OBSTRUKSI JAUNDICE

OBSTRUKSI JAUNDICE
PENDAHULUAN

Ikterus (icterus) berasal dari bahasa Greek yang berarti kuning. Nama lain ikterus adalah “jaundice” yang berasal dari bahasa Perancis “jaune” yang juga berarti kuning. Dalam hal ini menunjukan peningkatan pigmen empedu pada jaringan dan serum. Jadi ikterus adalah warna kuning pada sclera, mukosa dan kulit yang disebabkan oleh akumulasi pigmen empedu di dalam darah dan jaringan (> 2 mg / 100 ml serum).

Ada 3 tipe ikterus yaitu ikterus pre hepatika (hemolitik), ikterus hepatika (parenkimatosa) dan ikterus post hepatika (obstruksi). Ikterus obstruksi (post hepatika) adalah ikterus yang disebabkan oleh gangguan aliran empedu antara hati dan duodenum yang terjadi akibat adanya sumbatan (obstruksi) pada saluran empedu ekstra hepatika. Ikterus obstruksi disebut juga ikterus kolestasis dimana terjadi stasis sebagian atau seluruh cairan empedu dan bilirubin ke dalam duodenum.

Ada 2 bentuk ikterus obstruksi yaitu obstruksi intra hepatal dan ekstra hepatal. Ikterus obstruksi intra hepatal dimana terjadi kelainan di dalam parenkim hati, kanalikuli atau kolangiola yang menyebabkan tanda-tanda stasis empedu sedangkan sedangkan ikterus obstruksi ekstra hepatal terjadi kelainan diluar parenkim hati (saluran empedu di luar hati) yang menyebabkan tanda-tanda stasis empedu . Yang merupakan kasus bedah adalah ikterus obstruksi ekstra hepatal sehingga sering juga disebut sebagai “surgical jaundice” dimana morbiditas dan mortalitas sangat tergantung dari diagnosis dini dan tepat.

Case Ruangan XIV DICE WULANDARY

1

OBSTRUKSI JAUNDICE

DEFINISI

Ikterus (icterus) berasal dari bahasa Greek yang berarti kuning. Nama lain ikterus adalah “jaundice” yang berasal dari bahasa Perancis “jaune” yang juga berarti kuning. Dalam hal ini menunjukan peningkatan pigmen empedu pada jaringan dan serum. Jadi ikterus adalah warna kuning pada sclera, mukosa dan kulit yang disebabkan oleh akumulasi pigmen empedu di dalam darah dan jaringan (> 2 mg / 100 ml serum).

ETIOLOGI

Etiologi obstruksi ekstra hepatal dapat berasal dari intra luminer, intra mural dan ekstra luminer. Sumbatan intra luminer karena kelainan yang terletak dalam lumen saluran empedu . Yang paling sering menyebabkan obstruksi adalah batu empedu. Pada beberapa kepustakaan menyebutkan selain batu dapat juga sumbatan akibat cacing ascaris. Sumbatan intra mural karena kelainan terletak pada dinding saluran empedu seperti kista duktus koledokus, tumor Klatskin, stenosis atau striktur koledokus atau striktur sfingter papilla vater.

Sumbatan ekstra luminer karena kelainan terletak diluar saluran empedu yang menekan saluran tersebut dari luar sehingga menimbulkan gangguan aliran empedu. Beberapa keadaan yang dapat m,enimbulkan hal ini antara lain pankreatitis, tumor kaput pancreas, tumor vesika fellea atau metastasis tumor di daerah ligamentum hepatoduodenale. Pada beberapa kepustakaan disebutkan bahwa etiologi ikterus obstruksi terbanyak oleh keganasan. Hatfield et al, melaporkan bahwa etiologi ikterus obstruksi terbanyak adalah 70% oleh karsinoma kaput pankreas diikuti oleh 8% batu CBD (common bile duct) dan 2% karsinoma kandung empedu sedangkan Little, juga melaporkan hal yang sama dimana etiologi ikterus obstruksi 50% oleh keganasan, 17% oleh batu dan 11% oleh trauma. 2

Case Ruangan XIV DICE WULANDARY

Bilirubin ini akan berikatan dengan protein sitosolik spesifik membentuk kompleks protein-pigmen dan ditransportasikan melalui darah ke dalam sel hati. Bilirubin ini disebut bilirubin terkonyugasi (bilirubin II) yang larut dalam air atau bilirubin direk yang memberikan reaksi langsung dengan diazo Van den Berg. Di dalam sel hati albumin dipisahkan dan bilirubin dikonyugasi dengan asam glukoronik dan dikeluarkan ke saluran empedu. Cincin hem setelah dibebaskan dari Fe dan globin diubah menjadi biliverdin yang berwarna hijau oleh enzim heme oksigenase. Bilirubin indirek ini tidak larut dalam air dan tidak diekskresi melalui urine. bilirubin direk akan masuk ke usus halus sampai ke kolon. Melalui saluran empedu. stercobilinogen dan urobilinogen yang sebagian besar 3 Case Ruangan XIV DICE WULANDARY . Setiap hari sekitar 50 cc darah dihancurkan menghasilkan 200 – 250 mg bilirubin.OBSTRUKSI JAUNDICE FISIOLOGI METABOLISME BILIRUBIN Bilirubiin merupakan pigmen tetrapirol yang larut dalam lemak yang berasal dari pemecahan sel-sel eritrosit tua dalam sistem monosit makrofag. Masa hidup rata-rata eritrosit adalah 120 hari. Sebagian besar bilirubin berasal dari pemecahan hemoglobin di dalam sel-sel fagosit mononuclear dari sistem retikulo-endotelial terutama dalam lien. Enzim reduktase akan merubah biliverdin menjadi bilirubin yang berwarna kuning. Didalam hati kira-kira 80% bilirubin terdapat dalam bentuk bilirubin direk (terkonyugasi atau bilirubin II). Bilirubin ini dikenal sebagai bilirubin yang belum dikonyugasi (bilirubin I) atau bilirubin indirek berdasarkan reaksi diazo Van den Berg. Kini diketahui juga bahwa pigmen empedu sebagian juga berasal dari destruksi eritrosit matang dalam sum-sum tulang dan dari hemoprotein lain terutama hati. Oleh aktivitas enzim-enzim bakteri dalam kolon glukoronid akan pecah dan bilirubin dirubah menjadi mesobilirubinogen.

2. Oleh karena adanya sumbatan maka akan terjadi dilatasi pada saluran empedu . Hal ini disebut sebagai ikterus obstruksi ekstra hepatal. Biasanya tidak disertai dengandilatasi saluran empedu. Urobilinogen akan dioksidasi menjadi urobilin yang memberi warna feses. Sejumlah kecil yang terlepas dari ekskresi hepar mencapai ginjal dan diekskresi melalui urine. Bila terjadi obstruksi total saluran empedu maka tidak akan terjadi pembentukan urobilinogen dalam kolon sehingga warna feses seperti dempul (acholic). konyugasi dan ekskresi empedu. Kadar normal bilirubin dalam serum berkisar antara 0.OBSTRUKSI JAUNDICE diekskresikan ke dalam feses. Obstruksi ini bukan merupakan kasus bedah. Ikterus obstruksi terjadi bila : 1. Terjadinya gangguan ekskresi bilirubin dari sel-sel parenkim hepar ke sinusoid. Urobilinogen yang terbentuk akan direabsorbsi dari usus . Bila kadar bilirubin sudah mencapai 2 – 2. PATOGENESIS Hiperbilirubinemia adalah tanda nyata dari ikterus.0 mg/dl dan dipertahankan dalam batasan ini oleh keseimbangan antara produksi bilirubin dengan penyerapan oleh hepar. Terjadi sumbatan pada saluran empedu ekstra hepatal. Hal ini disebut ikterus obstruksi intra hepatal.5 mg/dl maka sudah telihat warna kuning pada sklera dan mukosa sedangkan bila sudah mencapai > 5 mg/dl maka kulit tampak berwarna kuning .3 – 1. dikembalikan ke hepar yang kemudian langsung diekskresikan ke dalam empedu. Karena adanya obstruksi pada saluran empedu maka terjadi refluks bilirubin direk (bilirubin terkonyugasi atau bilirubi II) dari saluran empedu ke dalam darah sehingga Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 4 .

hemobilia. ligasi duktus biliaris komunis. Oleh karena kelarutan dan ikatan yang lemah pada albumin maka bilirubin direk dapat diekskresikan melalui ginjal ke dalam urine yang menyebabkan warna urine gelap seperti teh pekat. Karena terjadi peningkatan kadar garam-garam empedu maka kulit terasa gatal-gatal (pruritus). Obstruksi ini memberikan gejala-gejala dan perubahan biokimia yang khas serta dapat disertai atau tidak dengan serangan ikterus secara klinik.  Tipe III : Obstruksi inkomplit kronis. tumor periampularis. Obstruksi ini memberikan gambaran ikterus.OBSTRUKSI JAUNDICE menyebabkan terjadinya peningkatan kadar bilirubin direk dalam darah. parasit intra bilier.  Tipe II : Obstruksi intermiten. tidak toksik dan hanya terikat lemah pada albumin. divertikel duodeni. Dapat disertai atau tidak dengan gejala-gejala klasik atau perubahan biokimia yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya perobahan patologi pada duktus bilier atau Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 5 . papiloma duktus biliaris. Urobilin feses berkurang sehingga feses berwarna pucat seperti dempul (akholis) . penyakit hati polikistik. tumor parenkim hati primer atau sekunder. KLASIFIKASI Menurut Benjamin IS 1988. Obstruksi dapat disebabkan oleh karena koledokolitiasis. kista koledokus. Bilirubin direk larut dalam air. klasifikasi ikterus obstruksi terbagi atas 4 tipe yaitu :  Tipe I : Obstruksi komplit. Biasanya terjadi karena tumor kaput pancreas. kolangiokarsinoma.

GAMBARAN KLINIS 1. kolangitis sklerosing atau post radiotherapy ). pankreatitis kronis. kolangiokarsinoma. diskinesia. badan terasa gatal (pruritus). disertai atau tanpa kenaikan suhu badan. Riwayat ikterus biasanya berulang. Obstruksi segmentalini dapat berbentuk obstruksi komplit. obstruksi intermiten atau obstruksi inkomplit kronis. kolangitis sklerosing.  Tipe IV : Obstruksi segmental. stenosis anastomosis bilio-enterik. Penderita mengalami kolik hebat secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. badan menjadi kuning. Riwayat mual ada. fibrosis kistik. Tergantung kausa ikterus obstruksi yaitu : A. Penderita tampak gelisah dan kemudian ada ikterus disertai pruritus. Warna feses seperti dempul dan urine pekat seperti air teh. stenosis sfingter Oddi. Bila kausa oleh karena batu. perut kembung. Kadang-kadang feses berwarna keputih-putihan seperti dempul. Obstruksi ini terjadi bila satu atau lebih segmen anatomis cabang biliaris mengalami obstruksi. kencing berwarna pekat seperti air teh. Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 6 . Dapat disebabkan oleh trauma (termasuk iatrogenik). Obstruksi ini dapat disebabkan oleh karena striktur duktus biliaris komunis ( kongenital. hepatodokolitiasis. gangguan nafsu makan disertai diare. disertai atau tanpa kolik diperut kanan atas. traumatik. Keluhan nyeri perut di kanan atas dan menusuk ke belakang.OBSTRUKSI JAUNDICE hepar. ANAMNESIS Mata.

hepatomegali disertai / tanpa disertai terabanya kandung empedu. 2. Ditemukan “Courvoisier sign” positif . bila ada leukositosis berarti ada Infeksi. Bila obstruksi karena batu. Feses Berwarna seperti dempul (acholis). splenomegali. PEMERIKSAAN FISIS Ikterus pada sklera atau kulit.OBSTRUKSI JAUNDICE B. Biasa penderita berusia diatas 40 tahun. nyeri tekan perut kanan atas. Bila ikterus obstruksi karena tumor maka tidak ada rasa nyeri tekan. kaheksia berat. tidak ada keluhan sebelumnya. febris / afebril. terdapat bekas garukan di badan. penderita tampak gelisah. Terjadi penurunan berat badan. “occult blood” (biasanya ditemukan pada karsinoma ampula dan karsinoma pankreas). Urine Urobilin positif satu. Gejalanya antara lain : penderita mengalami ikterus secara tiba-tiba. anoreksia dan anemis memberi kesan adanya proses keganasan. Bila kausa oleh karena tumor. . bilirubin positif dua. PEMERIKSAAN LABORATORIUM A. 3. Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 7 . kadang-kadang disertai defans muscular dan “Murphy Sign” positif. PEMERIKSAAN RUTIN Darah Perlu diperhatikan jumlah leukosit.

Bila diameter saluran empedu lebih dari 5 mm berarti ada dilatasi. 4. C. PEMERIKSAAN USG Pemeriksaan USG perlu dilakukan untuk menentukan penyebab obstruksi. hal ini menunjukan adanya batu empedu. Yang perlu diperhatikan adalah : A. dengan ketebalan sekitar 3 mm. Saluran empedu yang normal mempunyai diameter 3 mm. Alkali fosfatase meningkat 2 – 3 kali diatas nilai normal. SGPT). TES FAAL HATI Serum bilirubin meninggi terutama bilirubin direk (terkonyugasi). Bentuk kandung empedu yang normal adalah lonjong dengan ukuran 2 – 3 X 6 cm. Besar. Pada tumor akan terlihat massa padat pada ujung saluran empedu dengan densitas rendah dan heterogen.OBSTRUKSI JAUNDICE B. bentuk dan ketebalan dinding kandung empedu. 8 Case Ruangan XIV DICE WULANDARY . Serum transaminase ( SGOT. Bila ditemukan dilatasi duktus koledokus dan saluran empedu intra hepatal disertai pembesaran kandung empedu menunjukan ikterus obstrusi ekstra hepatal bagian distal. Gamma GT sedikit meninggi. Kadar kolesterol meninggi. Ada tidaknya massa padat di dalam lumen yang mempunyai densitas tinggi disertai bayangan akustik (acustic shadow). Sedangkan bila hanya ditemukan pelebaran saluran empedu intra hepatal saja tanpa disertai pembesaran kandung empedu menunjukan ikterus obstruksi ekstra hepatal bagian proksimal artinya kelainan tersebut di bagian proksimal duktus sistikus. B. dan ikut bergerak pada perubahan posisi.

PEMERIKSAAN CT – SCAN Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat adanya dilatasi duktus intra hepatic yang disebabkan oleh oklusi ekstra hepatic dan duktus koledokus akibat kolelitiasis atau tumor pankreas. Bila tidak ditemukan tanda-tanda dilatasi saluran empedu berarti menunjukan adanya ikterus obstruksi intra hepatal. Bila kolestasis karena tumor akan tampak pelebaran saluran empedu utama (common bile duct) dan saluran intra hepatal dan dibagian distal duktus koledokus terlihat ireguler oleh tumor. DUODENOGRAPHY HIPOTONIK (DH ) Pada pemeriksaan ini dapat terlihat pendesakan duodenum ke medial oleh karena pembesaran duodenum. PTC (PERCUTANEUS TRANSHEPATIC CHOLANGIOGRAPHY) Tujuan pemeriksaan PTC ini untuk melihat saluran bilier serta untuk menentukan letak penyebab sumbatan. Bila kolestasis karena batu akan memperlihatkan pelebaran pada duktus koledokus dengan di dalamnya tampak batu radiolusen. Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 9 . Atau bila terlihat pembesaran papilla Vater yang ireguler atau dinding medial duodenum yang ireguler (gambaran gigi gergaji / duri mawar) menunjukan keganasan pada ampula Vater atau kaput pancreas sebagai penyebab ikterus obstruksi.OBSTRUKSI JAUNDICE D. 7. 5. 6. Dengan pemeriksaan ini dapat diperoleh gambaran saluran empedu di proksimal sumbatan.

b. ERCP ( ENDOSCOPIC RETROGRADE CHOLANGIO PANCREATOGRAPHY ) Pemeriksaan ERCP dilakukan untuk menentukan penyebab dan letak sumbatan antara lain : a. akan terlihat defek pengisian (filling defect) dengan batas tegas pada duktus koledokus disertai dilatasi saluran empedu. iritasi oleh parasit. PEMERIKSAAN ENDOSKOPI Endoskopi saluran makan bagian atas (gastrointestinal endoskopi) untuk melihat : a. batu empedu akibat kolestasis dan infeksi bakteri. Contoh yang ekstrim pada kolangitis oriental atau kolangitis piogenik rekuren dimana pada saluran-saluran empedu intra hepatic dan ekstra hepatic ada bagian-bagian yang striktur dan ada bagian-bagian yang dilatasi atau ekstasia akibat obstruksi kronis disertai timbulnya batu. infeksi kronis. bulbus duodeni dinding posterior didapatkan pada tumor pankreas. Sebaiknya pemeriksaan endoskopi dilanjutkan dengan pemeriksaan ERCP. 9.OBSTRUKSI JAUNDICE 8. Striktur atau stenosis dapat disebabkan oleh kelainan di luar saluran empedu (ekstra duktal) yang menekan misalnya oleh kelainan jinak atau ganas. Ada tidaknya kelainan di ampula Vateri. iritasi oleh batu maupun trauma operasi. misalnya :    Karsinoma di ampula Vater akan tampak membesar ireguler. Striktur atau stenosis umumnya disebabkan oleh fibrosis akibat peradangan lama . Striktur akibat keganasan 10 Case Ruangan XIV DICE WULANDARY . Batu akan tampak edema di ampula Vater. Tanda pendesakan di antrum. Koledokolitiasis.

OBSTRUKSI JAUNDICE saluran empedu seperti adenokarsinoma dan kolangio-karsinoma bersifat progresif sampai menimbulkan obstruksi total. Gambaran semacam ini akan tampak lebih jelas pada PTC. Tumor ganas intra duktal akan terlihat penyumbatan lengkap berbentuk ireguler dan dan menyebabkan pelebaran saluran empedu bagian proksimal. Bila pada pemeriksaan USG tidak ditemukan dilatasi saluran empedu dan hasil pemeriksaan ERCP tidak menunjang kelainan ekstra hepatal maka ini merupakan ikterus obstruksi intra hepatal. DIAGNOSIS Diagnosis ikerus obstruksi beserta penyebabnya dapat ditegakan berdasarkan anamnesis. Pada daerah obstruksi tampak dinding yang ireguler. d. Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 11 . Tumor kaput pankreas akan terlihat pelebaran saluran pankreas . Pada ikterus obstruksi ekstra hepatal dimana dari hasil ERCP sudah dapat memastikan penyebab obstruksi dimana bila : o Penyebabnya adalah batu (koledokolitiasis) sebaiknya dilakukan papilotomi untuk mengeluarkan batunya. gambaran klinis. o Penyebabya adalah tumor. Kelainan jinak ekstra duktal akan terlihat gambaran kompresi duktus koledokus yang berbentuk simetris. c. pemeriksaan fisis. laboratorium dan pemeriksaan penunjang diagnostik invasive maupun non invasive. perlu dilakukan tindakan pembedahan. Tumor ganas akan mengadakan kompresi pada duktus koledokus yang berbentuk ireguler. sedangkan pada ERCP akan tampak penyempitan saluran empedu sebelah distal tumor.

OBSTRUKSI JAUNDICE PENATALAKSANAAN Pada dasarnya penatalaksanaan penderita ikterus obstruksi bertujuan untuk menghilangkan penyebab obstruksi atau mengalihkan aliran empedu. 1. koledoko-duodenostomi atau kolesisto-jejunostomi. Drainase interna (pintasan bilio-digestif). Drainase ke luar tubuh (drainase eksterna) Drainase eksterna dilakukan dengan mengalihkan aliran empedu ke luar tubuh misalnya dengan pemasangan pipa naso bilier atau pipa T pada duktus koledokus atau kolesistostomi. dilakukan tindakan pengangkatan batu dengan cara operasi laparotomi atau papilotomi dengan endoskopi / laparoskopi. Drainase interna pertama kali dilaporkan oleh Pareiras et al dan Burchart pada tahun 1978. Bila penyebabnya adalah tumor dan tindakan bedah tidak dapat menghilangkan penyebab obstruksi karena tumor tersebut maka dilakukan tindakan drainase untuk mengalihkan aliran empedu tersebut. PEMBEDAHAN TERHADAP BATU Setiap penderita dengan kolestasis ekstra hepatal merupakan indikasi pembedahan. dan presentase munculnya kembali ikterus obstruksi setelah dilakukan pintasan adalah 0 – 15 % tergantung dari tehnik operasi yang digunakan. Ada 2 macam tindakan drainase yaitu : 1. Sewaktu melakukan pembedahan sebaiknya dibuat kolangiografi intra 12 Case Ruangan XIV DICE WULANDARY . Bila penyebabnya adalah batu. Drainase interna dapat dilakukan dengan membuat pintasan bilio-digestif antara lain hepatiko-jejunostomi. 2.

forseps batu atau “skoop”. Pembedahan terhadap batu sebagai penyebab obstruksi. Bila ditemukan dilatasi duktus koledokus lebih dari 5 mm dilakukan eksplorasi duktus koledokus. apakah itu intra hepatik atau ekstra hepatik. KOLESISTEKTOMI Adalah mengangkat kandung empedu beserta seluruh batu. yang dapat dilakukan antara lain : a. Usaha selanjutnya ialah mencegah batu rekuren dengan menghilangkan sumber pembentuk batu antara lain dengan cara diet rendah kolesterol menghindari penggunaan obat-obatan yang meningkatkan kolesterol. dapat dilakukan sfingterotomi / papilotomi untuk mengeluarkan batunya. SFINGTEROTOMI / PAPILOTOMI Bila letak batu sudah pasti hanya dalam duktus koledokus. b. 13 Case Ruangan XIV DICE WULANDARY . Lebih baik lagi bila sebelum operasi telah dilakukan pemeriksaan ERCP. mencegah infeksi saluran empedu. Tindakan ini digolongkan sebagai “Surgical Endoscopy Treatment “ (SET). 2. selain itu kalau memungkinkan dibantu dengan alat endoskop saluran empedu yang rigid atau fleksibel. Tindakan yang dilakukan yaitu : a. PEMBEDAHAN TERHADAP STRIKTUR / STENOSIS Striktur atau stenosis dapat terjadi dimana saja dalam sistem saluran empedu. Mengoreksi striktur atau stenosis dengan cara dilatasi atau sfingterotomi. Kalau ada rongga abses dibuka dan dibersihkan. Eksplorasi ke saluran empedu dapat menggunakan “probe”. Cara ini dapat digunakan setelah ERCP kemudian dilanjutkan dengan papilotomi. Semua batu dibuang sebersih mungkin.OBSTRUKSI JAUNDICE operatif pada saat awal pembedahan untuk lebih memastikan letak batu.

2. Dapat juga dilakukan tindakan dilatasi secara endoskopi (Endoscopic Treatment) setelah dilakukan ERCP. Bila cara-cara di atas tidak dapat dilaksanakan maka dapat dilakukan tindakan untuk memperbaiki drainase misalnya dengan melakukan operasi rekonstruksi atau operasi bilio-digestif (by-pass).OBSTRUKSI JAUNDICE b. Selain itu sebagai akibat obstruksi kronis dan atau kolangitis kronis yang berlarut-larut pada akhirnya akan terjadi kegagalan faal hati akibat sirosis biliaris. c. Kematian terjadi akibat syok septic dan kegagalan berbagai organ. PROGNOSIS Bahaya akut dari ikterus obstruksi adalah terjadinya infeksi saluran empedu (kolangitis akut). Bila tumor tersebut dapat direseksi perlu dilakukan reseksi kuratif. Hasil reseksi perlu dilakukan pemeriksaan PA. Ikterus obstruksi yang tidak dapat dikoreksi baik secara medis kuratif maupun tindakan pembedahan mempumnyai prognosis yang jelek diantaranya akan timbul sirosis biliaris. terutama apabila terdapat nanah di dalam saluran empedu dengan tekanan tinggi seperti kolangitis piogenik akut atau kolangitis supuratifa. 3. 14 Case Ruangan XIV DICE WULANDARY . 1. PEMBEDAHAN TERHADAP TUMOR Bila tumor sebagai penyebab obstruksi maka perlu dievaluasi lebih dahulu apakah tumor tersebut dapat atau tidak dapat direseksi. Bila tumor tersebut tidak dapat direseksi maka perlu dilakukan pembedahan paliatif saja yaitu terutama untuk memperbaiki drainase saluran empedu misalnya dengan anastomosis bilo-digestif atau operasi “by-pass”.

Sepsis khususnya kolangitis yang menghancurkan parenkim hati. “Renal failure”. Penyebab morbiditas dan mortalitas adalah : a.OBSTRUKSI JAUNDICE Bila penyebabnya adalah tumor ganas mempunyai prognosis jelek. b. c. Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 15 . d. “Hepatic failure” akibat obstruksi kronis saluran empedu. Perdarahan gastro intestinal.

Jakarta. 1996. 1688-1693 Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 16 .A.Abia State University Teaching Hospital.M. Penyakit Kandung Empedu dan Duktus Biliaris. 2000. Edisi 13. Volume 4. Issel B. 453.A. Price S. hal. 380-90 3.K. EGC. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. 1994. 4. Associated professor of Surgery. Harrison. JAUNDICE. Adeyinka. Balai Penerbit FKUI. Edisi III. Batu Empedu.OBSTRUKSI JAUNDICE DAFTAR PUSTAKA 1. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Hal. Jakarta. Wilson L. Jilid I. Adisa Charles.K. ABA Nigeria 2. Jakarta. EGC. Podolsky D. Hal. Lesmana L.

Riwayat mata kuning (+) ± sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit. nyeri seperti ditusuk-tusuk. Bajak II no. Riwayat trauma (-). Demam (+) sejak 3 hari iini. Riwayat miinum jamuanCase Ruangan XIV DICE WULANDARY 17 . 61-H Lk 111. mual (+). turun dengan obat penurun panas. Masuk MR : Ibu Rumah Tangga : Batak : Islam : Jl. Riwayat sakit kuning sebelumnya (-). Medan : 23 Februari 2012 : 82. demam bersifat terus menurus. isi apa yang dimakan.95.82 ANAMNESIS PENYAKIT Keluhan Utama Telaah : Nyeri perut kanan atas : Hal ini dialami os sejak ± 7 hari ini. muntah (+) frekuensi > 5kali/hari. dan memberat dalam 2 hari ini.OBSTRUKSI JAUNDICE STATUS ORANG SAKIT ANAMNESIS PRIBADI Nama Umur Jenis Kelamin : Salamah Nasution : 55 Tahun : Perempuan Status Perkawinan : Menikah Pekerjaan Suku Agama Alamat Tgl.

OBSTRUKSI JAUNDICE jamuan (-). RPT RPO STATUS PRESENS Sensorium : CM Anemi [+] Pancaran wajah : lemah : Tidak jelas : Tidaj jelas Tekanan darah Nadi : 140/90 mmHg Ikterus [+] Sikap paksa : (-) : 72 x/menit Dispnoe [-] Refleks fisiologis : (+) N Pernapasan : 24x/menit Edema [ -] Refleks patologis : (-) Temperatur : 37. pupil : isokor. kesan normal T/H/M Leher : : Tidak dijumpai kelainan TVJ R. pembesaran KGB [-] .7 Cyanosi s [-] BB kg. RBW = % KU/KP/KG : : Sedang/Seda ng/Normowei ght KEPALA : Mata : Conjunctiva palpebra inferior pucat (+). sklera ikterik (+). BAB menurut pasien warnanya kuning biasa dengan fkekuensi BAB 1 kali/hari. pembesaran kel.tiroid [-] Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 18 . TB cm. Nafsu makan menurun sejak 1 minggu ini.2 cmH2O . trachea medial . Refleks cahaya kiri=kanan (+/+). BAK kuning pekat seperti teh pekat.

H/L/R/ : Hepar + 3 cm dibawah arcus costae. peranjakan 1cm. pekak hati (-). : Suara Pernafasan :vesikuler Suara Tambahan : (-) : : : : : : ICR V/VI. ICR III kiri ICR V ICR V 1 cm medial LMCS vesiculer (-) ABDOMEN Inspeksi Palpasi : Simetris : Soepel . nyeri tekan ulu hati (-). iktus [+] ICR V sonor pada kedua paru BPH R/A BJR atas Kanan Kiri Auskultasi : Suara pernafasan Suara tambahan TORAKS BELAKANG Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Simetris : SF ki=ka : Sonor pada kedua paru. balotement (-) Perkusi : Timpani. pekak beralih (-) 19 Case Ruangan XIV DICE WULANDARY .OBSTRUKSI JAUNDICE TORAKS DEPAN: Inspeksi Palpasi Perkusi : : : Simetris fusiformis SF ki=ka.

tak ada kelainan : Tidak dijumpai kelainan : 10.17 : 37 : 29 Alkali phospatase : 213 Urinalisa ruangan Warna Protein Reduksi : kuning pekat : (-) : (-) Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 20 .47 : 5.000/mm3 LFT Bilirubin Total Bilirubin Direct SGOT SGPT : 7.OBSTRUKSI JAUNDICE Auskultasi : Peristaltik [+] normal.1 gr/dl : 30 % : 18200 /mm3 Trombosit direct :121. PINGGANG INGUINAL GENITALIA EKSTREMITAS LABORATORIUM Darah rutin Hb Hematokrit Lekosit : Nyeri ketok sudut costo vertebra [-] : Pembesaran kel.getah bening [-] : Perempuan.

Tumor Caput Pankreas DIAGNOSIS SEMENTARA Obstruksi Jaundice ec CBD Stone PENATALAKSANAAN 1.CBD Stone . Ampula Vateri . nyeri seperti ditusuk-tusuk (+). anoreksia (+). vomitus (+) > 5x/hari isi apa yang dimakan. Pemeriksaan fisik Kepala/leher : Tidak dijumpai kelainan Abdomen : Nyeri hipokondrium kanan (+) : Tidak dijumpai kelainan.Ca.OBSTRUKSI JAUNDICE Bilirubin Urobilinogen : (+) : (+) RESUME : Anamnesis : Nyeri hipokondrium kanan (+). Ekstermitas : Superior dan Inferior DIAGNOSIS BANDING Obstruksi Jaundice ec . Anemia (+). Demam (+) bersifat remitten dan turun dengan obat penurun panas. Status present: Pancaran wajah tampak lemah. ikterik (+). BAK seperti teh pekat sejak 1 minggu ini. Nausea (+).Choledocolithiasis . Tirah Baring Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 21 .

Alfa feto 7. Elektrolit 6. USG Abdomen Follow up tgl. Tab Paracetamol 3x500mg RENCANA PENJAJAKAN DIAGNOSTIK/ TINDAKAN LANJUT 1. RFT 3. KGD ad random 5. IVFD NaCl 0. U/D/F rutin 2. praesens Sensorium TD Pols RR T : Compos mentis : 120/80 mmHg : 88 x/i : 22 x /i : 38. LFT 4. Metoclopamid 1 amp/12 jam 6.9 % 20 gtt/menit 4. Inj. Anti HCV) 8. Viral marker (HbsAg. 24 Februari 2012 KU St. Metronidazole drip 500mg/8jam 5. Diet MB 3.OBSTRUKSI JAUNDICE 2.1 0 C : Nyeri perut kanan atas Pemeriksaan fisik : Abdomen DS Terapi : Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 22 : Murphy sign (+) : Obstruksi Jaundice ec CBD Stone .

18 mg/ml (N <10 ) Follow up : 25 Februari 2012 KU : demam St. Tab Paracetamol 3x500mg Hasil Laboratorium Elektrolit : Natrium Kalium : 139 mmol/dl : 2. praesens : Sensorium TD HR RR T : Compos mentis : 130/80 mmHg : 80 x/i : 20 x/i : 37. Diet MB 3.OBSTRUKSI JAUNDICE 1.5 0 C Pemeriksaan fisik : Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 23 .2 mmol/dl Chloride : 104 mmol/dl Viral maker : HBsAg : Non Reactive 1.49 S/N Anti HCV : Non Reactive AFP : 4. IVFD NaCl 0. Metoclopamid 1 amp/12 jam 6.9 % 20 gtt/menit 4. Inj. Metronidazole drip 500mg/8jam 5. Tirah Baring 2.

Tab Paracetamol 3x500mg Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 24 . IVFD NaCl 0. Diet MB 3.9 % 20 gtt/menit 4. Metoclopamid 1 amp/12 jam 6. Inj.OBSTRUKSI JAUNDICE Sama seperti hari sebelumnya DS/ : Obstruksi Jaundice ec CBD Stone Terapi : 1. Tirah Baring 2. Metronidazole drip 500mg/8jam 5.

Iin dr. Apakah diagnosis kami di ruangan sudah benar ? 2. Rini Miharty Case Ruangan XIV DICE WULANDARY 25 .OBSTRUKSI JAUNDICE Permasalahan : 1. Guntur dr. Faizal dr. Bagaimanakah prognosis pasien ini ? Presentator : Dice Wulandary Ahmad Firdaus Hendri Berdjusi Dokter Ruangan : dr. Bayu dr. Apakah penatalaksanaan yang telah dilakukan terhadap OS di Ruangan sudah benar ? 3. Jarmila COW : dr. Diana dr. Ade dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful