You are on page 1of 13

Introspeksi Diri di Bulan Ramadhan

Ahad, 08-Oktober-2006, Penulis: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

Shahabat yang mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َّ ‫ت ال‬ َ َ
‫ن‬
ُ ْ ‫شيَاطِي‬ ُ َ‫ب النَّارِ و‬
ِ َ ‫صفِّد‬ ْ ‫جنَّةِ وَغُل ِّ َق‬
ُ ‫ت أبْوَا‬ َ ْ ‫ب ال‬
ُ ‫ت أبْوَا‬ َ ِ ‫ن فُت‬
ْ ‫ح‬ ُ ‫ضا‬
َ ‫م‬
َ ‫جاءَ َر‬
َ ‫إِذ َا‬

“Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu


neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.”

Hadits di atas dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu


dalam Shahih-nya kitab Ash-Shaum, bab Hal Yuqalu Ramadhan au
Syahru Ramadhan no. 1898, 1899. Dikeluarkan pula dalam kitab Bad‘ul
Khalqi, bab Shifatu Iblis wa Junuduhu no. 3277. Adapun Al-Imam
Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya membawakannya dalam kitab
Ash-Shaum, dan diberikan judul babnya oleh Al-Imam An-Nawawi,
Fadhlu Syahri Ramadhan no. 2492.

Pintu Kebaikan Terbuka, Pintu Kejelekan Tertutup


Kedatangan Ramadhan akan disambut dengan penuh kegembiraan
oleh insan beriman yang selalu merindukan kehadirannya dan
menghitung-hitung hari kedatangannya. Banyak keutamaan yang
dijanjikan untuk diraih dan didapatkan di bulan mulia ini, di antaranya
seperti tersebut dalam hadits yang menjadi pembahasan kita dalam
rubrik ‘Hadits’ kali ini. Dan keutamaan yang tersebut dalam hadits di
atas didapatkan sejak awal malam Ramadhan yang mubarak
sebagaimana tersebut dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam berikut ini:

َ َّ ‫ت ال‬ ُ َّ‫ن أَو‬


ْ َ ‫ب النَّارِ فَل‬
‫م‬ ْ َ‫ وَغُل ِّق‬،‫ن‬
ُ ‫ت أبْوَا‬ ِ ْ ‫مَردَة ُ ال‬
ِّ ‫ج‬ َ َ‫ن و‬
ُ ْ ‫شيَاطِي‬ ِ َ ‫صفِّد‬
ُ ‫ن‬
َ ‫ضا‬
َ ‫م‬ َ ‫ن‬
َ ‫شهْرَِر‬ ِ ٍ‫ل لَيْلَة‬
ْ ‫م‬ َ ‫إِذ َا كَا‬
،‫ل‬ْ ِ ‫خيْرِ أَقْب‬َ ْ ‫ي ال‬َ ‫ يَا بَاِغ‬:ٍ‫منَاد‬
ُ ‫ وَيُنَادِي‬،‫ب‬ ِ ْ‫م يُغْلَق‬
ٌ ‫منْهَا بَا‬ ْ َ ‫جنَّةِ فَل‬
َ ْ ‫ب ال‬
َ
ُ ‫ت أبْوَا‬ َ ِ ‫ وَفُت‬.‫ب‬
ْ ‫ح‬ ٌ ‫منْهَا بَا‬
ِ ‫ح‬
ْ َ ‫يُفْت‬
َّ ُ ‫ك ك‬ َ َ َّ ‫ويا باِغي ال‬
ٍ‫ل لَيْلَة‬ َ ِ ‫ وَ ذَل‬،ِ‫ن النَّار‬
َ ‫م‬ِ ُ‫ وَلِل ّهِ عُتَقَاء‬،‫صْر‬ِ ْ‫شّرِ أق‬ َ َ ََ

“Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan


jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak
ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka
tidak ada satu pintupun yang ditutup. Dan seorang penyeru
menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah.
Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’ Dan Allah
memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu
terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 682
dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 1682, dihasankan Asy-Syaikh
Albani rahimahullahu dalam Al-Misykat no. 1960)
Pada bulan yang penuh barakah ini, kejahatan di muka bumi lebih
sedikit, karena jin-jin yang jahat dibelenggu dan diikat, sehingga
mereka tidak bebas untuk menyebarkan kerusakan di tengah manusia
sebagaimana hal ini dapat mereka lakukan di luar bulan Ramadhan. Di
hari-hari itu kaum muslimin tersibukkan dengan ibadah puasa yang
dengannya akan mematahkan syahwat. Juga mereka tersibukkan
dengan membaca Al-Qur`an dan ibadah-ibadah lainnya. (Al-Mirqah,
Asy-Syaikh Mulla ‘Ali Al-Qari pada ta’liq Al-Misykat 1/783, hadits no.
1961)
Ibadah-ibadah ini akan melatih jiwa, membersihkan dan
mensucikannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

َ َ َ َ
َ ْ‫م تَتَّقُو‬
‫ن‬ ْ ُ ‫م لَعَل ّك‬
ْ ُ ‫ن قَبْلِك‬
ْ ‫م‬ َ ْ ‫ب ع َلَى ال ّذِي‬
ِ ‫ن‬ َ ِ ‫ما كُت‬
َ َ‫م ك‬
ُ ‫صيَا‬ ُ ُ ‫ب ع َلَيْك‬
ِّ ‫م ال‬ َ ِ ‫منُوا كُت‬ َ ْ ‫يَا أيُّهَا ال ّذِي‬
َ ‫نآ‬

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa


sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-
mudahan kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)
Karena amal shalih banyak dilakukan, demikian pula ucapan-ucapan
yang baik berlimpah ruah, ditutuplah pintu-pintu jahannam dan dibuka
pintu-pintu surga. (Shifatu Shaumin Nabiyyi n fi Ramadhan, hal. 18-19)
Makna ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits di atas
‫ن‬ َّ ‫ت ال‬
ُ ْ ‫شيَاطِي‬ ِ َ ‫صفِّد‬
ُ adalah setan itu dibelenggu. Dan yang dimaksudkan
dengan setan di sini adalah ‫ن‬ ِ ْ ‫مَردَة ُ ال‬
ِّ ‫ج‬ َ sebagaimana tersebut dalam
hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Kata ٌ‫مَردَة‬ َ adalah bentuk
َّ ‫ الْعَاتِي ال‬, maknanya
َ ْ ‫ ال‬yaitu ُ‫شدِيْد‬
jamak (lebih dari dua) dari kata ُ‫مارِد‬
yang sangat angkuh, durhaka, bertindak sewenang-wenang lagi
melampaui batas (lihat An-Nihayah fi Gharibil Hadits). Sehingga yang
dibelenggu hanyalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat,
adapun setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran.
Kita perlu nyatakan hal ini, kata Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i
rahimahullahu, agar jangan sampai engkau mengatakan: “Kami
mendapatkan beberapa perselisihan dan fitnah di bulan Ramadhan
(lalu bagaimana dikatakan setan-setan itu dibelenggu sementara
kejahatan tetap ada? -pent.).” Kita jawab bahwa yang dibelenggu
adalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat. Sedangkan setan-
setan yang kecil dan setan-setan dari kalangan manusia tetap
berkeliaran tidak dibelenggu. Demikian pula jiwa yang memerintahkan
kepada kejelekan, teman-teman duduk yang jelek dan tabiat yang
memang senang dengan fitnah dan pertikaian. Semua ini tetap ada di
tengah manusia, tidak terbelenggu kecuali jin-jin yang sangat jahat.
(Ijabatus Sa`il ‘ala Ahammil Masa`il, hal. 163)
Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullahu berkata dalam Shahih-nya
(3/188): “Bab penyebutan keterangan bahwa hanyalah yang diinginkan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya ‫ت‬ ِ َ ‫صفِّد‬
ُ َ‫و‬
‫ن‬ َّ ‫ ال‬hanyalah jin-jin yang jahat, bukan semua setan. Karena nama
ُ ْ ‫شيَاطِي‬
setan terkadang diberikan kepada sebagian mereka (tidak dimaukan
seluruhnya).”
Di bulan yang mubarak ini ada malaikat yang menyeru kepada
kebaikan dan menyeru untuk mengurangi kejelekan sebagaimana
dalam lafadz hadits:

َ َّ ‫ ويا باِغي ال‬،‫ل‬ َ َ ْ ‫ي ال‬


ِ ْ‫شّرِ أق‬
‫صْر‬ َ َ َ َ ْ ِ ‫خيْرِ أقْب‬ َ ‫ يَا بَاِغ‬:ٍ‫منَاد‬
ُ ‫وَيُنَادِي‬

“Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-


orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.”

Hadits-hadits tentang Keutamaan Ramadhan


Selain hadits di atas, banyak lagi hadits lain yang berbicara tentang
keutamaan Ramadhan. Di antaranya akan kita sebutkan berikut ini:
1. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu ia berkata: Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ِ‫ن ذ َنْبِه‬
ْ ‫م‬ َ َّ ‫ما تَقَد‬
ِ ‫م‬ ُ َ ‫سابًا غُفَِر ل‬
َ ‫ه‬ َ ِ ‫حت‬
ْ ‫مانًا وَا‬
َ ْ ‫ن إِي‬
َ ‫ضا‬
َ ‫م‬
َ ‫م َر‬
َ ‫صا‬
َ ‫ن‬
ْ ‫م‬
َ

“Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan
mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 1778)
2. Dari ‘Imran bin Murrah Al-Juhani radhiallahu 'anhu, ia berkata:
Seseorang datang menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya
berkata:

َ َ َّ ‫ وَأَن‬،‫ه إِل َّ الله‬ َ َ َ


‫ت‬ِ ‫صلَوَا‬ ُ ْ ‫صل ّي‬
َّ ‫ت ال‬ َ ْ‫سو‬
َ َ‫ و‬،ِ‫ل الله‬ ُ ‫ك َر‬ َ ‫ن ل َ إِل‬
ْ ‫تأ‬ َ ‫ن‬
ُ ْ ‫شهِد‬ ْ ِ‫ت إ‬ َ ْ‫سو‬
َ ْ ‫ أَرأي‬،ِ‫ل الله‬ ُ ‫يَا َر‬
ِ‫شهَدَاء‬ُّ ‫صدِّيْقِي ْن وال‬
َ َ ِّ ‫ن ال‬
َ ‫م‬
ِ :‫ل‬َ ‫ن أَنَا؟ قَا‬ َّ ‫م‬
ْ ‫م‬ ِ َ‫ ف‬،‫ن‬َ ‫ضا‬َ ‫م‬ َ ‫ت َر‬ُ ‫م‬ْ ‫ص‬ُ َ‫ و‬،َ‫ت الَّزكاة‬
َ
ُ ْ ‫ وَأدَّي‬،‫س‬
َ ‫م‬ َ ْ ‫ال‬
ْ ‫خ‬

“Wahai Rasulullah, apa pendapat anda bila aku bersaksi bahwasanya


tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah saja dan aku bersaksi
bahwa engkau adalah Rasulullah, aku mengerjakan shalat lima waktu,
menunaikan zakat dan puasa di bulan Ramadhan, maka termasuk
dalam golongan manakah aku?” Rasulullah menjawab: “Engkau
termasuk golongan shiddiqin dan syuhada.” (HR. Al-Bazzar, Ibnu
Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih keduanya, dan lafadz yang
disebutkan adalah lafadz Ibnu Hibban. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-
Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 989)
3. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

َ َّ ‫ج‬ َ
ِ‫ماء‬ َ ‫س‬َّ ‫ب ال‬ُ ‫ح فِيْهِ أبْوَا‬ُ َ ‫ تُفْت‬،‫ه‬ُ ‫م‬ َ ‫صيَا‬
ِ ‫م‬ ْ ُ ‫ل ع َلَيْك‬ َ َ‫ه عََّز و‬ َ ‫ فََر‬،‫ك‬
ُ ‫ض الل‬ ٌ ‫مبَاَر‬
ُ ‫شهٌْر‬ َ ‫ن‬ ُ ‫ضا‬
َ ‫م‬ ْ ُ ‫أتَاك‬
َ ‫م َر‬
َ ‫خير م‬ َ َّ ‫مردَة ُ ال‬ ُّ َ‫حيْم وتُغ‬ َ
‫ن‬
ْ ‫م‬ َ ،ٍ‫شهْر‬ َ ‫ف‬ ِ ْ ‫ن أل‬ْ ِ ٌْ َ ‫ة‬ ٌ َ ‫ لِل ّهِ فِيْهِ لَيْل‬،‫ن‬ ِ ْ ‫شيَاطِي‬ َ َ ِ‫ل فِيْه‬ َ ِ ِ ‫ج‬ َ ْ ‫ب ال‬
ُ ‫وَتُغْلَقُ فِيْهِ أبْوَا‬
‫م‬َ ِ‫حر‬ ُ ْ ‫خيُْرهَا فَقَد‬َ ‫م‬ َ ِ‫حر‬ُ

“Telah datang pada kalian Ramadhan bulan yang diberkahi. Allah


Subhanahu wa Ta'ala mewajibkan atas kalian untuk puasa di bulan ini.
Pada bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu
neraka serta dibelenggu setan-setan yang sangat jahat. Pada bulan ini
Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa
yang diharamkan untuk mendapatkan kebaikan malam itu maka
sungguh ia telah diharamkan.” (HR. Ahmad, 2/385, An-Nasa`i no. 2106,
dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa`i. Lihat
Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 985, Al-Misykat no. 1962)
4. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

‫ إِذ َا‬،‫ن‬َّ ُ‫ما بَيْنَه‬َ ‫ت‬ ٌ ‫مكَفَِّرا‬


ُ ،‫ن‬
َ ‫ضا‬ َ ‫ن إِلَى َر‬
َ ‫م‬ ُ ‫ضا‬
َ ‫م‬
َ ‫معَةِ وََر‬ ُ ْ ‫ة إِلَى ال‬
ُ ‫ج‬ َ َ‫مع‬ ُ ْ ‫س وَال‬
ُ ‫ج‬ ُ ‫م‬ َ ْ ‫صلَوَاة ُ ال‬
ْ ‫خ‬ َّ ‫ال‬
‫ت الْكَبَائُِر‬ ِ َ ‫جتُنِب‬
ْ ‫ا‬

“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at berikutnya dan Ramadhan ke


Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya,
apabila dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 549)
Cukuplah kiranya keutamaan bagi Ramadhan dengan Allah Subhanahu
wa Ta'ala memilihnya di antara bulan-bulan yang ada untuk Allah
Subhanahu wa Ta'ala turunkan kitab-Nya yang mulia di bulan berkah
tersebut, di malam yang penuh kemuliaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:

ِ ‫ن الْهُدَى وَالْفُْرقَا‬
‫ن‬ َ ‫م‬
ِ ‫ت‬ ِ ‫ن هُدًى لِلنَّا‬
ِ ‫س وَبَي ِّنَا‬ َ ِ‫ن الَّذِي أُنْز‬
ُ ‫ل فِيْهِ الْقُْرآ‬ َ ‫ضا‬
َ ‫م‬ َ
َ ‫شهُْر َر‬

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-


Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dengan yang
batil.” (Al-Baqarah: 185)

‫ي لَيْلَةِ الْقَد ْ ِر‬ َ


ْ ِ‫إِنَّا أنَْزلْنَاه ُ ف‬

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur`an itu pada malam


Qadar (malam kemuliaan).” (Al-Qadar: 1)

Puasa Semestinya membuahkan Takwa


Hikmah disyariatkannya puasa dinyatakan Allah Subhanahu wa Ta'ala
dalam firman-Nya:

َ َ َ َ
َ ْ‫م تَتَّقُو‬
‫ن‬ ْ ُ ‫م لَعَل ّك‬
ْ ُ ‫ن قَبْلِك‬
ْ ‫م‬ َ ْ ‫ب ع َلَى ال ّذِي‬
ِ ‫ن‬ َ ِ ‫ما كُت‬
َ َ‫م ك‬ ُ ُ ‫ب ع َلَيْك‬
ِّ ‫م ال‬
ُ ‫صيَا‬ َ ِ ‫منُوا كُت‬ َ ْ ‫يَا أيُّهَا ال ّذِي‬
َ ‫نآ‬

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa


sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-
mudahan kalian bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullahu berkata:
“Perkara takwa yang dikandung puasa di antaranya:
θ Orang yang puasa meninggalkan apa yang Allah Subhanahu wa
Ta'ala haramkan kepadanya berupa makan, minum, jima’ dan
semisalnya, sementara jiwa itu condong kepada perkara yang harus
ditinggalkan tersebut. Semua itu dilakukan dalam rangka mendekatkan
diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mengharapkan pahala-Nya. Ini
termasuk takwa.
Orang yangθ puasa melatih jiwanya untuk merasakan pengawasan
Allah Subhanahu wa Ta'ala (muraqabatullah), maka ia meninggalkan
apa yang diinginkan jiwanya padahal ia mampu melakukannya, karena
ia mengetahui pengawasan Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadapnya.
Puasa itu menyempitkanθ jalan setan, karena setan itu berjalan pada
anak Adam seperti peredaran/aliran darah. Dan puasa akan
melemahkan jalannya sehingga mengecilkan perbuatan maksiat.
Orang yang puasa umumnya memperbanyak amalan ketaatan
sementara amalan ketaatan termasuk perangai takwa.θ
θ Orang yang kaya jika merasakan tidak enaknya lapar maka mestinya
ia akan memberikan kelapangan/memberi derma kepada orang-orang
fakir yang tidak berpunya. Ini pun termasuk perangai takwa. (Taisir Al-
Karimir Rahman, hal. 86)
Dengan demikian sungguh tidaklah berlebihan bila kita katakan bahwa
seharusnya momentum Ramadhan dijadikan langkah awal untuk
memperbaiki iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
untuk kemudian iman dan takwa itu terus dipupuk dan dirawat di
bulan-bulan selanjutnya. Dan jangan dibiarkan terpisah dari jiwa dan
raga hingga datang jemputan dari utusan Ar-Rahman (malaikat maut).
Khususnya kita –penduduk negeri ini– seharusnya berkaca diri
berkaitan dengan segala petaka yang menimpa negeri kita, demikian
pula musibah yang datang terus menerus, lagi susul menyusul.
Tidaklah semua ini menimpa kita kecuali karena dosa-dosa kita dan
jauhnya kita dari iman serta takwa kepada Al-Khaliq.

َ َ َ
ْ ُ‫ملُوا لَعَل ّه‬
‫م‬ ِ َ ‫ض ال ّذِي ع‬
َ ْ‫م بَع‬ ِ ‫ت أيْدِي النَّا‬
ْ ُ‫س لِيُذِيْقَه‬ َ َ ‫ما ك‬
ْ َ ‫سب‬ ْ َ ‫ساد ُ فِي الْبَّرِ وَالْب‬
َ ِ ‫حرِ ب‬ َ َ‫ظَهََر الْف‬
‫ن‬َ ْ‫جعُو‬ ِ ‫يَْر‬

“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena


perbuatan tangan/ulah manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali
ke jalan yang benar.” (Ar-Rum: 41)

َ َ
ٍ‫ن كَثِيْر‬ ْ ُ ‫ت أيْدِيْك‬
ْ َ ‫م وَيَعْفُو ع‬ َ َ ‫ما ك‬
ْ َ ‫سب‬ َ ِ ‫صيْبَةٍ فَب‬
ِ ‫م‬
ُ ‫ن‬
ْ ‫م‬ ْ ُ ‫صابَك‬
ِ ‫م‬ َ ‫ما أ‬
َ َ‫و‬

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan
oleh perbuatan tangan kalian sendiri dan Allah memaafkan sebagian
besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (Asy-Syura: 30)
Musibah yang menimpa negeri ini berupa gempa, tsunami, meletusnya
gunung berapi, tanah longsor, semburan lumpur panas, dan
sebagainya bukanlah karena kesialan penguasa/pemerintah
sebagaimana tuduhan orang-orang dungu atau pura-pura dungu.
Namun justru karena dosa-dosa yang ada di negeri ini. Terlepas apakah
bencana ini karena rekayasa asing yang ingin menjatuhkan dan
menghancurkan negeri ini sebagaimana analisa sebagian orang, atau
murni musibah tanpa rekayasa, toh semuanya ditimpakan oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala sebagai teguran bagi kita agar kembali kepada-
Nya. Bangkit dari lumpur hitam dosa dan maksiat, untuk kemudian
bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya.
Yang sangat disesalkan, di antara penduduk negeri ini banyak yang
tidak sadar dari maksiat mereka dengan musibah yang menimpa.
Mereka malah melakukan praktik-praktik kesyirikan, membuat sesajen
penolak bala yang dipersembahkan kepada roh-roh penguasa laut,
penguasa gunung, penguasa darat, dan sebagainya. Na’udzubillah min
dzalik!!!
Sehubungan dengan momentum Ramadhan sebagai bulan untuk
menambah iman dan takwa, serta terkait dengan banyaknya musibah
yang menimpa negeri ini, bagus sekali untuk kita nukilkan nasihat dari
Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkenaan dengan
musibah yang menimpa anak Adam, khususnya gempa bumi1. Mudah-
mudahan nasehat ini bisa menjadi renungan bagi anak negeri ini.
Beliau rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha
Memiliki hikmah Maha Mengetahui terhadap apa yang Dia putuskan
dan tetapkan, sebagaimana Dia Maha Memiliki Hikmah lagi Maha
Mengetahui dalam apa yang Dia syariatkan dan perintahkan. Dia
menciptakan apa yang diinginkan-Nya berupa tanda-tanda kekuasaan-
Nya. Dia tetapkan hal itu untuk menakut-nakuti hamba-Nya dan
mengingatkan mereka tentang hak-Nya dan memperingatkan mereka
dari kesyirikan, penyelisihan terhadap perintah-Nya dan melakukan
larangan-Nya.”
Selanjutnya beliau menyatakan: “Tidaklah diragukan bahwa gempa
yang terjadi pada hari-hari ini di banyak tempat/negeri merupakan
sejumlah tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang
dengannya Allah Subhanahu wa Ta'ala hendak menakut-nakuti hamba-
hamba-Nya. Seluruh musibah gempa yang terjadi dan perkara lainnya
yang membuat kemudharatan para hamba dan menyebabkan
gangguan bagi mereka, adalah disebabkan kesyirikan dan maksiat.”

َ ‫س‬ َ َ ‫صاب‬ َ َ َ ‫صاب‬ َ


‫ك‬ ِ ْ‫ن نَف‬ ِ َ‫سيِّئَةٍ ف‬
ْ ‫م‬ َ ‫ن‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ك‬ َ ‫ما أ‬
َ َ‫ن اللهِ و‬ ِ َ‫سنَةٍ ف‬
َ ‫م‬ َ ‫ح‬
َ ‫ن‬
ْ ‫م‬
ِ ‫ك‬ َ ‫ما أ‬
َ

“Tidaklah satu kebaikan menimpamu melainkan itu dari Allah dan


tidaklah satu kejelekan menimpamu melainkan karena ulah dirimu
sendiri.” (An-Nisa`: 79)
Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata: “Yang wajib dilakukan oleh
seluruh muslimin adalah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
istiqamah di atas agamanya dan berhati-hati dari seluruh perkara yang
dilarang berupa syirik dan maksiat. Sehingga mereka memperoleh
pengampunan, kelapangan, keselamatan di dunia dan di akhirat dari
seluruh kejelekan, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menolak dari mereka
seluruh musibah, lalu menganugerahkan kepada mereka setiap
kebaikan. Sebagaimana Ia berfirman:
‫ن كَذَّبُوا‬ ْ ِ ‫ض وَلَك‬
َ ْ
ِ ‫ماءِ وَالْر‬ َّ ‫ن ال‬
َ ‫س‬ َ ‫م‬ ْ ِ‫حنَا ع َلَيْه‬
ٍ ‫م بََركَا‬
ِ ‫ت‬ ْ َ ‫منُوا وَاتَّقَوا لَفَت‬ َ ْ‫ن أَه‬
َ ‫ل الْقَُرى آ‬ َّ َ ‫وَلَوْ أ‬
َ
‫ن‬
َ ْ‫سبُو‬ ِ ْ ‫ما كَانُوا يَك‬
َ ِ‫م ب‬ْ ُ‫خذْنَاه‬ َ ‫فَأ‬

“Seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami


bukakan bagi mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka
malah mendustakan maka Kami pun menyiksa mereka disebabkan apa
yang dulunya mereka upayakan.” (Al-A’raf: 96)
Kemudian Syaikh menukilkan ucapan Al-’Allamah Ibnul Qayyim
rahimahullahu: “Di sebagian waktu Allah Subhanahu wa Ta'ala
mengizinkan bumi untuk bernapas panjang. Ketika itu terjadilah
gempa/goncangan yang besar, sehingga menimbulkan ketakutan pada
hamba-hamba-Nya, lalu mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala dan mencabut diri dari maksiat, tunduk patuh kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala dan menyesali diri, sebagaimana ucapan
sebagian salaf ketika terjadi gempa bumi: ‘Sesungguhnya Rabb kalian
menegur kalian.’ Ketika terjadi gempa di kota Madinah, ‘Umar ibnul
Khaththab radhiallahu 'anhu berkhutbah dan memberi nasehat kepada
penduduk Madinah dan beliau berkata: ‘Kalau gempa ini terjadi lagi,
aku tidak akan tinggal bersama kalian di Madinah ini.’
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu
menasehatkan: “Ketika terjadi gempa bumi dan tanda-tanda
kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala lainnya, gerhana, angin kencang
dan banjir, yang wajib dilakukan adalah bertaubat kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala, tunduk menghinakan diri kepada-Nya dan
memohon maaf/kelapangan-Nya serta memperbanyak mengingat-Nya
dan istighfar pada-Nya. Sebagaimana ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam ketika terjadi gerhana dalam hadits yang diriwayatkan oleh
Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Apabila kalian melihat gerhana
maka berlindunglah kalian dengan zikir/mengingat Allah, berdoa
kepada-Nya dan istighfar.”
Disenangi pula untuk memberikan kasih sayang kepada fakir miskin
dan bersedekah kepada mereka dengan dalil sabda Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam:

َ ْ ِ ‫اَلَّرا‬
ِ‫ماء‬ َّ ‫ن فِي ال‬
َ ‫س‬ ْ ‫م‬ ْ ُ ‫مك‬
َ ‫م‬ ُ ‫ح‬
َ ‫ض يَْر‬
ِ ‫ن فِي الْر‬
ْ ‫م‬
َ ‫موْا‬
ُ ‫ح‬
َ ‫ اِْر‬،‫ن‬ ْ ‫م الَّر‬
ُ ‫حم‬ ُ ُ‫مه‬
ُ ‫ح‬
َ ‫ن يَْر‬
َ ْ‫مو‬
ُ ‫ح‬

“Orang-orang yang menyayangi (memiliki sifat rahmah) akan


dirahmati oleh Ar-Rahman. Sayangilah orang yang ada di bumi niscaya
Yang di langit akan merahmati kalian.”2

‫م‬ َ ‫م ل َ يُْر‬
ُ ‫ح‬ َ ‫ن ل َ يَْر‬
ُ ‫ح‬ ْ ‫م‬
َ

“Siapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan


disayangi/dirahmati.”3
Diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu bahwa beliau
mengirim surat kepada gubernur-gubernurnya ketika terjadi gempa
agar mereka bersedekah.
Termasuk sebab kelapangan dan keselamatan dari semua kejelekan
adalah agar pemerintah bersegera mengambil tangan rakyatnya dan
mengharuskan mereka untuk berpegang dengan kebenaran dan
menjalankan syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala pada mereka serta
amar ma’ruf nahi mungkar. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala:

ْ َ ‫وال ْمؤ ْمنون وال ْمؤ ْمنات بعضه‬


‫ن‬َ ْ‫مو‬
ُ ْ ‫قي‬ِ ُ ‫منْكَرِ وَي‬ُ ْ ‫ن ال‬ِ َ‫ن ع‬ َ ْ‫ف وَيَنْهَو‬ َ ْ ‫ن بِال‬
ِ ْ‫معُْرو‬ َ ْ‫مُرو‬
ُ ‫ض يَأ‬ٍ ْ‫م أ ْولِيَاءُ بَع‬ ْ ُ ُ َْ ُ َ ِ ُ َ َ ْ ُ ِ ُ َ
ُ
َ ِ ‫ه أولَئ‬
‫ه‬
ُ ‫م الل‬ ُ ُ‫مه‬ ُ ‫ح‬
َ ‫سيَْر‬َ ‫ك‬ ُ َ ‫سوْل‬
ُ ‫ه وََر‬
َ ‫ن الل‬َ ْ‫ن الَّزكَاة َ وَيُطِيْعُو‬
َ ْ‫صلَة َ وَيُؤْتُو‬ َّ ‫ال‬

“Kaum mukminin dan mukminat sebagian mereka adalah wali/kekasih


bagi sebagian yang lain. Mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf
dan melarang dari yang mungkar, mereka menegakkan shalat,
menunaikan zakat dan mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah
yang akan dirahmati Allah.” (At-Taubah: 71)
Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

‫ن‬
ْ ‫م‬ َ ‫ب يَوْم ِ الْقِيَا‬
َ َ‫ و‬.ِ‫مة‬ ِ ‫ن كَُر‬ ْ ‫م‬
ِ ‫ة‬ً َ ‫ه كُْرب‬ُ ْ ‫ه عَن‬ُ ‫س الل‬َ َّ‫ب الدُّنْيَا نَف‬
ِ ‫ن كَُر‬ْ ‫م‬ِ ‫ة‬ ً َ ‫ن كُْرب‬ٍ ‫م‬ ِ ْ ‫مؤ‬
ُ ‫ن‬ َ َّ‫ن نَف‬
ْ َ‫س ع‬ ْ ‫م‬َ
‫ه فِي الدُّنْيَا‬ ُ ‫ستََره ُ الل‬َ ‫ما‬ ً ِ ‫سل‬
ْ ‫م‬ ُ ‫ستََر‬ َ ‫ن‬ ْ ‫م‬ ِ ‫ه عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْل‬
َ َ‫ و‬.ِ‫خَرة‬ ُ ‫سَر الل‬ َّ َ ‫سرٍ ي‬ ِ ْ‫سَر ع َلَى مع‬َّ َ ‫ي‬
ِ َ‫ن أ‬
ِ‫خيْه‬ ِ ْ‫ن الْعَبْد ُ فِي ع َو‬ َ ِ ‫ن الْعَبْد‬
َ ‫ما كَا‬ ِ ْ‫ه فِي ع َو‬ ِ ‫وَاْل‬
ُ ‫ وَالل‬.ِ‫خَرة‬

“Siapa yang melepaskan seorang mukmin dari satu bencana/kesulitan


dunia niscaya Allah akan melepaskannya dari satu bencana di hari
kiamat. Siapa yang memberi kemudahan bagi orang yang sedang
kesulitan niscaya Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia
dan di akhirat. Siapa yang menutup kejelekan/cacat seorang muslim,
Allah pun akan menutup cacatnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah
senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong
saudaranya.”4
Demikian nasehat dari Asy-Syaikh Ibnu Baz –semoga Allah Subhanahu
wa Ta'ala merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas dan
melapangkan beliau di kuburnya, amin–. Semoga Allah Subhanahu wa
Ta'ala merahmati penduduk negeri ini dan menghilangkan musibah
dari mereka serta memberi taufik kepada mereka agar bertaubat dan
kembali kepada agama-Nya yang benar. Semoga penduduk negeri ini
mengambil pelajaran yang berharga di bulan mubarak ini, bulan
Ramadhan nan penuh keberkahan, menambah iman dan takwa
mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala hingga mereka menjadi ,
orang-orang yang dibebaskan dari api neraka. Allahumma amin.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Dinukil secara ringkas dari kitab Majmu’ Fatawa Ibni Baz, 9/148-152.
2 HR. At-Tirmidzi no. 1924, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam
Ash-Shahihah, no. 922
3 HR. Al-Bukhari no. 7376
4 HR. Muslim no. 6793

http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=374