BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Proses produksi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara bertahap untuk menghasilkan suatu produk, dengan tujuan produk yang dihasilkan bermutu baik. Dalam hal ini, produksi tanaman merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara bertahap dalam bidang pertanian dengan tujuan menghasilkan suatu produk pertanian dengan hasil dan mutu berupa produk yang baik. Penggunaan lahan pertanian umumnya terdiri dari persawahan, tegalan, perkebunan, pekarangan, kebun campuran dan hutan. Setiap bentuk penggunaan lahan pertanian mempunyai karakteristik yang berbeda-beda sehingga penerapan perlakuan kegiatan budidaya di setiap jenis lahan juga berbeda. Sebagian lahan pertanian memerlukan kegiatan budidaya yang intensif sedangkan bentuk lahan pertanian yang lain dilakukan dengan tidak terlalu intensif. Keberhasilan budidaya tanaman pertanian sangat tergantung dari berbagai faktor diantaranya faktor lingkungan (cahaya, suhu, air dan zat hara dalam tanah) maupun faktor tanaman budidaya sendiri. Khusus penggunaan lahan pertanian yang bersifat campuran, pengaturan tata letak jenis tanaman budidaya menjadi sangat penting guna memperoleh hasil budidaya yang maksimal. Indonesia merupakan negara agraris, karena sebagian besar penduduk Indonesia hidup di sekitor pertanian. Pertanian dalam pengertian yang luas mencakup semua kegiatan yang melibatkan pemanfaatan makhluk hidup (termasuk tanaman, hewan, dan mikroba) untuk kepentingan manusia. Dalam arti sempit, pertanian juga

1

diartikan sebagai kegiatan pemanfaatan sebidang lahan untuk membudidayakan jenis tanaman tertentu, terutama yang bersifat musiman. Kacang panjang (Vigna sinensis) termasuk dalam famili Fabaceae dan merupakan salah satu komoditi sayuran yang banyak diusahakan di daerah dataran rendah pada ketinggian 0-200 m dpl. Masyarakat dunia menyebutkan dengan nama Yardlong Beans/Cow Peas. Plasma nutfah tanaman kacang panjang berasal dari India dan Cina. Adapun yang menduga berasal dari kawasan benua Afrika. Plasma nutfah kacang uci (Vigna umbellata) diketemukan tumbuh liar di daerah Himalaya India, sedangkan plasma nutfah kacang tunggak (Vigna unguiculata) merupakan asli dari Afrika. Oleh karena itu, tanaman kacang panjang tipe merambat berasal dari daerah tropis dan Afrika, terutama Abbisinia dan Ethiopia. Perkembangan paling pesat di negara beriklim panas tropis seperti Indonesia. Kacang panjang merupakan salah satu jenis sayuran yang dapat dikonsumsi dalam bentuk segar maupun diolah menjadi sayur, memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap (protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B dan C. Kandungan protein nabati pada sayur kacang panjang berkisar 17-21% banyak dikonsumsi sebagian besar penduduk Indonesia. Selain sebagai masakan, ternyata Kacang Panjang juga dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan untuk mengobati beberapa penyakit seperti diantaranya : antikanker, kanker payudara, leukemia, antibakteri, antivirus, antioksidan, gangguan saluran kencing, peluruh kencing, batu ginjal, mencegah kelainan antibodi, meningkatkan fungsi limpa, meningkatkan penyatuan DNA dan RNA, meningkatkan fungsi sel darah merah, beri-beri, demam berdarah, kurang darah, sakit pinggang, rematik, pembengkakan, meningkatkan nafsu makan, dan sukar buang air besar.

2

Hortikultura merupakan salah satu sub sektor dalam sektor pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Diantara komoditas pertanian yang ada, tanaman hias merupakan salah satu komoditas yang memiliki prospek yang cukup baik untuk dikembangkan dan memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi peningkatan pendapatan masyarakat. Mawar merupakan salah satu tanaman bunga hias berupa herba dengan batang berduri. Mawar yang dikenal nama bunga ros atau "Ratu Bunga" merupakan simbol atau lambang kehidupan religi dalam peradaban manusia. Mawar berasal dari dataran Cina, Timur Tengah dan Eropa Timur. Dalam perkembangannya, menyebar luas di daerah-daerah beriklim dingin (sub-tropis) dan panas (tropis). Di Indonesia berkembang aneka jenis mawar hibrida yang berasal dari Holand (Belanda). Mawar yang banyak peminatnya adalah tipe Hybrid Tea dan Medium, memiliki variasi warna bunga cukup banyak, mulai putih sampai merah padam dan tingkat produktivitas tinggi: 120-280 kuntum bunga/m2 /tahun. Varietasvarietas mawar hibrida (Hybrid Tea) yang telah ditanam di Indonesia adalah: Coctail, Diplomat, Idole, Jacaranda, Laminuette, Osiana, Pareo, Samorai, Sonate de Meilland, Sonia, Sweet Sonia, Tineke, Vivaldi, White Success dan Yonina. Sedangkan mawar tipe Medium antara lain adalah Golden Times, Jaguar,Sissel, Laser, dan Kiss. Kelebihan varietas mawar hibrida adalah tahan lama dan warna-warninya menarik. Mawar tipe Hybrid Tea bertangkai bunga 80-120 cm, tipe Medium 40-60 cm. Beberapa varietas mawar introduksi yang dianjurkan didataran rendah: Cemelot, Frad Winds, Mr. Lincoln, dan Golden Lustee sebagai mawar bunga potong. Sedangkan varietas Folk Song, Khatherina Zeimet, Woborn Abbey dan Cimacan Salem untuk tanaman taman.

3

Mawar memiliki manfaat, sebagai tanaman hias di taman di luar atau di dalam rumah serta di halaman kantor ataupun di dalam kantor. Selain itu, tanaman hias juga dapat digunakan sebagai dekorasi dalam berbagai acara, baik bersifat formal maupun non formal, sebagai bunga tabur pada upacara kenegaraan atau tradisi ritual serta diekstraksi minyaknya sebagai bahan parfum atau obat-obatan (pada skala penelitian di Puslitbangtri). Menyadari praktek pola pembangunan pertanian masa lalu dengan masukan tinggi (penggunaan pupuk kimia dan obat berlebih) ternyata berdampak negatif luas pada kesehatan dan lingkungan, maka kita perlu mengembangkan pola masukan rendah (low input sustainable agriculture, LISA) dengan penggunaan pupuk organik, pupuk hayati dan obat-obatan organik, yang sehat dan ramah likungan. Berbagai upaya dilakukan untuk mengganti pestisida sintetik (kimia), salah satunya dengan mengembangkan pestisida organik ini terutama untuk mengatasi masalah hama dan penyakit tumbuhan pada tanaman sayuran, buah, dan tanaman pangan. Kita yang berada di daerah tropis sangat memungkinkan untuk mengembangkan pestisida organik, mengingat melimpah sumberkeragaman hayati di negara kita ini. Yang termasuk pestisida organik meliputi pestisida biologi dan pestisida nabati. Pestisida biologi ini bahan aktifnya berupa mikrobia yang digunakan untuk pengendalian hayati. Misalnya Bacillus thuringiensis yang mampu mengendalikan hama jenis ulat. Tricoderma koninggi untuk mengendalikan jamur akar karet dan layu pada cabe. Pestisida nabati sekarang banyak dikembangkan, yaitu pestisida yang dibuat dari bahan tumbuh-tumbuhan atau produk tumbuhannya. Banyak tanaman yang mempunyai potensi sebagai pestisida nabati baik dari akarnya, batangnya, daunnya, bunganya bahkan buangan (limbah) dari produk yang telah

4

diproses, misalnya limbah pabrik rokok dan jamu. Para peneliti telah banyak menguji tentang efektifitasnya antara lain daun kecubung, daun mimbo, daun serai, daun secang, umbi bawang putih, rimpang lempu yang gajah dan emprit dan sebagainya. 1.2. Tujuan Dengan diadakannya praktikum proses produksi tanaman, diharapkan mahasiswa dapat mengetahui cara membudidayakan tanaman yang baik, khususnya pada tanaman kacang panjang. Adapun tujuan diadakannya praktikum ini pada dasarnya adalah megetahui pertumbuhan dan hasil panen tanaman kacang panjang, analisis usahatani produksi tanaman kacang panjang, pertumbuhan bibit tanaman hias, hingga pada produksi pestisida nabati.

5

BAB II LANDASAN TEORI
2.1. Syarat Tumbuh Tanaman Kacang Panjang Iklim Suhu idealnya antara 20 - 30 derajat C. Tempat terbuka (mendapat sinar matahari penuh). Musim yang tepat untuk budidaya kacang panjang pada musim kemarau (MK). Sebaiknya kacang panjang ditanam di awal atau akhir musim hujan. Iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun. Media Tanam Hampir semua jenis tanah cocok untuk budidaya kacang panjang, tetapi yang paling baik adalah tanah Latosol/lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik. Lahan terbuka di dataran rendah sangat disukai tanaman kacang panjang. Apabila ada naungan maka produksi buahnya kurang begitu banyak. Adaptasinya terhadap lahan masam cukup baik. Dengan nilai kemasaman tanah (pH) yang cocok untuk kacang panjang sekitar 5,5 6,5. Bila pH terlalu basa (diatas pH 6,5) menyebabkan pecahnya nodula-nodula akar. Ketinggian Tempat Tanaman ini tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah dan dataran tinggi ± 1500 m dpl, tetapi yang paling baik di dataran rendah. Penanaman di dataran tinggi, umur panen relatif lama dari waktu tanam, tingkat produksi maupun produktivitasnya lebih rendah bila dibanding dengan dataran rendah. Ketinggian optimum adalah kurang dari 800 m dpl.

6

Untuk budidaya atau menanam kacang panjang dalam polibag anda dapat mengikuti semua tahapan budidaya ini hanya saja media tanaman adalah tanah di dalam polibag. 2.2. Teknik Budidaya Tanaman Kacang Panjang

Klasifikasi botani tanaman kacang panjang adalah sebagai berikut:        Divisi Sub Divisi Class Ordo Famili Genus Spesies : : : : : : : Spermathophyta Angiospermae Dycotyledoneae Leguminales Papiolinaceae Vigna Vigna spp.

Jenis - Jenis Kacang Panjang sebagai berikut ini : Spesies kacang panjang yang umum dibudidayakan antara lain:  Kacang panjang tipe merambat (V. sinensis var. sesquipedalis) yang kita kenal sebagai kacang panjang biasa. Varietas yang ditanam adalah varietas unggul KP1 dan KP2, varitas lokal Purwokerto, no 1494 Cikole, Subang, Super Subang , Usus hijau Subang dll.  Kacang panjang tipe tegak yaitu kacang tunggak/tolo/dadap/sapu (V. unguiculata L.), dan kacang uci/ondel (V. umbellata ). Varitas unggul adalah KT1, KT2, KT3.  Kacang panjang hibrida (V. sinensis ssp. Hybridus) seperti kacang bushitao. Varitas yang dirilis adalah No. 10/a, 12/a, 13/a, 14/a, 17/a, 18/a dan EG BS/2.

7

Tehnik budidaya untuk menanam kacang panjang adalah sebagai berikut ini : Pembibitan Kacang Panjang Persyaratan Bibit Bibit kacang panjang yang baik dan bermutu adalah sebagai berikut: Penampilan bernas/kusam, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah hama dan penyakit. Keperluan benih untuk 1 hektar antara 15-20 kg. Penyiapan Bibit Benih tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang sudah disiapkan. Pengolahan Media Tanam Pembentukan Bedengan Lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak sedalam 30 cm hingga tanah menjadi gembur. Buat parit keliling, biarkan tanah dikeringkan selama 15-30 hari. Setelah 30 hari buatlah bedengan dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30 cm, panjang tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm. Pengapuran Pengapuran dilakukan jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dosis tergantung kemasaman tanah. Berikan kapur pertanian dalam bentuk kalsit, dolomit, atau zeagro sebanyak 1-2 ton/ha tergantung dari pH awal dan jumlah Alumunium. Kapur dicampur secara merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm.

8

Pemupukan dalam budidaya kacang panjang Pada saat pembentukan bedengan atau guludan tambahkan 10-20 ton/ha pupuk kandang/pupuk organik Super TW Plus, dengan dosis 4-5 ton/ha dicampur merata dengan tanah sambil dibalikkan Cara Penanaman Kacang Panjang Penentuan Pola Tanam Jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm. Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai. Benih direndam POC NASA dosis 2 tutup/liter selama 0,5 jam lalu tiriskan. Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah tipis/dengan abu dapur. Cara Penanaman Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah tipis/dengan abu dapur. Pemeliharaan Tanaman Kacang Panjang Penyulaman Benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari kemudian. Benih yang tidak tumbuh segera disulam.

9

Penyiangan Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam, tergantung pertumbuhan rumput di kebun. Penyiangan dengan cara mencabut rumput liar/membersihkan dengan alat kored. Pemangkasan/Perempalan Kacang panjang yang terlalu rimbun perlu diadakan pemangkasan daun maupun ujung batang. Tanaman yang terlalu rimbun dapat menghambat pertumbuhan bunga. Pemupukan Pupuk Dasar Kacang panjang tipe merambat: Urea 150 kg + TSP 100 kg + 100 kg/ha. Kacang panjang tipe tegak: Urea 22,5 kg + TSP 45 kg + KCl 45 kg/ha. Kacang hibrida: 85 kg Urea + 310-420 kg TSP + 210 kg KCl/ha. Pupuk diberikan di dalam lubang pupuk yang terletak di kiri-kanan lubang tanam. Jumlah pupuk yang diberikan untuk satu tanaman tergantung dari jarak tanam. Pupuk Susulan Pupuk susulan tanaman kacang panjang tipe merambat, diberikan 4 minggu setelah tanam, pupuk berupa urea 150 kg/ha. Sedangkan pupuk susulan untuk kacang panjang tipe tegak diberikan 4 minggu setelah tanam, pupuk berupa urea 85 kg/ha. Pengairan Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung musim.

10

Hama dan Penyakit Kacang Panjang Hama Utama Kacang Panjang Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon) Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan insektisida Orthene 75 SP 1 cc/liter. Kutu daun (Aphis cracivora Koch) Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan insektisida Furadan 3G dan Carbofuran 80 kg/ha. Ulat grayak (Spodoptera litura F.) Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong. Pengendalian: dengan peraikan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, perangkap hama kimiawi dan insektisida Suoracide 0,1-0,2%.

11

Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L) Gejala: biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji. Ulat bunga ( Maruca testualis) Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan insektisida yang efektif seperti Sevin pada kosentrasi 0,1%-0,2%. Penyakit Utama Kacang Panjang Antraknose ( jamur Colletotricum lindemuthianum ) Penyebab: jamur Colletotricum lindemuthianum. Gejala: serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan fungisida Dithane M-45 dan Cupravit OB 21 0,1-0,2% dan membuang rumput-rumput dari sekitar tanaman. Penyakit mozaik ( virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV) Penyebab: virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV. Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: dengan menggunakan benih yang sehat dan bebas virus, disemprot dengan insektisida yang efektif untuk kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.

12

Penyakit sapu ( virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus.) Penyebab: virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus. Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk "sapu". Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik. Layu bakteri ( Pseudomonas solanacearum ) Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum E.F. Smith. Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati dan gunakan Natural GLIO pada awal tanam. 2.3. Teknik Panen dan Pascapanen Tanaman Kacang Panjang Panen Kacang Panjang Ciri dan Umur Panen Panen kacang panjang dibedakan dua macam, yaitu panen polong muda dan polong tua atau biji-bijinya. Panen polong muda Dilakukan pada jenis kacang panjang lanjaran (tipe merambat) dan kacang busitao (tipe tegak). Ciri-ciri polong yang siap dipanen adalah ukuran polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol. Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan.

13

Panen polong tua Dilakukan pada jenis kacang panjang tipe tegak seperti kacang tunggak dan kacang uci dan busitao. Ciri-ciri kacang tunggak yang siap panen adalah polongpolongnya telah cukup tua, biji-biji menonjol dan kulit luar berwarna hijau kekuningan. Umur panen 3-3,5 bulan dan waktu panen pada pagi/sore hari. Cara Panen Cara panen pada tanaman kacang panjang tipe merambat dengan memotong tangkai buah dengan pisau tajam. Sedangkan untuk kacang pancang tipe tegak dengan cara mencabut/memotong pangkal batang tanaman setinggi 10-15 cm dari permukaan tanah. Perkiraan Produksi Produksi polong muda per satuan luas dapat mencapai minimal 2,0 ton/ha, tergantung varietasnya. Pada varietas KP-I dapat mencapai 6,2 ton/ha dan KP-2 sebesar 2,1 ton/ha. Dan produksi kacang panjang tipe tegak berkisar antara 2,0-5,0 ton biji kering. Pascapanen Pengumpulan Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di tempat penampungan, lalu dicuci dan ditiriskan. Untuk polong tua setelah dikumpulkan, lalu polong dikeringkan dengan cara dijemur sampai kadar air 12-14%. Penyortiran Memisahkan polong muda yang baik dengan yang rusak. Untuk sasaran pasar ekspor, kriteria mutu polong muda yaitu ukuran polong minimal 20 cm, tingkat

14

ketuaan polong tergolong muda, penampakan biji tidak menonjol dan warna hijau dan segar. Sedangkan untuk polong tua yang sudah kering dipisahkan dari kulit polong, dan biji dikeringkan sampai 12%-14% kadar airnya. Penyimpanan Untuk mempertahankan kesegaran polong, penyimpanan sementara sebelum dipasarkan sebaiknya di tempat teduh. Penggunaan remukan es/lemari pendingin, sedangkan polong tua disimpan di dalam kaleng dan diletakkan di tempat yang kering dan sirkulasi udara baik. Pengemasan dan Pengangkutan Polong kacang panjang diikat dengan bobot maksimal 1 kg. Ikatan dikemas dalam karung goni yang berventilasi/dikemas dalam kantong plastik polytelyne. Alat angkut yang digunakan dapat dengan cara dipikul, menggunakan jasa kendaraan/alat transportasi lainnya. Untuk polong tua dikemas dalam kaleng yang ditutup rapat. Sebelum dimasukkan ke dalam wadah sebaiknya dicampur dulu dengan minyak jagung supaya terhindar dari hama penggerek biji. Penanganan dalam pengemasan kacang panjang dalam bentuk polong tua adalah sebagai berikut: a) Campurkan biji kacang dengan minyak jagung (10 cc/kg biji). b) Biji kacang ditempatkan dalam wadah bersih dan ditutup rapat. c) Biji kacang disimpan di ruangan yang kering dan bersih. 2.4. Teknik Produksi Bibit Tanaman Hias Budidaya tanaman hias dapat dilakukan di lahan maupun di dalam pot/ polybag. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman antara lain adalah

15

iklim, tanah atau media, air dan ketersediaan unsur hara. Untuk tanaman dalam pot, hal yang harus diperhatikan adalah (1) persiapan tanam yang terdiri dari pemilihan bibit, persiapan pot dan persiapan media tanam; (2) penanaman dan (3) pemeliharaan. Hal pertama yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan bibit adalah asal bibit yang baik. Bibit yang baik berasal dari tanaman induk yang segar dan sehat. Penampilan batang dan daun harus diperhatikan. Dalam hal persiapan pot, ukuran pot disesuaikan dengan sosok dan umur tanaman. Tanaman cenderung tumbuh dengan baik bila menggunakan pot yang berukuran sesuai. Dasar pot harus dilubangi untuk membuang kelebihan air, Jumlah lubang yang baik berkisar antara 4 – 6 buah. Semua tanaman sangat tergantung pada lingkungannya untuk dapat tumbuh dengan baik. Namun demikian, lingkungan yang dibutuhkan oleh setiap tanaman berbeda satu sama lain. Persyaratan lingkungan untuk tanaman meliputi cahaya, suhu, kelembaban dan udara. Berdasarkan kebutuhan cahaya, tanaman hias dapat dikelompokkan menjadi tanaman teduh, tanaman setengah teduh, tanaman yang suka cahaya dan tanaman yang memerlukan cahaya langsung. MAWAR ( Rosa damascena Mill. ) Bibit. Bibit tanaman mawar dapat diperbanyak dengan stek batang, cangkokan dan yang paling digemari adalah okulasi. Stek batang digunakan untuk batang bawah dan biasanya digunakan mawar pagar sebagai batang bawah, karena jenis ini cukup kuat, cepat tumbuh, tahan hama penyakit dan mudah diperbanyak dengan stek.

16

Mawar (Rosa.) biasa diperbanyak secara vegetatif, sedangkan secara generatif hanya ditujukan untuk pemuliaan. Perbanyakan mawar bunga potong umumnya diperbanyak secara okulasi, okulasi mata tunas atau okulasi mata berkayu. Okulasi mata tunas dilakukan pada saat kulit batang bawah mudah dikelupas. Pada saat tersebut sel-sel tanaman dan sel-sel kambium tersebut sedang dalam keadaan aktif. Pelaksanaan dari teknik okulasi mata berkayu hampir sama dengan okulasi mata tunas, hanya pada okulasi mata berkayu tidak harus menunggu batang bawah mudah dikelupas. Dengan cara ini okulasi dapat dilakukan pada setek batang bawah yang belum berakar ataupun yang sudah berakar. Namun demikian sebaiknya okulasi mata tunas dilakukan setelah batang bawah berumur lebih dari satu bulan. Salah satu cara perbanyakan yang lebih efisien, yang sekarang banyak dilakukan pengusaha benih/bibit mawar di luar negeri adalah stenting. Cara ini merupakan gabungan dari penyetekan dan penyambungan (grafting) yang dilakukan pada saat yang bersamaan. Beberapa keuntungan dari teknik stenting ialah lebih cepat perbanyakannya, karena saat penyambungan tidak menunggu batang bawah berakar terlebih dahulu; lebih sedikit bahan tanaman yang digunakan (satu mata tunas + daun dari batang atas dan satu ruas batang bawah tanpa daun), sehingga pada saat tanaman ditanam di lapang tidak tumbuh tunas liar dari batang bawah, yang akhirnya akan meringankan biaya pemeliharaan. Jenis Tanaman Dalam sistematika tumbuhan (taksonomi), mawar diklasifasikan sebagai berikut:    Kingdom Divisi : : Plantae Spermatophyta Angiospermae

Sub-Divisi :

17

   

Kelas Ordo Famili Genus

: : : : :

Dicotyledonae Rosanales Rosaceae Rosa Rosa damascena Mill., R. multiflora Thunb., R. hybrida

 Species

Hort., dan lain-lain. Syarat Pertumbuhan Angin tidak mempengaruhi dalam pertumbuhan bunga mawar. Curah hujan bagi pertumbuhan bunga mawar yang baik adalah 1500-3000 mm/tahun. Memerlukan sinar matahari 5-6 jam per hari. Di daerah cukup sinar matahari, mawar akan rajin dan lebih cepat berbunga serta berbatang kokoh. Sinar matahari pagi lebih baik dari pada sinar matahari sore, yang menyebabkan pengeringan tanaman. Tanaman mawar mempunyai daya adaptasi sangat luas terhadap lingkungan tumbuh, dapat ditanam di daerah beriklim dingin/sub-tropis maupun di daerah panas/tropis. Suhu udara sejuk 18-26 derajat C dan kelembaban 70-80 %. Media Tanam Penanaman dapat dilakukan secara langsung pada tanah secara permanen di kebun atau di dalam pot. Tanaman mawar cocok pada tanah liat berpasir (kandungan liat 20-30 %), subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik. Pada tanah latosol, andosol yang memiliki sifat fisik dan kesuburan tanah yang cukup baik. Derajat keasaman tanah yang ideal adalah PH=5,5-7,0. Pada tanah asam (pH 5,0) perlu pengapuran kapur Dolomit, Calcit atupun Zeagro dosis 4-5 ton/hektar. Pemberian kapur bertujuan untuk menaikan pH tanah, menambah unsur-unsur Ca

18

dan Mg, memperbaiki kehidupan mikroorganisme, memperbaiki bintil-bintil akar, mengurangi keracunan Fe, Mn, dan Al, serta menambah ketersediaan unsure-unsur P dan Mo. Tanah berpori-pori sangat dibutuhkan oleh akar mawar. Ketinggian Tempat Mawar dapat tumbuh baik pada ketinggian 560-800 m dpl, suhu udara minimum 16-18 derajat C dan maksimum 28–30 derajat C. Ketinggian 1100 m dpl, suhu udara minimum 14-16 derajat C, maksimum 24–27 derajat C. Ketinggian 1400 m dpl, suhu udara minimum 13,7-15,6 derajat C dan maksimum 19,5-22,6 derajat C. Di daerah tropis seperti Indonesia, tanaman mawar dapat tumbuh dan produktif berbunga di dataran rendah sampai tinggi (pegunungan) rata-rata 1500 m dpl. Pembibitan Bahan Tanaman dari Biji (Benih) Persyaratan Benih Supaya biji tumbuh dengan baik, pilih biji yang sehat dengan memasukan ke dalam air (yang baik akan tenggelam, yang mengapung dibuang). Penyiapan Benih Tahap-tahap penyiapan benih tanaman dari biji: Pemilihan buah Pilih buah mawar dari tanaman induk yang sudah produktif berbunga dan jenis unggul sesuai keinginan. Petik buah mawar terpilih yang sudah matang (masak) di pohon.

19

Perlakuan After Ripening Siapkan media semai berupa tanah berhumus dan berpasir (1 : 1). Masukkan (isikan) media tadi ke dalam bak persemaian atau wadah yang praktis dan layak digunakan untuk tempat semai. Siram media semai dengan air bersih hingga cukup basah (lembab). Tanamkan buah mawar satu persatu kedalam media semai hingga cukup terkubur sedalam 0,5-1,0 cm. Biarkan buah mawar hingga kulit luarnya membusuk pada kondisi media yang lembab, beraerasi baik, dan suhu udaranya sekitar 5 derajat C. Waktu yang diperlukan pada perlakuan After Ripening berkisar antara 50-270 hari (tergantung jenis mawar). Teknik Penyemaian Benih Ambil (angkat) biji-biji mawar dari buah yang telah membusuk dalam media semai. Pilih biji-biji mawar yang baik, yaitu bernas yang tenggelam bila dimasukkan ke dalam air. Cuci biji mawar dengan air bersih. Tiriskan biji-biji mawar terpilih ditempat teduh untuk segera disemaikan pada bak persemaian. Semaikan biji mawar secara merata menurut barisan pada jarak antar-baris 5 - 10 cm. Biji akan berkecambah pada umur empat minggu setelah semai. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian Siram media persemaian mawar secara kontinu 1-2 kali sehari. Sapih (perjarang) bibit mawar yang sudah cukup besar ke dalam polybag kecil yang sudah diisi media campuran tanah, pasir dan pupuk organik (1 : 1 : 1). Pemindahan Bibit Pindahkan tanam bibit mawar yang sudah berumur 22 bulan ke kebun/tempat penanaman yang tetap (permanen).

20

Bahan Tanam dari Organ Vegetatif Pelaksanaan penyiapan bahan tanaman dari organ vegetative adalah sebagai berikut : Stek Batang atau Cabang Bahan stek batang yang baik, adalah batang atau cabang dari tanaman yang telah produktif berbunga, berkayu cukup keras, berdiameter sebesar pensil atau potlot, dan tumbuhnya baik (sehat). Tata cara penyetekan mawar adalah sebagai berikut :  Saat penyetekan yang paling tepat adalah pada waktu helaian mahkota bunga layu dan hamper berguguran.  Potong batang atau cabang sepanjang 15 -25 cm untuk tiap stek.  Buang (potong) tangkai daun sebelah bawah pada stek tersebut, dan sisakan dua tangkai daun bagian atasnya.  Rendam stek-stek batang tersebut dalam air bersih selam 10-20 menit. Kemudian rendam lagi stek-stek tadi dalam wadah berisi larutan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT), misalnya Ethrel 40 PGR atau Dekamon 1 – 2 cc/liter atau 1.000 – 2.000 ppm selama 15 – 30 menit.  Siapkan tempat persemaian stek (bedengan, bak atau wadah lain-nya) yang telah diisi media semai berupa campuran pasir dan kompos (pupuk organik) pada perbandingan (1 : 1).  Tanaman stek-stek batang atau cabanng mawar dalam wahana persemaian dan siram media semaian stek hingga cukup basah (lembab).

21

 Kerudungi tempat persemaian dengan lembar plastic bening (transparan). Usahakan tempat persemaian ini keadaannya tetap terang namun teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung.  Buka kerudung plastic ketika stek berumur 6 – 8 minggu, atau saat perakarannya sudah cukup kuat dan mulai tumbuh tunas baru.  Pindahkan tiap stek kedalam polybag ataupun pot berdiameter ± 7,5 cm yang berisi media campuran pasir, kompos (pupuk organik), dan tanah subur (1 : 1 : 1). Tiap potn tunggal masih harus dikerudungi dengan lembar plastic bening selama ± 3 minggu.  Pindahtanamkan bibit mawar yang telah bertunas dan tumbuhnya kuat ke kebun atau pot besar yang tetap (permanen). Pengolahan Media Tanam Tempat penanaman mawar dapat dilakukan di lahan kebun, taman dan dalam pot. Tata cara penyiapan lahan untuk kebun mawar agak berbeda dengan dalam pot/polybag. Persiapan Penyiapan lahan kebun/taman Lahan untuk kebun/taman mawar dipilih tanah gembur, subur dan mendapat sinar matahari langsung (terbuka). Bersihkan lokasi kebun dari rumput-rumput liar/batu kerikil. Penyiapan media dalam pot Siapakan media tanam berupa tanah subur, pupuk organik (pupuk kandang, kompos, Super TW Plus) dan pasir. Komposisi media campuran tanah, pupuk

22

kandang, kompos dan pasir, (1 : 1 : 1). Campuran tanah dengan Super TW Plus perbandingan 6:1. Sediakan pot yang ukurannya disesuaikan dengan besar kecilnya tanaman mawar. Pot yang paling baik adalah pot yang terbuat dari bahan tanah dan tidak dicat. Siapkan bahan-bahan penunjang lainnya seperti pecahan bata merah atau genteng atau arang. Bahan tersebut dapat berfungsi sebagai pengisap kelebihan air (drainase) dan memudahkan sewaktu pemindahan tanaman ke pot atau tempat tanam yang baru. Pengisian media tanam ke dalam pot Dasar pot dilubangi untuk kelebihan air. Basahi pot dengan air hingga cukup basah. Isikan pecahan bata merah/genting/arang pada dasar pot setebal ±1 cm sampai sepertiga bagian pot, lubang pembuangan air di dasar pot jangan tersumbat. Isikan serasah (humus) secara merata setebal ± 1cm di atas lapisan bata merah/genting. Isikan media tanam campuran tanah, pasir dan pupuk kandang/ kompos (1:1:1) atau campuran tanah dengan pupuk organik Super TW Plus (6:1) ditambah sedikit abu dapur. Pengisian media sampai 90 % penuh atau 0,5 - 1,0 cm di bawah batas permukaan pot sebelah atas. Pot siap ditanami bibit (tanaman) mawar. Pembukaan Lahan Tanah dicangkul/dibajak sedalam ± 30 cm hingga gembur. Biarkan tanah dikeringanginkan selama 15–30 hari agar matang dan bebas dari gas-gas beracun. Pembentukan Bedengan Buat bedengan-bedengan dengan ukuran lebar 100-120 cm, tinggi 30 cm, jarak antar bedengan 30-40 cm, dan panjangnya tergantung keadaan lahan. Bila akan

23

dirancang taman mawar yang asimetris, maka penyiapan lahannya dibuat sesuain bentuk yang diinginkan, misalnya lingkaran (bulat) atau guludan-guludan yang serasi dengan lingkungan sekitarnya. Pemupukan Pupuk organik (pupuk kandang/kompos) 20-30 ton/hektar atau Super TW Plus 4-5 ton/hektar diberikan secara disebar dan dicampur merata bersama tanah sambil merapikan lahan (bedengan). Pemberian pupuk organik dengan dimasukkan (diisikan) ke dalam lubang tanam rata-rata 1-2 kg/tanaman. Teknik Penanaman Penentuan Pola Tanaman Buat lubang tanam pada jarak 60×60 cm atau 70×70 cm, tergantung jenis mawar dan kesuburan tanahnya. Pembuatan Lubang Tanam Untuk membuat lubang diperlukan sekop melengkung supaya diperoleh lubang berbentuk silindris. Ukuran lubang 45×45×45 cm. Kedalaman yang baik yaitu bila tanaman diletakkan dalam lubang, kedudukan bagian percabangan utama (bud union) letaknya sejajar dengan permukaan tanah. Akar mawar tidak dapat menembus tanah terlalu dalam, maka tidak perlu mencangkul tanah terlalu dalam, cukup 45–55 cm. Pada saat membuat lubang, tanah di permukaan (top soil), sub-soil dikumpulkan terpisah, karena akan digunakan untuk menutup lubang kembali. Bila daerah itu tertutup rumput, harus diambil dalam bentuk lempengan-lempengan dan diletakkan di tempat teduh, untuk digunakan sebagai pupuk, dengan memasukkannya

24

ke dalam lubang. Lempengan rumput diletakkan terbalik. Top soil dicampur dengan bahan organik (seperti kompos, pupuk hijau, pupuk kandang dan sebagainya) perbandingan 4 bagian tanah dan 1 bagian bahan organik. Lubang ditimbuni sub-soil dicampur dengan bahan organik (dalam jumlah lebih banyak dari pada campuran untuk top soil) dan super fosfat (dapat juga dipakai tepung tulang) 20%. Jumlah super fosfat 1,5-2 kg per 10 m2 tanah, tepung tulang 1,5-3 kg per 10 m2. Lubang diisi top soil dan bahan organik sampai membentuk gundukan. Cara Penanaman Waktu tanam mawar adalah pada awal musim hujan (bila keadaan airnya memadai dapat dilakukan sepanjang musim/tahun. Tanaman mawar yang ditanam berupa bibit cabutan (tanpa tanah), dan bibit yang berasal dari polybag. Cara penanaman bibit mawar cabutan : a) Bongkar bibit tanaman mawar dari kebun pembibitan secara cabutan. b) Potong sebagian batang dan cabang-cabangnya, sisakan 20–25 cm agar habitus tanaman menjadi perdu (pendek). c) Potong sebagian akar-akarnya dengan gunting pangkas tajam dan steril. d) Rendam bibit mawar dalam air atu larutan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) seperti Dekamon 1–2 cc/liter selama 15–30 menit. e) Tanam bibit mawar di tengah-tengah lubang tanam dan akarnya diatur menyebar ke semua arah. Timbun (urug) dengan tanah hingga batas pangkal leher batang. f) Padatkan tanah di sekeliling batang tanaman mawar pelan-pelan agar akarakarnya dapat kontak langsung dengan air tanah. g) Siram tanah di sekeliling perakaran tanaman hingga basah.

25

h) Pasang naungan sementara dari anyaman bambu/bahan lain untuk melindugi tanaman mawar dari teriknya sinar matahari sore hari. Penanaman bibit mawar dari polybag berbeda dengan penanaman bibit mawar cabutan. Bibit mawar dari polybag dipindah tanamkan secara lengkap bersama tanah dan akar-akarnya. Tata cara penanaman bibit mawar dari polybag adalah ebagai berikut: a) Siram media dalam polybag yang berisi bibit mawar hingga cukup basah. b) Angkat polybag kemudian balikkan posisinya sambil ditekuk-tekuk bagian dasarnya agar bibit mawar bersama tanah dan akar-akarnya terlepas (keluar) dari polybag. Bila polybag berukuran besar, maka pengeluaran bibit mawar dapat dengan cara menyobek atau menyayat polybag tersebut. c) Tanamkan bibit mawar ke dalam lubang tanam yang telah disiapkan jauh hari sebelumnya. Letak bibit mawar tepat di tengah-tengah lubang tanam, kemudian urug dengan tanah sampai penuh sambil dipadatkan pelan-pelan d) Siram tanah di sekeliling perakaran tanaman mawar hingga cukup basah. Bibit mawar akan langsung segar dan tumbuh tanpa melalui pelayuan atau istirahat dulu. Pemeliharaan Tanaman Penyiangan Kegiatan penyiangan biasanya bersamaan dengan pemupukan agar dapat menghemat biaya dan tenaga kerja. Rumput liar yang tumbuh pada selokan/parit antar bedengan dibersihkan agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit. Penyiangan sebulan sekali (tergantung pertumbuhan gulma), dengan mencabut

26

rumput-rumput liar (gulma) secara hati-hati agar tidak merusak akar tanaman atau membersihkan dengan alat bantu kored/cangkul. Pemupukan Jenis dan dosis (takaran) pupuk yang dianjurkan untuk tanaman mawar adalah pupuk NPK (5-10-5) sebanyak 5 gram/tanaman. Bila pertumbuhan tunas lambat dipupuk NPK pada perbandingan 10:10:5, bila tangkainya lemah perbandingan pupuk NPK 5:15:5. Jenis dan dosis pupuk lain adalah campuran pupuk yang terdiri atas: 90–135 kg N ditambah 400 kg P2O5 ditambah 120 kg K2O/ha/tahun atau setara dengan 200– 300 kg Urea ditambah 840 kg TSP ditambah 250 kg KCL/ha/tahun. Berdasarkan hasil penelitian Balai Penelitian Hortikultura (Balitro), tanaman mawar perlu dipupuk pupuk NPK 5 gram/pohon pada saat tanam atau 7–15 hari setelah tanam. Pemupukan berikutnya secara kontinu tiap 3–4 bulan sekali, tergantung keadaan pertumbuhan tanaman. Dosis dan jenis pupuk yang dianjurkan adalah campuran pupuk Nitrogen 600 kg N ditambah Fosfat 1000 kg P2O5 ditambah Kalium 400 kg K2O/ha/tahun atau setara dengan urea ± 1350 kg ditambah TSP 2100 kg ditambah KCL 800 kg/ha/tahun. Tiap kali pemupukan diberikan 1/4 - 1/3 dosis pupuk 337,5– 450 kg Urea ditambah 525–700 kg TSP ditambah 100–133 kg KCl per hektar. Pemberian pupuk sebaiknya pada saat sebelum berbunga, sedang berbunga, dan setelah kuntum bunga layu. Cara pemberian pupuk dengan ditabur dalam paritparit kecil dan dangkal diantara barisan tanaman atau di sekeliling tajuk tanaman, kemudian ditutup dengan tanah tipis dan segera disiram hingga cukup basah.

27

Pengairan dan Penyiraman Pengairan dan penyiraman sebaiknya dilakukan pada fase awal pertumbuhan (sekitar umur 1-2 bulan setelah tanam), dilakukan secara kontinu tiap hari 1-2 kali. Pengairan berikutnya berangsur-angsur dikurangi atau tergantung keadaan cuaca dan jenis tanah (media). Waktu pemberian air yang baik pada pagi dan sore hari, saat suhu udara dan penguapan air dari tanah tidak terlalu tinggi. Cara pengairan adalah dengan disiram secara merata menggunakan alat bantu emrat (gembor). Panen Ciri dan Umur Panen Ciri-ciri bunga mawar siap dipetik (dipanen) untuk tujuan sebagai bunga potong : kuntum bunganya belum mekar penuh dan berukuran normal. Untuk tujuan bunga tabur pemetikan bunga pada stadium setelah mekar penuh. Waktu panen yang ideal adalah pagi atau sore hari (saat suhu udara dan penguapan air tidak terlalu tinggi). Di beberapa sentra produsen bunga potong melakukan pemetikan bunga mawar pada malam hari. Cara Panen Cara panen bunga mawar adalah dengan memotong tangkai bunga pada bagian dasar (pangkal) atau disertakan dengan beberapa tangkai daun. Alat pemotong bunga mawar dapat berupa pisau ataupun gunting pangkas yang tajam, bersih dan steril.

28

Periode Panen Tanaman mawar yang bibitnya berasal dari stek ataupun okulasi dapat dipanen pada umur 4-5 bulan setelah tanam atau tergantung varietas dan kesuburan pertumbuhannya. Pembuangan ini akan produktif bertahun-tahun berkisar 3-5 tahun. KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis) Botani Genus Hibiscus diperkirakan mencapai 200 spesies, diantaranya adalah Hibiscus calyphyllus, Hibiscus clayii, Hibiscus sabdariffa, Hibiscus tiliaceus, Hibiscus moscheutos dan Hibiscus rosa-sinensis . Hibiscus dapat ditemukan di daerah temperate ataupun tropis. Secara umum, hibiscus memiliki beragam ukuran dan bentuk daun. Hibiscus rosa-sinensis atau kembang sepatu dianggap sebagai tetua beragam tanaman hibiscus hibrida yang telah banyak dikembangkan (Warren, 1997). Kembang sepatu termasuk jenis tanaman perdu yang memiliki tinggi sekitar 1-4 m (Suryowinoto, 1997). Secara taksonomi, kembang sepatu diklasifikasikan sebagai berikut:        Kingdom Divisi Sub Divisi Kelas Ordo Famili Genus : : : : : : : Plantae Spermatophyta Angiospermae Dycotilenaceae Malvales Malvaceae Hibiscus

29

Spesies

:

Hibiscus rosa-sinensis

Kembang sepatu terdiri dari 5 buah mahkota dan di tengahnya terdapat stamen yang terpusat. Kembang sepatu memiliki beberapa tipe mahkota, diantaranya single petals, double petals dan semi double. Daun kembang sepatu merupakan daun tunggal yang bergerigi. Kelopak bunga berbentuk tabung. Tangkai benang sari bersatu membentuk tabung menyelubungi tangkai putik. Setiap bunga kembang sepatu hanya bertahan satu hari setelah mekar, yaitu mekar dipagi hari dan luruh di sore hari. Kembang sepatu selalu berbunga secara kontinyu (Suryowinoto, 1997). Syarat Tumbuh Kembang sepatu (Gambar 3) memerlukan sinar matahari penuh atau naungan secukupnya (Moggi dan Giugnolini, 1983), namun dengan adanya naungan akan mengurangi jumlah bunga yang dihasilkan (Holttum dan Enoch, 1991). Seluruh kultivar Hibiscus rosa-sinensis tumbuh baik pada daerah yang bebas musim dingin (Warren, 1998). Kembang sepatu dapat dijadikan house plant di daerah yang bersuhu rendah dan terkadang kembang sepatu diberi perlakuan kimia untuk membuatnya kerdil (Holttum dan Enoch, 1991). Media tanam yang digunakan merupakan media yang subur, gembur dan drainase yang baik (Suryowinoto, 1997). Budidaya Kembang sepatu dapat diperbanyak dengan stek atau cangkok (Moggi dan Giugnolini, 1983). Stek merupakan teknik perbanyakan yang paling mudah dilakukan. Bila dilakukan pencangkokan perlu digunakan tanaman yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua (Suryowinoto, 1997).

30

Warren (1998) menyatakan pemangkasan setelah pembungaan merupakan cara untuk mempertahankan bentuk tanaman. Kembang sepatu dapat dikerdilkan dengan penggunaan zat pengatur tumbuh seperti Alar dengan bahan aktif diaminozide. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tanaman dekorasi di ruangan yang kecil. Hama yang mengganggu tanaman kembang sepatu antara lain Aphid dan Mealybugs (Moggi dan Giugnolini, 1983). Sabun insektisida dapat digunakan untuk mencegah serangan serangga (Efanti, 2005). Pengairan perlu dilakukan secara teratur untuk menjaga vigor tanaman. Kembang sepatu memerlukan air dalam jumlah yang banyak (Efanti, 2005). Kemabang sepatu memerlukan banyak aplikasi pemupukan (Efanti, 2005). Pemupukan dengan nitrogen yang tinggi baik dilakukan ketika tanaman dalam fase vegetatif, sedangkan untuk fase generatif dilakukan pemberian pupuk dengan kandungan fosfor tinggi (Suryowinoto, 1997). 2.5. Teknik Produksi Pestisida Nabati Pestisida nabati sekarang banyak dikembangkan, yaitu pestisida yang dibuat dari bahan tumbuh-tumbuhan atau produk tumbuhannya. Banyak tanaman yang mempunyai potensi sebagai pestisida nabati baik dari akarnya, batangnya, daunnya, bunganya bahkan buangan (limbah) dari produk yang telah diproses, misalnya limbah pabrik rokok dan jamu. Para peneliti telah banyak menguji tentang efektifitasnya antara lain daun kecubung, daun mimbo, daun serai, daun secang, umbi bawang putih, rimpang lempuyang gajah dan emprit dan sebagainya.

31

Secara umum ada dua cara mudah untuk membuat membuat pestisida nabati yaitu perendaman untuk menghasilkan produk ekstrak dan penumbukan, pembakaran, pengerusan serta pengepresan untuk menghasilkan produk berupa pasta atau tepung. Kedua duanya memiliki kelebihan masing-masing. Namun demikian untuk alasan mempermudah kegiatan produksi pestisida, banyak petani yang memilih memproduksi dengan cara ekstraksi. Berikut beberapa contohnya : Ekstrak Nimba Sasaran utama ekstrak nimba adalah hama yang sudah umum dikalangan petani seperti wereng batang coklat, penggerek batang, dan nematoda.

Bahan dan alat yang diperlukan adalah satu liter air, alkohol 70% 1 CC, biji nimba 50, penumbuk, dan spray. Cara pembuatannya relatif sederhana, biji nimba ditumbuk sampai halus lalu diaduk dengan alkohol, setelah benar-benar tercampur, adonan diencerkan dengan satu liter air. Sebelum diaplikasikan ke tanah, larutan ini diendapkan semalam lalu disaring agar tidak menyumbat spray. Hama yang terkena insektisida ini akan mati setelah 2 hari penyemprotan. Ekstrak Balengse (Nimba, Lengkuas, Serai) Ekstrak campuran ini akan mengontrol penuh hama penyakit yang kerap menyengsarakan para petani. Bahan yang diperlukan antara lain 8 kg daun nimba, 6 kg lengkuas, 6 kg serai, kembang sepatu secukupnya sebagai perekat. Tumbuk daun nimba, lengkuas, dan serai sampai halus lalu dilarutkan ke dalam 20 liter air dan didiamkan selama semalam. Selanjutnya larutan disaring dan diencerkan dengan 60 liter air. Larutan sebanyak ini cukup untuk 1 ha lahan pertanian.

32

Ekstrak Sirtem (Sirih dan Tembakau) Ekstrak ini efektif untuk memberantas ulat dan belalang. Bahan yang diperlukan adalah 50 lembar daun sirsak, 5 lembar daun tembakau basah atau satu genggam tembakau kering, 20 liter air dan kembang sepatu sebagai perekat. Daun sirsak dan daun tembakau ditumbuk sampai halus lalu dicampur dengan air dan diaduk hingga rata. Setelah rata bahan didiamkan semalam. Untuk pemakaian larutan disaring kemudian diencerkan dengan 50-60 liter air. Ektrak Gatubrotemsi (Gadung, Tuba, Brotowali, Tembakau, dan Sirih) Ekstrak gatubrotemsi bisa dibilang dahsyat. Bayangkan hanya dengan 1 kg umbi gadung, 1 ons tembakau, 1 ruas akar tuba, 1 ons brotowali, dan segenggam daun sirih mampu membasmi ulat-ulat padi, walang sangit, dan kepinding tanah. Cara pembuatannya pun sangat mudah, yakni gadung dikupas, dicuci dan diparut, tuba dan brotowali dipotong lalu ditumbu, daun sirih diremas remas dan ditambah dengan 3 liter air, tembakau dipotong potong dan ditumbuk. Semua bahan tersebut dicampur, dimasukan ke dalam panci dan direbus hingga mendidih, didinginkan dan disaring. Larutan siap digunakan dengan dosis 50-60 cc/ tangki (14 liter).

33

BAB III METODE PELAKSANAAN
3.1. Tempat dan Waktu Pemeliharaan dan pengamatan ini dilaksanakan di kebun praktek Fakultas Pertanian dan Teknologi Pertanian Universitas Negeri Papua Manokwari pada ketinggian 110 meter diatas permukaan laut. Praktikum ini dilakukan selama kurang lebih dan berlangsung selama ± 99 hari yaitu dari tanggal 23 Agustus sampai 30 November 2011 3.2. Bahan Tanaman Bahan yang digunakan adalah benih tanaman kacang panjang, steck mawar, steck bugenvil, pupuk anorganik padat ( N dan P2O5 ), pupuk bokashi, media tanam, pestisida nabati (daun mimba, air), tali rafia dan ajir. 3.3. Pelaksanaan Kegiatan

3.3.1. Produksi Tanaman Kacang Panjang Pembukaan dan Pembersihan Lahan Dalam persiapan lahan mula – mula dilakukan pemilihan dan pengukuran lokasi. Setelah itu, rumput dipotong kemudian dibiarkan selema beberapa hari sehingga benar-benar kering lalu dibakar. Sisa – sisa pembakaran dibersihkan bersamaan dengan perakaran tumbuhan liar hingga lahan bersih, dengan tujuan agar mempermudah dalam proses pengolahan tanah.

34

Pengolahan Lahan dan Ploting Petak Tujuan pengolahan lahan adalah untuk membuat kondisi tanah menjadi ideal agar mempermudah pertumbuhan dan perkembangan sistem perakaran tanaman. Dalam hal ini pengolahan lahan dilakukan dengan tiga tahap :  Penggunaan Tractor roda empat dengan sistem luku (pisau bajak) berfungsi memotong secara kasar dalam bentuk bongkahan tanah.  Penggunaan cangkul, skop dan garu – garu untuk menghancurkan tanah menjadi gembur dan halus untuk memudahkan pembuatan petak.  Pembuatan batasan bedengan dengan menggunakan tali raffia. Penggemburan Tanah dan Pembuatan Bedengan Luas lahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah : 8 m x 15 m, dengan tinggi bedengan mencapai 20 – 30 cm, serta jarak antar tanaman berkisar 70 cm x 50 cm. Di samping itu, dilakukan pengangkatan sisa – sisa perakaran tumbuhan liar dalam tanah dengan menggunakan skop dan cangkul (sistem manual), dan membuat saluran drainase antar petak. Penimbangan Pupuk dan Seleksi Benih Penimbangan pupuk bertujuan agar tersedianya kadar pupuk yang baik dan memadai sesuai standar yang berlaku untuk setiap tanaman. Sehingga dari hasil perhitungan untuk tanaman kacang panjang dengan luasan lahan sebesar 120 m2 membutuhkan pupuk Urea sebanyak 2,6 Kg dan pupuk Super Phospat sebanyak 6 Kg. Proses seleksi benih juga bertujuan agar tersedianya benih yang baik dan bermutu, sehingga mempengaruhi daya perkecambahan yang baik.

35

Penanaman Sebelum penanaman terlebih dahulu dibuat jarak antara tanaman yang berkisar (75 cm x 50 cm), sehingga diperoleh 300 lubang tanaman per satuan lahan. Penanaman dilakukan pada waktu pagi dan sore hari. Pemeliharaan  Penyiangan Penyiangan dilakukan hampir setiap hari dalam seminggu dengan mencabut gulma yang tumbuh di sekitar tanaman dan melakukan penggemburan tanah disekitar tanaman.  Penyulaman Tanaman yang disulam sebanyak 60 lubang tanam, penyulaman dilakukan pada tanaman berumur 1 – 2 minggu setelah tanam.  Pemupukan Pemupukan dilakukan ketika tanaman berumur 3 minggu setelah tanam. Pemupukan menggunakan pupuk Urea (N) dan Super Phospat (P2O5) sebanyak 2,6 Kg dan 6 Kg untuk luasan 8 m x 15 m, yang terdapat sekitar 300 lubang tanam per luasan tersebut.  Pengendalaian Hama dan Penyakit Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kacang panjang, dilakukan dengan cara teknis yaitu hama yang ditemukan pada bagian tanaman disemprot dengan menggunakan pestisida nabati yang telah dibuat.

36

Pemanenan Pemanenan dilakukan pada saat tanaman berumur 8 MST atau 53 hari setelah tanam. Pemanenan dilakukan dengan cara memilih buah yang sudah layak untuk dipanen lalu memetik secara manual pada bagian pangkal buah. 3.3.2. Seleksi dan Uji Viabilitas Benih Pada tahap kegiatan ini proses seleksi benih di lakukan di Laboratorium Pemulian Tanaman, benih yang di seleksi adalah benih kacang kedele. Proses seleksi tersebut dilakukan dengan cara penyortiran dengan tujuan untuk memisahkan antara benih yang baik dengan benih yang cacat. Sedangkan uji viabilitas benih tidak dilakukan tidak dilakukan oleh praktikan. 3.3.3. Produksi Bibit Tanaman Hias Dalam proses produksi tanaman hias ini dilakukan dengan tiga tahap :  Penyiapan media tanaman, dimana pada tahap kegiatan ini tanah dicampur dengan kompos secara merata dengan perbandingan 3 : 1 untuk ukuran polibag ½ Kg.  Penyiapan bahan tanam (stek mawar dan kembang sepatu), pada tahap kegiatan ini tanaman yang telah disediakan dipotong dengan menggunakan gunting stek kurang lebih sepanjang 15 cm. kemudian Direndam didalam larutan rotton F untuk merangsang pertumbuhan akar tanaman.  Penanaman, pada tahap kegiatan ini bahan tanaman yang telah disiapkan langsung ditanam pada media tanam sudah disiapkan terlebih dahulu.

37

3.3.4. Poduksi Pestisida Nabati Dalam proses pembuatan pestisida nabati, kami menggunakan hasil ekstrak dari tumbuh-tumbuhan yang ada disekitar kita, tetapi pada kesempatan ini kami memproduksi pestisida nabati dengan menggunakan ” Daun Mimba “. Adapun

bahan dan alat yang diperlukan dalam proses pembuatan pestisida nabati ini adalah sebagai berikut : bahan yang digunakan adalah daun mimba, sedangkan alat yang kami gunakan adalah blender, gelas Erlenmeyer, saringan, handspray. Langkahlangkah proses pembuatannya adalah sebagai berikut :  Siapkan daun mimba sebanyak 500 gr,  Kemudian daun tersebut dihaluskan dengan menggunakan blender serta air secukupnya,  Kemudian campur dengan 1000 ml air di dalam gelas erlenmeyer, lalu didiamkan selama 1 malam,  Kemudian keesokan harinya disaring dan ditambah dengan 9 liter, lalu siap untuk digunakan dalam penyemprotan sebidang lahan dengan luasan 720 m2. 3.3.5. Penanganan Pascapanen Dalam kegiatan ini tidak dilakukannya penanganan pascapenen hanya berupa pemberian teori penanganan pascapanen di ruangan.

38

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil

4.1.1. Pertumbuhan dan Hasil Panen Kacang Panjang Hasil pengamatan tinggi tanaman kacang panjang pada umur 5 minggu setelah tanam (MST) disajikan dalam tebel di bawah ini. Tabel 1. Rata-rata Tinggi Batang Utama Tanaman Kacang Panjang (cm) Pada Umur 5 MST Jumlah Larikan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tinggi Batang Utama 155 150 130 145 140 110 135 140 125 130

Keterangan : apabila ada notasi angka yang sama menunjukkan tidak ada perbedaan

Tebel 1 menunjukkan bahwa jumlah larikan pada bedengan tanaman kacang panjang sebanyak 10 larikan dan terdiri dari 30 baris dari setiap larikan. Dengan perlakuan yang sama pertumbuhan tinggi tanaman tersebut tidak menunjukkan hasil yang seragam. Dari hasil tersebut, bahwa tingkat pertumbuhan benih dilapangan tidak menunjukkan hasil yang baik dan memuaskan seperti yang tertera pada lebel sertifikasi benih yang diberikan. Ditandai dengan bervariasinya tingkat pertumbuhan tanaman tersebut, seperti yang terlihat pada tabel 1 bahwa rata-rata tertinggi tanaman

39

kacang panjang yang terdapat pada tanaman larikan 1 yaitu 155 cm dan terendah yaitu pada larikan 6 sebesar 110 cm. Namun dapat dikategorikan, tingkat pertumbuhan benih dilapangan mencapai 80%. Hal ini disebabkan karrena tanah atau lahan sebagai media penanaman serta lingkungan sekitar tidak mendukung, menyebabkan terjadinya persaingan untuk mendapatkan unsur hara dalam tanah. Hal ini didukung dengan pernyataan (Cahyono, 2003), yang menjelaskan bahwa ketersediaan unsur hara dalam tanah juga dipengaruhi oleh pemberian pupuk dasar yaitu pupuk kandang (kotoran ayam) pada media tanam. Selain itu, penampilan tanaman kacang panjang juga tergolong kurang memuaskan, dimana tanaman tersebut terserang penyakit kutu daun dan serangga maupun ulat yang senantiasa menempel dan menggerogoti serta menyebar di seluruh bagian tanaman tersebut. Dari hasil pengamatan dan pemeliharaan proses produksi tanaman kacang panjang, bahwa hasil panen perpetak adalah sebanyak 11 ikat yang berkisar antara 1/4 hingga 1/3 kg perikat. Hasil penen tersebut merupakan hasil panen yang digabungkan antara hasil panen yang pertama dan kedua. Besarnya hasil panen pertama mencapai 5 ikat dan yang kedua mencapai 6 ikat. 4.1.2. Analisis Usahatani Produksi Tanaman Kacang Panjanng Seorang petani tidak cukup hanya menguasai teknik budidaya kacang panjang, tetapi harus memahami peluang pasar dan nilai ekonominya. Sangat penting untuk mengetahui tingkat kelayakan suatu usahatani tersebut, terutama menyangkut biaya produksi dan pendapatan dari setiap luasan lahan.

40

Perkiraan analisis usaha budidaya tanaman kacang panjang seluas 120 m2 selama ± 3 bulan yang dilakukan pada tahun 2011 di kebun praktek Fakultas Pertanian dan Teknologi Pertanian Universitas Negri Papua Manokwari. Tabel 2. Hasil Analisis Usahatani Budidaya Kacang Panjang Harga (Rp) Satuan Jumlah 1.000,00 3.000,00 2.000,00 5.000,00 5.000,00 1.000,00 17.000,00

No A B -

Uraian Biaya Tetap Sewa hangsprayer Kayu ajir Sewa traktor Cangkul Sekop Meter Jumlah biaya tetap Biaya Variabel Sarana produksi Benih Pupuk - N - P2O5 Jumlah biaya saprodi Tenaga Kerja Pengolahan tanah (4) Penanaman (4) Penyiangan (3) Penyemrotan (1) Panen (2) Jumlah biaya tenaga kerja Jumlah biaya variabel Jumlah biaya total Penerimaan Keuntungan (D – C)

Satuan Fisik

1 Buah 300 Buah 1 1 1 1

1 bungkus 2,6 Kg 6 Kg

10.000,00 1.500,00 1.800,00

10.000,00 3.900,00 10.800,00 14.700,00 8.000,00 8.000,00 6.000,00 2.000,00 4.000,00 28.000,00 42.000,00 59.700,00 33.000,00 -26.000,00

-

HOK HOK HOK HOK HOK

2.000,00 2.000,00 2.000,00 2.000,00 2.000,00

C D E

11 ikat

3.000,00

Keteangan : menunjukkan data hasil analisis dugaan sementara

41

Nilai-nilai lainnya dalam analisis usaha budidaya suatu produk oertanian antara ;lain Break Even Point (BEP), yaitu perhitungan nilai titik impas, dimana petani tidak mendapat kerugian ataupun keuntungan. Selain itu analisis RC rasio untuk melihat perbandingan antara penerimaan dari biaya. F. Break Even Point (BEP) Biaya tetap BEP = Biaya variabel 1Hasil Penjualan 17.000 = 1 – ( 42.000,00/33.000,00) = 62.350,00

Jadi titik impas terjadi pada saat tingkat penjualan Rp. 62.350,00. Untuk memperoleh keuntungan keuntungan harus melampaui nilai penjualan tersebut. G. R/C rasio Jumlah penerimaan R/C = Jumlah biaya 33.000,00 = 59.700 = 0,55

Nilai R/C diperoleh sebesar 0,55. Ini berarti bahwa setiap Rp 1,00 biaya yang dikeluarkan untuk mengusahakan tanaman kacang panjang, akan diperoleh penerimaan sebesar Rp. 0,55. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman kacang panjang cukup menguntungkan untuk dibudidayakan, namun perlu ditingkatkan lagi cara

42

membudidayakan dan mengusahakan tanaman kacang panjang yang baik sehingga memperoleh hasil yang maksimal. 4.1.3. Pertumbuhan Bibit Tanaman Hias Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan bahwa tingkat pertumbuhan bibit tanaman hias cukup signifikan. Ditandai dengan perbandingan antara jumlah bibit yang tumbuh dengan jumlah semua bibit yang ditanam adalah tergolong baik. Seperti terlihat pada tanaman kembang sepatu, bahwa dari semua bibit yang ditanam menunjukkan pertumbuhan yang seragam yaitu tumbuh dengan baik dengan tingkat pertumbuhan mencapai 100%. Tetapi belum menunjukkan adanya tanda-tanda untuk berbunga, dengan ketinggian mencapai ± 50 cm dan tidak terlihat adanya tanda-tanda serangan hama dan penyakit. Sedangkan pada tanaman mawar, tidak menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Ditandai dengan rendahnya tingkat pertumbuhan tanaman tersebut yang hanya mencapai 20 %. Hal ini diduga karena kurangnya perhatian terhadap tanaman tersebut. Tetapi tidak menunjukkan adanya tanda-tanda serangan hama dan penyakit, hanya kekurangan naungan dan air yang cukup. Dari sekian bibit yang ditanam, tanaman yang tumbuh juga sudah berbunga dan kira – kira tinggi tanaman tenaman tersebut mencapai ± 40 cm. 4.1.4. Produksi Pestisida Nabati Selama proses pembuatan pestisida nabati, tidak adanya kendala – kendala yang cukup memprihatinkan sehingga membuat terhambatnya proses pembuatan produk alami tersebut. Namun, hanya membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 1 malam di diamkan untuk dapat digunakan pada tanaman yang terserang hama dan penyakit tumbuhan. Tetapi setelah pengaplikasian produk tersebut pada

43

tanaman yang terserang hama dan penyakit tumbuhan, tidak menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Hal ini ditandai dengan tidak adanya perubahan yang terjadi pada tanaman kacang panjang tersebut, sehingga masih terlihat adanya hama kutu daun dan diduga adanya gejala penyakit mozaik dengan tanda-tanda yang ditularkan oleh hama kutu daun sehingga tanaman tampak kusam dan tidak sehat. Menanggapi hal tersebut kami sebagai tim dalam kelompok tidak mencoba untuk memberikan penanganan yang lebih intensif terhadap tanaman tersebut. Hal ini terkait dengan dan kekompakan kerja sama dalam tim dan juga tim lain yang turut mengambil mata kuliah ini dan instruksi yang jelas dari ketua kelompok besar sebagi kordonator dalam lapangan karena tentunya membutuhkan dana serta peralatan yang memadai. 4.2. Pembahasan Dalam menanam suatu tanaman tentunya harus ada persiapan berupa media tanam yang akan digunakan sebagai tempat dimana tanaman tersebut akan ditanam. Hal ini terkait dengan syarat tumbuh yang baik bagi tanaman yang akan ditanam, serta faktor-faktor lain yang juga turut mempengaruhi seperti curah hujan, kelembaban, ketinggian, kesuburan tanah, lama penyinaran matahari dan jenis tanah yang cocok untuk tanaman tersebut. Selain faktor-faktor eksternal tersebut, adapun faktor-faktor internal yang juga turut mempengaruhi daya tumbuh dan tingkat pertumbuhan dari suatu tanaman. Faktor-faktor tersebut berupa sifat-sifat genetik dari tanaman tersebut, apakah pewarisan sifat sama dengan induknya atau adanya perubahan gen akibat faktor lingkungan. Selain itu, tingkat kematangan bibit yang layak untuk digunakan sebagai bibit yang baik dan bermutu, baik itu berupa biji maupun stek oleh sebab itu perlunya diadakan proses sleksi bibit yang teliti agar

44

tidak terjadi kerugian pada curahan kerja dan modal yang dikorbankan pada saat menanam tanaman tersebut. Sehingga faktor-faktor eksternal dan internal pada tanamn turut berpengaruh pada proses pembentukan akar dan daya adaptasi terhadap lingkungan yang baru bagi tanaman tersebut yang mengakibatkan terjadinya perbedaan tingkat pertumbuhan benih yang tidak seragam. Sehubungan dengan itu, terjadinya perbedaan pertumbuhan pada setiap tanaman juga mempengaruhi hasil panen antar tanaman tersebut. Dimana, tanaman yang berberpenampilan kurang sehat tentunya tidak sama hasil penennya dengan tanaman yang berpenampilan menarik. Hal ini karena, selain faktor internal dan eksternal dari pada syarat tumbuh suatu tanaman, proses pengelolahan pada media tanam yang tersedia juga turut mempengaruhi perbedaan pertumbuhan. Dimana, adanya perbedaan antara tanaman yang diberi perlakuan khusus dengan tanaman yang tidak diberi perlakuan khusus. Sehingga hasil yang didapat dan diharapkan dari tanaman tersebut tidak optimal. Oleh sebab itu adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan agar dapat meningkat pertumbuhan bibit tanaman hias yaitu harus adanya seleksi/penyortiran bibit yang baik, penaganan lebih lanjut agar tidak sempat terjadinnya masa kritis pada bibit khususnya pada bibit berupa stek. Hal ini karena, bibit berupa stek ada mempuyai daya tahan yang rendah apabila disimpan dalam waktu lama dibanding bibit berupa biji yang dapat tahan lama ketika telah di packing baik. Selain itu, upaya lain yang dapat dilakukan adalah diberikannya larutan khusus (rotton F) yang dapat mempercepat/merangsang pertumbuhan akar dengan cepat khusus pada bibit berupa stek, serta pengolahan media tanam dengan campuran yang baik antara pupuk, tanah

