You are on page 1of 2

SEBELUM KU MATI

Aku adalah orang yang hidup dalam kekacauan. Punya orang tua yang kacau, teman yang kacau, benar-benar penuh dengan
kekacauan dan malam ini seperti biasa aku pulang dalam keadaan sakau.

“Kamu apa-apaan Yan!!! Setiap pulang selalu seperti ini!!! Kamu sudah pengin mati ya!!!” bentak mamaku dengan nada tinggi. Namun
aku tak peduli, aku langsung masuk ke kamarku.

Aku benar-benar lelah menghadapi masalah demi masalah yang muncul di kehidupanku. Dimulai dari perceraian orangtuaku, lalu
masing-masing menikah lagi. Sedangkan papa tiriku terus menerus memusuhiku, mencelaku, memakiku, sementara mamaku
bukannya membela aku melainkan selalu membelanya. Aku selalu dibilang anak pembawa sial, tak tahu diuntung, tak bisa apa-apa, tak
berguna, hanya bisa bikin susah, dan lain sebagainya. Pokoknya semua ungkapan yang menyakitkan. Mungkin aku memang tak
berguna, sering bolos sekolah, pulang malam, berantem, mabuk-mabukkan, sampai sakau, padahal semua itu aku lakukan karena
kekecewaanku pada mereka. Sampai kadang-kadang terlintas di pikiranku kenapa aku tidak mati saja karena terus terang aku sudah
bosan hidup seperti ini.

Dalam tidurku aku mendapat mimpi yang aneh. Aku melihat seorang anak kecil menangis di bawah pohon kelapa, dia duduk sambil
menelungkupkan kepala. Karena kasihan, aku pun mendatangi dia.

“Ada apa, Dik?” tanyaku.

Anak itu mendongak menatapku. Aku terkejut karena itu adalah diriku saat kecil, dan airmata yang membasahi mata dan pipinya adalah
darah. Merasa ngeri, aku segera berlari, tapi apa daya kakiku terasa terkunci.

“Aku takut masuk neraka. Jangan masukkan aku ke neraka,” katanya terbata-bata di sela-sela isakkannya

“Aku masukin kamu ke neraka?” tanyaku bingung.

“Aku takut masuk neraka. Jangan masukkan aku ke neraka,” ulangnya lagi.

Aku terbangun dengan nafas terengah-engah

“Ah sial!”

Kupegang kepalaku yang masih pusing lalu aku pun tidur lagi. Tak lama kemudian aku bangun lagi karena mimpi yang sama. Hahhh,
ada apa denganku?

Keesokkan harinya aku kembali bolos sekolah. Aku pergi jalan bersama beberapa orang temanku ke pantai, kami berencana akan
pesta miras di sebuah hotel yang ada di sana. Aaahhh, hanya itu saja yang aku bisa, tapi hanya itu juga yang bisa membuatku lupa
akan segala masalahku.

Langkah kakiku terhenti saat melihat seorang anak kecil menangis di bawah pohon kelapa, kejadian yang sama persis dengan
mimpiku, tapi kini aku tak mendatanginya. Aku hanya melewatinya sambil mataku terus menatapnya. Anak kecil itu mendongak dan
menatapku, terus menatapku dengan wajahnya yang memelas dan penuh airmata darah, membuatku takut dan merinding.

“Kamu kenapa, Yan? Kayak lihat hantu aja,” kata Edo temanku.

“Aku memang lihat hantu. Itu di bawah pohon kelapa,” kataku.

“Belum minum aja udah mabok,” kata Edo cuek.

Lalu kami menemui teman yang lain di kamar hotel.

“Ayo masuk, Yan,” ajak Edo.

“Aku nggak jadi ikutan, Do. Aku tunggu di luar aja,” kataku.

“Gara-gara kamu lihat hantu ya?!?” sindir Edo. Kuanggukkan kepalaku kubiarkan Edo mengejekku.

Saat temanku sedang berpesta di dalam aku berjalan menuju ke sebuah warung yang ada di sana. Lalu aku pun duduk memandangi
lautan. Tapi tiba-tiba saja seorang bapak tua duduk di depanku.

“Sebentar lagi teman-temanmu akan mati, dan tak lama lagi kamu juga akan menyusul iblis!!!” katanya dengan menatapku penuh
kebencian, lalu pergi.

“Dasar orang gila!” batinku. Lalu mataku tertuju pada seorang gadis manis berambut panjang yang juga sedang duduk sendiri. Gadis itu
tersenyum padaku, aku membalasnya.

“Lumayan nih, daripada bosan nungguin sendirian.” Lalu kuhampiri gadis itu.

“Hai,” sapaku.

“Hai.”

“Kenalin dulu, namaku Ian,” kataku sambil mengulurkan tangan.

“Angel,” katanya seraya membalas uluran tanganku.


Lalu kami pun berdua ngobrol panjang lebar. Sejam, dua jam, sampai lupa waktu. Angel ternyata gadis yang sangat baik, perilakunya
lembut dan anggun. Entah kenapa dia mau berkenalan dengan pemuda seperti aku, yang berpenampilan ala preman, dengan tindik di
mana-mana.

Tak lama kemudian datanglah beberapa mobil polisi, mereka masuk ke hotel tempat teman-temanku berpesta. Melihat itu, aku pun
bergegas lari ke sana, penasaran dengan apa yang terjadi. Aku melihat kelima temanku telah tewas dengan mulut berbusa. Aku syok!
Tubuhku pun lunglai seketika. Angel segera memegang tanganku seolah memberiku kekuatan.

“Tabahlah, Yan. Mereka sedang membayar perbuatan mereka,” katanya.

Aku teringat ucapan bapak tua yang tadi kubilang gila.

“Sebentar lagi teman-temanmu mati, dan tak lama lagi kamu juga akan menyusul iblis!!!”

Aku terjatuh di atas kedua kakiku.

“Sebentar lagi aku juga mati,” kataku lemas. Angel bersimpuh di depanku, lalu menatapku lembut.

“Kematian adalah awal dari kehidupan baru, Yan, kamu nggak perlu takut.”

“Tapi bagaimana kalo hidup baruku nanti kujalani di neraka?!?”

“Selagi masih ada waktu, perbanyaklah berbuat baik, bertobatlah!” kata Angel.

Angel. Sesuai dengan namanya dia seperti seorang malaikat yang sengaja didatangkan Tuhan untuk menyelamatkanku.

***

Sejak kejadian itu, penampilan dan hidupku berubah total. Tak lagi bolos sekolah, berantem, pulang malam, mabuk dan sakau. Dan
satu lagi.

“Papa, Mama, maafin aku, selama ini aku sudah jadi anak yang nggak berguna. Aku janji aku nggak akan mengecewakan kalian lagi
dengan semua perbuatanku,” kataku lalu kupeluk mama dan papa tiriku.

Demikian juga dengan orang yang pernah menjadi musuhku, kudatangi mereka satu-persatu, kutawarkan maaf dan persahabatan.
Hahh, lega rasanya bisa berbuat kebaikan yang selama ini tak pernah kukenal.

Pagi ini di hari Minggu aku ada janji ketemuan dengan Angel di pantai. Aku pun duduk di warung menunggunya datang. Tiba-tiba saja
pak tua yang dulu datang, kembali duduk di hadapanku. Kali ini wajahnya penuh dengan senyuman.

“Kapan aku mati, Pak? Aku sudah siap?” tanyaku. Pak tua itu tertawa ringan.

“Kamu sudah mati, Nak.”

Hah?!? Aku sudah mati, kapan, di mana??? Tapi benarkah aku sudah mati??? Kalo iya kenapa aku masih bisa merasakan tubuhku,
aku masih bisa bernafas, dan masih bisa mendengarkan detak jantungku.

Bapak itu kembali tertawa melihat kebingunganku.

“Iblis dalam dirimu yang sudah mati. Sekarang kamu bisa lebih tenang menjalani hidup, bukankah begitu Nak?” kata pak tua itu sambil
menepuk punggung tanganku.

Hahhh, jadi bukan aku yang mati tapi iblis dalamku. Agak sedikit aneh memang tapi setidaknya aku merasa lebih bahagia sekarang
dengan segala kebaikan yang aku lakukan.