OBYEK KAJIAN ILMU BALAGHAH

Nov 2 Posted by ibnusamsulhuda I. PENDAHULUAN Pengkajian sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dan menggairahkan. Ketika dorongan rasa ingin tahu menggelora, maka pengembaraan pengkajian itu terasa indah dan bergairah. Sebelum mengkaji sesuatu secara mendalam, perlu diketahui sebelumnya obyek kajian apa saja yang terkandung dalam kajian tersebut, karena pengetahuan tentang sesuatu akan lebih mudah dipelajari dengan metode dan kajian yang sistematik. Ilmu Balâghah, sebagaimana ilmu lain berangkat dari sebuah proses penalaran untuk menemukan premis-premis pengetahuan yang dianggap benar untuk kemudian disatukan menjadi kumpulan teori. Setelah teori itu terkumpul secara generik dengan pembagianpembagian yang sepesifik, maka ada kecenderungan untuk mempelajari bagian-bagian tersebut secara parsial—banyak yang menyebut al-Sakkâki sebagai tokoh yang mengubah balâghah dari shinâ’ah menjadi ma’rifah—dari induktif menjadi deduktif. Dari paparan tersebut tersirat bahwa setiap ilmu mempunyai obyek kajian yang membatasi ruang gerak keilmuan tertentu, agar jelas dan tidak mengaburkan pembahasan. Sastra yang merupakan ekspresi merdeka, bukan sesuatu yang tanpa aturan dan rumusan. Hal ini bisa dibuktikan dengan munculnya beragam ilmu sastra yang menentukan kualitas karya saatra yang dianalisa. Dalam tradisi ilmu sastra Arab, balâghah setelah menjadi ilmu mempunyai rumusan-rumusan tertentu yang digunakan sebagi basis konkretisasi sastra dan tolak ukur keindahan dan ke-balâghah-an karya sastra. Balâghah merupakan ilmu sastra di atas kajian morfologi dan sintaksis, kajian balâghah berpijak pada kedua ilmu tersebut, yang secara teori prasyarat mempelajari balagah harus menguasai morfologi (sharf) dan sintaksis (nahw). Makalah ini secara ringkas berusaha untuk mendeskripsikan obyek kajian ‘Ilmu al-Balâghah.

II.PEMBAHASAN A. AL-BALÂGHAH — AL-FASHÂHAH Balâghah secara etimologi berarti al-wusûl wa al-intihâ’ (sampai dan berakhir). Balâghah secara terminologi hanya ditempatkan sebagi sifat yang melekat pada kalâm (balâghatu al-kalâm) dan sifat yang melekat pada mutakallim (balâghatu al-mutakallim). Balâghat al-kalâm, berarti mencari kalimat yang sesuai dengan maksud yang dikehendaki, dengan kata-kata yang fasih baik ketika mufrad maupun murakkab.

Sedangkan kalimat yang bâligh (al-kalâm al-balîgh) adalah kalimat yang mampu mengejawentahkan ide penutur untuk disampaikan kepada lawan tutur (pendengar) dengan gambaran ide yang tidak berubah pada keduanya. Sedangkan balâghat almutakallim, berarti kemampuan diri untuk mencipta kalimat yang balîgh (fasîh dan mengena sasaran)[1]. Dari terminologi di atas nampak jelas bagaimana balâghah mempunyai peran komunikatif—stimulus dan respon—dengan kalimat yang tidak ambigu dan mampu mewakili ide penutur. Al-Fashâhah dalam istilah ilmuan balâghah diartikan sebagai ungkapan yang jelas dan gamblang, mudah difahami dan benar strukturnya, sebagaimana biasa digunakan oleh para penyair dan penulis[2]. Fashâhah terdapat dalam kata (al-mufrad), kalimat (alkalâm) dan penutur (al-mutakallim). Sedangkan balâghah hanya bersinggungan dengan kalimat (al-kalâm) dan penutur (al-mutakallim)-nya saja.[3] Dari pengertian balâghah dan fashâhah diatas nampak jelas bagaimana balâghah mensyaratkan aspek eksternal bahasa, yakni sampai dan mengenanya ide kalimat kepada lawan tutur. Balâghah menempatkan kalimat sebagai proses sampainya makna dari stimulus ke responden, tidak hanya pada aspek internal kalimat saja (mufrad), pendek kata kalimat yang balîgh mesti fashîh dan tidak sebaliknya. Balâghah dalam terminologi ilmu berarti sebuah kemampuan untuk mengungkapkan apa yang ada dalam fikiran dengan ungkapan yang jelas maknanya dan benar strukturnya, sangat berkaitan erat dengan sastra bahkan awalnya mencakup ilmu sastra dengan segala macam bentuk dan keindahannya[4]. Balâghah dalam pengertian ini sering dipadankan dengan retorika, Gorys Keraf mengartikan retorika sebagai suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, baik lisan maupun tertulis, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun dengan baik.[5] Susunan pengetahuan yang berupa komulasi aturan-aturan pragmatik[6] dan estetika kalimat itulah yang dalam bahasa Arab kemudian disebut sebagai Ilmu Balâghah. Balâghah mempunyai tiga cabang ilmu yaitu (1) Ilmu al-Ma’âni (2) Ilmu al-Bayân, dan (3) Ilmu al-Badî’, ketiganya mempunyai obyek kajian yang masing-masing saling melengkapi. B. ‘ILMU AL-MA’ÂNI ‘Ilmu Ma’âni adalah dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang menjelaskan pola kalimat berbahasa Arab agar bisa disesuaikan dengan kondisi dan tujuan yang dikehendaki penutur. Tujuan „ilmu al-ma’âni adalah menghindari kesalahan dalam pemaknaan yang dikehendaki penutur yang disampaikan kepada lawan tutur. Ilmuan bahasa yang dianggap sebagai pencetus Ilmu Bayan adalah „Abdul Qâhir al-Jurjani ( w. 471 H)[7]. Dari terminologi ‘ilmu al-ma’âni yang ingin menyelaraskan antara teks dan konteks, maka obyek kajiannya-pun berkisar pada pola-pola kalimat berbahasa arab dilihat dari pernyataan makna dasar—ashly, bukan tab’iy— yang dikehendaki oleh penutur. Menurut as-Sakkâki, yang dikehendaki oleh pembacaan model ma’âni bukan pada struktur kalimat itu sendiri, akan tetapi terdapat pada “makna” yang terkandung dalam sebuah tuturan.

. contoh: ٟ‫أٟ فم١ش اٌٝ ػفٛ سث‬  Menampakkan kelemahan dan kepasrahan . 1. ٝ‫أٟ ٚػؼزٙب أٔث‬ Dilihat dari sisi susunan gramatikalnya kalâm khabar dibagi kedalam dua bentuk[10]: Pertama: al-jumlah al-fi’liyyah (verbal sentence). yang telah berlalu dan yang akan datang. dan dikatakan bohong jika kalimatnya tidak sesuai dengan fakta[9]. Contoh: ‫األسع ِزذشوخ ٚاٌشّظ ِششلخ‬ 2. Contoh kalâm khabar “purnama telah datang dan pekat-pun berlalu”. bisa saja berita ini benar bisa juga salah. biasanya untuk menentukan ketetapan sifat kepada yang disifati dan untuk menyatakan kebenaran umum (general thuth). sekarang.  Sebagai permohonan belas kasihan (istirhâm). yaitu (1) Insya’ thalaby (2) Insya’ ghairu thalaby. Penutur dikatakan jujur jika kalimatnya sesuai dengan fakta. menunjukkan suatu pekerjaan yang temporal. diantaranya. contoh. bukan pada tuturan itu secara otonom. Kalâm Khabar (statement sentence) Kalâm Khabar atau kalimat berita adalah kalimat yang penuturnya bisa dikatakan jujur atau bohong. dengan tiga keterangan waktu.[11] Kalâm insya’ dibagi kedalam dua bagian. (1) Kalâm Khabar (2) Kalâm Insya’ (3) al-Qasr (4) Îjaz. Contoh: ‫أششلذ اٌشّظ ٚلذ ٌٚٝ اٌظالَ ٘بسثب‬ Kedua: al-jumlah al-ismiyah (nominal sentence).[8] Adapun obyek kajian Ilmu Ma’ani adalah tema-tema berikut. Adapun tujuan kalimat berita (kalâm khabar) bermacam-macam. Ithnab dan Musâwah.Jadi yang terpenting dalam pembacaan ma’ani adalah pemahaman pendengar terhadap tuturan penutur dengan pemahaman yang benar. Kalâm Insya’(originative sentence) Kalâm Insya’ adalah kalimat yang penuturnya tidak bisa dinilai bohong ataupun jujur. contoh: ‫أٟ ٚ٘ٓ اٌؼظُ ِٕٟ ٚاشزؼً اٌشأط ش١جب‬  Penyesalan dari sesuatu yang diharapkan.

contoh: . Insya’ thalaby Insya’ thalaby adalah kalimat yang menghendaki suatu permintaan yang belum diperoleh saat meminta. contoh: ْ ِ َّ َ َ َ َ َّ َ 25 6ًٌّٕ‫}سةِّ أَْٚ صػِٕٟ أَْ أَشىش ِٔؼّزَه اٌَّزِٟ أَٔؼّذَ ػٍَٟ ٚػٍَٝ ٚاٌِذٞ { ا‬ َ َ ْ َ ُ ْ ْ َْْ َ b) Al-Irsyâd (petuah bijak). contoh: 216ُ٠‫)٠َب٠َذْ ١َٝ خز اٌىزَبة ثِمُٛح ٚءآرَ١َٕبُٖ اٌذىُ طجِ١ًّّب ( ِش‬ َ َ ْ ُ ْ ْ َ َ ٍ َّ َ ِ ْ ِ ُ b) Fi’il mudhâri’ yang bersambung dengan lâm al-`amr. Insya’ thalaby dibagi kedalam lima macam. Dilihat dari bentuk kalimatnya. contoh: 3 6‫)ٌِ١ُٕفِك رٚ عؼخ ِٓ عؼزِٗ (اٌطالق‬ ِ َ َ ِّ ٍ َ َ ُ ْ c) Ism fi’il al-`amr. contoh: ْ َ ْ َ َ ُْ ْ 141 6‫)٠َآأَ٠َُّٙب اٌَّز٠َٓ ءإُِٛا اِرا رَذَا٠َٕزُُ ثِذ٠ْٓ اٌَِٝ أَجً ِغًّّٝ فَبوزُجُُٖٛ ٚ ٌْ١َىزُت ثَّ١َٕىُ وبرِتٌ ثِبٌؼذي (اٌجمشح‬ ّ َ ُّ ٍ َ ِ َْْ ٍ َ ْ َ َ ِ c) Al-Tahdîd (ancaman). contoh: ٌ ِ 006‫}اٌمِ١َبِخ اػٍُّٛا ِبشئزُُ أَُِّٗ ثِّب رَؼٍَُّْٛ ثَظ١ش {فظٍذ‬ ْ ِْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ْ َ d) Al-Ta`jîz (melemahkkan). yaitu[12]: 1) Al-`amr. yaitu[13]: a) Fi’il `amr. Al-`amr adalah meminta terlaksananya suatu pekerjaan kepada lawan bicara dengan superioritas dari penutur untuk melaksanakan perintah. diantaranya: a) Al-du’a` (do‟a). contoh: 2016‫}٠َبأَ٠َُّٙب اٌَّز٠َٓ ءإُِٛا ػٍَ١ىُ أَٔفُغىُ الَ٠َؼُشُّ وُ ِٓ ػً اِراا٘زَذ٠زُُ َ { اٌّبئذح‬ ْ ْ َ ْ َ َّ َ ْ َّ ْ ُ ُْ َ ُْْ َ َ َ ِ d) Mashdar sebagai ganti fi’il `amr. al-`amr dalam bahasa Arab memiliki empat bentuk.a. contoh: ْ َِ َ ْ ُ ِ 48 6‫}ٚثِبٌٛاٌِذ٠ٓ اِدْ غبًّٔب ٚرٞ اٌمُشْ ثَٝ ٚاٌ١َزَبِٝ ٚاٌّغبو١ٓ ٚلٌُُٛٛا ٌٍَِّٕبط دغًّٕب { اٌجمشح‬ َ ِ ِ َ َْ َ َ ْ َ ِ َْ َْ َ Selain model pola kalimat al-`amr juga memiliki beberapa fungsi makna. contoh: َّ ِ ْ َ ِ ْ ِّ ِ ٍ َ 186‫)فَؤْرُٛا ثِغُٛسح ِٓ ِثٍِٗ ٚادػُٛا شَٙذَآءوُ ِٓ دُْٚ َّللاِ اِْ وٕزُُ طبدلِ١َٓ (اٌجمشح‬ ِ َ ْ ُ ِّ ُ َ ُ e) Al-Ibâhah (pembolehan).

ْ َْ ْ ُُ 2436‫)ٚوٍُٛا ٚاششثُٛا دزَّٝ ٠َزَجَ١ََّٓ ٌَىُ اٌخ١ؾُ ْاألَث١َغُ َِٓ اٌخَ ١ْؾ ْاألَعْٛد َِٓ اٌفَجْ ش (اٌجمشح‬ َ َ ْ َ ُ َ ِ ْ ِ ِ ْ ِ َِ 2) Al-Nahy. hal. contoh: ْ ِ 4 6ْ‫)سثََّٕب الَرُضؽ لٍُُٛثََٕب ثَؼذ اِر َ٘ذ٠زََٕب َٚ٘تْ ٌََٕب ِٓ ٌَّذُٔه سدْ ّخًّ أَِّه أَٔذَ اٌَّٛ٘بةُ (اي ػّشا‬ َ َ ِ َْ َ َْ ْ َ ْ َ َ َ b) Al-Irsyâd ( memberi petuah bijak).. man.!)[14] contoh: 41 6‫)ٚالَرُفغذُٚا فِٟ ْاألَسْ ع ثَؼذ اِطْ الَدَٙب رٌِىُ خ١ش ٌَّىُ اِْ وٕزُُ ِئِِٕ١َٓ ( األػشف‬ َْ ِ ُْ ٌ َْ ُْ َ ِ ِ ْ ُّ ُ ِ ْ َ Seperti halnya amr. istifhâm dibagi menjadi tiga macam. aina. Al-nahy adalah meminta dihentikannya suatu pekerjaan kepada lawan bicara dengan superioritas dari penutur untuk melaksanakan permintaan. contoh: ‫٠ب ٌ١ً ؽًٍٍ ٠ب َٔٛ صي * ٠ب طجخ لف ال رطٍغ‬ ِ 3) al-Istifhâm. kayfa. Struktur kalimatnya disusun dengan menyambungkan fi’il mudhâri’ dengan lâ nâhiyah ( berarti: jangan. diantaranya: a) Al-du’â`(berfungsi sebagai do‟a).. contoh: ْ 202 6‫)٠َبأَ٠َُّٙب اٌَّز٠َٓ ءإُِٛا الَرَغئٍَُٛا ػَٓ أَش١َآء اِْ رُجذ ٌَىُ رَغُئوُ… (اٌّبئذح‬ ُْ ْ ُْ َْ َ ْ ْ َ َ ِ c) Al-Dawâm (keabadian). matâ. Dilihat dari segi bentuk permintaannya. yaitu: hamzah. Adât yang digunakan adalah hamzah. kam dan ayyu . dengan menggunakan adât al-istifhâm (kata sandang untuk istifhâm). struktur nahy juga memiliki beberapa fungsi makna. Al-Istifhâm adalah mencari tahu tentang sesuatu yang belum diketahui sebelumnya. contoh: ‫. contoh: ْ ٍ ْ ُ ِّ َ َ َّ َ 016ُ١٘‫)ٚالَرَذْ غجَٓ َّللاَ غَبفِالًّ ػّب ٠َؼًّ اٌظَّبٌَِّْٛ أَِّّب ٠ُئخشُُ٘ ٌِ١َْٛ َ رَشخَ ضُ فِ١ٗ ْاألَثْظبس (اثشا‬ ُ َ ُ َ ْ َّ َ ِ ُ َ d) Al-Tahdîd (ancaman).ال رطغ أِشٞ ا٠ٙب األر‬ e) Al-Tamannî (pengharapan). mâ. contoh: . ayyâna. yaitu[15]: a) Pertanyaan yang kadang meminta konfirmasi dan kadang meminta afirmasi (tashawwur).

a) Sesuatu yang mustahil digapai. sekiranya.contoh: ‫٠غئٍٛٔه ػٓ اٌغبػخ أ٠بْ ِشعٙب؟‬ 4) al-Tamannî Al-Tamannî adalah mengharapkan sesuatu yang mustahil digapai atau yang tidak mampu digapai[16].. yaitu: a) Hal (apakah.1) ‫1) أ ػٍٟ ِغبفش؟‬ ‫أ ػٍٟ ِغبفش أَ خبٌذ؟‬ b) Pertanyaan yang meminta afirmasi saja.contoh: ‫ً٘ ٠ؼمً اٌذ١ٛاْ؟‬ c) Pertanyaan yang meminta konfirmasi saja. contoh: ْ ْ َ َ ُ ِ َ َّ َّ َ َ ْ َ َُْٚ‫فًََٙ ٌََّٕب ِٓ شفَؼآء فَ١َشفَؼُٛا ٌََٕآ أَْٚ ُٔشد فََٕؼًّ غ١ْش اٌَّزٞ وَّٕب َٔؼًّ لَذ خَغشُٚا أَٔفُغُُٙ ٚػً ػَُُٕٙ ِبوبُٔٛا ٠َفزَش‬ ِ ْ ُ َ ْ ُ ِ َ َ َ َ ْ ُّ َ 186‫)(األػشاف‬ b) Lau (jika.). contoh: ‫أ عشة اٌمطب ً٘ ِٓ ٠ؼ١ش جٕبدٗ * ٌؼٍٟ اٌٝ ِٓ لذ ٘ٛ٠ذ أؽ١ش‬ 5) al-Nidâ’ . contoh: ُ َّ َ َّ 201 6‫)فٍََْٛ أَْ ٌََٕب وشحًّ فََٕىَْٛ َِٓ اٌّئِِٕ١َٓ (اٌشؼشاء‬ ِ ُْْ ِ c) La’alla( niscaya…). contoh: 356‫)٠َبٌَ١ْذَ ٌََٕب ِثً ِآأُٚرِٝ لَبسُُْٚ أَُِّٗ ٌَزٚ دعٍّ ػظ١ُ (اٌمظض‬ ٍ ِ َ َ ُ َ َ َ ِْ Al-Tamannî memiliki satu `adât ashly yakni ‫ ٌ١ذ‬dan mempunyai tiga `adât yang tidak ashly sebagai penggantinya. akankah…). contoh: ‫أال ٌ١ذ اٌشجبة ٠ؼٛد ٠ِٛب * فؤخجشٖ ثّب فؼً اٌّش١ت‬ b) Sesuatu yang mungkin digapai namun tidak mampu teraih. adât al-istifhâm yang digunakan adalah hal. adakah. Adât yang digunakan adalah semua adât al-istifhâm kecuali hal dan hamzah.

anjuran). wâ. hayâ dan wâ.. Insya’ ghairu thalaby bisa berbentuk. al-Madh wa al-Dzam. contoh: ‫٠ب فئدٞ ِزٝ اٌّزبة أٌّب * رظخ ٚاٌش١ت فٛق سأط أٌّب‬ c) Al-Tahassur wa al-taujî` (penyesalan dan kesakitan). Hamzah dan aiy berfungsi untuk memanggil sesuatu yang berada di dekat pemanggil. yaitu: hamzah. Insya’ Ghair Thalaby Insya’ Ghairu Thalaby adalah kalimat yang didalamnya tidak menghendaki suatu permintaan. bi`sa dan habbadza. دجٟ ٚ٘ٛائٟ ِىزَٛ اٌ١ٙب‬ e) Al-Nudbah (ratapan/elegi).menggunakan kata ni’ma. contoh: ْ ُ َْ ُ َ 006‫)ٚ٠َمُٛي اٌىبفِش ٠َبٌَ١زَِٕٟ وٕذ رُشاثًّب (إٌجبء‬ َ ُ ُ d) Al-Istighâtsah (permintaan pertolongan). al-nidâ’ memiliki makna yang beragam seiring konteks yang melingkupinya. al-Qasam dan al-Ta’ajjub wa al-Raja’.Shiyâgh al’Uqûd. ayâ. Ada delapan kata sandang dalam istifhâm. Contoh:. contoh: ‫٠ب أهلل…. seperti anjuran kepada seseorang yang mondar mandir mau masuk rumah musuhnya: َ‫. Contoh[17]: ‫أ٠ب جّ١غ اٌذٔ١ب ٌغ١ش ثالغخ * ٌّٓ رجّغ اٌذٔ١ب ٚ أٔذ رّٛد‬ Selain berfungsi memanggil. contoh: ‫ٔؼُ اٌىش٠ُ دبئُ….٠ب شجبع ألذ‬ b) Al-Zijr (hardikan. yâ. âa. cacian). macam-macam arti nidâ’ antara lain: a) Al-Ighrâ` (bujukan. sedangkan `adât yang lain untuk sesuatu yang jauh dari pemanggil. aiy.[18] a) al-Madh wa al-Dzam. ٚثئظ اٌجخ١ً ِبدس‬ . contoh: ً‫فٛاػججب وُ ٠ذػٟ اٌفؼً ٔبلض * ٚٚا أعفب وُ ٠ظٙش إٌمض فبػ‬ b.al-Nidâ’ adalah meminta kedatangan sesorang atau sesuatu dengan kata ganti yang bermakna “aku memanggil”.

‘asâ. bal dan lakin. contoh: ‫ِب شٛلٟ اال شبػش ِٚب شٛلٟ اال شبػش‬ b) Innamâ. contoh: 1 6‫)اِ٠َّبنَ َٔؼجُذ ٚاِ٠َّبن َٔغزَؼ١ُٓ (اٌفبرذخ‬ ِ ْ َ َ ُ ْ d) Athaf dengan lâ. ba’. Contoh. Al-Qashr (rhetorical restriction) Al-Qashr berarti mengkhususkan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan cara yang khusus pula. contoh: ‫ثؼزه ٘زا ٚٚ٘جزه ران‬ c) al-Qasam. ‫ال اٌٗ اال َّللا‬ . biasanya berisi dua pernyataan yang berkebalikan. kata pertama adalah al-maqsûr (yang mengkhususkan) dan kata yang kedua adalah al-maqsûr ‘alaihi (yang dikhususkan)[19]. hariyyu (la’alla) dan ikhlaulaqa.b) Shiyaghu al-’Uqûd. contoh: ْ َ 14 6‫)أَِّّب ٠َخشَٝ َّللاَ ِٓ ػجَبدٖ اٌؼٍَّبإُا (اٌفبؽش‬ َ ُْ ِِ ِ ْ ِ c) Mendahulukan kata yang seharusnya berada diakhir. contoh: 14 ‫)و١ف رىفشْٚ ثبهلل ٚوٕزُ أِٛارب فؤد١بوُ (اٌجمشح‬ e) al-Raja’. contoh: ‫ػغٝ َّللا أْ ٠ؤرٟ ثبٌفزخ‬ 3. ta’ dan lain sebagainya. biasanya menggunakan. kebanyakan menggunakan shîghah fi’il madhi. menggunakan wawu. contoh: ٟٔ‫ػّش اٌفزٝ روشٖ ال ؽٛي ِذرٗ * ِٚٛرٗ دض٠ٗ ال ٠ِٛٗ اٌذا‬ Qashr dilihat dari eksistensinya ada dua macam: Pertama: Qashr Haqîqy yaitu pengkhususan sesuatu berdasarkan realitas kenyataan tuturan dan tidak keluar dari itu. contoh: ‫ٌؼّشن ِب فؼٍذ وزا‬ d) al-Ta’ajjub. Metodologi pembentukan qashr ada empat macam yaitu: a) Al-nafyu wa al-istitsnâ`.

Îjaz (brachylogi). penjelasan dan keterangan. contoh: ُ َ 225 6‫)٠َبأَ٠َُّٙب اٌَّز٠َٓ ءإُِٛا ارَّمُٛا َّللاَ ٚوُٛٔٛا ِغ اٌظَّبدلِ١َٓ (اٌزٛثخ‬ َ َ ِ َ َ ِ Al-Fashl adalah kebalikan dari al-washl. Îjaz adalah adanya makna yang luas dibalik kalimat yang pendek. ‫عزجذٜ ٌه األ٠بَ ِب وٕذ جب٘ال * ٚ٠ؤر١ه ثبألخجبس ِٓ ٌُ رضٚد‬ 5. ILMU AL-BAYÂN Al-Bayân secara etimologi berarti penyingkapan. Contoh: ‫)ٌٚىُ فٝ اٌمظبص د١بح ٠ب أٌٚٝ األٌجبة (اٌمظش‬ ‫)ٚجب٘ذ فٝ َّللا دك جٙبدٖ (اٌخزف‬ b. Musâwah adalah kalimat dimana kata-katanya sepadan dengan maknanya dan maknanya sepadan dengan kata-katanya. Îjaz ada dua macam. Sedangkan secara terminologi. Al-Fashl dan al-Washl Al-Washl adalah menyambungkan kalimat dengan kalimat yang lainnya dengan huruf wawu[22].[23] Berangkat dari pengertian Ilmu Bayan yang berisi bermacam-macam metode untuk menyampaikan makna. Contoh: ‫رٕضي اٌّالئىخ ٚ اٌشٚح ف١ٙب‬ c. Ilmu Bayân berarti dasar dan kaidah-kaidah yang menjelaskan keinginan tercapainya satu makna dengan bermacam-macam metode (gaya bahasa). yakni tidak menyambungkan antara dua kalimat. contoh: ْ ْ َّ 806‫)ٚالَرَغزَٛٞ اٌذغَٕخُ ٚالَاٌغ١ِّئَخُ ادفَغ ثِبٌَّزِٟ ٟ٘ أَدْ غُٓ فَبِرا اٌَّزٞ ثَ١َٕهَ ٚثَ١َُٕٗ ػذَاٚحٌ وؤََُّٔٗ ٌِٟٚ دّ١ُ (فظٍذ‬ َ ٌ ِ َ ٌّ َ َ َ َ ْ َ ْ ِ َ َ َ َ ْ ِ ْ َ َ ِ C. maka obyek kajiannya-pun berkisar pada berbagai corak gaya . bertujuan menjelaskan rasionalitas semantis dari makna tersebut. Ithnab (periphrasis). ada kalanya Qashr (meringkas) dan ada kalanya Hadf (membuang)[20]. Ithnab[21] adalah menambah kata-kata dari makna yang sebenarnya untuk tujuan tertentu. tidak lebih dan tidak kurang.Kedua: Qashr idhôfi yaitu pengkhususan sesuatu yang didasarkan pada penyandaran sesuatu yang berada diluar ujaran. Musâwah (equality) a. Contoh: ‫أّب دغٓ شجبع‬ 4.

Tasybih Muakkad. dan (3) Kinâyah. Obyek kajian ilmu Bayan meliputi: (1) Tasybîh (2) Majâz. baik secara tersurat maupun tersirat. contoh: ُ‫سوجٛا اٌذ٠بجٝ ٚاٌغشٚج أ٘ــ * ٌخ ُٚ٘ ثذٚس ٚاألعٕخ أٔج‬ 2. Tasybih Mujmal. yaitu: a. Adâtu al-Tasybîh dan Wajhu al-Syibhi. contoh: ْٕٛ‫وؤٔٙٓ ث١غ ِى‬ d. karena adanya kecocokan antara keduanya (makna tekstual dan kontekstual). yaitu tasybih yang tidak ada adat dan wajah shibhi-nya. dengan adanya indikasi yang melarang pemaknaan asli (tekstual).. yang ditandai dengan kata-sandang kaf (bak/laksana) dan sejenisnya. Majâz Lughawi Majâz Lughawi adalah ujaran yang digunakan untuk menunjuk sesuatu diluar makna tekstual (dalam istilah percakapan) karena adanya korelasi (dengan makna kiasan). yaitu tasybih yang dihilangkan wajah sibhi-nya. Sedangkan secara terminologi. yaitu tasybih yang dibuang adât (kata sandang)-nya. Musyabbah bih -keduanya disebut sebagai dua titik pokok tasybih-. tasybîh merupakan ungkapan yang menerangkan adanya kesamaan sifat diantara beberapa hal. yaitu tasybih yang disebutkan adât (kata sandang)-nya. al-Tasybîh(comparison[24]) Al-Tasybîh adalah seni penggambaran yang bertujuan menjelaskan dan mendekatkan sesuatu pada pemahaman. contoh: ‫أٔذ وبٌٍ١ث فٟ اٌشجبػخ ٚاإللــ * داَ ٚاٌغ١ف فٟ لشاع اٌخطٛة‬ b.bahasa yang merupakan metode penyampaian makna.[28] Majâz Lughawi dibagi lagi menjadi dua macam: Isti’ârah dan Majâz Mursal.[25] Dari beberapa variabel ini kemudian memunculkan beberapa macam tasybih. 1) Isti’ârah . Al-Majâz(allegory)[26] Majâz secara etimologi terbentuk dari kata jâza al-syai’ yajûzuhu (melampaui sesuatu). Tasybîh mempunyai beberapa variabel. 1. diantaranya: Musyabbah. Tasybih Baligh. majâz menurut al-Jurjani berarti nominal yang dimaksudkan untuk menunjuk sesuatu yang bukan makna tekstual. yaitu: a. Tasybih Mursal.[27] Majâz ada dua macam. contoh: ‫أٔذ ٔجُ فٟ سفؼخ ٚػ١بء * رجزٍ١ه اٌؼ١ْٛ ششلب ٚغشثب‬ c.

isti’ârah ada dua macam. Al-isti’ârah al-Mujarradah: yaitu isti’ârah yang disebutkan pengkiasan pada musyabbah-nya. contoh: َّ ُ ْ َ ِ ْ ِ ُ ُ ْ َ ُّ َ 326ٗ‫)ٚألُطٍِّجََّٕىُ فِٟ جزٚع إٌَّخً ٌَٚزَؼٍَّٓ أَ٠َُّٕب أَشذ ٚأَثمَٝ (ؽ‬ ُْ َ َ Dilihat dari pengkiasan musyabbah dan musyabbah bih-nya. contoh: َ ‫)اثشا٘١ُ6 2(وزَبةٌ أَٔض ٌَْٕبُٖ اٌَِ١ه ٌِزُخشج إٌَّبط َِٓ اٌظٍُّبد اٌَِٝ إٌُّٛس ثِبِرْ سثُِّٙ اٌَِٝ طشاؽ اٌؼض٠ض اٌذّ١ذ‬ ِْ َ ِ ْ ِ َ ِ ْ َ ْ ِ ِ َ ْ ِ ِ َْ ِ َ ِ ِ َ ُّ ِ َ ِ b) Isti’ârah Taba’iyyah: yaitu isti’ârah yang kata-kata isti’arah-nya diambil dari isim. isti’arah dibagi menjadi tiga macam: a. fiil ataupun huruf. contoh: ْ َ َ َ ْ َ َ َّ 22 6‫)أٌَُٚـئِه اٌَّز٠َٓ اشزَشٚا اٌؼالٌََخَ ثِبٌُٙذَٜ فَّب سثِذذ رِجبسرُُُٙ ِٚب وبُٔٛا ِٙزَذ٠َٓ (اٌجمشح‬ َ َ َ َ ْ ِ ْ ُ ِ َ b. contoh: ٝ‫ٚألجً ٠ّشٝ فٝ اٌجغبؽ فّب دسٜ * اٌٝ اٌجذش ٠غؼٝ أَ اٌٝ اٌجذس ٠شرم‬ b) Al-Isti’arah al-Makniyyah: adalah isti’ârah yang dibuang musyabbah bih-nya dan digantikan dengan sesuatu yang lazim dengan itu.Istiârah adalah majâz dimana hubungan antara makna asli dengan makna kiasan bersifat hubungan ke-serupa-an. contoh: ْ َ ِ ِ ِ ْ ِ َّ َ ْ َ ُ ِ ْ َ َ َ َُْٚ‫اٌَّز٠َٓ ٠َٕمُؼَُْٛ ػٙذ َّللاِ ِٓ ثَؼذ ِ١ثَبلِٗ ٚ٠َمطَؼَُْٛ ِآأَِش َّللاُ ثِٗ أَْ ٠ُٛطً ٚ٠ُفغذَْٚ فِٟ األَسْ ع أُْٚ ٌَـئِه ُُ٘ اٌخبعش‬ ِ َ ْ ُ َ ِ َّ َ َ َ ِ ِ 13 6‫)(اٌجمشح‬ . Al-Isti’arah al-Murasysyahah: yaitu isti’ârah yang disebutkan pengkiasan pada musyabbah bih-nya. ataupun disebutkan keduanya secara bersamaan. contoh: ‫ٚارا إٌّ١خ أٔشجذ أؽفبس٘ب * أٌف١ذ وً رّ١ّخ ال رٕفغ‬ Dilihat dari segi pengambilan kata-kata yang dijadikan isti’ârah. Isti’ârah dilihat dari segi penyebutan musyabbah dan musyabbah bih-nya dibagi lagi menjadi dua macam[29]: a) Al-Isti’ârah al-Tashrihiyyah: adalah isti’ârah yang diutarakan dengan tetap menyebutkan kata-kata musyabbah bih-nya. contoh: ‫ٌٚ١ٍخ ِشػذ ِٓ وً ٔبد١خ * فّب ٠ؼئ ٌـٙب ٔجُ ٚال لّش‬ c) Al-Isti’ârah al-Muthlaqah: yakni isti’ârah yang tidak disebutkan pengkiasan pasa musyabbah dan musyabbah bih-nya. yaitu: a) Isti’ârah Ashliyyah : yaitu isti’ârah yang mana kata-kata isti’arah-nya berasal dari ism jins (generik noun: kumpulan noun berupa sesuatu non-personal).

contoh: ٝ‫)ٌٗ أ٠بد ػٍٟ عبثغخ * أػذ ِٕٙب ٚال أػذد٘ب (اٌّزٕج‬ b) Al-Musabbabiyyah. contoh: . contoh: ‫)ٚأِب اٌز٠ٓ اث١ؼذ ٚجُٛ٘ٙ ففٝ سدّخ َّللا (ا٢٠خ‬ b. contoh: ‫)فشجؼٕه اٌٝ أِه رمش ػ١ٕٙب ٚال رذضْ (ا٢٠خ‬ e) I’tibâr mâ kâna. contoh: ‫)أٟ أسٟٔ أػظش خّشا (ا٢٠خ‬ g) Al-Hâliyah. contoh: ‫)فّٓ شٙذ ِٕىُ اٌشٙش فٍ١ظّٗ (ا٢٠خ‬ c) Al-Kulliyah. Ada beberapa model hubungan pengkiasan dalam majâz ‘aqli. diantaranya: 1) Hubungan sebab akibat.2) Majâz Mursal Majâz Mursal adalah majâz dimana hubungan pemaknaannya tidak bersifat ke-serupa-an. contoh : ‫)ٚاعؤي اٌمش٠خ اٌزٝ وٕب ف١ٙب (ا٢٠خ‬ h) Al-Mahalliyah. Majâz mursal dilihat dari segi pengkiasannya dibagi ke dalam beberapa bentuk. contoh: ‫)ٚآرٛ اٌ١زبِٝ أِٛاٌـُٙ (ا٢٠خ‬ f) I’tibâr mâ yakûnu. contoh: ‫)٠مٌْٛٛ ثؤفٛاُ٘ٙ ِب ٌ١ظ فٟ لٍٛثُٙ (ا٢٠خ‬ d) Al-Juz`iyyah. Majâz ‘Aqli Majâz ‘aqli adalah majâz yang menyandarkan fi’il (verb) atau sejenisnya bukan kepada pemaknaan yang sebenarnya karena adanya indikasi yang melarang pemakmaan yang sebenarnya (tekstual)[31]. diantaranya[30]: a) As-Sababiyyah .

‫ٚارا رٍ١ذ ػٍ١ُٙ آ٠برٗ صدرُٙ ا٠ّبٔب‬ 2) Hubungan waktu.[33] Kinâyah dilihat dari segi kedudukan kalimatnya dibagi menjadi tiga. contoh: ُٙ‫ٚجؼٍٕب األٔٙبس رجشٜ ِٓ رذز‬ 3. yaitu al-Muhassinât alLafdziyyah (keindahan ujaran) dan al-Muhassanât al-Ma’nawiyyah (keindahan makna). beberapa pepaês—ornamen perhiasan kalimat—yang menjadikan kalimat indah dan bagus. contoh: ْ‫اٌؼبسث١ٓ ثىً أث١غ ِخذاَ * ٚاٌطبػٕ١ٓ ِجبِغ األػغب‬ c) Berkedudukan sebagai nisbat. al-Muhassanât al-Lafdziyyah . kinâyah berarti ujaran yang dimaksudkan bukan untuk makna sesungguhnya. contoh: ‫٠ِٛب ٠جؼً اٌٌٛذاْ ش١جب‬ 3) Hubungan tempat.contoh: ‫لبٌذ اٌخٕغبء فٝ أخ١ٙب طخش6 ؽٛ٠ً إٌجبد سف١غ اٌؼّبد * وث١ش اٌشِبد ارا ِب شزب‬ b) Berkedudukan sebagai mausûf. Al-Kinâyah(metonymy[32]) Kinâyah secara etimologi adalah sesuatu yang dibicarakan oleh seseorang namun maksudnya lain. 1. yaitu[34]: a) Berkedudukan sebagai sifat. Secara terminologi. menyandangi kalimat dengan kesantunan dan keindahan setelah disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Ilmu Badi’ adalah ilmu yang mempelajari beberapa model keindahan stylistika. contoh: ‫اْ اٌغّبدخ ٚاٌّشٚءح ٚإٌذٜ * فٝ لجخ ػشثذ ػٍٝ اثٓ اٌذششج‬ D. ILMU AL-BADÎ’ Al-Badî’ secara etimologi adalah kreasi yang dicipta tidak seperti ilustrasi yang telah ada.[35] Secara gais besar ilmu badî’ mempunyai dua obyek kajian. Secara terminologi. namun diperbolehkan menggunaan makna sesungguhnya karena tidak adanya indikasi yang melarang keinginan pemaknaan haqiqî.

macam hurufnya. al-Saj’(rhimed prose) Saj’ dalam terminologi balâghiyyin berarti adanya dua kalimat atau lebih yang mempunyai akhiran dengan huruf yang sama. Ada dua macam jinâs. al-Tarshî’(homoeptoton) Tarshî’ adalah adanya kesamaan antara lafadz dalam faqrah pertama (syathrah pertama) dengan faqrah sesudahnya dalam wazan dan qafiyah-nya[39]. yaitu dua kalimat atau lebih yang mana lafadz pada setiap faqrah-nya memiliki wazan dan qafiyah yang sama.[38]: Ada tiga macam saj’. Contoh: ُ ْ َ ََ ٍ َ َ َ َْ 11 6َٚ‫}ٚ٠َْٛ َ رَمَُٛ اٌغَّبػخُ ٠ُمغُ اٌّجْ شَِْٛ ِبٌَجِثُٛا غ١ش عبػخ وزٌِهَ وبُٔٛا ٠ُئفَىَْٛ {اٌش‬ ُِ ُْ ُِ ْ َ ُ َ َ َ 2) Jinas ghairu tâm: adanya perbedaan antara dua kata dalam satu macam diantara keempat macam persyaratan tersebut (syakl. al-Jinâs (paronomasia.a. Al-Saj’ al-Mutawâzi. seperti: 20-286‫)اِْ ْاألَثشاس ٌَفِٟ َٔؼ١ُ ٚاِْ اٌفُجَّبس ٌَفِٟ جذ١ُ ( االٔفطبس‬ َ ْ َّ َ ٍ ِ َ َ ْ َّ ٍ ِ َ Dan adakalanya berdekatan saja dalam wazan dan a’jaz-nya.pun[36]). contoh: . huruf. kata terakhir pada setiap kalimat disebut dengan fâshilah. jumlah dan urutannya). Contoh: ْ 20-56ٝ‫)فَؤَِب اٌ١َزِ١ُ فَالَرَمَٙشْ ٚأَِب اٌغَّبئًِ فَالَرََٕٙشْ (اٌؼذ‬ َ َّ َ ْ َ ْ َّ b. Adakalanya sama persis dalam wazan dan a’jaz-nya. Al-Saj’ al-Mutharraf. Al-Saj’ al-Murashsha’. yaitu dua kalimat atau lebih yang wazan fashilah-nya berbeda namun bunyi akhirnya sama. syakl-nya dan urutannya. yaitu: a. yaitu[37]: 1) Jinâs tâm : adanya kesamaan antara dua kata dari jumlah hurufnya. dan setiap kalimat disebut dengan faqrah. contoh: ٗ‫فٙٛ ٠طجغ األعجبع ثجٛا٘ش ٌفظٗ، ٚ٠مشع األعّبع ثضٚاجش ٚػظ‬ c. contoh: 3-26‫)أٌََُ َٔجْ ؼً ْاألَسْ ع َِٙبدًّا ٚاٌججَبي أَْٚ رَبدًّا (إٌجؤ‬ َ ِ ْ َ ِ َ ِ َ ْ b. Jinâs adalah adanya kesamaan dua kata dalam pelafalan namun berbeda dalam pemaknaan. adalah dua faqrah yang sama dalam wazan dan qafiah-nya. contoh: 20-286‫)فِ١َٙب عشسٍُِشْ فُٛػخٌ ٚأَوٛاةُ ٍِْٛ ػُٛػخٌ (اٌغبش١خ‬ َ َ َّ ُ َ ْ َ َّ ُ ُ ُ c.

Contoh:[40] ُّ٘ ٝ‫وبٌض٘ش فٝ رشف ٚاٌجذس فٝ ششف * ٚاٌجذش فٝ وشَ ٚاٌذ٘ش ف‬ 2.)(ا‬ .[43] Contoh: ْ ْ َ َ ِ ْ ْ َ َّ ْ ُ َ َّ َ َ ْ ُ ْ َ َّ َ َ َٕٝ‫ٚوزة ثِبٌذغَٕٝ فَغُٕ١َغشُٖ ٌِ ٍْؼغشٜ فَغُٕ١َغشُٖ ٌِ ٍْ١ُغشٜ ٚأَِب ِٓ ثَخً ٚاعزَغَٕٝ فَؤَِب ِٓ أَػطَٝ ٚارَّمَٝ ٚطذق ثِبٌْذغ‬ ُ ِّ َ َ ْ َ ْ ُ ُ ِّ َ َ َ َّ َ 20-16ً١ٌٍ‫. al-Thibâq (antithesis) Tibâq adalah terkumpulnya suatu kata dengan lawan-kata-nya dalam sebuah kalimat. pertama. ada dua macam tibâq[42].ْ ُْ َ ِْ َ ْ َ َ 224-223 6‫)ٚءارَ١َٕبُّ٘ب اٌىزَبة اٌّغزَجِ١َٓ َٚ٘ذ٠َٕبُّ٘ب اٌظِّ شاؽَ اٌّغزَمِ١ُ (اٌظبفبد‬ َ َ ْ ُْ َ َْ َ d. makna yang dekat dari penunjukan ujaran yang nampak. al-Tasythir (internal rhyme) Tasytîr adalah ketika pembagian penyair terhadap shadr dan ‘ajuz syair masing-masing menjadi dua bagian. saja’-nya dibuat berbeda.pun) Al-Tauriyah adalah ujaran yang mempunyai dua makna. yaitu tibâq yang hanya memeperlawankan kata negatif dan positifnya saja. al-Muhassanât al-Ma’nawiyyah a. yaitu: 1) Tibâq al-Ijab. ْ 006‫)فَالَ رَخشٛا إٌَّبط ٚاخشْٛ ْ ٚالَ رَشزَشُٚا ثِئَب٠َبرِٟ ثًَّّٕب لٍَِ١الًّ ِٚٓ ٌَُّ ٠َذْ ىُ ثِّآأَٔضَ ي َّللاُ فَؤ ُْٚ الَئِه ُُ٘ اٌىبفِشَْٚ (اٌّبئذح‬ ُ َْ ُ َ َُ ْ َ َ ِ َ ْ َ َ َ ُ ْ َ َ َ c. kedua. kemudian membuat susunan yang berlawanan dari makna itu secara berurutan. makna yang jauh dan penunjukan katanya tersirat dan inilah makna yang dikehendaki. dan antara shadr dan ‘ajuz. yaitu tibâq yang mana kedua hal yang berlawanan itu tidak hanya dibedakan dengan mempositifkan dan menegatifkan saja. al-Muqâbalah (antithesis) Muqâbalah adalah membuat susunan dua makna atau lebih. contoh: ٌ ُ ْ َ ْ ْ َ َ 24 6‫)ٚرَذْ غجُُُٙ أَ٠مَبظًّب ُُٚ٘ سلُٛد (اٌىٙف‬ 2) Tibaq al-Salbi. [41]Contoh: ُ َ 206َ‫)ُٚ٘ٛ اٌَّزٞ ٠َزَٛفَّبوُ ثِبٌَّ١ًْ ٚ٠َؼٍَُ ِبجشدْ زُُ ثِبٌََّٕٙبس (األٔؼب‬ َ َ َ ُ ْ َ ِ ِ َ َ ِ b. al-Tauriyah(paronomasia.

namun diantara yang paling sering dikemukakan dan kita jumpai adalah lima pola diatas. atau dengan menjawab sesuatu yang tidak ditanyakan. REFERENSI Banna‟. Setelah memahami makna pertama dari sebuah ujaran. menurut penulis. tafrî’ dan lain sebagainya. Al-Balâghah: fi ‘Ilm al-Ma’ani. ilmu sastra-termasuk didalamnya ilmu balâghah-. pemahaman dan pencerahan. Demikianlah pemaparan singkat tentang obyek kajian ilmu balâghah. . Semoga anugrah nalar dan lisan mampu jadi pelita penertian. sebagai sebuah isyarat bahwa penanya pantasnya tidak usah menanyakan hal itu. Uslûb al-Hakîm(deliberate equivocation). III.ِب٘زضة األغظبْ فٝ اٌشٚع ثفؼً إٌغ١ُ ٌٚىٕٙب سلظذ غجطخ ثمذِٚى‬ e. ataupun membawa pembicaraan kepada topik lain.d. Ilmu Ma’ani merupakan kajian makna pertama yang menyelaraskan ujaran dengan situasi dan kondisi. . Uslûb al-Hakîm terjadi ketika orang yang diajak berbicara menjawab sesuatu dan tidak sesuai dengan yang diharapkan orang yang bertanya. istitbâ’. Dengan cara. para ulama balaghah masih banyak menyebutkan pola-pola lain seperti itbâ’. Ponorogo: Darussalam Press ____________. keluar dari pentanyaan itu. atau berbicara pada topik yang diharapkan lawan bicara. Husnu al-Ta’lil (conceit) Husnu al-ta’lil adalah pengingkaran seorang sastrawan secara tersurat maupun tersirat atas sebuah konvensi dan mendatangkan konvensi sastra baru sebagai cara yang sesuai dengan tujuan yang diinginkan[44]. Contoh: ُ‫. Namun struktur itu bukan sesuatu yang statis akan tetapi merupakan proses strukturasi dan destrukturasi yang harus hidup dan berkembang. Haddam. Ponorogo: Darussalam Press. Amin… Wallâhu a’lam. merupakan sebuah struktur yang mengejawentah dari konvensi (rasa sastra) menjadi sebuah teori. Al-Balâghah: fi Ilmi al-Bayan. KESIMPULAN Obyek kajian ilmu balâghah merupakan tiga serangkai retorika bahasa arab yang saling melengkapi. Ilmu Bayan mengajak pembaca berfantasi memahami sebuah ide dengan beberapa style sastra yang kemudian disempurnakan irama dan maknanya oleh Ilmu Badi’.[45] contoh: ُ َ َ َ ِ ْ 245 6‫)٠َغئٍََُٛٔه ػٓ ْاألٍََّ٘خ لًُْ ٟ٘ ِٛالِ١ذ ٌٍَِّٕبط (اٌجمشح‬ ِ ِ ِ َ َ ِ Selain dari beberapa macam muhassinât al-ma’nawiyyah di atas.

