Pemeriksaan Albumin

I. Tujuan Untuk mengetahui kadar albumin dalam serum.

II.

Metode Metode yang digunakan adalah metode BCG.

III.

Prinsip Serum ditambahakan dengan pereaksi albumin akan menghasilkan perubahan warna, warna yang etrbentukkemudian dibaca absorbansnya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 632 nm.

IV. Dasar Teori Protein adalah suatu makromolekul yang tersusun atas molekul-molekul asam amino yang berhubungan satu dengan yang lain melalui suatu ikatan yang dinamakan ikatan peptida. Sejumlah besar asam amino dapat membentuk suatu senyawa protein yang memiliki banyak ikatan peptida, karena itu dinamakan polipeptida. Secara umum protein berfungsi dalam sistem komplemen, sumber nutrisi, bagian sistem buffer plasma, dan mempertahankan keseimbangan cairan intra dan ekstraseluler. Berbagai protein plasma terdapat sebagai antibodi, hormon, enzim, faktor koagulasi, dan transport substansi khusus. Protein-protein kebanyakan disintesis di hati. Hepatosit-hepatosit

mensintesis fibrinogen, albumin, dan 60 – 80 % dari bermacam-macam protein

yang

memiliki

ciri

globulin.

Globulin-globulin

yang

tersisa

adalah

imunoglobulin (antibodi) yang dibuat oleh sistem limforetikuler.

Penetapan kadar protein dalam serum biasanya mengukur protein total, dan albumin atau globulin. Serum albumin merupakan protein dalam tubuh manusia yang sangat unik. Albumin memiliki berat molekul (BM) yang rendah dan konsentrasi yang tinggi dan bertanggung jawab 75-80 % dari tekanan osmotik pada plasma manusia. Pada studi eksperimental terapi albumin dapat memperbaiki fungsi neurologis, yang ditandai dengan penurunan volume infark, dan mengurangi edema otak dengan stroke akut.

Albumin dapat meningkatkan tekanan osmotik yang penting untuk mempertahankan cairan vaskular. Penurunan albumin serum dapat menyebabkan cairan berpindah dari dalam pembuluh darah menuju jaringan sehingga terjadi edema.

Kadar albumin serum selain mempengaruhi di tingkat sirkulasi juga mempengaruhi pada tingkat seluler dimana sebagai suatu biomarker status nutrisi seseorang. Suatu keadaan malnutrisi protein dan energi dapat memperburuk keluaran pasien stroke dan memperburuk prognosis karena menurunkan imunitas sel.

V.

Alat dan Bahan A. Alat : • Spektrofotometer • Tabung reaksi + rak tabung • Pipet ukur • Bola hisap

• Mikropipet

B. Bahan • Serum • Pereaksi albumin • Standar • Aquadest

VI. Cara kerja Test Standar Blanko Pereaksi albumin 2,00 2,00 2,00 Serum 0,01 Standar 0,01 Aquadest 0,01 - Dicampur dan dibaca pada spektrofotometer pada panjang gelombang 632 nm.

VII. Hasil Pengamatan Absorbans Aquadest= 0,173

-

Blanko = 1,82 – 0,173 = 1,647 Test = 2,00 – 1,82 = 0,18

Standar = 2,33- 1,82 = 0,51 = = = 1,376 gr% albumin

-

Kadar normal = 3 – 4,5 gr% albumin

VIII. Pembahasan Penetapan kadar protein dalam serum biasanya mengukur protein total, dan albumin atau globulin. Serum albumin merupakan protein dalam tubuh manusia yang sangat unik. Albumin memiliki berat molekul (BM) yang rendah dan konsentrasi yang tinggi dan bertanggung jawab 75-80 % dari tekanan osmotik pada plasma manusia. Pada studi eksperimental terapi albumin dapat memperbaiki fungsi neurologis, yang ditandai dengan penurunan volume infark, dan mengurangi edema otak dengan stroke akut. Albumin dapat meningkatkan tekanan osmotik yang penting untuk mempertahankan cairan vaskular. Penurunan albumin serum dapat menyebabkan cairan berpindah dari dalam pembuluh darah menuju jaringan sehingga terjadi edema. Kadar albumin serum selain mempengaruhi di tingkat sirkulasi juga mempengaruhi pada tingkat seluler dimana sebagai suatu biomarker status nutrisi seseorang. Suatu keadaan malnutrisi protein dan energi dapat memperburuk keluaran pasien stroke dan memperburuk prognosis karena menurunkan imunitas sel. Pengukuran kadar labumin dalam serum menggunakan prinsip penyerapan (absorbans) molekul zat warna dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 632 nm. Absorbans yang diukur adalah larutamn standar, larutan blanko, dan larutan test. Larutan blanko

digunakan sebagai kontrol. Kemudian hasil absorbans, dihitung ke persamaan . Dalam praktikum didapat hasil kadar albumin dalam serum yaitu 1,376 gr% albumin. Sedangkan kadar normal albumin adalah 3 – 4,5 gr% albumin. Menandakan albumin dalam serum pasien dibawah nilai normal. Penurunan kadar albumin biasanya terjadi pada sirosis hati, gagal ginjal akut, luka bakar yang parah, malnutrisi berat, preeklampsia, gangguan ginjal, malignansi tertentu, kolitis ulseratif, enteropati kehilangan protein, malabsorbsi dan karena pengaruh obat : penisilin, sulfonamid, aspirin, asam askorbat.

IX. Kesimpulan Dalam praktikum didapat hasil kadar albumin dalam serum yaitu 1,376 gr% albumin. Sedangkan kadar normal albumin adalah 3 – 4,5 gr% albumin. Menandakan albumin dalam serum pasien dibawah nilai normal. Penurunan kadar albumin biasanya terjadi pada sirosis hati, gagal ginjal akut, luka bakar yang parah, malnutrisi berat, preeklampsia, gangguan ginjal, malignansi tertentu, kolitis ulseratif, enteropati kehilangan protein, malabsorbsi dan karena pengaruh obat : penisilin, sulfonamid, aspirin, asam askorbat.

X.
-

Daftar Pustaka

Frances K. Widmann, alih bahasa : S. Boedina Kresno, dkk., Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium, EGC, Jakarta, 1992. Joyce LeFever Kee, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik, edisi 6, EGC, Jakarta, 2007.

Pemeriksaan Albumin Dan Protein

I. Tujuan :

• Untuk mengetahui kadar albumin dalam serum • Untuk mengetahui kadar protein total dalam serum II. Metode : Metode yang digunakan dalam pemeriksaan albumin adalah metode BCG, sedangkan dalam pemeriksaan total protein adalah metode biuret. III. PRINSIP Albumin

Sampel yang direaksikan dengan pereaksi albumin BCG dan menimbulkan perubahan warna. Warna ini memiliki afinitas kuat terhadap albumin dan kecepatan awal dalam mengikat albumin diukur dan menunjukan kadar albumin plasma. Total Protein Sampel serum direaksikan dengan pereaksi biuret hingga menimbulkan perubahan warna yang kemudian diukur dengan spektrofotometer. IV. DASAR TEORI Protein adalah suatu makromolekul yang tersusun atas molekul-molekul asam amino yang berhubungan satu dengan yang lain melalui suatu ikatan yang dinamakan ikatan peptida. Sejumlah besar asam amino dapat membentuk suatu senyawa protein yang memiliki banyak ikatan peptida,

karena itu dinamakan polipeptida. Secara umum protein berfungsi dalam sistem komplemen, sumber nutrisi, bagian sistem buffer plasma, dan mempertahankan keseimbangan cairan intra dan ekstraseluler. Berbagai protein plasma terdapat sebagai antibodi, hormon, enzim, faktor koagulasi, dan transport substansi khusus. Protein-protein kebanyakan disintesis di hati. Hepatosit-hepatosit mensintesis fibrinogen, albumin, dan 60 – 80 % dari bermacam-macam protein yang memiliki ciri globulin. Globulinglobulin yang tersisa adalah imunoglobulin (antibodi) yang dibuat oleh sistem limforetikuler. Penetapan kadar protein dalam serum biasanya mengukur protein total, dan albumin atau globulin. Ada satu cara mudah untuk menetapkan kadar protein total, yaitu berdasarkan pembiasan cahaya oleh protein yang larut dalam serum. Penetapan ini sebenarnya mengukur nitrogen karena protein berisi asam amino dan asam amino berisi nitrogen. Total protein terdiri atas albumin (60%) dan globulin (40%). Bahan pemeriksaan yang digunakan untuk pemeriksaan total protein adalah serum. Bila menggunakan bahan pemeriksaan plasma, kadar total protein akan menjadi lebih tinggi 3 – 5 % karena pengaruh fibrinogen dalam plasma. Cara yang paling sederhana dalam penetapan protein adalah dengan refraktometer (dipegang dengan tangan) yang menghitung protein dalam larutan berdasarkan perubahan indeks refraksi yang disebabkan oleh molekul-molekul protein dalam larutan. Indeks refraksi mudah dilakukan dan tidak memerlukan reagen lain, tetapi dapat terganggu oleh adanya hiperlipidemia, peningkatan bilirubin, atau hemolisis. Saat ini, pengukuran protein telah banyak menggunakan analyzer kimiawi otomatis. Pengukuran kadar menggunakan prinsip penyerapan (absorbance) molekul zat warna. Protein total biasanya diukur dengan reagen Biuret dan tembaga sulfat basa. Penyerapan dipantau secara spektrofotometri pada λ 545 nm. Albumin sering dikuantifikasi sendiri. Sedangkan globulin dihitung dari selisih kadar antara protein total dan albumin yang diukur. Serum albumin, sering disebut albumin adalah protein dengan jumlah terbanyak di dalam tubuh. Albumin sangat penting demi memelihara tekanan osmosis untuk distribusi fluida tubuh antara intravascular compartment dan jaringan tubuh. Albumin juga berfungsi sebagai pengusung plasma dengan secara tidak langsung mengikat beberapa hormon steroid hydrophobic dan protein pengusung bagi hemin dan asam lemak dalam sirkulasinya. Albumin dapat meningkatkan tekanan osmotik yang penting untuk mempertahankan cairan vaskular. Penurunan albumin serum dapat menyebabkan cairan berpindah dari dalam pembuluh darah menuju jaringan sehingga terjadi edema. Rasio A/g merupakan perhitungan terhadap distribusi fraksi dua protein yang penting, yaitu albumin dan globulin. Nilai rujukan A/G adalah > 1.0. Nilai rasio yang tinggi dinyatakan tidak signifikan, sedangkan rasio yang rendah ditemukan pada penyakit hati dan ginjal. Perhitungan elektroforesis merupakan perhitungan yang lebih akurat dan sudah menggantikan cara perhitungan rasio A/G. V. ALAT DAN BAHAN a) Alat - Tabung reaksi dan rak - Pipet mikro - Pipet ukur

- Push ball b) Bahan - Pemeriksaan Albumin  Pereaksi albumin BCG  Standar albumin 3,9 gr % - Pemeriksaan Total Protein  Pereaksi biuret  Standar protein VI. CARA KERJA A. Pemeriksaan Albumin 1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan 2. Diberi label pada tabung yaitu “tes”, “blanko”, “standar” 3. Reagen dimasukan ke dalam tabung sebagai berikut: Tes Blanko Pereaksi albumin , ml 2,00 2,00 Serum / plasma , ml 0,01 Standar , ml 0,01 Aquadest , ml 4. Dikocok hingga homogen 5. Dibaca pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 640 nm 6. Dihitung kadar albuminnya B. Pemeriksaan Total Protein 1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan 2. Diberi label pada tabung yaitu “tes”, “blanko”, “standar” 3. Ditambahkan reagen sebagai berikut: Tes Blanko Pereaksi biuret ,ml 2,5 2,5 Serum/plasma, ml 0,05 Standar ,ml 0,05 Aquadest, ml 4. Dihomogenkan dan didiamkan 30 menit 5. Dibaca pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm 6. Dihitung kadar total proteinya VII. HASIL PENGAMATAN Hasil pengukuran absorbansi : 1. Pemeriksaan Albumin - Tes : 0,390 - Blanko : 0,00

Standar 0,01

Standar 2,5 0,05

- Standar: 0,367 2. Pemeriksaan Total Protein - Tes : 0,495 - Blanko : 0,00 - Standar : 0,367 Perhitungan : - Kadar Albumin

-

Total Protein

VIII. PEMBAHASAN Pada pratikum kali ini dilakukan pemeriksaan kadar albumin dan total protein pada sampel serum. Pada pemeriksaan kadar albumin dalam serum dilakukan dengan metode BCG. BCG ( Bromcresol Green) merupakan pereaksi albumin yang memberikan warna hijau pada larutan yang mengandung albumin. Pemeriksaan ini menggunakan prinsip pemeriksaan secara spektrofotometri, yaitu menyerap cairan warna dari monokromator sampel, lalu diteruskan dan ditanggkap detector, lalu mengeluarkan nilai absorbansi. Pada pratikum kali ini didapatkan hasil kadar albumin dalam sampel yaitu 4,144 gr % albumin. Nilai normal untuk albumin adalah 3 - 4,5 gr % albumin. Hal ini menunjukan bahwa kadar albumin dalam serum masih normal. Pemeriksaan harus dilakukan segera mungkin, agar larutan tidak mengalami gangguan ataupun perubahan yang dapat mempengaruhi hasil. Perubahan protein plasma yaitu hiperalbumin dijumpai pada dehidrasi. Hipoalbumin dijumpai pada manultrisi, malabsorbsi, hepatitis akut, penyakit hati menahun dan lain-lain. Pada pemeriksaan total protein digunakan metode biuret. Ikatan peptida yang terdapat dalam protein dengan adanya pereaksi biuret akan membentuk senyawa kompleks yang berwarna ungu yang intensitasnya sesuai dengan kadar protein total dalam sampel, yang dapat ditentukan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 546 nm. Pada pratikum kali ini didapatkan kadar protein total pada serum sebesar 13,96 gr % protein. Dimana nilai normalnya adalah 6,6 – 8,5 gr % protein. Hal ini menunjukan bahwa kadar protein pada serum tinggi hal ini bisa

disebabkan karena dehidrasi (hemokonsentrasi), muntah, diare, myeloma multiple, sindrom gawat pernafasan dan sarkoidosis. Total protein terdiri dari 60% albumin dan 40% globulin. Bila bahan pemeriksaan menggunakan sampel plasma kadar total protein akan lebih tinggi 3 – 5 % karena pengaruh fibrinogen pada plasma. IX. KESIMPULAN Berdasarkan pratikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa: - Metode pemeriksaan untuk kadar albumin adalah metode BCG, sedangkan untuk total protein menggunakan metode biuret. - Kadar albumin dalam serum adalah 4,144 gr % albumin dimana nilai normalnya adalah 3 – 4,5 gr % albumin. - Kadar total protein serum adalah 13,98 gr % protein dimana nilai normalnya 6,6 – 8,5 gr % protein.

X. DAFTAR PUSTAKA - Riswanto, 2009. Protein serum. http://labkesehatan.blogspot .com/2009/12/protein_serum.html

Pemeriksaan total protein 2

I.

Tujuan : 1. Untuk mengetahui kadar total protein dalam serum

II.

Metode :

1. Praktikum total protein menggunakan metode biuret.

III.

Prinsip Serum direaksikan dengan pereaksi albumin, setelah terbentuk zat warna diamati absorbansi pada spektrofotometri.

IV.

Dasar teori : Protein adalah suatu makromolekul yang tersusun atas molekul-molekul asam amino yang berhibingan satu dengan yang lain melalui suatu ikatan yang dinamakan ikatan peptida. Sejumlah besara asam amino dapat membentuk suatu senyawa protein yang memiliki banyak ikatan peptida, karena itu dinamakan polipeptida. Secara umum protein berfungsi dalam sistem komplemen, sumber nutrisi, bagian sistem buffer plasma dan mempertahankan keseimbangan cairan intra dan ekstraseluler. Berbagai protein plasma terdapat sebagai antibodi, hormon, enzim faktor koagulasi dan transport substansi khusus. Protein-protein kebanyakan disintesis di hati. Hepatosit-hepatosit mensintesis fibrinogen, albumin, dan 6080% dari bermacam-macam protein yang memiliki ciri globulin. Globulin-globulin yang tersisa adalah imunoglobulin (antibodi) yang dibuat oleh sistem limforetikuler. Penetapan kadar protein dalam serum biasanya mengukur protein total dan albumin atau globulin. Ada satu cara mudah untuk menetapkan kadar protein total yaitu berdasarkan pembiasan cahaya oleh protein yang larut dalam serum. Penetapan ini sebenarnya mengukur nitrogen karena protein berisi asam amino dan asam amino berisi nitrogen. Salah satu protein dalam plasma darah manusia adalah albumin. Albumin larut dalam air dan mengendap dalam pemansan serta protein yang tertinggi konsentrasinya dalam plasma darah. Pada manusia albumin diproduksi oleh hati dalam bentuk prealbumin dan memenuhi sekitar 60% jumlah serum darah dengan konsentrasi anatar 30 hingga 50 gr/L. Hati menhasilkan sekitar 12 gr albumin per hari yang merupakan sekitar 25% dari total sintesis protein hepatic dan separuh dari seluruh protein yang diekskresikan organ tersebut. Albumin pada mulanya disintesis sebagai preprotein peptida sinyalnya dilepaskan ketika prepeotein melintas ke dalam sinterna

reticulum endoplasma kasar dan heksa peptida pada ujung terminal amino yang dihasilkan itu kemudian dipecah lebih lanjut disepanjang skreotik. Albumin dapat ditemukan didalam putih telur dan darah manusia. Golongan protein ini paling banyak dijumpai pada telur (albumin telur), darah (albumin serum) dan dalam susu (laktalbumin).

V.

Alat dan bahan 1. Alat : Tabung reaksi beserta rak Spektrofotometer Pipet ukur Bola hisap

2. Bahan : Pereaksi biuret Standar protein Aquades Serum/plasma

VI. Cara kerja 1. Pemeriksaan total protein Tes Pereaksi biuret, ml Serum/plasma, ml Standar, ml 2,50 0,05 Standar 2,50 0,05 Blanko 2,50 -

Aquades, ml

-

-

0,05

2. Dicampur, ditangguhkan selama 30 menit lalu di baca dalam spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm.

VII.

Hasil pengamatan 1. Hasil absorban : - Tes serum : 0,416 - Standar - Blanko - Tes LCS : 0,428 : 0,000 : 0,034

2. Perhitungan tes serum Dt : Ds x kadar standar 0,416 :0,428 x 6,9 % = 6,706 gr% protein 3. Perhitungan tes LCS Dt : Ds x kadar standar 0,034 : 0,428 x 6,9 % = 0,548 gr% protein

VIII. Pembahasan Pada pemeriksaan ini hanya dilakukan pemeriksaan total protein. Sampel yang digunakan adalah serum dan LCS (Liquor Seresbrospinal). Liquor Seresbrospinal merupakan cairan yang berada diselaput otak dan sumsum tulang belakang. Untuk pengambilannya juga tidak boleh sembarangan dan hanya dokter yang boleh melakukan pengambilan. Kedua

pemeriksaan ini dibaca absorbannya pada panjang gelombang 546 nm. Kadar protein pada serum adalah 6,706 gr% protein dan pada LCS adalah 0,548 gr%. Nilai normal untuk serum 6,6-8,5 gr% protein dan untuk LCS < 0,04 gr% protein.

IX.

Kesimpulan 1. Kadar protein dalam LCS melebihi nilai normal. 2. Kadar protein dalam serum dinyatakan normal.

X.

Daftar pustaka Soedarmanto,Ari,Penetapan Kadar Protein Total

PEMERIKSAAN GAMMA GLOBULIN II

I.

Tujuan Untuk mengetahui adanya gamma globulin dalam serum darah

II.

Metode Metode yang digunakan adalah metode Biuret.

III.

Prinsip Ion Cu2+ dalam pereaksi biuret akan bereaksi dengan gamma globulin dalam presipitat serum yang kemudian akan menimbulkan warna, zat warna yang terbentuk diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm.

IV.

Dasar Teori Gamma globulin, juga disebut merupakan kelas imunoglobulin darah plasma protein, terutama termasuk antibodi yang membantu melawan infeksi dan penyakit. jumlah abnormal globulin gamma dapat memiliki efek negatif pada kesehatan atau dapat menjadi indikasi penyakit. Dalam pengobatan, suntikan gamma globulin digunakan untuk mengobati kondisi tertentu Gamma globulin dapat juga digunakan untuk mengobati penyakit imunologi selain kekurangan. Misalnya, dalam imunologi trombositopenia purpura , pasien antibodi serangan atau dia sendiri trombosit , mengganggu kemampuan darah untuk membeku. suntikan Gamma globulin berguna untuk mengobati kondisi ini, meskipun mekanisme di mana mereka bekerja tidak sepenuhnya dipahami. Dalam setiap kasus, gamma globulin ekstra melawan antibodi tidak berfungsi yang menyerang trombosit dan memungkinkan platelet untuk berkembang. Gamma globulin merupakan uji yang sensitif untuk mendeteksi beragam jenis penyakit parenkim hati. Kebanyakan dari penyakit hepatoseluler dan hepatobiliar meningkatkan gamma globulin dalam serum. Kadarnya dalam serum akan meningkat lebih awal dan tetap akan meningkat selama kerusakan sel tetap berlangsung.

V.

Alat 1. Pipet mikro 2. Tabung reaksi + rak tabung 3. Sentrifuge 4. Spektrofotometer 5. Kertas saring

VI.

Bahan 1. Pereaksi gamma globulin 2. Pereaksi biuret 3. Larutan NaCl 0,9 % 4. Standar protein

VII.

Cara kerja 1. Ke dalam tabung sentrifuge dipipet 2,4 ml pereaksi gamma globulin 2. Dengan hati- hati dipipetkan 0,1 mml serum, dicampur dengan membolak-balikkan tabung. Ditangguhkan beberapa menit. 3. Dipusingkan selama 15 menit 4. Sentrifgant dituang hati- hati, tabung diletakkan terbalik diatas secarik kertas saring beberapa menit. Dibersihkan sisa – sisa sentrifugant yang melekat pada dinding tabung dengan kertas saring. Presipitat dipakai untuk pemeriksaan, Test +++ Standar Blanko -

Presipitat

Lar.NaCl 0,9% (mL) 1,0 0,9 Standar protein (mL) 0,1 Biuret (mL) 3,0 3,0 NB : memipet test-standar dilakukan bersamaan.

1,0 3,0

VIII.

Hasil pengamatan -

Standar = 0,434 Blanko = 0 Test = 0,276

Perhitungan : Gamma globulin gr% = = = 1,2719 gr % Kadar normal = 0,7 – 1,7 gr % IX. Pembahasan Gamma globulin, juga disebut merupakan kelas imunoglobulin darah plasma protein, terutama termasuk antibodi yang membantu melawan infeksi dan penyakit. Dalam pengobatan, suntikan gamma globulin digunakan untuk mengobati kondisi tertentu. Gamma globulin merupakan uji yang sensitif untuk mendeteksi beragam jenis penyakit parenkim hati. Kebanyakan dari penyakit hepatoseluler dan hepatobiliar meningkatkan

gamma globulin dalam serum. Kadarnya dalam serum akan meningkat lebih awal dan tetap akan meningkat selama kerusakan sel tetap berlangsung. Jumlah abnormal globulin gamma dapat memiliki efek negatif pada kesehatan atau dapat menjadi indikasi penyakit. Kadar abnormal gamma globulin di bawah kadar normal dikenal sebagai hypogammaglobulinemia. Suatu jumlah yang luar biasa tinggi gamma globulin dalam tubuh, kondisi yang dikenal sebagai hypergammaglobulinemia, sering merupakan tanda infeksi. Sebuah proliferasi abnormal globulin gamma, atau paraproteins, adalah juga tanda kerusakan kekebalan. Penyakit pada globulin gamma seperti ini disebut gammopathy. Gammopathy sendiri mungkin tidak berbahaya, tetapi mungkin tanda kondisi kekebalan tubuh yang serius, seperti AIDS, atau kemajuan suatu kondisi yang berbahaya, seperti kerusakan saraf atau plasma sel kanker . Oleh karena itu, pemantauan dekat disarankan. Dalam praktikum kadar gamma globulin memiliki prinsip bahwa ion Cu2+ dalam pereaksi biuret akan bereaksi dengan gamma globulin dalam presipitat serum yang kemudian akan menimbulkan warna, zat warna yang terbentuk diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm. Dalam praktikum didapat kadar gamma globulin serum pasien sebesar 1,2719 gr %, sedangkan kadar normal antara 0,7 – 1,7 gr %. Menandakan kadar gamma globulin dalam serum pasien normal.

X.

Kesimpulan Dalam praktikum kadar gamma globulin memiliki prinsip bahwa ion Cu2+ dalam pereaksi biuret akan bereaksi dengan gamma globulin dalam presipitat serum yang kemudian akan menimbulkan warna, zat warna yang terbentuk diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm. Dalam praktikum didapat kadar gamma globulin serum pasien sebesar 1,2719 gr %, sedangkan kadar normal antara 0,7 – 1,7 gr %. Menandakan kadar gamma globulin dalam serum pasien normal.

XI.

Daftar Pustaka
-

http://www.wisegeek.com/what-is-gamma-globin.htm

-

http://en.wikipedia.org/wiki/Gamma_globulin http://id.wikipedia.org/wiki/Serum_darah

PEMERIKSAAN GAMMA GLOBULIN I

I. Tujuan

Untuk mengetahui adanya gamma globulin dalam serum darah II. Metode Metode yang digunakan adalah metode Biuret. III. Prinsip Ion Cu2+ dalam pereaksi biuret akan bereaksi dengan gamma globulin dalam presipitat serum yang kemudian akan menimbulkan warna, zat warna yang terbentuk diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm. IV. Dasar Teori Gamma globulin, juga disebut merupakan kelas imunoglobulin darah plasma protein, terutama termasuk antibodi yang membantu melawan infeksi dan penyakit. jumlah abnormal globulin gamma dapat memiliki efek negatif pada kesehatan atau dapat menjadi indikasi penyakit. Dalam pengobatan, suntikan gamma globulin digunakan untuk mengobati kondisi tertentu Gamma globulin dapat juga digunakan untuk mengobati penyakit imunologi selain kekurangan. Misalnya, dalam imunologi trombositopenia purpura , pasien antibodi serangan atau dia sendiri trombosit , mengganggu kemampuan darah untuk membeku. suntikan Gamma globulin berguna untuk mengobati kondisi ini, meskipun mekanisme di mana mereka bekerja tidak sepenuhnya dipahami. Dalam setiap kasus, gamma globulin ekstra melawan antibodi tidak berfungsi yang menyerang trombosit dan memungkinkan platelet untuk berkembang. Gamma globulin merupakan uji yang sensitif untuk mendeteksi beragam jenis penyakit parenkim hati. Kebanyakan dari penyakit hepatoseluler dan hepatobiliar meningkatkan gamma globulin dalam serum. Kadarnya dalam serum akan meningkat lebih awal dan tetap akan meningkat selama kerusakan sel tetap berlangsung.

V. Alat 6. Pipet mikro 7. Tabung reaksi + rak tabung 8. Sentrifuge 9. Spektrofotometer 10. Kertas saring VI. Bahan 5. Pereaksi gamma globulin 6. Pereaksi biuret 7. Larutan NaCl 0,9 % 8. Standar protein VII. Cara kerja

5. Ke dalam tabung sentrifuge dipipet 2,4 ml pereaksi gamma globulin 6. Dengan hati- hati dipipetkan 0,1 mml serum, dicampur dengan membolak-balikkan tabung. Ditangguhkan beberapa menit. 7. Dipusingkan selama 15 menit 8. Sentrifgant dituang hati- hati, tabung diletakkan terbalik diatas secarik kertas saring beberapa menit. Dibersihkan sisa – sisa sentrifugant yang melekat pada dinding tabung dengan kertas saring. Presipitat dipakai untuk pemeriksaan, Test +++ Standar Blanko -

Presipitat

Lar.NaCl 0,9% (mL) 1,0 0,9 Standar protein (mL) 0,1 Biuret (mL) 3,0 3,0 NB : memipet test-standar dilakukan bersamaan.

1,0 3,0

VIII. -

Hasil pengamatan

Standar = 0,192 Blanko = 0 Test = 0,045

Perhitungan : Gamma globulin gr% = =

= 0,468 gr % Kadar normal = 0,7 – 1,7 gr % IX. Pembahasan Gamma globulin, juga disebut merupakan kelas imunoglobulin darah plasma protein, terutama termasuk antibodi yang membantu melawan infeksi dan penyakit. Dalam pengobatan, suntikan gamma globulin digunakan untuk mengobati kondisi tertentu.

Gamma globulin merupakan uji yang sensitif untuk mendeteksi beragam jenis penyakit parenkim hati. Kebanyakan dari penyakit hepatoseluler dan hepatobiliar meningkatkan gamma globulin dalam serum. Kadarnya dalam serum akan meningkat lebih awal dan tetap akan meningkat selama kerusakan sel tetap berlangsung. Jumlah abnormal globulin gamma dapat memiliki efek negatif pada kesehatan atau dapat menjadi indikasi penyakit. Kadar abnormal gamma globulin di bawah kadar normal dikenal sebagai hypogammaglobulinemia. Suatu jumlah yang luar biasa tinggi gamma globulin dalam tubuh, kondisi yang dikenal sebagai hypergammaglobulinemia, sering merupakan tanda infeksi. Sebuah proliferasi abnormal globulin gamma, atau paraproteins, adalah juga tanda kerusakan kekebalan. Penyakit pada globulin gamma seperti ini disebut gammopathy. Gammopathy sendiri mungkin tidak berbahaya, tetapi mungkin tanda kondisi kekebalan tubuh yang serius, seperti AIDS, atau kemajuan suatu kondisi yang berbahaya, seperti kerusakan saraf atau plasma sel kanker . Oleh karena itu, pemantauan dekat disarankan. Dalam praktikum kadar gamma globulin memiliki prinsip bahwa ion Cu2+ dalam pereaksi biuret akan bereaksi dengan gamma globulin dalam presipitat serum yang kemudian akan menimbulkan warna, zat warna yang terbentuk diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm. Dalam praktikum didapat kadar gamma globulin serum pasien sebesar 0,468 gr %, sedangkan kadar normal antara 0,7 – 1,7 gr %. Menandakan kadar gamma globulin dalam serum pasien normal.

X.

Kesimpulan Dalam praktikum kadar gamma globulin memiliki prinsip bahwa ion Cu2+ dalam

pereaksi biuret akan bereaksi dengan gamma globulin dalam presipitat serum yang kemudian akan menimbulkan warna, zat warna yang terbentuk diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm. Dalam praktikum didapat kadar gamma globulin serum pasien sebesar 0,468 gr %, sedangkan kadar normal antara 0,7 – 1,7 gr %. Menandakan kadar gamma globulin dalam serum pasien normal.

XI.
-

Daftar Pustaka http://www.wisegeek.com/what-is-gamma-globin.htm http://en.wikipedia.org/wiki/Gamma_globulin http://id.wikipedia.org/wiki/Serum_darah

PEMERIKSAAN BILIRUBIN TOTAL dan BILIRUBIN DIREK

I. Tujuan

: Untuk mengetahui kadar bilirubin total dan kadar bilirubin direk pada sempel.

II. Metode

:

Metode yang digunakan adalah spektrofotometri yang mengukur intensitas warna asobilirubin.

III. Prinsip

: Preaksi bilirubin direaksikan dengan bilirubin dalam sempel menghasilkan reaksi warna yang kemudian diukur pada spektrofotometer.

IV. Dasar Teori

:

Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari hemoglobin dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Disamping itu sekitar 20% bilirubin berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel retikuloendotel membuat bilirubin tidak larut dalam air, bilirubin yang disekresikan dalam darah harus diikatkan kepada albumin untuk diangkat dalam plasma menuju hati. Dalam hati, hepatosit melepaskan ikatan itu dan mengkonjugasinya dengan asam glukomonat sehingga bersifat larut air. Proses konjugasi ini melibatkan enzim glukoronil transferase. Bilirubin terkonjugasi masuk kesaluran empedu dan di ekskresikan ke usus. Selanjutnya flora usus akan mengubahnya menjadi urobilinogen dan dibuang melalui feses serta sebagian kecil melalui urin. Bilirubin terkonjugasi bereaksi cepat dengan asam sulfanilat yang terdiasotasi membentuk asobilirubin. Bilirubin tak terkonjugasi merupakan bilirubin bebas yang terikat albumin harus lebih dulu dicampur dengan alcohol, kafein atau pelarut lain sebelum dapat bereaksi. Bilirubin adalah produk utama dari penguraian sel darah merah yang tua. Bilirubin disaring dari darah oleh hati, dan dikeluarkan pada cairan empedu . sebagaimana hati menjadi rusak, dan bagian ini disebut sebagai bilirubin direct. Bila bagian ini meningkat , penyebab biasanya diluar hati. Bila bilirubin langsung rendah sementara bilirubin total tinggi, hal ini menunjukkan kerusakan pada hati atau saluran cairan empedu dalam hati. Bilirubin mengandung bahan pewarna, yang member warna pada kotoran. Bila tingkatnya sangat tinggi, kulit dan mata dapat menjadi kuning, yang mengakibatkan ngejala ikterus. V. Alat dan Bahan :

• • • • • • • • •

Pipet mikro Tabung reaksi + rak tabung Spektrofotometer Yelow tip Aquadest Serum atau plasma Asam sulfanilat Pereaksi diazo Methanol

VI. Cara Kerja

:

A. Total Bilirubin Aquadest, ml Serum/ plasma,ml Asam sulfanilat, ml Pereaksi Diazo,ml Methanol, ml Tes (T) ml 1,0 0,1 0,3 1,5 Blanko( BL) ml 1,0 0,1 0,3 1,5

Dicampur dan ditangguhkan selama 30 menit, lalu dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 530 nm dengan titik 0 aquadest. Gunakan standar 10 mg% dan baca absorbansinya pada 530 nm ( hasilnya DT ).

B. Direct Bilirubin Aquadest, ml Serum/plasma,ml Aquadest,ml Asam Sulfanilat,ml Tes (T) ml 1,0 0,1 1,5 Blanko (BL ) ml 1,0 0,1 1,5 0,3

Pereaksi diazo,ml

0,3

-

Dicampur dan ditangguhkan selama 10 menit ( tepat ). Lalu dibaca pada panjang gelombang 530 nm sebagai titik 0 digunakan aquadest. Standar langsug dibaca pada panjang gelombang 530 nm ( karena sudah berwarna ) dan diberi tanda DT.

VII.

Data Hasil Praktikum

Total Bilirubin

:

mg total bilirubin

Bilirubin Direct

:

mg direct bilirubin

Nilai Rujukan • Dewasa

: :

 Total Bilirubin = 0,1-1,2 mg/dl  Direct  Indirect • Anak-anak =1,0-0,3 mg/dl =0,1-1,0mg/dl :

 Total Bilirubin= 0,2- 0,8 mg/dl  Indirect • Bayi baru lahir = sama dengan dewasa :

 Total Bilirubin = 1-12 mg/dl  Indirect Hasil Pengamatan : = sama dengan dewasa

A. Bilirubin Total Blanko Tes = 0,096 = 0,306

Perhitungan

B. Bilirubin Direct Blanko Tes Perhitungan = 0,049 = 0,255

=

=

VIII.

Pembahasan

:

Kadar bilirubin total berhubungan langsung dengan kadar bilirubin direct. Nilai normal kadar bilirubin total adalah 0,1 -1,2 mg/dl.dan kadar normal bilirubin direct adalah 0,10,3 mg/dl. Peningkatan kadar pada bilirubin total dan direct biasanya terjadi pada ikterik obstruktif, hepatitis sirosis hati, metastasis hati, penyakit Wilson dan pengaruh beberapa obat seperti antibiotic. Dan penurunan kadar biasanya terjadi pada anemia defisiensi besi dan pengaruh obat balbitural, salisilat, penisilin dan kafein dosis tinggi.

Dalam praktikum, didapat kadar bilirubin total yaitu 0,2120 mg/dl sedangkan kadar normal antara 0,1-1,2mg/dl, menandakan kadar bilirubin total serum dalam kadar normal. Dan kadar bilirubin direct yaitu 0,207 mg/dl, sedangkan kadar normal antara 0,1-0,3 mg/dl, menandakan kadar bilirubin direct serum dalam kadar normal.

IX. Kesimpulan

:

Dalam praktikum kadar bilirubin, didapat kadar bilirubin total yaitu 0,2120 mg/dl sedangkan kadar normal antara 0,1-1,2mg/dl, menandakan kadar bilirubin total serum dalam kadar normal. Dan kadar bilirubin direct yaitu 0,207 mg/dl, sedangkan kadar normal antara 0,1-0,3 mg/dl, menandakan kadar bilirubin direct serum dalam kadar normal

X. Daftar Pustaka

:

WWW.medicatherapy.com http://www.laboratoriumkesehatan.blogspot.com http://www.yayasanspiritia.com/tes-fungsi-hati.

LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar, Juni 2011 Dosen Pebimbing Ketua Kelompok

(Drs. AA N Santa AP)

(Cahya Septia Sardiawan)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful