You are on page 1of 9

Jangan Meremehkan Dosa

Ahad, 13-Juli-2008, Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad AbdulMu’thi

Manusia adalah makhluk yang lalai. Tidak hanya lalai untuk


mengerjakan amal ketakwaan namun juga lalai dari dosa-dosa. Lebih
memilukan lagi jika manusia acap mengentengkan dosa atau maksiat
yang ia perbuat. Seolah-olah dengan sikapnya itu, ia aman dari adzab
Allah Subhanahu wa Ta'ala di dunia ataupun di akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan bumi dan menghiasinya


dengan berbagai perhiasan yang indah dan menawan untuk menguji
hamba-Nya, siapa di antara mereka yang taat kepada-Nya dan siapa
yang membangkang perintah-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:

‫صعِيدًا جُ ُرزًا‬
َ ‫ن مَا عََل ْيهَا‬
َ ‫ وَِإنّا لَجَاعِلُو‬.ً‫عمَل‬
َ ُ‫حسَن‬
ْ َ‫جعَ ْلنَا مَا عَلَى ْالَرْضِ زِينَةً َلهَا ِلنَبْلُوَ ُهمْ َأّيهُمْ أ‬
َ ‫ِإنّا‬
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya,
agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya. Dan
sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang ada di atasnya menjadi
tanah rata lagi tandus." (Al-Kahfi: 7-8)
Diperintahnya hamba untuk melakukan kebaikan dan dilarangnya dari kemaksiatan
adalah semata-mata demi kebaikan hamba, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala sangat
penyayang terhadap manusia. Dan suatu hal yang pasti bahwa tidaklah Allah Subhanahu
wa Ta'ala memerintahkan suatu kebaikan sekecil apapun kecuali pasti di dalamnya
terkandung maslahat, baik disadari ataupun tidak. Demikian pula jika melarang sesuatu,
tentu di dalamnya terdapat mudarat yang membahayakan hamba.

Kewajiban Mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Takut Kepada-Nya


Tak kenal maka tak sayang. Demikian keadaan orang yang tidak mengenal Allah
Subhanahu wa Ta'ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sehingga, sesuai dengan
kadar pengetahuan seseorang terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebatas itu pula
pengagungannya terhadap-Nya. Sesungguhnya mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala
dengan sebenar-benar pengenalan merupakan pokok kebaikan. Dengannya, seseorang
selalu merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga tidaklah dia berucap
kecuali yang benar dan tidak berbuat melainkan yang baik. Berbeda dengan orang yang
tidak mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benar pengenalan. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ِ‫ق َقدْرِه‬
ّ‫ح‬َ َ‫َومَا َقدَرُوا ال‬
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya." (Az-
Zumar: 67)
Ayat ini mencakup setiap orang yang meremehkan kedudukan Allah Subhanahu wa Ta'ala
seperti orang-orang atheis yang mengingkari adanya Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Demikian pula orang–orang musyrik yang meyakini adanya Allah Subhanahu wa Ta'ala
serta meyakini bahwa Ia yang mengatur alam semesta, namun dalam beribadah
mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan makhluk-Nya. Ayat ini juga
meliputi orang–orang yang mengingkari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta'ala dan
sifat-sifat-Nya atau memercayainya tetapi menakwilkannya dengan selain makna yang
sesungguhnya.
Termasuk meremehkan keagungan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah bermaksiat kepada-
Nya dan melakukan apa yang diharamkan-Nya berupa kemaksiatan, serta meninggalkan
ketaatan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala wajibkan.
Suatu hal yang tidak diragukan lagi bahwa orang yang membangkang kepada makhluk
(misalnya raja) berarti dia telah meremehkannya. Bagaimana dengan orang yang
membangkang terhadap Al-Khaliq (Allah Subhanahu wa Ta'ala)?! (Lihat I’anatul
Mustafid bi Syarhi Kitab At-Tauhid Asy-Syaikh Al-Fauzan, 2/442-447)

Sebab-sebab Terjatuhnya Seseorang dalam Maksiat


Sesungguhnya lemahnya keimanan dan keyakinan seseorang terhadap Allah Subhanahu
wa Ta'ala, Dzat yang menciptakan makhluk dan yang mengaturnya, merupakan perkara
yang berbahaya. Tidak adanya perasaan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala akan
menyebabkan seseorang meremehkan janji Allah Subhanahu wa Ta'ala dan ancaman-Nya.
Janji-Nya di dunia (bagi yang taat) adalah kemenangan dan kebahagiaan, serta di akhirat
adalah surga yang luasnya seperti langit dan bumi. Adapun ancaman-Nya (bagi yang
membangkang) di dunia adalah kehinaan dan ketidaktentraman, serta di akhirat kelak
adalah belenggu yang melilit tubuhnya dan diseret ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan atas hamba yang beriman untuk bertakwa
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala serta takut kepada-Nya dengan melaksanakan
perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Adalah ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu
'anhu berkata: "Kalau seandainya ada yang memanggil dari langit: ‘Wahai manusia,
seluruh kalian masuk surga kecuali satu orang,’ maka saya khawatir bahwa sayalah
orangnya."
Di antara sebab terjatuhnya seseorang ke dalam maksiat adalah kebodohan seseorang
tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala dan syariat-Nya. Kebodohan merupakan penyakit
kronis yang jika tidak segera diobati akan membinasakan pemiliknya. Obat dari
kebodohan adalah mempelajari Al-Qur`an dan Sunnah (hadits Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam).
Cinta dunia dan tenggelam dalam kelezatannya sehingga melalaikan dari ketaatan juga
faktor utama yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam dosa. Demikian pula
lalai dengan tujuan hidup yang sesungguhnya serta tidak mau mengambil pelajaran dari
yang telah lewat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
َ‫ق فَل‬
ّ َ‫عدَ الِ ح‬ ْ َ‫شيْئًا إِنّ و‬ َ ِ‫ل مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَاِلدِه‬ َ ‫س اتّقُوا َرّبكُمْ وَاخْشَوْا يَ ْومًا لَ َيجْزِي وَاِلدٌ عَنْ وََلدِهِ َو‬
ُ ‫يَاَأيّهَا النّا‬
‫ل َيغُ ّرّنكُ ْم بِالِ ا ْلغَرُو ُر‬
َ ‫حيَاةُ الدّ ْنيَا َو‬
َ ْ‫َتغُ ّرنّكُمُ ال‬
"Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian dan takutlah suatu hari yang (pada hari
itu) seorang ayah tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula)
menolong ayahnya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah
sekali-kali kehidupan dunia memperdayamu dan jangan pula penipu (syaitan)
memperdayamu dalam menaati Allah." (Luqman: 33)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
ٍ‫ن مَحِيص‬ ْ ِ‫ل م‬
ْ َ‫شدّ ِم ْنهُ ْم بَطْشًا َفنَ ّقبُوا فِي ا ْلبِلَدِ ه‬ َ َ‫ن قَرْنٍ هُمْ أ‬ْ ِ‫َوكَمْ أَهَْل ْكنَا َقبَْلهُ ْم م‬
"Dan berapa banyak umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka
itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, padahal mereka (yang telah dibinasakan
itu) pernah menjelajahi beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari
kebinasaan)?" (Qaf: 36) [Lihat Taujihul Muslimin ila Thariq An-Nashri Wat Tamkin karya
Muhammad Jamil Zainu, dkk, hal. 39-45)

Tingkatan-tingkatan Dosa
Dosa adalah bentuk pelanggaran terhadap larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala atau
meninggalkan apa yang diperintahkan-Nya. Dan dosa itu bertingkat-tingkat kejahatannya.
Ada yang besar dan ada pula yang kecil. Adapun dosa besar adalah setiap pelanggaran
yang pelakunya mendapatkan had (hukuman yang telah ada ketentuannya dari syariat)
seperti membunuh, berzina dan mencuri, atau yang ada ancaman secara khusus di akhirat
nanti berupa adzab dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau yang pelakunya
dilaknat melalui lisan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Al-Kaba`ir karya Adz-
Dzahabi rahimahullahu hal. 13-14, cet. Maktabah As Sunnah)
Adapun jumlah dosa besar lebih dari tujuh puluh. Sekian banyak dosa besar itupun
bertingkat-tingkat. Ada dosa besar yang paling besar misalnya syirik, membunuh jiwa
tanpa hak, dan durhaka kepada orangtua. Karena bahaya yang mengancam pelaku dosa
besar di dunia dan di akhirat nanti, kita dapati sebagian ulama Ahlus Sunnah menulis
kitab tentang dosa-dosa besar (al-kaba`ir) semisal Al-Imam Adz-Dzahabi dan Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumallah. Hal ini agar orang tahu tentang dosa-
dosa besar sehingga mereka akan menjauhinya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjanjikan surga dan ampunan-Nya bagi yang
menjauhi dosa-dosa besar sebagaimana dalam firman-Nya:
‫ل كَ ِر ْيمًا‬
ً َ‫سّيئَا ِتكُمْ َوُندْخِ ْلكُ ْم ُمدْخ‬
َ ْ‫ع ْنكُم‬
َ ْ‫عنْهُ ُنكَفّر‬
َ َ‫ج َتنِبُوا َكبَائِ َر مَا ُت ْنهَوْن‬
ْ َ‫ن ت‬
ْ ِ‫إ‬
"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu
mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil)
dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (An-Nisa`: 31)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah menjadikan orang yang meninggalkan dosa-dosa
besar masuk dalam golongan orang yang beriman dan bertawakal kepada-Nya. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
َ‫ن َكبَائِر‬َ ‫ج َتنِبُو‬
ْ َ‫ن ي‬
َ ‫ وَاّلذِي‬.َ‫ن آ َمنُوا وَعَلَى َرّبهِ ْم يَتَ َوكّلُون‬َ ‫خيْرٌ وََأبْقَى لِّلذِي‬ َ ِ‫عنْدَ ال‬ ِ ‫حيَا ِة ال ّدنْيَا َومَا‬
َ ْ‫شيْ ٍء َف َمتَاعُ ال‬
َ ْ‫َفمَا أُوتِيتُ ْم مِن‬
َ‫ضبُوا هُ ْم َيغْ ِفرُون‬ ِ َ‫لثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَِإذَا مَا غ‬ ِ ‫ْا‬
"Maka segala sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia;
dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang–orang yang beriman,
dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal, dan bagi orang–orang yang
menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah
mereka memberi maaf." (Asy-Syura: 36-37)
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ُ‫ن مَا َل ْم تُغْشَ ا ْل َكبَائِر‬
ّ ُ‫ج ُمعَةِ َكفّا َرةٌ ِلمَا َب ْينَه‬
ُ ‫ج ُمعَةُ ِإلَى الْـ‬
ُ ‫خ ْمسُ وَالْـ‬
َ ‫الصّلَة ُالْـ‬
"Shalat lima waktu dan Jum’at ke Ju’mat (berikutnya) adalah penghapus apa yang di
antaranya dari dosa selagi dosa besar tidak didatangi (dilakukan)." (HR. Muslim Kitabut
Thaharah Bab Fadhlul Wudhu wash Shalah ‘Aqibihi no. 233 dari Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu)

Kapan suatu Dosa menjadi Besar?


Ketika hendak melakukan dosa, janganlah melihat kepada kecilnya dosa. Namun lihatlah,
kepada siapa dia berbuat dosa? Patutkah bagi seseorang yang diciptakan dan diberi oleh
Allah Subhanahu wa Ta'ala sarana yang lengkap dan cukup, lantas melanggar larangan-
Nya?!
Sesungguhnya suatu dosa bisa menjadi besar karena hal-hal berikut:
1. Dosa yang dilakukan secara rutin. Sehingga dahulu dikatakan: "Tidak ada dosa kecil
jika dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar jika diikuti istighfar (permintaan
ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala)."
2. Menganggap remeh suatu dosa. Ketika seorang hamba menganggap besar dosa yang
dilakukannya maka menjadi kecil di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun jika ia
menganggap kecil maka menjadi besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Disebutkan
dalam suatu atsar bahwa seorang mukmin melihat dosa-dosanya laksana dia duduk di
bawah gunung di mana ia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang
durhaka melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya lalu dia halau
dengan tangannya. (Shahih Al-Bukhari no. 6308)
3. Bangga dengan dosa yang dilakukannya serta menganggap bisa melakukan dosa
sebagai suatu nikmat. Setiap kali seorang hamba menganggap manis suatu dosa, maka
menjadi besar kemaksiatannya serta besar pula pengaruhnya dalam menghitamkan hati.
Karena setiap kali seorang berbuat dosa, akan dititik hitam pada hatinya.
4. Menganggap ringan suatu dosa karena mengira ditutupi oleh Allah Subhanahu wa
Ta'ala dan diberi tangguh serta tidak segera dibeberkan atau diadzab. Orang yang seperti
ini tidak tahu bahwa ditangguhkannya adzab adalah agar bertambah dosanya.
5. Sengaja menampakkan dosa di mana sebelumnya tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga mendorong orang yang pada dirinya ada
bibit–bibit kejahatan untuk ikut melakukannya. Demikian pula orang yang sengaja
berbuat maksiat di hadapan orang. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
‫ يَا‬:ُ‫ل َفيَقُول‬
ُ ‫ستَرَهُ ا‬
َ ْ‫صبِحُ َو َقد‬
ْ ُ‫عمَلً ثُ ّم ي‬َ ِ‫ل بِالّليْل‬
ُ ُ‫ن َي ْعمَلَ الرّج‬ ْ َ‫ن مِنَ الْـمُجَاهَرَةِ أ‬ّ ِ‫كُلّ ُأ ّمتِـي ُمعَافًى ِإلّ الْـمُجَاهِ ِريْنَ وَإ‬
ُ‫عنْه‬َ ِ‫ستْرَ ال‬ ِ ُ‫ح َيكْشِف‬ ُ ِ‫صب‬ْ ُ‫ستُرُهُ َربّهُ َوي‬
ْ َ‫ت ي‬
َ ‫عمِلْتُ ا ْلبَا ِرحَ َة كَذَا َو َكذَا؛ َو َقدْ بَا‬
َ ،ُ‫فُلَن‬
"Semua umatku dimaafkan oleh Allah kecuali orang yang berbuat (maksiat) terang-
terangan. Dan di antara bentuk menampakkan maksiat adalah seorang melakukan pada
malam hari perbuatan (dosa) dan berada di pagi hari Allah menutupi (tidak
membeberkan) dosanya lalu dia berkata: ‘Wahai Si fulan, tadi malam aku melakukan
begini dan begini.’ Padahal dia berada di malam hari ditutupi oleh Rabbnya namun di
pagi hari ia membuka apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala tutupi darinya." (HR. Al-
Bukhari no. 6069 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Ibnu Baththal rahimahullahu mengatakan: "Menampakkan maksiat merupakan bentuk
pelecehan terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rasul-Nya, dan orang–orang shalih
dari kaum mukminin…" (Fathul Bari, 10/486)
Sebagian salaf mengatakan: "Janganlah kamu berbuat dosa. Jika memang terpaksa
melakukannya, maka jangan kamu mendorong orang lain kepadanya, nantinya kamu
melakukan dua dosa."
Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ِ‫ن بِا ْل ُم ْنكَرِ َو َينْهَوْنَ عَنِ ا ْل َمعْرُوف‬
َ ‫ض يَ ْأمُرُو‬
ٍ ْ‫ن َبع‬
ْ ِ‫ضهُ ْم م‬
ُ ْ‫ت َبع‬
ُ ‫ا ْل ُمنَافِقُونَ وَا ْل ُمنَافِقَا‬
"Orang–orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain
adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang
ma’ruf." (At-Taubah: 67)
6. Dosa menjadi besar jika dilakukan seorang yang alim (berilmu) yang menjadi panutan.
(Lihat Taujihul Muslimin ila Thariq An-Nashri Wat Tamkin hal. 29-32 karya Muhammad
Jamil Zainu)

Pengaruh Dosa atau Maksiat

 Pengaruh dosa terhadap hati seperti bahayanya racun bagi tubuh. Dan tidak ada suatu
kejelekan di dunia dan di akhirat kecuali sebabnya adalah dosa dan maksiat.
Apakah yang menyebabkan Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga -tempat yang penuh
kelezatan dan kenikmatan- kepada negeri yang terdapat berbagai penderitaan (dunia)?!
Apa pula yang menyebabkan Iblis diusir dari kerajaan yang ada di langit serta mendapat
kutukan Allah k?!
Dengan sebab apa kaum Nabi Nuh 'alaihissallam yang kufur ditenggelamkan oleh banjir,
kaum ‘Aad dibinasakan oleh angin, serta berbagai siksaan di dunia yang menimpa umat-
umat terdahulu sehingga ada yang diubah tubuhnya menjadi kera dan babi?!
Itu semua adalah akibat dari dosa yang mereka lakukan. Hendaklah peristiwa yang telah
berlalu cukup menjadi pelajaran yang berharga bagi orang-orang yang setelahnya. Karena
orang yang baik adalah yang mampu mengambil pelajaran dari orang lain dan bukan
menjadi pelajaran yang jelek bagi generasi setelahnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
‫خسَ ْفنَا بِهِ ْالَ ْرضَ َو ِمنْهُ ْم مَنْ أَغْ َر ْقنَا‬ َ ْ‫صيْحَةُ َو ِمنْهُ ْم مَن‬
ّ ‫خذَتْهُ ال‬
َ ‫صبًا َو ِمنْهُ ْم مَنْ َأ‬
ِ ‫خ ْذنَا بِ َذ ْنبِهِ َف ِم ْنهُ ْم مَنْ َأرْسَ ْلنَا عََليْهِ حَا‬
َ ‫َفكُلّ َأ‬
َ‫سهُ ْم يَظِْلمُون‬ َ ‫ن كَانُوا َأنْ ُف‬
ْ ِ‫َومَا كَانَ الُ ِليَظِْل َمهُمْ وََلك‬
"Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa sebab dosanya, maka di antara mereka
ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang
ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke
dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali
tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka
sendiri." (Al-‘Ankabut: 40)
Dosa menghalangi seorang dari memperoleh ilmu yang bermanfaat. Karena ilmu
merupakan cahaya yang Allah Subhanahu wa Ta'ala letakkan pada hati seseorang,
sedangkan maksiat yang akan meredupkan cahaya tersebut. Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i
rahimahullahu duduk di hadapan gurunya, Al-Imam Malik t, sang guru melihat
kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i t. Maka ia berpesan kepadanya: "Sungguh, aku
memandang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah meletakkan pada hatimu cahaya, maka
janganlah kau padamkan dengan gelapnya kemaksiatan."
 Maksiat menyebabkan seorang terhalang dari rizki, sebagaimana sebaliknya yaitu
takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mendatangkan rizki.
 Adanya kegersangan pada hati orang yang berbuat maksiat dan kesenjangan antara dia
dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
 Disulitkan urusannya, sehingga tidaklah ia menuju kepada suatu perkara kecuali ia
mendapatkannya tertutup.
 Kegelapan yang ia dapatkan pada hatinya. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:
"Sesungguhnya kebaikan mendatangkan sinar pada wajah, cahaya di hati, luasnya rizki,
kuatnya badan, dan dicintai oleh makhluk. Sedangkan kejelekan (kemaksiatan) akan
menimbulkan hitamnya wajah, gelapnya hati, lemahnya badan, berkurangnya rizki, dan
kebencian hati para makhluk.
 Kemaksiatan melenyapkan barakah umur serta memendekkannya. Karena,
sebagaimana kebaikan menambahkan umur, maka (sebaliknya) kedurhakaan
memendekkan umur.
 Tabiat dari kemaksiatan adalah melahirkan kemaksiatan yang lainnya. Lihatlah hasad
yang ada pada saudara-saudara Nabi Yusuf 'alaihissallam yang menyeret mereka kepada
tindakan memisahkan antara bapak dan anaknya sehingga menimbulkan kesedihan pada
orang lain, memutuskan hubungan kekerabatan, berucap dengan kedustaan, membodohi
orang, dan yang sejenisnya.
 Kemaksiatan menjadikan seorang hamba hina di mata Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al-
Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: "Mereka (pelaku maksiat) rendah di hadapan
Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga mereka bermaksiat kepada-Nya, karena seandainya
mereka orang yang mulia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala niscaya Allah k akan
jaga mereka dari dosa. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ٍ‫ن ُمكْرِم‬
ْ ِ‫ل َفمَا لَ ُه م‬
ُ ‫ن ُيهِنِ ا‬
ْ َ‫َوم‬
"Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya."
(Al-Hajj: 18)
 Kemaksiatan mengundang kehinaan, merusak akal. Dan jika dosa telah banyak maka
pelakunya akan ditutup hatinya sehingga digolongkan sebagai orang–orang yang lalai.
 Dosa memunculkan berbagai kerusakan di muka bumi, pada air, udara, tanaman, buah-
buahan, dan tempat tinggal.
 Kemaksiatan menghilangkan sifat malu yang merupakan pokok segala kebaikan serta
melemahkan hati pelakunya.
 Kemaksiatan menyebabkan hilangnya nikmat dan mendatangkan adzab. Ali bin Abi
Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: "Tidaklah turun suatu bencana kecuali karena dosa,
dan tidaklah dicegah suatu bencana kecuali dengan taubat. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
ٍ‫سبَتْ َأ ْيدِيكُمْ َويَعْفُو عَنْ َكثِير‬
َ َ‫ن مُصِيبَةٍ َف ِبمَا ك‬
ْ ِ‫َومَا َأصَا َبكُ ْم م‬
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (Asy-
Syura: 30) [Lihat Al-Jawabul Kafi: 113-208, Taujihul Muslimin hal. 58-61]
Pelajaran dan Nasihat
Tatkala Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan Adam 'alaihissallam dengan Tangan-
Nya, Ia memuliakannya di hadapan para malaikat dengan memerintahkan mereka sujud
kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajarinya nama-nama segala sesuatu serta
menempatkannya bersama istrinya Hawa di dalam surga, tempat berhuninya beragam
nikmat. Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memperingatkan kepada keduanya dari bahaya
godaan Iblis serta melarang keduanya dari memakan dari buah pohon di surga, sebagai
ujian.
Tetapi Iblis yang terkutuk selalu menggoda dengan bujuk rayunya yang manis hingga
Adam dan Hawa memakan dari pohon yang terlarang tersebut. Keduanya pun bermaksiat
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka dengan serta-merta lepaslah baju keduanya
sehingga tampak auratnya. Kemudian keduanya dikeluarkan dari surga ke bumi, tempat
yang penuh dengan kekeruhan dan keletihan. Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala masih
sayang kepada mereka berdua di mana keduanya sadar akan kesalahannya dan bertaubat
sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuninya.
Perhatikan peristiwa yang menimpa Adam dan Hawa! Tadinya menempati surga dengan
keindahannya serta dihormati oleh malaikat. Namun dengan satu kemaksiatan, kemuliaan
dicabut, bajupun menjadi lepas sehingga tersingkap auratnya, serta harus menjalani
kehidupan yang sengsara di dunia setelah sebelumnya hidup sentosa di surga.
Demikian pula di saat perang Uhud pada tahun ke-3 Hijriah, Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam menempatkan pasukan pemanah di atas bukit. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
berpesan kepada mereka untuk tidak meninggalkan posisi mereka baik muslimin kalah
atau menang. Pada awalnya muslimin mampu memukul mundur pasukan musyrikin
sehingga tiba saatnya mereka memunguti harta rampasan perang.
Para pemanah menyangka bahwa perang telah usai dan mengira tidak ada manfaatnya
lagi mereka tetap di atas bukit. Sehingga sebagian mereka ingin turun, tetapi ditegur oleh
sebagian yang lain dengan pesan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk tidak
turun. Namun sebagian nekad turun dan bermaksiat pada perintah Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam. Ketika itulah sebagian musyrikin melihat benteng pertahanan muslimin di atas
bukit telah bisa ditembus sehingga mereka menyerang dari belakang bukit sisa-sisa
pasukan pemanah sehingga mereka terbunuh.
Mereka pun menyerang muslimin dari belakang dalam keadaan pedang-pedang telah
dimasukkan ke dalam sarungnya. Lalu datang pula serangan dari depan hingga mereka
terjepit. Gugurlah sekian sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai syuhada dan
sebagian lagi terluka, sampai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pun terluka dan
terperosok ke dalam lubang yang dibuat oleh musyrikin. Sehingga mereka pulang ke
Madinah dengan kekalahan, kaki terseok-seok, serta tubuh yang penuh luka. Itu semua
disebabkan kemaksiatan sebagian pasukan muslimin.
Cobalah perhatikan! Dengan satu kemaksiatan, kemenangan yang sudah di depan mata
hilang. Dan pahitnya kekalahan dirasakan oleh seluruh pasukan, padahal di dalamnya ada
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia. Maka bisa dibayangkan
bagaimana orang–orang yang setiap saat melanggar perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Tidak takutkah mereka terhadap adzab yang akan ditimpakan?!

Tidak Mengentengkan Dosa


Terkadang seseorang menganggap enteng suatu dosa terlebih jika itu dosa kecil. Sehingga
ia terus-menerus melakukannya dan kurang memedulikannya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam telah memperingatkan akan hal ini dengan sabdanya:
‫حمَلُوا‬ َ ‫حتّى‬ َ ،ٍ‫ فَجَا َء ذَا بِعُ ْودٍ وَجَا َء ذَا ِبعُود‬،ٍ‫ل قَ ْو ٍم نَزَلُوا بَطْنَ وَاد‬
ِ َ‫ب َكمَث‬
ِ ‫ت ال ّذنُو‬
ِ ‫حقّرَا‬
َ ُ‫ل م‬
ُ َ‫ب فَِإّنمَا َمث‬
ِ ‫ت ال ّذنُو‬
ِ ‫ِإيّاكُمْ َو ُمحَقّرَا‬
ُ‫ح ُبهَا ُتهْلِكْه‬
ِ ‫خذْ ِبهَا صَا‬َ ْ‫ب َمتَى يُؤ‬ ِ ‫ت ال ّذنُو‬ ِ ‫حقّرَا‬
َ ُ‫ن م‬ّ ِ‫خبْزَهُمْ وَإ‬
ُ ِ‫مَا ا ْنضَجّوا بِه‬
"Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil. Karena perumpamaan dosa kecil seperti
suatu kaum yang singgah pada suatu lembah lalu datang seorang dengan membawa satu
dahan (kayu bakar) dan yang lain (juga) membawa satu dahan hingga mereka telah
mengumpulkan sesuatu yang bisa menjadikan roti mereka matang. Dan sesungguhnya
dosa-dosa kecil, ketika pelakunya diadzab dengannya maka akan membinasakannya."
(HR. Ahmad, Ath-Thabarani, dan lain-lain dari jalan Sahl bin Sa’d radhiyallahu 'anhu dan
dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 2686)
Waspadalah dari dosa dan jangan tertipu karena kecil atau sedikitnya. Lihatlah bagaimana
dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memotong tangan seorang pencuri karena
mencuri (hanya) 3 dirham seperti dalam Shahih Al-Bukhari (no. 6795).
Dan seorang wanita masuk neraka gara-gara kucing yang dikurungnya. Dia tidak
memberinya makan dan tidak melepasnya agar bisa memakan serangga bumi sehingga
kurus dan mati. (Lihat Shahih Muslim no. 2619)
Demikian pula dahulu di zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ada seorang yang
terbunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga para sahabat memberikan ucapan
selamat kepadanya. Tetapi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan: "Tidak.
Sesungguhnya pakaian yang dia curi dari harta rampasan perang Khaibar yang belum
dibagi-bagi akan menyala atasnya api neraka." [Lihat Shahih Muslim no.115 Kitabul
Iman]

Menjauhi Tempat Maksiat


Pelaku maksiat membawa kesialan bagi dirinya dan orang lain. Sebab dikhawatirkan akan
turun kepadanya adzab yang menyebar kepada yang lainnya, terkhusus bagi yang tidak
mengingkari kemaksiatannya. Sehingga menjauh dari pelaku maksiat adalah suatu
keharusan. Karena, jika kejahatan telah merajalela maka manusia akan binasa secara
umum.
Demikian pula tempat-tempat orang yang bermaksiat dan tempat diadzabnya pelaku
maksiat harus dijauhi karena dikhawatirkan turunnya adzab. Sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabatnya tatkala melewati daerah kaum Tsamud
yang diadzab Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya): "Janganlah kalian masuk kepada
mereka-mereka yang diadzab kecuali dengan menangis, karena dikhawatirkan akan
menimpa kalian apa yang telah menimpa mereka." (HR. Ahmad, lihat Ash-Shahihah no.
19)
Demikian pula tatkala ada seorang dari Bani Israil yang telah membunuh seratus nyawa
lalu ia ingin bertaubat dan bertanya kepada seorang ‘alim, apakah masih ada taubat
baginya? Dia menjawab: "Ya." Lalu dia menyarankan orang itu untuk pergi dari
kampungnya yang jahat ke kampung yang baik.
Dari sini jelas bahwa menjauhi tempat-tempat maksiat dan pelaku maksiat termasuk
perkara yang diperintahkan. Ibrahim bin Ad-ham rahimahullahu mengatakan:
"Barangsiapa ingin taubat, hendaklah ia keluar dari tempat-tampat kedzaliman serta
meninggalkan bergaul dengan orang yang dahulu ia bergaul dengannya (dalam maksiat).
Jika hal ini tidak dilakukan maka dia tidak mendapatkan yang diharapkan."
Waspadailah dosa karena dia suatu kesialan! Akibatnya sangat tercela, hukumannya
pedih, hati yang menyukainya berpenyakit. Terbebas dari dosa suatu keberuntungan,
selamat dari dosa tak ternilaikan, dan terfitnah (diuji) dengan dosa terlebih setelah rambut
beruban adalah musibah besar. (Lihat Qala Ibnu Rajab hal. 53-55)

Segera Kembali ke Jalan Allah k


Wahai orang yang tenggelam dalam dosa dan perbuatan nista, kembalilah kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala! Sadarlah bahwa kamu akan menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala
untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatanmu di dunia ini! Belumkah tiba
saatnya engkau berhenti dari diperbudak setan yang ujungnya engkau menjadi temannya
di neraka yang menyala-nyala?! Lepaskanlah belenggu setan yang melilit dirimu, dan
larilah menuju Ar-Rahman (Allah Subhanahu wa Ta'ala) dengan bersimpuh di hadapan-
Nya, niscaya kamu diberi jaminan keamanan dan kebahagiaan. Lembaran hitam kelammu
akan diganti dengan yang putih lagi bersih serta akan dibentangkan di hadapanmu jalan
yang terang. Bersegeralah sebelum segala sesuatunya terlambat. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:
َ‫جمِيعًا َأّيهَا ا ْلمُ ْؤ ِمنُونَ َلعَّلكُ ْم تُفِْلحُون‬
َ ِ‫َوتُوبُوا إِلَى ال‬
"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang–orang yang beriman supaya
kamu beruntung." (An-Nur: 31)
Wallahu a’lam.