You are on page 1of 1

Abang Becak Bertato

ORANG dengan tato di sekujur tubuh ini lebih cocok menjadi preman pasar atau
pemalak jalanan katimbang menjadi pengayuh becak. Dari becaknya yang tengah
nongkrong, ia bangkit menyongsong pertanyaan seorang pengendara yang bingung
memilih rute. Dengan kesopanan seadanya, dengan kata-kata sekenanya, manusia
bertato ini menjelaskan rute itu sebaik yang dia bisa. Tapi penjelasan yang serba
cekak dan terbata-bata itu, tak menutupi kesungguhan hatinya demi membantu
kebingungan sesama.

Selalu ada keinginan berbuat baik bahkan dari orang paling tak terduga sekalipun.
Itulah kenapa para sutradara film, novelis dan dramawan sering menjadikan hal ini
sebagai bumbu bagi cerita-cerita mereka, tentang seorang bandit besar yang selalu
terharu melihat kemiskinan tetangganya. Tentang pembunuh keji yang bisa menangis
tersedu-sedu cuma oleh adegan cengeng di sebuah opera.

Di dalam kehidupan nyata, pemandangan in malah makin nyata belaka. Seorang yang
telah dikenal sebagai koruptor adalah orang yang sekaligus dikenal paling dermawan
di wilayahnya. Jalan-jalan kampung dia aspal, tak terhitung tempat ibadah yang
menerima sumbangannya. Oya, tak lupa, ia juga membangun rumah ibadah pribadi di
kompleknya sendiri.

Tapi mari kembali bicara soal tato di tubuh pengayuh becak satu ini. Apakah orang
ini mentato diri karena dorongan premanisme? Tidak. Banyak fakta membantahnya.
Betapapun penuh tato itu, ia toh tetap memilih sebagai tukang becak saja.
Betapapun garang penampilannya, kebaikan hatinya jelas terbaca. Lalu apa dong?

Oo, pasti orang ini tak lebih dari kita, manusia Indonesia pada umumnya yang
membutuhkan hiburan karena dikepung banyak tekanan. Karena tertekan oleh
kemiskinan, seseorang butuh menjadi seolah-olah kuat, keren dan jagoan. Dan tato
itu tak lebih dari aksesori penentram saja. Seperti bedak bagi wanita yang
mendadak merasa cantik setelah memakainya. Seperti gincu bagi bibir yang tiba-tiba
merasa sensual setelah kena polesannya.

Bagi pihak yang miskin dan lemah menjadi seolah-olah kaya dan berdaya adalah
kebutuhan utama. Karena orang yang kuat, jagoan sesungguhnya dan para preman
sejati, jauh lebih banyak memilih dasi katimbang tato.

Bagi bangsa yang selalu kesulitan menggali nilainya sendiri, maka mengimpor nilai
tetangga adalah pilihan yang tak terhindarkan lagi. Maka diundanglah Shah Rukh
Khan kemari dengan tiket Rp 3 Juta untuk menontonnya. Kita histeris cuma karena
orang ini hendak membuka jaketnya. Kita larut oleh lagu dan tarian yang pernah
lama dianggap kacangan.

Tapi apapun kata orang, India tak peduli. Ia terus saja menyanyi dan menari.
Bollywood terus saja gila-gilaan berproduksi, bahkan si Shah Rukh Khan ini, dengan
ketentraman yang mengagumkan menjawab pertanyaan tentang Oscar, tentang Hollywood.
"Saya tak cukup baik untuk itu, " katanya. Ya, Oscar, siapa peduli. Toh di
Indonesia, negeri yang bangkrut ini, harga tiket telah mencapai Rp 3 juta per
kepala hanya untuk menonton play backnya!

India cuma menari dan menyanyi, Hongkong cuma memukul dan menendang, tapi industri
film mereka kaya luar biasa. Indonesia punya hampir semuanya, ribuan
tradisi....tapi miskin luar biasa. Bangsa yang kaya ini bahkan selalu kebingungan
harus menjual apa.

(PrieGS/)