45

dan kompos serta terlihat gembur agar dengan mudah akar tanaman menembus tanah dan melangsungkan proses penyesuaian media pertumbuhan. Setelah dilakukanya proses produksi mulai dari produksi bibit tanaman hingga pada proses panen tentunya ada kendala-kendala tertentu yang tidak diduga muncul walaupun telah dilakukannya segala kemungkinan yang akan terjadi. Sehingga menyebabkan hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Oleh sebab itu, adapun upaya-upaya yang dapt dilakukan untuk meningkatkan keuntungan usahatani yaitu : luas lahan yang diusahakan cukup untuk mengimbangi biaya orperasional yang dicurahkan dengan harapan hasil yang diperoleh maksimal. Selain itu penggunaan saprodi yang efisien dan efektif bagi kegiatan usahatani yang dijalankan baik penggunan modal tetap dan modal variabel, penanganan HPT secara teratur dan continue agar tidak terjadinya kesempatan para OPT (organism pengganggu tanaman untuk sempat berkembang biak. Alam sebenarnya telah menyediakan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman. Dan tentunya ada kelebihan dan kekurangannya. Adapun kelebihan dan kekurangan pestisida nabati : Kelebihan : 1. Degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari 2. Memiliki pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan napsu makan serangga walaupun jarang menyebabkan kematian 3. Toksisitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relative lebih aman pada manusia dan lingkungan

46

4. Memiliki spectrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif 5. Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida kimia 6. Phitotoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman 7. Meningkatkan kualitas produksi tanaman 8. Murah dan mudah dibuat oleh petani Kelemahannya : 1. Cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering 2. Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga) 3. Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan baku 4. Kurang praktis 5. Tidak tahan disimpan Pada umumnya setiap hasil produksi pertanian tentunya melakukan proses pascapanen, tanpa disadari seseorang yang baru saja mencoba mengusahakan tanaman yang nantinya akan bersifat komersil maupun tidak pastinya melakukan proses pasca panen. Apalagi bagi seorang petani yang memang tujuannya utamanya untuk pemasaran hasil pertaniannya. Oleh sebab itu, kita juga perlu tau apa itu sebenarnya pascapanen, maka pascapanen adalah suatu proses penanganan bagi produk pertanian selepas panen dengan tahapan pengumpulan, penyortiran, penyimpanan dan pengemasan serta pengangkutan. Sehingga begitu pentingnya penanganan pascapanen bagi produk pertanian agar dapat sampai ke tempat tujuan dengan baik, kecuali langsung dilakukannya pengolahan pascapanen. Penanganan

47

pascapanen dengan baik dan benar bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya proses laju respirasi pada produk tersebut dan peluang masuknya hama penggerak biji dan penyakit lainnya.

48

BAB V KESIMPULAN
Tahap produksi tanaman kacang panjang mulai dari pembukaan lahan hingga panen berjalan dengan baik, walaupun adanya kendala-kendala pada setiap tahapan kegiatan sehingga membuat lambatnya penanganan pada setiap tahapan kegiatan. Hasil yang diperolah dari produksi tanaman kacang panjang yaitu 11 ikat dengan penerimaan pemasaran sebesar Rp 33.000,00 dari harga Rp 3.000,00 perikat. Tetapi dari hasil yang diperoleh ternyata tidak mencapai titik impas (break even point) sebesar Rp 62.350,00. Hal ini karena terjadinya serangan hama berupa kutu daun yang menyebabkan peroduksi hasil yeng menurun. Proses produksi bibit tanaman hias berjalan dengan baik, mulai dari penyortiran bibit hingga penanaman bibit tanaman hias. Namun, tingkat pertumbuhan pada tanaman mawar cukup minim yaitu sekitar 20% lain halnya dengan tanaman kembang sepatu yaitu mencapai 100%. Proses produksi pestisida nabati juga berjalan dengan baik mulai dari proses pengumpulan bahan hingga tahap pengaplikasian berjalan dengan baik. Namun, efek dari penggunaan pestisida nabati ini tidak menunjukkan hasil yang signifikan ditandai dengan tidak ada perubahan pada tanaman yang terserang hama dan penyakit khususnya pada tanaman kacang panjang.

49

DAFTAR PUSTAKA
http://medha.lecture.ub.ac.id/files/2009/09/modul-praktikum-tpt.pdf (diakses pada tanggal 30 November 2011) http://konsultasisawit.blogspot.com/2011/10/cara-budidaya-kacang-panjanglengkap.html (diakses pada tanggal 30 November 2011) http://id.wikipedia.org/wiki/Kacang_panjang (diakses pada tanggal 30 November 2011) http://dc190.4shared.com/doc/iFId7yBm/preview.html (diakses pada tanggal 30 November 2011) http://www.wisatalembang.com/2010/03/budidaya-bunga-mawar.html (diakses pada tanggal 30 November 2011) http://medha.lecture.ub.ac.id/files/2009/09/modul-praktikum-tpt.pdf (diakses pada tanggal 30 November 2011) http://widyariska.blogspot.com/2010/01/tentang-pestisida-organik_02.html (diakses pada tanggal 30 November 2011) http://hkti.org/budidaya-kacang-panjang-vigna-spp/ November 2011) http://konsultasisawit.blogspot.com/2011/10/cara-budidaya-kacang-panjanglengkap.html (diakses pada tanggal 30 November 2011) http://ayobertani.wordpress.com/2009/04/29/menanam-kacang-panjang/ pada tanggal 30 November 2011) (diakses (diakses pada tanggal 30

50

http://www.warintek.ristek.go.id/pertanian/mawar.pdf (diakses pada tanggal 30 November 2011) http://www.kebonkembang.com/panduan-dan-tip-rubrik-35/perbanyakan-mawarsecara-stenting-setek-dan-grafting.html (diakses pada tanggal 30 November 2011) http://uden-udensimple90.blogspot.com/2011/02/dua-cara-utama-produksipestisida.html (diakses pada tanggal 30 November 2011) Rakhma Melati Sujarwo,2008. BUDIDAYA DAN PENGELOLAAN USAHA TANAMAN HIAS CALLA LILY (Zantedeschia sp.), KRISAN (Dendranthema grandiflora Tzvelev.) DAN KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosasinensis) DI PT MANDIRI JAYA FLORA INDONESIA. FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR. (http://. Skripsi Rakhma M Sujarwo

_A34303032_/files/2008/06/docA08rms.pdf) (diakses pada tanggal 9 Desember 2011) Eko Haryanto dkk, 2009. Budidaya Kacang Panjang(Jakarta: Penebar Swadaya, 1992).

51

52

Lampiran 1 Kronologi Kegiatan Proses Produksi Tanaman

Hari/ Tanggal Kegiatan Selasa, 23 Agustus 2011 Pembukaan Rabu, 24 Agustus 2011 Pembersihan Lahan Selasa, 6 September 2011 Pengolahan Lahan Ploting Petak Rabu, 7 September 2011 Penggemburan Tanah Pembuatan Bedengan Selasa, 13 September Penimbangan Pupuk 2011 Seleksi Benih Rabu, 2011 14 September Pemupukan Penanaman Dasar

dan dan dan dan

dan

Selasa, 20 2011 Rabu, 21 2011

September Analisis Usahatani September Pembuatan Nabati

Dosen Pendamping Dr. Wasgito Purnomo Ir. La Musadi, M.Si Dr. Wasgito Purnomo Ir. La Musadi, M.Si Dr. Wasgito Purnomo Ir. La Musadi, M.Si Dr. Ishak Musa’ad Ir. Amelia Sarunggallo, MP Syukur Karamang, M.Si Dr. Ishak Musa’ad Ir. Amelia Sarunggallo, MP Syukur Karamang, M.Si Ir. Ishak Suwardi, M.Si

Pestisida Ir. Yacob Bodang, M.Si Ir. Amelia Sarunggallo, MP Dr. Wasgito Purnomo Selasa, 27 September Pembibitan Tanaman Hias Syukur Karamang, M.Si 2011 Ir. Amelia Sarunggallo, MP Dr. Ishak Musa’ad Oktober – November Pemeliharaan Tanaman Dr. Wasgito Purnomo 2011 Ir. La Musadi, M.Si Syukur Karamang, M.Si Ir. Amelia Sarunggallo, MP Dr. Ishak Musa’ad 11 Oktober – 9 Pemeliharaan kakao dan Ir. La Musadi, M.Si November 2011 Kopi Ir. Yacob Bodang, M.Si Syukur Karamang, M.Si Ir. Amelia Sarunggallo, MP 15 – 30 November 2011 Penanganan Pascapanen Ir. Budi Santoso, MP dan Pemasaran Ir. Ishak Suwardi, M.Si 1 – 15 Desember 2011 Pembuatan dan Masing-masing Dosen Pengumpulan Laporan Pendamping

53

Gambar 1. Pembukaan dan Pengolahan Lahan

Gambar 2. Pembuatan Bedengan

54

Gambar 3. Penanaman Bibit Tanaman Kacang Panjang

Gambar 4. Panen Tanaman Kacang Panjang

55

Gambar 5. Penampilan Bunga Kembang Sepatu

Gambar 6. Penampilan Bunga Mawar

56

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful