You are on page 1of 4

ARTI SEBUAH NIAT

Kamis, 07-Agustus-2008, Penulis: Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari

Fungsi niat dalam ibadah sangatlah penting. Karena itu setiap muslim harus senantiasa
memperbaiki niat dalam ibadahnya, yaitu ikhlas untuk Allah semata.

Umar ibnul Khaththab radliallahu anhu berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi
wasallam bersabda :
"Amalan-amalan itu hanyalah tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang hanyalah
mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka siapa yang amalan hijrahnya
karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa
yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia
nikahi maka hijrahnya itu kepada apa yang dia tujukan/niatkan".

Hadits yang agung di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dalam beberapa
tempat dari kitab shahihnya (hadits no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953) dan Imam
Muslim rahimahullah dalam shahihnya (no. 1908).

Berkata Al Imam Ibnu Rajab Al Hambali tentang hadits ini : "Yahya bin Said Al Anshari
bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini dari Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dari
`Alqamah bin Waqqash Al Laitsi, dari Umar ibnul Khaththab radliallahu anhu. Dan tidak
ada jalan lain yang shahih dari hadits ini kecuali jalan ini. Demikian yang dikatakan oleh
Ali ibnul Madini dan selainnya”. Berkata Al Khaththabi : "Aku tidak mengetahui adanya
perselisihan di kalangan ahli hadits dalam hal ini sementara hadits ini juga diriwayatkan
dari shahabat Abu Said Al Khudri dan selainnya”. Dan dikatakan: Hadits ini diriwayatkan
dari jalan yang banyak akan tetapi tidak ada satupun yang shahih dari jalan-jalan tersebut
di sisi para huffadz (para penghafal hadits).

Kemudian setelah Yahya bin Said Al Anshari banyak sekali perawi yang meriwayatkan
darinya, sampai dikatakan : Telah meriwayatkan dari Yahya Al Anshari lebih dari 200
perawi. Bahkan ada yang mengatakan jumlahnya mencapai 700 rawi, yang terkenal dari
mereka di antaranya Malik, Ats Tsauri, Al Auza`i , Ibnul Mubarak, Al Laits bin Sa`ad,
Hammad bin Zaid, Syu`bah, Ibnu `Uyainah dan selainnya. .

Ulama bersepakat menshahihkan hadits ini dan menerimanya dengan penerimaan yang
baik dan mantap. Imam Bukhari membuka kitab Shahihnya dengan hadits ini dan
menempatkannya seperti khutbah/mukaddimah bagi kitab beliau, sebagai isyarat
bahwasanya setiap amalan yang tidak ditujukan untuk mendapatkan wajah Allah maka
amalan itu batil, tidak akan diperoleh buah/hasilnya di dunia terlebih lagi di akhirat.
Karena itulah berkata Abdurrahman bin Mahdi: "Seandainya aku membuat bab-bab
dalam sebuah kitab niscaya aku tempatkan pada setiap bab hadits Umar tentang amalan
itu dengan niatnya”. Beliau juga mengatakan: "Siapa yang ingin menulis sebuah kitab
maka hendaknya ia memulai dengan hadits innamal a'malu binniyah. (Jam`iul `Ulum wal
Hikam, karya Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 59-60. Muassasah Ar Risalah, cet. Ke-4, th.
1413 H/1993 M)

Hadits ini selain diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan oleh
para imam yang lain. Dan komentar tentang hadits ini kami cukupkan dari menukil
ucapan Ibnu Rajab Al Hambali di atas karena padanya ada kifayah (kecukupan).

Penjelasan Hadits

Dari hadits di atas kita pahami bahwasanya setiap orang akan memperoleh balasan
amalan yang dia lakukan sesuai dengan niatnya. Dalam hal ini telah berkata Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: "Setiap amalan yang dilakukan seseorang apakah
berupa kebaikan ataupun kejelekan tergantung dengan niatnya. Apabila ia tujukan dengan
perbuatan tersebut niatan/maksud yang baik maka ia mendapatkan kebaikan, sebaliknya
bila maksudnya jelek maka ia mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan". Beliau
juga mengatakan: "Hadits ini mencakup di dalamnya seluruh amalan, yakni setiap amalan
harus disertai niat. Dan niat ini yang membedakan antara orang yang beramal karena
ingin mendapatkan ridla Allah dan pahala di negeri akhirat dengan orang yang beramal
karena ingin dunia apakah berupa harta, kemuliaan, pujian, sanjungan, pengagungan dan
selainnya". (Makarimul Akhlaq, hal 26 dan 27)

Di sini kita bisa melihat arti pentingnya niat sebagai ruh amal, inti dan sendinya. Amal
menjadi benar karena niat yang benar dan sebaliknya amal jadi rusak karena niat yang
rusak.

Dinukilkan dari sebagian salaf ucapan mereka yang bermakna: "Siapa yang senang untuk
disempurnakan amalan yang dilakukannya maka hendaklah ia membaikkan niatnya.
Karena Allah ta`ala memberi pahala bagi seorang hamba apabila baik niatnya sampaipun
satu suapan yang dia berikan (akan diberi pahala)".

Berkata Ibnul Mubarak rahimahullah: "Berapa banyak amalan yang sedikit bisa menjadi
besar karena niat dan berapa banyak amalan yang besar bisa bernilai kecil karena
niatnya". (Jamiul Ulum wal Hikam, hal. 71)

Perlu diketahui bahwasanya suatu perkara yang sifatnya mubah bisa diberi pahala bagi
pelakunya karena niat yang baik. Seperti orang yang makan dan minum dan ia niatkan
perbuatan tersebut dalam rangka membantunya untuk taat kepada Allah dan bisa
menegakkan ibadah kepada-Nya. Maka dia akan diberi pahala karena niatnya yang baik
tersebut. Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan : "Perkara mubah pada diri
orang-orang yang khusus dari kalangan muqarrabin (mereka yang selalu berupaya
mendekatkan diri kepada Allah) bisa berubah menjadi ketaatan dan qurubat (perbuatan
untuk mendekatkan diri kepada Allah) karena niat". (Madarijus Salikin 1/107)

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim (7/92) ketika menjelaskan hadits:
Dan pada kemaluan salah seorang dari kalian (menggauli istri) ada sedekah.
Beliau menyatakan: "Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwasanya perkara-
perkara mubah bisa menjadi amalan ketaatan dengan niat yang baik. Jima’ (bersetubuh)
dengan istri bisa bernilai ibadah apabila seseorang meniatkan untuk menunaikan hak istri
dan bergaul dengan cara yang baik terhadapnya sesuai dengan apa yang Allah
perintahkan, atau ia bertujuan untuk mendapatkan anak yang shalih, atau untuk menjaga
kehormatan dirinya atau kehormatan istrinya dan untuk mencegah keduanya dari melihat
perkara yang haram, atau berfikir kepada perkara haram atau berkeinginan melakukannya
dan selainnya dari tujuan-tujuan yang tidak baik".(Syarh Muslim 3/44)

Meluruskan Niat
Seorang hamba harus terus berupaya memperbaiki niatnya dan meluruskannya agar apa
yang dia lakukan dapat berbuah kebaikan. Dan perbaikan niat ini perlu mujahadah
(kesungguh-sungguhan dengan mencurahkan segala daya upaya). Karena sulitnya
meluruskan niat ini sampai-sampai Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata : "Tidak ada
suatu perkara yang paling berat bagiku untuk aku obati daripada meluruskan niatku,
karena niat itu bisa berubah-ubah terhadapku". (Hilyatul Auliya 7/5 dan 62)

Dan niat itu harus ditujukan semata untuk Allah, ikhlas karena mengharapkan wajah-Nya
yang Mulia. Ibadah tanpa keikhlasan niat maka tertolak sebagaimana bila ibadah itu tidak
mencocoki tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Allah ta`ala berfirman
tentang ikhlas dalam ibadah ini :

Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dalam keadaan
mengikhlaskan agama bagi-Nya. (Al Bayyinah : 5)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu` Fatawa (10/49) :
"Mengikhlaskan agama untuk Allah adalah pokok ajaran agama ini yang Allah tidak
menerima selainnya. Dengan ajaran agama inilah Allah mengutus rasul yang pertama
sampai rasul yang akhir, yang karenanya Allah menurunkan seluruh kitab. Ikhlas dalam
agama merupakan perkara yang disepakati oleh para imam ahlul iman. Dan ia merupakan
inti dari dakwah para nabi dan poros Al Qur'an".

Yang perlu diingat bahwasanya niat itu tempatnya di hati sehingga tidak boleh dilafazkan
dengan lisan. Bahkan termasuk perbuatan bid``ah bila niat itu dilafazkan.

Pelajaran Yang Dipetik dari Hadits Ini


1. Niat itu termasuk bagian dari iman karena niat termasuk amalan hati.
2. Wajib bagi seorang muslim mengetahui hukum suatu amalan sebelum ia melakukan
amalan tersebut, apakah amalan itu disyariatkan atau tidak, apakah hukumnya wajib atau
sunnah. Karena di dalam hadits ditunjukkan bahwasanya amalan itu bisa tertolak apabila
luput darinya niatan yang disyariatkan.
3. Disyaratkannya niat dalam amalan-amalan ketaatan dan harus dita`yin (ditentukan)
yakni bila seseorang ingin shalat maka ia harus menentukan dalam niatnya shalat apa
yang akan ia kerjakan apakah shalat sunnah atau shalat wajib, dhuhur, atau ashar, dst. Bila
ingin puasa maka ia harus menentukan apakah puasanya itu puasa sunnah, puasa qadha
atau yang lainnya.
4. Amal tergantung dari niat, tentang sah tidaknya, sempurna atau kurangnya, taat atau
maksiat.
5. Seseorang mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan namun perlu diingat niat
yang baik tidaklah merubah perkara mungkar (kejelekan) itu menjadi ma'ruf (kebaikan),
dan tidak menjadikan yang bid`ah menjadi sunnah.
6. Wajibnya berhati-hati dari riya, sum`ah (beramal karena ingin didengar orang lain) dan
tujuan dunia yang lainnya karena perkara tersebut merusakkan ibadah kepada Allah
ta`ala.
7. Hijrah (berpindah) dari negeri kafir ke negeri Islam memiliki keutamaan yang besar
dan merupakan ibadah bila diniatkan karena Allah dan Rasul-Nya.

Wallahu ta`ala a`lam bishawwab.

http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=20