You are on page 1of 2

Gerakan Majnun Internasional

Kita catat dulu catatan para penjajah internasional jenis mutakhir: Kita adalah
kekuatan yang invisible. Organisasi, institusi dan individu-individu di negara -
negara jajahan kita bikin secara tidak sadar bekerja untuk kepentingan kita.
Tujuan kita yang sebenarnya tidak boleh diketahui oleh mereka, dengan membikin
mereka justru merasa melawan kita, padahal sedang menjalankan desain-desain.
Aktor-aktor yang menjalankan program internasional kita bukan orang-orang kita,
melainkan tokoh dan aktivis masyarakat negara jajahan, seluruh agen polisi
internasional, bankers, industrialis, ekonom, politisi, termasuk public figure,
pemimpin-pemimpin informal. Mereka sangat penting karena mereka menjalankan
sekaligus melindungi kita, sambil meyakini bahwa mereka sedang melawan kita.

Kita dorong semangat dan egoisme mereka dan kebutuhan mereka untuk sukses. Padahal
mereka tak lebih bagaikan macan dengan jiwa domba karena mereka tidak punya visi
tentang kemauan kita sebenarnya. Siapa yang akan menyangka bahwa orang-orang
terkenal ini sebenarnya kita yang mengatur naik ke panggung, sesuai rencana besar
kita.

Tidak mungkin itu semua kita urai dalam tulisan pendek. Jadi kalau berminat,
jadikan PR saja, pelan-pelan dipelajari sambil nanya sana sini. Selebihnya,
berikut ini saya sedikit menambahi sketsa-sketsa.
*****
Flu atau pilek itu ikonnya hidung. Gambar orang flu berpusat pada hidung, umbel,
dan sapu tangan, ditambah gebres-gebres, demam, dan awak ndhrudhuk.
Tetapi apakah flu berpusat di hidung? Tidak. Hidung tidak ikut flu, yang flu
adalah kondisi menyeluruh dari tubuh, hidung menanggung akibatnya dan paling
tersiksa. Jadi kalau menyembuhkan flu, bukan hidung fokus perhatian metoda
kuratifnya.
Demikian juga kalau Anda melihat dan menilai soal narkoba, bukanlah narkoba pusat
masalahnya. Narkoba hanya batalyon-batalyon tentara penjajah internasional yang
disebar ke seluruh pelosok bumi.
Batalyon pasukan neo-kolonialisme mondial lainnya dikirim menyerbu pasar ekonomi,
info media, universitas dan sekolah, lembaga pemerintahan dan perwakilan rakyat
dan semua lini kepengurusan sejarah suatu bangsa, termasuk menjadi rayap-rayap
dalam berbagai konsep, ideologi dan aturan-aturan hukum dan birokrasi.

Ada juga pasukan lelembut dikirim ke dalam otak kepala manusia, ke dalam hatinya,
memasukkan, mendesakkan dan mendominasikan virus-virus cara berpikir, irama
selera, tren, sikap budaya, kecenderungan sosial dan apapun saja software
kehidupan manusia.

Batalyon pasukan lelembut ini dengan sendirinya terbawa sampai ke bilik-bilik


pribadi, masuk rumah-rumah ibadah, bahkan mempengaruhi cara manusia memperlakukan
Tuhan, Malaikat, Nabi, dan Kitab Suci. Tiba-tiba saja pada suatu hari ketahuan
bahwa kita yang yakin bahwa kita ini pandai dan saleh, ternyata kita adalah
prajurit bantuan yang ikut melaksanakan tugas Gerakan Majnun Internasional.
****
Dari zaman ke zaman dulu umat manusia dijajah oleh mitologi tentang aristokrasi
Raja-Raja. Kemudian dijajah oleh serbuan tentara dari mancanegara. Berikutnya
dijajah melalui ekonomi dan pasar. Lantas dijajah melalui pikiran dan perasaan.
Dan sekarang semua formula imperialisme dan kolonialisme itu dipakai kapan saja
dan mana saja yang relevan dan efektif.

Irak harus diserbu pasukan gabungan dengan terlebih dulu dicarikan ''ayat''nya
agar sah menyerbu. Sedang dipikir-pikir 2008-2015 Iran harus menjadi fokus
serangan, sementara harus dipastikan Kaum Muslimin harus terpecah belah di seluruh
dunia, dan cara memecah mereka adalah dengan memasukkan virus-virus cara berpikir,
cara memandang sesuatu, cara melihat dan merasakan.

Indonesia tidak perlu diserbu dengan tentara dan bedil bom bayonet. Orang
Indonesia gumunan, latah dan gampang dibikin mabuk: jadi cukup diserbu dengan
iming-iming di segala bidang.
Segala yang memabukkan dimasukkan ke Indonesia. Orang Indonesia begitu mudah mabuk
demokrasi, sementara Amerika Serikat sendiri tak segitu-segitu amat menyikapi
demokrasi.

Demokrasi, HAM, psikisme gender, otonomi daerah, teknologi komunikasi dan


informasi, Neo-Liberalisme, dan segala macam partikel yang menggiurkan: diuntal
mentah-mentah oleh orang Indonesia, tanpa reserve.

Jangankan narkoba: air sajapun memabukkan kalau sekali minum setengah drum. Nasi,
rujak cingur, rawon, pecel, semua memabukkan jika tidak dikontekstualisir secara
ruang dan waktu.

Mungkin itu sebabnya Tuhan suruh kita salat lima waktu yang keseluruhannya hanya
butuh waktu sekitar setengah jam. Kita pasti mabuk kalau Tuhan kasih metoda salat
yang satu kali salat butuh tiga jam, sehingga 5x sehari jumlah waktunya menjadi 15
jam. So, salat sajapun memabukkan dan berakibat negatif kalau tidak tepat satuan
ruang dan waktunya.

Maka narkoba itu 10x lipat setan iblis efektivitasnya untuk memajnunkan manusia.
Narkoba itu melebihi neraka, dan pemakai narkoba adalah manusia terbodoh tiada
tara.
Di dalam neraka saja orang kesakitan tersiksa tetapi memiliki kemuliaan karena
sedang menjalani hukuman alias pembersihan. Orang bersalah yang dihukum itu harus
bangga karena memang demikianlah yang benar. Salah + tidak dihukum = Salah
kwadrat. Salah + dihukum = Benar. Orang yang dipenjarakan dan dimasukkan neraka
berarti menjalankan kebenaran. Akan tetapi sejahat-jahat dan sebodoh-bodoh pemakai
narkoba masih jauh lebih bodoh dan lebih jahat para inisiator dan penyebar
narkoba. Narkoba adalah senjata paling ampuh dibanding segala rudal dan bom jenis
mutakhir.

Kalau Negara adikuasa menjatuhkan bom di Surabaya maka sepanjang hidup negara
pengebom itu dikutuk oleh sejarah. Tetapi kalau narkoba yang membunuh satu atau
dua generasi muda Indonesia yang jumlahnya melebihi penduduk Surabaya: tak ada
yang dikutuk selain narkoba itu sendiri.
Narkobanya dibajingan-bajingankan, tapi pelaku di belakangnya bisa justru menjadi
public figure, tokoh panutan, duta keselamatan masyarakat atau apapun.

* (Surya/17112007/PmBNetDok)