. Bahkan ajaran tentang kebebasan itu berakar dalam Wahyu ilahi. Oleh karena itu harus semakin dipatuhi oleh Umat kristiani. Sebab wahyu memang tidak dengan jelas sekali mengiakan hak atas kebebasan terhadap paksaan dari luar dalam hal keagamaan, namun memaparkan martabat pribadi manusia dalam arti yang sepenuhnya. Wahyu memperlihatkan, bagaimana Kristus mengindahkan kebebasan manusia dalam

menunaikan wajibnya beriman akan sabda Allah. Wahyu mengajar kita tentang semangat, yang dalam segalanya harus diterima dan diikuti oleh para murid Sang Guru itu. Dengan itu semua diperjelas azas-azas umum, yang mendasari ajaran pernyataan tentang kebebasan beragama ini. Terutama kebebasan beragama dalam masyarakat selaras

sepenuhnya dengan kebebasan faal iman kristiani. Art 10. Kebebasan dan faal iman Salah satu pokok amat penting ajaran katolik, yang tercantum dalam sabda Allah dan terus-menerus diwartakan oleh para Bapa Gereja, yakni: manusia wajib secara sukarela menjawab Allah dengan beriman; maka dari itu tak seorang pun boleh dipaksa melawan 43

kemauannya sendiri untuk memeluk iman. Sebab pada hakekatnya kita menyatakan iman kita dengan kehendak yang bebas, karena manusia yang ditebus oleh Kristus Sang Penyelamat, dan dengan perantaraan Yesus Kristus dipanggil untuk diangkat menjadi anak Allah, tidak dapat mematuhi Allah yang mewahyukan Diri, seandainya Bapa tidak menariknya, dan ia tidak dengan bebas menyatakan kepada Allah ketaatan imannya yang menurut nalar dapat dipertanggung jawabkan. Jadi sama sekali selaras dengan sifat iman, bahwa dalam hal keagamaan tidak boleh ada bentuk paksaan mana pun juga dari pihak manusia. Oleh karena itu ketetapan tentang adanya kebebasan beragama sangat membantu untuk memelihara kondisi hidup, yang memungkinkan manusia dengan mudah diajak menerima iman kristiani, memeluknya secara sukarela, dan secara aktif mengakuinya dengan seluruh cara hidupnya. Art 11. Cara bertindak Kristus dan para Rasul Memang Allah memanggil manusia untuk mengabdi diri-Nya

dalam roh dan kebenaran. Maka ia juga terikat dalam suara hati, tetapi tidak dipaksa. Sebab Allah memperhitungkan martabat pribadi manusia yang diciptakan-Nya, yang harus dituntun oleh pemikirannya sendiri mempunyai kebebasan. Adapun itu nampak paling unggul dalam Kristus Yesus, yang bagi Allah menjadi Perantara untuk dengan sempurna menampakkan Diri serta jalan-jalan-Nya. Sebab Kristus, Guru dan Tuhan kita, yang lemah lembut dan rendah hati, dengan sabar

44

mengambil hati dan mengajak para murid-Nya. Memang dengan mukjizat-mukjizat Ia mendukung dan meneguhkan pewartaan-Nya, untuk membangkitkan dan mengukuhkan iman para pendengar-Nya, bukan untuk memaksa mereka. Memang Ia mengecam

ketidakpercayaan para pendengar-Nya, tetapi sambil menyerahkan hukuman kepada Allah pada hari pengadilan. Ketika mengutus para Rasul ke dunia Ia bersabda: ”Barang siapa beriman dan dibaptis akan selamat; tetapi siapa tidak percaya akan dihukum” (Mrk 16 : 16). Tetapi, melihat bahwa bersama gandum telah ditaburkan lalang, Ia memerintahkan supaya keduanya dibiarkan tumbuh sampai waktu

menuai, yakni pada akir zaman. Yesus tidak mau menjadi Almasih tokoh politik yang memerintah dengan kekerasan. Ia lebih senang membuat diri putra manusia yang datang “untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45). Ia membawakan Diri sebagai Hamba Allah yang sempurna, yang tidak akan memutuskan buluh yang patah terkulai, dan “tidak akan memadamkan sumbu yang pudar nyalanya” (Mat 12:20). Ia mengakui pemerintah serta hak-haknya, ketika menyuruh membayar pajak kepada Kaisar, tetapi dengan jelas mengingatkan, bahwa hak-hak Allah yang lebih tinggi wajib dipatuhi: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21). Akhirnya Ia menyempurnakan perwahyuan-Nya ketika menyelesaikan karya penebusan-Nya disalib,

45

untuk memperolehkan keselamatan dan kebebasan sejati bagi manusia. Sebab Ia memberi kesaksian akan kebenaran, tetapi tidak mau memaksakannya kepada mereka yang membantahnya. Kerajaan-Nya tidak dibela dengan menghantam dengan kekerasan, melainkan dikukuhkan dengan memberi kesaksian akan kebenaran serta

mendengarkannya. Kerajaan itu berkembang karena cinta kasih, cara Kristus yang ditinggikan di salib menarik manusia kepada diri-Nya. Para Rasul belajar dari sabda dan teladan Kristus, serta menempuh jalan yang sama. Sejak masa awal Gereja para murid Kristus berusaha, supaya orang-orang bertobat dan mengakui Kristus Tuhan, bukan dengan tindakan memaksa atau dengan siasat-siasat yang tak layak bagi Injil, melainkan pertama-tama dengan ketaatan sabda Allah penyelamat,”yang menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1Tim 2:4). Tetapi sekaligus para murid Tuhan menghormati mereka yang lemah, juga bila sedang sesat; dan dengan demikian mereka menunjukkan, bagaimana ”setiap orang di antara kita akan memberi pertanggung jawaban tentang dirinya kepada Allah” (Rom 14 : 12), dan sejauh itu wajib menganut suara hatinya sendiri. Seperti Kristus, begitu pula para Rasul selalu bermaksud memberi kesaksian akan kebenaran Allah, penuh keberanian untuk di hadapan rakyat serta para penguasa mewartakan “sabda Allah dengan kepercayaan”(Kis 4:31). Dengan iman yang teguh mereka yakin, bahwa Injil sendiri benar-benar merupakan kekuatan Alah demi

46

keselamatan setiap orang yang beriman. Maka dari itu mereka meremehkan “senjata duniawi”, mengikuti teladan kelemah lembutan serta keugaharian Kristus, dan mewartakan sabda Allah, dengan penuh kepercayaan akan kekuatan ilahi sabda itu untuk menghancurkan kekuatan-kekuatan yang menentang Allah, dan untuk mengembalikan orang-orang kepada iman serta kepatuhan terhadap Kristus. Seperti sang Guru, begitu pula para Rasul mengakui pemerintahan yang sah: “Setiap orang hendaklah takluk kepada pemerintah yang di atasnya;…. barang siapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah”(Rom 13:1-2). Tetapi serta merta mereka tidak takut menyanggah pemerintah yang menentang kehendak Allah yang suci: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kis 5:29). Jalan itu di sepanjang zaman dan di seluruh dunia ditempuh juga oleh para martir dan kaum beriman yang tak terhitung jumlahnya. Art 12. Gereja menempuh jalan Kristus dan para Rasul Maka Gereja, yang setia kepada kebenaran Injil, menempuh jalan Kristus dan para Rasul, bila mengakui dan mendukung azas kebebasan beragama sebagai prinsip yang selaras dengan martabat manusia dan wahyu Allah. Ajaran yang diterima dari Sang Guru dan dari para Rasul oleh Gereja dipelihara dan diteruskan sepanjang masa. Sungguhpun dalam kehidupan Umat Allah, melalui silih bergantinya kenyataankenyataan sejarah bangsa manusia yang sedang berziarah, ada kalanya ditempuh cara bertindak yang kurang selaras dengan semangat Injil,

47

bahkan bertentangan dengannya, namun selalu tetaplah ajaran Gereja, bahwa tak seorangpun boleh dipaksa untuk beriman. Demikianlah ragi Injil cukup lama merasuki jiwa orang-orang, dan menyumbang banyak, sehingga dari masa ke masa makin bertambahlah jumlah mereka yang mengakui martabat pribadinya, dan makin masaklah keyakinan bahwa dalam masyarakat kebebasannya perihal keagamaan harus tetap dipertahankan dari setiap paksaan manusia. Art 13. Kebebasan Gereja Di antara hal-hal yang menyangkut kesejahteraan Gereja, bahkan kesejahteraan masyarakat di dunia, dan yang di mana-mana selalu harus dipelihara serta dilindungi terhadap segala ketidak adilan, pasti yang paling utama yakni: supaya Gereja menikmati kebebasan bertindak yang secukupnya untuk mengusahakan keselamatan manusia. Sebab sungguh kuduslah kebebasan,yang dikurniakan oleh Putera Tunggal Allah kepada Gereja yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya.

Kebebasan itu begitu khas bagi Gereja, sehingga barang siapa menentangnya bertindak melawan kehendak Allah. Kebebasan Gereja merupakan azas dasar dalam hubungan antara Gereja dan pemerintahpemerintah serta seluruh tata masyarakat. Dalam masyarakat manusia dan terhadap pemerintah manapun Gereja menuntut kebebasan, sebagai kewibawaan rohani yang ditetapkan oleh Kristus Tuhan, dan yang atas perintah ilahi bertugas pergi ke seluruh dunia mewartakan injil kepada semua makhluk hidup.

48

Begitu pula Gereja mengutarakan haknya atas kebebasan, sebagai masyarakat manusia juga, yang berhak hidup dalam masyarakat menurut kaidah-kaidah iman kristiani. Adapun hanya bila berlakulah ketetapan tentang kebebasan beragama, yang bukan saja dimaklumkan dengan kata-kata atau melulu dikukuhkan dengan undang-undang, melainkan secara jujur

dipraktikkan juga, maka Gereja akan memperoleh kondisi stabil menurut hukum maupun dalam kenyataan, yakni kemerdekaan dalam menunaikan perutusan Ilahinya, yang secara makin mendesak dituntut oleh para pemimpin Gereja dalam masyarakat. Sekaligus Umat beriman kristiani, seperti semua orang lainnya, mempunyai hak sipil untuk tidak dirintangi dalam menghayati hidup menurut suara hati mereka. Jadi terdapat keselarasan antara kebebasan Gereja dan kebebasan

keagamaan, yang oleh semua orang dan jemaat harus diakui sebagai hak dan dikukuhkan dalam perundang-undangan. Art 14. Peran Gereja Untuk mematuhi perintah ilahi: “Ajarilah semua bangsa” (Mat 28 : 19 ), Gereja katolik wajib sungguh-sungguh mengusahakan, supaya “ sabda Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan “ (2 Tes 3:1). Maka dari itu Gereja meminta dengan mendesak, supaya para putera puterinya pertama-tama menganjungkan “permohonan-

permohonan, doa-doa syafaat serta ucapan syukur bagi semua orang… Sebab itu baiklah dan berkenan kepada Allah Penyelamat kita, yang

49

menghendaki agar semua orang diselamatkan dan mencapai pengertian tentang kebenaran” (1Tim2:1-4). Tetapi kaum beriman kristiani dalam membentuk suara hati mereka wajib mengindahkan dengan saksama ajaran Gereja yang suci dan pasti. Sebab atas kehendak Kristus Gereja katolik adalah Guru kebenaran. Tugasnya mengungkapkan dan mengajarkan secara otentik kebenaran, yakni Kristus, pun juga menjelaskan dan mengukuhkan dengan kewibawaannya azas-azas tata kesusilaan, yang bersumber pada kodrat manusia sendiri. Selain itu hendaknya Umat Kristiani, yang dengan kebijaksanaannya menghadapi mereka yang berada di luar, “dalam Roh Kudus, dalam cinta kasih yang tidak munafik, dalam sabda kebenaran” (2Kor6:6-7), berusaha memancarkan cahaya kehidupan dengan penuh kepercayaan dan kekuatan rasuli, hingga penumpahan darah. Sebab seorang murid terikat oleh kewajiban yang berat terhadap Kristus Sang Guru, yakni semakin mendalam menyelami kebenaran yang diterima dari pada-Nya, mewartakannya dengan setia,

membelanya dengan berani, tanpa menggunakan upaya-upaya yang berlawanan dengan semangat Injil. Tetapi sekaligus cinta kasih Kristus mendesaknya, untuk bertindak penuh kasih, kebijaksanaan dan kesabaran terhadap mereka, yang berada dalam keadaan sesat atau tidak tahu menahu mengenai iman. Maka perlu dipertimbangkan baik tugastugas terhadap Kristus Sabda yang menghidupkan, yang harus

50

diwartakan, pun juga hak-hak pribadi manusia, maupun besarnya rahmat yang oleh Allah dikurniakan melalui Kristus kepada manusia, yang diundang untuk dengan suka rela menerima dan mengakui iman. Art 15. Penutup Maka jelaslah manusia zaman sekarang menghendaki untuk dengan bebas dapat mengakui agamanya baik secara perorangan maupun di muka umum. Bahkan jelas pula kebebasan beragama dalam kebanyakan Undang-Undang Dasar sudah dinyatakan sebagai hak warga negara dan dalam dokumen-dokumen internasional diakui secara resmi. Akan tetapi ada pula sistem-sistem pemerintahan, yang meskipun dalam Undang-Undang Dasar kebebasan ibadat keagamaan diakui, namun pemerintah-pemerintahnya sendiri berusaha menjauhkan para warga negara dari pengakuan agama mereka, dan sangat mempersukar dan membahayakan kehidupan jemaat-jemaat keagamaan. Dengan gembira Konsili suci menyambut gejala-gejala pertama tadi sebagai tanda-tanda zaman sekarang yang sungguh baik, sedangkan fakta-fakta lainnya yang layak disesalkan dikecamnya dengan sedih hati. Konsili menganjurkan Umat katolik, tetapi mengajukan

permohonan mendesak juga kepada semua orang, supaya mereka penuh perhatian mempertimbangkan, betapa perlulah kebebasan beragama, terutama dalam keadaan keluarga manusia zaman sekarang. Sebab jelaslah, bahwa semua bangsa semakin bersatu, bahwa orang-orang dari pelbagai kebudayaan dan agama saling terikat secara

51

semakin erat, akhirnya bahwa bertambahlah kesadaran akan tanggung jawab masing-masing. Maka dari itu, supaya hubungan-hubungan damai dan kerukunan pada bangsa manusia diperbaharui dan diteguhkan, perlulah bahwa dimana-mana kebebasan beragama didukung dengan perlindungan hukum yang tepat guna, dan bahwa tugas-tugas serta hak-hak manusia yang tertinggi untuk secara bebas menghayati hidup beragama dalam masyarakat dipatuhi. Semoga Allah dan Bapa semua orang menganugerahkan, supaya keluarga manusia, berkat usaha yang tekun untuk menegakkan kebebasan beragama dalam masyarakat, karena rahmat Kristus dan kekuatan Roh Kudus dihantar kepada “kebebasan kemuliaan puteraputera Allah” (Rom 8:21) yang amat luhur dan kekal. “Semua itu dan setiap hal yang diungkapkan dalam Pernyataan ini telah berkenan kepada para Bapa Konsili suci. Adapun Kami, dengan kuasa kerasulan yang diserahkan Kristus kepada Kami, bersama dengan para Bapa yang terhormat, mengesahkan, menetapkan serta mengundangkannya dalam Roh Kudus. Dan Kami memerintahkan, agar apa yang telah ditetapkan bersama dalam Konsili ini diumumkan demi kemuliaan Allah.” Roma, di gereja Santo Petrus, tanggal 7 bulan Desember tahun 1965.

Pada akhir kajian teoritis ini perlu Penulis menggaris bawahi bahwa pendidikan adalah suatu usaha sadar yang teratur dan sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi anak supaya mempunyai sifat-sifat dan tabi’at yang sesuai cita-cita pendidikan. Untuk melaksanakan pendidikan diperlukan adanya kurikulum, yakni seperangkat

52

rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Penulis mengkaji bahwa Pendidikan Agama Katolik (PAK) sebagai usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional, ternyata tidak menghasilkan out put (keluaran) seperti yang dicitacitakan. Hal ini disebabkan karena sifat PAK yang eksklusif, doktriner, terbatas dan padat materi, serta berkisar pada pengetahuan (wacana). Penulis berpendirian perlunya paradigma baru dalam pembelajaran PAK. Penulis juga mencermati bahwa Pendidikan Agama dalam pergeseran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) merupakan kesempatan untuk menerapkan model pembelajaran pendidikan religiositas yang lebih terbuka dan universal serta lebih memberi ruang dialog bagi siswa seagama maupun antar agama seperti yang diisyaratkan oleh Konsili Vatikan II. Selanjutnya pada bab III, penulis akan menyampaikan hasil penelitian berikut analisis data yang akan memperkuat gagasan atau alasan penulis untuk menerapkan model pembelajaran religiositas bagi siswa majemuk di sekolah.

53

54

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times