P. 1
Kajian Ust Reza Ke-7 18Oktober08

Kajian Ust Reza Ke-7 18Oktober08

5.0

|Views: 98|Likes:
Published by Al-Fauzien.web.id

More info:

Published by: Al-Fauzien.web.id on Nov 24, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/03/2015

pdf

text

original

Majelis Ta’lim Sabtu Shubuh Kajian Management Nubuwwah (Pengelolaan Hidup Berbasis Keteladanan Nabi Muhammad) Oleh Ustadz

H.Reza M. Syarief, MA, MBA di Masjid Al-Fauzien Gema Pesona Depok Kajian ke-7 tanggal 18-10-2008

Pertemuan terakhir membahas gelar yang diperoleh Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi nabi/rasul, yakni AL AMIIN. Dengan karakter Al Amiin maka kita akan dapat membangun keunggulan dalam segala hal, misalnya pribadi yang unggul, keluarga yang unggul, bisnis yang unggul, karier yang unggul. Periodesasi kehidupan RasuluLlah SAW sbb 1. Usia 0-15 tahun. Fase ini adalah masa pendidikan, yang diberikan langsung oleh Allah (selaras dengan kondisi Muhammad SAW di masa kecilnya, cf Ad Dhuha 5 –7). Muhammad SAW juga pernah bersabda “Aku ini dididik langsung oleh Allah, dan Allah adalah sebaik-baik pendidik”. 2. Usia 15-25 tahun. Beliau menjadi pengusaha yang sukses, bahkan sudah berdagang ke luar negeri Arab (exporter). Pada usia 25 tahun beliau menikah. 3. Usia 25 -40 tahun masa membangun rumah tangga yang harmonis. 4. Usia 40 menerima wahyu dan diangkat sebagai Nabi, sehingga mencapai kematangan spiritual. Sebelumnya beliau sering melakukan tahanudz di gua Hira. 5. Usia 40-50 tahun masa berdakwah (di luar rumah) dan membangun jamaah. Hal ini juga mengajarkan bahwa berdakwah di luar rumah sangat didukung oleh hasil berdakwah didalam rumah. Keberhasilan membangun rumah tangga yang harmonis (sesuai ajaran Islam) akan dapat menentukan ukuran kemampuan berdakwah di luar rumah. 6. Pada usia 50, istri beliau meninggal. Kemudian beliau menikah lagi dan berpoligami. Hal yang perlu digarisbawahi bahwa beliau berpoligami pada kondisi istri dinikahi selama 15 tahun sudah wafat, serta poligami lebih pada pertimbangan kemaslahatan umat, baik sisi ekonomis, syiar agama maupun menjelaskan suatu hukum. Pernikahan dengan Aisyah RAH yang masih muda dan cerdas memberi manfaat bahwa suatu ketika setelah Nabi wafat, Aisyah RAH dapat mengajarkan kepada umat tentang kehidupan privat beliau (pribadi dan rumah tangga), sebagai tuntunan.

7. Usia 50-63 masa membangun pemerintahan, yang terbukti dengan terbentuknya masyarakat dan pemerintahan Madinah. Fase ini dijalani setelah RasuluLlah SAW mendidik masyarakat dan membentuk jamaah. 8. Usia 63 tahun beliau membebaskan kota ke mekkah. Kemenangan besar yang diraih oleh RasuluLlah SAW. Beliau wafat pada usia 63 tahun. Meski hanya berusia 63 tapi kisah hidup dan kesuksesan Nabi Muhammad SAW terus dibicarakan dan digali untuk dijadikan teladan sampai dengan sekarang. Dengan mempelajari dan mencontoh cara hidup Nabi Muhammad SAW, maka kita berharap kualitas dan kesuksesan beliau dapat kita tiru. Mari kita membuat kaleidoskop sejarah hidup kita. Sejauh mana kita sudah meraih prestasi. Kita harus selalu berusaha meningkatkan prestasi. --o--

Kuadran Kualitas Hidup Manusia

Note :

1. Kualitas Komitmen adalah tingkat kualitas komitmen kita kepada Allah. 2.
Jika kualitas komitmen kita bergerak keatas maka berarti keimanan kita juga naik. Sebaliknya jika kualitas komitmen kita bergerak kebawah maka berarti keimanan kita juga turun. Kualitas Prestasi adalah tingkat prestasi amal saleh kita. Jika kualitas prestasi kita bergerak ke kanan (positif) maka berarti kuantitas dan kualitas amal saleh kita bertambah. Sebaliknya jika kualitas prestasi kita bergerak ke kiri (negatif) maka berarti kuantitas dan kualitas amal saleh kita berkurang.

Seumpama pilot yang membawa para penumpang tapi tidak tahu arah tujuan kemana pesawat akan dibawa, hal ini akan membahayakan. Kita sebagai penumpang akan berisiko terbawa ke tempat yang tidak kita inginkan. Demikian juga dengan kehidupan kita, dimana kita sebagai pilot yang membawa kehidupan. Kita harus tahu kemana kita membawa diri. Apa yang kita tuju, apa yang kita cari serta bagaimana cara mencapai tujuan kita tsb. Banyak orang yang sukses. Harta berlimpah dan karir yang bagus. Tetapi akhirnya resah karena tidak tahu mau kemana lagi membawa kehidupan ini. Untuk itulah kita harus punya peta kehidupan kita. Gambar / kuadran diatas adalah semacam peta kehidupan kita. Semisal dengan dunia mahasiswa, kita semua adalah mahasiswa dalam Kampus Kehidupan. Kelulusan adalah manakala sudah mencapai almarhum – almarhumah, maka kita meniti 4 strata kehidupan. 1. Strata 1 / S1, tujuan Survive, kondisi Alam Belum Sadar Allah mengajarkan kita agar bisa survive/bertahan, bisa bertahan dalam kondisi yang sulit. Survive dalam menjaga keluarga, menjaga iman. Targetnya beralih dari alam belum sadar menuju alam sadar. Berubah dari belum tahu menjadi tahu. Pada kenyataannya masih banyak umat yang belum punya ilmu tentang Islam. Belum faham dan belum sadar. 2. Strata 2 / S2, tujuan Stabil, kondisi Alam Sadar Jika sudah faham dan tahu ilmunya maka akan masuk ke strata ini. Kita sadar, tahu ilmunya dan mengamalkan secara konsisten. 3. Strata 3 / S3, tujuan Sukses, kondisi Alam Bawah Sadar Alam bawah sadar tercipta dari kebiasaan, spontanitas. Dari pengamalan secara stabil dan konsisten di S2 maka alam bawah sadar kita terbentuk pola yang Islami. Pada tahap ini sesorang diharapkan menjadi contoh dan panutan bagi orang lain dilingkungannya. Orang dilingkungannya akan mengikuti kebaikan yang dilakukannya. Inilah yang dimaksud dengan Sukses. 4. Strata 4 / S4, tujuan Signifikan, kondisi Alam Super Sadar (Sukses Sejati) Pada tahap ini seseorang mencapai kesuksesan buat dirinya, sekaligus mempengaruhi orang lain untuk menjadi sukses. Seseorang dapat mencapai derajat kaya, sekaligus kekayaannya bermanfaat buat orang lain.

Seorang ibu/istri sukses adalah seorang perempuan yang sholihah (sukses individu/pribadi), sekaligus mampu mendidik anak sehingga menjadi anak yang sukses dan mendampingi suami sehingga menjadi suami yang sukses (sukses sejati). Seseorang karena bekerja dengan benar dianugerahi Allah kekayaan (sukses individu), sekaligus dengan kekayaannya bisa membuat kehidupan orang lain terangkat (sukses sejati), misal menciptakan lapangan kerja, memodali para dhuafa berkarya, dll. Kita harus berkaca, diri kita (diri, keluarga, karir, dll) ada diposisi mana. Serta kita harus bertarget dan berusaha untuk mencapai S4. Kita wajib untuk berusaha secara maksimal, meskipun hasilnya hanya Allah-lah yang menentukan. QS.09.105 menunjukkan bahwa kewajiban kita adalah berusaha, sedangkan hasilnya terserah Allah. Nabi Muhammad SAW suatu ketika pernah ditawari pemuka quraisy untuk menjadi kedudukan / pejabat asal menghentikan dakwah. Nabi menolaknya. Sebenarnya jika Nabi Muhammad SAW menerima tawaran menjadi pemuka suku, ada peluang untuk mengembangkan dakwah dengan memanfaatkan jabatan tsb. Hal ini menunjukkan bahwa peri kehidupan kita (termasuk dalam berdakwah), Islam mementingkan process oriented bukan sekedar result oriented. Lebih penting menjalani proses dengan benar daripada hasil yang besar tapi dengan cara yang salah. Banyak umat Islam yang hanya mau hasil bagus, mau sukses tanpa mau menjalani proses dengan benar, tanpa mau berusaha keras. Melanjutkan pembahasan tentang Kuadran Kualitas Hidup, dengan perumpamaan dunia kuliah, Kampus Kehidupan kita memiliki 3 (tiga) fakultas: 1. Fakultas Science (Akal) Pentingnya menggunakan akal tergambar dari ayat yang pertama kali turun ’Iqra’. Juga Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa agama itu untuk orang yang berakal. Pada Al Quran Surah Ash-Shaaffat, Nabi Ibrahim AS mengajarkan kita bahwa beliau mencari Tuhan juga dengan menggunakan akal. Dengan menggunakan akal kualitas beragama juga makin bagus. Para muallaf kebanyakan mempunyai pengalaman untuk mencari Tuhan, menimbang dan mempelajari ajaran dari berbagai Agama, sampai dengan menemukan kebenaran pada ajaran agama Islam. Inilah

juga yang menjawab mengapa kebanyakan para muallaf kemudian lebih cepat meningkatkan kualitas keagamaanya dibanding dengan yang sedari lahir telah Islam. Karena mereka lebih sering menggunakan akal. QS. 17:36 juga mengajarkan kita senantiasa menggunakan akal. 2. Fakultas Motivation (fisik / motivasi akan dapat menggerakkan fisik). Bertujuan agar orang mau bergerak / untuk menggerakkan orang. Bergerak disini dalam kerangka beramal saleh. Semua orang punya potensi tetapi karena tidak ada motivasi yang bisa menggerakkan potensi itu maka hidupnya menjadi gagal/tidak sukses. Potensinya tidak termanfaatkan. Inilah yang menyebabkan ada orang yang sukses, tetapi juga ada orang yang gagal. Kelemahan dalam sektor ini adalah minimnya dakwah yang memotivasi. Salah satu buktinya adalah pada khutbah jumat, banyak jamaah yang tertidur. Padahal khutbah jumat adalah kesempatan yang sangat bagus, mengingat shalat (khutbah) jumat begitu banyak umat Islam yang mengikuti/berkumpul serta frekuensinya setiap pekan (setiap hari jumat). Apalagi jika dibandingkan dengan jumlah jamaah sholat yang lain. Khutbah Nabi Muhammad SAW sangat memotivasi. Pembahasan beliau tentang surga mampu membuat sahabat sangat rindu tenatng surga, sedangkan pembahasan tentang neraka membuat sahabat menangis mengingat dosa-dosa mereka. 3. Fakultas Spiritual (Hati) Merupakan nilai-nilai serta filosofi dari ibadah. Nilai spiritual (hakikat) ini harus selalu digali / didapat sehingga ibadah tidak hanya menjadi ritual belaka. Tanya Jawab: 1. Ibu Dyah Tadi ustad jelaskan bahwa poligami yang dilakukan Nabi Muhmmad SAW banyak hikmahnya. Tapi pada prakteknya saat ini oleh sebagian umat Islam, apakah juga banyak hikmahnya? Jawaban :

Secara Fiqh Syar’i, jika perkawinan / poligami memenuhi unsur syariah (ijab qabul, mahar dll) maka perkawinan / poligami adalah syah. Keabsyahan tsb tanpa memandang cantik jelek kaya miskin. Tapi menjalankan segala sesuatu perlu juga mengacu ke : a. Fikih Prioritas, apakah poligami ini merupakan prioritas untuk dilakukan, jika ditimbang dengan dampak yang mungkin ditimbulkan. Terutama bagi pelaku yang mempunyai pengaruh sosial (tokoh sosial). b. Fikih Realitas. Apakah memang perlu dilakukan? Misal karena alasan medis atau memperoleh keturunan. c. Fikih Keseimbangan. Jika poligami dilakukan seimbang maka wanita akan berterima kasih, karena beban sebagai ibu dan istri lebih ringan Setelah mempertimbangkan secara fikih syaria, fikih prioritas, fikih realitas dan fikih keseimbangan, barulah keputusan untuk poligami atau tidak poligami layak diambil. Sebagai tambahan, saran saya bagi yang akan melakukan poligami: 1. Poligami bukan merupakan keputusan individual 2. Jika telah mampu menjadi pemimpin bagi istri-istrinya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->