2004. Verhaar. Diksi dan Gaya Bahasa. Mu’jam al-Musthalahât al-’Arabiyyah fi al- [1] Lihat. Cet.cit. . Cet. Wahbah. [3] Jadi yang ada hanya istilah al-lafdhu al-fasîh dan tidak ada al-lafdhu al-baligh. hlm. hlm. Mesir:Dâr al-Ma‟ârif. 260. hlm.Ghufran. Verhaar. Cet. Gorys Keraf.W. 1994. 3. 14.X. Jawâhir al-Balâghah. Lihat Majdi Wahbah dan Kamil Muhandis. Gramedia Pustaka Utama. XIV.M.W. hlm. Keraf. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Diksi dan Gaya Bahasa. Cet. Beirut: Maktabah Lubnan. [7] Ahmad al-Hasyimi. Op. Gorys. 28-31 [2] Ibid. Lihat. 28-30. Ahmad. Asas-Asas Linguistik Umum. Ahmad Hasyimi. cet. 2001. Beirut : Dâru al-Kutub al-‟Ilmiyyah.Badi’. hlm. 1983. Jakarta: PT. Al-Balâghah: fi Ilmi al. [5] Lihat. II. Gramedia Pustaka Utama. dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal “ekstralingual” yang dibicarakan. 2001. Muhammad.M.. 259. 2004. hlm. Jarim. Yûsuf ibn Abi Bakar Ya‟kub ibn „Ali. 7. XIV. Ibid. III. [8] Al-Sakkâki sering disebut sebagai orang pertama yang menulis ilmu balâghah secara sisitematis. sedangkan kalimat (kalâm) dan penutur (al-mutakallim) bisa fasîh dan juga balîgh. 1994. Al-Balâghah al-Wadhihah. cet. Asas-Asas Linguistik Umum.Beirut : Dâr al-Fikri. 39-40. Cet. hlm. III. 1987. Jawâhir al-Balâghah. [4] Kemudian ilmu balâghah perlahan-lahan terpisah dari satra menjadi ilmu yang otonom dengan obyek pembelajaran yang jelas diantara ilmu-ilmu bahasa arab.W. Jakarta: PT. Hasyimi. J. Ponorogo:Darussalam Press. Majdi dan Kamil Muhandis.M. hlm. Miftâhul ‘Ulûm. Sakkâki. meskipun dia masih menggabungkan ilmu balâghah dengan ilmu nahwu. 1977. J. Mu’jam al-Musthalahât al-’Arabiyyah fi al-Lughah wa al-Adab. Verhaar mengartikan pragmatik sebagai cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. „Ali dan Musthafa Amin.Beirut : Dâr al-Fikri. II. [6] J.

Op. 40-43. hlm. hlm. 184-187. hlm.cit. hlm.ilmu sharaf.cit. 239-250. hlm. hlm. [17] Lihat. Op. cit. [16] Lihat. [11] „Ali al-Jarim dan Musthafa Amin. . Ibid. Op. 192-199. hlm. [14] Lihat. 1977. hlm. hlm.cit. [18] Insya‟ Ghairu thalabi biasanya tidak dibahas Ulama Balâghah karena kebanyakan bentuknya pada dasarnya merupakan kalâm khabar yang berlawanan dengan kalâm insya‟.cit. atau juga bisa disamakan dengan Perifrasis. dan Haddam Banna‟. [22] Ahmad Hasyimi. [12] Haddam Banna‟. ibid. hlm. dan Ahmad Hasyimi. Ibid. ibid. Gorys Keraf. Ibid. dan Haddam Banna‟. [10] Haddam Banna‟. hlm. ibid. 206-207. Loc. ibid. 161 [9] „Ali al-Jarim dan Musthafa Amin. ibid. Lihat. 27-28. „Ali Jarim dan Musthafa Amin. [13] Lihat.cit. hlm. dan Haddam Banna‟. hanya saja perifrasis kata-kata yang berkelebihan itu dapat diganti dengan satu kata saja dalam pleunasme kata-kata yang berkebihan itu dapat dihilangkan Lihat. „Ali Jarim dan Musthafa Amin. 170-171. 59-60. hlm. Beirut : Dâru al-Kutub al-‟Ilmiyyah. Al-Balâghah: fi ‘Ilm al-Ma’ani. 39. hlm. Ponorogo: Darussalam Press. Cet. yang merupakan acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. hlm. 1987.13-16.133-134. hlm. Op. [15] Lihat. Cit. hlm. 210-212. Op. Op. „Ali Jarim dan Musthafa Amin. ibid. hlm. Ahmad Hasyimi. 22. II.cit.X. ibid. Al-Balâghah al-Wadhihah. Lihat. Yûsuf ibn Abi Bakar Ya‟kub ibn „Ali alSakkâki. 139. 6. semantik dan ilmu syi’ir. 66-77. 154 [20] Lihat. „Ali Jarim dan Musthafa Amin. hlm. hlm. „Ali Jarim dan Musthafa Amin. Mesir:Dâr al-Ma‟ârif. dan Haddam Banna‟. dan Haddam Banna‟. ibid. 29-38. Cet. hlm. [19]Loc. Miftâhul ‘Ulûm. [21] Ithnâb dalam bahasa Indonsia hampir mirip dengan istilah Pleonasme dan Tautologi. 139.22-23.

Ia merupakan permainan kata yang didasarkan pada permainan bunyi.cit. [33] Ahmad Hasyimi. Lihat. [38] Ibid.cit.hlm. Op. [28] Ahmad Hasyimi.cit. Cit. hlm. [24] Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat ekplisit yang langsung menyatakan sesuatu dengan yang lain. Ibid.hlm.Balâghah: Ilmu Badi’. [25] Haddam Banna‟ . Op. fi Ilmi al-Bayan. Loc. [40] Muhammad Ghufran. Gorys Keraf.cit. [27] Majdi Wahbah dan Kamil Muhandis. Hlm. 310-311. Op. . 138. Hadam Banna‟. Op. hlm. Op. 80-84. 23-25.145. Gorys Keraf. hlm. hlm. Cit.262. Ibid. 297 [34] Haddam Banna‟. 61-66. hlm. 140. Op. Ponorogo:Darussalam Press.cit. cit. Cit.cit. Op.cit.cit.20. Gorys Keraf. [31] „Ali Jarim dan Mustafa Amin. [35] Ahmad Hasyim. Op. hlm.cit. hlm. Loc. Dengan demikian metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain. hlm.cit. tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya.cit. Op. hlm. Lihat.. Haddam Banna‟. makna kiasan ini harus ditarik dari bawah permukaan ceritanya. Loc. Op. karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. dan Ahmad Hasyimi. hlm. hlm. [30] Lihat. hlm. 29-31 dan Ahmad Hasyimi. al-Balâghah.92-95. hlm. hlm. Op. [37] Muhammad Ghufran. 23-26. 117. 142.[23] Ibid. Op. 308 [36] Pun atau paromonasia adalah kiasan dengan mempergunakan kemiripan bunyi.cit. 351-352 [39] Muhammad Ghufran. 351-352. Hlm. [26] Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. 333. hlm-38-40 [41] Ahmad Hasyimi. 33-35 dan Ahmad Hasyimi. Goris Keraf. Ponorogo: Darussalam Press. Ibid. 212. 258 [32] Kata metonimia diturunkan dari kata Yunani meta yang berarti menunjukkan perubahan dan anoma yang berarti nama. hlm. hlm. 235 [29] Ibid. Hlm. Op. Lihat. hlm. dan „Ali Jarim dan Mustafa Amin. Lihat.

hlm.cit. Hlm. 66-68. hlm.[42] Muhammad Ghufran. 288-289 dan Ibid. [45] „Ali Jarim dan Musthafa Amin.. hlm. hlm.cit. 295-296. cit. Op. hlm. 314-315. dan Ibid.cit. . Loc. Hlm. 66-68. Loc. [43] Ahmad Hasyimi. dan Muhammad Ghufran. 56-57. [44] Ali Jarim dan Musthafa Amin. 60-61. Op. Ibid.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.