1

BAB I PEDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Negara yang maju sangat ditunjang oleh sumberdaya manusia yang berkualitas, yang memiliki wawasan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa dan negara. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu tenaga kependidkan yang professional dan memiliki kemampuan yang prima dalam bidang pembelajaran. Disinilah peran guru dituntut untuk mampu menguasai materi pelajaran yang akan diajarkan dan trampil pula dalam menyajikannnya. Guru diharapkan dapat memilih dan menggunakan metode pembelajaran serta trampil dalam

menggunakan media pembelajaran sesuai dengan Kompetensi Dasar dan Indikator. Karena penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik untuk menarik minat anak maupun untuk mencegah Verbalisms. Sedangkan tujuan pembelajaran merupakan komponen yang sangat penting yang harus dicapai. Berbagai macam usaha telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh guru dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Pada era globalisasi kecenderungan masyarakat menggunakan teknologi informasi di segala bidang, mendorong tenaga pendidik untuk menguasai teknologi. Dengan menggunakan media pembelajaran teknologi informasi dapat memberikan

2

kemudahan belajar bagi siswa, dan mempelajari semua mata pelajaran dengan menggunakan Multimedia. Ditinjau dari segi perkembangan psikologis peserta didik, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (Sains) di kelas IX Sekolah Menengah Pertama, adalah masa dimana peserta didik menyerap dan menerima suatu konsep ilmu yang memerlukan cara penyampaian yang bisa mentransper ilmu pengetahuan dengan media yang mampu menghantarkan ilmu tersebut dengan baik. Salah satunya adalah dengan pembelajaran berbasis Multimedia. Dalam proses pembelajaran hal lain yang tak kalah pentingnya adalah motivasi prestasi. Karena dengan adanya motivasi prestasi dapat menumbuhkan semangat peserta didik untuk melaksanakan proses pembelajaran. Boleh jadi peserta didik yang mempunyai inteligensi yang tinggi mengalami kegagalan dalam belajar, hal ini bukan semata-mata karena kegagalan peserta didik saja, tetapi mungkin saja guru tidak berhasil dalam memotivasi peserta didiknya. Keadaan empiris SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kabupaten Tangerang memungkinkan untuk dilakukan secara menyeluruh proses pembelajaran multimedia ditambah dibangkitkannya motivasi prestasi diharapkan belajar siswa mengalami kemajuan dan peningkatan. Berdasarkan rekapitulasi empiris data nilai siswa kelas 9 di lapangan. Nilai rata-rata siswa kelas 9 semester ganjil tahun pelajaran 2010 /2011 adalah 60,59 dan di semester genap 68,92, di masa itu mulai dipergunakan media audio-visual dan penggunaan komputer terpadu dengan proyektor dengan program Pesona Edu prestasi

3

yang telah dicanangkan oleh Dinas Pendidikan Nasional. Dari hasil studi pendahuluan di SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kab. Tangerang, prestasi siswa pada mata pelajaran IPA cukup bervariasi. Ada siswa yang prestasi belajar dan motivasi tinggi ada, sedang dan rendah. Dengan demikian perlu diadakan suatu penelitian agar peningkatan prestasi dan kinerja baik guru maupun siswa dapat diketahui. . Berdasarkan fenomena di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Penelitian tersebut selanjutnya akan penulis tuangkan dalam sebuah proposal tesis yang berjudul : Pengaruh Pembelajaran Multimedia dan Molivasi Prestasi Terhadap Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas IX Di SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kab. Tangerang”.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana yang diuraikan di atas, dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1. Bagaimana pengaruh pembelajaran multimedia terhadap prestasi belajar siswa

kelas IX SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
2. Bagaimana pengaruh motivasi prestasi terhadap prestasi belajar siswa kelas

IX SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
3. Bagaimana pengaruh pembelajaran multimedia dan motivasi prestasi terhadap

prestasi belajar siswa kelas IX SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.

4

C. Tujuan Penelitian Secara oprasional penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui:
1. Pengaruh pembelajaran multimedia terhadap prestasi belajar siswa kelas IX

SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
2. Pengaruh motivasi prestasi terhadap prestasi belajar siswa kelas IX SMP

Negeri 2 Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
3. Pengaruh pembelajaran multimedia dan motivasi prestasi terhadap prestasi

belajar siswa kelas IX SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretik Secara teoretik penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan dalam pengembangan pembelajaran multimedia mata pelajaran IPA Sekolah Menengah Pertama dan motivasi prestasi siswa dalam upaya untuk meningkatkan prestasi belajar.

2. Manfaat Praktis Hasil penelitian memberikan masukan kepada guru mata pelajaran IPA di Sekolah Menengah Pertama dalam rangka meningkatkan prestasi belajar dengan memanfaatkan strategi pembelajaran multimedia dan memperhatikan motivasi prestasi siswa

5

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Teori Pembelajaran Multimedia. 1. Pengertian Pembelajaran Beberapa pengertian pembelajaran yang dijelaskan oleh pakar pendidikan diantarnya, Menurut Aqib. Z (2010: 41) pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan teori belajar ada 5 pengertian terkait proses pembelajaran :
a. Pengajaran adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peserta

didik / siswa di sekolah.
b. Pengajaran adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui

lembaga pendidikan sekolah.
c. Pembelajaran

adalah

upaya

mengorganisasi

lingkungan

untuk

menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.
d. Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi

warga masyarakat yang baik, dan
e. Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan

masyarakat sehari-hari.

6

Suatu sistem pembelajaran memiliki tiga ciri utama yaitu memiliki rencana khusus, kesalingketergantungan antara unsure – unsurnya, dan tujuan yang hendak dicapai. Marlina N (2011) dalam blogspotnya mengartikan bahwa Pembelajaran sebagai proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Jadi dalam pembelajaran yang utama adalah bagaimana siswa belajar. Belajar dalam pengertian aktifitas mental siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat relatif konstan. Dengan demikian aspek yang menjadi penting dalam aktifitas belajar adalah lingkungan. Bagaimana lingkungan ini diciptakan dengan menata unsurunsurnya sehingga dapat mengubah perilaku siswa. Warsito. B (2008:85) menyatakan dalam bukunya yang berjudul Tehnologi Pembelajaran, Pembelajaran ( instruction) adalah suatu usaha untuk membuat peserta didik belajar atau suatu kegiatan untuk membelajarkan peserta didik. Dengan kata lain pembelajaran merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. Sardiman, dkk (1996:7) dikutip oleh Warsito.B (2008:85) Dalam pengertian lain, pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik.

7

Miarso (2004:528) dikutip oleh Warsito.B (2008:85) Pembelajaran disebut juga kegiatan pembelajaran (instruksional) adalah usaha

mengelolah lingkungan dengan sengaja agar seseorang membentuk diri secara positif dengan kondisi tertentu. Warsito.B1 menyimpulkan bahwa kegiatan inti dari pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri peserta didik. Kegiatan pembelajaran tidak akan terjadi jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para peserta didiknya. Perkembangan teori pembalajaran ada tiga teori kegiatan pembelajaran, yaitu behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme. Prinsip dasar pembelajran behaviorisme antara lain : a. Menekankan pada pengaruh lingkungan terhadap perubahan prilaku. b. Menggunakan prinsip penguatan, yaitu untuk mengidentifikasi aspekpaling mengarahkan diperlukan kondisi dalam agar pembelajaran didik dan untuk

peserta

dapat

mencapai

peningkatan yang diharapkan dalam tujuan pembalajaran. c. Mengidentifikasi karakteristik peserta didik, untuk menetapkan pencapaian tujuan pembelajaran, d. Lebih menekankan pada hasil belajar dari proses pembelajaran.

1

Warsito. B. 2008: 85, 88. Tehnologi Pembelajaran. Jakarta. Renika Cipta

8

Teori kognitivisme merupakan refleksi dari teori behaviorisme yang telah didominasi oleh model pemrosesan informasi ( information – processing ) pada memori manusia., menurut teori kognitivisme antara lain : a. Pembelajaran merupakan suatu perubahan status pengetahuan. b. Peserta didik merupakan peserta aktif di dalam proses

pembelajaran. c. Menekankan pada pembentukan pola fikir peserta didik. d. Berpusat pada cara peserta didik mengingat, memperoleh kembali dan menyimpan informasi dalam ingatannya. e. Menekankan pada pengalaman belajar, dengan memandang pembelajaran sebagai proses aktif di dalam diri peserta didik. f. Menerapkan reward and punishment. Dan g. Hasil pembelajaran tidak hanya tergantung pada informasi yang disampaikan guru, tetapi juga pada cara peserta didik memproses informasi tersebut. Teori Konstruktivisme berkembang sejak tahun 1980, pembelajaran telah digambarkan sebagai konstruksi pengetahuan (knowledge contruction). Menurut teori ini tanggung jawab pembelajaran ditangan peserta didik. Sedangkan prinsip dasar pembelajaran konstruktivisme ini adalah : a. Membangun interpretasi peserta didik berdasarkan pengalaman

9

belajar. b. Menjadikan pembelajaran sebagai proses aktif dalam membangun pengetahuan tidak hanya sebagai proses komunikasi pengetahuan. c. Kegiatan pembelajaran bertujuan untuk memecahkan masalah (problem solving). d. Pembelajaran bertujuan pada proses pembelajaran itu sendiri, bukan pada hasil pembelajaran. e. Pembelajaran berpusat pada peserta didik , dan f. Mendorong peserta didik dalam mencapai tingkat berfikir (high order thinking)2

Dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 20, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. 3 Lima jenis interaksi yang berlangsung dalam proses belajar dan pembelajaran, yaitu 4 : 1. Interaksi peserta didik dengan pendidik. 2. Interaksi antara sesama peserta didik atau antar sejawat 3. Interaksi peserta didik dengan nara sumber 4. Interaksi peserta didik bersama pendidik dengan nara sumber 5. Interaksi peserta didik bersama pendidik dengan lingkungan sosial dan alam
2 3

Warsito. B. 2008: 88-90. Tehnologi Pembelajaran. Jakarta. Renika Cipta Depdiknas. 2003: 7. Undang-Undang No.20 Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta 4 Warsito. B. 2008: 85-86. Tehnologi Pembelajaran. Jakarta. Renika Cipta.

10

Interaksi di dalam

proses pembelajaran terdapat beberapa model.

Menurut Hanafi. N dan Suhana C (2010: 41) Model pembelajaran merupakan satu pendekatan dalam rangka mensiasati perubahan prilaku peserta didik secara adaptif maupun generative. Model-model pembelajaran tersebut antara lain : 1) Exalmples Non-Examples Langkah yang dilakukan dalam pembelajaran ini sebagai berikut :
a. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan

pembelajaran.
b. Guru menempelkan gambar di papan tulis, ditayangkan

melalui OHP atau infocus (Proyektor).
c. Guru memberikan petunjuk dan member kesempatan

kepada

peserta

didik

untuk

memperhatikan

dan

menganalisa gambar.
d. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik dan hasil

diskusi dari analisa gambar dicatat
e. Setiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil

diskusinya.
f.

Mulai dari komentar hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.

g. Kesimpulan..

2) Ficture and Ficture Langkah yang dilakukan dalam pembelajaran ini sebagai berikut :
a. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. b. Menyajikan materi sebagai pengantar. c. Guru memperlihatkan gambar-gambar dapat langsung

11

dipapan tulis ataupun dengan sarana media computer melalui proyektor tentang kegiatan berkaitan dengan materi.
d. Guru menunjukan atau memanggil peserta didik secara

bergantian memasang dan mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
e. Guru menanyakan alasan atau dasar pemikiran urutan

gambar tersebut.
f.

Dari

alasan

urutan konsep

gambar atau

tersebut, materi

guru

mulai dengan

menanamkan

seseuai

kompetensi yang ingin dicapai.
g. Kesimpulan / rangkuman.

3) Numbered Head Together (Kepala Bernomer) Langkah yang dilakukan dalam pembelajaran ini sebagai berikut : a. Peserta didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok mendapat nomor. b. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya. c. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastkan setiap anggota kelompok dapat

mengerjakannya atau mengetahui jawabannya. d. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama meteka. e. Tanggapan dari teman-teman yang lain, kemudian guru menunjuka nomor yang lain. f. Kesimpulan

12

4) Cooperative Script Langkah yang dilakukan dalam pembelajaran ini sebagai berikut : a. Guru membegi peserta didik untuk berpasangan. b. Guru membagikan wacana atau materi setiap peserta didik untuk dibaca dan membuat ringkasan. c. Guru dan peserta didik menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar. d. Pembicara membacakan ringkasan selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya \, sementara pendengar : i. Menyimak, mengoreksi, dan menunjukkangagasan pokok yang kurang lengkap. ii. Membantu menghafal ide-ide pokok dengan

menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya. e. Bertukar peran, yaitu pesan yang semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar, dan sebaliknya. f. Kesimpulan bersama-sama antara peserta didik dengan guru. g. Penutup.

5) Number Head from Modication (Kepala Bernomor Struktur) Langkah yang dilakukan dalam pembelajaran ini sebagai berikut : a. Peserta didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam kelompok dan mendapat nomor. b. Penugasan diberikan kepada setiap peserta didik

berdasarkan nomor satu bertugas mencatat soal, peserta nomor dua mengerjakan dan seterusnya.

13

c. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Peerta didik disuruh keluar dari kelompoknya dan

bergabung bersama beberapa peserta didik bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini, peserta didik dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka. d. Laporan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain e. Kesimpulan

6) Student Teams Achievement Divisions (STAD) Langkah yang dilakukan dalam pembelajaran ini sebagai berikut : a. Peserta didik diberikan tes awal dan diperoleh skor awal. b. Peserta didik dibagi ke dalam kelompok kecil 4 – 5 tahun secara heterogen menurut prestasi, jenis kelamin, ras atau suku. c. Peserta didik menyampaikan tujuan dan memotivasi peserta didik. d. Guru menyajikan bahan pelajaran dan peserta didik bekerja dalam tim. e. Guru membimbingkan kelompok peserta didik. f. Peserta didik diberi tes tentang mateeri yang telah diajarkan. g. Memberikan penghargaan.

7) Jigsaw (Model Tim Ahli) Langkah yang dilakukan dalam pembelajaran ini sebagai berikut : a. Peserta didik dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim. b. Setiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda. c. Setiap orang dalam tim diberi bagian materi yang

14

ditugaskan/ d. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian / sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka. e. Setelah selesai, diskusi sebagai tim ahli setiap anggota kembali kekelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan setiap anggota lainnya mendengarkannya. f. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. g. Guru member evaluasi. h. Penutup

8) Artikulasi Langkah yang dilakukan dalam pembelajaran ini sebagai berikut : a. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran. b. Guru menyajikan materi. c. Guru mengetahui daya serap peserta didik, dibentuk kelompok berpasangan dua orang. d. Guru meminta seorang peserta didik dari pasangan itu untuk menceritakan materi yang baru diterima, kemudian pasangannya mendengarkan sambil membuat catatancatatan kecil, setelah itu berganti peran, serta begitu juga kelompok lainnya. e. Guru meminta peserta didik secara bergiliran dan acak menyampaikan pasangannya. f. Guru mengulangi dan menjelaskan kembali materi yang belum dipahami peserta didik. g. Kesimpulan. hasil wawancaranya dengan teman

15

9) Mind Mapping Langkah yang dilakukan dalam pembelajaran ini sebagai berikut : a. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. b. Guru mengemukakan permasalahan yang akan ditanggapi peserta didik dan sebaliknya permasalahan yang

mempunyai alternatif jawaban. c. Membentuk kelompok yang anggotanya masing-masing 2 – 3 orang. d. Setiap kelompok menginvetarisasi dan mencatat alternatif jawaban hasil diskusi. e. Setiap kelompok atau secara acak kelompok tertentu membacaka sesuai kebutuhan guru. f. Dari data-data di papan, peserta didik diminta membuat kesimpulan atau guru member bandingan sesuai konsep yang disediahkan guru.

Dan masih banyak lagi model pembelajaran yang lain, dan tidak kalah pentingnya pendidik perlu memahami aplikasi teori pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran ini terutana berkaitan dengan5 : a. Bagaimana cara yang efektif untuk menstrafer ilmu b. Prinsip – prinsip pembelajaran yang menggairahkan, menantang dan
5

Warsito. B. 2008: 87. Tehnologi Pembelajaran. Jakarta. Renika Cipta

16

menyenangkan. c. Cara membangun minat dan perhatian (attention) dalam pembelajaran. d. Cara membangkitkan percaya diri (confidence) peserta didik dalam pembelajaran. e. Cara mengembangkan relevansi (relevance) dalam pembelajaran. f. Cara meningkatkan kepuasan (satisfaction) peserta didik dalam pembelajaran. g. Cara membuat laporan tentang analisis kebutuhan untuk pembelajaran.

2. Teori tentang Multimedia a) Media Pembelajaran Beberapa pengertian media belajar yang diajukan pakar pendidikan diantaranya, menurut Azhar Arsyad (2002:3) media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti „tengah‟, „perantara‟ atau

„pengantar‟. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gagne dan Briggs (1979: 179) berpendapat media pembelajaran adalah meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi atau materi pembelajaran berupa buku-buku, modul, slide/tape presentasi, film, vidio tape, komputer dan lain-lain. Media pembelajaran merupakan sarana atau alat yang digunakan terutama oleh guru untuk menyampaikan dan memudahkan pesan

17

pembelajaran agar mudah dipahami oleh siswa sebagai penerima pesan. Menurut Smaldino dkk. (2005:9) media adalah segala sesuatu yang dapat membawa informasi antara dari suatu suber ke penerima pesan. Pendapat ini menjelaskan bahwa informasi memerlukan penghubung karena pesan yang disampaikan tidak cukup hanya diutarakan dengan kata-kata atau lisan. Pendapat yang lain oleh Martin & Briggs sebagaimana dikutip Harjana (2005:10), media mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan siswa. Perangkat media pembelajaran wujudnya berupa perangkat keras, seperti komputer, televisi, proyektor, dan perangkat lunak yang digunakan pada perangkat keras tersebut. Ditambahkan juga menurut Purwanto (1994:15) bahwa media pembelajaran berfungsi sebagai sarana yang mampu menyampaikan pesan dan sekaligus mempermudah penerima pesan dalam memahami isi pesan. Dari beberapa pengertian pendapat di atas dapat disimpulkan :
a. Media adalah alat yang dapat membantu proses pembelajaran

yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan sempuma.
b. Media berperan sebagai perangsang dalam belajar dan dapat

menumbuhkan motivasi prestasi sehingga peserta didik tidak menjadi bosan meraih tujuan pembelajaran.
c. Segala sesuatu yang terdapat dilingkungan sekolah, baik berupa

18

manusia ataupun bukan setelah dirancang dan dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran maka lingkungan tersebut berstatus media sebagai alat perangsang pembelajaran. Arief S dan Sadiman, dkk (2010 :28) mengelompokkan media pembelajaran ke dalam tiga jenis, yakni sebagai berikut. a. Media Grafis, media grafis termasuk media visual. Dalam hal ini terbagi menjadi : 1) Gambar (Foto0 2) Sketsa 3) Diagram 4) Bagan / Chart 5) Grafik 6) Kartun 7) Poster 8) Papan Panel 9) Papan Buletin b. Media Audio, media yang berkaitan dengan indera pendengaran. Dalam hal ini terbagi menjadi : 1) Radio 2) Alat perekam pita magnetic 3) Laboratorium Bahasa c. Media Proyeksi Diam, media ini mempunyai persamaan dengan media grafik dalam arti menyajikan rangsangan visual tetapi media proyeksi diam dari media grafik diproyeksikan menggunakan proyektor. Misalnya : 1) Film Bingkai 2) Film Rangkai 3) Media Transparansi 4) Proyektor tak sembus pandang 5) Mikrofis 6) Film 7) Film Gelang 8) Televisi (TV) 9) Video 10) Permainan dan simulasi

19

Menurut Brets sebagaimana dikutip Zainal ( 2002:61) terdapat delapan klasifikasi media pembelajaran, yaitu; (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Media audio-motion-visual, Media audio-still-visual Media audio-semi motion, Media motion-visual, Media still-visual, Media semi-motion, Media audio, dan Media cetakan.

Leshin, Pollock dan Regeiluth sebagaimana dikutip Arsyad (2011:3637) mengelompokkan media ke dalam lima kelompok, yaitu; (1) Media berbasis manusia (guru, instruktur, tutor, main peran, kegiatan kelompok, field trip); (2) Media berbasis cetak (buku penuntun, buku latihan, alat kerja dan lembaran lepas); (3) Media berbasis visual buku, alat bantu kerja, bagan, grafik, peta, gambar, transparansi dan slide); (4) Media berbasis audiovisual (video, film, program slide-tape, televisi) dan (5) Media berbasis komputer (interakstif video, hyperteksi).

Selain media-media tersebut di atas, di lembaga pendidikan kehadiran perangkat komputer telah merupakan suatu hal yang harus dikondisikan dan disosialisasikan untuk menjawab tantangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sangat banyak pengguna jasa dibidang komputer yang diharapkan dapat membantu mereka, baik sebagai tutor dan tools dalam implementasi serta aplikasi bidang ilmu lain ataupun dalam pengembangan IPTEK itu sendiri. Hal ini dipertegas oleh Habibie

20

sebagaimana dikutip Baisoeti (1998),"kenyataan menunjukkan bahwa peran komputer akan menjadi keharusan yang tidak bisa ditawar, terutama dalam penataan kemampuan berpikir, bernalar, dan pengambilan keputusan dalam era persaingan yang sangat kompetitif." Kemp & Dayton yang dikutip oleh mengemukakan manfaat media pembelajaran, yaitu: 1) Penyampaian pembelajaran akan menjadi lebih baku; 2) Pembelajaran bisa lebih menarik; 3) Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan diterapkannya teori belajar dan prinsip-prinsip psikologis yang diterima dalam hal partisipasi siswa, umpan balik, dan penguatan; 4) Lama waktu pembelajaran yang diperlukan dapat dipersingkat karena kebanyakan media hanya memerlukan waktu singkat untuk mengantarkan pesan-pesan dan isi pelajaran dalam jumlah yang cukup banyak dan kemungkinannya dapat diserap oleh siswa; 5) Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan bilamana integrasi kata dan gambar sebagai media pembelajaran dapat Arsyad (2011: 21)

mengkomunikasikan elemen-elemen pengetahuan dengan cara yang terorganisasikan dengan baik, spesifik, dan baik; 6) Pembelajaran dapat diberika kapan dan dimana dinginkan atau diperlukan terutama jika media pembelajaran dirancang untuk penggunaan secara individu; 7) Sikap positif siswa terhadap apa yang mereka pelajari dan terhadap, proses belajar dapat ditingkatkan. 8) Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif; beban guru untuk penjelasan yang berulang-ulang mengenai isi pelajaran dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga ia dapat memusatkan

21

perhatian kepada aspek penting lain dalam proses belajar mengajar, misalnya sebagai konsultan atau penasihat siswa.

b) Pengertian Multimedia Menurut Ariyani. N dan Hariyanto.D (2010: 1), multimedia dapat diartikan sebagai alat untuk mendistribusikan dan mempresentasikan informasi. Jadi subyek multimedia adalah dipresentasikan kepada manusia. Arsyad (2011: 170) menyatakan meskipun difinisi multimedia belum jelas, secara sederhana ia diartikan lebih dari satu media dan dapat dikombinasi antara teks, grafik, animasi, suara, dan video. Didik Wira Samodra (2009) dalam klub guru online Jawa Tengah menyatakan bahwa “Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video dan animasi secara terintegrasi. Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu: multimedia linier dan multimedia interaktif”. Janiansyah (2009) melalui websetnya menerangkan bahwa Multimedia diambil dari kata multi dan media. Multi berarti banyak dan media berarti media atau perantara. Multimedia adalah gabungan dari beberapa unsur yaitu teks, grafik, suara, video dan animasi yang menghasilkan presentasi yang menakjubkan. Multimedia juga mempunyai komunikasi interaktif yang tinggi. Bagi pengguna komputer multimedia dapat diartikan sebagai informasi yang bisa

22

informasi komputer yang dapat disajikan melalui audio atau video, teks, grafik dan animasi.
Marlina N (2011) dalam blogspotnya dan Prima (2008) dalam websetnya.

Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video dan animasi secara terintegrasi. Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu: multimedia linier dan multimedia interaktif. 1) Multimedia linier adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia ini contohnya: TV dan film. 2) Multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Contoh multimedia interaktif adalah: berjalan sekuensial (berurutan),

multimedia pembelajaran interaktif, aplikasi game, dll

Perkembangan multimedia diawali dengan perkembangannya CD-ROM pada kurun waktu 1980-an, yang berisi music dan pangkalan data berupa

23

hiperteks

untuk keperluan penyimpanan dan penyebaran informasi6.

Perkembangan itu justru menguntungkan sekarang ini karena dengan munculnya berbagai fasilitas komputer semakin lengkaplah sarana untuk melengkapi proses pembelajaran di sekolah. Sehingga pembelajaran multimedia dapat dipergunakan secara efektif sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk mencapai standar pendidikan yang lebih baik.

3. Pembelajaran Multimedia 1) Pengaruh Multimedia dalam Pembelajaran Pengaruh Multimedia dalam pembelajaran menurut Mayer antara lain7 : a. Multi Bentuk Representasi Multimedia. Yang dimaksud bentuk representasi adalah perpaduan antara teks, gambar nyata, atau grafik .Berdasarkan hasil penelitian tentang pemanfaatan multi bentuk representasi, informasi / materi pengajaran melalui teks dapat diingat dengan baik jika disertai dengan gambar. Hal ini dijelaskan dengan Dual Coding Theory. Palvio. 1986. Dalam teori itu menjelaskan bahwa kognitif manusia terdiri dari dua sub sistem, sistem verbal dan sistem gambar (visual).

6 7

Munir, 2010. Kurikulum Berbasis Tehnologi Informasi dan Komunikasi . Bandung. ALFABETA. Ariyani. N dan Haryanto.D. 2010:13-16. Pembelajaran Multimedia di Sekolah. Jakarta. Prestasi Pusaka.

24

b. Animasi Menurut Reiber. 1994. Bagian penting lain pada multimedia adalah animasi. Animasi digunakan untuk menarik perhatian peserta didik jika digunakan secara tepat. c. Multi Saluran Sensorik Berbagai variasi pemaparan materi yang dapat digunakan untuk pembelajaran melalui berbagai saluran sensorik yang tersedia di media masa, sehingga bentuk-bentuk auditif dan visual dapat digunakan dengan multi saluran sensorik. d. Pembelajaran Non Linear Pembelajaran yang dimaksud adalah tidak hanya mengandalkan dari materi-materi para fasilitator / widyaiswara, tetapi peserta didik hendaknya menambah pengetahuan dan keterampilan dari berbagai sumber eksternal seperti nara sumber di lapangan, study literature dari berbagai perpustakaan, situs-situs internet dan sumber-sumber lain relevan, aktual dan mampu menunjang peningkatan dan dirinya. e. Interaktivitas Interaktivitas dapat diartikan sebagai tingkat interaksi dengan media pembelajaran yang digunakan yaitu multimedia. realisasi

25

Guru dapat menggunakan multimedia untuk senantiasa “explore” dengan memanfaatkan detil-detil di dalam multimedia untuk menunjang kegiatan pembelajaran.

Komputer yang dulu dikenal hanya sebatas pengolah kata (word processing) saja, saat ini telah bergeser dengan kemampuannnya dalam mengakses program pembelajaran apapun dalam multimedia. Berbagai penelitian menunjukkan kelebihan-kelebihan proses pembelajaran

menggunakan multimedia. Multimedia juga merupakan media pengajaran dan pembelajaran yang efektif dan efisien berdasarkan kemampuannya menyentuh berbagai panca indra: penglihatan, pendengaran, dan sentuhan, sebagaimana dikemukakan oleh Schade (Hoogen, 1995).8

2) Manfaat Pembelajaran Multimedia Manfaat pembelajaran multimedia9 secara umum yang dapat diperoleh adalah proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dan prises belajar mengajar dapat dilakukan di mana dan kapan saja, serta sikap belajar siswa dapat ditingkatkan. Manfaat di atas akan diperoleh

8

Munir. 2010. Kurikulum Berbasis Tehnologi Informasi dan Komunikasi . Bandung. ALFABETA. Samudra.D.W.2009. Pengertian Multimedia Pembelajaran. http://jatengklubguru.com

9

26

mengingat terdapat keunggulan dari sebuah pembelajaran multimedia, yaitu: a) Memperbesar ukuran benda yang nampak sangat kecil dan tidak tampak oleh mata, seperti kuman, bakteri, elektron dll. b) Memperkecil ukuran benda yang sangat besar yang tidak mungkin dihadirkan ke sekolah, seperti gajah, rumah, gunung, dll. c) Menyajikan benda atau peristiwa yang kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau lambat, seperti sistem tubuh manusia, bekerjanya suatu mesin, beredarnya planet Mars, berkembangnya bunga dll. d) Menyajikan benda atau peristiwa yang jauh, seperti bulan, bintang, salju, dll. e) Menyajikan benda atau peristiwa yang berbahaya, seperti letusan gunung berapi, harimau, racun, dll. f) Meningkatkan daya tarik dan perhatian siswa.

3) Karakteristik Pembelajaran Multimedia Menurut Haffost (Feldmans, 1994) dikutip oleh Munir. (2010:233). Multimedia didefinisikan sebagai suatu sistem komputer yang terdiri dari hardware dan software yang memberikan kemudahan untuk

menggabungkan

gambar, video, fotografi, grafik dan animasi dengan

suara, teks, dan data yang dikendalikan dengan program komputer.

27

Hasil penelitian Edward, Williams, dan Roderick mengungkap bahwa penggunaan multimedia pada kelompok eksperimen memberikan hasil yang lebih baik dengan tingkat signifikasi 0,5 dibanding kelompok control yang menggunakan media tradisional (buku teks) dalam proses pembelajaran yang diterapkan10. Sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran, pemilihan dan penggunaan multimedia pembelajaran harus memperhatikan karakteristik komponen lain, seperti: tujuan, materi, strategi dan juga evaluasi pembelajaran. Karakteristik pembelajaran multimedia adalah11: a. Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya

menggabungkan unsur audio dan visual. b. Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk mengakomodasi respon pengguna. c. Bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna bisa

menggunakan tanpa bimbingan orang lain.

10

Munir. 2010: 234. Kurikulum Berbasis Tehnologi Informasi dan Komunikasi . Bandung. ALFABETA. 11 Samudra.D.W.2009. Pengertian Multimedia Pembelajaran. http://jatengklubguru.com

28

4) Keistimewaaan Pembelajaran Multimedia dan Aspek Penilaiannya a. Keistimewaan Pembelajaran Multimedia. Pembelajaran multimedia mempunyai beberapa keistimewaan antara lain : i. ii. Proses interaksi dan memberikan kemudahan umpan balik. Kebebasan kepada pelajar dalam menentukan topic

pembelajaran. iii. Memudahkan pembelajaran. control yang sistematis dalam proses

b. Aspek Penilaian Pembelajaran Multimedia Menurut Wahono (2007) dikutip oleh Arini. N dan Haryanto.D (2010: 17-18). Penilaian pembelajaran multimedia dapat dirangkum

berdasarkan beberapa aspek antara lain : i. Aspek Rekayasa Perangkat Lunak Efektif dan efesien dalam pengembangan dan

penggunaannya. Reliable (handal) Maintainable (dapat dipelihara / dikelola dengan mudah) Usabilitas (mudah digunakan dan sederhana dalam pengoperasiannya) Ketepatan pemilihan jenis aplikasi / software / tool untuk pengembangan.

29

-

Kompatibilitas (dapat dijalankan diberbagai hardware dan software)

ii.

Pembelajarn yang terpadu dan mudah dalam ekskusi. Pembelajaran yang dapat di dokumentasi. Dapat dikembangkan dengan pembelajaran yang lain.

Aspek Desain Pembelajaran Kejelasan tujuan pembelajaran(rumusan, realistis). Relevansi tujuan pembelajaran dengan kurikulum. Cakupan dan kedalaman tujuan pembelajaran. Ketepatan penggunaan strategi pembelajaran. Dapat dikombinasikan dengan berbagai model pembelajaran. Interaktivitas. Pemberian motovasi belajar dan prestasi. Kontekstualitas dan aktualitas. Kelengkapan dan kualitas bahan bantuan belajar. Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran. Kedalaman materi. Kemudahan untuk dipahami. Sistematiks, runut, alur logika jelas. Kejelasan uraian, pemabahasan, contoh, simulasi, latihan. Konsistensi evaluasi dengan tujuan pembelajaran. Ketepatan dan ketetapan alat ukur evaluasi.

30

iii.

Pemberian umpan balik terhadap hasil evaluasi.

Aspek Komunikasi Visual Komunikatif, sesuai dengan pesan dan dapat diterima / sejalan dengan keinginan sasaran. Kreatif dalam ide berikut penuangan gagasan. Sederhana dan memikat. Audio (Narasi, sound effect, backsound, music) Development Visual ( layout design, typography, warna) Media bergerak (animasi, movie). Layout Interactive (ikon navigasi)

B. Motivasi Prestasi 1. Pengertian Motivasi Pendapat - pendapat para ahli tentang definisi motivasi diantaranya adalah: Zainal A (2002 : 50), Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk

mencapai tujuan. Menurut Mc.Donald yang dikutip oleh Sardiman (2011: 73), Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandari dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Moslow (1943. 1970) dikutip oleh Slameto (2010: 171) percaya bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan – kebutuhan

31

tertentu. Kebutuhan – kebutuhan ini ( yang memotivasi seseorang) dibagi dalam 7 katagori yakni : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Fisiologis Rasa aman Rasa cinta Penghargaan Aktualisasi diri Mengetahui, dan Mengerti

tingkah laku

Motivasi timbul dari dorongan di dalam diri dan dinyatakan dalam kebiasaan tujuan yang dapat dicapai dengan tingkah laku yang menyertainya. Motivasi adalah proses yang aktif dan berubah – ubah oleh pengalaman seseorang. Motivasi-motivasi itu berasal juga sedikit banyak dari potensipotensi warisan yang dimiliki oleh individu. Dapat disimpulkan bahwa motivasi sebagai suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan didahului dengan adanya tujuan, maka dalam motivasi terkandung tiga unsur penting yaitu:
a. Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri

setiap individu manusia, perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi dalam sistem "neurophysiologycal " yang ada pada organisms manusia.
b. Motivasi ditandai dengan muncuInya rasa 'felling", afeksi seseorang.

Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.

32

c. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan, Jadi motivasi dalam

hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi yakni tujuan

2. Teori Motivasi Prestasi Weiner (1985) seorang ahli psikologi dari Amerika Serikat

mengemukakan bahwa hal-hal yang menyebabkan kegagalan atau kesuksesan adalah : (1) usaha, (2) kemampuan. (3) orang lain, (4) emosi, (5) tingkat kesulitan tugas, dan (6) keberuntungan. Berkaitan dengan usaha dan

kemampuan. Bendura (1992) mengemukakan bahwa bila seseorang memiliki rasa yang kuat tentang kemampuan dirinya (self efficacy), maka akan mendesak usaha yang lebih besar untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menantang dari pada orang yang memiliki keraguan diri akan kemampuannya. Adanya perasaan mampu (untuk berprestasi) yang dimiliki oleh seseorang, akan memberikan kontribusi yang sangat besar pada aspek percaya diri, yaitu bahwa ia akan merasa yakin dengan kemampuannya untuk dapat mencapai suatu prestasi tertentu12. Mc.Clelland dikutip oleh Hamzah (2006: 47) menekankan pentingnya kebutuhan berprestasi, karena orang yang berhasil dalam bisnis dan industry adalah orang yang berhasil menyelesaikan segala sesuatu. Ia menandai motivasi utama, yaitu :

12

Sudiharto.http://www.google.co.id/search?sourceid=navclient&aq=0&oq=motivasi+pre&hl=id&ie= UTF-8&rlz=1T4GGLJ_en-GBID433ID435&q=motivasi+prestasi

33

1) Penggabungan 2) Kekuatan, dan 3) Prestasi Mc.Clelland mengklasifikasikan motivasi sebagai keragaman di antara orang dan kedudukan. Ia menandai sifat-sfat dasar orang awam berikut dengan kebutuhan pencapaian yang tinggi , yaitu : 1) Selera akan keadaan yang menyebabkan seseorang dapat bertanggung jawab secara pribadi. 2) Kecenderungan menentukan sasaran – sasaran yang pantas (sedang) dan memperhitungkan resikonya, 3) Keinginan untuk mendapatkan umpan balik yang jelas atas kinerja. Menurut Mc Clelland, seseorang dianggap memiliki motivasi untuk berprestasi jika ia mempunyai keinginan untuk melakukan suatu karya berprestasi lebih baik dari prestasi karya orang lain. Ada tiga jenis kebutuhan manusia menurut Mc Clelland, yaitu kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk kekuasaan, dan kebutuhan untuk berafiliasi.13 1). Kebutuhan akan Prestasi (n-ACH) Kebutuhan akan prestasi merupakan dorongan untuk mengungguli, berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar, bergulat untuk sukses.

13

Rian.Rn. 2011. http://rnrian.blogspot.com/2011/04/teori-motivasi-berprestasi-david-mc.html

34

Kebutuhan ini pada hirarki Maslow terletak antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Ciri-ciri inidividu yang menunjukkan orientasi tinggi antara lain bersedia menerima resiko yang relatif tinggi, keinginan untuk mendapatkan umpan balik tentang hasil kerja mereka, keinginan mendapatkan tanggung jawab pemecahan masalah. n-ACH adalah motivasi untuk berprestasi , karena itu karyawan akan berusaha mencapai prestasi tertingginya, pencapaian tujuan tersebut bersifat realistis tetapi menantang, dan kemajuan dalam pekerjaan. Karyawan perlu mendapat umpan balik dari lingkungannya sebagai bentuk pengakuan terhadap prestasinya tersebut. 2). Kebutuhan akan Kekuasaan (n-POW) Kebutuhan akan kekuasaan adalah kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku dalam suatu cara dimana orang-orang itu tanpa dipaksa tidak akan berperilaku demikian atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk mengendalikan dan mempengaruhi orang lain. Kebutuhan ini pada teori Maslow terletak antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. McClelland menyatakan bahwa kebutuhan akan kekuasaan sangat berhubungan dengan kebutuhan untuk mencapai suatu posisi kepemimpinan. n-pow adalah motivasi terhadap kekuasaan. Karyawan memiliki motivasi untuk berpengaruh terhadap lingkungannya, memiliki karakter kuat untuk

35

memimpin dan memiliki ide-ide untuk menang. Ada juga motivasi untuk peningkatan status dan prestise pribadi. 3). Kebutuhan untuk Berafiliasi atau Bersahabat (n-AFI) Kebutuhan akan Afiliasi adalah hasrat untuk berhubungan antar pribadi yang ramah dan akrab. Individu merefleksikan keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak lain. Individu yang mempunyai kebutuhan afiliasi yang tinggi umumnya berhasil dalam pekerjaan yang memerlukan interaksi sosial yang tinggi. Mc Clelland mengatakan bahwa kebanyakan orang memiliki kombinasi karakteristik tersebut, akibatnya akan mempengaruhi perilaku karyawan dalam bekerja atau mengelola organisasi. Karakteristik dan sikap motivasi prestasi menurut McClelland antara lain: a) Pencapaian adalah lebih penting daripada materi. b) Mencapai tujuan atau tugas memberikan kepuasan pribadi yang lebih besar daripada menerima pujian atau pengakuan. c) Umpan balik sangat penting, karena merupakan ukuran sukses (umpan balik yang diandalkan, kuantitatif dan faktual).

Untuk meraih sukses, motivasi berprestasi sangat diperlukan. Dengan pengertian lain, motivasi berprestasi adalah memiliki keinginan untuk menjadi terbaik. Tanpa keinginan menjadi yang terbaik, akan menyebabkan

36

seseorang melakukan sesuatu asal-asalan atau asal jadi. Bekerja asal bekerja, berbisnis asal berbisnis, dan belajar asal belajar Bahkan, manusia teragung spanjang jaman pun, Nabi Muhammad saw, bersabda 14:

Jika ada sesuatu yang berkaitan dengan urusan dunia, maka kalian lebih tahu tentangnya, sebaliknya jika berkaitan dengan urusan agama, maka kembalilah kepadaku. (HR Ahmad. No 12086)

Donald dikutip oleh Sumanto,W (1998: 203) menjelaskan motivasi merupakan bagian dari belajar. Dari pengertian motivasi tersebut tampak tiga hal, yaitu: 1) Motivasi dimulai dengan suatu perubahan tenaga dalam diri seseorang, 2) Motivasi itu ditandai oleh dorongan afektif yang kadang tampak dan kadang sulit diamati, 3) Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Siswa akan berusaha sekuat tenaga apabila dia memiliki motivasi yang besar untuk mencapai tujuan belajar. Siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh tanpa dipaksa, bila memiliki motivasi yang besar; yang dengan demikian diharapkan akan mencapai prestasi yang tinggi. Adanya motivasi berprestasi yang tinggi dalam diri siswa merupakan syarat agar siswa terdorong oleh

14

http://www.motivasi-islami.com/motivasi-berprestasi

37

kemauannya sendiri untuk mengatasi berbagai kesulitan belajar yang dihadapinya, dan lebih lanjut siswa akan sanggup untuk belajar sendiri15. Iswinarti (1999:43) dalam hasil penelitiannya menyatakan bahwa ada pengaruh antara tingkat stress, inteligensi, terhadap motivasi berprestasi. Mengingat tingkat stress dan intelegensi mempunyai sumbangan yang cukup besar maka pihak sekolah dapat menjadikan variabel stress dan intelegensi sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan. Misalnya dalam menempatkan siswa ke kelas-kelas tertentu tidak hanya berdasarkan prestasi belajar tetapi juga intelegensi siswa. Agar siswa dapat berprestasi optimal maka anak yang mempunyai tingkat stress tinggi dapat memperoleh perhatian dalam mengadakan koping terhadap stressnya. Pernyataan diatas kemudian didukung oleh hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Ulya (2002:37-38) bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar matematika dengan mengendalikan inteligensi (r = 341; p = 05). Artinya semakin tinggi motivasi berprestasi maka semakin tinggi prestasi belajar matematika. Sebaliknya, semakin rendah motivasi berprestasi maka semakin rendah pula prestasi belajar matematika dengan mengendalikan faktor inteligensi16 .

15 16

Hardjo S dan Badjuri. http://lppm.ut.ac.id/htmpublikasi/12srihardjo.htm http://psychologyclub.web.id/motivasi-berprestasi-pada-para-wiraswastawan

38

3. Macam – Macam Teori yang berkenaan dengan Motivasi Prestasi

1) Teori Harapan Teori Harapan didasarkan pada keyakinan bahwa orang dipengaruhi oleh perasaan mereka tentang gambaran hasil tindakan mereka.Contohnya orang menginginkan kenaikan pangkat akan menunjukkan kinerja yang baik kalau mereka menganggap kinerja yang tinggi diakui dan dihargai dengan kenaikan pangkat. Vroom dikutip oleh Hamzah (2006: 48) mengembangkan sebuah teori yang didasarkan pada apa yang digambarkan sebagai kemampuan bersenyawa (valance) , alat perantara (instrumentality), dan harapan (expectancy). Kemampuan bersenyawa adalah pilihan lebih baik sesorang akan tercapainya hasil tertentu. Teori Vroom dikembangkan lebih jauh oleh Porter dan Lawler. Mereka menunjukkan kenaikan upaya tidak perlu menyebabkan kinerja yang lebih tinggi, karena terdapat sejumlah variabel yang diperhitungkan dapat diuraikan antara lain : a. b. c. d. e. f. Adanya nilai imbalan sepadan dengan kinerja Harapan hasil dari tindakan tertentu. Upaya yang dikerahkan, Kemampuan, perangai dan keahlian. Peran serta dalam organisasi dan prilaku yang layak, Perasaan tentang imbalan adil sesuai upaya.

2) Teori Keadilan Teori yang menonjolkan kenyataan bahwa motivasi seseorang mungkin

39

dipengaruhi oleh perasaan seberapa baikkah mereka diperlakukan di dalam organisasi yang dibandingkan dengan orang lain. 3) Teori Sasaran Teori ini didasarkan pada kepercayaan bahwa sasaran orang ditentukan oleh cara mereka berprilaku dalam pekerjaan dan jumlah upaya yang mereka gunakan. 4) Teori Perlambang Teori ini menggambarkan motivasi yang tergantung dari factor internal, seperti atribut pribadi seseorang dan factor eksternal yang berupa kebijakan organisasi, derajat kesulitan pekerjaan yang ditangani, dan sebagainya.

Dengan memiliki motivasi berprestasi maka akan muncul kesadaran bahwa dorongan untuk selalu mencapai kesuksesan (perilaku produktif dan selalu memperhatikan kualitas) dapat menjadi sikap dan perilaku permanen pada diri individu. Motivasi berprestasi akan dapat mendobrak building block ketahanan individu dalam menghadapi tantangan hidup sehingga mencapai kesuksesan17. Dapat penulis simpulkan bahwa motivasi prestasi merupakan dorongan seseorang untuk berprestasi sehingga mencapai pekerjaan / prestasi yang maksimal dan ingin mendapatkan predikat, peringkat, imbalan, hadiah atau
17

Sudiharto.http://www.google.co.id/search?sourceid=navclient&aq=0&oq=motivasi+pre&hl=id&ie= UTF-8&rlz=1T4GGLJ_en-GBID433ID435&q=motivasi+prestasi

40

kesemuanya yang sesuai dengan hasil upayanya. Sehingga variabel motivasi berprestasi antara lain : Faktor Eksternal a. Nasehat atau saran yang membangun b. Predikat yang akan didapatkan c. Sasaran yang akan dicapai d. Imbalan atau hadiah yang akan diperoleh. e. Tantangan yang akan didapatkan Faktor Internal a. Upaya yang dikerjakan/Ketekunan. b. Semangat untuk berprestasi c. Prilaku yang layak d. Intelegensi yang dimiliki e. Kendali emosional diri

C. Prestasi Belajar 1. Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua, kata yaitu "prestasi" dan "belajar", mempunyai arti kata yang berbeda. Untuk lebih jelasnya penulis akan menguraikan makna dari kedua kata tersebut. Menurut Dessy A (2005: 263), Prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya.

41

Tardif et al (1989) yang dikutip oleh Muhibbin S (2010: 197) Evaluasi merupakan proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Jadi prestasi itu

dihasilkan dari tes atau evaluasi sehingga mendapatkan penilaian sehingga capain prestasi yang baik, sedang ataupun buruk diterima oleh seorang siswa dari gurunya. Dari pengertian itu dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil dari kegiatan seseorang atau kelompok yang telah dikerjakan, diciptakan dan menyenangkan dan juga menyedihkan hati yang diperoleh dengan sesuai upayanya. Kemudian pengertian belajar, ada beberapa pendapat diantaranya : 1. Slameto (2010:2) belajar adalah" suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. 2. Muhibbin. S (2010: 64) menambahkan bahwa belajar adalah sematamata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. 3. Skinner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dikutip ulang Muhibbin. S (2010: 64) berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. 4. Chaplin (1972), dalam Dictinary of Psychology hasil kutipan

42

Muhibbin. S (2010:65) menjelaskan bahwa belajar adalah proses memperoleh respon – respon sebagai akibat adanya latihan khusus. 5. Hintzman (1978) dari kutipan Muhibbin S dinyatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. 6. Sardiman (2011: 20) belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas bahwa belajar merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar dan rutin pada seseorang sehingga akan mengalami perubahan secara individu baik pengetahuan, ketrampilan, sikap dan tingkah laku yang dihasilkan dari proses latihan dan pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Poerwanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport. Sedangkan menurut S. Nasution

(1996:17) prestasi belajar adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat . Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, affektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum

43

mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.” Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami

proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa. Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Maka prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah

melaksanakan usaha-usaha belajar. Sedangkan menurut Arif Gunarso (1993 : 77) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar18. Prestasi belajar merupakan suatu kemajuan dalam perkembangan siswa setelah ia mengikuti kegiatan belajar dalam waktu tertentu. Seluruh pengetahuan, ketrampilan, kecakapan dan prilaku individu terbentuk dan

18

Nuraini.D.2009. http://devinurani0909.wordpress.com/2011/07/14/prestasi-belajar-belajar-untukberprestasi/

44

berkembang melalui belajar. Menurut Arifin.Z (2009:12-13). Prestasi belajar merupakan suatu masalah yang bersifat perential dalam sejarah kehidupan manusia, karena sepanjang rentang kemampuan masing-masing. Prestasi belajar (achievement) semakin terasa penting untuk dibahas, karena mempunyai beberapa fungsi utama, antara lain : 1. Prestasi belajar sebagai indicator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai peserta didik. 2. Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Para ahli psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai “tendensi keinginantahuan (couriosity) dan merupakan kebutuhan umum manusia”. 3. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan. Asumsinya adalah prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi peserta didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berperan sebagai umpan balik (feedback) dalam meningkatkan mutu pendidikan. Asumsinya adalah kurikulum yang digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan anak didik. Indikator ekstern dalam arti tinggi rendahnya prestasi belajar dapat dijadikan indicator tingkat kesuksesan peserta didik di masyarakat. 4. Prestasi belajar dapat dijadikan indicator daya serap (kecerdasan) peserta didik. Dalam proses pembelajaran, peserta didik menjadi focus utama yang harus diperhatikan, karena peserta didiklah yang diharapkan dapat

45

menyerap seluruh materi pelajaran.

Jadi prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, umumnya prestasi belajar dalam sekolah berbentuk pemberian nilai (angka) dari guru kepada siswa sebagai indikasi sejauhmana siswa telah menguasai materi pelajaran yang disampaikan, biasanya nilai dinyatakan dalam angka, huruf atau kalimat dan terdapat dalam periode tertentu.

2. Indikator Prestasi Belajar Menururt Muhibbin Syah (2010:216) “kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui garis – garis besar indikator (petunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan prestasi yang hendak diungkapkan atau diakui ". Indikator prestasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Tabel 1. Jenis, Indikator dan Cara Evaluasi Prestasi19 Ranah / Jenis Prestasi A. Ranah Cipta (Kognitif) 1. Pengamatan. Indikator Cara Evaluasi

1. Dapat menunjukkan 2. Dapat membandingkan 3. Dapat menghubungkan

1. Tes lisan 2. Tes tertulis 3. Obeservasi

19

Muhibbin.S. (2010:217-218). Psikologi Belajar. Jakarta. GrafindoPersada

46

Ranah / Jenis Prestasi

Indikator

Cara Evaluasi

2. Ingatan

1. Dapat menyebutkan 1. Tes lisan 2. Dapat menunjukkan 2. Tes tertulis kembali 3. Obeservasi
1. Dapat menjelaskan 1. Tes lisan 2. Dapat mendefinisikan 2. Tes tertulis

3. Pemahaman

dengan lisan sendiri 4. Aplikasi/Penerapan 1. Dapat memberikan contoh. 2. Dapat menggunakan secara tepat 1. Tes tertulis 2. Pemberian tugas 3. Obeservasi

5. Analisis (Pemeriksaan dan 1. Dapat menguraikan penilaian secara 2. Dapat mengklasifikasikan teliti) / memilah-milah 6. Sintesis 1. Dapat menghubungkan (Membuat paduan materi-materi, sehingga baru dan utuh) menjadi kesatuan baru. 2. Dapat menyimpulkan 3. Dapat menggeneralisasikan (membuat prinsip umum) B. Ranah Rasa (Afektif) 1. Penerimaan 1. Menunjukkan menerima 2. Menunjukkan menolak sikap sikap

1. Tes tertulis 2. Pemberian tugas

1. Tes tertulis 2. Pemberian tugas

1. Tes tertulis 2. Tes skala sikap 3. Obeservasi

2. Sambutan

1. Kesediaan berpartisipasi / terlibat 2. Kesediaan memanfaatkan. (Sikap 1. Menganggap penting dan bermanfaat. 2. Menganggap indah dan

1. Tes skala sikap. 2. Pemberian tugas

3. Apresiasi Menghargai)

1. Tes skala penilaian sikap. 2. Pemberian tugas

47

Ranah / Jenis Prestasi

Indikator harmonis. 3. Mengagumi

Cara Evaluasi 3. Obeservasi

4. Internalisasi (Pendalaman)

1. Mengakui dan menyakini 2. Mengingkari

1. Tes skala sikap. 2. Pemberian tugas ekspresif (yang menyatakan sikap) dan tugas proyektif (yang menyatakan perkiraan atau ramalan) 1. Pemberian tugas ekspresif dan proyektif 2. Obeservasi

5. Karakterisasi (penghayatan)

1. Melembagakan meniadakan 2. Menjelmakan pribadai dan sehari-hari.

atau dalam prilaku

C. Ranah Karsa. (psikomotor) 1. Keterampilan bergerak Kecakapan mengkoordinasi- 1. Obeservasi dan bertindak kan gerak mata, tangan, kaki 2. Tes tindakan dan anggota tubuh lainnya. 2. Kecakapan ekpresi 1. Kelebihan melafalkan/ 1. Tes lisan verbal dan non verbal mengucapkan 2. Obeservasi 2. Kecakapan membuat 3. Tes tindakan mimic dan gerakan jasmani

Prestasi belajar siswa merupakan hasil yang dicapai oleh siswa selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, untuk itu dalam kegiatan pembelajaran / kegiatan belajar mengajar ada berapa factor yang terkait proses pembelajaran atau belajar mengajar seperti yang dikutip

48

Arikunto. S (2009:114) terhadap pendapat Scriven (1967) antara lain : 1. Tujuan Kurikulum dengan bahan pelajaran 2. Bahan pelajaran dengan alat-alat evaluasi 3. Tujuan Kurikulum dengan alat-alat evaluasi

Tujuan kurikulum yang dimaksud adalah tujuan yang dapat diukur. Ebel (1963) berpendapat jika hasil pendidikan merupakan sesuatu yang penting tetapi tidak dapat diukur, maka tujuan itu harus diubah . Jika tujuan telah dirumuskan secara operasional maka hasilnya akan dapat diukur. Suatu tanda bahwa seseorang telah mencapai tujuannya akan terlihat pada perubahan tingkah lakunya20. Tujuan tersebut identik dengan indicator prestasi belajar yang merupakan bagian dari bahasan sub bab diatas. Tujuan atau indicator prestasi belajar yang dimaksud adalah berhasilnya pendidikan dalam bentuk tingkah laku. Hal ini yang dimaksud dengan taksonomi. Ada tiga macam tingkah laku yang dimaksud, antara lain: 1. Kognitif 2. Afektif 3. Psikomotor Landsheere. V.D dikutip oleh Arikunto S. (2009:115) berpendapat bahwa ada 3 tujuan umum dalam pembelajaran atau belajar mengajar (termasuk taksonomi) yakni :
20

Arikunto.S 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara

49

1. Tujuan akhir atau tujuan umum pendidikan 2. Taksonomi. 3. Tujuan yang operasional. Bloom dan Krathwohl berbendapat ada prinsip-prinsip dasar yang

dirangkum dalam pembelajaran ada 4 buah21 : 1. Prinsip Metodologis Perbedaan yang besar telah merefleksikan cara guru dalam mengajar. 2. Prinsip Psikologis Taksonomi hendaknya konsisten dengan fenomena kejiwaan yang ada sekarang. 3. Prinsip Logis Taksonomi hendaknya dikembangkan secara logis dan konsisten. 4. Prinsip Tujuan Tingkatan-tingkatan tujuan tidak selaras dengan tingkatan-tingkatan nilai-nilai. Tiap-tiap jenis tujuan pendidikan hendaknya

menggambarkan corak yang netral. Semula Taksonomi Bloom (1956) dikutip oleh Arikunto. S (2009: 116) terdiri dari dua macam yakni kognitif domain dan afektif domain selanjutnya oleh Simpson (1966) mengembangkan dua domain menjadi tiga domain , yakni dengan bertambahnya psikomotor domain.

21

Arikunto.S 2009:116. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara

50

3. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan hasil dari suatu proses yang di dalamnya terdapat sejumlah faktor yang saling mempengaruhi, tinggi rendahnya prestasi belajar siswa tergantung pada faktor faktor tersebut. M. Alisuf Sabri (1998: 59), mengenai belajar ada bebrapa faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa disekolah, secara garis besarnya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a. Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa) yaitu meliputi kondisi

keadaan jasmani (fisiologis) dan rohani (psychologis) siswa. b. Faktor Ekternal (faktor dari luar siswa) yaitu kondisi lingkungan disekitar siswa baik sosial atau non sosial dan faktor instrumental.

Sedangkan

menurut

Muhibbin

Syah

(2002:

139),

faktor

yang

mempengaruhi hasil belajar siswa di adakan menjadi tiga macam:
a. Faktor dari dalam (internal) yaitu keadaan /kondisi jasmani dan rohani

siswa.
b. Faktor dari luar (Ekternal) yaitu kondisi lingkungan disekitar siswa. c. Faktor pendekatan belajar, yaitu jenis upaya yang dilakukan baik guru

maupun siswa yang meliputi strategi, metode atau penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran tersebut .

Pendapat diatas diperjelas oleh Senjaya.A dalam blogspotnya tentang factor – factor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain : 1. Faktor dari dalam diri siswa (intern) Sehubungan dengan faktor intern ini ada tingkat yang perlu dibahas menurut Slameto (1995 : 54) yaitu faktor jasmani, faktor psikologi dan faktor kelelahan.

51

a. Faktor Jasmani

Dalam faktor jasmaniah ini dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor kesehatan dan faktor cacat 1) Faktor kesehatan Faktor kesehatan sangat berpengaruh terhadap proses belajar siswa, jika kesehatan seseorang terganggu atau cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk, jika keadaan badannya lemah dan kurang darah ataupun ada gangguan kelainan alat inderanya. 2) Cacat tubuh Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurnanya mengenai tubuh atau badan. Cacat ini berupa buta, setengah buta, tulis, patah kaki, patah tangan, lumpuh, dan lain-lain (Slameto, 2003 : 55).
b. Faktor psikologi

Dapat berupa intelegensi, perhatian, bakat, minat, motivasi, kematangan, kesiapan.

1) Intelegensi Slameto (2003: 56) mengemukakan bahwa intelegensi atau kecakapan terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru

52

dan cepat efektif mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan

mempelajarinya dengan cepat. 2) Perhatian Menurut al-Ghazali dalam Slameto (2003 : 56) bahwa perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa itupun bertujuan semata-mata kepada suatu benda atau hal atau sekumpulan obyek.Untuk menjamin belajar yang lebih baik maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. Jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa belajar dengan baik, usahakan buku pelajaran itu sesuai dengan hobi dan bakatnya. 3) Bakat Menurut Hilgard dalam Slameto (2003 : 57) bahwa bakat adalah the capacity to learn. Dengan kata lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi pencapaian kecakapan yang nyata sesudah belajar atau terlatih. Kemudian menurut Muhibbin (2003 : 136) bahwa bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.

53

4) Minat Menurut Jersild dan Taisch dalam Nurkencana (1996 : 214) bahwa minat adalah menyakut aktivitas-aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu. Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar siswa, siswa yang gemar membaca akan dapat memperoleh berbagai pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, wawasan akan bertambah luas sehingga akan sangat mempengaruhi peningkatan atau pencapaian prestasi belajar siswa yang seoptimal mungkin karena siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu pelajaran akan mempelajari dengan sungguh-sungguh karena ada daya tarik baginya. 5) Motivasi Menurut Slameto (2003 : 58) bahwa motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai dalam belajar, di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motivasi itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya. 6) Kematangan Menurut Slameto (2003 : 58) bahwa kematangan adalah sesuatu tingkah atau fase dalam pertumbuhan seseorang di mana alat-alat tubuhnya sudah siap melaksanakan kecakapan

54

baru.Berdasarkan pendapat di atas, maka kematangan adalah suatu organ atau alat tubuhnya dikatakan sudah matang apabila dalam diri makhluk telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya masing-masing kematang itu datang atau tiba waktunya dengan sendirinya, sehingga dalam belajarnya akan lebih berhasil jika anak itu sudah siap atau matang untuk mengikuti proses belajar mengajar. 7) Kesiapan Kesiapan menurut James Drever seperti yang dikutip oleh Slameto (2003 : 59) adalah preparedes to respon or react, artinya kesediaan untuk memberikan respon atau reaksi.
c. Faktor kelelahan

Ada beberapa faktor kelelahan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Sebagaimana dikemukakan oleh Slameto (1995:59) sebagai berikut: “Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecendrungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena ada substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah kurang lancar pada bagian tertentu. Sedangkan kelelahan rohani dapat terus menerus karena

55

memikirkan masalah yang berarti tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu karena terpaksa, tidak sesuai dengan minat dan perhatian”. Dari uraian di atas maka kelelahan jasmani dan rohani dapat mempengaruhi prestasi belajar dan agar siswa belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya seperti lemah lunglainya tubuh. Sehingga perlu diusahakan kondisi yang bebas dari kelelahan rohani seperti memikirkan masalah yang berarti tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu karena terpaksa tidak sesuai dengan minat dan perhatian. Ini semua besar sekali pengaruhnya terhadap pencapaian prestasi belajar siswa. Agar siswa selaku pelajar dengan baik harus tidak terjadi kelelahan fisik dan psikis.

2.

Faktor yang berasal dari luar (faktor ekstern) Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap prestasi belajar dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu faktor keluarga,

faktor sekolah dan faktor masyarakat (Slameto, 1995 : 60) a. Faktor Keluarga. 1) Cara orang tua mendidik Cara orang tua mendidik besar sekali pengaruhnya terhadap prestasi belajar anak, hal ini dipertegas oleh Wirowidjojo dalam Slameto (2003 : 60) mengemukakan bahwa keluarga

56

adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk mendidik dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan mutu pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa dan negara. Dari pendapat di atas dapat dipahami betapa pentingnya peranan keluarga di dalam pendidikan anaknya. Cara orang mendidik anaknya akan berpengaruh terhadap belajarnya. 2) Relasi antar anggota keluarga Menurut Slameto (2003 : 60) bahwa yang penting dalam keluarga adalah relasi orang tua dan anaknya. Selain itu juga relasi anak dengan saudaranya atau dengan keluarga yang lain turut mempengaruhi belajar anak. Wujud dari relasi adalah apakah ada kasih sayang atau kebencian, sikap terlalu keras atau sikap acuh tak acuh, dan sebagainya.

3) Keadaan keluarga Menurut Hamalik (2002 : 160) mengemukakan bahwa keadaan keluarga sangat mempengaruhi prestasi

belajar anak karena dipengaruhi oleh beberapa faktor dari keluarga yang dapat menimbulkan perbedaan individu seperti kultur keluarga, pendidikan orang tua, tingkat ekonomi,

57

hubungan antara orang tua, sikap keluarga terhadap masalah sosial dan realitas kehidupan. Berdasarkan pendapat di atas bahwa keadaan keluarga dapa mempengaruhi prestasi belajar anak sehingga faktor inilah yang memberikan pengalaman kepada anak untuk dapat menimbulkan prestasi, minat, sikap dan pemahamannya sehingga proses belajar yang dicapai oleh anak itu dapat dipengaruhi oleh orang tua yang tidak berpendidikan atau kurang ilmu pengetahuannya.

4) Pengertian orang tua Menurut Slameto (2003 : 64) bahwa anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas rumah. Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya sedapat mungkin untuk mengatasi kesulitan yang dialaminya.

5) Keadaan ekonomi keluarga Menurut Slameto (2003 : 63) bahwa keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajar selain terpenuhi kebutuhan pokoknya,

58

misalnya makanan, pakaian, perlindungan kesehatan, dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, dan sebagainya.

6) Latar belakang kebudayaan Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar (Roestiyah, 1989: 156). Oleh karena itu perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan baik, agar mendorong tercapainya hasil belajar yang optimal.

7) Suasana rumah Suasana rumah sangat mempengaruhi prestasi belajar, hal ini sesuai dengan pendapat Slameto (2003 : 63) yang mengemukakan bahwa suasana rumah merupakan situasi atau kejadian yang sering terjadi di dalam keluarga di mana anak-anak berada dan belajar. Suasana rumah yang gaduh, bising dan semwarut tidak akan memberikan ketenangan terhadap diri anak untuk belajar. Suasana ini dapat terjadi pada keluarga yang besar terlalu banyak penghuninya. Suasana yang tegang, ribut dan sering

59

terjadi cekcok, pertengkaran antara anggota keluarga yang lain yang menyebabkan anak bosan tinggal di rumah, suka keluar rumah yang akibatnya belajarnya kacau serta prestasinya rendah.

b.

Faktor sekolah Faktor sekolah dapat berupa cara guru mengajar, ala-alat pelajaran, kurikulum, waktu sekolah, interaksi guru dan murid, disiplin sekolah, dan media pendidikan, yaitu :
1)

Guru dan cara mengajar Menurut Purwanto (2004 : 104) faktor guru dan cara mengajarnya merupakan faktor penting, bagaimana sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang

dimiliki oleh guru, dan bagaimana cara guru itu mengajarkan pengetahuan itu kepada anak-anak didiknya turut

menentukan hasil belajar yang akan dicapai oleh siswa. Sedangkan menurut Nana Sudjana dalam Djamarah (2006 : 39) mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses , yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar.

60

Dalam kegiatan belajar, guru berperan sebagai pembimbing. Dalam perannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menhidupkan dan memberikan motivasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Dengan demikian cara

mengajar guru harus efektif dan dimengerti oleh anak didiknya, baik dalam menggunakan model, tehnik ataupun metode dalam mengajar yang akan disampaikan kepada anak didiknya dalam proses belajar mengajar dan disesuaikan dengan konsep yang diajarkan berdasarkan kebutuhan siswa dalam proses belajar mengajar
2)

Model pembelajaran Model atau metode pembelajaran sangat penting dan

berpengaruh sekali terhadap prestasi belajar siswa,terutama pada pelajaran matematika. Dalam hal ini model atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru tidak hanya terpaku pada satu model pembelajaran saja, akan tetapi harus bervariasi yang disesuaikan dengan konsep yang diajarkan dan sesuai dengan kebutuhan siswa, terutama

pada guru matematika. Dimana guru matematika harus bisa menilih dan menentukan metode pembelajaran yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran. Adapun modelmodel pembelajaran itu, misalnya : model pembelajaran

61

kooperatif, pembelajaran kontekstual, realistik matematika problem solving dan lain sebagainya. Dalam hal ini, model yang diterapkan adalah model kooperatif tipe STAD, dimana model atau metode ini berpengaruh terhadap proses belajar siswa dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa
3)

Alat-alat pelajaran Untuk dapat hasil yang sempurna dalam belajar, alat-alat belajar adalah suatu hal yang tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, misalnya

perpustakaan, laboratorium, dan sebagaianya. Menurut Purwanto (2004 : 105) menjelaskan bahwa sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang

diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu, akan mempermudah dan

mempercepat belajar anak.
4)

Kurikulum Kurikulum diartikan sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa, kegiatan itu sebagian besar menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan

mengembangkan bahan pelajaran itu. Menurut Slameto

62

(2003 : 63) bahwa kurikulum yang tidak baik akan berpengaruh tidak baik terhadap proses belajar maupun prestasi belajar siswa.
5)

Waktu sekolah Waktu sekolah adalah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, waktu sekolah dapat pagi hari, siang, sore bahkan malam hari. Waktu sekolah juga mempengaruhi belajar siswa (Slameto, 2003 : 68).

6)

Interaksi guru dan murid Menurut Roestiyah (1989 : 151) bahwa guru yang kurang berinteraksi dengan murid secara intim, menyebabkan proses belajar mengajar itu kurang lancar. Oleh karena itu, siswa merasa jenuh dari guru, maka segan berpartisipasi secara aktif di dalam belajar.

7)

Disiplin sekolah Kedisiplinan sekolah erat hubungannya dengan kerajinan siswa dalam sekolah dan juga dalam belajar (Slameto, 2003 : 67). Kedisiplinan sekolah ini misalnya mencakup

kedisiplinan guru dalam mengajar dengan pelaksanaan tata tertib, kedisiplinan pengawas atau karyawan dalam pekerjaan administrasi dan keberhasilan atau keteraturan kelas, gedung sekolah, halaman, dan lain-lain.

63

8)

Media pendidikan Kenyataan saat ini dengan banyaknya jumlah anak yang masuk sekolah, maka memerlukan alat-alat yang membantu lancarnya belajar anak dalam jumlah yang besar pula (Roestiyah, 1989 : 152). Media pendidikan ini misalnya seperti buku-buku di perpustakaan, laboratorium atau media lainnya yang dapat mendukung tercapainya prestasi

belajar dengan baik . 4. Tes Tertulis Untuk Prestasi Belajar. Telah dijelaskan diatas bahwa Prestasi Belajar merupakan hasil evaluasi yang telah dicapai oleh peserta didik setelah menempuh berapa waktu tertentu dengan memenuhi rangkaian tes yang dilakukan ole guru maka akan mampaklah prestasi belajar baik, sedang ataupun kurang. Salah satu tes yang dilakukan oleh guru adalah bentuk tes tertulis. Bentuk tes tertulis yang akan di gunakan dalam penelitian berbagai macam bentuk antara lain : a. Tes Subyektif Pada umumnya berbentuk esai atau uraian. Bentuk tes yang memerlukan jawaban atau bersifat pembahasan uraian kata-kata. b. Tes Obyektif Tes obyektif adalah tes dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara

64

obyektif , macamnya : 1) Tes Benar – Salah 2) Tes Pilihan Ganda 3) Menjodohkan 4) Tes Isian

D. Kompetensi Dasar Mata Pelajaran IPA Ditingkat SMP, mata pelajaran ilmu pengetahuan alam terbagi menjadi tiga bidang study atau sub mata pelajaran yakni : 1. Bidang Fisika 2. Bidang Biologi 3. Bidang Kimia Siswa kelas 9 sesuai standar kompetensi yang harus disampaikan sesuai ketentuan Kementrian Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2008 tentang standar isi, untuk mata pelajaran IPA mencakup 4 ruang meliputi : 1. Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan 2. Materi dan Sifatnya 3. Energi dan Perubahannya 4. Bumi dan Alam Semesta

65

Tabel 1. Kompetensi yang diajarkan pada siswa kelas 9 antara lain : Kelas IX, Semester 1 Standar Kompetensi 1. Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia 1.1 Kompetensi Dasar Mendeskripsikan sistem ekskresi pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan Mendeskripsikan sistem reproduksi dan penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi pada manusia

1.2

1.3 Mendeskripsikan sistem koordinasi dan alat indera pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan

2. Memahami kelangsungan hidup makhluk hidup

2.1

Mengidentifikasi kelangsungan hidup makhluk hidup melalui adaptasi, seleski alam, dan perkembangbiakan

2.2 Mendeskripsikan konsep pewarisan sifat pada makhluk hidup 2.3 Mendeskripsikan proses pewarisan dan hasil pewarisan sifat dan penerapannya. 2.4 Mendeskripsikan penerapan bioteknologi dalam mendukung kelangsungan hidup manusia melalui produksi pangan

66

Standar Kompetensi 3. Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari 3.1

Kompetensi Dasar Mendeskripsikan muatan listrik untuk memahami gejala-gejala listrik statis serta kaitannya dalam kehidupan sehari-hari Menganalisis percobaan listrik dinamis dalam suatu rangkaian serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

3.2

3.3 Mendeskripsikan prinsip kerja elemen dan arus listrik yang ditimbulkannya serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari 3.4 Mendeskripsikan hubungan energi dan daya listrik serta pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari

67

Kelas IX, Semester 2 Standar Kompetensi 4. Memahami konsep kemagnetan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari Kompetensi Dasar 4.1 Menyelidiki gejala kemagnetan dan cara membuat magnet 4.2 Mendeskripsikan pemanfaatan kemagnetan dalam produk teknologi 4.3 Menerapkan konsep induksi elektromagnetik untuk menjelaskan prinsip kerja beberapa alat yang memanfaatkan prinsip induksi elektromagnetik 5. Memahami sistem tata surya dan proses yang terjadi di dalamnya 5.1 Mendeskripsikan karakteristik sistem tata surya 5.2 Mendeskripsikan matahari sebagai bintang dan bumi sebagai salah satu planet 5.3 Mendeskripsikan gerak edar bumi, bulan, dan satelit buatan serta pengaruh interaksinya 5.4 Mendeskripsikan proses-proses khusus yang terjadi di lapisan lithosfer dan atmosfer yang terkait dengan perubahan zat dan kalor 5.5 Menjelaskan hubungan antarar proses yang terjadi di lapisan lithosfer dan atmosfer dengan kesehatan dan permasalahan lingkungan

68

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Berpikir Berdasarkan teori yang dijelaskan diatas, maka dapat dibangun kerangka pemikiran sebagai berikut: 1. Pengaruh pembelajaran multimedia terhadap prestasi belajar siswa dan pembelajaran konvensional biasa tanpa multimedia. Dengan menggunakan strategi pembelajaran atau model pembelajaran pada bab sebelumnya dengan digabung dengan penggunaan multimedia. Proses pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar diharapkan adanya pengaruh yang positif sehingga bentuk pembelajaran menggunakan pembelajaran multimedia dapat terlaksana di sekolah secara konsisten dan efesien. Pengaruh positif terhadap pembelajaran multimedia akan nampak pada prestasi belajar siswa. Semakin variatif pembelajaran multimedia diminati oleh siswa maka semakin tinggi harapan prestasi belajar yang diraih siswa.

2. Pengaruh Motivasi berprestasi yang tinggi dan motivasi yang rendah terhadap prestasi belajar siswa. Motivasi berprestasi pada bab sebelumnya merupakan dorongan untuk berprestasi pada siswa, dimana variasi motivasi terhadap diri manusia bermacammacam ada yang tinggi, sedang dan ada yang rendah. Motivasi berprestasi siswa

69

tentunya terkait dengan nilai hasil evaluasi yang tinggi, untuk prestasi tinggi sedangkan prestasi yang sedang atau pada takaran rata-rata mengharapkan suatu sasaran berupa naik kelas atau peringkat kelas yang tidak jauh dari keadaan sebelumnya. Sedangkan motivasi yang rendah akan mempengaruhi prestasi yang rendah pula. Disini peneliti yakini ada pengaruh dari motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa unruk itu perlu diadakan penelitian lebih lanjut.

3. Pengaruh Pembelajaran Multimedia dan Motivasi prestasi terhadap prestasi belajar siswa SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kab. Tangerang. Proses pembelajaran disekolah adalah proses yang sifatnya komplek dan menyeluruh atau terintegrasi satu sama lain. Artinya, dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya menerima dan menyerap informasi tetapi siswa melibatkan diri dalam proses pembelajaran, tentu saja banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Dengan model pembelajaran multimedia

dan motivasi prestasi yang baik peserta didik akan lebih mudah menerima pesan yang dipembelajarkan guru dan pembelajaran akan lebih berkualitas karena mempunyai motivasi yang tinggi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan uraian tersebut di atas terdapat pengaruh pembelajaran multimedia dan motivasi prestasi terhadap prestasi belajar siswa. Agar lebih terarah dan efektif kerangka berfikir tersebut diatas diuraikan dalam bentuk diagram alir (Flow chart) diskripsi teori secara lengkap dapat dilihat pada gambar – 1.

70

Gambar – 1. Flow Chart Deskripsi Teori

71

B. Hipotesis Penelitian Berdasarkan teori dan keranaka berpikir di atas, maka hipotesis penelitian diturunkan sebagai berikut: 1. Terdapat pengaruh pembelajaran multimedia terhadap prestasi belajar siswa SMP Negeri 2 Kelapa Dua. Kabupaten Tangerang. 2. Terdapat pengaruh motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa SMP Negeri 2 Kelapa Dua. Kabupaten Tangerang 3. Terdapat pengaruh pembelajaran multimedia dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa SMP Negeri 2 Kelapa Dua. Kabupaten Tangerang.

72

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang ingin menguji pengaruh pembelajaran multimedia, sebagai variabel X1 dan motivasi berprestasi sebagai variabel X2 terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Sain sebagai variable Y1. Desain penelitian ini menggunakan factorial 2x2. Berikut adalah gambar desain penelitian, desain factorial 2 TABEL 2. Pembelajaran Multimedia Motivasi Prestasi Motivasi Prestasi tinggi (X2+) Motivasi Prestasi rendah (X2-) Pembelajaran Multimedia (X1M) X1M . X2+ X1M . X2Pembelajaran Konvensional (X1K) X1K . X2+ X1K . X2-

Keterangan : X1M X1K X2+ X2: Pembelajaran Multimedia : Pembelajaran Konvensional / Tanpa Multimedia : Motivasi prestasi tinggi : Motivasi prestasi rendah

73

B. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dirancang dan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kab. Tangerang, di kelas IX dalam waktu tiga bulan terhitung dari bulan September 2011 sampai dengan bulan November 2011. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu : survai pendahuluan sebagai pra penelitian, pelaksanaan eksperimen atau tahap pengumpulan data, analisis data yang dilanjutkan dengan penyusunan laporan hasil penelitian

C. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kab. Tangerang sedangkan sampel penelitiannya adalah guru 10 orang dan siswa kelas IX sebanyak 40 orang siswa. Sempel diambil secara random.

D. Variabel Penelitian Berdasarkan landasan teori yang ada dan rumusan masalah dalam penelitian ini, yang menjadi variabel adalah sebagai berikut 1. Variabel bebas :
a. Pembelajaran Multimedia (X1) b. Motivasi Prestasi siswa (X2)

2. Variabel terikat : Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPA (Y)

74

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan multimedia untuk proses pembelajaran dan Motivasi prestasi. Motivasi ini dibedakan menjadi dua katagori yakni motivasi tinggi dan motivasi rendah. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Variabel – variabel yang tidak dimanipulasi tetap diprediksi dan dapat memberi pengaruh terhadap prestasi belajar atau diduga ikut mempengaruhi kesahihan eksternal eksperimen ini diupayakan konstan. Variabel-variabel yang diidentifikasikan termasuk dalam kelompok ini adalah karakteristik subyek selain motivasi, misalnya kemampuan awal yang dimiliki oleh subjek penelitian terhadap isi mata pelajaran, kondisi pelaksanaan perlakuan, tempat perlakuan dan keadaan kelas, semua diperlakukan sama untuk tiap-tiap kelompok yang dilibatkan dalam penelitian ini .

E. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data pembelajaran multimedia dilakukan dengan

menggunakan kuesioner yang berisi item-item pernyataan yang sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin diketahui. Teknik ini untuk memperoleh data dari beberapa guru yang menggunakan pembelajaran multimedia baik menggunakan program pesona edu / program mandiri. Kuesioner bersifat tertutup agar diperoleh terdapat kesamaan jawaban masing-masing responden sehingga proses

pengolahan datanya lebih mudah. Pilihan jawaban setiap item pernyataan dalam angket ini adalah pilihan ganda.

75

Sedangkan

pengumpulan

data

motivasi

prestasi

dilakukan

dengan

menggunakan kuesioner yang berisi item-item penyataan yang sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin diketahui. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memperoleh data dan informasi dari siswa. Angket (kuesioner) dalam penelitian ini bersifat tertutup agar terdapat kesamaan jawaban masing-masing responden sehingga proses pengolahan datanya lebih mudah. Pilihan jawaban setiap item pernyataan dalam angket ini adalah pilihan ganda. Untuk memperoleh data prestasi belajar, dilakukan penilaian melalui tes tertulis pilihan ganda sebanyak 40 butir soal. Tes dilakukan terhadap sampel penelitian, yaitu kelas IX SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kab. Tangerang, sebanyak masing-masing 40 siswa. Penilaian prestasi belajar tersebut merupakan hasil evaluasi dari suatu proses belajar formal yang dinyatakan dalam bentuk kuantitatif (angka).

F. Instrumen Penelitian Penyusunan instrumen dalam penelitian ini mengacu pada dimensi dan indikator motivasi prestasi siswa kelas IX SMP Negeri 2 Kelapa Dua Kab. Tangerang. Untuk mencapai tujuan tersebut dibuat kisi-kisi. 1. Pembelajaran Multimedia a. Definisi Konseptual Pembelajaran multimedia merupakan model pembelajaran yang berbasis menggunakan multimedia sebagai sarana pembantu operasional kegiatan

76

belajar mengajar. Karena merupakan bentuk strategi pembelajaran maka dalam penelitian ini digunakan sebagai variabel bebas atau independent variable, variabel itu meliputi : 1) 2) 3) Aspek Rekayasa Perangkat Lunak Aspek Desain Pembelajaran Aspek Komunikasi Visual

b. Definisi Operasional Pembelajaran Multimedia yang optimal, yang akan diperoleh oleh pendidik setelah mendapat penilaian dari peserta didik dengan skor maksimal 5 setiap items pertanyaan angket atau soal.

c. Kisi – kisi instrument pembelajaran multimedia Tabel 3. Kisi – kisi Instrumen Pembelajaran Multimedia Aspek Indikator 1) Efektif dan efesien dalam pengembangan dan penggunaannya. 2) Reliable (handal) 3) Maintainable (dapat dipelihara / dikelola dengan mudah) 4) Usabilitas (mudah digunakan dan sederhana dalam pengoperasiannya) 5) Ketepatan pemilihan jenis aplikasi / software / tool Nomor Butir 1,2 Jumlah

3,4 5,6 7,8 18

Rekayasa Perangkat Lunak

9.10

77

Aspek

Indikator untuk pengembangan. 6) Kompatibilitas (dapat dijalankan diberbagai hardware dan software) 7) Pembelajaran yang terpadu dan mudah dalam ekskusi. 8) Pembelajaran yang dapat di dokumentasi. 9) Dapat dikembangkan dengan pembelajaran yang lain. 1) Kejelasan tujuan pembelajaran (rumusan, realistis). 2) Relevansi tujuan pembelajaran dengan kurikulum. 3) Cakupan dan kedalaman tujuan pembelajaran. 4) Ketepatan penggunaan strategi pembelajaran. Dapat dikombinasikan dengan berbagai model pembelajaran. 5) Interaktivitas. 6) Pemberian motivasi belajar dan prestasi. 7) Kontekstualitas dan aktualitas. 8) Kelengkapan dan kualitas bahan bantuan belajar. 9) Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran. 10) Kedalaman materi. 11) Kemudahan untuk dipahami. 12) Sistematiks, runut, alur logika jelas.

Nomor Butir

Jumlah

11,12

13,14

15,16

17,18 19,20

21,22

23 20 24,25

Desain Pembelajaran

26 27 28 29 30 31 32 33

78

Aspek

Indikator 13) Kejelasan uraian, pemabahasan, contoh, simulasi, latihan. 14) Konsistensi evaluasi dengan tujuan pembelajaran. 15) Ketepatan dan ketetapan alat ukur evaluasi. 16) Pemberian umpan balik
terhadap hasil evalu

Nomor Butir 34

Jumlah

35

36,37 38

Komunikasi Visual

1) Komunikatif, sesuai dengan pesan dan dapat diterima / sejalan dengan keinginan sasaran. 2) Kreatif dalam ide berikut penuangan gagasan. 3) Sederhana dan memikat. 4) Audio (Narasi, sound effect, backsound, music) 5) Development Visual (layout design, typography , warna) 6) Media bergerak (animasi, movie). 7) Layout Interactive (ikon navigasi) Jumlah soal

39,40

41,42 43,44 45 12 46,47

48,49 50

50

d. Kalibrasi Instrumen Pembelajaran Multimedia Proses pengembangan instrument pembelajaran multimedia dimulai dengan 50 butir pernyataan dengan lima pilihan jawaban (options). Penyusunan instrument tersebut mengacu pada indicator seperti pada kisi-kisi yang tampak pada tabel 3.

79

Tahap berikutnya, konsep instrument diperiksa oleh para pembimbing, terutama untuk validasi konstruk, yaitu seberapa jauh butir-butir instrument mengukur indicator-indikator dari variabel pembelajaran multimedia. Proses kalibrasi data instrument dilakukan dengan menganalisis data hasil uji coba untuk menentukan validitas butir dan reabilitas instrument. Skala pengukuran yang digunakan pada data instrument dari kuisoner atau pernyataan menggunakan skala interval dengan sistem penilaiannya adalah : Item variabel : sangat puas (5), puas (4), cukup puas (3), kurang puas (2), tidak puas (1).22 Analisis validitas yang dikenakan pada pengujian ini adalah analisis butir. Formula yang digunakan dalam pengujian adalah formula product moment dari Pearson dan perhitungan reliabiitas digunakan rumus Alpha Cronbach23 . program excel. Pengolahan data menggunakan computer dan

22 23

Guritno.S. dkk. 2011:107. Theory anda application of IT Research. Yogyakarta.Andi Yogyakarta Uno. H. 2011: 109. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta. Bumi Aksara

80

2. Motivasi Prestasi
a. Definisi Konseptual

Motivasi

prestasi merupakan dorongan seseorang untuk berprestasi

sehingga mencapai pekerjaan / prestasi yang maksimal dan ingin mendapatkan predikat, peringkat, imbalan, hadiah atau kesemuanya yang sesuai dengan hasil upayanya. Sehingga variabel motivasi berprestasi dipengaruhi beberapa faktor antara lain : Faktor Eksternal Faktor Internal

b. Definisi Operasional

Motivasi berprestasi yang akan dikembangkan dalam penelitian ini meliputi bentuk partisipasi peserta didik dalam menjawab 40 pertanyaan terkait motivasi yang dilakukan oleh peserta didik selama kegiatan belajar mengajar sesuai standar pelayanan minimal yang diterapkan oleh sekolah yang mengacu ketetapan oleh Dinas Pendidikan Nasional. Skor maksimal 5 pada masing-masing Items soal atau angket.

81

c. Kisi – kisi Instrumen Motivasi Berprestasi

Tabel 4. Kisi – kisi Instrumen Motivasi Berprestasi Nomor Item, Variabel Positif Negatif 1,2 3,4 5,6 7,8 9,10 11,12 13,14 15,16 17,18 19.20 21,22 23,24 25,26 27,28 29,30 31,32 33,34 35,36 37,38 39,40 20 20 Jml 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 40

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Faktor Internal / Eksternal Nasehat atau saran yang membangun Predikat yang akan didapatkan Sasaran yang akan dicapai Imbalan atau hadiah yang akan diperoleh. Tantangan yang akan didapatkan Upaya yang dikerjakan/Ketekunan. Semangat untuk berprestasi Prilaku yang layak Intelegensi yang dimiliki Kendali emosional diri JUMLAH

d. Kalibrasi Instrumen Motivasi Berprestasi

Proses pengembangan instrument motivasi berprestasi dimulai dengan 40 butir pernyataan dengan lima pilihan jawaban (options). Penyusunan instrument tersebut mengacu pada indicator seperti pada kisi-kisi yang tampak pada tabel 4. Tahap berikutnya, konsep instrument diperiksa oleh para pembimbing, terutama untuk validasi konstruk, yaitu seberapa jauh butir-butir instrument berprestasi. Proses kalibrasi data instrument dilakukan dengan menganalisis data hasil uji coba untuk menentukan validitas butir dan reabilitas instrument. mengukur indicator-indikator dari variabel motivasi

82

Skala pengukuran yang digunakan pada data instrument dari kuisoner atau pernyataan menggunakan skala likert dengan sistem penilaiannya adalah : Item variabel positif: sangat setuju (5), setuju (4), ragu-ragu (3), tidak setuju (2), sangat tidak setuju (1) Item variabel negatif: sangat setuju (1), setuju (2), ragu-ragu (3), tidak setuju (4), sangat tidak setuju (5) Analisis validitas yang dikenakan pada pengujian ini adalah analisis butir. Formula yang digunakan dalam pengujian adalah formula product moment dari Pearson dan perhitungan reliabiitas digunakan rumus Alpha Cronbach24 . program excel. Pengolahan data menggunakan computer dan

3. Prestasi Belajar Siswa
a. Definisi Konseptual

Prestasi

belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa selama

berlangsungnya kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, umumnya prestasi belajar dalam sekolah berbentuk pemberian nilai (angka) dari guru kepada siswa sebagai indikasi sejauhmana siswa telah menguasai materi pelajaran yang disampaikan, biasanya nilai dinyatakan dalam angka, huruf atau kalimat dan terdapat dalam periode tertentu.
24

Uno. H. 2011: 109. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta. Bumi Aksara

83

b. Definisi Operasional

Prestasi belajar dalam penelitian ini yang akan dikembangkan adalah hasil evaluasi belajar siswa setiap kompetensi dasar yang disajikan oleh guru setiap akhir dari proses pembelajaran. Peserta didik diberi soal dalam bentuk tes tertulis sebanyak 40 item dimana sistem pilihan ganda sesuai indicator pencapaian dibuat oleh guru selama program satu tahun kegiatan pembelajaran dan memenuhi tiga ranah yakni : kognif, afektif dan psikomotor.

c. Kisi – kisi instrument Prestasi Belajar

Tabel 5. Kisi-kisi instrument Prestasi Belajar No 1 Ranah Kognitif 1. Pengamatan. Indikator Dapat menunjukkan Dapat membandingkan Dapat menghubungkan Dapat menyebutkan Dapat menunjukkan kembali Dapat menjelaskan Dapat mendefinisikan dengan lisan sendiri Dapat memberikan contoh. Dapat menggunakan secara tepat Nomor item soal 1,2 3,4 5,6 7,8 9,10 11,12 13,14 15,16 17,18 JML 6

2. Ingatan

4

3. Pemahaman

4

4. Aplikasi/ Penerapan

4

5. Analisis Dapat menguraikan (Pemeriksa -an Dapat mengklasifikasikan

19,20 21,22

4

84

No

Ranah dan penilaian secara teliti) 6. Sintesis (Membuat paduan baru dan utuh)

Indikator / memilah-milah Dapat menghubungkan materi-materi, sehingga menjadi kesatuan baru. Dapat menyimpulkan Dapat menggeneralisasikan (membuat prinsip umum) Menunjukkan menerima Menunjukkan menolak sikap sikap

Nomor item soal

JML

23,24

4

25 26

2

Afektif 1. Penerimaan

27,28 29

3

2. Sambutan

Kesediaan berpartisipasi / terlibat Kesediaan memanfaatkan 3. Apresiasi (Sikap Menganggap penting dan Menghargai) bermanfaat. Menganggap indah dan harmonis. Mengagumi 4. Internalisasi (Pendalaman) Mengakui dan menyakini Mengingkari

30 31 32

2

2

33

34 35

2

5. Karakterisasi (penghayatan)

Melembagakan meniadakan Menjelmakan pribadi dan sehari-hari.

atau dalam prilaku

36 37

2

3

Psikomotor 1. Kreaktivitas 2. Ketekunan 3. Tangung Jawab

Merancang prosedur praktek Mengkombinasikan Bertanggung Jawab Jumlah

38 39 40

1 1 1 40

85

d. Kalibrasi Instrumen Prestasi Belajar

Proses pengembangan instrument Prestasi Belajar dimulai dengan 40 butir pernyataan dengan empat pilihan jawaban (options). Penyusunan instrument tersebut mengacu pada indicator seperti pada kisi-kisi yang tampak pada tabel 5. Tahap berikutnya, konsep instrument diperiksa oleh para pembimbing, terutama untuk validasi konstruk, yaitu seberapa jauh butir-butir instrument mengukur indicator-indikator dari variabel pembelajaran multimedia. Proses kalibrasi data instrument dilakukan dengan menganalisis data hasil uji coba untuk menentukan validitas butir dan reabilitas instrument. Skala pengukuran yang digunakan pada data instrument dari kuisoner atau pernyataan menggunakan tes obyektif dengan bentuk pilihsn ganda dengan sistem penilaiannya adalah : skor = 2.5 x Benar Analisis validitas yang dikenakan pada pengujian ini adalah analisis butir. Formula yang digunakan dalam pengujian adalah formula product moment dari Pearson dan perhitungan reliabiitas digunakan rumus Alpha Cronbach25 . program excel. Pengolahan data menggunakan computer dan

25

Uno. H. 2011: 109. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta. Bumi Aksara

86

G. Teknik Analisis Data 1. Uji Persyaratan Analisis Untuk memenuhi persyaratan, maka diadakan uji prasyarat analisis dengan :
a) Uji normalitas data, uji normalitas dilakukan untuk mengetahui data

berdistribusi normal atau tidak. Untuk keperluan itu dilakukan analisis dengan uji Lilifors (Lo) .
b) Homogenitas varians, untuk menguji homogenitas varian menggunakan

teknik Uji Barlett. 2. Hipotesis Statistik Untuk melakukan pengujian hipotesis penelitian agar dapat dianalisis dengan teknik statistik, dirumuskan ke dalam hipotesis statistik sebagai berikut : (1) Ho : µA1 = µA2 H1 : µ A1 > µA2 (2) Ho : µB1 = µB2 H1 : µB1 > µB2 (3) Ho : Interaksi A x B = 0 H1 : Interaksi A x B ≠ 0

87

Kriteria pengujian hipotesis adalah sebagai berikut : 1. Jika untuk antar baris Fh > Ft (α = 0,01) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan. 2. Jika untuk antar kolom Fh > Ft (α = 0,01) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan. 3. Jika untuk antar kolom B1 Fh > Ft (α = 0,01) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan. 4. Jika untuk antar kolom B2 Fh > Ft (α = 0,01) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan. 5. Jika untuk interaksi Fh > Ft (α = 0,01) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan.

Keterangan : µA1 : Rerata hasil belajar siswa yang belajar dengan media pembelajaran modul µA2 : Rerata hasil belajar siswa yang belajar tanpa media pembelajaran modul µB1 : Rerata hasil belajar siswa yang belajar yang memiliki kecenderungan motivasi belajar tinggi µB2 : Rerata hasil belajar siswa yang belajar yang memiliki kecenderungan motivasi belajar rendah

88

Interaksi A x B = 0

: Tidak ada pengaruh interaksi penggunaan media pembelajaran modul dan motivasi belajar dengan hasil belajar

Interaksi A x B ≠ 0

Ada

pengaruh

interaksi

penggunaan

media

pembelajaran modul dan motivasi belajar terhadap hasil belajar µA1 B1 : Rerata hasil belajar siswa yang belajar dengan media pembelajaran modul bagi siswa yang memiliki kecenderungan motivasi belajar tinggi µA2B1 : Rerata hasil belajar siswa yang belajar tanpa media pembelajaran modul bagi siswa yang memiliki kecenderungan motivasi belajar tinggi µA1 B2 : Rerata hasil belajar siswa yang belajar dengan media pembelajaran modul bagi siswa yang memiliki kecenderungan motivasi belajar rendah µA2 B2 : Rerata hasil belajar siswa yang belajar tanpa media pembelajaran modul bagi siswa yang memiliki kecenderungan motivasi belajar rendah

Apabila hasil analisis varians menunjukkan adanya pengaruh utama (main effect) antara variabel bebas terhadap variabel terikat dan adanya interaksi antar variabel bebas dalam hubungannya dengan variabel terikat, analisis dilanjutkan

89

dengan uji Tukey, tes untuk menguji hipotesis penelitian lebih lanjut. Analisis uji lanjut ini dilakukan dengan uji Tukey karena jumlah sampel setiap sel sama dan pengujian hipotesis statistik menggunakan kriteria (taraf signifikansi) yang ketat.

90

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, A. 2011. Media Pembelajaran. Cet-14. Jakarta : Grafindo Persada. AM, Sardiman. 2006. Interaksi Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo. Anwar. D 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.Surabaya : Amalia Aqib. Z. 2010. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya : Insan Cendekia Arikunto, Suharsimi, 2006. Prosedure Penelitian Suatu Prosedur Pendekatan Praktik,Edisi Revisi VI. Cet-13. Jakarta : Rineka Cipta Arikunto. Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Ed. Revisi. Jakarta. Bumi Aksara. Ariani.N dan Haryanto. D, 2010. Pembelajaran Multimedia Di Sekolah. Jakarta : Prestasi Pustaka Arifin. Zainal 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung. Rosda Christine. Maylanny. 2009. Pedagogi Strategi dan Teknik Mengajar dengan Berkesan. Ed.1. Bandung. Setia Purna Inves Dick, Walter dan Lou Carey. 1996. The Systematic Design of Instruction. New York: Edi Suwardi. 2004. Pengertian Belajar . Jakarta : Prenada Media. Gagne, R.M.& Briggs, L.J 1979 Principles of Instructionsl Design. Secon Edition, New York. Holt,Rinehart and Winston. Guritno. S, dkk. 2011. Theory and application of IT Research. Yogyakarta : Andi

Hamzah B. Uno, 2011. Teori Motivasi dan Pengukurannya.Cet-7 Jakarta : Bumi Aksara. Hanfiah. Nanang & Suhana.Cucu. 2010. Konsep Strategi Pembelajaran. Cet.-2. Bandung. Aditama.

91

Hardjo S dan Badjuri. http://lppm.ut.ac.id/htmpublikasi/12srihardjo.htm

http://aadesanjaya.blogspot.com http://janiansyah.wordpress.com/2009/05/15/pengertian-multimedia/ http://nengmarlina.blogspot.com/2011/02/pengertian-multimedia-pembelajaran.html http://primatungkal.wordpress.com/2008/02/20/panduan-pengembangan-multimediapembelajaran/ http://psychologyclub.web.id/motivasi-berprestasi-pada-para-wiraswastawan

http://www.motivasi-islami.com/motivasi-berprestasi

Kemp, J.E. dan Dayton, D.K 1985 Planing and Producing Instructional Media (fifth edition), New York: Harper and Row, Publisher. Kementrian Pendidikan Nasional. 2008. Permendiknas tentang Standar Isi, Jakarta Mardalis, 2007. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Cet-9. Jakarta : Bumi Aksara Makmun. A.S. 2009. Psykologi Kependidikan, Edisi Revisi Bandung : Rosda. Munir. 2010. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Banduung. AlfaBeta Muhibbinsyah. 2010. Psykologi Belajar, . Jakarta : Raja Grafindo Perkasa. Mukhtar dan Samsu. 2003. Evaluasi yang Sukses, Jakarta : Sasama Mitra Suksesa Nuraini.D.2009. http://devinurani0909.wordpress.com/2011/07/14/prestasi-belajarbelajar-untuk-berprestasi/

92

Riberu. J. 1991. Mengajar Dengan Sukses. Jakarta : Grasindo Riyanto. Y. 2010.Metodologi Penelitian Pendidikan. Cet-3. Surabaya : SIC Rian.Rn. 2011. http://rnrian.blogspot.com/2011/04/teori-motivasi-berprestasidavid-mc.html Roestiyah.NK. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta Sadirman, dkk 2005 Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Cet-14 Jakarta : Rajawali Pers.
Samudra.D.W.2009. Pengertian Multimedia Pembelajaran. http://jatengklubguru.com

Slameto. 2010. Belajar & Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Edisi Revisi Jakarta : Rineka Cipta. Sudiharto.http://www.google.co.id/search?sourceid=navclient&aq=0&oq=motivasi+p re&hl=id&ie=UTF-8&rlz=1T4GGLJ_enGBID433ID435&q=motivasi+prestasi Warsita, Bambang. 2008. Teknologi Pembelajaran : Landasan dan Aplikasinya. Jakarta : Rineka Cipta

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful